Anda di halaman 1dari 2

Cerita, "Tanah Warisan"

Pada suatu kala, seorang pria sedang berjalan di sebuah tempat untuk mencari harta
karun. Sampai akhirnya, tibalah ia di sebuah jalan bercabang tiga. Kebetulan ada
orang tua yang sedang berdiri di pinggir persimpangan jalan tersebut.

Pria itu sedang bingung karena ada tiga jalan menuju arah yang berbeda. Ia pun sulit
memutuskan mau memilih jalan yang ingin ditempuh. Lalu ia bertanya pada orang
tua tersebut, Hai, pak tua. Bolehkah saya bertanya? Saya sedang dalam perjalanan
mencari harta karun. Tapi di depan saya ada tiga jalan yang berbeda. Bolehkah
bapak menunjukkan kepada saya jalan yang benar?

Orang tua itu tidak menjawab. Ia hanya menunjuk jalan yang pertama.

Pria itu berterima kasih dan segera mengambil jalan yang pertama.

Beberapa saat kemudian, pria yang tadi kembali lagi. Tapi kali ini seluruh badannya kotor terkena lumpur. Ia mendekati pak
tua itu dan berkata, Hai, pak tua. Tadi saya tanya arah ke tempat harta karun dan Anda menunjuk ke jalan pertama. Tapi
saya malah terjebak ke dalam kolam lumpur yang luas. Badan saya jadi kotor begini. Ia lalu bertanya, Sekarang di mana
jalan menuju harta karun? Tolong tunjukkan pada saya!

Orang tua itu tetap tidak bersuara. Ia kemudian menunjuk ke jalan yang ke dua.

Pria itu kemudian berterima kasih dan segera mengambil jalan yang kedua.

orang tua menunjuk jalanBeberapa saat kemudian, pria tersebut kembali lagi. Badannya bukan hanya terkena lumpur
pekat, tapi juga celananya penuh dengan sobekan dan kakinya luka seperti tergores sesuatu.

Kali ini ia mendekati pria tua itu dengan ekspresi wajah yang kesal.Ia berkata dengan sedikit marah, Hai, pak tua! Tadi
saya menanyakan arah menuju tempat harta karun dan Anda menunjuk ke jalan yang kedua. Tapi, jalan itu penuh dengan
semak berduri. Seluruh kaki saya jadi terluka karena tergores duri.

Kali ini ia bertanya lagi, Sekarang saya tanya sekali lagi, di mana jalan menuju harta karun itu? Anda sudah dua kali
membohongi dan mencelakai saya. Sekali lagi berbohong, Anda akan tahu akibatnya.

Pria tua itu tetap diam, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia sekarang menunjuk ke jalan yang ke tiga.

Apakah Anda yakin dan tidak berbohong? tanya pria itu.

Pria tua itu menganggukkan kepalanya dan sekali lagi menunjuk ke jalan yang ketiga.

Pria itu pun segera pergi meninggalkan pria tua tersebut. Namun beberapa saat kemudian, ia kembali lagi sambil berlari
seperti ketakutan. Dengan napas tersengal, ia bertanya dengan marah, Hai, pak tua! Apakah Anda mau membunuh saya?
Di jalan sana ada banyak sekali binatang buas. Itu sama saja dengan cari mati.

Pria tua itu akhirnya buka mulut, berkata, Semua jalan tadi sebenarnya bisa menuju ke tempat harta karun. Hanya saja
untuk menuju ke sana, Anda harus melewati jalan tersebut. Anda bisa memilih melewati kolam lumpur, semak berduri, atau
binatang buas. Anda bisa pilih salah satu. Kalau benar-benar mau pergi ke tempat harta karun, Anda harus berani melewati
salah satunya. Jika Anda tidak mau, silakan kembali saja.

Begitu mendegar penjelasan dari pria tua itu, ia menundukkan kepala. Ia mundur, membatalkan perjalanannya dan kembali
pulang

***


Sahabat, Saya yakin semua orang dengan semangat akan menjawab Ya saat ditanya apakah mereka ingin meraih
kesuksesan. Namun sebagian besar tidak berani menjawab saat ditanya apakah mereka bersedia membayar harganya.
Kenyataan yang sering terjadi adalah banyak sekali orang yang tidak bersedia menempuh jalan kesuksesan yang terlihat
sangat berat. Mereka hanya ingin langsung sampai di garis finis, tapi tidak pernah mau melangkahkan kakinya untuk
mencapai garis finis tersebut.

Salah satu tantangan berat yang harus Anda hadapi saat berjuang meraih kesuksesan adalah mendorong diri Anda untuk
maju meskipun jalan yang sedang Anda tempuh sangat berat, berliku, dan penuh rintangan. Tantangan inilah yang
seringkali membuat nyali seseorang menjadi ciut. Tantangan inilah yang akhirnya menyebabkan banyak orang tidak berani
membayar harga dari sebuah kesuksesan. Mereka tidak siap untuk membayar dan lebih memilih melupakan kesuksesan
yang ingin mereka raih.

Tidak peduli apa pun tujuan yang ingin Anda capai, rintangan tetap akan ada dan tidak akan hilang. Di mana ada
kesuksesan, di situ ada rintangan yang menghalanginya. Hanya orang-orang sukses yang berani menghadapi rintangan
demi rintangan sampai akhirnya meraih tujuan. Sebaliknya orang gagal lebih memilih untuk menyerah. Dan yang lebih
menyedihkan, mereka bahkan tidak berani mencoba saat melihat betapa beratnya perjalanan yang harus dilalui. Mental
mereka sudah dikalahkan jauh sebelum mereka memulai.

Rintangan akan selalu berdiri di depan kesuksesan. Anda harus berani melewatinya sebelum berhasil mendapatkan
kesuksesan. Ada dua pilihan, mengeluh dan menyalahkan rintangan itu atau mendorong diri Anda untuk mengalahkan
rintangan tersebut. Anda boleh menyalahkan rintangan yang kelihatannya selalu menghadang Anda. Tapi cobalah pikirkan,
apakah rintangan itu akan hilang dengan cara menumpahkan kekesalan Anda?