Anda di halaman 1dari 59

Oseanografi Umum Minggu 12

PLANKTON
(Makhluk Hidup Yang Tidak Mampu Melawan Arus)

Oleh:
Richardus Kaswadji
Bagian Oseanografi
Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan
Institut Pertanian Bogor
kaswadji@ipb.ac.id
Pendahuluan
 Di laut terdapat berbagai jenis organisme dari yang kecil sampai yang sangat besar.
 Di antara organisme tersebut ada kelompok yang tidak dapat mempertahankan posisi
atau distribusinya terhadap gerakan massa air. Kelompok ini adalah “plankton”.
Termasuk ke dalam kelompok ini adalah bakterioplankton (bakteri), fitoplankton
(tumbuhan), dan zooplankton (hewan).
 Pada umumnya semua plankton berukuran sangat kecil dan, untuk beberapa kasus,
mikroskopis.
 Meskipun demikian, hewan berukuran relatif besar, seperti ubur-ubur, juga dimasukkan
dalam definisi plankton.
 Beberapa “plankter” (sebutan untuk satu organisme plankton) baik yang tumbuhan
ataupun yang hewan, bersifat “motile” (dapat bergerak) tetapi gerakannya sangat lemah
dibandingkan dengan gerakan air pada umumnya.
 Hewan, misalnya ikan, yang dapat mempertahankan posisinya serta melawan arus lokal
disebut “nekton”.
 Walaupun demikian, pembagian antara plankton dan nekton tidak selalu tepat dan
beberapa ikan kecil, terutama larva ikan, bisa saja merupakan bagian dari komunitas
plankton, sedangkan zooplankton yang besar, misalnya euphausiid, bisa juga dianggap
sebagai “mikronekton”.
 Plankton dapat dikelompokkan berdasar ukurannya (Levinton, 1982):
– ultraplankton : <2µ m
– nannoplankton : 2 – 20 µ m
– mikroplankton : > 20 – 200 µ m
– makroplankton : > 200 – 2000 µ m
– megaloplankton : > 2000 µ m
Fitoplankton
 Di antara organisme yang ada di laut tersebut, terdapat banyak jenis
organisme yang mampu mem-fiksasi karbon (C) anorganik menjadi senyawa
organik dengan memanfaatkan sumber energi dari luar.
 Organisme ini disebut “produser”.
 Terdapat ribuan spesies produser yang berasal dari berbagai filum yang
berbeda (Taylor, 1978), termasuk fitoplankton yang bersel satu, alge bentik
yang hidup di dasar, makroalge multisel berukuran besar atau rumput laut
(seaweeds), produser simbiotik seperti karang, dan tumbuhan tingkat tinggi
seperti lamun (seagrass).
 Fitoplankton dari berbagai spesies menyumbang sekitar 95% dari seluruh
produksi primer laut (Steeman-Nielsen, 1975).
 Fitoplankton laut ini menjadi penting karena luasnya permukaan bumi yang
tertutup oleh laut terbuka.
 Di perairan dangkal dekat pantai, terdapat alge bersel-tunggal yang melekat di
substrat, alge multi-sel yang lebih besar, dan vascular plants yang memberikan
kontribusi yang cukup besar bagi produksi primer di laut.
Apakah fitoplankton itu?
 Tumbuhan mikroskopis, berukuran antara 2 µ m – 100 µ m
 Hidup di air dan mampu memproduksi senyawa organik
dari karbon anorganik dengan bantuan energi dari luar.
 Terdapat banyak sekali spesies fitoplankton, masing-
masing memiliki bentuk yang khas. Secara kolektif
fitoplankton tumbuh melimpah di laut seluruh dunia
 Merupakan dasar dari rantai makanan di laut. Fitoplankton
dimangsa oleh zooplankton, dan zooplankton dimangsa
oleh ikan kecil (dan beberapa spesies ikan paus).
Kemudian ikan yang besar akan memakan ikan kecil.
Manusia menangkap dan memakan beberapa dari ikan
besar ini. Karena fitoplankton sangat tergantung dari
kondisi tertentu untuk dapat tumbuh dengan baik, mereka
merupakan indikator yang baik bagi perubahan
lingkungannya. Karena alasan ini, dan karena fitoplankton
juga dapat mempengaruhi iklim skala global, fitoplankton
menjadi perhatian utama bagi pakar oseanografi di dunia.
Fungsi utama fitoplankton di dalam air

 meng-oksigenasi air
fotosintesis
6CO2 + 6H2O  C6H12O6 + 6O2
 memproduksi bahan organik dari bahan
anorganik
 merupakan makanan zooplankton dan ikan
Taksa utama produser planktonik di
seluruh laut dunia:
 diatom (jenis yang paling melimpah di laut)
 dinoflagellata (jenis yang paling melimpah
kedua di laut)
 coccolithophorid
 silikoflagellata
 ganggang biru-hijau.
Kelas alga pada fitoplankton laut
Kelas Nama umum Daerah predominan Catatan dan atau genus
yang umum
Cyanophyceae Alge biru (atau bakteri biru) Tropis (bentuk filamen) Oscillatoria
Kosmopolitan (bentuk Sinechocystis
coccoid)

Rhodophyceae Alge merah Sangat jarang; pantai Rhodella


Cryptophyceae Cryptomonad Kosmopolitan, terutama di Cryptomonas
pantai
Chrysophyceae Chrisomonad Jarang; di pantai Penting di air tawar kecuali
silikoflagellata
Bacillariophyceae Diatom Semua perairan, terutama Produser primer utama
pantai Coscinodiscus
Chaetoceros
Rhizosolenia

Raphidophyceae Chloromonad Jarang; air payau Heterosigma


Chattonella
Xanthophyceae Alge kuning-hijau Sangat jarang Kebanyakan bentik atau di air
tawar
Eustigmatophyceae - Sangat jarang Kebanyakan bentik atau di air
tawar
Euglenophyta Euglenoid Perairan pantai Euglena
Prasinophyceae Prasinimonad Semua perairan Tetrasalmis
Micromonas
Chlorophyceae Alge hijau Jarang Kebanyakan bentik atau di air
tawar
Pyrrophyceae Dinoflagellata Semua perairan, terutama Produser red tide utama
(Dinophyceae) yang hangat Ceratium
Gonyaulax
Protoperidinium
Diatom
 termasuk Kelas Bacillariophyceae
 alge planktonik yang sudah banyak diteliti dan hampir selalu
dominan di laut, terutama di daerah lintang sedang dan tinggi.
 bersel-tunggal, beberapa membentuk rantai
 ukuran sel berkisar antara 2 µ m sampai lebih dari 100 µ m
 semua spesies memiliki kerangka luar, atau frustul, terbuat
dari silika dan terdiri dari dua buah valve
 silika di dalam kerangka merupakan 4-50% berat kering sel
 frustul ini biasanya terukir dalam pola atau bentuk duri, pori-
pori, kanal-kanal, dan atau rusuk yang sangat khas untuk
setiap spesies.
 dalam waktu geologi, frustule yang diendapkan membentuk
endapan dasar laut yang disebut diatomaceous ooze.
Diatom

 Terdapat dua tipe:


* Pennate, berbentuk lonjong, umumnya bentik.
* Sentrik, berbentuk bulat, simetri secara radial;
- lebih umum dijumpai, lebih dari 1500 spesies
- reproduksi dengan pembelahan sel secara aseksual
Diatom

a. rantai Chaetoceros laciniosus;


b. rantai C. laciniosus dengan
spora;
c. rantai Nitzschia pungens;
d. rantai Thalassiora gravida;
e. Coscinodiscus menunjukkan
dua katup dari frustul;
f. Coscinociscus wailesii, tampak
lateral;
g. rantai Chaetoceros socialis
dalam bentuk koloni;
h. rantai Asterionella japonica;
i. rantai Skeletonema costatum.

(Skala dalam satuan µ m)


Diatom

 Diatom umumnya ber-reproduksi secara aseksual dengan


membelah diri.
 Sel membentuk dua inti, kedua katup frustul berpisah, dan
setiap katup lalu membentuk sel dalam (hipoteka).
 Hal ini akan menyebabkan kedua sel baru akan sedikit
berbeda ukurannya, sel yang terbentuk dari sel dalam akan
lebih kecil dari sel yang terbentuk dari sel luar.
 Pembelahan sel secara aseksual ini akan menghasilkan
pertumbuhan populasi yang sangat cepat pada kondisi
yang optimal.
 Namun, dengan pembelahan yang berulang-ulang, akan
terjadi pengecilan ukuran sel
Reproduksi diatom
Diatom

 Ketika diatom mencapai ukuran minimal kritis, dia akan


mengalami reproduksi seksual dengan membentuk sel
yang tidak memiliki kerangka yang mengandung silikat.
Sel-sel tersebut bersatu membentuk zygote dan
menghasilkan auxospore. Lama-kelamaan akan
terbentuk sel yang lebih besar yang membentuk frustule
dengan bentuk dan ukuran yang normal.

 Beberapa jenis diatom, terutama spesies yang hidup di


pantai pada kedalaman yang dangkal, memproduksi
resting spores pada kondisi lingkungan yang kurang baik.
Spora ini dibentuk ketika protoplasma dari sel yang normal
menjadi padat dan dikelilingi oleh rangka yang keras.
Spora yang relatif berat ini akan tenggelam ke dasar dan
tetap dorman sampai kondisi yang nyaman terbentuk dan
akan kembali menjadi sel plankton yang normal
Dinoflagellata
 Kelompok fitoplankton paling banyak kedua setelah diatom terdiri dari
alge yang termasuk ke dalam Kelas Dinophyceae atau Pyrrophyceae,
dan umum disebut dinoflagellata. Kebanyakan alge bersel tunggal ini
hidup sendiri; hanya sedikit yang membentuk rantai. Berbeda dengan
diatom, dinoflagellata memiliki dua flagella atau whiplike appendages,
dan karena itu bersifat motile.

 Setiap spesies dinoflagellata memanfaatkan sumber energi yang


berbeda. Hanya beberapa dinoflagellata yang betul-betul bersifat
autotrof, yaitu membuat sendiri bahan organik dan mendapatkan
energinya dari fotosintesis. Spesies lain bersifat heterotrof, yaitu
mereka mendapatkan kebutuhan energinya dengan memakan
fitoplankton dan zooplankton kecil. Kenyataannya, sekitar 50%
dinoflagellata merupakan heterotrof sejati yang tidak memiliki
chloroplast dan tidak mampu melakukan fotosintesis; spesies ini
merupakan bagian dari zooplankton. Beberapa dinoflagellata bersifat
mixotrophic, artinya mereka mampu bersifat autotrof dan heterotrof.
Spesies dinoflagellata lainnya bersifat parasitik atau simbiotik.
Dinoflagellata
 Secara konvensional, dinoflagellata dibagi menjadi spesies yang
memiliki theca, yaitu dinding sel selulosa yang relatif tebal, dan bentuk
telanjang yang tidak memiliki theca. Secara taksonomi dinoflagellata
dibedakan menjadi Kelas Desmophyceae dan Dinophyceae.

 Kelas Desmophyceae merupakan kelompok kecil dimana spesiesnya


dicirikan memiliki dua flagela yang muncul dari ujung anterior sel
(Gambar ). Prorocentrum merupakan genus planktonik yang termasuk
Desmophyceae.

 Kebanyakan spesies dinoflagellata (beberapa ratus) termasuk dalam


Dinophyceae (Gambar ), dan kebanyakan dari mereka memiliki theca.
Pada semuanya, sel dibagi menjadi bagian anterior dan posterior oleh
lekukan yang disebut girdle. Flagella disusun sedemikian sehingga
salah satu memanjang ke arah posterior, dan satunya membelit sel di
sekitar girdle. Pada spesies yang memiliki theca, dinding sel dibagi
menjadi beberapa lempengan selulosa yang terpisah dan dihiasi
dengan pori-pori dan atau duri kecil. Genera dengan theca yang
umum dijumpai adalah Ceratium, Protoperidinium, Gonyaulax, dan
Dinophysis. Gymnodinium adalah bentuk telanjang yang umum
dijumpai dari Kelas Dinophyceae.
Dinoflagellata

I. Desmophyceae:
a. Prorocentrum
marinum;
b. Prorocentrum micans;
c. Prorocentrum micans
membelah diri.
II. Dinophyceae:
d. Protoperidinium
crassipes;
e. Gymnodinium
abbreviatum;
f. Dinophysis acuta
g. Gonyaulax fragilis
Semua satuan melintang adalah 0.002 mm
(Lalli dan Parsons, 1993)
Dinoflagellata
 Dinoflagellata mampu melakukan reproduksi
dengan cepat, dan dalam kondisi tertentu, mereka
dapat berada dalam jumlah yang sangat banyak,
sehingga warna coklat-kemerahan mereka bisa
dilihat, menghasilkan apa yang disebut red tide
(Gambar). Warna merah air mungkin disebabkan
oleh kelimpahan dinoflagellata yang tinggi. Pada
setiap kasus, red tide dimulai dengan
peningkatan jumlah dinoflagellata secara tiba-tiba.
Air menjadi nyata berwarna kalau kelimpahan
mencapai kira-kira 2 x 10^5 – 5 x 10^5 sel per liter
dan, dengan berkembangnya blooming,
kelimpahan mencapai kira-kira 10^8 sel per liter
(Lalli dan Parsons, 1993)
Red tide
Blooming Noctiluca di California, USA
Dinoflagellata
 Reproduksi dinoflagellata umumnya dengan pembelahan
sederhana, dimana sel membelah membentuk dua sel
dengan ukuran yang sama. Theca bisa ikut membelah,
masing-masing sel membentuk theca sebelahnya, atau,
theca lepas sebelum pembelahan sel, dan setiap sel baru
membentuk dinding sel yang betul-betul baru. Pembelahan
aseksual dapat menyebabkan perkembangan populasi
yang sangat cepat kalau kondisi lingkungan
menguntungkan alge ini. Dinoflagellata seringkali
melimpah setelah blooming diatom, karena mereka lebih
teradaptasi hidup di perairan yang miskin nutrien.

 Reproduksi seksual juga terjadi pada beberapa spesies


dinoflagellata. Kalau ini terjadi, akan mengarah
pembentukan stadium kista yang tidak aktif (istirahat),
tetapi ini lebih merupakan bagian dari siklus hidupnya
ketimbang respons terhadap lingkungan yang tidak sesuai,
seperti yang terjadi pada diatom.
Fitoplankton Lain

Coccolithofor

 Coccolithofor adalah fitoplankton bersel satu yang


merupakan bagian dari nanoplankton, kebanyakan dari
150-an spesies ukurannya kurang dari 20 µ m. Ciri
mereka yang menonjol adalah sel luar yang terbuat dari
lempengan kapur yang disebut coccoliths. Coccoliths
terakumulasi di dasar sedimen.
COCCOLITHOFOR

– Memiliki dua ekor “seperti


cambuk”
(flagella) tetapi hanya pada
stadium
hidup tertentu
– Mendapatkan energi dari
matahari
(fotosintesis)
– Organisme berbentuk spherical,
ditutup
oleh lempengan calcium
carbonate
– Fossilnya dipakai untuk membuat
kapur tulis
– Bisa terjadi ‘bloom’ yang intensif,
merubah permukaan laut menjadi
“seperti susu”
Fitoplankton Lain

Silicoflagellata

Silicoflagellata memiliki rangka yang terbuat dari silikon


merupakan contoh terkenal dari Chrysophyceae.
Organisme bersel tunggal ini berukuran kecil (10 – 250
µ m) dan memiliki banyak kloroplast yang berwarna
kuning-coklat. Hanya sedikit spesies silicoflagellates
yang dikenal, dan umumnya melimpah di perairan yang
dingin.
Harmful Algal Blooms (HAB) atau
Ledakan Alge Berbahaya
 Alge berbahaya adalah tumbuhan bersel-satu yang berukuran
mikroskopis yang hidup di laut. Kebanyakan spesies alge atau
fitoplankton bersifat tidak berbahaya dan berlaku sebagai
produsen energi pada dasar rantai makanan, yang tanpa
organisme ini kehidupan yang lebih tinggi di planet ini tidak akan
ada.
 Kadang-kadang, alge ini tumbuh sangat cepat atau "bloom" dan
terakumulasi menjadi satu kelompok yang padat dan bisa
terlihat dekat permukaan air. Istilah yang sering dipakai untuk
fenomena tersebut adalah "red tide", dimana spesies
fitoplankton tertentu yang memiliki pigmen kemerahan
“meledak” jumlahnya sedemikian sehingga air terlihat berwarna
merah. Jadi sebenarnya istilah "red tide=pasang merah" tidak
tepat karena mereka tidak ada kaitannya dengan pasang,
mereka umumnya tidak berbahaya, dan sebaliknya spesies
yang berbahaya tidak pernah mencapai jumlah yang cukup
untuk merubah warna air
 Sayangnya, sejumlah kecil spesies tertentu
memproduksi racun syaraf yang bisa diteruskan
(ditransfer) lewat rantai makanan dimana mereka
akan mempengaruhi dan bahkan membunuh
kehidupan yang lebih tinggi seperti zooplankton,
kerang, ikan, burung, mamalia laut, dan bahkan
manusia yang memakan mereka baik secara
langsung maupun tidak langsung. Gambar berikut
menunjukkan lintasan yang mungkin dilewati oleh
racun yang berdampak pada berbagai jenjang
organisme (modifikasi dari Smayda, 1992). Para
ilmuwan sekarang lebih memilih istilah HAB untuk
menyebut fenomena bloom yang mengandung
racun atau yang menyebabkan dampak negatif.
 Jenis racun yang terkandung dalam HAB
antara lain:
1. NSP (Neurotoxic Shellfish Poison)
2. PSP (Paralytic Shellfish Poison)
3. ASP (Amnestic Shellfish Poison)
4. DSP (Diarrheic Shellfish Poison)
5. CFP (Ciguatera Fish Poison)
Kemungkinan transfer racun dari HAB ke berbagai organisme
Persebaran PSP di dunia
Hidup dan matinya fitoplankton
 Seperti tumbuhan di darat, fitoplankton memerlukan sinar
matahari, air, dan nutrien untuk tumbuh. Karena sinar
matahari paling melimpah di dan dekat dengan permukaan
laut, fitoplankton berupaya tetap berada di atau dekat
dengan permukaan laut. Juga seperti tumbuhan darat,
fitoplankton memiliki pigmen klorofil, yang memberikan
warna mereka kehijauan. Klorofil digunakan oleh tumbuhan
untuk fotosintesis, dimana sinar matahari digunakan
sebagai sumber energi untuk mencampur molekul air dan
karbon dioksida menjadi karbohidrat yang merupakan
makanan tumbuhan. Fitoplankton (dan tumbuhan darat)
menggunakan karbohidrat sebagai “bahan bangunan”
untuk tumbuh; ikan dan manusia mengkonsumsi tumbuhan
untuk mendapatkan karbohidrat yang sama.
Hidup dan matinya fitoplankton
 Atmosfer sangat kaya akan karbon dioksida, dan jutaan ton gas
ini masuk ke laut setiap tahun. Meskipun demikian, fitoplankton
masih memerlukan nutrien lain misalnya besi, agar tetap hidup.
Sewaktu air permukaan dingin, air di tempat yang lebih dalam
dapat naik ke atas, membawa nutrien penting ini ke permukaan
dimana fitoplankton bisa memanfaatkannya. Namun, sewaktu
air permukaan bersifat hangat (seperti selama terjadi El Niño),
arus dari dalam yang membawa air dingin tidak dapat naik ke
atas dan mem-blok aliran nutrien, yang merupakan “makanan”
fitoplankton. Kalau fitoplankton kelaparan, maka ikan dan
mamalia yang bergantung pada fitoplankton sebagai
makanannya, juga akan kelaparan. Bahkan di dalam kondisi
yang ideal, individu fitoplankton hanya hidup kira-kira satu atau
dua hari. Kalau mati, mereka akan tenggelam ke dasar.
Konsekuensinya, dalam satuan geologi, laut menjadi tempat
penampungan utama karbon dioksida dari atmosfer. Kira-kira
90 persen total kandungan karbon dunia berada di dasar laut,
terutama dalam bentuk biomassa yang sudah mati.
Zooplankton

 Zoo = hewan atau seperti hewan


• Plankton = Drifter (melayang)
• Organisme ini sering lebih mobil (bergerak
aktif) ketimbang fitoplankton
• Meskipun beberapa bersimbiosis dengan
alge untuk berfotosintesis, semuanya
bersifat heterotrofik (memakan benda lain)
– Bisa berenang, seringkali
berupa hewan plankton
INVERTEBRATA satu sel yang hidup di laut
– Energi terutama didapat
dengan memakan
organime lain termasuk
tumbuhan, hewan lain,
atau keduanya
– Tidak bisa
berfotosintesis, jadi
termasuk "heterotrofik"
(“lain" + “energi")
meskipun banyak yang
memiliki alge simbion
– Copepoda (crustacea)
adalah invertebrata
sepanjang hidupnya
– Lobster, crabs, clams,
bulu babi, barnacle, dan
starfish memulai
hidupnya sebagai
invertebrata

CILIATA

– Memiliki struktur pendek, seperti rambut menutupi permukaan sel


– Protist ini beraneka ragam, memiliki sekitar 10.000 spesies
– Memakan bakteri dan fitoplankton kecil, sebaliknya dimakan oleh
zooplankton
– Mencuri chloroplasts dari mangsanya agar dapat berfotosintesis
FORAMINIFERA
Foraminifera planktonik di laut Modern dapat
dibagi menjadi dua kelompok: satu kelompok
memiliki duri dari kalsit yang tipis, sangat
panjang, kelompok satunya tidak. In the plate
above the forms with spines (which break off
after the specimens reproduces) have the
corrugated-type surface. Many of the spinose
foraminifera have symbiotic algae living
within their protoplasm. Pada siang hari,
mereka membiarkan alge berada di luar,
sehingga bisa berfotosintesis, dan
foraminifera bisa memanfaatkan sisa
produknya. Pada malam hari mereka
menariknya kembali ke dalam. Semua
foraminifera, termasuk yang memiliki simbion,
juga memakan, hampir semua makhluk yang
lebih kecil darinya. Beberapa foraminifera
menyenangi alge dan hewan mikroskopis
lainnya. Foraminifera memiliki kaki palsu
(penjuluran protoplasma yang panjang dan
tipis) yang lengket, yang dipakai untuk
menangkap makanan dan meletakkannya di
protoplasma, yang menelan mangsa dan
mencernanya.
RADIOLARIA
 Memiliki cangkang yang terbuat
dari silika
• Rangkanya cenderung memiliki
perpanjangan seperti lengan yang
menyerupai duri, yang digunakan
untuk menambah luas permukaan
untuk mengapung dan untuk
menangkap mangsanya
• Kebanyakan sedikit spherical,
tetapi terdapat banyak variasi
bentuk, termasuk seperti kerucut
dan bentuk tetrahedral
• Dapat bereproduksi secara
seksual dan aseksual
• Mereka bisa berupa filter feeder
atau predator
• Beberapa berpartisipasi dalam
hubungan simbiosis dengan alga
bersel satu
Distribusi vertikal zooplankton
 Zooplankton juga dikelompokkan berdasarkan letak
kedalaman di dalam kolom air. Spesies yang hidup
menetap di permukaan laut dan sebagiann tubuhnya
berada di luar air disebut pleuston. Mereka ini secara
pasif disebarkan oleh angin, bukannya oleh arus. Spesies
yang mendiami paling atas, beberapa milimeter, dari
permukaan air disebut neuston. Secara ekologis sulit
memisahkan kedua kelompok ini, makanya seringkali
merekaini disebut sebagai penghuni paling atas dari laut.
Komunitas ini berkembang dengan baik di perairan tropis.
Contoh kelompok ini adalah Physalia dan Vellela.
Migrasi vertikal harian
 Salah satu ciri tingkah laku zooplankton yang nyata
adalah migrasi vertikal yang dilakukan dalam selang waktu
24 jam. Migrasi harian ini dibedakan antara migrasi
diurnal, yaitu migrasi yang dilakukan pada siang hari dan
migrasi nokturnal yang dilakukan pada malam hari.
Migrasi vertikal harian (Diel Vertical Migration=DVM)
biasanya ditandai dengan migrasi organisme ke atas ke
arah permukaan pada malam hari, dan ke bawah menjauhi
permukaan pada siang hari.
 Setiap spesies memiliki kesenangan masing-masing
untuk bermigrasi vertikal baik ke atas maupun ke bawah.
Namun secara umum, ada tiga pola yang dilakukan oleh
zooplankton laut untuk bermigrasi, yaitu:
1. Migrasi nokturnal dicirikan dengan satu kali ke atas dalam satu
hari, biasanya dimulai menjelang matahari terbenam, dan satu kali
ke bawah yang dilakukan menjelang matahari terbit. Migrasi ini
merupakan pola paling umum yang dilakukan zooplankton laut.
2. Migrasi ”twilight” yang ditandai oleh dua kali ke atas dan kua kali
ke bawah. Terjadi gerakan ke atas pada matahari terbenam sampai
kedalaman minimum migrasi malam-hari, tetapi pada malam hari
ada gerakan kebawah yang disebut midnight sink (penenggelaman
pada malam hari). Pada saat matahari terbit, organisme ini naik lagi
ke arah permukaan, kemudian turun sampai ke kedalaman siang
hari.
3. Migrasi berlawanan,yang dicirikan oleh naik ke permukaan pada
siang hari, dan turun ke bawah pada malam hari sampai kedalaman
maksimum malam hari.
Produksi primer adalah laju sintesis bahan organik dari
senyawa anorganik seperti CO2 dan air. Ini penting karena
memberikan dasar sebagian besar dari seluruh rantai makanan
di laut.

Pembentukan senyawa karbon organik dari karbon anorganik


(mis. karbon dioksida) melibatkan reaksi reduksi; gaya
mereduksi (mis. NADPH) datang dari absorbsi cahaya
(fotosintesis), atau oksidasi senyawa lainnya (kemosintesis).

Karena laju, maka


melibatkan dimensi waktu:

mg C m-3 s-1 , atau dalam


kedalaman terpadu,
mg C m-2 s-1
Fitoplankton merupakan organisme utama yang bertanggung jawab atas produksi
primer fotosintetik di laut. Di daerah pantai, alga bentik makro dan mikro, dan
tanaman yang terendam yang berkontribusi.

Laju: Laju fotosintesis dapat dinyatakan dalam jumlah karbon yang ter-reduksi
(misalnya mg atau mol C per satuan volume (atau luas) per satuan waktu) atau
dalam jumlah oksigen (mol O2 per satuan volume atau luas per satuan waktu).
Laju di laut adalah 10-100 mg C m-3 h-1 (lokal); 75-1000 mg C m-2 h-1 (integrasi
terhadap kedalaman).

Jelas, sangat bervariasi; memahami sumber variasi ini, dan memprediksi laju
fotosintesis merupakan tujuan utama oseanografi biologi.

Urutan pertama, laju produktivitas primer ditentukan oleh


kandungan fitoplankton – biomassa fotosintesis - khususnya
kandungan karbon atau chlorophyll a.

Distribusi global chlorophyll:


Biomassa Fotosintesis : Carbon
Definisi: Massa karbon yang terkandung di dalam sel fitoplankton hidup per
satuan volume atau per satuan luas.
Bagaimana mengukurnya? Sangat sulit – terdapat banyak “karbon organik
partikulat” (POC, particulate organic carbon) lainnya yang berkaitan dengan
organisme yang tidak berfotosintesis, dan dengan detritus. NB: “Partikulat” dan
“terlarut” adalah definisi operasional dan bergantung pada ukuran filter yang
digunakan untuk membedakannya. Partikel kecil akan melewati filter dan dapat
dimasukkan dalam bagian terlarut.
1. Contoh air terbatas
• Mikroskopi (menghitung sel hidup di bawah mikroskop)
• Flow cytometry (penghitungan dan pengukuran sel secara otomatis)
Kedua metode memerlukan faktor konversi dari jumlah sel ke volume sel dan
dari volume ke massa karbon
Kisaran khusus di laut (per satuan volume): 10-60 mg C m-3
Kisaran khusus di laut (per satuan luas): 1-2 g C m –2
Ini sulit dilakukan, dan jarang dikerjakan secara rutin. Menghitung konsentrasi
klorofil lebih mudah dan lebih sering dilakukan.
Biomassa Fotosintetis : Chlorophyll-a
Definisi: Massa chlorophyll-a yang terkandung dalam sel fitoplankton hidup per
satuan volume atau per satuan luas.
Bagaimana mengukur?
1. Untuk sampel yang terbatas, air laut difilter lewat filter yang relevan ( “ukuran
pore” filter sangat penting; banyak pengukuran dengan net dan filter yang ukuran
pore-nya besar kehilangan sebagian besar biomassa, yang disebut “picoplankton” –
Prochlorococcus, Synechococcus, Ostreococcus).
Filter kemudian di “ekstrak” menggunakan pelarut organik – acetone, methanol dsb.
Ini akan melarutkan chlorophyll (dan pigmen lain). Kandungan chlorophyll diukur di
dalam pelarut – baik dalam bentuk absorptance (spectrophotometric) atau
fluorescence cairan (chlorophyll menyerap sinar biru dan mengeluarkan sinar
merah), atau memisahkannya dan mengukur dengan metode chromatografi,
sekarang High Performance Liquid Chromatography (HPLC). HPLC dapat juga
memberikan pengukuran pigmen lainnya.
2. Fluorescence dari air laut yang tidak di”ekstrak” dapat juga digunakan untuk
mengestimasi kandungan klorofil, baik untuk sampel terbatas, atau dari profil
terpencil atau kapal yang ditarik. Dapat juga diestimasi dari warna laut.
Kisaran di laut (per satuan volume): 0,01-10 mg Chl-a m-3
Kisaran di laut (per satuan luas): 10->100 mg Chl-a m-2
Distribusi Vertikal Chlorophyll :
Laut Lepas Pantai
C h l o r o p h y l l a ( m g m - 3 ) C h l o r o p h y l l a ( m g m - 3
0 . 0 0 0 . 4 0 0 . 8 0 1 . 2 0 1 . 6 0 0 . 0 0 1 . 0 0 2 . 0 0 3 . 0 0 4 . 0 0
0 . 0 0 0 . 0 0

4 0 . 0 0 1 0 . 0 0

D e p th (m )
D e p th (m )

8 0 . 0 0 2 0 . 0 0

Kedalaman Chlorophyll 3 0 . 0 0
1 2 0 . 0 0
Maksimum

4 0 . 0 0
1 6 0 . 0 0

Perhatikan perbedaan skala pada kedua sumbu


Siklus Kehidupan dan Kematian

Permukaan Laut

Cahaya + Nutrien → Tumbuh → Konsumsi

Nutrien ← Dekomposisi

Laut Dalam

Dasar Laut
Pertumbuhan Fitoplankton
(lapisan permukaan laut)
Pembelahan Sel
Sel
Fotosinthesis Anak

Satu sel Biomassa Dobel

Sel
Penyerapan Nutrien
Anak

Hasil:
• Bahan organik partikulat yang tersuspensi (makanan)
lebih banyak
• Nutrien anorganik terlarut (N, P, Si) berkurang
• Karbon anorganik terlarut (CO2) berkurang
Pertumbuhan Fitoplankton
(lapisan permukaan laut)

Sel Nasib:
Anak

Akumulasi (Bloom)

Sel Dimangsa
Anak

Tenggelam
Konsumsi dan Dekomposisi
(laut dalam)

Dekomposisi
Mikroba

Bahan KEHIDUPAN Nutrien


Organik LAUT DALAM + CO2

Konsumsi
Respiratsi
Ekskresi

Hasil:
• Bahan organik partikulat suspended berkurang
• Nutrien anorganik terlarut (N, P, Si) lebih banyak
• Karbon anorganik terlarut (CO2) menjadi jenuh
Penyerapan di laut

0.7
aT = aw + a *ph Chl + adet + CDOM
Total
0.6

0.5
-1

Air
Absorbsi (m
)

0.4

0.3
Fitoplankton
0.2

Detritus +bahan terlaru


0.1
yang berwarna
0
400 450 500 550 600 650 700
Panjang gelombang (nm)
Penyerapan di laut (lanjutan)
aT = aw + a *ph Chl + adet + CDOM

Disini, koefisien absorpsi total dibagi menjadi komponen karena air, fitoplankton,
dan detritus dan CDOM.

Untuk fitoplankton, koefisien a*ph adalah “koefisien absorbsi spesifik klorofil”. Ini
menunjukkan absorbsi dengan satuan kandungan klorofil-a (m-1 (mg Chl m-3 )-1
atau m2 mg Chl-1 ). Dalam kenyataan, ini termasuk juga absorbsi oleh semua
pigmen fotosintesis yang aktif, bukan hanya klorofil-a.

http://www.iopan.gda.pl/~kaczmar/pracownia/zsinica1.gif
Pigmen Fotosintesis

Semua organisme yang berfotosintesis mengandung satu atau lebih pigmen organik
yang mampu menyerap radiasi tampak, yang akan mengawali reaksi fotosintesis.
Tiga kelompok pigmen utama adalah klorofil, carotenoid dan phycobilin.
Carotenoid dan phycobilin disebut pigmen tambahan karena quanta (paket cahaya)
yang diserap oleh pigmen ini dapat ditransfer ke klorofil.
Pigmen Fotosintesis: Chlorophyll
Chlorophyll
chlorophyll a – terdapat pada semua tanaman tinggi
dan alge
chlorophyll b – terdapat pada Chlorophyta
chlorophyll c – terdapat pada Chromophyta
(chlorophyll a terdapat pada semua organisme yang
berfotosintesis dan menghasilkan O2.)

Molekul klorofil mengandung ‘kepala' porphyrin dan ‘ekor' phytol.


Kutub kepala (larut di air) terbuat dari cincin tetrapyrrole dan ion
kompleks magnesium dengan cincin atom nitrogen. Ekor phytol
memanjang ke dalam lapisan lemak
membran thylakoid.
Pigmen Fotosintesis : Carotenoid
Carotenoid (caroten dan xanthophyll)
Carotene:
Terutama α -carotene, β -carotene
Xanthophylls:
misal. fucoxanthin, diadinoxanthin, peridiniin,
zeaxanthin dsb. dsb.
Energi yang diserap oleh carotenoid
bisa ditransfer ke klorofil-a untuk fotosintesis;
beberapa bentuk bersifat photoprotective, dan
tidak kompeten berfotosintesis.
Pigmen Fotosintesis : Phycobiliprotein
Phycobilin (terdapat pada alge merah, cyanophyta dan cryptophyta ):
phycoerythrin
phycocyanin
allophycocyanin
Mereka secara struktur berkaitan dengan klorofil-a tetapi tidak memiliki rantai
sisi phytol dan ion magnesium. Mereka larut dalam air, berbeda dengan
klorofil dan carotenoid. Phycobiliprotein menyerap cahaya biru-hijau pada
spektrum yang bisa mencapai laut dalam.

http://www.botany.hawaii.edu/faculty/webb/BOT201/BOT201/Algae/Bot%20201%20phycobilisome%20hemispherical%20Tsukuba.jpg
Reaksi Gelap
Siklus Calvin-Benson memanfaatkan produk reaksi terang untuk mengikat karbon
dioksida menjadi senyawa karbon organik.

Protein, Karbohidrat, Lemak


Apa yang terjadi di laut….

Pertama, bagaimana mengukur laju fotosintesis di laut?

1. Paling umum adalah yang disebut cara 14 C.


a. Ambil air contoh.
b. Tambahkan karbon anorganik radioaktif sebagai tracer
c. Inkubasi selama beberapa waktu(~ 1-24 jam)
d. Contoh disaring, atau diasamkan untuk membuang semua karbon
anorganik
e. Ukur radioaktivitas yang tertinggal – akan proporsional terhadap laju
pengikatan karbon atau produktivitas primer.
f. Normalisasikan ke satuan waktu dan satuan konsentrasi pigmen
untuk menyatakan hasil (yaitu mol C (mg Chl)-1 h-1 ).

2. Cara pengukuran yang paling umum berikutnya adalah pengukuran


evolusi oksigen. Cara ini kurang sensitif dibandingkan cara 14 C.
1. Ambil air contoh
2. Ukur kandungan oksigen mula-mula
3. Inkubasi air pada botol gelap dan terang selama beberapa jam
4. Ukur kandungan oksigen final
5. Normalisasikan satuan waktu dan pigmen untuk menyatakan hasil
(yaitu mol O2 (mg Chl)-1 h-1 )
Inkubasi “In situ” Simulasi inkubasi “In situ”

Photosynthetron: Inkubasi
terkontrol di laboratorium
(Lewis and Smith 1983)
Produksi Primer sebagai fungsi dari cahaya
(kurva P vs E)
1. Pada cahaya yang rendah, laju fotosintesis sebanding dengan cahaya (yang
diserap). Kurva P vs E hampir linier dengan kemiringan α .

1 . 0 0
Fotosintesis (g C (g Chl)-1 h-1 )

0 . 8 0

0 . 6 0

0 . 4 0

α = a*ph
0 . 2 0

0 . 0

0
0

. 0 0 1 0 . 0 0
Φm
2 0 . 0 0 3 0 . 0 0 4 0 . 0 0

Intensitas cahaya (PAR, umol m-2 s-1 )


Produksi Primer sebagai fungsi dari cahaya
(kurva P vs E)

2. Pada intensitas sedang, kurva P vs E rata – terjadi kejenuhan cahaya


6 . 0 0
Pmax
Fotosintesis (g C (g Chl)-1 h-1 )

4 . 0 0

P = Pmax (1 − exp(−αEo / Pmax ))


or
2 . 0 0
P = Pmax (1 − exp(− Eo / E K ))
Ek
α
0 . 0 0

0 . 0 0 2 0 0 . 0 0 4 0 0 . 0 0 6 0 0 . 0 0 8 0 0 . 0 01 0 0 0 . 0 0

Intensitas cahaya (PAR, umol m-2 s-1 )


Produksi Primer sebagai fungsi dari cahaya
(kurva P vs E)
3. Pada intensitas yang sangat tinggi, kurva the P vs E menurun – terjadi inhibisi
cahaya. Cahaya yang tinggi dapat merusak pusat reaksi dan mengurangi laju
fotosintesis di bawah nilai maksimumnya.
6 . 0 0
Fotosintesis (g C (g Chl)-1 h-1 )

Photoinhibition
4 . 0 0

P = Pmax (1 − exp(−αEo / Pmax )) exp(− βEo / Pmax )

2 . 0 0

0 . 0 0

0 . 0 0 4 0 0 . 0 0 8 0 0 . 0 0 1 2 0 0 . 0 0 1 6 0 0 . 0 0

Intensitas cahaya (PAR, umol m-2 s-1 )