Anda di halaman 1dari 17

1

1. HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan ekstraksi pigmen fikosianin dari Spirulina dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Ekstraksi Pigmen Fikosianin dari Spirulina
Kel
Berat
biomassa
kering (g)
Jumlah aquades
yang ditambah
(ml)
Total filtrat
yang diperoleh
(ml)
OD
615
OD
652

KF
(mg/ml)
Yield
(mg/g)
Warna
Sebelum Sesudah
D1 8 100 50 0.0898 0.0442 0.013 0.081 ++ +
D2 8 100 50 0.0898 0.0439 0.013 0.081 ++ +
D3 8 100 50 0.0894 0.0438 0.013 0.081 ++ +
D4 8 100 50 0.0892 0.0439 0.013 0.081 ++ +
D5 8 100 50 0.0895 0.0439 0.013 0.081 ++ +
D6 8 100 50 0.0896 0.0439 0.013 0.081 ++ +
Keterangan:
Warna:
+ :Biru muda
++ :Biru tua
+++ :Biru sangat tua

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa pada praktikum fikosianin mikroalga semua kelompok mempunyai berat biomassa kering, jumlah
aquades yang ditambah, total filtrat yang diperoleh, nilai KF dan yield, juga warna yang sebelum dan sesudah diekstrak yang sama. Dalam tabel
juga dapat dilihat jika dilakukan dua kali spektrofotometri yang menggunakan panjang gelombang yang berbeda, yaitu 615 dan 652nm. Untuk
nilai spektrofotometri yang menggunakan panjang gelombang 615nm memiliki nilai yang bervariasi tetapi tetap berada dalam range antara
0,0892 sampai 0,0898. Untuk nilai spektrofotometri pada panjang gelombang 615 nm, kelompok D1 dan D2 mendapatkan hasil terbesar, yaitu
sebesar 0.0898 dan kelompok D4 mendapatkan hasil terkecil, yaitu sebesar 0.0892. Sedangkan untuk nilai spektrofotometri yang menggunakan
2

panjang gelombang 652 nm, juga memiliki nilai yang bervariasi,yaitu antara 0.0438 sampai 0.0442. Untuk hasil terbesar didapatkan oleh
kelompok D1 dengan nilai sebesar 0.0442, sedangkan untuk nilai terkecil didapatkan oleh kelompok D3 dengan nilai sebesar 0.0438.














3

2. PEMBAHASAN

2.1. Pengenalan Fikosianin
Mikroalga adalah salah satu kelompok tumbuhan yang mampu menghasilkan energi dan
hidup di eksosistem perairan. Mikroalga juga mampu menghasilkan metabolit yang memiliki
banyak manfaat, sehingga saat ini mikroalga sudah mulai banyak diteliti. Kelebihan-
kelebihan mikroalga tidak hanya dapat dimanfaatkan dalam industi pangan, tetapi juga dapat
dimanfaatkan dalam bidang kedokteran dan farmasi. Metting dan Pyne (1986) mengatakan
jika Spirulina sp. merupakan salah satu jenis mikroalga yang memiliki potensial tinggi untuk
dikembangkan. Spirulina sp.ini merupakan sumber protein, mineral, dan vitamin yang baik
untuk kesehatan. Spirulina sp. juga mampu menghasilkan komponen bioaktif yang dapat
digunakan sebagai bahan kedokteran, industri pangan, juga farmasi. Spirulina sp. dapat
dimanfaatkan dalam bidang kedokteran dan farmasi,karena secara alami Spirulina sp. rendah
kolesterol, lemak, kalori, dan sodium. Spirulina juga mengandung empat belas mineral dan
sembilan vitamin penting yang terikat dengan asam amino dimana kandungan tersebut akan
memudahkan dan mempercepat proses asimilasi dalam tubuh (Tietze, 2004). Henrikson
(2009) turut menambahkan jika Spirulina juga mengandung 4-7% lipid atau lemak dimana
sebagian besar berada dalam bentuk asam lemak esensial.

Spirulina merupakan organisme multiseluler yang termasuk ke dalam kelompok alga hijau
biru (blue-green algae) (Richmond, 1988). Teori lain dari Tietze (2004) mengatakan jika
Spirulina memiliki struktur tubuh berfilamen, berbentuk silinder, berwarna hijau-biru (karena
memiliki pigmen klorofil dalam jumlah tinggi), tidak bercabang, mempunyai membran sel
yang tipis dan lembut sehingga mudah dicerna, juga memiliki ukuran yang 100 kali lebih
besar dibandingkan dengan sel darah merah manusia. Spirulina juga bisa tumbuh di perairan
danau yang bersifat alkali (basa) pada suhu hangat. Sedangkan fikosianin adalah kelompok
pigmen yang memberikan warna biru pada Spirulina dan juga terikat pada protein
(biliprotein). Fikosianin memmiliki potensi yang besar sebagai bahan pewarna alami,
sebagai antioksidan Romay et al. 1998; Romay et al. 2003; Patel et al. 2006), juga dapat
mencegah terjadinya radang (Cherng et al. 2007; Shih et al. 2009; Gonzlez et al. 2003;
Romay et al. 2003). Spirulina mengandung protein dalam jumlah yang tinggi dimana
4

kandungannya bervariasi, ada yang 50% sampai 70% dari berat keringnya (Richmond,
1988).
Klorofil, karotenoid, juga fikosianin merupakan pigmen utama yang terdapat di dalam sel
Spirulina. Fikosianin terletak di dalam sistem tilakoid fotosintesis dalam membran
sitoplasma. Pigmen ini mempunyai wanra biru dan mampu larut pada pelarut polar, seperti
air. Adams (2005) mengatakan jika fikosianin sebagai biliprotein dapat mencegah
pembentukan koloni kanker. Biliprotein atau fikobiliprotein ini merupakan suatu kelompok
pigmen yang dapat ditemukan pada Cyanophyta (alga hijau-biru), Rhodophyta (alga merah),
serta Cryptophyta (alga crytomonad) dimana pigmen tersebut dapat menyerap cahaya pada
sistem fotosintesis. Kelompok pigmen tersebut adalah allophycocyanin, R-phycoerythrin, R-
phycocyanin, C-phycoerythrin, B-phycoerythrin, juga C-phycocyanin (Henrikson, 2009).
Terdapat tiga tahapan utama menurut Duangsee et al. (2009) yang digunakan untuk dapat
merusak dinding sel Spirulina, yaitu:
1. Cara mekanis (seperti tekanan tinggi, penggilingan, dan sonikasi)
2. Pemanasan, pembekuan, pencairan, dekompresi, dan atomisasi
3. Gangguan dengan litik agen (seperti lisis enzimatik dan lisis kimia)
Fikosianin umunya dimanfaatkan sebagai pewarna makanan alami, dalam bidang biomedis,
juga kosmetik (Minkovaet et al., 2002). Spolaore et al. (2006) menambahkan jika fikosianin
tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagi pewarna makanan alami, tetapi juga berpotensi
sebagai pewarna produk kosmetika yang memiliki nilai jual tinggi. Fikosianin dapat
mengalami kerusakan dikarenakan suhu tinggi dan warna larutannya dapat memudar sebesar
30% jika disimpan selama 5 hari dan menjadi bening setelah disimpan selama 15 hari pada
suhu 35
o
C (Mishra et al, 2008).
Fikosianin merupakan pigmen yang dapat banyak dijumpai pada alga hijau-biru dan
jumlahnya lebih dari 20% berat kering alga (Richmond, 1990). Fikosianin adalah pigmen
dominan yang dipunyai oleh Spirulina dan memiliki absorbansi cahaya maksimum pada
panjang gelombang 546 nm. Fikosianin (c-fikosianin) juga memiliki berat molekul sebesar
134 kDa, namun ditemukan bobot molekul lebih besar dari ekstrak fikosianin segar ,yaitu
sebesar 262kDa ( Carra & hEocha, 1976). Struktur dari fikosianin bisa dilihat pada
Gambar 1.
5


Gambar 1. Struktur fikosianin ( Carra & hEocha, 1976)

2.2. Langkah Kerja Isolasi dan Pembuatan Bubuk Fikosianin
Praktikum isolasi dan pembuatan bubuk fikosianin ini diawali dengan biomassa Spirulina
dimasukkan sebanyak 8 gram ke dalam Erlenmeyer. Kemudian Spirulina dilarutkan dengan
menggunakan akuades 100 ml dengan perbandingan 2:25. Setelah itu dilakukan pengadukan
dengan menggunakan stirrer selama kurang lebih 2 jam. Lalu dilakukan sentrifugasi
maksimal (5000 rpm selama 10 menit) hingga diperoleh endapan dan supernatant (cairan yan
berisi fikosianin. Kemudian supernatant yang diperoleh diukur kadar fikosianinnya
menggunakan spektrofotometer. Selanjutnya, dilakukan penambahan dekstrin ke dalam
supernatant dengan perbandingan supernatant : dekstrin yaitu 1 : 1,25. Setelah tercampur
rata, campuran tersebut dituangkan ke dalam wadah yang dapat digunakan sebagai alas untuk
proses pengeringan, yaitu loyang. Kemudian campuran tersebut dimasukkan ke dalam oven
dengan suhu 45
0
C hingga kering di mana kadar airnya berkisar sekitar 7% (tidak perlu
mengukur kadar air, cukup diambil menggunakan spatula dan dilihat kering atau masih
gempal). Setelah dikeringkan, maka campuran tersebut akan membentuk adonan kering yang
gempal dan nantinya perlu dihancurkan dengan alat penumbuk hingga berbentuk powder.

Langkah awal dalam praktikum ini adalah biomassa Spirulina dimasukkan sebanyak 8 gram
ke dalam Erlenmeyer. Kemudian Spirulina dilarutkan dengan menggunakan akuades 100 ml
dengan perbandingan 2:25. Lorenz (1998) mengatakan bahwa proses pelarutan ini bertujuan
untuk memecah dinding sel Spirulina yang akan membuat Spirulina menjadi lunak dan dapat
mempercepat proses ekstraksi Spirulina. Kemudian dilakukan pengadukan dengan
menggunakan stirrer selama kurang lebih 2 jam. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari
Pudyaatmaka & Qodratillah (2002) yang menyatakan bahwa saat dipanaskan larutan agar
harus diaduk secara terus menerus menggunakan magnetic stirrer dengan tujuan untuk
6

menghomogenkan larutan dan mencegah hangusnya medium. Pada pengadukan digunakan
stirrer (pemusing magnetik) yang berupa sepotong magnet yang dibungkus plastik, hal yang
dilakukan tersebut juga sesuai dengan pernyataan dari Pudyaatmaka & Qodratillah (2002)
bahwa pengaduk magnet merupakan salah satu pengaduk dari berbagai macam jenis
pengaduk yang digunakan untuk mengaduk larutan, yang dijalankan oleh arus elektrik,
dimana dapat berupa sepotong magnet yang dibungkus plastik, dengan kecepatan mengaduk
250-1000rpm.

Kemudian supernatant yang diperoleh diukur kadar fikosianinnya menggunakan
spektrofotometer. Ewing (1982) mengatakan jika spektrofotometer merupakan alat yang
dipakai untuk mengukur penyerapan radiasi oleh larutan, sehingga dalam praktikum ini
spektofotometer digunakan untuk mendapatkan nilai absobansi larutan. Selanjutnya,
dilakukan penambahan dekstrin ke dalam supernatant dengan perbandingan supernatant :
dekstrin yaitu 1 : 1,25 dan setelah tercampur rata, campuran tersebut dituangkan ke dalam
wadah yang dapat digunakan sebagai alas untuk proses pengeringan, yaitu loyang. Norman
and Pother (1979) mengutarakan jika dekstrin bisa diperoleh dari gula-gula sederhana dan
turunannya, dekstrin juga bisa diperoleh secara enzimatis, katalis biologis, juga dari
fermentasi mikroorganisme. Dekstrin adalah hidrokoloid yang mempunyai sifat mudah larut
dalam air dingin. Penambahan dekstrin ini berfungsi sebagai bahan pengisi yang bisa
meningkatkan rendemen produk akhir. Blanshard and Mitchell (1992) menambahkan apabila
dekstrin termasuk pada golongan polisakarida yang mudah menyerap air dan memiliki
struktur kimia yang lebih sederhana tersusun atas ikatan 1,6 a-glukosidik dan 1,4 a-glukosidik
(William, 1997).

Langkah yang dilakukan selanjutnya adalah campuran tersebut dimasukkan ke dalam oven
dengan suhu 45
0
C hingga kering di mana kadar airnya berkisar sekitar 7%. Pengeringan
dalam oven 45
0
C mempunyai tujuan untuk mengurangi kadar air bahan dimana pengeringan
merupakan suatu usaha untuk menurunkan kadar air sampai batas tertentu tujuannya agar
reaksi biologis terhenti dan mikrorganisme serta serangga tidak bisa hidup di dalamnya.
Pengeringan bertujuan untuk memperpanjang umur simpan dengan cara mengurangi kadar air
untuk mencegah tidak ditumbuhi oleh mikroorganisme pembusuk. Dalam proses pengeringan
dilakukan pengaturan terhadap suhu, kelembaban (humidity) dan aliran udara
(Banwatt,1981). Proses pengeringan juga akan membuat bahan menjadi lebih tahan lama dan
7

volume bahan menjadi lebih kecil sehingga biaya produksi bisa diminimalkan dan lebih
mudah dalam pengepakan serta pengangkutan (Winarno, 1993).

Langkah terakhir yang dilakukan campuran yang sudah dikeringkan tersebut membentuk
adonan kering yang gempal dan nantinya perlu dihancurkan dengan alat penumbuk hingga
berbentuk powder. Penghalusan ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan luas
permukaan bahan. Langkah yang dilakukan sesuai dengan teori dari Saleh et al. (1996) yang
mengutarakan jika proses penghancuran akan memperluas luas permukaan bahan, sehingga
rasio luas permukaan terhadap volume bahan akan menjadi semakin tinggi.

Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh, dapat dilihat bahwa pada praktikum fikosianin
mikroalga semua kelompok mempunyai berat biomassa kering, jumlah aquades yang
ditambah, total filtrat yang diperoleh, nilai KF dan yield, juga warna yang sebelum dan
sesudah diekstrak yang sama. Kesamaan ini menandakan jika proses ekstraksi fikosianin
yang dilakukan pada tiap kelompok mempunyai tingkat ketelitian yang sama. Nilai
konsentrasi fikosianin dan yield dapat dihitung menggunakan rumus :
34 , 5
) ( 474 , 0
K
625 615
OD OD
F


) _ (
) _ (
Yield
biomassa berat g
filtrat total Vol KF


Dalam hasil yang diperoleh juga dapat dilihat jika dilakukan dua kali spektrofotometri yang
menggunakan panjang gelombang yang berbeda, yaitu 615 dan 652nm. Untuk nilai
spektrofotometri yang menggunakan panjang gelombang 615nm memiliki nilai yang
bervariasi tetapi tetap berada dalam range antara 0,0892 sampai 0,0898. Sedangkan untuk
nilai spektrofotometri yang menggunakan panjang gelombang 652 nm, juga memiliki nilai
yang bervariasi,yaitu antara 0.0438 sampai 0.0442. Hasil yang diperoleh pada tiap kelompok
tidak sama dimana Wilford (1987) mengatakan jika banyak faktor yang dapat mempengaruhi
nilai absorbasi, seperti panjang gelombang, suhu, tebal intensitas penyinaran, konsentrasi,
serta zat terlarut.


8

2.3. Jurnal Terkait
Jurnal pertama yang terkait dengan fikosianin adalah A Large-Scale Preparation Method of
High Purity C-Phycocyanin. Dalam jurnal ini dilakukan metode preparasi dimana Spirulina
platensis kering bubuk diinkubasi dengan 1 mg / ml lisozim dan selanjutnya didegradai
menggunakan tekanan tinggi homogenizer. Ekstrak kasar yang terbentuk diendapkan dengan
menggunakan 50% amonium sulfat dan selanjutnya dimurnikan oleh hidrofobik kromatografi
interaksi, ion kromatografi penukar, dan dan gel kromatografi filtrasi. Pemulihan akhir
(recovery) dari C-Phycocyanin sebesar 42,03% dengan rasio kemurnian (A620 / A280) 5,32.
Jurnal lain yang terkait adalah Phycocyanin extraction from Spirulina platensis and extract
stability under various pH and temperature. Dalam jurnal ini dilakukan tiga metode
ekstraksi: sonikasi, pembekuan, juga pencairan berulang (RFT) yang dilakukan pada dua
strain Spirulina platensis, yaitu IFRPD1183 (Sp1183) dan IFRPD1213 (Sp1213). Dalam
jurnal dikatakan jika metode sonikasi lebih efektif dalam memecahkan dinding sel
dibandingkan dengan metode RFT. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa jika
efisiensi ekstraksi sangat dipengaruhi oleh suhu dan waktu ekstraksi. Jurnal ketiga yang ada
hubungannya dengan praktikum ini adalah Impact of Culturing Media on Biomass
Production and Pigments Content of Spirulina platensis. Dalam jurnal ini dikatakan jika
media dan masa inkubasi budidaya pada biomassa dan pigmen produksi S. platensis
merupakan faktor yang sangat penting . Inkubasi S. platensis dilakukan selama 30 hari
dimana waktu tersebut merupakan periode yang optimal untuk menghasilkan produksi
biomassa maksimum. Media Zarrouk merupakan media terbaik untuk produksi biomassa S.
platensis karena alkalinitas tinggi (pH 8.2). Media dan budidaya periode optimal bisa dipilih
tergantung pada produk biomassa atau pigmen akhir yang dibutuhkan. Jurnal berikutnya yang
membahas mengenai fikosianin adalah In vitro and in vivo investigations of the wound
healing effect of crude Spirulina extract and C-phycocyanin. Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi pengaruh ekstrak Spirulina mentah dan C-phycocyanin (C-PC) yang diisolasi
dari ekstrak Spirulina mentah, menggunakan metode in vitro dan in vivo dimana Spirulina
telah banyak dimanfaatkan sebagai nutraceutical dan sumber obat-obatan yang memiliki
potensial tinggi. Namun tidak diketahui adanya komponen cyanobacteria mampu untuk
menyembukan luka. Jurnal terakhir datang dengan judul Effect of Carbon Content, Salinity
and pH on Spirulina platensis for Phycocyanin, Allophycocyanin and Phycoerythrin
Accumulation. Jurnal ini meneliti mengenai dampak dari kandungan karbon, salinitas, dan
pH pada Spirulina platensis untuk akumulasi fikosianin, allophycocyanin, dan phycoerythrin.
9

Dalam jurnal ini dikatakan jika cyanobacterium yang dimiliki Spirulina platensis merupakan
sumber potensial dari biopigment, yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna makanan,
kosmetik, produk farmasi, dan memiliki aplikasi dalam nutraceuticals. Dalam jurnal ini
didapatkan hasil jika kondisi yang tidak optimal akan mempengaruhi produksi biomassa,
klorofil-a, phycobiliproteins, juga isi karotenoid S. platensis. S. platensis akan meningkat
pada penambahan 0,4 M NaCl serta pH 7 dimana dapat dimanfaatkan dalam produksi
phycobiliproteins skala besar sebagai sumber protein yang potensial.










10


3. KESIMPULAN

Mikroalga adalah salah satu kelompok tumbuhan yang mampu menghasilkan energi dan
hidup di eksosistem perairan.
Spirulina merupakan organisme multiseluler yang termasuk ke dalam kelompok alga
hijau biru (blue-green algae).
Spirulina memiliki struktur tubuh berfilamen, berbentuk silinder, berwarna hijau-biru
(karena memiliki pigmen klorofil dalam jumlah tinggi), tidak bercabang, mudah dicerna,
juga memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan sel darah merah manusia.
Klorofil, karotenoid, juga fikosianin merupakan pigmen utama yang terdapat di dalam sel
Spirulina.
Terdapat tiga tahapan utama untuk merusak dinding sel Spirulina, yaitu cara mekanis,
cara panas, juga cara kimia atau enzimatis.
Pigmen fikosianin dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami makanan.
Fikosianin bisa mengalami kerusakan dikarenakan suhu tinggi.
Fikosianin adalah pigmen yang dominan di dalam Spirulina.
Proses pelarutan dengan aquades ini bertujuan untuk memecah dinding sel Spirulina
yang akan membuat Spirulina menjadi lunak dan dapat mempercepat proses ekstraksi
Spirulina.
Stirrer digunakan dengan tujuan untuk menghomogenkan larutan dan mencegah
hangusnya medium.
Spektrofotometer merupakan alat yang dipakai untuk mengukur penyerapan radiasi oleh
larutan
Penambahan dekstrin berfungsi sebagai bahan pengisi yang bisa meningkatkan rendemen
produk akhir.
Pengeringan dalam oven 45
0
C mempunyai tujuan untuk mengurangi kadar air bahan dan
memperpanjang umur simpan produk.
Berat biomassa kering, jumlah aquades yang ditambah, total filtrat yang diperoleh, nilai
KF dan yield, juga warna yang sebelum dan sesudah diekstrak yang sama menandakan
proses ekstraksi fikosianin yang dilakukan tiap kelompok mempunyai tingkat ketelitian
yang sama.
11

Nilai absorbansi dipengaruhi oleh panjang gelombang, suhu, tebal intensitas penyinaran,
konsentrasi, serta zat terlarut.

Semarang, 12 Oktober 2014
Praktikan, Asisten Dosen,



Stella Giovani - Agita Mustikahandini
(12.70.0180)




























12


4. DAFTAR PUSTAKA


Adams M. 2005. Superfood for Optimum Health: Chlorella and Spirulina. New York: Truth
Publishing International, Ltd. Hal 26.
Banwatt, George. 1981. Basic Food Microbiology. Connecticut: The Avi Publishing
Company, Inc.

Blanshard, M.A. and Mitchell, J.R., 1992. Polysacharides in Food, Butterworth Published
Inc. Boston USA.
Canan Sevimli Gur, Deniz Kiraz Erdogan, Ilyas Onbaslar, Pergin Atilla, Nur Cakar, dan
Ismet Deliloglu Gurhan. 2013. In vitro and in vivo investigations of the wound healing effect
of crude Spirulina extract and C-phycocyanin. Department of Bioengineering. Turkey. Jurnal
diakses pada tanggal 12 Oktober 2104.
Cherng SC, Cheng SN, Tarn A, Chou TC. 2007. Anti-inflammatory activity of c-phycocyanin
in lipopolysaccharide-stimulated RAW 264.7 macrophages. Life Sciences 81:14311435.
Diaa A. Marrez, Mohamed M. Naguib, Yousef Y. sultan, Zakaria Y. Daw, dan Aziz M.
Higazy2. 2013. Impact of Culturing Media on Biomass Production and Pigments Content of
Spirulina platensis. Microbiology Department. Egypt. Jurnal diakses pada tanggal 12
Oktober 2014.
Duangsee, Rachen; Natapas Phoopat; and Suwayd Ningsanond. (2009). Phycocyanin
extraction from Spirulina platensis and extract stability under various pH and temperature.
http://www.ajofai.info/Abstract/Phycocyanin%20extraction%20from%20spirulina%20platen
sis%20and%20the%20extracts%20stability%20under%20various%20ph%20and%20tempera
ture.pdf. Jurnal diakses pada tanggal 12 Oktober 2014.
Ewing, G. W. (1982). Instrumental Methods of Chemical Analysis. Mc Grow Hill Book
Company. USA.
Gaurav Sharma, Manoj Kumar, Mohammad Irfan Ali, dan Nakuleshwar Dut Jasuja. 2014.
Effect of Carbon Content, Salinity and pH on Spirulina platensis for Phycocyanin,
Allophycocyanin and Phycoerythrin Accumulation. Marine Biotechnology Laboratory. India.
Jurnal diakses pada tanggal 12 Oktober 2014.
Gonzlez R. Gonzlez A, Remirez D, Romay C, Rodriguez S, Ancheta O, Merino N. 2003.
Protective effects of phycocyanin on galactosamine-induced hepatitis in rats. Biotecnologa
Aplicada 20:107-110.
Henrikson R. 2009. Earth Food Spirulina. Ed Ke-6. Hawai: Ronore Interprise, Inc. Hal 37.
Lorenz RT. 1998. Quantitative Analysis of C-phycocyanin from Spirulina pasifica (low
teperature method). www.cyanotech.com. Jurnal diakses pada tanggal 12 Oktober 2014.
Metting B dan Pyne JW. (1986). Biologically Active Compounds from Microalgal. Journal of
Enzyme Microb. Tech. Vol. 8. Butterworth and Co Publish.
13

Minkovaet, K.M.; A.A. Tchernov; M.I. Tchorbadjieva; S.T. Fournadjieva; R.E. Antova; dan
M.Ch. Busheva. (2002). Purification of C-phycocyanin from Spirulina (Arthrospira)
fusiformis. http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S016816560300004X. Jurnal
diakses pada tanggal 12 Oktober 2014.
Mishra SK, Shrivastav A, Mishra S. 2008. Effect of preservatives for food grade C-PC from
Spirulina platensis. Process Biochemistry 43:339345.
Norman, N. and Pother, 1979. Food Science. Second Edition, TheAvi Publishing Company,
New York.
Carra P, hEocha C. 1976. Algal Biliproteins and Phycobilins. Goodwin TW, editor.
1976. Chemistry and Biochemistry of Plant Pigments. London: Academic press inc. Hal 328-
371.
Patel A, Mishra S, Ghosh PK. 2006. Antioxidant potential of c-phycocyanin isolated from
cyanobacterial species Lynbya, Phormidium and Spirulina spp. Indian Journal of
Biochemistry dan Biophysics 43:25-31.
Pudyaatmaka, A. Hadyana & Meity Taqdir Qodratillah. 2002. Kamus Kimia cetakan II. Balai
Pustaka. Jakarta.
Rachen Duangsee, Natapas Phoopat, dan Suwayd Ningsanond. 2009. Phycocyanin
extraction from Spirulina platensis and extract stability under various pH and temperature.
Institute of Agricultural Technology. Thailand. Jurnal diakses pada tanggal 12 Oktober 2014.
Richmond A. 1988. Spirulina. Di dalam Borowitzka MA dan Borowitzka LJ, editor. Micro-
algal biotechnology. Cambridge: Cambridge University Press.
Romay C, Armesto J, Remirez D, Gonzlez R, Ledn N, Garca I. 1998. Antioxidant and
anti-inflammatory properties of c-phycocyanin from blue-green algae. Inflammation
Research 47:36-41.
Romay C, Gonzlez R, Ledn N, Remirez D, Rimbau V. 2003. C-phycocyanin: a biliprotein
with antioxidant, anti-inflammatory and neuroprotective effects. Current Protein and Peptide
Science 4:207-216.

Saleh, M ; A. Ahyar ; Murdinah ; dan N. Haq. (1996). Ekstraksi Kepala Udang Menjadi
Flavor Udang Cair. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. II, No.1, hal 60-68.
Shih CM, Cheng SN, Wong CS, Kuo YL, Chou TC. 2009. Antiinflammatory and
antihyperalgesic activity of C-Phycocyanin. International Anesthesia Research Society
108(4):1303-1310.
Spolaore P, Joanis-Carson C, Duran E, Isambert A. 2006. Comercial application of
microalgae. Journal of bioscience and bioenginering 101(2):87-96.
Tietze HW. 2004. Spirulina Micro Food Macro Blessing. Ed ke-4. Australia: Harald W.
Tietze Publishing. Hal 8-10.
14

Wenjun Song, Cuijuan Zhao, and Suying Wang. 2013. A Large-Scale Preparation Method of
High Purity C-Phycocyanin. Laboratory of Food Biotechnology. China. Jurnal diakses pada
tanggal 12 Oktober 2014.
William, M., 1997. Food Experimental Prespectives, Third Edition, Prentice Hall Inc. Upper
Saddler River, New Jersey.
Wilford, D. (1987). Microbiology System in Chemistry. Co Allys and Benton. USA.
Winarno, F. G. (1993). Pangan Gizi, Teknologi dan Konsumen. PT Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.







15

LAMPIRAN

4.1. Foto-foto Fikosianin

Foto Fikosianin kelompok D1-D6 sebelum dioven


Foto Fikosianin kelompok D1-D6 sesudah dioven

16


Foto Fikosianin serbuk

4.2. Perhitungan KF dan Yield

Rumus:

)




Kelompok D1


= 0,013 mg/ml


= 0,081 mg/g

Kelompok D2


= 0,013 mg/ml


= 0,081 mg/g
17


Kelompok D3


= 0,013 mg/ml


= 0,081 mg/g
Kelompok D4


= 0,013 mg/ml


= 0,081 mg/g

Kelompok D5


= 0,013 mg/ml


= 0,081 mg/g

Kelompok D6


= 0,013 mg/ml


= 0,081 mg/g

4.3. Laporan Sementara