Anda di halaman 1dari 130

1

Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


SPESIFIKASI TEKNIS
PASAL 1. PERSIAPAN TEKNIS PELAKSANAAN





1.1. Lingkup
1.1.1. Persyaratan Teknis Umum ini merupakan persyaratan dari segi teknis yang secara
umum berlaku untuk seluruh bagian pekerjaan dimana persyaratan ini bisa
diterapkan untuk pelaksanaan kegiatan Penambahan Ruang, Pengatapan &
Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi, yang meliputi :
I. Bangunan Gedung Utama GOR
II. Pekerjaan Landscape
Secara lengkap seluruh jenis pekerjaan tersebut dapat disesuaikan / dilihat dan
tercantum pada Bill Of Quantity (BQ).
1.1.2. Kecuali disebut secara khusus dalam dokumen-dokumen dimaksud berikut, lingkup
pekerjaan yang ditugaskan termasuk tetapi tidak terbatas pada hal-hal sebagai
berikut:
a. Pengadaan tenaga kerja .
b. Pengadaan Bahan / Material.
c. Pengadaan peralatan & alat bantu, sesuai dengan kebutuhan lingkup pekerjaan
yang ditugaskan.
d. Koordinasi dengan Pemborong / pekerja lain yang berhubungan dengan
pekerjaan pada bagian pekerjan yang ditugaskan.
e. Penjagaan kebersihan, kerapian, dan keamanan kerja.
f. Pembuatan As Built drawing (Gambar terlaksana).
1.1.3. Persyaratan Teknis Umum menjadi satu kesatuan dangan persyaratan teknis
pelaksanaan pekerjaan dan secara bersama sama merupakan persyaratan dari
segi teknis bagi seluruh pekerjaan sebagaimana diungkapkan dalam satu atau lebih
dari dokumen-dokumen berikut ini :
a. Gambar-gambar pelelangan / pelaksanaan.
b. Persyaratan Teknis Umum / pelaksanaan pekerjaan / bahan.
c. Rincian Volume Pekerjaan / Rincian Penawaran.
d. Dokumen-dokumen pelelangan / pelaksanaan yang lain.
1.1.4. Dalam hal mana ada bagian dari Persyaratan Teknis Umum ini, yang tidak dapat
diterapkan pada bagian pekerjaan sebagaimana diungkapkan di atas, maka bagian
dari persyaratan teknis umum tersebut dengan sendirinya dianggap tidak berlaku.



2
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


1.2. Referensi
1.2.1. Seluruh pekerjaan harus dilaksanakan dengan mengikuti dan memenuhi
persyaratan-persyaratan teknis yang tertera dalam Normalisasi Indonesia (NI),
Standar Industri Indonesia (SII) dan Peraturan-peraturan Nasional maupun
Peraturan-peraturan setempat lainnya yang berlaku atau jenis - jenis pekerjaan
yang bersangkutan antara lain :
NI - 2 (1971) PERATURAN BETON BERTULANG INDONESIA.
NI - (1983) PERATURAN PERENCANAAN BANGUNAN BAJA INDONESIA
(SKBI.1.3.55.1987).
NI - 3 (1970) PERATURAN UMUM UNTUK BAHAN BANGUNAN DI INDONESIA.
NI - 5 PERATURAN KONSTRUKSI KAYU INDONESIA.
NI - 8 PERATURAN SEMEN PORTLAND INDONESIA.
NI - 10 BATA MERAH SEBAGAI BAHAN BANGUNAN.
PERATURAN PLUMBING INDONESIA.
PERATURAN UMUM INSTALASI LISTRIK.
STANDART INDUSTRI INDONESIA.
ASTM, JJ dan lain sebagianya yang dianggap berhubungan dengan bagian
pekerjaan ini.
Untuk pekerjaan-pekerjaan yang belum termasuk dalam standart-standart yang
tersebut di atas, maupun standart-standart nasional lainnya, maka diberlakukan
standart-standart Internasional yang berlaku atau pekerjaan pekerjaan tersebut
atau setidak-tidaknya berlaku standart-standart Persyaratan Teknis dari Negara-
negara asall bahan / pekerjaan yang bersangkutan dan dari produk yang ditentukan
pabrik pembuatnya.
1.2.2. Dalam hal dimana ada bagian pekerjaan yang persyaratan teknisnya tidak diatur
dalam persyaratan teknis umum / khususnya maupun salah satu dari ketentuan
yang disebutkan di atas, maka atas bagian pekerjaan tersebut pemborong harus
mengajukan salah satu dari persyaratan-persyaratan berikut guna disepakati oleh
direksi untuk dipakai sebagai patokan persyaratan teknis :
a. Standart / norma / kode / pedoman yang bisa diterapkan pada bagian
pekerjan bersangkutan yang diterbitkan oleh Instansi / Institusi / Asosiasi
Profesi / Asosiasi Produsen / Lembaga Pengujian atau Badan-badan lain yang
berwewenang / berkepentingan atau Badan-badan yang bersifat Internasional
ataupun Nasional dari Negara lain, sejauh bahwa atau hal tersebut diperoleh
persetujuan dari Direksi / Pengawas.
b. Brosur teknis dari produsen yang didukung oleh sertifikat dari Lembaga
pengujian yang diakui secara Nasional / Internasional.





3
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


1.3. Bahan
1.3.1. Baru / Bekas
Kecuali ditetapkan lain secara khusus, maka semua bahan yang dipergunakan untuk
pekerjaan ini harus merupakan bahan yang baru, penggunaan barang bekas dalam
komponen kecil maupun besar sama sekali tidak diperbolehkan.
1.3.2. Tanda Pengenal
a. Dalam hal dimana pabrik / produsen bahan mengeluarkan tanda pengenal untuk
produk bahan yang dihasilkan, baik berupa cap / merk dagang pengenal pabrik /
produsen bersangkutan yang dipergunakan dalam pekerjaan ini harus
mengandung tanda pengenal tersebut.
b. Khusus untuk bahan bagi pekerjaan instalasi (penerangan, plumbing, dll) kecuali
ditetapkan oleh Direksi / Pengawas, bahan sejenis dengan fungsi yang sama
harus diberi tanda pengenal untuk membedakan satu bahan dari bahan lainnya.
Tanda pengenal ini bisa berupa warna atau tanda-tanda lain yang mana harus
sesuai dengan referensi pada I.2. tersebut di atas atau dalam hal dimana tidak /
belum ada pengaturan yang jelas mengenai itu, hal ini harus dilaksanakan sesuai
petunjuk direksi / Pengawas.
1.3.3. Merk Dagang dan Kesetaraan.
a. Penyebutan sesuatu merk dagang bagi suatu bahan / produk di dalam
Persyaratan Teknis Umum, secara umum harus diartikan sebagai persyaratan
kesetaraan kwalitas penampilan (Performance) dari bahan / produk tersebut,
yang mana dinyatakan dengan kata-kata atau yang setara.
b. Kecuali secara khusus dipersyaratkan lain, maka penggunaan bahan / produk lain
yang dapat dibuktikan mempunyai kwalitas penampilan yang setara dengan
bahan / produk yang memakai merk dagang yang
c. disebutkan, dapat diterima sejauh bahwa untuk itu sebelumnya telah diperoleh
persetujuan tertulis dari Direksi / Pengawas atas Kesetaraan tersebut.
d. Penggunaan Bahan / Produk yang disetujui sebagai setara tidak dianggap
sebagai perubahan pekerjaan dan karenanya perbedaan harga dengan bahan
produk yang disebutkan merk dagangnya atau diabaikan.
e. Sejauh bisa memenuhi persyaratan teknis yang ditetapkan, penggunaan produksi
dalam negeri lebih diutamakan.

1.3.4. Penggantian (Substitusi)
a. Pemborong / supplier bisa mengajukan usulan untuk menggantikan sesuatu bahan
/ produk lain dengan penampilan yang setara dengan yang dipersyaratkan.
b. Dalam persetujuan atau sesuatu penggantian (substitusi), perbedaan harga yang
ada dengan bahan / produk yang dipersyaratkan akan diperhitungkan sebagai
perubahan pekerjaan dengan ketentuan sebagai berikut :



4
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


1. Dalam hal dimana penggantian disebabkan karena kegagalan pemborong /
suplier seperti dipersyaratkan, maka perubahan pekerjaan yang bersifat
biaya tambah dianggap tidak ada.
2. Dalam hal dimana penggantian dapat disepakati oleh Direksi / Pengawas dan
pemberi Tugas sebagai masukan (Input) baru yang menyangkut nilai tambah,
maka perubahan pekerjaan mengakibatkan biaya tambah dapat
diperkenankan.
1.3.5. Persetujuan Bahan
a. Untuk menghindarkan penolakan bahan di lapangan, dianjurkan dengan sangat
agar sebelum sesuatu bahan / produk akan dibeli / dipesan / diproduksi, terlebih
dahulu dimintakan persetujuan dari Direksi / Pengawas atau kesesuaian dari
bahan / Produk tersebut pada Persyaratan Teknis, yang mana akan diberikan
dalam bentuk tertulis yang dilampirkan pada contoh / brosur dari bahan / produk
yang bersangkutan untuk diserahkan kepada Direksi / Pengawas Lapangan.
b. Penolakan bahan di lapangan karena diabaikannya prosedur di atas sepenuhnya
merupakan tanggung jawab pemborong / suplier, yang mana tidak dapat
diberikan pertimbangan keringanan apapun.
c. Adanya persetujuan tertulis dengan disertai contoh / brosur seperti tersebut di
atas tidak melepaskan tanggung jawab Pemborong / Supplier dari kewajibannya
dalam Perjanjian Kerja ini mengadakan bahan / Produk yang sesuai dengan
persyaratannya, serta tidak merupakan jaminan akan diterima / disetujuinya
seluruh bahan / produk yang digunakan sesuai dengan contoh brosur yang telah
disetujui.

1.3.6. Contoh
Pada waktu memintakan persetujuan atas bahan / produk kepada Direksi / Pengawas
harus disertakan contoh dari bahan / produk tesebut dengan ketentuan sebagai
berikut:
a. Jumlah Contoh
1. Untuk bahan / produk bila tidak dapat diberikan sesuai sertifikat pengujian
yang dapat disetujui / diterima oleh Direksi / Pengawas sehingga oleh
karenanya perlu diadakan pengujian kepada Direksi / Pengawas harus
diserahkan sejumlah bahan produk sesuai dengan persyaratan yang
ditetapkan dalam standart prosedur pengujian, untuk dijadikan benda uji
guna diserahkan pada Badan / Lembaga Penguji yang ditunjuk oleh Direksi /
Pengawas.
2. Untuk Bahan / produk atau mana dapat ditunjukan sertifikat pengujian yang
dapat disetujui / diterima oleh Direksi / Pengawas, kepada Direksi /




5
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


Pengawas harus diserahkan 3 (tiga) buah contoh yang masing masing disertai
dengan salinan sertifikat pengujian yang bersangkutan.

b. Contoh yang Disetujui
1. Dari contoh yang diserahkan kepada Direksi / Pengawas atau contoh yang
telah memperoleh persetujuan dari Direksi / Pengawas harus dibuat suatu
keterangan tertulis mengenai persetujuannya dan disamping itu, oleh Direksi
/ pengawas harus dipasangkan tanda pengenal persetujuannya pada 3 (tiga)
buah contoh yang semuanya akan dipegang oleh Direksi / Pengawas. Bila
dikehendaki, Pemborong / Supplier dapat meminta sejumlah set tambahan
dari contoh berikut tanda pengenal persetujuan dan surat keterangan
persetujuan untuk kepentingan Dokumentasi sendiri. Dengan demikian
jumlah contoh yang harus diserahkan kepada Direksi / Pengawas harus
ditambah seperlunya sesuai dengan kebutuhan tambahan tersebut.
2. Pada waktu Direksi / Pengawas sudah tidak lagi membutuhkan contoh yang
disetujui tersebut untuk pemeriksaan bahan produk bagi pekerjaan,
Pemborong berhak meminta kembali contoh tersebut untuk dipasangkan
pada pekerjaan.
c. Waktu Persetujuan Contoh
1. Adalah tanggung jawab dari pemborong / supllier untuk mengajukan contoh
pada waktunya, sedemikian sehingga pemberian persetujuan atau contoh
tersebut tidak akan menyebabkan keterlambatan pada jadwal pengadaan
bahan.
2. Untuk bahan / produk yang persyaratannya tidak dikaitkan dengan
kesetaraan pada suatu merk dagang tertentu, keputusan atau contoh akan
diberikan oleh Direksi / Pengawas dalam waktu tidak lebih dari 10 (sepuluh)
hari kerja. Dalam hal dimana persetujuan tersebut akan melibatkan
keputusan tambahan diluar persyaratan teknis (seperti penentuan model,
warna, dll), maka keseluruhan keputusan akan diberikan dalam waktu tidak
lebih dari 21 (dua puluh satu) hari kerja.
3. Untuk bahan / produk yang masih harus dibuktikan kesetaraannya dengan
suatu merk dagang yang disebutkan, keputusan atau contoh akan diberikan
oleh Direksi / Pengawas dalam waktu 21 (duapuluh satu) hari kerja sejak
dilengkapinya pembuktian kesetaraan.
4. Untuk bahan / Produk yang bersifat pengganti / substitusi, keputusan
persetujuan akan diberikan oleh Direksi / Pengawas dalam jangka waktu 30
(tiga puluh) hari sejak diterimanya dengan lengkap seluruh bahan
pertimbangan.




6
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


5. Untuk bahan / produk yang bersifat peralatan / perlengkapan atau pun
produk yang lain karena sifat / jumlah / harga pengadaanya tidak
memungkinkan untuk diberikan contoh dalam bentuk bahan / produk jadi
permintaan persetujuan bisa diajukan berdasarkan Brosur dari produk
tersebut, yang mana harus dilengkapi dengan :
Spesifikasi Teknis lengkap yang dikeluarkan oleh pabrik / produsen.
Surat surat seperlunya dari agen / importer, sesuai keagenan, surat
jaminan suku cadang dan jasa purna (after sales service) dan lain-lain.
Katalog untuk warna, pekerjaan penyelesaian (finishing) dan lain-lain.
Sertifikat pengujian, penetapan, kelas, dan dokumen-dokumen lain
sesuai petunjuk Direksi / Pengawas.
6. Apabila setelah melewati waktu yang ditetapkan di atas, keputusan,
keputusan atau contoh dari bahan / Produk yang diajukan belum diperoleh
tanpa pemberitahuan tertulis apapun dari Direksi / Pengawas, maka dengan
sendirinya dianggap bahwa contoh yang diajukan telah disetujui oleh Direksi
/ Pengawas.
1.3.7. Penyimpanan Bahan
a. Persetujuan atas suatu bahan / produk harus diartikan sebagai perijinan untuk
memasukan bahan produk tersebut dengan tetap berada dalam kondisi layak
untuk dipakai. Apabila selama waktu itu ternyata bahwa bahan / produk tidak
layak untuk dipakai dalam pekerjaan, Direksi / Pengawas berhak memerintahkan
agar :
1. Bahan atau Produk tersebut segera diperbaiki sehingga kembali menjadi
layak untuk dipakai.
2. Dalam hal mana perbaikan tidak lagi mungkin, supaya bahan / produk
tersebut segera dikeluarkan dari lokasi pekerjaan selama 2 x 24 jam untuk
diganti dengan yang memenuhi persyaratan.
b. Untuk bahan / produk yang mempunyai umur pemakaian yang tertentu
penyimpanannya harus dikelompokan menurut umur pemakaian tersebut yang
mana harus dinyatakan dengan tanda pengenal dengan ketentuan sebagai
berikut:
1. Terbuat dari kaleng atau kertas karton yang tidak akan rusak selama
penggunaan ini.
2. Berukuran minimal 40 x 60 cm.
3. Huruf berukuran minimum 10 cm dengan warna merah.
4. Diletakkan di tempat yang mudah terlihat.
c. Penyusunan bahan sejenis selama penyimpanan harus diatur sedemikian rupa
sehingga bahan yang terlebih dahulu masuk akan lebih dulu pula dikeluarkan
untuk dipakai dalam pekerjaan.



7
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


1.4. Pelaksanaan
1.4.1. Rencana Pelaksanaan
a. Dalam waktu 7 (tujuh) hari sejak ditandatanganinya Surat Perintah Kerja (SPK)
oleh kedua belah pihak, pemborong harus menyerahkan kepada Direksi /
Pengawas sebuah Network Planning mengenai seluruh kegiatan
b. yang perlu dilakukan untuk melaksanakan pekerjaan ini dalam diagram mana
dinyatakan pula urutan serta kaitan / hubungan antara seluruh kegiatan-kegiaan
tersebut.
c. Kegiatan kegiatan Pemborong untuk / selama masa pengadaan / pembelian serta
waktu pengiriman / pengangkutan dari :
1. Bahan, elemen, komponen dari pekerjaan maupun pekerjaan persiapan /
pembantu.
2. Peralatan dan perlengkapan untuk pekerjaan
d. Kegiatan kegiatan Pemborong untuk / selama waktu fabrikasi, pemasangan dan
pembangunan.
e. Pembuatan gambar-gambar kerja.
f. Permintaaan persetujuan atau bahan serta gambar kerja maupun rencana kerja.
g. Harga borongan dari masing masing kegiatan tersebut.
h. Jadwal untuk seluruh kegiatan tersebut.
i. Direksi / Pengawas akan memeriksa rencana kerja Pemborong dan memberikan
tanggapan dalam waktu 2 (dua) minggu.
j. Pemborong harus memasukkan kembali perbaikan / penyempurnaan atau
rencana kerja kepada Direksi / Pengawas dan meminta diadakannya perbaikan /
penyempurnaan atau rencana kerja tadi paling lambat 4 (empat) hari sebelum
dimulainya pelaksanaan.
k. Pemborong tidak dibenarkan memulai suatu pelaksanaan atau pekerjaan sebelum
adanya persetujuan dari Direksi / Pengawas atau rencana kerja ini. Kecuali dapat
dibuktikan bahwa Direksi / Pengawas telah melalaikan kewajibannya untuk
memeriksa rencana kerja Pemborong pada waktunya, maka kegagalan
Pemborong untuk memulai pekerjaan sehubungan dengan belum adanya rencana
kerja yang memulai pekerjaan yang disetujui Direksi, sepenuhnya merupakan
tanggung jawab dari pemborong bersangkutan.

1.4.2. Gambar Kerja (Shop Drawing)
a. Untuk bagian-bagian pekerjaan dimana gambar pelaksanaan (Construction
Drawings) belum cukup memberikan petunjuk mengenai cara untuk mencapai
keadaan terlaksana, Pemborong wajib untuk mempersiapkan gambar kerja yang
secara terperinci akan memperlihatkan cara pelaksanaan tersebut.




8
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


b. Format dari gambar kerja harus sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh
Direksi / Pegawas.
c. Gambar kerja harus diajukan kepada Direksi / Pengawas untuk mendapatkan
persetujuan untuk mana gambar-gambar tersebut di atas harus diserahkan dalam
rangkap 3 (tiga).
d. Pengajuan gambar kerja tersebut paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum
pemesanan bahan atau Pelaksanaan pekerjaan dimulai.
1.4.3. Ijin Pelaksanaan
Ijin pelaksanaan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum memulai pekerjaan tersebut,
Pemborong diwajibkan untuk mengajukan ijin pelaksanaan secara tertulis kepada
Direksi / Pengawas dengan dilampiri gambar kerja yang sudah disetujui. Ijin
pelaksanaan yang disetujui sebagai pegangan Pemborong untuk melaksanakan pada
bagian pekerjaan tersebut.
1.4.4. Contoh Pekerjaan ( Mock Up).
Bila pekerjaan dikehendaki oleh Direksi / Pengawas, Pemborong wajib menyediakan
sebelum pekerjaan dimulai.
1.4.5. Rencana Mingguan dan Bulanan.
a. Selambat-lambatnya pada setiap hari Sabtu dalam masa dimana pelaksanaan
pekerjaan berlangsung, Pemborong wajib untuk menyerahkan kepada direksi /
pengawas suatu rencana mingguan yang berisi rencana pelaksanaan dari berbagai
bagian pekerjaan yang akan dilaksanakan dalam minggu berikutnya.
b. Selambat-lambatnya pada minggu terakhir dari tiap bulan, Pemborong wajib
menyerahkan kepada Direksi / Pengawas suatu rencana bulanan yang
menggambarkan dalam garis besarnya, berbagai rencana pelaksanaan dari
berbagai bagian pekerjaan yang direncanakan untuk dilaksanakan dalam bulan
berikutnya.
c. Kelalaian Pemborong untuk menyusun dan menyerahkan rencanan mingguan
maupun bulanan dinilai sama dengan kelalaian dalam melaksanakan perintah
Direksi / Pengawas dalam melaksanakan pekerjaan.
d. Untuk memulai suatu bagian pekerjaan yang baru, pemborong diwajibkan untuk
memberitahu Direksi / Pengawas mengenai hal tersebut paling sedikit 2 x 24 jam
sebelumnya.
1.4.6. Kwalitas Pekerjaan
Pekerjaan harus dikerjakan dengan kwalitas pengerjaan yang terbaik untuk jenis
pekerjaan bersangkutan.
1.4.7. Pengujian Hasil Pekerjaan
a. Kecuali dipersyaratkan lain secara khusus, maka semua pekerjaan akan diuji
dengan cara dan tolak ukur pengujian yang dipersyaratkan dalam referensi yang
ditetapkan dalam pada Pasal I.2. dari Persyaratan Teknis Umum ini.



9
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


b. Kecuali dipersyaratkan lain secara khusus, maka Badan / Lembaga yang akan
melakukan pengujian dipilih atas persetujuan Direksi / Pengawas dari Lembaga /
Badan Penguji milik Pemerintah atau yang diakui Pemerintah atau Badan lain
yang oleh Direksi / Pengawas dianggap memiliki obyektifitas dan Integritas yang
meyakinkan. Atau hal yang terakhir ini Pemborong / Supplier tidak berhak
mengajukan sanggahan.
c. Semua biaya pengujian dalam jumlah seperti yang dipersyaratkan menjadi beban
Pemborong.
d. Dalam hal dimana Pemborong tidak dapat menyetujui hasil pengujian dari bahan
penguji yang ditunjuk oleh Direksi, Pemborong berhak mengadakan pengujian
tambahan pada lembaga / Badan lain yang memenuhi persyaratan Badan Penguji
seperti tersebut di atas untuk mana seluruh pembiayaannya ditanggung sendiri
oleh pemborong.
e. Apabila ternyata bahwa kedua hasil pengujian dari kedua Badan tersebut
memberikan kesimpulan yang berbeda, maka dapat dipilih untuk :
1. Memilih Badan / Lembaga Penguji ketiga atau kesepakatan bersama.
2. Melakukan pengujian ulang pada bahan / lembaga Penguji pertama atau
kedua dengan ketentuan tambahan sebagai berikut :
- Pelaksanaan pengujian ulang harus disaksikan oleh Direksi / Pengawas dan
Pemborong / supplier maupun wakil-wakilnya.
- Pada pengujian ulang harus dikonfirmasikan penerapan dari alat alat
penguji.
3. Hasil dari pengujian ulang harus dianggap final, kecuali bilamana kedua
belah pihak sepakat untuk menganggapnya demikian.
4. Apabila hasil pengujian ulang mengkonfirmasikan kesimpulan dari hasil
pengujian yang pertama, maka semua akibat langsung maupun tidak langsung
dari adanya semua pengulangan pengujian menjadi tanggung jawab
pemborong / supplier.
5. Apabila hasil pengujian ulang menunjukan ketidaktepatan kesimpulan dari
hasil pengujian yang kedua, maka:
- 2 (dua) dari 3 (tiga) penguji yang bersangkutan, atas pilihan Pemborong /
Supplier akan diperlakukan sebagai pekerjaan tambah.
- Atas segala penundaan pekerjaan akibat adanya penambahan /
pengulangan pengujian akan diberikan tambahan waktu pelaksanaan pada
bagian pekerjaan bersangkutan dan bagian bagian lain yang terkena
- akibatnya, penambahan mana besarnya adalah sesuai dengan penundaan
yang terjadi





10
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


1.4.8. Penutupan Hasil Pelaksanaan Pekerjaan
a. Sebelum menutup suatu bagian pekerjaan dangan bagian pekerjaan yang lain
yang mana akan secara visual menghalangi Direksi / Pengawas untuk memeriksa
bagian pekerjaan yang terdahulu, pemborong wajib melaporkan secara tertulis
kepada Direksi / Pengawas mengenai rencananya untuk melaksanakan bagian
pekerjaan yang akan menutupi bagian pekerjaan tersebut, sedemikian rupa
sehingga Direksi / Pengawas berkesempatan secara wajar melakukan
pemeriksaan pada bagian yang bersangkutan untuk dapat disetujui kelanjutan
pengerjaannya.
b. Kelalaian Pemborong untuk menyampaikan laporan di atas, memberikan hak
kepada Direksi / Pengawas untuk dibelakang hari menuntut pembongkaran yang
menutupi tersebut, guna memeriksa hasil pekerjaan yang terdahulu yang mana
akibatnya sepenuhnya akan ditanggung oleh Pemborong.
c. Dalam hal dimana laporan telah disampaikan dan Direksi tidak mengambil
langkah-langkah untuk menyelesaikan pemeriksaan yang dimaksudkan di atas,
maka setelah lewat 2 (dua) hari sejak laporan disampaikan, pemborong berhak
melanjutkan pelaksanaan pekerjaan dan menganggap bahwa Direksi telah
menyetujui bagian pekerjaan yang ditutup tersebut.
d. Pemeriksaan dan Persetujuan oleh Direksi / Pengawas atas suatu pekerjaan tidak
melepaskan Pemborong dari kewajibannya untuk melaksanakan pekerjaan sesuai
dengan Surat Perjanjian Pemborong (SPP).
e. Walaupun telah diperiksa dan disetujui kepada Pemborong masih dapat
diperintahkan untuk membongkar bagian pekerjaan yang menutupi bagian
pekerjaan lain guna pemeriksaan bagian pekerjaan yang ditutupi.
1.4.9. Kebersihan dan Keamanan
a. Pemborong bertanggung jawab untuk menjaga agar area kerja senantiasa berada
dalam keadaan rapi dan bersih.
b. Pemborong bertanggung jawab atas keamanan diarea kerja, termasuk apabila
diperlukan tenaga, peralatan, atau tanda-tanda Khusus.
1.5. Penyelesaian Dan Penyerahan
1.5.1. Dokumen Terlaksana (As Build Documents)
a. Pada penyelesaian dari setiap pekerjaan Pemborong wajib menyusun Dokumen
Terlaksana yang terdiri dari :
1. Gambar-gambar terlaksana (as built drawing)
2. Persyaratan teknis terlaksana dari pekerjaan, sebagaimana yang telah
dilaksanakan.
b. Dikecualikan dari kewajiban di atas adalah Pemborong untuk pekerjaan:
1. Pekerjaan Persiapan
2. Supply bahan, perlengkapan / peralatan kerja



11
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


c. Dokumen terlaksana bisa diukur dari :
1. Dokumen pelaksanaan
2. Gambar-gambar perubahan
3. Perubahan Persyaratan Teknis
4. Brosur teknis yang diberi tanda pengenal khusus berupa cap sesuai petunjuk
Direksi / Pengawas.
d. Dokumen terlaksana ini harus diperiksa dan disetujui oleh Direksi / Pengawas
e. Khusus untuk pekerjaan kunci, sarana komunikasi bersaluran banyak, utilitas dan
pekerjaan pekerjaan lain dengan sistem jaringan bersaluran banyak secara
operasional membutuhkan identifikasi yang bersifat lokatif, dokumen terlaksana
ini harus dilengkapi dengan daftar pesawat / instalasi / peralatan / perlengkapan
yang mengidentifikasi lokasi dari masing-masing barang tersebut.
f. Kecuali dengan ijin khusus dari Direksi / Pengawas dan Pemberi Tugas,
Pemborong harus membuat dokumen terlaksana hanya untuk diserahkan kepada
Pemberi Tugas. Pemborong tidak dibenarkan membuat / menyimpan salinan
ataupun copy dari dokumen terlaksana tanpa ijin khusus tersebut.

1.5.2. Penyerahan
Pada waktu penyerahan pekerjaan, Pemborong wajib menyerahkan kepada Pemberi
Tugas :
a. 2 (dua) dokumen terlaksana
b. Untuk peralatan / perlengkapan:
- 2 (dua) set pedoman operasi (operational manual)
- suku cadang sesuai yang dipersyaratkan
c. Untuk berbagai macam :
- Semua kunci orisinil disertai Construction Key bila ada
- Minimum 1 (satu) set kunci duplikat
d. Dokumen dokumen resmi (seperti surat ijin, tanda pembayaran cukai, surat fiskal
pajak, dan lain-lain)
e. Segala macam surat jaminan berupa Guarantee / Warranty sesuai uang yang
dipersyaratkan.
f. Surat pernyataan pelunasan sesuai petunjuk Direksi / Pengawas
g. Bahan finishing cat minimal 3 (tiga) galon (masing-masing warna)
h. Bahan finishing lantai / dinding & atau masing masing minimal 2 m
2


1.6. Keamanan Penjagaan
1.6.1. Untuk keamanan Pemborong diwajibkan mengadakan penjagaan, bukan saja
terhadap pekerjaannya, tetapi juga bertanggung jawab atas keamanan, kebersihan




12
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


1.6.2. bangunan-bangunan, jalan-jalan, pagar, pohon-pohon dan taman-taman yang telah
ada.
1.6.3. Pemborong berkewajiban menyelamatkan bangunan yang telah ada, apabila
bangunan yang telah terjadi kerusakan alibat pekerjaan ini, maka pemborong
berkewajiban untuk memperbaiki / membetulkan sebagaimana mestinya.
1.6.4. Pemborong harus menyediakan penerangan yang cukup di lapangan, terutama pada
waktu lembur, jika Pemborong menggunakan aliran listrik dari bangunan /
komplek, diwajibkan bagi pemborong untuk memasang meter sendiri untuk
menetapkan sewa listrik yang dipakai.
1.6.5. Pemborong harus berusaha menanggulangi kotoran-kotoran debu agar tidak
mengurangi kebersihan dan keindahan bangunan-bangunan yang sudah ada.
1.6.6. Segala operasi yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan untuk Pembangunan
pekerjaan sementara sesuai dengan ketentuan kontrak harus dilaksanakan
sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap ketentraman
penduduk atau jalan-jalan yang harus digunakan baik jalan perorangan atau
umum, milik pemberi tugas atau milik pihak lain. Pemborong harus membebaskan
Pemberi Tugas dari segala tuntutan ganti rugi sehubungan dengan hal tersebut di
atas.
1.6.7. Pemborong harus bertanggung jawab atas kerusakan-kerusakan pada jalan raya
atau jembatan yang menghubungkan proyek sebagai akibat dari lalu lalang
peralatan ataupun kendaraan yang dipergunakan untuk mengangkut bahan bahan /
material guna keperluan proyek.
1.6.8. Apabila Pemborong memindahkan alat-alat pelaksanaan, mesin-mesin berat atau
unit-unit alat berat lainnya dari bagian pekerjaan, melalui jalan raya atau
jembatan yang mungkin akan mengakibatkan kerusakan dan seandainya pemborong
akan membuat perkuatan-perkuatan di atasnya, maka hal tersebut harus
diberitahukan terlebih dahulu kepada Pemberi Tugas dan Instansi Yang
berwewenang. Biaya untuk perkuatan tersebut menjadi tanggungan Pemborong.














13
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


PASAL 2. PEKERJAAN PERSIAPAN DAN LAPANGAN

2.1. Pekerjaan Persiapan
2.1.1. Direksi Keet
a. Bangunan sementara
Sebelum pemborong memulai pelaksanaan pekerjaan ini diharuskan
menyediakan dan mendirikan Direksi Keet berupa bangunan sementara yang
berukuran minimal 4.00 x 8.00 m2 serta gudang dengan ukuran minimal 4.00
x 8.00 m2.
Bangunan sementara ini harus dilengkapi dengan toilet / WC dan kamar
mandi yang khusus dimanfaatkan oleh Direksi / Pengawas. Selain dilengkapi
dengan bak air, closet, maka harus pila dilengkapi dengan septictank &
sumur resapan.
b. Kelengkapan direksi keet
Sebagai kelengkapan direksi keet guna penyelesaian administrasi di
lapangan, maka sebelum pelaksanaan pekerjaan ini dimulai pemborong harus
terlebih dahulu melengkapi peralatan antara lain :
- (Satu) buah meja rapat (sederhana) ukuran 1,2 x 4,8 m2
- (Sepuluh) buah kursi duduk ruang rapat
- (Satu) White Board (1,2 x 2,4) dan peralatannya
- (satu) set kelengkapan PPPK ( P3K)
- (Lima) buah Helm
Selesai pelaksanaan proyek ini (Serah terima ke II) semua peralatan /
kelengkapan tersebut dalam ayat ini menjadi milik kontraktor, dengan
demikian pembiayaannya dianggap sewa.
c. Alat-alat yang harus senantiasa tersedia di Proyek untuk setiap saat dapat
digunakan oleh direksi Lapangan adalah :
- (satu) buah kamera
- (satu) buah alat ukur Schuitmaat.
- (satu) buah alat ukur optik (theodolit / waterpass)
- (satu) buah personal komputer dan printer
2.1.2. Kantor Dan Gudang Kontraktor
Dalam pelaksanaan pekerjaan ini Kontraktor dapat membuat Kantor Kontraktor,
barak-barak untuk pekerja atau gudang tempat penyimpanan bahan (Boukeet),
yang sebelumnya telah dapat persetujuan dari pihak Direksi / Pengawas
berkenaan dengan konstruksi atau penempatannya.
Semua Boekeet perlengkapan Pemborong dan sebagainya, pada waktu pekerjaan
berakhir (serah terima) harus dibongkar.



14
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


2.1.3. Sarana Pekerja
a. Kontraktor wajib memasukkan identifikasi tempat kerja bagi semua
pekerjaan yang dilakukan di luar lapangan sebelum pemasangan peralatan
yang dimiliki serta jadwal kerja.
b. Semua sarana kerja yang digunakan harus benar-benar baik dan memenuhi
persyaratan kerja sehingga memudahkan dan melancarkan kerja di lapangan
c. Penyediaan tempat penyimpanan bahan / material di lapangan harus aman
dari segala kerusakan hilang dan hal hal dasar yang mengganggu pekerjaan
lain yang sedang berjalan.
2.1.4. Pengaturan Jam Kerja Dan Pengerahan Tenaga Kerja
a. Pemborong harus dapat mengatur sedemikian rupa dalam hal pengerahan
tenaga kerja pengaturan jam kerja maupun penempatan bahan hendaknya
dikonsultasikan terlebih dahulu dengan pengawas lapangan. Khususnya dalam
pengerahan tenaga kerja dan pengaturan jam kerja dalam pelaksanaannya
harus sesuai dengan peraturan perburuhan yang berlaku.
b. Kecuali ditentukan lain, Pemborong harus menyediakan akomodasi dan
fasilitas-fasilitas lain yang dianggap perlu misalnya (air minum, toilet yang
memenuhi syarat-syarat kesehatan dan fasilitas kesehatan lainya seperti
penyediaan perlengkapan PPPK yang cukup serta pencegahan penyakit
menular)
c. Pemborong harus membatasi daerah operasinya di sekitar tempat pekerjaan
tidak melanggar wilayah bangunan-bangunan lain yang berdekatan, dan
pemborong harus melarang siapapun yang tidak berkepentingan memasuki
tempat pekerjaan
2.1.5. Perlindungan Terhadap Bangunan / Sarana Yang Ada
a. Segala kerusakan yang timbul pada bangunan / konstruksi sekitarnya menjadi
tanggung jawab Pemborong untuk memperbaikinya, bila kerusakan tersebut
jelas akibat pelaksanaan pekejaan.
b. Selama pekerjaan berlangsung Pemborong harus selalu menjaga kondisi jalan
sekitarnya dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kerusakan-kerusakan
yang terjadi akibat pelaksanaan pekerjaan ini.
c. Kontraktor wajib mengamankan sekaligus melaporkan / menyerahkan kepada
pihak yang berwenang bila nantinya menemukan benda-benda bersejarah.
2.1.6. Pembongkaran Bangunan Eksisting dan Pembersihan
a. Karena ada pekerjaan pembongkaran di beberapa bagian bangunan eksisting,
maka pemborong wajib membongkar terlebih dahulu setelah diadakannya
kordinasi terlebih dahulu dengan Direksi & Pengawas. Pemborong tidak punya
hak memiliki atas material bekas bongkaran. Bekas bongkaran sepenuhnya
milik



15
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


User/Owner. Pemborong juga berkewajiban mencatat jumlah bongkaran
yang ada dan seterusnya dilaporkan kepada pengawas & direksi. Sesuai
petunjuk pengawas & direksi, bongkaran yang tidak dipakai wajib dibuang ke
luar lokasi proyek. Sedangkan bongkaran yang masih dapat dipakai,
pemborong wajib menyimpan dengan rapi di tempat yang aman sesuai
petunjuk pengawas & direksi.
b. Lapangan terlebih dahulu juga harus dibersihkan dari rumput, semak, akar-
akar pohon.
c. Sebelum pekerjaan lain dimulai, lapangan harus selalu dijaga, tetap bersih
dan rata.
d. Pemborong tidak boleh membasahi, menebang atau merusak pohon-pohon
atau pagar, kecuali bila telah ditentukan lain atau sebelumnya diberi tanda
pada gambar-gambar yang menandakan bahwa pohon-pohon dan pagar harus
disingkirkan. Jika ada sesuatu hal yang mengharuskan Pemborong untuk
melakukan penebangan, maka ia harus mendapat ijin dari Pemberi tugas.
2.1.7. Penjagaan, Pemagaran Sementara, Dan Papan Nama
a. Pemborong bertanggung jawab atas penjagaan, penerangan dan perlindungan
terhadap pekerjaannya yang dianggap peting selama pelaksanaan, dan
sekaligus menempatkan petugas keamanan untuk mengatur sirkulasi / arus
kendaraan keluar / masuk proyek.
b. Sebelum kontraktor mulai melaksanakan pekerjaannya, maka terlebih dahulu
memberi pagar pengaman pada sekeliling site pekerjaan yang dilakukan
c. Pembuatan pagar pengaman dibuat jauh dari lokasi pekerjaan, sehingga tidak
mengganggu pelaksanaan pekerjaan yang sedang dilakukan, serta tempat
penimbunan bahan bahan.
d. Dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat bertahan / kuat sampai pekerjaan
selesai dan tampak dari luar dapat menunjang estetika atas kawasan yang
ada.
e. Syarat pagar pengamanan :
- Pagar dari seng gelombang finish cat berpola sesuai dengan pengarahan
pemberi tugas dengan ketinggian 180 cm.
- Tiang Dolken minimum berdiameter 10 cm, jarak pemasangan minimal 180
cm, bagian yang masuk pondasi minimum 40 cm.
- Rangka kayu meranti berukuran 4 x 6 cm, dengan pemasangan 4 jalur
menurut tinggi pagar.
- Lengkap pembuatan pintu masuk dari bahan sama.
Selesai proyek semua bahan pagar adalah milik Pemborong, untuk hal
tersebut di atas didalam susunan penawaran hendaknya telah diper-
timbangkan.



16
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


f. Sebelum memulai pelaksanaan, Kontraktor harus memasang papan nama
proyek yang dibuat dan dilaksanakan sesuai dengan gambar rencana.

2.1.8. Pekerjaan Penyediaan Air Dan Daya Listrik Untuk Bekerja
a. Air untuk bekerja harus disediakan Kontraktor dengan membuat sumur
pompa di tapak proyek atau disulai dari luar. Air harus bersih, bebas dari
debu, bebas dari lumpur, minyak dan bahan-bahan kimia lainnya
b. yang merusak. Penyediaan air harus sesuai dengan petunjuk dan persetujuan
rencana.
c. Listrik untuk bekerja harus disediakan Kontraktor dan diperoleh dari
sambungan sementara PLN setempat selama masa pembangunan, atau
penggunaan diesel untuk pembangkit tenaga listrik hanya diperkenankan
untuk penggunaan sementara atas persetujuan pengawas. Daya listrik juga
disediakan untuk mensuplai kantor Direksi Lapangan.
d. Segala Biaya atas pemakaian daya dan air di atas adalah beban Kontraktor.

2.1.9. Drainase Tapak
a. Dengan mempertimbangkan keadaan topografi / kontur tanah yang ada di
tapak, kontraktor wajib membuat saluran sementara yang berfungsi untuk
pembuangan air yang ada.
b. Arah aliran air ditujukan ke daerah / permukaan yang terendah yang ada di
tapak atau ke saluran yang sudah ada di lingkungan daerah pembuangan.
c. Pembuatan saluran sementara harus sesuai dangan petunjuk dan persetujuan
Direksi / Pengawas.

2.1.10. Mengadakan Pengukuran Dan Pemasangan Bowplank
a. Pengukuran Tapak kembali.
1. Kontraktor diwajibkan mengadakan pengukuran dan penggambaran
kembali lokasi pembangunan dengan dilengkapi keterangan-keterangan
mengenai peil ketinggian tanah, letak batas-batas tanah dengan alat-alat
yang sudah ditera kebenarannya.
2. Ketidakcocokan yang mungkin terjadi antara gambar dan keadaan
lapangan yang sebenarnya harus segera dilaporkan kepada Pengawas /
Direksi untuk diminta keputusannya.
3. Penentuan titik ketinggian dan sudut-sudut hanya dilakukan dengan alat-
alat waterpass / Theodolite yang ketepatannya dapat dipertanggung-
jawabkan.





17
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


4. Kontraktor harus menyediakan Theodolith / waterpass beserta petugas
yang melayaninya untuk kepentingan pemeriksaan Pengawas / Direksi
selama pelaksanaan Proyek.
5. Pengukuran sudut siku dengan prisma atau barang secara azas segitiga
phytagoras hanya diperkenankan untuk bagian-bagian kecil yang
disetujuii oleh Direksi.
6. Segala pekerjaan pengukuran dan persiapan termasuk tanggungan
Kontraktor.
b. Pengukuran dan Titik Peil (0,00) Bangunan
Pemborong harus mengadakan pengukuran yang tepat berkenaan dengan
letak / kedudukan bangunan terhadap titik patok / pedoman yang telah
ditentukan, siku bangunan maupun datar (water Pass) dan tegak lurus
bangunan harus ditentukan dengan memakai alat water pass instrument /
Theodolith. Hal tersebut dilaksanakan untuk mendapatkan tegel, langit-
langit dan sebagainnya dengan hasil yang baik dan siku.
Untuk mendapatkan titik Peil harap disesuaikan dengan notasi-notasi yang
tercantum pada gambar rencana (Lay Out), dan bila terjadi penyimpangan
atau tidak sesuainya antara kondisi lapangan dengan Lay Out, Pemborong
harus melapor pada Pengawas / Perencana.
c. Pemasangan BouwPlank
1. Pemborong bertanggung jawab atas ketepatan serta kebenaran persiapan
Bowplank / pengukuran pekerjaan sesuai dengan referensi ketinggian,
dan bench mark yang diberikan konsultan pengawas secara tertulis serta
bertanggung jawab atas ketinggian, posisi, dimensi, serta kelurusan
seluruh bagian pekerjaan serta pengadaan peralatan, tenaga kerja yang
diperlukan.
2. Bilamana suatu waktu dalam proses pembangunan ternyata ada
kesalahan dalam hal tersebut di atas, maka hal tersebut merupakan
tanggung jawab Pemborong serta wajib memperbaiki kesalahan tersebut
dan akibat-akibatnya, kecuali bila kesalahan tersebut disebabkan
referensi tertulis dari Direksi Pekerjaan.
3. Pengecekan pengukuran atau lainnya oleh Konsultan Pengawas atau
wakilnya tidak menyebabkan tanggung-jawab Pemborong menjadi
berkurang.
4. Pemborong wajib melindungi semua bench mark, dan lain-lain atau
seluruh refferensi dan realisasi yang perlu pada pengukuran pekerjaan
ini.





18
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


5. Bahan dan Pelaksanaan.
- Tiang Bowplank menggunakan kayu Meranti ukuran 5/7 dipasang setiap
jarak 2.00 m1, sedangkan papan bowplank ukuran 2/20 dari kayu
Meranti dipasang datar Water Pass.
- Pemasangan bowplank harus sekeliling bangunan dengan jarak 2,00 m1
dari as tepi bangunan dengan patok patok yang kuat, bowplank tidak
boleh dilepas / dibongkar dan harus tetap berdiri tegak pada
tempatnya sehingga dapat dimanfaatkan hingga pekerjaan mencapai
tahapan trasraam tembok bawah.

2.2. Pekerjaan Tanah Untuk Lahan Bangunan
2.2.1. Lingkup Pekerjaan
1. Tenaga Kerja, Bahan dan Alat
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan dan alat- alat
bantu yang diperlukan untuk melaksanakan dan mengamankan pekerjaan ini
dengan baik dan sesuai dengan spesifikasi ini.
2. Galian Tanah Pondasi
Pekerjaan ini meliputi galian tanah untuk Foot Plate, balok pondasi dan struktur
lainnya yan terletak dadalam atau di atas tanah, seperti tercantum di dalam
gambar rencana atau sesuai dengan kebutuhan Kontraktor agar pekerjaannya
dapat dilaksanakan dengan lancar, benar dan aman.
3. Pembersihan Akar Tanaman dan Bekas Akar Pohon
Akar tanaman dan bekas akar pohon yang terdapat di dalam tanah dapat
membusuk dan menjadi material organik yang dapat mempengaruhi kekuatan
tanah. Pada seluruh lokasi proyek dimana tanah berfungsi sebagai pendukung
bangunan khususnya pendukung lantai terbawah, maka akar tanaman dan sisa
akar pohon harus digali dan dibuang hingga bersih. Lubang bekas galian tersebut
harus diisi dengan material urugan yang memenuhi syarat.
4. Pohon-pohon pada lahan proyek
Sebagian pohon pada proyek ini harus dipertahankan. Kontraktor wajib
mempelajari hal ini dengan teliti sehingga tidak melakukan penebangan
pohon tanpa koordinasi dengan Direksi / Konsultan Pengawas. Pohon yang
terletak pada bangunan yang akan dibangun dapat ditebang.

2.2.2. Syarat-Syarat Pelaksanaan
1. Level Galian
Galian tanah harus dilaksanakan sesuai dengan level yang tercantum di dalam
gambar rencana. Kontraktor harus mengetahui dengan pasti hubungan antara
level bangunan terhadap level muka tanah asli dan jika hal tersebut belum jelas



19
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


harus segera didiskusikan hal ini dengan Konsultan Pengawas sebelum galian
dilaksanakan. Kesalahan yang dilakukan akibat hal ini menjadi tanggung jawab
Kontraktor.
2. Jaringan Utilitas
Apabila ternyata terdapat pipa-pipa pembuangan, kabel listrik, telepon dan lain-
lain, maka Kontraktor harus secepatnya memberitahukan hal ini kepada
Konsultan Pengawas untuk mendapatkan penyelesaian. Kontraktor bertanggung
jawab atas segala kerusakan akibat kelalaiannya dalam mengamankan jaringan
utilitas ini. Jaringan utilitas aktif yang ditemukan di bawah tanah dan terletak di
dalam lokasi pekerjaan harus dipindahkan ke suatu tempat yang disetujui oleh
Konsultan Pengawas atas tanggungan Kontraktor.
3. Galian yang Tidak Sesuai
Jika galian dilakukan melebihi ke dalaman yang ditentukan, maka kontraktor
harus mengisi / mengurug kembali galian tersebut dengan bahan urugan yang
memenuhi syarat dan harus dipadatkan dengan cara yang memenuhi syarat, atau
galian tersebut dapat diisi dengan material lain seperti adukan beton.
4. Urugan Kembali
Pengurugan Kembali bekas galian harus dilakukan sesuai dengan yang
diisyaratkan pada bab mengenai urugan dan pemadatan. Pekerjaan pengisian
kembali ini hanya boleh dilakukan setelah diadakan pemeriksaan dan mendapat
persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas.
5. Pemadatan Dasar Galian
Dasar galian harus rata / water pas dan bebas dari akar-akar tanaman atau
bahan-bahan organis lainnya. Selanjutnya dasar galian harus dipadatkan sesuai
dengan persyaratan yang berlaku.
6. Air Pada Galian
Kontraktor wajib mengantisipasi air yang terdapat pada dasar galian dan wajib
menyediakan pompa air atau pompa lumpur dengan kapasitas yang memadai
untuk menghindari genangan air dan lumpur pada dasar galian. Kontraktor harus
merencanakan secara benar, kemana air tanah harus dialirkan, sehingga tidak
terjadi genangan air / banjir pada lokasi disekitar proyek. Di dalam lokasi galian
harus dibuat drainase yang baik agar aliran air dapat dikendalikan selama
pekerjaan berlangsung.
7. Struktur Pengaman Galian dan Pelindung Galian
Jika galian yang harus dibuat ternyata cukup dalam, maka kontraktor harus
membuat pengaman galian sedemikian rupa hingga tidak terjadi kelongsoran
pada tepi galian. Galian terbuka hanya diijinkan jika diperoleh kemiringan lebih
besar 1:2 (Vertikal : Horisontal). Sisi galian harus dilindungi dengan adukan beton
terpasang, maka galian tersebut harus dilindungi dengan material kedap air



20
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


seperti lembaran terpal / kanvas sehingga sisi galian tersebut selalu terlindung
dari hujan maupun sinar matahari.
8. Perlindungan Benda Yang Dijumpai
Kontraktor harus melindungi atau menyelamatkan benda-benda yang dilindungi
selama pekerjaan galian terpasang. Kecuali disetujui untuk dipindahkan, benda-
benda tersebut harus tetap pada tempatnya dan kerusakan yang terjadi akibat
kelalaian kontraktor harus diperbaiki / diganti oleh kontraktor.
9. Urutan Galian Pada Level Berbeda
Jika ke dalaman galian berbeda satu dengan lainnya, maka galian harus dimulai
dari bagian yang lebih dalam dahulu dan seterusnya.

2.3. Pekerjaan Urugan Pasir Padat
2.3.1. Lingkup Pekerjaan
1. Tenaga Kerja, bahan, dan Alat
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan dan alat-alat bantu
yang diperlukan untuk melaksanakan dan mengamankan pekerjaan ini dengan
baik dan sesuai dengan spesifikasi.
2. Lokasi pekerjaan
Pekerjaan urugan pasir padat dilakukan di atas dasar galian tanah, di bawah
lapisan lantai kerja dan digunakan untuk semua struktur beton yang berhubungan
dengan tanah seperti Foot Plate, balok pondasi dan pekerjaan beton yang lain
yang berhubungan langsung dengan tanah.
3. Pembersihan Akar Tanaman padat dan sisa Galian
Jika di bawah dasar galian dijumpai akar tanaman atau tanah organis, maka
dasar galian tersebut harus dibersihkan dari hal tersebut di atas, dan bekas
galian tersebut harus diisi dengan material urugan yang memenuhi syarat.
2.3.2. Persyaratan Bahan
1. Bahan urugan Pasir Padat
Pasir yang digunakan harus terdiri dari butir-butir yang bersih, tajam dan keras,
bebas dari lumpur, tanah lempung dan organis. Bahan ini harus mendapatkan
persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas.
2. Air Kerja
Air yang digunakan harus bersih dan tidak mengandung minyak, asam alkali dan
bahan organis lainnya, serta dapat diminum. Sebelum digunakan air harus
diperiksa dilaboratorium pemeriksaan bahan yang sah. Jika hasil uji ternyata
tidak memenuhi syarat, maka kontraktor wajib mencari air kerja yang memenuhi
syarat.





21
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


2.3.3. Syarat-Syarat Pelaksanaan
1. Tebal Pasir urug
Jika tidak tercantum dalam gambar kerja, maka di bawah lantai kerja harus
diberi lapisan pasir urug tebal 10 cm padat atau sesuai gambar. Pemadatan harus
dilaksanakan sehingga dapat menerima beban yang bekerja.
2. Cara Pemadatan
Pemadatan dilakukan dengan disiram air dan selanjutnya dipadat dengan alat
pemadat yang disetujui konsultan Pengawas. Pemadatan dilakukan hingga
mencapai tidak kurang dari 98% dari kepadatan optimum Laboratorium.
Pemadatan harus dilakukan pada kondisi galian yang memadai agar dapat hasil
kepadatan yang baik. Kondisi galian tersebut harus dipertahankan sampai
pekerjaan pemadatan selesai dilakukan. Pemadatan harus diulang kembali jika
keadaan tersebut di atas tidak memenuhi.
3. Air Pada Lokasi Pemadatan
Jika air tanah ternyata menggenangi lokasi pemadatan, maka Kontraktor wajib
menyediakan Pompa dan dasar galian harus kering sebelum pasir urug diletakkan.
Kontraktor harus membuat rencana yang benar, agar air tanah dapat dialirkan
kelokasi yang lebih rendah dari dasar galian, misalnya dengan membuat sumpit
pada tempat tertentu.
4. Tanah di sekitar pasir urug
Kontraktor harus menjaga agar tanah disekitar lokasi tedak tercampur dengan
Pasir Urug. Jika pasir urug tersebut tercampur dengan tanah lainnya, maka
Kontraktor wajib mengganti pasir urug tesebut dengan bahan lainnya yang
bersih.
5. Persetujuan
Pekerjaan selanjutnya dapat dikerjakan, bilamana pekerjaan urugan tersebut
sudah mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas.

2.4. Pekerjaan Urugan Dan Pemadatan
2.4.1. Lingkup Pekerjaan
1. Tenaga Kerja, Bahan, dan Alat
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga Kerja, bahan-bahan dan alat-alat bantu
yang diperlukan untuk melaksanakan dan mengamankan Pekerjaan ini dengan
baik dan Sesuai dengan Spesifikasi.
2. Lokasi Pekerjaan
Pekerjaan ini pada Lokasi seperti yang tercantum pada gambar rencana, dengan
elevasi seperti tertera pada di dalam peta kontur.





22
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


3. Pembersihan akar tanaman dan Sisa Galian
Jika Dijumpai akar tanaman atau tanah organis, maka lokasi tersebut harus
dibersihkan dari hal tersebut di atas, dan bekas galian tersebut harus diisi dengan
material urugan yang memenuhi syarat.

2.4.2. Persyaratan Bahan
1. Bahan Bekas Galian di Dalam Lokasi Proyek
Tanah bekas Galian dapat dipertimbangkan untuk digunakan untuk tanah urugan
jika memenuhi syarat untuk digunakan. Tanah Tersebut harus bebas dari lumpur
dan bahan organis lainnya, serta hasil dari tes laboratorium menyatakan tanah
bekas galian tersebut layak untuk digunakan untuk urugan sesuai dengan
spesifikasi material urugan. Untuk tanah bekas galian yang tidak memenuhi
syarat, pemborong wajib membuang keluar lokasi sesuai petunjuk pengawas &
direksi.
2. Bahan Urugan Dari Luar Lokasi Proyek
Jika tanah urug didatangkan dari luar, maka tanah urug tersebut harus memenuhi
syarat sebagai berikut :
a. Memiliki koefisien permeabilitas dari 10
-7
cm / detik
b. Mengandung minimal 20% partikel lanau dan lempung dan bebas tanah
organis, kotoran dan batuan berukuran lebih dari 50 mm dan mengandung
kurang dari 10% partikel gravel.
c. Mempunyai Indeks Plastis (PI) kurang dari 10%. Bahan yang mempunyai PI
lebih dari 10% akan sulit dipadatkan.
d. Gumpalan gumpalan tanah harus digemburkan dan bahan tersebut harus
dalam kondisi lepas agar mudah dipadatkan.
e. Secara umum bahan tersebut berupa sirtu / pasir batu yang sebelum
mendatangkan harus sudah mendapat persetujuan konsultan Pengawas.
3. Bahan Urugan Yang tidak memenuhi Syarat
Semua bahan urugan yang tidak memadai harus dikeluarkan dari lokasi proyek
dan diganti dengan bahan yang memenuhi Syarat.

2.4.3. Syarat-Syarat Pelaksanaan
1. Cara Pengurugan dan Pemadatan
Pengurugan harus dilakukan lapis demi lapis dengan tebal lapisan 20 cm dan
pemadatan dilakukan sampai mencapai kepadatan Maximum pada kadar air
optimum yang ditentukan di dalam gambar rencana. Pemadatan urugan
dilakukan dengan memakai alat pemadat yang disetujui oleh Konsultan
Pengawas. Jika tidak tercantum dalam gambar rencana, maka pemadatan harus
dilakukan sampai mencapai derajat kepadatan 98%.



23
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


2. Pemasangan Patok
Pada lokasi urugan harus diberi patok-patok, ketinggian sesuai dengan ketinggian
rencana. Untuk daerah-daerah dengan ketinggian tertentu, dibuat patok dengan
warna tertentu pula.
3. System Drainase
Pada daerah yang basah, kontraktor harus membuat saluran sementara
sedemikian rupa sehingga lokasi tersebut dapat dikeringkan. Pengeringan
dilakukan dengan bantuan pompa air. Sistem drainase yang direncanakan harus
disetujui oleh Konsultan Pengawas. Dan sistem drainase tersebut harus selalu
dijaga selama pekerjaan berlangsung agar dapat berfungsi secara efektif untuk
menaggulangi air yang ada.
4. Kotoran dan Lumpur dan Bahan Organik
Lokasi yang akan diurug harus bebas dari lumpur atau kotoran, sampah dan
material sejenis. Pengurugan tidak dapat dilakukan jika kotoran tersebut belum
dikeluarkan dari lokasi pekerjaan.
5. Uji kepadatan optimum di Laboratorium
Uji kepadatan optimum harus mengikuti ketentuan ASTM. D-1557 atau AASHTO.
Hasil uji ini digunakan untuk menentukan cara pemadatan lapangan. Uji yang
dilakukan antara lain :
a. Density of Soil inplace by Sand Cone method ASSHTO T.191
b. Density of Soil inplace by Driven Cylinder Method ASSTO T-.204.
c. Density of Soil inplace by Rubber Ballon ASSHTO T-205.
6. Kepadatan Lapisan dan Uji Lapangan
Untuk bahan yang sama, setiap lapis tanah yang sudah dipadatkan harus diuji di
lapangan, yaitu 1 (satu) buah test untuk setiap 500 m
2
, yaitu dengan system Field
Density Test. Jika urugan cukup tebal maka dengan hasil kepadatannya harus
memenuhi ketentuan ketentuan sebagai berikut :
a. Untuk lapisan yang letaknya lebih dalam 50 cm dari permukaan rencana,
maka berat jenis kering tanah padat lapangan harus mencapai minimal 95%
dari berat jenis kering laboratorium yang dihitung dengan Standart Proctor
Test.
b. Untuk Lapisan 50 cm dari permukaan rencana kepadatannya harus minimal
98% dari Standart Proctor test
7. Toleransi Kerataan
Toleransi Pelaksanaan yang dapat diterima untuk penggalian dan pengurugan
50 mm terhadap Kerataan yang ditentukan.
8. Level akhir
Hasil test di lapangan harus tertulis dan diketahui oleh Konsultan Pengawas.
Semua hasil-hasil pekerjaan harus diperiksa kembali terhadap patok-patok



24
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


referensi untuk mengetahui sampai dimana kedudukan permukaan tanah
tersebut.
9. Perlindungan Hasil Pemadatan.
Bagian permukaan yang telah dinyatakan padat harus dipertahankan, dijaga dan
dilindungi agar jangan sampai rusak akibat pengaruh luar misalnya basah oleh air
hujan, panas matahari dan sebagainya perlindungan dapat dilakukan dengan
menutupi permukaan plastik. Pekerjaan pengadaan dianggap cukup, setelah hasil
test memenuhi syarat dan mendapat persetujuan tertulis dari konsultan
pengawas.
10. Pemadatan kembali.
Setiap lapisan harus dikerjakan sesuai deangan kepadatan yang dibutuhkan dan
diperiksa melalui pengujian lapangan yang memadai, sebelum memulai lapisan
berikutnya, bilamana bahan tersebut tidak mencapai kepadatan yang
dikehendaki, lapisan tersebut harus diulangi perkerjaanya atau diganti, dengan
cara-cara pelaksanaan yang telah ditentukan, guna mendapatkan kepadatan yang
telah dibutuhkan, jadual pengujian harus diajukan oleh kontraktor kepada
konsultan pengawas.

























25
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


PASAL 3. PEKERJAAN STRUKTUR

3.1. Pekerjaan Beton Bertulang
3.1.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan peralatan serta
pengangkutan untuk menyelesaikan semua pekerjaan beton sesuai dengan yang
tercantum dalam gambar, serta pekerjaan yang berhubungan dengan beton,
seperti acuan, besi, beton dan admixtures. Juga termasuk di dalam lingkup
pekerjaan ini adalah pengamanan baik pekerja maupun fasilitas lain di sekitar
sehingga pekerjaan dapat berjalan dengan lancar dan aman.

3.1.2. Peraturan Peraturan
Kecuali ditentukan lain dalam persyaratan selanjutnya, maka sebagai dasar
pelaksanaan digunakan peraturan sebagai berikut :
a. Tata cara perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SK-SNI T-15
1991-03)
b. Pedomen Beton 1989 (SKBI 1.4.53.1988)
c. Peraturan Perencanaan tahan Gempa Indonesia untuk gedung 1983
d. Pedoman Perencanaan untuk Struktur Beton Bertulang Biasa dan Struktur
tembok Bertulang untuk Gedung 1983
e. Persyaratan umum Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI-1082)-NI-3
f. Peraturan Portland Cement Indonesia 1972 / NI-8
g. Mutu dan Cara Uji Semen Portland (SII 0013-81)
h. Mutu dan Cara Uji Semen Beton (SII 0052-80)
i. ASTM C-33 Standart Specification for Concrete Agregates.
j. Baja Tulangan Beton (SII 0136-84)
k. Jaringan Kawat Baja Las untuk Tulangan Beton (SII 0784-83)
l. American Society for Testing Material ( ASTM )
m. Peraturan Pembangunan Pemerintah Daerah Setempat
n. Petunjuk Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran
pada bangunan Rumah dan Gedung (SKBI-2.3.5.3.1987 UDC : 699.81 : 624.04)

3.1.3. Keahlian dan Pertukangan
Kontraktor harus membuat beton dengan kualitas sesuai dengan ketentuan-
ketentuan yang diisyaratkan, antara lain, mutu dan penggunaannya selama
pelaksanaan. Semua pekerjaan beton harus dilakukan oleh tenaga ahli yang
berpengalaman, termasuk tenaga ahli untuk acuan / bekisting sehingga dapat
mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi. Selain itu Kontraktor wajib
menggunakan tukang yang berpengalaman, sehingga sudah paham dengan



26
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


pekerjaan yang sedang dilaksanakannya terutama pada saat dan setelah
pengecoran berlangsung. Semua tenaga ahli dan tukang tersebut harus mengawasi
pekerjaan sampai pekerjaan perawatan beton selesai dilakukan. Untuk itu paling
lambat 10 hari sebelum pekerjaan dimulai Kontraktor harus mengusulkan metode
kerja dan harus disetujui Konsultan Pengawas. Jika dipandang perlu, maka
Konsultan Pengawas berhak untuk menunjuk tenaga ahli diluar yang ditunjuk
Kontraktor untuk membantu mengevaluasi semua usulan Kontraktor dan semua
biaya yang timbul menjadi beban Kontraktor.

3.1.4. Persyaratan Bahan
a. Semen
Semen yang boleh digunakan untuk pembuatan beton harus dari jenis semen
yang telah ditentukan dalam SII 0013-81 dan harus memenuhi persyaratan yang
telah ditetapkan dalam standart tersebut. Semua yang akan dipakai harus dari
satu merk yang sama dan dalam keadaan baru. Semen yang dikirim harus
terlindung dari hujan dan air. Semen harus terbungkus dalam sak (kantong) asli
dari pabriknya dan dalam keadaan tertutup rapat. Semen harus disimpan di
gudang dengan ventilasi yang baik, tidak lembab dan diletakkan pada tempat
yang tinggi, sehingga aman dari kemungkinan yang tidak diinginkan. Semen
tersebut tidak boleh ditumpuk lebih dari 10 sak. System penyimpanan semen
harus diatur sedemikian rupa, sehingga semen tersebut tidak tersimpan terlalu
lama. Semen yang diragukan mutunya dan rusak akibat salah penyimpanan,
seperti membatu, tidak diijinkan untuk dipakai. Bahan yang telah ditolak
harus segera dikeluarkan dari lapangan paling lambat dalam waktu 2 (dua) hari
atas biaya Kontraktor.
b. Agregat
Pada pembuatan beton, ada dua ukuran agregat yang digunakan, yaitu agregat
kasar / batu pecah dan agregat halus / pasir beton. Kedua jenis agregat ini
diisyaratkan sebagai berikut :
1) Agregat Kasar, ukuran besar ukuran nominal maksimum agregat kasar harus
tidak melebihi 1/5 jarak terkecil antara bidang samping dari cetakan, atau
1/3 dari tebal pelat. Atau jarak bersih minimum antar baja tulangan,
berkas baja tulangan atau tendon pratekan atao 30 mm. Gradasi Agregat
tersebut secara keseluruhan harus sesuai dengan yang diisyaratkan oleh
ASTM agar tidak terjadi adanya sarang kerikil atau rongga dengan
ketentuan sebagai berikut :






27
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


Sisa di atas ( % Berat )
Ayakan 31.50 mm 0
Ayakan 4.00 mm 90-98
Selisih antar 2 ayakan berikutnuya 01-10

2) Agregat halus harus terdiri dari butir-butir yang bersih, tajam dan bebas
dari bahan bahan organik, lumpur dan kotoran lainnya. Kadar Lumpur harus
lebih kecil dari 4% berat. Agregat halus terdiri dari butir-butir beraneka
ragam besarnya dan apabila diayak harus memenuhi syarat sb :
Sisa di atas ( % berat )
Ayakan 4.00 mm 0.2
Ayakan 1.00 mm 10
Ayakan 0.25 mm 80-95

Kontraktor harus mengadakan pengujian sesuai dengan persyaratan dalam
spesifikasi ini. Jika sumber agregat berubah karena suatu hal, maka
Kontraktor wajib untuk memberitahukan secara tertulis kepada Konsultan
Pengawas. Agregat harus disimpan di tempat yang bersih, yang keras
permukaanya dan harus dicegah supaya tidak terjadi pencampuran dengan
tanah.
c. Air Untuk Campuran beton
Air yang digunakan untuk campuran beton harus bersih, tidak boleh
mengandung minyak, asam alkali, garam, zat organis atau bahan lain yang
dapat merusak beton atau besi beton. Air tawar yang dapat diminum umumnya
dapat digunakan. Air tersebut harus diperiksa pada laboratorium yang disetujui
oleh Konsultan Pengawas. Jika air pada lokasi pekerjaan tidak memenuhi
syarat untuk digunakan, maka Kontraktor harus mencari air yang memadai
untuk itu.
d. Besi Beton
Besi Beton harus selalu menggunakan besi beton ulir (deformed bars) U-32
untuk tulangan utama dan sengkang menggunakan besi beton polos U-24,
kecuali ditentukan lain dalam gambar. Agar diperoleh hasil pekerjaan yang
baik, maka besi beton harus memenuhi syarat-syarat :
1. Baru, bebas dari kotoran, lapisan minyak, karat, dan tidak cacat.
2. Mutu sesuai dengan yang ditentukan
3. Mempunyai penampang yang rata dan seragam sesuai dengan toleransi.
4. Merk Krakatau Steel / Budi Dharma / setara.
Pemakaian besi beton jenis yang tidak sesuai dengan ketentuan di atas, harus
mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas. Besi Beton harus berasal dari



28
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


satu pabrik (manufactures). Tidak dibenarkan untuk menggunakan merk besi
beton yang berlainan dengan untuk pekerjaan ini. Besi beton harus dilengkapi
dengan mill certificate / sertifikat pabrik yang membuat label dan nomor
pengecoran serta tanggal pembuatan besi beton tersebut.
e. Admixtures Material Tambahan
Dalam keadaan tertentu boleh dipakai bahan campuran tambahan untuk
memperbaiki sifat suatu campuran beton. Jenis, Jumlah bahan yang
ditambahkan dan cara penggunaan bahan tambahan harus dapat dibuktikan
melalui hasil uji. Hasil uji ini dengan menggunakan bahan semen dan agregat
yang akan dipakai pada proyek ini. Bahan campuran tambahan yang berfungsi
untuk mengurangi jumlah air pencampur, memperlambat atau mempercepat
pengikatan dan atau pengerasan beton harus memenuhi Specification for
Chemical Admixtures for Concrete (ASTM C494) atau memenuhi standart
Umum Bahan Bangunan Indonesia.
f. Kualitas Beton
1. Kualitas beton yang digunakan tercantum dalam gambar rencana yang
harus dibuktikan dengan pengujian seperti diisyaratkan dalam spesifikasi
teknis ini.
2. Untuk memastikan bahwa kualitas beton rencana dapat tercapai,
Kontraktor harus melakukan percobaan sesuai dengan yang diisyaratkan
oleh peraturan yang berlaku dengan mengadakan trial mix di laboratorium
yang disetujui oleh Konsultan Pengawas.
3. Jika tidak ditentukan secara khusus, maka untuk lantai kerja, kolom
praktis, ring balk, lantai kerja dan beton non struktur lainnya harus
menggunakan beton Mutu K-175
4. Beton dengan mutu K-225 untuk pekerjaan struktural untuk bangunan
gedung seperti pondasi beton sloof, foot plate, kolom-kolom, balok-balok,
plat lantai & tangga.
5. Desain Adukan Beton.
Proporsi campuran bahan dasar beton harus ditentukan agar beton yang
dihasilkan memberikan kelecakan (Workability) dan konsistensi yang baik,
sehingga beton mudah dituangkan ke dalam acuan dan sekitar besi beton,
tanpa menimbulkan segregasi agregat dan terpisahnya air (bleeding) secara
berlebihan. Campuran beton harus dirancang sesuai dengan mutu beton
yang ingin dicapai, dengan batasan di bawah ini :







29
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi



Untuk Beton kedap air atau beton pada kondisi lingkungan khusus, maka harus
menyerahkan mix-design yang diusulkan kepada Konsultan Pengawas untuk
mendapatkan persetujuannya. Khusus untuk beton kedap air, maka jumlah
semen minimum harus sesuai dengan yang diisyaratkan oleh pemasok
waterproofing.

3.1.5. Pengujian Bahan
a. Umum
1. Kontraktor harus bertanggung jawab untuk melaksanakan segala
pengujian termasuk mempersiapkan contoh benda uji dengan jumlah sesuai
dengan yang diisyaratkan. Kontraktor harus menyerahkan hasil
pengujiannya setelah hasil uji diperoleh untuk persetujuan oleh konsultan
pengawas.
2. Jika pengujian dan pelaksanaan tidak memenuhi syarat, maka Kontraktor
harus melaksanakan pengujian ulang dengan campuran yang lain dan
selanjutnya mengevaluasi kembali hasil uji tersebut hingga diperoleh hasil
yang diinginkan.
3. Semua pengujian dan pemeriksaan di lapangan harus dilakukan sesuai
dengan pengarahan Konsultan Pengawas.
4. Untuk semua bahan semen dan besi beton yang dikirim ke lapangan,
Kontraktor harus mendapatkan salinan sertifikat pengujian dari Pabrik,
dimana pengujian dilakukan secara berkala, dengan cara sesuai dengan
spesifikasi ini.
b. Laboratorium Penguji
1. Sebelum pekerjaan beton dilakukan, Kontraktor wajib mengusulkan suatu
laboratorium penguji material yang akan digunakan pada proyek ini.
Laboratorium bertanggung jawab untuk melakukan semua pengujian
dengan spesifikasi ini.
2. Kecuali ditentukan lain, Kontraktor harus menyediakan peralatan penguji
di lapangan seperti tersebut berikut ini, berikut tenaga ahli yang
menguasai bidangnya.
3. Alat Penguji agregat kasar dan agregat halus.
- Alat Pengukur kadar air (moisture content) dari agregat
MUTU BETON K225 K250 K275 K300 K350 K400
Kuat Tekan Minimum 7 hari ( kg/cm
2
) 158 175 192 210 245 280
Jumlah Semen Minimum ( kg/m
3
) 300 300 300 325 350 375
Jumlah Semen Maksimum ( kg/m
3
) 550 550 550 550 550 550
W / C faktor, maksimum 0.55 0.55 0.55 0.55 0.5 0.5



30
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


- Alat Pengukur kelecakan beton (slump)
- Alat pembuat benda uji, termasuk bak penyimpanan untuk merawat
benda uji pada temperatur yang normal dan terhindar dari sengatan
matahari.
4. Jika menggunakan beton Ready Mix, maka peralatan yang disebut (a) dan
(b) di atas harus dipersiapkan pada pabrik beton ready mix.
c. Pengujian Agregat
1. Pengujian Pendahuluan Agregat
Kontraktor harus melakukan pengujian pendahuluan agregat sebagai
berikut:
- Sieve analysis
- Pengujian Kadar lumpur dan Kotoran lain.
- Pengujian Unsur Organis
- Pengujian kadar clorida dan Sulfat.
Hasil pengujian tersebut harus diserahkan kepada Konsultan Pengawas
untuk mendapatkan persetujuan (a) dan (b) dengan pengujian kadar air
dari tiap jenis agregat harus dilakukan terhadap contoh untuk setiap Trial
Mix.
2. Benda Uji Agregat
Kontraktor harus melaksanakan pengujian atas agregat yang akan
digunakan untuk menghasilkan beton seperti yang disyaratkan. Jumlah
minimum untuk pengujian agregat yang dipakai untuk pekerjaan beton
adalah sebagai berikut :

Type Pengujian Minimum Satu Contoh
Sieve Analysis Setiap Minggu
Moisture Content Setiap Minggu
Clay, Silt, dan Kotoran Setiap Hari
Kadar Organis Setiap Minggu
Kadar Klorida dan Sulfat Setiap 500 m
3
Beton

Jika hasil pembuatan beton yang dilakukan oleh kontraktor tidak
memuaskan, maka konsultan pengawas berhak untuk meminta pengujian
tambahan dengan beban biaya Kontraktor. Dan sebaliknya mungkin jumlah
pengujian dapat dikurangi jika hasil yang diperoleh ternyata memuaskan.







31
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


d. Pengujian Beton
1. Benda Uji Beton
Benda Uji harus diberi kode / tanda yang menunjukan tanggal pengecoran,
lokasi pengecoran dari bagian struktur yang bersangkutan. Benda uji harus
diambil sebelum beton dituang ke lokasi penggocoran sesuai dengan yang
disaratkan oleh konsultan pengawas.
2. Jumlah benda uji beton
a. Pada awal pelaksanaan, harus dibuat minimum 1 benda uji per 1,50
m3 beton hingga cepat dapat diperoleh 30 benda uji yang pertama
benda uji harus berbentuk kubus berukuran 15 cm x 15 cm x 15 cm.
benda uji bentuk lainya dapat digunakan bentuk lainya dapat
digunakan bila disetujui oleh konsultan pengawas. Selanjutnya
pengambilan benda uji sebanyak 2 (dua) buah dilakukan setiap 5 m3
beton. Benda uji tersebut ditentukan secara acak oleh konsultan
pengawas dan harus dirawat sesuai dengan persyaratan.
b. Jumlah uji beton untuk uji kuat tekan dari setiap tekan dari setiap
mutu beton mutu yang dituang pada suatu hari harus diambil minimal
satu kali. Pada setiap satu kali pengambilan contoh beton harus dibuat
dua buah spesimen kubus. Satu data hasil uji kuat tekan adalah hasil
rata-rata dari uji tekan dua spesimen ini yang diuji pada umur yang
ditentukan, yaitu umur 7 hari dan 28 hari.
c. Jika hasil uji beton kurang memuaskan, maka konsultan pengawas
dapat meminta jumlah benda uji yang lebih besar dari ketentuan di
atas. Dengan beban biaya ditangung oleh kontrator.
d. Jumlah minimum benda uji yang harus dipersiapkan unutk setiap mutu
beton adalah :




3. Laporan Hasil Uji Beton
Kontraktor harus membuat laporan tertulis atas uji beton dari boratorium
penguji untuk disahkan oleh Konsultan Pengawas. Laporan tersebut harus
dilengkapi dengan perhitungan tekanan beton Karakteristik.
4. Evaluasi Kualitas Beton berdasarkan Hasil Uji Beton
a. Deviasi Standart S
Deviasi Standart produksi neton ditetapkan berdasarkan jumlah 30
buah hasil tes kubus atau silinder. Deviasi yang dihitung dari jumlah

jumlah minimum waktu perawatan ( hari )
benda uji 3 7 28
Beton bertulang 4 - 2 2
Beton pratekan 6 2 2 2
J enis struktur



32
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


contoh kubus yang kurang dari 30 buah harus dikoreksi dengan faktor
pengali seperti tercantum dalam tabel berikut :




Jumlah Benda Uji ( N ) buah Faktor Pengali ( S )
15 1.16
20 1.08
25 1.03
30 1.00

b. Kuat Tekan Rata-rata ( fcr )
Target fcr yang digunakan sebagai dasar dalam menentukan proporsi
campuran beton harus diambil sebagai nilai yang terbesar dari Formula
berikut ini :

fcr = fc + 1.64 atau fcr = fc + 2.64 S 40 kg/cm
2


c. Kuat Tekan sesungguhnya
Tingkat kekuatan suatu beton dikatakan tercapai dengan memuaskan,
jika kedua syarat berikut dipenuhi :
- Nilai rata-rata dari semua pasangan hasil uji yang masing masing
terdiri dari 4 hasil uji kuat tekan tidak kurang (fc + 0.82 N)
- Tidak satupun dari hasil uji tekan (rata-rata dari 2 benda uji)
mempunyai nilai di bawah 0.85 fc.
Bila salah satu dari kedua syarat di atas tidak dipenuhi, maka harus
diambil langkah untuk meningkatkan rata-rata hasil uji kuat tekan
berikutnya atas rekomendasi KP.
5. Pengujian Tidak Merusak (Non Destructive Test)
Jika hasil Evaluasi terhadap mutu beton yang disyaratkan ternyata tidak
dapat dipenuhi, maka jika diminta oleh Konsultan Pengawas, Kontraktor
harus melaksanakan pengujian beban dan lain-lain. Semua biaya pengujian
ini menjadi tanggung jawab Kontraktor. Lokasi dan banyaknya pengujian
akan ditentukan secara khusus dengan melihat kasus perkasus.
e. Pengujian Besi Beton
1. Benda Uji Besi Beton
a. Sebelum besi beton dipesan, Kontraktor wajib mengambil benda uji
besi beton masing-masing 2 buah dengan ukuran panjang 100 cm sesuai
( )
1 N
fcr fc
S
2

=




33
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


b. dengan diameter dan mutu yang akan digunakan. Selanjutnya benda uji
besi beton harus diambil dengan disaksikan oleh Konsultan Pengawas
c. sebanyak 2 buah untuk setiap 20 ton untuk masing masing diameter
besi beton. Uji besi beton terdiri dari uji tarik dan uji lentur.
d. Pengujian mutu besi juga akan dilakukan setiap saat bilamana
dipandang perlu oleh Konsultan Pengawas. Contoh besi beton yang
diambil untuk pengujian tanpa disaksikan Konsultan Pengawas tidak
diperkenankan dan hasil uji dianggap tidak sah. Semua biaya uji
tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor.
e. Benda uji harus diberi tanda dengan kode yang menunjukkan tanggal
pengiriman, lokasi terpasang bagian struktur yang bersangkutan dan
lain-lain data yang perlu dicatat.
f. Jika akibat suatu alasan, seperti hasil uji yang kurang memuaskan,
maka Konsultan Pengawas berhak untuk meminta pengambilan contoh
benda uji lebih besar dari yang ditentukan di atas, dengan beban biaya
ditanggung oleh kontraktor.
2. Laporan Hasil Uji Besi Beton
Kontraktor harus membuat dan menyusun hasil uji besi beton dari
laboratorium penguji untuk diserahkan kepada Konsultan Pengawas dan
laporan tersebut harus dilengkapi dengan kesimpulan apakah kualitas besi
beton tersebut memenuhi syarat yang telah ditentukan.

3.1.6. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Slump
Selama pelaksanaan harus ada pengujian slump, yang jika tidak ditentukan
secara khusus adalah antara 8 12 cm untuk beton umumnya, sedang tiang bor
slump sebagai berikut, Beton diambil sebelum dituangkan ke dalam cetakan
beton (begisting). Cetakan slump dibasahkan dan ditempatkan di atas
permukaan yang rata. Cetakan diisi sampai kurang lebih sepertiganya.
Kemudian beton tersebut ditusuk-tusuk 25 kali dan setiap tusukan harus masuk
sampai dengan satu lapisan di bawahnya. Setelah bagian atas diratakan, segera
cetakan diangkat perlahan-lahan dan diukur penurunannya.
b. Persetujuan Konsultan Pengawas
Sebelum semua tahap pelaksanaan berikutnya dilaksanakan, Kontraktor harus
mendapatkan persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas. Laporan harus
diberikan kepada Konsultan Pengawas paling lambat 3 hari sebelum pekerjaan
dilaksanakan. Hal-hal khusus akan didiskusikan secara lebih mendalam antara
semua pihak yang berkepentingan. Semua tahapan pelaksanaan tersebut harus




34
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


dicatat secara baik dan jelas sehingga mudah untuk ditelusuri jika suatu saat
data tersebut dibutuhkan untuk pemeriksaan.

c. Persiapan dan Pemeriksaan
Kontraktor tidak diijinkan untuk melakukan pengecoran beton tanpa ijin
tertulis dari Konsultan Pengawas. Kontraktor harus melaporkan kepada
konsultan Pengawas tentang kesiapannya untuk melakukan pengecoran dan
laporan tersebut harus disampaikan beberapa hari sebelum waktu pengecoran,
sesuai dengan kesepakatan di lapangan, untuk memungkinkan Konsultan
Pengawas melakukan Pemeriksaan sebelum pengecoran dilaksanakan.
Kontraktor harus menyediakan fasilitas yang memadai seperti tangga ataupun
fasilitas lain yang dibutuhkan agar Konsultan Pengawas dapat memeriksa
pekerjaan secara aman dan mudah. Tanpa fasilitas tersebut, Kontraktor tidak
akan diizinkan untuk melakukan pengecoran. Semua koreksi yang terjadi akibat
pemeriksaan tersebut harus segera diperbaiki dalam waktu 1 x 24 jam dan
selanjutnya kontraktor 1 x 24 jam selanjutnya kontraktor harus mengajukan
ijin lagi untuk dapat melaksanakan pengecoran. Tidak dibenarkan adanya
penambahan waktu akibat koreksi yang timbul, kecuali ditentukan oleh
pemberi tugas / Konsultan Pengawas, Persetujuan untuk melakukan
pengecoran tidak berarti membebaskan Kontraktor dari tanggung jawab
sepenuhnya atas ketidaksempurnaan ataupun kesalahan yang timbul. Sebelum
pengecoran dilakukan harus dipastikan bahwa semua peralatan yang akan
tertanam di dalam beton sudah terletak pada tempatnya dan semua kotoran
sudah dibersihkan dari lokasi pengecoran. Demikian pula untuk siar
pelaksanaan harus dilakukan sesuai dengan persyaratan.

d. Siar Pelaksanaan
Kontraktor harus mengusulkan lokasi siar pelaksanaan dalam gambar kerjanya.
Siar pelaksanaan harus diusahakan seminimum mungkin, agar perlemahan
struktur dapat dikurangi. Siar pelaksanaan tidak dijinkan untuk melalui daerah
yang diperkirakan sebagai daerah basah, seperti toilet, reservoir dll. Jika tidak
ditentukan lain, maka lokasi siar pelaksanaan harus terletak pada daerah
dimana gaya geser adalah minimal, umumnya terletak pada sepertiga bentang
tengah dari panjang efektif struktur. Pada pengecoran beton yang tebal dan
volume yang besar, lokasi siar pelaksanaan harus dipertimbangkan sedemikian
rupa, sehingga tidak menyebabkan perbedaan temperatur yang besar pada
beton yang tersebut, yang berakibat retaknya beton, disamping adanya
tegangan residu yang tidak diinginkan. Siar pelaksanaan dapat dibuat secara
horizontal dan pengecoran dapat dibagi menjadi berlapis-lapis. Lokasi siar



35
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


pelaksanaan tersebut harus disetujui oleh Konsultan Pengawas. Kontraktor
harus mempertimbangkan di dalam penawarannya, segala hal yang
berhubungan dengan siar pelaksanaan seperti erstop, perekat beton, dowel
dsb, maupun pembersih permukaan beton agar dapat dijamin lekatan antara
beton lama dan baru. Siar pelaksanaan harus bersih dari semua kotoran dan
bekas beton yang tidak melekat dengan baik, dan sebelum pengecoran
dilanjutkan, harus dikasarkan sedemikian rupa sehingga agregat besar menjadi
terlihat tetapi tetap melekat dengan baik.

e. Pengangkutan dan Pengecoran Beton
Beton harus diangkut dengan cara sedemikian rupa, sehingga dapat tiba
dilokasi proyek dalam keadaan yang masih memenuhi spesifikasi teknis. Jika
lokasi pembuatan cukup jauh dari proyek, maka harus digunakan admixtures
yang dapat memperlambat proses pengerasan dari beton. Pada saat beton
diangkut ke lokasi pengecoran juga harus diperhatikan, agar tidak terjadi
pemisahan antara bahan-bahan dasar pembuat beton. Pada saat pengecoran
tinggi jauh dari beton segar harus kurang dari 1.50 meter. Hal ini sangat
penting agar tidak terjadi pemisahan antara batu pecah yang berat dengan
pasta beton sehingga dapat mengakibatkan kwalitas beton menjadi menurun.
Untuk itu harus disiapkan alat bantu seperti piuap tremi sehingga syarat ini
dapat dipenuhi. Sebelum pengecoran beton harus dijaga agar tetap dalam
kondisi plastis dalam waktu yang cukup, sehingga pengecoran beton dapat
dilakukan dengan baik. Kontraktor harus mengajukan jumlah alat dan personil
yang akan mendukung pengecoran beton, yang dianalisa berdasarkan besarnya
volume pengecoran yang akan dilakukan. Sebagai gambaran setiap alat
pemadam maupun memadatkan sekitar 5 8 m3 beton segar per jam. Beton
segar dicampurkan harus ditempatkan sedekat mungkin dengan lokasi akhir,
sehingga masalah segregasi dan pengerasan beton dapat dihindarkan dan
selama pemadatan beton masih bersifat plastis.

3.1.7. Pemadatan Beton
a. Alat Pemadat Beton
Beton yang akan dicor harus segera dipadatkan dengan alat pemadat (vibrator)
dengan tipe yang disetujui oleh Konsultan Pengawas Pemadatan tersebut
bertujuan untuk mengurangi udara pada beton yang akan mengurangi kwalitas
pada beton. Pemadatan tersebut berkaitan dengan kelecakan (workability)
beton. Pada cuaca panas kelecakan beton menjadi sangat singkat, sehingga
slump yang rendah-rendah biasanya merupakan masalah. Untuk itu harus
disediakan vibrator dalam jumlah yang memadai, sesuai dengan besarnya




36
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

pengecoran yang akan dilakukan. Minimum harus dipersiapkan satu vibrator
cadangan yang akan dipakai, jika ada vibrator cadangan yang akan dipakai, jika
ada vibrator yang rusak pada saat pemadatan sedang berlangsung. Alat
pemadat harus di tempatkan sedemikian rupa sehingga tidak menyentuh besi
beton.
b. Lokasi Pemadatan yang Sulit
Pada lokasi yang diperkirakan sulit untuk dipadatkan seperti pada pertemuan
balok kolom, dinding beton yang tipis dan pada lokasi pembersihan yang rapat
dan rumit, maka kontraktor harus mempersiapkan metode khusus untuk
pemadatan beton yang disampaikan kepada Konsultan Pengawas paling lambat
3 hari sebelum pengecoran dilaksanakan, agar tidak terjadi keropos pada
beton, sehingga secara kualitas tidak akan disetujui.
c. Pemadatan Kembali
Jika permukaan beton mengalami keretakan dalam kondisi masih plastis, maka
beton tersebut harus dipadatkan kembali sesuai dengan rekomondasi Konsultan
Pengawas agar retak tersebut dapat dihilangkan.
d. Metode Pemadatan Lain
Jika dipandang perlu Kontraktor dapat mengusulkan cara pemadatan lain yang
dipandang dapat menyebabkan perbedaan temperatur yang besar antara
permukaan dan inti beton. Hal ini dapat menyebabkan keretakan struktur dan
terjadinya tegangan menetap pada beton, tanpa adanya beban yang bekerja.

3.1.8. Temperatur Beton Segar
Dalam waktu 2 menit setelah contoh diambil, sebuah termometer yang mempunyai
skala 5 s/d 100
o
C, harus dimasukkan ke dalam contoh tersebut sedalam 100 mm.
Jika temperatur sudah stabil selama 1 menit, maka temperatur tersebut harus
dicatat dengan ketelitian 1
o
C.

3.1.9. Perawatan Beton
a. Tujuan Perawatan
Perawatan beton bertujuan antara lain untuk menjaga agar tidak terjadi
kehilangan zat cair pada saat pengikatan awal terjadi dan mencegah
penguapan air dari beton pada umur beton awal dan juga mencegah penguapan
air dari beton pada umur beton awal dan juga mencegah perbedaan
temperatur dalam beton yang dapat menyebabkan terjadinya keretakan dan
penurunan kualitas beton. Perawatan beton harus dilakukan begitu pekerjaan
pemadatan beton selesai dilakukan. Untuk itu harus dilakukan perawatan beton
sedemikian sehingga tidak terjadi penguapan yang cepat terutama pada
permukaan beton yang baru dipadatkan.
b. Lama Perawatan



37
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

Permukaan beton harus dirawat secara baik dan terus menerus dibasahi dengan
air bersih selama minimal 7 hari segera setelah pengecoran selesai. Untuk
elemen vertikal seperti kolom dan dinding beton, maka beton tersebut harus
diselimuti dengan karung yang dibasahi terus menerus selama 7 hari.
c. Perlindungan Beton Tebal
Untuk pengecoran beton dengan ketebalan lebih dari 600 mm, maka
permukaan beton harus dilindungi dengan material (antara lain stereo foam)
yang disetujui oleh Konsultan Pengawas, agar dapat memantulkan radiasi
akibat panas. Material tersebut harus dibuat kedap, agar kelembaban
permukaan beton dapat dipertahankan.
d. Acuan Metal
Setiap acuan yang terbuat dari metal, beton ataupun material lain yang
sejenis, harus didinginkan dengan air sebelum pengecoran dilakukan. Acuan
tersebut dihindari dari terik matahari langsung, karena sifatnya yang mudah
menyerap dan mengantarkan panas. Perlakuan yang kurang baik akan
menyebabkan retak-retak yang parah pada permukaan beton.
e. Curing Compound
Cara lain yang banyak digunakan saat ini adalah dengan menggunakan curing
compound. Jenis dan type curing compound yang digunakan harus disetujui
oleh Konsultan Pengawas. Harus diperhatikan agar tidak terjadi penurunan
temperatur yang cepat pada permukaan beton sehingga dapat menyebabkan
keretakan pada permukaan beton.

3.1.10. Cara Untuk Menghindari Keretakan Pada Beton
a. Alat monitoring
Untuk pekerjaan beton dengan tebal lebih dari 600 mm, Kontraktor harus
menyediakan peralatan yang dibutuhkan untuk mengukur dan memonitor
segala kejadian yang mungkin terjadi selama pekerjaan beton berlangsung.
Monitoring dilakukan minimal selama 7 hari sejak pengecoran selesai.
Kontraktor wajib menyediakan alat pengukur temperatur yang akan diletakkan
pada dasar beton, di dalam beton, dan dipermukaan beton dengan jarak
vertikal antara alat ditetapkan maksimal 50 cm. Sedangkan jarak horizontal
antara titik satu dengan lainnya maksimal 10 meter. Lokasi alat pengukur dan
metode pengukur suhu tersebut harus diusulkan kepada Konsultan Pengawas
untuk mendapatkan persetujuan.
b. Perbedaan Temperatur
Umumnya permukaan beton harus didinginkan secara mendadak, yang
terpenting adalah tidak terjadi perbedaan temperatur yang besar (>20
o
C)




38
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

antara permukaan dan inti beton dan beton harus dihindarkan dari sinar
matahari langsung ataupun tiupan angin.
c. Material Bantu
Disamping peralatan juga dibutuhkan material pembantu yang mungkin dapat
dicampur ke dalam beton maupun yang akan digunakan pada saat perawatan
beton untuk mencegah terjadinya penguapan yang terlalu cepat.
d. Lebar Retak
Suatu struktur beton pasti akan mengalami suatu retakan, dan lebar retak yang
diijinkan maksimal sebesar 0,004 kali tebal selimut beton.
e. Antisipasi Perbedaan Temperatur
Kontraktor harus menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk mengatasi jika
perbedaan temperatur menjadi lebih dari 20 derajat C, misalnya dengan
mempertebal isolasi yang sudah digunakan atau membuat isolasi menjadi
benar-benar kedap terhadap angin dan udara. Hal ini harus segera dilakukan
agar perbedaan temperatur tidak menjadi besar. Untuk itu harus disiapkan
material isolasi lebih dari kebutuhan sebelum pengecoran dilakukan.
f. Hal Hal Lain
Beberapa hal yang harus diperhatikan baik sebelum, selama maupun sesudah
pengecoran beton adalah :
1. Usahakan agar semua material dasar yang digunakan tetap dalam kondisi
terlindung dari sinar matahari, sehingga temperatur tidak tinggi pada saat
pencampuran dimulai.
2. Air yang akan digunakan harus didinginkan, misalnya dengan mengganti
sebagian air dengan es, sehingga temperatur menjadi lebih besar.
3. Semen yang digunakan mempunyai hidrasi rendah.
4. Jika mungkin, tambahkan nitrogen cair ke dalam campuran beton.
5. Waktu antara pengadukan beton dan pengecoran harus dibatasi maksimal 2
jam.
6. Lakukan pengecoran bertahap sedemikian rupa, misalnya dengan membuat
siar pelaksanaan secara horizontal pada beton yang tebal, sehingga tebal
satu lapis pengecoran menjadi kurang lebih 1 meter dan perbedaan
temperatur dapat dikontrol.
7. Jika mungkin diusulkan pengecoran dilakukan pada malam hari dimana
temperatur lapangan sudah lebih rendah dari dibandingkan dari siang hari.
8. Harus disiapkan isolasi panas yang merata pada pada seluruh permukaan
beton yang terbuka untuk mencegah tiupan angin dan menjaga agar
temperatur tidak terlalu berbeda pada seluruh penampang beton.
9. Lakukan perawatan awal segera setelah pemadatan selesai dan harus
diteruskan sampai system isolasi terpasang seluruhnya.




39
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

10. Sediakan pelindung sehingga permukaan beton terlindung dari sinar
matahari dan angin. Hal ini dapat dilakukan membuat dinding pada
sekeliling daerah pengecoran dengan plastik atau material sejenis,
demikian juga pada bagian atasnya.

g. Retak di Luar Batas yang Disyaratkan.
Jika setelah pemadatan selesai masih terjadi keretakan diluar batas yang
diijinkan, maka Kontraktor harus melaporkan hal tersebut secara tertulis yang
berisi antara lain metode kerja dan peralatan yang digunakan berikut
komposisi campuran yang digunakan kepada Konsultan Pengawas untuk
dievaluasi lebih lanjut. Kontraktor tidak diijinkan untuk memperbaiki
keretakan tersebut sebelum mendapatkan persetujuan tertulis dari Konsultan
Pengawas.

3.1.11. Adukan Beton yang Dibuat Di Tempat (Site Mixing)
Untuk mendapatkan kualitas beton yang baik, maka untuk beton yang dibuat di
lapangan harus memenuhi syarat-syarat :
a. Semen diukur menurut berat
b. Agregat kasar diukur menurut berat
c. Pasir diukur menurut berat
d. Adukan beton dibuat dengan menggunakan alat pengaduk mesin (concrete
batching plant)
e. Jumlah adukan beton tidak boleh melebihi kapasitas mesin beton
f. Lama pengadukan tidak kurang dari 2 menit sesudah semua bahan berada
dalam mesin pengaduk
g. Mesin pengaduk yang tidak dipakai lebih dari 30 menit harus dibersihkan lebih
dahulu, sebelum adukan beton yang baru dimulai

3.2. Besi Beton
a. Merk besi beton
Sebelum pemesanan dilakukan, maka Kontraktor harus mengusulkan merk besi beton
dalam hal ini Merk Krakatau steel atau Budi Dharma atau merk lain yang setara atau
yang disetujui oleh direksi. Tidak dibenarkan untuk menggunakan merk besi beton yang
berlainan untuk pekerjaan ini. Besi Beton harus dilengkapi dengan mill certificate yang
memuat label dan nomor pengecoran serta tanggal pembuatan besi beton tersebut.
b. Penyimpanan
Besi beton disimpan pada tempat yang bersih dan tumpu secara baik tidak merusak
kualitasnya. Tempat penyimpanan harus cukup terlindung sehingga kemungkinan karat
dapat dihindarkan.





40
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

c. Gambar Kerja dan Bending Schedule
Pembengkokan besi beton harus dilakukan sesuai dengan gambar rencana dan
berdasarkan standar detail yang ada. Pembengkokan tersebut harus dilakukan dengan
menggunakan alat-alat (bar bender) sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan
cacat, patah, retak-retak dan sebagainya. Semua pembengkokan harus dilakukan
dalam keadaan dingin dan pemotongan harus dengan bar cutter. Pemotongan dan
pembengkokan dengan sistem panas sama sekali tidak diijinkan. Untuk itu Kontraktor
harus membuat gambar kerja pembengkokan (bending schedule) dan diajukan kepada
Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan.
d. Bebas karat
Pemasangan dan penyetelan berdasarkan evaluasi yang sesuai dengan gambar dan
harus sudah diperhitungkan toleransi penurunannya. Sebelum besi beton dipasang,
permukaan besi beton harus bebas dari karat, minyak dan lain-lain yang dapat
mengurangi lekatan besi beton.
e. Selimut Beton
Besi beton harus dilindungi oleh selimut beton yang sesuai dengan gambar standart
detail. Sebagai catatan, pemasangan tulangan-tulangan utama tarik / tekan
penampang beton harus dipasang sejauh mungkin dari garis tengah penampang,
sehingga pemakaian selimut beton yang melebihi ketentuan-ketentuan tersebut di atas
harus mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas.
f. Penjangkaran
Pemasangan rangkaian besi beton yaitu kait-kait, panjang penjangkaran, penyaluran,
letak sambungan dan lain-lain harus sesuai dengan gambar standar yang terdapat
dalam gambar rencana. Apabila ada keraguan tentang ini maka Kontraktor harus
meminta klarifikasi kepada Konsultan Pengawas.
g. Kawat Beton dan Penunjang
Penyetelan besi beton harus dilakukan dengan teliti, terpasang pada kedudukan yang
kokoh untuk menghindari pemindahan tempat, dengan menggunakan kawat yang
berukuran tidak kurang dari 16 gauge atau klip yang sesuai pada setiap tiga pertemuan.
Pembesian harus ditunjang dengan beton tahu atau penunjang besi, spacers atau besi
penggantung seperti yang ditunjukkan pada gambar standar atau dicantumkan pada
spesifikasi ini. Penunjang-penunjang metal tidak boleh diletakkan berhubungan acuan.
Ikatan dari kawat harus dimasukkan ke dalam penampang beton, sehingga tidak
menonjol permukaan beton.
h. Sengkang-sengkang
Untuk menjamin bahwa perilaku elemen struktur sesuai dengan rencana, maka
sengkang harus diikat pada tulangan utama dan jaraknya harus sesuai dengan gambar.
Akhiran / kait sengkang harus dibuat seperti yang disyaratkan di dalam gambar standar





41
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

agar sengkang dapat bekerja seperti yang diinginkan. Demikian juga untuk besi
pengikat yang digunakan untuk pengikat tulangan utama.
i. Beton Tahu
Beton tahu harus digunakan untuk menahan jarak yang tepat pada tulangan, dan
minimum mempunyai kekuatan beton yang sama dengan beton yang akan dicor. Jarak
antara beton tahu ditentukan maksimal 100 cm
j. Penggantian Besi
1. Kontraktor harus mengusahakan supaya besi yang dipasang adalah sesuai dengan
apa yang tertera pada gambar
2. Dalam hal ini dimana berdasarkan pengalaman kontraktor atau pendapatnya
terdapat kekeliruan atau kekurangan atau perlu penyempurnaan pembesian yang
ada maka Kontraktor dapat menambah ekstra besi dengan tidak mengurangi
pembesian yang tertera dalam gambar.
3. Jika Kontraktor tidak berhasil mendapatkan diameter besi yang sesuai dengan yang
ditetapkan dalam gambar maka dapat dilakukan penukaran diameter besi dengan
diameter yang terdekat dengan catatan :
- Harus ada persetujuan dari Konsultan Pengawas
- Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi di tempat tersebut tidak boleh
kurang dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksud adalah
jumlah luas). Khusus untuk balok portal, jumlah luas penampang besi pada
tumpuan juga tidak boleh lebih besar jauh dari pembesian aslinya.
- Penggantian tersebut tidak boleh mengakibatkan keruwetan pembesian di
tempat tersebut atau di daerah overlap yang dapat menyulitkan pengecoran.
- Tidak ada pekerjaan tambah dan tambahan waktu pelaksanaan.
k. Toleransi Besi
Diameter Besi (mm) Toleransi dia (mm) Toleransi Berat (%)
6s|s10 0.4 7
10>|s16 0.4 5
16<|<28 0.5 4
|>28 0.6 2

3.3. Toleransi Dimensi Elemen-elemen Srtuktur
Dimensi elemen stuktur seperti (pelat, balok, kolom, dinding) harus memenuhi toleransi
sbb :
Dimensi Elemen Struktur
(mm)
Toleransi Terhadap B
(mm)
Toleransi Selimut
Beton (mm)
B s 200 9.0 5.0
B > 200 12.0 9.0




42
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

Dimana B adalah dimensi elemen stuktur baik untuk lebar maupun tinggi. Pelaksanaan yang
tidak memenuhi toleransi tersebut akan dievaluasi oleh konsultan pengawas, untuk
selanjutnya diputuskan. Semua akibat kesalahan tersebut menjadi tanggung jawab
Kontraktor

3.4. Pemasangan alat-alat di Dalam Beton / Sparing
a. Kontraktor harus membuat gambar kerja yang menunjukkan secara tepat lokasi sparing
yang akan terdapat pada elemen struktur. Kontraktor wajib mempelajari gambar M & E
dan mendiskusikan dengan pihak terkait jika terdapat keraguan tentang gambar
tersebut. Kebutuhan sparing yang terjadi akibat perubahan desain harus diinformasikan
segera kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan pemecahannya. Pekerjaan
membobok, membuat lubang atau memotong konstruksi beton yang sudah jadi harus
dihindarkan dan jika diperlukan harus mendapatkan ijin tertulis dari Konsultan
Pengawas.
b. Ukuran lubang, pemasangan alat-alat di dalam beton, pemasangan dan sebagainya,
harus sesuai dengan gambar struktur maupun gambar lain yang terkait atau menurut
petunjuk-petunjuk Konsultan Pengawas.
c. Perkuatan pada lubang-lubang beton untuk keperluan pekerjaan M / E harus mengikuti
ketentuan yang terdapat di dalam gambar standar. Jika tidak / belum tertera di dalam
gambar maka Kontraktor wajib menginformasikan hal tersebut kepada KP / Konsultan
Pengawas untuk mendapatkan penyelesaiannya.

3.5. Beton Kedap Air
a. Beton kedap air adalah beton yang dibuat agar tidak tembus air untuk jangka waktu
lama. Untuk itu Kontraktor wajib mengikuti segala ketentuan yang disyaratkan oleh
Pemasok bahan kedap air / water proofing, termasuk cara pembuatan beton tersebut.
b. Pada siar pelaksanaan harus dipasang waterstop sesuai dengan spesifikasi pabrik.
Waterstop tersebut harus ditunjukkan di dalam gambar kerja / shop drawing, sehingga
rencana pengecoran harus direncanakan dengan baik. Biaya waterstop tersebut sudah
termasuk di dalam penawaran yang diajukan oleh Kontraktor.
c. Apabila terjadi kebocoran selama masa garansi, maka kontraktor harus mengadakan
perbaikan-perbaikan dengan biaya Kontraktor. Prosedur perbaikan tersebut harus
diusulkan oleh Kontraktor dan disetujui oleh Konsultan Pengawas, sedemikian rupa
sehingga tidak merusak bagian-bagian lain yang sudah selesai.

3.6. Acuan / Begisting
3.6.1. Umum
a. Kontraktor harus membuat acuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara
struktur baik kekuatan, stabilitas maupun kekakuannya serta layak untuk
digunakan. Acuan merupakan suatu bagian pekerjaan struktur yang berguna
untuk membentuk struktur beton agar sesuai gambar kerja rencana.



43
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

b. Jenis acuan harus sesuai dengan yang disyaratkan di dalam spesifikasi ini.
Kontraktor dapat mengusulkan alternatif acuan dengan catatan bahwa harus
disetujui oleh Konsultan Pengawas. Di dalam penawarannya Kontraktor wajib
menawarkan sesuai dengan yang ditentukan di dalam spesifikasi.
c. Semua bagian acuan yang sudah selesai digunakan harus dibongkar dan
dikeluarkan dari lokasi pekerjaan. Tidak dibenarkan adanya bagian acuan yang
tertanam di dalam struktur beton.
d. Pada struktur beton kedap air, cara pemasangan acuan dan bukaan pada acuan
dan bukan pada acuan harus dibuat sedemikian rupa, sehingga bukaan tersebut
harus dapat ditutup dengan sempurna, sehingga bukaan tersebut harus dapat
ditutup dengan sempurna, sehingga bebas dari kebocoran. Semua pengikat
acuan (ties) harus dilengkapi dengan material tertentu seperti water haffles,
sehingga pada saat dicor akan menyatu dengan struktur beton.

3.6.2. Lingkup Pekerjaan
a. Tenaga Kerja, Bahan dan Peralatan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan, peralatan seperti
release agent, pengangkutan dan pelaksanaan untuk menyelesaikan semua
pekerjaan acuan sebagai cetakan beton sesuai dengan gambar-gambar
konstuksi dan gambar-gambar disiplin lain yang berhubungan seperti diuraikan
dalam uraian dan syarat-syarat pelaksanaan, secara aman dan benar.
b. Detail-detail Khusus
Pembuatan acuan khusus sesuai yang direncanakan harus termasuk yang
ditawarkan di dalam penawaran Kontraktor. Termasuk juga jika menggunakan
material acuan yang khusus untuk menghasilkan detail khusus.

3.6.3. Persyaratan Bahan.
1. Acuan dan Penyanggah
Bahan acuan yang dipergunakan dapat berbentuk beton, baja, pasangan bata
yang diplester, kayu atau material lain yang dapat dipertanggung jawabkan
kualitasnya. Penggunaan acuan siap pakai produksi pabrik tertentu diijinkan
untuk dipergunakan, selama dapat disetujui oleh Konsultan Pengawas. Acuan
yang terbuat dari multiplek yang dilapisi dengan sejenis kertas film yang
khusus yang digunakan untuk acuan sangat dianjurkan dengan tebal multiplek
minimal 12 mm. Pengaku harus dibuat dengan benar agar tidak terjadi
perubahan bentuk / ukuran dari elemen beton yang dibuat. Penyanggah yang
terbuat dari baja lebih disukai, walau penggunaan material penyanggah dari
kayu dapat diterima. Bahan dan ukuran kayu yang digunakan harus
mendapatkan persetujuan Konsultan Pengawas. Untuk pekerjaan beton yang
langsung berhubungan dengan tanah, maka sebagai lantai kerja harus dibuat
dari beton K-175. Sebagai acuan samping dari beton tersebut dapat



44
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

menggunakan pasangan batu kali, batu bata atau material lain yang disetujui
Konsultan Pengawas. Untuk elemen beton tertentu seperti kolom bulat
disarankan menggunakan acuan baja.

2. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Struktur Acuan
Acuan berikut elemen pendukungnya harus dianalisa sedemikian rupa,
sehingga mampu memikul beban kesemua arah yang mungkin terjadi
(kuat), tanpa mengalami deformasi yang berlebihan (kaku) dan harus
memenuhi syarat stabilitas. Deformasi dibatasi tidak lebih dari 1/360
bentang. Peninjauan terhadap kemungkinan beban diluar beban beton juga
harus dipertimbangkan, seperti kemungkinan beban konstruksi, angin,
hujan dan lain-lain. Semua analisa dan perhitungan acuan berikut elemen
pendukungnya harus diserahkan kepada konsultan pengawas untuk
mendapatkan persetujuannya, sebelum pekerjaan dilakukan.
2. Dimensi Acuan
Semua ukuran-ukuran yang tercantum dalam gambar srtuktur adalah
ukuran bersih penampang beton, tidak termasuk plester / finishing.
Tambahan elemen tertentu seperti bentuk / profil khusus yang tercantum
di dalam gambar arsitektur juga harus dipertimbangkan baik sebagai beban
maupun dalam analisa biaya.
3. Gambar Kerja
Kontraktor harus membuat gambar kerja khusus acuan berdasarkan analisa
yang dilakukannya. Gambar kerja tersebut harus lengkap disertai ukuran
dan detail-detail sambungan yang benar dan selanjutnya diserahkan
kepada Konsultan Pengawas untuk persetujuannya. Tanpa persetujuan
tersebut Kontraktor tidak diperkenankan untuk memulai pembuatan acuan
di lapangan.
4. Tanggung Jawab
Walaupun sudah disetujui oleh Konsultan Pengawas, tanggung jawab
sepenuhnya atas kekuatan, kekakuan dan stabilitas acuan sepenuhnya
menjadi tanggung jawab Kontraktor. Jika terjadi hal-hal yang tidak sesuai
dengan perkiraan ataupun kekeliruan yang mengakibatkan timbulnya biaya
tambahan, maka semua biaya tersebut menjadi tanggung jawab
Kontraktor. Acuan harus dibuat sesuai dengan yang dibuat di dalam gambar
kerja. Pelaksanaan yang tidak sesuai dengan gambar kerja harus segera
dibongkar.
5. Stabilitas Acuan
Semua acuan harus diberi penguat datar dan silang sehingga kemungkinan
bergeraknya acuan selama pelaksanaan pekerjaan dapat dihindari.



45
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

Konsultan Pengawas berhak untuk meminta Kontraktor untuk memperbaiki
acuan yang dianggap tidak / kurang sempurna dengan beban biaya
Kontraktor.
6. Inspeksi Konsultan Pengawas
Semua acuan dengan penunjang-penunjang harus diatur sedemikian rupa
sehingga memungkinkan dilakukannya inspeksi dengan mudah oleh
Konsultan Pengawas.
7. Detail Acuan
Penyusunan acuan harus sedemikian rupa hingga pada waktu
pembongkarannya tidak menimbulkan kerusakan pada bagian beton yang
bersangkutan.
8. Akurasi
Acuan harus dapat menghasilkan bagian konstruksi yang ukuran kerataan /
kelurusan, elevasi dan posisinya sesuai dengan gambar-gambar konstruksi.
Toleransi ukuran dan posisi harus sesuai dengan yang tercantum dalam
spesifikasi ini.
9. Sistem Pengaliran Air
Acuan harus bersih dan dibasahi terlebih dahulu sebelum pengecoran.
Harus dipersiapkan sistem pengaliran air sedemikian, sehingga pada saat
dibasahkan, air dapat mengalir ke tempat yang diinginkan dan acuan tidak
tergenang oleh air. Acuan harus dipasang sedemikian rupa sehingga akan
terjadi kebocoran atau hilangnya air semen selama pengecoran, tetap lurus
(tidak berubah bentuk) dan tidak tergoyang.
10. Ikatan Acuan di Dalam Beton
Sebelumnya dengan mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas baut-
baut dan tie rod yang diperlukan untuk ikatan-ikatan dalam beton harus
diatur sedemikian, sehingga bila acuan dibongkar kembali, tidak akan
merusak beton yang sudah dibuat.
11. Acuan Beton Exposed
Jika ada harus dilapisi dengan menggunakan release agent pada permukaan
acuan yang menempel pada permukaan beton. Berhubung release agent
berpengaruh pula pada warna
permukaan beton, maka pemilihan jenis dan penggunaannya harus
dilakukan dengan seksama. Cara pengecoran beton harus diperhitungkan
sedemikian rupa sehingga siar-siar pelaksanaan tidak merusak penampilan
beton exposed tersebut. Merk dan jenis release agent yang telah disetujui
bersama, tidak boleh diganti dengan merk jenis lain. Untuk itu Kontraktor
harus memberitahukan terlebih dahulu nama pedangang dari release agent
tersebut, data bahan-bahan bersangkutan, nama produsennya, jenis bahan-
bahan mentah utamanya, cara-cara pemakaiannya, resiko-resiko dan



46
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

keterangan lain yang dianggap perlu untuk memperoleh persetujuan
tertulis dari Konsultan Pengawas.
12. Bukaan Untuk Pembersihan
Pada bagian terendah (dari setiap phase pengecoran) dari acuan kolom
atau dinding harus ada bagian yang mudah dibuka untuk inspeksi dan
pembersihan.
13. Scaffolding
Pada prinsipnya semua penunjang acuan harus menggunakan steger besi
(scaffolding). Scaffolding tersebut harus cukup kuat dan kaku dan diatur
agar mudah diperiksa oleh Konsultan Pengawas.
14. Persetujuan Konsultan Pengawas.
Setelah pekerjaan di atas selesai, Kontraktor harus meminta persetujuan
dari Konsultan Pengawas dan minimum 3 (tiga) hari sebelum pengecoran.
Kontraktor harus mengajukan permohonan tertulis untuk izin pengecoran
kepada Konsultan Pengawas.
15. Anti Lendut (Cambers)
Kecuali ditentukan lain dalam gambar, maka semua acuan untuk balok dan
plat, harus dipersiapkan dengan memakai anti lendut dengan besar sbb :
Lokasi % Terhadap Bentang
Ditengah bentang balok 0.3
Diujung balok kantilever 0.5

c. Pembongkaran Acuan
1. Pembongkaran harus dilakukan dengan hati-hati, dimana bagian konstruksi
yang dibongkar acuannya harus dapat memikul berat sendiri dan beban-
beban pelaksanaannya.
2. Pembongkaran acuan dapat dilakukan setelah mencapai waktu sbb :
Elemen Struktur Waktu Minimum
Sisi-sisi balok kolom dan dinding 3 hari
Balok dan plat beton (tiang penyanggah tidak
dilepas)
21 hari
Tiang-tiang penyanggah plat 21 hari
Tiang-tiang penyanggah balok-balok 21 hari

Waktu pembongkaran tersebut hanya merupakan kondisi normal dan harus
dipertimbangkan secara khusus jika pada lantai-lantai tersebut bekerja
beban dan mengusulkan metode dan perhitungan yang akan digunakan, dan
usulan tersebut harus mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan
Pengawas. Tidak ada biaya tambah untuk biaya tersebut. Semua akibat
yang timbul akibat usulan tersebut menjadi tanggung jawab Kontraktor.



47
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

3. Setiap rencana pekerjaan pembongkaran acuan harus diajukan terlebih
dahulu secara tertulis untuk disetujui Konsultan Pengawas.

3.7. Pekerjaan Konstruksi Baja & Konstruksi Pipa
3.7.1. Syarat-Syarat Umum
a. Lingkup Pekerjaan
Yang dimaksud pekerjaan konstruksi Baja & Konstruksi Pipa adalah semua
pekerjaan konstruksi Baja & Konstruksi Pipa dan pekerjaan baja lainnya yang
tercantum dalam gambar rencana.
Termasuk di dalam pekerjaan konstruksi Baja & Konstruksi Pipa ini antara lain
adalah :
- Konstruksi rangka atap, dan pekerjaan konstruksi Baja & Konstruksi Pipa
lainnya untuk Bangunan gedung.
- Pekerjaan konstruksi Baja & Konstruksi Pipa lainnya sesuai yang dimaksud
gambar rencana.
b. Pekerjaan ini meliputi pengadaan dari semua, tenaga, peralatan, perlengkapan
serta pemasangan dari semua pekerjaan baja dan logam termasuk alat-alat
atau benda-benda / material pendukung lainnya.
c. Pekerjaan baja dan logam harus dilaksanakan sesuai dengan keterangan-
keterangan yang tertera pada gambar rencana / detail, lengkap dengan
penyangganya, alat untuk memasang dan menyambungnya, pelat-pelat baja /
profil siku dan lain sebagainya.
d. Semua bagian harus mempunyai ukuran yang tepat, sehingga dalam
pemasangannya tidak memerlukan pengisi, kecuali kalau gambar detail
menunjuk hal tersebut.
e. Semua detail dan hubungan harus dibuat dengan teliti dan diselesaikan dengan
rapi, dan dalam pelaksanaannya tidak hanya dari gambar-gambar kerja untuk
memasang pada tempatnya tetapi dimungkinkan untuk mengambil ukuran-
ukuran sesungguhnya di tempat pekerjaan terutama bagian-bagian yang
terhalang oleh benda lain.
f. Pekerjaan harus bermutu kelas satu dalam segala hal, setiap bagian pekerjaan
yang buruk akan ditolak dan harus diganti apabila perlu. Pekerjaan yang selesai
harus bebas dari puntiran-puntiran, bengkokan-bengkokan dan sambungan-
sambungan yang mengganggu.
g. Referensi
- Peraturan Perencanaan Bangunan Baja (PPBBI-1983)
- NI 3 - 1970
- J.I.S dan AISC
- RKS dan Berita Acara Penjelasan Pekerjaan.




48
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

h. Perancangan
1. Penawaran baja dalam berat (kg), sudah termasuk wastage akibat
pemotongan dan lain-lain dan diperhitungkan pada analisa harga satuan.
2. Standar
Kontraktor bertanggung jawab untuk menjamin perancang baja untuk
pengerjaannya agar sesuai dengan persyaratan-persyaratan ini sepenuhnya.
Kontraktor supaya menyiapkan salinan usulan standar yang akan dipakai,
sebagai pedoman bagi Direksi / Pengawas paling lambat 21 hari sebelum
fabrikasi.
i. Perencanaan dan Pengawasan
1. Gambar Kerja
Sebelum pekerjaan di pabrik dimulai, Kontraktor harus menyiapkan
gambar-gambar kerja (shop drawing) yang menunjukkan detail-detail
lengkap dari semua komponen, panjang serta ukuran las, jumlah, ukuran
serta tempat baut-baut serta detail-detail lain yang lazimnya diperlukan
untuk fabrikasi.
2. Ukuran-Ukuran
Kontraktor wajib meneliti kebenaran dan bertanggung jawab terhadap
semua ukuran yang tercantum pada gambar kerja.
3. Kelurusan
Toleransi dari keseluruhannya tidak lebih dari L/1000 untuk semua
komponen.
4. Pemeriksaan dan lain-lain
Seluruh pekerjaan di pabrik harus merupakan pekerjaan yang berkualitas
tinggi, seluruh pekerjaan harus dilakukan ketepatan sedemikian rupa
sehingga semua komponen dapat dipasang dengan tepat di lapangan.
Direksi mempunyai hak untuk memeriksa pekerjaan di pabrik pada saat
yang dikehendaki, dan tidak ada pekerjaan yang boleh dikirim ke lapangan
sebelum diperiksa dan disetujui Direksi / Pengawas. Setiap pekerjaan yang
kurang baik atau tidak sesuai dengan gambar atau spesifikasi ini akan
ditolak dan bila terjadi demikian, harus diprbaiki dengan segera.

3.7.2. Bahan-Bahan
a. Bahan-bahan yang dipakai untuk pekerjaan-pekerjaan baja harus sudah
disetujui oleh Pengawas, tidak berkarat, bagian-bagiannya dan lembaran-
lembarannya tidak bengkok dan cacat. Potongan-potongan (profil) mempunyai
ukuran yang tepat sesuai dengan dimensi yang tertera dalam gambar rencana
baik bentuknya, tebal ukuran berat.



49
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

b. Bahan baja yang digunakan / dipasang harus dari jenis yang sama kualitasnya,
dalam hal ini dipakai baja ST-37, dengan tegangan leleh baja minimum adalah
3.700 kg/cm2.
c. Toleransi luas penampang bahan baja ditetapkan maksimum 5% dari luas untuk
rangka batang atau maksimum 5% dari momen inersia (I)
d. Sebagai kawat las dipakai setara produksi KOBE atau NIPPON STEEL. Jenis
kawat las yang akan digunakan harus sesuai dengan petunjuk-petunjuk dari
pabrik pembuat dan petunjuk-petunjuk Direksi. Elektroda-elektroda las harus
diambil dari GRADA-A (besi heavy coatee type) batang-batang elektroda yang
dipakai diameternya lebih besar atau sama dengan 6 mm (1 / 4 inch), dan
batang-batang elektroda harus dijaga agar selalu dalam keadaan kering.
e. Baut-baut yang digunakan harus baut hitam ulir (HTB) tak penuh dengan
tegangan baut dan tegangan las minimum adalah 1.400 kg/cm2 atau minimal
sama dengan mutu baja yang digunakan (A-325 ASTM).
f. Pada konstruksi atap bangunan, sambungan gording tidak harus menumpu pada
kuda-kuda / jurai atau tumpuan lainnya. Untuk itu sebelum pemasangan
gording dilaksanakan Pemborong harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan
Direksi / Pengawas. Bahan baja ini kecuali ditunjuk atau dipersyaratkan lain
harus sesuai dengan NI 3-1970.

3.7.3. Pelaksanaan dan Sistem Pemasangan
a. Fabrikasi
1. Sebelum memulai dengan pemotongan, penyambungan, dan pemasangan
Kontraktor harus memberitahukan secara tertulis tentang tempat, sistem
pengerjaan dan pemasangan kepada Direksi / Pengawas untuk mendapat
persetujuannya.
2. Kontraktor harus terlebih dahulu menunjukkan kualitas pengelasan dan
penghalusan untuk dijadikan standart dalam pekerjaan tersebut.
3. Pekerjaan pengelasan pekerjaan konstruksi Baja & Konstruksi Pipa harus
sesuai dengan gambar rencana dan harus mengikuti prosedur yang berlaku
seperti seperti AWS atau AISA Spesifikation.
4. Kecuali ditunjuk sistem lain maka, dalam hal menghubungkan profil-profil,
plat-plat pengaku digunakan las listrik dengan alat pembakar yang standart
dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
a. Batang las (bahan untuk las) harus dibuat dari bahan yang campurannya
sama dengan bahan yang akan disambung.
b. Kekuatan sambungan dengan las (hasil pengelasan) harus sama kuat
dengan batang yang disambung.
c. Pemeriksaan kekuatan las harus dilakukan dengan persetujuan
pengawas bila dianggap perlu dan dapat dilakukan di laboratorium.



50
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

d. Kedudukan pekerjaan konstruksi Baja & Konstruksi Pipa yang segera
akan di las harus menjamin situasi yang paling aman bagi pengelas dan
kualitas hasil pengelasan yang dilakukan.
e. Pada pekerjaan las, maka sebelum mengadakan las ulangan, baik bekas
lapisan pertama, maupun bidang-bidang benda kerja harus dibersihkan
dari keras (slag) dan kotoran lainnya.
f. Pada pekerjaan, dimana akan terjadi banyak lapisan las, maka lapisan
yang terdahulu harus dibersihkan dari keras (slag) dan percikan-
percikan logam sebelum memulai dengan lapisan las yang baru.
Lapisan las yang berpori-pori, rusak atau retak harus dibuang sama
sekali.
g. Tempat pengelasan dan juga bidang konstruksi yang di las, harus
terlindung dari hujan / angin kencang.
h. Permukaan las terakhir harus digerinda sampai rata dan halus.
i. Kesalahan pemotongan maupun lubang yang terlalu besar tidak
diperkenankan ditutup dengan las, karena itu batang yang
bersangkutan harus diganti dengan yang baru.
5. Sambungan
Untuk sambungan komponen pekerjaan konstruksi Baja & Konstruksi Pipa
yang tidak dapat dihindarkan berlaku ketentuan sebagai berikut :
a. Hanya diperkenankan satu sambungan.
b. Semua penyambung profil baja harus dilaksanakan dengan las tumpul /
full penetration butue weld.
6. Pemasangan percobaan / Trial Erection
Bila dipandang perlu oleh Direksi / Pengawas, Kontraktor wajib
melaksanakan pemasangan percobaan dari sebagian atau seluruh pekerjaan
konstruksi. Komponen yang tidak cocok atau yang tidak sesuai dengan
gambar dan spesifikasi dapat ditolak oleh Direksi / Pengawas dan
pemasangan percobaan tidak boleh dibongkar tanpa persetujuan Direksi /
Pengawas.

b. Pemasangan / Erection
Karena lokasi tidak memungkingkan dikerjakan didalam area project saat
pelaksanaan erection maka memerlukan alat batu berupa alat tower mobile
crane kap 80 ton dan dikerjakan disisi luar projet atau lokasi, kecuali
ditentukan lain oleh Direksi / Pengawas 2 hari setelah pengecoran.
1. Penguat Sementara
- Baja harus dipasang mati setelah sebagian besar struktur baja / struktur
rangka pipa terpasang dan disetujui ketepatan garis, vertikal dan
horizontal



51
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

- Kontraktor supaya menyediakan penunjang-penunjang sementara
(pembautan-pembautan) bilamana diperlukan sampai pemasangan mati
sesuai keputusan Direksi / Pengawas.
2. Pembautan
- Ulir harus bebas setidak-tidaknya dua setengah putaran dari muka mur
dalam keadaan terpasang mati.
- Kontraktor supaya menggunakan setidak-tidaknya satu cincin pada setiap
mur dan menyiapkan daftar mur, baut, dan cincin.
- Kontraktor supaya menggunakan cincin baja keras untuk baut tegangan
tinggi (HBS).
3. Adukan Pengisi (Grouting)
Kontraktor supaya memasang adukan pengisi di bawah plat-plat kolom dll
tepat sesuai dengan gambar-gambar. Penawaran harus sudah termasuk
pekerjaan ini, bahan grouting yang digunakan setara Tricosal VGI
Superfluid.

c. Pengecatan
1. Semua bahan Pekerjaan konstruksi Baja & Konstruksi Pipa harus di cat.
2. Cat dasar adalah cat zink chromate buatan Dana Paint atau setara
sedangkan sebagai cat akhir adalah Enamel Paint produk ex Yama Paint
atau setara dan pengecatan dilakukan satu kali di pabrik dan satu kali di
lapangan. Baja yang akan ditanam dalam beton tidak boleh di cat.
3. Untuk lubang baut kekuatan tinggi / high strength bold permukaan baja
tidak boleh di cat.
4. Cat akhir adalah enamel paint buatan Dana paint atau setara dan
pengecatan dilakukan 2 kali di lapangan, kecuali bila dinyatakan lain dalam
gambar atau spesifikasi arsitektur.
5. Di bagian bawah dari base plate dan atau seperti yang tertera pada gambar
harus digrout dengan bahan setara Master Flor 713 Grout, dengan tebal
minimum 2,5 cm. Cara pemakaian harus sesuai spesifikasi pabrik.

d. Syarat-syarat Pengamanan Pekerjaan
1. Bahan-bahan baja profil dihindarkan / dilindungi dari hujan dan lain-lain.
2. Baja yang sudah terpasang dilindungi dari kemungkinan cacat / rusak yang
diakibatkan oleh pekerjaan-pekerjaan lain.
3. Bila terjadi kerusakan, Kontrator diwajibkan untuk memperbaikinya dengan
tidak mengurangi mutu pekerjaan. Seluruh biaya perbaikan menjadi
tanggung jawab Kontraktor.
4. Penempatan pipa dan batang baja di work shop maupun di lapangan tidak
boleh langsung di atas tanah atau lantai, tetapi harus di atas balok-balok
kayu yang berjarak maksimum 2 m.



52
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

5. Tanah atau lantai tersebut harus datar, padat merata dan bebas dari
genangan air.

e. Pemasangan Akhir / Final Erection.
1. Alat-alat untuk pemasangan harus sesuai untuk pekerjaannya dan harus
dalam keadaan baik. Bila dijumpai bagian-bagian konstruksi yang tidak
dapat dipasang atau ditempatkan sebagaimana mestinya sebagai akibat
dari kesalahan pabrikasi atau perubahan bentuk yang disebabkan
penanganan, maka keadaan itu harus segera dilaporkan kepada Direksi /
Pengawas disertai usulan cara perbaikannya.
Cara perbaikan tersebut harus mendapat persetujuan dari Direksi /
Pengawas sebelum dimulainya pekerjaan perbaikan tersebut adalah
menjadi tanggungan Kontraktor.
Meluruskan plat dan besi siku atau bentuk lainnya harus dilaksanakan
dengan persetujuan Direksi. Pekerjaan baja harus kering sebagaimana
mestinya, kantong air pada konstruksi yang tidak terlindung dari cuaca
harus diisi dengan bahan waterproofing yang disetujui. Sabuk pengaman
dan tali-tali harus digunakan oleh para pekerja pada saat bekerja pada
tempat yang tinggi, disamping pengaman yang berupa platfrom atau
jaringan (net).
2. Setiap komponen diberi kode / marking sesuai dengan gambar
pemasangan, sedemikian rupa sehingga memudahkan pemasangan.
3. Bagian profil baja harus diangkat dengan baik dan ikatan-ikatan sementara
harus digunakan untuk mencegah tegangan-tegangan yang melewati
tegangan ijin. Ikatan-ikatan itu dibiarkan sampai konstruksi selesai.
4. Sambungan-sambungan sementara dari baut harus diberikan kepada bagian
konstruksi untuk menahan beban mati, angin, dan tegangan-tegangan
selama pembangunan.
5. Baut-baut, baut angker, baut hitam, baut kekuatan tinggi dan lain-lain
harus disediakan dan harus dipasang sebagaimana mestinya sesuai dengan
gambar detail. Baut kekuatan tinggi harus dikencangkan dengan kunci
momen (torque wrench).
6. Plat dasar kolom untuk kolom penunjang dan plat perletakan untuk balok,
balok penunjang dan sejenis harus dipasang dengan luas perletakan penuh
setelah bagian pendukung di tempatkan secara baik dan tegak.
7. Daerah di bawah plat harus diberi adukan lembab / kering yang tidak susut
dan disetujui Konsultan Direksi / Pengawas.
8. Penyimpangan kolom dari sumbu vertikal tidak boleh lebih dari 1/1500 dari
tinggi vertikal kolom.




53
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

PASAL 4. PEKERJAAN ARSITEKTUR

4.1. Umum
4.1.1. Ketentuan Umum
a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan
alat-alat bantu serta cara kerja yang dibutuhkan dalam pelaksanaan
pekerjaan sehingga dapat dicapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan
sempurna.
2. Pada spesifikasi teknis ini diatur seluruh pekerjaan berdasarkan peraturan
dan ketentuan yang berlaku, baik yang bersifat daerah, nasional, maupun
internasional, serta berdasarkan jenis bahan / material, cara pelaksanaan
(metode) dan sistem yang dibutuhkan.
3. Seluruh pekerjaan akan dikelola (manage) oleh konsultan pengawas, yaitu
dalam hal Koordinasi dan Pengawasan, mencakup mutu hasil kerja (kualitas),
Waktu pelaksanaan (Schedule) dan Pembiayaan.
4. Seluruh pekerjaan yang berkaitan dengan estetika, penentuan warnanya
harus terlebih dahulu dikonsultasikan dengan Konsultan Perencana serta
mendapat persetujuan dari (Owner).

b. Peraturan-peraturan yang dipakai
Peraturan-peraturan / standar setempat yang biasa dipakai.
Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 ; NI-2.
Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia 1961 ; NI-5
Peraturan Semen Portland Indonesia 1972 ; NI-8
Peraturan Pembangunan Pemerintah Daerah setempat
Ketentuan-ketentuan umum untuk pelaksanaan Pemborong Pekerjaan Umum
(A.V.) No. 9 tanggal 28 Mei 1941 dan Tambahan Lembaran Negara No. 14571.
Petunjuk-petunjuk dan Peringatan-peringatan lisan maupun tertulis yang
diberikan Konsultan pengawas.
Standart Normalisasi Jerman (D.I.N.).
American Society for Testing and Material (A.S.T.M.).
American Concrete Institute (A.C.I.).
Semen Portland harus memenuhi NI-8, SII 0013-81 dan ASTM C 1500-78A
Pasir beton yang digunakan harus memenuhi PUBI 82 pasal 11 dan SII 0404-
80.
Kerikil / split harus memenuhi PUBI 82 pasal 12 dan SII 0079-79/0087-
75/0075-75.





54
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

Air harus memenuhi persyaratan dalam PUBI 82 pasal 9, AVGNOR P18-303
dan NZS-3121/1974.
Pengendalian seluruh pekerjaan beton ini harus sesuai dengan persyaratan :
PBI 1971 (NI-2) PUBI 1982 dan (NI-8).
Standar dari bahan waterproofing mengikuti prosedur yang ditentukan oleh
pabrik dan standar-standar lainnya seperti :NI.3, ASTM 828, ASTME, TAPP I
803 dan 407.
Pengendalian pekerjaan keramik harus sesuai dengan peraturan ASTM, NI-
129, PUBI 1982 pasal 31 dan SII-0023-81.
Pengendalian seluruh pekerjaan karpet harus sesusi dengan peraturan-
peraturan ASTM E-648 dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan dari pabrik.
Syarat bahan glass block sesuai dengan standar pabrik, tanpa cacat serta
memenuhi dalam PUBI 1982 pasal 63 dan SII 0189/78.
Mutu dan kualitas kayu yang dipakai sesuai dengan persyaratan dalam
NI-5 (PKKI tahun 1961), PUBI 82 pasal 37 dan memenuhi persyaratan dalam
SII 0458-81.
Pengendalian seluruh pekerjaan cat, harus memenuhi ketentuan-ketentuan
dari pabrik yang bersangkutan dan memenuhi persyaratan pada PUBI 1982
pasal 54 dan NI-4.
Bahan cat yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan
dalam PUBI 1982 pasal 53, BS No. 3900 : 1970/1971, AS.K-41 dan NI.4, serta
mengikuti ketentuan-ketentuan dari pabrik yang bersangkutan.
Persyaratan bahan marmer harus konsisten terhadap PUBI pasal 26 dan SII
0015-76.
c. Syarat-syarat pelaksanaan
1. Semua jenis pekerjaan harus dibuatkan shop drawing dan diajukan kepada
Konsultan pengawas untuk diperiksa yang selanjutnya dimintakan
persetujuan kepada Konsultan Perencana.
2. Semua bahan material, terutama finishing utama sebelum dikerjakan,
Kontraktor harus mengajukan 2 atau 3 buah contoh produk yang setara
kepada Konsultan pengawas untuk diserahkan kepada
3. Perencana, selanjutnya Perencana mengajukan bahan material tersebut
kepada pemberi tugas untuk mendapatkan persetujuannya.
4. Hal-hal yang bertalian erat dengan estetika seperti : warna cat,keramik,
batu temple, politur dan sebagainya harus mendapat persetujuan dari
Perencana (Arsitek) terlebih dahulu sebelum dilaksanakan. Material yang
tidak disetujui harus diganti dengan material lain yang mutunya sesuai
dengan persyaratan tanpa biaya tambahan.





55
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

5. Kontraktor harus menyerahkan 2 (dua) copy ketentuan dan persyaratan
teknis operatif dari pabrik material yang bersangkutan termasuk mengajukan
cara perawatan / maintenance seluruh bahan / material bangunan sebagai
informasi bagi Konsultan pengawas dan untuk dapat digunakan kelak oleh
Pemilik Bangunan.
6. Material lain yang tidak terdapat pada daftar di atas, tetapi dibutuhkan agar
dapat melakukan penyelesaian / penggantian dalam suatu pekerjaan, harus
baru, kualitas terbaik dari jenisnya dan harus disetujui Konsultan pengawas.
7. Semua material yang dikirim ke site / lapangan harus dalam keadaan
tertutup atau dalam kantong / kaleng yang masih disegel dan berlabel
pabriknya, bertuliskan type dan tingkatannya, dalam keadaan utuh dan tidak
ada cacat.
8. Bahan harus disimpan di tempat yang kering, berventilasi baik, terlindung,
bersih. Tempat penyimpanan bahan harus cukup menampung kebutuhan
bahan, dan dilindungi sesuai dengan jenisnya seperti yang disyaratkan dari
pabrik.
9. Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor diharuskan memeriksa site /
lapangan yang telah disiapkan apakah sudah memenuhi persyaratan untuk
dimulainya pekerjaan.
10. Bila ada kelainan dalam hal apapun antara gambar, spesifikasi dan
lainnya Kontraktor harus segera melaporkan kepada Konsultan pengawas.
Kontraktor tidak diperkenankan melakukan pekerjaan di tempat tersebut
sebelum kelainan / perbedaan diselesaikan.
11. Setiap produk yang diajukan oleh Main / Sub Kontraktor harus dilengkapi
dengan cara perawatan / maintenance dari produk tersebut yang :
Sesuai dengan persyaratan teknis dari pabrik yang bersangkutan ;
Sesuai dengan persyaratan / peraturan setempat ;
Disetujui oleh konsultan pengawas.
12. Untuk setiap pekerjaan cat, maka Kontraktor atau aplikator :
Harus kepada pabrik cat sesuai dengan jumlah kebutuhan proyek ;
memberikan surat penunjukkan dari pabrik cat yang bersangkutan /
rekomendasi sebagai applicator ;
Harus melakukan pengecatan secara full system ;
Harus mengajukan sistem pengecatan dan jenis cat ;
Harus mengajukan urutan kerja ;
Harus mengajukan bukti pesanan ;
Harus memberikan surat jaminan supply dari pabrik cat sampai proyek
selesai Harus memberikan surat jaminan mutu berbentuk sertifikat
garansi yang dikeluarkan oleh pabrik cat (produsen) yang ditandatangani




56
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

Direktur Perusahaan, dengan dilampiri surat Pengantar dari Main
Kontraktor.

4.1.2. Pekerjaan Pendahuluan
a. Pengukuran
1. Kontraktor harus menyediakan alat-alat ukur sepanjang masa pelaksanaan
berikut ahli ukur yang berpengalaman. Setiap kali dianggap perlu, harus siap
untuk mengadakan.
2. Untuk menentukan koordinat bangunan, Kontraktor diwajibkan mengadakan
pengukuran dan penggambaran kembali lokasi pembangunan dengan
dilengkapi keterangan-keterangan mengenai peil ketinggian tanah untuk
menentukan elevasi 0,00, letak pohon yang perlu dipertahankan (apabila
ada), letak batas-batas site dengan alat-alat yang sudah ditera
kebenarannya.
3. Ketidakcocokan yang mungkin terjadi antara gambar dan keadaan lapangan
yang sebenarnya, harus segera dilaporkan kepada Konsultan pengawas untuk
diminta keputusannya, setelah berkonsultasi dengan Perencana.
4. Penentuan titik ketinggian dan sudut-sudut hanya dilakukan dengan alat-alat
Waterpass / Theodolith yang ketepatannya dapat dipertanggungjawabkan.
5. Kontraktor harus menyediakan Theodolith / Waterpass beserta petugas yang
cakap melayaninya untuk kepentingan pemeriksaan Konsultan pengawas
selama pelaksanaan proyek.
6. Pengukuran sudut siku-siku dengan benang secara azas segitiga phytagoras
hanya diperkenankan untuk bagian-bagian kecil yang disetujui oleh
Konsultan pengawas.
7. Segala pekerjaan pengukuran persiapan menjadi tanggung jawab kontraktor.

b. Tugu Patokan Dasar & Titik Pinjaman / Referensi
1. Letak dan jumlah patokan dasar ditentukan oleh Konsultan pengawas,
sebanyak 2 (dua) buah pada dua sisi yang berlainan.
2. Tugu patokan dasar dibuat dari beton penampang sekurang-kurangnya
200 x 200 mm, tertancap kuat di dalam tanah.
3. Tugu patokan dasar dibuat permanen, tidak bisa diubah, diberi tanda yang
jelas dan dijaga keutuhannya sampai ada instruksi tertulis dari Konsultan
pengawas untuk membongkarnya. Selain itu Kontraktor diharuskan membuat
titik Penjamin / Referensi yang akurat dari waktu ke waktu sepanjang masa
pelaksanaan, mendahului kemajuan pekerjaan.
4. Segala pekerjaan pembuatan dan pemasangan tugu patokan dasar termasuk
tanggung jawab Kontraktor.




57
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

5. Pada waktu pematokan (penentuan) peil dan setiap sudut-sudut tapak
(perpindahan) Kontraktor wajib membuat Shop Drawing dahulu sesuai
keadaan lapangan.

c. Papan Dasar Pelaksanaan (Bouwplank)
1. Papan dasar pelaksanaan dipasang pada patok kayu semutu meranti ukuran
(50/70 mm) atau kayu dolken, diameter 80-100 mm, yang tertancap dalam
tanah sehingga tidak bisa digerak-gerakkan atau diubah-ubah berjarak
maksimum 1.500 mm satu dengan lainnya.
2. Papan dasar pelaksanaan
3. (Bouwplank) dibuat dari kayu meranti, ukuran tebal 30 mm, lebar 200mm,
lurus dan diserut rata pada sisi sebelah atasnya. Pemasangan harus kuat dan
menggunakan sifat dasar (waterpass).
4. Papan dasar pelaksanaan (Bouwplank) harus dibuat tanda-tanda yang
mennyatakan as-as dan level / peil-peil dengan warna yang jelas dan tidak
mudah hilang bila terkena air hujan.
5. Tinggi sisi atas papan patok ukuran harus sama satu dengan lainnya, kecuali
dikehendaki lain oleh Konsultan pengawas.
6. Papan dasar pelaksanaan dipasang sejauh 1.000 mm dari sisi luar galian
tanah pondasi.
7. Setelah selesai pemasangan papan dasar pelaksanaan Kontraktor harus
melapor kepada Konsultan pengawas.
8. Segala pekerjaan pembuatan dan pemasangan papan dasar pelaksanaan
termasuk tanggungan Kontraktor.

4.2. Spesifikasi Umum
4.2.1. PEKERJAAN BETON NON STRUKTURAL
a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya,
peralatan dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan
ini, hingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna.
2. Meliputi pekerjaan beton praktis, seperti: sloof, kolom, ring balok, neut
kusen, angkur beton setempat, plat meja, serta seluruh detail yang
disebutkan / ditunjukkan dalam gambar.
b. Persyaratan Bahan
1. Semen Portland
Yang digunakan harus dari mutu yang terbaik, terdiri dari satu jenis merk
dan atas persetujuan dan harus memenuhi NI-8. Semen yang telah mengeras





58
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

sebagian / seluruhnya tidak dibenarkan untuk digunakan. Tempat
penyimpanan harus diusahakan sedemikian rupa sehingga bebas dari
kelembaban, bebas dari air dengan lantai terangkat dari tanah dan ditumpuk
sesuai dengan syarat penumpukan semen.
2. Pasir Beton
Pasir harus terdiri dari butir-butir yang bersih dan bebas dari Bahan-bahan
organis, lumpur dan sebagainya dan harus memenuhi komposisi butir serta
kekerasan yang dicantumkan dalam PBI 1971.
3. Koral Beton / Split
Digunakan koral yang bersih, bermutu baik tidak berpori serta gradasi
kekerasan seseuai dengan syarat syarat PBI 1971. Penyimpanan /
penimbunan pasir dan koral beton harus dipisahkan satu dengan yang lain,
hingga dapat dijamin kedua bahan tersebut tidak bercampur untuk
mendapatkan perbandingan adukan beton yang tepat.
4. Air
Air yang digunakan harus air tawar yang bersih dan tidak mengandung
minyak, asam, alkali dan bahan bahan organis / bahan lainnya yang dapat
merusak beton dan harus memenuhi NI 3 pasal 10. Apabila dipandang perlu
Konsultan pengawas dapat minta kepada Kontraktor supaya air yang dipakai
diperiksa di laboratorium pemeriksaan bahan yang resmi dan sah atas biaya
Kontraktor.
5. Besi Beton
Digunakan mutu U-24, besi harus bersih dari lapisan minyak / lemak dan
bebas dari cacat seperti serpih-serpih dan sebagainya. Penampang besi
adalah bulat dan memenuhi syarat-syarat PBI 1971. Kontraktor diwajibkan,
bila dipandang perlu untuk memeriksa mutu besi beton ke laboratorium
pemeriksaan bahan yang resmi dan sah atas biaya Kontraktor.
6. Pengendalian pekerjaan ini harus sesuai dengan :
a. Peraturan-peraturan / standar setempat yang biasa dipakai.
b. Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 ; NI-2
c. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia 1961 ; NI-5
d. Peraturan Semen Portland Indonesia 1972 ; NI-8
e. Peraturan Pembangunan Daerah Setempat.
f. Ketentuan-Ketentuan umum untuk pelaksanaan Pemborong Pekerjaan
Umum (AV) No.9 tanggal 28 Mei 1941 dan Tambahan Lembaran Negara No
14571.
g. Petunjuk-petunjuk dan Peringatan-peringatan lisan maupun tertulis yang
diberikan Konsultan pengawas.
h. Standar Normalisasi Jerman (D.I.N.).




59
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

i. American Society for Testing and Material (A.S.T.M).
j. American Concrete Institue (A.C.I).

c. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Mutu Beton
Mutu beton yang digunakan adalah : K-175 dan harus memenuhi ketentuan-
ketentuan lain sesuai dengan PBI-1971
2. Pembesian
a. Pembuatan tulangan harus sesuai dengan persyaratan yang tercantum
pada PBI-1971.
b. Pemasangan tulangan beton harus sesuai dengan gambar konstruksi.
c. Tulangan beton harus diikat dengan kuat untuk menjamin besi tersebut
tidak berubah tempat decking sesuai dengan ketentuan dalam PBI-1971.
d. Besi beton yang tidak memenuhi syarat harus segera dikeluarkan dari
lapangan kerja dalam waktu 24 jam setelah ada perintah tertulis dari
Konsultan pengawas.
3. Cara Pengadukan
a. Cara pengadukan harus menggunakan beton molen.
b. Takaran untuk semen Portland, pasir dan koral harus disetujui terlebih
dahulu oleh Konsultan pengawas dan tercapai mutu pekerjaan seperti
yang ditentukan dalam uraian dan syarat-syarat. Selama pengadukan
kekentalan adukan beton harus diawasi dengan jalan memeriksa slump
pada setiap campuran baru. Pengujian slump minimum 30 mm dan
maksimum 75 mm.
4. Pengecoran Beton
a. Kontraktor diwajibkan melaksanakan pekerjaan persiapan dengan
membersihkan dan menyiram cetakan-cetakan sampai jenuh,
pemeriksaan ukuran-ukuran, ketinggian, pemeriksaan penulangan dan
penempatan penahan jarak.
b. Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan Konsultan
pengawas.
c. Pengecoran harus dilakukan sebaik mungkin dengan menggunakan alat
penggetar untuk menjamin beton cukup padat dan harus dihindarkan
terjadinya cacat pada beton seperti keropos dan sarang-sarang koral /
split yang dapat memperlemah konstruksi.
d. Apabila pengecoran beton akan dihentikan dan diteruskan hari berikutnya
maka tempat perhentian tersebut harus disetujui oleh Konsultan
pengawas.





60
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

5. Pekerjaan Acuan / Bekisting
a. Acuan harus dipasang sesuai dengan bentuk dan ukuran-ukuran yang
telah ditetapkan seperti dalam gambar. Dari papan jenis kayu yang
memenuhi persyaratan dalam NI-2 pasal 5.1.
b. Acuan harus dipasang sedemikian rupa dengan perkuatan-perkuatan
sehingga cukup kokoh dan dijamin tidak berubah bentuk dan tetap pada
kedudukan selama pengecoran.
c. Acuan harus rapat tidak bocor, permukaannya licin, bebas dari kotoran-
kotoran seperti tahi gergaji, potongan-potonngan kayu, tanah dan
sebagainya sebelum pengecoran dilakukan serta harus mudah dibongkar
tanpa merusak permukaan beton.
d. Tiang-tiang acuan harus di atas papan atau baja untuk memudahkan
pemindahan perletakan. Tiang-tiang tidak boleh disambung lebih dari
satu. Tiang-tiang yang digunakan dari kayu dolken diameter 80-100 mm
atau meranti 50/70 mm.
e. Tiang acuan satu dengan yang lain harus diikat dengan palang papan /
balok secara cross.
f. Pembukaan acuan baru harus dibuka setelah memenuhi syarat-syarat
yang dicantumkan dalam PBI-1971.
g. Kayu yang dipakai adalah papan atau multiplex dengan tebal 25 mm.
h. Penggunaan bekisting (Formwork) harus sesuai dengan petunjuk /
spesifikasi pabrik.
6. Kawat Pengikat
Kawat pengikat besi beton / rangka dibuat dari baja lunak dan tidak
disepuh seng, dengan diameter kawat lebih besar atau sama dengan 0,40
mm. Kawat pengikat besi beton / rangka harus memenuhi syarat-syarat
yang ditentukan dalam NI-2 (PBI 1971).
7. Pekerjaan pembongkaran Acuan / Bekisting hanya boleh dilaksanakan
dengan ijin tertulis dari Konsultan pengawas. Setelah bekisting dibuka,
tidak diijinkan mengadakan perubahan apapun pada permukaan beton
tanpa persetujuan tertulis dari Konsultan pengawas.
8. Pelaksana / Kontraktor bertanggung jawab atas kesempurnaan
pekerjaannya sampai dengan saat-saat penyerahan (selesai).
9. Kontraktor harus mengikuti semua peraturan, baik yang terdapat pada
uraian dan syarat-syarat apapun yang tercantum dalam gambar-gambar
atau peraturan yang berlaku baik dalam negeri maupun luar negeri.
10. Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor harus memberikan contoh-
contoh material : besi, koral, pasir, pc untuk mendapat persetujuan dari
Konsultan pengawas.



61
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

11. Kontraktor harus melakukan pengujian atas besi / kubus beton di
laboratorium yang akan ditunjuk kemudian.
12. Mutu beton tersebut harus dibuktikan oleh kontraktor dengan mengambil
benda uji berupa kubus / silinder yang ukurannya sesuai dengan syarat-
syarat / ketentuan dalam PBI-1971. Pembuatannya harus disaksikan oleh
Konsultan pengawas dan diperiksa di laboratorium konstruksi beton yang
ditunjuk Konsultan pengawas. Jumlah dan frekuensi pembuatan kubus
serta ketentuan-ketentuan lainnya sesuai dengan PBI-1971.
13. Beton yang telah dicor dihindarkan dari benturan benda keras selama 3 x
24 jam setelah pengecoran.
14. Beton harus dilindungi dari kemungkinan cacat yang diakibatkan dari
pekerjaan-pekerjaan lain.
15. Bila terjadi kerusakan Kontraktor diwajibkan untuk memperbaikinya
dengan tidak mengurangi mutu pekerjaan, seluruh biaya perbaikan
menjadi tanggung jawab Kontraktor.
16. Bagian beton setelah dicor selama dalam masa pengerasan harus selalu
dibasahi dengan air terus-menerus selama 1 (satu) minggu atau lebih dan
apabila menggunakan curing agent pemeliharaannya sesuai standar produk
(sesuai dengan ketentuan dalam PBI-1971).
17. Bagian-bagian yang tertanam dalam beton :
a. Pasang angkur dan lain-lain yang akan menjadi satu dengan beton
bertulang.
b. Diperhatikan juga tempat untuk sparing atau instalasi.
18. Sparing Conduit dan pipa-pipa :
a. Letak dari sparing supaya tidak mengurangi kekuatan struktur.
b. Tempat-tempat dari sparing dilaksanakan sesuai dengan gambar dan
minta persetujuan pelaksanaan dan bila tidak ada dalam gambar, maka
Kontraktor harus mengusulkan dari Konsultan pengawas.
c. Bilamana sparing-sparing (pipa, conduit dan lain-lain) berpotongan
dengan tulangan besi, maka besi tidak boleh ditekuk atau dipindahkan
tanpa persetujuan dari Konsultan pengawas.
d. Semua sparing-sparing (pipa, conduit) harus dipasang sebelum
pengecoran dan diperkuat sehingga tidak akan bergeser pada saat
pengecoran beton.
e. Sparing-sparing harus dilindungi sehingga tidak akan terisi beton waktu
pengecoran.
19. Hal-hal lain (Miscellaneous Items)
a. Isi lubang-lubang dan bukaan-bukaan yang harus dibeton sebagai bekas
jalan kerja sewaktu pembetonan. Digunakan mutu beton seperti yang
ditentukan dan dengan penghalusan permukaannya.



62
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


b. Untuk pekerjaan lantai beton, harus diratakan sehingga diperoleh
permukaan lantai yang betul-betul rata. Sesudah selesai ditrowel, jika
ada permukaan lantai beton yang akan dicat, maka lantai beton harus
betul-betul kering sempurna dan memenuhi syarat untuk dilakukan
pengecatan.
c. Untuk pekerjaan dinding / kolom lepas cetak yang harus dicat,
dilakukan dengan dengan pengecatan cat emulsi pada saat beton sudah
kering sempurna dan memenuhi syarat untuk dicat.

4.2.2. PEKERJAAN BAJA / BESI NON STRUKTURAL
a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya,
peralatan dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan
ini, hingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna.
2. Pekerjaan ini meliputi antara lain :
a. Pengadaan dan pemasangan beugel-beugel talang, klem-klem down pipe,
plat klem-klem sambungan rangka, dari bahan galvanized steel.
b. Railling tangga carbon steel, dengan ukuran sesuai pekerjaan 10.2.
c. Pemegang aluminium voil dengan Fine Mesh produk BRC (Galvanized)
atau yang setara.
d. Dan lain-lain komponen yang ditunjukkan pada gambar.
b. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Fabrikasi
a. Pemeriksanaan dan lain-lain.
Seluruh pekerjaan di pabrik harus merupakan pekerjaan yang berkualitas
tinggi. Seluruh pekerjaan harus dilakukan dengan ketepatan sedemikian
rupa, sehingga semua komponen dapat dipasang dengan tepat di
lapangan.
b. Konsultan pengawas mempunyai hak untuk memeriksa pekerjaan di
lapangan pada saat yang dikehendaki, dan tidak ada pekerjaan yang
boleh dikirim ke lapangan sebelum diperiksa dan disetujui Konsultan
pengawas.
c. Setiap pekerjaan yang kurang baik atau tidak sesuai dengan gambar atau
spesifikasi ini akan ditolak, dan bila demikian harus diperbaiki dengan
segera tanpa tambahan biaya.
d. Gambar Kerja
Sebelum pekerjaan di pabrik dimukai, Kontraktor harus menyiapkan
gambar kerja yang menunjukkan detail-detail lengkap dari semua




63
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


komponen, panjang serta ukuran las, jumlah, ukuran dan posisi baut-baut
serta detail-detail lain yang lazim diperlukan untuk fabrikasi.
e. Ukuran-ukuran
Kontraktor wajib meneliti kebenaran dan bertanggung jawab terhadap
semua ukuran yang tercantum pada gambar kerja.
2. Sambungan
Untuk sambungan komponen pekerjaan konstruksi Baja & Konstruksi Pipa
yang tidak dapat dihindarkan berlaku ketentuan sebagai berikut :
a. Hanya diperkenankan satu sambungan.
b. Semua penyambung profil baja harus dilaksanakan dengan las tumpul (full
penetration butt weld).
c. Pemasangan percobaan (Trial Erection)
Bila dipandang perlu Konsultan pengawas, Kontraktor wajib melaksanakan
pemasangan percobaan dari sebagian atau seluruh pekerjaan konstruksi.
Komponen yang tidak cocok atau yang tidak sesuai dengan gambar dan
spesifikasi dapat ditolak oleh Konsultan pengawas. Pemasangan percobaan tidak
boleh dibongkar tanpa persetujuan Konsultan pengawas.
d. Pengecatan
1. Semua bahan pekerjaan konstruksi Baja & Konstruksi Pipa harus dicat.
Semua permukaan baja harus bersih dari kotoran-kotoran atau minyak-
minyak. Pembersihan harus dilakukan dengan sikat besi mekanis (mechanical
wire brush).
2. Cat dasar adalah cat zinc chromate. Pengecatan dilakukan satu kali di
tempat pabrikasi dan satu kali di lapangan. Baja yang akan ditanam di dalam
beton tidak boleh dicat.
3. Cat akhir adalah cat zinc chromate. Pengecatan dilakukan satu kali atau
lebih di lapangan sampai menutup sempurna.
e. Pemasangan akhir (Final Erection)
1. Alat-alat untuk pemasangan harus sesuai untuk pekerjaannya dan harus
dalam keadaan baik. Bagian-bagian dimana tidak dapat dipasang atau
2. ditempatkan sebagaimana mestinya, sebagai akibat dari kesalahan fabrikasi
atau perubahan bentuk karena kesalah penanganan atau pengangkutan,
maka keadaan itu harus segera dilaporkan kepada Konsultan pengawas,
Untuk mendapatkan persetujuan cara perbaikan dan pemecahannya yang
dapat dilakukan di lapangan atau di work shop. Meluruskan plat dan besi siku
atau bentuk lainnya harus dilaksanakan dengan cara disetujui. Segala biaya
sebagai akibat dari hal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor.





64
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


3. Pekerjaan baja harus kering sebagaimana mestinya. Kantong air pada
konstruksi yang tidak terlindung dari cuaca harus diisi dengan bahan
Waterproofing yang telah disetujui.
4. Setiap komponen harus diberi kode (marking) yang sesuai dengan gambar
pemasangan. Komponen harus diberi kode sedemikian rupa sehingga
memudahkan pemasangan.
5. Baut-baut, baut angker, baut hitam dan lain-lain harus disediakan dan harus
dipasang sesuai dengan gambar detail.

4.2.3. PEKERJAAN PASANGAN
a. PENJELASAN UMUM
1. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan
alat-alat bantu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan masing-masing
pekerjaan sehingga mendapatkan hasil yang baik dan sempurna.
2. Penggunaan masing-masing jenis pasangan dapat dilihat pada gambar
rencana ataupun petunjuk / perintah Direksi / Pengawas Lapangan.
3. Pengendalian Pekerjaan :
Persyaratan-persyaratan standar mengenai pekerjaan ini tertera pada :
- PUBI - 1982
- NI-3 - 1970
- NI-10 - 1973
- SII-0021 - 1978

b. PASANGAN BATU KALI BELAH
1. Lingkup Pekerjaan
Pasangan batu kali belah dilaksanakan untuk pondasi bangunan atau
konstruksi lain yang ditunjuk pada gambar rencana.
2. Bahan
a. Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor harus memberikan contoh
material : batu kali, pasir untuk mendapat persetujuan dari Direksi /
Pengawas.
b. Contoh-contoh yang telah disetujui oleh Direksi / Pengawas akan dipakai
standar / pedoman untuk memeriksa / menerima material yang dikirim
oleh Kontraktor ke site.
c. Kontraktor diwajibkan membuat tempat penyimpanan contoh-contoh
yang telah disetujui di Bangsal Direksi / Pengawas.
d. Batu kali yang digunakan adalah batu kali belah, bersudut runcing,
berwarna abu-abu hitam keras dan tidak porous.




65
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


3. Pelaksanaan
a. Galian pondasi harus diurug dengan pasir setebal 10 cm dan dipadatkan
dengan alat pemadat / stamper.
b. Sebelum dipasang terlebih dahulu dibuat profil-profil pondasi dari bambu
atau kayu pada setiap pojok galian yang bentuk dan ukurannya sesuai
dengan penampang yang dimaksud dalam gambar rencana.
c. Kecuali disebut lain pada gambar rencana maka seluruh pasangan batu
kali belah dipasang dengan perekat 1 pc : 6 ps, dan diberapen dengan
perekat yang sama pada seluruh bidang sisinya.
d. Celah-celah besar pada aanstampeng / pasangan batu kali kosongan
dapat diisi dengan batu pecahan supaya betul-betul padat sedang
pasangan batu kali belah selain aanstampeng tidak dikehendaki bertindih
(bersinggungan) tanpa adanya perekat dicelah-celahnya.
e. Untuk pengikatan sloof maka pada bagian atau pondasi batu kali dibuat
stek-stek sedalam 30 cm tiap 1,00 m1 dengan diameter besi 10 mm.
f. Dimensi / besaran penampang pasangan batu kali belah tersebut dapat
dilihat pada gambar rencana.
g. Urugan lubang pasangan batu kali belah yang berfungsi sebagai pondasi
dapat dilaksanakan bila Direksi mengganggu bahwa bagian pondasi sudah
cukup kuat / mengeras.

c. PASANGAN BATU BATA
1. Lingkup Pekerjaan
Pasangan batu bata dilaksanakan untuk dinding / tembok gedung, pondasi
ringan, saluran, bak-bak bunga, ataupun pasangan batu bata lainnya yang
ditunjuk pada gambar rencana.
2. Bahan
a. Batu bata yang dikehendaki adalah batu bata lokal yang berkualitas baik
yaitu dengan hasil pembakaran yang matang berukuran sama kira-kira 6 x
12 x 20 cm tidak boleh terdapat pecah-pecah (melebihi 20%) dan tidak
diperbolehkan memasang bata yang pernah dipakai.
b. Sebagai Semen dan Pasir untuk pasangan batu bata ini harus sama dengan
kualitas seperti yang disyaratkan untuk pekerjaan beton.
c. Kecuali ditentukan lain semua pasangan batu bata dipasang dengan
perekat dengan campuran 1pc : 6ps untuk daerah kering dan 1pc : 3ps
untuk daerah basah.
3. Pelaksanaan
a. Dimana diperlukan menurut direksi, pemborong harus membuat shop
drawing untuk pelaksanaan pembuatan adukan dan pasangan.



66
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


b. Tentukan perbandingan campuran spesi dan tebal adukan yang
diperlukan. Adukan dilaksanakan sesuai standar spesifikasi dari bahan
yang digunakan sesuai dengan petunjuk Perencana / Direksi.
c. Dalam melaksanakan pekerjaan ini, harus mengikuti semua petunjuk
dalam gambar arsitektur terutama gambar detail dan gambar potongan
mengenai ukuran tebal / tinggi / peil dan bentuk profilnya.
d. Pasangan batu bata harus dipasang tegak lurus, siku, rata, dan tidak
boleh terdapat retak-retak, dipasang dengan fungsi, ukuran ketebalan
dan ketinggian yang ditentukan dalam gambar rencana.
e. Mencampur Perekat
Perekat harus dicampur dalam alat pencampur yang telah disetujui atau
dicampur dengan tangan pada permukaan yang keras, dilarang memakai
perekat yang sudah mulai mengeras untuk dipakai lagi.
f. Sebelum dimulai pemasangan batu bata harus direndam lebih dahulu
dengan air dan permukaan yang akan dipasang harus basah juga dan
untuk semua sambungan harus dikorek paling sedikit 0,5 cm agar
penyelesaian dinding / plesteran dapat melekat dengan baik, sedang
dimana ada pertemuan kusen kayu dengan tembok harus diberi nat
selebar 1cm dan dalam 1 cm.
g. Pemasangan tembok bata hanya diperbolehkan maksimum setinggi 1,00 m
untuk setiap harinya.
h. Pelubangan akibat pembuatan perancah pada pasangan bata merah sama
sekali tidak diperkenankan.
i. Pasangan tembok dipasang seluas 12,00 m2, bila lebih harus dipasang
beton praktis ukuran penampang 15 x 15 cm dengan tulangan sesuai pada
gambar .
j. Pasangan batu bata 1pc : 2ps sebagai pasangan di bawah permukaan
tanah / lantai harus diberapen dengan adukan 1pc : 3 ps.
k. Syarat-syarat penerimaan :
- Pasangan batu bata dapat diterima / diserahkan apabila deviasi bidang
pada arah diagonal dinding seluas 12 m2 tidak lebih dari 0,5 cm
(sebelum diaci / diplester).
- Toleransi terhadap as dinding adalah kurang lebih 1 cm (sebelum diaci /
diplester).
l. Pasangan batu bata untuk dinding batu harus menghasilkan dinding
finish setebal 15 cm dan untuk dinding 1 batu finish adalah 25 cm.
Pelaksanaan pasangan harus cermat, rapi dan benar-benar tegak lurus.





67
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

4.2.4. PEKERJAAN PLESTERAN SEMEN
a. Lingkup pekerjaan
1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya,
peralatan dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan
ini, sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan
sempurna.
2. Lingkup pekerjaan ini meliputi seluruh plesteran dinding batu bata pada
kedua sisi bidangnya (dalam dan luar), plesteran dinding beton, pengisi dan
perekat pada pemasangan bahan finishing, serta seluruh detail yang
ditunjukkan dalam gambar.
b. Persyaratan Bahan
1. Campuran pasir (aggregate) untuk plester harus dipilih yang benar-benar
bersih dan bebas dari segala macam kotoran, serta harus melalui ayakan #
1,6 2,0 mm.
2. Untuk area yang tidak memakai finishing bahan lain, dipakai campuran
DURACOAT ex. Durabuilt atau yang setara dengan
3. pemakaian sesuai dengan standar pabrik yang bersangkutan, agar dapat
diperoleh sifat tahan / kedap air (watertight).
4. Pada pemasangan aduk / spesi agar menggunakan :
Pada setiap pertemuan 2 (dua) bahan yang berbeda, seperti : pertemuan
kolom dinding bata, plat beton dinding bata, kolom baja yang difinish
plaster dan sebagainya untuk menghindarkan retak rambut, diberi nat
dengan lebar nat 5mm dan dalamnya 5 mm.
5. Pada area tempat terjadi pertemuan bahan yang berbeda (misalnya : kolom
beton-bata atau balok betonbata) dipasang kawat ayam dengan overlap
yang cukup untuk mencegah keretakan.
6. Finishing plesteran menggunakan cat sesuai gambar, seperti dinyatakan
dalam RKS Pekerjaan Pengecatan.

c. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Seluruh plesteran dinding batu bata dengan aduk campuran 1 PC : 6 pasir,
kecuali pada dinding batu bata semen raam / rapat air.
2. Pada dinding batu bata semen raam / rapat air diplester dengan aduk
campuran 1 pc : 3 ps (yang dilakukan pada sekeliling dinding ruang toilet,
dinding eksterior, dan bagian-bagian yang ditentukan / disyaratkan dalam
detail gambar.
3. Pasir pasang yang digunakan harus bersih, bebas dari Lumpur serta material
tidak terpakai lainnya, diayak terlebih dahulu dengan mata ayakan d 3 mm
seperti yang dipersyaratkan.



68
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

4. Material lain yang terdapat dalam persyaratan di atas tetapi dibutuhkan
untuk menyelesaikan / penggantian pekerjaan dalam bagian ini, harus
bermutu baik dari jenisnya dan disetujui konsultan pengawas.
5. Sement porlant yang dikirim ke site / lapangan harus dalam keadaan
tertutup atau dalam kantong yang masih disegel dan berlabel pabriknya,
bertuliskan tipe dan tingkatannya, dalam keadaan utuh dan tidak ada
cacat.
6. Bahan harus disimpan di tempat kering, berventilasi baik, terlindung,
bersih, tempat penyimpanan bahan harus cukup menampung kebutuhan
bahan, dilindungi sesuai dengan jenisnya yang disyaratkan dari pabrik.
7. Semua bahan yang sebelum dikerjakan harus ditunjukkan kepada konsultan
pengawas untuk mendapatkan persetujuan, lengkap dengan ketentuan /
persyaratan dari pabrik yang bersangkutan, material yang tidak disetujui
harus diganti dengan material lain yang mutunya sesuai dengan
persyaratan tanpa biaya tambahan.
8. Sebelum memulai pekerjaan, kontraktor diharuskan memeriksa site /
lapangan yang telah disiapkan apakah sudah memenuhi persyaratan untuk
mulainya pekerjaan.
9. Bila kelainan dalam hal apapun antara gambar, sepesifikasi dan lainnya
kontraktor harus segera melaporkan kepada manajemen kotruksi.
Kontraktor tidak diperkenankan melakukan pekerjaan di tempat tersebut
sebelum kelainan / perbedaan diselesaikan.
10. Tebal plesteran 15 mm dengan hasil ketebalan dinding finish 150 mm atau
sesuai yang ditunjukan dalam detail gambar. Ketebalan plesteran yang
melebihi 22 mm harus diberi kawat untuk membantu dan memperkuat daya
lekat pelsteran, pada bagian pekerjaan yang diijinkan konsultan pengawas.
11. Pertemuan plesteran dengan jenis pekerjaan lain, seperti kusen dan
pekerjaan lainnya, harus dibut naat (tali air) dengan lebar minimal 5 mm
dan dalam 5 mm, kecuali bila ditentukan lain.
12. Plesteran halus (acian) digunakan campuran PC dan air sampai
mendapatkan campuran homogen, acian dikerjakan sesudah plesteran
berumur 8 hari (kering betul), sehingga siap untuk di cat atau finish wall
paper.
13. Kelembaban plesteran harus dijaga, sehingga pengeringan wajar tidak
terlalu tiba-tiba, dengan membasahi plesteran setiap kali terlihat kering
dan melindungi dari terik panas matahari langsung dengan bahan penutup
yang bisa mencegah penguapan air secara tetap.
14. Kontraktor wajib memperbaiki / mengulang / mengganti bila ada
kerusakan yang terjadi selama masa pelaksanaan (dan masa garansi), atas



69
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

biaya kontrator selama kerusakan bukan disebabkan oleh tindakan pemilik
/ pemakai.
15. Khusus untuk permukaan beton yang akan diplester, maka :
- Seluruh permukaan beton yang akan di plester harus di buat kasar dengan
cara dipahat halus.
- Sebelum plesteran dilakukan, seluruh permukaan beton yang akan
diplester, dibersihkan dari kotoran, debu dan minyak serta disiram /
dibasahi dengan air semen.
- Plesteran beton dilakukan dengan aduk kedap air campuran 1 PC : 3 Ps.
- Pasir pasang yang digunakan harus diayak terlebih dahulu dengan mata
ayakan seperti yang disyaratkan.

4.3. PEKERJAAN LANTAI DAN DINDING
4.3.1. PEKERJAAN SUB LANTAI / RABATAN/ LANTAI KERJA
a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya, peralatan
dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini,
sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna.
2. Pekerjaan sub lantai ini dilakukan di bawah lapisan finishing lantai yang
berlangsung di atas tanah (lantai dasar yang tidak memakai plat beton) serta
sesuai detail yang disebutkan / ditunjukkan pada gambar.
b. Persyaratan Bahan
1. Semen portland harus memenuhi NI 8, 0013-81 dan ASTM C 1500-78A.
2. Pasir beton yang digunakan harus memenuhi PUBI 82 pasal 11 dan SII 0404-
80.
3. Kerikil / split harus memenuhi PUBI 82 pasal 12 dan SII 0079-79/0087-
75/0075-75.
4. Air harus memenuhi persyaratan PUBI 82 pasal 9, AFNOR P 18 -303 dan NZS
3121/1974.
5. Pengendalian seluruh pekerjaan ini harus sesuai dengan persyaratan : PBI
1971 (NI 2) PUBI 1982 dan (NI - 8).
c. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Bahan-bahan yang dipakai sebelum digunakan terlebih dahulu harus
diserahkan contoh-contohnya, untuk mendapatkan persetujuan konsultan
pengawas.
2. Material lain yang tidak ditentukan dalam persyaratan di atas, tetapi
dibutuhkan untuk peyelesaian / penggantian dalam pekerjaan ini,





70
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

harus baru, kualitas terbaik dari jenisnya dan harus disetujui konsultan
pengawas.
3. Pekerjaan sub lantai dikakukan langsung di atas tanah, maka sebelum
pasangan sub lantai dilaksanakan terlebih dahulu, lapisan urug di bawahnya
harus sudah dikerjakan dengan sempurna (telah dipadatkan sesuai
persyaratan), rata permukaanya dan telah mempunyai daya dukung
maksimum.
4. Pekerjaan sub lantai merupakan campuran antara pc, pasir beton dan kerikil
atau split dengan perbandingan 1 : 3 : 5.
5. Tebal lapisan sub lantai minimal dibuat 50 mm atau sesuai yang disebutkan /
disyaratkan dalam detail gambar.
6. Permukaan lapisan sub lantai dibuat rata / waterpass, kecuali pada lantai
ruangan-ruangan yang disyaratkan dengan kemiringan tertentu perlu
diperhatikan mengenai kemiringan lantai agar sesuai yang ditunjukan dalam
gambar dan sesuai petunjuk konsultan pengawas.

4.3.2. PEKERJAAN LANTAI SCREED
a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya, peralatan
dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini,
sehingga mendapat hasil pekerjaan yang bermutu baik.
2. Pekerjaan lantai screed meliputi area di atas plat-plat beton, bawah lantai
tangga serta untuk seluruh detail seperti yang disebutkan / ditunjukkan
dalam gambar.
b. Persyaratan Bahan
1. Semen portland yang digunakan harus dari mutu terbaik type 1, dari satu
hasil produk yang disetujui konsultan pengawas, serta memenuhi syarat-
syarat dalam NI - 8, SII 0013 81 dan ASTM C150 78 A.
2. Pasir harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan PUBI 1982 pasal 11 dan
SII 0404 -08.
3. Air harus memenuhi persyaratan dalam PUBI 1982 pasal 9, AFNOR P 18 303
dan NZS 3121/1974.
4. Pengendalian seluruh pekerjaan ini harus sesuai yang disyaratkan dalan NI 2,
NI-8 dan PUBI 1982.
c. Syarat-Syarat Pelaksanaan
1. Bahan-bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini, sebelum dipasang terlebih
dahulu diserahkan contoh-contohnya kepada konsultan pengawas untuk
mendapatkan persetujuan.





71
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


2. Lantai screed dilakukan bila dasar lantai yang merupakan beton tumbuk atau
plat beton, telah dibersihakan dari kotoran, debu dan bebas dari pengaruh
pekerjaan yang lain.
3. Bahan lantai screed dilakukan bila dasar lantai yang merupakan dari bahan
PC dan pasir yang menenuhi syarat-syarat seperti yang telah ditentukan.
4. Lapisan atas / finish lantai screed adalah acian PC tanpa campuran bahan
lain, yang dilapiskan seluruh permukaan lantai yang diratakan. Tebal acian
minimum 2 (dua) mm setelah diratakan dan dilicinkan, atau bahan material
lain sesuai yang disebutkan / disyaratkan dalam gambar detail atau sesuai
petunjuk konsultan pengawas.
5. Tebal adukan lantai screed acian termasuk acian minimal dibuat 50 mm atau
sesuai yang ditentukan konsultan pengawas. Dari adukan 1PC : 5 pasir
Permukaan lantai screed harus betul-betul rata, kecuali bila disyaratkan
lain, bebas cacat (retak-retak), sehingga siap dipasang karpet dan bahan
finishing lainnya.
6. Sebagai persiapan sebelum lantai screed dilakukan, alas lantai screed harus
dibersihkan dengan sikat kawat dan air, supaya agregate muncul dan
memberi ikatan yang baik dengan screed. Cara lain adalah membuat
permukaan beton menjadi kasar dengan cara yang disetujui Konsultan
pengawas. Setelah dibersihkan, alas lapisan dibasahi (semalam) dan setelah
kering dilapis cairan semen (air semen) maksimum 20 menit, selanjutnya
screed dicor.
7. Untuk screeding daerah yang luas di atas 25 m2 mixing harus mengikuti
syarat-syarat mixing untuk beton (mechanical mixing dan weight batcher
harus digunakan)
8. Pengecoran harus dilakukan sekaligus untuk daerah yang luas. Pengecoran
mengikuti lajur selebar 3 (tiga) m dan pengecoran sebuah lajur hanya boleh
dilakukan 24 jam setelah lajur sebelahnya dicor. Permukaan ujung dari lajur
screed yang terdahulu harus dibasahi dahulu dengan air semen atau dengan
diberi Calbond atau bahan lain yang setara sebelum lajur sebelahnya dicor.
9. Peralatan dan Compaction screed harus dicompact dengan beam vibrator
dan perhatian harus diberikan pada ujung-ujung yang sering tertinggal. Bila
peralatan diperlukan (untuk finishing yang membutuhkannya), maka
peralataan dengan papan screed harus menunggu minimum 1,5 jam dan
maksimum 2,5 jam untuk menghindari pendebuan permukaan screed.
Toleransi perbedaan tinggi dalam satu ruang besar dengan luas 25 m2
maximum 15 mm. Toleransi perbedaan antara 2 jalur maximum 1 mm.





72
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

Screed harus ditrowel, permukaan yang memerlukan pengecatan harus
ditunggu sampai cukup kering dan memenuhi syarat untuk dicat.
10. Screed harus selalu dibasahi selama 7 hari.
11. Pemasangan bahan-bahan finishing lantai pada plat beton bertulang
(konfensional) dapat dilakukan minimum setelah 4 (empat) minggu, kecuali
jika dipergunakan curing agent / additive dapat mengikuti persyaratan
produk.

4.3.3. PEKERJAAN WATERPROOFING
a. Lingkup Pekerjaan
1. Yang termasuk pekerjaan ini adalah penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan,
biaya, peralatan dan alat-alat bantu lainnya termasuk pengangkutannya yang
diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan ini sesuai dengan yang
dinyatakan dalam gambar memenuhi uraian syarat di bawah ini serta
memenuhi spesifikasi dari pabrik yang bersangkutan.
2. Bagian yang diberi lapisan waterproofing ialah Pada area plat atap dan pada
area plat lantai toilet, plat kanopi, serta bagian lain yang dinyatakan dalam
gambar.
b. Persyaratan Bahan
1. Persyaratan Standar Mutu Bahan dan prosedur mengikuti yang ditentukan
oleh pabrik dan standard-standard lainnya seperti : NI.3, ASTM 828, ASTME,
TAPP 1 803 dan 407. Kontraktor tidak dibenarkan merubah standard dengan
cara apapun tanpa ijin dari Konsultan pengawas.
2. Bahan
Untuk lapisan kedap air digunakan Product Aquaproof atau merk lain yang
setara yang memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Dilapis 1 kali dengan tebal minimum 3 mm, reinforcement 180 gr/m2
non woven polyester fabric dengan karakteristik fisik dan kimiawi dan
kepadatan yang merata dan konstan
b. Bahan liquid dipakai TAR.P.U.YXT 12 atau yang setara dan untuk semua
pruduk harus mengikuti full system sesuai dengan persyaratan dari
pabrik.
c. Dilapis 2 kali dengan bahan liquid (minimum) dengan urutan pekerjaan
sesuai dengan pelapisan yang disyaratkan oleh pabrik.
d. Kedap air dan uap, termasuk juga pada bagian overlapping. Overlapping
antar sambungan adalah 100mm, tekukan vertikal adalah 200mm, pada
lubang masuk 50mm.
e. Memiliki ketahanan yang baik terhadap gesekan dan tekanan.
f. Perilaku material pada 100
o
C harus tetap stabil.




73
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

g. Berwarna hitam atau ditentukan kemudian.
h. Susunan polimer tidak berubah akibat perubahan cuaca.

c. Pengujian
1. Bila diperlukan wajib mengadakan test bahan tersebut pada labolatorium
yang ditunjuk Konsultan pengawas, baik mengenai komposisi, konsentrasi
dan hasil yang ditimbulkannya.untuk ini kontraktor / supplier harus
menunjukkan surat rekomendasi hasil pengetesan dari lembaga resmi yang
ditunjuk tersebut sebelum memulai pekerjaan.
2. Pada waktu penyerahan, Kontraktor harus memberikan jaminan atas produk
yang digunakan terhadap kemungkinan bocor, pecah dan cacat lainnya,
selama 10 (sepuluh) tahun termasuk mengganti dan memperbaiki segala
jenis kerusakan yang terjadi. Jaminan yang diminta adalah jaminan dari
pihak pabrik untuk mutu material, serta jaminan dari pihak pemasang
(applicator) untuk mutu pemasangan.
3. Kontraktor diwajibkan melakukan percobaan-percobaan dengan cara
memberi air di atas permukaan pekerjaan baru setelah mendapat
persetujuan dari Konsultan pengawas.
d. Pengiriman dan penyimpanan bahan
1. Bahan harus didatangkan ketempat perkerjaan keadan baik dan tidak
bercacat. Beberapa bahan tertentu harus masih tersegel dan berlabel
pabriknya.
2. Bahan harus disimpan di tempat yang terlindung, tertutup tidak lembab,
kering dan bersih, sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.
3. Tempat penyimpanan harus cukup bahan di tempatkan dan dilindungi sesuai
dengan jenisnya, kontraktor bertanggung jawab atas kerusakan bahan-bahan
yang disimpan baik dan sebelum atau selama pelaksanaan, dan wajib
menggantinya jika terdapat kerusakan yang bukan tindakan pemilik.
e. Syarat-syarat pelaksanaan
1. Semua bahan yang belum dikerjakan harus ditunjukkan kepada konsultan
pengawas untuk mendapatkan persetujuan, lengkap persetujuan /
persyaratan pabrik yang bersangkutan. Material yang tidak disetujui harus
diganti tanpa biaya tambahan.
2 Jika dipandang perlu diadakan penukaran / penggantian, maka bahan-bahan
pengganti harus disetujui konsultan pengawas berdasarkan contoh yang
diajukan oleh kontraktor
3. Kontraktor harus mengikuti semua peraturan, baik yang terdapat pada
uraian dan syarat-syarat maupun yang tercantum dalam gambar-gambar,
instruction manual dan manufacture dan standart-standart yang disyaratkan.




74
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

4. Cara-cara pelaksanaan pekerjaan harus mengikuti petunjuk dan ketentuan
dari pabrik yang bersangkutan, dan atas petunjuk konsultan pengawas.
5. Bila ada perbedaan dalam hal apapun antar gambar, spesifikasi dan lainya,
kontraktor harus segera melaporkan kepada konsultan pengawas sebelum
pekerjaan dimulai. Kontraktor tidak dibenarkan memulai pekerjaan di suatu
tempat dalam hal ada kelainan / perbedaaan di tempat itu, sebelum
kelainan tersebut diselesaikan.
f. Gambar Detail Pelaksanaan
1. Kontrator harus membuat shop drawing (gambar detail pelaksanaan)
berdasarkan pada gambar dokumen kontrak dan telah disesuaikan dengan
keadaan di lapangan.
2. Kontraktor harus membuat shop drawing untuk detail-detail khusus yang
belum tercakup lengkap dengan gambar kerja / dokumen kontrak.
3. Dalam shop drawing harus jelas dicantumkan semua data yang diperlukan
termasuk keterangan produk, cara pemasangan atau persyaratan khusus
yang belum tercakup secara lengkap di dalam gambar kerja / dokumen
kontrak sesuai dengan spesifikasi pabrik.
4. Shop drawing sebelum dilaksanakan harus mendapatkan persetujuan terlebih
dahulu dari konsultan pengawas.
g. Contoh
1. Kontraktor wajib mengajukan contoh dari semua bahan, brosur lengkap dan
jaminan pabrik, kecuali bahan yang disediakan oleh proyek.
2. Contoh bahan yang digunakan harus diserahkan pada konsultan pengawas
sebanyak minimal 2 (dua) produk yang setara dari berbagai merk pembuat
atau kecuali ditentukan lain oleh konsultan pengawas.
3. Keputusan bahan jenis, warna, tekstur, dan merk yang memenuhi spesifikasi
akan diambil oleh konsultan pengawas dan akan diinformasikan kepada
kontraktor selama tidak lebih dari 7 (tujuh) hari kalender setelah
penyerahan contoh-contoh bahan tersebut.
4. Bilamana diinginkan, kontrator wajib memuat mock-up sebelum pekerjaan
dimulai.
h. Cara pelaksanaan
1. Pelaksanaan pemasangan harus dikerjakan oleh ahli yang berpengalaman
(ahli dari pihak pemberi garansi pemasangan) dan terlebih dahulu harus
mengajukan metode pelaksanaan sesuai dengan spesifikasi pabrik untuk
mendapat persetujuan dari konsultan pengawas.
2. Khusus untuk bahan waterproofing yang dipasang di tempat yang
berhubungan langsung dengan matahari tetapi tidak mempunyai lapis





75
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

pelindung terhadap ultra violet atau apabila disyaratkan dalam gambar
pelaksanaan atau spesifikasi arsitektur, maka dibagian atas dari lembar
waterproofing ini harus diberi lapisan pelindung sesuai gambar pelaksanaan,
dimana lapisan ini dapat berupa lantai screed maupun material finishing.
i. Pengujian mutu pekerjaan
1. Kontraktor diwajibkan untuk melakukan percobaan-percobaan / pengetesan
terhadap hasil pekerjaan atas biaya sendiri, seperti dengan cara memberi
siraman di atas permukaan yang telah diberi lapisan kedap air.
2. Pekerjaan percobaan dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan dari
konsultan pengawas.
3. Pada waktu penyerahan maka kontraktor harus memberikan jaminan atas
semua pekerjaan perlindungan terhadap kemungkinan bocor, pecah dan
cacat lainnya, akibat kegagalan dari bahan maupun hasil pekerjaan yang
berlaku, selama 10 (sepuluh) tahun termasuk mengganti dan memperbaiki
segala jenis kerusakan yang terjadi.
j. Syarat pengamanan perkerjaan
1. Kontraktor wajib mengadakan perlindungan terhadap pemasangan yang
telah dilakukan, terhadap kemungkinan pergeseran, lecet permukaan atau
kerusakan lainnya.
2. Kalau terhadap kerusakan yang bukan disebabkan oleh tindakan pemilik
atau pemakai pada waktu pekerjaan ini dilakukan / dilaksanakan maka
kontraktor harus memperbaiki / mengganti sampai dinyatakan dapat
diterima oleh konsultan pengawas. Biaya yang timbul untuk pekerjaan
perbaikan ini adalah tanggung jawab kontraktor.

4.3.4. Pekerjaan Lantai Keramik
a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya,
peralatan dan alat bantu lainya untuk pelaksanaan pekerjaan sehingga
dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik.
2. Pekerjaan lantai keramik. Plint keramik ini dilakukan pada seluruh finishing
lantai sesuai yang disebutkan / ditunjukan dalam detail gambar.

b. Persyaratan Bahan
1. Bahan yang digunakan
a. Lantai keramik
Untuk Keramik ukuran 20 x 20 cm, 40 x 40, 10 x 60, 20 x 25 cm
menggunakan heavy duty merk Mulia, Asia Tile, atau produk lain
yang setara.




76
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

Nosing tangga menggunakan jenis karet degan ukuran 7 x 40 cm,
atau sesuai gambar.
Keramik-kermaik tersebut di atas sebelum dipasang harus mendapat
persetujuaan dari konsultan pengawas setelah berkonsultasi dengan
pemilik proyek.
b. Plint
Digunakan plint keramik homogeneous & keramik standart pada
seluruh area yang ditunjuk pada gambar
2. Warna harus sesuai dengan gambar. Masing-masing warna harus seragam,
warna tidak seragam akan ditolak.
3. Tebal minimal 8 mm atau sesuai dengan standart pabrik, dengan kekuatan
lentur 250 kg/cm2 dan mutu tingkat 1 (grade 1)
4. Bahan pengisi siar AM 50 atau produk lain yang setara, sewarna dengan
keramik. Untuk daerah basah ditambahkan liquid groud additive AM 54
sebagai pengganti air, dengan ketentuan sesuai pabrik.
5. Bahan perekat menggunakan perekat AM 40, untuk daerah basah
menggunakan AM 30 atau setara dengan persyaratan sesuai standart
pabrik.
6. Warna ditentukan sesuai gambar
7. Pengendalian seluruh pekerjaan ini harus sesuai dengan peraturan-
peraturan ASTM, peraturan keramik Indonesia (NI 19) dan dari distributor
bahan pengisi siar serta bahan perekat harus memberikan supervisi dan
garansi pemasangan selama 5 tahun.
8. Bahan-bahan yang dipakai, sebelum dipasang terlebih dahulu harus
diserahkan contohnya untuk mendapatkan persetujuan dari konsultan
pengawas setelah berkonsultasi dengan perencana dan pemilik.
9. Kontrator harus menyerahkan 2 (dua) copy ketentuan dan persyaratan
teknis operatif dari pabrik sebagai informasi bagi konsultan pengawas.
10. Material lain yang tidak terdapat pada daftar di atas, tetapi dibutuhkan
untuk menyelesaikan / penggantian pekerjaan dalam bagian ini, harus
benar-benar, berkualitas terbaik dari jenisnya dan harus disetujui
konsultan pengawas.
11. Toleransi terhadap panjang = 0.50% toleransi terhadap tebal.

c. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Pemasangan lantai dan plint dilakukan setelah alas dari lantai keramik
sudah selesai dengan baik dan sempurna serta disetujui konsultan
pengawas (antara lain lantai screed, kering dari lantai screed = min 7 hari,





77
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

waterproofing dan lain-lain) baru pemasangan keramik dilaksanakan.
Kering sempurna dari lantai beton adalah minimum berusia 28 hari.
2. Keramik yang terpasang harus dalam keadaan baik, tidak retak, tidak cacat
dan tidak bernoda.
3. Bidang pemasangan harus merupakan bidang yang benar-benar rata.
4. Jarak antara unit-unit pemasangan keramik yang terpasang (lebar siar-
siar), harus sama lebar serapat mungkin atau maksimum 3 mm dan
kedalaman maksimum 2 mm atau sesuai detail gambar serta sesuai
petunjuk konsultan pengawas. Siar-siar harus membentuk garis-garis
sejajar lurus dan sama lebar dan sama dalamnya untuk siar-siar yang
berpotongan harus membentuk siku dan saling berpotongan tegak lurus
sesamanya.
5. Siar-siar diisi dengan bahan pengisi siar sesuai kententuan dalam
persyaratan bahan dengan warna bahan pengisi sesuai dengan warna bahan
yang dipasanganya.
6. Pemotongan unit-unit keramik harus menggunakan alat pemotong khusus
(mesin elektrik) sesuai persyaratan dari pabrik bersangkutan.
7. Keramik yang sudah terpasang harus dibersihkan dari segala macam noda
yang terjadi pada permukaan hingga betul-betul bersih.
8. Diperhatikan adanya pola tali air yang dijumpai pada permukaan pasang
atau hal-hal seperti yang ditunjukkan.
9. Pinggulan pasangan bila terjadi, harus dilakukan dengan gurinda, sehingga
diperoleh hasil pengerjaan yang rapi, siku, lurus dengan tepian yang
sempurna.
10. Keramik yang terpasang harus dihindarkan dari pengaruh pekerjaan lain
selama 3 x 24 jam dan dilindungi dari kemungkinan cacat pada permukaan.
11. Rencana pemasangan keramik dengan memperhatikan :
a. Tetapkan data level lantai yang tepat.
b. Kontrol level finish lantai melalui beberapa spot level.
c. Untuk menghindari atau mengurangi pemotongan keramik.
d. Untuk memastikan unit keramik yang terpotong menyajikan penampilan
yang seimbang ketika dipasang dan terpasang sebesar mungkin.
e. Untuk memastikan lokasi naat dan pola lantai sesuai dengan
persetujuan.
f. Bila tidak ada ketentuan lain dalam gambar, keramik akan dipasang
mulai dengan plint adalah rata / lurus.







78
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

12. Grouting
a. Keramik diberi grunt ketika keramik sudah terpasang dengan tepat,
setelah naat dibersihkan dari kotoran / pencemaran dengan
menggunakan compresor (ditiup)
b. Bersihkan grount yang berlebih dan buat bentuk naat sesuai yang
diinginkan.
c. Ketika grount sudah mengeras, basahi keramik dengan air. Dan akhirnya
poles dengan kain

4.3.5. Pekerjaan Lantai Vinyl. Gerflor Taraflex
a. Lingkup Pekerjaan
1. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pengadaan tenaga kerja, bahan-
bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang diperlukan dalam
pelaksanaan pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna.
2. Dilakukan meliputi persiapan, pelaksanaan dan perawatan lantai Lantai
Vinyl. Gerflor Taraflex, yang dilakukan sebagai finising lantai dasar lapangan.
b. Syarat-syarat Bahan
1. Bahan dari Lantai vinyl Gerflor Taraflex Tebal 7mm, ex. Perancis
2. Bahan lantai vinyl berkualitas internasional dan digunakan di banyak event
Nasional Maupun international
3. Memiliki sertifikat induk olah raga dunia seperti: BWF (badminton), FIBA
(basketball), FIVB (voli ball), ITTF (tenis meja), dll
c. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Pekerjaan Persiapan :
- Lantai beton/screed dengan kekuatan minimal K 225, yang rata (toleransi
3 mm untuk bentang 2m ke segala arah) namun permukaan kasar, kering
(kadar air dibawah 5%), tidak retak dan padat
- Selanjutnya dilakukan Pembersihan lokasi dari semua material,
Pengechekan kerataan Lantai, Pengechekan kekerasan, Pengechekan
kekeringan lantai, Lantai yang akan dileveling harus sudah dilapisi
waterproff sebelumnya
2. Leveling Lantai :
- Dilakukan Leveling Lantai setebal 3 mm dimana lantai harus diberi
polimer PE-2305 dengan cara disapu kemudian ditunggu hingga benar-
benar kering
- Levelling Lantai dengan menggunakan air semen dicampur dengan PE-
2305 dan diratakan dengan menggunakan alat jidar
- Ulangi proses tersebut 3 4 Kali untuk satu hari hanya dilakukan satu
kali




79
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

3. Syarat Pemasangan Lantai vinyl Gerflor Taraflex :
- Lantai yang sudah selesai dilevelling diamplas dan dicek kerataannya
- Vinyl digelar dan diamkan satu (1) hari
- Kemudian dipotongsesuai dengan motif yang diharapkan sesuai gambar
- Tahap selanjutnya vinyl dilem dengan menggunakan lem PVAC-6000
- Setiap vinyl yang ada sambungannya diwelding dengan HOT WELDING
- Setelah proses welding selesai baru dapat dilakukan pembuatan garis
lapangan
- Tahapan selanjutnya pembersihan dan pengechekan area lapangan
4. Pekerjaan harus dilakukan oleh tenaga khusus yang telah ahli dan
berpengalaman dalam bidangnya serta dilengkapi trowelling machine
4. Bahan Lantai Vinyl yang digunakan harus sesuai persyaratan, yaitu Lantai
vinyl Gerflor Taraflex tebal 7 mm ex. Perancis atau setara dan memiliki
sertifikat induk olah raga dunia seperti: BWF (badminton), FIBA
(basketball), FIVB (voli ball), ITTF (tenis meja), dll
5. Sebelum pekerjaan dilakukan, kontraktor harus menyerahkan beberapa
contoh bahan, warna dan contoh percobaan dari beberapa macam hasil
produk kepada untuk disetujui dalam pelaksanaan.
6. Apabila dianggap perlu, dapat meminta untuk mengadakan test-test
laboratorium yang dilakukan terhadap contoh-contoh bahan yang diajukan
sebagai dasar persetujuaan bahan. J enis sample untuk masing-masing jenis
terst akan ditentukan kemudian. Seluruh biaya test laboratoratorium menjadi
tanggung jawab kontraktor sepenuhnya.
7. Pekerjaan lantai Vinyl yang telah terpasang harus dihindarkan dari terjadinya
kerusakan akibat dari adanya pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan yang lain.
8. Kontrator harus bertanggung jawab atas kesempurnaan dalam hasil
pekerjaan, perawatan dan selalu menjaga kebersihan dari pekerjaan yang
dilakukan.
9. Kerusakan-kerusakan yang mungkin terjadi pada permukaan lantai Vinyl,
kontraktor diharuskan untuk memperbaiki, hingga mencapai mutu pekerjaan
seperti yang telah disyaratkan dalam buku ini tanpa adanya tambahan biaya.

4.3.6. PEKERJAAN PELAPIS BATU ALAM
a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya,
peralatan dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan
pekerjaan ini, hingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik.
2. Pekerjan dinding batu alam dilakukan pada seluruh detail yang disebutkan
/ ditunjukan dalam gambar atau sesuai dengan petunjuk konsultan
pengawas.



80
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

b. Persyaratan Bahan
1. Sement porlant yang digunakan harus dari mutu yang terbaik. Terdiri dari
satu jenis, dan merk yang disetujui oleh konsultan pengawas.
2. Pasir terdiri dari butir-butir yang bersih, tajam dan bebas dari bahan-bahan
organis, lumpur, tanah lempung dan sebagainya.
3. Air yang digunakan harus air tawar yang bersih dan tidak mengandung
minyak.
4. Lapisan batu alam yang digunakan :
a. Jenis bahan yang digunakan adalah :
Batu Lempeng Motif Tidak Beraturan
b. Finishing permukaan
Kasar potong mesin
c. Ukuran bentuk : sesuai gambar
d. Ketebalan
Rata-rata minimum 30 mm
Untuk batu alam yang terlihat sisi tebalnya memiliki tebal 50 mm
e. Bahan perekat : adukan 1 PC : 3 pasir
f. Bahan pengisi siar : grout sement porlant
5. Pengendalian seluruh pekerjaan ini harus sesuai dengan peraturan PUBI
1982
6. Bahan yang dipakai, sebelum dipasang terlebih dahulu harus diserahkan
contoh-contohnya untuk mendapatkan persetujuan konsultan pengawas
dan perencana.
7. Pada setiap lembar batu alam dipasang angkur sebagai pengait, dari bahan
kuningan dengan diameter minimal 10 mm. Hasil pemasangan angkur harus
kuat dan kokoh / tidak goyang.
8. Material lain yang tidak terdapat pada daftar di atas tetapi dibutuhkan
untuk menyelesaikan / penggantian pekerjaan dalam bagian ini, harus
benar-benar baru, berkualitas terbaik dari jenisnya dan harus disetujui
konsultan pengawas.

c. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Sebelum memulai pekerjaan, kontraktor harus mengajukan 3 (tiga) buah
contoh yang berbeda untuk memperoleh persetujuan dari konsultan
pengawas dan perencana.
2. Siar-siar batu alam diisi dengan grout semen portland sesuai yang
disyaratkan.
3. Pemotongan batu alam harus menggunakan alat pemotong mesin yang
khusus untuk itu.



81
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

4. Pemasangan harus dilakukan oleh ahli yang berpengalaman dalam
pemasangan batu alam.
5. Bidang dinding parapet batu alam harus benar-benar rata. Dan garis siar-
siarnya kira-kira sama lebar.
6. Awal pemasangan batu alam pada dinding serta kemana sisa ukuran harus
diadakan, harus dibicarakan terlebih dahulu dengan konsultan pengawas
sebelum pekerjaan pemasangan dimulai.
7. Batu alam yang sudah terpasang harus segera dibersihakan dari segala
macam noda-noda yang melekat, sehingga mencapai pekerjaan yang rapih
dan sempurna.
8. Jika tidak ada ketentuan lain dalam gambar, maka untuk pertemuan ujung
dengan ujung batu alam, dilakukan sistem adu manis.
9. Pemasangan batu alam ini dipasang dengan motif susun sirih (ketupat) atau
sesuai gambar.

4.4. PEKERJAAN PENUTUP ATAP
4.4.1. Umum
a. Pekerjaan ini meliputi pengadaan dan pemasangan penutup atap, dan talang
untuk bagian bangunan tertentu seperti yang terlukis dan dijelaskan dalam
gambar rencana termasuk kelengkapan pendukung lainnya hingga fungsi masing-
masing hasil pekerjaan sempurna.
b. Standart
- PUBI : Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia 1982 (NI-3)
- ASTM, A : 370 - 74
- SII : Standart Industri Indonesia
c. Contoh Bahan
Sebelum pelaksanaan pekerjaan, kontraktor harus memberikan contoh tiap
jenis / type bahan penutup atap yang dipakai, lengkap dengan brosur dan
syarat pelaksanaan dari pabrik.
d. Shop Drawing
Kontraktor harus menyediakan shop drawing yang memperlihatkan dengan
jelas, bagian-bagian atas yang belum tergambar dengan jelas pada gambar
rencana.

4.4.2. PENUTUP ATAP
a. Lingkup pekerjaan disini meliputi:
Pemasangan penutup atas lengkap dengan segala accesoriesnya, paku, skrup,
atau pengait lainnya dan pekerjaan-pekerjaan lain yang berhubungan, sesuai
gambar





82
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan yang dimaksud meliputi pekerjaan tertutup atap metal sheet,
termasuk pemasangan bubungan, flashing, talang dan/atau seperti yang
tercantum dalam gambar kerja.
2. Persyaratan Bahan
2.1 Penutup Atap Galvalume
a. Untuk material atap harus baru dengan menggunakan metal sheet
jenis Galvalume. Penutup atap metal sheet jenis spandek produk
Bluescope, lysaght spandek, Utomo deck atau setara, dengan
spesifikasi teknis sebagai berikut :
- Bahan dasar Galvalume type KR 5/eff.0,7/0,4 mm merupakan
lembaran / sheet zincalum (43,5% Seng, 55% alumunium dan
1,5% silikon).
- Warna : Natural
- Ukuran panjang bahan menyesuaikan lapangan
- Accesories lainnya :
Plat kait untuk jenis penumpu pada baja sesuai spesifikasi
pabrik
Ukuran sekrup yang sesuai untuk dapat memegang atap metal
sheet. Jenis sesuai dengan standard yang dikeluarkan pabrik
pembuat, dilengkapi ring karet kedap air (Drilling Srcrew)
Pelengkap lain sesuai standart pabrik
2.2 Penutup atap Polycarbonat
- Untuk Material Polycarbonat tebal menggunakan 0,3 mm,
sedang Ukuran panjang bahan menyesuaikan lapangan dan
warna sesuai petunjuk direksi
2.3 Kontraktor harus segera melaporkan kepada Direksi / Konsultan
Pengawas apabila ternyata antara material lama dan baru terdapat
perbedaan yang akan memepngaruhi penampilan estetis untuk dapat
diambil keputusan lebih lanjut.
3. Persyaratan Pelaksanaan
a. Sebelum memulai pekerjaan pemborong harus menyerahkan contoh
material maupun data teknis dari produsen spandek kepada Direksi /
Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan.
b. Semua bahan yang akan dipergunakan dalam pekerjaan ini harus tiba di
lapangan dalam keadaan utuh, tanpa cacat, noda-noda yang dapat
merusak bahan maupun penampilannya dan harus disetujui Direksi /
Konsultan Pengawas.
c. Spandek disimpan di dalam gudang yang beratap, tidak diperkenankan
bersentuhan dengan tanah dan/atau lantai, dalam keadaan selalu



83
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

kering. Apabila terpaksa disimpan ditempat terbuka, maka spandek
harus ditutupi dengan terpal atau plastik guna mencegah masuknya air
hujan atau embun ke dalam celah-celah tumpukan lembaran, yang
dapat membuat cacat permukaan spandek akibat kondensasi.
d. Sebelum pelaksanaan pemasangan, seluruh permukaan atap harus
dibersihkan dengan sapu halus. Khususnya daerah-daerah/bagian-
bagian dimana pengeboran dan penggergajian telah dilakukan, seperti
kotoran, sisa-sisa tangkai paku keling, baut, rivet, potongan metal,
paku dan lain sebagainya.
e. Kontraktor harus memeriksa dan memastikan bahwa permukaan atas
semua gording/atap sudah satu bidang. Jika belum satu bidang, dapat
menyetel atau mengganjal bagian-bagian ini terhadap rangka
penumpu/gording. Dalam keadaan apapun juga, untuk mengatur
kemiringan atap, ganjal tidak boleh dipasang langsung dibawah plat
kait. Hal ini harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh
kontraktor karena penyetelan dan pengganjalan tidak tepat akan
mengakibatkan gangguan pengikatan terutama jika jarak penyangga
kecil.
f. Tidak diperkenankan mematri atau menyorder.
g. Sebelum pelaksanaan pemasangan spandek, kontraktor harus meneliti
dan memastikan bahwa semua permukaan baja yang akan bersentuhan
dengan spandek sudah dilapisi dengan cat. Bila terjadi kerusakan cat
gording, kontraktor harus segera melaporkan kepada direksi untuk
dicat kembali. Hal ini untuk mencegah sentuhan langsung antara baja
polos dengan permukaan spandek untuk menjaga kemungkinan
terjadinya kondensasi pada bagian bawah lembaran.
h. Lembaran spandek diangkut ke atas rangka atap hanya apabila akan
dipasang. Pada waktu pengangkatan dan siap akan dipasang, rusuk atas
lembaran spandek harus menghadap sisi dimana pemasangan dimulai.
i. Untuk mendapatkan kekuatan pengikatan maximal apabila
dipergunakan dan plat kait terhadap ujung/tepi lembaran paling
sedikit adalah 75 mm.
j. Untuk mencegah plat kait menggeser ke bawah, harus dipergunakan
pengikat positif, yaitu sekrup atau baut pada plat kait tersebut.
k. Pada lembaran akhir bagian atas, posisi tepi atas lembaran tersebut
yang berada dibawah lembar pelindung / flashing atau penutup
bubungan / capping harus ditekuk ke atas. Penekukan dilakukan
dengan alat yang disediakan pabrik untuk pekerjaan tersebut.
Penekukan ini untuk mencegah masuknya air ke dalam bangunan,
dapat dilaksanakan sebelum ataupun sesudah lembaran terpasang.



84
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

Apabila lembaran sudah terpasang, harus tersedia ruang dengan jarak
50 mm dan tepi sisi atas untuk ruang gerak alat penekuk.
l. Pada lembaran akhir di bagian bawah, sisi tepi lembaran harus ditekuk
ke bawah, untuk mencegah air mengalir melalui sisi bawah lembaran
kedalam bangunan. Penekukan dilakukan dengan alat yang disediakan
pabrik untuk pekerjaan tersebut.
m. Arah pemasangan lembaran ke bawah ke atas, kemudian dilanjutkan
pemasangan ke samping dengan arah tetap dan bawah ke atas dan
seterusnya. Pada tumpangan akhir, setidaknya gunakanlah 2 (dua)
lembar atau lebih dengan ukuran yang lebih pendek. Tumpangan /
overlap akhir yang disarankan minimal 150 mm.
n. Kedua sisi tepi arah memanjang penutup bubungan / capping harus di
takik sesuai dengan bentuk dan jarak rusuk lembaran spandek, setelah
penutup bubungan/capping terpasang. Penakikan dilakukan dengan lat
yang disediakan oleh pabrik khusus untuk pekerjaan tersebut. Setelah
ditakik, barulah kedua sisi tepi penutup bubungan/capping ditekuk ke
bawah dengan alat penekuk yang disediakan pabrik untuk pekerjaan
tersebut, hingga menutup sampai lembar antara 2 (dua) rusuk
lembaran spandek. Penutup bubungan / capping disekrupkan pada
setiap rusuk lembaran spandek.
o. Semua sambungan, khususnya tumpangan/overlap akhir, celah pada
tepi sisi atas lembaran spandek harus ditutup dengan sealant yang
telah disyaratkan.
p. Pemasangan flashing, capping fixing strip dan lain-lain harus dilakukan
oleh kontraktor sesuai dengan persyaratan teknis dari pabrik pembuat,
walaupun belum ataupun tidak tercantum dalam gambar sehingga
didapat hasil yang baik, terhindar dari kemungkinan kebocoran.
q. Kontraktor harus mengerjakan dengan teliti dan rapi sehingga
lembaran spandek setelah terpasang rapi dan lurus, garis-garis rusuk
lembaran spandek sejajar, lurus, tidak bergelombang ke arah
horisontal maupun vertikal; menghasilkan penampilan yang baik.

4.5. PEKERJAAN PLAFOND
4.5.1. PEKERJAAN PLAFOND GYPSUM DAN KALSIBOARD
a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan
dan alat-alat bantu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan
sehingga dapat dicapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna.



85
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

2. Pekerjaan pemasangan plafond dan list plafond gypsum Board dan
kalsiboard Area sesuai dengan yang disebutkan / ditunjukkan dalam
gambar dan sesuai dengan petunjuk Konsultan pengawas.
b. Persyaratan Bahan
1. Bahan Rangka
Sebagai rangka langit langit gypsum digunakan rangka hollow kotak 4/4
sebagai rangka utama dan 2/4 sebagai pembagi dengan kualitas baik.
2. Penutup langit-langit
Digunakan gypsum board yang bermutu baik produk Jayaboard, Elephant,
Knauff atau produk lain yang setara dan telah disetujui oleh Direksi /
konsultan pengawas, tebal = 9 mm dan yang disetujui dalam arti
ketebalan, mutu, jenis dan produk dari bahan tersebut. Jenis yang
digunakan adalah Type water resistant. Sedangkan penutup kalsiboard
digunakan produk Eternit Gresik atau setara dengan tebal 3 mm atau sesuai
gambar.
3. List penutup langit-langit
Digunakan gypsum Board yang bermutu baik, dari produk yang sama dengan
plafond dan yang telah disetujui oleh Konsultan pengawas dalam arti
ketebalan, mutu, jenis dan produk dari bahan tersebut. Jenis yang
digunakan adalah Type water resistant.
4. Bahan finishing penutup plafond
Finishing penutup langit-langit yang digunakan cat dari bahan dasar cat
yang bermutu baik produk yang telah disetujui Konsultan pengawas.
Sebelum pengecatan semua sambungan / pertemuan harus rata dan halus
(ditreatment). Plafond dan list plafond gypsum ini difinish dengan cat
emulsi. Warna dan corak sesuai gambar / ditentukan kemudian.
c. Syarat-syarat pelaksanaan
1. Pekerjaan ini dilaksanakan oleh pemborong yang berpengalaman dan
dengan tenaga-tenaga ahli.
2. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan untuuk membuat
shop drawing dan meneliti gambar-gambar yang ada dan kondisi di
lapangan (ukuran dan peil), termasuk mempelajari bentuk, pola lay-out /
penempatan, cara pemasangan, mekanisme dan detail-detail sesuai
gambar.
3. Rangka langit-langit dipasang sisi bagian bawah diratakan, pemasangan
sesuai dengan pola yang ditunjukkan / disebutkan dalam gambar dengan
memperhatikan modul pemasangan penutup langit-langit yang
dipasangnya.



86
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

4. Bidang pemasangan bagian rangka langit-langit harus rata, tidak cembung,
kaku dan kuat, kecuali bila dinyatakan lain, misal : permukaan merupakan
bidang miring / tegak sesuai yang ditunjukkan dalam gambar.
5. Setelah seluruh rangka langit terpasang, seluruh permukaan rangka harus
rata, lurus dan waterpas, tidak ada bagian yang bergelombang, dan
batang-batang rangka harus saling tegak lurus.
6. Bahan penutup langit-langit adalah gypsum dengan mutu bahan seperti
yang telah dipersyaratkan dengan pola pemasangan sesuai yang
ditunjukkan dalam gambar.
7. Pertemuan antara bidang langit-langit dan dinding, digunakan bahan
seperti yang ditunjukkan dalam gambar.
8. Hasil pemasangan penutup langit-langit harus rata tidak melendut.
9. Seluruh pertemuan antara permukaan langit-langit dan dinding dipasang
list profil dari gypsum dengan bentuk dan ukuran sesuai dengan gambar.
10. Gypsum board yang dipasang adalah gypsum board yang telah dipilih
dengan baik, bentuk dan ukuran masing-masing unit sama, tidak ada bagian
yang retak, gompal atau cacat-cacat lainnya dan telah mendapat
persetujuan dari Konsultan pengawas.
11. Gypsum board dipasang dengan cara pemasangan sesuai dengan gambar
untuk itu dan setelah gypsum board terpasang, bidang permukaan langit-
langit harus rata, lurus, waterpas dan tidak bergelombang, dan sambungan
antar unit-unit gypsum board tidak terlihat.
12. Pada beberapa tempat tertentu harus dibuat manhole / access panel di
langit-langit yang bisa dibuka, tanpa merusak gypsum board di
sekelilingnya, untuk keperluan pemeriksaan / pemeliharaan M & E.

4.6. PEKERJAAN KUSEN, PINTU DAN JENDELA
4.6.1. Pekerjaan Kusen dan Lourve Aluminium
a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya,
peralatan dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan
pekerjaan ini, sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik
dan sempurna.
2. Pekerjaan ini meliputi seluruh kusen pintu, jendela dan lourve aluminium,
seperti yang dinyatakan / ditunjukkan dalam gambar.
3. Pekerjaan ini dilakukan secara terpadu dengan Pekerjaan kusen, pintu dan
jendela, pekerjaan kaca dan cermin.






87
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

b. Persyaratan bahan
1. Terbuat dari bahan aluminium Framing System, dari produk dalam negeri
ex. Alexindo atau produk lain yang setara yang memenuhi Aluminium
extrusi sesuai SII extrusi sesuai extrusi 0695-82, 0649-8
2. Bentuk profil sesuai yang ditunjukkan dalam gambar, dengan terlebih
dahulu dibuatkan gambar detail rinci dalam shop drawing yang disetujui
Konsultan pengawas dan Perencana.
3. Untuk keseragaman warna disyaratkan, sebelum proses fabrikasi warna
profil-profil harus diseleksi secermat mungkin. Kemudian pada waktu
fabrikasi unit-unit jendela, pintu, partisi dan lain-lain, profil harus
diseleksi lagi warnanya sehingga dalam tiap unit didapatkan warna yang
sama.
4. Bahan yang akan melalui proses fabrikasi harus diseleksi terlebih dahulu
dengan seksama sesuai dengan bentuk toleransi, ukuran, ketebalan,
kesikuan, kelengkungan, pewarnaan, yang disyaratkan Konsultan
pengawas.
5. Persyaratan bahan yang digunakan harus memenuhi Rencana Kerja dan
Syarat-syarat dari pekerjaan aluminium serta memenuhi ketentuan-
ketentuan dari pabrik yang bersangkutan.
6. Konstruksi kusen dan lourve aluminium yang dikerjakan seperti yang
ditunjukkan dalam detail gambar termasuk bentuk dan ukurannya.
7. Khusus untuk kusen aluminium eksterior (Mullion dan Transome), bentuk
dan ukuran profil aluminium sesuai yang ditunjukkan dalam gambar,
dengan terlebih dahulu dibuatkan perhitungan struktur rangka serta
pembuatan gambar detail rinci dalam shop drawing yang disetujui
Konsultan pengawas dan Perencana.
8. Kusen aluminium eksterior memiliki ketahanan terhadap tekanan angin 120
kg/m2, untuk setiap type dan harus disertai hasil test.
9. Kusen aluminium eksterior memiliki ketahanan terhadap air / kebocoran
air, tidak terlihat kebocoran signifikan (air masuk ke dalam interior
bangunan sampai tekanan 137 Pa (positip) dalam jangka waktu 15 menit,
dengan jumlah air minimum 3,4 lt/m2 min.
10. Nilai deformasi diijinkan maksimum 2 mm.
11. Pekerjaan mesin potong, mesin punch, drill, dan lain-lain harus sedemikian
rupa sehingga diperoleh hasil rakitan untuk unit-unit jendela, pintu dan
partisi yang mempunyai toleransi ukuran sebagai berikut :
a. untuk tinggi dan lebar 1 mm
b. untuk diagonal 2 mm





88
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

12. Accessories
a. Sekrup dari galvanized kepala tertanam, weather strip dari vinyl,
pengikat alat penggantung yang dihubungkan dengan aluminium harus
ditutup caulking dan sealant.
b. Sealant yang dipergunakan adalah ex. Dow Corning type 795 atau yang
setara.
c. Angkur-angkur untuk rangka / kusen aluminium terbuat dari steel plate
tebal 2-3 mm, dengan lapisan zink tidak kurang dari 13 mikron sehingga
tidak dapat bergerak / bergeser.
13. Bahan finishing
Treatment untuk permukaan kusen jendela dan pintu yang bersentuhan
dengan bahan alkaline seperti beton, aduk atau plester dan bahan lainnya
harus diberi lapisan finish dari lacquer yang jernih.

c. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Sebelum memulai pelaksanaan Kontraktor diwajibkan meneliti gambar-
gambar dan kondisi di lapangan, terutama ukuran dan peil lubang bukaan
dinding. Kontraktor diwajibkan membuat contoh jadi (mock-up) untuk
semua detail sambungan dan profil aluminium yang berhubungan dengan
sistem konstruksi bahan lain dan dimintakan persetujuan dari Konsultan
pengawas dan Perencana.
2. Proses fabrikasi harus sudah berjalan dan siap lebih dulu sebelum
pekerjaan lapangan dimulai. Proses ini sudah didahului dengan pembuatan
shop drawing atas petunjuk Perencana, meliputi gambar denah, lokasi,
merk, kualitas, bentuk, ukuran. Kontraktor juga diwajibkan untuk
membuat perhitungan-perhitungan yang mendasari sistem dan dimensi
profil aluminium terpasang, sehingga memenuhi persyaratan yang diminta
/ berlaku. Kontraktor bertanggung jawab penuh atas kehandalan pekerjaan
ini.
3. Semua frame / kusen baik untuk jendela, pintu dan dinding partisi,
dikerjakan secara fabrikasi dengan teliti sesuai dengan ukuran dan kondisi
lapangan agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
4. Pemotongan aluminium hendaknya dijauhkan dari material besi untuk
menghindarkan penempelan debu besi pada permukaannya. Disarankan
untuk mengerjakannya pada tempat yang aman dengan hati-hati tanpa
menyebabkan kerusakan pada permukaannya.
5. Pengelasan dibenarkan menggunakan non-activated gas (argon) dari arah
bagian dalam agar sambungannya tidak tampak oleh mata. Pengelasan
harus rapi untuk memperoleh kualitas dan bentuk yang sesuai dengan
gambar.



89
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

6. Akhir bagian kusen harus disambung dengan kuat dan teliti dengan sekrup,
rivet, stap dan harus cocok.
7. Angkur-angkur untuk rangka / kusen aluminium terbuat dari steel plate
setebal 2-3 mm dan ditempatkan pada interval 600 mm.
8. Penyekrupan harus dipasang tidak terlihat dari luar dengan sekrup anti
karat, sedemikian rupa sehingga hair line dari tiap sambungan harus kedap
air dan memenuhi syarat kekuatan terhadap air sebesar 1.000 kg/cm2.
Celah antara kaca dan sistem kusen aluminium harus ditutup oleh sealant.
9. Untuk fitting hardware dan reinforcing materials yang mana kusen
aluminium akan bertemu dengan besi, tembaga atau lainnya maka
permukaan metal yang bersangkutan harus diberi lapisan chromium untuk
menghindari timbulnya korosi.
10. Toleransi pemasangan kusen aluminium disatu sisi dinding adalah 10-25 mm
yang kemudian diisi dengan beton ringan / grout.
11. Untuk memperoleh kekedapan terhadap kebocoran udara terutama pada
ruang yang dikondisikan, hendaknya ditempatkan mohair dan jika perlu
dapat digunakan synthetic rubber atau bahan dari synthetic resin.
Penggunaan ini dilakukan pada swing door dan double door.
12. Sekeliling tepi kusen yang terlihat berbatasan dengan dinding agar diberi
sealant supaya kedap air dan suara.
13. Tepi bawah ambang kusen exterior agar dilengkapi flashing untuk penahan
air hujan.
14. Engsel untuk jendela yang bisa dibuka diletakkan sejarak jangkauan
tangan.
15. Profil aluminium yang akan dipilih harus diajukan secepatnya untuk
memperoleh persetujuan Pegawas & Direksi.

4.6.2. Pekerjaan Daun Pintu Dan Jendela
a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya,
peralatan dan alat-alat bantu lainnya untuk pelaksanaan pekerjaan
sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang baik dan sempurna.
2. Pekerjaan pembuatan daun jendela dan pintu kaca dipasang diseluruh
detail yang dinyatakan / ditunjukkan dalam gambar.
3. Pekerjaan ini dilakukan secara terpadu dengan (Pekerjaan alat
penggantung dan kunci) serta (pekerjaan kaca).
b. Persyaratan bahan
1. Rangka dari bahan aluminium Framing System, yang mutu dan persyaratan
bahannya sama dengan bahan yang digunakan untuk kusen aluminium,
yaitu produk dalam negeri ex. Alexindo atau produk lain yang setara.



90
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

2. Ukuran daun pintu dan jendela aluminium sesuai yang ditunjukkan dalam
detail gambar, sehingga seluruh persyaratan bahan dalam bab 6 dapat
terpenuhi.
3. Untuk panel jendela digunakan bahan kaca sebagaimana dimaksud dalam
bab 7, dengan tebal sesuai dengan perhitungan, mutu AA, yang memenuhi
persyaratan PUBI 82 pasal 63 dan SII 0189-78. Warna kaca akan ditentukan
kemudian.
4. Gunakan sealant yang elastis dengan kualitas tinggi dari dow corning type
793 atau setara. Jangan memakai karet / gaskets, karena akan
menyulitkan pengaturan kerataan antar permukaan dan untuk menghindari
distorsi.
5. Pergunakan foam yang lembut untuk back-up material seperti polyurethane
foam
6. Pergunakan neoprene rubber dengan kekerasan 90 atau lebih untuk bahan
setting blocks dengan ukuran :
a. Panjang : (25 x luas kaca dalam m2) mm
b. Lebar : (tebal kaca + 5) mm
c. Tebal : 6 sampai dengan 12 mm

c. Syarat-syarat pelaksanaan
1. Sebelum melaksanakan pekerjaan, kontraktor diwajibkan untuk meneliti
gambar-gambar yang ada dan kondisi di lapangan (ukuran dan lubang-
lubang), termasuk mempelajari bentuk, pola, lay-out / penempatan, cara
pemasangan / mekanisme dan detail-detail sesuai gambar.
2. Sebelum pekerjaan dimulai. Kontraktor wajib mengajukan contoh dari
semua bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini kepada Konsultan
pengawas minimal 3 (tiga) produk yang setara dari berbagai merk / pabrik
lengkap dengan brosur / spesifikasi dari masing-masing pabrik yang
bersangkutan.
3. Kontraktor wajib membuat shop drawing yang mencantumkan semua data
produk, ukuran dan cara pemasangan dari pekerjaan tersebut. Gambar
shop drawing sebelum dilaksanakan harus disetujui dahulu oleh Konsultan
pengawas.
4. Penimbunan bahan-bahan pintu di lokasi pekerjaan harus ditempatkan
pada ruang / tempat dengan sirkulasi udara yang baik, tidak terkena cuaca
langsung dan terlindungi dari kerusakan dan kelembaban.
5. Harus diperhatikan semua sambungan siku untuk rangka pintu / jendela
dan penguat lain serta pemasangan kaca, agar tetap terjamin kekuatannya
dengan memperhatikan / menjaga kerapihan, tidak boleh terjadi noda-
noda atau cacat bekas penyetelan.



91
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

6. Bentuk / pola dan ukuran harus sesuai gambar dan merupakan ukuran jadi.
7. Jika diperlukan, harus menggunakan sekrup galvanized atas persetujuan
Konsultan pengawas, tanpa meninggalkan bekas / cacat pada permukaan
rangka pintu / jendela kaca yang tampak.
8. Untuk daun pintu / jendela kaca setelah dipasang harus rata, tidak
bergelombang, tidak melincang dan semua peralatan dapat berfungsi
dengan baik.

4.6.3. Pekerjaan Daun Pintu Kaca Frameless
a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan
dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini,
hingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna.
2. Pekerjaan tersebut merupakan daun pintu kaca frameless dari bahan kaca
tanpa bingkai atau frame termasuk rangka kusen dan segala peralatan yang
digunakan, dilakukan pada pintu-pintu utama serta seluruh detail yang
disebutkan / dinyatakan dalam gambar dan sesuai petunjuk Konsultan
pengawas.
b. Persyaratan Bahan
1. Bahan panil daun pintu dari kaca lembaran jenis tempered clear glass dari
produk asahimas glass yang bermutu baik atau dari merk lain yang setara
dan disetujui perencana.
2. Tebal bahan kaca minimal 12 mm, ukuran dan lokasi pemasangan sesuai
kebutuhan dan sesuai yang ditunjukkan / dinyatakan dalam detail gambar.
3. Bahan kaca yang digunakan dari mutu AA serta memenuhi persyaratan
dalam PUBI 1982 pasal 63 dan memenuhi SII 0189-78
4. Toleransi bahan
a. Untuk ukuran panjang dan lebar dengan toleransi yang diijinkan dengan
maksimal 2,00 mm
b. Dari kesikuan bahan kaca akibat pemotongan dari lembaran kaca yang
digunakan yang berbentuk segi empat panjang harus mempunyai sudut
siku serta tepi potongan yang rata dan lurus, dengan toleransi kesikuan
maksimum 1,50 mm untuk setiap 1 meter panjang.
c. Adapun untuk ketebalan bahan kaca lembaran dengan toleransi yang
diizinkan maksimum 0,30 mm.
5. Segala peralatan dan alat-alat bantu atau pelengkap yang diperlukan
dalam pekerjaan daun pintu frameless harus terbuat dari bahan stainless
steel atau sesuai yang disyaratkan dari pabrik yang bersangkutan dan
sesuai petunjuk Konsultan pengawas.




92
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

c. Syarat-Syarat Pelaksanaan
1. Sebelum pekerjaan dilakukan, kontraktor diwajibkan untuk meneliti
dengan seksama gambar-gambar untuk itu dan keadaan lapangan yang ada
(ukuran serta lubang-lubang yang ada hubungannya dengan pekerjaan
tersebut) termasuk mempelajari bentuk, pola, layout / penempatan, cara
pemasangan, mekanisme dan detail-detail sesuai yang ada
2. Sebelum pelaksanaan dimulai, penimbunan bahan-bahan di tempat
pekerjaan harus pada lokasi dengan sirkulasi udara yang baik, tidak
terkena cuaca langsung dan terlindung dari kerusakan akibat pekerjaan dan
tidak lembab.
3. Hasil pemasangan daun pintu harus rata dengan permukaan rangka kusen /
frame, siku, tidak membentur permukaan lantai dan semua peralatan yang
dipasang dapat berfungsi dengan baik dan sempurna.
4. Bahan kaca yang digunakan harus bebas dari gelembung (ruang-ruang yang
berisi gas yang terdapat dalam kaca), bebas dari komposisi kimia yang
dapat mengganggu pandangan, bebas dari keretakan (gari-garis pecah pada
kaca baik sebagian atau keseluruhan dari tebal kaca, bebas dari gumpilan
tepi (tonjolan pada sisi panjang dan lebar kearah keluar / masuk), bebas
dari benang (string) dan gelombang (wave), bebas dari bintik-bintik (spots)
dan awan serta goresan dan bebas dari lengkungan
5. Semua bahan kaca sebelum dan sesudah terpasang harus dengan
persetujuan direksi
6. Semua sisi kaca bekas pemotongan dan sisi-sisi yang lain, harus digurinda
sampai licin, rata dan halus
7. Perkerjaan ini harus dikerjakan oleh tenaga-tenaga yang khusus yang telah
berpengalaman dalam bidang pemasangan pintu frameless dan hasil
pemasangan harus baik, sempurna dan seluruh peralatannya dapat
berfungsi dengan baik
8. Bahan yang telah terpasang harus dilindungi dari kerusakan akibat
pekerjaan yang lain dan terlindung dari segala benturan serta diberi tanda
yang dapat mudah dikenalnya

4.7. PEKERJAAN PENGGANTUNG DAN PENGUNCI
5.7.1. Pekerjaan Alat Penggantung Dan Pengunci
a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya,
peralatan dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan
pekerjaan ini, hingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik
dan sempurna



93
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

2. Meliputi pengadaan, pemasangan, pengamanan dan perawatan dari seluruh
alat-alat yang dipasang pada daun pintu dan pada daun jendela serta
seluruh detail yang disebutkan / ditentukan dalam gambar
3. Pekerjaan ini dilakukan secara terpadu dengan pekerjaan bab 5 (pekerjaan
kusen, pintu dan jendela)
b. Persiapan Bahan
1. Semua hardware dalam pekerjaan ini, dari produk yang bermutu baik,
seragam dalam pemilihan warnanya serta dari bahan-bahan yang telah
disetujui Konsultan pengawas
2. Mekanisme kerja dari semua peralatan harus sesuai dengan ketentuan
gambar
3. Perlengkapan untuk pengunci yaitu
a. Pintu Kaca Frameless :
- Floor Hinge : Ex. Solid atau setara
- Patch Fitting : Ex. Solid atau setara
- Patch Lock : Ex. Solid atau setara
- Cylinder : Ex. Solid atau setara
- Pull Handle : Ex. Solid atau setara

b. Pintu Kaca Alumunium :
- Handle : Ex. Solid atau setara
- Lock case : Ex. Solid atau setara
- Hinges : Ex. Solid atau setara
- Door closer : Ex. Solid atau setara
- Flush Bolt : Ex. Solid atau setara
c. Seluruh kunci pintu yang akan dipasang harus direncanakan dan diatur
mengikuti sistem penguncian (locking System) Great grand Master key,
emergency Master dan Contruction Key dari pabrik yang bersangkutan.
Setiap kunci pintu dilengkapi 3 (tiga) buah anak kunci, demikian pula
anak kunci Master / Grand Master / Great Grand Master / Emergency
Master Key disediakan sebanyak 3 (tiga) buah. Untuk Construction Key
disediakan 5 (lima) buah.
d. Kunci tanam, harus dipasang kuat pada rangka daun pintu
e. Setelah kunci terpasang, noda-noda bekas cat atau bahan finish lainnya
yang menempel pada kunci harus dibersihkan dan dihilangkan sama
sekali
f. Pemasangan door closer pada rangka kusen dan daun pintu, diatur
sedemikian rupa hingga pintu selalu menutup rapat pada kusen pintu,
serta dapat berfungsi dengan baik



94
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

g. Untuk seluruh pintu yang dapat membentur dinding bila dibuka, diberi
door stop dari merk dan type seperti yang telah diisyaratkan, dipasang
dengan baik pada dinding atau pada lantai (sesuai dengan kondisi yang
memungkinkan) dengan menggunakan sekrup dan nylon plug

c. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Semua peralatan yang akan digunakan dalam pekerjaan ini, sebelum
dipasang terlebih dahulu diserahkan contoh-contohnya kepada Konsultan
pengawas untuk mendapatkan persetujuan. Pengajuan / penyerahan harus
disertai brosur / spesifikasi dari pabrik yang bersangkutan
2. Apabila dianggap perlu, Konsultan pengawas dapat meminta untuk
mengadakan test-test laboratorium yang dilakukan terhadap contoh-contoh
bahan yang diajukan sebagai dasar persetujuan. Seluruh biaya test
laboratorium menjadi tanggung jawab Kontraktor sepenuhnya
3. Engsel atas dipasang tidak lebih dari 28 cm (as) dari sisi atas pintu ke
bawah.
4. Engsel bawah dipasang tidak lebih dari 32 cm (as) dari permukaan lantai ke
atas.
5. Engsel tengah dipasang pada jarak 20 cm (as) di bawah engsel atas
6. Untuk pintu toilet, jarak tersebut diambil dari sisi atas dan sisi bawah daun
pintu dengan jarak yang sama
7. Penarik pintu (handle) dipasang 100 cm (as) dari permukaan lantai
setempat
8. Posisi lock dan latch harus diajukan oleh Kontraktor kepada Managemen
Konstruksi untuk mendapatkan persetujuan
9. Engsel sebaiknya terbuat dari bahan yang tahan karat

4.8. PEKERJAAN KACA DAN CERMIN
4.8.1. Pekerjaan Kaca
a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya,
peralatan dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan
pekerjaan ini, hingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik
dan sempurna
2. Pekerjaan ini meliputi kaca daun pintu, kaca daun jendela, kaca mati
3. Pekerjaan ini berkaitan dengan Pekerjaan Kusen, Pintu dan Jendela serta
Pekerjaan Curtain Wall
b. Persyaratan Bahan
1. Umum



95
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

Kaca adalah benda yang terbuat dari bahan glass yang pipih pada umumnya
mempunyai ketebalan yang sama mempunyai sifat yang tembus cahaya,
diperoleh dari proses pengambangan (Float Glass). Kedua permukaannya
rata, licin dan bening
2. Khusus
a. Digunakan lembaran kaca bening (clear float glass), produk ASAHIMAS
atau yang setara. Kaca tebal minimun 5 mm, atau sesuai perhitungan,
digunakan untuk pemasangan dinding kaca daerah Interior dan seluruh
pintu kaca Frame, kecuali hal khusus lain seperti dinyatakan dalam
gambar
b. Untuk itu kaca Frameless, baik pintu swing maupun sliding juga
menggunakan produk ASAHIMAS atau yang setara, tetapi dengan
ketebalan minimum 12 mm, atau sesuai perhitungan dan telah melalui
proses tempered sesuai standart SINAR RASA (clear float tempered
glass)
3. Toleransi
a. Panjang-Lebar : ukuran panjang dan lebar tidak boleh melampaui
toleransi seperti yang ditentukan oleh pabrik, yaitu toleransi panjang
dan lebar kira-kira 2 mm
b. Kebersihan, kaca lembaran berbentuk segi empat harus mempunyai
sudut siku-siku serta tepi potongan yang rata dan lurus. Toleransi
kesikuan maksimum yang diperkenankan adalah 1.5 mm per meter
panjang
c. Ketebalan : ketebalan kaca lembaran yang digunakan tidak boleh
melampaui toleransi yang ditentukan oleh pabrik, yaitu maksimum 0.3
mm
4. Ketebalan semua kaca terpasang harus mengikuti standart perhitungan dari
pabrik bersangkutan, yang antara lain mempertimbangkan penggunaannya
pada bangunan, luas / ukuran bidang kaca (cutting size), maupun tekanan
positif dan negatif yang akan bekerja pada bidang kaca. Perhitungan ini
harus disetujui Konsultan pengawas dan Konsultan Perencana
5. Cacat-cacat yang diperbolehkan harus sesuai dengan ketentuan dari pabrik
:
a. Kaca yang digunakan harus bebas dari gelembung (ruang-ruang yang
berisi gas yang terdapat pada kaca)
b. Kaca yang digunakan harus bebas dari komposisi kimia yang dapat
mengganggu pandangan.
c. Kaca harus bebas dari keretakan (garis-garis pecah pada kaca baik
sebagian ataupun seluruh tebal kaca



96
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

d. Kaca harus bebas dari gumpilan tepi (tonjolan pada sisi panjang dan
lebar ke arah luar / masuk
e. Harus bebas dari benang (string) dan gelombang (weve) ; benang adalah
cacat garis timbul yang tembus pandang, sedang gelombang adalah
permukaan kaca yang terobah dan mengganggu pandangan
f. Harus bebas dari bintik-bintik (spots), awan (cloud) dan goresan
(scratch)
g. Bebas awan (permukaan kaca yang mengalami kelainan kebeningan)
h. Bebas goresan (luka garis pada permukaan kaca)
i. Bebas lengkungan (lembaran kaca yang bengkok)
6. Mutu kaca lembaran yang digunakan mutu AA (AA Grade Quality)
7. Semua bahan kaca sebelum dan sesudah terpasang harus mendapat
persetujuaan Konsultan pengawas sesuai pengarahan dan saran Perencana.
8. Sisi kaca yang tampak maupun yang tidak tampak akibat pemotongan,
harus digurinda / dihaluskan.
c. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Semua gambar dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk gambar, uraian
dan syarat-syarat pekerjaan dalam buku ini, serta ketentuan yang
digariskan / disyaratkan oleh pabrik bersangkutan
2. Pekerjaan ini memerlukan keahlian dan ketelitian
3. Semua bahan yang akan dipasang harus disetujui oleh konsultan pengawas
4. Bahan yang terpasang harus dilindungi dari kerusakan dan benturan, dan
diberi tanda agar mudah diketahui
5. Pemotongan kaca harus rapi dan lurus, serta diharuskan menggunakan alat-
alat pemotong kaca khusus, menjadi lembaran kaca dengan ukuran
tertentu (cutting size)
6. Pemasangan kaca-kaca dalam sponing rangka kayu pada pintu panil sesuai
dengan persyaratan, digunakan lis-lis kayu. Pemasangan kaca-kaca dalam
pintu kaca rangka aluminium harus sesuai dengan persyaratan
7. Tepi kaca pada sambungan dan antara kaca dengan kayu diberi sealant
untuk menutupi rongga-rongga yang terjadi. Sealant yang digunakan adalah
sesuai dengan persyaratan pabrik. Tidak diperkenankan sealant mengenai
kaca terpasang lebih dari 0.5 cm dari batas garis sambungan dengan kaca
8. Kaca harus terpasang rapi, sisi tepi harus lurus dan rata, tidak
diperkenankan retak dan pecah pada sealant / tepinya, bebas dari segala
noda dan bekas goresan
4.8.2. Pekerjaan Cermin
a. Lingkup Pekerjaan



97
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan, biaya peralatan dan
alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan keperjaan ini, hingga
dapat tercapai hasl pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna
2. Pekerjaan cermin ini meliputi pemasangan cermin pada toilet-toilet dan
daerah lain yang ditentukan dalam gambar yang ditentukan atau sesuai
dengan petunjuk Konsultan pengawas
b. Persyaratan Bahan
1. Harus memenuhi persyaratan bahan pekerjaan kaca
2. Bahan cermin harus sesuai dengan NI-3 dan syarat tertulis lainnya dalam
buku ini. Disyaratkan dari jenis float clear glass produk dalam negeri
dengan kwalitas yang dapat disetujui Direksi / Pengawas, dengan
mengajukan contoh terlebih dahulu.
3. Sisi-sisi cermin yang tampak maupun yang tidak tampak akibat
pemotongan, harus digurinda / dihaluskan
c. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk gambar, uraian
dan syarat-syarat pekerjaan dalam buku ini
2. Kalau bidang yang tertutup cermin lebih besar dari modul cermin, maka
pebagiannya harus diakhiri dengan pinggulan sesuai dengan standart dari
pabrik tersebut
3. Pekerjaan ini memerlukan keahlian dan ketelitian
4. Semua bahan yang dipasang harus sudah disetujui oleh Konsultan pengawas
setelah berkonsultasi dengan Konsultan Perencana dan Pemilik proyek
5. Bahan yang telah dipasang harus dilindungi dari kerusakan dan benturan,
dan diberi tanda untuk mudah diketahui
6. Cermin harus dipasang rapi, sisi tepi harus lurus dan rata, diharuskan
menggunakan alat-alat pemotong kaca khusus, tidak diperkenankan retak
dan pecah pada sealant / tepinya, bebas dari segala noda dan bekas
goresan
7. Pemotongan cermin harus rapi dan lurus, diharuskan menggunakan alat
pemotong kaca khusus
8. Rangka kayu memakai bahan kamper, ukuran dan cara pemasangan ke
dinding sesuai petunjuk gambar yang diskrupkan dengan fisher plastik ke
dalam dinding. Permukaan rangka kayu yang akan menerima cermin harus
di serut halus dan waterpas
9. Sebagai pinggiran cermin digunakan profiled list Stainless Steel yang
dipasang rapih dan kuat
10. Cermin yang terpasang untuk bentuk dan ukurannya harus disesuaikan
dengan gambar




98
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

4.9. PEKERJAAN SANITAIR
4.9.1. Pekerjaan Peralatan Dan Perlengkapan Sanitair
a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya
peralatan dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan
pekerjaan ini, sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik
dan sempurna
2. Pekerjaan, peralatan dan perlengkapan sanitair ini sesuai dengan yang
dinyatakan / ditunjukkan dalam gambar-gambar, uraian dan syarat-syarat
dalam buku ini.
b. Persyaratan Bahan
1. Perlengkapan Sanitair yang digunakan yaitu produk dalam negeri ex. INA
atau produk lain yang setara.
2. Semua material harus memenuhi ukuran standart dan mudah didapatkan
dipasaran kecuali bila ditentukan lain

3. Semua peralatan dalam keadaan lengkap dengan segala perlengkapannya,
sesuai dengan yang telah disediakan oleh pabrik
4. Barang yang dipakai adalah produk yang telah diisyaratkan dalam uraian
dan syarat-syarat dalam buku ini
c. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Semua barang sebelum terpasang harus ditunjukkan kepada Konsultan
pengawas beserta persyaratan / ketentuan pabrik untuk mendapatkan
persetujuan. Bahan yang tidak disetujui harus diganti tanpa biaya
tambahan
2. Jika setelah dipasang perlu diadakan penukaran / penggantian, maka
bahan pengganti harus disetujui Konsultan pengawas terlebih dahulu
berdasarkan contoh yang diajukan Kontraktor
3. Sebelum pemasangan dimulai, Kontraktor harus meneliti gambar-gambar
yang ada dan kondisi di lapangan, termasuk mempelajari bentuk, pola,
penempatan, cara pemasangan dan detail-detail sesuai gambar
4. Bila ada kelainan dalam hal apapun antar gambar dengan gambar, gambar
dengan spesifikasi dan sebagainya, maka kontraktor harus segera
melaporkannya kepada Manajemen Konsttruksi
5. Kontraktor tidak dibenarkan memulai pekerjaan di suatu tempat bila ada
kelainan perbedaan di tempat itu sebelum kelainan tersebut diselesaikan
6. Selama pelaksanaan selalu diadakan pengujian / pemeriksaan untuk
kesempurnaan hasil pekerjaan
7. Kontraktor wajib memperbaiki / mengulangi / mengganti bila ada
kerusakan yang terjadi selama masa pelaksanaan dan masa garansi, atas



99
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

biaya Kontraktor, selama kerusakan bukan disebabkab oleh tidakan Pemilik
/ Pemakaian / Pemberi Tugas

4.10. PEKERJAAN PENGECATAN
4.10.1. Pekerjaan Pengecatan Dinding Dan Plafond
a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya
peralatan dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekejaan
ini, sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan
sempurna.

2. Pengecatan dinding dan plafond dilakukan pada bagian luar dan dalam
serta pada seluruh detail yang disebutkan dalam gambar



b. Syarat-syarat Bahan
1. Semua bahan cat yang digunakan adalah Cat Produk Dulux ICI Paint, atau
setara, dengan proses sebagai berikut :
- Pengecatan Luar (Eksterior) :
Primer : 1 Lapis Alkali Resisting Primer, A 931 1050 atau setara,
interval 2 jam.
Plamir : 1 Lapis Plamir dengan bahan semen putih, sehingga
dicapai permukaan yang merata dan sama tebal.
Cat Dasar : 1 Lapis Cat Dasar interval 2 jam, sehingga dicapai
permukaan yang merata dan sama tebal.
Cat Penutup : 2 lapis Cat ex. Decolith atau setara setebal untuk 2 x 30
micron, interval 2 jam, sehingga dicapai permukaan yang
merata dan sama tebal.
- Pengecatan Dalam (Interior) :
Primer : 1 Lapis Plamir, interval 2 jam sedemikian rupa sehingga
permukaan bidang merata, halus dan sama tebal.
Cat Dasar : 1 Lapis Cat Dasar interval 2 jam, sehingga dicapai
permukaan yang merata dan sama tebal.
Cat Penutup : 2 lapis cat halus ex. Decolith atau setara setebal untuk 2
x 30 micron, interval 2 jam, sehingga dicapai permukaan
yang merata dan sama tebal.
2. Pengendalian seluruh pekerjaan ini, harus memenuhi ketentuan-ketentuan
dari pabrik yang bersangkutan dan memenuhi persyaratan pada PUBI 1982
pasal 54 dan NI-4



100
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

3. Type dan warnanya akan ditentukan kemudian

c. Syarat- syarat Pelaksanaan
1. Semua bidang Pengecatan harus betul-betul rata, tidak terdapat cacat
(retak, lubang dan pecah-pecah)
2. Pengecatan tidak dilakukan selama masih adanya perbaikan pekerjaan
pada bidang pengecatan
3. Bidang pengecatan harus dalam keadaan kering serta bebas dari debu,
lemak, minyak dan kotoran-kotoran lain yang dapat merusak atau
mengurangi mutu pengecatan
4. Seluruh Bidang pengecatan diplamir dahulu sebelum dilapis dengan cat
dasar, bahan plamir dari produk yang sama dengan cat yang digunakan
5. Pengecatan dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Konsultan
pengawas serta seluruh pekerjaan instalasi didalamnya telah selesai
dengan sempurna
6. Sebelum bahan dikirim ke lokasi pekerjaan, Kontraktor harus menyerahkan
/ mengirimkan contoh bahan dari beberapa macam hasil produk kepada
Konsultan pengawas. Selanjutnya akan diputuskan jenis bahan dan warna
yang akan digunakan. Konsultan pengawas akan mengintruksikan kepada
Kontraktor selama tidak lebih dari 7 (tujuh) hari kalender setelah contoh
bahan diserahkan
7. Contoh bahan yang telah disetujui, akan dipakai sebagai standart untuk
pemeriksaan / penerimaan setiap bahan yang dikirim oleh Kontraktor ke
tempat pekerjaan
8. Contoh bahan yang telah disetujui, akan dipakai sebagi standart untuk
pemeriksaan / penerimaan setiap bahan yang dikirim oleh Kontraktor ke
tempat pekerjaan
9. Sebelum pekerjaan dapat dimulai atau dilakukan, percobaan-percobaan
bahan dan warna harus dilakukan oleh Kontraktor untuk mendapatkan
persetujuan Perencana dan Konsultan pengawas. Pengerjaan harus sesuai
dengan ketentuan-ketentuan yang diisyaratkan oleh pabrik yang
bersangkutan
10. Hasil pengerjaan harus baik, warna dan pola texture merata, tidak
terdapat noda-noda pada permukaan pengecatan. Harus dihindarkan
terjadinya kerusakan akibat dari pekerjaan-pekerjaan lain.
11. Kontraktor harus bertanggung jawab atas kesempurnaan dalam pengerjaan,
perawatan dan keberhasilan pekerjaan sampai penyerahan pekerjaan
12. Bila terjadi ketidak-sempurnaan atau kerusakan dalam pengerjaan,
kontraktor harus memperbaiki / mengganti dengan bahan yang sama
mutunya tanpa adanya tambahan biaya



101
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

13. Kontraktor harus menggunakan tenaga-tenaga kerja terampil /
berpengalaman dalam pelaksanaan pekerjaan pengecatan tersebut,
sehingga dapat tercapainya mutu pekerjaan yang baik dan sempurna

4.10.2. Pekerjaan Pengecatan Kayu
a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya,
peralatan dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan
pekerjaan ini, hingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik
dan sempurna.
2. Pekerjaan pengecatan ini meliputi pengecatan permukaan kayu yang
tampak serta pada seluruh detail yang disebutkan / ditunjukkan dalam
gambar dan sesuai petunjuk Konsultan pengawas
b. Persyaratan Bahan
1. Semua bahan cat yang digunakan adalah cat produk Patna Surabaya ,
Mataram Surabaya (EMCO) atau produk lain yang setara.
2. Untuk mendapatkan hasil solid, pengecatan dilakukan dengan sistem spray
3. Pengecatan dilakukan sampai memperoleh hasil pengecatan yang rata dan
sama tebalnya
4. Bahan-bahan yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat yang
ditentukan dalam PUBI 1982 pasal 53, BS No. 3900.1970/1971, AS-41 dan
NI-4, serta mengikuti ketentuan-ketentuandari pabrik yang bersangkutan
5. Warna akan ditentukan kemudian
c. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Semua bidang pengecatan harus betul-betul rata, tidak terdapat cacat
(retak, lubang dan pecah-pecah)
2. Bidang permukaan pengecatan harus dibuat rata dan halus dengan bahan
amplas kayu. Setelah memenuhi persyaratan barulah siap untuk dimulai
pekerjaan pengecatan dengan persetujuan konsultan pengawas
3. Pengecatan tidak dapat dilakukan selama masih adanya perbaikan
pekerjaan pada bidang pengecatan
4. Bidang pengecatan dalam keadaan kering serta bebas dari debu, lemak,
minyak dan kotoran-kotoran lain yang dapat merusak atau mengurangi
mutu pengecatan.
5. Sebelum bahan dikirim ke lokasi pekerjaan, kontraktor harus menyerahkan
/ mengirimkan contoh bahan dari 3 (tiga macam hasil produk kepada
konsultan pengawas, yang selanjutnya akan diputuskan jenis bahan dan
warna yang akan digunakan. Konsultan pengawas akan menginstruksikan
kepada kontraktor dalam waktu tidak lebih dari 7 (tujuh) hari dari kalender
setelah contoh bahan diserahkan



102
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

6. Contoh bahan yang digunakan harus lengkap dengan label pabrik
pembuatnya
7. Contoh bahan yang telah disetujui, akan dipakai sebagai standart untuk
pemeriksaan dari penerimaan bahan yang dikirim oleh kontraktor ke
tempat pekerjaan
8. Sebelum pekerjaan dimulai percobaan-percobaan bahan dan warna harus
dilakukan oleh kontraktor untuk mendapatkan persetujuan perencana dan
konsultan pengawas. Pengerjaan harus dilakukan sesuai dengan ketentuan-
ketentuan yang diisyaratkan oleh pabrik yang bersangkutan.
9. Hasil pengerjaan harus baik, warna dan pola texture merata, tidak
terdapat noda-noda pada permukaan pengecatan. Harus dihindarkan
terjadinya kerusakan akibat dari pekerjaan-pekerjaan lain
10. Kontraktor harus bertanggung jawab atas kesempurnaan dalam pengerjaan,
perawatan dan keberhasilan pekerjaan sampai penyerahan pekerjaan
11. Bila terjadi ketidaksempurnaan atau kerusakan dalam pengerjaan,
kontraktor harus memperbaiki dan menggantinya dengan bahan yang sama
mutunya tanpa adanya tambahan biaya
12. Kontraktor harus menggunakan tenaga-tenaga kerja yang terampil dan
berpengalaman dalam pelaksanaan pekerjaan pengecatan tersebut,
sehingga dapat tercapainya mutu pekerjaan yang baik dan sempurna
13. Permukaan pengecatan setelah diamplas, selain akan memperoleh
permukaan yang halus, rata dan bersih juga akan menjadi bebas dari
nyamuk
14. Aduk dengan sempurna sebelum pemakaian sampai benar-benar jenuh
15. Lakukan pekerjaan persiapan dari produk sesuai yang diisyaratkan di atas
atau sesuai persyaratan yang ditentukan oleh pabrik yang besangkutan.
Selanjutnya setelah pekerjaan persiapan dilakukan dengan baik, cat dasar
dilapiskan sampai rata dan sama tebal.
16. Setelah itu baru undercoat dilakukan dengan persyaratan sesuai yang
ditentukan dari pabrik yang bersangkutan
17. Cat akhir dapat dilakukan bila undercoat telah kering sempurna serta
mendapat persetujuan konsultan pengawas
18. Pengecatan dilakukan dengan menggunakan kuas yang bemutu baik atau
dengan spray
19. Bidang pengecatan harus rata sama warnanya

4.10.3. Pekerjaan Pengecatan Besi
a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya,
peralatan dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan



103
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

pekerjaan ini, hingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik
dan sempurna
2. Pekerjaan pengecatan ini dilakukan meliputi pengecatan permukaan besi /
baja yang nampak serta pada seluruh detail yang disebutkan / ditunjukkan
dalam gambar dan sesuai petunjuk Konsultan pengawas
b. Persyaratan Pekerjaan
1. Semua bahan cat yang digunakan adalah Cat Produk Patna Surabaya,
Mataram Surabaya (EMCO), Cat Utama atau produk lain yang setara.
2. Untuk mendapatkan hasil solid, pengecatan dilakukan dengan sistem spray.
3. Pengecatan dilakukan sampai memperoleh hasil pengecatan yang rata dan
sama tebalnya
4. Bahan yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan
dalam PUBI 1982 pasal 53, BS No. 3900 ; 1970 / 1971, AS. K 41 dan NI 4,
serta mengikuti ketentuan-ketentuan dari pabrik yang bersangkutan
5. Warna dan typenya akan ditentukan kemudian.

c. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Semua bidang pengecatan harus betul-betul rata, tidak terdapat cacat
(retak, lubang dan pecah-pecah)
2. Bidang permukaan pengecatan harus dibuat rata dan halus dengan bahan
amplas besi. Setelah memenuhi persyaratannya barulah siap untuk dimulai
pekerjaan pengecatan dengan persetujuan Konsultan pengawas
3. Pengecatan tidak dilakukan selama masih adanya perbaikan pekerjaan
pada bidang pengecatan.
4. Bidang pengecatan harus dalam keadaan kering serta bebas dari debu,
lemak, minyak dan kotoran-kotoran lain yang dapat merusak atau
mengurangi mutu pengecatan
5. Pengecatan dilakukan setelah mendapat persetujuan dari konsultan
pengawas serta jika seluruh pekerjaan pengelasan dan penyambungan
setelah selesai dan sempurna
6. Sebelum bahan dikirim ke lokasi pekerjaan, Kontraktor harus menyerahkan
/ mengirimkan contoh bahan dari 3 (tiga) macam hasil produk kepada
Konsultan pengawas selanjutnya akan diputuskan jenis bahan dan warna
yang akan digunakan, dan akan menginstruksikan kepada Kontraktor
selama tidak lebih dari 7 (tujuh) hari kalender setelah contoh bahan
diserahkan
7. Contoh bahan yang digunakan harus lengkap dengan label pabrik
pembuatnya



104
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

8. Contoh bahan yang telah disetujui, dipakai sebagai standart untuk
pemeriksaan / penerimaan bahan yang dikirim oleh kontraktor ke tempat
pekerjaan
9. Percobaan-percobaan bahan dan warna harus dilakukan oleh kontraktor
untuk mendapatkan persetujuan Konsultan pengawas sebelum pekerjaan
dimulai / dilakukan, serta pengerjaan sesuai dengan ketentuan-ketentuan
yang diisyaratkan oleh pabrik yang bersangkutan
10. Hasil pengerjaan harus baik, warna dan pola texture merata, tidak
terdapat noda-noda pada permukaan pengecatan. Harus dihindarkan
terjadinya, kerusakan akibat dari pekerjaan-pekerjaan lain
11. Kontraktor harus bertanggung jawab atas kesempurnaan dalam pengerjaan
dan perawatan / keberhasilan pekerjaan sampai penyerahan pekerjaan.
12. Bila terjadi ketidaksempurnaan dalam pengerjaan, atau kerusakan,
kontraktor harus memperbaiki / mengganti dengan bahan yang sama
mutunya tanpa adanya tambahan biaya.
13. Kontraktor harus menggunakan tenaga-tenaga kerja terampil /
berpengalaman dalam pelaksanaan pekerjaan pengecatan tersebut,
sehingga dapat tercapainya mutu pekerjaan yang baik dan sempurna.
14. Permukaan pengecatan setelah diamplas, setelah memperoleh permukaan
yang halus, rata dan bersih juga harus bebas dari karat.
15. Aduk dengan sempurna sebelum pemakaian, sampai jenuh.
16. Lakukan pekerjaan persiapan dari produk sesuai jenis yang disyaratkan di
atas atau sesuai persyaratan yang ditentukan oleh pabrik yang
bersangkutan.
17. Selanjutnya setelah pekerjaan persiapan dilakukan dengan baik, cat dasar
dilapiskan sampai rata dan sama tebal. Selanjutnya undercoat dilakukan
dengan persaratan sesuai yang ditentukan dari pabrik yang bersangkutan.
18. Cat akhir dapat dilakukan bila undercoat telah kering sempurna serta telah
mendapat persetujuan Konsultan pengawas.
19. Pengecatan dilakukan dengan menggunakan kuas yang bermutu baik atau
dengan spray.
20. Bidang pengecatan harus rata dan sama warnanya.

4.10.4. Pekerjaan Pengecatan Epoxy
a. Lingkup Pekerjaan
1. Termasuk dalam pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-
bahan peralatan dan alat-alat bantu lainya yang diperlukan dalam
pelaksanaan pekerjaan ini, hingga dapat dicapai hasil pekerjaan yang
bermutu baik dan sempurna.



105
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

2. Pekerjaan pengecatan ini dilakukan melilputi pengecatan permukaan
ruangan M & E serta di bawah reised floor yang nampak serta pada seluruh
detail yang disebutkan / ditunjukkan dalam gambar sdan sesuai dengan
petunjuk Direksi.

b. Persyaratan Bahan
1. Semua bahan cat yang digunakan adalah: Cat produksi ICI Paints atau
produk lain yang setara.
Primer : 1 lapis ICI epoxy white primer two pack R 580-xx, setebal
30.mikro, interval 16 jam.
Cat akhir : 3. lapis ICI epoxy finishs two pack setebal 3 x 30 Mikron,
interval 16 jam.

Pengecatan dilakukan sampai memperoleh hasil pengecatan yang rata dan
sama tebal.
2. Bahan yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan
dalam PUBI 1982. pasal 53, BS No. 3900 : 1970 / 1971, AS. K-41 dan NI.4
serta mengikuti ketentuan-ketentuan dari pabrik yang bersangkutan.
3. Warna akan ditentukan kemudian

c. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Semua bidang pengecatan harus betul-betul rata, tidak terdapat cacat
(retak, lubang dan pecah-pecah)
2. Bidang permukaan pengecatan harus dibuat rata dan halus dengan bahan
amplas besi dan setelah memenuhi persyaratan barulah siap untuk dimulai
pekerjaan pengecatan dengan persetujuan Direksi Lapangan
3. Pengecatan tidak dapat dilakukan selama masih adanya perbaikan
pekerjaan pada bidang pengecatan
4. Bidang pengecatan harus bebas dari debu, lemak, minyak dan kotoran-
kotoran lain yang dapat merusak atau mengurangi mutu pengecatan serta
dalam keadaan kering
5. Pengecatan dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Konsultan
Perencana serta pekerjaan instalasi didalamnya telah selesai dengan
sempurna
6. Sebelum bahan dikirim ke lokasi pekerjaan, Kontraktor harus menyerahkan
/ mengirimkan contoh bahan dari 3 (tiga) macam hasil produk kepada
Konsultan Pengawas, selanjutnya akan diputuskan jenis bahan dan warna
yang akan digunakan, dan akan mengintruksikan kepada Kontraktor selama
tidak lebih dari 7 (tujuh) hari Kalender setelah contoh bahan diserahkan



106
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

7. Contoh bahan yang digunakan harus lengkap dengan label pabrik
pembuatnya
8. Contoh bahan yang telah disetujui, dipakai sebagai standart untuk
pemeriksaan penerimaan bahan yang dikirim oleh Kontraktor ke tempat
pekerjaan
9. Percobaan-percobaan bahan dan warna harus dilakukan oleh kontraktor
untuk mendapatkan persetujuan konsultan perencana sebelum pekerjaan
dimulai / dilakukan serta pengerjaan sesuai dengan ketententuan-
ketentuan yang diisyaratkan oleh pabrik yang bersangkutan
10. Hasil pengerjaan harus baik, warna dan pola texture merata, tidak
terdapat noda-noda pada permukaan pengecatan, harus dihindarkan
terjadinya kerusakan akibat dari pekerjaan-pekerjaan lain
11. Kontrktor harus bertanggungjawab atas kesempurnaan dalam pengerjaan
dan perawatan / keberhasilan pekerjaan sampai penyerahan pekerjaan
12. Bila tidak terjadi kesempurnaan dalam pengerjaan atau kerusakan
kontraktor harus memperbaiki / mengganti dengan bahan yang sama
mutunya tanpa adanya tambahan biaya
13. Kontraktor harus menggunakan tenaga kerja terampil / berpengalaman
dalam pelaksanaan pekerjaan pengecatan tersebut sehingga dapat
tercapainya mutu pekerjaan baik yang sempurna
14. Permukaan pengecatan setelah diamplas selain memperoleh permukaan
yang halus, rata dan bersih juga harus bebas dari nyamuk
15. Aduk dengan sempurna sebelum pemakaian, sampai jenuh
16. Lakukan pekerjaan persiapan dari produk sesuai dengan jenis yang
diisyaratkan di atas atau sesuai persyaratan yang ditentukan oleh pabrik
yang bersangkutan
17. Selanjutnya setelah pekerjaan persiapan dilakukan dengan baik, cat dasar
dilapiskan sampai dan sama tebal, selanjutnya undercoat dilakukan dengan
persyaratan sesuai yang ditentukan dari pabrik yang bersangkutan
18. Cat akhir dapat dilakukan bila undercoat telah kering sempurna serta telah
mendapat persetujuan Konsultan Perancana
19. Pengecatan dilakukan dengan menggunakan kuas yang bermutu baik atau
dengan spry
20. Bidang pengecatan harus rata dan sama warnanya



107
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


PASAL 5. PEKERJAAN SITE DEVELOPMENT

5.1. Perkerasan Landscape
5.1.1. Umum
a. Perkerasan jalan dan tempat parkir ini dilaksanakan sesuai dengan luasan dan
ketinggian yang terlukis pada gambar rencana, termasuk dalam pekerjaan ini
adalah kerb-kerb pembatas / kanstin
b. Bila kedudukan tanah permukaan tanah yang tidak ada tidak sesuai dengan
kedudukan yang ditentukan maka pemborong berkewajiban untuk menggali atau
mengurug sesuai dengan ketinggian yang ditentukan
c. Struktur perkerasan disesuaikan dengan jenis bahan permukaan atasnya (lihat
gambar rencana), sedang bahan masing-masing lapisan struktur dapat ditinjau
pada ayat berikut

5.1.2. Bahan-Bahan
a. Bahan untuk lapisan pondasi : Pasir dan Batu (sirtu)
Sebagai lapisan dasar dipergunakan pasir batu yang bersih dari kotoran dan
lumpur diameter butiran batu tidak melebihi dari 5 cm.
b. Di atas urgan sirtu terdapat Lapisan Pasir dengan tebal 10 cm atau sesuai
gambar. Lapisan pasir ini harus merupakan pasir yang bersih dari zat organik atau
bersih dari bahan bahan yang dapat merusak perkerasan.
c. Pasir untuk Laying Course (Sana Bedding)
Pasir untuk Laying Course harus merupakan pasir yang tajam (sharp sand) dan
bersih, dengan kadar tanah atau sill tidak lebih dari 3 % (berat) dan tidak lebih
dari 15 % yang tertahan pada sieve 2.35 mm. Pasir tersebut pada waktu akan
digunakan harus dalam keadaan kering.
d. Lapisan atas :
Paving Block KW I K-300
- Struktur Perkerasan paving block ini berupa lapisan tersebut ayat 03.2 butir
a. 7 laying course tersebut butir c, sedangkan paving block ini dipasang pada
daerah-daerah area jalan, pendestrian dan jalan tempat parkir, atau sesuai
gambar.
- Bahan :
Sisi vertikal harus tegak lurus dengan permukaan atau paving dan dapat
saling mengunci satu sama lain dengan baik. Warna untuk jalan adalah abu-
abu atau sesuai gambar dengan kualitas No. 1, tebal 6 cm Mutu K-300 dan
produk setara disetujui oleh konsultan pengawas.




108
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


- Kuat Tekan
Kuat tekan rata-rata tidak boleh kurang dari 300 kg/cm
2
kuat tekan
speciment paving harus memenuhi persyaratan test speciment paving harus
memenuhi persyaratan test flexturan strenght sebesar minimal 60 kg/cm dan
jumlah sampel untuk 50.00 buah satuan adalah minimal 5 buah
- Bentuk
Bahan paving yang dipakai adalah paving block empat persegi panjang
dengan ukutan 105 x 210 x 80 mm (jumlah per m
2
44 buah), Bahan yang
digunakan untuk pengunci paving dipakai sebagai pengakhiran dalam
hubungannya paving dan kastin atau dengan bibit saluran adalah paving
khusus buatan pabrik.

5.1.3. Persiapan Pelaksanaan
a. Sebelum dilaksanakan lapisan dasar (sirtu), maka permukaan tanah di bawahnya
(top soil) harus dipadatkan secara mekanik hingga mempunyai kepadatan yang
cukup.
b. Sebagai struktur pertama (sub base) diurug dengan lapisan pasir dengan
ketebalan sesuai dengan gambar rencana, dipadatkan sehingga mempunyai
kepadatan yang cukup.
c. Sebagai urugan kedua (base) diurug Laying Course dilaksanakan sesuai dengan
ketebalan yang tercantum pada gambar rencana. Profil teratas dari base harus
mempunyai kemiringan sama dengan kemiringan crose fall, yaitu 1.5%
d. Pemasangan paving block paving dilaksanakan sesuai dengan pola yang terlukis
dalam gambar rencana. Permukaan perkerasan jika sudah selesai pemasangan
paving block paving block harus rapi, rata dan sama susunannya, seluruh
permukaan harus dapat mengalirkan air dengan sempurna
e. Pemotongan harus menggunakan mesin pemotong paving yang khusus, seperti
yang disarankan pabrik yang bersangkutan
5.1.4. Penyelesaian Tepi Perkerasan
a. Sisi tepi perkerasan dipasang kanstin beton pracetak dengan bentuk pola
pemasangannya sesuai dengan gambar rencana. Beton pra cetak dibuat dengan
campuran 1 pc : 3 ps : 5 kp dipasang lurus dan sejajar.
b. Berm yang berfungsi sebagai tanaman harus diratakan serta dipadatkan dan
diupayakan tidak terjadi genangan air.
5.1.5. Perlengkapan Peralatan
Peralatan yang dibutuhkan harus dapat dipersiapkan sebelum pemasangan Paving
block Paving dimulai adalah :





109
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


a. Mesin pemadat Paving (Plau Vibrator)
Harus mempunyai luas dasar 0.3 0.5 m
2
dengan centrifugal force kira-kira 1.9
2.00 ton
b. Alat pemotong Paving (Cutter)
c. Kayu dan papan panjang 3.00 m yang sudah diserut rata untuk jidar dan sapu
asphalt
























110
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


PASAL 6. PEKERJAAN MEKANIKAL (PLUMBING)


Umum
6.1.1. Syarat-Syarat Pekerjaan Mekanikal
a. Pada saat akan melaksanakan pekerjaan, pemborong wajib menyerahkan terlebih
dahulu gambar kerja (shop drawing) guna mendapatkan persetujuan dari direksi.
Gambar-gambar kerja tersebut diserahkan minimal 1 minggu sebelum pekerjaan
dimulai.
b. Sebelum melaksanakan pekerjaan, kontraktor harus membuat rencana kerja
dengan jadwal disesuaikan dengan kontraktor yang lain. Apabila terjadi suatu
perubahan, kontraktor wajib memberikan pemberitahuan secara tertulis kepada
pengawas dan mengajukan saran-saran perubahan/perbaikan.
c. Apabila terjadi suatu keadaan dimana pemborong tidak mungkin menghasilkan
suatu pekerjaan dengan kualitas baik, maka kontraktor wajib memberikan saran-
saran secara tertulis kepada pengawas untuk mengadakan perubahan-perubahan
perbaikan. Apabila hal ini tidak dilakukan, maka kontraktor tetap bertanggung
jawab terhadap kerugian yang mungkin ditimbulkan.
d. Selama pelaksanaan, kontraktor wajib memberikan tanda berupa tinta merah
terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lapangan di dalam shop drawing.
e. Kontraktor harus menyerahkan kepada direksi gambar-gambar instalasi
sesungguhnya sebagaimana yang terpasang dalam bangunan (as built drawing) yang
memuat lengkap terhadap segala perubahan. Terdiri dari satu set di atas kertas
kalkir dan dua set gambar copy.
f. Kontraktor harus membuat dan melaksanakan program pelatihan (training) bagi
operator yang ditunjuk oleh pemilik, baik mengenai cara penggunaan maupun
pemeliharaan sistem secara keseluruhan.
g. Kontraktor harus menyerahkan kepada direksi buku petunjuk (manual) mengenai
cara pengoperasian dan pemeliharaan system secara keseluruhan. Buku ini harus
diserahkan rangkap tiga.
h. Pemasangan peralatan harus sesuai dengan rekomendasi pabrik pembuat peralatan
tersebut. Oleh karena itu, kontraktor harus membuat dan menyerahkan gambar-
gambar rencana instalasi secara rinci sebelum melaksanakan pekerjaan.
i. Syarat-syarat untuk penerimaan bahan-bahan, peralatan-peralatan, cara-cara
pemasangan dan kualitas pengerjaan harus sesuai dengan satu atau beberapa
standar di bawah ini :





111
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


- Standar Nasional Indonesia(SNI) - NEPA
- ASTM

- ANSI
- JSI

6.2. Pekerjaan Plumbing
6.2.1. Lingkup Pekerjaan
a. System pemipaan air bersih didalam bangunan seperti ditunjukan dalam gambar
mekanikal lengkap dengan katup penyetop, elbow, sambungan T, fitting dan
perlengkapan lain yang diperlukan.
b. Pompa sumur dalam yang akan melayani seluruh bangunan dengan kapasitas serta
headnya sebagaimana ditunjukan oleh gambar mekanikal.
c. Semua panel control dan panel listrik yang dibutuhkan untuk menjalankan system
distribusi air bersih.
d. Semua alat plambing (fixture) yang direncanakan dipasang di dalam bangunan,
termasuk fitting, kran dan alat-alat lain yang diperlukan.
e. System pemipaan air kotor dari setiap fixture di dalam bangunan hingga ke
jaringan pembuangan air kotor, lengkap dengan pipa ven beserta penunjangnya
seperti ditunjukan dalam gambar mekanikal.

6.2.2. Bahan Dan Peralatan
a. Pipa air bersih
Pipa distribusi yang ditanam di dalam tanah dalam shaff dan langit-langit, maupun
pipa cabang untuk distribusi air bersih ke setiap alat plambing(fixture) terbuat dari
pipa PVC Klas AW. Pipa PVC setara dari merk : Wavin. Sedangkan untuk pipa
distribusi air bersih dari pompa (pipa tekan) menggunakan Galvanizet Stell
Pipe(GSP) standar ASTM klas Medium A. pipa yang tertanam di dalam tanah harus
dilapisi tar coating di sebelah luar. Pipa bukan di dalam tanah diberi cat pelapis
meni (Zinchromate) rangkap dua dan dicat finis dengan cat khusus warna biru. Pipa
setara dari merk : Bakrie,Radjin, Spindo, ISTW
b. Pipa air kotor padat
Pipa air kotor dari setiap alat plambing (fixture) ke pipa tegak yang terletak di
shaft terbuat dari pipa PVC klas D. Pipa PVC setara dari merk : Wavin.
c. Pipa air bekas cair
Pipa air kotor dari setiap alat plambing(fixture) ke pipa tegak yang terletak di shaft
terbuat dari pipa PVC klas D. Pipa PVC setara dari merk : Wavin.
d. Pipa ven
Pipa air kotor dari setiap alat plambing(fixture) ke pipa tegak yang terletak di shaft
terbuat dari pipa PVC klas AW. Pipa PVC setara dari merk : Wavin




112
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


e. Pipa air hujan
Pipa untuk air hujan terbuat dari pipa PVC klas D. Pipa PVC setara dari merk :
Wavin
f. Setiap bahan pipa, fitting, alat plambing dan peralatan-peralatan yang akan
dipasang pada instalasi harus memiliki merk yang jelas dari pabrik pembuatnya.

6.2.3. Perancangan
a. Pengisian Air bersih di suply dari Tandon eksisting kemudian didistribusikan secara
gravitasi ke setiap alat plambing yang membutuhkan air bersih.

6.2.4. Pemasangan
a. Pelaksanaan pemasangan harus direncanakan dengan baik, dan semua
pembongkaran bagian-bagian bangunan lainya hanya boleh dilaksanakan setelah
mendapatkan ijin tertulis dari konsultan pengawas. Gambar-gambar pemasangan
harus dibuat secara rinci oleh kontraktor. Hal ini agar dapat diketahui dengan tepat
letak/ukuran lubang-lubang pada dinding yang diperlukan untuk jalur-jalur pipa.
Kontraktor bertanggung jawab atas ukuran (dimensi) dan lokasi lubang-lubang
tersebut. Apabila diperlukan, dilakukan pembobokan/penambalan tanpa tambahan
biaya.
b. Kontraktor bertanggung jawab atas penyediaan lokasi pemasangan yang tepat.
Pemasangan pada lokasi bangunan yang dicor dengan beton dilakukan oleh
kontraktor struktur, atas petunjuk kontraktor plambing.
c. Selama pemasangan berlangsung, kontraktor harus menutup ujung pipa yang
terbuka untuk mencegah tanah, debu, dan kotoran lain masuk ke dalam pipa.
d. Semua sambungan-sambungan yang menghubungkan pipa dengan ukuran yang
berbeda harus menggunakan reducing fitting. Sedapat mungkin dilaksanakan
belokan-belokan dengan jenis long radius. Belokan-belokan short radius hanya
boleh digunakan apabila kondisi setempat tidak memungkinkan memakai long
radius, dan kontraktor harus memberitahukan hal ini kepada pengawas. Fiting dan
alat alat yang menimbulkan tahanan aliran yang tidak wajar tidak boleh
digunakan.
e. Penggantung atau penumpu pipa harus terikat secara kuat pada bangunan dengan
menggunakan Dynabolt atau fischer dilengkapi dengan kontruksi baja bila memang
diperlukan.
f. Setiap pipa cabang utama yang masuk ke lantai harus dilengkapi dengan katup
penyetop (Gate Valve).
g. Semua peralatan dan perlengkapan yang diperlukan dalam pekerjaan ini harus
disediakan dan dilaksanakan oleh kontraktor tanpa menuntut biaya tambahan.




113
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


6.2.5. Pengujian
a. Setelah pipa dipasang, seluruh jaringan pipa air bersih harus diuji dengan tekanan
uji sebesar 2 (dua) kali tekanan kerja (Working Pressure) selama paling kurang 12
(duabelas) jam tanpa mengalami kebocoran.
b. Apabila suatu bagian dari pipa akan ditutup oleh tembok atau kontruksi bangunan
lainya, maka bagian tersebut harus diuji dengan cara yang sama seperti yang
tertulis diatas sebelum ditutup dengan tembok atau konstruksi bangunan lainya.
c. Kontraktor harus menguji semua motor yang telah terpasang pada beban normal
dan menyerahkan hasil pengujian kepada direksi untuk arsip pemberi tugas.
d. Kontraktor harus melakukan penyetelan yang perlu pada semua alat-alat
pengaturan otomatis.
e. Apabila pada waktu pemeriksaan atau pengujian ada kerusakan maka kontraktor
harus mengganti bagian yang rusak tersebut dan pengujian diulang sampai hasil
pengujianya diterima oleh pengawas.
f. Penggantian bagian yang rusak tersebut harus dengan yang baru. Penambalan
dengan bahan apapun tidak diperkenankan.

6.2.6. Persetujuan Bahan dan Peralatan
a. Dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah kontraktor memperoleh
kontrak pekerjaan, kontraktor harus mengajukan daftar yang lengkap dari pabrik-
pabrik atau perusahaan-perusahaan yang membuat atau memproduksi alat atau
bahan yang akan dipasang untuk memperoleh persetujuan dari Pemberi Tugas.
b. Setelah daftar tersebut disetujui, kontraktor harus menyerahkan brosur-brosur dari
alat/bahan yang akan dipakai untuk mendapatkan persetujuan dari pengawas.
c. Kontraktor bertanggung jawab atas pelaksanaan dan pembiayaan yang perlu karena
timbulnya perubahan-perubahan dari contoh bahan-bahan yang akan dipasang dan
atau brosur-brosur untuk mendapatkan persetujuan dari pengawas.

6.3. PEKERJAAN PENGADAAN FIRE ALARM PROTECTION
6.1.1 Lingkup Pekerjaan
Pada pekerjaan fire alarm protection terdapat beberapa pekerjaan diantaranya
pengadaan, pemasangan, serta uji coba fire alarm protection hingga bisa
diopersionalkan. Apabila terjadi kerusakan maka perbaikan dapat dilakukan selama
masa pemeliharaan belum berakhir. Untuk lebih memperjelas lingkup pekerjaan dari
fire alarm protection maka berikut ini ada beberapa lingkup pekerjaan yang harus
dilaksanakan. Pekerjan tersebut meliputi:






114
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


a. Pemasangan APAR (Alat Pemadam Api Ringan).
b. Testing Commissioning yang dilakukan oleh tenaga ahli fire alarm protection atau
dari teknisi produsen pembuat fire alarm protection atau pihak yang berwenang
dari Depnaker.

6.2.1 Persyaratan Instalasi.
a. Untuk instalasi sistem mekanik dari fire alarm protection harus dipastikan dalam
kondisi sesuai dengan ketentuan yang dibuat oleh produsen yang meliputi cara
pemasangan dan jenis bahan yang digunakan.
b. Dalam pemasangan diwajib kan mengikuti aturan-aturan yang berlaku, baik yang
dikeluarkan oleh pihak produsen atau instasi yang terkait dengan pekerjaan fire
alarm protection.

6.3.1 Pengujian
a. Kontraktor harus dapat memperagakan bahwa seluruh sistem dapat bekerja
dengan sempurna dan sesuai seperti yang dimaksud.
b. Jadwal waktu tentang keperluan pengujian dan caracara pelaksanaan harus
diserahkan kepada pihak pengawas selambatlambatnya 14 hari sebelum
pengujian diadakan.
c. Terhadap kegagalan pengujian, kontrator bertanggung jawab untuk
melaksanakan penggantian bahan atau memperbaikinya menurut pendapat
pengawas tanpa adanya tambahan biaya.

6.4.1 Gambar-Gambar Kerja
Kontraktor harus membuat gambar kerja ( shop drawing ) yang menunjukkan
rangkaian pemasangan yang lengkap, dimensidimensi dari peralatan, detail-detail
dan sebagainya. Gambar gambar kerja, katalog, brosur dan type peralatan yang
akan dipasang harus diserahkan kepada pengawas 14 hari sebelum pemasangan.

6.5.1 Spesifikasi teknis bahan dan alat
Spesifikasi bahan dan alat yang digunakan untuk jenis pekerjaan pengadaan
Fire Extinguisher ini digunakan Merk Blue, Apartindo, atau setara.











115
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


PASAL 7. PEKERJAAN ELEKTRIKAL

7.1. Pekerjaan Kabel Listrik Pada Sistem Distribusi Tegangan Rendah
7.1.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi pengadaan semua tenaga pekerja, bahan dan
peralatan, pemasangan, pemyambungan, pengujian dan perbaikan selama masa
pemeliharaan, untuk pekerjaan listrik tegangan rendah pada Kegiatan Penambahan
Ruang, Pengatapan & Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi.
Adapun lingkup pekerjaan yang harus dikerjakan meliputi:
1. Pengadaan dan pemasangan kabel baik kabel feeder (power) ataupun kabel
instalasi penerangan.
2. Untuk kabel Feeder (power) menggunakan jenis kabel NYFGbY atau NYY
sedangkan untuk kabel instalasi menggunakan kabel NYA, NYM dengan
diameter kabel disesuaikan dengan gambar rencana.
3. Untuk jenis kabel NYFGbY pemasangan harus ditanam didalam tanah dengan
kedalan minimal 50 cm dengan pelindung minimal batu bata diatas kabel.
Sedangkan kabel NYY bisa di tanam ataupun di letakkan bebas diudara.
4. Untuk jenis kabel NYA pemasangan kabel harus didalam pipa PVC dengan
diameter minimal pipa 5/8 inchi. Sedangkan untuk kabel NYM pemasangan bisa
didalam pipa maupun bebas diudara, asalkan pemasngan terlihat rapi dan kuat
dari tarikan.
5. Untuk kabel tegangan tinggi menggunakan kabel tanah berpelindung baja
(NYFGbY), atau tanpa pelindung baja (NYY) dengan posisi ditanam, yang
menghubungkan dari panel ruang Genset ke tiap tiap unit bangunan. Sedangkan
besarnya penampang disesuaikan dengan kebutuhan daya bangunan tersebut.
Merk yang dapat diterima adalah supreme, focus, eterna atau setara.
6. Untuk kabel tegangan rendah menggunakan kabel NYA atau NYM. Untuk kabel
NYA pemasangan dalam pipa PVC 5/8 inchi, sedangkan kabel NYM bisa dipasang
dalam pipa maupun di udara bebas. Kabel tegangan rendah di gunakan untuk
instalasi penerangan dan instalasi kotak kontak dengan diameter minimal kabel
3 x 2.5 mm2. Merk yang dapat diterima adalah supreme, focus, eterna atau
setara.

7.1.2. Gambar-Gambar Rencana
Gambar-gambar elektrikal menunjukkan secara umum tata letak dari
peralatan-peralatan seperti : panel, jalur kabel, lampu dan lain-lain. Penyesuaian
harus dilakukan di lapangan karena keadaan sebenarnya dari lokasi, jarak-jarak dan
ketinggian ditentukan oleh kondisi lapangan.



116
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


a. Gambar-gambar kerja (shop drawing)
Pemborong harus membuat gambar-gambar kerja (shop drawing) yang
menunjukkan jalur pemasangan kabel yang lengkap dan diameter kabel yang
digunakan
b. Gambar-gambar kerja dan juga catalog, brosur dan tipe dari bahan kabel yang
akan dipasang harus diserahkan kepada konsultan pengawas untuk diperiksa.
Shop drawing harus sudah diserahkan kepada pengawas 14 hari sebelum
pemasangan.

7.1.3. Gambar-Gambar Sesuai Pelaksanaan (Asbuilt Drawing)
Pemborong harus membuat catatan yang cermat dari penyesuaian-penyesuaian
pelaksanaan pekerjaan penarikan maupun instalasi kabel di lapangan.
Catatan-catatan tersebut harus dituangkan dalam satu set lengkap gambar
(kalkir) dan tiga set lengkap blue print sebagai gambar-gambar sesuai pelaksanaan
(as built drawing). As built drawing harus diserahkan kepada direksi segera setelah
pekerjaan selesai.

7.1.4. Standart dan Peraturan
Seluruh pekerjaan instalasi elektrikal harus dilaksanakan mengikuti standart
dalam PUIL terbitan terakhir (2000), SPLN, SII atau standart-standart internasiaonal
yang tidak bertentangan dangan PUIL.
Disamping itu peraturan/hukum daerah setempat yang ada hubungannya
dengan pekerjaan ini harus ditaati pula. Surat ijin bekerja sebagai instalatir dari
kelas yang sesuai dengan pekerjaan ini harus dimiliki secara sah oleh pemborong,
satu copy surat ijin tersebut harus diserahkan kepada direksi segera setelah
pekerjaan selesai.

7.1.5. Pemotongan Dan Pembobokan (Cutting & Patching)
Pemborong bertanggung jawab atas penyelesaian/penyempurnaan kembali
semua pemotongan dan pembobokan dari setiap konstruksi bangunan yang
diperlukan untuk pekerjaan pemasangan instalasi elektrikal ini.
Kecuali hanya apabila dinyatakan lain pada gambar, maka setiap pemotongan
atau pemasangan harus mendapat persetujuan tertulis dari pengawas.
Untuk sejauh mungkin menghindari adanya cutting, semua pekerjaan
pemasangan insert, sleeves, raceway atau lubang-lubang harus dilaksanakan selama
tahap konstruksi.






117
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


7.1.6. Sleeves dan insert
Semua sleeves melalui lantai beton dan pada yang perlu untuk pemasangan
instalasi elektrikal harus dilaksanakan oleh pemborong. Sleeves cadangan harus
dibungkus dan ditimbun dengan memakai grout.
Semua insert beton yang diperlukan untuk pemasangan instalasi peralatan
listrik, termasuk inserts untuk conduits, hunger dan support harus dilaksanakan oleh
pemborong.

7.1.7. Proteksi
Semua bahan dan peralatan sebelum dan sesudah pemasangan harus dilindungi
terhadap cuaca dan harus dijaga selalu dalam keadaan bersih, semua ujung-ujung
conduit dan bagian-bagian peralatan yang tetap tidak dihubungkan harus disumbat
atau ditutup untuk mencegah masuknya kotoran.
7.1.8. Pembersihan Site
Pemborong harus mengusahakan daerah kerja mereka selalu dalam keadaan
bersih dan rapi selama pemasangan instalasi elektrikal ini. Pada saat pelaksanaan
pekerjaan instalasi ini selesai pemborong harus memeriksa kembali keseluruhan
pekerjaan dalam keadaan rapi, bersih dan siap pakai.

7.1.9. Material Bahan dan Peralatan Yang Digunakan
Bahan-bahan dan peralatan yang akan dipasang harus 100% baru, dalam keadaan
baik dan sesuai dengan yang dimaksud. Cotoh bahan, brosur dan gambar kerja (shop
drawings) harus diserahkan kepada pengawas 14 hari sebelum pemasangan.
Pemborong harus menempatkan secara tugas penuh (full time) seorang koordinator
yang ahli dalam bidangnya, berpengalaman dalam pekerjaan serupa dan dapat
sepenuhnya mewakili pemborong dengan predikat baik. Tenaga pelaksana harus
menangani pekerjaan-pekerjaan ini secara aman, kuat dan rapih.
a. Material
2. Kabel daya tegangan rendah
a. Kabel tanah TR berpelindung pita baja.
- Type : NYFGbY
- Standart : PUIL 2000
SII 0211-78
SPLN 43-2, 1981
- Konstruksi
Berinti tiga, empat atau lima, konduktor dari bahan tembaga solid
atau standart, bentuk bulat atau sektorial, insulasi PVC, selubung
sebelah dalam dari PVC, lapisan pelindung dari galvanized flat steel
wire, dan lapisan terluar adalah PVC sheathead warna hitam. Warna



118
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


insulasi PVC masing-masing inti harus mengikuti kode dalam PUIL 2000
sebagai berikut :
+ phasa : merah, kuning, dan hitam
+ netral : biru
+ ground : hijau kuning

- Tanda Pengenal
Pada sheath dari kabel harus ada tanda pengenal yang tidak dapat
dihapus sebagai berikut :
a. Nominal voltage.
b. Type
c. Ukuran nominal
d. Tahun pembuatan
e. Nama pabrik pembuat / merk dagang
- Pemeriksaan dan Pengujiaan
Pemeriksaan dan pengujiaan terhadap kabel yang akan dipasang
meliputi :
- Pemeriksaan secara visual (appearance inspection)
- Pengujiaan tahanan dari penghantar
- Pengujiaan tahanan insulasi
- Kabel harus buatan pabrik dalam negeri seperti supreme, kabel
metal, kabelindo, tranka atau setara

a. Kabel TR tanpa pelindung baja.
- Type : NYY
- Standart : PUIL 2000
SII 0211-78
SILN 43-1,1981
- Konstruksi
Berinti tiga, empat atau lima, konduktor dari bahan tembaga solid
atau standart, bentuk bulat atau sektoral, insulasi PVC, selubung
sebelah dalam dari PVC, selubung sebelah dalam dari PVC, dan
selubung terluar dari PVC warna hitam, warna insulasi PVC masing-
masing inti harus mengikuti kode warna dalam PUIL 2000 sebagai
berikut :
+ Phasa : merah, kuning, dan hitam.
+ Netral : biru.
+ Ground : hijau kuning.




119
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


- Tanda Pengenal
Pada sheat dari kabel harus diberi tanda pengenal yang tidak dapat
dihapus sebagai berikut :
a. Nominal voltage
b. Type
c. Ukuran nominal penghantar.
d. Tahun pembuatan
e. Nama pembuat/merk dagang

- Pemeriksaan dan pengujian.
Pemerikasaan dan pengujian terhadap kabel yang akan dipasang
meliputi :
- Pemeriksaan secara visual (appearance inspenction)
- Pengujian tahanan dari penghantar
- Pengujian tahanan insulasi.
- Kabel harus buatan pabrik dalam negeri seperti supreme, kabel
metal, kabelindo atau tranka atau setara.

b. Kabel TR dengan pelindung PVC
- Type : NYA
- Standart : PUIL 2000
SII 0211-78
SILN 43-1,1981
- Konstruksi
Berinti tunggal dari bahan tembaga solid atau standart, bentuk
bulat, insulasi PVC, warna insulasi PVC terdiri dari merah, kuning,
hitam, biru serta hijau.

- Tanda Pengenal
Pada sheat dari kabel harus diberi tanda pengenal yang tidak dapat
dihapus sebagai berikut :
1. Nominal voltage.
2. Type.
3. Ukuran nominal penghantar.
4. Tahun pembuatan.
5. Nama pembuat/merk dagang.






120
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


- Pemeriksaan dan pengujian.
Pemerikasaan dan pengujian terhadap kabel yang akan dipasang
meliputi :
- Pemeriksaan secara visual (appearance inspenction)
- Pengujian tahanan dari penghantar
- Pengujian tahanan insulasi.
- Kabel harus buatan pabrik dalam negeri seperti supreme, kabel
metal, kabelindo atau tranka atau setara.

c. Kabel TR dengan pelindung PVC
Type : NYM
- Standart : PUIL 2000
SII 0211-78
SILN 43-1,1981
- Konstruksi
Berinti dua, tiga, atau empat, konduktor dari bahan tembaga solid
atau standart, bentuk bulat, insulasi PVC, selubung sebelah dalam
dari PVC, dan selubung terluar dari PVC warna putih, warna insulasi
PVC masing-masing inti harus mengikuti kode warna dalam PUIL 2000
sebagai berikut :
+ Phasa : merah, kuning, dan hitam.
+ Netral : biru.
+ Ground : hijau kuning.

- Tanda Pengenal
Pada sheat dari kabel harus diberi tanda pengenal yang tidak dapat
dihapus sebagai berikut :
1 Nominal voltage
2 Type
3 Ukuran nominal penghantar
4 Tahun pembuatan
5 Nama pembuat/merk dagang

- Pemeriksaan dan pengujian.
Pemerikasaan dan pengujian terhadap kabel yang akan dipasang
meliputi :
- Pemeriksaan secara visual (appearance inspenction)
- Pengujian tahanan dari penghantar
- Pengujian tahanan insulasi



121
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


- Kabel harus buatan pabrik dalam negeri seperti supreme, kabel
metal, kabelindo atau tranka atau setara.

7.1.10. Spesifikasi bahan instalasi kabel
Dalam proyek Penambahan Ruang, Pengatapan & Peralatan Gedung Olah Raga
(GOR) Ngawi ini untuk semua jenis kabel yang digunakan menggunakan spesifikasi
seperti dibawah ini:
1. Pekarjaan kabel Feeder
a. Kabel NYFGbY : Supreme, Blitz, Kabelindo, atau setara.
b. Kabel NYY : Supreme, Blitz, Kabelindo, atau setara.

2. Pekerjaan kabel instalasi penerangan dan tenaga
a. Kabel NYA : Supreme, Blitz, Kabelindo, atau setara.
b. Kabel NYM : Supreme, Blitz, Kabelindo, atau setara.

7.2. PEKERJAAN PANEL LISTRIK
LINGKUP PEKERJAAN
Dalam pekerjaan panel listrik terdapat beberapa hal yang harus di kerjakan agar
panel listrik dapat digunakan sesuai fungsinya. Pekerjaan ini meliputi pengadaan,
pemasangan, penyambungan (wiring instalasi) serta perbaikan (bila diperlukan)
selama masa pemeliharaan. Penambahan peralatan dan material yang tidak
disebutkan dalam spesifikasi ini maupun pengadaaan dan pemasangan dari material
yang kebetulan tidak disebutkan, akan tetapi akan secara umum diperlukan agar
dapat diperoleh sistem panel listrik yang baik dan handal, maka peralatan atau
bahan tersebut dapat ditambahkan.
Untuk lebih jelasnya maka berikut ini lingkup pekerjaan panel listrik yang harus
di kerjakan diantaranya:
a. Pengadaan dan pemasangan panel listrik .
b. Pengadaan panel meliputi panel LVMDP, panel MDP, SDP / sesuai gambar.
c. Pengadaan dan pemasangan komponen instalasi panel listrik.
d. Mengadakan uji coba instalasi panel-panel yang berfungsi sebagai panel kontrol.

Standart panel tegangan rendah
a. Type
Metal enclosed, air insulating medium, fixed type, manually operated,
mechanically interlocked. Panel dan komponen-komponennya harus difinish
untuk penggunaan di daerah tropis ( panas dan lembab, pasangan
dalam/indoor use)




122
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi



b. Standart
Panel switchgear harus dibuat sesuai dengan standart IEC atau standar-
standar lainya (NFC, VDE/DIN, NEMA , BS, JIS)
c. Konstruksi
- Switchgear harus dapat dioperasikan dengan aman oleh petugas, misalnya
pengoperasian sakeler-sakelar daya, pemutus tenaga, pemasangan kembali
indicator-indicator gangguan, pengecekan tegangan, dan sebagainya.
- Switchgear terdiri dari lemari-lemari yang akan digunakan untuk pemasangan
peralatan-peralatan dan penyambungan. Lemari-lemari panel hanya
mempunyai bukaan dari sisi sebelah depan.
- Lemari untuk panel board harus mempunyai ukuran yang proporsional
seperti dipersyaratkan untuk panel board dan sesuai kebutuhan, sehingga
untuk sejumlah komponen panel maupun untuk sejumlah kabel yang dipakai
tidak menjadi terlalu sesak.
- Kabinet panel terbuat dari bahan pelat baja dengan ketebalan minimum 2
mm. Panel-panel floor mounting / free standing harus diberi penguat rangka
dari baja siku atau kanan dengan ketebalan 3 mm, mempunyai ukuran
standar sehingga dapat dipertukarkan dan diperluas dengan mudah.
- Pintu panel dilengkapi dengan engsel type terbenam, handle (catch) dan
kunci (lock). Kunci panel-panel listrik harus memakai kunci jenis masterkey.
- Finishing panel harus dilaksanakan sebagai berikut semua mur dan baut harus
tahan karat. Semua bagian dari baja harus bersih dan sandblasted setelah
pengelasan, kemudian secepatnya dilindungi terhadap karat dengan cara
galvanisasi atau chromium plating atau dengan zinc chromate primer.
Pengecatan finishing dilakukan dengan dua lapis cat oven warna abu-abu
atau warna lain yang disetujui oleh pengawas.

d. Komponen-komponen panel
- Busbar
Main bus harus dipasang horizontal disebelah atas.
Main dan tap busbar harus dari bahan tembaga dengan konduktifitas tinggi
(98% atau lebih besar), dan harus mempunyai kuat hantar arus kontinu yang
standart dan sesuai dengan yang dimaksud pada gambar. Busbar harus dicat
sesuai dengan kode warna dalam PUIL sebagai berikut :
+ phasa : merah, kuning dan hitam.
+ netral : biru
+ ground : hijau, kuning




123
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


Busbar pentanahan terletak disebelah bawah, dimana akan diadakan
penyambungan dengan penghantar pentanahan terhadap lemari panel,
rangka dan badan peralatan dari metal, conduits dan lain-lain.

- Circuit Breaker (CB)
CB kapasitas sampai dengan 100A adalah type mini circuit breaker (MCB)
untuk kapasitas lebih besar dari 100A hingga 300A harus dari type adjusted
case (MCCB) dan fixed/bolt-on. Handel pengoperasian CB harus dapat secara
jelas menunjukkan apakah CB pada posisi on, off atau triped .
CB harus mempunyai besaran-besaran ampere frame (AF) dan ampere trip
(AT) pada temperatur keliling 40
o
C, 600V ratings dan kemampuan pemutusan
arus hubungan singkat minimum pada 380V (RMS symmetrical) sesuai seperti
yang tercantum dalam gambar.
Main CB yang harus dilengkapi dengan pengaman terhadap gangguan ke tanah
(ground fault protection). Produk yang dapat diterima adalah merk MG , AEG
atau setara.
Untuk menjaga originalitas produk, maka semua CB harus disertai sertifikat
keaslian barang dari produsen atau agen resmi yang ditunjuk.

- Magnetic Contactor
Magnetic contactor harus dapat bekerja tanpa getaran atau dengung.
Kumparan contactor harus sesuai untuk tegangan 220 volts, 50 Hz dan tahan
bekerja continue pada 10% tegangan lebih tinggi dan harus dapat pula
menutup dengan sempurna pada 85% tegangan nominal.
Contraktor harus type heavy-duty, kemampuan minimal making current
sebesar 15% arus nominal, dan kemampuan electrical operation sebanyak
2.000.000 kali.

- Selektor Switch
Selector switcher harus mempunyai rating 10 A pada 300 V, type heavy duty
dan kedap minyak.


- Lampu Indikator / Pilot lamp
Lampu indikator harus type full voltage, heavy duty dan kedap minyak.
Lampu indikator harus dilapisi nickel dengan lensa dari gelas prismatic,
pemasangan secara ulir dengan diameter 2.5 mm persegi empat, lampu
harus type long life.




124
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi



- Terminal Block
Terminal block untuk kabel-kabel control harus diberikan batas penghalang
diantaranya, dengan rating 600 volts minimum.
Terminal block harus disediakan sesuai kebutuhan ditambah 20% terminals
untuk cadangan.

- Name Plate
Name plate harus terbuat dari plastic gravis berlaminasi, putih bagian dalam
dan bagian hitam pada bagian permukaan.
Huruf-huruf harus huruf block dengan ukuran minimum 4 mm.

- Kabel Kontrol
Control circuit conductor harus jenis kabel fleksibel dengan penampang
konduktor tidak kurang dari 2.5 mm2, rating tegangan 600 V .
Kabel kontrol harus buatan pabrik kabel dalam negeri seperti supreme, kabel
metal, kabelindo dan tranka.

e. Pengawatan (Internal Wiring )
Pengawatan harus dilakukan di pabrik pembuat panel secara sistematik
dan rapih. Semua hubungan kawat harus dilakukan melalui penghubung /
terminal khusus.
Ujung kabel harus dilengkapi dengan sepatu kabel (Scun) dan hubungan
keduanya diperkuat dengan cara dipres.
Hubungan antara sepatu kabel dan terminal harus dengan mur dan baut
serta dilengkapi dengan ring yang bergerigi tepinya untuk menghindari
kemungkinan hubungan menjadi longgar. Pengawatan dari peralatan-peralatan
yang dipasang pada pintu panel yang menuju pada satu kompartemen harus
digabung dalam satu bendel yang fleksibel dan diikat kuat-kuat pada pintu dan
rangka panel untuk
menghindari gejala pemutaran pada terminal kabel control. Interwiring
harus kontinu dari terminal ke terminal tanpa sambungan, dan setiap kabel
control harus diberikan label bernomor yang harus dicantumkan pada gambar-
gambar kerja (shop drawing).

f. Pemeriksaan dan Pengujiaan
Pemeriksaan dan pengujiaan meliputi :
1. Pemeriksaan secara visual ( apperence inspection ) terhadap kelengkapan
peralatan apakah sudah sesuai dengan yang dimaksud.



125
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi

2. Pemeriksaan alat-alat interlock dan fungsi kerja handle.

3. Pemeriksaan kekuatan mekanis dari handel dan alat interlock
4. Pengujian tahanan insulasi.
5. Pengujian kontinuitas rangkaian.
6. Pengujian dengan tegangan.

7.3. PEKERJAAN LAMPU DAN KOTAK KONTAK
7.3.1 Lingkup Pekerjaan.
Dalam pekerjaan instalasi lampu dan kotak kontak terdapat beberapa hal
yang harus di kerjakan agar sistim penerangan dan kotak kontak dapat
digunakan sesuai fungsinya. Pekerjaan ini meliputi pengadaan, pemasangan,
penyambungan (wiring instalasi) instalasi lampu dan kotak kontak serta
perbaikan (bila diperlukan) selama masa pemeliharaan. Penambahan peralatan
dan material yang tidak disebutkan dalam spesifikasi ini maupun pengadaaan dan
pemasangan dari material yang kebetulan tidak disebutkan, akan tetapi akan
secara umum diperlukan agar dapat diperoleh kondisi lampu yang baik, maka
peralatan atau bahan tersebut dapat ditambahkan.
Untuk lebih jelasnya maka berikut ini lingkup pekerjaan lampu dan kotak
kontak yang harus di kerjakan diantaranya:
a. Pengadaan dan pemasangan lampu serta kotak kontak .
b. Pengadaan dan pemasangan bahan penunjang instalasi listrik
antara lain kabel, pipa PVC, T dos, lasdop, isolasi, ebow, dan lain lain.

7.3.2 Spesifikasi Lampu Penerangan
1. Lampu dan armaturnya harus sesuai dengan yang dimaksudkan, seperti yang
dilukiskan dalam gambar-gambar elektrikal.
Semua armatur lampu yang terbuat dari metal harus mempunyai terminal
penahan (grounding).
Berikut ini adalah lampu lampu yang digunakan dalam pekerjaan ini :
1. Lampu Baret 23 Watt
2. Lampu SL/PLC 18 Watt
3. Lampu TL Balk 1x18 watt

Semua lampu flourescent dan lampu discharge lainnya harus
dikompensasi dengan power factor corection capassitor yang cukup untuk
mencapai p.f. 85%-95%.
Kapasitor harus dipasang paralel dan dilengkapi dengan sekring kecil
untuk menghindari bahaya kebocoran kapasitor.
Reflector harus mempunyai lapisan pemantul cahaya berwarna putih
atau mengkilap dengan derajat pemantul yang tinggi.



126
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


Box tempat ballast, kapasitor, dudukan stater dan terminal bok harus
cukup besar dan dibuat sedemikian rupa sehingga panas yang ditimbulkan
tidak menggangu kelangsungan kerja dan umur teknis komponen lampu itu
sendiri.
Ventilasi didalam box harus dibuat dengan sempurna
Kabel-kabel dalam box harus diberikan saluran atap klem-klem
tersendiri sehingga tidak menempel pada ballast atau kapasitor. Box terbuat
dari pelat baja tebal minimum 0.7mm dicat dasar tahan karat, kemudian cat
akhir dengan cat oven warna putih.
Ballast harus dari jenis yang baik, tidak menimbulkan panas yang
tinggi, komponen pengisinya tidak meleleh, dan memiliki power factor yang
tinggi. Ballast harus mempunyai dudukan yang kuat dalam box lampu, tetapi
mudah dibuka untuk diperiksa atau diangkat.
Yang harus dipergunakan adalah single lamp ballast (satu ballast untuk
satu tabung lampu flourescent) merk Philips atau setara.
Tabung fluorescent harus dari merk Philips TLD atau setara, dengan
warna cahaya cool daylight.
Lampu TL harus sudah lengkap dengan kap reflector dibuat dari pelat
baja dengan bentuk seperti gambar rencana. Untuk lampu yang terbenam
memakai type RMC 300 M5 dengan reflektor mengkilap dan grille mengkilap
merk Centralite, Artolite atau setara.

7.3.3 Spesifikasi Sakelar dan Kotak Kontak Biasa.
a. Sakelar
Sakelar yang digunakan harus dari type untuk pemasangan rata
dinding, mempunyai rating 250 Volts 10 Amp dari jenis single gang atau
double gang atau multiple gangs (grid switches) merk yang dipakai Broco,
Legran, Vimar atau setara.
Kecuali tercatat atau ada persyaratan lain, maka tinggi
pemasangan kotak sakelar dinding, harus 150 cm dari lantai.
Bila ada lebih dari lima sekelar dinding atau stop kontak ditunjuk
pada tempat yang sama, maka dua deret kotak tunggal, ganda atau
multigang sesuai dengan kebutuhan harus dipasang satu diatas yang
lain, dan titik tengah deretan-deretan tersebut harus berada 1.50 m
diatas permukaan lantai.
Kotak kontak outlet dekat pintu atau jendela harus dipasang 20
cm dari pinggir kusen pada sisi kunci seperti ditunjukkan dalam gambar-
gambar arsitektur, kecuali ditunjukkan lain oleh pengawas.




127
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


b. Kotak-Kontak Biasa (KKB)
Kotak-kontak biasa yang dipakai adalah kotak kontak satu fasa.
Semua kotak kontak harus memiliki terminal fasa, netral dan
pentanahan. Kotak-kontak harus dari satu type, untuk pemasangan rata
dinding, dengan rating 250 Volts 10 Amp. Merk yang dipakai adalah
Legran, Vimar, Broco atau setara. Semua stop kontak dinding dipasang
max 30 cm dari lantai. Atau dipasang sesuai keperluan pemakaian.

7.3.4 Kotak untuk sakelar dan kotak kontak.
Kotak harus dari baja dengan kedalaman 35 mm. Kotak dari metal harus
mempunyai terminal pentanahan. Sakelar atau kotak kontak terpasang pada
kotak (box) dengan menggunakan baut. Pemasangan dengan cakar yang
mengembang tidak diperbolehkan.

7.3.5 Kabel Instalasi
Pada umumnya kabel instalasi penerangan dan instalasi kotak kontak harus
kabel inti tembaga dengan insulasi PVC, satu inti atau lebih (NYA atau NYM)
Kabel harus mempunyai penampang minimum 2.5 mm2. Dengan kode
warna kabel harus mengikuti ketentuan dalam PUIL 2000. Sebagai berikut :
- fasa : R : merah
- fasa : S : kuning
- fasa : T : hitam
- netral : N : biru
- tanah (ground) : 0 : hijau dan kuning
Kabel merupakan produk, Supreme, Kabelindo, Kabel Metal, Tranka atau
setara.

7.3.6 Pemeriksaan dan pengujian
Pemeriksaan dan pengujiaan seluruh instalasi system penerangan dan kotak
kontak diselenggarakan setelah seluruh pekerjaan selesai.
Pemeriksaan dan pengujian tersebut terdiri dari :
a. Pemeriksaan secara visual (apperence inspection) terhadap kelengkapan
peralatan apakah s
b. udah sesuai dengan yang dimaksud.
c. Pemeriksaan fungsi kerja dan kekuatan mekanis dari peralatan.
d. Pengujian sambungan-sambungan.
e. Pengujian tahan insulasi.
f. Pengujian pentanahan.
g. Pengujian pemberian tegangan.



128
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


Paling lambat dua (2) minggu sebelum pengujian dilaksanakan, pemborong
harus sudah mengajukan jadwal dan prosedur pengujian kepada pengawas untuk
mendapatkan persetujuan. Pengujian harus disaksikan oleh pengawas.
Pemborong harus membuat catatan (record) mengenai hasil pengujian, dan 2
copy diserahkan oleh pengawas. Seluruh pengujian diselenggarakan oleh
pemborong, dan segala biaya untuk itu ditanggung oleh pemborong.

f. Pipa instalasi pelindung kabel
Pipa instalasi pelindung kabel yang dipakai adalah pipa conduit khusus
untuk instalasi listrik, pipa, elbow, socket junction box dan accessories lainya
yaitu pipa flexible harus dipasang untuk melindungi kabel antara junction box
dan armatur lampu.
Semua instalasi kabel yang ada berada dalam pipa pelindung.
7.3.7 Pemasangan
Pemasangan lampu-lampu dan kotak kontak.
Semua fikture penerangan dan kotak kontak beserta perlengkapan-
perlengkapannya harus dipasang oleh tukang-tukang yang berpengalaman
dengan cara yang benar dan disetujui pengawas seperti yang ditunjukkan
dalam gambar.
Pada daerah yang tidak memakai ceiling pemasangan lampu menempel pada
kanal yang dipasang lengkap dengan penggantungnya.
Pada waktu pemeriksaan akhir semua fixture dan perlengkapan harus
sudah siap menyala. Bebas dari cacat. Semua fixtures dan perlengkapan
harus bersih bebas dari debu, plastes dan lain lain. Semua reflector, kaca,
panel pinggir atau bagian-bagian lain yang rusak sebelum pemeriksaan akhir
harus diganti oleh pemborong tanpa biaya tambahan.

7.3.8 Spesifikasi Teknis bahan dan alat.
a. Spesifikasi bahan dan alat yang digunakan untuk semua jenis pekerjaan
lampu dan kotak kontak dalam proyek ini adalah sebagai berikut:
1. Lampu : Philips, Osram atau setara.
2. Armatur : SAKA, Philips, Centralite atau setara.
3. Kabel instalasi : NYA, NYM ukuran 3 x 2.5 mm2 merk
Supreme,Kabelindo, Focus, atau setara.
4. Pipa instalasi : PVC 5/8 inchi Maspion atau setara.







129
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


7.4. PEKERJAAN PENGADAAN SOUND SYSTEM
7.4.1 Lingkup Pekerjaan
Pada pekerjaan Sound System terdapat beberapa pekerjaan diantaranya
pengadaan, pemasangan, serta uji coba Sound System hingga bisa diopersionalkan.
Apabila terjadi kerusakan maka perbaikan dapat dilakukan selama masa
pemeliharaan belum berakhir. Untuk lebih memperjelas lingkup pekerjaan dari Sound
System maka berikut ini ada beberapa lingkup pekerjaan yang harus dilaksanakan.
Pekerjan tersebut meliputi:
a. Pengadaan dan pemasangan Sound System yang meliputi mendatangkan
peralatan serta mempersiapkan bahan-bahan pendukung dalam pemasangan
Sound System.
b. Pemasangan power amplifier, mixer, equalizer, microphone dan peralatan
pendukung lainnya.
c. Pemasangan ceiling speaker, coloum speaker, dan volume kontrol beserta
instalasinya.
d. Pemasangan instalasi Sound System terkoneksi dengan panel power untuk Sound
System.
e. Testing Commissioning yang dilakukan oleh tenaga ahli Sound System atau dari
teknisi produsen pembuat Sound System atau pihak yang berwenang dari
Depnaker.

7.4.2 Persyaratan Instalasi
a. Pemasangan instalasi baik kelistrikan (power) maupun kontrol dilakukan oleh
teknisi yang sudah berpengalamn atau yang ditunjuk oleh produsen Sound
System.
b. Kabel kabel yang digunakan untuk kelistrikan (power) dan kontrol adalah kabel
ex Supreme atau setara, dengan penampang dan jenis kabel disesuaikan dengan
kebutuhan.
c. Untuk instalasi sistem mekanik dari Sound System harus dipastikan dalam kondisi
sesuai dengan ketentuang yang dibuat oleh produsen yang meliputi cara
pemasangan dan jenis bahan yang digunakan.
d. Dalam pemasangan diwajib kan mengikuti aturan-aturan yang berlaku, baik yang
dikeluarkan oleh pihak produsen atau instasi yang terkait dengan pekerjaan
Sound System.
e. Kontraktor harus menyertakan seorang teknisi Sound System yang sudah ahli yang
bertugas mengawasi, chek peralatan dan memastikan instalasi Sound System
yang dipasang dapat beroperasi dengan baik dan dalam kondisi aman digunakan.





130
Spesifikasi Teknis
Penambahan Ruang, Pengatapan dan Peralatan Gedung Olah Raga (GOR) Ngawi


7.4.3 Pengujian
a. Seluruh instalasi baik instalasi kelistrikan (power) maupun instalasi mekanik dan
peralatan harus dicek terlebih dahulu untuk memastikan sambungan dalam
keadaan baik dan siap di operasikan.
b. Setelah instalasi kelistrikan (power) maupun instalasi Sound System terpasang
yang berhak melakukan pengoperasian awal adalah teknisi yang merakit instalasi
atau teknisi yang ditunjuk oleh produsen Sound System yang bersangkutan.
c. Pengujian dari Sound System meliputi sistem control suara, kualitas suara, atau
pun pembagian jalur suara hingga sistem tersebut dapat berjalan dengan baik.
d. Kontraktor harus dapat memperagakan bahwa seluruh sistem dapat bekerja
dengan sempurna dan sesuai seperti yang dimaksud.
e. Jadwal waktu tentang keperluan pengujian dan caracara pelaksanaan harus
diserahkan kepada pihak pengawas selambatlambatnya 14 hari sebelum
pengujian diadakan.
f. Terhadap kegagalan pengujian, kontrator bertanggung jawab untuk
melaksanakan penggantian bahan atau memperbaikinya menurut pendapat
pengawas tanpa adanya tambahan biaya.

7.4.4 Gambar-Gambar Kerja
Kontraktor harus membuat gambar kerja ( shop drawing ) yang menunjukkan
rangkaian pemasangan yang lengkap, dimensidimensi dari peralatan, detail-detail
dan sebagainya. Gambar gambar kerja, katalog, brosur dan type peralatan yang
akan dipasang harus diserahkan kepada pengawas 14 hari sebelum pemasangan.

7.4.5 Spesifikasi teknis bahan dan alat
Spesifikasi bahan dan alat yang digunakan untuk jenis pekerjaan pengadaan
Sound System dalam proyek ini adalah sebagai berikut:
a. Merk : TOA atau yang setara.
b. Power Amplifier : 240 Watt
c. Equalizer : 30 Channel
d. Coloum Speaker : 30 W