Anda di halaman 1dari 19

Buah delima juga kaya akan fitosterol.

Fitosterol merupakan komponen fitokimia


yang mempunyai fungsi berlawanan dengan kolesterol bila dikonsumsi oleh
manusia. Pada tahun 1970-an, fitosterol diketahui berfungsi menurunkan kadar
kolesterol di dalam darah dan mencegah penyakit jantung, sehingga sangat
bermanfaat bagi kesehatan manusia.
Beberapa hasil penelitian membuktikan fitosterol dapat mencegah penyakit kanker
lewat berbagai mekanisme, yaitu menghambat pemecahan sel, menstimulasi
kematian sel tumor dan memodifikasi beberapa hormon yang berpotensi untuk
menumbuhkan sel tumor (Awad et al, 2000).
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan oleh Anticancer Research, terdapat
hubungan signifikan antara konsumsi fitosterol dan pengobatan penyakit kanker.
Hewan yang mengonsumsi fitosterol mempunyai ukuran tumor 33 persen lebih kecil
dan sel kanker 20 persen Iebih sedikit, dibandingkan dengan kelompok kontrolnya.
Selain itu, fitosterol juga dapat membentuk permeabilitas kulit yang baik. Fitosterol
dapat menjaga kelembaban kulit dan meningkatkan metabolisme kulit serta
mencegah inflamasi pada kulit. Fitosterol juga dapat mencegah penuaan kulit dan
crythema yang disebabkan oleh polarisasi sinar matahari. Fitosterol juga membantu
meningkatkan pertumbuhan rambut. Fitosterol juga tahan terhadap oksidasi,
sehingga dapat digolongkan antioksidan pangan. Fitosterol merupakan komponen
penting pada sintesis vitamin D3 (Huang, 2004).
Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa konsumsi 2-3 gram fitosterol sehari
dapat mencegah PJK (Penyakit Jantung Koroner) hingga 25 %. Fitosterol juga
mempunyai manfaat bagi penderita diabetes. Konsumsi fitosterol dalam jumlah yang
cukup diketahui dapat menjaga keseimbangan gula darah.
Komponen Gizi
Kadar Air (g) 80,97; Energi (kkal) 68; Protein (g) 0,95; Lemak (g) 0,3; Karbohidrat
(g) 17,17; Serat (g) 0,6; Kalsium (mg) 3; Besi (mg) 0,3; Magnesium (mg) 3; Fosfor
(mg) 8; Kalium (mg) 259; Natrium (mg) 3; Seng (mg) 0,12; Tembaga (mg) 0,07;
Selenium (mkg) 0,6; Fitosterol (mg) 17; Vitamin C (mg) 6,1; Thiamin (mg) 0,03;
Riboflavin (mg) 0,03; Asam folat (mkg) 6; Niasin (mg) 0,3; Asam pantotenat (mg)
0,596; Vitamin B6 (mg) 0,105.
http://diperta.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/informasi/artikel/detailartikel/296

Fitosterol Turunkan Kolesterol
Fitosterol Turunkan Kolesterol. FITOSTEROL, yg dikenal juga dengan sterol
tumbuhan, merupakan molekul mirip kolesterol yg dijumpai pada tumbuhan. Dari
segi struktur fitosterol hanya berbeda sedikit dengan kolesterol hewan. Tetapi
fungsinya jauh berbeda. Fitosterol berfungsi utk mencegah terjadinya
atherosclerosis (penimbunan lemak dlm pembuluh darah). Atherosclerosis
merupakan pemicu penyakit jantung. Fitosterol baik bagi kesehatan Fitosterol sangat
berbeda dengan kolesterol hewan. Kadar kolesterol hewan yg tinggi bisa
meningkatkan kolesterol darah. Peningkatan kolesterol ini bisa memicu
pembentukan atherosklerosis dan penyakit jantung. Sedangkan, fitosterol hanya
diserap dlm jumlah minimum dari usus halus. Dengan begitu, fitosterol tak akan
masuk ke dlm aliran darah. Disamping itu, fitosterol juga berfungsi menghentikan
dan memperlambat penyerapan kolesterol dari diet serta kolesterol yg diproduksi
hati. Apakah fitosterol benar-benar menurunkan kadar kolesterol?
Banyak studi yg telah dilakukan utk melihat kemampuan fitosterol dlm menurunkan
kolesterol. Beberapa studi menemukan kalau 2 gram fitosterol per hari bisa
menurunkan kadar lemak jahat (low-density lipoproteins/LDL) hingga 10%. Jumlah
ini setara dengan 1 sendok teh ekstrak fitosterol. Dalam studi yg dilakukan di East
Tennessee State University, para peneliti meminta 16 partisipan utk mengkonsumsi
fitosterol dan placebo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipan mengalami
penurunan total kolesterol sebanyak 5% dan penurunan kadar kolesterol jahat LDL
sebanyak 4% setelah mengkonsumsi fitosterol dlm jumlah sedang selama 4 minggu.
Selain itu, kadar trigliserida juga menurun sebesar 9% dan kolesetrol baik HDL
meningkat 4%. Dalam studi lainnya, para partisipan diminta utk mengkonsumsi 2.6
gram fitosterol per hari selama 12 minggu. Hasilnya, total kolesterol partisian
berkurang 3.5% dan kadar LDL menurun sebesar 5%. Selain itu, efek penurunan
kolesterol dari fitosterol sudah bisa dilihat hanya dlm 1 atau 2 minggu. Fitosterol bisa
ditemukan dlm bentuk suplemen atau asli dari makanan. Tetapi, beberapa pakar
menemukan kalau fitosterol dlm bentuk suplemen mungkin tak efektif menurunkan
kolesterol jika tak diproses dengan benar dari pabrik. Tetapi, fitosterol yg ditemukan
dlm makanan pasti aktif secara biologi. Karena itu, akan berfungsi utk menurunkan
kolesterol. Untuk mendapatkan fitosterol aktif, Anda bisa mengkonsumsi makanan
seperti kedelai, biji-bijian kompleks, kacang-kacangan, buah-buahan, kacang polong
dan sayur-sayuran.
Fitosterol Turunkan Kolesterol Sumber dan copyright MediaIndonesia.com ,
Penulis Ikarowina Tarigan.
http://www.herbalengkap.com/09/00/60/fitosterol-turunkan-kolesterol.htm


PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan akan masalah gizi.
Masalah gizi terbagi dua, yaitu kelebihan (kegemukan dan obesitas) dan kekurangan
(gizi kurang dan gizi buruk) zat gizi. Kegemukan dapat terjadi pada berbagai
kelompok usia dan jenis kelamin, begitu pula gizi kurang dan gizi buruk. Orang
sering kali menyamakan pengertian kegemukan dengan obesitas, namun kedua
istilah tersebut merupakan hal yang berbeda walaupun sama-sama menggambarkan
kelebihan berat tubuh. Kegemukan adalah kondisi berat tubuh melebihi berat tubuh
normal, sementara obesitas adalah kondisi kelebihan berat tubuh akibat
tertimbunnya lemak, untuk pria dan wanita masing-masing melebihi 20% dan 25%
dari berat tubuh (Rimbawan 2004).
Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria.
Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar
25 - 30 % pada wanita dan 18 - 23 % pada pria. Wanita dengan lemak tubuh lebih
dari 30 % dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25 % dianggap mengalami
obesitas. Dengan kata lain seseorang yang memiliki berat badan 20 % lebih tinggi
dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal, dianggap mengalami
obesitas.
Kelainan fraksi lipid karena lemak berlebih akan menimbulkan penyakit yang
menggangu kesehatan. Penyakit ini sering di sebut dengan penyakit dislipidemia.
Dislipidemia sering dikaitkan dengan salah satu penyebab hipetensi yang akan
dapat mempengaruhi kerja jantung. Hipertensi atau sering dinamakan penyakit
tekanan darah tinggi menyerang pada usia rata-rata diatas 30 tahun. Penyakit ini
sering muncul ditandai dengan pusing, kunang-kunang, dan bahkan jika sudah
parah akan menyebabkan koma hingga kematian.
Hipertensi dan dislipidemia dapat menimbulkan masalah fisiologis, emosional, sosial
dan psikologis. Dampak fisiologis yang ditimbulkan adalah meningkatnya risiko
berbagai jenis penyakit. Oleh karena itu, perlunya pengaturan diet khusus yang
dapat mengatasi penyakit yang mengganggu kesehatan tubuh, yaitu diet energi
rendah tinggi serat dan diet garam rendah. Diet energi rendah tinggi serat adalah
diet yang kandungan energinya di bawah kebutuhan normal, cukup vitamin dan
mineral, serta banyak mengandung serat yang bermanfaat dalam proses penurunan
berat badan dan mengurangi asupan garam.

TINJAUAN PUSTAKA
Gambaran Umum Hipertensi dan Dislipidemia
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan
sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada populasi
lanjut usia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan
diastolik 90 mmHg (Sheps 2005). Selain itu, hipertensi juga dapat diartikan sebagai
peningkatan tekanan darah secara terus menerus sehingga melebihi batas normal.
Tekanan darah normal adalah 110/90 mmHg. Hipertensi merupakan produk dari
resistensi pembuluh darah perifer dan kardiak output (Wexler 2002)
Faktor resiko peyakit hipertensi diantaranya yaitu faktor usia, jenis kelamin,
riwayat keluarga, asupan garam, kebiasaan merokok, aktivitas tubuh dan stress.
Faktor usia sangat berpengaruh terhadap hipertensi karena dengan bertambahnya
umur maka semakin tinggi mendapat resiko hipertensi karena terjadi perubahan
alamiah di dalam tubuh yang mempengaruhi jantung, pembuluh darah dan hormone
(Julianti, Nurjana dan Soetrisno 2005). Jenis kelamin juga sangat erat kaitanya
terhadap terjadinya hipertensi dimana pada masa muda dan paruh baya lebih tinggi
penyakit hipertensi pada laki-laki dan pada wanita lebih tinggi setelah umur 55
tahun, ketika seorang wanita mengalami menopause (Gunawan 2001). Riwayat
keluarga juga merupakan masalah yang memicu masalah terjadinya hipertensi
hipertensi cenderung merupakan penyakit keturunan (Astawan 2002).Garam
mempunyai sifat menahan air sehingga mengkonsumsi garam lebih atau makan-
makanan yang diasinkan dengan sendirinya akan menaikan tekanan darah
(Wijayakusuma 2000).
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan
peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang
paling utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, kenaikan kadar
trigliserida serta penurunan kadar HDL. Dalam proses terjadinya aterosklerosis
semuanya mempunyai peran yang penting dan sangat kaitannya satu dengan yang
lain, sehingga tidak mungkin dibicarakan sendiri-sendiri. Ketiga-tiganya sekaligus
dikenal sebagai Triad Lipid (Perki 1995). Faktor utama peningkatan kadar kolesterol
dalam darah adalah keturunan dan asupan lemak tinggi (Almatsier 2004).

Etiologi Hipertensi dan Dislipidemia
Corwin (2000) menjelaskan bahwa hipertensi tergantung pada kecepatan
denyut jantung, volume sekuncup dan Total Peripheral Resistance (TPR). Maka
peningkatan salah satu dari ketiga variabel yang tidak dikompensasi dapat
menyebabkan hipertensi. Peningkatan kecepatan denyut jantung dapat terjadi akibat
rangsangan abnormal saraf atau hormon pada nodus SA.
Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama dapat terjadi apabila
terdapat peningkatan volume plasma yang berkepanjangan sebagai akibat
gangguan penanganan garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam yang
berlebihan. Peningkatan pelepasan renin atau aldosteron maupun penurunan aliran
darah ke ginjal dapat mengubah penanganan air dan garam oleh ginjal. Peningkatan
volume plasma akan menyebabkan peningkatan volume diastolik akhir sehingga
terjadi peningkatan volume sekuncup dan tekanan darah (Corwin 2000).
Peningkatan Total Periperial Resistence sebagai akibat peningkatan
rangsangan saraf atau hormon pada arteriol, serta responsivitas yang berlebihan
dari arteriol terdapat rangsangan normal. Kedua hal tersebut akan menyebabkan
penyempitan pembuluh darah. Pada peningkatan Total Periperial Resistence,
jantung harus memompa secara lebih kuat dan dengan demikian menghasilkan
tekanan yang lebih besar, untuk mendorong darah melintas pembuluh darah yang
menyempit. Hal ini disebut peningkatan dalam afterload jantung dan biasanya
berkaitan dengan peningkatan tekanan diastolik (Hayenset al. 2003).
Etiologi dislipidemia diklasifikasikan menjadi dislipidemia primer dan
dyslipidemia sekunder. Dislipidemia primer merupakan dislipidemia yang disebabkan
oleh faktor keturunan. Sedangkan dislipidemia sekunder merupakan dislipidemia
yang disebabkan oleh usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, hormon, obesitas, menu
makanan terlalu banyak lipid, kurang aktivitas tubuh, konsumsi alkohol, kebiasaan
merokok, diabetes, dan lain-lain (Anonim 2010).
Patofisiologi Hipertensi dan Dislipidemia
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak di pusat vasomotor, pada medula di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula
jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari
kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan
pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui
saraf simpatis ke ganglia simpatis.
Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi
respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokontriktor. Individu dengan
hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin meskipun tidak diketahui dengan
jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi (Corwin 2000). Pada saat bersamaan dimana
sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi,
kelenjar adrenal juga terangsang mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi.
Medula adrenal mengsekresi epinefrin yang menyebabkan vasokontriksi. Korteks
adrenal mengsekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapt memperkuat respon
vasokontriktor pembuluh darah. Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan aliran
darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan
angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II yang merangsang
sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium
dan air oleh tubulus ginjal menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua
faktor tersebut cenderung mencetus keadaan hipertensi (Dekker 1996).
Pada dislipidemia terjadi kelainan metabolisme lemak darah yang ditandai
oleh kenaikan kadar kolesterol (hiperkolesteramia), atau trigliserida
(hipertrigliserida), atau kombinasi dari keduanya. Kenaikan kadar lemak darah dapat
terjadi karena kenaikan sintesis atau sekunder akibat adanya penyakit lain yang
mendasarinya seperti ateriosklerosis (Brown dan Goldstein 1987). Pada
ateriosklerosis faktor yang bertanggung jawab atas penumpukan lipid pada dinding
pembuluh darah adalah adanya defek pada fungsi reseptor LDL di membran gel,
gangguan transpor lipoprotein transeluler (endositotoktik), gangguan degrasi oleh
lisosom lipoprotein, dan perubahan permeabilitas endotel.
Gejala dan Tanda Hipertensi dan Dislipidemia
Pada pemeriksaan fisik, tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan darah
yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti perdarahan,
eksudat (kumpulan cairan), penyempitan pembuluh darah, dan pada kasus berat,
edema pupil (edema pada diskus optikus) (Wijayakusuma 2000 ). Lebih lanjut
Corwin (2000) menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis timbul setelah
mengalami hipertensi bertahun-tahun berupa :Nyeri kepala saat terjaga, kadang-
kadang disertai mual dan muntah sebagai akibat peningkatan tekanan darah
intrakranial.
Dislipidemia sendiri tidak menimbulkan gejala tetapi dapat mengarah ke
penyakit jantung dan pembuluh, seperti penyakit jantung koroner dan penyakit
pembuluh arteri perifer. Trigliserida tinggi dapat menyebabkan pankreatitis akut.
Kadar LDL yang tinggi dapat menyebabkan xanthelasma kelopak mata, arcus
corneae (Anonim 2011).
Pengobatan, Perawatan dan Pencegahan
Perawatan penderita hipertensi pada umumnya dilakukan oleh keluarga
dengan memperhatikan pola hidup dan menjaga psikis dari anggota keluarga yang
menderita hipertensi. Adapun cakupan pola hidup antara lain berhenti merokok,
mengurangi kelebihan berat badan, menghindari alkohol, modifikasi diet. Sedangkan
yang mencakup psikis antara lain mengurangi sres, olahraga, dan istirahat (Mayo
2005).
Penatalaksanaan dislipidemia mencakup non-medikamentosa (tanpa obat)
dan medikamentosa (dengan obat-obatan). Penatalaksanaan yang paling penting
adalah tanpa obat. Pasien melakukan perubahan gaya hidup dengan cara diet yang
baik dengan komposisi makanan seimbang, latihan jasmani (aerobik), penurunan
berat badan bagi yang gemuk (obesitas), menghentikan kebiasaan merokok dan
minuman alkohol. Apabila dengan tatalaksana diatas gagal maka dapat diberikan
tatalakasana dengan obat yang dapat menurunkan lipid seperti obat-obatan
golongan statin, resin (kolestiramin), asam nikotinat, asam fibrat dan penghambat
absorbsi kolesterol. Sebagai contoh bila setelah memeriksakan kadar lipid mendapat
hiperkolesterolemia dapat diberikan statin atau resin maupun dikombinasi. Bila
terdapat banyak peningkatan pada profil lipid dapat diberikan statin atau kombinasi
statin dengan asam nikotinat. Apabila hanya triglisrida yang meningkat dapat
diberikan golongan asam fibrat (Doengoes dan Marilynn 2000).
III. TUJUAN DAN SYARAT DIET MENURUNKAN BERAT BADAN
Tujuan Diet
1. Menurunkan berat badan bila kegemukan.
2. Mengubah jenis dan asupan lemak makanan.
3. Menurunkan asupan kolesterol makanan.
4. Meningkatkan asupan karbohidrat kompleks dan menurunkan asupan karbohidrat
sederhana.
5. Mencegah penimbunan garam dan air.
6. Mencapai pola pangan makanan yang sehat.
Syarat Diet
1. Energi yang dibutuhkan disesuaikan menurut berat badan dan aktivitas fisik, bila
kegemukan, penurunan berat badan dapat dicapai dengan asupan energi rendah
dan meningkatkan aktivitas fisik.
2. Lemak sedang, <30% dari kebutuhan energy total. Lemak jenuh untuk tahap I,
<30% dari kebutuhan energi total dan tahap II, <7% dari kebutuhan energi total.
Lemak tak jenuh ganda dan tunggal untuk dyslipidemia tahap I maupun II adalah
1015 % dari kebutuhan energi total. Kolesterol < 300 mg untuk dyslipidemia tahap I
dan < 200 mg untuk tahap II.
3. Protein cukup, yaitu 1020 % dari kebutuhan energi total.
4. Serat tinggi, terutama serat larut air yang terdapat dalam apel, beras tumbuk atau
beras merah, havermout, dan kacang-kacangan.
5. Vitamin dan mineral cukup. Suplemen multivitamin dianjurkan untuk pasien yang
mengkonsumsi < 1200 kkal energi sehari.
6. Garam rendah 2 - 3 g/hari, 600 - 800 mg Na.
7. Makanan mudah dicerna dan tidak menimbulkan gas.

IV. BAHAN MAKANAN YANG DILARANG DAN DIANJURKAN
Bahan Makanan Dianjurkan Tidak Dianjurkan
Sumber karbohidrat
Beras terutama beras
tumbuk/beras merah,
pasta, macaroni, roti tinggi
serat (whole wheat
bread), cereal, ubi,
kentang, kue buatan
sendiri dengan
menggunakan sedikit
minyak/lemak tak jenuh.
Pie, cake, croissant, kue
yang diolah menggunakan
garam berlebih, pastries,
biskuit, krekers berlemak,
dan kue-kue berlemak
lain.
Sumber protein hewani
Ikan, unggas tanpa kulit,
daging kurus, putih telur,
susu skim, yoghurt rendah
lemak, dan keju rendah
lemak.
Daging gemuk, daging
kambing, daging babi,
jeroan, otak, sosis,
sardine, kuning telur
(batasi hingga 3
butir/minggu), telur yang
diawet dengan garam,
susu kental manis,
krim, yoghurtdari susu
penuh, keju, dan es krim.
Sumber protein nabati
Tempe, tahu, dan kacang-
kacangan.
Kacang-kacangan yang
diolah dengan santan dan
dan garam serta digoreng
dengan minyak jenuh
Sayuran
Semua sayur dalam
bentuk segar, direbus,
dikukus, disetup, ditumis
menggunakan minyak
jagung, minyak kedelai
atau margarine tanpa
garam yang dibuat dari
minyak tidak jenuh ganda:
dimasak dengan santan
encer.
Sayuran yang dimasak
dengan mentega, minyak
kelapa atau minyak kelapa
sawit dan santan kental
serta diolah dengan
garam.
Buah Semua buah dalam Buah yang diawet dengan
keadaan segar atau
bentuk jus.
gula, seperti buah kaleng
dan buah kering
Sumber lemak
Minyak jagung, kedelai,
kacang tanah, bunga
matahari dan wijen;
margarine tanpa garam
yang dibuat dari minyak
tidak jenuh ganda.
Minyak kelapa dan minyak
kelapa sawit; mentega,
margarine, kelapa, santan,
dan krim.

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa bahan pangan yang dapat dikonsumsi
pada penderita hipertensi dan dislipidemia adalah sebagian besar adalah bahan
pangan yang berserat tinggi. Karena bahan makanan yang berserat tinggi dapat
mengurangi rasa lapar kita setelah makan sehingga dapat mencegah makan
makanan yang berlemak banyak. Makanan yang tidak boleh dikonsumsi adalah
makanan yang mengandung minyak yang banyak dan santan kental.













BAB I
PENDAHULUAN
11.1 Latar belakang
Di Indonesia diperkirakan 18% dari total penduduk Indonesia menderita kelainan
lemak darah. Dari jumlah itu 80% pasien meninggal mendadak akibat serangan jantung dan
505 meninggal tidak menampakkan gejala sebelumnya.
Kolesterol sebenarnya sangat diperlukan dalam berbagai proses metabolisme tubuh.
Misalnya sebagai bahan pembentuk dinding sel, memnuat asam empedu untuk
mengemulsikan lemak, serta berperan sebagai bahan pembuat hormon-hormon seks dan
kortikosteroid atau hormon yang dapat mempengaruhi volume dan tekanan darah, kadar
gula darah, otot, serta kekebalan tubuh. Namun, kadar kolesterol yang berlebihan didalam
darah akan menyebabkan tumpukan plak yang dapat menghambat aliran darah arteri
pembuluh darah sehingga dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke.
11.2 Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan lipoprotein?
2. Apa yang dimaksud dengan dislipidemia?
3. Bagaimana metabolisme lipoprotein?
4. Bagaimana gambaran laboratorium pemeriksaan penyakit dislipidemia?
5. Bagaimana proses metabolisme transport lipid?
11.3 Tujuan penulisan
Mengetahui mengenai metabolisme lipid di dalam tubuh manusia beserta kelainan
dari metabolisme transport lipid yaitu dislipidemia terutama hiperkolesterolemia.


11.4 Manfaat penulisan
Agar pembaca dapat memahami tentang kasus penyakit dislipidemia terutama
hiperkolesterolemia beserta cara pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan.

BAB II
ISI
2.1 Lipoprotein
Lemak (fat) yang diserap dari makanan dan lipid yang disintesis dari hati dan jaringan
adiposa harus diangkut ke berbagai jaringan dan organ untuk disimpan. Oleh karena lipid
tidak larut di dalam air maka pengangkutan lipid dalam plasma darah yang berbahan dasar
air dilakukan dengan menggabungkan lipid nonpolar (triasilgliserol dan ester kolesteril)
dengan lipid amfipatik (fosfolipid dan kolesterol), serta protein untuk menghasilkan
lipoprotein yang bercampur dengan air.
Kelompok utama lipoprotein:
a. Kilomikron.
Berasal dari penyerapan triasilgliserol di usus.
b. VLDL (Very Low Density Lipoprotein) atau pra beta lipoprotein.
Berasal dari hati untuk ekspor triasilgliserol.
c. LDL (Low Density Lipoprotein) atau beta lipoprotein.
d. HDL (High Density Lipoprotein).

2.2 Pengertian dislipidemia
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai peningkatan kolesterol
total, kolesterol LDL, trigliserida serta penurunan kolesterol HDL di dalam darah.
(Yustiana,2012).
Kelainan ini dapat terjadi secara primer (hiperlipidemia primer)
maupun sekunder akibat penyakit lain (hiperlipidemia sekunder). (Anonim 2010).
Dislipidemia merupakan faktor utama penyebab penyakit arteriosklerosis dan jantung
koroner. Kelainan metabolisme lipoprotein menyebabkan hiperlipoproteinemia yang dibagi
menjadi:
a. Hipertriasilgliserol.
Merupakan kelainan yang disebabkan oleh defisiensi dari insulin
yang menyebabkan mobilisasi free tatty acid(FFA) secara berlebihan diikuti dengan
rendahnya pemanfaatan kilomikron dan VLDL (Very Low Density Lipoprotein) dan
sering terjadi pada kasus diabetes melitus.
b. Hiperkolesterolemia.
Merupakan kondisi patologis dari transport lipid terutama yang disebabkan oleh
kelainan bawaan.
c. Kombinasi antara hipertriasilgliserol dan hiperkolesterolemia.

2.3 Metabolisme Lipoprotein
Jalur metabolisme lipoprotein terbagi dalam:
a. Jalur Metabolisme Eksogen
Makanan yang mengandung
lemak terdiri atas trigliserida dan kolesterol. Selain kolesterol yang berasal dari makanan,
dalam usus juga terdapat kolesterol dari hati yang
diekstresi bersama empedu keusus halus. Baik lemak di usus halus yang
berasal dari makanan maupun yang
berasal dari hati disebutlemak eksogen. Trigliserida dan kolesterol dalam usus halus akan dis
erap ke dalam mukosa usus halus.
Trigliserida akan diserap sebagai asam lemak bebas sedang kolesterol sebagai kolesterol. Di
dalam usushalus asam lemak bebas akan diubah lagi menjadi trigliserida,
sedang kolesterol akan mengalamiesterifikasi menjadi kolesterol ester dan
keduanya bersama dengan fosfolipid dan apoloprotein akanmembentuk lipoprotein yang
dikenal dengan kilomikron.
Kilomikron ini akan masuk ke saluran limfe dan akan masuk ke dalam aliran darah.
Trigliseridadalam kilomikron akan mengalami hidrolisis oleh enzim lipoprotein lipase yang
berasal dari endotelmenjadi asam lemak bebas free tatty acid (FFA) non-esterified fatty
acid (NEFA). Asam lemakbebas dapat disimpan sebagai trigliserid kembali di jaringan lemak
(adiposa), tetapi bila terdapat dalamjumlah yang
banyak sebagian akan diambil oleh hati menjadi bahan untuk pembentukan trigliseridhati.
Kilomikron yang sudah kehilangan sebagian besar trigliserid akan menjadi kilomikron
remnant yang mengandung kolesterol ester danakan dibawa ke hati. (Anonim 2010).

b. JalurMetabolisme Endogen
Trigliserid dan kolesterol yang disintesis di hate disekresi ke dalam sirkulasi sebagai
lipoprotein B100. Dalam sirkulasi, trigliserida di VLDL akan mengalami hidrolisis oleh enzim
lipoprotein lipase (LPL), adanya VLDL berubah menjadi IDL yang
juga akan mengalami hidrolisis dan berubah menjadi LDL. Sebagian dari VLDL, IDL dan LDL
akan mengangkut kolesterol ester kembali ke hati. LDL adalah lipoprotein yang paling
banyak mengandung kolesterol. Sebagian dari kolesterol di LDL
akandibawa ke hati dan jaringan steroidogenik lainnya, seperti : kelenjar adreal, testis,
dan ovarium yang mempunyai reseptor untuk kolesterol LDL. Sebagian lagi dari kolesterol
LDL akan mengalami oksidasidan ditangkap oleh reseptor seavebger A (SR-A) di
makrofag dan akan menjadi sel busa (foam cell).
Makin banyak kadar kolesterol LDL dalam plasma makin banyak yang
akan mengalami oksidasidan ditangkap oleh sel makrofag. Jumlah kolesterol yang
akan teroksidasi tergantung dari kadarkolesterol yang terkandung di LDL.
Beberapa keadaan mempengaruhi tingkat oksidasi seperti:
Meningkatnya jumlah LDL sepertipadasindrom metabolic dan diabetes militus.
Kadar kolesterol HDL, makintinggikadar HDL maka HDL
bersifat protektif terhadap oksidasi LDL (Anonim 2010).

c. Jalur Reverse Cholesterol Transport
HDL dilepaskan sebagai partikel kecil miskin kolesterol yang
mengandung apoliprotein (apo) A, C, dan E: dan disebut
HDL nascent. HDL nascent berasal dari usus halus dan hati,
mempunyai bentuk gepeng dan mengandung apoliprotein A1. HDL nascent
akan mendekati makrofaguntuk mengambil kolesterol yang tersimpan di makrofag.
Setelah mengambil kolesterol dari makrofag.HDL nascent berubah menjadi HDL dewasa
yang berbentuk bulat. Agar dapat diambil oleh HDLnascent ,kolesterol (kolesterolbebas)
di bagian dalam dari mikrofag harus dibawa ke permukaanmembran sel makrofagolehsuatu
transporter yang disebut adenosine triphosphate - binding cassette transporter-
1 atau disingkat ABC-1.
Setelah mengambil kolesterol bebas dari sel makrofag, kolesterolbebas
akan diesterfikasimenjadi kolesterol ester enzim lecithin choles-trol acyltransferase (LCAT).
Selanjutnya sebagiankolesterol ester yang dibawa oleh HDL akan mengambil dua jalur.
Jalur pertama ialah ke hati danditangkap oleh scavenger receptor class B type 1 dikenal
dengan SR-B1. Jalur ke dua dari VLDL dan IDL dengan bantuan cholesterol ester transfer
protein (CETP). Dengan demikian fungsi HDL sebagai penyiap kolesterol dari
makrofag mempunyai dua jalur yaitu langsung ke hati dan jalur tidaklangsung melalui VLDL
dan IDL untuk membawa kolesterol kembali ke hati (Anonim 2010).

2.4 Gambaran Laboratorium.
Untuk menilai apakah kadar kolesterol seseorang tinggi atau rendah,
semuanya harus mengacupada pedoman umum yang
telah disepakati dan digunakan di seluruh dunia yaitu pedoman dari NCEP ATP III (National
cholesterol Education Program, Adult Panel Treatment III), yang antara lain menetapkan
bahwa :

1 Total Kolesterol :
Nilai Normal < 200 mg/dl
Perbatasan tinggi 200 239 mg/dl
Tinggi > 240 mg/dll
2 LDL Kolesterol :
Optimal < 100 mg/dl
Mendekati optimal 100 129 mg/dl
Perbatasan tinggi 130 159 mg/dl
Tinggi 160 189 mg/dl
Sangat tinggi > 190 mg/dl
3 HDL Kolesterol :
Rendah < 40 mg/dl
Tinggi 60 mg/dl
4 Trigliserida
Normal < 150 mg/dl
Perbatasan tinggi 150 -199 mg/dl
Tinggi 200 499 mg/dl
Sangat tinggi > 499 mg/dl

Pada pemeriksaan laboratorium memegang peranan penting dalam menegakkan
diagnosa. Parameter yang diperiksa yaitu kadar kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol
HDL dan trigliserid (Bahri 2004).
a. Persiapan
Sebaiknya pasien dalam keadaan metabolik yang stabil,
tidak ada perubahan berat badan, polamakan, kebiasaan merokok, olahraga, minum
kopi/alcohol dalam 2 minggu terakhir sebelum dilakukanpemeriksaan,
tidak ada sakit berat atau operasi dalam 2 bulan terakhir (Bahri 2004).
Tidak mendapat obat yang mempengaruhikadar lipid dalam 2 minggu terakhir.
Bila hal tersebuttidak memungkinkan, pemeriksaantetap dilakukan tetapi,
dengan disertai catatan (Bahri 2004).
b. Pengambilan bahan pemeriksaan
Pengambilan bahan dilakukan setelah puasa makanan 12-
16 jam. Sebelum bahan diambil pasienduduk selama 5
menit. Pengambilan bahan dilakukan dengan melakukan bendungan vena
seminimalmungkin. Bahan yang diambil adalah serum (Bahri 2004).
c. Analis
Analis kolesterol total dan trigliserida dilakukan dengan metode ensimatik.
Analis kolesterol HDL dan Kol-LDL dilakukandengan metode presipitasi dan ensimatik. Kadar
kolesterol LDL sebaiknyadiukur secara langsung,
atau dapat juga dihitung menggunakan rumusFriedewaid kalau kadar trigliserida< 400 mg/d,
sebagai berikut (Bahri 2004) : Kadar kolesterol LDL = Kolesterol Total kolesterol HDL 1/5
trigliserid.

2.5 Metabolisme transport Lipid.

HDL disintesis dan diskekresikan dari hati dan usus. Apo C dan apo E disintesis dari
hati dan dipindahkan dari HDL hati menuju ke HDL usus ketika memasuki plasma. Fungsi
utama HDL adalah sebagai tempat penyimpanan apo C dan apo E yang dibutuhkan dalam
metabolisme kilomikron dan VLDL. HDL nascent terdiri dari lapis ganda fosfolipid diskoid
yang mengandung apo A dan kolesterol bebas. Enzim LCAT (Lesitin:kolesterol
asiltransferase) dan aktivator LCAT apo A-I berikatan dengan partikel diskoid dan fosfolipid
menyebabkan kolesterol bebas diubah menjadi ester kolesteril. Class B scavenger
receptor B1 (SR-B1=reseptor pembersih kelas B1),reseptor ini mengikat HDL melalui apo A-I
dan ester kolesteril disalurkan ke sel. Reseptor ini juga memerantarai penerimaan kolesterol
dari sel menuju ke hati untuk diekskresikan lewat empedu.
HDL diskoin melalui kerja LCAT akan menghasilkan HDL
3
menerima kolesterol dari
jaringan melalui SR-B1, kemudian kolesterol dieksterifikasi oleh LCAT dan membentuk
HDL
2.
HDL
3
kemudian terbentuk lagi baik melalui hidrolisis triasilgliserol dan fosfolipid
HDL
2
oleh enzim lipase maupun setelah penyaluran ester kolesteril ke hati melalui SR-B1.
Apo A-1 dihasilkan dan membentuk pra HDL. Kelebihan dari Apo A-1 dihancurkan
di ginjal.ATP-binding cassette transporter A1 (ABCA1) memindahkan kolesterol dari sel ke
partikel yang kurang memiliki lipid seperti pra HDL yang kemudian diubah menjadi
HDL
3
melalui HDL diskoid.

2.1 KASUS
Wiliam Hartman secara cermat diikuti oleh dokternya setelah selamat dari serangan
jantung. Sebelum dipulangkan dari rumah sakit, setelah puasa 14 jam, kadar triasilgliserol
serumnya adalan 149 mg/dL, kadar kolesterol HDL 32 mg/dl. Kadar kolesterol total
serumnya meningkat yaitu 420 mg/dl. Dari nilai ini, kadar kolesterol LDL dihitung adalah 356
mg/dl. Kedua adik laki-laki Tuan Hartman memiliki kadar kolesterol yang sangat tinggi dan
keduanya pernah mengalami serangan jantung pada usia pertengahan 40.
Diketahui :
Kadar triasilgliserol serumnya adalan 149 mg/dl (normal).
Kadar kolesterol HDL 32 mg/dl (normal).
Kadar kolesterol total serumnya meningkat yaitu 420 mg/dl (abnormal).
Kadar kolesterol LDL dihitung adalah 356 mg/dl. (abnormal)
Dari keterangan ini ditegakan diagnosis bahwa penyakit ini tergolong dalam
dislipidemia dimana terjadi peningkatan kolesterol total serum dan peningkatan kolesterol
LDL yang sering disebut hiperkolesterolemia. Lebih dispesifikan lagi, tergolong dalam
hiperkolesterolimeia familial tipe IIA yang disebabkan oleh defek genetik pada gen yang
mengkode reseptor LDL.Akibat defek kolesterol ini, LDL tidak mudah diserap oleh sel dan
konsentrasinya dalam darah meningkat. Partikel LDL memiliki presentase kolesterol dan
ester kolesterol yang tinggi, lebih dari lipoprotein darah lainnya. Namun kadar triasilgliserol
LDL rendah karena LDL dibentuk melalui digesti triasilgliserol pada VLDL dan IDL. Dengan
demikian pengidap hiperpoliproteinemia tipe IIA memiliki kadar kolesterol yang sangat
tinggi tetapi kadar triasilgliserolnya mungkin berada dalam atau dekat dengan rentang
normal.
Selain terapi diet untuk menurunkan kadar kolesterol darahnya William Hartman
diberi pravastatin, suatu inhibitor HMG-KoA reduktase menurunkan kecepatan
pembentukan sintesis kolesterol di dalam sel. Sewaktu kadar kolesterol intrasel berkurang,
sintesis reseptor LDL meningkat. Sewaktu jumlah reseptor meningkat di permukaan sel,
penyerapan LDL meningkat. Akibatnya kadar kolesterol LDL dalam darah berkurang.
Pemeriksaan yang dilakukan :
Metode enzimatis kolorimetri (GPO-PAP), sebelum dilakukan pemeriksaan biasanya
penderita disuruh berpuasa 10 sampai 12 jam sebelumnya. Dengan metode ini trigliserida
akan dihidrolisa secara enzimatis menjadi gliserol dan asam bebas. Dengan lipase khusus
akan membentuk kompleks warna yang dapat diukur kadarnya menggunakan
spektrofotometer (Wirawan, 2002).
Kolesterol serum darah secara normal berkisar dari 100 250 mg/100 ml. Rata-rata
jumlah kolesterol dalam serum darah adalah 200 mg/100 ml, pada usia 25 tahun yang lebih
lanjut meningkat secara perlahan dengan meningkatnya usia sampai usia 40 50
tahun.Wanita umumnya menunjukkan kadar kolesterol yang lebih rendah dari pada pria
sampai dicapai saat menopause.Penentuan kolesterol total dapat dilakukan dengan alat
spektronik-20 atau alat spektrofotometer lain yang lebih canggih (mis: Shimadzu UV-Vis
Recording Spectrophotometer UV-160) (Wirawan, 2002).
Kolesterol dapat dideteksi dan ditentukan kuantitasnya dengan menggunakan
beberapa metode diantaranya dengan Gas Chromatografi serta Spektrofotometer UV.
Metode Gas Chromatography memiliki sensitifitas dan keakuratan yang tinggi, namun
metode ini kurang efisien, sedangkan analisis dengan Spektrofotometer UV memiliki
tahapan yang lebih sederhana. Analisis dengan Gas chromatografi lebih mahal sehingga
apabila digunakan untuk analisis di Rumah Sakit, menjadi kurang efisien karena akan
memperbesar biaya pengobatan pasien. Analisis dengan Spektrofotometer UV
menggunakan prinsip Kolorimetrik yang menghasilkan serapan yang dapat diukur dengan
menggunakan Spektrofotometer sehingga memiliki sensitifitas yang tinggi. Berdasarkan
pertimbangan tersebut, maka pada analisis ini dipakai metode Enzimatik kolorimetrik untuk
mengukur kadar kolesterol total, HDL dan LDL.
Untuk pemeriksaan lemak agar mendapatkan hasil terbaik perlu diperhatikan lima
faktor yang mempengaruhi yaitu sikap pada waktu pengambilan contoh darah,
pembendungan vena, penampungan darah langsung kedalam tabung vakum, antikoagulan,
otooksidasi dan pencemaran dengan kuman-kuman serta perubahan yang terjadi selama
metabolisme lemak


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pada kasus Wiliam Hartman dapat diketahui bahwa penderita menderita penyakit
dislipidemia pada bagian hiperkolesterolemia. Untuk menilai apakah kadar kolesterol
seseorang tinggi atau rendah, semuanya harus mengacu pada pedoman umum yang telah
disepakati dan digunakan diseluruh dunia yaitu pedoman dari NCEP ATP III (National
cholesterol Education Program, Adult Panel Treatment III).
Pada pemeriksaan laboratorium memegang peranan penting dalam menegakkan
diagnosa. Parameter yang diperiksa yaitu kadar kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol
HDL dan trigliserid.


DAFTAR PUSTAKA


Bahri T. 2004. Dislipidemia sebagai faktor resiko penyakit
jantungkoroner.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3503/1/gizi-bahri3.pdf

Anonim.
2010. Dislipidemia.http://www.iapw.info/home/index.php?option=com.content&view=artic
le&id=74:dislipidemia&catid=27:kesehatan&Itemid=45.

http://rskariadi.co.id/news/view/pemeriksaan-laboratorium-kolesterol-yang-
baik.html
Poedjiadji,Anna.1994.Dasar-Dasar Biokima.Jakarta:UI Press

Dawn, Allan,Collen.2000.Biokimia Kedokteran Dasar.Jakarta:EGC

Sacher,Ronald A,Richard.2002.Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium.
Jakarta:EGC






jus (PJ), fruktosa dan glukosa yang hadir dalam jumlah yang sama,
kalsium 50% kadar abu, serta asam amino utama
adalah asam glutamat dan aspartat (29, 30). The polifenol larut
konten di PJ bervariasi dalam batas-batas dari 0,2-1,0%, tergantung pada
variasi, dan termasuk terutama anthocyanins (seperti cyanidin-3-
glukosida, cyanidin-3,5-diglucoside, dan delphinidin-3-glucoside),
katekin, tanin ellagic, dan gallic dan asam ellagic (31). fermentasi
PJ dan biji delima dingin-ditekan memiliki antioksidan
kegiatan dan dapat mengurangi prostaglandin dan leukotrien
pembentukan dengan menghambat siklooksigenase dan lipoksigenase
(32). Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memeriksa,
untuk pertama kalinya, in vitro dan ex vivo efek PJ pada LDL
modifikasi aterogenik termasuk retensi, oksidasi,
dan agregasi pada manusia dan apolipoprotein aterosklerotik
E-kekurangan (E0) tikus.




Kandungan buah delima meliputi asam sitrat, asam
malat, glukosa, fruktosa, maltosa, vitamin (A,C), mineral (kalsium, fosfor, zat besi,magnesim
, natrium dan kalium) dan tanin. Selain itu, terdapat juga beberapa zat aktif seperti alkaloid,
saponin, flavonoid, dan polifenol.

melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh danmencegah terjadinya penyumbatan pada
pembuluh darah, mengurangi kandungan kolesterol serta mengurangi penumbunan lemak
padadinding pembuluh darah, mengurangi kadar risiko penyakit jantungkoroner,
mengandung antiinflamasi (antiradang), berfungsi sebagaianti-oksidan, membantu
mengurangi rasa sakit jika terjadi pendarahanatau pembengkakan,