Anda di halaman 1dari 18

388

A.M. Adnan : Manajemen Musuh Alami Hama Utama Jagung



MANAJEMEN MUSUH ALAMI HAMA UTAMA JAGUNG

A.M. Adnan
Balai Penelitian Tanaman Serealia


ABSTRAK
Swasembada jagung sering terkendala oleh serangan hama dan penyakit
tanaman. Hama penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), penggerek
tongkol (Helicoverpa armigera), ulat grayak (Spodopteram litura), lalat bibit
(Atherigona sp.), belalang (Locusta migratoria), kutu daun, dan tikus (Rattus
Sp.) merupakan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang sering ditemui.
Pemanfaatan musuh alami adalah salah satu cara pengendalian hama ini,
namun petani seringkali tidak puas atas kinerja musuh alami. Salah satu faktor
ketidakberhasilan penggunaan agen pengendali hayati pada areal pertanian
adalah pengelolaan musuh alami yang tidak bijaksana. Jika faktor ini dapat
ditangani dengan baik, maka kerusakan tanaman dapat ditekan yang pada
akhirnya produksi dapat ditingkatkan dan ramah lingkungan. Pengelolaan
musuh alami dimaksudkan untuk meningkatkan keefektifan agen pengendali
hayati dalam mengendalikan serangga hama dan mengurangi penggunaan
pestisida sintetik yang memiliki pengaruh negatif terhadap lingkungan.

Kata kunci: Manajemen, musuh alami, hama utama jagung

PENDAHULUAN
Kebutuhan akan jagung di
Indonesia terus meningkat dari tahun ke
tahun. Kurun waktu 2005 2009
tergambar bahwa konsumsi jagung
nasional pada tahun 2005 sebesar 12,26
juta ton Pipilan Kering (PK) menjadi
12,50 juta ton PK pada tahun 2006,
kemudian menjadi 13,29 ton PK, tahun
2007, 16,32 juta ton PK di tahun 2008,
dan 17,66 juta ton PK di tahun 2009
(Tabel 1).
Sementara Produksi jagung
nasional pada tahun 2005 sebesar 12,52
juta ton PK. Meskipun pada tahun 2006
produksinya sempat turun menjadi
11,61 juta ton PK, pada tahun 2007
mampu ditingkatkan kembali menjadi
13,28 juta ton PK. Selanjutnya terus
meningkat, menjadi 16,32 juta ton PK
pada tahun 2008 dan menjadi 17,66 juta
ton PK pada tahun 2009.
Dengan demikian, terdapat surplus
sebesar 0,26 juta ton PK pada tahun
2005, tetapi menjadi minus 0,89 juta ton
PK pada tahun 2006. Karena produksi
berhasil ditingkat kembali pada tahun
2007 sehingga terdapat surplus sebesar
0,07 juta ton PK. Selanjutnya menjadi
surplus sebesar 1,66 juta ton PK pada
tahun 2008 dan surplus sebesar 1,98 juta
ton PK pada tahun 2009 (Tabel 1).

Tabel 1. Produksi dan Konsumsi Jagung, 2005 2009.
Uraian 2005 2006 2007 2008 2009
Produksi (ton PK) 12.523.894 11.609.463 13.287.527 16.317.252 17.659.067
Konsumsi (ton PK) 12.262.385 12.504.949 13.217.244 14.659.525 15.680.459
- Benih 92.463 77.790 87.128 85.327 82.620
- Pakan 3.530.000 3.640.000 3.810.000 4.230.000 4.540.000
- Konsumsi Langsung 864.014 894.435 947.696 964.367 990.261
- Tercecer, susut 1.252.389 1.160.946 1.328.753 1.631.725 1.765.907
- Lainnya 6.525.515 6.731.778 7.043.667 7.748.106 8.301.671
Surplus/Devisit (ton PK) 259.509 - 895.468 70.283 1.657.727 1.978.608
Sumber: BPS 2009


389
Seminar Nasional Serealia 2011

Oleh karenanya dalam kurun
waktu 20102014, Program
Kementerian Pertanian Republik
Indonesia yang dituangkan dalam empat
sukses Kementerian Pertanian
menempatkan jagung sebagai salah satu
komoditas prioritas untuk swasembada
dan swasembada berkelanjutan. Hal ini
mengindikasikan bahwa jagung masih
menjadi komditas penting untuk
pemenuhan pangan, pakan, dan industri
di Indonesia.
Kendala mempertahankan
swasembada jagung berkelanjutan
adalah masalah abiotis dan biotis. Abiotis
dapat berupa adanya perubahan iklim
global dan kesuburan tanah, sementara
biotis dapat berupa hama dan penyakit
tanaman jagung (Swastika et al. 2004).
Serangga pengganggu tanaman
jagung yang sering ditemui
dipertanaman adalah penggerek batang
jagung (Ostrinia furnacalis), penggerek
tongkol (Helicoverpa armigera), ulat
grayak (Spodopteram litura), lalat bibit
(Atherigona sp.), belalang (Locusta
migratoria), Kutu daun dan tikus (Rattus
Sp.) (Metcal and Metcalf 1993).
Kerusakan pada tanaman yang
ditimbulkan oleh hama-hama ini
berkisar antara 5 hingga 100%.
Pemanfaatan pestisida kimiawi
untuk mengendalikan serangga hama
tersebut telah mulai ditinggalkan karena
petani merasakan adanya dampak
negatif tergadap lingkungan dan mulai
beralih dengan memanfaatkan
biopestisida baik nabati maupun hayati.
Pengendalian dengan memanfaatkan
musuh alami telah banyak dilakukan
seperti pengaplikasian Trichogramma
spp,. Beauveria bassiana, Metharizium
anisopliae, Cecopet (Euborellia annulata),
dan nematoda Steinernema sp.
Aplikasi musuh alami untuk
mengendalikan hama utama jagung
terkadang dirasakan kurang efektif, hal
tersebut dimungkinkan karena
manajemennya tidak baik. Oleh karena
itu, makalah ini akan membahas
menajemen musuh alami hama utama
jagung, sehingga dengan mengetahui
cara pengelolaannya, maka keefektifan
musuh alami dapat ditingkatkan.
KONDISI OPTIMAL BAGI HAMA
UTAMA JAGUNG

Penggerek batang jagung (Ostrinia
furnacalis)
Asia merupakan wilayah
penyebaran O. furnacalis terutama
ditemukan diseluruh Asia Tenggara, Asia
Tengah, Asia Timur dan Australia
(Mutuura dan Munroe 1970). Di
Indonesia serangga ini menyebar luas di
Papua, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan
Sumatera (Waterhouse 1993).
Fase paling merusak serangga
hama ini adalah stadia larva dimana
Larva O. furnacalis menyerang semua
bagian tanaman jagung. Kehilangan hasil
terbesar ketika kerusakan terjadi pada
fase reproduktif (Kalshoven 1981).
Serangga ini mempunyai karakteristik
kerusakan pada setiap bagian tanaman
jagung yaitu lubang kecil pada daun,
lubang gorokan pada batang, bunga
jantan, atau pangkal tongkol, batang dan
tassel yang mudah patah, tumpukan
tassel yang rusak, dan rusaknya tongkol
jagung (Lee et al. 1980).
Imagonya mulai meletakkan telur
pada tanaman yang berumur dua
minggu. Puncak peletakan telur terjadi
pada stadia pembentukan bunga jantan
sampai keluarnya bunga jantan. Betina
penggerek batang lebih suka meletakkan
telur di bawah permukaan daun
utamanya pada daun ke 5 sampai daun
ke 9 (Legacion and Gabriel 1988). Jumlah
telur yang diletakkan tiap kelompok
beragam antara 30 sampai 50 butir atau
bahkan lebih dari 90 butir (Kalshoven
1981). Seekor ngengat betina mampu
meletakkan telur 300-500 butir.(Lee et
al. 1980). Inang alternatif dari spesies ini
adalah sorgum, kedelai, mangga, okra,
tomat, tembakau, lada, tebu, kapas, jahe,
dan rumput-rumputan (PGCPP 1987).
Kondisi lingkungan yang optimal
untuk perkembangan hama ini adalah
ada wilayah-wilayah dengan iklim tropis.

Penggerek tongkol jagung
(Helicoverpa armigera Hbn.)
Fase paling merusak dari spesies
ini juga adalah pada stadia larva. Larva

390
A.M. Adnan : Manajemen Musuh Alami Hama Utama Jagung

spesies ini terdiri dari lima sampai tujuh
instar, tetapi pada umumnya terdiri dari
enam instar dengan pergantian kulit
(moulting) setiap instarnya dua sampai
empat hari. Larva serangga ini memiliki
sifat kanibalisme sehingga hal ini
merupakan salah satu faktor yang
menekan perkembangan populasinya
(CPC 2005).
Imago betina H. armigera
meletakkan telur pada pucuk tanaman
dan bilamana tongkol sudah mulai keluar
maka telur tersebut diletakkan pada
rambut jagung. Rata-rata produksi telur
imago betina adalah 730 butir dengan
masa oviposisi 10 sampai 23 hari.
Kondisi lingkungan seperti suhu
dan kualitas makanan di alam
menetukan periode perkembangan larva.
Khususnya pada jagung, masa
perkembangan larva pada suhu 24
sampai 27,2
o
C adalah 12,8 sampai 21,3
hari, telur menetas dalam tiga hari
setelah diletakkan pada suhu 22,5
o
C dan
dalam sembilan hari pada suhu 17
o
C
Pada kondisi lingkungan mendukung,
dan fase pupa bervariasi dari enam hari
pada suhu 35
o
C sampai 30 hari pada
suhu 15
o
C. (Kalshoven 1981).
Pada kondisi yang tidak
memungkinkan H. armigera mengalami
diapause atau sering disebut diapause
pupa fakultatif. Diapause pupa dapat
berlangsung beberapa bulan bahkan
dapat lebih dari satu tahun.

Ulat grayak (Spodoptera litura.)
Asia Tenggara dan spesies ini juga
terdistribusi luas keseluruh Asia tropis
dan Asia Sub tropis, Australia, dan pulau-
pulau di Pasifik merupakan wilayah
penyebaran serangga hama ini (Kranz et
al. 1977).
Spesies ini adalah serangga
polipagous. Tanaman inangnya selain
jagung adalah tomat, kapas, tembakau,
padi, kakao, jeruk, ubi jalar, kacang
tanah, jarak, kedelai, kentang, kubis, dan
bunga matahari (Holloway 1989).
Larva yang terdiri dari 6 instar
dan instar terakhir mempunyai berat
mencapai 800 mg dan menghabiskan
80% dari total konsumsi makanannya
merupakan fase paling merusak
(Kalshoven 1981). Larva bersembunyi
dalam tanah pada siang hari dan baru
aktif pada malam hari, kecuali S, exempta
yang juga aktif pada siang hari.
Pada kondisi suhu 8
o
C, telur-telur
serangga hama ini masih dapat menetas
dan pada suhu 10
o
C, pupa masih masih
dapat bertahan. Sementara stadia larva
untuk berkembang secara optimal yaitu
pada suhu antara 37
o
C sampai 40
o
C
(Holloway 1989). Kondisi suhu ini sangat
dimungkinkan bagi Spodoptera litura
untuk berkembang dengan baik di
wilayah Indonesia.

Lalat Bibit (Atherigona sp)
Stadia larva merupakan fase
merusak dari Atherigona sp. Larva
berukuran panjang hingga sembilan mm
yang berwarna putih krem pada awalnya
dan selanjutnya menjadi kuning hingga
kuning gelap. Pupa terdapat pada
pangkal batang dekat atau di bawah
permukaan tanah. Puparium berwarna
coklat kemerah-merahan sampai coklat
dengan ukuran panjang 4,1 mm. Imago
betina mulai meletakkan telur tiga
sampai lima hari setelah kawin dengan
jumlah telur tujuh sampai 22 butir atau
bahkan hingga 70 butir. Imago betina
meletakkan selama tiga sampai tujuh
hari. Lama hidup serangga betina dua
kali lebih lama daripada jantan. Lama
siklus hidup dari telur hingga dewasa
(CPC 2005).
Kondisi iklim berupa kelembaban
dan curah hujan tinggi mendukung
perkembangan spesies ini. Jika kondisi
sangat kering, telur akan gagal menetas
atau larva mati sebelum dia mampu
melakukan penetrasi batang. Penetasan
dan aktivitas imago terjadi selama
kondisi dingin dalam satu hari.

Kutu Daun (Aphis maidis)
Kutu daun membentuk koloni yang
besar pada daun yang meliputi betina
yang berproduksi secara partenogenesis
(tanpa kawin). Seekor betina yang tidak
bersayap mampu melahirkan rata-rata
sebanyak 68,2 ekor nimfa, sementara
betina bersayap 49 nimfa (Adams dan

391
Seminar Nasional Serealia 2011

Drew 1964). Lama hidup imago adalah 4-
12 hari (Ganguli dan Raychaudhuri
1980). Umumnya, stadia nimfa terdiri
dari empat instar (Kring 1985). Stadium
nimfa terjadi selama 16 hari pada suhu
15
o
C, sembilan hari pada suhu 20
o
C, dan
lima hari pada suhu 30
o
C. Serangga ini
lebih senang berada pada suhu yang
hangat dibandingkan pada suhu yang
dingin. Mau dan Kessing (1992)
melaporkan bahwa imago lebih aktif di
lapangan pada suhu 17
o
C dan 27
o
C.

BEBERAPA MUSUH ALAMI DAN
KEFEKTIFANNYA
Musuh alami atau natural enemies
berperan untuk mengendalikan populasi
hama di pertanaman sehingga kerusakan
yang ditimbulkan dapat ditekan atau
bahkan dikurangi sehingga tidak
melampaui ambang ekonomi. Musuh
alami hama utama jagung dapat dilihat
pada Tabel 2.

Tricogramma spp.
Serangga yang digolongkan
sebagai musuh alami ini masuk kedalam
famili Trichogrammatidae dari ordo
Hymenoptera. Parasitoid telur ini
mempunyai ukuran sangat kecil dengan
panjang 0,1 0,5 mm bergantung
spesies. Trichogramma ini umumnya
memarasit telur dari ordo lepidoptera
meskipun juga dilaporkan dapat
memarasit telur dari ordo Neuroptera
dan Coleoptera (CPC 2005).
Parasitoid ini menghabiskan siklus
hidupnya di dalam telur inangnya dan
waktu yang dibutuhkan yaitu 7 hari pada
suhu 28
o
C dan 89 hari pada musim
hujan (Alba 1989). Selanjutnya Bayrami
dan Kornosor (1998) melaporkan bahwa
suhu optimal untuk perkembangan
Trichogramma spp ini yaitu pada suhu
antara 2030
o
C dengan kelembaban
nisbih 60%.
Parasitoid ini dapat diperbanyak
pada telur Corcyra cephalonica dengan
prosedur sebagai berikut: Parasitoid
Trichogramma spp. dikumpulkan dari
lapangan yaitu dengan mengambil telur
Ostrinia furnacalis yang terparasit di
pertanaman jagung petani dan di bawah
ke laboratorium, diamati hingga
parasitoid telur keluar. Perbanyakan
Trichogramma ini dilakukan dengan
menggunakan inang pengganti yaitu
telur Corcyra cephalonica. Telur inang
pengganti ini sebelum direkatkan pada
pias kertas terlebih dahulu disinari ultra
violet selama 30 menit dengan maksud
embrio dalam telur tidak berkembang.
Setelah itu telur direkatkan pada pias
ukuran 7 x 2 cm dengan menggunakan
lem povinal. Selanjutnya pias
dimasukkan pada tabung reaksi

Tabel 2. Musuh Alami Hama Utama Jagung dan Stadia yang dipredasi atau diparasit.
Musuh Alami Serangga Target Stadia
Trichogramma spp. Ostrinia furnacalis Telur
Helicoverpa armigera Telur
Atherigona sp. Telur
Cecopet (Euborellia annulata) Ostrinia furnacalis Larva dan Pupa
Helicoverpa armigera Telur dan Larva
Baeuveria bassiana Ostrinia furnacalis Larva
Helicoverpa armigera Larva
Aphis sp. Nimfa dan Dewasa
Spodoptera litura Larva
Metarhizium anisopliae Spodoptera litura Larva
Helicoverpa armigera
Ostrinia furnacalis
Larva
Larva
Nematoda Steinernema sp. Ostrinia furnacalis Larva
Spodoptera litura Larva
Sumber: CPC 2005


392
A.M. Adnan : Manajemen Musuh Alami Hama Utama Jagung

berukuran 15 x 2 cm, di dalam tabung
tersebut sudah terdapat telur
Trichogramma yang siap menjadi imago,
dan akan memarasit telur Corcyra
cephalonica pada pias. Pada hari ketujuh
atau delapan Trichogramma siap
menjadi imago, kegiatan ini dilakuakn
terus hingga diperoleh Trichogramma
yang cukup untuk dilepas di lapangan
(Nonci dan Masmawati 2005).
Kemampuan memarasit
Trichogramma spp terhadap telur
Ostrinia furnacalis dapat mencapai
81,98% (Tabel 3) ditingkat laboratorium.
Pernah pula dilaporkan oleh Pabbage, et.
al., 1999 bahwa Trichogramma spp.
efektif memarasit penggerek batang
jagung di laboratorium dengan tingkat
parasitasi mencapai 97,68%.
Nonci et al. 2000 melaporkan
bahwa tingkat parasitasi parasitoid telur
penggerek batang di daerah-daerah
sentra produksi jagung di Sulawesi
Selatan berkisar antara 71,56 ssampai
89,80%. Pengujian lain yang dilakukan
oleh peneliti Balitsereal memperlihatkan
bahwa parasitoid telur ini efektif
mengendalikan penggerek batang di
lapangan dengan parasitasi dapat
mencapai 91,96% (Tabel 4).
Trichogramma spp. efektif pula
dalam mengendalikan penggerek tongkol
(Helicoverpa armigera). Keefektifannya
tersebut berkisar antara 54,38% sampai
92,37% bergantung spesies di
laboratorium (Tabel 5).
Parasitoid telur ini pula efektif
dalam mengendalikan penggerek tongkol
jagung (Helicoverpa armigera) di
lapangan. Pabbage et al. 2000
melaporkan bahwa persentase telur
penggerek tongkol yang terparasit di
lapangan berkisar antara 71,67% sampai
100% (Tabel 6).

Tabel 3. Persentase telur penggerek batang Ostrinia furnacalis yang terparasit
kelompok telur Trichogramma spp.
Pias Kelompok Telur O.
furnacalis
Telur Penggerek batang Terparasit (%) Rata-rata (%)
2 5 8
15 ekor 42,64 58,61 35,06 45,44
30 ekor 80,95 85,67 66,81 77,81
45 ekor 79,82 83,64 82,48 81,98
Tanpa Trichogramma 0,0 0,0 0,0 0,0
Sumber: Nonci dan Pabbage (2000)


Tabel 4. Rata-rata tingkat parasitasi Trichogramma spp. terhadap telur O. furnacalis.
Perlakuan
Tingkat Parasitasi pada pengamatan (%)
5 MST 6 MST 7 MST 8 MST
4, 5, 6, 7 dan 8 MST 0,00 15,28 25,63 54,24
4, 5, 6, dan 7 MST 5,28 0,00 31,43 51,98
5, 6, 7, dan 8 MST 13,50 10,29 0,00 91,96
6, 7, dan 8 MST 3,22 10,29 58,83 64,50
Berdasarkan gejala
serangan di lapangan
(populasi telur 1
kelompok/30 tanaman)
17,04 13,67 69,84 71,06
Kontrol (Tanpa Pelepasan) 17,62 6,40 60,24 33,33
Sumber: Nonci et al. 2001
Ket: MST: Minggu Setelah Tanam





393
Seminar Nasional Serealia 2011

Tabel 5. Daya parasitasi beberapa spesies Trichogramma spp. pada telur penggerek
tongkol (Helicoverpa armigera) di Laboratorium.
Spesies
Trichogramma
Telur
penggerek
tongkol
terparasit (%)
Telur penggerek tongkol
terparasit mengeluarkan
Trichogramma (%)
Jumlah imago
Trichogramma per
butir telur penggerek
tongkol
T. bactrae-bactrae 73,33 75,31 2,41
T. australicum 90,44 51,53 1,79
T. japonicum (T) 54,38 48,56 1,84
T. bactrae fumata 95,18 89,81 1,32
T. japonicum (M) 72,75 70,59 1,35
T. evanescens 92,27 68,41 2,16
Sumber: Pabbage et al. 2000

Tabel 6. Rata-rata jumlah telur Helicoverpa armigera pada jambul per tongkol dan
persentase telur yang terparasit.
Perlakuan
Jumlah Telur H. armigera per
tongkol (butir)
Telur H. Armigera terparasit
(%)
56 HST 63 HST 56 HST 63 HST
5, 7, dan 9 MST 5,00 0,67 66,67 100
5 dan 7 MST 6,67 0,67 60,00 100
5 dan 9 MST 6,67 2,33 70,00 71,67
7 dan 9 MST 6,33 0,67 52,61 100
Berdasarkan
keberadaan Telur H.
Armigera
6,33 3,00 57,98 77,61
Kontrol 6,33 3,67 57,98 100
Sumber: Pabbage et al. 2000

Cecopet (Euborellia annulata)
Cecopet (E. annulata) merupakan
predator larva dan pupa penggerek
batang jagung dan predator telur dan
larva penggerek tongkol. Telur serangga
ini yang baru diletakkan berbentuk oval,
mengkilap dan putih. Ukurannya
bertambah setiap hari sampai pada hari
ke empat sampai dua kali lipat
ukurannya dari ukuran semula. Telur
yang baru diletakkan berukuran +0,95
mm x 1,55 mm. Sebelum menetas, telur
berbentuk mutiara, putih dan tembus
cahaya serta perkembangannya menjadi
embrio mulai tampak. (Javier and
Morallo 1991).
Nimfa instar pertama adalah
berwarna keputih-putihan tetapi
beberapa jam kemudian akan berwarna
gelap. Nimfa instar pertama dan kedua
berkerumun sepanjang waktu. Setiap
instar sama bentuk morfologinya pada
tiap pergantian kulit dan yang bervariasi
hanya ukurannya yang berbeda. Jenis
kelaminnya hanya dapat dibedakan pada
fase dewasa. (Javier and Morallo 1991).
Selanjutnya Javier dan Morallo,
1991 melaporkan bahwa jumlah instar
nimfa bervariasi tergantung pada
ketersediaan makanan. Serangga yang
makanannya kurang maka biasanya
mengalami instar nimfa sampai lima
sedangkan serangga yang makanannya
tersedia cukup hanya sampai pada empat
instar. Untuk menjadi imago, cecopet
mengalami empat kali pergantian kulit.
Imago jantan dan bertina E.
annulata berwarna hitam menkilap,
antena terdiri dari 17 segmen dengan
warna putih pada ujung antena. Imago
betina meletakkan telur sampai 200
butir selama hidupnya. Tipe alat mulut
menggigit mengunyah dan
bermetamorfosis sederhana (Situmorang
dan Gabriel 1988).
Perbanyakan cecopet ini relatif
mudah dengan mengikuti tata cara
sebagai berikut: Imago cecopet E.
annulata yang telah diperoleh dari
lapangan di masukkan ke dalam wadah

394
A.M. Adnan : Manajemen Musuh Alami Hama Utama Jagung

plastik yang berukuran 27 x 34 x 7 cm
yang terlebih dahulu telah diberikan
tanah dan pasir dengan perbandingan 3 :
1 setinggi 2 cm, kemudian di semprot
dengan menggunakan sprayer untuk
menjaga kelembaban media. E. annulata
yang baru bertelur dipindahkan ke
wadah yang baru, kemudian setiap
pergantian kulit, dipindahkan ke wadah
yang berbeda untuk digunakan.
Adnan dan Syamsuddin (2010)
melaporkan bahwa mass produksi E.
annulata dapat dilakukan dalam media
percampuran antara biskuit anjing dan
jenggel jagung dengan perbandingan
yang paling baik adalah 60% biskuit
anjing dan 40% janggel jagung (Tabel 7).
Pelepasan predator ini relatif
efektif dalam menekan kerusakan
tanaman akibat hama penggerek batang
(Gambar 1). Selanjutnya Adnan (2010)
melaporkan bahwa pada pengamatan 10
minggu setelah tanam (MST) dan 12
MST, kerusakan tanaman dapat ditekan
hingga 2,72 dan 4,22. Penekanan
kerusakan tanaman ini dimungkinkan
dengan adanya predator E. annulata
yang dirilis sebanyak 10000 ekor/ha.
Kefektifan predator ini pula
diindikasikan pada kurangnya jumlah
lubang gerekan dan panjang gerekan
pada pertanaman jagung sebagai akibat
dari pelepasan agen pengendali hayati ini
(Tabel 8). Adnan (2010) melaporkan
bahwa pelepasan 10000 ekor/ha dapat
menekan jumlah lubang gerekan dan
panjang gerekan masing-masing 2,25
dan 2,30 cm.

Tabel 7. Rata-rata jumlah imago jantan dan betina predator cecopet (Euborellia annulata)
pada pengamatan 30 dan 60 hari setelah penempatan imago (HSPI).
Perlakuan
HSPI
30 60

Kontrol (P0) 150,5 292,5 282,75 595,25
50% Biskuit Anjing + 50% Jenggel Jagung (P1) 240 695,25 480 1392
60% Biskuit Anjing + 40% Jenggel Jagung (P2) 242,25 697 483,75 1396
40% Biskuit Anjing + 60% Jenggel Jagung (P3) 238,75 690 469,75 1385
Sumber: Adnan dan Syamsuddin, 2010


Sumber: Adnan (2010)
Gambar 1. Persentase Tanaman Rusak akibat hama penggerek batang pada tiap
perlakuan predator pada pengamatan 10 MST dan 12 MST.


395
Seminar Nasional Serealia 2011

Tabel 8. Rata-rata jumlah lubang gerekan dan panjang gerekan (cm) pada tiap
perlakuan pelepasan Euborellia.

Perlakuan
Pengamatan
Lubang Panjang Gerekan (cm)
0 ekor/ha (Kontrol) 12,00a 7,79a
1000 ekor/ha 9,50b 6,79b
5000 ekor/ha 5,50c 5,25c
10000 ekor/ha 2,25d 2,30d
20000 ekor/ha 2,50d 2,64d
Angka yang diikuti dengan huruf yang sama tidak bebeda nyata pada taraf 0,05
DMRT
Sumber: Adnan (2010)

Tabel 9. Mortalitas larva O. furnacalis pada beberapa konsentrasi konidia diamati pada 4
interval pengamatan
Konsentrasi Cendawan
(konidia/ml)
Mortalitas larva (%) larva instar
ke-
2 3 4 5
Pada 1 HSI
5 x 10
7
7,5 5,0 7,5 22,5
5 x 10
6
2,5 5,0 12,5 10,0
5 x 10
5
5,0 7,5 5,0 2,5
5 x 10
4
2,5 7,5 2,5 2,5
5 x 10
3
2,5 2,5 2,5 5,0
Kontrol 0,0 0,0 0,0 0,0
Pada 3 HSI
5 x 10
7
30,0 17,5 37,5 32,5
5 x 10
6
10,0 10,0 17,5 10,0
5 x 10
5
12,5 17,5 20,5 17,5
5 x 10
4
5,0 10,0 17,0 10,0
5 x 10
3
10,0 5,0 10,0 7,5
Kontrol 0,0 0,0 0,0 0,0
Pada 5 HSI
5 x 10
7
45,0 45,0 50,0 47,5
5 x 10
6
30,0 37,5 40,0 27,5
5 x 10
5
25,0 37,5 35,0 17,5
5 x 10
4
7,5 17,5 22,5 10,0
10,0 5,0 17,5 7,5
Kontrol 0,0 0,0 0,0 0,0
Pada 7 HSI
5 x 10
7
62,5 55,0 57,5 55,0
5 x 10
6
45,0 30,0 30,0 27,5
5 x 10
5
35,0 47,5 47,5 20,0
5 x 10
4
17,5 12,5 12,5 10,0
5 x 10
3
10,0 12,5 12,5 2,5
Kontrol 0,0 0,0 0,0 0,0
HSI = Hari Setelah Inokulasi
Sumber: Tandiabang et al. 2005

Beuveria bassiana
Pemanfaatan cendawan Beuveria
bassiana sebagai agen pengendali hayati
organisme pengganggu tanaman telah
banyak dilakukan dan efektif terutama
dalam mengendalikan penggerek batang
dan penggerek tongkol jagung.
Cendawan ini menginfeksi serangga
target melalui kontak kutikula, mulut,
sistem pencernaan, dan pernafasan
serangga (Tanada dan Kaya 1993).

396
A.M. Adnan : Manajemen Musuh Alami Hama Utama Jagung

Tabel 9 memperlihatkan bahwa
konsentrasi 5 x 10
7
efektif untuk
mengendalikan penggerek batang jagung
dengan tingkat mortalitas dapat
mencapai 62,5% sehingga dapat
disimpulkan bahwa Beauvveria bassiana
menjanjikan sebagai salah satu agen
pengendali untuk penggerek batang
jagung.
Faktor-faktor yang berpengaruh
dalam perkembangan cendawan ini ada
tiga komponen yang sangat menentukan
yaitu patogen, lingkungan dan komponen
makanan. Faktor-faktor lingkungan yang
sangat berperan adalah suhu,
kelembaban relatif dan intensitas cahaya.
Untuk suhu, cendawan B. bassiana dapat
berkembang pada 20
o
C 30
o
C, tetapi
perkembangan optimal untuk cendawan
ini yaitu 23
o
C 25
o
C. Suhu kritis yang
dapat menghambat perkembangan agen
pengendali ini adalah pada kondisi 5
o
C
dan 35
o
C dan akan marti pada suhu 50
o
C.
Kelembaban relatif yang optimum untuk
perkembangan B. bassiana adalah 70
100% (Tandiabang et al. 2005).
Metarhizium anisopliae
Keefektifan cendawan M.
Anisopliae ini dipengaruhi oleh
konsentrasi konidia dan perkembangan
larva O. furnacalis. Yasin et al. (2000)
melaporkan bahwa tingkat mortalitas
larva penggerek batang instar II pada
perlakuan M. Anisopliae konsentrasi 10
8

semakin meningkayt seiring dengan
bertambahnya hari pengamatan yaitu 10
sampai 72,5%, sedangkan mortalitas
larva instar II dan IV berturut-turut
adalah 2,5 sampai 50% dan 0 sampai
35%.
Pengujian lapangan juga
dilaporkan bahwa cendawan ini mampu
mengendalikan penggerek batang
terindikasi rendahnya kerusakan daun
(13,25%) dan bunga jantan (5,305)
dibandingkan dengan kontrol pada
kerusakan daun dan bunga jantan
berturut-turut adalah 24,25% dan 27%
pada 6 Minggu Stelah Tanam (MST)
(Baco dan Yasin 2000).
Entomopatogenik cendawan ini
pula sukses untuk mengendalikan ulat
grayak (S. litura). Mortalitas larva instar
II yang diaplikasikan M. anisopliae
konsentrasi 108 berkisar 85% pada 10
hari setelah inokulasi (Gambar 2).
Yasin et al. (2000) melaporkan
bahwa dalam pengaplikasian yang
dilakukan di lapangan menunjukkan
kemampuan M. anisopliae (10
8
) menekan
populasi S. litura dari 66,50
ekor/rumpun pada pengamatan 2



Sumber: Yasin et al. (2000)
Gambar 2. Mortalitas larva ulat grayak instar II pada berbagai konsentrasi
cendawan M. Anisopliae.
Konsentrasi
Mortalitas (%)
10
4
10
5
10
6
10
7
10
8



10
4



397
Seminar Nasional Serealia 2011

MST menjadi 7,00 ekor/rumpun pada 10
MST dengan kerusakan daun 32,50% (2
MST) menjadi 4,25% (10MST).
Keefektifan entomopatogen
cendawan ini pula sangat dipengaruhi
oleh kondisi lingkungan seperti curah
hujan dan sinar matahari khususnya UV
yang dapat merusak konidia cendawan
(Tanada dan Kaya 1993; Wahyunendo
2002; Prayogo 2004; Suharsono dan
Prayogo 2005).

Steinernema sp.
Steinernema sp. ini dikenal pula
dengan nama nematoda entomopatogen
atau nematoda patogen serangga.
Nematoda ini dapat mengendalikan ordo
lepidoptera, diptera, orthoptera, dan
coleoptera (Kaya dan Gaugler 1993;
Smart 1995). Kefektifan nematoda ini
dalam mengendalikan serangga hama
sangat dipengaruhi oleh besar pori
tanah, kelembaban, suhu, ketersediaan
air (Lewis 2001).
Dari ordo Lepidoptera seperti
penggerek tongkol, penggerek batang
jagung, dan ulat grayak sangat efektif
dikendalikan dengan menggunakan
nematoda ini. Glazers dan Navon (1990)
menjelaskan bahwa mortalitas larva
penggerek tongkol (H. armigera) dapat
mencapai 98% (Gambar 3).
Adnan (2004) meneliti bahwa
mortalitas penggerek batang jagung
antara 50 sampai 73% dengan letal time
50% (LT50) berada pada 2,65 sampai
4,02 hari (Tabel 10). Ching et al.1998
pernah juga melaporkan bahwa instar
ketiga dari nematoda entomopatogen
memeliki poteginatas yang tinggi
terhadap penggerek batang jagung (O.
furnacalis). Tingkat patogenitas
nematoda ini(LC50) pada instar 3, 4 dan 5
larva penggerek batang jagung adalah
berturut turut 7,5, 8,7 dan 16,3 Ijs/ml.
Nilai LT50 adalah 1,4, 2,4 dan 4,9
berturut-turut untuk larva instar 3, 4,
dan 5.
0
20
40
60
80
100
1 2 3 4 5 6
Nematode Concentration (IJs/larva)
I
n
s
e
c
t

M
o
r
t
a
l
i
t
y

(
%
)

Gambar 3. Mortalitas larrna H. Armigera setelah 48 jam dengan suhu 25
o
C pada
konsentrasi S. feltiae (Sumber : Glazers dan A. Navon 1990).

Tabel 10. Rata-rata Mortalitas dan LT50 O. furnacalis pada konsentrasi 2000 IJs/ml
Steinernematid isolate Los Banos , Pengujian Laboratorium.
Instar Mortalitas
(%)
LT50
(hari)
Fiducial
Limit
Garis Regresi Slope
Pertama 50 4.02 2.90-10.76 Y = 1.39 + 1.82X 1.82
Kedua 55 3.77 2.89-6.84 Y = 0.60 + 2.25X 2.25
Ketiga 63 3.03 2.34-4.72 Y = 1.05 + 2.12X 2.12
Keempat 73 2.65 2.07-3.64 Y = 0.89 + 2.28X 2.28
Kelima 63 2.86 2.30-3.91 Y = 0.35 + 2.53X 2.53
Sumber: Adnan (2004)
0 25 50 100 200 400

398
A.M. Adnan : Manajemen Musuh Alami Hama Utama Jagung

Demikian halnya dengan Ulat
grayak yang relatif efektif dikendalikan
dengan menggunakan nematoda patogen
serangga ini. Adnan (2004) melaporkan
bahwa mortalitas larva ulat grayak (S.
litura) pada semua instar adalah 90%
dengan LT50 berkisar antara 1,62
sampai 2,0 hari (Tabel 11).
Pada pengujian rumah kawat,
nematoda patogen serangga ini
memberikan mortalitas penggerek
batang jagung berkisar antara 34 sampai
54% (Tabel 12), sementara itu mortalitas
ulat grayak berkisar antara 36 sampai
58% (Tabel 13) dengan kondisi suhu
pada saat itu 28 29
o
C dengan
kelembaban 80 83%.
MANAJEMEN MUSUH ALAMI HAMA
UTAMA JAGUNG
Salah satu faktor ketidakberhasilan
penggunaan agen pengendali hayati di
lahan pertanian adalah manajemen dari
musuh alami tersebut yang kurang
bijaksana. Jika faktor ini dapat ditangani
dengan baik, maka kerusakan tanaman
dapat ditekan yang pada akhirnya
produksi dapat ditingkatkan serta ramah
lingkungan, karena manajemen atau
pengelolaan musuh alami dimaksudkan
untuk meningkatkan kesuksesan atau

Tabel 11. Rata-rata mortalitas dan LT50 Ulat Grayak yang diberi perlakuan 2000 IJs/ml
Steinernematid isolate Los Banos pada pengujian laboratorium.

Instar Mortalitas
(%)
LT50
(hari)
Fiducial
Limit
Garis Regresi Slope
Pertama 90 1.87 1.51 2.22 Y = -0.60 + 3.38X 3.38
Kedua 90 1.67 1.33 1.99 Y = -0.50 + 3.43X 3.43
Ketiga 90 2.0 1.65 2.36 Y = -0.98 + 3.55X 3.55
Keempat 90 1.71 1.30 2.08 Y = 0.32 + 2.90X 2.90
Source: Adnan (2004)


Tabel 12. Pengaruh konsentrasi berbeda nematoda isolat NLB terhadap larva penggerek
batang jagung pada pengujian rumah kawat.
Konsentrasi Kerusakan
Tanaman
pada 36 HST
Mortalitas Larva Larva yang Masih
Hidup
Rata-rata Jumlah
Nematoda dalam
tubuh larva
N2000 8.2 345.48c 6.6.55b 31.133.95b
N4000 7 424.47c 5.8.45b 42.27.77a
N8000 7 545.48b 4.4.55c 43.147.50a
Insecticide 5 907.07a 1.71d 0c
Kontrol 9 88.37d 9.2.84a 0c
Sumber: Adnan 2004


Tabel 13. Pengaruh konsentrasi berbeda nematoda isolat NLB terhadap larva ulat grayak
pada pengujian rumah kawat.
Konsentrasi Kerusakan
Tanaman
pada 36 HST
Mortalitas Larva Larva yang Masih
Hidup
Rata-rata Jumlah
Nematoda dalam
tubuh larva
N2000 5.8 365.48 c 6.4.55b 44.186.38b
N4000 5.8 428.37c 5.8.84b 49.919.16b
N8000 5 584.47b 4.2.45c 59.132.97a
Insecticide 3.4 965.47a 0.4.55d 0c
Kontrol 7.4 84.47d 9.2.45a 0c
Sumber: Adnan 2004


399
Seminar Nasional Serealia 2011

mempertahankan keefektifan agen
pengendali hayati dalam mengendalikan
serangga hama dan mengurangi
penggunaan pestisida sintetik yang
memiliki pengaruh negatif terhadap
lingkungan.
Manajemen Trichogramma spp.
yang perlu diperhatikan agar
keefktifannya dapat terjaga adalah suhu
optimal (20 30
o
C) dengan kelembaban
nisbi 60% dalam aplikasi dan tata cara
pelepasannya. Pelepasan parasitoid ini
ke pertanaman jagung didasarkan pada
umur tanaman, hasil tangkapan ngengat,
dan pengamatan populasi penggerek
batang di lapangan. Upaya ini dilakukan
agar pelepasan Trichogramma spp.
sejalan dengan periode peletakan telur
serangga target (O. furnacalis). Umur
tanaman berkaitan dengan periode
pelatakan telur penggerek batang. Imago
penggerek batang meletakkan telur pada
tanaman jagung dimulai pada saat
tanaman berumur satu bulan, meskipun
di lapangan umur tanaman 3 minggu
telah ditemukan koloni telur penggerek
batang dan puncak peletakkan telur
terjadi pada saat tanaman membentuk
atau keluarnya bunga jantan (Nafus dan
Schreiner 1987; Bayrami dan Kornosor
1998). Dengan demikian pelepasan
parasitoid telur ini pada pertanaman
sebaiknya dimulai pada saat tanaman
berumur 3 atau 4 minggu.
Jumlah indivudu dan frekuensi
pelepasan Trichogramma spp.
mempengaruhi pula keefektifan agen
pengendali hayati ini dalam
mengendalikan serangga hama. Nonci et
al. 2000 melaporkan bahwa pelepasan
parasitoid telur Trichogramma spp.
sebanyak 250.000 ekor/ha/aplikasi
dengan frekwensi pelepasan empat kali
dengan interval 1 minggu memebrikan
tingkat parasitasi yang cukup tinggi
(Gambar 4).
Demikian halnya untuk
mengendalikan penggerek tongkol,
pelepasan parasitoid telur
Trichogramma spp. disesuaikan dengan





Keterangan:

P1 = Pelepasan pada 4, 5, 6, 7, dan 8 MST P4 = Pelepasan pada 6, 7, dan 8 MST
P2 = Pelepasan pada 4, 5, 6, dan 7 MST P5 = Berdasarkan gejala serangan di lapangan
P3 = Pelepasan pada 5, 6, 7, dan 8 MST MST = Minggu Setelah Tanam
Sumber: Nonci et al. 2000

Gambar 4. Persentasi parasitasi Trichogramma spp. pada telur penggerek batang
diLapangan.

Konsentrasi
Parasitasi (%)

400
A.M. Adnan : Manajemen Musuh Alami Hama Utama Jagung

fase pembetukan tongkol jagung, karena
prilaku imago betina H. armigera dalam
meletakkan telur adalah ditempatkannya
telur-telurnya secara individual pada
rambut (silk) tongkol jagung, dan
frekwensi pelepasan 2 sampai 3 kali
(Tabel 5).
Cecopet (Euborellia annulata)
sebagai predator ordo lepidoptera relatif
lebih mudah untuk dikelola karena
jumlah individu yang dibutuhkan untuk
pelepasan relatif lebih sedikit hanya
sekitar 10.000 ekor/ha dengan
frekwensi aplikasi hanya 1 kali (Tabel 8
dan 9). Adnan (2010) menyarankan
bahwa waktu aplikasi predatror E.
annulata dilakukan pada sore hari.
Agen pengendali hayati yang juga
perlu manajemen yang baik adalah
cendawan entomopatogen atau
cendawan patogen serangga baik
Beauveeria bassiana maupun
Metarhizium anisopliae. Kesuksesan
kedua cendawan patogen serangga ini
dalam mengendalikan hama dipengaruhi
oleh suhu, kelembaban, sinar matahari,
curah hujan, dan angin (Marcandier dan
Khachatourians 1978; Tandiabang et al.
2005). Faktor-faktor tersebut yang perlu
diperhatikan dalam aplikasi (waktu dan
frekwensi) di lapangan.
Waktu aplikasi sangat
mempengaruhi kefektifan cendawan
patogen serangga. Setelah diaplikasikan,
cendawan patogen serangga
memerlukan kelembaban yang tinggi
untuk tumbuh dan berkemabng (Lacey
dan Goettel 1995; Mazet et al. 1996).
Kelembaban udara yang tinggi
diperlukan selama proses pembentukan
germ tube sebelum terjadi penetrasi ke
integumen serangga (Steinkraus dan
Slaymaker, 1994; Arthurs dan Thomas,
2001). Kelembaban yang tinggi dia atas
90% selama 6 12 jam setelah inokulasi
dibutuhkan cendawan untuk melakukan
penetrasi ke dalam tubuh serangga
(Hoddle 1999; Altre dan Vandenberg
2001; Cloyd 2003).
Waktu aplikasi perlu diperhatikan
karena cendawan entomopatogen ini
sangat rentan terhadap sinar matahari
khususnya UV (Altre dan Vandenberg
2001; Cloyd 2003). Oleh karena itu, bila
cendawan diaplikasikan pada musim
kemarau perlu dihindarkan dari sinar
matahari langsung dan sebaiknya
diaplikasikan pada saat kelembaban
tinggi yaitu sore hari.
Frekuensi aplikasi cendawan
entomopatogen baik Beauveria bassiana
maupun Metarhizium anisopliae
berpengaruh terhadap keefektifan hama.
Hal ini karena Hal ini karena konidia
yang diaplikasikan pada tahap awal
(yang belum mampu menginfeksi hama
sasaran) perlu digantikan oleh konidia
yang diaplikasikan pada tahap
selanjutnya. Frekuensi aplikasi
dipengaruhi oleh kondisi cuaca, seperti
curah, hujan, angin, dan sinar matahari.
Aplikasi juga perlu memperhatikan
stadia serangga hama di lapangan yang
saling tumpang tindih (tidak seragam).
Perubahan stadia instar (nimfa) akan
mengakibatkan perubahan perilaku
serangga yang akhirnya berpengaruh
pada frekuensi aplikasi.
Frekuensi aplikasi perlu diketahui
dengan tepat agar populasi hama di
bawah nilai ambang kendali. Aplikasi M.
anisopliae tiga kali berturut-turut selama
3 hari lebih efektif mengendalikan S.
litura hingga menyebabkan kematian
86%, dibandingkan dengan aplikasi satu
kali yang hanya menimbulkan kematian
40% (Prayogo dan Tengkano 2004).
Sementara untuk B. bassiana dianjurkam
hingga empat kali. Di daerah dengan
curah hujan tinggi dianjurkan melakukan
aplikasi berulang kali untuk menghindari
kegagalan konidia dalam menginfeksi
serangga (Hoddle 1999; Cloyd 2003).
Keberhasilan pengendalian hama
dengan cendawan entomopatogen juga
ditentukan oleh konsentrasi cendawan
yang diaplikasikan (Hall 1980), yaitu
kerapatan konidia dalam setiap mililiter
air. Jumlah konidia berkaitan dengan
banyaknya biakan cendawan yang
dibutuhkan setiap hektar. Kerapatan
konidia yang dibutuhkan untuk
mengendalikan hama bergantung pada
jenis dan populasi hama yang akan
dikendalikan (Tohidin et al. 1993;
Wikardi 1993).
Konsentrasi cendawan
entomopatogen harus ditentukan secara

401
Seminar Nasional Serealia 2011

tepat untuk mendapatkan hasil
pengendalian yang optimal. Kerapatan
konidia M. anisopliae yang tepat untuk
mengendalikan ulat grayak (S. litura)
adalah 10
8
/ml (Gambar 1) dan kerapatan
konidia B. bassaiana untuk
mengendalikan O. furnacalis adalah 5 x
10
7
/ml (Tabel 10).
Demikian halnya dengan nematoda
patogen serangga (Steinernema sp.),
temperatur kelembaban, dan UltraViolet
mempengaruhi keberhasilan nematoda
ini dalam mengendalikan serangga hama
utamanya di lapangan saat diaplikasikan.
Ada dua cara yang umumnya digunakan
dalam aplikasi nematoda patogen
serangga yaitu aplikasi melalui tanah dan
aplikasi melalui daun. Aplikasi melalui
permukaan tanah paling umum
digunakan dan sangat efektif
mengendalikan serangga tanah, karena
kedua organisme tersebut memiliki
habitat yang sama (Adnan dan
Burhanuddin 2007).
Aplikasi melalui daun juga dapat
dilakukan untuk mengendalikan
serangga-serangga hama di atas
permukaan tanah. Aplikasi melalui daun
ini perlu memperhatikan kondisi
lingkungan utamanya suhu, kelembaban
dan UV. Nematoda entomopatogen
kurang efektif dalam mengendalikan
hama pada suhu lingkungan di atas 32
o
C
dan tereksopos oleh radiasi ultra violet.
Pengaruh efek sinar matahari dapat
dikurangi dengan memberikan proteksi
pada nematoda patogen serangga
(Steinernema carpocapse) yaitu
Flourecent Brightener Tinopal dan Viral
Enhancer Blankhopor BBH (Nickle dan
Shapiro 1994). Hal lain yang perlu
diperhatikan dalam aplikasi adalah
kelembaban. Kelembaban di atas 80%
dipersyaratkan agar nematoda patogen
serangga dapat berkembang dan efektif
untuk mengendalikan hama (Baur et al.
1997). Oleh karena itu, nematoda
entomopatogen direkomendasikan untuk
diaplikasikan pada kondisi lingkungan
dengan suhu dibawah 32
o
C, tidak
tereksopos lama dibawah sinar matahari,
dan kelembaban lebih dari 80% (sore
hari).

PENUTUP
Aplikasi musuh alami untuk
mengendalikan hama utama jagung
adakalanya kurang efektif. Salah satu
faktor ketidakberhasilan penggunaan
agen pengendali hayati di areal pertanian
adalah manajemen musuh alami
tersebut. Jika faktor ini dapat ditangani
dengan baik, maka kerusakan tanaman
dapat ditekan yang pada akhirnya
produksi dapat ditingkatkan dan ramah
lingkungan. Pengelolaan musuh alami
dimaksudkan untuk meningkatkan
keefektifan agen pengendali hayati
dalam mengendalikan serangga hama
dan mengurangi penggunaan pestisida
sintetik yang memiliki pengaruh negatif
terhadap lingkungan.
Pengelolan musuh alami, akan
berhasil jika memperhatikan jenis hama,
jenis musuh alami, tata cara aplikasi,
lingkungan berupa suhu, kelembaban,
curah hujan, sinar matahari, dan angin.


DAFTAR PUSTAKA
Adams, J.B. and M.E. Drew. 1964. Grain
aphids in Brunswick. II.
Comparative development in the
greenhouse of three aphid species
on four kinds of grasses. Canadian
Journal of Zoology, 42:741-744.
Adnan, A.M., 2004. Isolation,
characterization, and efficacy of
entomopathogenic nematides as
biological control agent against
Asian Corn Borer (Ostrinia
furnacalis) and cutworm
(Spodoptera litura). University of
The Philippines Los Banos.
Dissertation.
Adnan, A.M., 2010. Pemanfaatan
predator cecopet Eiborellia
annulata untuk mengendalikan
penggerek batang jagung (Ostrinia
furnacalis). Laporan Akhir Tahun
TA. 2010. Balai Penelitian
Tanaman Serealia.
Adnan dan Burhanuddin, 2007.
Bioecology of entomopathogenic
nematode (Steinernemadae;
Rhabditids). Prosiding Seminar

402
A.M. Adnan : Manajemen Musuh Alami Hama Utama Jagung

Ilmiah dan Pertemuan Tahunan
XVIII PEI dan PFI. Hal: 199-320
Adnan dan Syamsuddin. 2009.

Alba M.C., 1989. Eggs parasitoids of
lepidoptera pest economic
importance in the Philippines.
Biological Control of Pest. Biotrop
Special Publ. No. 36: 123-139.
Altre, J.A. and J.D. Vandenberg. 2001a.
Penetration of cuticle and
proliferation in himolymph by
Paecilomyces fumosoroseus isolates
that differ in virulence against
lepidopteran larvae. J. Invertebr.
Pathol. (78): 78-85.
Arthurs, S. and M.B. Thomas. 2001.
Effects of temperature and relative
humidity on speculation of
Metarhizium anisopliae var.
acridum in mycosed cadavers of
Schistocerca gregaria. J. Invertebr.
Pathol. (78): 59-65.
Badan Pusat Statistik, 2009. Luas panen,
produktivitas, dan produksi
Jagung. www.bps.go.id/
Baco dan Yasin, 2000. Pengendalian
penggerek batang jagung (Ostrinia
furnacalis) dengan predator dan
patogen. Laporan Tahunan
Penelitian Hama dan Penyakit.
Balitjas. 2001.
Baur M.E, H.K. Kaya, and Bruce E.T.,
1997. Efficacy of a dehydrate
steinernematid nematod against
black cutworm (Lepidoptera;
Noctuidae) and diomand back
moth (Lepidoptera: Plutellidae). J.
Econ. Entomology 90(5): 1200-
1206
Bayrami dan Kornosor, 1998. Biological
feature of Trichogramma
evanescens Westwood
(Hymenoptera;
Trichogrammatidae) on the eggs of
Sesamia nonagrioides Lefebre
(Lepidoptera; Noctuidae). Http://
www.infolomd.at.
Cloyd, R. 2003. The entomopathogen
Verticillium lecanii. Midwest
Biological Control News. University
of Illions. http://www.
extension.umn.Edu.
Crop Protection Compendium, 2005.
CABI
Ganguli, R.N. and D.N. Raychaudhuri.
1980. Studies on Rhopalosiphum
maidis Fitch (Aphididae:
Homoptera)-a formidable pest of
Zea mays (maize), in Tripura.
Science and Culture, 46(7):259-
261.
Glazers dan A. Navon, 1990. Activity and
persistance of entomopathogenic
tested against Heliothis armigera
(Lepidoptera; Noctuidae). J. Econ.
Entomol. 83(5): 1795-1800.
Hall, R.A. 1980. Control of aphids by the
fungus, Verticillium lecanii: Effect
of spore concentration. Entomol.
Experiment. App. (27): 1-5.
Hoddle, M.S. 1999. The biology and
management of silverleaf whitefly
Bemisia argentifolii Bellows and
Perring (Homoptera: Aleyrodidae)
on greenhouse grown
ornamentals.http://www.biocontr
ol.ucr.edu/ bemisia.html#
verticillium [5 April 2005].
Holloway JD, 1989. The moths of Borneo:
family Noctuidae, trifine
subfamilies: Noctuinae,
Heliothinae, Hadeninae,
Acronictinae, Amphipyrinae,
Agaristinae. Malayan Nature
Journal, 42(2-3):57-228.
Javier P.A. and Morallo Rejesus B., 1991.
Selective Toxicity of Insecticide to
the Earwig Eauborellia annulata
fabricus (Dermaptera:
Anisolabididae) Predatory to the
Asian Corn Borer Ostrinia
furnacalis Guenne. The Philiphine
Agriculturist.
Kalshoven, LGE. 1981. Pests of Crops in
Indonesia. PT. Ichtiar. Baru-Van-
Hoeve. Jakarta. 701 p.
Kaya, H.K dan R. Gaugler, 1993.
Entomopathogenic nematodes.

403
Seminar Nasional Serealia 2011

Annual Review Entomology. 38z;
181-206
Kranz, J., H. Schumutterer, and W. Koch
(Eds.) 1977. Diseases, Pests, and
Weeds in Tropical Crops. Berlin
and Hamburg, Germany: Verlag
Paul Parley
Kring, T.J. 1985. Key and diagnosis of the
instars of the corn leaf aphid
Rhopalosiphum maidis (Fitch).
Southwestern Entomologist,
10(4):289-293.
Legacion, D.M. and B.P. Gabriel. 1988.
Note: oviposition of Asiatic corn
borer moths on corn plants.
Philippine Agriculturist,
71(3):375-378.
Lee YB, CY, Hwang, KM, Choi, and JY,
Shim, 1980. Studies on the
bionomics of the oriental corn
borer Ostrinia furnacalis (Guenee).
Korean Journal of Plant Protection,
19(4):187-192.
Lewis, E.E. 2001. Behavioural Biology. In
Entomopathogenic nematodes
edited by R. Gaugler. Pp. 205-223
Lacey, L.A. and M.S. Goettel. 1995.
Current developments in microbial
control of insect pests and
prospects for the early 21 century.
Entomophaga (40): 3-27.
Mazet, I., J.C. Pendland, and D.G. Boucias.
1996. Dependence of Verticillium
lecanii (Fungi:Hypomycetes) on
high humidity for infection and
sporulation using Myzus persicae
(Homoptera:Aphididae) as host.
Environ. Entomol. (15): 380-382.
Marcandier, S. dan S.S. Khachatourians,
1978. Susceptibility of the
migratory grasshopper
Melanophus sanguininipes Fab
(Orthoptera; Acrididae) to
Beauveria bassiana Bals
(Hyphomycetes), influence of
relatif humidity. The Canadian
Entomologist, 119 (10: 9011-907).
Mau, R.F.L. and J.L.M. Kessing. 1992.
Rhopalosiphum maidis (Fitch).
Honolulu, Hawaii: Hawaii
Entomology Extension Service.
http://www.extento. hawaii.edu/.
Metcal RL. and R.A. Metcalf, 1993.
Destructive and useful insect, their
habits, and their control. Fifth
Edition.Mc. Grow-Hill. Inc.
Mutuura A, and E. Munroe, 1970.
Taxonomy and distribution of the
European corn borer and allied
species: genus Ostrinia
(Lepidoptera:Pyralidae). Memoirs
of the Entomological Society of
Canada No.71, 112 pp.
Nafus dan Schreiner. 1987. Location of
Ostrinia furnacalis Gueene. Eggs
and larvae on sweet corn in
relation to plant growth. Journal of
econ entomol, 84(2). 411-416
Nickle W.R dan M. Shapiro, 1994. Effect
of eiigth brigthteners as solar
radiation protectans for
Steinernema carpocapse, All Strain.
Supplement to journal of
Nematology 26 (48). P. 82-784
Nonci, N, J. Tandiabang, Masmawati, A
Muis, 2000. Inventarisasi musuh
alami penggerek batang jagung
(Ostrinia furnacalis) pada sentra
produksi jagung di Sulawesi
Selatan. Penelitian Pertanian. Pusat
Penelitian Tanaman Pangan. Badan
Penelitian dan Pengembangan
Pertanian. Hal 38-49.
Nonci dan Masmawati, 2005.
Kemampuan jelajah Trichogramma
evanescens Westwood parasitoid
telur penggerek batang (Ostrinia
furnacalis). Prosiding Seminar dan
Lokakarya Nasional. Pusat
Penelitian dan Pengembangan
Tanaman Pangan. Badan Penelitian
dan Pengembangan Pertanian.
Makassar, 23-25 September 2005.
Hal: 562-566.
Nonci dan Pabbage, 2000. Tingkat
parasitasi Trichogramma
evanescens Westwood pada telur
penggerek batang jagung Ostrinia
furnacalis Guenee di rumah kaca.
Hasil penelitian hama dan penyakit
1999-2000. Balai Penelitian

404
A.M. Adnan : Manajemen Musuh Alami Hama Utama Jagung

Tanaman Jagung dan Serealia Lain.
Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian.
Pabbage, M.S., N. Nonci, D. Baco. 2000.
Kefektifan Trichogrammatoidae
bactrae fumata dalam
pengendalian penggerek tongkol
jagung Helicoverpa armigera
(Lepidoptera; Noctuidae) di
laboratorium. Hasil Penelitian
Hama dan Penyakit 1999/2000.
Balai Penelitia Tanaman Jagung
dan Serealia Lainnya. Badan
Penelitian dan Pengembangan
Pertanian.
Prayogo, Y. 2004. Keefektifan lima jenis
cendawan entomopatogen
terhadap hama pengisap polong
kedelai Riptortus linearis (L.)
(Hemiptera: Alydidae) dan
dampaknya terhadap predator
Oxyopes javanus Thorell (Araneida:
Oxyopidae). Tesis. Departemen
Hama Penyakit Tanaman, Sekolah
Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogor. 51 hlm.
Prayogo, Y., W. Tengkano, dan
Suharsono. 2002a. Jamur
entomopatogen pada Spodoptera
litura dan Helicoverpa armigera.
Seminar Hasil Penelitian Tanaman
Kacangkacangan dan Umbi-
umbian. Malang, 2526 Juni 2002.
Balai Penelitian Tanaman Kacang-
kacangan dan Umbi-umbian,
Malang. 15 hlm.
Philippine-German Crop Protection
Programme (PGCPP), !987.
Integrated Pest Management. Corn.
Bureau Of Plant Industry,
Department of Agriculture. San
Andres, Malate, Manila.
Philippines.
Situmorang J. and B.P. Gabriel, 1988.
Biologi of two predatory Earwigs,
Nala lividipes (Dotour)
(Dermaptera: Labiduridae) and
Euborellian annulata (Fabricus)
(Dermaptera: Anisolabididae).
Philipphine Entomol. 7 (3): 215-
238.
Smart, G.C., Jr. 1995. Entomopathogenic
nematodes for biological control of
insects. Supplement to J. Nematol.
27(48): 529-534
Steinkraus, D.C. and P.H. Slaymaker.
1994. Effect of temperature and
humidity on formation,
germination, and infectivity of
conidia of Neozygites fresenii
(Zygomycetes: Neozygitaceae)
from Aphis gossypii (Homoptera:
Aphididae). J. Invertebr. Pathol.
(64): 130-137.
Suharsono dan Y. Prayogo. 2005.
Pengaruh lama pemaparan pada
sinar matahari terhadap viabilitas
jamur entomopatogen Verticillium
lecanii. Jurnal Habitat XVI(2): 122-
131.
Swastika, Dewa K.S., F. Kasim, W. Sudana,
R. Hendayani, K. Suhariyanto, R.V.
Gerpacio, P.L. Pingali. 2004. Maize
in Indonesia, Production system,
constraints, research priorities.
CIMMYT.
Tanada, Y. and H.K. Kaya. 1993. Insect
Pathology. Academic Press, Inc.,
California.
Tandiabang, J., Y. Said, M.S. Saenong,
2005. Resensi teknologi penelitian
Beauveria bassiana Vuill untuk
penanganan OPT jagung. Prosiding
Seminar dan Lokakarya Nasional.
Pusat Penelitian dan
Pengembangan Tanaman Pangan.
Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian.
Makassar, 23-25 September 2005.
Tohidin, A.T. Lisrianto, dan B.P. Machdar.
1993. Daya bunuh jamur
entomopatogen Beauveria bassiana
(Balsamo) Vuillemin (Moniliales:
Moniliacea) terhadap Leptocoriza
acuta Thunberg (Hemiptera:
Alydidae) di rumah kaca. hlm. 135-
143. Dalam E. Martono, E. Mahrub,
N.S. Putra, dan Y. Trisetyawati
(Ed.). Prosiding Simposium
Patologi Serangga I. Yogyakarta,
12-13 Oktober 1993. Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.

405
Seminar Nasional Serealia 2011

Waterhouse DF, 1993. The major
arthropod pests and weeds of
agriculture in Southeast Asia. The
major arthropod pests and weeds
of agriculture in Southeast Asia., v
+ 141 pp.; [ACIAR Monograph No.
21]; 3 pp. of ref.
Wahyunendo, Y.D. 2002. Sporulasi
cendawan entomopatogen
Beauveria bassiana (Bals.) Vuill.
pada berbagai media alami dan
viabilitasnya di bawah pengaruh
suhu dan sinar matahari [Skripsi].
Bogor. Institut Pertanian Bogor.
Jurusan Hama dan Penyakit
Tumbuhan.
Wikardi, E.A. 1993. Teknik perbanyakan
Beauveria bassiana dan aplikasinya
di lapang. hlm. 205-214. Dalam E.
Martono, E. Mahrub, N.S. Putra, dan
Y. Trisetyawati (Ed.). Prosiding
Simposium Patologi Serangga I.
Yogyakarta, 12-13 Oktober 1993.
Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta
Yasin, M., S. Masud, A.H. Talanca, D. Baco,
2000. Pengaruh lama
penyimpanan cendawan Beauveria
bassiana dalam pengendalian
penggerek batang jagung (Ostrinia
furnacalis. Hasil Penelitian Hama
dan Penyakit 2000. Balai Penelitia
Tanaman Jagung dan Serealia
Lainnya. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian.