Anda di halaman 1dari 6

Manajemen Pelayanan Kefarmasian

Konsep Pharmaceutical Care adalah


Tujuan akhir dari pelayanan farmasi yaitu harus aman dalam menggunakan obat
Peran utama apoteker dalam asuhan kefarmasian yaitu mengidentifikasi dan
mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan DRP yang dapat mempengaruhi
hasil terapi yang diinginkan
Tujian Pharmaceutical care utuk apoteker yaitu agar apoteker mampu memahami
konse DRP yaitu mampu mencegah timbulnya permasalahan terapi dan
memecahkan permasalahan hasil terapi obat bila sudah terjadi.
Pharmaceutical care atau Asuhan Kefarmasian adalah tanggung jawab dalam
menetapkan terapi obat dengan mencapai tujuan outcome yang nyata ke arah
peningkatan kualitas hidup pasien.

Dalam lingkup asuhan kefarmasian, seorang apoteker juga mempelajari praktek
kefarmasian yang meliputi :
1. Dasar dari praktek kefarmasian
2. Sosial, tingkah laku, ekonomi dan kegiatan administratif
3. Kepedulian terhadap pasien

Berikut akan membahas mengenai tingkah laku, sosial, ekonomi dan kegiatan
administratif yang menyertai praktek kefarmasian, yaitu :
A. Penarikan dan pengambilan kembali produk
Tujuan dari bab ini yaitu menawarkan pedoman dan informasi latar belakang
tentang praktek kefarmasian dalam menangani efisiensi dan sikap profesional
dalam melakukan penarikan dan pengambilan kembali produk.
Langkah-langkah penting seorang apoteker (apoteker) dalam menangani
penarikan dan pengambilan kembali suatu produk secara efektif sebagai berikut :
Menetapkan prosedur.
Hal ini harus dilakukan sebelum terjadi penarikan. Jika seseorang tidak yakin
bagaimana memulai suatu tindakan, maka seharusnya dia memikirkan apapun
yang dapat dia lakukan dan menulisnya. Seperti semboyan yang biasa kita
dengar yaitu jika kamu melakukan itu, maka tulislah apa yang kamu lakukan.
Jika kamu telah menuliskannya, maka kamu lakukan sesuai apa yang kamu
tulis tersebut.
Adapun elemen yang penting dalam prosedur penarikan kembali ini, meliputi :
a. Komunikasi. Dimana seorang apoteker harus mengetahui dengan siapa,
apa, dan bagaimana dia melakukan suatu komunikasi terkait dengan
penarikan produk.
b. Penanganan produk. Menetapkan prosedur tertulis mengenai bagaimana
produk seharusnya ditangani dengan memperhatikan beberapa hal seperti,
mengidentifikasi produk yang ditarik, menempatkan produk berdasarkan
klasifikasinya, dan mengkarantina serta mengemblikan produk sesuai
dengan lokasi penarikannya.
c. Penyimpanan catatan. Sebagai dokumentasi yang dimiliki oleh seorang
apoteker selama melakukan penarikan yang dapat menjadi panduan jika
terjadi penarikan lagi dengan memfasilitasi catatan tersebut dengan formulir
dan daftar periksa.
Mendokumentasikan segala sesuatu yang dilakukan.
Hal ini dapat membantu seorang apoteker (apoteker) dalam menjalankan
tanggug jawab pekerjaannya dibidang penarikan dan pengambilan kembali
suatu produk. Dimana segala sesuatu yang dilakukan telah didokumentasikan
secara sah sehingga dapat ditunjukkan dan dibuktikan bahwa seorang
apoteker bekerja sesuai dengan kompetensinya.
Gunakan penilaian yang baik.
Hal ini dimaksudkan bahwa segala sesuatu intruksi/perintah bisa saja tidak
jelas sehingga sebagai seorang apoteker, kita sebisa mungkin melakukan apa
yang terbaik bagi pasien karena seorang apoteker memiliki peran penting
dalam melindungi pasien dari produk yang berpotensi tidak aman.

B. Pelayanan pemasaran farmasi
Pasien memiliki banyak pilihan untuk produk, pelayanan, dan penyedia jasa
yang membantu mereka mencapai keadaan sehat. Termasuk apoteker dan
pelayanan kefarmasiannya. Pasien memilih sumber daya yang mereka percaya
terbaik sesuai dengan yang mereka butuhkan. Agar berhasil, apoteker dapat
menyertakan proses menejemen pemasaran sebagai komponen dasar dari
operasional mereka.
Proses menejemen pemasaran meliputi :
a. Evaluasi pasar
b. Merencanakan strategi dan taktik pemasaran
c. Menerapkan dan mengawasi upaya pemasaran
Untuk suksesnya menerapkan pelayanan kefarmasian, seorang apoteker perlu
memasarkan pelayananya. Adapun tiga langkah dalam proses pemasaran yang
di uraikan pada bab ini yang memberikan kerangka dasar dalam
mengaplikasikannya disetiap prakteknya. Setiap langkah proses pemasaran,
mungkin akan berbeda dari yang lainnya seperti tempat praktek tertentu, letak
demografis, basis pasien (karakteristik pasien), lingkungan yang kompetitif, dan
kendala keuangan. Terlepas dari keterlibatan seorang apoteker, bagaimanapun
pentingnya riset pasar yang memadai dan perencanan yang tidak seharusnya
dianggap remeh. Analisis yang mendalam mengenai suatu lingkungan sangat
penting untuk mengidentifikasi terget dan pihak penting dalam mengenali peluang
dan ancaman terhadap keberhasilan suatu praktek, dan memastikan sumber
daya pemasaran yang digunakan adalah yang paling efisien dan efektif.
Ketika menerapkan rencana pemasaran pada orang-orang farmasi, apoteker
harus menggunakan tujuan, sasaran, dan tugas individunya untuk memberikan
arahan pada proses pemasaran. Termasuk semua karyawan dalam proses ini,
dari pegawai sampai apoteker, membantu untuk memastikan konsistensi dan
komitmen dari segala pihak yang terlibat. Selama fase penerapan dari rencana
pemasaran, pertemuan yang seharusnya dijadwalkan secara teratur diadakan
untuk menjaga pengetahuan karyawan dengan selalu memperbaharui dan
informasi tentang upaya pemasaran. Pertimbangan secara cermat pada konsep
yang dijelaskan dalam bab ini dan melibatkan seluruh karyawan farmasi dalam
prosesnya, apoteker dapat mencapai hasil yang optimal dari perencanaan
pemasaran tersebut.

C. Dokumentasi, tagihan dan penggantian pembayaran dari pelayanan
kefarmasian
Seperti praktek kefarmasian itu sendiri, dokumentasi adalah keterampilan yang
dipelajari. Meningkatnya teknologi membantu apoteker untuk secara tepat dan
konsisten mendokumentasikan pelayanan yang diberikan. Bagaimanapun,
seorang yang mendokumentasikan dengan baik itu tidak dari sejak lahir
melainkan dibuat. Sampai saat ini, kurikulum farmasi yang tersedia relatif sedikit
kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi
mereka. Hal yang sama dapat dikatakan untuk karir yang paling profesional yaitu
apoteker. Karena gerakan pelayanan kefarmasian dan ekonomi kini sangat
penting menghadapi keprofesian, keadaan ini berubah sangat cepat. Apoteker
yang ingin berpartisipasi secara penuh dalam gerakan mengarah ke pasien yang
berpusat pada kesehatan, dan yang diharapkan membayar untuk aktivitas
mereka, harus menguasai seni dari dokumentasi klinis dan penagihan.
Apoteker yang ingin mengejar kompensasi untuk jasa profesional mereka
harus mengakui bahwa mereka masih belum secara luas diketahui. Kebanyakan
pemerintah dan pihak ketiga (swasta) tidak memiliki kebijakan yang terdefinisi
dengan baik untuk membayar jasa profesi apoteker mereka. Ini bukan
mengatakan bahwa pembayar (pihak ketiga) tidak tertarik dalam pelayanan
kefarmasian. Sebaliknya, untuk sebagian besar mereka tidak mengerti, apa itu
atau bagaimana hal itu akan menguntungkan mereka dan bermanfaat bagi
mereka.
Meskipun praktek kefarmasian telah berubah secara dramatis dalam dua abad
sejak dasar untuk kompensasi untuk apoteker tidak ada. Pada umumnya, nilai
jasa profesional apoteker masih terjalin, dan tersamarkan dengan harga obat
yang mereka jual. Masa depan kompensasi jasa kognitif profesional harus lepas
dari tradisi ini. Dunia pelayanan kefarmasian ini diterminologikan dan dituntut
transmisi elektronik terkait standar akan membatu mempercepat evolusi sistem
pembayaran terbaru. Demikian pula, perkembangan badan penelitian dengan
hasil penilaian dan farmakoekonomi akan memungkinkan profesi apoteker lebih
dipahami dari segi ekonomi dari pelayanan kefarmasian dan berkomunikasi lebih
baik dengan pembayar (pihak ketiga).

D. Menejemen resiko farmasi
Menejemen resiko merupakan displin ilmu baru dan berkembang. Sulit untuk
menyatakan bahwa obat harus diberikan kepada pasien dengan cara
meminimalkan ptensi bahayanya. Food and Drug Administration (FDA) memiliki
kemajuan di kesehatan masyarakat dengan mendorong perhatian lebih besar
atas penemuan, kuantifikasidan menejemen resiko. Bagaimanapun, kebijakan
apapun yang menghasilkan kegiatan baru untuk mengawasi satu set bahaya
dapat menciptakan hasil yang baru, tanpa terkecuali resiko bahaya (dampak
buruk). Dengan demikian, untuk mengevaluasi resiko ini, sangat penting untuk
memastikan bahwa manfaat dari Program Meminimalisir Resiko akan lebih besar
daripada resiko sendirinya.

E. Sistem penyampaian kesehatan terpadu
Jaringan dari sebuah organisasi yang menyediakan atau menyelenggarakan
untuk mengadakan koordinasi serangkaian pelayanan untuk populasi tertentu
yang bersedia menjadi relawan dan bertanggung jawab terhadap hasil dan
kondisi kesehatan dari pelayanan populasi tersebut. Pada pelayanan
kefarmasian, sistem terpadu secara penuh pada seluruh apoteker yang bekerja
pada badan hukum yang sama, dengan misi yang sama untuk menyediakan
kualitas, biaya yang efisien untuk semua rangkaian pelayanan.
Apoteker adalah pemimpin penting dalam perkembangan sistem terpadu
formularium, pengetahuan mereka dan pengalaman dalam terapi dan
farmakoekonomi menambah nilai dari perumusan pengambilan keputusan,
perkembangan pedoman menejemen penyakit, evaluasi sistem keberhasilan
farmakoterapi. Formularium dan pedoman menejemen penyakit tidak terbatas
pada obat yang dibutuhkan dalam pelayanan pada pasien, tetapi
mengembangkan kepada kebutuhan pasien dan pengaturan homecare.
Pokok perawatan pasien meliputi
Mempetakan perawatan dan jalur pelayanan klinik
Menejemen penyakit
Menejemen kasus
Melaporkan data dan pengukuran
Dokumentasi
Tim yang multidisiplin
Fokus perawatan pasien
Protokol gerakan pelayanan
Kebenaran pembiayaan
Edukasi. Peran apoteker dalam memberikan pembelajaran kepada pasien dan
pekerja kesehatan lainnya dalam sistem kesehatan sangatlah penting. Sistem
yang mendukung pada perawatan pasien meliputi :
Databes administrasi
Databes bilbiografi
Databes poin keperawatan
Rekam medik
Sistem penyampaian kesehatan terpadu memberikan perubahan yang sangat
besar. Banyak diantaranya dalam berbagai taraf dari integrasi. Selama proses
integrasi penggabungan selesai, perolehan dan spekulasi bersama, pandangan
dan strategi hars dikomunikasikan dengan jelas ke karyawan, komunitas dan
pihak berwenang dalam sistem kesehatan.