Anda di halaman 1dari 5

MEMPREDIKSI RESPON BIOLOGIS KLINIS PADA DENTAL MATERIAL

ABSTRAK
Tujuan. Beberapa metode yang digunakan untuk mengukur dan memprediksi respon biologi
klinis pada dental material masih controversial, membingungkan dan pada beberapa tingkatan
tidak berhasil. Pada jurnal ini, meninjau permasalahan penting tentang bagaimana kita menilai
keamanan biologis pada material, dengan catatan sejarah dan mengupas kritis literature
biokompatibilitas. Tinjauan ini mengangkat permasalahan ini dari perspektif amerika serikat
pada beberapa derajat, tetapi jurnal ini juga menekankan alam global dan kepentingan universal.
Metode. Pebmed mendapatkan database dan informasi dari FDA (Foon and Drug
Administration), ISO (International Standart Organization), American Nationals Standarts
Institute yang dicari untuk literature terkemuka penyebutan definisi dari biokompabilitas,
biologis uji tipe ini dipekerjakan, permaslahan standarisasi dan pengaturan, dan bagaimana uji
biologi digunakan bersama untuk membangun keamanan biologis pada material. Pencarian ini
meliputi artikel yang diterbitkan di inggris kira-kira 1965-2011. Tinjauan ini tidak sepenuhnya
menjadi sumber literature pada jurnal ini, tetapi menggarisbawahi permasalahan yang signifikan
dihadapi di lapangan.
Hasil. Beberapa tahun yang lalu, pengujian untuk keamanan biologis dicari untuk menetapkan
kelambanan material sebagai pengukuran keamanan, sebuah ukuran yang kini dianggap naf;
definisi dari biokompabilitas meluas terus bersamaan dengan peranan material pada kesehatan
rongga mulut pasien. Kontroversi berlangsung bagaimana invitro atau uji pada hewan seharusnya
digunakan untuk evaluasi keamanan biologis dari material pada penggunaan klinis. Percobaan
klinis terkendali tetap terbaik pada pengukuran tunggal dari respon material, tetapi uji ini juga
memiliki keterbatasan dan hanya sedikit berguna untuk mengidentifikasi mekanisme yang
menunjukkan keadaan material. Jaringan pelatihan penelitian dan pelaksana database
memunculkan lampiran penting untuk mengontrol percobaan klinis, tetapi keperluan akhir harus
ditetapkan.
SIgnifikansi. Hari ini kita meminta material untuk berperan meningkatkan struktur yang
canggih dan peranan pengobatan terapi pada pasien. Untuk menyediakan peranan ini, strategi
untuk menilai, memprediksi, dan memonitor keamanan material dibutuhkan agar berkembang.
Perubahan ini akan dijalankan tidak hanya oleh peneliti dan pabrik, tetapi juga oleh pasien dan
pelaksana praktek yang ingin menggunakan material baru dengan cara yang baru untuk merawat
penyakit rongga mulut.

1. Pendahuluan
Kita telah menghabiskan banyak usaha dan uang untuk merancang berbagai macam uji
yang memprediksi biokompatibilitas klinis dari dental material. Bahkan sampai sekarang,
pokok permasalahan pada uji ini adalah mereka tidak bekerja secara baik dan tidak dapat
digunakan secara luas seperti yang diinginkan. Pada beberapa decade, FDA, peneliti pada
bidang biokompatibilitas, badan pemerintahan internasional lainnya, dan standar organisasi
menganut pada pola stepwise yang diatur secara invitro, hewan dan penggunaan uji klinis
untuk memprediksi hasil biologis klinis dari material yang baru. Awalnya diusulkan oleh
Austin pada tahun 1970, pola ini diadopsi untuk memastikan keamanan pengenalan dari
biomaterial yang baru untuk perawatan pasien ketika menyediakan apa yang dibutuhkan agar
berdayaguna, secara etis, dan proses keungan berjalan sesuai penaksiran. Uji tersebut
dilakukan dalam model yang masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahan, tetapi
prinsip utama strategi stepwise, telah mencapai tingkatan dimana uji akan mengeliminasi
material yang tidak sesuai untuk uji selanjutnya, oleh karena itu terjadi bentuk piramida.
dengan cara ini, material beresiko tinggi seharusnya disaring lebih awal pada proses,
menggunakan lebih cepat, uji yang sedikit mahal, dengan cara menyimpan waktu, uang,
berpotensi sakit dan penderitaan dari hewan dan manusia.





Gambar 1- paradigma klasik untuk penilaian biokompabilitas dari material baru.
Material baru awalnya diuji dalam tes in vitro (pada dasar pyramid). Hanya
material yang lulus pada tes in vitro yang maju ke tes berikutnya. Rupanya
beberapa material beberapa material yang tersaring keluar selama pengujian
fase pertama, mewakili beberapa area yang lebih pada pengujian hewan.
Beberapa material juga akan tersaring keluar saat pengujian hewan, dan relative
lebih sedikit yang akan mencapai tahapan klinis atau tes pemakaian. Material
yang menampilkan hasil yang dikehendaki pada klinikal tes akan diperkenalkan
untuk public. Paradigm ini didesain untuk memudahkan evaluasi banyaknya
jumlah material baru sambil maintainaning economics and ethical feasibility (lihat
teks), dan membatasi kemungkinan potensi kesakitan atau penderitaan pada
hewan atau manusia.

klinis
Hewan
In vitro
Pemakaian
Klinis
Material
Baru
Meskipun kekuatan kegunaan dan keuntungan model stepwise pada gambar 1, fakta
menunjukkan bahwa hal itu tidak bekerja baik untuk semuanya. Peneletian terbaru
menunjukan dengan tegas bahwa invitro, hewan dan pemakaian uji tidak berfungsi sesuai
yang diinginkan pada model stepwise mengunakan dental material yang bersangkutan pada
waktu itu. Semen silica, yang telah di uji dengan baik pada uji invitro, secara konsisten
mengiritasi pulpa pada uji pemakaian. Sebaliknya, semen zinc oksid eugenol yang sitotoksik
secara invitro memberikan hasil yang baik pada uji pemakaian dan melalaui pengalama
klinis. Data ini menghimbau lainnya untuk memodifikasi hewan atau khususnya uji in vitro
untuk lebih relevan secara klinis dan oleh karena bersifat prediksi. Hampir 30
tahun,pencarian uji in vitro yang lebih baik, memunculkan filosofi oleh langeland pada
tahun 1978; jika kita cukup mengetahui dan dapat mengembangkan uji in vitro yang lebih
baik maka model stepwise akan dapat bekerja.
Kita telah membuat kemajuan. Kita telah memodifikasi keduanya yakni invitro dan
keadaan uji hewan meniru penggunaan klinis yang lebih baik. Usaha awal menyelidiki tipe
yang berbeda pada invitro atau uji hewan. Rencana dari barier uji telah dikembangkan dan
menyuling untuk memasukan dentin barier. Strategi untuk menyimpan lama bahan material
telah diaplikasikan pada uji invitro. Mekanisme subseluler, respon inflamasi, respon mutasi,
tekanan oksidatif dan menurunkan. Relevan klinis lebih mengkonsentrasikan pada pelepasan
kimia yang telah diinvestigasi. Cell line yang lebih relevan telah dikembangkan untuk
pengujian dental material. Dan masih banyak area lain yang kemajuan yang masih banyak
dipertanyakan disini. Meskipun kemajuan yang didapatkan masih memiliki banyak masalah,
kami memiliki sedikit bukti bahwa invitro atau uji hewan di prediksi dapat dipercaya
yangmana material akan sukses pada penggunaan klinis. Model stepwise yang diperkenalkan
hampir 30 tahun yang lalu sebenarnya sudah tidak dapat digunakan sekarang dan begitu juga
pada masa itu.
Jadi bagaimana kita menilai dan memprediksi respon biologis pada material baru yang
dapat diandalkan, ekonomis, dan sesuai etika? Alat apa yang kita punya? Alat baru apa yang
kita butuhkan? Kita semua setuju bahwa kita tidak dapat mundur pada periode ketika kita
awal menggunakan material yang dicobakan ke pasien. Tujuan dari tinjauan ini adalah untuk
membuat konsep pertama masa kini yang berpusat pada penilaian biokompatibilitas, dan
secara kritis mendiskusikan mengenai tipe- tipe pengujian yang kita gunakan untuk
mengukur biokompatibilitas . Pada akhirnya alternatif model akan diperkenalkan bagaiamana
perkembangan kita 30 tahun penyelidikan untuk mencukupi penilaian resiko biologis dan
keuntungan dari dental amterial yang baru untuk penggunaan klinis.
2. Prinsip dan Ide Dasar Tentang Respon Biologis pada Material
2.1 Definisi Biokompabilitas
Kutipan yang sering digunakan pada biokompabilitas dikeluarkan pada tahun 1987
oleh Williams [22]:
Kemampuan sebuah material untuk menampilkan sekumpulan besar respon yang
tepat pada situasi yang spesifik.
Meskipun pada kesan awal definisi ini terkesan samar dan tidak membantu, kutipan
ini mewakili batu lompatan pada waktu hal ini diperkenalkan. Sebelum definisi ini
muncul, pandangan yang berlaku adalah kesuksesan material ini untuk memerankan
sebagian besar tugas perlambanan pada tubuh. Sebuah daftar panjang non-properti
dikembangkan untuk menyukseskan biomaterial, yaitu : non-toksik, non-imunogenik,
non-trombogenik, non-karsinogenik, dan sebagainya [22]. Definisi diatas memerlukan
materi tersebut tidak hanya menyediakan beberapa fungsi namun juga mengenali bahwa
hubungan tercipta dengan perkenalan pada material akan mendapatkan respon biologis.
Jadi, pemikiran bahwa material dapat benar-benar melambatkan telah ditolak dengan
pemakaian definisi ini. Dengan level pemahaman masa kini tentang tubuh kita yang
canggih, lingkungan biologis yang kompleks, pemikiran bahwa meletakkan sebuah
material asing tanpa tanpa adanya respon dari tubuh terdengar naif.
Pengenalan pada sebuah hubungan yang aktif antara bomaterial dan sistem biologis
mengarahkan pada beberapa pemikiran dasar yang penting tentang biokompabilitas.
Pemikiran ini bertahan hingga kini [2,22] dan terdiri dari inti dogma pada penilaian
biokompabilitas. Pemikiran awal adalah bahwa hubungan antara material-permukaan
jaringan terjadi pada keduanya; material mendatangkan respon dari tubuh dan tubuh
akan mendatangkan respon dari material. Semua material akan berubah pada beberapa
level dengan perkenalan mereka pada lingkungan biologis-bisa melalui korosi, perubahan
kimiawi, perubahan substansi, degradasi, atau mekanisme lain. Perubahan ini akan
mengarahkan kepada pemikiran kedua: bahwa hubungan material-permukaan
jaringan adalah dinamis. Karena material dan jaringan biologis telah dimodifikasi oleh
satu sama lain, perubahan padanya akan memicu perubahan yang lainnya. Jadi huKarena
material dan jaringan biologis telah dimodifikasi oleh satu sama lain, perubahan padanya
akan memicu perubahan yang lainnya. Jadi, hubungan ini tidak statis, tapi terus berubah
seiring waktu. Selanjutnya, karena kita selalu berubah-semakin tua, terkena penyakit
sistemik atau lokal, melakukan aktifitas-aktifitas baru, makan makanan yang berbeda, dll-
beberapa keseimbangan yang telah ada pada material dan permukaan jaringan adalah
beberapa subyek yang akan terganggu. Pemikiran ketiga adalah bahwa reaksi pada
material dan permukaan jaringan adalah sebuah fungsi pada jaringan dimana
hubungan tercipta. Sebagai contoh, implantasi material disebelah dentin akan
menghasilkan hubungan yang berbeda dari hubungan yang tercipta pada tulang atau
jaringan lunak. Alhasil, efek pada jaringan pada material dan vice versa pada dasarnya
akan sangat berbeda pada setiap lingkungan. Oleh karena itu, respon yang baik antara
material dan biologis pada satu lingkungan tidak menjamin akan menghasilkan respon
yang di lingkungan lainnya. Lebih mudahnya, sebuah material yang berfungsi baik untuk
mengembalikan struktur gigi yang hilang karena karies mungkin tidak sebaik endosseous
implant. Dan material yang melayani dengan baik saat endosseous implant mungkin tidak
melayani dengan baik saat menjadi rangka logam gigi tiruan sebagian atau casting.
Pemikiran keempat tentang biologis-permukaan jaringan mengenali dengan hampir
jelas, tetapi fakta yang sering dilupakan bahwa material yang digunakan tidak
seharusnya ada disana. Biomaterial adalah benda asing, dan respon biologis pada
materi ini akan dikarekteristikkan dengan respon pada benda asing [22,24]. Kejadian
terbanyak yang mendukung konsep bahwa material menaikkan absorbsi protein non-
spesifik, yang kemudian memicu pembentukan formasi giant cells benda asing dar
monosit dan makrofag yang bertindak sebagai jaringan fibros kolagen sebuah lapisan
vaskular antara material dan tubuh [23,24]. Menghindari atau membatasi respon tubuh
terhadap benda asing adalah tujuan utaman pada pengembangan material pada beberapa
dekade yang lalu [23].
Akhirnya, pemikiran terkini tentang biokompabilitas adalah apakah mungkin untuk
menyesuaikan interaksi pada material dan permukaan jaringan[23,25]. Karena kita
menginginkan material untuk mempunyai peran yang lebih canggih, tahan lama dalam
jaringan, kita berupaya untuk menyesuaikan dan mengoptimalisasi material dan
permukaan jaringan untuk menjamin hasil klinis jangka panjang yang terbaik. Kita
mungkin merubah permukaan pada material dengan limit nonspecific proteine absorptio,
menambahkan rangkaian peptida pada protein asli atau hubungan antar sel, atau
menyediakan sebuah struktur tiga dimensi untuk mendorong formasi matrix. Kita
mungkin meletakkan sebuah material yang desainnya menurun seiring waktu, tapi tidak
sebelum ini menghasilkan respon langsung melalui penempelan sel, protein atau obat-
obatan. Untuk mengakomodasi dimensi bioaktif pada material yang dijelaskan diatas,
William baru-baru ini (2008) memperbarui definisi biokompambilitas yang sebelumya
telah dia keluarkan menjadi [22]:
kemampuan dari material untuk melakukan fungsi yang diinginkan dengan tujuan
untuk terapi medis, tanpa menimbulkan berbagai efek lokal atau sistemik yang tidak
diinginkan pada resipien atau penerima terapi tersebut, tapi menghasilkan respon
selular atau jaringan yang mempunyai manfaat yang paling sesuai pada situasi
tertentu, dan mengoptimalkan performa yang relevan dengan klinis pada terapi
tersebut.