Anda di halaman 1dari 19

[Type text]

Riyan nasrul
Page 1

MAKALAH
DEFINISI SERI REAKSI BOWEN, MINERAL
SILIKAT, DAN MINERAL NON SILIKAT.








Disusun Oleh :
NAMA : RIYAN NASRUL
NIM : 410014188

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL
(STTNAS)YOGYAKARTA
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
2014

[Type text]

Riyan nasrul
Page 2

KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadiran Allah SWT karena makalah ini dapat
terselesaikan dengan baik, dan diharapkan dapat membantu mahasiswa yang
sedang mengambil praktikum geologi fisik. Pembuatan makalah ini merupakan
rangkuman dari beberapa sumber buku maupun webside. Sehingga makalah ini
masih jauh dengan kata sempurna, karenanya penyusun mengharapkan kritik,
masukan, dan saran, sehingga di masa yang akan datang makalah ini bisa
sempurna.










Yogyakarta, 6 oktober 2014

Riyan nasrul

[Type text]

Riyan nasrul
Page 3

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I . PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Maksud Dan Tujuan
1.2.1.Maksud
1.2.2. Tujuan
1.3. Landasan Teori

BAB II. PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Seri Reaksi Bowen
2.2. Pengertian Mineral Silikat
2.3. Pengertian Mineral Non Silikat

BAB III.PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA




[Type text]

Riyan nasrul
Page 4

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG.
Geologi adalah ilmu yang mempelajari tentang Bumi, komposisinya,
struktur, sifat-sifat fisik, sejarah dan proses pembentukannya. Dalam Geologi, kita
akan mempelajari semua hal tentang seluk-beluk Bumi ini secara keseluruhan.
Dari mulai gunung-gunung dengan tinggi ribuan meter, hingga palung-palung
didasar samudra. Dan untuk mengetahui semua itu, tentunya kita harus
mempelajari apa-apa sajakah materi pembentuk Bumi ini.

Materi dasar pembentuk Bumi ini adalah batuan, dimana batuan sendiri
adalah kumpulan dari mineral, dan mineral terbentuk dari kristal-kristal. Jadi
intinya, untuk dapat mempelajari ilmu Geologi, kita harus menguasai ilmu tentang
kristal. Ilmu yang mempelajari tentang bentuk-bentuk, gambar-gambar dari kristal
disebut Kristalografi.

Dalam studi Geologi, kita tentunya harus terlebih dahulu menguasai
tentang kristal sebelum mempelajari tingkat selanjutnya dalam ilmu Geologi.
Karena itu kristal adalah syarat untuk dapat mempelajari Geologi.

1.2. MAKSUD DAN TUJUAN.
1.2.1. MAKSUD.
Dalam studi Geologi, tentu kita harus mempelajari tentang kristal dan
semua yang berhubungan dengan kristal itu sendiri. Hal ini jelas harus dilakukan
karena kristal adalah dasar dari ilmu Geologi itu sendiri. Kristal adalah dasar dari
mineral, mineral adalah pembentuk batuan, dan Bumi ini terdiri dari batuan-
batuan. Jadi, dalam studi kristal yang dilakukan pada awal studi Geologi ini
dimaksudkan agar kita dapat menguasai hal-hal tentang kristal sebagai bekal
untuk mempelajari tingkat yang lebih lanjut dalam ilmu Geologi.
[Type text]

Riyan nasrul
Page 5

1.2.2. TUJUAN.
Dalam kegiatan mempelajari dan praktikum Kristalografi, kita dituntut untuk
dapat :
1. mengenal dan menguasai bentuk-bentuk kristal
2. mendiskripsikan kandungan unsur simetri dari tiap bentuk kristal dan
mengklasifikasikannya berdasarkan hukum-hukum geometri
3. menguasai indices dan dapat menghitung sudut antar bidang kristal
4. dapat menentukan dan menjelaskan simbol-simbol yang ada pada kristal
5. membuat proyeksi streografis dari masing-masing kelas kristal
6. dapat mengenal mineral berdasarkan bentuk kristal idealnya
1.4. LANDASAN TEORI.
Bumi yang kita pijak ini adalah bagian dari alam semesta yang begitu luas.
Sistem tata surya kita hanya satu dari milyaran bintang yang ada dijagat raya ini.
Bisa kita bayangkan betapa kecilnya Bumi ini bila dibandingkan dengan alam.
Berbagai bahan pembentuk Bumi terbentuk oleh proses alam yang panjang sejak
terbentuknya Bumi. Jangka waktu pembentukkan tersebut dapat kita ketahui
dalam ilmu Geologi dengan mengamati batuan-batuan yang ada di Bumi. Batuan
adalah kumpulan satu atau lebih mineral (terutama mineral golongan silika / pada
Bowens series).

Yang dimaksud dengan Mineral sendiri adalah bahan anorganik, terbentuk
secara alamiah, seragam dengan komposisi kimia yang tetap pada batas
volumenya dan mempunyai kristal kerakteristik yang tercermin dalam bentuk
fisiknya. Jadi, untuk mengamati proses Geologi dan sebagai unit terkecil dalam
Geologi adalah dengan mempelajari kristal.

Kristalografi adalah suatu ilmu pengetahuan kristal yang dikembangkan
untuk mempelajari perkembangan dan pertumbuhan kristal, termasuk bentuk,
struktur dalam dan sifat-sifat fisiknya. Dahulu, Kristalografi merupakan bagian
[Type text]

Riyan nasrul
Page 6

dari Mineralogi. Tetapi karena bentuk-bentuk kristal cukup rumit dan bentuk
tersebut merefleksikan susunan unsur-unsur penyusunnya dan bersifat tetap untuk
tiap mineral yang dibentuknya., maka pada akhir abad XIX, Kristalografi
dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan tersendiri.















[Type text]

Riyan nasrul
Page 7

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. PENGERTIAN SERI REAKSI BOWEN.
Seri Reaksi Bowen adalah gambaran bagaimana magma merubah bentuk
mineral sebagai akibat dari proses pendinginan. seorang petrologist yang bernama
Norman Bowen (1887- 1956) telah menyelesaikan eksperimennya pada awal
tahun 1900-an yang mendukung teori granit. beliau menemukan bahwa magma
basalt mendingin secara lambat dan membentuk mineral tertentu. Bowen
menyimpulkan dua bagian unit proses reaksi pendinginan dan dia
menamakan reaksi tidak menerus dan reaksi menerus.
Seri Reaksi Bowen merupakan suatu skema yang menunjukan urutan
kristalisasi dari mineral pembentuk batuan beku yang terdiri dari dua bagian.

Mineral-mineral tersebut dapat digolongkan dalam dua golongan besar yaitu:
1. Golongan mineral berwarna gelap atau mafik mineral.
2. Golongan mineral berwarna terang atau felsik mineral.
Dalam proses pendinginan magma dimana magma itu tidak langsung
semuanya membeku, tetapi mengalami penurunan temperatur secara perlahan
bahkan mungkin cepat. Penurunan tamperatur ini disertai mulainya pembentukan
dan pengendapan mineral-mineral tertentu yang sesuai dengan temperaturnya
Pembentukan mineral dalam magma karena penurunan temperatur telah disusun
Bowen.

Sebelah kiri mewakili mineral-mineral mafik, yang pertama kali terbentuk dalam
temperatur sangat tinggi adalah Olivin. Akan tetapi jika magma tersebut jenuh
oleh SiO2 maka Piroksenlah yang terbentuk pertama kali. Olivin dan Piroksan
merupakan pasangan Incongruent Melting; dimana setelah pembentukkannya
Olivin akan bereaksi dengan larutan sisa membentuk Piroksen. Temperatur
[Type text]

Riyan nasrul
Page 8

menurun terus dan pembentukkan mineral berjalan sesuai dangan temperaturnya.
Mineral yang terakhir tarbentuk adalah Biotit, ia dibentuk dalam temperatur yang
rendah.

Mineral disebelah kanan diwakili oleh mineral kelompok Plagioklas, karena
mineral ini paling banyak terdapat dan tersebar luas. Anorthite adalah mineral
yang pertama kali terbentuk pada suhu yang tinggi dan banyak terdapat pada
batuan beku basa seperti Gabro atau Basalt. Andesin terbentuk peda suhu
menengah dan terdapat batuan beku Diorit atau Andesit. Sedangkan mineral yang
terbentuk pada suhu rendah adalah albit, mineral ini banyak tersebar pada batuan
asam seperti granit atau rhyolite. Reaksi berubahnya komposisiPlagioklas ini
merupakan deret : Solid Solution yang merupakan reaksi kontinue, artinya
kristalisasi Plagioklas Ca-Plagioklas Na, jika reaksi setimbang akan berjalan
menerus. Dalam hal ini Anorthite adalah jenis Plagioklas yang kaya Ca, sering
disebut Juga "Calcic Plagioklas", sedangkan Albit adalah Plagioklas kaya Na (
"Sodic Plagioklas / Alkali Plagioklas" ).

Mineral sebelah kanan dan sebelah kiri bertemu pada mineral Potasium Feldspar
ke mineral Muscovit dan yang terakhir mineral Kwarsa, maka mineral Kwarsa
merupakan mineral yang paling stabil diantara seluruh mineral Felsik atau mineral
Mafik, dan sebaliknya mineral yang terbentuk pertama kali adalah mineral yang
sangat tidak stabil dan mudah sekali terubah menjadi mineral lain.

Mineral pembentuk batuan adalah mineral-mineral yang menyusun suatu
batuan dengan kata lain batuan yang terdiri dari berbagai macam mineral. Ada
juga terdapat batuan yang hanya terdiri dari satu mineral saja, seperti Dunit yang
hanya terdiri dari satu mineral yaitu Olivine.

Dalam proses pendinginan magma dimana magma itu tidak langsung
semuanya membeku, tetapi mengalami penurunan temperatur secara perlahan
bahkan mungkin cepat. Penurunan temperature ini disertai mulainya pembentukan
[Type text]

Riyan nasrul
Page 9

dan pengendapan mineral-mineral tertentu yang sesuai dengan temperaturnya.
Pembentukan mineral dalam magma karena penurunan temperatur telah disusun
oleh Bowen (seri reaksi Bowen).


2.2. PENGERTIAN MINERAL SILIKAT.
Mineral silikat adalah mineral yang memiliki unsure pembentuknya yaitu
silica ( SiO2 ), yang merupakan hasil pembekuan magma. Silicat merupakan 25%
dari mineral yang dikenal dan 40% dari mineral yang dikenali. Hampir 90 %
mineral pembentuk batuan adalah dari kelompok ini, yang merupakan
persenyawaan antara silikon dan oksigen dengan beberapa unsur metal. Karena
jumlahnya yang besar, maka hampir 90 % dari berat kerak-Bumi terdiri dari
mineral silikat, dan hampir 100 % dari mantel Bumi (sampai kedalaman 2900 Km
dari kerak Bumi). Silikat merupakan bagian utama yang membentuk batuan baik
itu sedimen, batuan beku maupun batuan malihan (metamorf). Silikat pembentuk
batuan yang umum adalah dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok
ferromagnesium dan non-ferromagnesium.
[Type text]

Riyan nasrul
Page 10

Macam mineral silikat dapat digolongkan berdasarkan komposisi
kimianya. Mineral silikat ferromagnesian adalah mineral silikat yang mengandung
ion besi dan atau magnesium di dalam struktur mineralnya. Mineral-mineral
silikat yang tidak mengandung ion-ion besi dan magnesium disebut mineral non
feromagnesian. Mineral-mineral silikat feromegnesian dicirikan oleh warnanya
yang gelap dan mempunyai berat jenis antara 3,2 sampai 3,6. Sebaliknya mineral-
mineral silikat non feromagnesian pada umumnya mempunyai warna terang dan
berat jenis rata-rata 2,7. perbedaan tersebut terutama disebabkan oleh ada tidaknya
unsur besi didalam mineral tersebut.
a. Olivin adalah mineral silikat feromagnesian yang tersebentuk pada
temperatur tinggi, berwarna hitam sampai hijau kehitaman, mempunyai
kilat gelas dan pecahan konkoidal. Mineral olvin pada umumnya
menunjukan kenapakan butiran bentuk relatif kecil dan bundar. Olivin
disusun oleh tetra hidra tunggal yang diikat bersama oleh campuran ion
besi dan magnesium yang merangkai atom oksigen bersama-sama.
Mineral ini tidak mempunyai bidang belahan strktur atomnya membentuk
jaringan tiga dimensi sehingga tidak membentuk bidang yang lemah.
b. Piroksin, berwarna hitam, opak, dengan bidang belahan dua arah
membentuk sudut 90
0
. Strktur kristalnya disusun oleh rantai tunggal
tetrahedra yang diikat bersama-sama dengan ion-ion besi dan magnesium.
Karena ikatan silikon oksigen lebih kuat daripada ikatan antara struktur
silikat, maka firoksin mudah terbelah sejajar dengan rantai silikat. Piroksin
merupakan salah satu mineral yang dominan dalam batuan
beku basalt yang merupakan batuan yang umumpada kerak samudera.






[Type text]

Riyan nasrul
Page 11

c. Hornblende merupakan mineral yang umum dikelompok amfibol.
Mineral ini umumnya berwarna hijau gelap sampai hitam. Belahan dua
arah membentuk sudut 60
0
dan 120
0
. didalam batuan, hornblende
berbentuk prismatik panjang. Bentuk inilah yang umumnya
membedakan dengan firoksin yang umumnya berbentuk prismatuik
pendek. Hornblende umunya dijumpai pada batuan yang menyusun kerak
benua.





d. Biotit merupakan anggota dari mika yang berwarna gelap karena kaya
akan besi. Seperti mineral mika lainnya, biotit disusun oleh struktur
lebaran yang memberikan belahan satu arah. Biotit mempunyai warna
hitam mengkilap yang membedakan dari mineral ferromagnesian lainnya.
Seperti hornblende, biotit banyak dijumpai pada batuan penyusun kerak
benua, termasuk batuan beku granit.
e. Moskovit adalah jenis mineral mika yang sangat umum. Berwarna terang
dengan kilap seperti mutiara (pearly) dan seperti mineral mika lainnya
belahannya satu arah. Didalam batuan muskovit sangat mudah dikenali
karena sangat bercahaya.
f. Feldpart merupakan huruf mineral yang sangat umum, dapat terbentuk
pada rentang temperatur dan tekanan yang besar. Group mineral feldspart
mempunyai sifat fisik yang sama. Mineral ini mempunyai bidang belahan
dua arah dan membentuk sudut hampir 90
0
, relatif keras dan kilap
bervariasi antara kilap kaca sampai mutiara. Didalam batuan mineral ini
dikenali dengan bentuknya yang rektangular dan permukaan yang licin.
Struktur mineral feldspard adalah rangkaian tiga dimensi dari atom
oksigen bergabung dengan atom silikon. Seperempat dari ataom silikon
[Type text]

Riyan nasrul
Page 12

tergantikan oleh atom aluminium. Perbendaan valinesi antara aliminium
(+3) dan silikon (+4), menyebabkan terjadinya inklusi 1 atau lebih ion-ion
seperti potasium (-1), sodium (-1) dan kalsium (+2). Karena adanya
perbedaan inklusi didalam strukturnya, mineral feldspard dapat dibedakan
menjadi dua macam.
g. Mineral ortoklas merupakan mineral feldspar dengan ion potasium
didalam struktur kristalnya. Plagioklas feldspar adalah mineral feldspar
dengan ion kalsium dan atau sodium didalam struktur kristalnya. mineral
ortoklas berwarna krem terang sampai merah jambu, sedangkan plagioklas
berwarna putih sampai abu-abu terang. Meskipun keduanya mempuntai
warna yang berbeda tetapi warna tidak dapat dijadikan sebagai dasar untuk
membedakannya. Salah satu sifat fisik yang dapat membedakannya adalah
adanya striasi yang sejajar pada mineral plagioklas yang tidak dijumpai
pada mineral ortoklas.
h. Kuarsa merupakan mineral silikat yang hanya disusun oleh silikon dan
oksigen. Mineral kuarsa juga sering disebut silika karena komposisinya
S
i
O
2
. karena struktur kuarsa mengandung dua atom oksigen untuk tiap
atom silikon, maka tidak dibutuhkan lagi ion positif untuk menjadikan
mineral kuarsa ini netral. Struktur kristak kuarsa membentuk jaringan tiga
dimensi yang lengkap antara ion oksigen disekitar ion silikon, sehingga
membentuk suatu ikatan yang kuat antara keduanya. Akibatnya kuarsa
tidak mempunyai bidang belahan, sangat keras dan resistan terhadap
proses pelapukan. Kuarsa mempunyai belahan konkoidal. Pada bentuknya
yang sempurna kuarsa sangat jernih, membentuk kristal eksagonal dengan
bentuknya piramidal. Warna mineral kuarsa sangat bervariasi tergantung
pada proses pengotoran pada waktu pembentukannya. Variasi warna
menyebabkan adanya bermacam mineral kuarsa. Mineral kuarsa yang
umum adalah kuarsa susu (putih), kuarsa asap (abu-abu) kuarsa rose
(ping), ametis (purple) dan kristal batuan (clear).

[Type text]

Riyan nasrul
Page 13

2.3. PENGERTIAN MINERAL NON SILIKAT.
Mineral silikat adalah kelompok mineral yang unsure pembentuknya
bukan dari silica. Secara garis besar hampir semua mempunyai komposisi kimia
yang sederhana ; berupa unsur, sulfida (bila unsur logam bersenyawa dengan
sulfur), atau oksida (bila unsur logam bersenyawa dengan oksigen). Native
element seperti tembaga, perak atau emas agak jarang terdapat. Sulfida kecuali
Pirit, tidak jarang ditemukan, tetapi hanya cukup berarti bila relatif terkonsentrasi
dalam urat (Vein) dengan cukup besar.
Berikut ini adalah mineral mineral yang yang non silikat :
a. Mineral Sulfida

Kelas mineral sulfida atau dikenal juga dengan nama sulfosalt ini
terbentuk dari kombinasi antara unsur tertentu dengan sulfur (belerang). Pada
umumnya unsure utamanya adalah logam (metal). Pembentukan mineral kelas ini
pada umumnya terbentuk disekitar wilayah gunung api yang memiliki kandungan
sulfur yang tinggi. Proses mineralisasinya terjadi pada tempat-tempat keluarnya
atau sumber sulfur. Unsur utama yang bercampur dengan sulfur tersebut berasal
dari magma, kemudian terkontaminasi oleh sulfur yang ada disekitarnya.
Pembentukan mineralnya biasanya terjadi dibawah kondisi air tempat terendapnya
unsur sulfur. Proses tersebut biasanya dikenal sebagai alterasi mineral dengan
sifat pembentukan yang terkait dengan hidrotermal (air panas).
Mineral kelas sulfida ini juga termasuk mineral-mineral pembentuk bijih
(ores). Dan oleh karena itu, mineral-mineral sulfida memiliki nilai ekonomis yang
[Type text]

Riyan nasrul
Page 14

cukup tinggi. Khususnya karena unsur utamanya umumnya adalah logam. Pada
industri logam, mineral-mineral sulfides tersebut akan diproses untuk
memisahkan unsur logam dari sulfurnya.
Beberapa penciri kelas mineral ini adalah memiliki kilap logam karena
unsur utamanya umumnya logam, berat jenis yang tinggi dan memiliki tingkat
atau nilai kekerasan yang rendah. Hal tersebut berkaitan dengan unsur
pembentuknya yang bersifat logam.
Beberapa contoh mineral sulfides yang terkenal adalah pyrite (FeS3),
Chalcocite (Cu2S), Galena (PbS), sphalerite (ZnS) dan proustite (Ag3AsS3). Dan
termasuk juga didalamnya selenides, tellurides, arsenides, antimonides,
bismuthinides dan juga sulfosalt.
b. Mineral oksida dan hidroksida

Mineral oksida dan hidroksida ini merupakan mineral yang terbentuk dari
kombinasi unsur tertentu dengan gugus anion oksida (O) dan gugus hidroksil
hidroksida (OH atau H). Mineral oksida terbentuk sebagai akibat persenyawaan
langsung antara oksigen dan unsur tertentu. Susunannya lebih sederhana
dibanding silikat. Mineral oksida umumnya lebih keras dibanding mineral lainnya
kecuali silikat. Mereka juga lebih berat kecuali sulfida. Unsur yang paling utama
dalam oksida adalah besi, chrome, mangan, timah dan aluminium. Beberapa
mineral oksida yang paling umum adalah es (H2O), korondum (Al2O3),
hematit (Fe2O3) dan kassiterit (SnO2).
[Type text]

Riyan nasrul
Page 15

Seperti mineral oksida, mineral hidroksida terbentuk akibat pencampuran
atau persenyawaan unsur-unsur tertentu dengan hidroksida (OH). Reaksi
pembentukannya dapat juga terkait dengan pengikatan dengan air. Sama seperti
oksida, pada mineral hidroksida, unsur utamanya pada umumnya adalah unsur-
unsur logam. Beberapa contoh mineral hidroksida adalah goethit (FeOOH) dan
limonite (Fe2O3.H2O).
c. Mineral Carbonat

Merupakan persenyawaan dengan ion (CO3)2-, dan disebut karbonat,
umpamanya persenyawaan dengan Ca dinamakan kalsium karbonat, CaCO3
dikenal sebagai mineral kalsit. Mineral ini merupakan susunan utama yang
membentuk batuan sedimen. Carbonat terbentuk pada lingkungan laut oleh
endapan bangkai plankton. Carbonat juga terbentuk pada daerah evaporitic dan
pada daerah karst yang membentuk gua (caves), stalaktit, dan stalagmite. Dalam
kelas carbonat ini juga termasuk nitrat (NO3) dan juga Borat (BO3).Carbonat,
nitrat dan borat memiliki kombinasi antara logam atau semilogam dengan anion
yang kompleks dari senyawa-senyawa tersebut (CO3, NO3, dan BO3).
Beberapa contoh mineral yang termasuk kedalam kelas carbonat ini adalah
dolomite (CaMg(CO3)2, calcite (CaCO3), dan magnesite (MgCO3). Dan contoh
mineral nitrat dan borat adalahniter (NaNO3) dan borak (Na2B4O5(OH)4.8H2O).
d. Mineral Klorit
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral
klorit adalah:
(3.1) Mineral Halit (NaCl)
[Type text]

Riyan nasrul
Page 16

e. Mineral Sulfat

Sulfat terdiri dari anion sulfat (SO42-). Mineral sulfat adalah kombinasi
logam dengan anion sufat tersebut. Pembentukan mineral sulfat biasanya terjadi
pada daerah evaporitik (penguapan) yang tinggi kadar airnya, kemudian perlahan-
lahan menguap sehingga formasi sulfat dan halida berinteraksi. Pada kelas sulfat
termasuk juga mineral-mineral molibdat, kromat, dan tungstat. Dan sama seperti
sulfat, mineral-mineral tersebut juga terbentuk dari kombinasi logam dengan
anion-anionnya masing-masing.
Contoh-contoh mineral yang termasuk kedalam kelas ini adalah anhydrite
(calcium sulfate), Celestine (strontium sulfate), barite (barium sulfate), dan
gypsum (hydrated calcium sulfate). Juga termasuk didalamnya mineral chromate,
molybdate, selenate, sulfite, tellurate serta mineral tungstate.
f. Mineral Silicate (Si, O)
Silicat merupakan 25% dari mineral yang dikenal dan 40% dari mineral
yang dikenali. Hampir 90 % mineral pembentuk batuan adalah dari kelompok ini,
yang merupakan persenyawaan antara silikon dan oksigen dengan beberapa unsur
metal. Karena jumlahnya yang besar, maka hampir 90 % dari berat kerak-Bumi
terdiri dari mineral silikat, dan hampir 100 % dari mantel Bumi (sampai
kedalaman 2900 Km dari kerak Bumi). Silikat merupakan bagian utama yang
membentuk batuan baik itu sedimen, batuan beku maupun batuan malihan
(metamorf). Silikat pembentuk batuan yang umum adalah dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu kelompok ferromagnesium dan non-ferromagnesium.
[Type text]

Riyan nasrul
Page 17

BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN.
Dengan mempelajari dan melakukan praktikum tentang geologi fisik yang
menjadi bagian dari praktikum Kristal dan Mineral. Dapat saya ambil kesimpulan
bahwa betapa pentingnya untuk dapat mengenal, mengetahui dan menguasai ilmu
tentang kristal dalam studi Geologi. Karena kristal sendiri adalah merupakan salah
satu dasar yang paling penting dalam ilmu Geologi itu sendiri. Hal tersebut
dikarenakan oleh kristal menjadi salah satu dasar untuk mempelajari ilmu tentang
mineral yang akan dipelajari pada tahap selanjutnya. Jika tidak menguasai dan
mengenal tentang kristal, akan sangat sulit untuk selanjutnya memmahami
Mineralogi, dan mineral itu sendiri adalah pembentuk batuan, sedangkan batuan
itu adalah inti dari Geologi. Hal ini juga menyebabkan Kristalografi dan
Mineralogi menjadi syarat untuk dapat melanjutkan studi pada mata kuliah dan
praktikum Petrologi yang akan dipelajari selanjutnya.
Selama melakukan praktikum Kristalografi, praktikan diharapkan mampu
mengenal, mengklasifikasi, mendeskripsi serta menggambar sketsa dari masing-
masing ancer kristal yang ada, yaitu, Isometrik, Tetragonal, Hexagonal, Trigonal,
Orthorhombik, Monoklin serta Triklin. Dan tentu saja praktikan diharapkan
mampu untuk mengetahui defenisi dari kristal itu sendiri, proses-proses
pembentukkannya, dan juga mengetahui ancer-unsur yang ada pada kristal itu
sendiri. Seperti sumbu simetri, sudut simetri, dan juga bidang simetri. Selain itu
praktikan juga harus mengetahui aplikasi dari Kristalografi itu sendiri, khususnya
dibidang Geologi.
Dalam praktikum geologi fisik yang dilakukan dilaboratorium
Kristalografi dan Mineralogi pada jurusan Teknik Geologi, sekolah tinggi
teknologi nasional.
[Type text]

Riyan nasrul
Page 18

Setelah mempelajari dan melakukan praktikum Kristalografi, diharapkan
untuk kedepannya dalam mempelajari Mineralogi akan dapat lebih mudah dengan
memiliki dasar-dasar yang telah didapat pada Kristalografi.
3.2. SARAN.
Selama mempelajari dan melakukan praktikum geologi fisik, telah banyak
yang dapat kita pelajari. Baik dalam hal ilmu tentang kristal itu sendiri pada
khususnya serta tentang aplikasi dan manfaatnya dalam bidang Geologi dan juga
dikehidupan sehari-hari.
Dalam melakukan praktikum geologi fisik, dapat kita sadari bersama ada
beberapa kekurangan yang cukup menghambat berjalannya proses praktikum.
Salah satu yang paling dapat dirasakan adalah kurangnya jumlah sampel (contoh)
kristal yang ada dilaboratorium Kristalografi dan Mineralogi. Maka diharapkan
agar kedepannya kekurangan tersebut dapat ditutupi sehingga proses praktikum
yang dilakukan dapat berjalan ancer. Dan satu hal lagi yang juga perlu
diperhatikan adalah waktu praktikum yang kadang tidak tepat pada waktunya.
Diharapkan agar untuk kedepannya kita dapat sama-sama untuk menjaga hal
tersebut agar tidak terulang atau paling tidak dikurangi. Dengan begitu diharapkan
praktikum yang dilakukan dapat lebih baik lagi.
Namun pada dasarnya, diluar kekurangan-kekurangan yang ada.
Praktikum yang dilakukan sudah cukup baik. Dan tentu saja kita semua berharap
agar dapat terus lebih baik lagi dimasa depan.







[Type text]

Riyan nasrul
Page 19

DAFTAR PUSTAKA
http://geoenviron.blogspot.com/2012/10/praktikum-kristalografi.html
http://jojogeos.blogspot.com/2012/12/mineral-silika-dan-non-silika.html
http://tambangunp.blogspot.com/2013/03/mineral-mineral-pembentuk-batuan-
reaksi.html
http://petroclanlaboratory.weebly.com/bowen-reaction-series.html
http://nuranigeo.blogspot.com/2013/04/seri-reaksi-bowen-bowen-reaction-
series.html