Anda di halaman 1dari 8

Ekstradisi adalah sebuah proses formal di mana seorang tersangka kriminal ditahan oleh suatu

pemerintah diserahkan kepada pemerintahan lain untuk menjalani persidangan atau, tersangka
tersebut sudah disidang dan ditemukan bersalah, menjalani hukumnya.
[sunting] Persetujuan atau perjanjian ekstradisi
Konsensus dalam hukum internasional adalah suatu negara tidak memiliki suatu kewajiban untuk
menyerahkan tersangka kriminal kepada negara asing, karena suatu prinsip sovereignty bahwa
setiap negara memiliki otoritas hukum atas orang yang berada dalam batas negaranya. Karena
ketiadaan kewajiban internasional tersebut dan keinginan untuk mengadili kriminal dari negara
lain telah membentuk suatu jaringan persetujuan atau perjanjian ekstradisi; kebanyakan negara di
dunia telah menandatangani perjanjian ekstradisi bilateral dengan negara lainnya.
Sudah bukan menjadi rahasia bahwa Singapura adalah tanah harapan bagi pelaku kejahatan
ekonomi di Indonesia untuk mencari rasa aman dan bersembunyi dari jeratan hukum. Pasalnya,
di Negeri Singa inilah para pengemplang uang negara itu bisa menikmai hidup senyaman
mungkin dan bahkan bisa membangun (kerajaan) bisnis secara legal.
Pemerintah Singapura memang memberikan pelayanan khusus bagi warga Indonesia yang
datang ke sana; dengan catatan mereka membawa uang yang banyak. Entah untuk kepentingan
sekadar shoping, jalan-jalan, atau memang melarikan diri dari kejaran hukum.
Banyak kasus dan bukti yang bisa menunjukkan bagaimana para pelaku kejahatan ekonomi yang
sudah ditetapkan sebagai tersangka bisa melengang bebas dan tinggal di apartemen mewah di
sana. Pemerintah Singapura seakan menutup mata, telinga, serta mulut terhadap hal tersebut.
Hanya saja setelah ditandatanganinya Perjanjian Ekstradisi Indonesia-Singapura di Bali akhir
pekan (27/4) lalu, label Singapura sebagai tanah harapan bagi pelaku kejahatan ekonomi di
Indonesia sudah luntur perlahan-lahan. Ada dua hal penting yang termuat di dalam perjanjian
tersebut, yang dianggap bisa lebih menguntungkan Indonesia.
Pertama, adanya kesapakatan untuk mengekstradisi pelaku kejahatan ekonomi yang sembunyi di
antara kedua negara. Kedua, bahwa selain ekstradisi terhadap pelaku kejahatan ekonomi
perjanjian ekstradisi juga menyebutkan tentang pengembalian aset-aset hasil kejahatan atau asset
recovery.
Kesepakatan ini jelas memberi angin segar untuk Indonesia. Selama ini betapa susahnya
membujuk Pemerintah Singapura untuk sekadar membantu proses hukum untuk menjerat
pelaku kejahatan ekonomi dari Indonesia yang banyak kabur dan bersembunyi di sana.
Bahkan keuntungan lain yang didapatkan oleh Pemerintah Indonesia, setelah diratifikasi oleh
kedua negara, adalah pemberlakuan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian ekstradisi itu berlaku
secara restropektif alias berlaku surut selama 15 tahun. Artinya, proses ekstradisi dan
pengembalian aset bisa dikenakan kepada para pelaku kejahatan ekonomi yang terjadi sejak
tahun 1992.
Pasal 2 butir 4 dalam perjanjian ekstradisi tersebut menjelaskan bahwa Ekstradisi dapat
diberikan sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian ini tanpa mengindahkan waktu dilakukannya
kejahatan yang bertalian dengan ekstradiksi itu, dengan syarat bahwa jika kejahatan itu
dilakukan sebelum perjanjian ini berlaku, perbuatan tersebut pada saat ini merupakan kejahatan
terhadap hukum kedua Negara Pihak.
Jika mau jujur dikatakan bahwa perjanjian ekstradisi tersebut sangat dibutuhkan oleh Pemerintah
Indonesia. Pelaku kejahatan ekonomi, misalnya, dalam kasus penyelewengan Bantuan Likuiditas
Bank Indonesia (BLBI) tak tersentuh oleh tangan hukum Indonesia. Jangan ditanya lagi sudah
berapa usaha-usaha diplomasi, penyertaan bukti-bukti tindak kejahatan, serta ketetapan hukum
yang diberikan kepada Singapura namun menjadi hal yang sia-sia karena tidak adanya perjanjian
apapun yang menyangkut soal ekstradisi.
Perjanjian ekstradisi dengan Singapura memang terbilang cukup terlambat dibandingkan dengan
Australia pada tahun 1994. Namun, seperti kata pepatah lama, lebih baik terlambat dari pada
tidak sama sekali. Ditandatanganinya perjanjian ekstradisi tersebut adalah bukti keberhasilan
Pemerintah Indonesia.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun menegaskan harapan besarnya terhadap perjanjian ini.
Di salah satu koran nasional presiden mengatakan, Dengan perjanjian ekstradisi, penjahat,
misalnya koruptor dari negeri kita bersembunyi di negara lain yang membawa uang negara
begitu besar, bisa dibawa pulang, adili, dan mengembalikan harta yang dicuri.
Hanya saja, keberhasilan itu belum lagi bisa dikatakan sebagai keberhasilan yang sempurna.
Sebab, penandatangan di Bali tersebut barulah draft awal untuk diratifikasi oleh negara yang
bersangkutan. Sambil menunggu ratifikasi tersebut tentunya tidak ada kewajiban kedua negara
untuk serta-merta menerapkan ketentuan dalam perjanjian tersebut.
Apalagi adanya keinginan dari anggota legislatif untuk meratifikasi perjanjian tersebut setelah
masa reses tanggal 7 Mei nanti. Sehingga ada jeda beberapa hari dan tentunya membuka
kesempatan bagi pelaku kejahatan ekonomi untuk mencari persembunyian baru.
Meski perjanjian ekstradisi itu berlaku surut selama 15 tahun, tetapi siapa yang bisa menjamin
bahwa para pelaku kejahatan ekonomi itu akan tetap tenang dan tetap tinggal serta menyimpan
asetnya di Singapura. Bahkan dalam hitungan jam pun semua aset serta keluarga mereka bisa
berpindah ke negara yang dianggap aman.
Ditambah dengan tidak adanya ketentuan yang secara tegas menyebutkan langkah-langkah yang
harus diambil Singapura untuk mencegah pemindahan aset-aset dalam perjanjian ekstradisi
tersebut. Semakin jelaslah bahwa akan sangat sulit menangkap pelaku kejahatan ekonomi itu.
Hal penting lain yang harus diperhatikan oleh pemerintah adalah adanya perbedaan sistem
hukum di antara kedua negara. Singapura menerapkan sistem Anglo-Saxon sementara Indonesia
menganut sistem Kontinental. Sistem Anglo-Saxon mengambil sumber hukum dari putusan
pengadilan sebelumnya dan juga kebiasaan sementara sumber hukum dalam sistem Kontinental
berasal dari undang-undang atau kodifikasi.
Dalam sistem Anglo-Saxon, pengadilan memiliki kuasa penuh terhadap keputusan hukum
termasuk menolak permohonan ekstradisi atau membatalkan putusan mengesktradisi, meski
memiliki perjanjian ekstradisi dengan negara lain.
Indonesia punya pengalaman pahit tentang hal ini. Hingga saat ini pelaku kejahatan ekonomi
Hendra Rahardja, pemilik Bank Harapan Sentosa (BHS), tidak dapat diekstradisi dari Australia,
yang memiliki perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Ini disebabkan pengadilan setempat
menolak permohonan ekstradisi yang diajukan Indonesia.
Kasus yang terjadi di Australia bisa jadi terulang kembali di Singapura. Di mana keduanya
menganut sistem hukum Anglo-Saxon yang memungkinkan pengadilan setempat bisa
mengalahkan perjanjian yang dilakukan oleh kedua negara.
Jika ini terjadi, maka lagi-lagi tangan hukum tidak bisa menjerat pengemplang uang negara. Tak
heran jika dikatakan bahwa jangan terlalu berharap besar terhadap perjanjian ekstradisi yang
ditandatangani Panglima TNI Marsekal TNI Djoko Suyanto dan Panglima Tentara Singapura
Mayor Jenderal Desmond Kuek yang disaksikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
serta Perdana Menteri Lee Hsien Loong ini.
Yang jauh lebih penting dari sekadar perjanjian ekstradisi tersebut adalah penanaman kesadaran
bagi warga Indonesia mengenai korupsi sebagai sebuah kejahatan yang keji. Apabila kesadaran
tersebut sudah membudaya, maka dipastikan tingkat korupsi di negeri ini akan semakin
mengecil, untuk tidak mengatakan hilang sama sekali.
Apapun itu, marilah kita berharap agar perjanjian ekstradisi ini membawa perubahan yang lebih
baik dan bukannya malah menjadi kontradiksi; terlalu berharap sementara harapan itu hanyalah
pepesan kosong. Bukan pula menjadi bahan cemoohan para koruptor yang mungkin kini sudah
take off dari Bandara Internasional Changi dan duduk nyaman di kelas eksekutif dalam pesawat
yang meninggalkan Singapura.
Perjanjian ekstradisi dengan Singapura memang terbilang cukup terlambat dibandingkan dengan
Australia pada tahun 1994. Namun, seperti kata pepatah lama, lebih baik terlambat dari pada tidak
sama sekali. Ditandatanganinya perjanjian ekstradisi tersebut adalah bukti keberhasilan Pemerintah
Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun menegaskan harapan besarnya terhadap perjanjian
ini. Di salah satu koran nasional presiden mengatakan, Dengan perjanjian ekstradisi, penjahat, misalnya
koruptordari negeri kita bersembunyi di negara lain yang membawa uang negara begitu besar, bisa
dibawa pulang, adili, dan mengembalikan harta yang dicuri.1
Hanya saja, keberhasilan itu belum lagi bisa dikatakan sebagai keberhasilan yang sempurna. Sebab,
penandatangan di Bali tersebut barulah draft awal untuk diratifikasi oleh negara yang bersangkutan.
Sambil menunggu ratifikasi tersebut, tentunya tidak ada kewajiban kedua negara untuk serta-merta
menerapkan ketentuanyang ada dalam perjanjian tersebut.
Meski perjanjian ekstradisi itu berlaku surut selama 15 tahun, tetapi siapa yang bisa menjamin bahwa
para pelaku kejahatan ekonomi itu akan tetap tenang dan tetap tinggal serta menyimpan asetnya di
Singapura. Bahkan dalam hitungan jam pun semua aset serta keluarga mereka bisa berpindah ke negara
yang dianggap aman. Ditambah dengan tidak adanya ketentuan yang secara tegas menyebutkan
langkah-langkah yang harus diambil Singapura untuk mencegah pemindahan aset-aset dalam perjanjian
ekstradisi tersebut. Semakin jelaslah bahwa akan sangat sulit menangkap pelaku kejahatan ekonomi itu.
Hal penting lain yang harus diperhatikan oleh pemerintah adalah adanya perbedaan sistem hukum di
antara kedua negara. Singapura menerapkan sistem Anglo-Saxon sementara Indonesia menganut sistem
Kontinental. Sistem Anglo-Saxon mengambil sumber hukum dari putusan pengadilan sebelumnya dan
juga hukum kebiasaan, sementara sumber hukum dalam sistem Kontinental berasal dari undang-undang
atau kodifikasi. Dalam sistem Anglo-Saxon, pengadilan memiliki kuasa penuh terhadap keputusan
hukum termasuk menolak permohonan ekstradisi atau membatalkan putusan mengesktradisi, meski
memiliki perjanjian ekstradisi dengan negara lain.
Indonesia punya pengalaman pahit tentang hal ini. Hingga saat ini pelaku kejahatan ekonomi Hendra
Rahardja, pemilik Bank Harapan Sentosa (BHS), tidak dapat diekstradisidari Australia, yang memiliki
perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Ini disebabkan pengadilan setempat menolak permohonan
ekstradisi yang diajukan Indonesia.2
Kasus yang terjadi di Australia bisa jadi terulang kembali di Singapura. Di mana kedua negara tersebut
menganut sistem hukum Anglo-Saxon yang memungkinkan pengadilan setempat bisa mengalahkan
perjanjian yang dilakukan oleh kedua negara. Jika ini terjadi, maka lagi-lagi tangan hukum ekstradisi
tidak bisa menjerat pengemplang uang negara. Tak heran jika dikatakan bahwa jangan terlalu berharap
besar terhadap perjanjian ekstradisi yang ditandatangani Panglima TNI Marsekal TNI Djoko Suyanto dan
Panglima Tentara Singapura Mayor Jenderal Desmond Kuek yang disaksikan oleh Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono serta Perdana Menteri Lee Hsien Loong ini.
Dari uraian di atas, tampak jelas bahwa Singapura berada di atas Indonesia dalam perjanjian ekstradisi
antara kedua negara tersebut. Kepentingan Indonesia sangat besar terhadap perjanjian tersebut,
sehingga membuat Singapura memiliki kesempatan untuk menyusupkan kepentingan-kepentingan
politik maupun pertahanan dan keamanan di dalamnya. Lalu kenapa Indonesia seakan memaksakan
perjanjian tersebut? Dari segi mana para pembuat keputusan itu memandang tingkat urgensi perjanjian
ekstradisi dengan Singapura? Untuk lebih memahami hal ini, penulis tertarik untuk membuat suatu
karya ilmiah dengan judul Kepentingan Indonesia dalam Penandatanganan Perjanjian Ekstradisi dengan
Singapura.
Perundingan ke-empat antara Indonesia dan Singapura, yang berlangsung sejak Rabu (31/08)
membahas perjanjian ekstradisi, berakhir pada Kamis (01/09) dengan kesepakatan delegasi
kedua negara akan bertemu lagi pada pertengahan September 2005 untuk menuntaskan
rancangan Perjanjian Ekstradisi RI-Singapura.
Menurut Ketua Tim Perunding RI, Arif Havas Oegroseno, yang dihubungi, Jumat (02/09),
perundingan dua hari yang diadakan di Yogyakarta itu telah selesai menyisir satu per satu
elemen-elemen perjanjian dalam draf gabungan yang dihasilkan dalam perundingan sebelumnya
di Singapura.
"Sekarang sudah tidak terlihat lagi ada dua pandangan, tapi satu. Pada pertemuan nanti kami
sudah masuk ke tahap drafting (menulis rancangan perjanjian, red). Di situ kami tinggal
merumuskan kesatuan tersebut dalam satu rumusan bahasan hukum yang fix dan tentunya
mengakomodir kepentingan kedua belah pihak," katanya.
Menurut catatan, pada perundingan ke-tiga di Singapura pada 15-16 Agustus lalu, delegasi kedua
negara saling bertukar rancangan Perjanjian Ekstradisi yang masing-masing telah mereka
persiapkan.
Dalam pertemuan itu, tim Indonesia dan Singapura menyepakati draf yang dipertukarkan dan
berhasil menutup pertemuan ke-tiga dengan menghasilkan draf gabungan.
Dalam perundingan di Yogyakarta, tim perunding Indonesia terdiri dari unsur Deplu, Dephukum
dan HAM, Kejaksaan Agung, Polri, serta Komisi Pemberantasan Korupsi.
Tentang negosiasi seputar elemen daftar kejahatan, Havas mengungkapkan sudah tidak ada
masalah karena pada dasarnya Indonesia dan Singapura memiliki kepentingan yang sama.
"Berdasarkan UU Singapura dan UU Indonesia mengenai ekstradisi, sudah banyak convergence
(titik temu, red), misalnya soal korupsi," katanya.
Ia menyadari tingginya harapan masyarakat Indonesia bahwa perjanjian ekstradisi Indonesia-
Singapura benar-benar akan terwujud agar koruptor-koruptor yang lari ke Singapura dapat segera
ditangkap.
"Karenanya kami harus memastikan bahwa perjanjian yang akan ditandatangani nantinya harus
benar-benar workable (mudah dijalankan) dan durable (bersifat jangka panjang)," katanya.
Havas menolak menyebutkan kapan perjanjian ekstradisi Indonesia-Singapura akan
ditandatangani.
Ia juga menolak menjelaskan tentang isi rancangan perjanjian, yang dianggapnya tidak etis untuk
dikemukakan saat negosiasi antara kedua negara masih berlangsung.
Namun menurut catatan mengenai prinsip-prinsip dasar, biasanya perjanjian ekstradisi mencakup
elemen-elemen antara lain daftar kejahatan, mekanisme permintaan ekstradisi ganda, ketentuan
tidak mengekstradisi warga negara, dasar-dasar penolakan ekstradisi, permintaan ekstradisi
dilakukan melalui saluran diplomatik, proses permintaan penahanan, serta prosedur permintaan
ekstradisi.
Kesulitan
Ketika disinggung contoh kasus sulitnya mengekstradisi Hendra Raharja dari Australia kendati
Indonesia dan Australia sudah memiliki perjanjian ekstradisi, Havas, yang juga Direktur
Perjanjian Politik, Keamanan dan Kewilayahan Deplu-RI itu, menjamin bahwa dengan
Singapura kasus seperti itu akan sulit terjadi.
Alasan yang mencolok, ujarnya, adalah sistem pengadilan antara Australia dan Singapura
menyangkut ekstradisi yang berbeda.
Di Australia, permintaan ekstradisi dapat diajukan banding hingga ke tingkat mahkamah agung.
"Sistem di Singapura lebih sederhana, permintaan ekstradisi tidak bisa naik banding. Demikian
juga di Indonesia, tidak bisa sampai ke Mahkamah Agung, hanya bisa sampai pengadilan
negeri," paparnya.
Indonesia dan Australia telah mempunyai perjanjian ekstradisi sejak tahun 1992, namun dalam
kasus Hendra Raharja --koruptor yang lari ke Australia, proses ekstradisi berjalan alot karena
harus melalui sejumlah proses hukum yang bertingkat dan memakan waktu lama.
Hingga akhir hayat Hendra, Jakarta tidak berhasil membawa koruptor tersebut untuk dihukum di
dalam negeri sementara Indonesia hanya mendapatkan sebagian kecil dari harta Hendra yang
diduga kuat dilarikan ke Australia.
Sementara itu, Arif Havas Oegroseno mengingatkan keputusan pengadilan tentang jenis
kejahatan seseorang harus ditempuh dengan sangat cermat agar jika diperlukan, proses ekstradisi
berjalan lancar.
"Karena menurut hukum internasional yang disebut rule of speciality, negara manapun tidak bisa
meloloskan permintaan ekstradisi terhadap seseorang jika tuntutan kejahatannya ternyata
berbeda," katanya.
Ia mengambil contoh, seseorang yang divonis pengadilan telah melakukan penipuan perbankan,
akan sulit diserahkan oleh negara yang diminta jika negara peminta mengajukan agar orang
tersebut diekstradisi karena kejahatan korupsi, bukan karena penipuan.
Indonesia, China Sign Extradition Agreement
Indonesia and China on Wednesday signed the much-awaited bilateral extradition treaty that
could prove very helpful for Jakarta in capturing fugitives who have fled with trillions of rupiah
in stolen state assets.

The treaty was signed by Foreign Minister Hassan Wirajuda and his Chinese counterpart, Yang
Jiechi, in Beijing, the Foreign Affairs Ministry said in a statement.

Unlike extradition treaties with other countries, the agreement with China does not specifically
categorize the crimes of those who can be extradited between the two countries, the statement
said.

The extradition agreement applies to crime suspects who are facing a sentence of at least one
year in jail or convicts who must serve a sentence of at least six months in jail. It means the
treaty with China covers a broader range of crimes, the Foreign Ministry statement said.

The Attorney Generals Office believes that some key fugitives including Eddy Tansil and
Sujiono Timan have fled with stolen state assets to Asian nations, including China.

Indonesia has existing extradition treaties with seven countries in the region including Malaysia
(1974), the Philippines (1976), Thailand (1978), Australia (1994), Hong Kong (2001), South
Korea (2001) and Singapore (2007).

However, the treaty with Singapore has not yet been enacted as the House of Representatives
refused to ratify it because the city-state demanded an area for military exercises in exchange.

In other news, state-run news agency Antara reported from Beijing that during his meeting with
Hassan, Yang made a point of thanking Indonesia for supporting the so-called One China Policy
in regards to Taiwan.
Perjanjian ekstradisi dengan Singapore sudah ditandangani oleh Menlu Indonesia dan Singapora, yang
juga disaksikan langsung oleh kedua pemimpin negara yang bersangkutan, yakni presiden RI Susilo
Bambang Yudoyono dan PM Singapora Lee Hsien Loong. Namun anehnya, dalam negosiasi perjanjian
yang dianggap telah usai tersebut. Ternyata masih menyisakan sedikit masalah namun sangat penting.
Yakni sistim hukum yang berlaku dikedua negara. Menurut Menlu Singapora George Yeah, terdapat
perbedaan sistem hukum yang berlaku antara Indonesia dan Singapora, misalnya proses pelaksanaan
ekstradisi dan juga kriteria hukum tentang korupsi. Ternyata masalah-masalah ini belum diberikan
solusinya (aneh bin ajaib). Masakan masalah sebesar ini bisa terlupakan? Bukankah pihak Indonesia
memperjuangkan selama bertahun-tahun demi perjanjian ini. Lantas kenapa bisa tiba-tiba isu ini muncul
pada saat perjanjian disepakati dan dihari kedua belah pihak menandatanginya. Jika begini adanya,
maka situasinya akan sama dengan perjanjian ekstradisi yang kita sepakati dengan Australia. Walaupun
kita mempunyai perjanjian ekstradisi dengan Australia, tetapi keputusan untuk mengabulkan ekstradisi
itu melibatkan juga badan peradilan dan prosesnya bertahun-tahun. Lain halnya dengan negara kita,
ekstradisi itu semata-mata kewenangan pemerintah Jika kenyataannya kelak seperti Australia, maka
perjanjian ekstradisi ini tidak akan efektif untuk memulangkan para koruptor ke Indonesia karena tidak
bisa menyentuh sistem hukum negara yang terlibat dalam perjanjian. Perjanjian ekstradisi tidak dapat
menjangkau hukum internal negara yang bersangkutan. Apalagi Singapura mengaplikasikan sistem
hukum yang sama dengan Australia. Saya bingung dengan pemerintah kita, mereka katanya
memperjuangkan ini selama bertahun-tahun. Namun kenapa masalah sebesar ini bisa terabaikan?
Padahal dengan perjanjian ini negara kita memperoleh manfaat besar, selain dapat menjerat dan
mengadili para penjahat ekonomi, Indonesia akan bisa menarik uang koruptor antara US$ 5 miliar
sampai US$ 10 miliar dari total sekitar US$ 87 miliar sampai US$ 100 miliar dolar AS yang mengendap di
perbankan Singapura. Dana sebesar itu sangat dibutuhkan bagi negara kita yang sedang sekarat ini.
Namun sebenarnya ekstradisi tidak terlalu penting, jikalau penegakan hukum di indonesia berjalan.
Karena nagara kita punya undang-undang imigrasi. Memiliki petugas imigrasi dan sanksi cekal untuk
mencekal para teroris ekonomi buron keluar negeri. Semestinya sebelum kita bicara ekstradisi sudah
sewajarnya pemerintah memperbaiki dulu penegakan hukum dalam negri, tanpa itu perjanjian
ekstradisi akan percuma.
Menteri Kehakiman Oetojo Oesman menilai agak sulit untuk menghadirkan
dan mengadili pilot Garuda Indonesia, MS (49), yang diduga
menyelundupkan sekitar 8.000 butir ecstasy melalui Bandar Udara
Internasional Schiphol Amsterdam akhir September lalu. Selain karena
tidak memiliki perjanjian esktradisi dengan Belanda, Indonesia juga
harus menempuh upaya diplomatik tingkat tinggi dan memakai
saluran-saluran serta jalur khusus jika hendak menghadirkan MS di
Indonesia.

Pernyataan ini ditegaskan Menkeh Oetojo Oesman kepada pers di
Denpasar, Bali dalam perjalanan kerja menuju Dili, Timor Timur hari
Jumat (11/10).

"Tampaknya, agak sulit dan berat untuk menghadirkan MS sekaligus
mengadilinya di Indonesia. Selain tidak ada ekstradisi dengan
Indonesia, juga berat karena memerlukan saluran diplomatik tingkat
tinggi dan jalur khusus," tambah Menkeh tanpa mau merinci lebih jauh
makna jalur khusus itu.