Anda di halaman 1dari 12

Hidrocephalus Page 1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hidrocephalus masih merupakan suatu masalah penting dalam dunia
kedokteran terutama bila dikaitkan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak
karena terjadinya gangguan pertumbuhan otak, sehingga otomatis bila tidak
ditangani secara cepat dan tepat akan dapat menimbulkan gangguan dalam
pertumbuhan dan perkembangan yang lebih parah lagi, bahkan menjadi kasus yang
lebih berat dan dapat berakibat fatal. Secara statistik ditemukan bahwa dengan
penanganan bedah dan penatalaksanaan medis yang baik sekalipun, didapatkan
hanya sekitar 40% dari penderita hidrosefalus mempunyai kecerdasan yang normal
dan sekitar 60% mengalami cacat kecerdasan dan fungsi motorik yang bermakna.
Dari data statistik tersebut dapat dilihat bahwa walaupun dengan penanganan bedah
saraf dan penatalaksanaan bedah saraf dan penatalaksanaan medis yang baik ternyata
sekitar 60% penderita masih memiliki sekuel gangguan yang cukup bermakna.
Seorang anak dapat menderita hidrosefalus karena berbagai sebab,
baik itu secara kongenital maupun akuisita. Di Indonesia sendiri kasus hidrosefalus
mencapai kurang lebih dua kasus per seribu kelahiran (Harsono, 1996). Data ini
menunjukan bahwa kasus hidrosefalus termasuk kasus yang jarang terjadi di
Indonesia. Walaupun demikian kasus hidrosefalus tetap merupakan masalah dalam
dunia kedokteran, baik itu mengenai tumbuh kembang anak, keberhasilan di dalam
terapi bedah, maupun masalah psikologis anak di masa yang akan datang. Melihat
dari manifestasi klinis penyakit ini, masalah yang sering kali timbul adalah terutama
mengenai progresivitas penyakit itu sendiri. Sebagian dari kasus hidrosefalus dapat
berhenti sendiri, dalam arti lingkar kepala tidak bertambah besar, dan sebagian kasus
lainnya mempunyai progresivitas yang tinggi, dimana lingkar kepala bertambah
secara progresif karena terjadi sumbatan aliran cairan serebrospinal maupun
produksinya sendiri yang bertambah. Gejala klinis anak hidrosefalus dapat
bervariasi, mulai dari yang ringan sampai yang berat, tergantung dari penyebabnya.
Hidrocephalus Page 2
Gejala permulaan dari hidrosefalus seringkali tidak diketahui, sehingga seringkali
penderita datang ke dokter sudah dalam keadaan terlambat. Selain itu faktor resiko
hidrosefalus seringkali masih merupakan masalah yang awam bagi sebagian besar
masyarakat di Indonesia.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi Hidrocephalus?
2. Apa etiologi dari Hidrocephalus?
3. Apa manifestasi klinis Hidrocephalus?
4. Apa klasifikasi Hidrocephalus?
5. Bagaimana pemeriksaan penunjang Hidrocephalus?
6. Bagaimana penatalaksanaan Hidrocephalus?
7. Apa komplikasi dari Hidrocephalus?
8. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Kasus Hidrocephalus?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan Umum:
Adapun tujuan umum dari pembuatan makalah ini adalah untuk
mengetahui berbagai hal yang berhubungan dengan hidrosefalus dan dapat
merancang berbagai cara untuk mengantisipasi masalah serta dapat melakukan
asuhan pada kasus hidrosefalus.
Tujuan Khusus:
- Melakukan pengkajian anamnesa pada bayi dengan hidrosefalus.
- Menentukan diagnosa, masalah serta kebutuhan dari data yang telah
dikumpulkan terhadap bayi dengan hidrosefalus.
- Menentukan antisipasi terhadap diagnosa dan masalah potensial yang
ditemukan pada bayi dengan hidrosefalus.
- Melakukan tindakan segera berdasarkan data yang telah dikumpulkan
terhadap bayi dengan hidrosefalus.
- Merencanakan tindakan yang akan dilakukan kepada bayi berdasarkan
interpretasi data yang yang ditentukan.
Hidrocephalus Page 3
- Melaksanakan tindakan yang telah direncanakan secara sistematis kepada
bai dengan hidrosefalus.
- Melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan kepada bayi
dengan hidrosefalus

D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari perbuatan makalah ini adalah :
1. Mahasiswa mampu memahami konsep dasar gangguan hidrosefalus dan
proses keperawatan pada pasien keperawatan pada pasien hidrosefalus
sehingga menunjang pembelajaran mata kuliah Sistem Neurobehaviour.
2. Mahasiswa mengetahui proses keperawatan yang benar dan penerapan
diagnosa keperawatan sehingga dapat menjadi bekal dalam persiapan
praktik dirumah sakit.












Hidrocephalus Page 4
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Anatomi dan Fisiologi Kepala
Anatomi Kepala
1. Kulit Kepala
Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut SCALP yaitu: skin atau
kulit, connective tissue atau jaringan penyambung, aponeurosis atau galea
aponeurotika, loose conective tissue atau jaringan penunjang longgar dan
pericranium.
2. Tulang Tengkorak
Tulang kepala terdiri dari kubah (kalvaria) dan basis kranii. Tulang
tengkorak terdiri dari beberapa tulang yaitu frontal, parietal, temporal, dan
oksipital. Kalvaria khususnya diregio temporal adalah tipis, namun disini
dilapisi oleh otot temporalis. Basis cranii berbentuk tidak rata sehingga dapat
melukai bagian dasar otak saat bergerak akibat proses akselerasi dan
deselerasi. Rongga tengkorak dasar dibagi atas 3 fosa yaitu: fosa anterior
tempat lobus frontalis, fosa media tempat temporalis dan fosa posterior ruang
bagi bagian bawah batang otak dan serebelum.
3. Meningen
Selaput meningen menutupi seluruh permukaan otak dan terdiri dari 3
lapisan yaitu:
a. Dura Mater
Dura mater secara konvensional terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan
endosteal dan lapisan meningeal. Dura mater merupakan selaput yang
keras, terdiri atas jaringan ikat fibrisa yang melekat erat pada permukaan
dalam dari kranium. Karena tidak melekat pada selaput arachnoid di
bawahnya, maka terdapat suatu ruang potensial (ruang subdura) yang
terletak antara dura mater dan arachnoid, dimana sering dijumpai
perdarahan subdural. Pada cedera otak, pembuluh-pembuluh vena yang
Hidrocephalus Page 5
berjalan pada permukaan otak menuju sinus sagitalis superior di garis
tengah atau disebut Bridging Veins, dapat mengalami robekan dan
menyebabkan perdarahan subdural. Sinus sagitalis superior mengalirkan
darah vena ke sinus transversus dan sinus sigmoideus. Laserasi dari
sinus-sinus ini dapat mengakibatkan perdarahan hebat.
Arteri-arteri meningea terletak antara dura mater dan permukaan dalam
dari kranium (ruang epidural). Adanya fraktur dari tulang kepala dapat
menyebabkan laserasi pada arteri-arteri ini dan menyebabkan perdarahan
epidural. Yang paling sering mengalami cedera adalah arteri meningea
media yang terletak pada fosa temporalis (fosa media).
b. Selaput Arakhnoid
Selaput arakhnoid merupakan lapisan yang tipis dan tembus pandang .
Selaput arakhnoid terletak antara pia mater sebelah dalam dan dura mater
sebelah luar yang meliputi otak. Selaput ini dipisahkan dari dura mater
oleh ruang potensial, disebut spatium subdural dan dari pia mater oleh
spatium subarakhnoid yang terisi oleh liquor serebrospinalis. Perdarahan
sub arakhnoid umumnya disebabkan akibat cedera kepala.
c. Pia Mater
Pia mater melekat erat pada permukaan korteks serebri . Pia mater adarah
membrana vaskular yang dengan erat membungkus otak, meliputi gyri
dan masuk kedalam sulci yang paling dalam. Membrana ini membungkus
saraf otak dan menyatu dengan epineuriumnya. Arteri-arteri yang masuk
kedalam substansi otak juga diliputi oleh pia mater.
4. Otak
Otak merupakan suatu struktur gelatin yang mana berat pada orang
dewasa sekitar 14 kg). Otak terdiri dari beberapa bagian yaitu; Proensefalon
(otak depan) terdiri dari serebrum dan diensefalon, mesensefalon (otak
tengah) dan rhombensefalon (otak belakang) terdiri dari pons, medula
oblongata dan serebellum.
Fisura membagi otak menjadi beberapa lobus. Lobus frontal berkaitan
dengan fungsi emosi, fungsi motorik dan pusat ekspresi bicara. Lobus parietal
Hidrocephalus Page 6
berhubungan dengan fungsi sensorik dan orientasi ruang. Lobus temporal
mengatur fungsi memori tertentu. Lobus oksipital bertanggung jawab dalam
proses penglihatan. Mesensefalon dan pons bagian atas berisi sistem aktivasi
retikular yang berfungsi dalam kesadaran dan kewapadaan. Pada medula
oblongata terdapat pusat kardiorespiratorik. Serebellum bertanggung jawab
dalam fungsi koordinasi dan keseimbangan.
5. Cairan Serebrospinalis
Cairan serebrospinal (CSS) dihasilkan oleh plexus khoroideus dengan
kecepatan produksi sebanyak 20 ml/jam. CSS mengalir dari ventrikel lateral
melalui foramen monro menuju ventrikel III, akuaduktus dari sylvius menuju
ventrikel IV. CSS akan direabsorbsi ke dalam sirkulasi vena melalui
granulasio arakhnoid yang terdapat pada sinus sagitalis superior. Adanya
darah dalam CSS dapat menyumbat granulasio arakhnoid sehingga
mengganggu penyerapan CSS dan menyebabkan kenaikan takanan
intrakranial. Angka rata-rata pada kelompok populasi dewasa volume CSS
sekitar 150 ml dan dihasilkan sekitar 500 ml CSS per hari.
6. Tentorium
Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi ruang
supratentorial (terdiri dari fosa kranii anterior dan fosa kranii media) dan
ruang infratentorial (berisi fosa kranii posterior).
7. Perdarahan Otak
Otak disuplai oleh dua arteri carotis interna dan dua arteri vertebralis.
Keempat arteri ini beranastomosis pada permukaan inferior otak dan
membentuk circulus Willisi. Vena-vena otak tidak mempunyai jaringan otot
didalam dindingnya yang sangat tipis dan tidak mempunyai katup. Vena
tersebut keluar dari otak dan bermuara ke dalam sinus venosus cranialis.
Fisiologi Kepala
Tekanan intrakranial (TIK) dipengaruhi oleh volume darah intrakranial,
cairan secebrospinal dan parenkim otak. Dalam keadaan normal TIK orang
dewasa dalam posisi terlentang sama dengan tekanan CSS yang diperoleh
dari lumbal pungsi yaitu 410 mmHg. Kenaikan TIK dapat menurunkan
Hidrocephalus Page 7
perfusi otak dan menyebabkan atau memperberat iskemia. Prognosis yang
buruk terjadi pada penderita dengan TIK lebih dari 20 mmHg, terutama bila
menetap.
Pada saat cedera, segera terjadi massa seperti gumpalan darah dapat
terus bertambah sementara TIK masih dalam keadaan normal. Saat
pengaliran CSS dan darah intravaskuler mencapai titik dekompensasi maka
TIK secara cepat akan meningkat. Sebuah konsep sederhana dapat
menerangkan tentang dinamika TIK. Konsep utamanya adalah bahwa volume
intrakranial harus selalu konstan, konsep ini dikenal dengan Doktrin Monro-
Kellie. Otak memperoleh suplai darah yang besar yaitu sekitar 800ml/min
atau 16% dari cardiac output, untuk menyuplai oksigen dan glukosa yang
cukup. Aliran darah otak (ADO) normal ke dalam otak pada orang dewasa
antara 50-55 ml per 100 gram jaringan otak per menit. Pada anak, ADO bisa
lebih besar tergantung pada usainya. ADO dapat menurun 50% dalam 6-12
jam pertama sejak cedera pada keadaan cedera otak berat dan koma. ADO
akan meningkat dalam 2-3 hari berikutnya, tetapi pada penderita yang tetap
koma ADO tetap di bawah normal sampai beberapa hari atau minggu setelah
cedera. Mempertahankan tekanan perfusi otak/TPO (MAP-TIK) pada level
60-70 mmHg sangat direkomendasikan untuk meningkatkan ADO.

B. Definisi
Hidrocephalus adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan
tekanan intrakranial yang disebabkan karena adanya penumpukan cerebrospinal fluid
didalam ventrikel otak (Sharon dan Terry, 1993. Hal: 292).
Hidrocephalus adalah suatu keadaan patologis otak yang
mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinal (CSS) dengan atau pernah dengan
tekanan intrakranial yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat
mengalirnya CSS (Ngastiyah, 1997).
Menurut beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa
hidrocephalus adalah keadaan patologis otak yang mengakibatkan peningkatan
Hidrocephalus Page 8
tekanan intrakranial yang disebabkan penumpukan cairan cerebrospinal didalam
ventrikel otak.
C. Klasifikasi Cedera Kepala
Terdapat berbagai macam klasifikasi hydrocephalus yang bergantung
pada faktor yang terkait. Klasifikasi hydrocephalus berdasarkan:
Gambaran Klinis
1. Hydrocephalus yang manifes (overt hydrocephalus) merupakan hydrocephalus
yang tampak jelas dengan tanda-tanda klinis yang khas.
2. Hydrocephalus yang tersembunyi (occult hydrocephalus) merupakan
hydrocephalus dengan ukuran kepala yang normal.
Waktu Pembentukan
1. Hydrocephalus kongenital, merupakan hydrocephalus yang terjadi pada
neonatus atau yang berkembang selama intrauterine.
2. Hydrocephalus infantil, merupakan hydrocephalus yang terjadi karena cedera
kepala selama proses kelahiran.
3. Hydrocephalus akuisita, merupakan hydrocephalus yang terjadi selama masa
neonatus atau disebabkan oleh faktorfaktor lain setelah masa neonatus.
Proses Terbentuknya
1. Hydrocephalus akut adalah hydrocephalus yang terjadi secara mendadak sebagai
akibat obstruksi atau gangguan absorbsi CSS.
2. Hydrocephalus kronik adalah hydrocephalus yang terjadi setelah aliran
serebrospinal mengalami obstruksi beberapa minggu atau bulan atau tahun.
3. Hydrocephalus subakut adalah hydrocephalus yang terjadi diantara waktu
hydrocephalus akut dan kronik.
Sirkulasi Cairan Serebrospinal
1. Hydrocephalus Komunikans adalah hydrocephalus yang memperlihatkan adanya
hubungan antara CSS system ventrikulus dan CSS dari ruang subaraknoid.
2. Hydrocephalus non-komunikans berarti terdapat hambatan sirkulasi cairan
serebrospinal dalam sistem ventrikel sendiri.

Hidrocephalus Page 9
D. Etiologi
Hidrocephalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran CSS pada salah
satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan tempat
absorbsi dalam ruang subarackhnoid. Akibat penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan
CSS diatasnya. Penyumbatan aliran CSS sering terdapat pada bayi dan anak ialah.
a. Kongenital: disebabkan gangguan perkembangan janin dalam rahim, atau infeksi
intrauterine meliputi:
- Stenosis aquaductus sylvi.
- Spina bifida dan kranium bifida.
- Syndrom Dandy-Walker.
- Kista arakhnoid dan anomali pembuluh darah.
b. Didapat: disebabkan oleh infeksi, neoplasma, atau perdarahan
- Infeksi
Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen. secara patologis terlihat
penebalan jaringan piameter dan arakhnoid sekitar sisterna basalis dan daerah
lain. penyebab lain infeksi adalah toksoplasmosis.
- Neoplasma
Hidrosefalus oleh obstruksi mekanik yang dapat terjadi di setiap tempat aliran
CSS. pada anak yang terbanyak menyebabkan penyumbatan ventrikel IV atau
akuaduktus sylvi bagian terakhir biasanya suatu glioma yang berasal dari
cerebelum, penyumbatan bagian depan ventrikel III disebabkan
kraniofaringioma.
- Perdarahan
Perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak, dapat menyebabkan
fibrosisleptomeningfen terutama pada daerah basal otak, selain penyumbatan
yang terjadi akibat organisasi dari darah itu sendiri.


E. Manifestasi Klinis
Gejala yang nampak dapat berupa (Ngastiyah, 1997):
1. TIK yang meninggi: muntah, nyeri kepala, edema pupil saraf otak II.
Hidrocephalus Page 10
2. Pada bayi biasanya disertai pembesaran tengkorak.
3. Kepala bayi terlihat lebih besar bila dibandingkan dengan tubuh.
4. Ubun-ubun besar melebar atau tidak menutup pada waktunya teraba tegang dan
mengkilat dengan perebaran vena di kulit kepala.
5. Sutura tengkorak belum menutup dan teraba melebar.
6. Terdapat sunset sign pada bayi (pada mata yang kelihatan hitam-hitamnya,
kelopak mata tertarik ke atas).
7. Bola mata terdorong ke bawah oleh tekanan dan penipisan tulang sub orbita.
8. Skelera mata tampak di atas iris.
9. Pergerakan mata yang tidak teratur dan nistagmus tak jarang terdapat.
Kerusakan saraf yang memberi gejala kelainan neurologis berupa
gangguan kesadaran motorik atau kejang-kejang, kadang-kadang gangguan pusat
vital.

F. Komplikasi
- Peningkatan tekanan intrakranial.
- Kerusakan otak.
- Infeksi: septikemia, endokarditis, infeksiluka, nefritis, meningitis,
ventrikulitis, abses otak.
- Shunt tidak berfungsi dengan baik akibat obstruksi mekanik.
- Hematomi subdural, peritonitis, abses abdomen, perporasi organ dalam
rongga abdomen, fistula, hernia, dan ileus.
- Kematian

G. Penatalaksanaan
Terapi Medikamentosa
Hidrosefalus dengan progresifitas rendah dan tanpa obstruksi pada
umumnya tidak memerlukan tindakan operasi. Dapat diberi azetazolamide dengan
dosis 25-50mg/kgBB, tetapi hasil jangka panjangnya mengecewakan.
Operasi
Hidrocephalus Page 11
Penatalaksanaan hidrosefalus yang paling sering dilakukan dan paling
efektif adalah dengan pembuatan shunt. Drainase CSS menggunakan shunt dapat
mencegah akumulasi CSS sehingga dapat mengurangi tekanan intrakranial dan
akibatnya mengurangi injuri pada otak. Shunt yang paling sering dibuat adalah
dengan menghubungkannya dengan rongga peritoneum (Ventriculo-Peritoneal
Shunt). Shunt juga dapat dibuat dengan menghubungkannya dengan atrium kanan
jantung (ventriculoatrial shunt), ventriculopleural shunt, lumboperitoneal shunt dan
third ventriculostomy.

Metode Ventriculo-Peritoneal (VP) shunt merupakan metode yang
paling sering dipakai karena memiliki risiko yang lebih kecil dibandingkan metode
shunt yang lainnya. Komplikasi yang terjadi akibat pembuatan shunt tersebut dapat
berupa komplikasi mekanik seperti obstruksi, diskoneksi, migrasi serta komplikasi
infeksi.

H. Pemeriksaan Diagnostik
1. CT Scan (dengan atau tanpa kontras)
Mengidentifikasi luasnya lesi, perdarahan, determinan, ventrikuler, dan
perubahan jaringan otak.
2. MRI
Digunakan sama dengan CT Scan dengan atau tanpa kontras radioaktif.
3. Rontgen Kepala
Mendeteksi perubahan struktur garis sutura.
4. Pemeriksaan CSS dan Lumbal Pungsi
Dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan subaraknoid.CSS dengan atau
tanpa kuman dengan kultur yaitu protein LCS normal atau menurun,leukosit
meningkat atau tetap dan glukosa menurun atau tetap.

I. Patofisiologi
Jika terdapat obstruksi pada system ventrikuler atau pada ruangan
subarachnoid, ventrikel serebral melebar, menyebabkan permukaan ventrikuler
mengkerut dan merobek garis ependymal. White mater dibawahnya akan mengalami
Hidrocephalus Page 12
atrofi dan tereduksi menjadi pita yang tipis. Pada gray matter terdapat pemeliharaan
yang bersifat selektif, sehingga walaupun ventrikel telah mengalami pembesaran
gray matter tidak mengalami gangguan. Proses dilatasi itu dapat merupakan proses
yang tibatiba atau akut dan dapat juga selektif tergantung pada kedudukan
penyumbatan. Proses akut itu merupakan kasus emergency. Pada bayi dan anak kecil
sutura kranialnya melipat dan melebar untuk mengakomodasi
peningkatan massa cranial. Jika fontanela anterior tidak tertutup dia tidak akan
mengembang dan terasa tegang pada perabaan. Stenosis aquaductal (Penyakit
keluarga atau keturunan yang terpaut seks) menyebabkan titik pelebaran pada
ventrikel lateras dan tengah, pelebaran ini menyebabkan kepala berbentuk khas yaitu
penampakan dahi yang menonjol secara dominan (dominan Frontal blow). Syndroma
dandy walkker akan terjadi jika terjadi obstruksi pada foramina di luar pada ventrikel
IV. Ventrikel ke IV melebar dan fossae posterior menonjol memenuhi sebagian
besar ruang dibawah tentorium. Klien dengan type hidrosephalus diatas akan
mengalami pembesaran cerebrum yang secara simetris dan wajahnya tampak kecil
secara disproporsional.
Pada orang yang lebih tua, sutura cranial telah menutup sehingga
membatasi ekspansi masa otak, sebagai akibatnya menujukkan gejala: Kenailkan
ICP sebelum ventrikjel cerebral menjadi sangat membesar. Kerusakan dalam
absorbsi dan sirkulasi CSF pada hidrosephalus tidak komplit. CSF melebihi kapasitas
normal sistim ventrikel tiap 68 jam dan ketiadaan absorbsi total akan menyebabkan
kematian.
Pada pelebaran ventrikular menyebabkan robeknya garis ependyma
normal yang pada dinding rongga memungkinkan kenaikan absorpsi. Jika route
kolateral cukup untuk mencegah dilatasi ventrikular lebih lanjut maka akan terjadi
keadaan kompensasi.