Anda di halaman 1dari 33

i

OPTIMALISASI POTENSI
EKONOMI DAERAH









1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Setiap daerah di Indonesia diberikan hak untuk melakukan otonomi daerah dengan
memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab yang dapat menjamin
perkembangan daerah. Pemberian kewenangan dilaksanakan secara proporsional yang
diwujudkan dengan pengaturan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang
berkeadilan serta perimbangan keuangan pusat dan daerah.
Potensi kekayaan nasional Indonesia pun sesungguhnya merupakan himpunan dari
potensi daerah- daerah yang ada di Indonesia. Jika dikaitkan dengan paradigma baru yang
menempatkan sumber daya manusia pada posisi utama dan sumber daya alam sebagai
pendukungnya, maka itu merupakan pengakuan bahwa akan menjadi andalan utama
perekonomian nasional.
Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 Tentang Otonomi Daerah telah mengubah
secara fundamental tata kehidupan bernegara di Indonesia. Secara normatif, kewenangan
penuh pemerintah pusat hanya tersisa pada lima bidang saja, yakni pertahanan-keamanan,
politik luar negeri, keuangan, agama, dan kehakiman. Sisanya menjadi kewenangan penuh
pemerintahan provinsi dan pemerintahan kabupaten/ kota. Dan Undang-undang No 25 tahun
1999 tentang perimbangan keuangan pemerintah Pusat dan Daerah, bahwa setiap kabupaten/
kota dituntut untuk dapat lebih mengoptimalkan penggalian potensi daerah yang ada.
Aparatur daerah dituntut untuk dapat berperan sebaai pelayan masyarakat yang baik. Disisi
lain aparatur daerah dituntut untuk dapat mengelola potensi daerah secara optimal. Dengan
format demikian, maka Indonesia telah memasuki era federalisme. Suatu negara menganut
federalisme jika seluruh kewenangan pada dasarnya ada di tangan daerah, kecuali beberapa
kewenangan yang secara alamiah memang harus berada di tangan pemerintah pusat (Basri,
2009:526).
Oleh karena itu, disetiap daerah harus mampu memberdayakan potensi daerahnya dan
memperkuat pembangunan ekonomi yang berkelanjutan melalui pemberdayaan ekonomi
yang bersumber pada potensi yang memiliki daya saing tinggi, berorientasi ekspor, dan
bertumpu pada potensi unggulan daerah dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada
di daerah sebagai andalan bahan baku yang menjamin kelangsungan usaha.


2


1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pembangunan ekonomi daerah dapat terealisasi dengan baik?
2. Bagaimana mengoptimalisasi potensi ekonomi suatu daerah?
3. Bagaimana permasalahan yang dihadapi suatu daerah dalam pembangunan ekonomi
daerah?
4. Bagaimana mengurangi ketimpangan ekonomi antar daerah?
5. Bagaimana perbandingan potensi ekonomi suatu daerah yang satu dengan daerah
lainnya?

1.3. Tujuan penulisan
1. Untuk mengetahui tahap-tahap pembangunan ekonomi daerah dan masalah yang
dihadapi serta pemecahannya agar rencana pembangunan ekonomi daerah dapat
terealisasi dengan baik
2. Untuk mengetahui cara yang harus ditempuh suatu daerah untuk mengoptimalisasi
potensi daerah
3. Untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi suatu daerah dalam melaksanakan
pembangunan ekonomi daerah
4. Untuk mengetahui cara yang harus ditempuh suatu daerah dalam mnegurangi
ketimpangan ekonomi
5. Untuk mengetahui perbandingan potensi ekonomi suatu daerah dan tindakan yang
dilakukan dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya.













3


BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Pembangunan Ekonomi Daerah
Lincoln (1999:298-299) mengemukakan definisi pembangunan ekonomi daerah
sebagai berikut:
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan
masyarakatnya mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola
kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan
kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam
wilayah tersebut.
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses yang mencakup pembentukan
institusi-institusi baru, pembangunan industri-industri alternatif, perbaikan kapasitas tenaga
kerja yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar
baru, alih ilmu pengetahuan, dan pengembangan perusahaan-perusahaan baru.
Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama untuk
meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Dalam upaya untuk
mencapai tujuan tersebut, pemerintah daerah dan masyarakatnya harus secara bersama-sama
mengambil inisiatif pembangunan daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah beserta
partisipasi masyarakatnya dan dengan menggunakan sumberdaya- sumberdaya yang ada dan
harus mampu menaksir potensi sumber daya yang diperlukan untuk merancang dan
membangun perekonomian daerah.

2.2 Perlunya Perencanaan Pembangunan Daerah
Menurut Lincoln (1999:303) perencanaan pembangunan ekonomi daerah bisa
dianggap sebagai perencanaan untuk memperbaiki penggunaan sumberdaya-sumberdaya
publik yang tersedia di daerah tersebut dan untuk memperbaiki kapasitas sektor swasta dalam
menciptakan nilai sumberdaya-sumberdaya swasta secara bertanggungjawab.
Mekanisme pasar tidak mampu menciptakan laju pembangunan yang cepat terutama
di negara sedang berkembang. Maka, campur tangan pemerintah tetap diperlukan, apabila
ingin mencapai proses pembangunan yang lebih cepat. Pentingnya campur tangan


4

pemerintah, terutama dalam pembangunan daerah dimaksudkan untuk mencegah akibat-
akibat buruk dari mekanisme pasar terhadap pembangunan daerah
Namun, keadaan sosial ekonomi yang berbeda dari setiap daerah akan membawa
implikasi bahwa cakupan campur tangan pemerintah untuk tiap daerah berbeda pula.
Perbedaan tingkat pembangunan antar daerah, mengakibatkan perbedaan tingkat
kesejahteraan antar daerah. Apabila hal ini dibiarkan dapat menimbulkan dampak yang
kurang menguntungkan bagi suatu negara. Gagasan ini timbul setelah melihat kenyataan
bahwa, apabila perkembangan ekonomi deserahkan pada kekuatan mekanisme pasar,
biasanya cenderung untuk memperbesar ketidakmerataan antar daerah, karena kegiatan
ekonomi akan menumpuk di tempat dan daerah-daerah tertentu. Memusatnya ekspansi
ekonomi di suatu daerah disebabkan berbagai hal, mislanya kondisi dan situasi alamiah yang
ada, letak geografis dan sebagainya. Ekspansi ekonomi suatu daerah akan mempunyai
pengaruh yang merugikan bagi daerah-daerah lain. Karena tenaga kerja yang ada, modal,
perdagangan akan pindah ke daerah yang melakukan ekspansi tersebut
2.3 Permasalahan Pembangunan Ekonomi Daerah
Permasalahan pokok dalam pembangunan daerah terletak pada penekanan terhadap
kebijakankebijakan pembangunan yang didasarkan pada kekhasan daerah yang
bersangkutan dengan menggunakan potensi sumber daya manusia, kelembagaan dan sumber
daya fisik secara local (daerah). Adapun faktor- faktor penghambat yang dapat menyebabkan
perekonomian di suatu daerah sulit berkembang adalah:.
2.3.1 Kemiskinan dan pengangguran
Masalah kemiskinan yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya
jumlah pengangguran dan peranan lembaga pendidikan. Pada masa ini, bukan saja laju
pertambahan angkatan kerja baru tidak bisa diserap oleh pasar tenaga kerja di tanah air,
melainkan juga terjadi pemutusan tenaga kerja di sektor formal yang berakibat bertambahnya
angkatan kerja yang menganggur, baik itu menganggur penuh atau sama sekali tidak bekerja
maupun yang setengah menganggur atau bekerja dibawah jam kerja normal. Kemudian
disamping itu peranan lembaga pendidikan adalah salah satu masalah lain yang terkait
dengan pengangguran yang tinggi berkaitan dengan pendidikan. Hal ini menimbulkan
pertanyaan tentang keterkaitan antara produk lembaga pendidikan tersebut dengan kebutuhan
tenaga kerja dalam perekonomian kita. Terlebih jika dicermati fakta yang ada, ternyata tidak
semua peluang atau kebutuhan tenaga kerja yang ada bisa terpenuhi hal demikian


5

menggambarkan adanya ketidaksejalanan antara kualifikasi angkatan kerja yang ada dengan
kesempatan kerja yang tidak terisi tersebut (Hamid, 2000:19)
2.3.2 Upah buruh dan produktivitas
Hamid (2000:29) mengemukakan bahwa:
Salah satu aspek lain yang tidak bisa dilupakan yaitu persoalan tingkat upah dan
produktifitas tenaga kerja itu sendiri. Aspek ini sangat penting bukan saja karena terkait
dengan upaya untuk memperoleh pendapatan yang layak, atau paling tidak untuk memenuhi
kebutuhan dasar manusia, melainkan juga terkait dengan kemampuan daya saing produk yang
di hasilkan.
Sejalan dengan perkembangan sektor industri, penyerapan tenaga kerja di industri
juga terus bertambah, walaupun masih relatif lambat. Dengan pertumbuhan yang cepat dari
sektor industri ini, terutama industri skala besar dan sedang, telah meningkatkan pula
penerimaan upah dari tenaga kerjanya.
Masalah rendahnya tingkat upah di Indonesia tidak hanya terkait dengan banyaknya
tenaga kerja yang ada dan besarnya tambahan angkatan kerja baru yang masuk bursa kerja.
Faktor lain yang menyebabkan murahnya tingkat upah adalah tingkat produktivitas yang
rendah.
Arah Kebijakan Ketenagakerjaan
Dalam penjelasannya, Hamid (2000:32) menjelaskan:
kebijakan ketenagakerjaan paling tidak harus menjawab tiga persoalan. Pertama,
terus menciptakan kesempatan kerja baru sehingga dapat mengimbangi pertambahan
angkatan kerja yang ada, serta dapat menyerap angkatan kerja yang saat ini masih
menganggur. Kedua, memberikan tingkat upah yang layak untuk memenuhi kebutuhan dasar
manusia. Ketiga, meningkatkan produktivitas dari para pekerja yang ada, sehingga dapat
menghasilkan produk yang kompetitif, sehingga mendorong produksi lebih lanjut. Dengan
adanya kenaikan peermintaan akan produk dari dalam maupun luar negeri akan berdampak
positif pada peningkatan kesempatan kerja dan tingkat upah.
Upaya percepatan peningkatan produktivitas tenaga kerja sector industri tidak hanya
terkait dengan perluasan peningkatan pendidikan dan keterampilan tenaga kerja, melainkan
juga dengan pola produksi ataupun teknologi dalam produksi. Semakin baik pola produksi
dan teknologi yang digunakan, maka semakin besar kemampuan tenagakerja tersebut


6

menghasilkan lebih banyak produk barang dan jasa, sehingga akan memberikan penghasilan
yang lebih banyak pula.
2.4 Kriteria Daerah Tertinggal
Berdasarkan RPJM 2010-2014 yang ditetapkan dengan Perpres No. 5 Tahun 2010, pengertian
daerah tertinggal adalah daerah kabupaten yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang
berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional. Daerah tertinggal ditetapkan
berdasarkan 6 kriteria, yaitu:
1. Perekonomian masyarakat, dengan variabel :
a. persentase keluarga miskin dan
b. pengeluaran konsumsi per kapita.
2. Sumber daya manusia, dengan variabel :
a. angka harapan hidup,
b. rata-rata lama sekolah dan
c. angka melek huruf.
3. Infrastruktur, dengan variabel :
a. jumlah desa dengan jenis permukaan jalan terluas (aspal, diperkeras, tanah)
b. rumah tangga (RT) pengguna listrik,
c. RT pengguna air,
d. RT pengguna telefon,
e. jumlah desa yang memiliki pasar tanpa bangunan permanen,
f. jumlah prasarana kesehatan per seribu penduduk,
g. jumlah dokter per seribu penduduk, jumlah SD/SMP per seribu penduduk
4. Kemampuan keuangan lokal, yaitu fiskal gap
5. Aksesibilitas, dengan variabel :
a. rata-rata jarak dari kantor desa/kelurahan ke kantor kab/kota,
b. akses ke pelayanan kesehatan > 5 km,
c. akses ke pelayanan pendidikan dasar
6. Karakteristik daerah, dengan variabel:
a. persentase desa gempa bumi,
b. persentase desa tanah longsor,
c. persentase desa banjir,
d. persentase desa bencana lainnya,
e. persentase desa di kawasan lindung,


7

f. persentase desa berlahan kritis,
g. persentase rata-rata desa konflik satu tahun terakhir.
Pada tahun 2004 berdasarkan kondisi kesenjangan pembangunan antar wilayah telah
ditetapkan 199 kabupaten yang tergolong daerah tertinggal, 62 persen berada di kawasan
timur Indonesia. Melalui kebijakan, strategi, program, dan kegiatan yang dilaksanakan
selama RPJMN 2004-2009, telah terjadi penurunan jumlah daerah tertinggal. Sebanyak 40
kabupaten (20,1 persen) dari 199 kabupaten yang pada awal pelaksanaan RPJM Nasional
dikategorikan sebagai daerah tertinggal berpotensi lepas dari status tertinggal menjadi daerah
yang relatif maju dalam skala nasional. Selanjutnya, pada akhir tahun 2009 terdapat 10
kabupaten yang berpeluang untuk menjadi daerah maju berdasarkan arah kecenderungan
yang terjadi. Dengan demikian, selama periode RPJMN 2004-2009 terdapat 50 kabupaten
tertinggal yang telah keluar dari daftar daerah tertinggal berdasarkan ukuran ketertinggalan.
Namun, sejalan dengan adanya pemekaran daerah, saat ini terdapat 34 kabupaten Daerah
Otonom Baru hasil pemekaran dari daerah induk yang merupakan daerah tertinggal sehingga
total daerah tertinggal pada tahun 2009 adalah sebanyak 183 kabupaten. Untuk itu, 183
kabupaten tertinggal ini akan menjadi fokus penanganan daerah tertinggal pada periode 2010-
2014.
Bila dilihat per provinsi, terdapat 26 provinsi yang memiliki kabupaten tertinggal, hanya
7 provinsi yang tidak mempunyai kabupaten yang tergolong tertinggal. Jika dilihat dari
jumlah kabupaten, provinsi yang paling banyak memiliki kabupaten tertinggal adalah
Provinsi Papua yaitu sebanyak 27 kabupaten kemudian diikuti Provinsi Nusa Tenggara Timur
sebanyak 21 kabupaten dan Provinsi Aceh sebanyak 12 kabupaten. Dibandingkan dengan
jumlah kabupaten/kota yang ada di Provinsi yang bersangkutan, Provinsi yang paling banyak
daerah tertinggal adalah Provinsi Sulawesi Barat (100%), yaitu seluruh daerahnya termasuk
daerah tertinggal, kemudian diikuti oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur (95,2%) dan Provinsi
Papua (93,1%).





8



Tabel Daerah Tertinggal Per Provinsi
No.
Jumlah Daerah
Provinsi Jumlah Kab/Kota Tertinggal
%
1. Aceh 23 12 52 , 2
2. Sumatera Utara 33 6 18 , 2
3. Sumatera Barat 19 8 42 , 1
4. Kepulauan Riau 7 2 28 , 6
5. Sumatera Selatan 15 7 46 , 7
6. Bangka Belitung 7 1 14 , 3
7. Bengkulu 10 6 60 , 0
8. Lampung 14 4 28 , 6
9. Jawa Barat 26 2 7 , 7
10. Banten 8 2 25 , 0
11. Jawa Timur 38 5 13 , 2
12. Kalimantan Barat 14 10 71 , 4
13. Kalimanatan Tengah 14 3 21 , 4
14. Kalimantan Timur 14 3 21 , 4
15. Sulawesi Utara 15 3 20 , 0
16. Gorontalo 6 3 50 , 0
17. Sulawesi Tengah 11 10 90 , 9
18. Sulawesi Selatan 24 4 16 , 7
19. Sulawesi Barat 5 5 100,0
20. Sulawesi Tenggara 12 9 75 , 0
21. Nusa Tenggara Barat 10 8 80 , 0
22. Nusa Tenggara Timur 21 20 95 , 2
23. Maluku 11 8 72 , 7
24. Maluku Utara 9 7 77 , 8
25. Papua 29 27 93 , 1
26. Papua Barat 11 8 72 , 7
Total 406 183 45 , 1
Sumber: http://kawasan.bappenas.go.id/


9



2.5 Potensi Ekonomi Daerah
Basri (2009:528-531) menjelaskan bahwa Individu- individu yang otonom merupakan
modal dasar bagi perwujudan ekonomi daerah yang hakiki. Oleh karena itu, penguatan
otonomi daerah harus dilakukan dengan membuka kesempatan sama yang seluas-luasnya
bagi setiap pelaku (di daerah) dalam rambu-rambu yang disepakati bersama sebagai jaminan
terselenggaranya sosial order. Otonomi juga memberikan peluang bagi berlangsungnya
persaingan sehat antar daerah, tentu saja dengan jaring- jaring pengaman agar tidak
mematikan daerah- daerah yang pada dasarnya memang belum mampu menyejajarkan diri
dengan daerah- daerah lain.
Pengalaman komparatif dari sejumlah Negara juga menunjukkan betapa sebuah
Negara akan maju dan kuat jika daerah- daerahnya sudah maju. Sebaliknya, sekuat apapun
pemerintahan pusat ataupun Negara, jika daerah-daerahnya tidak berkembang secara
optimal,pada akhirnya negara itu akan bangkrut dan bubar. Kekaisaran Romawi, imperium
pertama di dunia, membuktikan hal tersebut. Negara adalah suatau himpunan orang- orang
yang tinggal di berbagai daerahnya. Sebuah himpunan takkan kuat jika bagian- bagiannya
rapuh. Sebaliknya, jika bagian- bagian itu kokoh, maka himpunannya akan menjadi kokoh
dengan sendirinya.
Otonomi pada prinsipnya memang berusaha mendorong potensi daerah agar
berkembang menurut preferensi daerah itu sendiri sesuai dengan kondisi fisik daerah dan
aspirasi masyarakatnya yang terus berkembang. Karena hanya orang- orang daerah lah yang
mengetahui persoalan, potensi dan preferensi masyarakatnya dalam menentukan arah
pembangunan yang hendak dilaksanakan. Selain itu, keberagaman yang ada di bumi pertiwi
membuat konsep pembangunan yang sentralistik tidak lagi memiliki pijakan. Keberagaman
berbagai daerah dengan sendirinya akan mengarah pada spesialisasi masing-masing daerah
dengan potensi sumber daya alam, sumber daya manuasia dan letak geografisnya.
Pola pembangunan sentralistis pada masa orde baru telah menimbulkan kesenjangan
antara jawa, khususnya DKI Jakarta, dengan luar jawa, selain ketimpangan pada sektor
industri (modern) dengan sektor pertanian (tradisional) dan ketimpangan yang semakin lebar
antara kelompok masyarakat berpendapatan tinggi dengan yang berpendapatan rendah.


10

Padahal hakikatnya pembangunan adalah membentuk manusia-manusia atau individu-
individu otonom yang memungkinkan mereka mengaktualisasikan segala potensi terbaiknya
secara optimal. Dari sini muncul keberagaman dan spesialisasi sehingga menyuburkan
pertukaran atau transaksi. Inilah yang menjadi landasan kokoh bagi terwujudnya manusia-
manusia unggulan sebagai modal utama terbentuknya daya saing nasional dalam menghadapi
persaingan mondial.
Potensi ekonomi daerah pada dasarnya dapat diartikan sebagai sesuatu atau segala
sesuatu sumberdaya yang dimiliki oleh daerah baik yang tergolong pada sumberdaya alam
(natural resources/endowment factors) maupun potensi sumberdaya manusia yang dapat
memberikan manfaat (benefit) serta dapat digunakan sebagai modal dasar pembangunan
(ekonomi) wilayah.
Potensi sumberdaya ekonomi khususnya sumberdaya alam (natural
resources/endowment factors) pada prinsipnya dapat dikategorikan menjadi 3 bagian,
meliputi : a. sumberdaya alam yang tidak pernah habis (renewable-perpetual resources), b.
sumberdaya alam yang tidak dapat diperbarui (non-renewable or exhaustible resources), c.
sumberdaya alam yang potensial untuk diperbarui (potentially renewable resources).
Disamping komponen sumberdaya alam, pada saat ini peranan sumberdaya
manusia (human resources) dalam konteks kegiatan pembangunan ekonomi termasuk
pembangunan ekonomi daerah (wilayah) semakin signifikan. Faktor sumberdaya manusia ini
telah menghadirkan suatu proses pemikiran baru dalam telaah teori-teori pembangunan
ekonomi, yang menempatkan sumberdaya manusia sebagai poros utama pembangunan
ekonomi baik dalam skala global, nasional maupun daerah. Strategi pembangunan ekonomi
yang berbasis pada pengembangan sumberdaya manusia (human resources development)
dianggap sangat relevan dan cocok dengan kondisi dan karakter pembangunan ekonomi
2.6 Optimalisasi Potensi Ekonomi Daerah
Industri kreatif dan pariwisata di Indonesia memang mengalami kemajuan hingga
pengujung 2013. Hanya saja, optimalisasi di tingkat daerah belum dilaksanakan dengan baik.
Selain bisa menimbulkan kesenjangan dengan kota besar, niat negara lain untuk menguasai
pun terbuka lebar.


11

Sebagai negara yang memiliki kekayaan alam dan jumlah sumber daya manusia yang
besar, tidak sulit bagi Indonesia menguasai dunia. Apalagi didukung oleh pemerintahan yang
solid dan selalu memerhatikan kesejahteraan masyarakat.
Kenyataannya, hal itu belum terwujud secara sempurna. Namun, upaya melakukan
perbaikan menuju arah lebih baik memang terus digalakkan, termasuk di sektor industri
kreatif dan pariwisata.
Agar target yang sudah ditetapkan bisa terwujud, memang baiknya sederet upaya
harus direncanakan secara matang dan diimplementasikan secara berkesinambungan. Tentu
saja, potensi daerah yang digarap jangan itu-itu saja, lebih fokus pada kota-kota besar.
Padahal, masih banyak daerah di Indonesia yang belum terekspos, namun mempunyai
kekayaan alam melimpah.
Inilah yang sebenarnya menjadi tantangan bangsa Indonesia tahun ini. Saatnya
daerah-derah lain dioptimalkan pariwisata dan industri kreatifnya, sehingga bisa dikenal
secara nasional dan global.
2.7 Peranan Potensi Sumberdaya Ekonomi Dalam Pembangunan Daerah
Dalam era otonomi daerah kecepatan dan optimalisasi pembangunan daerah, akan
sangat ditentukan oleh kapasitas dan kapabilitas sumberdaya ekonomi (baik sumberdaya alam
maupun sumberdaya manusia). Keterbatasan dalam kepemilikan sumberdaya alam dan
sumberdaya manusia yang berkulitas dapat menimbulkan kemunduran yang sangat berarti
dalam dinamika pembangunan ekonomi daerah.
Konsekuensi lain yang ditimbulkan sebagai akibat keterbatasan dimaksud adalah
ketidakleluasaan daerah yang bersangkutan untuk mengarahkan program dan kegiatan
pembangunan ekonominya, dan situasi ini menyebabkan munculnya pula disparitas
pembangunan ekonomi wilayah. Kondisi ini tampaknya menjadi tak terhindarkan terutama
bila dikaitkan dengan pelaksanaan otonomi daerah dewasa ini.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas, seiring dengan semangat desentralisasi, sebagian
besar kewenangan pengelolaan sumberdaya alam sudah diserahkan kepada daerah, yang
selama ini tidak tersentuh oleh kewenangan Daerah Kabupaten/ Kota (pasal 129 UU Nomor
22 Tahun 1999), sangat memerlukan pengelolaan manajemen sumberdaya alam sehingga


12

pengelolaan, ketersediaan, dan kebijakan yang tepat, relevan serta komprehensif dapat
menjamin percepatan proses pembangunan daerah dan penguatan tatanan ekonomi daerah
yang pada gilirannya dapat menjamin keberlanjutan proses pembangunan.


13

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 POTENSI DAERAH MALANG
I. Potensi Unggulan

A. PERTANIAN
Sebagian besar pertanian terdapat di daerah Sukun, Blimbing dan Kedung Kandang. Pada
daerah daerah tersebut masih terdapat lahan lahan pertanian yang sangat potensial
terhadap sumber daya yang dapat diolah untuk tanaman pertanian.
1. Produksi tanaman pangan yang menonjol adalah sebagal berikut:
Ubi Kayu, dengan luas lahan 216 ha, produksi pertahun sebesar 2.647.36 ton
Padi, dengan luas lahan 2.481 ha, produksi pertahun sebesar l5.633.11 ton
Jagung, dengan luas lahan 300 ha, produksi pertahun sebesar 1.048.88 ton
Ubi Jalar, dengan luas lahan 17 ha, produksi pertahun sebesar 58.92 ton
Kacang tanah, dengan luas lahan 65 ha, produksi per tahun sebesar 68.06 ton

2. Produksi Holtikultura yang menonjol antara lain:
a. Sayursayuran:
Bawang Merah, dengan luas lahan 9 ha, produksi pertahun sebesar 80.1 ton
Sawi, dengan luas lahan 10 ha, produksi pertahun sebesar 23 ton
Tomat, dengan luas lahan 4 ha, produksi pertahun sebesar 13.2 ton
Kacang panjang,dengan luas lahan 22 ha, produksi pertahun sebesar 88 ton
Lombok, dengan luas lahan 16 ha, produksi pertahun sebesar 56 ton
Terong, dengan Juas lahan 8 ha, produksi pertahun sebesar 4 ton
Buncis, dengan luas lahan 10 ha, produksi pertahun sebesar 36 ton
Ketimun, dengan luas lahan 4 ha, produksi pertahun sebesar 34 ton
Labu Siam, dengan luas lahan 2 ha, produksi pertahun sebesar2l ton
b. Buahbuahan:
Pisang, dengan jumlah produksi pertahun sebesar 482.87 ton
Alpokat, dengan jumlah produksi pertahun sebesar 93.26 ton
Durian, dengan jumlah produksi pertahun sebesar 56.26 ton
Jambu Air, dengan jumlah produksi pertahun sebesar 73.646 ton


14

Jeruk, dengan jumlah produksi pertahun sebesar 47.01 ton
Mangga, dengan jumlah produksi pertahun sebesar 320.075 ton
Pepaya, dengan jumlah produksi pertahun sebesar 411.66 ton
Rambutan, dengan jumlah produksi pertahun sebesar 155.96 ton
Salak, dengan jumlah produksi pertahun sebesar 3.084.45 ton
Blimbing, dengan jumlah produksi pertahun sebesar 189.21 ton
Nangka, dengan jumlah produksi per tahun sebesar 752.32 ton

B. PERIKANAN
Pada daerah daerah Kedung Kandang banyak masyarakat yang memiliki kolam kolam
ikan yang sangat potensial.
Produksi Perikanan yang menonjol, antara lain:
Karamba, produksi pertahun sebesar 8.53 ton
Kolam, produksi pertahun sebesar 5.5 ton

C. PETERNAKAN
Produksi Peternakan yang menonjol, antara lain:
Ayam Buras, populasinya pertahun sebesar 56.689 ekor
Sapi potong, populasinya pertahun sebesar3.308 ekor
Sapi perah, populasinya per tahun sebesar 946 ekor
Kerbau, populasinya per tahun sebesar 232 ekor
Kuda, populasinya pertahun sebesar 72ekor
Domba, populasinya pertahun sebesar 448 ekor
Kambing, populasinya per tahun sebesar 1.335 ekor
Ayam Ras Petelor, populasinya pertahun sebesar 460 ekor
ltik, populasinya pertahun sebesar 9.210 ekor
Kelinci, populasinya pertahun sebesar492 ekor
Ayam Ras Pedaging, populasinya pertahun sebesar 260.000 ekor
Entog, populasinya pertahun sebesar 203 ekor

D. PERKEBUNAN
Produksi Perkebunan yang menonjol antara lain:
Kelapa, luas areal tanam 229.30 ha, produksi pertahun 281 .99 ton
Tebu, luas areal tanam 371.20 ha, produksi pertahun 55.644 ton


15

Kenanga, luas areal tanam 6.45 ha, produksi pertahun 7.222 ton
Kopi, luas areal tanam 7.70 ha, produksi pertahun 26.65 ton

E. PARIWISATA
Potensi obyek wisata yang menarik dan bervariasi meliputi:
a. Wisata Alam
Wisata Air Kali Amprong
Taman Wisata Hutan Malabar
Taman Wisata Tlogomas
b. Wisata Budaya:
Taman Wisata dan Budaya Senaputra
Wisata Museum Brawijaya
c. WisataReligius
Wisata Ziarah Makam KiAgeng Gribig

F. SUMBER DAYA GEOLOGI
1. Potensi Energi Geotermal
Energi Geotermal ini berada di gunung berapi aktif. Hasil manifestasi berupa mata air
panas , gas dan uap tanah. Energi panas ini sebagian besar hanya digunakan sebagai Wisata.
Penggunaan sebagai energi geotermal masih belum optimal dan masih berupa
eksplorasi. Daerah yang berpotensi ini antara lain : Songgoriti (Batu) dan Canggar yang
digunakan sebagai daerah wisata. Selain itu daerah Bromo dan Semeru mengandung potensi
panas bumi . Saat ini 2 titik siap diekplorasi yaitu WKP (Wilayah Kerja Pertambangan) , G.
Arjuna Welirang (cadangan 130 Mwe) , Kecamatan Karangploso, dan Songgoriti Kawi
(Sumberdaya 25 Mwe) , Kecamatan Wonosari. Selain Bagian Barat Wilayah Malang ,
daerah Gunung Bromo , Tengger, Semeru, diminati perusahan turki sebagai daerah yang juga
berpontensial.

Perusahaan Turki yang bakal membangun energi geothermal itu sudah mendapatkan
izin dari Menteri ESDM Jero Wacik. Lokasi yang dipilih adalah di kawasan Bromo-Tengger
yang tak masuk dalam kawasan taman nasional. Bahkan, pembangunan energi geothermal ini
tak hanya dibangun di Bromo, tapi dua tempat lainnya yaitu Gunung Lamongan dan Gunung
Lawu. Rencananya mereka akan membangun energi geothermal sebesar 1.100 megawatt.
Jika ini dibangun, tentu saja manfaatnya akan dirasakan oleh Jatim. Sebab energi akan masuk


16

ke perusahaan-perusahaan Jatim dan harganya murah. Kalau sudah demikian, dampaknya
akan luar biasa bagi Jatim, mulai dari terserapnya tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi yang
tinggi.
Ketiga titik area tersebut terletak di wilayah Kabupaten Malang, Lumajang, Pasuruan,
Probolinggo dan Mojokerto.

2. Potensi Air Mineral
Daerah yang dikelilingi gunung api membuat Malang memiliki sumberdaya air yang
melimpah. Sumberdaya air ini sebagian dimanfaatkan sebagai bahan baku air minum dan
mineral. Untuk mencukupi kebutuhan malang raya PDAM malang mengambil mata air
mendit sebagai bahan baku dasar.
Kota Malang yang berada pada ketinggian 399-622 meter di atas permukaan laut
dalam memenuhi ketersediaan air baku lebih banyak memanfaatkan sumber air yang berada
di luar wilayah Kota Malang. Di antaranya, sumber air Wendit dengan debit sebesar 1.500
liter per detik, sumber air Sumbersari dan Karangploso dengan debit sebesar 40 liter per
detik. Ketiga sumber air ini berada dalam wilayah Kabupaten Malang. Kota Malang juga
memanfaatkan sumber air Banyuning dan Binangun yang berada dalam wilayah Kota Batu.
Dalam pengelolaaannya, ketiga daerah otonom ini melakukan perjanjian kerja sama
pemanfaatan mata air.

3. Potensi Logam / Mineral
Pada wilayah selatan daerah malang termasuk kedalam fisiografi old andesit
formation (Pegunungan Selatan Jawa). Secara Geologi daerah ini mengandung logam/
mineral berharga seperti emas, perak, tembaga, dll. Mulai dari pelabuhan ratu, pengalengan,
kulon progo, pacitan , dan banyuwangi mengandung potensi logam dan mineral. Penemuan
besar yang ekonomis ini antara lain Cikotok (Pelabuhan Ratu), Cibaliung (Banten, Antam),
Pongkor (Bogor, Antam), Tumpang Pitu/ Bukit Tujuh ( Banyuwangi) dll. Daerah Selatan
malang selama ini sering disurvei oleh perusahaan eksplorasi baik dalam maupun luar negeri.
Tetapi sayangnya masih belum menemukan cadangan yang ekonomis.
Daerah yang berpontensi mengandung logam emas terdapat di daerah kecamatan
Ampelgading, Tirtoyudo, Sumbermanjing Wetan dan Tempursari (Kabupaten Lumajang).
daerah intrusi ini biasanya berbukit dan jauh dari penduduk.
4. Potensi Semen / Gamping


17

Selain terdiri dari endapan vulkanik tua (old andesit formation) bagian selatan malang
juga terdiri dari endapan karbonat tersier. Endapan karbonat ini digunakan sebagai bahan
baku utama semen. Sebagian besar endapan ini terdapat di kecamatan donomulyo, gedangan,
batur, sumbermanjing wetan dan Pagak (Kabupaten Malang). Endapan Karbonat ini memiliki
ciri khas dilihat dari geomorfologinya yang berbukit bukit dan terdapat gua - gua akibat
pelarutan gamping. Endapan ini sering disebut sebagai Karst.

Potensi gamping ini sudah diincar sejak lama sebagai bahan baku semen. Pada tahun
2007 grup Bosowa sempat menjajaki kemungkinan investasi sebesar 2 trillyun
rupiah.Keseriusan ini dibuktikan dengan kunjungan Aksa Mahmud --ipar mantan Wakil
Presiden Jusuf Kalla, bos Bosowa, ke Malang pada Mei 2007 . Namun rencana ersebut gagal
terealisasi.

Saat ini ijin untuk ekplorasi dan ekplotasi telah dikantongi oleh perusahaan PT
Senopati Dirgantara Perkasa. PT Senopati Dirgantara Perkasa siap menggelontorkan investasi
Rp 3-4 triliun. investasi jumbo untuk ukuran Malang-- ini disiapkan PT Senopati dengan
menggandeng investor asing dan investor domestik. Perusahaan yang dikenal berbisnis aspal
dan stasiun pengisian bahan bakar elpiji ini akan membangun pabrik semen di Kecamatan
Sumbermanjing Wetan. Untuk sementara, menurut Kukuh, rencana investasi tersebut belum
bisa dieksekusi karena moratorium tambang batuan dan mineral masih diberlakukan oleh
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Menurut Kukuh, Senopati berminat
membangun pabrik semen setelah melihat ribuan hektare pertambangan batu kapur atau karst
yang menjadi bahan baku utama semen. Sekitar 60 persen pertambahan batu kapur berada di
lahan milik Perhutani dan selama ini ditambang secara tradisional oleh masyarakat.

Senopati sudah mengincar potensi bahan baku semen yang melimpah di wilayah selatan
Kabupaten Malang sejak 2009. Saat itu perusahaan berencana menanamkan modal sekitar Rp
2,5 triliun.Pabrik semen yang direncanakan berkapasitas produksi 2 juta ton per tahun.
Sayangnya sifat pertambangan batugamping sangat merusak dan merubah morfologi alam.
sehingga perlu dikaji mendalam tentang dampak linkungan dari pertambangan tersebut. Saat
ini kegiatan skala kecil telah dilakukan di kecamatan sumbermanjing wetan.


5. Potensi Galian C


18

Sebagian besar Galian C berasal dari endapan gunung berapi di sekitar malang.
Galian ini biasanya dari hasil endapan sungai. Sebagian besar galian C ini berupa sirtu (Pasir
dan Batu) untuk digunakan sebagai bahan bangunan.Selain itu banyak juga terdapat intrusi
andesit dari gunung parasiter. Batuan andesit ini juga digunakan sebagai bahan bangunan.

2. SEKTOR TERSIER
a. Perdagangan
Perdagangan Dalam Negeri meliputi
KERAMIK
Lokasi : Kerajinan ini berpusat di daerah Dinoyo - Mt Haryono.
Bahan : Tanah Keramik

GERABAH
Lokasi : Kerajinan ini berpusat di Jl. Mayjen Panjaitan - Malang.
Bahan : Tanah Liat

KRIPIK TEMPE
Lokasi : Kerajinan ini berpusat di Sanan - Malang.
Bahan : Kedelai

MEBEL
Lokasi : Kerajinan ini berpusat di Jl Simpang Teluk - Malang.
Bahan : Kayu

ROTAN
Lokasi : Kerajinan ini berpusat hampir di seluruh Malang.
Bahan : Kayu Rotan

EMPING JAGUNG
Lokasi : Kerajinan ini berpusat di Jl Simpang Teluk - Malang
Bahan : Jagung

SANITER
Lokasi : Industri ini berpusat di daerah Jl Candi - Malang

KOMPOR


19

Lokasi : Industri ini berpusat di daerah Merjosari dan Tlogomas Malang.

INDUSTRI MAKANAN
Lokasi : Tersebar di Seluruh Kota Malang
Bahan : Sembako dan Makanan Ringan
b. Pariwisata
Pengembangan obyek wisata agama, Makam Ki Ageng Gribig
Pengembangan obyek wisata budaya, Wisata Museum Brawijaya, Taman wisata
dan Budaya Sanaputra.
Pengembangan obyek wisata alam, Wisata Air Kali Amprong, wisata Hutan
Malabar, Taman wisata Tlogomas

Analisis Internal
Kota Malang yang terletak pada ketinggian antara 440 - 667 meter diatas permukaan air laut,
merupakan salah satu kota tujuan wisata di Jawa Timur karena potensi alam dan iklim yang
dimiliki. Letaknya yang berada ditengah-tengah wilayah Kabupaten Malang secara
astronomis terletak 112,06 - 112,07 Bujur Timur dan 7,06 - 8,02 Lintang Selatan, dengan
batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kecamatan Singosari dan Kec. Karangploso Kabupaten Malang
Sebelah Timur : Kecamatan Pakis dan Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang
Sebelah Selatan : Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang
Sebelah Barat : Kecamatan Wagir dan Kecamatan Dau Kabupaten Malang
Secara administratif, Kota Malang terbagi menjadi lima kecamatan (Kedungkandang,
Sukun, Klojen, Blimbing dan Lowokwaru),57 Kelurahan. Kota ini memiliki jumlah
penduduk 756.982 Jiwa (sensus penduduk 2000).
Daerah penyelidikan mempunyai elevasi antara 300 - 1.694 m di atas muka air laut
dan secara morfologi dikelompokkan menjadi 3 (tiga) satuan morfologi, yaitu satuan
morfologi dataran yang menempati bagian tengah dan selatan, satuan morfologi pebukitan
bergelombang menempati bagian timur dan utara, dan satuan morfologi pegunungan
menempati wilayah bagian barat, utara dan timur. Karena letaknya yang cukup tinggi, Kota
Malang

memiliki udara yang sejuk dengan suhu rata-rata 24,13C dan kelembaban udara 72%
serta cerah hujan rata-rata 1.883 milimeter per tahun


20

Secara geologi daerahnya disusun oleh batuan hasil kegiatan gunungapi yang terdiri
dari tufa, tufa pasiran, breksi gunung api, aglomerat, dan lava. Secara hidrogeologi akumulasi
air tanah di Cekungan Malang dijumpai pada lapisan akuifer yang dapat dipisahkan menjadi
3 (tiga) kelompok, yaitu kelompok akuifer dengan kedalaman kurang dari 40 m, kelompok
akuifer dengan kedalaman antara 40 - 100 m, dan kelompok akuifer dengan kedalaman antara
100 - 150 m
Berdasarkan kuantitas dan kualitas air tanahnya, potensi air tanah di Cekungan Malang
dikelompokkan menjadi 4 (empat) wilayah potensi air tanah, yaitu :
Wilayah potensi air tanah besar;
Wilayah potensi air tanah sedang;
Wilayah potensi air tanah kecil;
Wilayah potensi air tanah langka.
Penggunaan lahan di daerah ini berupa hutan belukar yang menempati bagian barat, utara,
dan timur. Tanah pesawahan menempati bagian selatan yang merupakan pedataran, tanah
perkebunan, dan selebihnya merupakan tanah pemukiman penduduk perkotaan dan pedesaan.

REKAPITULASI PENDUDUK KOTA MALANG KEADAAN 12 SEPTEMBER 2013
BERDASARKAN JENIS KELAMIN
No Kecamatan Jumlah Penduduk Laki-laki Perempuan
1. Blimbing 185.187 92.745 92.442
2. Klojen 107.212 52.605 54.607
3. Kedung Kandang 191.851 96.343 95.508
4. Sukun 191.229 95.988 95.241
5. Lowokwaru 160.894 80.419 80.475
Jumlah 836.373 418.100 418.273
Sumber: dispendudukcapil.malangkota.go.id

3.2 POTENSI DAERAH PONTIANAK
Potensi yang Menjadi Perekonomian Kota Pontianak


21

Berdasarkan perhitungan PDRB, hampir seluruh sektor ekonomi mengalami
pertumbuhan. Laju pertumbuhan ekonomi ini antara lain didukung oleh pertumbuhan
disektor industri , sektor pertanian, sektor peternakan dan unggas, sektor perdagangan, hotel
dan restoran serta sektor-sektor lain yang peranannya lebih kecil. Tidak hanya itu, Kota
Pontianak juga memiliki potensi kekayaan alam yang menjajikan untuk dimanfaatkan dan
dikembangkan.
A. POTENSI PERTANIAN
Menurut penggunaannya ada dua jenis lahan di Kabupaten Pontianak yakni lahan
sawah dan lahan kering. Apabila lahan sawah meningkat maka lahan kering mengalami
penurunan.
B. POTENSI PERTAMBANGAN
Adapun potensi pertambangan yang ada di kabupaten Pontianak setelah terjadi
pemekaran kabupaten kuburaya adalah bahan galian golongan A seperti : timah hitam, bahan
galian golongan B yaitu: tembaga, emas, air raksa, intan, arsen, bismuth, molibdenit, gambut
dan bahan galian golongan C seperti : pasir kuarsa, kaolin, granit, andestis, trakhit, pasir-pasir
batu (sirtu).
C. POTENSI PARIWISATA
Potensi Pariwisata yang ada saat ini, Antara lain Pantai Kijing, Pantai Temajo,
Keroton Amantubillah, Makam Habaib Husina. Tetapi, pengelolaan fasilitasnya sangat
minim dan jauh dari yang diharapkan. Karena penggarapannya tidak optimal.
D. POTENSI INDUSTRI DAN KERAJINAN
Industri dikelompokkan menjadi 3 bagian yakni :
o Kelompok aneka industri
o Kelompok industri logam, mesin dan kimia
o Kelompok industri hasil pertanian dan kehutanan
E. POTENSI PERDAGANGAN
Jumlah Perusahaan Perdagangan Kabupaten Potianak sudah banyak terbukti Tanda
Daftar Usaha (TDU). Dilihat dari jumlah perusahaan yang ada dibandingkan potensi
sumberdaya alam maka masih banyak peluang untuk dikembangkan.


F. POTENSI PERKEBUNAN


22

Kabupaten Pontianak merupakan salah satu kabupaten yang potensial untuk
pengembangan perkebunan. Tanaman perkebunan andalan Pontianak adalah Karet.
Disamping perkebunan karet terdapat juga perkebunan kelapa yang berpotensi besar.
Biasanya terdapat di wilayah pesisir pantai.
G. POTENSI PERIKANAN DAN KELAUTAN
Salah satu potensi yang belum optimal digali adalah sektor perikanan dan pelabuhan.
Dengan wilayah berbatasan langsung dengan Laut Natuna maka kabupaten Pontianak sangat
berpotensi dengan Produksi ikan laut. Selama ini pertumbuhan produksi perikanan naik
turun, dikarenakan cara penangkapan ikan oleh nelayan masih menggunakan cara tradisional.
H. POTENSI KEHUTANAN
Sektor Kehutanan di Daerah ini cukup besar yang terdiri dari hutan lindung, cagar
alam, hutan produksi, hutan produksi terbatas, hutan produksi tetap dan hutan konversi.
Sedangkan potensi hutan yang dimanfaatkan terdiri dari hutan produksi terbatas, hutan
produksi tetap dan hutan produksi konversi.
Analisis Lingkungan Internal

Secara garis besar, analisis lingkungan internal bertujuan untuk memahami diri,
memetakan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki untuk kemudian diterjemahkan menjadi
potensi modal pembangunan. Tinjauan lingkungan internal ini tidak dapat terpisahkan dari
kondisi fisik dasar
daerah, kondisi kependudukan dan tenaga kerja; kondisi perekonomian, dan kondisi sumber
daya aparatur.

a. Secara geografis, Kota Pontianak merupakan Ibukota Propinsi Kalimantan Barat dengan
luas wilayah 107,82 km. Kota Pontianak terletak pada Lintasan Garis Khatulistiwa
dengan ketinggian berkisar antara 0,10 meter sampai 1,50 meter diatas permukaan laut.
Kota Pontianak memiliki luas lahan mencapai 10.782 Ha, dilintasi dua sungai besar
(Sungai Kapuas dan Sungai Landak) dan tidak jauh dari pantai. Struktur batuan adalah
sedimen alluvial dan jenis tanah adalah tanah liat, dimana sekitar 32% to-soil tertutup
lahan gambut. Ketinggian tanah 0,8-1,5 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan
lahan berkisar 0-2%, yang berarti topografinya cenderung datar dan miskin variasi kontur
mengakibatkan wilayahnya rawan akan genangan air terutama di musim penghujan,
dengan curah hujan cukup tinggi dengan rata-rata hari hujan mencapai 17 hari/bulan
dengan curah hujan mencapai 249 mm/bulan.


23


b. Kondisi kependudukan dan tenaga kerja. Kondisi penduduk Kota Pontianak sampai
dengan 31 Desember 2012 sebanyak 669.340 jiwa, terdiri atas laki-laki sebanyak
339.567 (50,73%) dan perempuan sebanyak 329.340 (49.27%), dengan laju pertumbuhan
penduduk rata-rata sebesar 3.25% per tahun. Berikut sebaran data penduduk per wilayah
administrasi kecamatan di Kota Pontianak tahun 2012.

No Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah Penduduk
1 Pontianak Selatan 50,055 49,417 99,472
2 Pontianak Timur 48,285 46,543 94,828
3 Pontianak Barat 75,640 73,089 148,729
4 Pontianak Utara 77,247 73,266 150,513
5 Pontianak Kota 63,703 63,298 127,001
6 Pontianak Tenggara 24,637 24,160 48,797
TOTAL 339,567 329,773 669,340

Penyebaran penduduk yang tidak merata di wilayah Kota Pontianak cenderung
mengumpul di wilayah selatan Sungai Kapuas di Kecamatan Pontianak Barat, Pontianak
Kota, Pontianak Selatan, dan Pontianak Tenggara. Pendapatan per kapitas penduduk menurut
harga konstan meningkat menjadi Rp16.27 juta dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 11,9%
per tahun. Angkatan kerja di Kota Pontianak selama dalam 5 tahun terakhir cenderung
meningkat, dengan rata-rata tumbuh sebesar 5,22% per tahun. Hal ini diimbangi dengan
peningkatan jumlah angkatan kerja mencapai 86,84%. Jumlah masyarakat miskin setiap
tahunnya cenderung meningkat, hingga mencapai 21.474 KK atau mencapai 15.88%.
c. Kondisi Perekonomian. Selama periode RPJM tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi
Kota Pontianak mencapai rata-rata 6% per tahun hingga tahun 2012. Nilai PDRB per
kapita pada tahun 2010 mencapai Rp. 12,513,892 meningkat 33,50 % dibanding pada
tahun 2007 yang mencapaiRp. 8,323,372.



24

Struktur ekonomi terbentuk atas kontribusi dari tiga sektor utama, yaitu perdagangan,
hotel, dan restoran sebesar 22,81%, jasa-jasa 20,83%, pengangkutan dan komunikasi 20,35%.
Terjadi ketimpangan (disparitas) pertumbuhan pembangunan antar kecamatan, namun setiap
kecamatan memiliki potensi dan struktur perekonomian yang berbeda dan bisa diunggulkan.
Secara umum, sumber keuangan daerah masih sangat bergantung pada dukungan dana dari
pemerintah pusat melalui DAU, meskipun peningkatan PAD semakin besar. PAD Kota
Pontianak sebesar 22,45% jumlah ini masih diatas rata-rata PAD Pemerintah Daerah se
Indonesia yang sebesar 20,4%. Pada tahun 2011 lalu, pendapatan asli daerah (PAD) Kota
Pontianak, Kalimantan Barat, dalam tiga tahun naik dari Rp 60 Milyar menjadi Rp 206
Milyar.

Analisis Lingkungan Eksternal
Analisis lingkungan eksternal bertujuan untuk memetakan peluang dan ancaman yang
dihadapi dalam 5 tahun mendatang sebagai dasar awal untuk meletakkan kerangka
pembangunan Kota Pontianak. Tinjauan eksternal ini tidak dapat dipisahkan dari posisi
(positioning analysis) Kota Pontianak baik dalam lingkungan regional, nasional maupun
internasional.
Dalam lingkup regional, Kota Pontianak berkedudukan sebagai pusat pertumbuhan
Wilayah Pembangunan B (WP-B), yang terdiri dari Kota Pontianak, Kab. Pontianak dan Kab.
Kubu Raya. Kota Pontianak merupakan pusat pembangunan utama di Provinsi kalimantan
Barat. Bidang pembangunan yang utama yang akan terus dikembangkan meliputi jasa
pelayanan, perdagangan, pariwisata, dan agro industri. Dari hierarki pusat-pusat permukiman
di Provinsi Kalimantan Barat, Kota Pontianak berperan sebagai kota orde I, yang memiliki
skala pelayanan regional dengan luas wilayah pelayanan mencakup 7.450 KM2. Dalam hal
ini, Kota Pontianak termasuk ke dalam pola kota Muara Kapuas dengan luas sekitar 18.300
KM2. Pusat dari pola kota Muara kapuas ini adalah Kota Pontianak. Dalam pola kota Muara
Kapuas, kota-kota lainnya yang merupakan sub pusat pelayanan terdiri dari Rasau Jaya,
Mempawah, dan Ngabang. Kota Pontianak juga merupakan pusat dari kerangka kerjasama
Pokusikang (Pontianak, Kuala Mandor, Siantan, Sungai Kakap, Sungai Raya, dan Sungai
Ambawang) dan KMP (Kawasan Metropolitan Pontianak).Dalam lingkup nasional dan
internasional, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Nasional, posisi Kota Pontianak diarahkan sebagai berikut :
a. Kota Pontianak, sebagai sektor unggulan wilayah hinterland memiliki potensi sebagai
daerah pengembangan tanaman pangan dan perkebunan, industri, dan perikanan laut.


25

Implikasi dari kondisi ini, Kota Pontianak juga berperan sebagai pedorong daerah
lainnya, sehingga di Kota Pontianak harus tersedia fasilitas dan ruang untuk memberikan
jasa pelayanan untuk mewadahi kegiatan terkait dengan sektor unggulan di kawasan
sekitarnya, yaitu berperan sebagai pintu keluar perdagangan untuk produk sektor
unggulan mapun industri pengolahan tanaman pangan/perkebunan dan perikanan luat
yang berasal dari wilayah luar Kota Pontianak.
b. Kota Pontianak sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kalimantan Barat dan
merupakan kota penyebar kegiatan ekonomi dari Kota Pontianak ke daerah Kab/Kota
lainnya. Untuk mewujudkan hal ini, mutlak diperlukan terjalinnya integrasi yang saling
menguntungkan antara Kota Pontianak dan kota-kota lainnya, antara lain harus ada
aksesibilitas yang tinggi yang menghubungkan Kota Pontianak dengan kota-kota
tersebut.
c. Kota Pontianak diarahkan untuk dikembangkan sebagai pelabuhan internasional dalam
sistem simpul transportasi laut Indonesia, sedangkan bandara di Kab. Kubu Raya yang
memiliki aksesibilitas tinggi ke KotaPontianak ditetapkan sebagai bandara kelas dua.
Peran ini dikembangkan berkaitan dengan adanya AFTA (ASEAN Free Trade Area)
sehingga diharapkan dapat bersaing dan menangkap peluang dalam perdagangan antara
negara khususnya ASEAN.















26






BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses yang mencakup pembentukan
institusi-institusi baru, pembangunan industri-industri alternatif, perbaikan kapasitas tenaga
kerja yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar
baru, alih ilmu pengetahuan, dan pengembangan perusahaan-perusahaan baru.
Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama untuk
meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Dalam upaya untuk
mencapai tujuan tersebut, pemerintah daerah dan masyarakatnya harus secara bersama-sama
mengambil inisiatif pembangunan daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah beserta
partisipasi masyarakatnya dan dengan menggunakan sumberdaya- sumberdaya yang ada dan
harus mampu menaksir potensi sumber daya yang diperlukan untuk merancang dan
membangun perekonomian daerah.
Perlunya perencanaan untuk memperbaiki penggunaan sumberdaya-sumberdaya
publik yang tersedia di daerah tersebut dan untuk memperbaiki kapasitas sektor swasta dalam
menciptakan nilai sumberdaya-sumberdaya swasta secara bertanggungjawab.

4.2 Saran
Perlu suatu usaha untuk meningkatkan pembangunan prasaran ekonomi dalam
rangka memacu roda pertumbuhan ekonomi daerah
Perlu suatu usaha agar senantiasa dapat melakukan upaya pengembangan
prasaran social untuk meningkatkan kualitas hidup manusia
Perlu usaha untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembiayaan
pembangunan melalui swadaya masyarakat dalam pembangunan berbagai
prasarana publik di tingkat lokal


27

Perlu usaha untuk meningkatkan dan memberdayakan masyarakat agar ikut
berpartisipasi dalam penyelenggaraan dasar (di bidang pendidikan dan
kesehatan), termasuk pengembangan aspek sumberdaya manusianya
Perlu mendapat perhatian dari pemerintah daerah agar daerah menjadi lebih maju
dan masyarakat yang ada di daerah menjadi lebih sejahtera



28

REKAPITULASI TANYA JAWAB

Andisda Bagas (2012-124)
Pertanyaan:
Berdasarkan kriteria daerah tertinggal, bagaimana dampak pada perekonomian daerah
apabila Sumber Daya Manusia (SDM) rendah apakah masih bisa dikatakan daerah
tertinggal?
J awab:
Sumber daya manusia memegang peranan penting dalam perekonomian daerah.
Apabila SDM di suatu daerah rendah, maka perekonomian di daerah tersebut menjadi
tidak maju dan mengalami ketertinggalan. Karena penggerak dari semua sector
perekonomian adalah SDM

Asriyani B. Toduho (2012-147)
Pertanyaan:
Apabila SDM yang berkualitas memilih untuk mencari kerja di kota-kota besar,
Sedangkan dia mengetahui potensi daerah itu. Bagaimana cara Anda untuk
mempertahankan SDM yang berkualitas tersebut untuk tetap bekerja di daerah
tersebut dan mengembangkan potensi yang ada di daerah tersebut?
J awab:
Hal pertama yang harus dibenahi di daerah tersebut adalah lembaga
pendidikan. Pemerintah bekerjasama dengan masyarakat daerah dan swasta
membentuk lembaga pendidikan yang berkualitas. Ketika lembaga pendidikan telah
berkualitas di daerah tersebut, maka akan menghasilkan SDM yang berkualitas pula.
Sehingga SDM yang berkualitas tersebut dapat mengolah dan mengelola potensi yang
dimiliki di daerah tersebut.
Keuntungan yang dimiliki apabila SDM berkualitas adalah tingkat upah di
daerah tersebut menjadi meningkat karena diimbangi dengan peningkatan
produktivitas. sehingga SDM tersebut telah merasa puas bekerja di daerahnya sendiri
apabila tingkat upahnya tersebut dapat mmenuhi kebutuhan hidupnya.





29

Khudaifa Sari (2012-139)
Pertanyaan:
Sejauh mana peran kebijakan otonomi daerah dalam rangka menggali potensi daerah?
J awab:
Peran otonomi daerah dalam menggali potensi daerah sangat besar sekali. Dimana
otonomi daerah itu sendiri adalah memberikan kewenangan yang lebih besar pada
pemerintah daerah untuk dapat mengurus dan memberdayakan potensi daerahnya
sesuai preferensi dan aspirasi masyarakatnya. Karena pada dasarnya masyarakat yang
ada di daerah tersebut lah yang mengetahui bagaimana potensi, masalah dalam
menentukan arah pembangunan yang hebdak dilaksanakan. Namun, sejauh ini
Otonomi daerah belum mampu dioptimalkan pada tiap daertah. Buktinya masih ada
saja ketimpangan yang ada di berbagai daerah. Sehingga perlu adanya kerjasama
antara pemerintah dengan pihak swasta untuk mengoptimalkan potensi daerah

Tambahan Pendapat:
Luluk Hasanah (2012-114)
Dalam mengoptimalkan potensi daerah tidak hanya peran pemerintah daerah
saja, tetapi peran pemerintah juga turut aktif dalam mengoptimalkan potensi daerah.
Contoh pada kota Batu, komoditi utama sector perkebunan adalah apel. Jadi disini
apel itu sebaiknya tidak hanya dipasarkan antar daerah saja. Tetapi apel Batu ini juga
bisa diekspor ke luar negeri. Jadiperan pemerintah pusat lah yang berperan disini
untukikut memasarkan dan meningkatkan penjualan apel ke luar negeri.

Tri Fajar Agus Salim (2012-137)
Setiap pemerintah kabupaten/kota sebagai daerah otonom dituntut untuk dapat
mengembangkan dan mengoptimalkan semua potensi daerah untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Contohnya pada daerah Madura, potensi daerah yang harus
dikembangkan adalah pusat oleh-olehnya. Salah satu oleh-oleh khas daerah Madura
adalah keripik lorjuk semacam teripang. Oleh-oleh khas tersebut harus dikembangkan
ke berbagai daerah. Sehingga hal ini merupakan kesempatan pemerintah daerah untuk
mempromosikan produk tersebut agar produk tersebut dapat dikenal ke berbagai
daerah, dan apabila potensi daerah tersebut tidak dilakukan maka dapat menimbulkan
kemunduran dalam dinamika pembangunan ekonomi daerah, serta ketidakleluasan
daerah untuk mengarahkan program dan kegiatan pembangunan ekonominya.


30

Langkah yang dapat ditempuh adalah mengembangkan UMKM di daerah
tersebut. Karena pada umumnya UMKM menghasilkan produk daerah yang unik.
Sehingga dengan adanya UMKM dapat mengenalkan produk daerah ke berbagai
pasar di setiap daerah.

Aldila Agustira Eka S. (2012-164)
Pertanyaan:
Bagaimana tindakan pemerintah daerah dalam mengoptimalkan potensi daerah? Dan
bagaimana dampaknya terhadap perekonomian?
J awab:
Tindakan pemerintah dalam mengoptimalkan potensi daerah adalah ikut serta dalam
proses pelaksanaannya. Contohnya ikut serta dalam proses pemasaran tempat wisata
di daerah tersebut. Seperti memperbolehkan pihak pengelola wisata untuk
mengiklankan lewat banner atau baliho. Pemerintah juga dapat ikut serta dalam
penentuan harga di pasar. Hal ini dapat meningkatkan perekonomian di daerah
tersebut. Tetapi dengan adanya penentuan harga di pasar menimbulkan pro dan kontra
bagi pedagang maupun konsumen. Tetapi sisi positif yang dapat kita ambil dari
penentuan harga yang dilakukan oleh pemerintah adalah dapat menstabilkan harga di
pasar sehingga pedagang itu tidak seenaknya dalam menetapkan harga.
Ketika pemerintah ikut serta dalam mengoptimalkan potensi daerah maka akan
mengakibatkan meningkatnya perekonomian daerah karena kerja sama pemerintah
dengan masyarakat serta swasta dalam mengelola potensi yang dimiliki daerah.

Rifzita Vinda (2012-143)
Pertanyaan:
Bagaimana solusi yang tepat untuk mencegah eksploitasi pada sumber daya laut,
contoh: ikan hiu yang semakin terancam keberadaanya karena banyak orang yang
melakukan eksploitasi besar-besaran?
J awab:
Pemerintah harus menerapkan kebijakan terkait dan undang- undang yang mengatur
tentang pelanggaran di daerah perairan dengan eksploitasi pada sumber daya laut.
Dimana, menetapkan ketentuan mengenai tata cara penangkapan ikan, ikan apa saja
yang boleh diambil dan dijual serta melarang penangkapan ikan menggunakan bahan


31

peledak. Pemerintah harus memberikan sanki yang tegas pada orang orang yang
melanggar peraturan agar dapat mengurangi eksploitasi sumber daya laut.

Tambahan Pertanyaan:
M. Nafli Ramlan (2012-121)
Pertanyaan:
Apa yang terjadi jika investasi asing lebih dominan di daerah?
J awab:
Jika investasi asing lebih dominan di daerah maka dampak yang di timbulkan adalah
masyarakat akan bergantung pada investasi asing sehingga masyarakat tidak dapat
berkembang karena mengharapkan bantuan dari pihak luar. Oleh karena itu ini
merupakan tanggung jawab pemerintah sebaiknya pemerintah membatasi investasi
dari negara asing dan lebih fokus kepada investasi dalam negeri sehingga masyarakat
Indonesia bisa lebih mandiri.

Tambahan Pendapat:
Firman Ramadhani S. (2012-162)



iii

DAFTAR PUSTAKA

Basri,faisal.2009.Catatan satu decade krisis,transformasi,masalah
structural,dan harapan ekonomi Indonesia.Jakarta:Erlangga
Aina.2010.(//aina-kesling.blogspot.com,diakses 27 April 2014)
(www.malangkota.go.id, diakses 26 April 2014)
Setiawan,candra.2013.Melihat potensi sumber daya alam geologi malang
raya.(Suarageologi.blogspot.com, diakses 27 April 2014)
Info malang.2009.Potensi dan peluang investasi kota malang.(mm-
malang.blogspot.com, diakses 27 April 2014)
(www.bappeda.pontianakkota.go.id, diakses 26 April 2014)
(Quemariamblogspotcom.blogspot.com, diakses 26 April 2014)
Hamid,edy suandi,M.B.Hendri Anto.2000.Ekonomi Indonesia memasuki
millennium III.Yogyakarta:Uli press
Arsyad,lincolin.1999.Ekonomi Pembangunan.Yogyakarta:Penerbit sekolah
tinggi ilmu ekonomiYKPN
(Kpu.go.id/dmdocuments/(5.1.2013).jatim.pdf, diakses 3 Mei 2014)
(http://potensilokal.com/optimalisasi-potensi-daerah/, diakses 5 mei 2014)