Anda di halaman 1dari 3

7.

PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini proses casting yang digunakan adalah dengan metode yang
disebut lost wax process. Proses yang pertama adalah burn out dan preheating, bumbung tuang
diletakkan di atas kompor dengan posisi bagian datar dari bumbung tuang berada di atas,
sedangkan bagian crucible menghadap ke bawah (api) dengan sudut 45
o
.
Pada praktikum ini, kami menggunakan alat centrifugal casting machine untuk
membantu memasukkan logam cair ke dalam mould. Sebelum centrifugal casting machine
digunakan, lengan harus diputar 2-5 kali terlebih dahulu tergantung dari jenis mesin dan
kecepatan rotasi saat casting yang diperlukan. Tujuan memutar lengan ini agar pegas dalam
centrifugal casting machine mengalami tekanan sehingga memiliki gaya potensial sebelum
proses casting, ketika proses casting telah mencapai suhu optimum dan lengan pemutar dilepas
gaya potensial ini berubah menjadi gaya kinetik centrifugal yang nantinya berperan dalam
mendorong logam cair masuk kedalam mould. Pada praktikum ini, lengan pemutar alat
centrifugal casting machine diputar sebanyak 3 kali.
Sebelum logam diletakkan pada cawan tuang (crucible casting), cawan tuang (crucible
casting) dipanaskan terlebih dahulu agar tidak terjadi thermal shock. Kemudian bumbung tuang
dikeluarkan dari preheating furnace dan diletakkan pada centrifugal casting machine.
Selanjutnya, logam yang diletakkan pada cawan tuang (crucible casting) akan dipanaskan
dengan api torch hingga cair dengan menggunakan blow torch. Dalam melelehkan logam pada
proses casting ini, digunakan api pada zona reduksi dengan nyala api berwarna biru karena
mempunyai nyala api yang terpanas dan memiliki panas yang konstan. Cara melihat pemanasan
ini sudah sesuai ialah: logam akan berwarna jingga (membara), permukaan logam menjadi
mengkilap, membulat, melebur menjadi satu, dan akan bergerak apabila cawannya digerakkan
sedikit, seperti air raksa.
Setelah logam dipanaskan, alat centrifugal casting machine diputar agar logam masuk ke
dalam mould. Bila logam sudah masuk, kemudian logam tidak membara lagi, dan alat sentrifugal
casting sudah mulai melambat, tekan porosnya hingga alat ini berhenti. Apabila diberhentikan di
saat alat masih berputar cepat, logam dapat terlempar keluar ke arah operator karena logam
belum terjadi solidifikasi.
Kemudian bumbung tuang diangkat dan didiamkan hingga logam tidak membara.
Selanjutnya dilakukan pendinginan ke dalam air (quenching). Tujuan dari quenching adalah:
pertama, paduan logam mulia (noble metal alloy) yang tersisa berada dalam kondisi
annealed untuk dilakukan prosedur pengilapan (burnishing), pemolesan (polishing), dan
prosedur lain yang serupa. Kedua, ketika air berkontak langsung dengan bahan tanam yang masih
panas, kemudian terjadi reaksi yang keras (violent reaction), sehingga menghasilkan bahan
tanam yang lembut dan granular yang mudah dilepaskan dari bumbung tuang, sehingga logam
hasil casting juga lebih mudah dilepaskan.
Saat bumbung tuang telah dingin, hasil casting dibersihkan dari bahan tanam tuang.
Untuk mengetahui ketepatan daari hasil casting, dilihat marginal fit (hubungan die dengan
mahkota) dan dilakukan pengukuran marginal space menggunakan jangka sorong. Adanya
ketidaksamaan antara hasil casting dan master die dapat disebabkan oleh W/P ratio yang rendah
sehingga menyebabkan setting expansion bahan tanam lebih besar.Sehingga hasil casting lebih
besar dari master die. Walau pemasangan hasil casting akan dibantu dengan penyemenan, tetapi
sifat semen yang mudah larut dalam saliva akan menyebabkan hasil casting tidak bertahan lama.
Begitu juga dengan W/P ratio yang terlalu besar akan menyebabkan marginal fit tidak pas akibat
adanya setting expansion yang kecil sehingga hasil casting akan lebih kecil dari master die
(Annusavice, 2003, pp.306,316). Ketika expansion kurang maka tidak akan cukup untuk
mengkompensasi penyusutan logam.

Kelompok C4 telah melakukan praktikum penuangan logam (casting) dengan enam kali
pengecoran dalam mould di bumbung tuang dengan 3 konsistensi yang berbeda. Konsistensi
tersebut antara lain (1) normal, (2) encer, dan (3) kental. Pada semua hasil percobaan terdapat
marginal gap atau sela marginal.Sela marginal yang paling besar terdapat pada percobaan III
dengan w/p rasio kental. Sedangkan marginal gap yang kecil didapat dari percobaan I dengan
W/P ratio encer. Beberapa penulis menekankan bahwa marginal fit dan adaptasi internal
merupakan faktor penentu bagi keberhasilan klinis restorasi casting. Tidak ditemukan porus pada
semua hasil percobaan, namun terdapat bintil pada semua hasil percobaan.

6. KESIMPULAN
Tahapan dari proses casting terdiri dari proses burnout (pembuangan malam), preheating
(memanaskan bumbung tuang ke dalam preheating furnace), dan pengecoran (casting) dengan
bantuan alat centrifugal casting.
Pada hasil casting dapat ditemukan beberapa kecacatan, diantaranya: bintil, porus, sayap,
permukaan kasar, marginal membulat, dan hasil casting tidak lengkap. Kecacatan tersebut
disebabkan dari proses pemanasan, rasio w/p, udara terjebak saat logam memasuki mould,
kurangnya ventilasi pada mould, dan lain-lain. Marginal fit sangat penting bagi hasil tuangan.
Oleh karena itu, saat penanaman dan casting harus dilakukan dengan teliti agar hasil tuangan
cocok di rongga mulut pasien.