Anda di halaman 1dari 39

B.

Ibn Taimiyyah (Guru ibn Qayyim Aljauzi) berkata :



Orang-orang yang melaksanakan perayaan Maulid Nabi SAW akan diberi pahala. Begitulah yang
dilakukan oleh sebagian orang. Hal mana juga di temukan di kalangan Nasrani yang
memperingati kelahiran Isa AS. Dalam Islam juga dilakukan oleh kaum muslimin sebagai rasa
cinta dan penghormatan kepada Nabi SAW. Dan Allah SWT akan memberi pahala kepada
mereka atas kecintaan mereka kepada Nabi mereka, bukan dosa atas bidah yang mereka
lakukan. (Manhaj as-Salaf li Fahmin Nushush Bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 399)

Salah satu ulama mekkah Syaikh Muhammad bin alawi Al-maliki di kitab (Mafahim yajibu an
tusahhah 224-226) beliau berkata :

Sesungguhnya perkumpulan (Maulid) ini merupakan sarana yang baik untuk berdakwah.
Sekaligus merupakan kesempatan emas yang seharusnya tidak boleh punah. Bahkan menjadi
kewajiban para dai dan ulama untuk mengingatkan umat kepada akhlaq, sopan santun, keadaan
sehari-hari, sejarah, tata cara bergaul dan ibadah Nabi Muhammad SAW. Dan hendaknya mereka
menasehati dan memberikan petunjuk untuk selalu melakukan kebaikan dan keberuntungan. Dan
memperingatkan umat akan datangnya bala (ujian), bidah, kejahatan dan berbagai fitnah.
Berikut pendapat Imam Syafii ra

' '-' - - -= - '- -= -' '= '- '- -- '='-= ` ,+ =--' ' '-' '- -= - ,=' ' -' '=, '-,- -
=' ,+ =--' ,-=-' -( 313 1 - )

Artinya ; Imam Syafii ra berkata Segala hal (kebiasaan) yang baru (tidak terdapat di masa
Rasulullah) dan menyalahi (bertentangan) dengan pedoman Al-Quran, Al-Hadits, Ijma (sepakat
Ulama) dan Atsar (Pernyataan sahabat) adalah bidah yang sesat (bidah dholalah). Dan segala
kebiasaan yang baik (kebaikan) yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan tidak
menyelahi (bertentangan) dengan pedoman tersebut maka ia adalah bidah yang terpuji (bidah
mahmudah atau bidah hasanah), bernilai pahala. (Hasyiah Ianathuth-Thalibin Juz 1 hal. 313)
Hal yang perlu kita ingat bahwa Maulid Nabi atau peringatan kelahiran Nabi Muhammad
shallallahu alaihi wasallam bukanlah perkara baru (bidah) dalam urusan agama (urusan kami).

Peringatan kelahiran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam atau peringatan hari kelahiran
kita sendiri maupun peringatan haul (peringatan yang diadakan setahun sekali bertepatan dengan
wafatnya seseorang) termasuk perkara kebiasaan atau adat.

Sedangkan perkara urusan agama (urusan kami) adalah perkara terkait dengan dosa yakni
perkara yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla menetapkannya atau mensyariatkannya bagi
manusia agar terhindar dari dosa atau terhindar dari siksaan api neraka.

Hanya Allah Azza wa Jalla yang menetapkan perkara terkait dengan dosa yakni

1. Segala perkara yang jika ditinggalkan berdosa (kewajiban)
2. Segala perkara yang jika dilanggar atau dikerjakan berdosa (larangan dan segala apa yang
telah diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla)

Perkara syariat atau urusan agama (urusan kami) yakni perintah dan larangan hanya berasal dari
Allah Azza wa Jalla

Dari Ibnu Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, di dalam agama itu
tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-
Nya dan larangan-Nya. (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda Barang siapa yang membuat perkara baru dalam
urusan agama yang tidak ada sumbernya (tidak turunkan keterangan padanya) maka tertolak.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Telah menceritakan kepada kami Yaqub telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Saad dari
bapaknya dari Al Qasim bin Muhammad dari Aisyah radliallahu anha berkata; Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam bersabda: Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini
yang tidak ada perintahnya (tidak turunkan keterangan padanya) maka perkara itu tertolak. (HR
Bukhari 2499)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla membawa agama atau
perkara yang disyariatkanNya yakni apa yang telah diwajibkanNya (jika ditinggalkan berdosa), apa
yang telah dilarangNya dan apa yang telah diharamkanNya (jika dilanggar berdosa). Allah taala
tidak lupa.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya Allah telah mewajibkan
beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah
memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah
telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan
Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka
jangan kamu perbincangkan dia. (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)

Telah sempurna agama Islam maka telah sempurna atau tuntas segala laranganNya, apa yang
telah diharamkanNya dan apa yang telah diwajibkanNya, selebihnya adalah perkara yang
didiamkanNya atau dibolehkanNya.

Firman Allah taala yang artinya dan tidaklah Tuhanmu lupa (QS Maryam [19]:64)

Firman Allah taala yang artinya, Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan
telah Ku-cukupkan kepadamu nimat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu (QS Al-
Maaidah: [5] : 3)

Ibnu Katsir ketika mentafsirkan (QS. al-Maidah [5]:3) berkata, Tidak ada sesuatu yang halal
melainkan yang Allah halalkan, tidak ada sesuatu yang haram melainkan yang Allah haramkan
dan tidak ada agama kecuali perkara yang di syariatkan-Nya.

Rasulullah Shallallau Alaihi wa Sallam bersabda: Apa-apa yang Allah halalkan dalam kitabNya
adalah halal, dan apa-apa yang diharamkan dalam kitabNya adalah haram, dan apa-apa yang
didiamkanNya adalah dibolehkan. Maka, terimalah kebolehan dari Allah, karena sesungguhnya
Allah tidak lupa terhadap segala sesuatu. Kemudian beliau membaca (Maryam: 64): Dan tidak
sekali-kali Rabbmu itu lupa. (HR. Al Hakim dari Abu Darda, beliau menshahihkannya. Juga
diriwayatkan oleh Al Bazzar)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda Orang muslim yang paling besar dosanya
(kejahatannya) terhadap kaum muslimin lainnya adalah orang yang bertanya tentang sesuatu
yang sebelumnya tidak diharamkan (dilarang) bagi kaum muslimin, tetapi akhirnya sesuatu
tersebut diharamkan (dilarang) bagi mereka karena pertanyaannya. (HR Bukhari 6745, HR
Muslim 4349, 4350)

Para Imam Mujtahid dalam beristinbat menghindari metodologi istinbat seperti al-Maslahah al-
Mursalah atau Al-Istislah yakni Menetapkan hukum suatu masalah yang tak ada nash-nya atau
tidak ada ijma terhadapnya, dengan berdasarkan pada kemaslahatan semata yang oleh syara
(dalam Al Quran dan As Sunnah) tidak dijelaskan ataupun dilarang

Metode istinbat, al maslahah-mursalah atau istislah pertama kali diperkenalkan oleh Imam Malik
ra (W. 97 H.), pendiri mazhab Malik namun pada akhirnya beliau meninggalkannya. Sejak setelah
abad ketiga hijriyah tidak ada lagi ahli usul fiqih yang menisbatkan maslahahmursalah kepada
Imam Malik ra.

Menurut Imam Syafii cara-cara penetapan hukum seperti itu sekali-kali bukan dalil syari. Beliau
menganggap orang yang menggunakannya sama dengan menetapkan syariat berdasarkan hawa
nafsu atau berdasarkan pendapat sendiri (akal pikiran sendiri) yang mungkin benar dan mungkin
pula salah.

Ibnu Hazm termasuk salah seorang ulama yang menolak cara-cara penetapan hukum seperti itu
Beliau menganggap bahwa cara penetapan seperti itu menganggap baik terhadap sesuatu atau
kemashlahatan menurut hawa nafsunya (akal pikiran sendiri), dan itu bisa benar dan bisa pula
salah, misalnya mengharamkan sesuatu tanpa dalil (Allah taala tidak turunkan keterangan
padanya).

Jadi mereka yang mengikuti para ulama yang melarang yang tidak dilarangNya, mengharamkan
yang tidak diharamkanNya atau mewajibkan yang tidak diwajibkanNya akan terjerumus kekufuran
karena menjadikan ulama-ulama mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah. (QS at-Taubah [9]:31
)

Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal
yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang
tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan
padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.
(QS al-Araf [7] : 33)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya Rabbku memerintahkanku untuk
mengajarkan yang tidak kalian ketahui yang Ia ajarkan padaku pada hari ini: Semua yang telah
Aku berikan pada hamba itu halal, Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus,
tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka
dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka,
serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak
turunkan keterangan padanya. (HR Muslim 5109)

Allah Azza wa Jalla berfirman, Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai
tuhan-tuhan selain Allah. (QS at-Taubah [9]:31 )

Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta
sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah? Nabi menjawab,
tidak, Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta
itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan
pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya

Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda mereka (para rahib dan pendeta) itu
telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram,
kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.
(Riwayat Tarmizi)

Kesimpulannya Maulid Nabi bukan perkara baru (bidah) terkait dengan dosa atau bukan perkara
baru dalam urusan agama (urusan kami)

Maulid Nabi adalah perkara baru dalam perkara kebiasaan atau adat.

Contoh lain perkara baru dalam perkara kebiasaan atau adat yakni Ratib Al Haddad , tentulah
Rasulullah tidak pernah membaca ratib Al Haddad karena untaian doa dan dzikir ratib Al Haddad
dibuat oleh Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad sekitar 1071 H namun ratib Al Haddad tidak
termasuk perkara terlarang atau tidak termasuk bidah sayyiah ataupun bidah dholalah

Perkara kebiasaan atau adat berlaku kaidah ushul fiqih, wal ashlu fi aadaatinal ibaahati hatta yajii
u sooriful ibahah yang artinya dan hukum asal dalam kebiasaan (adat) adalah boleh saja sampai
ada dalil yang memalingkan dari hukum asal atau sampai ada dalil yang melarang atau
mengharamkannya.

Pada hakikatnya segala sesuatu pada dasarnya mubah (boleh)

Maksud dari prinsip ini adalah bahwa hukum asal dari segala sesuatu yang diciptakan Allah
adalah halal dan mubah. Tidak ada yang haram kecuali apa-apa yang disebutkan secara tegas
oleh nash yang shahih sebagai sesuatu yang haram. Dengan kata lain jika tidak terdapat nash
yang shahih atau tidak tegas penunjukan keharamannya, maka sesuatu itu tetaplah pada hukum
asalnya yaitu mubah (boleh)

Kaidah ini disandarkan pada firman Allah subhanahu wa tala

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (QS. Al-Baqarah: 29)

Dan dia Telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya,
(sebagai rahmat) daripada-Nya (QS. Al-Jatsiyah: 13)

Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah Telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa
yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin
(QS. Luqman: 20)

Ayat-ayat di atas menegaskan bahwa segala apa yang ada di muka bumi seluruhnya adalah
nikmat dari Allah yang diberikan kepada manusia sebagai bukti kasih sayang-Nya. Dia hanya
mengharamkan beberapa bagian saja, itu pun karena hikmah tertentu untuk kebaikan manusia itu
sendiri. Dengan demikian wilayah haram dalam syariat Islam itu sangatlah sempit, sedangkan
wilayah halal sangatlah luas.

Begitupula kaidah yang serupa berbunyi

Laa tusyrou ibadatun illaa bi syarillah, wa laa tuharramu adatun illaa bitahriimillah

Tidak boleh dilakukan suatu ibadah kecuali yang disyariatkan oleh Allah; dan tidak dilarang suatu
adat atau kebiasaan kecuali yang diharamkan oleh Allah.

Contoh lainnya

Kebiasaan atau membiasakan bersededekah untuk anak yatim setiap hari Jumat sebelum sholat
jumat adalah kebiasaan yang baik karena memang tidak ada dalil yang melarangnya.

Kebiasaan atau membiasakan membaca surah Yasin setiap malam Jumat bukanlah bidah dalam
urusan agama namun kebiasaan yang baik karena tidak menyalahi satupun laranganNya atau
tidak bertentangan dengan Al Quran dan As Sunnah

Begitupula para Sahabat melakukan kebiasaan atau membiasakan puasa sunnah setiap bulannya
melebihi apa yang dicontohkan oleh Rasulullah yang hanya 3 hari dalam sebulan adalah
kebiasaan yang dibolehkan karena memang tidak menyalahi satupun laranganNya atau tidak
bertentangan dengan Al Quran dan As Sunnah

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Syahin Al Washithiy telah menceritakan kepada kami
Khalid bin Abdullah dari Khalid Al Hadzdza dari Abu Qalabah berkata, telah mengabarkan
kepada saya Abu Al Malih berkata; Aku dan bapakku datang menemui Abdullah bin Amru lalu dia
menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dikabarkan tentang
shaumku lalu Beliau menemuiku. Maka aku berikan kepada Beliau bantal terbuat dari kulit yang
disamak yang isinya dari rerumputan, lalu Beliau duduk diatas tanah sehingga bantal tersebut
berada di tengah antara aku dan Beliau, lalu Beliau berkata: Bukankah cukup bagimu bila kamu
berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulannya? Abdullah bin Amru berkata; Aku katakan:
Wahai Rasulullah? (bermaksud minta tambahan) . Beliau berkata: Silahkan kau lakukan Lima hari.
Aku katakan lagi: Wahai Rasulullah? Beliau berkata: Silahkan kau lakukan Tujuh hari. Aku
katakan lagi: Wahai Rasulullah? Beliau berkata: Silahkan kau lakukan Sembilan hari. Aku katakan
lagi: Wahai Rasulullah? Beliau berkata: Silahkan kau lakukan Sebelas hari. Kemudian Nabi
shallallahu alaihi wasallam berkata: Tidak ada shaum melebihi shaumnya Nabi Daud
Aalaihissalam yang merupakan separuh shaum dahar, dia berpuasa sehari dan berbuka sehari.
(HR Bukhari 1844)

Jadi ketika kita hendak melakukan suatu kebiasaan atau adat yang menurut pengetahuan kita
tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka kita cari adakah
larangannya dalam Al Quran dan As Sunnah atau bertentangankah dengan Al Quran dan As
Sunnah.

Setiap perkara kebiasaan atau adat yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam , kita tetapkan hukum perkaranya kedalam hukum taklifi yang lima yakni wajib, sunnah
(mandub), mubah, makruh, haram. Barulah kita memutuskan melakukan atau tidak
melakukannya. Perbuatan ini termasuk dzikrullah atau mengingat Allah

Al-Imam an-Nawawi membagi bidah menjadi lima macam.

-

Sesungguhnya bidah terbagi menjadi 5 macam ; bidah yang wajib, mandzubah (sunnah),
muharramah (bidah yang haram), makruhah (bidah yang makruh), dan mubahah (mubah)
[Syarh An-Nawawi alaa Shahih Muslim, Juz 7, hal 105]

Di dalam kitab Qawaidul Ahkam fi Mashalihul Anam karya Imam Izzuddin bin Abdussalam
(wafat 660 H/ 1262 M) cetakan Al-Maktabah Al-Husainiyah Mesir tahun 1353 H / 1934 M juz 2
halaman 195 diterangkan sebagai berikut:

Artinya: Bidah adalah suatu pekerjaan yang tidak dikenal di zaman Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam.
Bidah terbagi ke dalam 5 bagian, yaitu: 1. Bidah Wajib, 2. Bidah Haram, 3. Bidah Sunnah, 4.
Bidah Makruh, dan 5. Bidah Mubah.
Adapun cara untuk mengetahui kelima bidah tersebut adalah engkau harus menjelaskan tentang
bidah berdasarkan atas kaedah-kaedah hukum syara.
Maka seandainya engkau masuk di dalam kaedah-kaedah tentang kewajiban bidah, maka
disebut bidah wajib.
Seandainya engkau masuk di dalam kaedah-kaedah tentang keharaman bidah, maka disebut
bidah haram.
Seandainya engkau masuk di dalam kaedah-kaedah kesunnahan bidah, maka disebut bidah
sunnah.
Seandainya engkau masuk di dalam kaedah-kaedah kemakruhan bidah, maka disebut bidah
makruh.
Seandainya engkau masuk di dalam kaedah-kaedah kebolehan bidah, maka disebut bidah
mubah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda adanya sunnah hasanah dan sunnah
sayyiah

- '' --= - _-,- = -= '' = -,-=' --= - , = '-` -= = - , -` -= --= = _=-' - -, , '' - -= '
,'= '' _'- '' ,- _' = '' - '- '= ' '' --= - , = = --' +--'- - +''= ,- ,-' +,'= '-
'= '-' -= ='= -- '= '-- '' - ''= ` ' += =' - _-= -= ,-=- ' --' _ ,-'-- ` =' '= ` -
'= '' _'- '' ,- '- += -' = _-= .-= - = .`- ' -- - -- '+- .- --= -- ''- '' - - '- ,
= -- - -- '+- .- -,- -- ''- '' - - - ,= - --, '' '+-,' - - --, '' '+- .-= - .`-

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir bin Abdul
Hamid dari Al Amasy dari Musa bin Abdullah bin Yazid dan Abu Adh Dhuha dari Abdurrahman
bin Hilal Al Absi dari Jarir bin Abdullah dia berkata; Pada suatu ketika, beberapa orang Arab
badui datang menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan mengenakan pakaian dari
bulu domba (wol). Lalu Rasulullah memperhatikan kondisi mereka yang menyedihkan. Selain itu,
mereka pun sangat membutuhkan pertolongan. Akhirnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
menganjurkan para sahabat untuk memberikan sedekahnya kepada mereka. Tetapi sayangnya,
para sahabat sangat lamban untuk melaksanakan anjuran Rasulullah itu, hingga kekecewaan
terlihat pada wajah beliau. Jarir berkata; Tak lama kemudian seorang sahabat dari kaum Anshar
datang memberikan bantuan sesuatu yang dibungkus dengan daun dan kemudian diikuti oleh
beberapa orang sahabat lainnya. Setelah itu, datanglah beberapa orang sahabat yang turut serta
menyumbangkan sedekahnya (untuk diserahkan kepada orang-orang Arab badui tersebut) hingga
tampaklah keceriaan pada wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kemudian Rasulullah
shalallahu alaihi wassalam bersabda: Siapa yang melakukan satu sunnah hasanah dalam Islam,
maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut
setelahnya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan siapa yang melakukan satu
sunnah sayyiah dalam Islam, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang
mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun. (HR
Muslim 4830)

Kata sunnah dalam sunnah hasanah dan sunnah sayyiah bukan berarti sunnah Rasulullah karena
tidak ada sunnah Rasulullah yang sayyiah (jelek).

Kata sunnah dalam sunnah hasanah dan sunnah sayyiah artinya contoh atau suri tauladan atau
perkara kebiasaan yang tidak dilakukan oleh orang lain sebelumnya atau perkara baru (bidah)
dalam kebiasaan (adat)

Dalam Syarhu Sunan Ibnu Majah lil Imam As Sindi 1/90 menjelaskan bahwa Yang membedakan
antara sunnah hasanah dengan sayyiah adalah adanya kesesuaian atau tidak dengan pokok-
pokok syari maksudnya perbedaan antara sunnah hasanah dengan sayyiah adalah tidak
bertentangan atau bertentangan dengan Al Quran dan Hadits

Sunnah Hasanah (baik) adalah contoh, suri tauladan, perkara baru (bidah) dalam perkara
kebiasaan (adat) yang tidak menyalahi satupun laranganNya atau tidak bertentangan dengan Al
Quran dan Hadits

Sunnah Sayyiah (buruk) adalah contoh, suri tauladan, perkara baru (bidah) dalam perkara
kebiasaan (adat) yang menyalahi laranganNya atau bertentangan dengan Al Quran dan Hadits.
Oleh karena bertentangan dengan Al Qur'an dan Hadits maka termasuk perkara terkait dengan
dosa sehingga termasuk bid'ah dholalah

Jadi bid'ah dholalah adalah bid'ah dalam urusan agama (urusan kami) dan sunnah sayyiah

Berikut pendapat Imam Syafii ra

-= - - '-' '- -= '- ,=' - -= '- ' '-' =--' ,+ ` '='-= -- '- '- -' '= - '-,- -''=, '
,-=-' =--' ,+ =' -( 313 1 - )

Artinya ; Imam Syafii ra berkata Segala hal (kebiasaan) yang baru (tidak terdapat di masa
Rasulullah) dan menyalahi (bertentangan) dengan pedoman Al-Quran, Al-Hadits, Ijma (sepakat
Ulama) dan Atsar (Pernyataan sahabat) adalah bidah yang sesat (bidah dholalah). Dan segala
kebiasaan yang baik (kebaikan) yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan tidak
menyelahi (bertentangan) dengan pedoman tersebut maka ia adalah bidah yang terpuji (bidah
mahmudah atau bidah hasanah), bernilai pahala. (Hasyiah Ianathuth-Thalibin Juz 1 hal. 313)

Contoh bidah hasanah atau perkara baru (bidah) dalam perkara kebiasaan (adat) yang paling
terkenal adalah peringatan Maulid Nabi.

Kesimpulannnya bahwa peringatan Maulid Nabi bukan termasuk bidah dalam urusan agama
(urusan kami) namun bidah dalam perkara kebiasaan yang baik atau bidah hasanah

Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi): merupakan Bidah hasanah
yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran
Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para
fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan
membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah
taala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah, dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : ketahuilah
salah satu bidah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi shallallahu alaihi
wasallam

Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah, dengan karangan maulidnya yang terkenal al aruus
juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu,
dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya
serta merayakannya.

Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal
148 cetakan al maktab al islami berkata: Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang
yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar.

Peringatan Maulid Nabi dapat kita pergunakan untuk intropeksi diri sejauh mana kita telah
meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bagi kehidupan kita hari ini maupun esok.
Begitupula memperingati hari kelahiran diri sendiri dapat kita pergunakan untuk intropeksi diri
sejauh mana kita mempersiapkan diri bagi kehidupan di akhirat kelak adalah bukan perkara dosa
atau terlarang.

Allah Azza wa Jalla berfirman, Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad , Perhatikan masa
lampaumu untuk hari esokmu (QS al Hasyr [59] : 18)

Kemungkinan terjadi kesalahan adalah cara kita mengisi peringatan Maulid Nabi atau cara kita
mengisi peringatan hari kelahiran itu sendiri seperti janganlah berlebih-lebihan atau bermewah-
mewahan.

Sedangkan peringatan Maulid Nabi yang umumnya dilakukan mayoritas kaum muslim (as-sawad
al azham) dan khususnya kaum muslim di negara kita sebagaimana pula yang diselenggarakan
oleh umaro (pemerintah) mengisi acara peringatan Maulid Nabi dengan urutan pembacaan Al
Quran, pembacaan Sholawat dan pengajian atau talim seputar kehidupan Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam dan kaitannya dengan kehidupan masa kini

Selasa, 27 Mei 08 06:49 WIB



Assalamu'alaikum

Ustadz, saya mau tanya batasan amalan bid'ah.

Mohon penjelasan, karena saya banyak mendengar ada ustadz yang menyatakan semua bid'ah
itu sesat di dalam urusan ibadah dan ada yang mengatakan bid'ah ada yang hasan, dan
semuanya mengemukakan alasan atau dasarnya.

Yang masih menjadi pertanyaan saya bid'ah dalam ibadah, bukankah apabila kita bekerja kalau
diniatkan karena mendapatkan ridho dari Allah juga d catat sebagai amal ibadah, atau dalam
berkhutbah Rasullulah selalu menggunakan bahasa Arab, bagaimana dengan di luar Arab?
Mohon penjelasan.

Syukron

Agung Swasono
irsyad

Jawaban
Assalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Para ulama memang berbeda pendapat ketika mendefinisikan bid'ah. Definisi yang disodorkan
oleh para ulama tentang isitlah ini ada sekian banyak versi.

Hal itu lantaran persepsi mereka atas bid'ah itu memang berbeda-beda. Sebagian mereka ada
yang meluaskan pengertiannya hingga mencakup apapun jenis perbuatan yang baru atau diada-
adakan, sedangkan yang lainnya menyempitkan batasannya.

Dalam kitab Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah (Ensiklopedi Fiqih) jilid 8 keluaran Kementrian
Wakaf dan Urusan Ke-Islaman Kuwait halaman 21 disebutkan bahwa secara umum ada dua
kecenderungan orang dalam mendefinisikan bid'ah.

Pertama, kecenderungan yang menganggap bahwa ibadah yang tidak terdapat di masa
Rasulullah SAW sebagai bid'ah, namun hukumnya tidak selalu sesat atau haram.

Kedua adalah kecenderungan untuk mengatakan bahwa semua bid'ah adalah sesat.

Tapi kalau kita tarik garis umum, paling tidak ada dua kecenderungan ulama dalam masalah ini.

Kelompok Pertama

Mereka yang meluaskan batasan bid'ah itu mengatakan bahwa bid'ah adalah segala yang baru
diada-adakan yang tidak ada dalam kitab dan sunnah. Baik dalam perkara ibadah ataupun adat.
Baik pada masalah yang baik atau yang buruk.

a. Tokoh

Di antara para ulama yang mewakili kalangan ini antara lain adalah Al-Imam Asy-Syafi'i dan
pengikutnya seperti Al-'Izz ibn Abdis Salam, An-Nawawi, Abu Syaamah.

Sedangkan dari kalangan Al-Malikiyah ada Al-Qarafi dan Az-Zarqani.

Dari kalangan Hanafiyah seperti Ibnul Abidin dan dari kalangan Al-Hanabilah adalah Al-Jauzi serta
Ibnu Hazm dari kalangan Dzahiri.

Bisa kita nukil pendapat Al-Izz bin Abdis Salam yang mengatakan bahwa bid`ah perbuatan yang
tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW, yang terbagi menjadi lima hukum. Yaitu bid'ah wajib,
bid'ah haram, bid'ah mandub (sunnah), bid'ah makruh dan bid'ah mubah.

b. Contoh

Ada beberapa contoh yang bisa ditampilkan dalam masalah ini, antara lain:

Contoh bid'ah wajib misalnya belajar ilmu nahwu yang sangat vital untuk memahami kitabullah
dan sunnah rasulnya.
Contoh bid'ah haram misalnya pemikiran dan fikrah yang sesat seperti Qadariyah, Jabariyah,
Murjiah dan Khawarij.
Contoh bid'ah mandub (sunnah) misalnya mendirikan madrasah, membangun jembatan dan juga
shalat tarawih berjamaah di satu masjid.
Contoh bid'ah makruh misalnya menghias masjid atau mushaf Al-Quran. Sedangkan contoh
bid'ah mubah misalnya bersalaman setelah shalat.
c. Dalil

Pendapat bahwa bid'ah terbagi menjadi lima kategori hukum didasarkan kepada dalil-dalil berikut:

Perkataan Umar bin Al-Khattab radhiyallahu anhu tentang shalat tarawih berjamaah di masjid
bulan Ramadhan yaitu:

Sebaik-baik bid'ah adalah hal ini.

Ibnu Umar juga menyebut shalat dhuha' berjamaah di masjid sebagai bid'ah yaitu jenis bid'ah
hasanah atau bid'ah yang baik.

Hadits-hadits yang membagi bid'ah menjadi bid'ah hasanah dan bid'ah dhalalah seperti hadits
berikut:

Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang
yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. Siapa yang mensunnahkan sunnah sayyi'ah
(kejelekan), maka dia mendapatkan ganjaran dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga
hari qiyamat.

Kelompok Kedua

Kalangan lain dari ulama mendefinisikan bahwa yang disebut bid'ah itu semuanya adalah sesat,
baik yang dalam ibadah maupun adat.

Di antara mereka ada yang mendifiniskan bid'ah itu sebagai sebuah jalan (thariqah) dalam agama
yang baru atau tidak ada sebelumnya yang bersifat syar`i dan diniatkan sebagai thariqah
syar'iyah.

a. Tokoh

Di antara mereka yang berpendapat demikian antara lain adalah At-Thurthusy, Asy-Syathibi,
Imam Asy-Syumunni dan Al-Aini dari kalangan Al-Hanafiyah. Juga ada Al-Baihaqi, Ibnu Hajar Al-
`Asqallany serta Ibnu Hajar Al-Haitami dari kalangan Asy-Syafi'iyah. Dan kalangan Al-Hanabilah
diwakili oleh Ibnu Rajab dan Ibnu Taymiyah.

b. Contoh

Contohnya adalah orang yang bernazar untuk puasa sambil berdiri di bawah sinar matahari atau
tidak memakan jenis makanan tertentu yang halal tanpa sebab yang jelas (seperti vegetarian dan
sebangsanya).

Perbuatan seperti itu bid'ah, karena pada hakikatnya menciptakan sebuah ritual agama yang baru,
yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

c. Dalil

Dalil yang mereka gunakan adalah:

Bahwa Allah SWT telah menurunkan syariat dengan lengkap di antaranya adalah fiman Allah
SWT:

... Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu...(QS. Al-Maidah: 3)

Juga ayat berikut:

dan bahwa adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-
jalan, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu
diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (QS. Al-An`am: 153)

Setiap ada hadits Rasulullah SAW yang berbicara tentang bid'ah, maka selalu konotasinya adalah
keburukan. Misalnya hadits berikut:


Klasifikasi Lain

Selain pembagian di atas maka sebagian ulama juga ada yang membuat klasifikasi yang sedikit
berbeda, oleh para ulama bidah terbagi dua:

a. Bidah dalam adat kebiasaan (di luar masalah agama) seperti banyaknya penemuan-penemuan
baru di bidang tekhnologi, hal tersebut dibolehkan karena asal dalam adat adalah kebolehan (al-
ibahah)

b. Bidah dalam agama, mengada-ada hal yang baru dalam agama. Hukumnya haram, karena
asal dalam beragama adalah at-tauqief (menunggu dalil).

Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak ada
perintahnya dari kami maka amalan tersebut akan tertolak (HR Muslim 1817)

Namun dalam kaitannya dengan bidah dalam agama, para ulama ternyata juga masih memilah
lagi menjadi dua bagian:

Pertama: Bidah Perkataan

Bid'ah ini berkaitan dengan masalah Itiqod, seperti perkataan Jahmiyah, Mutazilah, Rafidhah dan
sekte-sekte sesat lainnya. Misalnya pendapat Mutazilah yang menyatakan bahwa Al-Quran
adalah makhluk Alloh dan bukan firman-Nya.

Kedua: Bidah dalam beribadah

Bid'ah ini misalnya melaksanakan suatu ritual ibadah yang tidak ada dalil syarinya. Bidah dalam
ibadah ini terbagai beberapa macam:

Bidah yang terjadi pada asal ibadah, dengan cara mengadakan suatu ritual ibadah baru yang
tidak pernah disyariatkan sebelumnya, contohnya adalah melaksanakan shaum seperti yang anaa
sebutkan, dengan tujuan agar dapat menguasai ilmu-ilmu tertentu
Bidah dalam hal menambah Ibadah yang disyariatkan, seperti menambah rakaat sholat shubuh
menjadi tiga.
Bidah dalam bentuk pelaksanaan ibadah yang diwujudkan dengan melaksanakannya di luar
aturan yang disyariatkan, contohnya melaksanakan dzikir sambil melakukan gerakan-gerakan
tertentu.
Bidah dengan mengkhususkan waktu tertentu untuk melaksanakan ibadah masyru. Seperti
mengkhususkan pertengahan bulan Syaban dengan shaum dan sholat. Karena shaum dan sholat
pada asalnya disyariatkan akan tetapi pengkhususan pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut di
waktu-waktu tertentu haruslah berdararkan nash (dalil-dali) dari Allah dan rasul-Nya.
Kesimpulannya, kalau kita lihat banyak kalangan saling menuduh bid'ah kepada saudaranya
sendiri, ketahuilah bahwa salah satu penyebabnya adalah kekurang-pahaman terhadap definisi
bid'ah yang beragam.

Dan urusan vonis memvonis sebagai pelaku bid'ah ini akan sedikit berkurang seandainya di dalam
diri tiap kita muncul kearifan serta keluasan wawasan. Setidaknya, kalau pun tetap diyakini
sebagai bid'ah, maka cara yang digunakan untuk memberantas 'bid'ah' itu tidak boleh dengan
cara yang bid'ah juga.

Saling mencaci dan memaki, apalagi sampai melakukan pemboikotan kepada saudara sendiri,
tentu sangat bertentangan dengan apa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Mana pernah beliau SAW memaki orang lantaran dianggap sebagai pelaku bid'ah? Mana pernah
beliau memboikot seseorang lantaran dituduh-tuduh sebagai pelaku bid'ah? Dan mana pernah
Rasulullah SAW mengharamkan diri untuk menshalati jenazah seseorang karena dianggap pelaku
bid'ah?

Yang haram dishalati di masa nabi SAW adalah orang yang kafir dan murtad. Bukan orang yang
dituduh-tuduh sebagai pelaku bid'ah, dengan tolok ukur yang subjektif dan seenak selera sendiri.

Semoga Allah SWT menurukan ilmu, kearifan dan kesantunan pada diri kita semua dalam
memperjuangkan syariatnya. Amien

Wallahu a`lam bishshawab, wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
Diskusi tentang pembagian ini telah mejadi perdebatan hangat antara ulama kita sejak dahulu
hingga sekarang. Di antara mereka ada yang membagi bidah menjadi dua, yakni bidah hasanah
dan dhalalah, sebagaimana pandangan Imam Asy Syafii dan pengikutnya, seperti Imam An
Nawawi, Imam Abu Syamah.. Bahkan Imam Al Izz bin Abdussalam dan Imam An Nawawi
membagi bidah menjadi lima, sebagaimana pembagian dalam ketentuan syara, yakni bidah
wajib, bidah sunah, bidah makruh, bidah haram, dan bidah mubah. Selain itu juga Imam Ibnul
Jauzi, Imam Ibnu Hazm, Imam Al Qarrafi dan Imam Az Zarqani.

Namun, tidak sedikit ulama yang menolak keras pembagian itu, bagi mereka tidak ada bidah
hasanah, apalagi hingga lima pembagian. Bagi mereka semua bidah adalah sesat, sebagaimana
sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Kullu bidatin dhalalah (setiap bidah adalah
sesat). Mereka adalah Imam Malik, Imam Asy Syatibi, Imam Ibnu Hajar al Asqalani, Imam Abu
Bakar at Thurtusy, Imam al Baihaqi, Imam Ibnu hajar al haitami, Imam al Aini, Imam Ibnu
Taimiyah, Imam Ibnu Rajab, dan umumnya para ulama kontemporer, termasuk ulama moderat
Syaikh Yusuf al Qaradhawy.

Kelompok yang Mengakui adanya Bidah Hasanah

Para ulama yang membagi bidah menjadi bidah hasanah dan bidah sayyiah, bukan tanpa alas
an. Di antara hujjah mereka adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, sebagai berikut:

'-- ;~ -- _-~ -- --- ;-~ Q- Q~ - '-~ '- -~ -~= J-- ')- - -- ~- - J-- ,= Q- J-- ')- '- --- Q- ; ;=
~ Q- Q~ - '-~ '- -~ --~ J-- ')- - -- ~- --- J-- Q- J-- ')- '- --- Q- ; ~

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Barangsiapa dalam Islam membuat
kebiasan baik, maka tercatat baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya
tanpa mengurangi pahaala mereka yang mengikutinya. Barangsiapa dalam Islam membuat
kebiasaan buruk, maka tercatat baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya setelahnya,
tanpa mengurangi dosa-dosa mereka. (HR. Muslim, Juz. 13, Hal. 163. No. 4830. At Tirmidzi,
Juz. 9, Hal. 285, No. 2599. Ibnu Majah, Juz. 1, Hal. 236, No. 199. Ahmad, Juz. 39, Hal. 166,
No. 18367. Lafazh ini milik Imam Muslim. Al Maktabah Asy Syamilah)

Berkata Imam As Suyuthi sebagai berikut:

: - -:
: - - .
- -: --. '-, - -: :
- '-'- ,- '-'-= -- . : -
- - .

"Perkara-perkara yang baru terbagi atas bidah yang baik dan bidah yang buruk. Berkata Imam
Asy Syafii Radhiallahu Anhu: Bidah itu ada dua; bidah terpuji dan bidah tercela. Maka, apa-
apa saja yang sesuai dengan sunah maka itu terpuji, dan apa-apa saja yang menyelisihi sunah
maka itu tercela. Beliau beralasan dengan ucapan Umar Radhiallahu Anhu: Sebaik-baiknya
bidah adalah ini. Imam Asy Syafii Radhiallahu Anhu juga berkata: Hal-hal yang baru itu ada
dua segi; pertama, apa-apa saja yang menyelisihi Al Quran, As Sunnah, Atsar, Ijma, maka inilah
bidah dhalalah (sesat). Kedua, apa-apa saja perbuatan baru yang baik, yang tidak menyelisihi
satu saja dari sumber itu, maka perkara baru tersebut tidaklah tercela. (Imam As Suyuthi, Al
Amru bil Ittiba wan Nayu anil Ibtida, Hal. 6. Juga Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, Juz.
20, Hal. 330. No. 6735. Al Maktabah Asy Syamilah)


Berkata Imam al Qurthubi tentang hadits Imam Muslim di atas:
- - - - -.

Ini adalah isyarat bahwa apa-apa yang baru (bidah), di antaranya ada yang buruk dan baik, dan
itulah asal dari masalah ini. Dan kepada Allah memohon penjagaan dan taufiq, dan Tiada Rabb
selainNya. (Imam al Qurthubi, Jamiul Ahkam, Juz. 2, Hal. 87. Al Maktabah Asy Syamilah)

Berkata Hujjatul Islam Imam al Ghazaly dalam Ihya Ulumuddin:
- - - -
. -.
Maka, betapa banyak perbuatan baru yang baik, sebagaimana dikatakan tentang
berjamaahnya shalat tarawih, itu adalah di antara perbuatan barunya Umar Radhiallahu Anhu,
dan itu adalah bidah hasanah. Sesungguhnya bidah tercela itu hanyalah apa-apa yang
bertentangan dengan sunah terdahulu atau yang membawa kepada perubahan terhadap sunah.
(Imam al Ghazaly, Ihya Ulumuddin, Juz. 1, Hal. 286. Al Maktabah Asy Syamilah)


Berkata Imam An Nawawi ketika menjelaskan hadits di atas:

- - ~- -=- -~=- -;- _-~ -- --- ;-~ : " J - -=- --- J --- -'-~ " ,-- - '- -=-- --='- ---
-;---- -- _-~ '-- - - '- '-~ -=- '-, '- --- ~-= '~- : -= - --- - ,=- ,-- ='--
.
Pada hadits ini terdapat takhsis (spesifikasi/pengkhususan/penyempitan) dari hadits Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam: Setiap yang baru adalah bidah, dan setiap bidah adalah sesat.
Yang dimaksud oleh hadits ini adalah hal-hal baru yang batil dan bidah tercela. Telah berlalu
penjelasan tentang ini pada pembahasan Shalat Jumat. Kami menyebutkan di sana, bahwa
bidah ada lima bagian: Wajib, sunah, haram, makruh, dan mubah. ( Syarah An Nawawi ala
Shahih Muslim, Juz. 3, Hal. 461, no. 1691. Al Maktabah Asy Syamilah)

Jadi, menurut pemahaman Imam An Nawawi, hadits Kullu bidatin dhalalah maknanya masih
umum, yang telah dipersempit oleh hadits Imam Muslim di atas, sehingga tidak setiap bidah itu
sesat. Hal ini juga dikuatkan oleh Imam Abul Hasan Muhammad bin Abdil hadi As Sindi,
penulis Hasyiah ala Ibni Majah, ketika mengomentari hadits Kullu bidatin dhalalah
sebagaiberikut ini:

J-- -- ')- '- Q-- - J~ - Q- -- '- ;-'- -- ;-- ;~'- Q- -- ,-- -= ')-- ~- -= --- _-~ - --- ;-~ ~-- ;
_- ;-- -;-- -~ '--=- J-'---- .
Dikatakan, yang dikehendaki oleh hadits ini adalah apa-apa yang tidak memiliki dasar dalam
agama, sedangkan perkara yang bersesuaian dengan dasar-dasar agama bukanlah termasuk di
dalam maksud hadits tersebut, walau pun hal itu baru ada setelah masa Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam. Aku berkata: hal itu sesuai dengan sunahnya dan sunah al Khulafa, maka
perhatikanlah. (Imam Abul Hasan As Sindi, Hasyiah ala Ibni Majah, Juz. 1, Hal. 35, No. 42.
Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Al Alusi berkata:
: - - - -
- - '- - - - -
- - - - ;=;-
- - : -- .

Berkata penulis Jami al Ushul: Perkara baru yang diada-adakan oleh manusia, jika berselisih
dengan apa-apa yang Allah Taala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam perintahkan,
maka itu tercela dan harus diingkari. Namun, jika masih bersesuaian dengan keumuman apa-apa
yang Allah Taala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam anjurkan, maka itu termasuk
terpuji, walau pun belum ada yang semisalnya, yang mendukung hal itu adalah ucapan Umar bin
al Khathab Radhiallahu Anhu tentang shalat tarawih: Sebaik-baiknya bidah adalah ini. (Imam al
Alusi, Ruhul Maani, Juz. 20, Hal. 346. Al Maktabah Asy Syamilah)

Dalam catatan kaki kitab Al Ibanah al Kubra Libni Bathah, disebutkan:
'---- : - ,- -- - - -- - -
,-= -- ;-- -- -- - = - -- - -
- ;- ;=- J- -
-
Bidah ada dua: bidah petunjuk dan bidah sesat. Bidah sesat adalah apa-apa yang berselisih
dengan yang Allah dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam perintahkan. Namun, jika masih
bersesuaian dengan keumuman apa-apa yang Allah Taala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam anjurkan, maka itu termasuk terpuji, walau pun belum ada yang semisalnya dan tidak
boleh dalam hal itu adanya pertentangan dengan syara, (Imam Ibnu Bathah, Al Ibanah Al
Kubra, Juz. 1, Hal. 13, No. 11)
Imam Izzudin bin Abdussalam, dalam Kitab Qawaidul Ahkam fii Mashalihil Anam berkata:

J~- - --- ---- J- '- ;- -)- - ,~- ;~ -- _-~ -- --- ;-~ .
-~--- _- : --- -= - -- - ,=- --- - --- --- ,-- --- ='-- _- ,=- - - ,- 4- ,-
---- _-- -- ;- - ,~- : '- ~-= - -- ;- '=- '- )- -= ~-= - -- ;- ;- ,=-- )- - ,=- ~-= -
-- ;- ---- )- - --- ~-= - -- ;- - ,--- )- ,-- ~-= - -- ;- '--- )- ='-- ---- -= ;-
--- .
' -= : '-~'- ;-- ;=-- -- ;)-- - '- -- '- -;~ _-~ -- --- ;-~ 4- ~= '- =-= - ,~- ~= '- _-'--
')=-= '- -- - , 4- '- '- ;-- ~= ;- '- - ;)- ~= .
'--- -'-- : =-= ~- ,- '--- -~- Q- -- .
'--- ~-'-- : Q- -- ;~ --- .
'--- - ,- : '--- - ,=- J- --- ,----- _-=~- Q- ;--~- -- ~- -- ;- - ,~- _-- =-= - ,~- ,- -'- '---
_-- --- Q---- '- _-'-- =-= - ,~- '- '-- -'-, . - --- - ,=-- --- .
')-- : ~-- - --- ')-- ~-- - ,-=- ')-- ~-- -=,-- ')-- ~-- -~=-- ,- _-- '- ; Q- --- -= ;- .
---- --- - - --- .
')-- : -= =- ,- --- '-- ,='--- ')-- J '~= ;- -)- - ,~- '- ')-- : '-~ _- ,-- ')-- '--- -
_-'- ;~-- ')-- - '-- - -=- - -= J-'=-- '---~'-- _-- J-'~-- -~- 4- -- = -- -'=-~ . ---- ,--- ---
.
')-- : - ,= -='~-- ')-- _- ,- ~='~-- '- -- Q-= ',-- ~-=- ,--- ='-- Q- ~ ;- - ,- _~'-'- - Q- ---
- ,=-- .
---- ='--- --- .
')-- : =-'~-- ~--- _-~- ,~- ')-- ~ ;-- -- --- Q- J!-- '~-- Q-'--- Q'~-- Q-- ~-'-=-
-~;- '-'- .
-- ~--=- - - 4- -=-- - '--- Q- --- ,--- -=- ,=' -Q Q-~- -;--- _-- -)- ;~ -- _-~
-- --- ;-~ '-- - -- 4- '-~'-' - '-~- --~-- .


Fasal tentang bidah-bidah

Bidah adalah perbuatan yang belum pernah ada pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam.

Bidah terbagi atas: bidah wajib, bidah haram, bidah mandub (sunah), bidah makruh, dan
bidah mubah. Untuk memahami ini, kita mengembalikannya sebagaimanan kaidah-kaidah
syariyyah; jika bidah itu masuk prinsip kaidah kewajiban maka dia wajib, jika dia masuk prinsip
kaidah pengharaman maka dia haram, jika dia masuk prinsip kaidah anjuran maka dia sunah, jika
dia masuk prinsip kaidah kemakruhan maka dia makruh, jika dia masuk prinsip kaidah
pembolehan maka dia mubah.

Contoh bidah wajib adalah pertama, menyibukkan dari dalam ilmu nahwu yang dengannya kita
bisa memahami firman Allah dan perkataan Rasulullah, demikian itu wajib karena menjaga syariat
adalah wajib, dan tidak bisa menjaga syariat kecuali dengan memahami hal itu (nahwu). Tidaklah
sempurna kewajiban kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib.

Kedua, menjaga perbendarahaan kata asing pada Al Quran adan As Sunnah. Ketiga,
pembukuan disiplin ilmu usuhl fiqih. Keempat, perkatan dalam ilmu jarh wa tadil, yang dengannya
bisa membedakan mana hadits yang shahih dan cacat.

Kaidah-kaidah syariyyah telah menunjukkan bahwa menjaga syariat adalah fardhu kifayah,
sejauh bekal dan kemampuan masing-amsing secara khusus. Dan tidaklah mudah urusan
penjagaan syariah kecuali dengan apa-apa yang telah kami sebutkan.

Sedangkan bidah yang haram contohnya adalah pemikiran qadariyah, jabriyah, murjiah, dn
mujassimah, semuanya adalah lawan dari bidah wajib.

Adapun bidah yang sunah, contohnya adalah menciptakan jalur penghubung, sekolah-sekolah,
dan jembatan, termasuk juga semua kebaikan yang belum ada pada masa awal, seperti shalat
tarawuih, perkataan hikmah para ahli tasawwuf, dan perkataan yang mampu mengikat beragam
perhimpunan dan bisa menjelaskan berbagai permasalahan, jika dimaksudkan karena Allah
Taala semata.

Adapun bidah makruhah (dibenci), contohnya adalah menghias mesjid, menghias Al Quran, dan
sedangkan melagukan Al Quran sehinga merubah lafazh, maka yang benar adalah itu bidah
yang haram. Sedangkan bidah mubahah (boleh), contohnya adalah bersalaman setelah shalat
subuh dan ashar, juga memperluas kesenangan dalam urusan makanan, minuman, pakaian, dan
tempat tinggal, pakaian kebesaran ulama, dan melebarkan lengan baju. Telah terjadi perselishan
dalam hal ini, sebagian ulama ada yang memakruhkan, sebagian lain mengatukan bahwa itu
adalah kebiasaan yang sudah dikerjakan pada masa Rasulullah dan setelahnya, perseleisihan ini
seperti masalah pembacaan istiadzah dan basmalah dalam shalat. (Imam Izzudin bin
Abdussalam, Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam, Juz. 2, Hal. 380-384. Al Maktabah Asy
Syamilah)

Demikian keterangan dari beberapa Imam yang mewakili kelompok yang menyetujui pembagian
bidah menjadi dua bagian; bidah hasnah dan bidah sayyiah (kadang juga disebut bidah
dhalalah, atau bidah madzmumah). Bahkan ada pula yang mengatakan lima macam bidah.
Menurut mereka, hal-hal baru yang memiliki dasar dalam agama, atau tidak bertentangan denga
Al Quran, As Sunnah, Atsar sahabat, dan Ijma, maka itulah bidah hasanah.
Kelompok yang menilai Semua bidah adalah sesat

Kelompok ini berdalil dengan keumuman hadits yang sangat terkenal dan sering diulang-ulang
dalam perkara ini:

;'- '- -=- ;-'- '- J - -=- --- J --- -'-~
Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru, karena setiap yang baru adalah bidah, dan
sesungguhnya setiap bidah adalah sesat. (HR. Ahmad, Juz. 35, Hal. 9, No. 16521. Ibnu Majah,
Juz. 1, hal. 49, No. 42. Imam al Hakim berkata: hadits ini shahih tidak ada cacat, lihat Al
Mustadrak Alas Shahihain, Juz. 1, Hal. 319, No. 301, dan dishahihkan pula oleh Syaikh al
Albany dalam Shahih wa dhaif Sunan Ibnu Majah, Juz. 1, Hal. 114. Al Maktabah Asy
Syamilah )

Dari hadits ini seorang sahabat Nabi, yakni Abdullah bin Umar Radhiallahu Anhu berkata:

- - : '- .

Setiap bidah adalah sesat, walaupun manusia memandangnya baik (hasanah). (Imam As
Suyuthi, Al Amru bil Ittiba wan Nayu anil Ibtida, Hal. 3. Al Maktabah Asy Syamilah)

Berkata Imam Malik bin Anas Radhiallahu Anhu:
- - - --
{ } : 3

Barangsiapa yang berbuar bidah dalam Islam, dan dia memandangnya itu hasanah (baik),
maka dia telah menuduh bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengkhianati
risalah, karena Allah Taala telah berfirman: Hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu,
dan dan aku sempurnakan nikmaku atas kamu, dan Aku ridha Islam sebagai agamamu. (Fatawa
al Azhar, Juz. 10, Hal. 177. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Ibnu Taimiyah berkata:
Q- --- '-- ~~-- -= '- -=-~- ; ' ---- -= -=-~- ;)- '~ ---- --- --~ '- --- -~= '--'- -- Q- --
'- -- '- --- '- '-- ; ~= ~=-~-
Dan barangsiapa yang beribadah, dengan peribadatan yang tidak diwajibkan, tidak pula
disunnahkan, dan dia meyakini itu adalah wajib atau sunah, maka dia sesat dan mubtadi (pelaku
bidah) dengan bidah yang buruk, tidak ada bidah hasanah dengan kesepakatan para imam
agama. Sesungguhnya Allah tidaklah disembah kecuali dengan apa-apa yang diwajibkan dan
disunahkan. (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmu al Fatawa, Juz. 1, Hal. 38)

Selain itu, beliau juga berkata:
J --- ~~-- -= '- -=-~- )- --- --~ -'-~ '--'- Q---~-- Q- '- - - --- ')- --- -~= '-- '- 4-
'- J-- -,~ ')- -=-~- '-'- '- Q-- ~=-~-- '- ~= '--
;-- -= Q- Q---~-- ')- Q- '-~=- -- ,--- ')- _- -- . Q- ,-- _- -- '-- Q-- Q- '-~=- ;-'-- ')- ,- =- '
'- '-=-~ ;)- '~ --- '=-~-- ---~ Q- J--~ '=-~- '- { '- --- -- Q- ;~- : == '-- ;~ -- _-~ -- --- ;-~
'== == '=;== Q- ---- -'-~ ;- '- : - J--~ -- - - J-~ _-- J J--~ ')-- '=-~ ;--- -- ;- ,- : { - = ,~
'----~- -;--'- '- ;--- J-~- ,--- ;-- Q- ---~ }

Setiap bidah yang tidak ada kewajiban dan sunahnya, maka itu adalah bidah yang jelek, dan itu
adalah sesat menurut kesepakatan kaum muslimin. Barangsiapa yang mengatakan bahwa pada
sebagian bidah ada bidah hasanah. Maka, jika dalam hal itu terdapat dalil syari, maka itu adalah
disukai. Adapun apa-apa yang tidak ada sunahnya atau kewajibannya, maka tidak ada satu pun
kaum muslimin yang mengatakan itu adalah kebaikan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah
Taala. Barangsiapa yang mendekatkan diri kepada Allah Taala dengan kebaikan yang tidak
diperintahkan, baik perkara wajib atau sunah, maka dia sesat dan telah mengikuti syetan, dan
jalannya adalah jalan syetan, sebagaimana yang dikatakan Abdullah bin Masud: Rasulullah
membuat garis kepada kami dengan garis yang lurus. Lalu dia membuat garis dibagian kanan dan
kirinya, lalu dia bersabda: Inilah jalan Allah, sedangkan ini adalah jalan-jalan lain yang setiap jalan
itu ada syetan yang senantiasa mengajak kepadanya,, lalu Beliau mebaca ayat: Dan
sesungguhnya inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah, dan jangan ikuti jalan-jalan lain yang
mencerai-beraikanmu dari jalanNya. (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibid, Juz.1, Hal. 40)

Imam Ibnu Rajab berkata:
J-- '--~ - Q- -- - J~ Q- -- - - ->~ Q- -- ,- - ;~
J-'~- - .

Maka, setiap sesuatu yang baru, dan disandarkan kepada agama, padahal tidak ada dasarnya
dalam agama, maka itu adalah sesat, dan agama berlepas diri darinya. Sama saja dalam hal ini,
apakah masalah aqidah, amal-amal perbuatan, ucapan yang nampak atau tersembunyi. (Imam
Ibnu Rajab, Jami al Ulum wal Hikam, Juz. 28, Hal. 25. Al Maktabah Asy Syamilah)

Dalam Fatwa Lajnah Daimah no. 2467:

- - - .
-
Semua bidah adalah sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ada
pun pembagian bidah menjadi lima bagian, maka kami tidak mengetahui asalnya dari syara.
(Lajnah Daimah Lil Buhuts wal Ifta, Juz. 4, Hal. 83)

Dalam teks fatwanya yang lain:
- - -
- : - - - -
- - -
Dan tidak ada pembagian bagi bidah dalam agama sebagaimana pembagian hukum agama,
bahkan seluruh bidah adalah sesat, sebagaimana telah kukuh dari Rasulullah Shallallahu Alaihi
wa Sallam bahwa dia bersabda: Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini
(agama), yang bukan bagian darinya, maka dia tertolak. (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam
riwayat lain: Barangsiapa yang beramal yang kami tidak pernah perintahkan, maka tertolak. (HR.
Muslim). (Lajnah Ad Daimah, Juz. 4, Hal. 93)

Fatwa Asy Syaikh al Allamah Dr. Yusuf al Qaradhawy hafizhahullah:



- - -
-
- - - :
' - - -
- -- - - :"
" - .

:
- ;-~- : - ')-~-
: - - -
-~-- ~-- -: - ,-=- -- - - -
---- - - -
'-- ;- '-= - ,-=--
-.
-: -. - >-- -
-
.

' - -- ('---) : -
( ) -- ')= ,=- _-~- -
- : "
" - ... -- :" '- " :
- - - - - - .... - .

- : " " -~-- --=
- : ( ) - -
-- -
- .

Soal: Apakah ada pembagian bid'ah? Adakah benar di sana terdapat bid'ah hasanah (baik) dan
bid'ah sayyi'ah (keji)?
Jawab: Ulama berbeda pendapat dalam hal pembagian bid'ah. Sebagian mereka membagikan
menjadi bid'ah hasanah dan bid'ah sayyi'ah. Sebagiannya bahkan menjadikan bid'ah kepada lima
bagian seperti hukum syar'i. Semua pembagian ini tidak ada asalnya. Karena hadits Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam menyatakan: "Setiap bid'ah itu dhalalah." Ia adalah sesuatu yang
diada-adakan yang tidak memiliki asal atau sumber dari sumber-sumber tasyri' (pensyariatan)
atau ia bukanlah perkara yang ada dalilnya dalam-dalam dalil hukum.
Dr. Syaikh Yusuf al-Qaradhawy menyatakan:
Di sana sebagian ulama membagikan bid'ah kepada: Hasanah dan Sayyi'ah. Sebagian dari
mereka membagikannya kepada lima bagian, sebagaimana pembagian dalam hukum-hukum
syara: Bid'ah wajib, sunah, makruh, haram dan mubah.
Al-Imam asy-Syathibi telah membahas masalah ini secara terperinci, dan beliau menegaskan:
Bahwa pembagian ini hanyalah persangkaan belaka yang tidak ditunjukkan oleh satu pun dalil
syari, malah pembagian itu sendiri saling bertolak belakang. Karena hakikat bid'ah itu adalah
sesuatu yang tidak ditunjuki oleh dalil syara manapun, tidak juga oleh nash syara dan tidak dari
kaidah-kaidahnya. Karena jika di sana terdapat suatu dalil syara yang menunjukkan atas wajibnya
sesuatu, sunahnya, atau harus, mengapa pula perkara tersebut dikatakan bid'ah (hasanah). Ia
sebenarnya (bukanlah bid'ah hasanah) tetapi perkara yang masuk di bawah keumuman amal
yang diperintahkan atau perkara yang dibolehkan.
Perkataan yang benar dalam hal ini akhirnya hasilnya adalah satu, karena mereka menjadikan
misalnya- bahwa penulisan al-Quran, menghimpunkannya dalam satu mushaf, menyusun ilmu
nahwu, ushul fiqh dan ilmu-ilmu Islam lain adalah sebagai bid'ah wajib dan sebagai fardu kifayah.
Adapun sebagian yang lain, mereka mendebat apa-apa yang dinamakan bidah ini. Kata mereka:
"Pembagian ini adalah pembagian untuk bid'ah dari sudut bahasa saja. Sedang yang kami
maksud dengan bid'ah di sini adalah bid'ah dari sudut syara. Tentang perkara-perkara di atas,
kami mengeluarkannya dari kategorii bid'ah. Adalah tidak baik jika ia disebut sebagai sesuatu
yang bid'ah. Yang utama adalah kita berpegang kepada Hadis yang mulia; karena hadis datang
dengan lafaz berikut dengan terang dan nyata: "Maka sesungguhnya setiap bid'ah itu dhalalah
(menyesatkan)."
Dengan keumuman lafaz hadis di atas, maka apabila dikatakan: "Setiap bid'ah itu dhalalah" maka
tidak perlulah kita katakan lagi: "bid'ah itu ada yang baik, ada yang keji, ada yang wajib, ada yang
sunat dan seterusnya...." Pembagian seperti ini adalah tidak perlu.
Apa yang benar ialah, bahwa kita katakan apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah di dalam
hadisnya: "Maka sesungguhnya setiap bid'ah adalah dhalalah." Yang dimaksudkan adalah bid'ah
sebagaimana yang telah ditahqiq oleh Al-Imam Asy Syathibi: "Bid'ah ialah jalan di dalam agama
yang diada-adakan." yaitu yang tidak ada asal-usulnya dari syara, tidak juga dari al-Quran, as-
Sunnah, ijma, qiyas, mashlahah mursalah, dan tidak ada di kalangan fuqaha' yang menyatakan
dalil mengenainya.

Demikian dari Syaikh Yusuf al Qaradhawy hafizhahullah.

Demikianlah dua kelompok para imam kaum muslimin, antara yang menyetujui adanya
pembagian bidah menjadi beberapa bagian sebagaimana dalam hukum syari, dengan pihak
yang menolak pembagian bidah, sebab bagi mereka semua bidah adalah tercela.

Jika kita kaji lagi, sebenarnya ada titik temu di antara beragam perbedaan mereka, yaitu mereka
sama-sama menyepakati bahwa, bidah dalam urusan ritual adalah haram dan sesat, sedangkan
bidah dalam urusan dunia adalah boleh. Yang membuat mereka berbeda sikap adalah bidah
dalam perkara agama yang bukan ritual, yang tidak memiliki dalil langsung (khusus), namun ada
dalil umumnya.

Contohnya peringatan Maulid Nabi. Jika dicari dalil khusus tentang acara Maulid Nabi, maka kita
tidak akan menemukannya baik Al Quran dan As Sunnah, juga perilaku sahabat dan dua
generasi terbaik setelahnya. Namun, dilihat dari sisi dalil umum, kita memang diperintahkan untuk
memuji Rasulullah, bergembira atas kelahirannya, dan diperintahkan banyak bershalawat
atasnya.. Akhirnya, ada pihak yang berinisiatif melaksanakan peringatan Maulid, berdalil dari dalil-
dalil umum tersebut. Akhirnya terjadilah perselisihan di antara para Imam dan ulama kaum
muslimin.
Monday, April 2, 2012
SEKILAS TENTANG BID'AH
PENDAHULUAN

segala puji hanya bagi Allah SWT, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa
tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW, keluarga, shahabat, serta orang-orang yagn
mengikuti jejak langkah beliau hingga akhir datangnya hari kiamat. Amma badu.

Tulisan yagn berada di tangan pembaca ini, berisi pembahasan ringkas tentang bidah baik dalam
urusan din maupaun dunia. Di dalamnya dijelaskan permasalahan bidah secara singkat dan
mendasar yang berdasarkan kaidah baku yang dengannya memungkinkan kita untuk
bermuamalah dalam kehidupan nyata sesuai dengan manhaj yang benar, serta sikap kaum salaf
dalam menyikapinya, sehingga kita mampu untuk beramal secara sungguh-sungguh dalam
menghidupkan sunnah nabi Muhammad SAW, dan menyelamatkan umat dari bahaya bidah dan
kesesatan. Kita berharap semoga Allah SWT, memberikan taufiq dan kebenaran dalam tulisan ini.

Mengetahui kaidah dasar dalam muamalah dengan Ahlul Iftiraq (pelaku perpecahan) sesuai
dengan manhaj shahabat Rasulullah SAW, adalah suatu keharusan, bahkan menjadi suatu
kewajiban, seiring dengan munculnya berbagai firqah (kelompok), memperhatikannya
berlandaskan kaidah dan tuntunan syari merupakan sebuah al-haq dan kewajiban. Seseorang
ditetapkan berdosa jika meninggalnya, karena akan menjadikan kesempitan hidup baginya dalam
beragama.

Pembahasan ini saya tulis dengan uraian yang sederhana, yang di dalamnya membahas tentang
Batasan Bidah, Kaidah-Kaidah yang berkaitan dengannya, , dan contoh, serta sikap kaum Salaf
menyikapi hal tersebut (bidah). Sesuai dengan kemampuan penulis. Saya tidak menjelaskan
secara detail dan panjang lebar dalam masalah ini ( bidah), dikarenakan ruang pandang yang
tidak meluas. Tujuan dari pembahsan ini adalah untuk menetapkan kaidah baku seputar bidah,
Sedangkan untuk penjelasan yang lebih rinci seputar masalah ini ( bidah), dibutuhkan seorang
penulis yang mempunyai spesialis keilmuan dalam membahasnya.

Pembahasan Pertama

BIDAH, DEFINISI DAN KAIDAH-KAIDAHNYA

Mengetahui adanya dampak bidah terhadap umat harus dimulai terlebih dahulu dengan
pembahasan terminologi bid,ah. Tujuan dalam kesempatan ini adalah untuk menjelaskan apakah
terminologi bidah itu adalah suatu istilah syari yang mengandung hukum, atau tidak. Karena
sudah menjadi ketetapan para ulama, bahwa tidak boleh menetapkan sebuah hukum yang tidak
ditetapkan oleh Allah SWT, dan Rasul-Nya SAW.[1]

Penjelasan ini dilatar belakangi atas adanya perbedaan dalam menentukan batasan istilah bidah
pada sebagian kaum muslimin, adanya pendapat ulama yang saling bertentangan dalam masalah
bidah yang terkadang membuat ragu sebagian kaum muslimkin. Maka dengan latar belakang di
atas, penulis berusaha untuk menulis sebuah kajian dalam rangka menghilangkan keraguan
umat-insya Allah-. Dalam pembahasan ini, penulis ketengahkan terminologi bidah tentang definisi
dan kaidah stari yang berkaitan dengannya-insya Alllah.[2]

Definis Bidah

Tinjauan Bahasa

Dari tinjauan bahasa, kata bidah berasal dari kata badaa- yabdau bidan yang artinya memulai.
Lebih lanjut disebutkan: Al-Bidusy Syayu Alladzi Yakuunu Awwalan; sesuatu itu bidah yakni
yang terjadi kali pertama[3]. Sebagaimana firman Allah SWT.

kataknlah: Aku bukanlah Rasul yang pertama di antaar Rasul-rasul. ( Q.S Al-Ahqaf:9)

Sedangkan kaliamt ) ) dengan baris kasrah pada huruf Ba bermakna sesuatu yang baru kali
pertama terjadi.[4] Adapun kalimat (--- -' --) mengandung arti menciptakan sesuatu tanpa
adanya contoh sebelumnya. Sebagaimana firman Allah SWT.[5]

Allah pencipta langit dan bumi (Q.S Al-Baqarah: 117)

Semua definisi bidah dalam segi bahasa berkisar antara makna al-ihdats (sesuatu ciptaan yang
baru) dan awwaliyah (permulan).

Tinjauan Istilah

Sedangkan definisi bidah dari tinjauan istilah, telah banyak didefinisikan oleh para ulama
diantaranya:

1. Bidah adalah sesuatu yang menyelisihi As-Sunnah, dinamakan bidah karena pelakunya
membuat sesuatu hal yang belum pernah dilakukan seorang Imam (panutan), bidah merupakan
suatu hal baru yang tidak pernah dilakukan para shahabat dan tabiin, serta tidak ada tuntunannya
dari dalil syar,i.[6]

2. Imam As-Syatibi Rahimahullah mendefinisikan bidah dengan mengatakan, Bidah adalah
suatu jalan yang ditempuh dalam mengamalkan din, yang merupakan suatu hal baru yang
menyerupai syariat, serta diniatkan dalam rangka beribadah kepada Allah SWT[7]

3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah Rahimahullah berkata, bidah dalam urusan din adalah suatu hal
yang tidak pernah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya SAW, yaitu sesuatu yang tidak
diperintahkan, baik hukumnya wjib ataupun sunnah.[8]

Para ulama mendefinisikan bidah berkisar pada makna di atas.

Kemudian akan kami jelaskan dalam pembahasan ini tentang batasan bidah secara mendalam -
insya Allah-. Tujuan dalam pembahasan kali ini adalah mengidentifikasikan bidah antara makna
bahasa dan istilah. Karena apabila tidak ada pembatasan definisi dari dua sisi tersebut di atas,
bisa menjadi penyebab kaburnya definisi bidah pada sebagian orang, sehingga mereka
memahami apa yang disampaikan sebagian ulama Rahimahullah- sebagai suatu bentuk
keridhaan mereka terhadap perkara bidah, padahal masalahnya tidak sebagaimana yang mereka
pahami.

Abul Fajar Al-Baghdadi Rahimahullah berkata, Apa yang diucapkan oleh ulama salaf pada salah
satu bentuk ijtihad mereka adalah suatu perbuatan bidah (hal yang baru), apabila ditinjau dari
degi bahasa dan bukan dari segi istilah syarI, sebagaimana perkataan Umar Bin Khattab
Radhiaahuanhu ketikia dia mengumpulkan kaum muslimin untuk mengerjakan Qiyam Ramadhan
berjamaah, dengan seorang imam dalam sebuah mesjid, beliau mengatakan, Hal baru ini
menyenangkanku.[9] Demikian pula yang diungkanpakan Al-Hafizh Ibnu Hajar, di mana beliau
mengatakan bahwa imam SyafiI berpendapat bahwa bidah terbagi menjadi dua bagian, yaitu;
mahmudah ( terpuji ) dan bidah madzmumah (tercela), bidah yang sesuai As-Sunnah adalah
bidah terpuji, sedangkan yang menyelisi As-Sunnah adalah bidah terela.[10] perlu ditegaskan di
sini, bahwa pemakaian lafazh bidah menurut ulama salaf di atas secara jelas hanya terbatas
pada pengertian tinjauan bahasa, adapun pemakaian lafazh bidah secara syari hampir-hampir
semua dalil yang menerangkannya, baik dalam Al-Quran maupun As-Sunnah, menyebutkan
sebagai sesuatu yang tercela dan hina. Tidak boleh memakai perkataan ulama untuk menguatkan
kebenaran suatu perbuatan bidah.[11]

KAIDAH-KAIDAH BIDAH

Penggunaan lafazh bidah menurut para ulama terdahulu, terkadang menjadikan sebagian orang
bingung dan kacau dalam memahaminya, yakni dalam persoalan bagaimana mengategorekan
setiap hal baru yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah SAW, adalah terpuji atau tercela?
Sebagaimana lahirnya ilmu nahwu, ilmu hadits, dan ilmu tafsir yang belum ada pada masa beliau,
apakah munculnya perkembangan ilmi-ilmu baru itu disebut dengan bidah? Dalam pembahasan
selanjutnya akan dijelaskan bahwa bidah tercela memiliki hukum-hukum dan ketentuan dan
ketentuan-ketentuan syari. hukum dan ketentuan itu membutuhkan penjelasan, guna menentukan
akan batasasn-batasannya dengan penjelasan lugas yang akan memudahkan hidup
bermuamalah dengan ketentuan syari.[12]

Imam Asy-Syatibi Rahimahumullah telah membahas masalah ini secara luas dalam kitabnya yang
berjudul Tahdidul Maalim Wa Dhawabithul Bidah Al-Madzmumah, hanya saja pembasannya
tidak terkumpul dalam satu keutuhan pembahasan. Semoga dalam pembahasan ini Allah SWT,
memudahkan kita untuk menjelaskannya.

Kaidah Pertama

Berlebihan Dalam Beribadah Adalah Bidah yang Tercela

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata, sebagian ulama salaf mengatakan, Tidaklah Allah SWT,
memerintahkan suatu perintah itu akan dimanfaatkan oleh setan untuk mengatur tipu dayanya,
yaitu melalui jalan tafrith (meremehkan) atau dengan jalan ghuluw (berlebih-lebihan), setan tidak
menghiraukan dengan jalan mana dalam meraih keberhasilan untuk menjerumuskan manusia.[13]
mereka memahami firman Allah SWT, yang bertbunyi:

Tidaklah Aku ciptakan dan manusia kecuali hanya untuk menyembah kepada-Ku(Q.S. Adz-
dzairyat:56)

Ayat ini adalah perintah untuk beribadah, sehingga setan enggan dan membuat perlawanan
supaya keturunan Adam tidak mengamalkan perintah itu. Bentuk perlawanannya dengan
menjerumuskan mereka pada kemaksiatan sehingga mereka menjadi orang yang lalai, atau akan
menjerumuskan pada sikap ghuluw, yang pada hakikatnya kedua tipu daya setan itu akan
menyengsarakan manusia. Oleh sebab itu, Allah Taala menjadikan ibadah hanya pada apa yang
diperintahkan oleh-Nya.[14]

Perhatikanlah firman Allah berikut ini:

Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah[1460] Padahal Kami tidak mewajibkannya kepada
mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu
mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada
orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang
fasik (Q.S. Al-Hadid:56)

.Ayat ini adalah bentuk pengingkaran Allah Taala kepada orabg-orang Nasrani dalam mengada-
ada suatu bidah yang Allah SWT, tidak mewajibkan kepada mereka, adapun pengecualian dalam
ayat di atas pada kalimat Tapi untuk mencari keridhoan Allah adalah pengecualian yang
terputus, dimaksudkan untuk menjelaskan tuhan orang Nasrani dalam mengada-ngadakn
rahbaniyah yang mengatasnamakan Allah dalam mencari keridhoan-Nya.[15]

Ibnu Katsir Rahimahullah berkat, Lafazh kalimat pada ayat di atas, Tapi untuk mencari
keridhoan Allah difahami oleh para ulama dengan dua makna. Pertama, mereka meniatkan
perbuatan bidah itu dengan mencari ridho Allah, ini adalah pendapat Said bin Jubair dan
Qatadah. Kedua, yang diwajibkan bagi mereka adalah mencarti ridho Allah bukan membuat
bentuk ibadah baru (bidah).[16]

Dalam hal ini Imam As-Syatibi mengatakan, Ghuluw adalah perbuatan yang berlebihan dalam
beribadah kepada Allah Ta,ala.[17]

Kemudian beliau menjelasakan batasan dalam perbuatan bidah dengan perbuatan ghuluw, beliau
mengatakan, Ghuluw adalah bentuk konkrit dari perbuatan bidah yang menjadi sebuah syariat
tersendiri.[18] letak dicelanya perbuatn ini adalah bahwa mubtadi (pelaku bidah) telah
melampaui batas dengan akal dan hawa nafsunya, dan mengabaikan batasana beribadah kepada
Allah SWT, dia tidak menyangka bahwa hawa nafsunya telah menjadi sesembahan dalam
menentukan bentuk ibadah.

Nash syari baik darti Al-Quran, As-Sunnah, maupun pendapat ulama salaf telah menguatkan
akan haramnya perbuatan itu. Dalil-dalilnya adalah serbagai berikut:

1. Firman Allah Ta,ala

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk
mereka agama yang tidak diizinkan Allah. (As Syuura: 21)

Ibnu Jarir dalam menakwilakan ayat ini berkata, Apakah mereka (orang-orang muryrik)
mempunyai sesembahan selain Allah dalam kesyirikan dan kesetannya? Mereka mensyariatkan
agama yang tidak diidzinkan oleh Allah, dan mereka membuat suatu hal yang baru yang Allah
tidak kehendaki.[19] perkataan Ibnu Jarir di atas merupkan bukti yang jelas wajibnya mengingkari
bidah yang mengatasnamakan agama.

2. Firman Allah Taala:

Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu
mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu,
adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nyayang disampaikan-Nya kepada
Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya]. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-
Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari Ucapan itu). (Itu) lebih
baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha suci Allah dari mempunyai anak,
segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. cukuplah Allah menjadi Pemelihara.
(An-Nisa: 171)

Imam Ibnu Abi Hatim Rahimahullah menyatakan dengan sanadnya dari Qatadah, ia berkata,
Firman Allah,janganlah kamu membuat hal yang baru (dalam agama). Kemudian beliau
menyebutkan dalam kesempatan lain dengan sanadnya dari Abdurrahman bin Jaid bin Aslam,
katanya, maksud firman Allah, Wahai Ahlul Kitab janganlah kamu melampaui batas dalam
agamamu, adalah berbuat Ghuluw yang menyelisihi al-hag.[20]

Ayat ini merupakan sebuah pengingkaran terhadap orang Nasrani yang berbuat Ghuluw dalam
agama mereka, mereka menetapakan bahwa kedudukan Isa Alaihissalam bukan hanya sekedar
seorang Nabi, melainkan Tuhan yang wajib disembah. Kelak mereka akan merugi dan binasa
dengan sangkaan mereka itu. Ayat ini menegaskan tentang sikap Ghuluw mereka dalam
beribadah kepada Allah, sekaligus sebagai bentuk pengingkaran dan penjelasan bahwa
perbuatan mereka tersebut menyelisihi al-haq.

3. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Rahimahullah, ia berkata:

-'- _'= , --' -= '- ,'= - '- - ,- ': ',-= _-- ' -=-' _-= _' =-' +---, .= -=' _-=
,-, - _: ' `,-' `, '`-: , -' _ ,'' '- ' - =' -' , -' _ ,'' ', '-''+,',.

Rasulullah SAW, berkata di pagi hari Aqabah sementara beliau sedang di atas
untanya,Pungutlah kerikil untukku. Kemudian saya memungut untuk beliau tujuh kerikil pelempar
dari tanah. Beliau melempar apa yang ada di tangan beliau dan bersabda,Perbuatan ini sama
seperti perbuatan mereka, di mana mereka juga melempar kerikil-kerikil. Kemudia beliau
bersabda kembali,Wahai sekalian manusia, hindarilah sikap ghuluw dalam melaksanakan agama,
karena sesungguhnya binasanya umat-umat sebelum kalian disebabkan sikap ghuluw mereka
dalam agama. (Sunan Ibnu Majah, kitab: Manasik,bab: Jumlah kerikil dalam melempar Jumrah,
hadits no. 3029 (II/1008), dan dinyatakan shahih oleh Al-Bani).

Hadits ini menunjukan akan larangan berbuat ghuluw dalam agama serta berlebih-lebihan dalam
beribadah kepada Allah SWT, dengan sesuatu yang tidak disyariatkan dan diidzinkan oleh-Nya.

4. Hadits ummul Mukminin Aisyah Radhiallahuanha, ia berkat,Rasulullah SAW, telah bersabda:

,+ , ,''- - '-- _ -= -

barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan kami yang tidak ada tuntunannya, maka ia akan
tertolak. (H.R Al-Bukhari (II/959), hadits no.2550)

5. Hadits Abu Dzar dimana Nabi SAW, bersabda kepadanya ketika terbenam matahari, seraya
mengatakan:

' -- --- , -- . '-',: -': ' '= ',- -: - = '+' ., - '+- ' '+' ,, ,=-' '--- --- '+-'
` '+-- - _'=- --= -,: ,'' ,' ,--- =' '+' ---' =- --'

Wahai Abu Dzar,Tahukah kamu di mana ia terbenam? Abu Dzar menjawab,Allah dan Rasul-
Nya yang lebih tahu.Lalu beliau bersabda, Sesunggunya ia terbenam sampai sujud di bawah Al-
Arsy, kemudian meminta idzin dan akhirnya diidzinkan, kemudian ragu dan ingin sujud kembali.
Namun tidak dikabulkan dan tidak diidzinkan, kemudian dikatakan kepadanya, Kembalilah ke
tempat asalmu. Setelah itu matahari pun terbit dari timur, sebagaiman firman Allah,.. dan
matahari bejalan di tempat peredarannya. Demikian ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha
Penyayang. (Q.S Yasin:38)

Dalil-dalil di atas memberikan keterangan yang sangat jelas bahwa jalan yang digunakan untuk
beribadah kepada Allah SWT, harus ada idzin dan perintah-Nya. Bentuk idzin dan perintah-Nya
adalah apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Siapa yang menginginkan agar amal ibadah
diterima, tiada kata lain baginya untuk tidak mengikuti bimbingan Rasulullah SAW, sebagaimana
firman Allah Taala.

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S Al-Imram:31)

Ibnu Katsir bekata, Ayat mulia ini menegasakan bahwa siapa yang ingin mendapatkan kecintaan
Allah SWT, sementara tidak beramal sesui dengan anjuran Rasulullah SAW, ia adalah seorang
pendusta, hingga ia mengikuti apa yang disyariatkan oleh Rasulullah SAW, baik perkataan dan
perbuatan beliau. Sebagaimana yang tercantum dalam shahihaini bahwa Rasulullah SAW,
bersabda,Barangsiapa yang beramal tidak ada perintahnya dari kmai, maka amalnya
tertolak,(H.R Muslim, kitab, Aqdiayyah, hadits no. 1718). Oleh sebab itu, Allah SWT, berfirman:

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku,(Q.S Al-Imram:31)

Faidah dari kaidah ini dalam kaitannya dengan pengertian bidah adalah adanya pembedaan
antara bidah secara definitif dengan sesuatu yang baru sepeninggal Rasulullah SAW, yang
secara dzat tidak dimaksudkan dalam rangka ibadah. Imam Asy-Syatibi berkata,dengan betasan
ini bisa kita pahami, bahwa suatu bidah tidak masuk ke dalam suatu yang sudah menjadi
kelazhiman.[21] Separti sarana kedaraan dan transportasi dan setiap Sesuatu yang dimanfaatkan
oleh manusia sebagai kenyamanan dan kemudahan yang telah Allah jadikan untuk kita, bahkan
dengan batasan ini ditetapkan segala sesuatu yang secara dzat tidak dimaksudakan untuk
taabbud (ibadah) sepeninggalan Rasulullah SAW, bukan termasuk dalam kategori bidah. Ini
hanya sarana yang diperbolehkan demi tercapainya sebuah tujuan, sebagaiman disebutkan
dalam sebuah kaidah,Tidak sempurna suatu kewajiban kecuali harus dengan sesuatu hal. Maka
pengadaan sesusatu itu adalah wajib hukumnya.

Jika syariat menentukan maksud dari sebuah pensyariatan -seperti pelurusan shaf dalam shalat-
tidak dilarang untuk mengadakan saran yang mubah dalam rangka tercapainya syariat tersebut.
Unsur kebolehanya karena sarana itu tidak dimaksudkan sebagai bentuk ibadah kepada Allah
SAW, meskipun hal itu tidak terdapat di zaman Nabi SAW. Contoh dari sarana itu adalah
membuat garis di lantai masjid, sarana ini tidak dikategorikan dalam amalan bidah karena kita
tidak beribadah dengannya, meski sarana itu tidak dikenal pada masa Nabi SAW. Kita hanya
beribadah kepada Allah SAW, dengan meluruskan shaf dan kita jadikan garis itu sebagai sarana
untuk mencapainya, begitu pula bepergian ke mesjid dengan menaiki kendaraan, tidak
dimaksudkan dalam rangka ibadah, tapi beribadah hanya kepada Allah SWT, dengan berusah
berangkat ke mesjid. Adapun adalah sarana untuk mewujudkan demi tercapainya sebuah syariat.
Contoh lainnya adalah mempelajari Ilmu Nahwu, Ilmu Irab, Ilmui Tajwid semua itu adalah sarana
untuk menghafal Al-Quran, kita tidak meniatkan secara dzat sebagai bentuk peribadatan, kita
hanya beribadah kepada Allah SWT, dengan mengadakan sarana untk mewujudkannya.

Kaidah ini sangat memberikan manfaat dalam membedakan antara bidah tercela dengan sesuatu
hal baru yang tidak tercela, kaidah ini juga akan menghilangkan pangkal kebingungan yang
banyak terjadi pada kebanyakan masyarakat. Mereka menyangka bahwa penyeru al-haq adalah
mereka yang memerangi bidah dan menyerui untuk kembali pada masa lalu di mana masa itu
belum semaju hari ini, yaitu masa kuda, unta, dan keledai.

Tidak diragukan lagi bahwa ketidaktahuan ini adalah sebuah kebohongan dan penyesatan.
Penyeru al-haq di setiap waktu dan tempat kita berharap semoga kita termasuk dari mereka-
tiada tujuan bagi mereka selain untuk mengajak manusia mengikuti petunuk Nabi SAW, dan
mereka memanfaatkan setiap sarana yang diperbolehkan oleh Allah SWT. Sesatnya ahlul kitab
adalah ketika mereka melampaui batas dalam beribadah sehingga mereka membuat hal baru
dalam agama dan berpaling dari tuntunan Rabb mereka sampai pada kondisi di mana mereka
beribadah kepada makhluk yang menyelisihi petunjuk sesembahan manusia , Allah SWT,

Kaidah kedua:

Bidah Terjadi Pada Pokok Suatu Amal atau Pada Sifat dari Suatub Amal

kaidah ini menjelaskan tentang esensi bidah baik berupa perbuatan atau perkataan. Bidah terjadi
ketika seseorang mengadakan hal baru yang secara muthlak tidak ada dasarnya dalam tinjauan
syari, seperti prinsip trinitas yang dianut orang-orang Nasrani, atau terjadi dalam mengada-
adakan suatu hal baru dari sebuah perintah yang rujukannya dalam agama, seperti thawafnya
orang-orang musyrik Arab dalam keadaan telanjang, sebagaimana perkataan mereka, Kami
thawaf tidak berpakaian sebagai bentuk kemaksiatan kami.[22]

Thawaf mengelilingi baitul Haram adalah tuntunan dari ajaran Nabi Ibrahim Alaihi Salam, akan
tetapi orang-orang Musyrik mengada-adakan cara baru dalam thawaf sesuai dengan akal dan
hawa nafsu mereka. Kaidah ini penting untuk diketahui guna menentukan sebuah amal yang sesui
dengan tuntunan syariat, karena diterimanya suatu ibadah harus dilatarbelakangi oleh dua buah
landasan;

Pertama: Memurnikan niat semata-mata hanya mencari keridhaan-Nya.

Kedua: Mengikuti tuntunan Rasulullah SAW,

Katika lepas dari salah satu di antara dua ayariat di atas, lepaslah jaminan diterimanya sebuah
amal kita berlindung kepada Allah SWT, dari tidak diterimanya amal kita-.

Bidah adalah sebuah perbuatan baru yang tidak berlandaskan syari, namun bagi sebagian orang
hal ini masih dianggap kacau dalam memahami suatu perbuatan bidah dengan sifat suatu ibadah
yang memiliki tuntunan. Imam Asy-Syatibi menegaskan tentang sifat yang berlawanan dengan
tuntunan syari, beliau menyebutkan di antaranya:

1. Membuat batasan-batasan dalam ibadah. Contohnya, seseorang bernadzar untuk berpuasa
dalam keadaan berdiri, bernadzar unutk mengkonsumsi makanan dan minuman tertentu atau
mewajibkan hanya berpakaian dengan pakaian tertentu.

2. Mewajibkan bentuk peribadahan dengan cara tertenbtu. Contohya, berdzikir secara berjamaah
dengan satu suara secara bersama-sama dan berdzikir dengan menari dan bergoyang.

3. Mewajibkan suatu peribadahan pada waktu tertentu. Seperti mengkhususkan shiyam pada
pertengahan bulan Syaban, dan qiyamul lail di malam harinya. Dalam amalan ini tidak terdapat
dalil syari yang menerangkan dan menjelaskan akan keutamaannya.[23]

Bentuk ibadah-ibadah di atas adalah suatu ibadah yang sebenarnya disyariatkan, namun tidak
ada tuntunan dalam pelaksanaannya sebagaimana cara tersebut di atas. Inilah kaidah penting
dalam membedakan keanekaragaman bentuk bidah. Kebanyakan masyarakat sering dibuat
bingung dalam masalah ini, sebagai contoh; kita dapatkan banyak kaum musliminm ragu-ragu
untuk mengingkari hari kelahiran Nabi SAW, sebagai hari raya, karena mereka mengamalkannya
atas dasar cinta mereka kepada Nabi SAW, salah satu tuntunan agama, bahkan bagian dari
keiman. Tetapi pelaksaan ibadah kepada Allah SWT, dengan kecintaan di atas harus sesui
dengan tuntunan syariat. Mengikari acara serimonial kelahiran Rasulullah SAW, bukan pertanda
tidak cinta kepada beliau, yang kita ingkari hanya tatacara pelaksanaannya, karena tidak sesuai
dengan yang dicontohkan syariat. Adapun dalil syari yang menegaskan tidak disyariatkannya
bentuk ibadah di atas adalah sebagai berikut;

1. Firman Allah Taala:

4 tPqu9$# M=yJ.r& N3s9 N3oY MJoCr&ur N3n=t LyJR
Muur N3s9 zNn=M}$# $YY 4

pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. (Q.S Al-Maidah:3)

Inilah agama yang telah sempurna syariatnya, hukum-hukumnya, kewajiban-kewjiban dan
sunnah-sunnahnya. Barngsiapa yang beramal dengan suatu hal baru yang disandarkan atas
ajaran agama, ia berarti telah menjadikan cacatnya agama ini, ia juga telah menjadikan cacat
persaksian Allah SWT, atas kesempurnaan agama ini kita berlindug kepada Allah darinya-
bahkan ia telah menuduh Nabi SAW, berkhianat dalam menyampaikan risalah yang hanif ini.

Ibnul Majisun berkata, Saya mendengar Imam Malik berkata,Siapa berbuat bidah dalam Islam
yang ia yakini sebuah kebaikan, ia telah menuduh Nabi SAW, mengkhianati risalah Islam, karena
Allah Taala telah berfirman,Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah
Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku- ridhai Isalam itu jadi agamamu. Maka suatu
perkara yang tidak ditentukan sebagai agama pada waktu itu,tidak diperbolehkan untuk dijafikan
agama pada hari ini.[24]

2. Firman Allah Taala:

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan
janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu
dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.(Q.S Al-Anam:153)

Imam Asy-Syatibi Rahimahullah berkata,Jalan yang lurus adalah jalan Allah yang diperintahkan
untuk menapakinya, yaitu As-Sunnah sedangkan jalan-jalan selainnya adalah jalan yang ditempuh
oleh para pengikut bidah yang menyelisihi jalan lurus,[25]

Perhatikanlah apa yang menyebabkan jalan lurus dalam ayat ini disebutkan dengan kalimat
tunggal (mufrad), sedangkan jalan-jalan selainnya yang menyerupai syariat disebut dalam bentuk
jamak? Jawabannya adalah, karena disebabkan beranekaragamnya keinginan hawa nafsu yang
menyelisihi jalan al-haq.

Imam Asy-Syatibi menegaskan bahwa yang dimaksud jalan-jalan selainya pada ayat di atas
bukanlah jalan-jalan dalam bentuk kemaksiatan.[26] Karena kemaksiatan tidak menyerupai bentuk
syariat, dalam artian bahwa tidak ada seorang pun yang melakuakn sebuah kemaksiatan yakni
mengetahui bahwa itu benar-benar sebuah maksiat meyakini bahwa perbuatannya adalah
termasuk bentuk ibadah kepada Allah SWT, atau jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Bahkan kadang kala seseorang melakukan sebuah perbuatan yang secara dzat adalah bentuk
maksiat, namun orang yang melakukannya tidak memahami kalau hal tersebut merupakan bentuk
kemaksiatn dalam beribadah kepada Allah SWT.

3. Dari Ibnu Abbas Radhiallahhuanha ia berkata:

,''- -= '- -' .=- , -==, '- ,'= - '- --': ,-, '-,` .=--, ` --, ` ,-, -- .,-- ,-
-` `--, ', `' _', ,-'- : -,- -,' --,' .=--,' '-,' --.

ketika Nabi SAW, berkhutbah di tengah-tengah kami, ada seseorang yang berdiri. Lantas beliau
menanyakan sebab perbuatn orang itu. para shahabat menjawab, Ia adalah Israil yang berndzar
untuk selalau berdiri, tidak bicara dan senantiasa shiyam.Kemudian Nabi SAW,
bersabda,Perintahkan kepadanya untuk berbicara, berteduh, duduk serta menyempurnakan
shiyamnya.(H.R Al-Bukhari, kitab: Al-Imam, bab: bernadzar, 604).

Hadits di atas menjelaskan kepada kita tentang seseorang yang telah menambah ketentuan baru
yang tidak disyariatkan dalam ibadah shiyam dengan dorongan bahwa dia telah bernadzar
untuknya-. Rasulullah SAW, membatalkan ketentuan ibadah itu, yaitu shiyam dengan berdiri di
bawah terik matahari tanpa berbicara sepatah katapun, menentukan ketentuan baru pada suatu
ibadah yang telah disyariatkan adalah temasuk perbuatan bidah yang tercela, tidak diterima
amalnya selama masih ada ketentuan itu. Kaidah ini berlaku untuk seluruh ibadah yang
disyariatkan, seperti shalat tahajjud ibadah yang satu ini muthlaq disunnahkan, namun tidak
dibenarkan jika pelaksanannya ditentukan pada waktu dan tempat tertenu tanpa ada landasan
syariatnya, karena ketentuan itu adalah suatu tambahan dalam ibadah, yang telah dibatalakan
oleh Rasulullah SAW. Karenanya bila ada seseorang yang meyakini bahwa shalat tahajjud setiap
malam rabu mempunyai keutamaan yang lebih agung dari malam lainnya, berarti ia telah
menambah ketentuan baru yang tidak pernah disyariatkan dan amalannya pun tertolak, demikian
pula terhadap amalan-amalan lainnya.

Inilah sebagian dalil yang menjelaskan kaidah seputar penjelasan di atas. Kaidah ini mungkin
mejadi sesuatu yang sangat bermanfaat dalam membedakan seluruh bentuk bidah yang banyak
membingungkan ummat. Karena pada dasarnya perbuatan bidah itu memiliki dasar syari namun
bukan dengan tambahan-tambahan yang tercela dan bidah tersebut. Mungkin inilah yang
dimaksud dengan berpegang teguh dalam beribadah tanpa berbuat ghuluw dan mengada-ngada
padanya. Sebagaiman yang dinyatakan oleh Abdullah bin Maud Radhiyallahuanhu, Sederhana
tetapi dalam bingkaian As-Sunnah lebih baik dari pada besungguh-sungguh tetapi dalam
bingkaian bidah,[27]

Shahabat hudzaifah bin Yaman Radhiyallahuanhu, tatkala melewati sebuah halaqah di masjid,
beliau berkata,Wahai para penbaca Al-Quran, bertaqwalah kalian kepada Allah, peganglah
jalannya orang-orang sebelum kalian, demi Allah jika kalian benar-benar berpegang teguh
padanya, niscaya kalian akan beruntung, namun jika kalian menunggalkannya dan memilih jalan
selainnya ke kiri dan ke kanan, maka kalian berada dalam kesesatan yang nyata.[28]

Keadaan yang disebutkan oleh shahabat Hudzaifah di atas menjelaskan tentang peringatan dan
pengingkaran beliau atas ketentuan sifat suatu ibadah, bukan ibadahnya, karena pada asalnya
membaca Al-Quran dan mempelajarinya adalah suatu ibadah, yang disyariatkan. Karena itu,
perhatikanlah dengan seksama.

Kaidah ketiga:

Bidah Terjadi Dalam Mengamalkan Sesuatu atau Meninggalkannya

Tujuan dari kaidah ini adalah menjelaskan bahwa perbuatan bidah bukan hanya mengamalkan
sesuatu yang tidak disyariatkan saja, tapi meninggalkan seseutu yang disyariatkan juga masuk
dalam kategori perbuatan bidah, meskipun diniatkan dalam rangka beridah kepada Allah SWT.

Imam Asy-Syatibi Rahimahullah menegaskan permasalahan ini pada pembahasan definisi bidah,
beliau mengategorikannya sama sebagai perbuatan bidah. Beliau berkata,Meninggalkan sesuatu
termasuk dalam kategori bidah, baik mengharamkannya atau tidak.[29]

Namun, dalam permasalahn ini diperlukan penjelasan yang utuh, karena tidak setiap sesuatu
yang ditingalkan termasuk perkara bidah, perlu peninjauan apakah ada alasan syari yang
melatarbelakanginya atau tidak, jika alasan syari seperti meninggalakan suatu makanan yang
membahayakan bagi kesehatannya, maka hal ini tidak mengapa dalam rangaka menjaga diri, dan
secara syari alasan ini dibenarkan. Atau meninggalkan suatu makanan karena takut terjebak
dalam hal yang membahayakan, atau meninggalkan sesuatu yang syubhat (tidak jelas
kehalalannya-pent), maka hal ini tidak mengapa dalam rangka menjaga agama, karena hal ini
dibenarkan oleh syariat. Jika meninggalkannya tanpa sebab yang jelas, ini termasuk sesuatu
yang sia-sia, baik diniatkan dalam rangka ibadah ataupun tidak.

Contoh jenis pertama di atas tidak dikategorikan dalam bidah, namun perlu kehati-hatian dari
pengharaman seseuatu yang dihalalkan, adapun contoh jenis kedua adalah perbuatn bidah
dengan meninggalkan sesuatu yang dihalalakn oleh Allah SWT. Dan termasuk perbuatan bidah
adalah beribadah dengan meninggalkan pakaian yang terbuat dari kapas, atau beribadah dengan
memakan buah-buahan, letak kebidahannya berdasarkan dalil-dall berikut:

1. Firman Allah Taala:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah
halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang melampaui batas.(Q.S Al-Maidah;87)

Dalam haditrs shahih dari Abdullah bin Masud Rahimahullah, ia berkata:

'-'- _,- '-' ,' '- ,'= - '- - ,- _- - '-: ` ,`''- -' _-- '-' = ` =' = '- '+- -=---
'-,'= : ( ,---' -=, ` - --- ` ' - .='- '-,= ,- =-` ,-- , -''+,',)

kami berperang bersama Nabi SAW, sementara kami tidak memiliki sesuatu apapaun, kami
berkata,Wahai Rasulullah, akankah kami mengebiri diri kami? Kemudian Rasulullah SAW,
melarangnya dan memperbolehlan kami untuk nikah mutah (sebelum turun larangan, yang pada
akhirnya ketentuen syari melarangnya-pent).

Lalau beliau membacakan ayat kepada kami,Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian
mengharamkan apa yang dihalalkan Allah untuk kalian, dan janganlah kalian melampaui batas,
seseungguhnya allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui bats.(H.R Al-Bukhari, kitab:
Nikah, bab:Makruhnya membujang (V/1953), hadits np. 505)

Hadits di atas menjelaskan larangan meninggalkan perkara mubah yang diniatkan dalam rangka
ibadah kepada Allah SAW.

Imam Mufassir Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah berkata ketika mengomentari ayat,
Janganlah kalian mengharmkan apa yang dihalalkan untuk kalian, yaitu larangan untuk
mengharamkan segala bentuk keindahan dan keledzatan yang disenagi hati, seperti yang
dilakukan oleh para pendeta dan pastur. Mereka mengharamkan pernikahan, makanan dan
minuman yang ledzat, dan memenjarakan diri mereka dalam gereja dan tempat ibadah mereka.
Allah Taala melarang kaum muslin untuk mengerjakan seperti yang mereka kerjakan dan Allah
SWT, melarang kaum muslimin melampaui batas yang telah ditentukan oleh-Nya baik dalam
masalah halal maupun dalam masalah haram.[30]

2. Firman Allah Taala sebagai bentuk pengingkaran terhadap apa yang dilakukan orang-orang
Musyrik. Allah SWT, berfirman:

Dan mereka mengatakan, "Inilah hewan ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh
memakannya, kecuali orang yang Kami kehendaki", menurut anggapan mereka, dan ada binatang
ternak yang diharamkan menungganginya dan ada binatang ternak yang mereka tidak menyebut
nama Allah waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. kelak
Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan. (Q.S Al-Anam:
138)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah dalam menafsirkan firman Allah SWT, ( -) beliau
berkata, Mereka mendustakan Allah Swt, dengan perbuatn meraka, mereka sandarkan atas
nama agama dan syriat-Nya, sehingga Allah SWT, tidak meridhai mereka.[31]

Ayat-ayat yang menegaskan tentang pengingkaran terhadap orang-orang kafir dan musyrik
seperti ayat di atas banyak sekali terdapat dalam Al-Quran, semuanya dalam bentuk
pengingkaran atas perbuatan mereka, tidak ada suatu yang halal kecuali apa yang dihalalkan-
Nya, dan tiada suatu yang haram kecuali apa yang telah diharamkan oleh-Nya. Maka barangsiapa
yang meninggalkan sesuatu yang disandarkan atas nama agama atau tuntunan syari, berarti ia
telah berdusta kepada Allah SWT, amal ibadahnya batal dan tidak tercatat sebagai amal shalih.

3. Hadits Anas bin Malik Radhiayahuanhu, ia berkata:

--' '-= = ,''-, '- ,'= - '- --' ,,- _' = ``` '= ,''- ' ,''-- +- ' -= '-' '- ,'= - _'-:
-= ' ='- '- -- - ---'- ' -= - '- ,'= - _'- --' - =- ,: =' ' -- .,'' '- ' '- '-: ,- '-
=' ' =` -': - ` '--' -= '- '- +,' '- ,'= - _'- - ,- '= -- : '- - - -' ,-'' --
-- ,' --- = -= - '--' - - '- = ,- -' ' '-- - '-=` - -.

Ada tiga orang mendatangi istri-istri Nabi SAW, mereka bertanya tentang bentuk ibadah yang
dilakukan beliau. Setelah para istri Nabi menjelaskannya, seketika itu mereka berkata kepada diri
mereka, Apa artinya kedudukannya kita dibanding dengan kedudukan Nabi SAW, di sisi Allah
SWT, padahal dosa-dosa beliau yang lalu dan yang akan datang telah diampuni? Lantas salah
seorang di antara mereka berkata,Saya akan shalat malam selama-lamanya. Yang lain berkata,
Saya akan shiyam terus-menerus tanpa berbuka. Dan yang lain berkata,Saya akam membujang
dan tidak akan menikah,Kemudian Rasulullah SAW, datang dan bersabda,Kaliankah yang
mengatakan ini dan itu? Ketahuilah Demi Allah saya adalah manusia yang paling takut dan
bertaqwa kepada Allah, tapi saya juga shiyam dan berbuka, bangun shalat dan tidur, selain itu
saya juga menikah, maka barangsiapa yang membeci sunnahku, dia bukan dari
golonganku.(HR.Al-Bukhari, kitab :Nikah, bab: Himabauan Untuk Menikah, hadits no. 4776)

Nabi SAW, mencela bentuk ibadah yang akan mereka lakukan dengan mengatasnamakan takwa
dan takut kepada Allah SWT. Beliau menjelaskan kepada seluruh umat, bahwa ibadah yang akan
mereka lakukan adalah salah dan bathil, karena takut dan takwa adalah dengan beriltizam untuk
melaksanakan perintah Allah SWT, sebagaimana Rasulullah menjadi orang yang paling takut dan
takwa kepada Allah SWT. Namun dengan ketakutan dan ketakwaannya, beliau tidak
meninggalkan sesuatu yang dibolehkan oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, ciri konkrit dari takwa dan
takut kepada Allah SWT, adalah mengikuti petunjuk Nabi SAW, Karena Nabi adalah suri teladan
yang melaksanakan ketentuan Allah SWT, dan karena beliau tidak mengerjakan dan
meninggalkan sesuatu yang Allah SWT, tidak tentukan.

Sebenarnya dalil dalam pembahasan ini banyak, namun kami cukupakan hanya dengan dilil-dalil
di atas. Yang pada intinya bahwa bidah bukan hanya mengamalkan suatu hal baru dalam agama,
namun meninggalkan sesuatu yang diperbolehkan Allah SWT, juga masuk dalam kategori bidah,
meskipun diniatkan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kaidah ini sangat penting untuk dipahami, karena dengannya seseorang akan terhindar dari
jebakan bidah yang tidak ia sadari akan merusak dinnya, dan menyelisihi manhaj Nabi SAW.

Kaidah Keempat:

Bidah Adalah Sesuatu yang Jelas-Jelas Dilarang dan Telah Ada Penolakkannya Pada Masa
Kenabian

Imam As-Syatibi Rahimahullah dalam bukunya AL-Muwaafaqaat telah menuturkan tentang
sesuatu yang berkaitan dengan diamnya syariat terhadap suatu hukum, dan penjelasan
disyariatkannya suatu hukum sesui dengan kebutuhan. Beliau menjelaskan, bahwa diamnya
syariat terhadap suatu hukum terdapat dua macam ketentuan:

Pertama: karena hal tersebut belum terdapat pada masa kenabian, dan baru terjadi pada masa
meninggalnya Rasuluullah SAW. Menentukan hukumnya adalah dengan jalan qiyas dan yang
semisalnya.

Kedua: Tidak ditetapakan sebagai hukum tambahan terhadap hukum yang turun pada masa
kenabian, ketentuan hukum ini seperti nash meski tidak sebagai suatu hukum yang disyariatkan,
namun jika ketentuan ini ditetapkan menjadi suatu hukum syari, maka dipastiakn ketentuan itu
adalah bidah baru yang menyelisihi kehendak Allah.[32]

Inilah kalimat indah yang disampaikan oleh Imam Asy-Syathibi, namun membutuhkan sedikit
penjelasan dan Allah adalah sebaik-baik penolong. Syariat ini adalah syariat sempurna yang
mencakup seluruh aspek kebutuhan manusia hingga akhir zaman, perkara baru yang
membutuhkan kepastian hukum tidak akan pernah berhenti, yaitu perkara baru yang muncul pada
masa turunnya wahyu dan perkara baru yang terjadi setelahnya. Untuk menentukan hukum
terhadap sesuatu yang baru setelah berhetinya wahyu (yakni setelah wafatnya Rasulullah SAW ),
ditempuh dengan jalan mengqiyaskannya dengan hukum yang sudah ada, atau dengan
mentakhrijnya. Dalilnya adalah nash syari yang telah sempurna bagi ummat manusia hingga hari
kiamat. Ini adalah persoalan rumit, namun menjadi suatu kebutuhan agama untuk menjawabnya,
sedangkan sesuatu yang muncul pada masa turunnya wahyu, syariat telah menentukan
hukumnya, baik secara jelas atau secara implisit. Pengertian hukum secara jelas adalah dengan
menerangan hukum itu, seperti tawanan perang, sedangkan pengertian hukum secara implisit
adalah dengan mendiamkan hukum itu.

Ada beberapa tingkatan dalam mendiamkan hukum yaitu sebagai berikut:

1. Mendiamkan ketentuan baru terhadap apa yang telah ditetapkan oleh syariat.

Contohnya: disyariatkannya mencintai Rasulullah SAW. Ketentuan syari untuk mencintai beliau
sudah ada pada masa turunnya wahyu, dengan dalil-dalil syari yang menerangkannya.seperi
lebih mnegutamakan beliau atas diri kita sendiri, bershalawat kepada beliau, tidak mengeraskan
suara di hadapan beliau, dan tidak memanggil beliau dengan nama belaiu saja. Adapun yang
didiamkan selain contoh di atas adalah, seperti memperingati hari kelahiran beliau, dan bersujud
di hadapan belaiu, ini jelas tidak disyariatkan (bahkan melaksanakan upacara seperti ini berarti
mengada-adakan syariat baru -bidah-pent). Karena jika perbuatan ini disyariatkan, kenapa tidak
ada dalil yang menegasaknnya? Sebagaimana tidak didiamkannya bershalawat, tidak
mengeraskan suara di hadapan belaiu, serta yang semisalnya.

2. Mendiamkan sebuah perkara secara keumuman, meskipun ada pendorong rujukan hukum,
dikarenakan ada penghalang yang menjadikannya tidak disyariatkan.

Contohnya: membukukan mushaf Al-Quran, pendorong amal itu adalah agar seseorang bisa
menghafalkannya dan perkara ini telah ada pada masa Rasulullah SAW, hanya saja dilarang
karena ada penghalang yaitu masih berlangsung turunnya wahyu. Ketika wahyu telah sempurna
dan berhenti turun bersamaan dengan wafatnya beliau, dengan demikian hilanglah penghalang
itu. Sementara ummat manusia membutuhkan cara untuk bisa menghafalkannya dan
menuliskannya. Maka membukukan mushaf salah satu dari bentuk mashlahah mursalah. Perkara
tersebut tidak dalam kategori bidah, termasuk juga di dalamnya pembukuan dan administrasinya,
begitu juga bentuk pemerintahannya sebuah Negara dan semislanya.

Namun sebagian orang ada yang bertannya tentang masalah ini, dalil apa yang melandasi
ketentuan itu? Dalilnya adalah apa yang telah kita sebutkan sebelumnya, yaitu dalil yang
menyatakan telah sempurnanya syariat ini, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Imam Asy-
Syatitibi Rahimahullah di atas.

Allah SWT, berfirman:

pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu (QS. Al-Maidah:3)

Syariat Islam telah sempurna dan telah menegaskan bahwa setiap hukum yang dibutuhkan
manusia telah ditegaskan oleh syariat baik secara tersurat ataupun tersirat, baik dengan
menyebutkan kelemahan atau dengan mentapkan kaidah pokok yang menjadi dasar kelemahan
itu.

Hal ini dipertegas lagi dengan sabda Rasulullah SAW,

- - ` '-' - -='-, -=' - -, - -- '-

Tiada tersisa suatu apapun yang mendekatkan seseorang dalam jannah, dan menjauhkannya
dari Naar, melainkan sesuatu itu telah dijelaskan untuk kalian (HR.Ath-Thabrani dalam Al-
Mujamul Kabir (II/155) hadits no. 164. Dinyatakan shahih oleh Al-Bani dalam Ash-Shahihah, no.
1803).

Imam Al-Mundziri menyebutkan dari shahabat Ibnu Masud Radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah
SAW, bersabda:

-= -,+- - ` '-' ' -, .-= ` - -- - ` -=' ' -, .-= - ,'.

Tiada suatu amalan yang mendekatkan ke jannah melainkan amlan itu telah saya perintahkan
kepada kalian, dan tiada suatu amalan yang akan menjerumuskan ke dalam Naar, melainkan
saya telah melarang kalian untuk mengerjakannya. (Al-Mundziri dalam At-Targhib wa Tarhib
(II/339), Al-Hakim dalam Al-MUutadrak,kitab: Al-buyu (II/5)(, hadits no. 2136)

Hadits Rasulullah SAW di ataslah yang secara umum mejadi sebuah landasan hukum dalam
permasalahan ini, kemudian dipertegas lagi oleh pekataan Imam As-Syatibi Rahimahullah,
adanya sesuatu yang tidak disyariatkan menunjukkan maksud Allah atas tidak adanya tambahan
ketentuan hukum yang telah ada sebelumnya, jiak ada orang yang menambah sebuah ketentuan,
ia telah menyelisihi ketentuan Allah SWT, dan menjadi batal amalnya.[33]

Jika kita perhatikan secara jeli tentangn motivasi pensyariatan secara umum, kita akan
mendapatkan di dalam hadits bahwa segala sesuatu baik yang mendekatkan seseorang ke
Jannah maupun yang menjauhkannya dari Naar telah di jelaskan semuanya oleh Rasulullah
SAW, beliau telah menjelaskan bahwa suatu hukum yang telah ditetapkan syariat menunjukkan
apa yang telah di butuhkan ummat manusia. Seseorang yang mengamalkan suatu amlan yang
tidak ada tuntunannya , berarti ia telah melanggar ketetuan Allah SWT, dan barangsiapa yang
mengamalkan perbuatn bidah yang diyakini sebagai sebuah ibadah untuk mendekatkan diri
kepada Allah SWT, berarti ia telah brdusta kepada Nabi SAW, berdasarkan sabda Rasulullah
SAW, di atas, siapa yang menentang penjelasan ini, ia adalah orang yang sombong lagi kufur.

Inilah penjelasan empat kaidah yang menerangkan kepada kita tentang batasan bidah. Secara
ringkas penjelasan empat kaidah di atas adalah sebagai brikut:

Bidah adalah bentuk peribadatan dengan sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syariat,
baik amalannya ataupun sifatnya, baik mengamalkannya atau pun meninggalkannya.

Saya sedikit memperjanjang ulasan dalam masalah ini, karena persoalan ini pada dasarnya
membutuhkan penjelasan yang konkrit.

Semua ini agar benar-benar tertanam di dalam benak ummat akan kejelakan bidah di tinjau dari
syariat dan akal sehat. Ada persoalan yang perlu kita perhatikan secara serius, ketika kita
menjelaskan batasan bidah secara lugas, yaitu hendaknya para da,i penyeru As-Sunnah
berlapang dada dalam meluruskan ahlul bidah, tidak boleh menghilangkan kasih sayang kepada
mereka dan tidak boleh berprasangka buruk kepada mereka. Hendaknya seorang dai ketika
mengobati ahlul bidah bersikap seperti seorang dokter mengobati orang sakit yang enggan
menelan obat, padahal ia membutuhkannya, tidak ada yang bisa mengobati diri dan badannya
selain pertolongan Allah Taala, maka mari kita renungkan hal ini dengan seksama.

CONTOH-CONTOH BIDAH

BID,AH YANG BERKAITAN DENGAN AQIDAH

Tawassul yang dilakukan dengan sarana (wasilah) yang tidak disebutkan oleh syariat

Tawassul ini adalah di antara tawassul yang di haramkan dan termasuk ke dalam jenis kesyirikan.
Contohnya: Tawassul kepada Allah SWT, dengan kedudukkan seseorang yang memiliki
keistimewaan di sisi Allah, seperti tawassul dengan kedudukkan Nabi SAW, yaitu dengan berkata,
Ya Allah, sesungguhnya saya memohon dengan kedudukkan Nabi-Mu agar demikian dan
demikian. Hal itu tidaklah boleh, karena itu artinya menetapkan suatu sebab yang tidak diakui
oleh syariat. Karena kedudukkan seseorang tidaklah memilki pengaruh sedikit pun dalam perkara
terkabulnya doa, karena kedudukkan itu tidak berkaitan dengan Allah yang didoa dan tidak pula
dengan orang yang berdoa, akan tetapi hanya sebagai urusan orang yang memiliki kedudukkan
itu saja. Maka sedikit pun tidaklah berguna bagi Anda dalam memenuhi permintaan Anda atau
menghilangkan kesulitan Anda, dan sarana sesuatu adalah hal yang menyampaikan kepada
sesuatu tersebut, dan tawassul dengan sesuatu yang tidak mampu menyampaikan kepadanya
adalah kesia-siaan, maka tidaklah patut untuk Anda jadikan sebagai saran (wasilah) antara diri
Anda dengan Tuhan Anda.[34]

Bertawassul dengan kedudukkan Nabi SAW, atau dengan dzat-dzatnya tidaklah bermanfaat sama
sekali dan tidak bekaitan dengan Anda, karena kedudukkan beliau itu, tidaklah berguna kecuali
bagi Rasulullah SAW, saja, adapun dengan Anda, maka ia tidaklah bermanfaat bagi Anda hingga
Anda bertawassul kepada Allah SWT, dengan apa yang disyariatkan-Nya, sedang tawassul itu
sebagaimana yang telah disebutkan- adalah mengambil sarana yang baik yang membuahkan
hasil, dan apa faidahnya bagi Anda (yang brtawassul) bahwa Rasululllah SAW, memiliki
kedudukkan dan derajat di sisi Allah SWT.[35] Di antara yang menunjukan bahwa bertawassul
dengan Nabi SAW, pada saat ini adalah tidak benar, yaitu bahwa para shahabat
Radhiyallahuanhum mengalami kekeringan pada masa Umar bin al-Khathtthab Radhiyallhuanhu,
lalu beliu keluar untuk melakukan istisqa, bersama mereka dengan berkata, Ya Allah,
sesungguhnya kami dulu bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu, lalu Engkau menurunkan
hujan untuk kami para shahabat Radhiyallahuanhum pernah bertawassul dengan Nabi SAW,
(sat beliau masih hidup) dengan doa beliau SAW, dan kami sekarang bertawassul dengan paman
Nabi kami, maka turunkanlah hujan untuk kami. Lalu al-Abbas bin Abdul Muththalib berdiri dan
berdoa istisqa kepada Allah SWT, hingga Allah menurunkan hujan untuk mereka.[36]

Ini merupan dalil tentang maksud dari tawassul dengan Nabi SAW, yang diriwayatkan dari
shahabat Radhiyallahuanhum yaitu bahwa mereka bertawassul dengan doa Nabi SAW, dan
bukan dengan dirinya.[37]

Bila Anda hendak bertawassul kepada Allah SWT, dengan cara yang benar, maka katakanlah,
Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu dengan keimananku kepada Rasul-Mu atau
dengan kecintaanku kepada Rasul-Mu, atau dengan tawassul-tawassul semacamnya. Semua ini
adalah di antara wasilah yang benar dan bermanfaat.[38]

Yang mulia Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah berkata, Tawassul dengan kedudukkan,
keberkahan, dan kehormatan diri seseorang bukanlah suatu yang dibolehkan menurut sebagian
besar ulama, karena tawassul itu adalah perkara tauqifiyah (hak muthlak syariat) di mana tidak
ada sesuatu pun dari tawassul itu yang boleh dilakukan kecuali yang dibolehkan oleh syariat, dan
tidak sama sekali riwayat dari syariat yang menunjukkan adanya tawassul-tawassul tersebut.

Maka janganlah seseorang itu berkata, Ya Allah, ampunilah aku dengan diri fulan, atau dengan
diri Muhammad SAW, atau dengan diri orang-orang shalih, atau dengan kehormatan para Nabi,
atau dengan diri para Nabi, atau dengan kedudukkan para Nabi, atau dengan keberkahan orang-
orang shalih, atau dengan keberkahan Ali atau dengan keberkahan Abu Bakar, atau dengan
keberkahan Umar, atau dengan diri para shahabat, atau dengan diri Fulan. Semua ini tidak boleh,
karena hal-hal tersebut bertentangan dengan yang disyariatkan dan termasuk bidah; tidak
termasuk syirik akan tetapi bidah, tidak pernah diriwayatkan dari doa-doa para shahabat beliau
SAW.[39]

Contoh lain dari tawassul dengan sarana yang tidak dibicarakan oleh syariat; adalah seseorang
bertawassul kepada Allah SAW, dengan doa seorang mayit, di mana ia meminta kepada mayit
tersebut agar mendoakan kepada Allah untuknya, ini bukanlah wasilah yang benar dan
disyariatkan, bahkan itu merupakan kebodohan dari orang tersebut dengan meminta kepada
mayit agar berdoa kepada Allah untuknya, karena mayit apabila telah meninggal maka terputuslah
amal perbuatannya, maka tidak mungkin ia mampu berdoa untuk orang lain, walaupun Nabi SAW,
sekali pun beliau tidaklah mungkin mendoakan seseorang setelah beliau wafat. Karena itulah para
shahabat Radhiyallahuanhum tidak bertawassul kepada Allah dengan meminta doa dari
Rasulullah SAW, setelah wafatnya, namun para shabat, ketika mengalami kekeringan pada masa
Umar bin Al-Khaththab, Radhiyallahuanhu berkata, Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu
bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu lalu Engkau menurunkan hujan, dan sekarang kami
bertawassul kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah, lalu berdirilah Abbas
Radhiyallahuanhu dan berdoa kepada Allah Aza wajalla[40]

Sekiranya meminta doa dari mayit itu boleh dan merupakan sarana yang benar, niscaya Umar
dan orang-orang yang bersamanya dari para shahabat Radhiyallhu,ahum meminta kepada
Rasulullah SAW, karena terkabulnya doa dari beliau lebih dekat dari terkabulnya doa al-Abbas bin
Abdu Muththalib Radihiyallhuanhu.

Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berjkata, Saya sangat heran dengan suatu kaum yang pergi
ke kuburan Fulan dan Fulan, dan mereka meminta kepadanya agar menghilangkan musibah dari
kehidupan mereka, dan mendatangkan kebaiakan kepada mereka, padahal mereka mengetahui
bahwa Fulan tersebut tidak mampu melakukan hal tersebut saat masih hidup, bagaimana setelah
kematiannay? Setelah ia menjadi sebujur bangkai? Bahkan ia telah menjadi tulang yang dimakan
oleh tanah? Namun mereka pergi dan berdoa kepadanya den meninggalkan berdoa kepada Allah
Aza wa Jalla sebagai Dzat Yang menghilangkan segala mudharat dan mendatangkan kebaikan.
Padahal Allah SWT, telah memerintahkan hal tersebut kepada mereka dan menganjurkannya
dalam firman-Nya,

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu (al-
Mumin: 60)

Dan dalam firman-Nya yang lain,

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya
aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon
kepada-Ku (al-Baqarah: 186)

Dan Allah SWT, berfirman untuk mengingkari orang yang berdoa kepada selain-Nya,

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa
kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai
khalifah di bumi[1104]? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? (An-Naml: 62[41]

Yang penting adalah bahwa tawassul kepada Allah SWT, dengan meminta doa kepada mayit
adalah sebuh tawassul yang bathil, tidak halal dan tidak dibolehkan, dan ini berkaitan dengan
aqidah.

BIDAH YANG BERKAITAN DENGAN IBADAH

Di sini kami akan memberikan salah satu contoh bidah yang berkaitan dengan ibadah di
antaranya:

Perayaan maulid Nabi SAW,

Sebagian kaum mutaakhirin pada abad ke empat hijrayah melihat banyak orang yang melakukan
berbagai kesia-siaan dan begadang pada waktu malam. Maka akhirnya mereka membuat bidah
berupa menghidupakan malam tanggal dua belas Rabiul awwal yang mereka sebut dengan
Malam Maulid. Jika datang malam tersebut, mereka semua berkumpul dan membaca sirah Nabi
SAW, dan membaca shalawat unutk Nabi Muhammad SAW. Namun para ulama mengingkari hal
itu, dan mereka mengatakan, ini adalah bidah yang buruk yang tidak pernah dilakuakn oleh
Rasulullah SAW, dan para shahabat Radhiyallahuanhum. Andaikan itu sunnah, niscaya Nabi
SAW, telah memerintahkan itu kepada kita semua.

Para pelaku bidah ini mengatakan, kalian semua mengingkari kecintaan kepada Rasulullah
SAW! Padahal apa yang mereka lakukan ketika menghidupakan malam maulid pada setiap tahun
itu sama sekali tidak menunjukkan kecintaan mereka kepada Rasulullah SAW ! Demikian juga
telah terjadi banyak bidah di dalam maslah ibadah, kami akan sebutkan sebagian contohnya agar
mendapat perhatian, nanum tidak kami berikan catatan (taliq) atasnya, mengingat banyaknya hal
itu:41

Perayaan Malam Isra Miraj

Mereka beranggapan itu bahwa terjadi di bulan Rajab, dan secara khusus mereka
memuliakannya. Mereka juga mengatakan bahwa malam Isra Miraj itu adalah malam kedua
puluh lima (atau dua puluh tujuh, pent) dari bulan Rajab.[42]

KAPAN PEKERJAAN SESEORANG DIKATAN BIDAH

Ahlus Sunnah wal Jamaah telah mendefinisikan bidah adalah perkara baru yang diada-adakan di
dalam agama Islam, yang ia tidak termasuk dari ajarannya. Maka barangsiapa yang melakukan
suatu ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, padahal ia tidak ada dalam Islam dan tidak
memeilki dalil dari al-Quran atau Sunnah maka ia adalah bidah, berdasarkan sabda beliau SAW,

,+ '-- ,'= ,' `-= .-= -

Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami, maka ia
tertolak. (HR. Muslim, 1718/18), dan dalam riwayat yang laian,

,+ -- ,' '- - '-- -= -.

Barangsiapa yang mengada-adakan hal yang baru di dalam perkara (agama) kami ini, yang
bukan darinya, maka ia adalah tertolak. ( HR. Al-Bukhari, 2679 dan Muslim, 1718).

Karena yang diwajibkan atas kaum Muslimin adalah cukup melaksanakan ibadah-ibadah yang
telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tidak menambahnya dengan sesuatu yang tidak
disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya SAW, Allah berfirman,

(tidak demikian) bahkan Barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat
kebajikan, Maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka
dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al-Baqarah: 112)

Maka menyerahkan diri kepada Allah yakni mentauhidkan-Nya dengan semurni-murninya,
sedang ia berbuat kebajikan ,yakni mengikuti Rasulullah SAW, dan mengamalkan apa yang
belaiu ajarkan serta tidak menambahnya. Adapun orang yang menambah ibadah dengan sesuatu
yang tidak disyariatkan oleh Rasulullah SAW, maka ia adalah mubtadi (orang yang berbuat
bidah) bukan orang yang berbuat kebajikan, karena tafsir syahadat Anna Muhammad
Rasulullah (bahwasannya Muhammad adalah utusan Allah), mempunyai makna mematuhi apa
yang diperintahkannya, membenarkan apa yang dikabarkannya, meninggalkan apa yang dilarang
dan dicegah olehnya, dan tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan apa yang telah
diajarkannya. Inilah konsekuensi syahadat Anna Muhammad Rasulullah.[43]

Allah berfirman.

apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka
tinggalkanlah (Al-Hasr: 7), dan firman-Nya,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Al-Hujaraat:1)

Jadi mubtadi adalah orang yang mengada-adakan perkara baru di dalam agama Allah yang
bukan bagian darinya, di mana dia membawa suatu ajaran yang tidak ada dalilnya dari al-Quran
atau Sunnah. Mubtadi itu bukan setiap orang yang menyelisihi atau keliru dalam berjihad. Sebab,
seorang mujtahid itu, apabila dia benar, maka dia mendapatkan dua pahala, dan jika keliru, maka
dia mendapatkan suatu pahala atas ijtihadnya. Yang dimaksud dengan Mujtahidin adalah mereka
yang memilki keahlian untuk berijtihad (komponen) dan syarat-sayarat ijtihad yang sudah terkenal
itu benar-benar ada pada mereka. Demikian halnya seseorang yang salah karena tawinya.
Sebab, tawil itu syubhat yang melepaskan dirinya dari vonis sebagai seorang mubtadi. Juga,
Karena dia mengira bahwa tawilnya itu boleh, atau karena ia betaklid kepada orang yang ia
anggap berada di atas kebenaran, maka orang seperti ini disebut keliru atau menyalahi, dan tidak
disebut sebagai seorang mubtadi. Dalilnya adalah bahwa para shahabat Radhiyallahuanhum,
dahulu mereka berijtihad berbeda pendapat sesama mereka di dalam beberapa permasalahan.
Mereka tidak saling membidah antara satu yang satu dengan yang lain, dan tidak saling
melakuakan hajr (tidak tegur sapa) sesama mereka. Bahkan mereka tetap sebagai saudara yang
saling mencintai lagi saling menolong, karena mereka adalah ummat yang satu, meskipun mereka
berbeda pendapat di dalam beberapa dan ijtihad yang memang diperbolehkan oleh syariat untuk
berijtihad di dalamnya.[44]

Para ulam memilki kedudukkan dan kehormatan. Oleh karena itu, sesungguhnya fenomena
memvonis seorang sebagai ahli bidah adalah datang dari mulut orang yang bodoh atau para
penuntut ilmu yang masih pemula, karena mereka menganggap orang yang melakukan tawil dan
orang yang taklid sebagai mubtadi, bahkan mereka menampakkan perkataan ini, sehingga
sebagian mereka melemparkan mencap sebagian orang sebagai ahli bidah. Akibatnya mereka
saling bermusuhan, saling memutuskan hunungan dan saling berpaling. Perkaranya tidak cukup
terjadi di antara mereka saja, bahkan merembet kepada para ulama terdahulu. Kita akan
mendapatkan orang-orang bodoh itu mengatakan bahwa Ibnu Hajar seorang mubtadi dan imam-
imam besar lainnya pun dicap sebagai mubtadi, an-Nawai seorang mubtadi, Abu Hanifah
seorang mubtadi, dan imam-imam besaar lainya pun di cap sebagai nubatadi. Semuanya ini
hanya karena kesalahan-kesalahan di dalam ijtihad yang seharusnya kita melemparkan vonis ahli
bidah kepada mereka, karena kesalahan-kesalahan itu hanya bersifat farsial, padahal para ulam
itu memiliki keutamaan (jasa) di dalam islam imamah (kepemimpinan di dalam agama), dan
kedudukkan. Mereka telah banyak menyumbangkan untuk islam ini dan kaum Muslimin sesuatu
yang bermanfaat. Kaum Muslimin banyak mendapat manfaat dari karangan-karangan dan kitab-
kitab mereka di dalam memahami Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya SAW, dan seandainya
diperkirakan bahwa ada sedikit kesalahan pada perkataan mereka, maka kalau dibandingkan
dengan kedudukan, keutamaan, ilmu mereka di dalam Islam dan di dalam berkhidmab terhadap
Sunnah Nabawiyah, maka ia mampu menutupi kesahan-kesalahn persial ini. Maka kita
seharusnya mengetahui kedudukan para ulama kita baik yang dahulu maupun yang sekarang-,
menghormati mereka dan mendoakan kepada Allah untuk mereka, sebagaiman firman Allah
SWT,

Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-
penghuni jannah Itulah orang-orang yang beruntung. ( Al-Hasr: 20)

Inilah sifat orang-orang yang beriman, karena mereka tidak mencari-cari aib dan kesalahan orang
lain. Sedangkan selain mereka, selalu mencari-cari aib dan kesalahn orang lain dan
menyebarkannya. Inilah yang bidah.

Bidah itu tidak berada pada satu level saja. Ada bidah mukaffirah (bidah yang dapat
mengeluarkan pelakunya dari agama) dan ada pula bidah yang lebih rendah dari itu; karena
mereka (para ulama) menagi bidah itu menjadi dua bagian: bidah mukaffarah, sepeti pemikiran-
pemukiran sesat Jahmiyah, sekte-sekte yang ekstrim dan setiap pemikiran sesat yang dapat
mengeluarkan dari Islam; dan kedua, bidah yang lebih ringan dari itu, yang pelakunya yang
pelakunya masih termasuk dari kaumMuslimin, tetapi pada dirinya ada sedikit bidah, maka
hendaknya kita tidak menutp mata terhadap hak orang lain,Dan apabila kamu berkata, maka
hendaklah kamu berlaku adil. (Al-Anam: 152)[45]


SIKAP SALAF TERHADAP PELAKU BIDAH

Pertanyaan: Kami memohon penjelasan Syaikh tentang tentang sikap Ulama salaf terhadap
pelaku bidah, semoga Allah membalas kebaikan Syaikh!

Jawaban: kaum salaf tidak membidahkan sembarangan orang, dan mereka tidak gampang
menggunakan kalimat bidah untuk menghukumi seseorang yang melakukan salah satu
Penyimpangan. Mereka membidahkan orang yang melakukan amalan yang tidak ada dalinya
dengan tujuan untuk bertaqarrub kepada Allah dengan ibadah yang tidak pernah disyriatkan
Rasulullah SAW, dengan landasan sabda Nabi SAW,

,+ '-- ,'= ,' `-= .-= -.

Barangsiapa yang melakukan suatu amalan (dalam agama) yang tidak ada perintahnya dari kami
maka amalan terdebut tertolak. (HR. Muslim )

Dan di dalam riwayat yang lain disebutkan,

,+ , ,' '- - '-- -= -.

Barangsiapa yang mengada-adakan hal baru dalam urusan kami ini (agama) padahal bukan diri
bagiannya maka ia tertolak (HR. Muslim)

Bidah itu adalah mengada-adakan sesuatu yang baru dalam agama yang tidak ada dalilnya dari
al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Inilah yang dimaksud bidah. Maka jika seseorang
melakukan sesuatu bidah dalam Agama enggan untuk kembali kepada Sunnah maka manhaj
salaf adalah bahwa mereka mngucilkannya dan menjauh darinya serta tidak bergaul atau duduk-
duduk dengannya. Inilah manhaj (sikap dan cara) mereka, namun sebagaimana saya sebutkan
hal itu dilakukan setelah orang tersebut terbukti benar-benar seorang pelaku bidah, dan setelah
dia diberi nasehat. Lalu ia tetap tidak mau meninggalkan bidahnya. Maka ketika itu dia boleh
dihajar (dikucilkan) dengan tujuan agar bahayanya tidak menyebar kepada orang lain yang
bergaul dengannya dan orang yang berhubungan dengannya. Dan juga dengan tujuan agar kaum
Muslimin selalau waspada terhadap para pelaku bidah dan terhadap berbuatan bidah. Adapun
sikap berlebihan di dalam melemparkan tuduhan bidah kepada setiap orang yang dipandang
menyelisihi pendapat orang lain, dengan mengucap, orang ini mubtadi; dan setiap orang
menjuluki yang lainnya mubtadi, padahal ia tidak pernah melakukan hal baru dalam agama Islam
ini, kecuali hanya Anda berbeda pendapat dengannya dan dengan orang lain atau Anda berbeda
pendapat dengannya dan dengan sekelompok tertentu, maka yang seperti itu tidak disebut
mubtadi (ahli bidah). Siapa saja yang melakukan perbuatan haram atau maksiat maka ia disebut
pelaku maksiat (ashi), dan tidak setiap orang yang bermaksiat adalah mubtadi, tidak setiap orang
yang berbuat salah adalah mubtadi , karena mubtadi adalah orang yang mengadakan perkara
baru dalam Agama yang merupakan bagiannya. Adapun berlebihan di dalam memvonis bidah
dengan mengalamatkannya secara serampangan kepada setiap orang yang berbeda pendapat
dengan orang tertentu, maka itu tidaklah benar. Karena boleh jadi kebenaran berada di pihak
lawan. Maka yang demikian itu (berlebih-lebihab) bukan manhaj atau para Ulama Salaf.[46]

KESIMPULAN

Berpegang teguh pada As-Sunnah merupakan cara untuk menghindar dari permusuhan dan jalan
untuk menghilangkan kesasatan. Karena As-Sunnah adalah tempat tempat yang aman untuk
berlindung dan tidak akan membinasakan.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara
kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An-Nisa: 59)

Berhukum menurut ayat di atas adalah harus sesui dengan manhaj para shahabt
Radhiyallahuanhum, sebagaiamana yang telah disebutkan sberlunya pada firman Allah Tala:

Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan
yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah
dikuasainya itu[348] dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-
buruk tempat kembali. (An-Nisa: 115)

Imam Ahmad berkata, Pokok sunnah bagi kami adalah berpegang teguh dengan apa yang telah
di tempuh oleh para shahabat,[47]

Oleh sebab itu, jika Anda mendapatkan pelaku perpecahan dan pengikut hawa nafsu mengaku
bahwa mereka telah beriltizam pada Al-Kitab dan As-Sunnah, Anda sekalai-kali tidak akan pernah
mendapatkan mereka mengaku telah beriltizam dengan manhaj para shahabat sedikitpun,
padahal cirri-ciri ahlul Firqah adalah meninggalkan manhaj para shahabat. perhatikanlah dengan
seksama agar kita yakin bahwa tidak seorangpun dari mereka yagn berpegangan teguh pada
manhaj para shahabat. Dengan memahaminya, kita akan tercegah dari terjerumus pada bidah
mereka yang menylisihi al-haq, yakni ketika mereka mencampur adukkan ajaran agama dengan
menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat atau ketika mereka memahami hadits tidak sesuai dengan al-
haq, kita harus memerangi mereka dengan sunnah para shahabat Radhiyallahuanhum, karena
para shahabat adalah tulang punggung kebenaran Ummat, kesepakatan mereka adalah hujjah
yang harus diikuti dan perbedaan mereka adalah suatu keluasan rahmat, sekal-kali seseorang
tidak akan mendapatkan kebenaran di luar perkataan mereka sedikitpun.

Dari pemaparan di atas, kita bisa mengambil kesimpulan sebagai berikuit:

1. Bid;ah secara syari merupakan sebuah perkara yang pasti tercela. Perkara yang dianggap baik
oleh para pelakunya ini, berkisar pada makan secara bahasa atau istilah secara khusus yang
tidak menyalahi pokok yang telah kami paparkan dan tidak dipertentangnkan secara istilah.

2. Bidah memilki kaidah-kaidah yang harus diperhatikan, sehinggaa bagi para penuntut ilmu
harus mengetahuinya, yakni harus mengetahui setiap perkara baru apa saja yang harus
dimusnahkan dan perkara baru apa saja yang didiamkan yang tidak termasuk ke dalam kategori
bidah, seperti maslahat murslah dan yang lainya.

3. Sejarah munculnya perpecahan dan perselisihan sudah terjadi pada ummat ini, sejak dahulu,
yang pada intinya sebagian dari ummat ini ada yang mengambil langkah sebagian ummat
terdahulu (sebelum bitsah) dalam menyelisihi manhaj para Nabi , kemudian sebagian Ummat
inipun ada yang menyelisihi manhaj Nabi yang terpelihara kebenaranya, mereka perpedoman
dengan pendapat dan nafsu mereka, yang pada akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.

4. Adanya perpecahan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahaih ditinjau dari
ketentuan takdir alkauni (takdir yang nyata), maka tidak ada hujjah bagi seseorang untuk
membatahnya, karena ia bersunber dari lisan Rasulullah SAW, sebagai bentukmukjijat yang telah
diberikan oleh Allah Taala kepadanya. Adapun ditinjau dari kehendak segi syari sangat jelas
bahwa syara, senantiasa mengajak pada persatuan dan meninggalkan perselisihan serta
perpecahan.

5. Dampak negatife bidah bagi ummat adalah dapat menghilangkan ketentraman dalam bidang
akidah dan kemasyarakatan, sesuai dengan kadar kehancuran yang akan ditimbulkannya.
Sepatutnya bagi ummat Rasulullah SAW, agar bagnkit untuk mempertahankan sunnah Nabinya,
sehingga lenyaplah bidah dan hidup suburlah sunnah serta beriltzam dengan manhaj Nabi SAW,
sebagaimana Allah SWT, telah menjaganya bagi kita. Sebagaimana bentuk pelepasan diri kita
dari pertanggungjawaban dan sebagai pembebasan perjanjian kita di Hadapan Allah Taala kelak.

Dan pada akhirnya saya memohon kepada Allah SWT, agar menerima apa yangkani yakini
sebagai kebenaran dan semoga memaafkan kesalahan dan penulisan ini, dan kita mohon
semoga Allah SWT, menjadikan kita para penolong Sunnah Rasulullah SAW, dan para penolong
dalam menghancurkan pedoman selainnya. Dia-lah sebaik-baik yang diminta dan yang paling
mulai untuk diharap. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW,
keluarga, dan shahabatnya.