Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI BIOTA AIR


HEMATOLOGI







NAMA : CITRA A. AMBATODING
STAMBUK : L221 12 001
KELOMPOK : IX (SEMBILAN)
ASISTEN : 1. ANDI MASRIAH, S.Pi
2. YUSRIFAAT AMRAN
3. MULKAN ARSYUDDIN










LABORATORIUM FISIOLOGI BIOTA AIR
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

I. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Fisiologi sebagai salah satu cabang ilmu biologi yang berkaitan dengan
fungsi dan kegiatan dapat lebih mudah dipahami bila organisasi danfungsi sel
diketahui. Fisiologi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari fungsi,
mekanisme dan cara kerja dari organ, jaringan dan sel-sel organisme. Fisiologi
mencoba menerangkan faktor-faktor fisika dan kimia yang mempengaruhi seluruh
proses kehidupan. Oleh karena luas bidang fisiologi, maka dibagi menjadi bagian-
bagian yang lebih khusus, diantaranya yaitu fisiologi hewan air dalam hal ini ikan
dimana didalamnya terdapat salah satu yang akan dibahas adalah tentang
hematologi (Fujaya, 2008 dalam Salam, 2013).
Sistem peredaran darah mempunyai banyak fungsi sebagai alat transpor
antara lain, transport oksigen, karbondioksida, makanan, maupun hasil
metabolisme. Darah mengalir membawa oksigen dari insang ke jaringan,
karbondioksida ke kulit dan insang, produk pencernaan dari usus ke hati. Untuk
menunjang kerja fungsi darah yang normal, maka hal tersebut akan berlangsung
sempurna apabila sirkulasi darah pada organisme ikan berjalan dengan normal dan
darahnya sendiri berada dalam kondisi sehat (Lephas, 1999 dalam Krisye, 2009).
Pengukuran hematologi merupakan pengukuran yang meliputi pengukuran
kadar hemoglobin, perhitungan total eritrosit, penghitungan total leukosit dan
pengukuran hematkorit. Hematokrit adalah istilah yang menunjukan besarnya
volume sel-sel eritrosit seluruhnya didalam 100 mm
3
darah dan dinyatakan dalam
persen (%). Nilai hematokrit adalah suatu istilah yang artinya persentase
berdasarkan volume dari darah, yang terdiri dari sel-sel darah merah. Dalam industri
perikanan pemantauan terhadap tingkat kesehatan ikan sangat diperlukan.
Pemantauan kesehatan ini dapat menggunakan hematologi dan analisis kimia
darah. Hematologi dapat mengetahui penyakit yang menginfeksi ikan serta
mengidentifikasi hewan sub lethal (Hrubec, 2000 dalam Adinegara, 2012).
Praktikum Hematologi ini dilakukan untuk mengetahui lebih jelas mengenai
sistem peredaran darah pada ikan dan dapat membandingkan teori yang ada
dengan hasil yang kita dapat di praktikum ini.
Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum Hematologi adalah untuk mengetahui bentuk sel
darah dan kondisi ikan melalui perhitungan jumlah sel darah serta persentase
gumpalan darah.
Kegunaan praktikum Hematologi agar mahasiswa dapat memahami metode
yang digunakan untuk mengamati bentuk sel darah, persentase gumpalan darah
dan jumlah sel darah.















II. TINJAUAN PUSTAKA
Morfologi Dan Klasifikasi Ikan Nila
Berdasarkan morfologinya, ikan Nila umumnya memiliki bentuk tubuh panjang
dan ramping, dengan sisik berukuran besar. Matanya besar, menonjol, dan bagian
tepinya berwarna putih. Gurat sisi terputus dibagian tengah badan kemudian
berlanjut, tetapi letaknya lebih ke bawah dari pada letak garis yang memanjang di
atas sirip dada. Sirip punggung, sirip perut, dan sirip dubur mempunyai jari-jari keras
dan tajam seperti duri. Sirip punggungnya berwarna hitam dan sirip dadanya juga
tampak hitam. Bagian pinggir sirip punggung berwarna abu-abu atau hitam
(Amirudin, 2009).
Tenggorokan, sirip dada, sirip perut, sirip ekor dan ujung sirip punggung
dengan warna merah atau kekuningan ketika musim berbiak. Ikan nila yang masih
kecil belum tampak perbedaan alat kelaminnya. Setelah berat badannya mencapai
50 gram, dapat diketahui perbedaan antara jantan dan betina. Perbedaan antara
ikan jantan dan betina dapat dilihat pada lubang genitalnya dan juga ciri-ciri kelamin
sekundernya. Pada ikan jantan, di samping lubang anus terdapat lubang genital
yang berupa tonjolan kecil meruncing sebagai saluran pengeluaran kencing dan
sperma. Tubuh ikan jantan juga berwarna lebih gelap, dengan tulang rahang
melebar ke belakang yang memberi kesan kokoh. Untuk lebih jelasnya, morfologi
ikan Nila disajikan pada Gambar 1 (Akbar dkk., 2010).

Gambar 1. Morfologi Ikan Nila (Oreochromis niloticus) (Supianor, 2010)

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Osteichtes
Ordo : Percomorphii
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Species : Oreochromis Niloticus (Purba dkk., 2004)
Siklus Hidup Ikan Nila
Daur hidup ikan nila berlangsung selama 5-6 bulan, dan dapat memijah
sebanyak 6-8kali dalam setahun. Dalam pemiijahannya ikan nila tidak memerlukan
suatu persyaratan khusus, sehingga dalam kolam budidaya sering dijumpai
kelebihan populasi yang berakibat ukuran ikan yang dipelihara sangat beragam.
Selain itu induk betina yang sedang mengerami dan mengasuh anaknya memiliki
per-tumbuhan yang lambat sehingga diperlukan waktu yang lama agar dicapai
target ukuran konsumsi sesuai keinginan pasar (Rozik dan Yasin, 2012).
Hematologi
Hematologi berasal dari bahasa Romawi hemat yang berarti darah dan ology
yang berati belajar atau mempelajari, sedangkan Klontz berpendapat bahwa
hematology adalah ilmu yang mempelajari aspek anatomi, fisiologi, dan patologi
darah. Darah adalah cairan yang terkandung dalam sistem kardiovaskular. Unsur
cairan darah adalah plasma dan unsur-unsur pembentuk darah adalah eritrosit,
leukosit dan trombosit. Fungsi utama darah antara lain oksigenasi jaringan, gizi
jaringan, pemeliharaan keseimbangan asam-basa, dan pembuangan produk limbah
metabolisme dari jaringan. Dengan demikian, setiap disfungsi darah dapat memiliki
efek buruk pada aktivitas fisiologis dari seluruh tubuh serta disfungsi fisiologis
tertentu dalam tubuh tercermin sebagai perubahan dalam konstituen darah, yang
dapat digunakan sebagai indikator diagnostic (Noercholis dkk., 2013).
Leukosit memiliki jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan sel darah
merah, yaitu berkisar antara 20.000/mm
3
hingga 150.000/mm
3
. Bentuk sel darah
putih adalah lonjong hingga bulat. Leukosit terdiri dari agranulosit (monosit dan
limfosit) dan granulosit (heterofil, eosinofi dan basofil). Leukosit memiliki bermacam-
macam fungsi, erat kaitannya untuk menghilangkan benda asing (termasuk
mikroorganisme patogen). Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah leukosit adalah
kondisi dan kesehatan tubuh ikan (Noercholis dkk., 2013)
Sel-sel darah merah berbentuk oval,dengan ciri tipis berdiameter 7 mikro
hingga 66 mikro. Sel darah merah tiap mm
3
darah berkisar antara 20.000-
3.000.000. Pengangkutan oksigen dalam darah bergantung pada komponen Fe
pada haemoglobin (Krisye, 2009).
Fungsi utama darah yaitu transportasi bahan materi yang dibutuhkan bagian
tubuh, atau yang tidak diperlukan dibawa ke organ pembuangan. Darah, juga
menjaga masuknya bahan penyakit, memperbaiki bahan jaringan yang rusak,
mengantarkan bahan pertumbuhan, dan membawa oksigen ke jaringan-jaringan
tubuh. Dengan adanya hormon dalam aliran peredaran darah, seolah-olah darah
berfungsi seperti sistem saraf tambahan (Burhanuddin, 2008).
Sistem Peredaran Darah Ikan
Secara umum sistem peredaran darah pada semua vertebrata adalah sama,
namun tetap ada perbedaan-perbedaan diantara setiap kelompok hewan. Hal
tersebut tergantung dari anatomi, fisiologi dan kondisi lingkungan dari organisme.
Sistem peredaran darah melayani banyak fungsi, secara umum berfungsi sebagai
alat transpor gas-gas antara jaringan dan insang atau paru-paru, transpor laktasi
dari otot ke insang dan hati serta transpor gula kembali ke jaringan (Isnaeni, 2006
dalam Krisye, 2009).
Ikan mempunyai sistem peredaran darah tertutup artinya darah tidak pernah
keluar dari pembuluhnya, tidak ada hubungan langsung dengan sel tubuh
sekitarnya. Darah memberi bahan materi melalui dinding yang tipis dari kapiler
darah, dan kembali ke jantung melalui pembuluh yang kedua. Secara garis besar
peredaran darah tunggal adalah peredaran darah yang darahnya dari insang
langsung beredar ke seluruh tubuh kemudian masuk ke jantung. Jadi darah hanya
beredar sekali melalui jantung dengan rute dari jantung ke insang lalu ke seluruh
tubuh dan kembali ke jantung (Benita dkk., 2010).
Seperti pada golongan vertebrata lainnya, ikan nila mempunyai sistem
peredaran darah tertutup, artinya darah tidak pernah keluar dari pembuluhnya, jadi
tidak ada hubungan langsung dengan sel tubuh sekitarnya. Sistem peredaran darah
pada ikan bersifat tunggal, artinya hanya terdapat satu jalur sirkulasi peredaran
darah (Burhanuddin, 2008).
Sistem peredaran darah, organ utamanya adalah jantung yang bertindak
sebagaipompa tekan merangkap pompa hisap. Darah ditekan mengalir keluar dari
jantung melalui pembuluh arteri ke seluruh tubuh sampai ke kapiler darah,
kemudian dihisap melalui pembuluh vena dan kembali ke jantung. Sistem peredaran
darah ini disebut peredaran darah tunggal (Burhanuddin, 2008).









III. METODOLOGI PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
Praktikum Fisiologi Biota Air mengenai Hematologi dilaksanakan pada hari
Jumat, 14 Maret 2014 Pukul 15.20-17.30 WITA di Laboratorium Fisiologi Biota Air,
Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin,
Makassar.
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum Hematologi dapat dilihat
pada Tabel 1 dan 2.
Tabel 1. Alat yang digunakan beserta fungsinya
No. Alat Kegunaan
1. Mikroskop Membantu melihat bentuk dan jumlah darah.
2. Tabung reaksi Meletakkan mikrohematokrit yang akan disentrifugasi.
3. Objek glass Tempat diletakkannya darah ikan untuk pewarnaan.
4. Mistar Mengukur panjang darah.
5. Spoit Mengambil darah pada ikan.
6. Hemacytometer Menghitung jumlah sel darah merah.
7. Baskom Wadah penyimpanan es batu.
8. Mikrohematokrit Wadah darah ikan yang akan disentrifugasi.
9. Papan preparat Wadah ikan pada saat mengambil sampel darah.
10. Sentrifuge Memisahkan plasma darah dengan gumpalan darah.
11. Deg glass Meratakan darah pada objek glass.

Tabel.2. Bahan yang digunakan beserta fungsinya
No. Bahan Kegunaan
1. Air tawar Media tempat hidup ikan dan pembiusan ikan.
2. Parafin Menyumbat mikrohematokrit.
3. EDTA (ethylene diamine
tetraacetic)
Anti koagulan darah.
4. Hematoxylin Memberikan warna pada inti sel.
5. Eosin Mewarnai sitoplasma.
6. Metylene blue Mengencerkan darah dan memberi warna
pada sel darah merah (eritrosit).
7. Alkohol 70 % Memfiksasi darah.
8. Darah ikan Nila
(Oreochromis niloticus)
Objek pengamatan.
9. Es Batu Bahan anestesi ikan.
10. Tissue Pembersih alat.


Prosedur Kerja
Prosedur kerja praktikum Hematologi adalah sebagai berikut :
Teknik pewarnaan sel darah
Mengambil darah pada ikan melalui jantung dengan menggunakan spoit
yang telah dimasukkan larutan EDTA (Ethylene diamine tetraacetic acid). Kemudian
meneteskannya diatas 2 buah objek glass dan diratakan dengan menggunakan deg
glass, lalu mendiamkannya hingga kering. Merendam/memfiksasi sampel dalam
alkohol 70% selama 5 menit, setelah itu membilas sampel dengan akuades
kemudian didiamkan hingga kering. Selanjutnya mencelupkan sampel ke dalam
eosin selama 5 menit untuk mewarnai sitoplasma, lalu membilasnya dengan
akuades dan diamkan hingga kering. Mencelupkan kembali salah satu objek glass
tersebut di dalam hematoxylin selama 5 menit, kemudian dibilas dengan akuades
dan diamkan hingga kering, lalu diamati di bawah mikroskop dan mengambil
gambar hasil pengamatan tersebut.
Teknik pemisahan sel darah merah dan plasma darah
Mengambil darah dari jantung dengan menggunakan spoit, lalu
memasukkannya ke dalam mikrohaematokrit yang telah disumbat salah satu
ujungnya dengan paraffin yang telah dilelehkan. Kemudian meletakkan
mikrohaematokrit di dalam tabung reaksi/tabung test yang telah disediakan dan
sentrifugasi selama 60 detik dengan kecepatan 6431 RPM. Setelah itu, mengukur
panjang gumpalan darah dan panjang plasma darah. Perlu diingat pula untuk
memperhatikan lapisan buffy yang terbentuk antara gumpalan darah dan plasma
darah.



Teknik menghitung jumlah total eritrosit (sel darah merah)
Mengambil darah ikan melalui jantung sebanyak 2 mL dengan menggunakan
spoit, yang telah diisi dengan metyleneblue, lalu menghomogenkannya di dalam
spoit. Setelah itu, mengambil darah yang telah diencerkan lalu meratakannya
dengan deg glass dan keringkan. Kemudian meletakkannya pada kedua sisi
hemacytometer. Selanjutnya, mengamati di bawah mikroskop dan menghitung
jumlah sel darahnya.
Analisis data
Data yang diperoleh selama praktikum Hematologi dianalisis dengan
menggunakan rumus berikut:
1. Persentase Gumpalan Darah
anjang umpalan arah
anjang otal umpalan arah

2. Total Eritrosit = N x 10
4
Ket.:
N =jumlah sel darah yang diamati.















IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Teknik pewarnaan
Berdasarkan pengamatan teknik pewarnaan sel darah merah pada
praktikum Hematologi maka bentuk sel darah merah ikan nila disajikan pada
Gambar 2 dan 3:

1
2
Keterangan : 1. Membran sel
2. Sitoplasma
Gambar 2. Sel darah merah ikan nila (Oreochromis niloticus) setelah diberi
pewarnaan eosin


1
2
3
Keterangan : 1. Membran sel
2. Inti sel
3. Sitoplasma

Gambar 3. Bentuk sel darah merah (eritrosit) ikan nila (Oreochromis niloticus)
setelah diberi pewarnaan hematoxyilin






Teknik Pemisahan sel darah dan plasma darah
Dari hasil percobaan yang dilakukan mengenai pemisahan sel darah dan
plasma darah diperoleh hasil sebagai berikut :
Diketahui : Panjang gumpalan darah = 3,3 cm
Panjang total gumpalan darah = 5,4 cm
Persentase Gumpalan Darah
anjang umpalan arah
anjang otal umpalan arah

3,3
= x 100%
5,4

= 61,1 %
Tabel 3. Hasil pengamatan mikrohematokrit ikan nila
No Pengukuran Hasil
1 Panjang total 5,4 cm
2 Panjang gumpalan darah 3,3 cm
3 Persentase gumpalan darah 61,1 %
Teknik menghitung jumlah total eritrosit
Dari hasil pengamatan yang dilakukan, maka jumlah sel darah merah ikan
Nila (Oreochomis niloticus) yaitu 3 sel dimana jumlah total eritrosit tersebut dihitung
dengan menggunakan rumus yaitu :
Eritrosit = N x 10
4
sel/mL
= 3 x 10
4
sel/mL
= 30.000 sel/mL
Pembahasan
Teknik pewarnaan
Sel darah merah berbentuk seperti piringan membulat, cekung pada dua
sisinya dan diameternya mendekati sekitar 1 per 7.500 milimeter. Pada Gambar 2
dapat dilihat bahwa keadaan sel darah merah ikan Nila (Oreochomis niloticus)
ketika dicelupkan pada larutan eosin, eritrosit masih berwarna merah berbentuk
lonjong (Hartati, 2013).
Pada Gambar 3, dapat dilihat bahwa sel darah merah pada ikan Nila
(Oreochomis niloticus) setelah dicelupkan pada hematoxylin yaitu inti sel berwarna
biru kehijauan sedangkan membran sel masih berwarna merah dan berbentuk
lonjong. Hematoxylin digunakan untuk melihat inti sel. Hematoxylin dapat mewarnai
inti plasma karena bersifat basa sementara inti sel bersifat asam (Mulyatno, 2009).
Perhitungan presentase gumpalan darah
Data yang diperoleh setelah sel darah pada ikan nila dipisahkan dengan
plasma darah (sentrifugasi) yang diletakkan pada mikrohematokrit dan dilakukan
pengukuran yaitu panjang total darah 5,4 cm, panjang gumpalan darah yaitu 3,3 cm
serta volume gumpalan darah yaitu mencapai 61,1 %. Berdasarkan hasil
pengamatan tersebut, di ketahui bahwa volume gumpalan darah ikan nila dalam
keadaan sehat karena volume gumpalan darahnya lebih besar dari standar volume
gumpalan darah yang di tentukan yaitu 30% (Adinegara, 2012).
Hematokrit merupakan persentase volume eritrosit dalam darah ikan. Hasil
pemeriksaan terhadap hematokrit dapat dijadikan sebagai salah satu patokan untuk
menentukan keadaan kesehatan ikan, nilai hematokrit kurang dari 22%
menunjukkan terjadinya anemia. Perubahan kondisi lingkungan atau pencemaran
lingkungan akan menyebabkan nilai hematokrit mengalami penurunan akibat respon
stress (Putri dkk., 2013).
Perhitungan jumlah total eritrosit
Total eritrosit yang diperoleh dari darah ikan nila adalah 30.000 sel/mm
3
.
Jumlah eritrosit normal adalah 20.000-3.000.000 sel/mm
3
. Hal ini menunjukkan
bahwa darah Ikan Nila yang digunakan sebagai bahan praktikum masih dalam taraf
normal.Jumlah eritrosit dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, kondisi tubuh, variasi
harian, dan keadaan stress (Lagler, 1997 dalam Adinegara, 2012)
Hemoglobin dalam darah merupakan alat transportasi oksigen,
karbondioksida dan sari-sari makanan. Kemampuan mengangkut ini bergantung
pada jumlah hemoglobin, apabila kadar hemoglobin meningkat maka asupan
makanan dan oksigen dalam darah dapat diedarkan ke seluruh jaringan tubuh
ikan yang pada akhirnya hal tersebut akan menunjang kehidupan dan pertumbuhan
ikan. Menurunnya kadar hemoglobin darah dapat dijadikan petunjuk mengenai
rendahnya kandungan protein pakan, defisiensi vitamin atau ikan yang mendapat
infeksi (Anderson dan Siwicki, 1993 dalam Siregar dan Adelina, 2009).

V. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan di laboratorium Fisiologi
Biota Air, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Sel darah merah berbentuk seperti piringan membulat, cekung pada dua
sisinya dengan inti berwarna biru kehijauan.
2. Persentase gumpalan darah yaitu 61,1 %, sehingga dapat disimpulkan ikan
dalam keadaan sehat.
3. Jumlah total eritrosit yang didapatkan adalah 30.000 sel/mL, sehingga dapat
dikatakan bahwa ikan tersebut dalam keadaan normal.
Saran
Laboratorium
Sebaiknya laboratorium menyediakan peralatan yang lengkap seperti
centrifuge sehingga praktikum dapat berjalan dengan baik dan sesuai prosedur.
Asisten
Andi Masriah, S.pi :
Terima kasih atas bimbingannya kak.
Yusrifat Amran :
Kakak baik dan pengertian, pertahankan kak .
Mulkan Arsyuddin:
Kakak orangnya sabar dan pengertian, semoga kakak tetap pertahankan sikapnya.





DAFTAR PUSTAKA
Adinegara, A. 2012. Hematologi. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.
Akbar, M. Y., Devi, H. L. N. A., Kusuma, I. M. 2010. Pengaruh Jahe Terhadap
Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dan Ikan Lele (Clarias
bathracus) Pada Polikultur Dengan Sistem Resirkulasi Tertutup. Universitas
Airlangga. Surabaya.
Amirudin, A. 2012. Modul Reproduksi Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Universitas
Negeri Yogyakarta. Yogyakarta

Benita, R. T., Fadli, M., Risky, D., Marlina, E., Josua., Putri, K., Maria., dan Arif, A.
2010. Sistem Sirkulasi / Sistem Peredaran Darah. Universitas Padjajaran.
Jatinangor

Burhanuddin, A. I. 2008. Peningkatan Pengetahuan Konsepsi Sistematika Dan
Pemahaman System Organ Ikan Yang Berbasis Scl Pada Matakuliah
Ikhtiologi. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Hartati, N. Y., 2012. Nilai Hematokrit Ikan Nila (Oreochromis Niloticus ) Yang
Dipelihara Diberbagai Ketinggian Tempat . eprints.uny.ac.id. Diakses pada
16 Maret 2014 pukul 19:34 WITA.

Krisye. 2009. Praktikum IV Hematologi. Universitas Hasanuddin. Makassar

Mulyatno, K. C. 2009. Pewarnaan Hematoxilin Eosin (HE). Online pada
http:www.scribd.com. Diakses pada 16 Maret 2014 pukul 18:09 WITA..

Noercholis, A., M. A. Muslim dan Maftuch. 2013. Ekstraksi Fitur Roundness untuk
Menghitung Jumlah Leukosit dalam Citra Sel Darah Ikan. Jurnal EECCIS VII
(1) hal. 35-37.
Purba, I. S., Salami. I. R. S., Tjahaya. P. I. 2004. Distribusi Radionuklida CS-134
Pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang Hidup di Air Tercemar CS-134
Institut Teknologi Bandung. Bandung.

Putri R. R., F. Basuki, S. Hastuti. 2013. Profil Darah Dan Kehidupan Ikan Nila
(Oreochromis Niloticus) Yang Diinfeksi Bakteri Streptococcus Agalactiae
Dengan Kepadatan Berbeda. Journal Of Aquaculture Management and
Technology II (2) hal. 47-56.

Rozik, M. dan M. N. Yasin. 2012. Pembuatan Ikan Triploid Nila (Oreochromis Sp.)
Dengan Teknik Persilangan Antara Diploid Normal Dan Tetraploid Genetic
Engineering Of The Nila Triploid Fish (Oreochromis Sp.) By Crossing
Technique Between Normal Diploid And Tetraploid. Universitas
Palangkaraya. Palangkaraya.

Salam, M. 2013. Anestesi Dan Pembedahan. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Siregar, I, Y, dan Adelina. 2009. Pengaruh Vitamin C terhadap Peningkatan
Hemoglobin (Hb)Darah dan Kelulushidupan Benih Ikan Kerapu
Bebek(Cromileptes altivelis).Jurnal Natur Indonesia XII (1) hal. 75-81.