Anda di halaman 1dari 6

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang
Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan masalah klinis yang
dalam beberapa keadaan relatif mudah didiagnosa dengan menggunakan
pemeriksaan laboratorium status besi konvensional seperti serum iron
(SI), total iron binding capacity (TIBC), saturasi transferin dan serum
feritin.
1
Serum iron menunjukkan variasi diurnal, dengan konsentrasi yang
lebih tinggi pada sore hari dibandingkan pagi hari.
2,3
Pemeriksaan serum
feritin sangat efisien untuk menilai cadangan besi tubuh, akan tetapi feritin
berperan sebagai protein fase akut, sehingga sulit dibedakan antara ADB
dengan anemia karena infeksi, inflamasi dan keganasan, yang disebut
anemia penyakit kronis (APK).
4,5
Pada ADB nilai TIBC meningkat, tetapi
dapat normal atau menurun pada keadaan inflamasi dan
hypoalbuminemia.
6
Pewarnaan Prussian blue sumsum tulang merupakan
marker pasti untuk defisiensi besi. Akan tetapi pemeriksaan ini tidak
nyaman, tidak praktis dan sulit dilakukan secara rutin. Selain itu,
pemeriksaan ini memerlukan waktu yang lebih lama dan biaya yang lebih
mahal, sehingga dibutuhkan pemeriksaan yang tidak invasif dan sensitif
untuk mendeteksi ADB

.
7,8
Gambaran darah tepi ADB adalah mikrositer. Diferensial diagnosa
untuk anemia mikrositer adalah ADB, talasemia, anemia sideroblastik dan
Universitas Sumatera Utara
2

APK. Anemia defisiensi besi sering bersamaan dengan APK dan


keduanya memberikan gambaran penurunan besi serum. Untuk
membedakan ADB dan APK kadang-kadang sulit, khususnya pada ADB
awal atau ketika ADB yang bersamaan dengan penyakit kronis
. 9
Nilai feritin serum yang rendah merupakan diagnosa untuk ADB.
WHO merekomendasikan konsentrasi feritin <12 ug/l mengindikasikan
deplesi cadangan besi pada anak-anak <5 tahun, dan nilai <15 ug/l
mengindikasikan deplesi cadangan besi pada umur >5 tahun.
10,11

Penelitian Pasricha dkk mendapatkan dengan pemakaian cut-off feritin
<15 ug/l memberikan sensitivitas 44% dan spesifisitas 80%, dan cut-off
<30% memberikan sensitivitas 72% dan spesifisitas 52%.
12
Penelitian di
Bali dengan memakai feritin serum <12 ug/l dan, 20 ug/l memberikan
sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 68% dan 98% serta 68% dan
96%.
13
Penelitian Mast AE dkk mendapatkan sensitivitas 25% dan
spesivisitas 98% dengan memakai feritin <12 ug/l. Akan tetapi dengan
memakai feritin < 30 ug/l diperoleh sensitivitas 92% dan spesifisitas
98%.
14
Nilai feritin serum yang lebih rendah dari 15 ug/L kemungkinan
besar merupakan ADB meskipun bersamaan dengan inflamasi. Dan nilai
feritin serum yang meningkat diatas normal (>150-200 ug/L)
kemungkinan besar bukan ADB meskipun dengan inflamasi. Nilai feritin
serum antara kedua level ini (15-150 ug/L) dan dalam keadaan inflamasi
membutuhkan pemeriksaan lain untuk memastikan apakah dijumpai
Universitas Sumatera Utara
3

defisiensi besi. Prosedur diagnostik yang reliabel sangat penting karena


ADB membutuhkan evaluasi dengan seksama. Sebab itu pemeriksaan
parameter besi yang lain diperlukan untuk membedakannya.
15

Transferrin receptor (TfR) merupakan protein transmembran yang
berikatan dengan transferin pada proses transportasi besi. Serum
Transferin receptor (sTfR) yang larut dalam plasma berasal dari
ektodomain yang mengalami proteolisis. Konsentrasi sTfR sebanding
dengan jumlah TfR yang diekspresikan pada membran sel. Pada
keadaan kebutuhan besi meningkat dan peningkatan proliferasi sel maka
ekspresi TfR pada membran sel meningkat. Pada beberapa penelitian,
pengukuran sTfR telah terbukti berguna untuk membedakan diagnosa
ADB dengan APK, dan konsentrasi sTfR tidak dipengaruhi respon protein
fase akut, sehingga sTfR lebih baik dibandingkan pengukuran status besi
konvensional. Dalam diferensial diagnosa ADB dan APK, interpretasi sTfR
lebih mudah dibandingkan konsentrasi feritin serum, karena peningkatan
konsentrasi sTfR diatas nilai batas referensi menunjukkan defisiensi besi
sementara pada APK dalam batas referensi.
16
Dengan pemeriksaan feritin serum dan sTfR dapat dihasilkan nilai
indeks sTfR-F yaitu rasio sTfR/log feritin. Rasio ini sangat baik untuk
mengestimasi cadangan besi. Cut-off untuk indeks sTfRF adalah 1,5.
Pada ADB indeks sTfRF lebih besar dari 1,5 dan pada APK lebih kecil
dari 1,5.
6

Universitas Sumatera Utara
4

Kari Punnonen dkk tahun 1996 di Finland meneliti kadar sTfR pada
anemia yang dibagi dalam 3 kelompok yaitu ADB, APK dan kombinasi
ADB dengan APK. sTfR pada ADB dan kombinasi ADB dengan APK lebih
tinggi dibanding APK. Karenanya sTfR indikator yang baik untuk defisiensi
besi.
17

Simek M dkk tahun 2002 di Slovakia mendapatkan nilai sTfR pada
ADB lebih tinggi dibandingkan pada APK. Pada ADB kombinasi dengan
APK mempunyai nilai sTfR yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol
normal dan APK.
18
Jayarenees S dkk tahun 2005 di Kuala Lumpur menilai 91 sampel
darah dengan anemia hipokrom mikrositer, yang dikelompokkan menjadi
ADB, APK dan talasemia. Nilai sTfR pada ADB signifikan lebih tinggi
dibanding kontrol normal, APK dan talasemia.
1

1.2. Perumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat
dirumuskan beberapa masalah yaitu
1. Apakah dengan pemeriksaan sTfR dapat membedakan ADB
dengan APK?
2. Apakah perhitungan indeks sTfR-F dapat membedakan antara
APK dengan APK yang bersamaan dengan ADB?


Universitas Sumatera Utara
5

1.3. Hipotesa penelitian


1. Kadar sTfR pada ADB lebih tinggi dibandingkan APK
2. Nilai indeks sTfR-F pada ADB lebih tinggi dibandingkan APK

1.4 Tujuan penelitian

1.4.1. Tujuan umum
Untuk mengevaluasi kegunaan sTfR dan indeks sTfR-F dalam
mendiagnosa ADB.

1.4.2. Tujuan khusus
1. Anemia defisiensi besi dapat dibedakan dari APK dengan
pemeriksaan sTfR.
2. Anemia Penyakit kronis yang bersamaan dengan ADB dapat
ditegakkan dengan pemeriksaan indeks sTfR-F.

1.5. Manfaat penelitian
Dengan pemeriksaan sTfR dan indeks sTfR-F dapat membedakan
ADB MURNI, ADB yang bersamaan APK dan APK MURNI, yang
bermanfaat dalam membantu diagnostik.



Universitas Sumatera Utara
1.6. Kerangka konsep





6





ADB MURNI

Feritin < 15 ug/L


Feritin > 15 ug/L

Kriteria eksklusi Kriteria inklusi
sTfR & indeks sTfR F
ADB >APK
Indeks sTfR-F pada
ADB + APK > APK

Kari Punnonen dkk


Simek M dkk
Jayarenees S dkk
Anemia
Kriteria WHO
CRP (+)
APK

sTfR
&
Indeks sTfR-F




Universitas Sumatera Utara