Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

DEFINISI SISTEM ORHTOROMBIK, DAN


SISTEM MONOKLIN.








Disusun Oleh :
NAMA : RIYAN NASRUL
NIM : 410014188

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL
(STTNAS)YOGYAKARTA
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadiran Allah SWT karena makalah ini dapat
terselesaikan dengan baik, dan diharapkan dapat membantu mahasiswa yang
sedang mengambil praktikum geologi fisik. Pembuatan makalah ini merupakan
rangkuman dari beberapa sumber buku maupun webside. Sehingga makalah ini
masih jauh dengan kata sempurna, karenanya penyusun mengharapkan kritik,
masukan, dan saran, sehingga di masa yang akan datang makalah ini bisa
sempurna.










Yogyakarta, 6 oktober 2014

Riyan nasrul

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I . PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Maksud Dan Tujuan
1.2.1.Maksud
1.2.2. Tujuan
1.3. Landasan Teori

BAB II. PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Sistem Kristal Orthorombik
2.2. Pengertian Sistem Kristal Monoklin

BAB III.PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG.
Geologi adalah ilmu yang mempelajari tentang Bumi, komposisinya,
struktur, sifat-sifat fisik, sejarah dan proses pembentukannya. Dalam Geologi, kita
akan mempelajari semua hal tentang seluk-beluk Bumi ini secara keseluruhan.
Dari mulai gunung-gunung dengan tinggi ribuan meter, hingga palung-palung
didasar samudra. Dan untuk mengetahui semua itu, tentunya kita harus
mempelajari apa-apa sajakah materi pembentuk Bumi ini.

Materi dasar pembentuk Bumi ini adalah batuan, dimana batuan sendiri
adalah kumpulan dari mineral, dan mineral terbentuk dari kristal-kristal. Jadi
intinya, untuk dapat mempelajari ilmu Geologi, kita harus menguasai ilmu tentang
kristal. Ilmu yang mempelajari tentang bentuk-bentuk, gambar-gambar dari kristal
disebut Kristalografi.

Dalam studi Geologi, kita tentunya harus terlebih dahulu menguasai
tentang kristal sebelum mempelajari tingkat selanjutnya dalam ilmu Geologi.
Karena itu kristal adalah syarat untuk dapat mempelajari Geologi.

1.2. MAKSUD DAN TUJUAN.
1.2.1. MAKSUD.
Dalam studi Geologi, tentu kita harus mempelajari tentang kristal dan
semua yang berhubungan dengan kristal itu sendiri. Hal ini jelas harus dilakukan
karena kristal adalah dasar dari ilmu Geologi itu sendiri. Kristal adalah dasar dari
mineral, mineral adalah pembentuk batuan, dan Bumi ini terdiri dari batuan-
batuan. Jadi, dalam studi kristal yang dilakukan pada awal studi Geologi ini
dimaksudkan agar kita dapat menguasai hal-hal tentang kristal sebagai bekal
untuk mempelajari tingkat yang lebih lanjut dalam ilmu Geologi.


1.2.2. TUJUAN.
Dalam kegiatan mempelajari dan praktikum Kristalografi, kita dituntut untuk
dapat :
1. mengenal dan menguasai bentuk-bentuk kristal
2. mendiskripsikan kandungan unsur simetri dari tiap bentuk kristal dan
mengklasifikasikannya berdasarkan hukum-hukum geometri
3. menguasai indices dan dapat menghitung sudut antar bidang kristal
4. dapat menentukan dan menjelaskan simbol-simbol yang ada pada kristal
5. membuat proyeksi streografis dari masing-masing kelas kristal
6. dapat mengenal mineral berdasarkan bentuk kristal idealnya
1.4. LANDASAN TEORI.
Bumi yang kita pijak ini adalah bagian dari alam semesta yang begitu luas.
Sistem tata surya kita hanya satu dari milyaran bintang yang ada dijagat raya ini.
Bisa kita bayangkan betapa kecilnya Bumi ini bila dibandingkan dengan alam.
Berbagai bahan pembentuk Bumi terbentuk oleh proses alam yang panjang sejak
terbentuknya Bumi. Jangka waktu pembentukkan tersebut dapat kita ketahui
dalam ilmu Geologi dengan mengamati batuan-batuan yang ada di Bumi. Batuan
adalah kumpulan satu atau lebih mineral (terutama mineral golongan silika / pada
Bowens series).

Yang dimaksud dengan Mineral sendiri adalah bahan anorganik, terbentuk
secara alamiah, seragam dengan komposisi kimia yang tetap pada batas
volumenya dan mempunyai kristal kerakteristik yang tercermin dalam bentuk
fisiknya. Jadi, untuk mengamati proses Geologi dan sebagai unit terkecil dalam
Geologi adalah dengan mempelajari kristal.

Kristalografi adalah suatu ilmu pengetahuan kristal yang dikembangkan
untuk mempelajari perkembangan dan pertumbuhan kristal, termasuk bentuk,
struktur dalam dan sifat-sifat fisiknya. Dahulu, Kristalografi merupakan bagian
dari Mineralogi. Tetapi karena bentuk-bentuk kristal cukup rumit dan bentuk
tersebut merefleksikan susunan unsur-unsur penyusunnya dan bersifat tetap untuk
tiap mineral yang dibentuknya., maka pada akhir abad XIX, Kristalografi
dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan tersendiri.













BAB II
PEMBAHASAN
2.1. PENGERTIAN SISTEM KRISTAL ORTHOROMBIK.
Sistem ini disebut juga sistem Rhombis dan mempunyai 3 sumbu simetri kristal
yang saling tegak lurus satu dengan yang lainnya. Ketiga sumbu tersebut
mempunyai panjang yang berbeda.
Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Orthorhombik memiliki axial ratio
(perbandingan sumbu) a b c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak
ada yang sama panjang atau berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut
kristalografi = = = 90. Hal ini berarti, pada sistem ini, ketiga sudutnya
saling tegak lurus (90).

Gambar 5 Sistem Orthorhombik
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem
Orthorhombik memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak
ada patokan yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada
sistem ini. Dan sudut antar sumbunya a+^b = 30. Hal ini menjelaskan bahwa
antara sumbu a+ memiliki nilai 30 terhadap sumbu b.
Sistem ini dibagi menjadi 3 kelas:
Bisfenoid
Kelas : ke-7
Simetri : 2 2 2
Elemen Simetri : ada 3 sumbu putar
Piramid
Kelas : ke-6
Simetri : 2 m
Elemen Simetri : ada 1 sumbu putar dua dan 2 bidang
Bipiramid
Kelas : ke-8
Simetri : 2/m 2/m 2/m
Elemen Simetri : ada 3 sumbu putar dua dengan sebuah bidang simetri yang
berpotongan tegak lurus dengan ketiga sumbu dan sebuah pusat.
ketiga sumbu dan sebuah pusat
Beberapa contoh mineral denga sistem kristal Orthorhombik ini adalah
stibnite, chrysoberyl, aragonite dan witherite (Pellant, chris. 1992) dan topas.


2.2. PENGERTIAN SISTEM KRISTAL MONOKLIN.

Monoklin artinya hanya mempunyai satu sumbu yang miring dari tiga sumbu
yang dimilikinya. Sumbu a tegak lurus terhadap sumbu n; n tegak lurus terhadap
sumbu c, tetapi sumbu c tidak tegak lurus terhadap sumbu a. Ketiga sumbu
tersebut mempunyai panjang yang tidak sama, umumnya sumbu c yang paling
panjang dan sumbu b paling pendek.
Pada kondisi sebenarnya, sistem Monoklin memiliki axial ratio (perbandingan
sumbu) a b c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama
panjang atau berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi =
= 90 . Hal ini berarti, pada ancer ini, sudut dan saling tegak lurus (90),
sedangkan tidak tegak lurus (miring).
Gambar 6 Sistem Monoklin
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem kristal
Monoklin memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada
patokan yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem
ini. Dan sudut antar sumbunya a+^b = 30. Hal ini menjelaskan bahwa antara
sumbu a+ memiliki nilai 45 terhadap sumbu b.
Sistem Monoklin dibagi menjadi 3 kelas:
Sfenoid
Kelas : ke-4
Simetri : 2
Elemen Simetri : 1 sumbu putar
Doma
Kelas : ke-3
Simetri : m
Elemen Simetri : 1 bidang simetri
Prisma
Kelas : ke-5
Simetri : 2/m
Elemen Simetri : 1 sumbu putar dua dengan sebuah bidang simetri yang
berpotongan tegak lurus
Beberapa contoh mineral dengan ancer kristal Monoklin ini adalah
azurite, malachite, colemanite, gypsum, dan epidot (Pellant, chris. 1992) dan
augit.




BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN.
Dengan mempelajari dan melakukan praktikum tentang Kristalografi yang
menjadi bagian dari praktikum Kristalografi dan Mineralogi. Dapat saya ambil
kesimpulan bahwa betapa pentingnya untuk dapat mengenal, mengetahui dan
menguasai ilmu tentang kristal dalam studi Geologi. Karena kristal sendiri adalah
merupakan salah satu dasar yang paling penting dalam ilmu Geologi itu sendiri.
Hal tersebut dikarenakan oleh kristal menjadi salah satu dasar untuk mempelajari
ilmu tentang mineral yang akan dipelajari pada tahap selanjutnya. Jika tidak
menguasai dan mengenal tentang kristal, akan sangat sulit untuk selanjutnya
memmahami Mineralogi, dan mineral itu sendiri adalah pembentuk batuan,
sedangkan batuan itu adalah inti dari Geologi. Hal ini juga menyebabkan
Kristalografi dan Mineralogi menjadi syarat untuk dapat melanjutkan studi pada
mata kuliah dan praktikum Petrologi yang akan dipelajari selanjutnya.

Selama melakukan praktikum Kristalografi, praktikan diharapkan mampu
mengenal, mengklasifikasi, mendeskripsi serta menggambar sketsa dari masing-
masing ancer kristal yang ada, yaitu, Isometrik, Tetragonal, Hexagonal, Trigonal,
Orthorhombik, Monoklin serta Triklin. Dan tentu saja praktikan diharapkan
mampu untuk mengetahui defenisi dari kristal itu sendiri, proses-proses
pembentukkannya, dan juga mengetahui ancer-unsur yang ada pada kristal itu
sendiri. Seperti sumbu simetri, sudut simetri, dan juga bidang simetri. Selain itu
praktikan juga harus mengetahui aplikasi dari Kristalografi itu sendiri, khususnya
dibidang Geologi.

Dalam praktikum Kristalografi yang dilakukan dilaboratorium
Kristalografi dan Mineralogi pada jurusan Teknik Geologi, Institut Teknologi
Medan. Digunakan proyeksi Orthogonal dalam melakukan penggambaran atau
sketsa kristal. Metode penggambaran ini dilakukan dengan menggunakan
persilangan sumbu yang akan menghasilkan sketsa tiga dimensi dari kristal.
Penggambaran kristal dilakukan sesuai dengan hasil deskripsi kristal yang telah
dilakukan. Pendeskripsian dilakukan dengan langkah-langkah menentukan jumlah
ancer-unsur simetri, kelas simetri, simbolisasi Herman-Mauguin, simbolisasi
Schoenflish, indeks Miller-Weiss serta menentukan nama bentuk kristal dan
contoh-contoh mineralnya.

Setelah mempelajari dan melakukan praktikum Kristalografi, diharapkan
untuk kedepannya dalam mempelajari Mineralogi akan dapat lebih mudah dengan
memiliki dasar-dasar yang telah didapat pada Kristalografi.
3.2. SARAN.
Selama mempelajari dan melakukan praktikum Kristalografi, telah banyak
yang dapat kita pelajari. Baik dalam hal ilmu tentang kristal itu sendiri pada
khususnya serta tentang aplikasi dan manfaatnya dalam bidang Geologi dan juga
dikehidupan sehari-hari.
Dalam melakukan praktikum Kristalografi, dapat kita sadari bersama ada
beberapa kekurangan yang cukup menghambat berjalannya proses praktikum.
Salah satu yang paling dapat dirasakan adalah kurangnya jumlah sampel (contoh)
kristal yang ada dilaboratorium Kristalografi dan Mineralogi. Maka diharapkan
agar kedepannya kekurangan tersebut dapat ditutupi sehingga proses praktikum
yang dilakukan dapat berjalan ancer. Dan satu hal lagi yang juga perlu
diperhatikan adalah waktu praktikum yang kadang tidak tepat pada waktunya.
Diharapkan agar untuk kedepannya kita dapat sama-sama untuk menjaga hal
tersebut agar tidak terulang atau paling tidak dikurangi. Dengan begitu diharapkan
praktikum yang dilakukan dapat lebih baik lagi.

Namun pada dasarnya, diluar kekurangan-kekurangan yang ada.
Praktikum yang dilakukan sudah cukup baik. Dan tentu saja kita semua berharap
agar dapat terus lebih baik lagi dimasa depan.

DAFTAR PUSTAKA
https://www.academia.edu/5540294/monoklin dan orthorombik
http://geoenviron.blogspot.com/2012/10/praktikum-kristalografi.html