Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari sifat-sifat lipid, mengerti reaksi-
reaksi yang terjadi pada lipid, melakukan analisa lipid secara kualitatif dan kuantitatif, serta
untuk menentukan kadar vitamin C.

1.2 Tinjauan Pustaka
Lipid (dari kata yunani Lipos. Lemak) merupakan penyusun tumbuhan atau hewan yang
dicirikan oleh sifat kelarutannya. lipid tidak bisa larut dalam air,tetapi larut dalam pelarut
organik non-polar seperti suatu hidrokarbon atau dietileter. Lemak/ minyak ialah trigliserida,
yaitu trimester dari dliserol. Asam lemak ialah asam yang diperoleh dari proses penyabunan
lemak/ minyak (Hart, 2003.)
Lipid adalah suatu senyawa organik tidak larut dalam air tapi larut dalam pelarut organik
non polar seperti eter, kloroform, benzen, etanol, dietil eter, dan n-heksana. Lipid merupakan
simpanan energi paling utama dalam tubuh dan di dalam hewan. Di samping itu merupakan zat
gizi esensial. Lipid dapat berkombinasi dengan protein membentuk senyawa lipoprotein.
Transportasi lipid dalam darah adalah bentuk senyawa lipoprotein. (Kooimer, 2006).
Senyawa satu kelompok senyawa organik yang terdapat dalam tumbuhan,hewan atau
manusia dan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia ialah lipid Untuk memberikan definisi
yang jelas tentang lipid sangat sukar, sebab senyawa yang termasuk lipid tidak mempunyai
rumus struktur yang serupa atau mirip Sifat kimia dan fungsi biologinya juga berbeda-beda.
Walaupun demikian, para ahli biokimia bersepakat bahwa lemak dan senyawa organik yang
kelompok yang disebut lipid. Adapun sifat fisika yang dimaksud adalah (Poedjiadi dan
Supriyanti, 2009):
1. Tidak larut dalam air, tetapi larut dalam satu atau lebih dari satu pelarut organik misalnya
eter, aseton, kloroform, benzena, yang sering juga disebut pelarut lemak.
2. Ada hubungan dengan asam-asam lemak atau esternya.
3. Mempunyai kemungkinan digunakan oleh makhluk hidup.

Lipid adalah senyawa yang merupakan ester dari asam lemak dengan gliserol yang
kadang-kadang mengandung gugus lain. Lipid tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut
organik se[erti eter, aseton, kloroform, dan benzene. Lipid tidak memiliki rumus molekul yang
sama, akan tetapi terdiri dari beberapa golongan yang berbeda. Berdasarkan kemiripan struktur
kimia yang dimiliki, lipid dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu Asam lemak, Lemak dan
fosfolipid. Lemak secara kimia diartikan sebagai ester dari asam lemak dan gliserol. Rumus
umum lemak yaitu: R
1
, R
2
, dan R
3
adalah rntai hidrokarbin dengan jumlah atom karbon dari 3
sampai 23, tetapi yang paling umum dijumpai yaitu 15 dan 17 (Salirawati et al, 2007).
Senyawa-senyawa yang termasuk lipid ini dapat dibagi dalam beberapa golongan. Ada
beberapa cara penggolongan yang dikenal. Bloor membagi lipid dalam tiga golongan besar,
yakni (Poedjiadi dan Supriyanti, 2009):
1. lipid sederhana, yaitu ester asam lemak dengan berbagai alkohol, contohnya lemak atau
gliserida dan lilin (waxes),
2. Lipid gabungan yaitu ester asam lemak yang mempunyai gugus tambahan, contohnya
fosfolipid, serebrosida,
3. Derivat lipid, yaitu senyawa yang dihasilkan oleh proses hidrolisis lipid, contohnya asam
lemak, gliserol, dan sterol. Disamping itu, berdasarkan sifat kimia yang penting, lipid
dapat dibagi dalam dua golongan yang besar, yakni lipid yang dapat disabunkan, yakni
dapat dihidrolisis dengan basa, contohnya lemak, dan lipid yang tidak dapat disabunkan,
contohnya steroid.

Minyak dan lemak merupakan hal yang kita kenal setiap hari. Lemak yang lazim meliputi
mentega, lemak hewan dan bagian berlemak dari daging. Minyak terutama berasal dari
tumbuhan, termasuk jagung biji kapas, zaitun, kacang dan biji kedelai, meskipun lemak
berwujud padat dan minyak berwujud cair, keduanyamemiliki struktur dasar organik yang sama
(Mathens, 2000).
Perbedaan antara suatu minyak dan suatu lemak bersifat sebarang: pada temperatur
kamar lemak berbentuk padat dan minyak berbentuk cair. Komponenminyak terdiri dari
gliserrida yang memiliki banyak asam lemak tak jenuhsedangkan komponen lemak memiliki
asam lemak jenuh. Sebagian besar gliserida pada hewan adalah berupa lemak, sedangkan
gliserida dalam tumbuhancenderung berupa minyak;karena itu biasa terdengar ungkapan lemak
hewani (lemak sapi, lemak babi) dan minyak nabati (minyak jagung, minyak bungamatahari)
(Fessenden, 1999).
Asam lemak penyusun lipid ada dua macam, yaitu asam lemak jenuh dan asam lemak
tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh molekulnya mempunyai ikatan rangkap pada rantai
karbonnya. Halogen dapat bereaksi cepat dengan atom C pada rantai yang ikatannya tidak jenuh
(peristiwa adisi). Lipid yang mengandung asam lemak tidak jenuh bersifat cairan pada suhu
kamar, disebut minyak, sedangkan lipid yang mengandung asam lemak jenuh bersifat padat yang
sering disebut lemak (Pratt, 1992).
Lemak digolongkan berdasarkan kejenuhan ikatan pada asam lemaknya. Adapun
penggolongannya adalah asam lemak jenuh dan tak jenuh. Lemak yang mengandung asam-asam
lemak jenuh, yaitu asam lemak yang tidak memiliki ikatan rangkap. Dalam lemak hewani
misalnya lemak babi dan lemak sapi, kandungan asam lemak jenuhnya lebih dominan. Asam
lemak tak jenuh adalah asam lemak yang mempunyai ikatan rangkap. Jenis asam lemak ini dapat
di identifikasi dengan reaksi adisi, dimana ikatan rangkap akan terputus sehingga terbentuk asam
lemak jenuh. Dengan reagen Hubis Iod yang berupa larutan iod dalam alkohol dan mengandung
sedikit HgCl
2
, maka kemungkinan hilangnya warna iod akan berbeda untuk penambahan jenis
minyak yang berbeda, karena kandungan ikatan rangkap setiap jenis minyak memang berbeda.
Semakin banyak ikatan rangkap semakin cepat warna iod hilang, karena berarti seluruh I
2
telah
digunakan untuk memutuskan ikatan rangkap. Derajat ketiakjenuhan dinyatakan dengan bilangan
iodin, yaitu jumah garam yang dapat diserap oleh 100 gram lemak untuk reaksi penjenuhan.
Semakin besar bilangan iodin semakin tinggi ketidakjenuhannya ( Salirawati et al, 2007).

Diantara sekian banyak jenis Minyak, manyak kelapalah yang paling sering digunakan.
Minyak kelapa diperoleh dari ekstraksi terhadap. Minyak kelapa kasar mengandung komponen
bukan minayk seperti fosfatida, gum, sterol (0,06%-0,8%), tokoferol (0,003%) dan asam lemak
nenas kurang dari 5% . Warna pada minyak disebabkan oleh adanya pigmen-pigmen warna alam
karoten yang merupakan hidrokarbon tidak jenuh. Warna pada minyak selain disebabkan oleh
zat warna karoten juga disebabkan oleh kotoran lain karena asam-asam lemak dan gliserida
murni tidak berwarna. Karoten merupakan hidrokarbon sangat tidak jenuh dan tiak stabil pada
suhu tinggi. Karoten tidak dapat dihilangkan dengan proses oksidasi, walaupun minyak sampai
menjadi tengik, tetapi dapat diserap oleh beberapa absorben, sehingga minyak tidak berwarna
lagi (Ketaren, 1986).

Sifat fisik Minyak kelapa yang terpenting adalah tidak mencair tahap demi tahap seperti
lemak yang lain akan tetapi langsung berubah menjadi cair, hal ini disebabkan karena titik cair
asam lemak penyusunnya bedekatan, asam lemak laurat 44

C, asam lemak miristat 54

C, asam
lemak palmitat 63

C. Dengan demikian plastisitasa trigliserida juga terbatas (Gardjito, 1980).



Vitamin C adalah vitamin yang tergolong vitamin yang larut dalam air. Sumber Vitamin
C sebagian besar tergolong dari sayur-sayuran dan buah-buahan terutama buah-buahan segar.
Asupan gizi rata-rata sehari sekitar 30 sampai 100 mg vitamin C yang dianjurkan untuk orang
dewasa. Namun, terdapat variasi kebutuhan dalam individu yang berbeda (Pauling, 2004).

Asam askorbat (vitamin C) adalah turunan heksosa dan diklasifikasikan sebagai karbohidrat
yang erat kaitannya dengan monosakarida. Vitamin C dapat disintesis dari D-glukosa dan D-
galaktosa dalam tumbuh-tumbuhan dan sebagian besar hewan. Vitamin C terdapat dalam dua
bentuk di alam, yaitu L-asam askorbat (bentuk tereduksi) dan L-asam dehidro askorbat (bentuk
teroksidasi). Oksidasi bolak-balik L-asam askorbat menjadi L-asam dehidro askorbat terjadi
apabila bersentuhan dengan tembaga, panas, atau alkali (Akhilender, 2003).

Vitamin C mempunyai banyak fungsi di dalam tubuh. Pertama, fungsi vitamin C adalah
sebagai sintesis kolagen. Karena vitamin C mempunyai kaitan yang sangat penting dalam
pembentukan kolagen. Karena vitamin C diperlukan untuk hidroksilasi prolin dan lisin menjadi
hidroksiprolin yang merupakan bahan penting dalam pembentukan kolagen. Kolagen merupakan
senyawa protein yang mempengaruhi integritas struktur sel di semua jaringan ikat, seperti pada
tulang rawan, matriks tulang, gigi, membrane kapiler, kulit dan tendon. Dengan demikian maka
fungsi vitamin C dalam kehidupan sehari-hari berperan dalam penyembuhan luka, patah tulang,
perdarahan di bawah kulit dan perdarahan gusi. Asam askorbat penting untuk mengaktifkan
enzim prolil hidroksilase, yang menunjang tahap hidroksilasi dalam pembentukan hidroksipolin,
suatu unsure integral kolagen. Tanpa asam askorbat, maka serabut kolagen yang terbentuk di
semua jaringan tubuh menjadi cacat dan lemah. Oleh sebab itu, vitamin ini penting untuk
pertumbuhan dan kekurangan serabut di jaringan subkutan, kartilago, tulang, dan gigi (Guyton,
2007).

Penelitian menunjukkan bahwa vitamin C memegang peranan penting dalam mencegah
terjadinya aterosklerosis. Vitamin C mempunyai hubungan dengan metabolisme kolesterol.
Kekurangan vitamin C menyebabkan peningkatan sintesis kolesterol. Peran Vitamin C dalam
metabolism kolesterol adalah melalui cara: 1) vitamin C meningkatkan laju kolesterol dibuang
dalam bentuk asam empedu, 2) vitamin C meningkatkan kadar HDL, tingginya kadar HDL akan
menurunkan resiko menderita penyakit aterosklerosis, 3) vitamin C dapat berfungsi sebagai
pencahar sehingga dapat meningkatkan pembuangan kotoran dan hal ini akan menurunkan
pengabsorbsian kembali asam empedu dan konversinya menjadi kolesterol (Khomsan, 2010).
Vitamin C mempunyai rumus C
6
H
8
C
6
dalam bentuk murni merupakan kristal putih,tak
berwarna, tidak bau dan mencair pada suhu 190-192 C. Senyawa ini bersifat reduktor kuat dan
mempunyai rasa asam. Sifat yang paling utama vitamin C adalah kemampuan mereduksi yang
kuat dan mudah teroksidasi yang dikatalis oleh beberapa logam terutama. Vitamin C merupakan
senyawa yang sangat mudah larut dalam air, mempunyai sifat asam dan sifat pereduksi yang
kuat. Sifat tersebut terutama disebabkan adanya struktur radial yang berkonjugasi dengan gugus
karbonil dalam cincin lekton. Bentuk vitamin C yang ada di alam terutama adalah L-asam
askorbat, D-asam askorbat jarang terdapat dialam dan hanya dimiliki 10% aktivitas vitamin C.
Vitamin C merupakan nutrien dan vitamin yang larut dalam air dan penting untuk kehidupan
serta untuk menjaga kesehatan. Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk
utamanya yaitu asam askorbat. Asam askorbat mempunyai struktur yang mirip monosakarida,
tetapi struktur ini mempunyai beberapa gambaran yang tidak lazim. Senyawa ini adalah lakton
tak jenuh beranggotakan lima dengan dua gugus hidroksilvpada ikatan ganda duanya. Struktur
enadiol seperti ini jarang ditemukan. Iodimetri merupakan analisis titrimetri yang secara
langsung digunakan untuk zat reduktor atau natrium tiosulfat dengan menggunakan larutan iodin
atau dengan penambahan larutan baku berlebihan. Kelebihan iodine dititrasi kembali dengan
larutan tiosulfat (Westhem and Jeskey, 2000)
Buah yang masih mentah mengandung vitamin C yang cukup banyak sehingga semakin
tua buah maka semakin berkurang kandungan vitamin C-nya. Vitamin C juga disebut asam
askorbat dapat disintesis dari D-glukosa atau D-galaktosa merupakan gula heksosa (Winarno
1997).

Buah tomat yang merupakan buah yang mengandung vitamin C, ternyata juga banyak
mengandung mineral. Satu buah tomat mengandung 30 kalori, vitamin C 40 mg, vitamin A 1500
SI, zat besi dan kalsium. Karena tingginya kandungan vitamin, kalsium serta rendahnya lemak
dan kalori, buah tomat ini tidak menggemukkan (Tugiyono, 1990). Vitamin C merupakan
senyawa yang sangat mudah larut dalam air, mempunyai sifat asam dan sifat pereduksi yang
kuat. Sifat tersebut terutama disebabkan adanya struktur eradial yang berkonjugasi dengan gugus
karbonil dalam cincin lekton. Bentuk vitamin C yang ada di alam terutama adalah L-asam
askorbat, D-asam askorbat jarang terdapat di alam dan hanya dimiliki 10% aktivitas vitamin C
(Sandra ,2001).




























BAB II
METODOLOGI
2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah pipet tetes, tabung reaksi, rak tabung
reaksi, heat mantel, gelas kimia, penangas air, buret,labu ukur, erlenmeyer, kertas saring, pipet
ukur, neraca massa, blender, pengaduk, corong buchner, dan oven.
2.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Asam butirat, Asam stearate, Asam
oleat, Lard, Mentega, Margarin, Minyak olive, Minyak ikan, Lesitin telur, Kolesterol, Aseton,
Etanol, Kloroform, Eter, Larutan KOH, Asam korida pekat, Larutan fenolftalein, Larutan NaOH
1%, Kalsium Klorida, Magnesium Klorida, Timbal Asetat, KHSO
4,
Larutan Asam Asetat-
Kloroform, Larutan KI, Na
2
S
2
O
3,
Larutan Pati, Larutan baku Oksalat, Etanol, Tomat, Larutan
amilum, Larutan I
2,
HCl, CaCl
2,
MgCl
2,
Pb(CH
3
COO)
2
2.3 Skema Kerja
2.3.1. Analisis Kualitatif Lipida
2.3.1.1 Kelarutan Lipida


Diambil menggunakan pipet
Dimasukkan dalam tabung reaksi
Diperiksa kelarutannya dengan menggunakan air dan pelarut organik
Dibandingkan dari berbagai macam lipid




Diambil menggunakan pipet sebanyak 1 tetes
Ditempatkan di atas kertas saring
Dibiarkan mengering
Diamati pembentukan noda minyak







Asam Lemak dan Lipida
Hasil
Larutan lipid
Hasil
2.3.1.2 Uji Asam Lemak


Ditimbang sebanyak 10 gram
Diletakkan di labu didih
Ditambahkan KOH etanolat sebanyak 5 ml
Didihkan selama 1 menit
Ditambahkan 10 mL air, dipanaskan lagi dan didinginkan
Ditambahkan HCl pekat dengan hati-hati sampai larutan bersifat asam
Dipisahkan lapisan asam lemaknya


Dipanaskan dengan air secara perlahan-lahan
Ditambahkan larutan KOH enolat sampai larutan jernih


Diambil sedikit
Ditambahkan larutan alkali encer
Dipanaskan dan diamati
Diuji dengan HCl, NaCl, MgCl
2
dan Pb (CH
3
COO)
2




2.3.1.3 Uji Gliserol


Ditempatkan sedikit dalam gelas kimia 100 ml
Dicampur dengan beberapa tetes larutan lipida
Dipanaskan perlahan-lahan
Dicacat bau yang terjadi


2.3.2. Analisis Kuantitatif Lipida
2.3.2.1 Penentuan Angka Peroksida


Ditimbang sebanyak 5 gram dalam erlenmeyer
Ditambahkan 25 mL larutan asam asetat-kloroform
Digoyang sampai bahan terlarut sempurna
Lemak
Asam Lemak
Asam Stereat
Hasil
KHSO
4

Hasil
Minyak/ Lemak
Ditambahkan 0,5 mL larutan KI jenuh
Didiamkan slama 20 menit dengan sesekali digoyang
Ditambahkan 30 mL aquades
Dititrasi dengan Na
2
S
2
O
3
sampai warna kuning hampir hilang (kuning
muda)
Ditambahkan 0,5 mL larutan pati 1%
Dititrasi kembali dengan Na
2
S
2
O
3
sampai jernih
Dicatat volume yang dipakai



2.3.2.2 Penentuan Asam Lemak Bebas


Ditimbang sebanyak 10 mL
Dimasukkan ke dalam erlenmeyer
Ditambahkan 10 mL etanol 96% dan 5 tetes indikator pp 1%
Dititrasi dengan NaOH 0,1 N



2.3.3 Penentuan Kadar Vitamin C


Dihaluskan dan ditimbang sekitar 20 gram
Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL
Ditambahkan aquades sampai tanda batas
Dikocok hingga homogen


Diambil 10 mL dengan pipet ukur
Dimasukkan dalam erlenmeyer
Ditambahkan 20 ml akuades
Ditambahkan 2 mL larutan amilum 1% dan 20 mL aquades
Dititrasi dengan larutan iodium 0,01 N
Dilakukan duplo

Hasil
Minyak Kelapa
Hasil
Tomat
Filtrat
Hasil