Anda di halaman 1dari 6

Asmaranto dkk.

, Penentuan Nilai Konduktivitas Hidrolik Tanah Tidak Jenuh Menggunakan Uji Resistivitas di Laboratorium 81
81
PENENTUAN NILAI KONDUKTIVITAS HIDROLIK TANAH TIDAK
JENUH MENGGUNAKAN UJI RESISTIVITAS DI LABORATORIUM
Runi Asmaranto
1,2
, Ria Asih Aryani Soemitro
2
, Nadjadji Anwar
2
1Jurusan Teknik pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (runi_asmaranto@ub.ac.id)
2Jurusan Teknik Sipil, FTSP Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya (INDONESIA)
Abstr ak: Resistivitas listrik dapat digunakan untuk mengidentifikasikan parameter geoteknik seperti
kadar air, batas cair, batas plastis dan berat volume tanah. Telah diketahui bahwa nilai konduktivitas
hidrolik dapat diprediksi berdasarkan nilai sifat fisik tanah, maka seharusnya nilai konduktivitas hidrolik
tanah juga dapat ditentukan melalui pengujian resistivitas. Beberapa peneliti menjelaskan bahwa
konduktivitas hidrolik tanah tidak jenuh berkorelasi dengan kurva karakteristik air-tanah (soil-water
characteristic curve, SWCC), sehingga perkiraan nilai konduktivitas hidrolik menggunakan uji resistivitas
sangat penting untuk dikembangkan dengan mengamati perilaku tanah.
Penelitian ini mengkaji perubahan konduktivitas hidrolik tanah tidak jenuh berdasarkan pengujian
resistivitas laboratorium. Hasil pengujian dibandingkan dengan metode empiris Gardner (1958) dan
Campbel (1973). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai konduktivitas hidrolik tanah tidak
jenuh berkorelasi cukup baik dengan kedua metode empiris yang digunakan.
Kata Kunci: soil-water characteristic curve, SWCC, konduktivitas hidrolik, tanah tidak jenuh, suction
Abstr act: Electrical resistivity can be used to identify geotechnical parameters such as water content,
liquid limit, plastic limit and unit weight. It is known that the hydraulic conductivity values can be pre-
dicted based on soil properties, so that should be determined through resistivity laboratory test. Some
researchers explained that unsaturated soil hydraulic conductivity correlated with soil-water characteris-
tic curve (SWCC), thus the estimated values of hydraulic conductivity using a resistivity test is very impor-
tant to be developed by observing the behavior of the soil.
This study examines changes in hydraulic conductivity of unsaturated soil based on laboratory resistivity
test. The results are compared with Gardner (1958) and Campbel (1973) empirical methods. The results
show that the unsaturated soil hydraulic conductivity correlates well with the empirical methods used.
Keywor ds: soil-water characteristic curve, hydraulic conductivity, unsaturated soil, suction
Konduktivitas hidrolik tanah tidak jenuh (K), diketahui
sangat dipengaruhi oleh perubahan kadar air (w
c
)
atau tegangan air pori negatif (suction, -U
w
) dimana
nilai K ini sangat penting untuk memperkirakan vo-
lume air didalamzone tidak jenuh (Revil and Cathles,
1999). Pada pengukuran lapangan, variasi nilai kon-
duktivitas hidrolik arah horisontal dan vertikal cukup
besar (Reynolds and Elrick, 1985; Mohanty et al.,
1994) sehingga membutuhkan data pengamatan yang
banyak untuk mendapatkan perkiraan hasil yang cu-
kup memuaskan (Warrick et al., 1977).
Sebuah model matematika telah dikembangkan
untuk memodelkan konduktivitas hidrolik tidak jenuh
sebagai fungsi dari dari beberapa parameter yang
dikenal sebagai soil-water characteristic curve (Lu
and Likos, 2004). Resistivitas mungkin merupakan
sifat fisik dasar suatu tanah sehingga bisa digunakan
untuk penyelidikan tanah, namun sulit untuk meng-
korelasikan secara langsung terhadap kadar air, batas
cair dan plastis serta berat volume (Giao et al., 2003).
Resistivitas listrik tidak hanya bergantung pada ma-
terial tanah tetapi juga konsentrasi ion pada air pori.
Sehingga, hal ini akan menimbulkan kelebihan dan
kekurangan jika dibandingkan dengan pengujian geo-
teknik secara konvensional.
Permeabilitas juga sering dikenal sebagai kon-
duktivitas hidrolik jenuh. Istilah permeabilitas didefi-
nisikan oleh beberapa ahli dalamkalimat yang ber-
beda tetapi mengandung arti yang sama. Kesulitan
utama dari penggunaan parameter ini adalah rentang
nilai resistivitas yang cukup besar untuk beberapa
jenis tanah. Nilai resistivitas suatu tanah sangat di-
pengaruhi oleh kandungan air didalamnya. Tanah je-
nuh mempunyai nilai resistivitas lebih kecil jika di-
82 Jur nal Teknik Pengair an, Volume 3, Nomor 1, Mei 2012, hlm 8186
bandingkan dengan tanah tidak jenuh. Resistivitas
atau hambatan jenis yang kecil berarti bahwa mudah
menghantarkan listrik karena pengaruh keberadaan
air (Kodoatie, 1996).
BAHAN DAN METODE
Perlakuan Benda Uji
Benda uji yang digunakan adalah Mojokerto Silty
Loam (menurut Klasifikasi Tanah Metode USDA
(United Stated Department of Agricultural) dan
MH (elastic silt) menurut Kriteria USCS (Unified
Soil Classification System). Benda uji diberikan per-
lakuan pembasahan dan pengeringan dengan cara
menambahkan dan mengurangi sejumlah kadar air.
(Asmaranto et al, 2010). Tabel 1 menunjukkan proses
pembasahan dan pengeringan pada benda uji.
Tabel 1. Pengaturan penambahan dan pengurangan
kadar air pada benda uji.
Gambar 1. Skema pengukuran resistivitas di
Laboratorium
Kajian Pustaka
Pada tanah jenuh, aliran air dalamtanah sesuai
dengan hukumDarcy, dimana kecepatan aliran air
yang melalui massa tanah sebanding dengan gradien
hidraulik:
y
h
k V
w
w w
_
_
_ _
(1)
dengan:
V
w
=Kecepatan aliran air
K
w
=Koefisien Permeabilitas
_
h
w
/
_
y=Gradien hidrolik
Menurut Fredlund dan Rahardjo (1993), hukum
Darcy juga diterapkan untuk aliran air dalamtanah
tidak jenuh. Perbedaannya adalah pada koefisien
permeabilitas. Pada tanah jenuh koefisien permea-
bilitas dianggap konstan sebab hanya tergantung pa-
da angka pori. Anggapan ini tidak berlaku pada tanah
tidak jenuh. Koefisien tanah tidak jenuh dipengaruhi
oleh perubahan kadar air atau matric suction. Air
tidak dapat mengalir melalui ruang pori yang terisi
udara, namun air hanya dapat mengalir melalui ruang
pori yang terisi oleh air. Pada waktu tanah dalam
kondisi tidak jenuh, udara menempati ruang pori yang
besar. Akibatnya air hanya dapat mengalir melalui
pori yang lebih kecil. Seiring dengan meningkatnya
tegangan air pori negatif, ruang pori lebih banyak
terisi oleh udara, sehingga permeabilitas menjadi ber-
kurang. Disamping angka pori, derajat kejenuhan (ka-
dar air) adalah faktor penting lain yang mempengaruhi
permeabilitas tanah tidak jenuh.
Pengujian Laboratorium
Tanah dengan perlakukan pembasahan dan pe-
ngeringan di atas selanjutnya masing-masing dilaku-
kan pengujian sifat fisik yang meliputi nilai: kadar air
(w
c
) digunakan standar uji ASTM D2216-71, uji
volumetri-gravimetri digunakan standar uji ASTM
D854-72 meliputi: angka pori (e), derajat kejenuhan
(S
r
), kepadatan kering (dry density, g
d
) dan berat
volume tanah (unit weight,g). Sedangkan pengujian
tegangan air pori negatif (suction, -U
w
) dilakukan
dengan menggunakan kertas filter type Whatman
No.42.
Pengujian resistivitas di laboratoriumdilakukan
dengan menggunakan Alat Geolistrik merk Martiel
Geophysics Resistivity Meter berdasarkan konfi-
gurasi Wenner (Kodoatie, 1996).
Untuk mengetahui keakuratan hasil pengujian
menggunakan uji kolominfiltrasi maka nilai konduk-
tivitas hidrolik tanah tidak jenuh dibandingkan dengan
hasil perhitungan dengan menggunakan Metode
Campbel (1973) dan Metode Gardner (1958) dimana
kedua metode ini ditentukan berdasarkan parameter
tegangan air pori negatif dan nilai volumetric water
content, q
w
(Leong and Rahardjo, 1997; Lu dan Li-
kos, 2004; Muntaha, 2005). Konfigurasi model re-
sistivitas sebagaimana terlihat pada Gambar 1.
Asmaranto dkk., Penentuan Nilai Konduktivitas Hidrolik Tanah Tidak Jenuh Menggunakan Uji Resistivitas di Laboratorium 83
Menurut Fredlund dan Rahardjo (1993), kurva
karakteristik tanah-air (kurva drying atau wetting)
dapat digunakan untuk menghitung koefisien perme-
abilitas k
w
(q
w
) tanah tak jenuh. Campbell (1973)
membuat suatu persamaan empiris untuk menghitung
koefisien permeabilitas tanah tak jenuh (k
w
) seperti
berikut:
3 2 _
_
_
_
_
_
_
_
b
s
w
s w
k k

(2)
dengan:
w
b

log
log
_
_
_
dimana:
k
w
= koefisien permeabilitas tanah tidak jenuh
k
s
=koefisien permeabilitas jenuh
q
w
=volumetric water content
q
s
=volumetric water content kondisi jenuh
_ =suction
Menurut Gardner (1958) konduktivitas hidrolik
tidak jenuh memenuhi persamaan sebagai berikut (Lu
dan Likos, 2004):
n
s
a
k
k

_
_
1
) (
(3)
dengan:
k(_) =konduktivitas hidrolik tidak jenuh (cm/detik)
k
s
=konduktivitas hidrolik tanah jenuh (cm/detik)
a =konstanta tidak berdimensi, parameter yang
berkaitan dengan air-entry pressure
n =curve-fitting parameters, nilainya berkisar
antara 2 4.
_ =soil suction (kPa)
Analisis Data
Analisis Data dihubungkan untuk menentukan
hubungan-hubungan antara perubahan sifat fisik se-
perti: kadar air (w
c
), derajat kejenuhan (S
r
), porositas
(n), angka pori (e), kepadatan kering (_
d
), suction (-
U
w
) dan konduktivitas hidrolik (k
w
).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengujian sifat fisik tanah kon-
disi awal (initial) maka diketahui bahwa tanah dido-
minasi oleh jenis lanau (51,74%), mengandung fraksi
halus lempung (clay) sebesar 25,81% dan pasir
(sand) 22,45%. Sedangkan pengujian batas-batas
konsistensi diketahui bahwa tanah memiliki plastisitas
cukup tinggi (PI =23,32%), hal ini mendukung kriteria
tanah berdasarkan metode USCS digolongkan se-
bagai MH (lanau plastisitas sedang sampai tinggi).
Gambar 2 menunjukkan hasil fotogrametri pada ben-
da uji. Tabel 2 menunjukkan hasil pengujian sifat fisik
tanah kondisi awal.
Gambar 2. Hasil fotomikrografi tanah Mojokerto silty
loam
Tabel 2. Hasil pengujian sifat fisik tanah terhadap
benda uji awal.
Sumber: hasil analisis, 2012
Gambar 3.a menunjukkan hubungan antara per-
ubahan kadar air terhadap konduktivitas hidrolik. Ter-
lihat bahwa semakin besar nilai kadar air maka kon-
duktivitas hidrolik juga semakin besar. Pada kondisi
jenuh (S
r
=100%) akan meningkatkan nilai k
w
menjadi
1.60 x 10
-4
cm/detik (Gambar 3.c). Sedangkan pada
kondisi S
r
=40% atau tanah mencapai kadar air (w
c
)
=13% diperoleh nilai konduktivitas hidrolik sekitar
1.80 x 10
-5
cm/detik. Pada kondisi jenuh (S
r
=100%)
nilai konduktivitas hidrolik mendekati nilai permeabi-
84 Jur nal Teknik Pengair an, Volume 3, Nomor 1, Mei 2012, hlm 8186
litas tanah jenuh yang ditentukan berdasarkan peng-
ujian tinggi jatuh (falling head) dimana pada kondisi
ini berlaku hukumDarcy. HukumDarcy secara ku-
antitatif mengukur volume air pada tanah jenuh dan
dinyatakan bahwa kecepatan air (v) sama dengan
nilai konduktivitas hidrolik tanah jenuh (k) dikalikan
dengan gradien hidrolik (i) atau dinyatakan sebagai:
v =k.iNilai AEP
Gambar 3.b menunjukkan hubu-ngan antara nilai
tegangan air pori negatif/suction (-U
w
) terhadap nilai
konduktivitas hidrolik. Fenomena ini mengindikasikan
bahwa konduktivitas hidrolik tanah tidak jenuh dapat
juga digambarkan sesuai dengan parameter suction.
Lu and Likos (2004) juga menerangkan bahwa kon-
duktivitas hidrolik tanah adalah fungsi dari variabel-
variabel seperti: struktur pori (angka pori dan poro-
sitas), sifat-sifat fluida pori (kepadatan dan keken-
talan), dan sejumlah fluida pori didalamsistemtanah
(kadar air dan derajat kejenuhan). J uga menurut Lu
and Likos (2004) bahwa nilai konduktivitas hidrolik
dapat juga digambarkan dari parameter matric suc-
tion. Perilaku hubungan antara kepadatan kering de-
ngan konduktivitas hidrolik disajikan pada Gambar
3.d, sedangkan Gambar 3.e menunjukan hubungan
antara perubahan kadar air volumetrik dengan kon-
duktivitas hidrolik.
Gambar 4 menunjukkan perban-dingan hasil an-
tara konduktivitas hidrolik metode empiris Gardner
Gambar 3. Hubungan antara perubahan kadar air (w
c
) terhadap nilai suction (-U
w
), derajat kejenuhan (S
r
),
kepadatan kering (g
d
), kadar air volumetrik (q
w
) dan konduktivitas hidrolik tidak jenuh (k
w
) akibat proses
pembasahan dan pengeringan pada tanah Mojokerto silty loam
Asmaranto dkk., Penentuan Nilai Konduktivitas Hidrolik Tanah Tidak Jenuh Menggunakan Uji Resistivitas di Laboratorium 85
Gambar 4. Hubungan antara derajat kejenuhan dan
konduktivitas hidrolik.
Gambar 5 menunjukkan hubu-ngan antara suc-
tion dengan konduktivitas hidrolik pada tanah silty
loam. Pada metode Gardner (1958) terlihat bahwa
pada kondisi tanah mencapai nilai U
w
20 kPa atau
sebelummencapai titik air entry value (AEP) maka
nilai konduktivitas hidrolik cenderung konstan. Pada
kondisi ini diduga tanah masih berada pada kondisi
jenuh air. Kondisi AEP adalah suatu kondisi dimana
udara pori mulai masuk kedalampori-pori tanah, dan
diperkirakan pada kondisi ini tanah mulai masuk zone
tidak jenuh. Pada Gambar 6 menunjukkan hubungan
antara porositas tanah dengan nilai konduktivitas hi-
drolik. Secara umumterlihat jelas bahwa semakin
besar porositas tanah maka konduktivitas hidrolik juga
semakin besar. Hal ini terjadi pada semua metode
empiris yang dibandingkan. Nilai porositas tanah
berkisar antara 0,4750,590.
Gambar 7 dan Gambar 8 menunjukkan grafik
korelasi konduktivitas hidrolik antara metode resisti-
vitas dengan metode empiris Campbell (1973) dan
Gardner (1958). Tampak bahwa hasil pengujian kon-
duktivitas hidrolik metode resistivitas mempunyai ko-
relasi yang dekat dengan Metode Campbell (1973)
dengan nilai determinasi R
2
=0,961 sedangkan ter-
hadap metode Gardner (1958) didapat koefisien de-
terminasi R
2
=0,829. Namun demikian kedua metode
tersebut masih memiliki korelasi yang cukup erat de-
ngan nilai R
2
>0,5.
(1958) dan Campbel (1973). Terlihat bahwa ketiga
metode yang digunakan memiliki perilaku yang ham-
pir sama jika dihubungkan dengan perubahan derajat
kejenuhan. Soemitro and Asmaranto (2001) juga men-
jelaskan bahwa pengurangan sejumlah air pada tanah
kohesif akan menyebabkan tanah menjadi lebih padat
akibat pengurangan angka pori. Perubahan-perubah-
an volume pori tentu menyebabkan perubahan para-
meter konduktivitas hidrolik tanah tidak jenuh.
Gambar 6. Hubungan antara porositas dengan
konduktivitas hidrolik
Gambar 5. Hubungan antara suction dan konduktivitas
hidrolik
Gambar 7. Korelasi antara konduktivitas hidrolik
metode resistivitas laboratorium dengan Metode
Gardner (1958)
Gambar 8. Hubungan antara konduktivitas hidrolik
yang ditentukan dengan uji resistivitas laboratorium
dengan Metode Campbel (1973)
86 Jur nal Teknik Pengair an, Volume 3, Nomor 1, Mei 2012, hlm 8186
KESIMPULAN
Perubahan sifat fisik tanah akan terjadi jika ter-
jadi perubahan kadar air didalamtanah akibat proses
pembasahan dan pengeringan dimana proses ini se-
ring terjadi pada daerah tropis. Perubahan-perubahan
sifat fisik seperti: porositas, angka pori, kepadatan
kering, berat volume akan mempengaruhi suction
(tegangan air pori negatif) dan konduktivitas hidrolik.
Pengujian resistivitas laboratoriumdapat digunakan
sebagai alternatif untuk mengukur nilai konduktivitas
hidrolik tanah tidak jenuh, dimana hasil pengujian de-
ngan menggunakan metode ini berkorelasi dengan
baik terhadap metode empiris Campbel (1973) dan
Gardner (1958).
DAFTAR PUSTAKA
Asmaranto, R., Soemitro, R.A.A, Anwar N. 2010. Changes
of Soil Erodibility due to Wetting and Drying Cycles
Repetitions on the Residual Soil. International Jour-
nal of Academic Research, Azerbaijan: Vol 2. No 5.
September 2010.
ASTM D2216. Standard test methods for laboratory de-
termination of water (moisture) content of soil and
rock by mass. ASTM Standard and Test Methods.
ASTM International. USA.
ASTM D854. Standard test methods for specific gravity
of soil solids by water pycnometer. ASTM Standard
and Test Methods. ASTM International. USA.
Campbell, J.D. 1973. Pore pressures and volume changes
in unsaturated soils. Ph.D. Thesis, University of Illi-
nois at Urbana-Champaign, IL.
Doussan, C., Ruy, S. 2009. Prediction Unsaturated Soil
Hydraulic Conductivity with Electrical Conductiv-
ity. Water Resources Research. Vol 45. 1-12.
Fredlund, D.G., and Rahardjo, H. 1993. Soil Mechanics
for Unsaturated Soils. New York: Willey Publications.
Gardner, W.R. 1958. Some steady state solutions of the
unsaturated moisture flow equation with applica-
tion to evaporation from a water table. Soil Sci-
ence, 85, No. 4, 228-232.
Giao, P.H., Chung, S.G., Kim D.Y., Tanaka, H. 2003. Elec-
tric Imaging and Laboratory Resistivity Testing for
Geotechnical Investigation of Pusan Clay Depos-
its. Journal of Applied Geophysics 52. 157175.
Liu, N., Likos, W.J. 2004. Unsaturated Soil Mechanics.
John Wiley & Sons.
Leong, E.C., and Rahardjo, H. 1997. Permeability func-
tions for unsaturated soils. Journal of geotechnical
and geoenvironmental engineering, December.
Mohanty, B.P., M.D. Ankey, R., Horton, dan R.S Kanwar.
1994. Spatial analysis of hydraulic conductivity
measured using disc infiltrometers, Water Resour.
Res., 30, 2489-2498.
Muntaha, M. 2005. Studi pengaruh infiltrasi terhadap
kestabilan lereng tanah residual lanau kelempung-
an dari daerah G.kawi Malang. Tesis S2. Institut
Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.
Kodoatie, R.J. 1996. Pengantar Hidrogeologi. Yogyakar-
ta: Penerbit Andi.
Revil. A, and L. M. Cathles (1999). Permeability of Shaly
Sands, Water Resour. Res, 35, 651-662.
Reynold, W.D., and D.E Elrick. 1985. In situ Measurement
of filed saturated hydraulic conduc-tivity, sorptivity,
and the a-parameter using the Guelph permeameter,
Soil Sci. 140 (4) 292-302.
Soemitro, R.A.A., and Asmaranto, R. 2001. Influence of
wetting-drying cycles repetitions to the soil dynamic
properties on unsaturated expansive soil using cy-
clic triaxial apparatus. Proceeding. Seminar
Nasional. ITS. Surabaya.
Warrick, A.W.., G.J. Mullen., and D.R. Nielsen. 1977. Pre-
dictions of the soil water flux based upon filed-mea-
sured soil-water properties, Soil Sci. Soc. Am. J., 41,
14-19.