Anda di halaman 1dari 14

1.

HASIL PENGAMATAN
Hasil pengamatan tentang ekstraksi karagenan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Ekstraksi Karagenan
Kelompok Berat Basah (g) Berat Kering (g) % Rendemen
D1
D2
D3
D4
D5
40
40
40
40
40
2,631
2,421
1,535
1,725
1,941
6,578
6,053
3,837
4,312
4,853
D6 40 2,443 6,107

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa pada pembuatan karagenan pada masing-masing
kelompok mempunyai berat basah yang sama, yaitu sebesar 40 gram. Dari tabel di atas diperoleh
pula hasil dari berat kering dan rendemen yang bervariasi . Pada hasil berat kering, didapatkan
nilai terkecil pada kelompok D3 dengan nilai sebesar 1,535 gram, sedangkan nilai terbesar
diperoleh pada kelompok D1 dengan nilai sebesar 2,631 gram. Untuk hasil rendemen,
didapatkan nilai terkecil pada kelompok D3 dengan nilai sebesar 3,837 %, sedangkan nilai
terbesar diperoleh pada kelompok D1 dengan nilai sebesar 6,578%. Dari hasil di atas, dapat
dikatakan masing-masing kelompok memiliki nilai berat kering juga rendemen yang berbeda-
beda walaupun berat basahnya sama.

2. PEMBAHASAN

2.1. Pengenalan Karagenan
Rumput laut atau seaweed (yang masuk ke dalam Diviso Thallophyla) dimana sering dikenal pula
dengan istilah ganggang atau alga. Rumput laut merupakan tanaman yang pada umunya hidup di
daerah perairan, tidak berlumpur, dan rumput laut ini merupakan salah satu tanaman berklorofil.
Berdasarkan dari ukurannya, rumput laut dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu jenis
mikroskopik dan makroskopik dimana jenis makroskopik inilah yang sering kita kenal sebagai
rumput laut (Taurino-Poncomulyo, 2006). Pada umunya, rumput laut tidak memiliki daun,
batang, juga akar sejati (hanya menyerupai batang yang dinamakan thallus )dan pada tumbuhnya
melekat pada substrat tertentu, sehingga rumput laut ini dikatakan sebagai tanaman berderajat
rendah (Jana-Anggadiredjo, 2006). Dalam industri pangan, rumput laut atau seaweed memiliki
banyak manfaat atau kegunaan yang menguntungkan, seperti untuk pembuatan agar, sumber
karagenan, juga sebagai alginate. Waryono (2008) mengatakan jika ada empat kelas besar dalam
Diviso ini, yaitu alga merah (Rhodophyceae), alga hijau (Chlorophyceae), alga biru hijau
(Cyanophyceae), dan terakhir alga coklat (Phaeophyceae).

Umunya, rumput laut atau seaweed dapat digolongkan ke dalam jenis alga (makroalga) dimana
klasifikasinya digolongkan berdasarkan pigmentasinya. Alga tidak hanya mengandung klorofil,
akan tetapi juga mengandung zat warna lainnya seperti merah, biru,pirang, keemasan, dan coklat.
Alga mempunyai klorofil, sehingga bersifat autotroph yaitu dapat membuat makanannya sendiri
(tidak tergantung pada makhluk yang lain). Armstrong (2003) mengelompokkan seaweeds
(makroalga) menjadi 3 kelompok besar, yaitu alga hijau, alga merah, dan alga coklat.

Agaragar merupakan salah satu produk yang dapat dihasilkan rumput laut. Agar-agar
merupakan produk kering yang tidak memiliki bentuk (amorphous) yang memiliki sifat yang
mirip dengan gelatin berupa rantai linear galaktan dimana galaktan adalah polimer dari
galaktosa. Agar -agar diperoleh dari ekstrak ganggang laut dari kelompok Rhodophyceae (seperti
Gelidium juga Glacilaria). Agar agar memiliki rumus molekul adalah (C
12
H
14
O
5
(OH)
4
)
n.
Sifat
utama yang dimiliki agar agar adalah dapat larut dalam air panas, akan tetapi jika didinginkan
sampai pada suhu tertentu akan membentuk gel (Chapman and Chapman, 1980). Agar agar
memiliki banyak manfaat yang menguntungkan, seperti bahan pengemulsi dan penstabil. Tidak
hanya dimanfaatkan dalam industry pangan, agar-agar juga dapat dimanfaatkan dalam industry
kosmetik, farmasi, fotografi, juga dapat digunakan sebagai media pertumbuhan mikroba (Aslan,
1998).

Dalam proses ekstraksi rumput laut, umumnya menggunakan pelarut asam pada suhu tinggi,
sedangkan Stephen (1995) mengatakan jika pada suasana basa mampu meningkatkan sifat gel
agaragar. Tahapan ekstraksi agar agar dari rumput laut memerlukan beberapa langkah, yaitu
tahapan perendaman, ekstraksi, pemisahan agar agar dengan pelarutnya, dan langkah yang
terakhir adalah pengeringan agar agar. Setiap langkah pengolahan agar- agar akan
mempengaruhi kualitas gel dan rendemen agar agar (Munaf, 2000) dan (Mannivanan et al.,
2008).

Terdapat 5 tahapan utama dalam proses pembuatan agar-agar, yaitu :
a) Pemanenan dan pengeringan rumput laut
Tahapan pertama merupakan proses pemanenan dan pengeringan rumput laut. Setelah proses
pemanenan berlangsung, langkah selanjutnya adalah membesihkan rumput laut dari kotoran,
seperti batu, pasir, dan kotoran lainnya. Setelah dibersihkan, rumput laut dikeringkan
menggunakan sinar matahari yang membutuhkan waktu beberapa hari sampai kering (kadar
airnya sekitar 20%).
b) Pemotongan dan pengasaman
Tahapan kedua adalah pemotongan juga pengasaman. Setelah rumput laut menjadi kering,
selanjutnya rumput laut dicuci kembali di dalam bak pencuci yang berisi air dan dipotong-
potong. Kemudian, dilakukan pencucian oleh asam sulfat 5-10% selama 15 menit dan dibilas
dengan air hingga bersih. Tidak hanya asam sulfat, dapat digunakan pula asam sitrat atau
asam asetat. Dalam proses ini, pengasaman berfungsi untuk memecahkan dinding sel, yang
menyebabkan agar-agar mudah diekstrak dan membuat rumput laut menjadi lebih bersih.
c) Pemasakan dan ekstraksi
Tahapan ketiga adalah pemasakan dan ekstraksi. Setelah proses pengasaman, dilakukan
pemasakan rumput laut yang menggunakan air bersih di dalam bejana yang besar. Dalam
proses pemasakan, dilakukan penambahan asam cuka 0,5 % dan pemanasan dilakukan selama
2-4 jam pada suhu 90-100
0
C. Saat mulai mendidih, basa (seperti natrium hidroksida)
ditambahkan yang bertujuan untuk menetralkan pH (pH 6-8).
d) Pemadatan
Tahap keempat adalah proses pemadatan. Selanjutnya, dilakukan penyaringan terhadap
ekstrak rumput laut dan diperas secara perlahan. Ekstrak yang diperoleh tersebut akan
ditempatkan dalam bejana dan basa ditambahkan sampai pH berkisar antara 7-7,5.
Selanjutnya,larutan agar-agar yang telah netral, dipanaskan kembali sambil dilakukan
pengadukan. Setelah pemanasan selesai, agar agar tersebut dituang ke dalam cetakan yang
diinginkan dan dibiarkan memadat pada suhu kamar atau dapat memanfaatkan suhu dingin
untuk mempercepat proses pemadatan.
e) Pengeringan.
Tahapan terakhir adalah pengeringan. Agar yang sudah memadat, kemudian dipotong tipis
tipis menjadi bentuk lembaran (dengan tebal 0,5 cm) dengan menggunakan kawat baja halus.
Selanjutnya, lembaran tersebut dibungkus menggunakan kain blacu, disusun, selanjutnya
dimasukkan ke dalam alat pengepres untuk mengeluarkan air yang terkandung dalam agar.
Terakhir, agar yang telah di-press dapat dikemas dengan menggunakan kantong plastik
(Handayani, 2006).

Campo et al. (2009) mendefinisikan karagenan adalah polisakarida yang diperoleh melalui
proses ektraksi dari beberapa spesies rumput laut, seperti rumput laut atau alga merah
(rhodophyceae). Beliau juga mengatakan jika karagenan merupakan suatu galaktan tersulfatasi
linear hidrolitik, yang menunjukkan jika polimer ini merupakan pengulangan unit sakarida.
Galaktan tersulfatasi diklasifikasikan ke dalam unit 3,6-anhydro galactose (DA) dan posisi gugus
sulfat. Ada beberapa jenis karagenan yang komersial, seperti karagenan iota, karagenan lambda,
juga karagenan kappa. Jenis karagenanan yang berbeda berasal dari jenis rhodophyta yang
berbeda pula. Secara alami jenis karagenan iota dan karagenan kappa terbentuk secara enzimatis
dengan prekursor sulfohydrolase. Sedangkan jika secara komersial, jenis karagenan iota dan
karagenan kappa diproduksi dengan menggunakan perlakuan alkali (basa) atau bisa diekstrak
dengan menggunakan alkali.

2.2. Langkah Kerja Ekstraksi Karagenan
Pada praktikum ini, pertama-tama rumput laut basah ditimbang sebanyak 40 gram menggunakan
timbangan analitik. Kemudian rumput laut tersebut dipotong kecil kecil dan di-blender. Setelah
itu, dilakukan proses ekstraksi dalam air sebanyak 500 ml selama 1 jam pada suhu 80-90
o
C.
Lalu, pH larutan diatur hingga menjadi 8 dengan menambahkan larutan HCl 0,1 N atau NaOH
0,1 N. Kemudian hasil ekstraksi disaring dengan menggunakan kain saring bersih dan cairan
filtratnya ditampung dalam wadah. Setelah diperoleh cairan filtratnya, ditambahkan larutan NaCl
10% sebanyak 5% dari volume filtratnya, lalu dipanaskan kembali sampai suhu 60
o
C. Langkah
berikutnya adalah filtrat dituang ke wadah berisi cairan IPA sebanyak 300 ml volume filtrat
untuk diendapkan dengan acar diaduk selama 10-15 menit sehingga terbentuk endapan
karagenan. Endapan karagenan tersebut kemudian ditiriskan dan direndam dalam IPA sampai
diperoleh serat karagenan yang lebih kaku. Berikutnya, serat karagenan dibentuk tipis-tipis dan
diletakkan dalam wadah tahan panas dan dikeringkan dalam oven selama 24 jam pada suhu 35

o
C. Langkah terakhir adalah serat karagenan ditimbang kemudian di-blender menjadi tepung
karagenan.

Langkah pertama yang dilakukan adalah rumput laut basah ditimbang sebanyak 40 gram
menggunakan timbangan analitik. Pada praktikum ini, rumput laut yang digunakan adalah
Eucheuma Cottonni. Eucheuma Cottonni merupakan rumput laut merah yang dapat
menghasilkan karagenan kappa (Doty, 1985). Rumput laut ini memiliki beberapa ciri, seperti
memiliki permukaan yang licin, mempunyai warna yang berubah-ubah (dapat berwarna abu-abu,
hijau, hijau kuning, atau bahkan merah, tergantung dari faktor lingkungan di sekitar), thallus-nya
mempunyai bentuk silindris (Atmadja, 1996). Eucheuma Cottonni juga dikenal dengan nama
Kappaphycus alvarezii, karena mampu menghasilkan karagenan kappa (Doty, 1985).

Langkah selanjutnya adalah proses penghancuran rumput laut menjadi tepung rumput laut
dengan cara di-blender. Proses penghancuran ini bertujuan untuk meningkatkan luas permukaan
bahan. Langkah yang dilakukan sesuai dengan teori dari Saleh et al. (1996) yang mengutarakan
jika proses penghancuran akan memperluas luas permukaan bahan, sehingga rasio luas
permukaan terhadap volume bahan akan menjadi semakin tinggi.

Langkah selanjutnya yang dilakukan adalah proses ekstraksi dalam air sebanyak 500 ml 1 jam
pada suhu 80-90
o
C. Lorenz (1998) mengatakan jika proses perendaman ini bertujuan untuk
memecah dinding sel rumput laut yang akan membuat rumput laut menjadi lunak dan dapat
mempercepat proses ekstraksi agar agar. Setelah itu, dilakukan pula penambahkan larutan HCl
0,1 N atau NaOH 0,1 N hingga tercapai pH 8. Larutan harus dikondisikan dalam suasana netral,
karena rumput laut akan mudah terhidrolisis dalam suasana asam dimana hidrolisis dapat
mengakibatkan kekuatan gel menjadi menurun dan juga untuk menjaga kondisinya agar lebih
stabil (Matsuhasi, 1977).

Kemudian hasil ekstraksi disaring dengan menggunakan kain saring bersih dan cairan filtratnya
ditampung dalam wadah. Setelah diperoleh cairan filtratnya, ditambahkan larutan NaCl 10%
sebanyak 5% dari volume filtratnya, lalu dipanaskan kembali sampai suhu 60
o
C. Proses
penyaringan yang bertujuan untuk menghilangkan padatan-padatan yang berukuran besar, yang
berukuran 0,7 mm atau lebih besar (Mahida, 1992), sedangkan untuk penambahan NaCl 10%
sebanyak 5% dari volume filtratnya bertujuan untuk mengendapkan karagenan, sedangkan
pemanasan kembali sampai suhu 60
o
C berfungsi untuk mempercepat proses pengendapan terjadi
(Mappiratu, 2009).

Langkah berikutnya adalah filtrat dituang ke wadah berisi cairan IPA sebanyak 300 ml volume
filtrat untuk diendapkan dengan acar diaduk selama 10-15 menit sehingga terbentuk endapan
karagenan. Endapan karagenan tersebut kemudian ditiriskan dan direndam dalam IPA sampai
diperoleh serat karagenan yang lebih kaku. Prasetyowati et al. (2008) mengatakan jika cairan
IPA yang diberikan dalam praktikum ini bertujuan untuk mengendapkan karagenan, karena
cairan IPA mengandung alkohol. Perendaman dalam cairan IPA (iso propil alkohol) dapat
membuat serat karagenan yang lebih kaku, karena cairan IPA mengakibatkan kadar air
berkurang.

Berikutnya, serat karagenan dibentuk tipis-tipis dan diletakkan dalam wadah tahan panas dan
dikeringkan dalam oven selama 24 jam pada suhu 35
o
C. Pengeringan dalam oven selama 24 jam
pada suhu 35
o
C mempunyai fungsi mengurangi kadar air bahan sehingga membuat reaksi
biologis terhenti dan pertumbuhan mikrorganisme serta serangga pun terhambat
(memperpanjang umur simpan produk). Suhu, kelembaban (humidity), juga aliran udara
merupakan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam proses pengeringan (Banwatt,1981).
Proses pengeringan juga akan membuat bahan menjadi lebih tahan lama dan volume bahan
menjadi lebih kecil sehingga biaya produksi bisa diminimalkan dan lebih mudah dalam
pengepakan serta pengangkutan (Winarno, 1993). Langkah terakhir adalah serat karagenan
ditimbang kemudian di-blender menjadi tepung karagenan. Penghalusan terakhir yang dilakukan
menggunakan blender bertujuan untuk menghomogenkan ukuran sampel dan membuatnya
semakin mudah untuk berikatan dengan reaktan lain Saleh et al. (1996).

Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat dilihat bahwa pada pembuatan karagenan pada masing-
masing kelompok mempunyai berat basah yang sama, yaitu sebesar 40 gram. Dari tabel di atas
diperoleh pula hasil dari berat kering dan rendemen pada masing-masing kelompok yang
bervariasi. Pada hasil berat kering, didapatkan nilai terkecil pada kelompok D3 dengan nilai
sebesar 1,535 gram, sedangkan nilai terbesar diperoleh pada kelompok D1 dengan nilai sebesar
2,631 gram. Untuk hasil rendemen, didapatkan nilai terkecil pada kelompok D3 dengan nilai
sebesar 3,837 %, sedangkan nilai terbesar diperoleh pada kelompok D1 dengan nilai sebesar
6,578%. Dari hasil yang diperoleh, dapat dikatakan masing-masing kelompok memiliki nilai
berat kering juga rendemen yang berbeda-beda walaupun berat basahnya sama. Ada beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi hasil ekstraksi dari karagenan yang membuat hasil tiap
kelompoknya bervariasi dan berbeda-beda, seperti suhu, waktu ekstaksi, jenis pelarut yang
digunakan, proses pengadukan, rasio berat bahan dengan volume pelarut, ukuran padatan
(dimana tiap kelompoknya mempunyai ukuran serat karagenan yang berbeda-beda bentuknya),
dan perendaman (Distantina et al., 2007).

2.3. Jurnal Terkait
Jurnal pertama yang terkait dengan pembuatan karagenan datang dari jurnal Development of
high yielding carragenan extraction method from Eucheuma Cotonii using cellulase and
Aspergillus niger. Jurnal tersebut meneliti mengenai ektraksi karagenan yang menggunakan
selulosa dari Eucheuma Cotonii dan Aspergillus niger. Berdasarkan dari penelitian jurnal,
ekstraksi selulase mampu menghasilkan karagenan yang lebih tinggi (45%) dibandingkan dengan
jamur (37%). Penggunaan selulase telah membuktikan aktivitas spesifik pada dinding sel
Eucheuma cottonii. Namun, kelebihan menggunakan jamur adalah efektivitasnya yang mampu
menghasilkan enzim sendiri sehingga dapat menghemat biaya. Jurnal lain yang terkait dengan
pembuatan karagenan adalah Formaldehyde in Carrageenan and Processed Eucheuma
Seaweed. Dalam jurnal dikatakan jika formaldehid seharusnya tidak boleh terdapat pada produk
karagenan. Akan tetapi, ada sebuah metode yang telah dikembangkan untuk pengukuran
formaldehid di Karagenan dan olahan Rumput Laut Eucheuma (PES). Penentuan formaldehid
dilakukan dengan cara mengekstraksi formaldehid dari sampel dengan menggunakan isopropil
alkohol. Sebuah kromofor UV melekat pada formaldehid dalam ekstrak sebelum melewati kolom
HPLC yang dilengkapi dengan detektor UV yang digunakan untuk menentukan konsentrasi
formaldehid di dalam ekstrak. Jurnal Effect of extraction parameters on the chemical structure
and gel properties of k/i-hybrid carrageenans obtained from Mastocarpus stellatus dimana
karagenan dapat diekstrak dari Mastocarpus stellatus. Mastocarpus stellatus sendiri mengandung
karagenan kappa dan karagenan iota dengan jumlah kecil (maksimum 15% pada konten
monomer relatif) dan struktur biokimianya dapat dikontrol dengan memantau kondisi dan hasil
dari proses ekstraksi. Jurnal keempat ini datang dengan judul Iota-carrageenans from Solieria
filiformis (Rhodophyta) and their effects in the inflammation and coagulation. Dalam penelitian
ini dikatakan jika karagenan iota dapat diperoleh dari rumput laut merah, yaitu Solieria
filiformis. Akan tetapi, kekurangan dari penggunaan Solieria filiformis adalah dapat
mengakibatkan inflamasi akut dan penelitian ini dapat menjadi penelitian barubagi industri
farmasi. Jurnal terakhir adalah Characterizations of Fish Gelatin Films Added with Gellan and
K-Karrageenan. Jurnal tersebut mengatakan jika saat ini, gelatin dari ikan sudah dikalahkan
oleh gelatin yang berasal dari hewan mamalia, sehingga ditambahkan karagenan gellan dan
karagenan kappa untuk meningkatkan sifat dari gelatin ikan. Digunakan Fourier transform
infrared (FTIR) and thermal analysis (DSC) untuk mengevaluasi gelatin ikan yang ditambahakan
karagenan gellan dan karagenan kappa dan didapatkan hasil yang mengatakan jika penambahan
karagenan gellan dengan konsentrasi lebih dari 2g/100g dari gelatin mampu meningkatkan sifat
dari gelatin dari ikan.
9


3. KESIMPULAN

Rumput laut adalah bahanutama penghasil alginate juga karagenan yang pada umunya dapat
dimanfaatkan dalam produk pangan.
Alga merah (rhodophyta) merupakan salah satu jenis rumput laut yang menghasilkan
karagenan.
Karagenan merupakan suatu galaktan tersulfatasi linear hidrolitik, yang menunjukkan jika
polimer ini merupakan pengulangan unit sakarida.
Ada 3 jenis karagenan yang sering digunakan, yaitu karagenan kappa, karagenan iota, juga
karagenan lambda.
Manfaat karagenan dalam bahan pangan adalah sebagai bahan pengemulsi, penstabil,
penjernih, pemantap, pengisi, juga pembuat gel.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan gel dari karagenan adalah pH, suhu,
konsentrasi, ester sulfat, dan gula.
Gel yang berasal dari karagenan mempunyai sifat thermoreversible (berbentuk gel ketika
didinginkan dan berbentuk cair ketika dipanaskan).
Proses pembuatan karagenan terdiri dari proses perendaman, ekstraksi, pemisahan karagenan
dari pelarutnya, serta pengeringan karagenan.
Larutan HCl 0,1N atau NaOH 0,1N ditambahkan dalam praktikum ini dengan tujuan untuk
menciptakan suasana netral, karena pada suasana asam karagenan akan mudah terhidrolisa.
Penambahan cairan IPA bertujuan untuk mengendapkan karagenan, karena cairan tersebut
mengandung alkohol.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil ekstraksi karagenan adalah suhu, waktu
ekstaksi, jenis pelarut yang digunakan, proses pengadukan, rasio berat bahan dengan volume
pelarut, ukuran padatan (dimana tiap kelompoknya mempunyai ukuran serat karagenan yang
berbeda-beda bentuknya), dan perendaman.




10

Semarang, 8 Oktober 2014
Praktikan, Asisten Dosen
- Alethea Handoko
- Margaretha Rani
Stella Giovani
(12.70.0180)













11


4. DAFTAR PUSTAKA

Armstrong, W. P. (2003). Seaweeds : The Multicellular Marine Algae.
http://step.nn.k12.va.us/science/marine/mppt/Seaweeds.ppt. Diakses tanggal 8 Oktober 2014.

Atmadja WS. 1996. Pengenalan Jenis Algae Merah. Di dalam : Pengenalan Jenis Jenis Rumput
Laut Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi, Lembaga Ilmu
Pengetahuam Indoneisa. Hlm 147-151.

Aslan, L.M (1998). Budidaya Rumput Laut. Kanisius. Yogyakarta.

Banwatt, George. 1981. Basic Food Microbiology. Connecticut: The Avi Publishing Company,
Inc.

Campo, V.L., Kawano,D.F., Silva Jnior, D.B., Ivone Carvalho, I., 2009, Carrageenans:
Biological Properties, Chemical Modifications and Structural Analysis, Carbohydrate Polymers,
77, 167-180
Distantina, Sperisa; Fadilah; Endah R. Dyartanti; dan Enny K. Artati. (2007). Pengaruh Rasio
Berat Rumput Laut-Pelarut Terhadap Ekstraksi Karagenan-Karagenan. Vol. 6 No. 2 Juli 2007:
53-58.
Doty MS. 1985. Eucheuma alvarezii sp.nov (Gigartinales, Rhodophyta) from Malaysia. Di
dalam: Abbot IA, Norris JN (editors). Taxonomy of Economic Seaweeds. California Sea Grant
College Program. p 37 45.

Handayani, T. 2006. Protein pada Rumput Laut. Oseania, Bidang Sumberdaya Laut,Pusat
Penelitian Oseanografi-LIPI, Jakarta, 4: 23-30.

Ianna Wivianne Fernandes de Arajo, Jos Arivilo Gurgel Rodrigues, Edfranck de Sousa
Oliveira Vanderlei, Gabriela Almeida de Paula, Ticiana de Brito Lima, dan Norma Maria Barros
Benevides. 2012. Iota-carrageenans from Solieria filiformis (Rhodophyta) and their effects in
the inflammation and coagulation. Universidade Federal do Cear. Brazil. Jurnal diakses pada
tanggal 8 Oktober 2014.

Jana-Anggadiredjo, 2006. Rumput Laut. Penebar Swadaya, Jakarta.
12

L. Hilliou, F.D.S. Larotonda , P. Abreu , A.M. Ramos ,A.M. Sereno , M.P. Goncalves. 2006.
Effect of extraction parameters on the chemical structure and gel properties of k/i-hybrid
carrageenans obtained from Mastocarpus stellatus. Departamento de Engenharia Qumica.
Portugal. Jurnal ini diakses pada tanggal 8Oktober 2014.

Lorenz RT. 1998. Quantitative Analysis of C-phycocyanin from Spirulina pasifica (low
teperature method). www.cyanotech.com. Jurnal diakses pada tanggal 8 Oktober 2014.
Mahida, U. N. (1992). Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. CV. Rajawali.
Jakarta.
Manivannan, K., Thirumanan, G., Devi, G. Karthikai., Hemalatha, A., Anantharaman,P. 2008.
Biochemical Composition of Seaweeds from Mandapam Coastal Regions along Southeast Coast
of India. American-Eurasian Journal of Botani, 1 (2) : 32-37.

Mappiratu. (2009). Kajian Teknologi Pengolahan Karaginan Dari Rumput Laut Eucheuma
cottonii Skala Rumah Tangga. Media Litbang Sulteng 2 (1) : 01 06.
Marinalg International. 2012. Formaldehyde in Carrageenan and Processed Eucheuma
Seaweed. Jurnal diakses pada tanggal 8 Oktober 2014.
Matsuhasi, T. (1977). Acid Pretreatment of Agarophytes Provides Improvement in Agar
Extraction. J Food Sci. 42, 1396-1400.

Munaf, D.R. (2000). Rumput Laut Komoditi Unggulan. PT Grasindo. Jakarta.

Pranoto, Yudi; Lee, Chong-Min; Park, Hyun-Jin. 2000. Characterizations of Fish Gelatin Films
Added with Gellan and K-Karrageenan. Society of Food Science and Technology. Swiss.Jurnal
diakses pada tanggal 8 Oktober 2014.

Prasetyowati, Corrine Jasmine A., Devy Agustiawan. (2008). Pembuatan TepungKaraginan
Dari Rumput Laut (Eucheuma cottonii) Berdasarkan Perbedaan Metode Pengendapan.
Jurnal Teknik Kimia, No. 2, Vol. 15:Hlm 27 33

Saleh, M ; A. Ahyar ; Murdinah ; dan N. Haq. (1996). Ekstraksi Kepala Udang Menjadi Flavor
Udang Cair. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. II, No.1, hal 60-68.
Soovendran A/l Varadarajan , Nazaruddin Ramli, Arbakariya Ariff, Mamot Said, dan Suhaimi
Md Yasir. 2009. Development of high yielding carragenan extraction method from Eucheuma
13

Cotonii using cellulase and Aspergillus niger. Faculty of Biotechnology and Biomolecular
Sciences. Malaysia. Jurnal diakses pada tanggal 8 Oktober 2014.

Stephen, M.A. (1995). Food Polysacharides and Their Application, pp 187-199. Marcel Dekker,
Inc. Cape Town.

Taurino-Poncomulyo, 2006. Budidaya dan Pengolahan Rumput Laut. AgroMedia Pustaka,
Jakarta.

Winarno, F. G. (1993). Pangan Gizi, Teknologi dan Konsumen. PT Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
14


5. LAMPIRAN
5.1. Perhitungan

Rumus :


Kelompok D1


Kelompok D2


Kelompok D3


Kelompok D4


Kelompok D5


Kelompok D6



5.2. Laporan Sementara