Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada penulis, sehingga dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Reproduksi Karya Ilmiah dengan baik.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia
semester tiga rombel 12 UNNES. Makalah ini akan membahas mengenai
Reproduksi Karya Ilmiah yang dipusatkan pada tinjauan pustaka, kajian teori dan
kerangka berpikir.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
Untuk itu, kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan demi tercapainya
makalah yang lebih baik. Atas kritik dan sarannya penulis ucapkan terimakasih.
Ucapan terima kasih juga penulis tujukan kepada semua pihak yang telah ikut
berkontribusi dalam penyusunan makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya
dan penulis pada khususnya.


Semarang, 16 Mei 2013

Penulis




DAFTAR ISI
JUDUL ..... i
KATA PENGANTAR.. ii
DAFTAR ISI......... iii
BAB I PENDAHULUAN..... 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah . 1
C. Tujuan Penulisan
D. Manfaat..
BAB II PEMBAHASAN ... 2
A. Tinjauan Pustaka.............................. 2
B. Kajian Teori................................ 4
C. Karangka Berpikir ........................................... 6
BAB III PENUTUP.... 7
A. Simpulan...... 7
B. Saran..... 7
DAFTAR PUSTAKA .. 8






BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Karya ilmiah merupakan salah satu sarana penyebaran ilmu pengetahuan
dan teknologi (Iptek). Dalam dunia akademik, khususnya perguruan tinggi,
menulis karya ilmiah merupakan sebuah kewajiban. Saat menulis karya ilmiah,
sebagian besar mahasiswa mengeluhkan kesulitan mengorganisasikan isi dan
menerapkan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah. Hal ini dapat dipahami karena
dalam menulis sebuah karya ilmiah memang tidak hanya dituntut kemampuan
untuk berpikir logis namun juga harus mampu berpikir secara runtut. Tuntutan
kaidah-kaidah penulisan yang baku dalam karya ilmiah, seperti tata letak dan tata
tulis ternyata juga menjadi faktor penghambat.
Mengingat pentingnya karya ilmiah dalam berbagai kegiatan akademik baik
bagi individu maupun bagi institusi maka harus segera dicari solusi untuk
mengatasi permasalahan tersebut. Berdasarkan penjelasan tersebut, makalah ini
mencoba memberikan alternatif solusi dalam permasalahan pembelajaran menulis
karya ilmiah untuk meminimalkan kesalahan berbahasa dalam penyusunan karya
ilmiah khususnya bagi mahasiswa nonjurusan bahasa. Pada makalah ini akan
dibahas terutama mengenai tinjauan pustaka, kajian teori dan kaidah khusus.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa manfaat tinjauan pustaka dalam penulisan karya ilmiah?
2. Apa saja hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun tinjauan
pustaka?
3. Apa yang dimaksud dengan kajian teori?
4. Bagaimana langkah-langkah menyusun landasan teori?
5. Apa yang dimaksud kerangka berpikir?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui manfaat tinjauan pustaka.
2. Untuk mengetahui hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun
tinjauan pustaka.
3. Untuk mengetahui pengertian dari kajian teori.
4. Untuk mengetahui langkah-langkah menyusun landasan teori.
5. Untuk mengetahui pengertian dari kerangka berpikir.
D. MANFAAT PENULISAN
1. Mengetahui pengertian, manfaat dan pentingnya tinjauan pustaka serta
langkah-langkah penyusunannya.
2. Mengetahui pengertian landasan teori dan cara penyusunannya.











BAB II
PEMBAHASAN
A. TINJAUAN PUSTAKA
Suatu penelitian atau karya ilmiah tidak berangkat dari kekosongan,
tetapi didasarkan atas hasil hasil penelitian atau kajian yang telah
dilakukan sebelumnya. Dengan kata lain, hasil penelitian atau kajian
sebelumnya dijadikan landasan dalam menentukan topik, permasalahan,
arah, dan tujuan penelitian atau kajian. Dengan demikian, ilmu pengetahuan
dan teknologi akan terus berkembang.
Penulis sebelum melakukan penelitian atau kajian, bahkan sebelum
menentukan permasalahan atau topik kajian perlu melakukan tinjauan
pustaka terlebih dahulu. Hal ini penting untuk menentukan kedudukan hasil
penelitian atau kajian terhadap penelitian atau kajian lain yang telah
dilakukan sebelumnya. Tanpa melakukan tinjauan pustaka, penulis bisa
tidak dapat melihat bobot dan nilai strategis hasil penelitian atau kajian yang
dilakukannya. Penulis akan terjebak pada pandangan sempit. Bisa jadi ia
mengira bahwa penelitiannya atau kajiannya merupakan hal yang baru tanpa
ia ketahui bahwa penelitian atau kajiannya sebenarnya sudah pernah diteliti
atau dikaji oleh orang lain. Bila kita sampai melakukan yang telah dibuat
orang ada kemungkinan akan muncul dua hal negatif, yaitu ( 1 ) dituduh
melakukan plagiat, dan ( 2 ) melakukan pekerjaan yang sia sia ( mubazir ).
Dituduh sebagai plagiator dalam bidang keilmuan tentu merupakan sesuatu
yang sangat aib bagi seorang peneliti. Melakukan pekerjaan yang sia sia
juga sangat disayangkan dalam bidang keilmuan. Kalau hasil penelitian atau
kajiannya lebih baik barangkali masih bisa bermanfaat sebagai
penyempurna peneltian atau kajian sebelumnya. Namun bila hasil penelitian
atau kajiannya ternyata lebih dangkal dari penelitian atau kajian
sebelumnya, hasil penelitian atau kajian tersebut menjadi tidak berarti.
Dengan melakukan tinjauan pustaka sebelum melakukan penelitian
atau kajian, penulis bisa menentukan permasalahan atau topik yang lebih
baik dan bermakna bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Penulis bisa meletakkan penelitian atau kajiannnya sebagai penyempurna,
pelengkap, pengembangan, pembanding, atau uji ulang terhadap penelitian
atau kajian yang telah dilaksanakan sebelumnya.
Tanpa landasan teori yang baik dan relevan dengan masalah
penelitian tentu penelitian itu tidak akan memberi bobot keilmuan. Untuk
mendapatkan teori teori ini tidak ada jalan lain selain mengadakan kajian
pustaka, meneliti buku buku teks, ensiklopedi, jurnal ilmiah, tesis,
disertasi, hasil penelitian lain yang relevan yang telah dilakukan orang lain.
Kajian pustaka selain untuk penyusunan teori yang akan digunakan,
juga untuk mengetahui kedudukan si peneliti di dalam dunia keilmuan
berkenaan dengan topik atau masalah yang diteliti. Umpamanya , kalau
topik atau masalah yang diteliti adalah pengguanaan prefiks ber- dan
prefiks me- dalam bahasa Indonesia maka dalam kajian pustaka hendaklah
dicari apa saja yang telah dilakukan atau diteliti orang tentang prefiks ber-
dan prefiks me- itu.
Dalam telaah pustaka untuk mencari teori ini ada dua prinsip yang
harus diperhatikan. Pertama, pustaka yang diteliti haruslahyang mempunyai
relevansi dengan bidang ilmu atau masalah yang akan diteliti. Kedua,
pustaka yang ditelaah itu hendaklah yang mutakhir ( kalau ada beberapa
edisi revisi ). Pengertian mutakhir di sini bersifat relatif, tidak terlalu terikat
dengan tahun terbit buku tersebut. Buku buku yang sudah lama atau agak
lama dikhawatirkan menyajikan teori teori yang sudah ketinggalan, atau
sudah tidak berlaku lagi, karena kebenaran ilmiahnya nya sudah
terbantah oleh teori yang lebih baru. Kecuali, barangkali dengan
pertimbangan khusus, yang juga bersifat ilmiah, pustaka yang sudah lama
bisa digunakan.
Beberapa langkah yang perlu dipertimbangkan dalam membuat
tinjauan pustaka adalah sebagai berikut.
1. Menentukan tema, topik, permasalahan, atau tujuan penelitian / kajian.
2. Mencari hasil hasil penelitian atau kajian yang memiliki kesamaan
tema dengan tema atau bidang ilmu atau masalah yang dipilih atau yang
akan diteliti, baik yang berupa laporan penelitian, artikel, makalah, atau
hasil penelitian yang telah disajikan dalam bentuk buku.
3. Mengurutkan hasil hasil penelitian atau kajian tersebut berdasarkan
urutan waktu penelitian atau penerbitan.
4. Mengkaji masing masing hasil penelitian / kajian berdasarkan urutan
waktu untuk melihat alur perkembangan keilmuan.
5. Membandingkan masing masing hasil penelitian atau kajian dengan
penelitian atau kajian yang akan dilakukan untuk menemukan
persamaan dan perbedaannya.
6. Menentukan kedudukan penelitian atau kajian yang akan dilakukan
terhadap penelitian atau kajian lain yang telah dilakukan sebelumnya.
Penyusunan landasan teori tidak akan berhasil dengan baik sebelum
bahannya cukup banyak. Karena itu, terlebih dahulu perlu dibaca sebanyak
mungkin sumber pustaka itu; baru kemudian ditelaah, dibanding
bandingkan, ditarik kesimpulan kesimpulan teoritis yang akan menjadi
landasan bagi penyusunan hipotesis penelitian. Di dalam kesimpulan
teoretis itu harus diidentifikasi hal hal atau faktor utama yang akan
digarap dalam faktor penelitian, atau yang akan menjadi dasar hipotesis
penelitian.
Dalam penelitian kuantitatif kajian pustaka yang diperlukan untuk
menyusun landasan teori atau kerangka pikir yang akan digunakan untuk
menganalisis data penelitian, serta menguji hipotesis yang diajukan dalam
penelitian tersebut. Sedangkan dalam penelitian kualitatif kajian pustaka
diperlukan sebagai dasar menyusun teori baru berdasarkan data yang
ditemukan selama penelitian berlangsung. Teori baru yang disusun
berdasarkan data penelitian tidak mungkin bisa dirumuskan kalau si peneliti
mulai dengan kekosongan teori atau konsep. Jadi, kajian pustaka ini
memang sangat penting dan perlu dilakukan seluas luasnya dan sedalam
dalamnya.
Tinjauan pustaka dalam sebuah penelitian dapat diletakkan secara
khusus pada Bab II, bersamaan dengan kajian teori. Namun dapat pula
diletakkan secara tersirat, diramu bersama dengan latar belakang pada Bab I.
B. KAJIAN TEORI
Kajian teori sering disamakan dengan landasan teoritis. Kedua hal
ini pada hakikatnya hanya merupakan perbedaan istilah, namun dalam
kenyataannya memiliki persamaan fungsi. Kajian teori mengacu pada proses
melakukan kajian terhadap satu atau beberapa teori. Hasil kajian tersebut
selanjutnya dijadikan landasan teoritis sebuah penelitian atau kajian.
Landasan teoritis lebih banyak mengacu pada hasil sebuah kajian teori atau
sebuah teori yang dijadikan sebuah landasan penelitian atau kajian. Kajian
teori tidak lengkap bila tidak sampai pada simpulan hasil kajian yang akan
dijadikan landasan teoritis. Demikian juga, landasan teoritis ditetapkan
setelah melalui proses pengkajian terhadap teori. Dengan demikian, kajian
teori dan landasan teoritis hanya merupakan perbedaan istilah dan sudut
pandang terhadap sebuah proses dan hasil kajian teori.
Landasan teoritis yang dihasilkan dari proses pengkajian terhadap
teori dijadikan pisau bedah dalam memecahkan masalah dan mencapai
tujuan penelitian. Landasan teoritis dapat bermakna sebagai landasan
berpikir ilmiah dan pedoman kerja baik dalam menjaring data penelitian
maupun menganalisis data penelitian. Landasan teoritis harus sesuai dengan
permasalahan dan tujuan penelitian serta variabel atau vokus penelitian.
Misalnya saja bila ada suatu permasalahan apakah ada perbedaan hasil
belajar kalimat langsung dan tidak langsung dengan teknik lisan dan teknik
latihan tertulis di kelas 1 SLTPN 100 Jakarta Barat berarti bila ada
permasalahan seperti itu, perlu dikemukakan teori tentang apa yang
dimaksud dengan hasil belajar, apa yang dimaksud dengan kalimat langsung
dan kalimat tidak langsung, bagaimana struktur kedua macam kalimat itu,
bagaimana kita harus mengubah struktur kalimat langsung menjadi kalimat
tidak langsung dan bagaimana pula kalu sebaliknya,selanjutnya mengenai
apa yang dimaksud dengan teknik lisan dan teknik latihan tertulis. Selain
itu, landasan teoritis mestinya juga tercermin dalam instrumen penelitian
(kartu data,alat tes) serta langkah-langkah analisis data.
Landasan teoritis disusun dengan mengikuti dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Menentukan teori yang sesuai dengan permasalahan atau tujuan
penelitian.
2. Mencari referensi buku, artikel, makalah yang membahas teori atau
topik yang bersangkutan. Selainbayak referensi semakin baik. Referensi
diutamakan dari sumber utama berupa buku atau artikel ilmiah yang
terbaru.
3. Mengurutkan referensi berdasarkan tahun terbitnya untuk mengetahui
alur perkembangan teori tersebut. Referensi yang paling tua dijadikan
sumber utama selanjutnya referensi-referensi yang lain merupakan
pelengkap dan penyempurna.
4. Mengkaji masing-masing referensi untuk menemukan keunggulan dan
kelemahannya.
5. Membahas, mempertimbangkan, dan membandingkan antara referensi
satu dengan referensi lain untuk mencari benang merah yang saling
memperkokoh.
6. Merumuskan kembali berdasarkan hasil kajian masing-masing teori.
Hasil rumusan dapat mengokohkan pendapat salah satu sumber, dapat
menggabungkan dua atau beberapa sumber. Hasil rumusan tersebut
dijadikan sebagai landasan teoritis dalam melakukan penelitian atau
kajian.
Teori hendaknya diambil dari sumber-sumber(buku, jurnal, dan lain-
lain) yang berasal dari pakar yang ahli dibidangnya. Teori lama juga boleh
digunakan kalau belum ada teori baru yang membatalkan teori lama itu.
Keterangan dari kamus umum jangan digunakan sebagai acuan teori karena
kamus hanya menjelaskan makna kata; kecuali kamus istilah dalam bidang
yang dikaji.
C. KERANGKA BERPIKIR
Kerangka berpikir merupakan sebuah bagan atau alur kerja dalam
memecahkan permasalahan penelitian. Kerangka kerja tersebut dimulai dari
permasalahan sampai pencapaian tujuan. Dalam alur kerja tersebut
hendaknya terlihat kedudukan dan fungsi landasan teoretis serta langkah
langkah penelitian.











BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
1. Menyusun tinjauan pustaka mempertimbangkan beberapa hal meliputi:
menentukan tema, topik, permasalahan, atau tujuan penelitian / kajian; mencari
referensi yang sesuai; mengurutkan referensi; mengkaji masing-masing referensi;
membandingkan antara referensi satu dengan referensi lain; merumuskan kembali
berdasarkan hasil kajian masing-masing teori.
2. Langkah-langkah menyusun landasan teori meliputi: menentukan tema, topik,
permasalahan, atau tujuan penelitian / kajian,mencari kajian yang memiliki
kesamaan tema yang akan diteliti, mengurutkan hasil hasil kajian tersebut,
mengkaji masing masing kajian, membandingkan masing masing hasil kajian
dengan penelitian, menentukan kedudukan penelitian atau kajian yang akan
dilakukan terhadap penelitian atau kajian lain yang telah dilakukan sebelumnya.
B. SARAN
Seorang mahasiswa pasti sering berhubungan dengan karya ilmiah jadi
sudah seharusnya mahasiwa dapat menyusun karya ilmiah dengan runtut dan
benar, pembahasannya juga harus sesuai dengan permasalahan yang dibahas
dalam karya ilmiah tersebut untuk itu kita perlu mencari sumber-sumber refrensi
untuk menyusun karya ilmiah yang baik.




DAFTAR PUSTAKA
Hilal, Syamsu. 2010. Pendidikan Non Formal. (Online).
(http://syamsuhilal.blogspot.com, diakses 5 Mei 2013)
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 49 tentang
Standar Pengelolaan Pendidikan Oleh Satuan Pendidikan Non
Formal.2007.Jakarta:Mendiknas.
Sudarsana, I Ketut.2006.Peranan Pendidikan Anak Usia Dini Sebagai
Satuan.Pendidikan Non Formal Dalam Membentuk Karakter Anak.(Online).
(http://www.paudni.kemdikbud.go.id, diakses 5 Mei 2013).
Suharsaputra, Uhar.2006.Peran Pendidikan Non Formal.(Online).
(http://www.paudni.kemdikbud.go.id, diakses 5 Mei 2013).