Anda di halaman 1dari 10

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS GADJAH MADA


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
LABORATORIUM GEOFISIKA EKSPLORASI

LAPORAN PRAKTIKUM GEOFISIKA EKSPLORASI 1
METODE GEOLISTRIK 2
(METODE WENNER)













DISUSUN OLEH :
SUSILOWATI
12/333437/TK/39589


ASISTEN ACARA :
DHIA OCTA DESSANDYA ANGGAPUTRA
USWATUN KHASANAH
RAFAEL KARTIKA J D



YOGYAKARTA
OKTOBER
2014
Maksud dan Tujuan
Maksud :
- Mengetahui pengertian dan kegunaan metode geolistrik Wenner
- Mengetahui prinsip kerja metode geolistrik Wenner
- Mengetahui cara pengukuran dan pengolahan data metode geolistrik
Wenner
Tujuan :
- Menduga keadaan bawah permukaan serta jenis batuan berdasarkan
pengukuran sifat-sifat kelistrikan batuan

Dasar Teori
Metode geolistrik Wenner merupakan metode pengukuran tahanan jenis
lapisan batuan dengan menempatkan keempat elektrodanya, yaitu 2 elektroda arus
dan 2 elektroda potensial dengan jarak antar elektroda yang sama.

Pada lapisan yang memiliki jenis batuan beragam (heterogen), nilai Rho ()
batuan yang sebenarnya tergantung oleh ketebalan lapisan dan harga Rho ()
lapisan diatasnya. Parameter yang diukur dengan alat yaitu : Jarak elektroda (a),
Beda potensial (V), dan Kuat arus (I). Sedangkan parameter yang harus dihitung
yaitu : Faktor geometri (K), Tahanan jenis (R), dan Tahanan jenis semu (
a
).
Faktor geometri pada metode Wenner dapat dihitung menggunakan
pengukuran sebagai berikut :

Pemrosesan data Wenner dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu :
1) Penyamaan Kurva
Data lapangan dilakukan penyamaan kurva dengan kurva teoritis
2) Menghitung Nilai Kumulatif Moore
Nilai tahan jenis dihitung secara kumulatif kemudian dibuat grafiknya
3) Menghitung Nilai Barnes
Tabel Data
Titik 2
No a (m) V (m dari 0) I (m dari 0) R (Ohm) 2a / K
2aR /
a
(Ohm-m)
1 0,5 0,25 0,75 71,7 3,14 225,138
2 1 0,5 1,5 42,55 6,28 267,214
3 1,5 0,75 2,25 27,21 9,42 256,318
4 2 1 3 20,12 12,56 252,707
5 2,5 1,25 3,75 14,41 15,7 226,237
6 3 1,5 4,5 10,35 18,84 194,994
7 3,5 1,75 5,25 7,44 21,98 163,531
8 4 2 6 5,623 25,12 141,25
9 4,5 2,25 6,75 4,06 28,26 114,736
10 5 2,5 7,5 2,787 31,4 87,5118
11 5,5 2,75 8,25 2,066 34,54 71,3596
12 6 3 9 1,534 37,68 57,8011
13 6,5 3,25 9,75 1,225 40,82 50,0045
14 7 3,5 10,5 0,96 43,96 42,2016
15 7,5 3,75 11,25 0,807 47,1 38,0097
16 8 4 12 0,668 50,24 33,5603
17 9 4,5 13,5 0,412 56,52 23,2862
18 10 5 15 0,344 62,8 21,6032
19 11 5,5 16,5 0,272 69,08 18,7898
20 12 6 18 0,228 75,36 17,1821
21 13 6,5 19,5 0,221 87,92 19,4303
22 14 7 21 0,164 87,92 14,4189
23 15 7,5 22,5 0,163 94,2 15,3546
24 16 8 24 0,158 100,48 15,8758
25 17 8,5 25,5 0,135 106,76 14,4126

Titik 3
No a (m) V (m dari 0) I (m dari 0) R (Ohm) 2a / K
2aR /
a
(Ohm-m)
1 0,5 0,25 0,75 62,75 3,14 197,035
2 1 0,5 1,5 34,7 6,28 217,916
3 1,5 0,75 2,25 23,85 9,42 224,667
4 2 1 3 16,72 12,56 210,003
5 2,5 1,25 3,75 12,25 15,7 192,325
6 3 1,5 4,5 9,534 18,84 179,621
7 3,5 1,75 5,25 7,715 21,98 169,576
8 4 2 6 6,418 25,12 161,22
9 4,5 2,25 6,75 5,025 28,26 142,007
10 5 2,5 7,5 4,266 31,4 133,952
11 5,5 2,75 8,25 3,337 34,54 115,26
12 6 3 9 2,54 37,68 95,7072
13 6,5 3,25 9,75 1,977 40,82 80,7011
14 7 3,5 10,5 1,578 43,96 69,3689
15 7,5 3,75 11,25 1,278 47,1 60,1938
16 8 4 12 1,005 50,24 50,4912
17 9 4,5 13,5 0,696 56,52 39,3379
18 10 5 15 0,508 62,8 31,9024
19 11 5,5 16,5 0,382 69,08 26,3886
20 12 6 18 0,298 75,36 22,4573
21 13 6,5 19,5 0,267 87,92 23,4746
22 14 7 21 0,236 87,92 20,7491
23 15 7,5 22,5 0,297 94,2 27,9774
24 16 8 24 0,295 100,48 29,6416
25 17 8,5 25,5 0,19 106,76 20,2844

Titik 4
No a (m) V (m dari 0) I (m dari 0) R (Ohm) 2a / K
2aR /
a
(Ohm-m)
1 0,5 0,25 0,75 18,19 3,14 57,1166
2 1 0,5 1,5 9,395 6,28 59,0006
3 1,5 0,75 2,25 5,734 9,42 54,0143
4 2 1 3 3,791 12,56 47,615
5 2,5 1,25 3,75 2,85 15,7 44,745
6 3 1,5 4,5 1,874 18,84 35,3062
7 3,5 1,75 5,25 1,253 21,98 27,5409
8 4 2 6 0,948 25,12 23,8138
9 4,5 2,25 6,75 0,769 28,26 21,7319
10 5 2,5 7,5 0,644 31,4 20,2216
11 5,5 2,75 8,25 0,561 34,54 19,3769
12 6 3 9 0,508 37,68 19,1414
13 6,5 3,25 9,75 0,478 40,82 19,512
14 7 3,5 10,5 0,424 43,96 18,639
15 7,5 3,75 11,25 0,39 47,1 18,369
16 8 4 12 0,371 50,24 18,639
17 9 4,5 13,5 0,338 56,52 19,1038
18 10 5 15 0,31 62,8 19,468
19 11 5,5 16,5 0,291 69,08 20,1023
20 12 6 18 0,262 75,36 19,7443
21 13 6,5 19,5 0,248 87,92 21,8042
22 14 7 21 0,236 87,92 20,7491
23 15 7,5 22,5 0,219 94,2 20,6298
24 16 8 24 0,203 100,48 20,3974
25 17 8,5 25,5 0,183 106,76 19,5371

Contoh Perhitungan
Titik 2
K = 2a K = 2a
= 2.3,14.0,5 = 2.3,14.6
= 3,14 = 37,68

a
= K.R
a
= K.R
= 3,14. 71,7 = 37,68. 15,34
= 225,138 = 57,8011

Titik 3
K = 2a K = 2a
= 2.3,14.0,5 = 2.3,14.6
= 3,14 = 37,68

a
= K.R
a
= K.R
= 3,14. 62,75 = 37,68. 2,54
= 197,035 = 95,7072

Titik 4
K = 2a K = 2a
= 2.3,14.0,5 = 2.3,14.6
= 3,14 = 37,68

a
= K.R
a
= K.R
= 3,14. 18,19 = 37,68. 0,508
= 57,1166 = 19,1414


Kolom Litologi dan Korelasi 3 Titik
Tabel Titik 2
Titik Pusat
Koordinat
K Litologi
a
P
1
0,5 225,138 1,22 Top Soil
P
2
1,9 250 0,818 Wathered Bedrock
P
3
2,4 240 0,07 Basalt
P
4
3 190 0,125 Graphitic Schist


Tabel Titik 3
Titik Pusat
Koordinat
K Litologi
a
P
1
1,6 210 0,818 Top Soil
P
2
4,5 180 0,250 Wathered Bedrock
P
3
6,5 105 0,075 Basalt


Tabel Titik 4
Titik Pusat
Koordinat
K Litologi
a
P
1
0,8 59 0,818 Clay
P
2
2 50 0,200 Top Soil
P
3
4,4 285 1 Weathered Bedrock
P
4
10 180 1,22 Basalt



Korelasi 3 Titik

Arah Pengendapan
Interpretasi
Berdasarkan praktikum geolistrik dengan metode Wenner kita dapat
menentukan berbagai jenis batuan dengan mengetahui sifat fisiknya lalu batuan
yang sama dapat dikorelasikan dari berbagai titik pengamatan. Praktikum kali ini
mengolah data dari tiga titik pengamatan.
Dari titik 2 ditemukan berbagai nilai resitivitas dari beberapa jenis batuan
yang dapat diinterpretasikan dari atas ke bawah berupa Top Soil, Weathered
Bedrock, Basalt dan Graphitic Schist. Di titik 3 berupa Top Soil, Weathered
Bedrock dan Graphitic Scist. Sedangkan di titik 4 diinterpretasikan berupa Clay,
Top Soil, Weathered Bedrock dan Graphitic Schist.
Dari ketiga titik pengamatan maka lapisan batuan tersebut dapat dikorelasi
dan dilihat kemenerusannya serta perubahn volume lapisan pada setiap titik
pengamatan. Dari hasil korelasi tersebut dapat ditentukan arah pengendapan dan
sumbernya. Berikut ini adalah gambar hasil korelasi batuan :

Clay
Top Soil
Weathered Bedrock

Basalt

Graphiic Schist

Lapisan dianggap memiliki arah pengendapan ke kiri karena dapat dilihat
volume batuan beku dan lapukannya semakin mengecil dan ditemukan batuan
metamorf pada titik 2. Sedangkan pada titik 4 justru ditemukan lapisan clay pada
lapisan paling atas yang dianggap sebagai endapan paling muda setelah terbentuk
soil.
Dapat diinterpretasikan bahwa sumber berada di kiri karena ditemukan
basalt yang lebih tebal (diinterpretasikan sebagai lava) dan clay sebagai endapan
muda yang terbentuk pada titik 4 saja. Sedangkan batuan metamorf dapat
ditemukan hanya pada titik 2 yang diinterpretasikan sebagai dasar lapisan batuan
sebelum ditemukan basalt.
Kesimpulan
Berdasarkan pada praktikum geolistrik dengan metode Wenner ini dapat
disimpulkan bahwa :
- Dari nilai resistivitas yang ada, ketiga titik engamatan memiliki susunan
litologi yang hampir sama tetapi dengan sedikit perbedaan.
- Hasil korelasi menunjukan daerah pengamatan dari tua ke muda terdiri
dari graphitic schist, basalt, weathered bedrock, top soil dan endapan clay.
- Dapat diinterpretasikan arah pengendapan dari ttik 4 ke titik 2 dan
sumbernya berada pada kanan dari titik 4





























LAMPIRAN