Anda di halaman 1dari 2

BUDAYA POLITIK INDONESIA

o View
o clicks
Posted February 7th, 2009 by NGEMBUL
o Pelayanan Publik
Konsep budaya politik berpusat pada imajinasi (pikiran dan perasaan) yang membentuk aspirasi, harapan,
preferensi dan priorita tertentu dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh perubahan sosial politik.
Masyarakat Indonesia secara sosio-kultural mempunyai pola budaya politik dengan elemen yang pada prinsipnya
bersifat dualistis, yang berkaitan dengan tiga hal.
1. Dualisme kebudayaan yang mengutamakan keharmonisan dengan kebudayaan yang mengutamakan
kedinamisan (konfliktual). Dualisme ini bisa dilihat dalam interaksi kebudayaan yang dipengaruhi oleh nilai-nilai
Jawa dengan kebudayaan yang dipengaruhi oleh kebudayaan luar Jawa, terutama Sumatera Barat, Sumatera Utara
dan Sulawesi. Yakni kebudayaan yang bersifat cross-cutting, secara garis besar penjabaran kultural itu dilihat
sebagai nilai-nilai esensial kejawaan dan non Jawa.
2. Dualisme antara budaya dan tradisi yang mengutamakan keleluasaan dengan yang mengutamakan
keterbatasan. Hal ini merupakan tendensi kemanunggalan militer-sipil dalam proses sosial politik semenjak
proklamasi sampai dengan Orde Baru.
3. Dualisme implikasi masuknya nilai-nilai Barat kedalam masyarakat Indonesia.
Diantara beberapa suku bangsa yang berpengaruh, cara berfikir Suku Jawa kelihatan paling dominan. Dimana
jumlah masyarakat Jawa mendominasi kehidupan politik dan pusat pemerintahan berada di Jawa. Pola umum
perilaku masyarakat Jawa bahwa meeka cenderung menghindarkan diri pada situasi konflik mereka karena selalu
mudah tersinggung. Konsep dalam masyarakat Jawa membentuk pola tindak-tanduk yang wajar yang berupa
pengekangan emosi dan pembatasan antusiasme serta ambisi. Menyakiti dan menyinggung orang lain dipandang
sebagai tindakan yang kasar.
Elemen yang tampak dualistis, berakar pada tradisi kehidupan militer dan masyarakat sipil. Pada prinsipnya titik
berat antara kedua tradisi bersifat kontradiktif. Tradisi militer mengutamakan hirarki dan komando yang ketat,
segala gerak dan tindakan dibatasi. Militer juga menitikberatkan suasana penciptaan keamanan fisik. Dilain pihak,
kelompok sipil dilandasi oleh tradisi penuh keleluasaan dan persamaan. Hirarkinya bersifat jauh lebih longgar dan
insidental.
Pada kebanyakan masyarakat non Barat(non-Anglo Saxon), terutama masyarakat Asia, persepsi yang dimiliki
tentang kekuasaan berbeda dengan masyarakat Barat. Perbedaan ini berakar pada perbedaan falsafah yang
fundamental mengenai hakekat kedudukan individu dalam masyarakat. Pada masyarakat Asia semangat
kerjasama antara anggota masyarakat sangat sentral sehingga kepentingan pribadi individu ditempatkan pada
posisi periferal, dimana kepentingan individu mudah dikorbankan untuk kepentingan kolektif. Sedangkan
masyarakat non-Asia tidak demikian.
Dalam hubungan sosial diatas, kekuasaan politik timbul dari hubungan antara individu yang menempatkan
kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi. Kebersamaan timbul dari proses saling adaptasi antara berbagai
kepentingan pribadi. Oleh karena itu, dalam kehidupan masyarakat seperti ini, hubungan antara warga masyarakat
dengan pemegang kekuasaan secara alamiah berada dalam kondisi yang lebih harmonis bila dibandingkan dengan
hubungan yang terdapat di masyarakat Barat.