Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM


SAYLOR, ALEXANDER, DAN LEWIS

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Kurikulum
Dosen Pengampu: Dr. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed.


Oleh:
Pascasarjana Pendidikan Kimia
1. Vinda Cory Imami (140331807023)
2. Qory Laila Rusda (140331807593)
3. Dayu Ardhiyatmita Nur Rahmawati (140331807081)









UNIVERSITAS NEGERI MALANG
PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
Oktober 2014



2

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua
pengalaman belajar yang diberikan untuk siswa di sekolah. Rancangan ini disusun
dengan maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam
proses mendidik siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa sendiri,
keluarga maupun masyarakat. Banyak model yang dapat digunakan dalam
pengembangan kurikulum. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum
bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta
kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan
sistem pendidikan mana yang digunakan.
Kurikulum dikembangkan mengikuti model-model tertentu. Model adalah
konstruksi yang bersifat teoritis dari konsep. Model pengembangan kurikulum
dapat ditinjau dari sistem pendidikan dan pengelolaan yang dianut.
Pengembangan kurikulum menurut tinjauan ini dikelompokkan atas sifat,
sentralisasi dan desentralisasi. Model pengembangan kurikulum mencakup antara
lain model 1) Taba, 2) Saylor, Alexander dan Lewis, 3) Tyler, 4) Oliva (Oliva,
1988). Pengembangan kurikulum dalam bahasan makalah ini mencakup model
pengembangan kurikulum oleh Saylor, Alexander dan Lewis.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam makalah ini
antara lain:
1. Bagaimana pengertian kurikulum Saylor, Alexander dan Lewis?
2. Bagaimana langkah-langkah model pengembangan kurikulum Saylor,
Alexander dan Lewis?
3. Bagaimana implementasi kurikulum menurut Saylor, Alexander dan Lewis?
4. Bagaimana evaluasi kurikulum Saylor, Alexander, dan Lewis?


3

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dalam penyusunan makalah
ini antara lain:
1. Untuk mengetahui pengertian kurikulum Saylor, Alexander dan Lewis
2. Untuk mengetahui langkah-langkah model pengembangan kurikulum
Saylor, Alexander dan Lewis
3. Untuk mengetahui implementasi kurikulum menurut Saylor, Alexander
dan Lewis
4. Untuk mengetahui evaluasi kurikulum Saylor, Alexander, dan Lewis
























4

BAB II
PEMBAHASAN

A. Model Pengembangan Kurikulum Menurut Saylor, Alexander dan Lewis
Menurut Saylor, Alexander, and Lewis (1973) , We define curriculum as
a plan for providing sets of learning opportunities for person to be educate.
Mereka mendefinisikan kurikulum sebagai perangkat rencana yang diarahkan
pada sekumpulan kesempatan aktivitas pembelajaran bagi individu agar menjadi
terdidik.
Berikut bagan yang menjelaskan proses pengembangan kurikulum model
saylor.

Gambar 2.1Rincian Langkah Pengembangan Kurikulum Saylor.

B. Perumusan Goals dan Objective
Pengembangan kurikulum dilaksanakan oleh perencana kurikulum. Perencana
kurikulum terdiri dari para ahli dalam bidang kurikulum yang ditunjuk oleh
pemerintah. Langkah pertama dalam pengembangan kurikulum adalah
menganalisis dan mendiagnosis kebutuhan. Merancang kurikulum harus
berlandaskan filosofi negara dan tujuan pendidikan. Sebagai contoh untuk
mengembangkan kurikulum di Indonesia, kita perlu mengetahui Tujuan

5

Pendidikan Nasional Indonesia. Tujuan Pendidikan Nasional Indonesia adalah
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab (UU No. 20 Th. 2003). Di samping itu Indonesia juga
memiliki landasan filosofis pancasila. Dari Tujuan Pendidikan Nasional dan
landasan filosofis tersebut akan didapatkan tujuan umum. Sementara analisis
kebutuhan dapat dilakukan dengan metode penyebaran angket/kuisoner/
wawancara dengan mempelajari 2 hal, yaitu kebutuhan siswa, dan tuntutan
masyarakat/dunia kerja. Kebutuhan siswa dapat dianalisis dari aspek-aspek
perkembangan psikologis siswa, dan tuntutan masyarakat/dunia kerja dapat
dianalisis dari berbagai kemajuan yang ada di masyarakat dan prediksi-
prediksi kemajuan masyarakat pada masa yang akan datang. Hasil analisis dari
ketiga aspek tersebut, kemudian disusun menjadi serangkaian kebutuhan
sebagai bahan masukan bagi kegiatan perumusan tujuan.
1. Perumusan Goals and Objective
Setelah serangkaian kebutuhan sudah didapat, langkah selanjutnya adalah
perumusan tujuan kurikulum. Tujuan umum kurikulum sebuah tujuan atau
secara umum tanpa ditandai dengan kriteria pencapaian.
Karena tujuan umum kurikulum masih bersifat umum dan tidak ada
criteria pencapaian yang nantinya dapat mempersulit pengukuran
ketercapaian. Pada Saylor, tujuan umum kurikulum kemudian diturunkan
kedalam 4 domain sehingga dihasilkan tujuan khusus kurikulum yang
lebih spesifik. 4 domain tersebut adalah :
1) Pengembangan diri
Pada tujuan khusus kurikulum hendaknya dapat mengembangkan
potensi diri peserta didik, dimana peserta dibekali kemampuan diri
untuk menghadapi masalah di masa yang akan datang sehingga
setelah lulus diharapkan dapat mencetak generasi yang mampu
bersaing di era globalisasi. Pengembangan diri yang diberikan

6

seperti kemampuan berpikir kritis, kemampuan dalam
memecahkan masalah, kemampuan mengkontrol diri,dan
kemampuan berkomunikasi.
2) Kompetensi social
Kompetensi social adalah kompetensi yang diperlukan ketika
lulusan dari sekolah terjun ke lingkungan social. Oleh karena itu
para perencana kurikulum memasukkan kompetensi social pada
tujuan kurikulum. Kompetensi social tersebut antara lain:
- rasa empati/perduli
- Dapat berkerjasama
- Menghormati orang lain
- Menyesuaikan diri
- Berinteraksi
- Mengontrol diri
- Mentaati aturan
3) Keterampilan belajar berkelanjutan
Keterampilan belajar berkelanjutan yang dimaksud adalah
keterampilan yang diberikan atau diajarkan pada satu jenjang dapat
menunjang materi lainnya. Contohnya : keterampilan memahami
sifat logaritma akan menunjang dalam menghitung pH.
4) Spesialisasi
Tujuan kurikulum kemudian dipilah dan dikelompokkan menurut
spesialisai pada tiap jenjang yang diinginkan menjadi tujuan
khusus kurikulum.
Dari 4 domain tersebut tujuan umum kurikulum discreen sehingga
didapatkan tujuan khusus kurikulum. Tujuan khusus kurikulum
merupakan tujuan atau pernyataan akhir secara spesifik dan dapat
diukur pencapaiannya.
Untuk mencapai transisi dari tujuan umum ke tujuan khusus, kita dapat
menemukan bahwa hal ini sangat membantu dengan mencatat kembali
beberapa indikator kinerja siswa yang akan menyediakan layanan
sebagai petunjuk penulisan tujuan khusus kurikulum. Mari kita ambil

7

contoh ilustrasi tujuan umum kurikulum pada buku Oliva yang telah
disebutkan terdahulu. Siswa dapat mendemontrasikan sikap tanggung
jawab sebagai warga negara dalam suatu sekolah, komunitas, negara
bagian, bangsa dan dunia. Apakah indikator kinerja pembelajar yang
akan menyatakan bukti bahwa siswa telah mencapai tujuan ini, kita
dapat melihat sikap-sikap berikut:
a) Peduli pada bangunan sekolah dan lingkungannya
b) Tidak berkelahi dengan sesama siswa
c) Tertib pada saat pertemuan di sekolah
d) Berperan pada komunitas organisasi pemuda
e) Tidak mengotori lingkungan sekolah dan komunitasnya.
Kita dapat mengubah indikator kinerja pertama Peduli pada
bangunan sekolah dan lingkungannya ke dalam tujuan khusus
kurikulum dengan cara berikut: Pada akhir semester siswa dapat
menunjukkan kepedulian terhadap bangunan sekolah dan akan ada
pengurangan 95% pada jumlah tulisan-tulisan di dinding
Setelah tujuan umum dan tujuan khusus sudah diidentifikasi, proses
penilaian kebutuhan dilanjutkan untuk menentukan apakah ada
kebutuhan lain yang belum ditemukan. Ketika kebutuhan yang belum
ditemukan itu dipaparkan, daftar revisi tujuan umum dan tujuan
khusus sudah disiapkan. Tujuan umum dan tujuan khusus memerlukan
validasi dan penempatan dalam skala prioritas.
2. Proses validasi dan penentuan skala prioritas.
Proses validasi dilakukan oleh komite kurikulum atau dewan kurikulum
yang ditunjuk pemerintah. Validasi dilakukan untuk mengetahui apakah
tujuan umum dan tujuan khusus dapat diterima dan sesuai atau cocok bagi
semua sekolah. Tujuan umum dan tujuan khusus kurikulum
disosialisasikan pada perkumpulan-perkumpulan sekolah dari satuan
propinsi kemudian dari propinsi disampaikan hingga ke rayon-rayon.
Komite kurikulum memberikan lembar angket atau opini kepada sekolah

8

untuk mengetahui apakah tujuan umum dan tujuan khusus kurikulum
sesuai dengan kemajuan yang diinginkan di sekolah-sekolah.
Ketika komite menafsirkan data, mungkin tidak menemukan persamaan
pada tujuan umum dan tujuan khusus diantara beberapa sekolah, hal itu
merupakan tanggung jawab yang sangat berat untuk menyatukan keadaan
yang berbeda dan mencapai konsensus diantara sekolah. Komite
kurikulum harus memutuskan tujuan umum manakah yang valid dan
manakah yang seharusnya menjadi prioritas. Untuk menentukan prioritas,
dapat dikatakan bahwa beberapa tujuan umum lebih penting daripada yang
lain dan membutuhkan banyak waktu, perhatian, dan penekanan di dalam
kurikulum.
Penentuan skala prioritas adalah penempatan tujuan umum dan tujuan
khusus dalam urutan berdasarkan kepentingan di dalam sistem sekolah.
Kelompok-kelompok yang terkait dengan kemajuan sekolah dalam tingkat
provinsi membantu mengidentifikasi tujuan umum dan tujuan khusus yang
cocok dan untuk menyusun skala prioritas.
Setelah tujuan umum dan tujuan khusus kurikulum sudah di validasi dan
ditempatkan sesuai urutan , perencana kurikulum melanjutkan ke fase
berikutnya dari sebuah proses pengembangan kurikulum.

C. Perancangan Kurikulum
Draft tujuan kurikulum yang sudah disusun kemudian dijadikan pijakan
untuk merancang kurikulum. Pada perancangan kurikulum perencana kurikulum
melibatkan kelompok-kelompok guru dalam menyusun kurikulum. Hal ini agar
kurikulum nantinya diharapkan dapat dilaksanakan oleh tiap-tiap sekolah.
Tahapan tahapan yang dilakukan perencana kurikulum dan kelompok-kelompok
guru dalam merancang kurikulum adalah :
1) Penentuan struktur kurikulum
Desain kurikulum diawali dengan penentuan struktur kurikulum.Struktur
kurikulum merupakan pola dan susunan pelajaran yang harus ditempuh oleh
peserta didik dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan

9

kurikulum.Stuktur kurikulum ini biasanya tertuang dalam kompetensi yang
harus dikuasai oleh peserta didik.
2) Memilih dan mengelompokkan materi
Setelah didapatkan draft tujuan umum dan tujuan khusus kurikulum kemudian
memilih materi yang menunjang tercapainya tujuan kurikulum. Beberapa
materi ini selanjutnya dikelompokkan dalam beberapa jenjang atau tingkatan.
Penyusunan tingkatan materi harus memperhatikan beberapa hal yaitu :
a. Taraf kesulitan materi pelajaran
Materi disusun dari taraf kesulitan yang rendah, sedang hingga yang
kompleks agar menyesuaikan kemampuan yang dimiliki siswa.
b. Apersepsi atau pengalaman masa lalu
Penyusunan materi hendaknya melihat pengalaman pada masa lalu. Materi
dimasa lalu yang tidak dapat diajarkan/ tidak kompeten untuk diajarkan
pada jenjangnya tidak perlu diberikan kembali agar tujuan kurikulum
dapat dicapai secara efektif.
c. Kematangan dan perkembangan siswa
Materi disusun hendaknya berdasarkan tingkat kematangan dan
perkembangan siswa.
d. Minat dan kebutuhan siswa
Materi disusun hendaknya memperhatikan kebutuhan siswa pada tiap
jenjang. Pada tiap jenjang dianalisis materi apa yang dibutuhkan untuk
diberikan.
3) Menentukan strategi kurikulum
Langkah yang selanjutnya adalah penentuan strategi pelaksanaan kurikulum.
Dalam pembahasan strategi ini, juga dibahas mengenai sumber belajar,
fasilitas, waktu, tujuan, pendidik, dan peserta didik, sehingga diperoleh draf
kurikulum.Penentuan strategi ini disesuaikan dengan tujuan kurikulum (goal
dan objective) dan masih dilakukan di pusat.Misalnya goal nya menciptakan
insan yang cerdas, kreatif, inovatif dan produktif menghasilkan produk-
produk teknologi terbaru. Maka strategi pembelajaran kurikulumnya sesuai
dengan goal tersebut. Untuk dapat meningkatkan kecerdasan, kreativitas,
produktivitas, dan keinovativan, misalnya dapat tercapai jika seorang siswa

10

memiliki literasi sains yang tinggi. Salah satu cara mencapainya adalah
dengan pemahaman hakikat sains yang kuat yang salah satunya dapat
dilakukan dengan menjadikan metode ilmiah sebagai salah satu kebiasaan alur
berpikir bagi siswa. Dengan demikian, dapat digunakan strategi pembelajaran
kurkulum yaitu scientific approach yang merupakan strategi yang berdasar
pada metode ilmiah. Penentuan strategi tersebut dilakukan di pusat agar tujuan
kurikulum dapat tercapai secara optimal.
4) Menyusun perangkat pembelajaran
Setelah materi sudah didapat, perencana kurikulum dan guru menyusun
perangkat pembelajaran yang sesuai sehingga tujuan kurikulum baik khusus
maupun umum dapat dicapai. Perangkat pembelajaran merupakan pedoman/
petunjuk yang digunakan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu
perencana kurikulum melibatkan guru-guru melalui pertemuan-pertemuan
untuk menyusun perangkat pembelajaran seperti silabus, RPP, buku guru, dan
buku siswa. Langkah-langkah yang dilakukan adalah :
a. Karakteristik materi pelajaran
Perangkat pembelajaran perlu disusun dengan mempertimbangkan
karakteristik masing-masing agar hasil belajar yang akan diperoleh siswa
tidak menyimpang dari kaidah keilmuan yang berlaku.
b. Pemilihan model pembelajaran
Setiap model pembelajaran yang dipilih dalam perencanaan pembelajaran
mencerminkan urutan pembelajaran yang terjadi . Urutan pembelajaran
model deduktif misalnya akan berbeda dengan urutan pembelajaran model
induktif, model kooperatif, atau model pembelajaran langsung. Demikian
juga dengan model- model pembelajaran yang lain. Pilihan model
pembelajaran ini akan mewarnai penyusunan perangkat pembelajaran,
terutama dalam penyusunan skenario pembelajaran
c. Alokasi waktu
Penentuan alokasi waktu dilakukan berdasarkan tingkat kompleksitas
materi dan kesulitan materi.
d. Buku guru dan buku siswa

11

Buku guru dan buku siswa merupakan hal yang penting untuk
diperhatikan, jangan sampai materi yang diajarkan tidak didukung dengan
buku peganggan siswa maupun buku pedoman guru yang ada. Jika tidak
buku guru dan buku siswa yang mendukung materi dan pengalaman
belajar yang diinginkan maka diperlukan pembuatan buku pedoman untuk
guru dan siswa yang baru untuk mendukung tercapainya tujuan kurikulum.
e. Media Pembelajaran
Media pembelajaran dipilih berdasarkan karakteristik dari materi yang
akan disampaikan. Ada, beberapa prinsip yang perlu dipertimbangkan
dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran, yaitu:
a) Tujuan instruksional. Media hendaknya dipilih yang dapat menunjang
pencapaian tujuan instruksional yang telah ditetapkan sebelumnya
b) Keefektifan. Dari beberapa alternative media yang sudah dipilih, mana
yang dianggap paling efektif (tepat guna) untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
c) Siswa. Apakah media yang dipilih sudah sesuai dengan kemampuan,
perbendaharaan pengalaman, dan menarik perhatian siswa? Digunakan
untuk siapa? Apakah secara individual atau kelompok kecil, kelas atau
massa? Untuk kegiatan tatap muka atau jarak jauh ?
d) Ketersediaan.
e) Biaya pengadaan
f) Kualitas teknis
f. Instrumen evaluasi/ penilaian
Keberhasilan proses belajar mengajar tentu tidak dapat diukur tanpa
adanya evaluasi. Instrumen ini disusun baik dalam bentuk instrumen test
maupun non test. Instrumen evaluasi meliputi :
a) Evaluasi kognitif untuk melihat daya serap anak terhadap
materi yang di pelajari
b) Evaluasi afektif untuk melihat perubahan perilaku, etika, nilai-
nilai (value) pada siswa
c) Evaluasi psikomotorik untuk mengetahui keterampilan siswa
dalam melakukan pekerjaan.

12

Setelah penentuan instrument evaluasi sudah dibuat, maka draft kurikulum siap
untuk di implementasikan.
D. Penerapan Kurikulum
Saylor, Alexander, dan Lewis dalam Oliva (1991) menjelaskan bahwa
penerapan kurikulum merupakan decision to instructional modes by the
responsible teacher(s). The curriculum plan includes alternative modes with
suggestions as to resources, media, and orgnization, thus encouraging flexibility
and more freedom for teacher(s) and students. Guru mulai dilibatkan dalam
penerapan kurikulum.
Kurikulum tidak langsung diimplementasikan secara meluas, melainkan
melalui tahap uji coba terlebih dahulu. Kurikulum diimplementasikan secara
terbatas pada beberapa sekolah yang telah dipilih karena mewakili kondisi
sekolah-sekolah di Indonesia. Jadi pemilihan sekolah tidak hanya didasarkan pada
sekolah-sekolah hanya bermutu tinggi sehingga kurikulum terkesan dapat
diterapkan. Proses uji coba ini dievaluasi secara kontinu untuk mengetahui
kekurangan-kekurangan yang dimilikinya. Setelah dievaluasi, kurikulum
kemudian direvisi dan hasilnya akan diterapkan secara luas.

3. Evaluasi Kurikulum
Evaluasi adalah suatu proses pengambilan keputusan berdasarkan data-
data untuk tujuan perbaikan suatu sistem. Evaluasi dalam suatu kurikulum tidak
hanya dilaksanakan pada akhir progam penerapan kurikulum tetapi juga
dilaksanakan sebelum dan selama proses implementasi kurikulum. Menurut Oliva
(1991), tujuan utama evaluasi kurikulum adalah untuk menentukan apakah tujuan
dan sasaran kurikulum telah terpenuhi dengan baik. Evaluasi kurikulum menurut
Saylor, Alexander, dan Lewis dalam Oliva (1991) terbagi ke dalam lima
komponen yaitu:
1. The goals, subgoals, and objectives
2. The program of education as a totality
3. The specific segments of the education program
4. Instruction

13

5. Evaluation program
Evaluation of goals, subgoals, danobjectives dilakukan oleh tim
pengembang kurikulum dengan cara melihat kualitas lulusannya seperti apa,
berapa persen yang telah bekerja ataupun berapa persen yang masuk perguruan
tinggi favorit. Apabila kualitas lulusannya baik, maka tujuan dari kurikulum itu
sendiri telah tercapai.
Evaluation of instructional mencakup evaluasi keterlaksanaan
pembelajaran dan evaluasi pembelajaran itu sendiri. Evaluasi keterlaksanaan
pembelajaran berkaitan dengan keterlaksanaan sintaks dalam RPP oleh guru.
Evaluasi ini dilakukan oleh tim pengembang kurikulum dengan cara melihat
misalnya apakah alokasi waktu yang direncanakan dalam RPP sudah diterapkan
secara nyata di kelas, bila belum kira-kira faktor apa yang menyebabkan belum
sesuainya rencana pembelajaran di RPP dengan kenyataannya. Hal ini nantinya
akan menjadi bahan evaluasi bagi tim pengembang kurikulum maupun bagi guru.
Sedangkan evaluasi pembelajaran itu sendiri bertujuan untuk mengumpulkan
informasi yang digunakan untuk mengetahui perkembangan dan pencapaian
belajar siswa sehingga dalam evaluasi pembelajaran ini yang mempunyai peran
penting adalah guru mata pelajaran itu sendiri. Evaluasi pembelajaran terjadi
dalam tiga tahap yaitu sebelum pembelajaran berlangsung (preassessment),
selama proses pembelajaran (formative), dan setelah proses pembelajaran
(summative). Berikut penjelasan mengenai ketiga evaluasi tersebut.
1. Preassessment
Menurut Dick dan Carey dalam Oliva (1992), terdapat dua
tipepreassessmentyaitu entry-behaviors test dan pretest. Entry-behaviors test
adalah tes yang didasarkan pada PAP (Penilaian Acuan Patokan) untuk
mengevaluasi pengetahuan awal (prior knowledge) atau keterampilan awal siswa
yang dibutuhkan untuk mempelajari materi selanjutnya. Sedangkan
pretestmerupakan tes yang juga didasarkan pada PAP (Penilaian Acuan Patokan)
tetapi digunakan untuk menentukan apakah siswa telah menguasai materi yang
akan dipelajari. Tes yang didasarkan pada PAP bertujuan untuk mengukur
pencapaian siswa yang didasarkan pada seberapa baik siswa menguasai materi

14

yang telah ditentukan oleh Kompetensi Dasar dan bukan didasarkan pada
seberapa baik siswa tersebut dibandingkan dengan teman sekelasnya.
2. Formative
Evaluasi formatif terdiri dari teknik formal dan informal, termasuk
mengadakan tes selama proses pembelajaran. Melalui evaluasi formatif, guru
dapat mendiagosis dan memberikan remidial kepada siswa untuk membantu siswa
mengatasi kesulitan yang dihadapinya sebelum mereka menghadapi evaluasi
sumatif.
3. Summative
Evaluasi sumatif dilaksanakan pada setiap akhir materi pembelajaran.
Dalam evaluasi ini, guru memberikan posttest kepada siswa untuk mengetahui
apakah siswa telah menguasai materi yang telah diajarkan oleh guru. Hasil
evaluasi sumatif ini digunakan guru untuk merevisi metode pembelajaran yang
digunakan.
Evaluation of specific segments diperlukan apabila pada suatu sekolah
memiliki segmen khusus dalam program pendidikannya. Pada pendidikan yang
ada di Indonesia misalnya, adanya Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) membuat
kurikulum pada sekolah bertaraf internasional tersebut berbeda dengan sekolah
standar nasional pada umumnya. Evaluasi segmen khusus ini seperti evaluasi
instruksional, namun yang dievaluasi adalah ketercapaian segmen khususnya
tersebut.Evaluasi segmen khusus dilakukan untuk mengetahui apakah pelaksanaan
kurikulum tersebut cukup efektif untuk mencapai tujuan kurikulum yang dibuat.
Evaluation of the total program telah mencakup evaluasi tujuan,
subtujuan, dan sasaran; evaluasi pembelajaran; dan evaluasi segmen khusus dari
program pendidikan.Program pendidikan secara keseluruhan merupakan sesuatu
yang kompleks. Hal ini menyangkut fungsi kurikulum secara keseluruhan.
Kurikulum tersebut secara keseluruhan dievaluasi untuk mengetahui apakah goals
dan objectives dari kurikulum secara keseluruhan telah tercapai. Evaluasi program
pendidikan secara keseluruhan dapat dilakukan baik di tingkat satuan pendidikan
ataupun tingkat yang lebih tinggi misalnya kabupaten, provinsi, ataupun tingkat
nasional.

15

Evaluation of evaluation program digunakan untuk mengevaluasi program
evaluasi kurikulum itu sendiri. Keputusan mengenai bagaimana pengevaluasian
program evaluasi yang akan dilaksanakan harus dibuat sebelum pelaksanaan
program evaluasi kurikulum itu sendiri. Tim pengembang kurikulum dapat
meminta bantuan kepada ahli analisis untuk meninjau teknik evaluasi yang sudah
dibuat. Kriteria yang harus diperhatikan adalah apakah instrumen yang digunakan
bersifat reliabel dan valid, apakah program evaluasi telah bersifat menyeluruh,
dan apakah prosedur yang dilakukan telah sesuai. Masukan dan saran tentang
prosedur evaluasi dapat diperoleh dariguru.
Berdasarkan bagan Gambar 2.1 dapat diketahui bahwa evaluasi pada
pengembangan kurikulum Model Saylor, Alexander dan Lewis ini dilakukan saat
implementasi terbatas serta saat dan setelah implementasi secara luas. Evaluasi
saat implementasi terbatas ini merupakan evaluasi yang pertama yang dilakukan
dalam kurun waktu satu tahun. Evaluasi pertama ini mencakup evaluasi
instruksional yaitu evaluasi mengenai ketercapaian guru dan siswa dalam
pembelajaran yang menerapkan kurikulum tersebut. Dengan demikian evaluasi
pada tahap ini hanya melakukan komponen evaluasi instruksional pada model
evaluasi Saylor, Alexander dan Lewis. Evaluasi kedua dilakukan saat dan setelah
implementasi secara luas. Evaluasi ini mencakup keseluruhan komponen evaluasi
dan dilakukan secara formatif dan sumatif untuk mengetahui ketercapaiangoals
dan objectives dari kurikulum itu sendiri. Dari evaluasi ini akan dapat diketahui
kelebihan dan kekurangan dari kurikulum yang dikembangkan, untuk selanjutnya
dapat digunakan untuk dasar pengembangan kurikulum selanjutnya.









16

BAB III
KESIMPULAN

1. Menurut Saylor, kurikulum adalah perangkat rencana yang diarahkan pada
sekumpulan kesempatan aktivitas pembelajaran bagi individu agar menjadi
terdidik.
2. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan merumuskan tujuan dan sasaran,
kemudian merancang kurikulum sesuai dengan sistem politik dan sosial yang
ada, kemudian diterapkan oleh guru, dan kemudian dievaluasi
3. Pada penerapan kurikulum, guru merumuskan tujuan pembelajaran, kemudian
memilih strategi yang cocok dengan yang telah ditetapkan oleh kurikulum
disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
4. Kurikulum dievaluasi meliputi lima komponen yaitu goals, subgoals, and
objective; program of education as a totality; specific segments of the
education program; instruction; and evaluation program


















17

DAFTAR RUJUKAN

Ishartini. 2009. Continous Learning Bagi Kemajuan Masa Depan
Siswa.Yogyakarta: UNY

Oliva, Peter F.G. 1991. Developing The Curriculum, Third Edition. Harper
Collins.

Saylor, Galen J and Wiliiam M. Alexander. 1973. Curriculum Planning for Better
Teacher and Learning. New York:Holt, Rinehart and Winst.

Anda mungkin juga menyukai