Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH KODE ETIK

KELOMPOK 8

NAMA : Sukma ()
Theresia Agarta()
Ubay()
Viora Novalina()
Widya Sianturi()
Windy Nuraliyah P()
Yunita Dian Fakih (17512969)
KELAS : 2PA07

UNIVERSITAS GUNADARMA
2014

KATA PENGANTAR
Puji serta syukur kehadirat ALLAH, yang telah memberikan rahmat dan karunia-NYA
sehingga Makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya. Tujuan pembuatan Makalah ini adalah
untuk menyelesaikan tugas Psikologi Kode Etik. Makalah ini membahasa tentang masalah-
masalah etika terapan dan tantangannya bagi zaman kita.
Berkat adanya dukungan dan bimbingan dari teman teman satu sama lain, akhirnya
Makalah ini dapat selesai dengan baik. Walaupun masih banyak kekurangan dalam berbagai hal.
Dan sepantasnya, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Allah SWT yang telah membukakan pikiran dan memberikan inspirasi kepada penulis
2. Nabi Muhammad SAW sang idola yang tak pernah sirna sampai akhir hayat.
3. Ibu. Aliva Kemala selaku dosen Psikologi Kode Etik
4. Teman teman satu kelompok yang sudah bekerja sama dengan baik dan memberikan
semangat
satu sama lain.
Semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Tiada gading yang tak retak,
begitu pula dengan Makalah ini. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun tetap penulis
nantikan demi kesempurnaan Makalah ini.




Depok, 01 Mei 2014



Penulis





DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....i
DAFTAR ISI..ii
BAB I
PENDAHULUAN
I.I LATAR BELAKANG MASALAH..1
I.II IRUMUSAN MASALAH...2
I.III TUJUAN..2
BAB II
PEMBAHASAN
II.I Etika sedang Naik Daun.
II.II Beberapa Bidang Garapan bagi Etika Terapan.
II.IIIEtika Terapan dan Pendekatan Multidisipliner..............................................
II.IVPentingnya Kasuistik...............................................................................
II.VKode Etik Profesi...................................................................................
BAB III
PENUTUP
III.1 KESIMPULAN...................................................................................
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................








BAB I
PENDAHULUAN
I.I LATAR BELAKANG
Salah satu masalah yang secara tajam mencuat dalam lingkup kegiatan psikologi di
Indonesia, adalah masalah etika. Hal ini tampak dengan banyaknya permasalahan yang tidak
jelas dalam pelanggaran kode etik psikologi yang sementara ini masih belum secara resmi
ditangani. Etika adalah masalah aksiologi dalam lingkup filsafat, yakni bagian filsafat yang
membicarakan masalah perilaku manusia dilihat dari sudut baik dan jahat.
Dalam terapan psikologi, etika menyangkut banyak hal, yakni: etika terhadap ilmu dan
kaidah kaidah ilmu itu sendiri, etika terhadap alat alat pemeriksaan, etika terhadap orang lain
yang berposisi sebagai klien, etika terhadap penggunaan teknik terapi dan
psikodiagnostik/asesmen, etika pembuatan laporan serta kerahasiaannya.
Bersama dengan etika ini muncul kode etik dan code of conduct (yakni tata cara yang
seharusnya diikuti psikolog dalam melaksanakan tugas profesionalnya). Situasinya tidak selalu
mudah; misalnya membeberkan kepribadian seseorang dengan menggunakan pemikiran
pemikiran maupun alat alat tes psikodiagnostik di media massa dan alat alat publikasi
lainnya. Seringkali yang menjadi alasan adalah bahwa figur yang dimaksud adalah atau telah
menjadi figur publik, telah menjadi milik masyarakat.
Dalam Psikologi Klinis, masalah etika ini merupakan masalah sangat penting, karena
yang menjadi kasus klinis umumnya adalah orang orang yang tergolongsub atau ab. Hal
demikian menimbulkan rasa malu dan tak berharga dari yang bersangkutan.






I.II RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja masalah-masalah etika terapan dan bagaimana tantangannya bagi zaman kita?
2. Bagaimana etika terapan dan pendekatan multidisiliner?
3. Apa saja pentingnya kasuistik?
4. Apa yang dimaksud dengan kode etik profesi?

I.III TUJUAN
1. Dapat mengetahui masalah-masalah dalam etika terapan dan tantangan untuk zaman kita.
2. Mampu menjelaskan etika terapan dan pendekatan multidisipliner.
3. Dapat mengetahui pentingnya kasuistik
4. Dapat mengetahui dan menjelaskan kode etik profesi.














BAB II
PEMBAHASAN

MASALAH-MASALAH ETIKA TERAPAN DAN TANTANGANNYA BAGI ZAMAN
KITA
II.1 Etika Sedang Naik Daun
Etika terapan (applied ethics) sama sekali bukan hal yang baru dalam sejarah filsafat
moral. Sejak Plato dan Aristoteles etika merupakan filsafat praktis, artinya filsafat yang ingin
memberikan penyuluhan terhadap tingkah laku manusia dengan memperlihatkan apa yang harus
dilakukan. Dalam abad pertengahan Thomas Aquinas melanjutkan filsafat praktis ini dan
menerapkannya dibidang teologi moral. Pada awal zaman modern muncul etika khusus (speciall
ethics) yang membahas masalah etis suatu bidang tertentu seperti negara dan keluarga.
Pada awal abad 20, di kawasan berbahasa inggris, khususnya di United Kingdom dan
Amerika Serikat etika dipraktekkan sebagaimetaetika. Ini adalah suatu aliran dalam filsafat
moral yang tidak menyelidiki baik buruknya perbuatan manusia, melainkan bahasa moral atau
ungkapan-ungkapan manusia tentang baik dan buruk. Aliran meta etika merupakan filsafat
moral yang mendominasi enam dekade pertama abad ke-20. Baru mulai akhir 1960-an terlihat
suatu tendensi lain. Timbul perhatian yang semakin besar terhadap etika. Sekitar saat itu etika
mulai meminati masalah-masalah etis yang konkrit. Etika turun dari tempatnya yang tinggi, dan
mulai membumi. Perubahan tersebut dapat dikatakan dipicu oleh beberapa faktor yang timbul
serentak. Diantara beberapa faktor itu dapat disebut faktor penting pertama adalah perkembangan
dalam bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi, khususnya dalam sektor ilmu-ilmu biomedis.
Perkembangan pesat bidang ini telah menimbulkan banyak persoalan etis yang besar. Faktor
penting kedua adalah terciptanya semacam iklim moral yang mengundang minat baru untuk
etika. Iklim baru yang dimaksud berupa munculnya gerakan hak diberbagai bidang, yang secara
khusus telah mengundang peran actual dari etika itu sendiri.

Namun pada dasarnya etika khusus sama artinya dengan etika terapan. Bagaimanapun
juga, filsafat moral (khususnya etika terapan) mengalami perkembangan pesat atau masa
kejayaannya seperti :
Di banyak tempat dunia setiap tahun diadakan kongres dan seminar tentang masalah-
masalah etis.
Telah didirikan cukup banyak institut, di dalam maupun di luar kalangan perguruan
tinggi, yang khusus mempelajari persoalan-persoalan moral, kerap kali dalam kaitan
dengan bidang ilmiah tertentu (ilmu kedokteran, hukum, ekonomi atau yang lainnya).
Terutama di Amerika Serikat, etika dalam salah satu bentuk sering kali dimasukkan
dalam kurikulum di Perguruan Tinggi.
Membanjirnya publikasi mengenai etika terapan yang tidak pernah terpikirkan beberapa
dekade yang lalu. Ada cukup banyak majalah ilmiah yang membahas salah satu aspek
etika terapan. Seperti: Philosophy and Publik Affairs, Journal of Medical Ethics dan lain-
lain.
Pada dekade-dekade terakhir ini tidak jarang jasa ahli etika diminta untuk mempelajari
masalah-masalah yang berimplikasi moral.

II.II Beberapa Bidang Garapan bagi Etika Terapan
Dua wilayah besar yang disoroti atau mendapat perhatian khusus dan serius di dalamnya,
yakni wilayah profesi dan wilayah masalah. Etika kedokteran, etika politik, etika bisnis, dan
sebagainya, merupakan wilayah profesi. Penggunaan tenaga nuklir, pembuatan, pemilikan,
penggunaan senjata nuklir, pencemaran lingkungan hidup, diskriminasi ras merupakan wilayah
masalah. Cabang etika terapan yang paling banyak mendapat perhatian dalam zaman kita
sekarang ini dapat disebut dari sudut/wilayah profesi, yakni: etika kedokteran dan etika bisnis.
Dari wilayah masalah masalah dapat disebut: etika tentang perang dan damai dan etika
lingkungan hidup.

Cara lain untuk membagikan etika terapan adalah dengan membedakan antara makroetika
dan mikroetika. Makroetika membahas masalah-masalah moral pada skala besar. Suatu masalah
disebut makroetika apabila masalah itu menyangkut suatu bangsa seluruhnya abahn seluruh umat
manusia. Ekonomi dan keadilan; lingkungan hidup, dan alokasi sarana-sarana pelayanan
kesehatan dapat digolongkan sebagai contoh-contoh dari makroetika. Mikroetika membicarakan
pertanyaan-pertanyaan etis dimana individu terlibat, seperti kewajiban dokter terhadap pasiennya
atau kewajiban pengacara terhadap kliennya. Kadang diantara makroetika dan mikroetika
disisipkan lagi jenis etika terapan yang ketiga, yang disebut mesoetika (meso=madya), yang
menyoroti masalah-masalah etis yang berkaitan dengan suatu kelompok atau profesi, seperti
kelompok ilmuwan, profesi wartawan, pengacara dan sebagainya.
Pembagian lain etika terapan adalah pembedaan antara etika individual dan etika social.
Etka individual membahas kewajiban manusia terhadap dirinya sendiri, sedangkan etika social
membahas kewajiban manusia sebagai anggota masyarakat. Namun pembagian ini banyak
diragukan relevansinya, karena manusia peroranganpun selalu adalah mahluk social, sehingga
tidak bias dibedakan antara etika semata-mata individual dan etika yang semata-mata sosial.

II.III Etika Terapan dan Pendekatan Multidisipliner
Etika terapan mesti bekerjasama dengan disiplin-disiplin ilmu-ilmu lain. Kerjasama ini
mutlak diperlukan, karena dia harus membentuk pertimbangan tentang bidang-bidang yang sama
sekali diluar keahliannya. Seorang etikawan akan sulit baginya memberikan pertimbangan moral
yang dapat dipertanggungjawabkan untuk suatu masalah medis yang sama sekali tidak
dimengertinya dengan baik. Dia membutuhkan penjelasan atau ulasan yang memadai dan
lengkap mengenai pilihan-pilihan tindakan medis beserta berbagai argumen dibelakangnya. Dan
ini hanya akan diperoleh dari pihak-pihak yang berkompeten dalam bidang itu.
Perlu dibedakan antara pendekatan multidisipliner dan pendekatan interdisipliner.
Keduanya sama-sama merupakan pendekatan yang membuka pemahaman yang lebih luas dan
mendalam atas suatu masalah yang sedang dihadapi. Pendekatan multidisipliner adalah usaha
pembahasan tentang tema yang sama oleh berbagai ilmu, sehingga semua ilmu itu memberikan
sumbangannya yang satu disamping yang lain. Setiap ilmuwan dari satu disiplin ilmu akan
berusaha memberi penjelasan yang dapat dipahami juga oleh ilmuwan dari bidang lain.
Multidisipliner merupakan usaha menyoroti suatu masalah tertentu dari berbagai seginya. Dalam
melakukan hal ini perspektif setiap ilmu tetap dipertahankan dan tidak harus melebur dengan
perspektif ilmiah yang lainnya. Disini tidak tercapai suatu pandangan terpadu, yang memang
tidak dimaksudkan disini. Yang dihasilkan hanyalah pendekatan dari berbagai arah yang
dipusatkan pada tema yang sama. Sedangkan pendekatan Indisipliner dijalankan dengan lintas
disiplin dimana semua ilmu yang ikut serta meninggalkan pandangan yang menyeluruh. Hasil
yang diperoleh dari kerjasama ini adalah suatu produk yang melampaui segi ilmiah masing-
masing peserta. Dalam kenyataannya inter disiopliner agak sulit dilaksanakan. Dan walaupun
pendekatan multidisipliner juga bukan hal yang tidak sulit namun pendekatan itu lebih realistis
dilaksanakan.

II.IV Pentingnya Kasuistik
Dengan kasuistik yang dimaksud adalah usaha memecahkan kasus-kasus konkrit
dibidang moral dengan menerapkan prinsip-prinsip etika umum . Pembahasan kasus merupakan
cara yang sangat cocok dalam etika terapan, dan mengungkapkan sesuatu tentang kekhususan
argumentasi dalam etika. Pendekatan kasuistik diakui sebagai metode yang efisien untuk
mencapai kesepakatan di bidang moral. Biasanya, kalau dimulai dari teori akan sulit mencapai
suatu kesepakatan. Penalaran moral memang berbeda dengan penalaran matematis, yang selalu
dilkukan dengan cara yang sama, kapan saja dan dimana saja, tak terpengaruh oleh faktor-faktor
dari luar.
Pertama : Di suatu pihak kasuistik mengandaikan secara implisi bahwa relativisme moral
tidak bias dipertahankan. Jika setiap kasus mempunyai kebenaran etis sendiri, makapendekatan
kasuistik tidak perlu lagi. Kasuistik timbul karena ada keyakinan umum bahwa prinsip-prinsip
etis itu bersifat universal dan tidak relatif saja terhadap suatu keadaan konkret.
Kedua : Umum diterima juga bahwa prinsip-prinsip etis tidak bersifat absolut begitu saja,
dan tidak peduli dengan situasi konkret. Sebagaimana arti sebuah kata atau kalimat bias berubah
karena konteksnya, demikian juga sifat-sifat suatu masalah etis bias berubah karena situasi
khusus yang menandai kasusnya. Etika situasi sangat memperhatikan keunikan setiap situasi.
Faktor-faktor spesifik yang menandai suatu situasi tertentu bias sangat bias sangat
mempengaruhi penilaian terhadap suatu kasus. Semua kasus tidak sama dan ketidaksamaan ini
penting diperhitungkan dalam rangka menerapkan suatu prinsip etika yang berlaku umum.

II.IV Kode Etik Profesi
Kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam
melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari. Kode etik profesi sebetulnya tidak
merupakan hal yang baru. Sudah lama diusahakan untuk mengatur tingkah laku moral suatu
kelompok khusus dalam masyarakat melalui ketentuanketentuan tertulis yang diharapkan akan
dipegang teguh oleh seluruh kelompok itu. Salah satu contoh tertua adalah ; SUMPAH
HIPOKRATES, yang dipandang sebagai kode etik pertama untuk profesi dokter. Hipokrates
adalah doktren Yunani kuno yang digelari : BAPAK ILMU KEDOKTERAN. Beliau hidup
dalam abad ke-5 SM. Menurut ahli-ahli sejarah belum tentu sumpah ini merupakan buah pena
Hipokrates sendiri, tetapi setidaknya berasal dari kalangan muridmuridnya dan meneruskan
semangat profesional yang diwariskan oleh dokter Yunani ini. Walaupun mempunyai riwayat
eksistensi yang sudah-sudah panjang, namun belum pernah dalam sejarah kode etik menjadi
fenomena yang begitu banyak dipraktekkan dan tersebar begitu luas seperti sekarang ini. Jika
sungguh benar zaman kita di warnai suasana etis yang khusus, salah satu buktinya adalah
peranan dan dampak kode-kode etik ini. Profesi adalah suatu MORAL COMMUNITY
(MASYARAKAT MORAL) yang memiliki cita-cita dan nilai-nilai bersama. Kode etik profesi
dapat menjadi penyeimbang segi segi negative dari suatu profesi, sehingga kode etik ibarat
kompas yang menunjukkan arah moral bagi suatu profesi dan sekaligus juga menjamin mutu
moral profesi itu dimata masyarakat. Kode etik bisa dilihat sebagai produk dari etika terapan,
seban dihasilkan berkat penerapan pemikiran etis atas suatu wilayah tertentu, yaitu profesi.
Tetapi setelah kode etik ada, pemikiran etis tidak berhenti. Kode etik tidak menggantikan
pemikiran etis, tapi sebaliknya selalu didampingi refleksi etis. Supaya kode etik dapat berfungsi
dengan semestinya, salah satu syarat mutlak adalah bahwa kode etik itu dibuat oleh profesi
sendiri. Kode etik tidak akan efektif kalau di drop begitu saja dari atas yaitu instansi pemerintah
atau instansi-instansi lain; karena tidak akan dijiwai oleh cita-cita dan nilai-nilai yang hidup
dalam kalangan profesi itu sendiri. Instansi dari luar bisa menganjurkan membuat kode etik dan
barang kali dapat juga membantu dalam merumuskan, tetapi pembuatan kode etik itu sendiri
harus dilakukan oleh profesi yang bersangkutan. Supaya dapat berfungsi dengan baik, kode etik
itu sendiri harus menjadi hasil SELF REGULATION (pengaturan diri) dari profesi. Dengan
membuat kode etik, profesi sendiri akan menetapkan hitam atas putih niatnya untuk mewujudkan
nilai-nilai moral yang dianggapnya hakiki. Hal ini tidak akan pernah bisa dipaksakan dari luar.
Hanya kode etik yang berisikan nilai-nilai dan citacita yang diterima oleh profesi itu sendiri yang
bis mendarah daging dengannya dan menjadi tumpuan harapan untuk dilaksanakan untuk
dilaksanakan juga dengan tekun dan konsekuen. Syarat lain yang harus dipenuhi agar kode etik
dapat berhasil dengan baik adalah bahwa pelaksanaannya diawasi terus menerus. Pada umumnya
kode etik akan mengandung sanksi-sanksi yang dikenakan pada pelanggar kode etik.


BAB III
PENUTUP
III. 1KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA