Anda di halaman 1dari 8

BERBAGI MENGENAI "BRIKET BATUBARA"

Pendahuluan
Batubara, sebagai bahan bakar yang kaya zat karbon, merupakan komponen
yang sangat penting didalam energy mix di banyak negara. Amerika Serikat, sebagai
contoh, menggunakan batubara lebih dari 52% untuk menghasilkan tenaga
listriknya, dan menjadikan batubara sebagai bahan bakar utama bagi industri besar
yang menggunakan panas tinggi dalam jumlah banyak (heat-intesive industries)
seperti industri peleburan baja, semen, dan lain-lain. Negara-negara lain seperti
China, Australia, Ceko, dan Yunani, lebih dari 70% tenaga listriknya dihasilkan dari
pembakaran batu bara. Bahkan Polandia dan Afrika Selatan mencapai 95%.
Indonesia sendiri, yang memiliki cadangan batu bara cukup besar (lebih dari 57,8
miliar ton), hanya memanfaatkan batubara sekitar 40% (setara 28 juta ton
pertahun) untuk keperluan pembangkit listrik. Sebagai bahan bakar primer,
persentasi penggunaan batubara lebih kecil lagi, yakni sekitar 32 juta ton pertahun,
atau 15% dari total energy-mix nasional.
Peran batubara yang semakin strategis, pada dasarnya tidak terlepas dari
kondisi minyak bumi yang tidak menentu. Ketidakstabilan politik di negara-negara
penghasil minyak, baik akibat internal maupun intervensi dari luar, serta cadangan
yang terus menipis dan permintaan yang terus meningkat, telah mendorong banyak
negara untuk mencari energi lain di luar minyak bumi. Dan jadilah batubara sebagai
sumber energi pilihan utama yang diharapkan mampu menggantikan posisi minyak
bumi. Tidak terlalu sulit diutak-utik karena, baik minyak bumi maupun batu bara,
berasal dari sumber yang sama, yakni karbon (C); minyak bumi berupa karbon cair,
sedangkan batu bara merupakan karbon padat. Sudah barang tentu penggunaan
batubara sebagai bahan bakar padat membutuhkan sentuhan teknologi sehingga
mampu berfungsi sejajar dengan minyak bumi. Terkait dengan hal ini, pemerintah
Amerika Serikat telah menyiapkan anggaran sekitar $200 juta terhitung tahun 2002
hingga 10 tahun ke depan, yang akan digunakan bagi keperluan penelitian dan
pengembangan (litbang) teknologi batubara bersih (clean coal technology) agar
mampu menciptakan sumber energi yang bersih, aman, terjangkau, dan
berkesinambungan. Suatu bukti, dan juga keseriusan negara adidaya, bahwa
racun yang ada pada batubara diyakini dapat dihilangkan, dan menjadikan
batubara sebagai sumber energi yang handal.

Briket Batubara Sebagai Bahan Bakar Alternatif
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) melalui Blueprint
Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025, telah menata kembali energy-mix nasional
dengan menempatkan batubara sebagai salah satu sumber energi andalan. Jika
peran batubara hanya 14% pada tahun 2005, maka akan dinaikkan menjadi 33%
pada tahun 2025. Sebaliknya, peran BBM diturunkan dari 54% (2005) menjadi 33%
(2025). Peningkatan peran batubara dalam energy-mix bukan impelementasi dari
sikap panik pemerintah akibat harga minyak bumi dunia yang tidak wajar, tetapi
justru merupakan langkah antisipasi agar tidak terjadi krisis energi menyusul
cadangan minyak bumi kita yang makin menipis. Kenaikan harga minyak bumi
dunia, boleh jadi telah memicu percepatan untuk memperbaiki energy-mix yang
dirasakan timpang, namun yang paling penting adalah, bahwa negeri ini memiliki
sumber daya batubara dalam jumlah besar (57,8 miliar ton).
Sebagai sumber energi, batubara dapat direkayasa dalam berbagai bentuk
atau penggunaan. Ia dapat diubah menjadi cair melalui pencairan (liquefaction), gas
melalui gasifikasi, atau sesuai dengan aslinya (padat). Ia juga dapat digunakan
secara langsung atau melalui proses pengemasan. Semua rekayasa ini tercipta
melalui teknologi yang beraneka ragam, mulai dari yang paling sederhana sampai
moderen, serta telah bersifat komersil di hampir seluruh penjuru dunia. Dan salah
satu dari sekian banyak komersialisasi batu bara yang menggunakan teknologi
sederhana adalah pengemasan batubara, atau lebih dikenal dengan sebutan briket
batubara.
Briket batubara telah digunakan sejak awal tahun 80-an di beberapa negara,
seperti China dan Korea Selatan. Indonesia sendiri mulai mengenal briket batu bara
pada tahun 1993. Namun karena waktu itu harga minyak tanah sebagai kompetitor
briket batubara masih rendah karena disubsidi, maka gaung briket batubarapun
hanya seumur jagung. Kini, seiring dengan harga minyak tanah yang semakin
mahal, maka ide penggunaan briket batubara di tanah air muncul kembali. Bahkan
pemerintah telah merencanakan untuk membuat 10 juta tungku (anglo) briket
batubara guna membantu masyarakat miskin yang tidak mampu membeli minyak
tanah. Suara-suara kontra pun merebak; selain dianggap sebagai buang-buang
uang karena mungkin akan bernasib sama seperti di zaman pemerintahan orde
baru, polusi udara akibat pembakaran briket batu bara ternyata telah
membahayakan kesehatan manusia, bahkan di China, telah menelan banyak korban
jiwa.
Menggeneralisasi bahwa setiap pembakaran briket batubara berbahaya
bahkan membuat nyawa melayang, perlu diklarifikasi karena dapat
menyesatkan. Hal ini disebabkan oleh; Pertama, fakta menunjukkan bahwa setiap
pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batubara) pasti akan menimbulkan
emisi berupa gas seperti CO, CO2, NOx, SOx dan lain-lain. Emisi seperti ini bukan
hanya berasal dari pembakaran batubara, tetapi juga dari gas buang kendaraan
bermotor. Untuk mengatasinya atau, paling tidak menguranginya banyak cara yang
bisa dilakukan. Cara yang paling efektif adalah dengan mengatur dan membuat
sistem pembakar sedemikian hingga menghasilkan pembakaran yang sempurna.
Pembakaran yang sempurna, selain mengurangi emisi secara signifikan, juga akan
membuat kinerja dan efesiensi penggunaan energi menjadi optimal. Kita melihat
bagaimana kendaraan dengan asap buang yang tebal pasti tidak bertenaga dan
boros bahan bakar; demikian pula kompor minyak tanah yang berasap akan lama
memasak dan boros jika dibandingkan dengan kompor yang bernyala api biru. Nyala
api berwarna biru menunjukan pembakaran yang lebih sempurna. Penggunaan
batubara secara umum, dan briket batu bara, tidak terlepas dari fenomena tersebut.
Dengan pembakaran sempurna, selain menghasilkan kinerja yang optimal, emisi
gas juga akan berkurang secara signifikan karena sebagian besar dari emisi
tersebut ikut terbakar.
Kedua, berbahaya-tidaknya pembakaran briket batubara tergantung pada tiga faktor
utama, yaitu bahan baku (berupa batubara), bahan imbuhan untuk perekat dan
penyaring emisi, serta kondisi tempat di mana briket batubara dibakar. Sejauh ini
hasil penelitian yang dilakukan Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara
(tekMIRA), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan, batu bara
Indonesia sebagai bahan baku briket batubara memiliki kadar sulfur dan abu yang
rendah, masing-masing di bawah 1% (sulfur) dan 20% (abu). Sementara itu, dengan
diperkenalkannya bio-briket batu bara, yang memakai bahan imbuhan berupa
biomassa, emisi gas beracun ternyata dapat diminimalkan atau bahkan mendekati
nol. Adapun pengaruh kondisi tempat pembakaran briket batu bara sangat
tergantung sampai sejauh mana ventilasi ruangannya; semakin udara dapat
bersikulasi dengan baik, semakin aman pembakaran briket batubara digunakan di
ruangan.

Proses Pembuatan Briket Batubara
Tujuan utama pembuatan briket batubara adalah untuk membuat bahan bakar
padat serbaguna dari batubara dengan kemasan dan komposisi yang lebih baik agar
mudah dan nyaman digunakan jika dibandingkan dengan menggunakan batubara
secara langsung. Untuk memperoleh briket batubara yang baik, diperlukan batu bara
yang baik, terutama yang memiliki kandungan sulfur dan abu rendah. Bahan
imbuhan juga harus dipilih dari kualitas yang baik agar dapat berfungsi optimal
sebagai perekat, mempercepat nyala, serta menyerap emisi dan zat-zat berbahaya
lainnya. Batubara dan bahan imbuhan (pencampur) ini dihaluskan secara sendiri-
sendiri sampai ukuran tertentu, dicampurkan dengan memakai pencampur (mixer)
mekanis, untuk kemudian dicetak (dibriket) ke dalam bentuk kemasan tertentu.
Inilah yang namanya briket batubara. Dari proses sederhana tersebut, terlihat bahwa
makin baik bahan baku yang digunakan, makin baik pula kualitas briket batu bara
yang dihasilkan. Batu bara dengan kadar pengotor yang rendah akan menghasilkan
emisi yang rendah pula. Sementara bahan imbuhan yang digunakan biasanya
berupa kapur (lime) yang dapat mengikat senyawa beracun, biomasa untuk
mempercepat/memudahkan proses pembakaran dan menyerap emisi, serta
lempung, kanji atau tetes tebu (molase) sebagai zat perekat.
Ada tiga jenis briket batubara yang berbeda-beda komposisinya, yaitu :
1. Briket batubara biasa, campuran berupa batu bara mentah dan zat perekat
(biasanya lempung). Sangat sederhana dan biasanya berkualitas rendah.
2. Briket batubara terkarbonisasi (kokas batubara), batubara yang digunakan
dikarbonisasi (carbonised) terlebih dulu dengan cara membakarnya pada
suhu tertentu yang bebas udara, sehingga sebagian besar zat pengotor,
terutama zat terbang (volatile matters) hilang. Dengan bahan perekat yang
baik, briket batubara yang dihasilkan akan menjadi sangat baik dan rendah
emisinya.
3. Briket bio-batubara, atau dikenal dengan bio-briket, selain kapur dan zat
perekat, kedalam campuran ditambahkan bio-massa sebagai substansi untuk
mengurangi emisi dan mempercepat pembakaran. Bio-massa yang biasanya
digunakan berasal dari ampas industri agro (seperti bagas tebu, ampas
kelapa sawit, sekam padi, dan lain-lain) atau serbuk gergaji.
Bentuk dan ukuran briket batubara hasil cetakan (kemasan) dibuat sesuai
untuk keperluan sektor pengguna. Saat ini telah dikembangkan dua bentuk briket
batubara, yaitu tipe bantal (telor) yang padat dan kompak dengan ukuran 30 s/d 60
mm, dan tipe sarang tawon (berongga) dengan ukuran lebih besar (mencapai 15
cm). Kedua bentuk ini dibuat untuk memudahkan pemakaian dan memperoleh
efisiensi pembakaran. Tipe bantal berukuran kecil cocok digunakan untuk
rumahtangga (memasak), dan yang berukuran lebih besar baik digunakan untuk
industri. Tipe sarang tawon juga dirancang untuk industri dan memerlukan kompor
atau tungku yang khusus.


Sifat-sifat Briket Batubara yang baik antara lain:
Tidak berasap dan tidak berbau pada saat pembakaran.
Memiliki kekuatan/daya tekan tertentu sehingga tidak mudah pecah
sewaktu diangkat dan dipindah-pindahkan.
Mempunyai suhu pembakaran tetap, dengan jangka waktu nyala yang
relatif lama (8-10 jam).
Setelah pembakaran dan ada sisa, masih mempunyai kekuatan tekan sehingga
mudah dikeluarkan dari dalam tungku atau dipindahkan ke tempat lain.
Hasil pembakaran tidak mengandung gas karbon monoksida dengan kadar yang
tinggi.

Tungku briket batubara
Rancangan tungku pada dasarnya dibuat untuk mencapai efesiensi
pembakaran yang tinggi, serta tak kalah pentingnya, untuk menekan emisi gas yang
dihaslkan. Jenis tungku sangat bergantung pada sektor penggunanya. Tungku untuk
industri berukuran lebih besar daripada tungku untuk rumah tangga. Rata-rata
tungku untuk industri memiliki kapasitas briket batubara 5 10 kg, sedangkan untuk
rumah tangga hanya 1 2 kg.

Jenis tungku yang sudah banyak beredar di pasaran saat ini terbuat dari
bahan tembikar (tanah liat); selain murah, juga mempunyai efisiensi antara 31 33 %
dan sudah terbukti kehandalannya, terutama dalam menekan laju emisi. Jenis
tungku ini dilengkapi dengan penutup pengurang emisi (PPE). Untuk memperoleh
suhu yang sesuai dengan kebutuhan produksi, tungku untuk industri biasanya
dilengkapi dengan blower.

Kinerja briket batubara (komposisi dan tungku)
Kinerja (performance) adalah karakteristik pembakaran yang ditentukan oleh
faktor waktu, suhu, dan kualitas udara pembakaran. Karakteristik pembakaran briket
batubara dipengaruhi oleh jumlah briket batubara yang dibakar dan jenis tungku
yang digunakan. Satu kilogram briket batubara dengan efisiensi tungku 31 33%,
mempunyai efektivitas panas 1,5 2 jam dengan kisaran suhu 300 5000 C. Untuk
2 kg briket batu bara, lamanya waktu pembakaran antara 2,5 3 jam dengan
kisaran suhu 400 6000 C. Hitung-hitungan ini mengindikasikan, briket batubara
akan efektif dan efisien jika digunakan lebih dari 2 jam. Hal ini selain karena faktor
suhu yang akan dicapai lebih baik, juga disebabkan faktor kesulitan tertentu. Faktor
kesulitan dimaksud adalah, bahwa sekali briket batubara dibakar, maka harus
digunakan sampai habis karena ia sulit dipadamkan atau dihidupkan kembali. Jika
dibandingkan dengan minyak tanah, penggunaan 1 kg briket batubara setara
dengan 0,6 liter minyak tanah, atau disebut 60% perliter minyak tanah.
Bagi industri kecil yang memerlukan panas dalam waktu lama, penggunaan
briket batubara cukup ekonomis. Lain halnya dengan sektor rumah tangga,
penggunaan briket batubara tidak semudah dan senyaman kompor minyak tanah,
apalagi kompor gas. Di samping perlu waktu (5-10 menit, tergantung kualitas briket
batubara) untuk menyulutnya, setelah menyala pun besar api agak sulit diatur.
Belum lagi memperhitungkan ketidaknyamanan yang pasti muncul karena berbagai
faktor. Inilah konsekuensi yang harus kita terima jika menggunakan bahan bakar
padat seperti briket batubara.

Dampak lingkungan akibat pembakaran briket batubara
Nilai startegis dan ekonomis pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar
sering terkendala oleh dampak lingkungan yang berasal dari emisi dan sisa
pembakaran, yang langsung maupun tidak langsung berpengaruh kepada
kesehatan manusia. Selain itu, pembakaran batu bara dengan jumlah yang sangat
banyak akan mempengaruhi kondisi lingkungan, antara lain berupa CO
2
dan lain-
lain.
Secara umum polusi yang timbul akibat pembakaran briket batubara antara
lain patikel halus, belerang dan NOx, trace elements (seperti flourine, selenium, dan
arsen), serta bahan-bahan organik yang tidak terbakar secara sempurna . Unsur-
unsur ini terbentuk pada saat pembentukan endapan batubara sebagai proses alam.
Dengan demikian, untuk mendapatkan kondisi pembakaran yang bersih, semua
zat pengotor tersebut harus ditiadakan, paling tidak, dicegah agar tidak merebak
menjadi polutan yang teremisikan.
Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi lingkungan akibat dari pembakaran
briket batubara, yaitu:
Pertama, jenis bahan baku (batubara) dan bahan imbuhan yang digunakan
harus menggunakan bahan yang bersih dari polutan. Semakin baik bahan yang
digunakan, semakin sedikit emisi yang ditimbulkan. Emisi berbahaya, seperti gas
SOx dan NOx, pada dasarnya ditimbulkan dari batubara dengan kadar pengotor
yang tinggi. Bahan perekat yang berasal dari lempung harus dipilih dari jenis
lempung yang tidak mengandung zat-zat berbahaya. Penelitian Badan Geologi
Amerika Serikat (USGS, United State of Geological Survey) menunjukan bahwa
sebagian masyarakat di provinsi Guizhou (China) yang keracunan arsenik karena
mengkonsumsi merica yang dimasak oleh batubara berkadar arsen sangat tinggi.
Demikian pula hampir 10 juta masyarakat dari provinsi yang sama terkena penyakit
tulang dan gigi (kropos) akibat memakan jagung yang dikeringkan oleh briket
batubara dengan lempung perekat berkadar flourine tinggi. Beruntung, batubara
Indonesia pada umumnya memiliki kadar belerang yang sangat rendah (< 1%).
Dengan proses karbonisasi awal, akan membantu pembuatan briket yang ramah
lingkungan. Hasil penelitian tekMIRA menunjukkan, briket bio-batubara yang diberi
imbuhan kapur mampu menekan emisi sampai 50%.
Kedua, tungku atau kompor yang digunakan hendaknya mampu
memfasilitasi pembakaran yang sempurna; artinya, dapat menyeimbangkan aliran
udara (oksigen) dengan baik. Tungku dengan Penutup Pengurang Emisi (PPE) yang
dikembangkan oleh tekMIRA ternyata sangat membantu mengurangi emisi secara
signifikan.
Ketiga, ruangan (dapur) tempat memasak hendaknya mempunyai ventilasi
yang baik; artinya, udara segar dapat bersirkulasi dengan cepat. Kondisi ini akan
sangat membantu menghindari dampak langsung dari polusi kepada kesehatan
pemasak.
Dengan memperhatikan ketiga faktor di atas, secara teoritis dapat dihindari
berbagai dampak negatif atas penggunaan briket batubara. Dari pengukuran emisi
(SOx, NOx, dan CO) yang dilakukan tekMIRA, diperoleh kesimpulan bahwa
penggunaan briket batu bara (yang terpilih) secara umum masih aman dengan kadar
emisi masih jauh di bawah ambang batas yang diperkenankan oleh Kementerian
Lingkungan Hidup.

Anda mungkin juga menyukai