Anda di halaman 1dari 15

, Deformasi dalam mekanika kontinuum adalah transformasi sebuah benda dari kondisi semula

ke kondisi terkini.
[1]
Makna dari "kondisi" dapat diartikan sebagai serangkaian posisi dari semua partikel
yang ada di dalam benda tersebut.

Deformasi = perubahan BENTUK struktur akibat adanya gaya dari luar maupun dari dalam. Contoh, balok
yang tadinya lurus menjadi lengkung akibat beban di atasnya.
Defleksi = perpindahan (translasi/rotasi) dari suatu TITIK tertentu pada sebuah struktur akibat adanya
gaya dari luar maupun dari dalam. Contoh titik tengah bentang balok mengalami translasi ke arah
bawah ketika balok dibebani secara vertikal.

Pembentukan Struktur Martensite
Pengertian Definisi
Transformasi Austenit Menjadi Martensit.
Pada laju pendingan yang sangat cepat dari temperature austenite ke temperature ruang, akan
menyebabkan terjadinya transformasi fasa dari fasa austenite menjadi fasa martensite.
Transformasi pembentukan martensit ini akan berakhir pada temperature di bawah nol celcius.
Sehingga bila baja didinginkan dengan cepat sampai temperature ruang, masih terdapat sisa
austenite. Hal ini menyebabkan pengerasan baja menjadi tidak optimal. Austenit sisa tergantung
pada kandungan karbon. Semakin tinggi kandungan karbon semakin besar pula kemungkinan
terdapatnya austenite sisa.
Untuk dapat menghilangkan austenite sisa ini, maka dilakukan perlakuan yang disebut dengan
subzero treatment yaitu pendinginan lanjut dibawah nol celcius. Dengan perlakuan ini semua
austenite sisa dapat bertransformasi menjadi marensit. Cara lain adalah dengan perlakuan panas
tempering atau penemperan.
Pada pendinginan cepat tidak cukup waktu bagi karbon untuk berdifusi keluar dari larutan padat
austenite, sehingga tranformasi terjadi dengan pergeseran atom-atom dari kisi kubus pemusatan
sisi, Face Centered Cubic, FCT, menjadi tetragonal pemusatan ruang yang lewat jenuh, Body
Centered Tetragonal, BCT. Transformasi geser atom ini menyebabkan kisi Kristal mengalami
distorsi. Dua dimensi dari unit sel BCT mempunyai ukuran yang sama, sedangkan dimensi yang
ketiga lebih besar.
Selama pergeseran, atom karbon yang tidak sempat berdifusi ini terperangkap pada posisi
octahedral, sehingga parameter kisi c mengalami ekspansi lebih besar dibanding kisi a.
Temperatur Awal Mulainya Transformasi
Martensit
Austenit akan bertransformasi menjadi martensit pada temperatur di bawah temperature kristis
Ms, Martensite Star. Temperatur Ms dipengaruhi oleh kandungan paduan yang terdapat dalam
baja. Satu persamaan yang dapat digunakan untuk penentuan Temperatur Ms adalah sebagai
berikut:
Ms (celcius) = 561 474 (% C) 33(%Mn) 17(%Ni) 17(%Cr) 21(%Mo)
Dari persamaannya diketahui bahwa unsur-unsur yang terkandung dalam baja cenderung
menurunkan temperature awal pembentukan martensit. Semakin banyak unsur paduan yang
ditambahkan, semakin rendah temperature Ms. Karbon merupakan unsur yang memberikan
pengaruh paling basar terhadap penurunan temperature awal transformasi dibanding unsur-unsur
lainnya.
Struktur Mikro Martensit
Struktur martensit untuk paduan besi-karbon mempunyai dua bentuk yaitu: lath martensite dan
plate martensite. Struktur lath martensite terbentuk pada baja karbon rendah sampai sedang, atau
baja dengan kandungan karbon kurang daripada 0,6 persen. Sedangkan plate martensit terbentuk
pada baja karbon tinggi, atau baja dengan kandungan karbon lebih daripada 0,6 persen.
Perbedaan struktur martensit di bawah pengamatan mikroskop optic dapat dilihat pada gambar di
bawah.

Struktur Mikro Lath Dan Plate Martensite
Nilai kekerasan lath mertensite lebih rendah daripada plate martensite. Namun dengan
kandungan karbon yang tinggi, plate matensit cenderung lebih getas atau rapuh dari baja dengan
struktur lath martensite. Baja dengan struktur plate martensite banyak digunakan untuk aplikasi
teknik seperti baja perkakas dan struktur karburisasi.

Analisa Pembentukan Struktur Martensit
Posted on November 17, 2013 | Tinggalkan komentar
Martensit merupakan salah satu fasa yang dapat terbentuk pada struktur logam. Sifat dari sturktur
pada fasa martensit adalah keras dan getas, jadi logam yang berada pada fasa ini cepat
mengalami perpatahan.
Untuk mendapatkan struktur dengan fasa martensit, maka logam haurs melalui proses perlakuan
panas dengan laju pendinginan yang cepat. Untuk laju pendinginan yang cepat, biasanya
digunakan air garam yang memiliki densitas yang sangat tinggi.
Untuk lebih jelasnya, mari kita simak secara lebih terperinsi proses transformasi fasa dari bahan
yang memiliki struktur normal hingga terbentuknya struktur martensit.
Untuk structure normal, butiran-butiran masih tersusun rapih karena masih memiliki ikatan yang
kuat antar satu atom Fe denga atom Fe yang lainnya. Ikatan ini kuat karena adanya atom
pengikat yaitu karbon. Pada struktur normal, karbon masih terdistribusi dengan sempurna
mengikat atom-atom penyusun logam.
Setelah itu bahan ini dpanaskan hingga kira-kira mencapai suhu 800
o
C. Setalah itu struktur
butirnya telah mengalami perubahan, dimana ato-atom karbon akan keluar dari ikatan aotm
penyusun logam, sehingga ikatannya berkurang. Atom-atom merenggang dan menjadi besar.
Struktur ini berada pada fase austenit + cairan. Maksudnya adalah ada yang berada pada fasa
austenit dan ada pula yang telah berupa cairan, dengan sifat yang lunak tapi ulet.
Setelah dipanaskan hingga suhu 800
o
C, dan mencapai fasa austenit stabi, maka bahan
didinginkan dengan cepat, yaitu dengan menggunakan media pendingin air garam. Digunakan air
garam, karena memiliki densitas yang tinggi, dimana kerapatan antara molekul air garam amat
tinggi, sehingga proses transfer panas berlangsung dengan waktu yang sangat cepat. Laju
pendinginanpun berlangsung dengan cepat. Peristiwa ini mengakibatkan atom-atom karbon yang
tadinya terlepas dari ikatan tidak mampu/sempat terredistrribusi ke dalam ikatan untuk mengikat
atom-atom penyusun logam, dan atom-atom yang membesar tak sempat untuk mengecil. Jadi
disini terjadi proses rekristalisasi yang sangat cepat. Dengan struktur yang seperti ini akan
mengakibatkan ikatan yang tidak kuat antar satu atom dan atom lainnya sehingga sifatnya getas,
dan keras, karena butiran yang membesar memenuhi ruang material. Sruktur semacam inilah
yang disebut struktur martensit, yang terbentuk pada fasa martensit.
Jadi, dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan, bahwa struktur martensit merupakan struktur
yang memiliki sifat yang keras dan getas, karena telah mengalami perlakuan panas hingga
mencapai austenit stabil pada suhu kritis yang kemudian didinginkan dengan cepat dengan media
pendingin air garam yang densitasnya tinggi.

Perlakuan Panas Logam (1) : Diagram Fasa
6 August 2011 8,070 views penulis: Oka Mahendra Print This Post
Perlakuan panas pada logam merupakan ilmu yang
mempelajari tentang perubahan sifat dan struktur pada logam akibat pemberian panas pengaturan
laju pendinginan. Secara umum, perlakuan panas pada logam akan berhubungan erat dengan tiga
hal : temperatur, waktu, dan komposisi. Sama seperti membuat bala bala, untuk mendapatkan
bala bala dengan rasa yang enak, tingkat kekerasan yang cukup, renyah dan gurih, dibutuhkan
komposisi, temperatur, dan waktu penggorengan yang tepat.
Logam tersusun dari atom atom yang memiliki ikatan metalik. Setiap atom yang berikatan
metalik akan membentuk satu kristal. Kristal ini memiliki struktur dan orientasi sendiri
bergantung sumbu terbentuknya kristal tersebut, dan setiap kristal yang berada dalam satu
orientasi akan berkumpul membentuk satu butir. Struktur kristal dipengaruhi oleh jumlah
elemen paduan yang mampu menyelinap di sela sela ikatan atom, atau disekitar kristal satu
dengan yang lain. Selain jumlah, ukuran pun penting untuk menentukan apakah elemen paduan
tersebut menyelinap (interstisi), atau mengganti (substitusi). Atom itu tidak diam, tapi bergerak.
Atom dalam setiap logam mampu bergerak dan berpindah tempat disebabkan oleh dua hal :
Kondisi energi yang diberikan (diwakilkan oleh temperatur) dan komposisi elemen paduan
(diwakilkan oleh persen berat unsur). Secara alamiah, suatu lingkungan yang padat akan
cenderung mencari kestabilan dengan mengurangi kepadatannya menuju lingkungan lain
yang kurang padat. Itu adalah proses difusi; dipengaruhi oleh gradien komposisi. Namun,
untuk bisa berpindah, butuh energi. Kombinasi dari keduanya, maka kita akan mendapatkan ilmu
pertama dari Ilmu dan Teknik Material : Diagram Fasa.
# Komponen Diagram Fasa

Diagram fasa dibuat oleh dua orang, yang bernama Elliot J.F. dan Benz M.G. pada tahun 1949
(pada tahun yang sama, Indonesia masih berkutat melawan NICA yang datang dari Belanda,
belum sempat membuat hal seperti ini, sungguh menyedihkan). Diagram ini, tidak dibuat dalam
semalam, tapi selama bertahun tahun, dan mengalami penyempurnaan hingga tahun 1992 oleh
springerlink. Komponen dari diagram fasa ada dua : komposisi karbon (sumbu X) dan
temperatur (sumbu Y). Di tengah diagram tersebut ada peta dari jenis fasa yang terbentuk.
Keterangan dari tulisan yang ada disana akan dijelaskan di bawah.
Delta Iron (Delta Ferrite)
Delta Iron merupakan fasa yang terbentuk dan stabil pada
temperatur sekitar 1500 derajat celcius. Pada daerah ini, karbon yang bisa menjadi interstisi
didalam besi maksimal sekitar 0.09%. Tahu darimana? Garis mendatar. Delta, di sebelah kiri,
memiliki garis kelarutan karbon (lebih dari 0.025% dan kurang dari 0.5%), garis mendatar di
sebelah kanan, menunjukkan kelarutan karbon maksimal. Fasa delta ini cenderung lunak dan
tidak stabil pada suhu kamar. Struktur kristal yang terbentuk adalah BCC. Gambar di sebelah
kanan menunjukkan gambar struktur mikro Delta Iron yang di etching menggunakan teknik
metalurgi khusus pada baja stainless steel.
Ferrite ()
Ferrite () merupakan fasa yang terbentuk pada temperatur
sekitar 300-723 derajat celcius. Pada daerah ini, kelarutan karbon maksimalnya adalah 0,025%
pada temperatur 725 derajat celcius, dan turun drastis menjadi 0% pada 0 derajat celcius. Fasa ini
biasa terjadi bersamaan dengan cementite, membentuk pearlite pada pendinginan lambat. Fasa
ini lunak, dan memberikan kemampuan bentuk pada logam. Gambar di sebelah kiri
menunjukkan struktur fasa ferrite yang berwarna hitam, dan austenite yang berwarna putih. Hal
ini menunjukkan bahwa, selain lunak, ferrite sendiri cenderung lebih mudah berkarat
dibandingkan austenite.
Cementite (Fe
3
C)
Cementite merupakan fasa intermetalik yang terbentuk
pada logam dengan kelarutan karbon maksimal 6,67 %. Kelarutan karbon yang tinggi
memberikan sifat keras pada fasa ini, dan berkontribusi bersama dengan ferrite untuk
menentukan kekuatan dari suatu logam. Gambar di sebelah kanan menunjukkan fasa cementite
yang didapatkan dari proses pendinginan lambat baja cor putih.
Pearlite ( + Fe
3
C)
Pearlite merupakan satu fasa yang terbentuk dari
gabungan dua fasa, Ferrite dan Cementite. Pearlite dianggap sebagai satu fasa sendiri, karena
memberikan kontribusi sifat yang seragam. Seperti dijelaskan di atas, di dalam satu fasa, biasa
terbentuk dalam satu butir. Namun, untuk Pearlite berbeda, karena ada dua fasa dalam satu butir.
Karena butir berukuran lebih besar dari ukuran fasa Ferrite dan Cementite itu sendiri (ukuran
terkecil yang bisa dikarakterisasi sebesar ukuran indentasi dari uji keras mikro vickers, sekitar 50
mikron), maka Pearlite, atas kesepakatan bersama para ahli material, digolongkan sebagai satu
fasa dalam satu butir. Pearlite memiliki morfologi mirip seperti lapisan (lamellae) antara Ferrite
(hitam) dan Cementite (putih). Pada gambar di sebelah kiri, bisa dilihat struktur mikro dari
pearlite tersebut. Perhatikan juga pembesaran yang ada di sebelah kanan bawah, hal ini
menunjukkan perbedaan gambar ini dengan gambar pada baja cor putih. Apa perbedaannya
dengan baja cor putih, pada pembesaran yang sama? distribusi dari fasa Pearlite dan Cementite
nya.
Austenite ()
Gamma Iron merupakan fasa yang terbentuk pada terbentuk pada temperatur 1140 derajat
celcius, dengan kelarutan karbon 2,08%. Kelarutan karbon akan turun menjadi o,08% pada 723
derajat celcius. Fasa ustenite terlihat jelas pada gambar di bagian Ferrite di atas, berwarna putih.
Hal ini menunjukkan bahwa fasa ini memiliki ketahanan karat yang lebih baik daripada fasa
yang lain. Austenite merupakan fasa yang tidak stabil di temperatur kamar, sehingga dibutuhkan
komposisi paduan lain yang akan berungsi sebagai penstabil fasa austenite pada temperatur
kamar, contohnya adalah mangan (Mn).
Eutectic, Hypo-eutectoid dan hyper-eutectoid
Seperti kata Human (manusia) dan Humanoid (seperti-manusia), maka daerah pendinginan pun
memiliki dua garis mendatar : eutectoic dan eutectoid (eutectic-like). Kedua garis isotermal ini
menunjukkan perubahan fasa yang berbeda : Eutectic [L -> +Fe
3
C] dan Eutectoid [->+Fe
3
C].
Titik eutectoid terletak pada garis komposisi 0,8 % karbon, sedangkan titik eutectic terletak pada
garis komposisi 4% karbon. Biasanya, baja yang terletak pada daerah eutectoid disebut baja
karbon, sedangkan pada daerah 4% karbon disebut baja cor. Pada baja karbon, ada baja karbon
yang kandungan karbonnya rendah (dibawah 0,8%) dan tinggi (diatas 0,8%). Dengan
kesepakatan bersama, baja dengan kandungan karbon dibawah 0,8% disebut baja karbon rendah,
medium, dan tinggi, sedangkan baja dengan kandungan karbon diatas 0,8% disebut baja saja
(steel)
Diagram Isothermal-Transformation
Diagram Time-Transfomation-Temperatur, diagram TTT, merupakan diagram yang
menggambarkan hubungan antara fasa atau struktur yang terbentuk setelah terjadinya
transformasi fasa akibat perubahan temperature dan waktu. Diagram TTT ini biasa disebut juga
dengan isothermal transformation diagram. Isothermal menunjukkan temperature yang tetap.
Jadi perubahan fasa terjadi pada temperature yang konstan.
Gambar 1 ditunjukkan diagram TTT untuk baja karbon secara skematika. Kurva
transformasi dapat memperlihatkan permulaan dan akhir dekomposisi austenite pada
temperature tertentu dengan waktu sebagai variable.

Gambar 1. Diagram Time-Transformation-Temperature, TTT Diagram
Sebagai ilustrasi, baja karbon yang telah diaustenisasi pada temperatur 800 celcius, kemudian
didinginkan dan ditahan konstan pada temperature 600 celcius, austenite akan mulai
terdekomposisi setelah mencapai waktu di titik 2 dan akan berakhir setelah mencapai titik 3.
Produk dekomposisi pada temperature ini adalah perlit.
Jika temperature diturunkan dengan cepat dari 800 celcius hingga menjadi 450 celcius, austenite
akan mulai terdekomposisi ketika mencapai waktu di titik 4 dan berakhir setelah mencapai titik
5. Pada temperature ini austenite akan terdekomposisi menjadi struktur bainit.
Ketika baja pada temperature austenite didinginkan dengan cepat tanpa menyentuh hidung kurva,
maka austenite akan mulai tertransformasi ketika melewati garis Ms. Garis yang menunjukkan
temperature terjadinya awal perubahan austenite menjadi martensit. Pembentukan martensit terus
terjadi sampai melewati temperatue kira-kira 79 celcius.
Dalam kenyataannya proses-proses perlakuan panas logam dilakukan dengan laju pendinginan
yang kontinyu. Oleh karenanya, diagram TTT sering menjadi tidak relevan untuk mengetahui
kecepatan transformasi awal dan akhir. Selain itu temperature pembentukan struktur baru tidak
sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Kekurangan tersebut dapat dieliminasi dengan
diagram yang disebut continuous cooling transformation, diagram CCT.
D iagram TTT (Time-Tempertarure-Transformation)
Mar 12th 2012
By: Akhmad Syahirul Alim Al-Matsany
No comments
A A
Diagram TTT adalah suatu diagram yang menghubungkan transformasi austenit terhadap waktu
dan temperatur. Proses perlakuan panas bertujuan untuk memperoleh struktur baja yang
diinginkan agar cocok dengan penggunaan yang direncanakan. Struktur yang diperoleh
merupakan hasil dari proses transformasi dari kondisi awal. Proses transformasi ini dapat dibaca
dengan menggunakan diagram fasa namun untuk kondisi tidak setimbang diagram fasa tidak
dapat digunakan, untuk kondisi seperti ini maka digunakan diagram TTT. Melalui diagram ini
dapat dipelajari kelakuan baja pada setiap tahap perlakuan panas, diagram ini juga dapat
digunakan untuk memperkirakan struktur dan sifat mekanik dari baja yang diquench dari
temperatur austenitisasinya kesuatu temperatur dibawah A1. Diagram ini menunjukan
dekomposisi austenit dan berlaku untuk macam baja tertentu. Baja yang mempunyai komposisi
berlainan akan mempunyai diagram yang berlainan, selain itu besar butir austenit, adanya inclusi
atau elemen lain yang terkandung juga mempunyai pengaruh yang sama.
Gambar 1. Diagram TTT untuk baja eutektoida
(0.8%C)
Gambar diatas menunjukan suatu transformasi dari baja eutektoida yang mempunyai
dekomposisi normal austenit sebagai berikut:
Bila baja tersebut kita dinginkan cepat sampai
dibawah A1 dan dibiarkan beberapa saat ( 30 detik pada 1250
0
F) sedemikian rupa jatuh pada
daerah dimana perlit baru sebagian terjadi, kemudian dilanjutkan segera dengan quench maka
akan terjadi struktur perlit dan martensit sebagian. Martensit ini adalah hasil transformasi
isotermis sebagian austenit pada suhu diatas tadi. Lamanya baja berada pada suhu dibawah A1
akan menentukan banyaknya pembentukan perlit atau bainit, dan menentukan jumlah austenit
sisa yang membentuk martensit setelah quench.
Dengan kata lain perkataan proses pembentukan perlit/bainit pada suhu tersebut terhenti pada
saat quenching. Garis sebelah kiri menunjukkan saat setelah berapa lama dimulai transformasi
dan garis sebelah kanannya adalah akhir transformasi (100%) pada tiap-tiap suhu. Dilihat dari
bentuk kurva maka untuk suhu diatas 1000F, makin rendah suhu pembentukkan phase (perlit)
lebih cepat dan dibawah 1000F sampai dengan 500F makin rendah suhu, makin lama untuk
pembentukkan phase (disisni terjadi struktur bainite).
Dengan demikian pembentukan martensit bisa terjadi dengan pendinginan cepat dari setiap suhu
tertentu bilamana waktu lama pada suhu-suhu tersebut berada disebelah kiri garis kurva kanan.
Paling cepat terjadinya transformasi ke phase perlit/bainit adalah pada suhu sekitar 1000F
(merupakan nosedari kurva). Makin pendek lamanya baja tersebut dibiarkan pada suhu
tertentu, makin besar jumlah austenit dan makin besar pula jumlah martensit yang terbentuk
setelah quenching. Dari diagram, cenderung tidaklah mungkin memperoleh martensit dengan
membiarkan baja tersebut pada suhu tertentu (konstan) untuk waktu yang sangat lama.
Kembali pada pembicaraan semula, dekomposisi austenit dapat menghasilkan spherodite, perlit,
bainit atau martensit, dan mungkin juga diperoleh campuran. Tempering dari struktur martensit
juga bisa merubah menjadi spherodite, tempered martensite (atau sorbite) atau martensit
dengan secondary troostite. Baja dengan struktur martensit mempunyai sifat magnetis dan
cocok untuk permanent magnit. Dalam pemakaian teknis baja martensit di-temper untuk
memperoleh sifat ductile dan tonghness. Proses temper dipilih menurut keperluan optimasi
antara kekuatan (hardness) dan keliatan.
Gambar 2.
(a) Rapid Quench, (b) Interupted Quench, (c) Annealing dan (d) Pendinginan yang
memungkinkan terbentuknya perlit dan martensit
Pada gambar 2(a) tingkat pendinginan A dan B menunjukkan dua proses pendinginan cepat.
Dalam kurva kasus A akan menyebabkan distorsi dan tekanan internal yang lebih tinggi daripada
laju pendinginan B. Hasil akhir dari pendingin akan menjadi martensit. Laju pendinginan B juga
dikenal sebagai Critical Cooling Rate, yang ditunjukkan oleh kurva pendinginan yang
bersinggungan dengan nose dari diagram TTT. Tingkat Pendingin Kritis didefinisikan sebagai
tingkat pendinginan terendah yang menghasilkan Martensit 100% dan meminimalkan tekanan
internal dan distorsi.
Pada gambar 2(b) proses pendinginan cepat terganggu (garis horizontal) dengan merendam
bahan dalam bak garam cair dan perendaman pada suhu konstan diikuti oleh proses pendinginan
yang melewati wilayah Bainit dari diagram TTT. Produk akhir adalah bainit, yang tidak sesulit
Martensit. Hasil dari laju pendinginan D adalah dimensi lebih stabil, distorsi dan tekanan internal
yang diciptakan kurang.
Pada gambar 2(c) pendinginan kurva C menunjukkan proses pendinginan lambat, seperti
pendinginan tungku. Contoh untuk jenis proses pendingin anil dimana semua Austenite dapat
dirubah menjadi perlit sebagai hasil pendinginan lambat..
Pada gambar 2(d) pendinginan kurva E menunjukkan laju pendinginan yang tidak cukup tinggi
untuk menghasilkan 100% martensit. Hal ini dapat diamati dengan melihat diagram TTT. Karena
kurva pendinginan E tidak bersinggungan dengan nose diagram transformasi, austenit
ditransformasikan ke 50% perlit (E kurva bersinggungan dengan kurva 50%). Sejak kurva E
meninggalkan diagram transformasi di zona Martensit, sisa 50% dari Austenite akan diubah
menjadi martensit.
Reaksi Perlit dan Bainit
Perlit adalah struktur eutektoida 0.8%C yang terdiri dari phase ferit yang diselingi dengan
lapisan-lapisan carbida cement(Fe3C). sedang bainit adalah konstitusi mikro campuran phase
karbida dan phase ferit (ferrite-cementiteaggregate). Dari diagram TTT perlit dan bainit
terbentuk pada suhu konstan (iso thermal) dari phase austenit pada suhu diantara A1 dan
dibawah nose. Bila austenit didinginkan cepat ampai pada suhu ini, perlit belum terbentuk,
baru beberapa saat dibiarkan pada suhu ini akan mulai terbentuk (gejala seperti recrystalisasi dari
cold worked metal). Dekomposisi dimulai dari nucleus cementit yang nantinya membentuk
nodule dari ferit, ini terjadi pada boundary kristal austenit atau pada inclusi. Nucleasasi
(pengintian) dan growth (pertumbuhan) dan terjadinya perlit terlihat pada gambar dibawah:

Gambar 3. Dekomposisi dari nucleus sementit menjadi nodule dari ferit
Sedang pada gambar dibawah ini adalah menunjukan arah nucleasasi, growth dan difusi karbon.
Nodul perlit terbentuk terdiri dari plat-plat ferit yang diselingi dengan pelat-pelat cementit.
Gambar 4. Arah pertumbuhan nukleasasi dan difusi karbon
Pada suhu lebih rendah waktu untuk pertumbuhan berkurang sehingga pelat-pelat cementit dan
perlit menjadi tipis dan memberikan peningkatkan kekerasan. Bertambahnya kekerasan karena
suhu dekomposisi austenit yang rendah, sama pada pembentukan bainit. Pada suhu dekomposisi
austenit pada daerah nose akan menghasilkan campuran perlit dan bainit dalam periode waktu
tertentu. Lebih rendah dari suhu ini (dan masih diatas suhu Ms) akan dihasilkan bainite. Jadi
yang mempengaruhi pembentukan bainite adalah suhu dimana austenit akan dekomposisi
isothermis. Pada suhu yang lebih tinggi (pada daerah antara nose dan Ms) dibawah nose, akan
terbentuk mikrostruktur bainite feather like yang disebut high bainite atau upperbainite.
Pada suhu yang lebih rendah akan terbentuk mikrostruktur bainite needle-like atau bainite
acicular, atau disebut low bainite. Struktur bainite ini pada umumnya campuran ferit dan
carbida yang mengelompok bersama yang terbentuk melalui pengintian perit.
Diagram TTT dari baja paduan biasa mempunyai 2 buah nose yaitu nose untuk pembentukan
perlit dan nose untuk pembentukan bainit. Dalam hal ini bias terjadi bainit pada waktu
quenching, sedang untuk baja carbon struktur bainite baru terjadi dengan proses isothermis.
Reaksi Martensit
Martensit terbentuk tanpa adanya carbon (carbida cement), seluruh karbon yang tadinya berada
larut dalam $-iron masih terlarut interstisi dalam , iron. Adanya atom-atom carbon interstisi ini,
lattice martensit merupakan body-centeredtetragonal. Reaksi martensit yang terjadi pada
pendinginan cepat adalah transformasi tanpa pengintian (nukleisasi), pertumbuhan dan difusi
carbon, dan komposisi kimia terlarut dari martensit adalah sama dengan komposisi pada keadaan
larutan padatnya.
Gambar 5. Diagram TTT dan
mikrostruktur pada tiap fase

iagram TTT
Diagram TTT (time temperature transformation) digunakan untuk mengetahui perubahan
transformasi yang terjadi pada proses perlakuan panas (heat treatment). Proses perlakuan panas
pada baja cenderung membuat baja mengalami perubahan-perubahan fasa yang diakibatkan
karena temperatur dan waktu penahan (holding time).
Gambar 2.1 Diagram TTT (Time-Temperature-Transformation).
Pada Gambar 2. untuk mendapatkan pembentukan fasa martensit maka baja dilakukan
pemanasan sampai temperatur austenit kemudian dilakukan penuruan secara cepat yaitu hingga
mencapai temperatur 230C. Untuk pembentukan fasa + martensit prosesnya yaitu dengan
menaikkan temperatur sampai temperatur austenit kemudian dilakukan penurunan temperatur
sekitar 320C dan dilakukan penahanan pemanasan pada temperatur tersebut. Untuk
pembentukan fasa bainit prosesnya yaitu dengan menaikkan temperatur sampai temperatur
austenit kemudian dilakukan penurunan temperatur sekitar 500C dan dilakukan penahanan
pemanasan pada temperatur tersebut.
Diagram CCT
Diagram CCT (continuos cooling transformation) digunakan pada proses perlakuan panas (heat
treatment) yang berfungsi untuk mengetahui lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembetukan
transformai fasa.