Anda di halaman 1dari 14

J AWA

Dengan adanya gerakan dakwah yang dijalankan oleh Wali Songo dan ditambah
adanya proses Islamisasi dari Malaka, maka dua hal ini yang menyebabkan semakin
merosotnya Kerajaan Hindu Majapahit yang berpusat di Jawa Timur dan menyebabkan pula
lahirnya kerajaan Islam di pulau Jawa.
1. Demak
Perkembangan Islam di Jawa bersamaan waktunya dengan melemahnya posisi Raja
Majapahit. Hal inilah yang memberi peluang kepada penguasa penguasa Islam di persisir
untuk membangun pusat pusat kekuasaan.
Demak adalah kerajaan Islam pertama di pulau Jawa yang didirikan oleh Raden Patah
pada tahun 1478. Ia adalah anak dari istri Prabu Brawijaya V,seorang muslimah keturunan
Cina. Nama Raden Patah diberikan Sunan Ampel yang artinya pembuka pintu gerbang
kemenangan.
1

Di bawah kepemimpinan Sunan Ampel Denta, Wali Songo bersepakat mengangkat
Raden Patah menjadi raja pertama kerajaan Demak. Setelah diangkat menjadi sultan Demak,
Raden Patah diberi gelar Sultan Al-Fattah Alamsyah Akbar. Sedangkan menurut sumber lain,
beliau diberi gelar oleh Sunan Ampel dengan nama Senapati Jimbun Ngabdurrahman
Panembahan Palembang Sayidin Panata Gama.
2

Untuk menjaga kewibawaan negara, maka dibangunlah angkatan perang
Kesultanan Demak. Angkatan perang ini tidak hanya sebagai penjaga dan pengayom
negara, tetapi juga mewujudkan cita cita agama Islam sebagaimana yang telah
dirintis oleh Wali Songo.
Atas nasihat Sunan Kudus, maka Raden Patah membuat strategi berikut :

1
Harun Nasution dkk. Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta:Djambatan .2002.hlm 240.
2
Taufik Abdullah (Ed) Sejarah Umat Islam Indonesia. Jakarta:Majelis Ulama Indonesia. 1991.hlm.69
1) Menghancurkan kekuatan Portugis di luar Indonesia
2) Membuat pertahanan yang kuat di Indonesia.
3

Pada tahun 1513, Raden Patah mengirimkan putranya sendiri bernama Patih Yunus
Yunus atau Adipati Unus untuk memimpin pasukan Islam dari Demak dengan bantuan dari
Palembang guna menghancurkan kedudukan Portugis di Malaka. Dalam serangan ini, Adipati
Unus dilengkapi dengan 90 kapal dan 1200 prajurit. Tetapi, serangan yang dipimpin oleh
Adipati Unus ini mengalami kegagalan. Atas keberaniannya dalam memimpin pasukan
Demak mengarungi laut Jawa, maka ia diberi gelar Pangeran Sebrang Lor.
4

Setelah Adipati Unus gagal, maka Raden Patah kembali mengutus cucunya sendiri
untuk memimpin pasukan Islam dari Demak untuk menghancurkan kedudukan Malaka, tetapi
serangan ini kembali gagal. Ketika keinginan Raden Patah belum terwujud, beliau telah
meninggal dunia pada tahun 1518. Jabatannya digantikan oleh anaknya yang bernama Adipati
Unus atau Pangeran Sebrang Lor.
5

Pangeran Sebrang Lor (Sultan Demak II 1518-1521), yang juga bernama Patih Yunus,
tidak lama memerintah dan masa pemerintahannya kebanyakan dihabiskan dalam medan
perang. Setelah Pangeran Sebrang Lor wafat pada tahun 1521 ia digantikan oleh saudaranya
Sultan Trenggono.
Sultan Trenggono (Sultan Demak III 1521-1546) bercita cita untuk mengislamkan
seluruh tanah Jawa. Di bawah kepemimpinannya, Demak mampu menjadi pusat penyebaran
dan pengembangan Islam di Jawa. Namun, banyak kendala yang dihadapinya terutama
mengubah pola pikir dan kebiasaan Hindu ke Islam. Pada masa itu banyak hukum agama

3
Mundzirin dkk Peradaban Islam di Indonesia. Yogyakarta:Pinus. 2006.,hlm.78
4
H.J. De Graaf dan Th.G.Th.Pigeaud,Op.Cit.,hlm.49
5
Ibid.,hlm.46
Hindu yang dimasukkkan ke dalam hukum Islam. Akibatnya, tidak sedikit rakyat jelata yang
beribadah di mesjid tetapi tetap menghormati candi dan arca Hindu dalam kesehariannya.
6

Islam berkembang ke seluruh Jawa bahkan sampai ke Kalimantan Selatan. Majapahit
dan Tuban jatuh dalam kekuasaan Demak sekitar tahun 1527. Selanjutnya Demak berhasil
menundukkan Madiun tahun 1529, Blora (1530), Surabaya (1531), Pasuruan (1535), antara
tahun 1541-1542 Lamongan, Blitar dan Wirasaba, dan Kediri (1544).
Beliau memperkuat kekuasaan melalui pertalian darah. Syarif Hidayatullah dinikahkan
dengan saudara perempuannya. Puterinya yang tertua dinikahkan dengan Pangeran Langgar
dari Madura. Dengan cara ini, Madura tergabung dalam kekuatan Demak. Puterinya yang
kedua dinikahkan dengan Pangeran Hadiri yang kemudian diangkat menjadi Adipati Jepara
(Kali Nyamat). Putrinya yang ketiga dinikahkan dengan Pangeran Pasarean dan puterinya
yang bungsu dinikahkan dengan Ki Joko Tingkir atau Mas Krebet atau Adiwijaya. Dengan
pertalian kekeluargaan tersebut, maka rencana beliau banyak tercapai. Bupati bupati yang
menjadi menantunya itu menjalankan rencana beliau dengan sebaik baiknya.
Pada tahun 1546 dalam penyerbuan ke Blambangan, Sultan Trenggono
terbunuh. Ia digantika oleh adiknya Prawoto. Masa pemerintahannya tidak
berlangsung lama karena terjadi pemberontakan adipati adipati sekitar kerajaan
Demak. Sultan Prawoto kemudian dibunuh oleh Arya Panangsang dari Jipang pada
tahun 1549. Sehingga terjadi perebutan kekuasaan antara Arya Panangsan dengan
Adiwijoyo. Sunan Kudus ulama yang sangat berpengaruh di Jawa rupanya berpihak
kepada Arya Panangsang karena memang dia yang berhak melanjutkan kerajaan
Demak. Akan tetapi, Arya Panangsang juga terbunuh karena ditikam oleh Joko
Tingkir atau Adiwijaya.
7
Akhirnya kerajaan Demak mengalami kemunduran dan

6
R.P.Suyono,Peperangan Kerajaan di Nusantara:Penelusuran Kepustakaan
Sejarah,(Jakarta:Grasindo,2004),hlm.25
7
Tim Penyusun Text Book Sejarah dan Kebudayaan Islam Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan
Agama Islam, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid III (Ujung Pandang,IAIN Alauddin,1984),hlm.138
sebagai gantinya, maka lahirlah kerajaan Pajang di bawah pimpinan Sultan Adiwijaya alias
Jaka Tingkir.
2. Pajang
Kerajaan Pajang adalah pelanjut dan dipandang sebagai pewaris kerajaan Demak.
Kerajaan yang terletak di daerah Kartasura ini merupakan kerajaan Islam pertama di daerah
pedalaman pulau Jawa. Usia kerajaan ini tidak panjang. Peralihan kekuasaan politik dari
kerajaan Demak kepada kerajaan Pajang, diikuti pula dengan perubahan pusat pemerintahan
dari pinggir laut yang bersifat maritime, ke pedalaman yang bersifat pertanian (agraris) serta
terjadi perubahan aliran agama Islam dari mazhab Hanafi menjadi aliran Syiah.
Joko Tingkir atau Sultan Adiwijaya menjadi raja pertama dari Kerajaan Pajang. Ia
memindahkan atribut atribut kerajaan Demak ke Pajang.
8
Pengesahan Adiwijaya sebagai
raja pertama dilakukan oleh Sunan Giri. Setelah diangkat menjadi Sultan, ia diberi gelar
Sultan Adiwijaya.
Kerajaan Pajang tidak mudah mendapatkan pengakuan dari adipati adipati yang setia
pada kerajaan Demak. Gresik di bawah pimpinan Sunan Giri Perapen (Sunan Giri IV) dan
Sedayu, Surabaya dan Pasuruan di bawah pengaruh Pangeran Langgar (menantu Sultan
Trenggana), pada mulanya tidak mau mengakui Pajang sebagai kerajaan tertinggi di Jawa.
Setelah melalui perjuangan yang cukup lama, akhirnya pengaruh Pangeran Langgar mulai
memudar, terutama setelah keluarnya fatwa dari Sunan Giri Perapen, bahwa untuk
menghindari pertumpahan darah maka lebih baik bersatu di bawah pimpinan Kerajaan Pajang.
Setelah daerah daerah di atas, maka daerah Tuban, Pati, Pemalang Madiun, Blitar,
Banyumas, Demak dan Mataram ikut pula mengakui kerajaan Pajang. Khususnya wilayah

8
Atribut tersebut berupa alat- alat upacara kerajaan Demak yang merupakan warisan kerajaan Hindu
Majapahit yang dibawa oleh Raden Patah ke Demak, ketika ia mendirikan kerajaan Demak. Jadi Demak dan
Pajang secara historis masih merupakan kelanjutan dari kerajaan Hindu Majapahit yang membedakannya hanya
agama resmi dari kerajaan itu sendiri. Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan Hindu, sedangkan kerajaan
Demak dan Pajang merupakan kerajaan Islam.
Demak sendiri, statusnya berubah menjadi kadipaten yang dipimpin oleh seorang
adipati yaitu Arya Parigi, anak Pangeran Prawoto (cucu Sultan Trenggana).
9
Akhirnya
kerajaan Pajang tampil sebagai pewaris kerajaan Demak yang mendapatkan
pengakuan dari berbagai adipati yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Selama pemerintahan Sultan Adiwijaya, kesusastraan dan kesenian keraton
yang sudah maju di Demak dan Jepara lambat laun dikenal di pedalaman Jawa. Niti
Sruti adalah sajak monolistik yang dikarang oleh pujangga Pajang, Pangeran Karang
Gayam.
10

Sultan Pajang meninggal pada tahun 1582, ia digantikan oleh Arya Parigi
sebagai Sultan Pajang dan menggabungkan daerah Demak ke dalam wilayah Pajang.
Ternyata tindakan Sultan bari ini dapat merugikan rakyat, sehingga rakyat tidak
senang kepadanya. Kesempatan ini dipergunakan Pangeran Benowo (putera Joko
Tingkir) yang disingkirkan oleh Arya Parigi untuk merebut kembali kekuasaannya. Ia
meminta bantuan kepada Senopati di Mataram yang memang menginginkan
lenyapnya kerajaan Pajang. Sehingga terjadi perang antara Pajang dan Mataram.
Sultan Arya Parigi menyerah sedangkan Pangeran Benowo mengakui kekuasaan
Senapati. Semua alat kebesaran Majapahit yang ada di istana Pajang diserahkan
kepada Scenopati untuk dibawa ke Mataram. Maka daerah Pajang dapat dipersatukan
dengan Mataram dan tamatlah riwayat kerajaan Pajang.
3. Mataram
Pada awalnya, Mataram adalah wilayah yang dihadiahkan oleh Sultan
Adiwijaya (Sultan Pajang) kepada Ki Gede Pemanahan.
11
Sultan Adiwijaya
menghadiahkannya karena Ki Gede Pemanahan telah berhasil membantu Sultan

9
Harun Nasution dkk.,Op.Cit.,hlm.873
10
Mundzirin dkk .,Op.Cit.,hlm.82
11
Nama lain Ki Gede Pemanahan adalah Ki Ageng Pemanahan dan Ki Gede Mataram.
Adiwijaya dalam membunuh Aryo Penangsang, ketika memperebutkan tahta Kerajaan Demak
setelah meninggalnya Sultan Trenggana.
Di tangan Ki Gede Pemanahan, Mataram mulai menunjukkan kemajuan. Pada tahun
tahun 1575,Ki Gede Pemanahan meninggal maka usaha untuk memajukan Mataram
dilajutkan oleh anaknya yaitu Sutawijaya.
12
Sutawijaya yang telah berhasil meruntuhkan
Pajang mengangkat dirinya menjadi raja Mataram (1586-1601). Ia terkenal sebagai seorang
yang pemberani dan mahir dalam berperang sehingga diberi gelar Senopati Ing Alaga
(Panglima Perang) dan Syaidin Panatagama (pemimpin yang mengatur agama).
13

Dalam masa pemerintahannya banyak tantangan yang dihadapi karena ia
menunjukkan politik expansinya. Daerah daerah yang dulu berada di bawah pengaruh
kekuasaan Pajang satu demi satu ingin melepaskan diri dari ikatan Mataram. Sehingga untuk
memperkuat diri terpaksa Panembahan Senopati mengadakan peperangan. Peperangan yang
pertama terjadi dengan Surabaya pada tahun 1586. Surabaya tidak ditudukkan tetapi bersedia
mengakui kekuasaan Senopati.
Pada tahun 1586, Senopati juga berhasil manghancurkan perlawanan dari Maduin dan
Ponorogo. Kemudian pada tahun 1587 ia menggempur Pasuruan, Panarukan dan Blambangan
yang masih tetap belum Islam namun belum berhasil. Tahun 1595 ia berhasil memaksa
Cirebon dan Galuh untuk mengakui kekuasaannya. Pajang, Demak serta daerah daerah
pantai utara Jawa mengadakan pemberontakan, tetapi Penembahan Senopati berhasil
memadamkannya. Cita cita dan usahanya untuk mempersatukan seluruh Jawa di bawah
kekuasaan Mataram belum berhasil. Namun, telah dapat meletakkan dasar dasar kerajaan
Mataram. Senopati meninggal pada tahun 1601 dan kedudukannya digantikan oleh puteranya
Raden Mas Jolang.

12
Nama lain Sutawijaya adalah Senopati.
13
R.Soetmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Islam, Jilid III(Yogyakarta,Kanisius,1973),hlm.55
Setelah diangkat menjadi Sultan Mataram, Raden Mas Jolang atau Seda Ing
Krapyak dengan gelar Sultan Anyokrowati (1601-1613). Pada masa itu keadaan
Mataram goncang. Demak dan Ponorogo berontak, tetapi Sultan dapat mengatasinya.
Kemudian tahun 1612 Surabaya tidak bersedia lagi mengakui kedaulatan Mataram.
Akhirnya Sultan menduduki Mojokerto, merusak Gresik dan membakar desa desa
sekitar Surabaya. Namun Surabaya tetap bertahan. Sultan mengalami kegagalan
disusul dengan wafatnya pada tahun 1613.
14

Menjelang wafatnya, Raden Mas Jolang menunjuk Raden Mas Rangsang
sebagai penggantinya,tetapi kebijakannya itu bertentangan dengan janjinya terdahulu.
Mas Jolang pernah berjanji bahwa sebagai penggantinya adalah Martapura (adik
Raden Mas Rangsang). Setelah Raden Mas Jolang meninggal, para bangsawan lebih
memilih menjalankan janji Mas Jolang terdahulu, yaitu mengangkat Martapura
sebagai Sultan Mataram. Tetapi, karena Martapura sakit sakitan, maka ia tidak lama
menjadi Sultan Mataram dan menyerahkan tahta kepada kakaknya yaitu Raden Mas
Rangsang.
15

Setelah dilantik menjadi Sultan Mataram (1613-1645), Raden Mas Rangsang
diberi gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrahman. Ia
dikenal sebagai orang yang kuat, jujur dan adil. Pada masa pemerintahannya Mataram
mengalami kejayaan sebagai kerajaan yang terhormat dan disegani, tidak hanya di
pulau Jawa tetapi juga di pulau pulau lainnya. Namun, tidak dapat dipungkiri Sultan
Agung juga mengalami banyak tantangan, terutama dari mereka yang menganggap
bahwa Sultan Mataram bukanlah keturunan dari raja Majapahit atau Demak.
Diantara raja raja atau Sultan Mataram, dialah yang bercita cita untuk
mempersatukan seluruh Indonesia serta menguasai perdagangan internasional. Dalam

14
Raden Mas Jolang meninggal di Krapyak (daerah Magelang), sehingga diberi gelar Panembahan Seda
Krapyak.
15
Harun Nasution,dkk.,Op.Cit.,hlm.41
tahun 1639 Kerajaan Blambangan dapat ditundukkan. Jawa Tengah dan Jawa Timur bahkan
di luar Jawa berada di bawah kekuasaan Sultan Agung.
Pada masa pemerintahannya, Sultan Agung melakukan usaha usaha, antara lain :
1) Mempersatukan Jawa dibawah pemerintahan Mataram.
2) Perayaan Grebek yang telah menjadi tradisi nenek moyang sejak sebelum Islam,
disesuaikan dengan perayaan hari Raya Idul Fitri dan Maulid Nabi Muhammad
SAW.
3) Sejak tahun 1633 M ia mengadakan tareh baru. Perhitungan tahun baru ini kemudian
disebut dengan kalender Jawa Islam. Kalender Jawa didasarkan pada perjalanan
matahari (365 hari). Setelah diubah, maka perhitungan kalender Jawa didasarkan
perjalanan bulan (354 hari).
4) Gamelan Sekaten yang semula hanya dibunyikan pada Grebek Mulud itu, atas
kehendak Sultan Agung dipukul di halaman mesjid besar.
5) Memperluas daerah pertanian dengan memindahkan penduduk dari Jawa Tengah ke
tempat itu.
6) Perdagangan dengan luar negeri tetap dijalankan melaui pelabuhan pelabuhan
besar seperti Cirebon, Pekalongan, Gresik, dll.
16

Sebelum Sultan Agung mencapai cita citanya itu, ia meninggal pada tahun 1645.
Namun kebesaran dan keberaniannya sebagai Sultan Mataram tetap diakui oleh lawan
maupun kawan.
17

Posisi Sultan Agung digantikan oleh anaknya yang bernama Amangkurat I atau Sunan
Tegalwangi (1645-1677). Sebagai penguasa Mataram yang baru, Sultan Amangkurat I tidak
mampu melanjutkan system kepemimpinan yang pernah dijalankan ayahnya. Justru, Sultan
Amangkurat I membuat kebijakan kebijakan yang kontroversil, diantaranya : Pertama, tidak

16
Tim Penyusun Text Book Sejarah Kebudayaan Islam Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan
Agama Islam, Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid III (Ujung Pandang, IAIN Alauddin, 1984),hlm.144
17
Harun Nasution,dkk.,Op.Cit.hlm.42
lagi menghargai para ulama bahkan berusaha untuk menyingkirkannya. Kedua,
berusaha menghapus lembaga lembaga agama yang di kesultanan, seperti
menghapus Mahkamah Syariah yang telah dibentuk oleh ayahnya. Ketiga, berusaha
membatasi perkembangan Islam dan melarang kehidupan agama mencampuri masalah
kesultanan. Keempat, berusaha membangun kerjasama yang baik dengan penjajah
Belanda yang menjadi musuh bebuyutan ayahnya.
18

Sultan Amangkurat I terkenal sebagai seorang sultan yang doyan kekerasan. Ia
telah menindas Pangeran Alit, adiknya sendiri. Ia juga mengasingkan anaknya, Adipati
Anom. Pada tahun 1670, Sultan Amangkurat I mengumpulkan ulama dan keluarganya
di alun alun Plered. Para ulama itu kemudian dibariskan dan dibantai secara keji.
Menurut laporan Van Goens ada sekitar 6000 ulama beserta keluarganya uang tewas
dibunuh di tempat tersebut. Bahkan sumber lain mengatakan bahwa jumlah ulama yang
dibunuh oleh Sultan Amangkurat I lebih dari 6000 orang.
19

Melihat sikap Sultan Amangkurat I tersebut, terjadi pemberontakan oleh
Trunojoyo, Raden Kajora dan Adipati Anom yang mendapat bantuan dari beberapa
daerah seperti Banten. Namun dalam perkembangan selanjutnya, Adipati Anom
berkhianat dan keluar dari aliansi Trunojoyo dan Raden Kajora. Pada tahun 1677
Mataram jatuh ke tangan Trunojoyo, sedangkan Sultan Amangkurat I beserta anaknya
Adipati Anom berhasil menyelamatkan diri dan lari menuju Batavia untuk meminta
bantuan kepada Belanda. Di tengah perjalanan Sultan Amangkurat I jatuh sakit dan
meninggal di hutan Wanayasa.
Sebelum meninggal, ia sudah menetapkan Adipati Anom sebagai Sultan
Mataram yang baru. Setelah dilantik Adipati Anom diberi gelar Sultan Amangkurat II.
Ia memerintah pada Tahun 1677-1679. Amangkurat II bertekad untuk merebut

18
Ahmad Adaby Darban,Op.Cit.,hlm.24
19
Ibid.,hlm.27
kembali Mataram dengan meminta bantuan Belanda. Mereka melakukan penyerangan besar
besaran terhadap Mataram. Akhirnya Raden Kajora dibunuh oleh Belanda pada tanggal 14
September 1679 sedangkan Trunojoyo berhasil dibunuh oleh Sultan Amangkurat II pada
tanggal 25 Desember 1679. Dengan demikian, Sultan Amangkurat II berhasil merebut
kembali Mataram.
Sultan Amangkurat II meninggal pada 1702. Setelah wafatnya, kesultanan Mataram
semakin merosot dan campur tangan Belanda semakin menguat. Pada tahun 1755 melalui
perjanjian Gianti, Belanda berhasil membagi dua Kerajaan Mataram yaitu Kerajaan Surakarta
dan Kerajaan Yogyakarta. Pada tahun 1757, kerajaan Surakarta dibagi dua lagi yaitu wilayah
yang dikuasai oleh Paku Buwono dan wilayah yang dikuasai Mangkunegara. Tahun 1813,
kerajaan Yogyakarta dibagi dua oleh Inggris yaitu wilayah kesultanan yang dipimpin oleh
Sultan Hamengku Buwono dan Kadipaten Pakualaman yang dipimpin oleh Pangeran Paku
Alam.
20
Peristiwa ini merupakan pangkal perpecahan dan keruntuhan kerajaan Islam di Jawa
Tengah yang hanya tinggal nama saja sedangkan kekuasaan mutlak berada di tangan Belanda.
4. Cirebon
Kerajaan Cirebon adalah kerajaan Islam pertama di Jawa Barat. Kerajaan ini didirikan
oleh Sunan Gunung Jati.
21
Di awal abad ke-16, Cirebon masih merupakan sebuah daerah
kecil di bawah kekuasaan Pakuan Pajajaran. Raja Pajajaran hanya menempatkan sebuah juru
labuhan di sana yang bernama Pangeran Walangsungsang, seorang tokoh yang memilki
hubungan darah dengan raja Pajajaran. Islam telah ada di Cirebon sekitar 1470-1475 M. Akan
tetapi, orang yang berhasil menigkatkan status Cirebon menjadi sebuah kerajaan adalah Syarif
Hidayat yang terkenal dengan gelar Sunan Gunung Jati, pengganti dan keponakan dari
Pangeran Walangsungsang. Dialah pendiri dinasti raja raja Cirebon dan Banten.

20
Nugroho Notosusanto,dkk.,Sejarah Nasional Jilid IV,(Jakarta:Balai Pustaka,1993)
21
Sartono Kartodirjo, Pengantar Sejarah Islam Baru:1500-1900,Jilid I (Jakarta,Gramedia,1987), hlm.32
Sunan Gunung Jati lahir pada tahun 1448 M dan wafat tahun 1568 M dalam
usia 120 tahun. Ia mendapatkan penghormatan dari raja raja lain di Jawa, seperti
Demak dan Pajang karena kedudukannya sebagai seorang Wali Songo. Setelah
Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah kerajaan Islam yang bebas dari kekuasaan
Pajajaran, Sunan Gunung Jati berusaha meruntuhkan kerajaan Pajajaran yang masih
belum menganut Islam.
Dari Cirebon, Sunan Gunung Jati mengembangkan Islam ke daerah daerah
lain di Jawa Barat, seperti Majalengka, Kuningan, Galuh, Sunda Kelapa dan Banten.
Ketika ia kembali ke Cirebon, Banten diserahkan kepada anaknya Sultan Hasanuddin.
Sultan inilah yang menurunkan raja raja Banten. Pada tahun 1527 M, berdasarkan
prakarsa Sunan Gunung Jati penyerangan ke Sunda Kelapa dilakuakan dan dipimpin
oleh Falatehan dengan bantuan tentara Demak. Setelah Gunung Jati wafat, ia
digantikan oleh cicitnya yang terkenal dengan gelar Pangeran Ratu atau Panembahan
Ratu pada tahun 1570.
22
Panembahan Ratu wafat pada tahun 1650 dan digantikan
oleh puteranya bergelar Panembahan Girilaya.
Keutuhan Cirebon sebagai suatu kerajaan hanya sampai pada Pangeran
Girilaya. Sepeninggalnya, sesuai dengan kehendaknya sendiri, Cirebon diperintah oleh
dua puteranya yaitu Martawijaya atau Panembahan Sepu dan Kartawijaya atau
Panembahan Anom. Panembahan Sepu memimpin kesultanan Kesepuhan sebagai
rajanya yang pertama dengan gelar Syamsuddin, sementara Panembahan Anom
memimpin Kesultanan Kanoman dengan gelar Badruddin.

5. Banten

22
Ibid.,hlm.33
Kerajaan Banten juga didirikan oleh Fathillah
23
pada tahun 1525. Fatahillah
menyerahkan kekuasaan Banten kepada anaknya yang bernama Hasanuddin. Sejak itu
Hasanuddin resmi menjadi Sultan I di Banten pada tahun 1552-1570 dan Banten diumumkan
diumumkan sebagai kerajaan Islam di Jawa.
Pada masa pemerintahannya, Sultan Hasanuddin berhasil mengembangkan usaha
penyebaran Islam sampai ke wilayah Lampung dan sekitarnya. Pelabuahan Banten tumbuh
menjadi pelabuhan lada terbesar di Jawa serta menjadi Bandar dan pusat perdagangan yang
ramai dikunjungi oleh saudagar dari Cina, India dan Eropa. Sultan Hasanuddin wafat pada
tahun 1570. Setelah meninggal ia diberi gelar Pangeran Saba Kingking dan posisinya sebagai
Sultan Banten digantikan oleh anaknya Maulana Yusuf Panembahan Pangkalan Gede.
24

Pengeran Yusuf Sultan Banten II (1570-1580) giat memperluas daerahnya dengan
menaklukkan kerajaan Pajajaran yang masih belum Islam pada tahun 1579. Memajukan
pertanian dan pengairan demi kemakmuran rakyat. Mendirikan mesjid Agung Banten dan
membuat benteng dari batu bata. Ia juga membuat ibu kota baru yakni Banten Surasowan
(Sura Saji).
25
Pada tahun 1580 Sultan Yusuf wafat dan meninggalkan kerajaan yang sudah
kuat dan luas. Ia digantikan oleh anaknya Maulana Muhammad.
Setelah wafatnya Sultan Yusuf, Banten beberapa kali dipimpin oleh sultan yang masih
anak anak. Maulana Muhammad (1580-1596) yang baru berumur 9 tahun diangkat
menggantikan ayahnya dan didampingi oleh Mangkubumi sebagai walinya. Pada tahun 1596,
Maulana Muhammad melancarkan serangan terhadap Palembang. Pada saat itu, Palembang
hampir dikuasai tetapi tiba tiba Sultan Banten itu tertembak mati dalam usia 25 tahun. Hal
ini menyebabkan serangan terhenti dan armada kembali tanpa membawa hasil. Posisinya
digantikan oleh anaknya Abulmufakhir Mahmud Abdulkadir.

23
Fatahillah memiliki banyak nama, diantaranya adalah Syarif Hidayatullah, Syaikh Nurullah, Muhammad
Nuruddin, Sayyid Kamil, Syaikh Mazkurullah, Makdum Jati, Maulana Israil dan Sunan Gunung Jati
24
Harun Nasution,dkk.,Op.Cit.,hlm.177
25
Ibid.,hlm.178
Pada tanggal 22 Juni 1596 mendaratlah orang orang Belanda di pelabuhan
Banten di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Kedatangan bangsa Belanda ini
merupakan titik awal dari hari depan Indonesia yang gelap. Sedangkan yang
memerintah pada saat itu adalah anak Sultan Muhammad yang masih berusia 5 bulan
dan didampingi oleh walinya yang bernama Jayanegara.
Kerajaan Banten mulai bangkit kembali ketika dipimpin oleh Sultan Ageng
Tirtayasa
26
yang berkuasa pada tahun 1651-1680. Untuk memajukan agama Islam,
Sultan Ageng Tirtayasa bekerjasama dengan ulama tasawuf salah satunya Syaikh
Yusuf al-Makassari. Ia adalah seorang ulama tasawuf yang terkenal dan berasal dari
Gowa, Sulawesi Selatan. Pada tahun 1644, ia pergi berkelana sampai ke di Jazirah
Arab untuk mendalami ajaran Islam. Pada tahun 1670, ia kembali ke Nusantara dan
ketika tiba di Nusantara, Syaikh Yusuf al-Makassari telah mendapati kampung
halamannya, Gowa telah dikuasai oleh penjajah Belanda. Sehingga ia memutuskan
untuk menetap di Kesultanan Banten. Di Banten, ia dijadikan menantu oleh Sultan
Ageng Tirtayasa.
27

Menetapnya Syaikh Yusuf al-Makassari di kerajaan Banten telah menyebabkan
Banten berkembang menjadi salah satu pusat pengajaran tarekat. Melalui tarekat,
Sultan Ageng Tirtayasa berusaha mengasah semangad jihad rakyat Banten untuk
berperang melawan Belanda.
28

Pada masa kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten mengalami kemajuan
yang sangat pesat. Pelabuhan Banten mampu berkembang menjadi pelabuhan ekspor
internasional. Dari pelabuhan Banten, banyak komoditi dagang yang diekspor ke
Persia, India, Arab, Manila, Tiongkok dan Jepang. Sultan Ageng melakukan hubungan
dagang dengan Inggris, Perancis, Denmark dan Portugis. Sementara di sector pertanian,

26
Nama asli Sultan Ageng Tirtayasa adalah Abul Fathi Abdul Fatha.
27
Darmawijaya,Op.Cit.,hlm.58
28
Harun Nasution,dkk.,Op.Cit.,hlm.178
ia membuka ladang ladang baru, perluasan sawah dan perbaikan pengairan. Ia juga
membuat kapal pesiar Lancang Kuning yang dapat dipakai bersama bangsawan Banten
Banten pergi berburu rusa dan banteng.
29

Petaka Banten dimulai ketika Sultan Muda Abun Nashr Abdul Kahar (anak Sultan
Ageng Tirtayasa) atau Sultan Haji main mata dengan Belanda. Belanda sering melakukan
tindakan tindakan yang merugikan kerajaan Banten. Melihat gelagat Belanda, Sultan Ageng
Tirtayasa menyatakan perang terhadap Belanda. Pada tahun 1681-1682 perang terbuka antara
Sultan Ageng Tirtayasa melawan Belanda yang bekerjasama dengan anaknya, Sultan Haji
yang berlangsung sengit. Pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa menyerah kepada
Belanda. Ia wafat pada tahun 1695 dalam penahanan di Batavia.
Setelah Sultan Ageng Tirtayasa menyerah, perjuangan rakyat Banten tetap dilanjutkan
oleh menatunya, Syaikh Yusuf al-Makassari yang dibantu oleh Pangeran Purbaya dan
Pangeran Kidul. Pada tanggal 14 Desember 1983, penjajah Belanda berhasil menangkap
Syaikh Yusuf bersama pasukannya.
30
Setelah ditangkap, ia dibuang ke Ceylon (Sri Langka).
Kharisma Syaikh Yusuf yang begitu besar membuat penjajah Belanda terpaksa memindahkan
tempat pembuangan dari Ceylon ke Tanjung Harapan di Afrika Selatan pada tahun 1694
dalam usia 68 tahun. Pada tanggal 22 Mei 1699, Syaikh Yusuf al-Makassari wafat di Tanjung
Harapan.
31



29
Ibid,hlm.193
30
Darmawijaya,Loc.Cit.hlm.58
31
Ibid.,hlm.60