Anda di halaman 1dari 7

REKONSTRUKSI ULANG ANALISIS

SWOT
DIREKTORAT JENDERAL OTONOMI DAERAH


Kelompok 11, Kelas 8D Akuntansi
Kurikulum Khusus:
1. Adetiya Firmansyah (01)
2. Indra Ahmad Wijaya (17)


SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA







A. PENDAHULUAN
Gambaran Organisasi
Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 41 Tahun 2010 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Dalam Negeri, Direktorat Jenderal Otonomi Daerah mempunyai tugas
merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang Otonomi Daerah.
Direktorat Jenderal Otonomi Daerah dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud,
menyelenggarakan fungsi:
1. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang Otonomi Daerah;
2. Pelaksanaan kebijakan di bidang Otonomi Daerah;
3. Perumusan Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria di bidang Otonomi Daerah;
4. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang Otonomi Daerah; dan
5. Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Otonomi Daerah.
Tujuan yang akan dicapai Direktorat Jenderal Otonomi Daerah dalam periode 2010-1014 adalah
sebagai berikut:
1. Meningkatnya fasilitasi dan implementasi Urusan Pemerintahan Daerah I dan Standar Pelayanan
Minimal (SPM) di daerah serta harmonisasi peraturan perundang-undangan terkait dengan
otonomi daerah, baik di Pusat maupun antara Pusat dan Daerah.
2. Meningkatnya fasilitasi dan implementasi Urusan Pemerintahan Daerah II dan Standar Pelayanan
Minimal (SPM) di daerah serta harmonisasi peraturan perundang-undangan terkait dengan
otonomi daerah, baik di Pusat maupun antara Pusat dan Daerah.
3. Meningkatnya fasilitasi dan implementasi kebijakan penataan daerah otonom, otonomi khusus, dan
DPOD, serta evaluasi perkembangan Daerah Otonom Baru dan penyusunan Strategi Dasar
Penataan Daerah (SDPD/grand strategy);
4. Terlaksananya evaluasi kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah dan penyusunan kebijakan
peningkatan kapasitas daerah;
5. Meningkatnya Fasilitasi Kepala Daerah, DPRD dan Hubungan Antar Lembaga serta tersusunnya
regulasi terkait Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dan terselenggaranya Pilkada
yang efisien;
6. Terciptanya koordinasi, konsolidasi, dan keterpaduan program antar Direktorat, penataan regulasi
otonomi daerah, pengembangan sumber daya manusia aparatur, pengelolaan keuangan dengan
dukungan pelayanan umum, administrasi, teknis, sarana prasarana dan operasional secara cepat,
tepat dan aktual dalam rangka implementasi otonomi daerah, serta Revisi Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan tindak lanjut penyelesaian peraturan
pelaksanaannya;

Direktorat Jenderal Otonomi Daerah menetapkan Strategi dan arah kebijakan, yaitu:
1. Memantapkan kebijakan dan regulasi otonomi daerah dan otonomi daerah berkarakter khusus;
2. Mengharmonisasikan berbagai peraturan perundang-undangan sektoral dengan peraturan
perundang-undangan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah melalui fasilitasi penyesuaian
Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK) dari masing-masing sektor;
3. Mewujudkan penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) di Daerah;
4. Meningkatkan kinerja penyelenggaraan pemerintahan Daerah melalui penataan dan evaluasi
penyelenggaraan pemerintahan daerah.
5. Meningkatkan etika kepemimpinan daerah bagi Kepala Daerah dan DPRD.







B. LANDASAN TEORI
Analisis SWOT (Strength-Weakness-Opportunity-Threat) merupakan suatu metode perencanaan
strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam
suatu proyek, kegiatan/program, ataupun organisasi dalam menjalankan operasi untuk mencapai
tujuannya. Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari suatu organisasi atau kegiatan
dengan cara mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak
mendukung dalam mencapai tujuan tersebut.
Menurut Fred R. David dalam bukunya yang berjudul Strategic Management, analisis SWOT
merupakan salah satu dari beberapa instrumen yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk
menganalisis dan memilih strategi yang akan diambil. Proses analisis dan pemilihan strategi tersebut
adalah bagian dari proses manajemen strategis yang diterima luas yang dikenal dengan model
manajemen strategis komprehensif. Model manajemen strategis digambarkan dengan model dibawah
ini.
Strength/Kekuatan, adalah faktor Internal yang mendukung perusahaan dalam mencapai
tujuannya. Faktor pendukung dapat berupa sumber daya, keahlian, atau kelebihan lain yang mungkin
diperoleh berkat sumber keuangan, citra, keunggulan di pasar, serta hubungan baik antara lembaga.
Weakness/Kelemahan, adalah faktor internal yang menghambat perusahaan dalam mencapai
tujuannya. Faktor penghambat dapat berupa fasilitas yang tidak lengkap, kurangnya sumber
keuangan, kemampuan mengelola, keahlian pemasaran dan citra perusahaan.
Opportunity/Peluang, adalah faktor eksternal yang mendukung perusahaan dalam mencapai
tujuannya. Faktor eksternal yang mendukung dalam pencapaian tujuan dapat berupa perubahan
kebijakan, perubahan persaingan, perubahan teknologi dan perkembangan hubungan supplier dan
buyer.
Threat/Ancaman, adalah faktor eksternal yang menghambat perusahaan dalam mencapai
tujuannya. Faktor eksternal yang menghambat perusahaan dapat berupa masuknya pesaing baru,
pertumbuhan pasar yang lambat, meningkatnya bargaining power daripada supplier dan buyer utama.

Matriks SWOT
Matriks Strengths-Weaknesses-Opportunities-Threats atau dikenal dengan matrik SWOT adalah alat
pencocokan yang penting dalam melakukan pengembangan empat tipe strategi. Keempat tipe strategi
tersebut adalah :
1. Strategi S-O (StrengthsOpportunities) yaitu menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan
internal perusahaan untuk memanfaatkan peluang
2. Strategi W-O (WeaknessesOpportunities) yaitu strategi yang bertujuan memperbaiki atau
meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang eksternal.
3. Strategi S-T (Strengths-Threats) yaitu strategi yang menggunakan kekuatan internal perusahaan
untuk menghindari atau mengurangi dampak ancaman eksternal.
4. Strategi W-T (Weaknesses-Threats) merupakan taktik defensif yang diarahkan untuk mengurangi
kelemahan internal dan menghindari ancaman lingkungan eksternal.












C. PEMBAHASAN
Pembahasan yang kami lakukan didasarkan pada pengertian bahwa faktor internal dan faktor
eksternal analisis SWOT dilihat dari sudut pandang Direktorat Jenderal Otonomi Daerah itu sendiri
dan peraturan-peraturan yang terkait dengan Otonomi Daerah.

Strength
1. Mempunyai kemampuan untuk merumuskan kebijakan/peraturan di bidang otonomi daerah.
Meskipun perumusan kebijakan merupakan tugas dan Ditjen Otda, menurut pendapat kelompok
kami hal tersebut merupakan salah satu kekuatan (strength) yang sangat penting karena:
a. Merupakan alat/tools utama dalam upaya mencapai tujuan yang sudah ditetapkan, yaitu
terkait dengan tujuan nomor 6, penataan regulasi dan revisi Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah dan tindak lanjut penyelesaian peraturan
pelaksanaannya;
b. Merupakan alat/tools utama dalam upaya mencapai Indikator Kinerja amanat RPJMN Tahun
2010-2014 yang terkait dengan perumusan Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah dan
revisi Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah;
c. Dalam kaitannya dengan permasalahan dan ancaman (threat) pelaksanaan otonomi daerah,
perumusan kebijakan ini merupakan salah satu cara dalam memberikan solusi atas
permasalahan dan ancaman tersebut; dan
2. Mempunyai kemampuan untuk melaksanakan Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan
Daerah (EKPPD).
Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah merupakan salah satu kontrol utama
pelaksanaan otonomi daerah oleh pemerintah pusat. Dengan adanya evaluasi Pemerintah Pusat
dapat membantu pengembangan kapasitas dengan memberikan rekomendasi hasil evaluasi,
memberikan penghargaan kepada daerah yang berkinerja bagus, dan memberikan sanksi bagi
daerah berkinerja rendah.
EKPPD ini juga sangat tekait dengan kekuatan yang disebutkan pertama diatas. Dalam
merumuskan kebijakan, hasil evaluasi dapat dijadikan salah satu alat pertimbangan.
3. Adanya payung hukum dalam pelaksanaan tugasnya yaitu Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaiman telah dirubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2008.

Weakness
1. Peraturan mengenai pembentukan Daerah Otonom Baru masih kurang efektif.
Peraturan yang dimaksud adalah Peraturan Pemerintah nomor 78 tahun 2007. PP tersebut sering
kurang efektif untuk digunakan mengendalikan pembentukan DOB karena masih banyak usulan
pembentukan daerah yang berasal dari usul inisiatif DPR yang cenderung bersifat politis, kurang
memperhatian persyaratan teknis dan administrasi pembentukan daerah otonom baru.
Sebagaimana terlihat dalam Indikator kinerja RPJMN terkait dengan pemekaran wilayah; Jumlah
daerah otonom baru yang terbentuk berdasarkan usulan Pemerintah selama tahun 2010-2014
ditargetkan 0 (nol) wilayah, namun indikator tersebut hanya terkait dengan pemekaran wilayah
yang diusulkan oleh pemerintah, bukan oleh DPR.
2. Masih terjadi tumpang tindih dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi antar komponen dalam
melakukan pembinaan, monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan. Hal ini
merupakan salah satu permasalahan klasik yang terjadi pada suatu institusi, contohnya di Ditjen


Otonomi Daerah adalah ketidakjelasan pembagian tugas dan fungsi antara Direktorat Urusan
Pemerintahan Daerah I dan Direktorat Urusan Pemerintahan Daerah II dalam bidang sosial.



Opportunity
1. Pengunaan Teknologi Informasi dalam melakukan evaluasi kinerja pemerintah daerah, sampai
saat ini Ditjen Otda belum menggunakan Teknologi Informasi dalam mengevaluasi kinerja
pemerintah daerah.
Sebagaimana kita ketahui saat ini, penggunaan teknologi informasi dalam pelaksanaan fungsi
pemerintahan menjadi salah satu isu yang strategis. Dengan menggunakan teknologi informasi
suatu proses pekerjaan atau kegiatan dapat berjalan dengan lebih optimal.
Dalam hubungannya dengan Ditjen Otonomi Daerah, penggunaan teknologi informsi ini dapat
digunakan dalam kegiatan Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Dimana hal
ini dapat memberikan efisiensi dan efektifitas, karena jumlah pemerintah daerah yang harus
dievaluasi jumlahnya sangat banyak (dari propinsi sampai kabupaten/kota) dan tersebar di
seluruh wilayah Indonesia.
2. Adanya perhatian masyarakat untuk memperbaiki sistem otonomi pemerintahan daerah.
Awareness masyarakat terhadap pelaksanaan otonomi daerah ini meningkat ketika terjadi kasus-
kasus korupsi yang menyeret para pejabat daerah. Kasus yang paling baru terjadi adalah kasus
suap dalam penanganan sengketa Pemilu Kepala Daerah di institusi Mahkamah Konstitusi.
Dengan adanya dukungan dan perhatian masyarakat ini, akan sangat membantu pelaksanaan
tugas Ditjen Otonomi Daerah. Yang kami maksud masyarakat disini adalah masyarakat umum,
bukan perwakilan masyarakat di DPR yang akan sangat politis dalam membahas permasalahan
otonomi daerah.

Threat
1. Kurang pedulinya pemerintah daerah atas rekomendasi hasil Evaluasi Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah.
Pemerintah daerah hanya melihat program evaluasi ini sebagai suatu kegiatan tahunan untuk
memberikan peringkat mana daerah yang berkinerja bagus dan mana yang tidak. Rekomendasi
untuk daerah yang kinerjanya kurang bagus hasil evaluasi, tidak dilaksanakan secara
sepenuhnya oleh pemerintah daerah.
Hal ini akan sangat mempengaruhi tujuan pelaksanaan evaluasi ini, terutama dalam hal
pembinaan melalui peningkatan kapasitas penyelenggaraan pemerintahan daerah.
2. Pelaksanaan Pilkada masih menimbulkan potensi permasalahan.
Potensi permasalahan yang dimaksud disini adalah yang terkait dengan sengketa hasil pemilihan
kepala daerah yang ditangani oleh Mahkamah Konstitusi. Sebagai gambaran pada tahun 2010,
terdapat sekitar 300-an daerah yang melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah, dari jumlah
tersebut, 232 daerah (sekitar 80%) disengketakan di Mahkamah Konstitusi.
Sengketa-sengketa ini tidak terlepas dari pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah secara langsung
oleh masyarakat di daerah tersebut. Yang pada konsepnya menimbulkan pro dan kontra
Secara konstitusional Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 menegaskan, bahwa kepala daerah dipilih
secara demokratis. Konstitusi secara tegas tidak mengharuskan Gubernur dipilih secara langsung
oleh rakyat, melainkan hanya dipilih secara demokratis. Rumusan dipilih secara demokratis lahir
dari perdebatan panjang di Panitia Ad Hoc 1 Badan Pekerja MPR tahun 2000 antara pendapat
yang menghendaki kepala daerah dipilih oleh DPRD dan pendapat lain yang menghendaki dipilih
secara langsung oleh rakyat. Jadi memang makna demokratis bisa berkonotasi dua yaitu


pertama, bisa dipilih secara langsung oleh rakyat dan kedua, bisa dipilih oleh DPRD sebagai
lembaga perwakilan rakyat.




Identifikasi faktor kunci keberhasilan internal dan eksternal:
Faktor Internal
No Kekuatan No Kelemahan
S1 Mempunyai kemampuan untuk
merumuskan kebijakan/peraturan di
bidang otonomi daerah
W1 Peraturan mengenai pembentukan
Daerah Otonom Baru masih kurang
efektif.
S2 Mempunyai kemampuan untuk
melaksanakan Evaluasi Kinerja
Pemerintah Daerah
W2 Masih terjadi tumpang tindih dalam
melaksanakan tugas pokok dan fungsi
antar komponen
S3 Adanya payung hukum dalam
pelaksanaan tugasnya


Faktor Eksternal
No Peluang No Ancaman
O1 Pengunaan Teknologi Informasi dalam
melakukan evaluasi kinerja pemerintah
daerah
T1 Kurang pedulinya pemerintah daerah atas
rekomendasi hasil evaluasi
penyelenggaraan pemerintahan daerah
O2 Adanya perhatian masyarakat untuk
memperbaiki sistem otonomi
pemerintahan daerah
T2 Pelaksanaan Pilkada masih menimbulkan
potensi permasalahan

Arahan Grand Strategy
Berdasarkan analisis SWOT yang telah dilakukan di atas, strategi dapat dirumuskan melalui empat
pendekatan, yaitu Strength-Opportunity (S-O), Strength-Threat (S-T), Weakness-Opportunity (W-O)
dan Weakness-Threat (W-T).
1. Strategi Strength-Opportunity (S-O)
a. S2 - O1
Membuat aplikasi teknologi informasi yang menghubungkan Ditjen Otonomi Daerah dengan
daerah yang dievaluaasi secara on-line untuk melaksanakan evauasi Kinerja Pemerintah
Daerah (EKPD).
b. S1 - O2
Membuat perbaikan (revisi) peraturan terkait otonomi daerah, dalam hal ini adalah Undang-
Undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah beserta peraturan
pelaksanaannya.

2. Strategi Strength-Threat (S-T)
a. S1 - T1
Membuat rumusan untuk merevisi Peraturan Pemerintah nomor 6 Tahun 2008 tentang
Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Sanksi yang ada dalam peraturan
tersebut masih belum jelas dan kurang spesifik. Hal ini juga bisa dilakukan dengan
menerbitkan peraturan pelaksanaan atas Peraturan Pemerintah tersebut.
Hal lain yang juga dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kualitas hasil evaluasi
b. S1 - T2


Membuat rumusan peraturan Pemilihan Kepala Daerah yang dapat memperkecil kemungkinan
terjadinya kecurangan dan munculnya sengketa.





3. Strategi Weakness-Opportunity (W-O)
a. W1 - O2
Membuat rumusan untuk merevisi Peraturan Pemerintah nomor 78 Tahun 2007 tentang Tata
Cara Pembentukan, Penghapusan, dan Penggabungan Daerah. Terutama memperketat
masuknya usulan Daerah Otonom Baru (DOB) dari DPR/DPRD.
b. W2 - O2
Membuat rumusan untuk merevisi Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 41 Tahun 2010
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Dalam Negeri.

4. Strategi Weakness-Threat (W-T)
a. W2 - T1
Meningkatkan koordinasi terkait tugas dan fungsi tiap direktorat dan meningkatkan koordinasi
antara Ditjen Otda dengan Pemerintah daerah terkait tindak lanjut hasil evaluasi
penyelenggaraan pemerintahan daerah.



D. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis SWOT diatas, strategi yang bisa dilakukan oleh Direktorat Jenderal
Otonomi Daeran lebih ditekankan pada perumusan dan perbaikan (revisi) aturan-aturan yang
terkait dengan otonomi daerah. Adapun, strategi-strategi yang dimaksud dalah sebagai berikut:
1. Membuat perbaikan (revisi) peraturan:
a. Undang-Undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah beserta peraturan
pelaksanaannya.
b. Peraturan Pemerintah nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah.
c. Peraturan Pemerintah nomor 78 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan,
Penghapusan, dan Penggabungan Daerah.
d. Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 41 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Dalam Negeri.
2. Membuat rumusan peraturan Pemilihan Kepala Daerah yang dapat memperkecil
kemungkinan terjadinya kecurangan dan munculnya sengketa.
3. Membuat aplikasi teknologi informasi untuk melaksanakan evauasi Kinerja Pemerintah
Daerah (EKPD);
4. Meningkatkan koordinasi terkait tugas dan fungsi tiap direktorat dan meningkatkan koordinasi
antara Ditjen Otda dengan Pemerintah daerah terkait tindak lanjut hasil evaluasi
penyelenggaraan pemerintahan daerah.