Anda di halaman 1dari 42

Tutor : Azmi Rosya Farayoga, dr. Sp.B.

Anggota :
Shafa husnul Khatimah (702010060)
Siti Kusumaning Tyas (702011001)
Zukhruful Muzakkie (702011002)
Lisa Wendi Astuti (702011007)
Fabiola Dwita Rosyadi (702011008)
Nursin Mukhlis (702011018)
SKENARIO A
BLOK 20
Dian Wijayanti (702011037)
Fabyenne Vasilefa
(702011039)
Ira Maulani (702011040)
Marmah Oktaria (702011044)
Nur Habib
(702011065)


Outlines
Skenario Kasus
Klarifikasi Istilah
Identifikasi Masalah
Analisis Masalah
Hipotesis
Kerangka Konsep
Kesimpulan
Daftar Pustaka

Dr. Widodo, dokter jaga UGD RSMP menerima pasien bernama
Wendra, 32 tahun, seorang pekerja bangunan. Wendra jatuh dari atap
bangunan dengan ketinggian 6 meter saat menggantikan genteng yang bocor.
Wendra langsung pingsan namun bila dipanggil di terbangun tapi pingsan
kembali dan dibawa ke UGD 30 menit setelah kejadian. Wendra terlihat sulit
bernapas dan mengeluarkan suara ngorok. Tampak memar disekitar mata kiri
dan belakang telinga kiri. Darah keluar dari telinga kirinya.
Pemeriksaan Fisik:
Keadaan Umum: Wendra tidak sadar dan mengeluarkan suara ngorok, bila
dipanggil tidak merespon bila dirangsang nyeri cubit pada dada Wendra baru
membuka mata dan menarik lengan kanan ke tubuh. Pada saat yang
bersamaan, Wendra mengeluarkan suara erangan.


Skenario Kasus
Tanda Vital: Terlihat sesak napas (RR: 35x/menit), TD: 170/80 mmHg, HR:
108x/menit, temp. Axilla 36,2C.
Pemeriksaan Khusus:
Kepala: Pada regio retra auricular sinistra terdapat hematom ukuran 1x4 cm
memanjang sejajar daun telinga. Brill hematom kiri. Otorhea sinistra (+)
Leher: Terlihat trakea ditengah, vena jugularis tidak terlihat, lainya dalam batas
normal
Thoraks:
- Inspeksi:
RR: 35x/menit, retraksi interkostal dan supraklavikula minimal, gerak napas
asimetris kiri tertinggal.
Tampak memar pada regio axillaris posterior setinggi costa VIII sinistra
diameter 10 cm.

- Auskultasi:
Bising napas: thoraks kiri: vesikuler menjauh, thoraks kanan: vesikuler normal
Bunyi jantung: terdengar jelas, frekuensi 108x/menit.

- Palpasi :
Nyeri tekan sekitar memar, krepitasi (+) pada costa VIII.
Stem fremitus tidak dapat diperiksa.

- Perkusi :
kanan: sonor, kiri: hipersonor.

Abdomen:
Inspeksi: datar, tidak tampak memar
Auskultasi: bising usus 8x/menit
Palpasi: nyeri tekan normal.

Urogenitalis: dalam batas normal
Ekstremitas: dalam batas normal

1. Ngorok : bunyi napas kasar bernada tinggi yang ditandai dengan obstruksi laring
(Dorland: 1024).
2. UGD : unit pelayanan di rumah sakit yang menyediakan penanganan awal pada
pasien yang mengalami sakit atau cedera.
3. Otorrhea : sekret yang keluar dari telinga.
4. Krepitasi : suara berderak seperti kita menggesekkan pada tulang yang pada
(Dorland: 265)
5. Sonor : suara perkusi jaringan paru yang normal.
6. Memar (hematom) : pengumpulan setempat ekstravasasi darah, biasanya
membeku didalam organ, ruang atau jaringan (Dorland: 504)
7. Vesikuler : frekuensi rendah seperti napas normal pada paru selama ventilasi
(Dorland: 1180)
8. Stem fremitus : getaran yang teraba pada saat palpasi yang dapat dibandingkan
antara kanan dan kiri.

Klarifikasi Istilah
1. Dr. Widodo, dokter jaga UGD RSMP menerima pasien
bernama Wendra, 32 tahun, seorang pekerja bangunan.
Wendra jatuh dari atap bangunan dengan ketinggian 6 meter
saat menggantikan genteng yang bocor.
2. Wendra langsung pingsan namun bila dipanggil di terbangun
tapi pingsan kembali dan dibawa ke UGD 30 menit setelah
kejadian.
3. Wendra terlihat sulit bernapas dan mengeluarkan suara
ngorok.
4. Tampak memar disekitar mata kiri dan belakang telinga kiri.
Darah keluar dari telinga kirinya.
5. Pemeriksaan Fisik: Keadaan Umum: Wendra tidak sadar
dan mengeluarkan suara ngorok, bila dipanggil tidak
merespon bila dirangsang nyeri cubit pada dada Wendra
baru membuka mata dan menarik lengan kanan ke tubuh.
Pada saat yang bersamaan, Wendra mengeluarkan suara
erangan.

Identifikasi Masalah
6. Pemeriksaan Fisik: Tanda Vital: Terlihat sesak napas
(RR: 35x/menit), TD: 170/80 mmHg, HR: 108x/menit, temp.
Axilla 36,2C.
7. Pemeriksaan Khusus:
Kepala: Pada regio retra auricular sinistra terdapat
hematom ukuran 1x4 cm memanjang sejajar daun telinga.
Brill hematom kiri. Otorhea sinistra (+)
Leher: Terlihat trakea ditengah, vena jugularis tidak terlihat,
lainya dalam batas normal
Thoraks:
Inspeksi:
- RR: 35x/menit, retraksi interkostal dan supraklavikula
minimal, gerak napas asimetris kiri tertinggal.
- Tampak memar pada regio axillaris posterior setinggi
costa VIII sinistra diameter 10 cm.

Auskultasi:
- Bising napas: thoraks kiri: vesikuler menjauh,
thoraks kanan: vesikuler normal
- Bunyi jantung: terdengar jelas, frekuensi 108x/menit.
Palpasi:
- Nyeri tekan sekitar memar, krepitasi (+) pada costa
VIII.
- Stem fremitus tidak dapat diperiksa.
Perkusi: kanan: sonor, kiri: hipersonor.

Abdomen:
- Inspeksi: datar, tidak tampak memar
- Auskultasi: bising usus 8x/menit
- Palpasi: nyeri tekan normal.

1. Dr. Widodo, dokter jaga UGD RSMP menerima pasien
bernama Wendra, 32 tahun, seorang pekerja
bangunan. Wendra jatuh dari atap bangunan dengan
ketinggian 6 meter saat menggantikan genteng yang
bocor.

1. a. Apa dampak Wendra jatuh dari atap bangunan dengan
ketinggian 6 meter?
Jawab:
Trauma multipel
Ventilasi terganggu
Perfusi oksigen menurun
Penurunan kesadaran
Kecacatan
Kematian
Analisis Masalah
1. b. Apa saja klasifikasi dari trauma? Termasuk trauma apa
pada kasus?
Jawab:
1. Cedera vertebra / Medulla Spinalis
Syok spinal
Sindrom konus medullaris
Cedera vertebra servikal
Sindrom medulla spinalis anterior
Sindrom medulla spinalis sentral
Sindrom Brown-Sequard
Sindrom kauda equina


2. Cedera Kepala
Fraktur thoraks
Hematoma epidural
Hematoma subdural
Perdarahan
subaracnoid traumatik
Kontusio serebri
Konkusia serebri
Cedera aksonal difus

3. Trauma leher
4. Trauma maksila fasial
5. Trauma thoraks
Kontusio paru
Trauma sternum
Pneumotoraks
Hematoraks
Asfiksia traumatik
Temponade jantung
Cedera aorta
Cedera esofagus
6. Trauma abdomen
7. Trauman pelvis

Kemungkinan trauma yang terjadi pada kasus adalah
cedera kepala (trauma kapitis) dan trauma thoraks.

1. c. Kemungkinan organ yang bisa cedera pada kasus
ini?
Jawab:
- Trauma kapitis : otak
- Trauma thoraks : jantung & paru-paru

1. d. Bagaimana penanganan awal pada pasien ini?
Jawab :
Jika menemukan seseorang dalam keadaan tidak sadar,
lakukanlah:
Perhatikan keadaan sekitar. Perhatikan dahulu
keselamatan diri anda sebelum menolong orang lain.
Periksa apakah penderita tersebut sadar atau tidak.
Lakukan dengan mengguncangkan tubuhnya atau
panggil dengan nama sapaan.
Mintalah bantuan
Jika penderita tidak responsive atau tidak sadar,
lakukan ABC

1. e. Bagaimana mekanisme trauma pada kasus
ini?
Jawab:
Mekanisme trauma dilihat dari:
Arah trauma: arah trauma adalah vertikal
Kecepatan trauma: deselerasi cepat vertikal
Organ yang terkena: kepala, thoraks ( costa VIII
sinistra)

2. Wendra langsung pingsan namun bila dipanggil di
terbangun tapi pingsan kembali dan dibawa ke UGD 30
menit setelah kejadian.
2. a. Apa makna Wendra langsung pingsan namun bila dipanggil
Wendra terbangun kembali?
Jawab:
Wendra telah mengalami lucid interval.

2. b. Bagaimana mekanisme pingsan pada kasus ini?
Jawab:
Trauma multiple mengenai bagian batang otak di formasio
retikularis bloking pusat kesadaran di formasio retikularis
penurunan kesadaran.

Formasio retikularis tersusun atas serat-serat dan kelompok-
kelompok saraf dengan fungsi tersendiri. Salah satu komponen
formasio retikularis adalah Ascending Reticular Activiting
System (ARAS) berperan dalam kesadaran. ARAS membawa
sinyal untuk kesadaran dan mengaktivasi korteks serebri.


2. c. Bagaimana cara mengukur tingkat kesadaran pada
kasus ini?
Jawab:
Pada pemeriksaan Kesadaran atau GCS, ada 3 fungsi
(E,V,M) yang hurus diperiksa, masing-masing fungsi
mempunyai nilai yang berbeda-beda, untuk penjelasannya
bisa dilihat dibawah
E : eyes/ mata nilai total 4
V : Verbal nilai total 5
M: Motorik / gerak nilai total 6

Interpretasi
Masing-masing pemeriksaan E,V,M dijumlahkan, dan di
masukan dalam kriteria cedera otak berikut
Berat, dengan GCS 8
Sedang, GCS 9-12
Ringan 13

2. d. Apa makna Wendra dibawa ke UGD, 30 menit setelah kejadian?
Jawab:
Keterlambatan penanganan dini pada pasien

2. e. Bagaimana penangan awal pada keadaan ini?
Jawab:
Tindakan yang dilakukan dalam penanggulangan trauma:
Persiapan awal
Fase sebelum masuk rumah sakit
Fase rumah sakit

Triase, dilakukan 2 jenis triase :
Jumlah penderita tidak melebihi kapasitas rumah sakit
Jumlah penderita melebihi kapasitas rumah sakit baik fasilitas maupun
stafnya.

Survey awal menilai dan memberikan pengobatan sesuai dengan
prioritas berdasarkan trauma yang dialami.


3. Wendra terlihat sulit bernapas dan mengeluarkan
suara ngorok.

3. a. Apa makna sulit bernfas dan mengeluarkan suara
ngorok?
Jawab:
Sulit bernapas : gangguan pada Breathing (pernapasan).
Ngorok : gangguan pada Airway (jalan napas)

3. b. Bagaimana patofisiologi sulit bernapas dan
mengeluarkan suara ngorok?
Jawab:
Penurunan kesadaran kerja saraf simpatis, parasimpatis,
otonom terganggu lidah jatuh kebelakang obstruksi
parsial ngorok gangguan airway.

Pneumotoraks akumulasi udara dalam rongga pleura
tekanan negatif intrapleura hilang defek ventilasi dan
perfusi tidak mendapat oksigenisasi sulit bernapas
dypsneu.



3. c. Apa dampak dari sulit bernapas dari sulit bernapas dan
mengeluarkan suara ngorok?
Jawab:
Karena turunnya pasokan oksigen ke otak, apabila terjadi
pada waktu yang dalam kemungkina yang terjadi adalah
hipoksia jaringan otak, tanpa penanganan yang adekuat dan
cepat bisa menjadi kematian.

3. d. Bagaimana penangan awal pada keadaan ini?
Jawab:
Lakukan intubasi dini untuk tatalaksana jalan napas agar
pasien bisa mendapatkan pasokan oksegin.
Airway pembersihan jalan napas dalam hal ini adalah
lidah yang jatuh, lakukan pengangkatan lidah menggunakan
nasopharyngeal tube untuk menahan lidah agar tidak jatuh.

4. Tampak memar disekitar mata kiri dan belakang
telinga kiri. Darah keluar dari telinga kirinya.

4. a. Apa makna memar disekitar mata dan belakang telinga
serta darah keluar ditelinga kiri?
Jawab:
Memar disekitar mata brill hematoma
Memar belakang telinga battle sign
Darah keluar ditelinga kiri otorhea

4. b. Bagaimana mekanisme memar disekitar mata dan
belakang telinga serta darah keluar ditelinga kiri?
Jawab:

Trauma kepala
Fraktur basis cranii
Fossa media
Fraktur meluas
ke posterior
Hematom di
region retro
auricular
sinistra
Fraktur petrous
pyramid yang merusak
kanal uditory external
dan merobek
membrane tympani
Bocornya darah
ottorhea
Fossa anterior
Darah dan LCS masuk
ke jaringan periorbital
Memar disekitar mata
4. c. Apa dampak keluhan memar disekitar mata dan
belakang telinga serta darah keluar ditelinga kiri?
Jawab:
Brill hematom menandakan pecahnya arteri oftalmika
yang menyebabkan darah masuk kedalam kedua
rongga orbita melalui fisura orbita dan bisa
berdampak pada kebutaan.

Pada battle sign dan otorhea sinistra bisa berdampak
pada ketulian.

5. Pemeriksaan Fisik: Keadaan Umum: Wendra tidak
sadar dan mengeluarkan suara ngorok, bila dipanggil
tidak merespon bila dirangsang nyeri cubit pada dada
Wendra baru membuka mata dan menarik lengan kanan
ke tubuh. Pada saat yang bersamaan, Wendra
mengeluarkan suara erangan.

5. a. Apa interpretasi keadaan umum?
Jawab :
Tidak sadar penurunan kesadaran
Mengeluarkan suara ngorok snoring
Dirangsang nyeri cubit pada dada serta baru membuka
mata dan menarik lengan kanan ke tubuh GCS (Eye)
bernilai 2 dan GCS (Movement) bernilai 4.
Mengeluarkan suara erangan GCS (Verbal) bernilai 2.


5. b. Bagaimana mekanisme dari keadaan umum?
Jawab:
Ngorok : Penurunan kesadaran kerja saraf simpatis,
parasimpatis, otonom terganggu lidah jatuh
kebelakang obstruksi parsial ngorok
Penurunan Kesadaran : Trauma multiple mengenai
bagian batang otak di formasio retikularis bloking pusat
kesadaran di formasio retikularis penurunan
kesadaran.

5. c. Apa hubungan tidak sadarkan diri dengan adanya
trauma?
Jawab:
Fraktur basis cranii perdarahan intracranial
peningkatan TIK kompensasi (doktrin Monrow-Kellie)
peningkatan TIK tak terkompensasi gangguan perfusi
otak penurunan kesadaran.

6. Pemeriksaan Fisik: Tanda Vital: Terlihat sesak napas (RR:
35x/menit), TD: 170/80 mmHg, HR: 108x/menit, temp. Axilla
36,2C.

6. a. Apa interpretasi tanda vital?
Jawab:
Terlihat sesak napas gangguan pernapasan (breathing)
RR : 35 x/menit takipneu (N : 16-24 x/menit)
TD : 170/80 mmHg hipertensi (N : 120/80 mmHg)
HR : 108 x/menit takikardi ( N: 60-100 x/menit)
Temp Axilla : 36,2 C. hipotermi (N : 36,5 37,2 C)

6. b. Bagaimana mekanisme dari tanda vital?
Jawab:
Terlihat sesak napas
Penurunan kesadaran kerja saraf simpatis, parasimpatis,
otonom terganggu lidah jatuh kebelakang obstruksi parsial
ngorok gangguan airway gangguan pernapasan
RR : 35 x/menit takipneu (N : 16-24 x/menit)
Trauma tumpul toraksfragmen costa mencederai
parenkim paru-paru laserasi paru dengan kebocoran
udara udara masuk ruang potensial antara pleura
viseralis dan parietalis Simple pneumotoraks
akumulasi udara tekanan intra pleura pulmo
sinistra kolaps penurunan suplai O
2
kompensasi
nafas cepat takipneu

7. Pemeriksaan Khusus :

7. a. Apa interpretasi pemeriksaan khusus? (kepala, leher,
thoraks, abdomen)
Jawab:
Kepala fraktur basis cranii
- Pada regio retra auricular sinistra terdapat hematom ukuran
1x4 cm memanjang sejajar daun telinga battle sign
- Brill hematom kiri pecahnya arteri oftalmika yang
menyebabkan darah masuk kedalam kedua rongga orbita
melalui fisura orbita.
Otorhea sinistra (+) darah mengalir akibat fraktur basis
cranii

Leher: Terlihat trakea ditengah, vena jugularis tidak terlihat
untuk menyingkirkan diagnosis tension pneumotoraks

Thoraks menandakan adanya fraktur thoraks
- Inspeksi:
RR: 35x/menit takikardi
Retraksi interkostal dan supraklavikula minimal, gerak napas asimetris kiri
tertinggal.
Tampak memar pada regio axillaris posterior setinggi costa VIII sinistra
diameter 10 cm.
- Auskultasi:
Bising napas: thoraks kiri: vesikuler menjauh
Bunyi jantung: terdengar jelas, frekuensi 108x/menit.
- Palpasi:
Nyeri tekan sekitar memar, krepitasi (+) pada costa VIII.
Stem fremitus tidak dapat diperiksa.
Perkusi: kiri: hipersonor menandakan adanya pneumotoraks dengan udara
didalam rongga dada (rongga pleura).

Abdomen menyingkirkan diagnosis tension pneumotoraks
- Inspeksi: datar, tidak tampak memar
- Auskultasi: bising usus 8x/menit
- Palpasi: nyeri tekan normal.



7. b. Bagaimana mekanisme dari pemeriksaan khusus? (kepala, leher,
thoraks, abdomen)
Jawab:

8. Cara mendiagnosis?
Jawab :
Trauma kapitis (fraktur basis cranii)
Anamnesis: jatuh dari ketinggi 6 meter.
Pemeriksaan fisik: penurunan kesadaran.
Pemeriksaan khusus kepala: adanya brill hematom sinistra,
otorhea sinistra (+), dan battle sign.

Trauma thoraks (simple pneumotoraks)
Anamnesis: jatuh dari ketinggian 6 meter.
Pemeriksaan fisik: adanya suara ngorok, takipneu.
Pemeriksaan khusus thoraks: adanya retraksi interkostal dan
supraklavikula minimal, gerak napas asimetris kiri tertinggal,
thoraks kiri vesikulernya menjauh, tampak memar dan nyeri
pada regio axillaris posterior setinggi costa VIII sinistra dengan
diameter 10 cm, dan suara paru kiri hipersonor.
Pemeriksaan khusus leher: trakea di tengah, menyingkirkan
diagnosis tension pneumothoraks.

9. Differential Diagnose?
Jawab:
Simple Pneumothoraks
Tension Pneumothoraks

10. Pemeriksaan Penunjang?
Jawab:
Evaluasi radiografik
Foto polos kepala, untuk memastikan adanya dugaan
hematoma intracranial.
Foto polos thoraks untuk melihat fraktur costa dan simple
pneumothoraks.
Computed Tomography (CT-Scan) untuk menunjukkan
lokasi, volume, efek dari perdarahan, melihat potensi
cedera intracranial lainnya.
Magnetic Resonance Imaging

11. Working Diagnose?
Jawab:
Trauma multiple berupa cedera kepala berat dengan GCS
8 dan simple pneumothoraks sinistra serta fraktur costa
VIII sinistra.

12. Bagaimana tatalaksana kasus ini secara komprhensif ?
Jawab :
PRIMARY SURVEY
Airway
- Management
Inspeksi orofaring secara cepat dan menyeluruh, lakukan
chin-lift dan jaw thrust, hilangkan benda yang
menghalangi jalan napas
Reposisi kepala, pasang collar-neck
Lakukan cricothyroidotomy atau traheostomi atau intubasi
(oral/nasal)



Breathing
- Management
Lakukan bantuan ventilasi bila perlu
Lakukan tindakan bedah emergency untuk atasi tension
pneumotoraks, open pneumotoraks, hemotoraks, flail chest

Circulation
- Management
Resusitasi cairan dengan memasang 2 IV lines
Torakotomi emergency bila diperlukan
Operasi Eksplorasi vaskular emergency

- Tindakan Bedah Emergency
Krikotiroidotomi
Trakheostomi
Tube Torakostomi
Torakotomi
Eksplorasi vaskula

Penatalaksanaan cedera otak berat (GCS 3-8)
Primary survey dan resusitasi
Airway dan breathing
- Intubasi endotrakeal dini harus segera dilakukan pada
pasien koma.
- Pada pasien dilakukan ventilasi dengn oksigen 100%
sampai diperoleh hasil pemeriksaan analisis gas darah
sehingga kemudian dapat dilakukan penyesuaian yang
tepat terhadap FiO
2
. Pemakaian pulse oksimeter sangat
bermanfaat dan diharapkan saturasi O
2
>98%.
- Tindakan hiperventilasi harus dilakukan secara hati-hati
pada pasien cedera otakberat dan hanya dilakukan saat
timbul perburukan neurologis akut.

Sirkulasi
- Pada pasien dengan hipotensi harus segera dilakukan
stabilisasi untuk mencapai euvolemia.
- Sementara penyebab hipotensi dicari, segera lakukan
pemberian cairan untuk mengganti volume yang hilang.


Pemeriksaan neurologis
- Sangat penting untuk melakukan pemeriksaan GCS dan
refleks pupil sebelum pasien diberikan sedasi atau
paralisis, karena akan menjadi dasar untuk tindakan
selanjutnya.

Secondary survey
Prosedur diagnostik
- Pemeriksaan CT Scan harus segera dilakukan secepat
mungkin, segera setelah hemodinamik distabilkan.
Pemeriksaan CT Scan ulang harus diulang bila terjadi
perburukan status klinis pasien dan secara rutin 12-24 jam
setelah trauma bila dijumpai gambaran kontusio otak atau
hematoma pada CT Scan awalnya.
Penemuan terpenting dalam CT Scan kepala adalah
adanya perdarahan intracranial, kontusio dan pergeseran
garis tengah (efek massa).

Terapi medikamentosa untuk cedera otak
- Cairan intravena
Cairan yang dianjurkan untuk resusitasi adalah larutan
ringer laktat. Kadar natrium serum perlu dimonitor pada
pasien dengan cedera kepala. Keadaan hiponatremia
sangat berkaitan dengan edema otak sehingga harus
dicegah.

Hiperventilasi
- Hiperventilasi sebaiknya dilakukan secara selektif dan
hanya dalam batas waktu tertentu. Umumnya, PaCO
2
dipertahankan pada 35 mmHg atau lebih. Hiperventilasi
dalam waktu singkat (PaCO
2
antara 25-30mmHg) dapat
dilakukan jika diperlukan pada keadaan perburukan
neurologis akut, sementara pengobatan lainnya baru
mau dimulai.

13. Komplikasi?
Jawab :
Fraktur basis cranii
Perdarahan intracranial
Edema serebri
Simple pneumothoraks bisa jadi tension pneumothoraks.

14. Prognosis?
Jawab:
Quo ad vitam : bonam
Quo ad fungsional : malam

15. KDU?
Jawab :
Fraktus basis cranii
KDU 3B - Gawat Darurat


16. PI?
Jawab:
Dan kamu tidak akan dapat melemahkan kuasa Allah
(daripada menimpakan kamu dengan bala bencana,
walaupun kamu melarikan diri di mana saja) di muka
bumi (atau di langit) dan kamu juga tidak akan
mendapatkan siapapun - yang lain dari Allah - sebagai
pelindung atau pemberi pertolongan.
(Q.S. As-Syura : 31)

Wendra, 32 tahun mengalami trauma kepla,
pneumotoraks sinistra, dan fraktur costa VIII
sinistra karena jatuh dari ketinggian 6 meter.

Hipotesis
Kerangka Konsep
Wendra, 32 tahun mengalami Trauma multiple berupa
cedera kepala berat dengan GCS 8 dan simple
pneumothoraks sinistra serta fraktur costa VIII sinistra
karena jatuh dari ketinggian 6 meter.

Kesimpulan