Anda di halaman 1dari 13

Nama : Nanda Kusuma Yuda

NPM : 1102013207

1. Memahami & Menjelaskan Kaidah Dasar Bioetik
2. Memahami & Menjelaskan Euthanasia
2.1 Definisi
2.2 Jenis
2.3 Cara
2.4 Faktor
2.5 Pandangan Hukum Kedokteran
2.6 UU Euthanasia
3. Memahami & Menjelaskan Pandangan Islam
3.1 Tentang Euthanasia
3.2 Tawakal




















1. Memahami & Menjelaskan Kaidah Dasar Bioetik

Prinsip Bioetik Benefience
Prinsip berbuat baik Beneficence Yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan
yang ditujukan ke kebaikan pasien atau penyediaan keuntungan dan menyeimbangkan
keuntungan tersebut dengan risiko dan biaya. Dalam Beneficence tidak hanya dikenal
perbuatan untuk kebaikan saja, melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih
besar daripada sisi buruknya (mudharat).Prinsip berbuat baik (beneficence), merupakan segi
positif dari prinsip non maleficence. Tapi kewajiban berbuat baik ini bukan tanpa batas. Ada
4 (empat) langkah sebagai proses untuk menilai risiko, sehingga kita bisa memperkirakan
sejauh mana suatu kewajiban bersifat mengikat :

1. Orang yang perlu bantuan itu mengalami suatu bahaya besar atau risiko kehilangan
sesuatu yang penting
2. penolong sanggup melakukan sesuatu untuk mencegah terjadinya bahaya atau
kehilangan itu
3. tindakan penolong agaknya dapat mencegah terjadinya kerugian itu, dan
4. manfaat yang diterima orang itu melebihi kerugian bagi penolong dan membawa
risiko minimal.

Ciri-ciri Prinsip Bioetik Benefience, antara lain :
1. Mengutamakan altruism (menolong tanpa pamrih, rela berkorban untuk
kepentingan orang lain)
2. Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia
3. Memandang pasien/keluarga sebagai sesuatu yang tak hanya menguntungkan
dokter
4. Mengusahakan agar kebaikan lebih banyak dibandingkan keburukannya
5. Paternalisme bertanggungjawab/berkasih sayang
6. Menjamin kehidupan baik minimal manusia
7. Pembatasan goal based (sesuai tujuan/kebutuhan pasien)
8. Maksimalisasi pemuasan kebahagiaan/preferensi pasien
9. Minimalisasi akibat buruk
10. Kewajiban menolong pasien gawat darurat
11. Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan
12. Tidak menarik honorarium di luar kewajaran
13. Maksimalisasi kepuasan tertinggi secara keseluruhan
14. Mengembangkan profesi secara terus menerus
15. Memberikan obat berkhasiat namun murah
16. Menerapkan golden rule principle


Prinsip Bioetik Non-Malefience
Tidak berbuat yang merugikan (non-maleficence). Praktik Kedokteran haruslah
memilih pengobatan yang paling kecil risikonya dan paling besar manfaatnya. Misalnya
segera melakukan pemeriksaan kerana kecurigaan. Kaidah ini pula penting terutama sekali
ketika waktu-waktu emergensi atau gawat darurat. Kaidah ini bermaksud tidak menimbulkan
bahaya atau kecederaan kepada pasien dari segi fizikal atau psikologis. Prinsip non-
maleficence ini boleh digambarkan dengan kata ini yaitu primum non nocere iaitu pertama
jangan menyakiti. Prinsipo ini menjadi suatu kewajipan apabila:
Pasien berada dalam keadaan yang sangat berbahaya atau berisiko kehilangan sesuatu
yang sangat penting seperti nyawa atau anggota badan.
Tindakan dokter tadi ialah yang paling efektif pada waktu itu.
Manfaat bagi pasien adalah lebih berbanding manfaat kepada dokter.

Prinsip tidak merugikan (non maleficence), merupakan prinsip dasar menurut tradisi
Hipocrates, primum non nocere. Jika kita tidak bisa berbuat baik kepada seseorang, paling
tidak kita tidak merugikan orang itu. Dalam bidang medis, seringkali kita menghadapi situasi
dimana tindakan medis yang dilakukan, baik untuk diagnosis atau terapi, menimbulkan efek
yang tidak menyenangkan.
Ciri-ciri Prinsip Bioetik Non-Maleficence ialah:
Menolong pasien yang emergensi
Mengobati pasien yang luka
Tidak membunuh pasien
Tidak menghina atau memanfaatkan pasien
Tidak memandang pasien sebagai obyek
Tidak membahayakan kehidupan pasien kerana kelalaian
Tidak melakukan white collar crime dalam bidang kesehatan atau kerumahsakitan
yang merugikan pihak pasien atau keluarganya
Memberikan semangat hidup
Melindungi pasien dari serangan
Manfaat bagi pasien lebih banyak daripada kerugian dokter
Futility
Futility berarti tidak ada keuntungan. Digunakan untuk menggambarkan ketidak bergunaan
atau tidak adanya efek seperti yang diinginkan. Kesia-siaan terdiri dari pertimbangan antara
lain kualitatif dan kuantitatif . Masing masing memiliki pengertian yang berbeda, dimana
kuantitatif adalah dimana kualitas hidup pasien jatuh sedangkan kuantitatif adalah gagal
dalam jumlah yang ditentukan terakhir kali mencoba.


Prinsip Bioetik Justice (Keadilan)

Prinsip keadilan (justice), berupa perlakuan yang sama untuk orang-orang dalam
situasi yang sama, artinya menekankan persamaan dan kebutuhan, bukannya kekayaan dan
kedudukan sosial. Dalam rangka memberikan kepastian dan pelayanan yang standar dalam
bidang kedokteran, buku ini telah disusun bersama-sama untuk mewujudkan cita-cita luhur
mewujudkan masyarakat Indonesia sejahtera seutuhnya. Namun, tentunya tak ada gading
yang tak retak. Di sana-sini tentunya masih banyak kekurangan. Untuk itu kritik dan saran
yang membangun akan sangat kami hargai.
Prinsip ini menuntut agar kita memperlakukan orang lain sesuai dengan haknya. Hak
orang lain perlu dihargai dan jangan sampai dilanggar, persis seperti kita pun mengharapkan
agar hak kita dihargai dan tidak dilanggar. Prinsip ini mengatur agar kita bertindak
sedemikian rupa sehingga hak semua orang terlaksana secara kurang lebih sama sesuai
dengan apa yang menjadi haknya tanpa saling merugikan.


Ciri-ciri Prinsip Bioetik justice :

1. Memberlakukan segala sesuatu secara universal
2. Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan
3. Menghargai hak sehat pasien
4. Menghargai hak hukum pasien
5. 5 menghargai hak orang lain
6. Tidak melakukan penyalahgunaan
7. Tidak membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA, status sosial
8. Tidak memberbeban berat secara tidak merata tanpa lasan tepat atau sah
9. Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten




Prinsip Bioetik Otonomi ( Self-Determination )

Prinsip menghormati otonomi pasien (Self-Determination), merupakan suatu
kebebasan bertindak dimana seseorang mengambil keputusan sesuai dengan rencana yang
ditentukannya sendiri. Di sini terdapat 2 unsur yaitu : kemampuan untuk mengambil
keputusan tentang suatu rencana tertentu dan kemampuan mewujudkan rencananya menjadi
kenyataan. Dalam hubungan dokter-pasien ada otonomi klinik atau kebebasan professional
dari dokter dan kebebasan terapetik yang merupakan hak pasien untuk menentukan yang
terbaik bagi dirinya, setelah mendapatkan informasi selengkap-lengkapnya.


2. Memahami & Menjelaskan Euthanasia
2.1 Definisi

Euthanasia berasal dari kata Yunani Euthanathos. Eu = baik, tanpa penderitaan,
sedang tanathos = mati. Euthanasia adalah dengan sengaja tidak melakukan sesuatu
untuk memperpanjang hidup seorang pasien atau sengaja melakukan sesuatu untuk
memperpendek hidup atau mengakhiri hidup seorang pasien, dan ini dilakukan untuk
kepentingan pasien sendiri.

2.2 Jenis

Dari penggolongan Euthanasia, yang paling praktis & mudah dimengerti adalah:
A. Euthanasia aktif adalah tindakan secara sengaja dilakukan oleh dokter atau
tenaga kesehatan lain untuk memperpendek atau mengakhiri hidup pasien.
Merupakan tindakan yang dilarang, kecuali di negara yang telah
membolehkannya lewat peraturan perundangan.
B. Euthanasia pasif adalah dokter atau tenaga kesehatan lain secara sengaja tidak
(lagi) memberikan bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup pasien,
misalnya menghentikan pemberian infus, makanan lewat sonde, alat bantu
nafas, atau menunda operasi.
C. Auto euthanasia adalah seorang pasien menolak secara tegas dengan sadar
untuk menerima perawatan medis & dia mengetahui bahwa hal ini akan
memperpendek atau mengakhiri hidupnya.

2.3 Cara


2.4 Faktor

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemberlakuan Euthanasia
1. Rasa sakit yang tidak tertahankan
- Pro :
Melihat salah satu anggota keluarganya menderita penyakit ganas yang tidak
kunjung sembuh merupakan kepedihan. Mereka tidak tega melihat pasien tersebut
tersiksa dengan rasa sakitnya. Oleh karena itu, mereka menyetujui untuk
melakukan euthanasia.
- Kontra :
Rasa sakit yang tidak tertahankan bukanlah suatu alasan bagi seseorang
untuk memutuskan mengakhiri hidupnya. Kita boleh menghindari dari rasa sakit
itu, tetapi tidak berarti kita dapat menghalalkan segala cara. Memutuskan untuk
mati bukanlah cara yang tepat. Allah yang berhak untuk memutuskan kehidupan
dan kematian seseorang. Melalui situasi ini, seseorang pun dapat mengambil suatu
pembelajaran. Kondisi tersebut membuat iman kita teruji, hubungan kita dengan
Allah akan semakin dekat, kita pun juga akan menjadi bergantung
dan menyerahkan segala kehidupan kita kepadaNya. Allah pasti memiliki rencana
yang indah bagi semua orang.
2. Manusia memiliki hak untuk mati secara bermartabat
- Pro :
Manusia telah menjalani proses kehidupan yang begitu panjang dan begitu banyak
pengalaman. Manusia melalui jalan kehidupannya karena pilihannya sendiri di
awal kehidupannya sehingga manusia pula yang akan memilih jalan kehidupannya
untuk mengakhiri hidupnya. Merupakan hak manusia untuk memilih tetap hidup
atau mengakhiri kehidupannya dengan damai, tanpa rasa sakit.
- Kontra :
Banyak orang berpendapat bahwa hak untuk mati adalah hak asasi manusia, yaitu
hak untuk menentukan diri sendiri (the right of self determination). Menurut
masyarakat, manusia memiliki hak untuk menentukan pilihannya sendiri untuk
tetap hidup atau mati dengan tenang. Penolakan atas hak untuk mati dianggap
sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia yang wajib dijunjung dan
dihormati. Pandangan ini merupakan pandangan yang salah. Memang manusia
diberi hak untuk menentukan diri sendiri, tetapi bukan untuk menentukan
kapan kehidupannya berakhir. Manusia diberikan hak untuk menentukan prinsip
hidupnya, menentukan tujuan hidupnya tanpa hasutan dari orang lain, menentukan
sikap dan tingkah lakunya sendiri, tetapi bukan menentukan kematiannya. Hidup
atau mati merupakan kedaulatan Allah. Allah adalah pencipta dan pemilik segala
sesuatu (Kejadian 1:1, Mazmur 24:1), termasuk manusia yang diciptakan menurut
gambar-Nya (Kejadian 1:27). Allah yang memberikan kita nafas dan hidup, maka
Allahlah yang berhak mencabutnya. Jika kita melakukan euthanasia, maka
sama saja kita mendahului kehendak Allah. Kita adalah manusia, bukan Allah.
3. Ketidakmampuan dalam pembiayaan pengobatan
- Pro :
Biaya pengobatan tidak tergolong murah, apalagi jika pasien menderita
penyakit parah dan harus rawat inap di rumah sakit. Karena dana tidak cukup untuk
menutup semua biaya,akhirnya pasien memutuskan untuk melakukan euthanasia.
- Kontra :
Kita harus dapat membedakan antara ketidakmampuan dengan ketidakmauan
untuk membiayai pengobatan.Ketidakmauan untuk membiayai pengobatan secara
tidak langsung tergolong sebagai tindakan membunuh dan merupakan tindakan
dosa. Maksudnya, seseorang sadar bahwa ia mampu membiayai pengobatan salah
satu anggota keluarganya (walaupun tidak dalam jumlah besar), tetapi ia tidak
melakukannya dan membiarkannya. Hal ini menandakan bahwa orang tersebut
terlalu materialistik (terlalu cinta uang, gila harta) hingga menghiraukan nyawa
seseorang. Ingatlah bahwa nyawa seseorang lebih berharga daripada harta yang
kita miliki. Kita tidak dapat membayar nyawa dengan uang atau dengan apa pun
juga. Jika seseorang membiayai seluruh pengobatan yang dijalani oleh salah satu
anggota keluarganya, tetapi suatu ketika uang yang dimilikinya habis sehingga ia
memberhentikan pengobatan medis dan memutuskan untuk merawatnya sendiri
di rumah merupakan tindakan yang tidak tergolong dosa. Orang tersebut sadar
bahwa ia mampu dan ia memberikan yang terbaik untuk kesehatan salah satu
anggota keluarganya tersebut. Ia tidak mementingkan dirinya sendiri, tetapi rela
berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Yang terpenting ialah ia sadar
dan berusaha semaksimal mungkin demi kepentingan orang lain, bukan harta.
4. Keadaan seseorang yang tidak berbeda dengan orang mati
- Pro :
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr. James Dubois dari Universitas
SaintLouis dan Tracy Schmidt dari Intermountain Donor Service, sekitar 84% dari
seluruh warga Amerika setuju dengan pendapat bahwa seseorang dapat dikatakan
mati apabila yang membuatnya tetap bernafas adalah obat-obatan dan mesin
medis. Hal ini menjadi alasan beberapa orang untuk melakukan euthanasia.
Mereka berpikir bahwa seseorang yang hanya bernafas karena bantuan mesin
tersebut sudah tidak menunjukkan adanya suatu interaksi dengan orang lain atau
respons dan secara kebetulan bisa bernafas karena kecanggihan dari penerapan
teknologi saja sehingga tidak ada salahnya untuk melakukan euthanasia karena
pada dasarnya orang tersebut sudah mati sehingga dengan kata lain kita tidak
mencabut nyawa seseorang.
- Kontra :
Sebenarnya walaupun seorang pasien tidak dapat berinteraksi
(dalam keadaan coma), orang tersebut tetap dikatakan hidup karena masih dapat
bernafas, meskipun hanya karena bantuan dari mesin medis. Selama orang
tersebut dapat bernafas dan jantungnya berdetak,orang tersebut dikatakan hidup.
Jantung ini adalah organ yang memompa darah ke seluruh tubuh. Ketika jantung
ini tidak berfungsi, darah tidak akan mengalir dan kondisi inilah yang disebut
dengan kematian. Walaupun orang tersebut tidak lagi memberikan respon,jika
orang tersebut masih dapat makan, minum, dan bernafas, maka ia tetap dikatakan
hidup karena sumber energi kehidupan manusia berasal dari ketiga aktivitas
tersebut.


2.5 Pandangan Hukum Kedokteran

Dalam mengamalkan pasal 7d KODEKI, yang berbunyi "Setiap dokter harus
senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani", maka yang
jelas dilarang baik oleh Kode Etik Kedokteran, juga dilarang oleh Agama maupun
Undang-Undang Negara adalah perbuatan-perbuatan:
1. Menggugurkan kandungan (abortus) tanpa indikasi yang benar.
2. Mengakhiri kehidupan seseorang pasien dengan alasan bahwa menurut ilmu
kedokteran penyakit yang dideritanya tidak mungkin lagi bisa disembuhkan
(euthanasia).
Profesi kedokteran adalah satu-satunya atau setidaknya profesi yang pertama
kali menyatakan dalam sumpah profesinya untuk bekerja membela peri-kemanusiaan,
tidak akan melakukan perbutan yang bertentangan dengan peri-kemanusiaan, dan
melindungi kehidupan manusia. Pernyataan ini pula yang merupakan salah satu alasan
yang menjadikan profesi kedokteran menjadi pro fesi yang luhur dan bermartabat.
Konsekuensi dan sikap menghormati kehidupan makhluk insani ini adalah
bahwa setiap tindakan dokter yang melemahkan atau menghentikan atau tidak
berupaya mempertahankan suatu kehidupan manusia tanpa alasan yang dapat
dibenarkan, dianggap sebagai tindakan yang tidak etis.
.

Deklarasi Tokyo adalah pernyataan dan World Medical Association pada
tahun 1975 dalam persidangannya ke 29 di Tokyo. Dalam preambul deklarasi ini
dinyatakan bahwa dokter wajib tetap menghormati kehidupan insani meskipun, dalam
keadaan diancam serta tidak menggunakan Ilmu kedokteran untuk tujuan yang
bertentangan dengan kemanusiaan. Penjelasan khusus yang terkait dengan "Letting
Die Naturally Dan Minimal Treatment VersusEuthanasia". (OIeh: Dr.man Human,
Sp.Rad, MPH)
Pasal 7d yang mengharuskan dokter untuk "senantiasa melindungi hidup
makhluk insani", bersumber dari "Sumpah Dokter" (yang berlaku sampai saat ini,
yaltu hasil penyempurnaan Rakennas MKEK-MP2A tahun 1993, khususnya lafal
sumpah yang ke-6, 7 dan 8, ialah:
1. Saya tidak akan mempergunakan pengetahuan dokter saya untuk sesuatu yang
bertentangan dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam.
2. Saya akan menghormati setiap hidup insani muai dan saat pembuahan.
3. Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien.
Maka dalam menghadapi semua kenyataan ini pertama-pertarna seorang
dokter sejak awal harus menjalin hubungan yang baik dengan pihak keluarga pasien.
Setiap pengambilan keputusan baik untuk tujuan diagnostik, terapi maupun berbagil
tindakan lainnya, harus selalu dengan persetujuan pasien dan atau keluarganya.
Dalam mengamalkan kewajiban "melindungi hidup makhluk insani" ini
seorang dokter harus senantiasa mengingat hal-hal sebagai berikut:
1. Bahwa hidup mati seseorang adalah merupakan kekuasaan Tuhan, dan bahwa
pada hakekatnya manusia dalam menghadapi permasalahan hidup dan mati ini
harus berpedoman pada agama yang dianutnya masing-masing.
2. Bahwa betapapun majunya dan tingginya ilmu dan teknologi (iptek)
kedokteran yang telah kita capai namun semua ini memiliki keterbatasan,
hingga pada batas tertentu seorang dokter harus mengakui bahwa dia tidak lagi
akan dapat berbuat sesuatu kecuali menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan
Yang Maha Kuasa.
3. Bahwa perkembangan dan kemajuan IPTEK khususnya di bidang kedokteran,
di samping telah membawa banyak manfaat bagi kehidupan manusia, di pihak
lain telah membawa persoalan baru yang terutama sangat erat kaitannya
dengan permasalahan moral, diantaranya telah membuat kaburnya batas-batas
antara hidup dan mati, dan bahwa tugas dokter dalam melakukan intervensi
medik terhadap pasiennya bukan hanya sekedar bertujuan untuk
"mempertahankan hidup dan memperpanjang usia" tetapi juga harus
mempertimbangk.an "kwalitas hidup", yaltu "hidup yang bagaimana" yang
harus kita pertahankan
4. Bahwa nilai-nilai moral dan agama lebih merupakan pedoman bagi seorang
dokter dalam bersikap dan bertindak sesuai kebenaran yang diyakininya, dan
yang harus dipertanggug jawabkan kepada hati nuraninya sendiri dan Tuhan
yang sesuai dengan keyakinannya masing-rnasing, sehingga lebih bersifat
subyektif. Sementara yang lebih obyektif ialah sumber hukum berupa
perundang-undangan mengatur permasalahan "hidup mati" seseorang,
khususnya yang berkaitan dengan saat-saat kritis dalam rangkalan
pengembangan di masa mendatang. Demikian pula bahwa Kode Etik
Kedokteran sering tidak berdaya lagi dalam menghadapi isu-isu baru sebagal
akibat perubahan yang cepat dan drastis dari iptek kedokteran.

Maka dalam menghadapi semua kenyataan ini pertama-pertarna seorang
dokter sejak awal harus menjalin hubungan yang baik dengan pihak keluarga
pasien. Setiap pengambilan keputusan baik untuk tujuan diagnostik, terapi
maupun berbagil tindakan lainnya, harus selalu dengan persetujuan pasien dan
atau keluarganya.

2.6 UU Euthanasia

Dalam pandangan hukum, euthanasia dapat dilakukan jika pengadilan mengijinkan.
Namun bila euthanasia dilakukan tanpa dasar hukum, maka dokter dan rumah sakit bisa
dianggap melanggar pasal 345 KUHP, yaitu Menghilangkan nyawa orang lain dengan
menggunakan sarana. Dari sudut pandang hukum euthanasia aktif jelas melanggar, UU RI
No. 39 tahun 1999 tentang HAM, yaitu Pasal 4, Pasal 9 Ayat 1, Pasal 32, Pasal 51, Pasal 340,
Pasal 344, dan pasal 359.
Munculnya pro dan kontra seputar persoalan euthanasia menjadi beban tersendiri bagi komunitas
hukum. Sebab, pada persoalan legalitas inilah persoalan euthanasia akan bermuara. Kejelasan tentang sejauh
mana hukum (pidana) positif memberikan regulasi/pengaturan terhadap persoalan euthanasia akan sangat
membantu masyarakat di dalam menyikapi persoalan tersebut. Lebih-lebih di tengah kebingungan kultural
karena munculnya pro dan kontra tentang legalitasnya.patut menjadi catatan, bahwa secara yuridis formal
dalam hukum pidana positif di Indonesiahanya dikenal satu bentuk euthanasia, yaitu euthanasia yang
dilakukan atas permintaan pasien/korban itu sendiri (voluntary euthanasia) sebagaimana secara eksplisit diatur
dalam Pasal 344 KUHP. Pasal 344 KUHP secara tegas menyatakan, Barang siapa merampas nyawa orang
lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati diancam dengan pidana
penjara paling lama dua belas tahun.Bertolak dari ketentuan Pasal 344 KUHP tersebut tersimpul, bahwa
pembunuhan atas permintaan korban sekalipun tetap diancam pidana bagi pelakunya. Dengan demikian,
dalam konteks hokum positif di Indonesia euthanasia tetap dianggap sebagai perbuatan yang dilarang.

Undang-undang yang tertulis dalam KUHP hanya melihat dari sisi dokter sebagai
pelaku utama euthanasia, khususnya euthanasia aktif & dianggap sebagai pembunuhan
berencana, atau dengan sengaja menghilangkan nyawa seseorang. Sehingga dalam aspek
hukum, dokter selalu pada pihak yang dipersalahkan dalam tindakan euthanasia, tanpa
melihat latar belakang dilakukannya euthanasia tersebut, tidak peduli apakah tindakan
tersebut atas permintaan pasien itu sendiri atau keluarganya, untuk mengurangi penderitaan
pasien dalam keadaan sekarat atau rasa sakit yang sangat hebat yang belum diketahui
pengobatannya. Di lain pihak, hakim dapat menjatuhkan pidana mati bagi seseorang yang
masih segar bugar yang tentunya masih ingin hidup, & tidak menghendaki kematiannya
seperti pasien yang sangat menderita tersebut, tanpa di jerat pasal-pasal dalam undang-
undang dalam KUHP.
Apabila diperhatikan lebih lanjut, pasal 338, 340, & 344 KUHP, ketiganya
mengandung makna larangan untuk membunuh. Pasal 340 KUHP sebagai aturan khususnya,
dengan dimasukkannya unsur dengan rencana lebih dahulu, karenanya biasa dikatakan
sebagai pasal pembunuhan yang direncanakan atau pembunuhan berencana. Masalah
euthanasia dapat menyangkut dua aturan hukum, yakni pasal 338 & 344 KUHP. Dalam hal
ini terdapat apa yang disebut concursus idealis yang diatur dalam pasal 63 KUHP, yang
menyebutkan bahwa:
(1) Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana, maka yang
dikenakan hanya salah satu diantara aturan-aturan itu, jika berbeda-beda yang dikenakan
yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat
(2) Jika suatu perbuatan yang masuk dalam suatu aturan pidana yang umum diatur
pula dalam aturan pidana yang khusus, maka hanya yang khusus itulah yang dikenakan.
Pasal 63 (2) KUHP ini mengandung asas lex specialis derogat legi generalis, yaitu peraturan
yang khusus akan mengalahkan peraturan yang sifatnya umum.

Dengan demikian dalam konteks hukum positif di Indonesia, tidak dimungkinkan dilakukan
pengakhiran hidup seseorang sekalipun atas permintaan orang itu sendiri. Perbuatan tersebut tetap
dikualifikasi sebagai tindak pidana, yaitu sebagai perbuatan yang diancam dengan pidana bagi siapa yang
melanggar larangan tersebut. Dalam ketentuan Pasal 338 KUHP secara tegas dinyatakan, Barang siapa
sengaja merampas nyawa orang lain diancam, karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima
belas tahun.Sementara dalam ketentuan Pasal 340 KUHP dinyatakan, Barang siapa dengan sengaja dan
dengan rencana lebih dulu merampas nyawa orang lain diancam, karena pembunuhan berencana, dengan
pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun.

Di luar dua ketentuan di atas juga terdapat ketentuan lain yang dapat digunakan untuk menjerat
pelaku euthanasia, yaitu ketentuan Pasal 356 (3) KUHP yang juga mengancam terhadap Penganiayaan yang
dilakukan dengan memberikan bahan yang berbahaya bagi nyawa dan kesehatan untuk dimakan atau
diminum .Selain itu patut juga diperhatikan adanya ketentuan dalam Bab XV KUHP khususnya Pasal 304
dan Pasal 306 (2). Dalam ketentuan Pasal 304 KUHP dinyatakan, Barang siapa dengan sengaja
menempatkan atau membiarkan seorang dalam keadaan sengsara, padahal menurut hukum yang berlaku
baginya atau karena persetujuan, dia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada
orang itu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau denda paling banyak
empat ribu lima ratus rupiah.

Sementara dalam ketentuan Pasal 306 (2) KUHP dinyatakan, Jika mengakibatkan kematian,
perbuatan tersebut dikenakan pidana penjara maksimal sembilan tahun .Dua ketentuan terakhir tersebut di
atas memberikan penegasan, bahwa dalam konteks hokum positif di Indonesia, meninggalkan orang yang
perlu ditolong juga dikualifikasi sebagai tindak pidana. Dua pasal terakhir ini juga bermakna melarang
terjadinya euthanasia pasif yang sering terjadi di Indonesia.

3. Memahami & Menjelaskan Pandangan Islam
3.1 Tentang Euthanasia

Dalam Islam prinsipnya segala upaya atau perbuatan yang berakibat matinya
seseorang, baik disengaja atau tidak sengaja, tidak dapat dibenarkan. segala perbuatan yang
berakibat kematian orang lain dimasukkan dalam kategori perbuatan jarimah/tindak pidana
(jinayat), yang mendapat sanksi hukum. Dengan demikian euthanasia karena termasuk salah
satu dari jarimah dilarang oleh agama dan merupakan tindakan yang diancam dengan
hukuman pidana.
Pada prinispnya pembunuhan secara sengaja terhadap orang yang sedang sakit berarti
mendahului takdir. Allah telah menentukan batas akhir usia manusia. Dengan mempercepat
kematiannya, pasien tidak mendapatkan manfaat dari ujian yang diberikan Allah Swt
kepadanya, yakni berupa ketawakalan kepada-Nya

Eutanasia demikian juga menandakan bahwa manusia terlalu cepat menyerah pada
keadaan (fatalis), padahal Allah swt menyuruh manusia untuk selalu berusaha atau berikhtiar
sampai akhir hayatnya. Bagi manusia tidak ada alasan untuk berputus asa atas suatu penyakit
selama masih ada harapan, sebab kepadanya masih ada kewajiban untuk berikhtiar. Dalam
hadits Nabi sw disebutkan betapapun beratnya penyakit itu, tetap ada obat
penyembuhnya.(HR Ahmad dan Muslim)


Janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah, melainkan dengan suatu alasan
yang benar. Siapa saja yang dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami memberikan
kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam
membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.
(QS al-Isra [17]: 33).
dalam ayat ini manusia dilarang membunuh jiwa manusia lainnya. Ada benang merah yang
menghubungkan ketiga larangan itu, yakni menjaga keberlangsungan kehidupan manusia
secara umum
Surah Al-An'am 151-160



[6:151] Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu
yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua
orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan,
Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati
perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi,
dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan
dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya
kamu memahami(nya).

Ayat ini menjelaskan bahawa kita Tidak boleh membunuh jiwa yang di larang untuk di
bunuh. Allah telah menjaga jiwa manusia sehingga tidak boleh seorang melenyapkan nyawa
orang lain tanpa ada kebolehan dari syariat Allah.





Dan t i dak l ay ak bagi s e or ang mu` mi n me mbunuh s e or ang mu` mi n
( y ang l ai n) , kecuali karena tersalah (tidak sengaja). (Q.S. An-Nisa 92)

Dari dalil-dalil di atas, jelaslah bahwa haram hukumnya bagi dokter melakukan euthanasia
aktif. Sebab tidakan itu termasuk ke dalam kategori pembunuhan sengaja yang merupakan
tindak pidana dan dosa besar.



3.2 Tawakal

Dari segi bahasa, tawakal berasal dari kata tawakala yang memiliki arti;
menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan. (Munawir, 1984 : 1687). Seseorang
yang bertawakal adalah seseorang yang menyerahkan, mempercayakan dan
mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT.
Sedangkan dari segi istilahnya, tawakal didefinisikan oleh beberapa ulama salaf, yang
sesungguhnya memiliki muara yang sama. Diantara definisi mereka adalah:
1. Menurut Imam Ahmad bin Hambal.
Tawakal merupakan aktivias hati, artinya tawakal itu merupakan perbuatan yang
dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu
yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dan tawakal juga bukan merupakan sebuah
keilmuan dan pengetahuan. (Al-Jauzi/ Tahdzib Madarijis Salikin, tt : 337)
2. Ibnu Qoyim al-Jauzi
Tawakal merupakan amalan dan ubudiyah (baca; penghambaan) hati dengan
menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, tsiqah terhadap-Nya, berlindung
hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan
keyakinan bahwa Allah akan memberikannya segala kecukupan bagi dirinya,
dengan tetap melaksanakan sebab-sebab (baca ; faktor-faktor yang
mengarakhkannya pada sesuatu yang dicarinya) serta usaha keras untuk dapat
memperolehnya. (Al-Jauzi/ Arruh fi Kalam ala Arwahil Amwat wal Ahya bidalail
minal Kitab was Sunnah, 1975 : 254)
Sebagian ulama salafuna shaleh lainnya memberikan komentar beragam mengenai
pernak pernik takawal, diantaranya adalah ungkapan : Jika dikatakan bahwa Dinul
Islam secara umum meliputi dua aspek; yaitu al-istianah (meminta pertolongan
Allah) dan al-inabah (taubat kepada Allah), maka tawakal merupakan setengah dari
komponen Dinul Islam. Karena tawakal merupakan repleksi dari al-istianah
(meminta pertolongan hanya kepada Allah SWT) : Seseorang yang hanya meminta
pertolongan dan perlindungan kepada Allah, menyandarkan dirinya hanya kepada-
Nya, maka pada hakekatnya ia bertawakal kepada Allah.
Salafus saleh lainnya, Sahl bin Abdillah al-Tasattiri juga mengemukakan bahwa ilmu
merupakan jalan menuju penghambaan kepada Allah. Penghambaan merupakan jalan
menuju kewaraan (sifat menjauhkan diri dari segala kemaksiatan). Kewaraan
merupakan jalan mmenuju pada kezuhudan. Dan kezuhudan merupakan jalan menuju
pada ketawakalan. (Al-Jauzi, tt : 336)
Tawakal merupakan suatu hal yang sangat diperhatikan dalam Islam. Oleh karena
itulah, kita dapat melihat, banyak sekali ayat-ayat ataupun hadits-hadits yang
memiliki muatan mengenai tawakal kepada Allah SWT. Demikian juga para salafus
shaleh, juga sangat memperhatikan masalah ini. Sehingga mereka memiliki
ungkapan-ungkapan khusus mengenai tawakal.




Daftar pustaka:

http://hukumkes.wordpress.com/2008/03/15/aspek-hukum-dalam-pelaksanaan-euthanasia-di-
indonesia/
http://id.scribd.com/doc/29263361/Euthanasia-Dalam-Medis-Dan-Hukum-Indonesia
http://repository.unand.ac.id/4172/1/Standar_Pend_P_Dr.pdf
http://fk.unhalu.ac.id/dokumenhpeq/modul/modul-Dilema-Etik.pdf
http://inamc.or.id/download/Standar%20Pendidikan%20Profesi%20Dokter.pdf
KAIDAH DASAR MORAL(Penuntun Penerapan Prima Facie).Bagian Forensik Dan
Medikolegal.Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Prof.dr.M jusuf Hanafiah, Sp.OG (K), prof. Amri Amir, SpF(K),DFM,SH. 2008. Buku Etik
dan Hukum Kesehatan Edisi 4. Jakarta; penerbit buku kedokteran EGC.