Anda di halaman 1dari 7

Bahan Organik Tanah (BOT)

Bahan organik di dalam tanah diperoleh dari sisa tanaman dengan berbagai tahap
dekomposisi. Bagian tanaman di atas tanah (phytomass) biasanya dikeluarkan dari
pengertian bahan organik tanah, tetapi akar hidup dimasukan ke dalam BOT. Batasan
berikut ini akan dianut dalam pembahasan berikutnya.
_ Bahan organik tanah (BOT): bahan organik mengandung C-alami hidup atau mati, tetapi
tidak termasuk batubara (charcoal)
_ Phytomass: bahan tanaman yang berada di atas tanah, biasanya hidup tetapi dapat juga
mencakup pohon mati.
_ Biomassa mikrobia (microbial biomass): populasi mikroorganisme hidup
_ Sampah sisa organik (litter): terdiri atas tanaman mati dan kotoran hewan pada
permukaan tanah
_ Bahan organik makro (macro organic matter): fragmen organik dari segala sumber yang
berukuran > 250mm (biasanya kurang terdekomposisi dibanding humus).
_ Karbon organik (organic carbon): kandungan karbon biasa digunakan untuk
menggambarkan jumlah bahan organik di dalam tanah. Bahan organik = 1.724 x persen
karbon organik.
_ Humus: bahan yang tetap berada di dalam tanah setelah pemisahan bahan organik
makro (biasanya bahan ini telah mengalami transformasi intensif baik secara fisik
maupun biokimia sebagai hasil proses pembentukan tanah)
_ Asam humat (humic acid) bahan amorf berwama gelap yang dapat diekstrak dari tanah
dengan berbagai pelarut seperti basa kuat, garam netral dan tidak larut dalam asam
encer. Hal ini menunjukkan bahwa asam humat mengandung terutama grup fungsional
masam (acidic functional group) seperti phenolik atau grup karboksilik. Asam humat
terdiri atas molekul dengan berat molekul berkisar 20 000 s/d 1 360 000.
_ Asam fulvik (fulvic acid): bagian bahan organik yang setelah asam humat diekstraksikan
dengan basa kuat tetap berada di dalam larutan. Ini menunjukkan bahwa asam fulvik
mengandung grup fungsional masam dan basis karena bahan ini tetap berada dalam
larutan setelah pemasaman. Asam fulvik terdiri atas molekul organik dengan berat
molekul berkisar antara 275-2100. Asam ini dianggap produk pembusukan tanaman
tinggi dan residu mikrobia.
_ Humin: fraksi tidak larut dalam basa kuat
_ Siklus karbon (carbon cycle): menggambarkan bagaimana karbon tersirkulasikan melalui
atmosfer, biosfer, pedosfer, dan hidrosfer. Bahan organik mati tanah dikolonisasi oleh
mikroorganisme yang memperoleh energi untuk pertumbuhannya dan dekomposisi
oksidatif kompleks molekul organik. Dekomposisi adalah peruraian biokimia dari mineral
dan bahan organik. Selama dekomposisi, unsur anorganik dibebas dari ikatan organik,
proses ini disebut mineralisasi. Sebagai contoh: N- dan P-organik termineralisasikan
menjadi NH4+ dan H2PO4-, dan C diubah menjadi CO2. Sebagian C yang digunakan oleh
mikroorganisme sebagai penyusun sel disebut immobilisasi dan dibebaskan setelah
mikroorganisme mati. Humifikasi adalah pembentukan humus dari bahan organik.

Faktor-Faktor yang mempengaruhi kandungan BOT
Besarnya kandungan bahan organik tanah adalah fungsi dari faktor-faktor pembentuk
tanah. Jenny (1930) melaporkan bahwa pada tanah geluhan di Amerika Serikat pengaruh
faktor pembentuk tanah terhadap kandungan bahan organik mengikuti urutan sbb:
iklim ~~ vegetasi ~~ topografi, bahan induk ~~ waktu. Kandungan bahan organik tanah
meningkat dengan meningkatnya
dekomposisi sampai pada level/batas yang ditentukan oleh temperatur. Penelitian
Franszmeir (1985) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa setiap kenaikan rata-rata suhu
tanah tahunan 10 C diikuti penurunan kandungan bahan organik sekitar 1/3 sampai 1/2,
apabila semua faktor yang lain tetap. Makin hangat temperatur tanah akan semakin cepat
dekomposisi oleh mikroorganisme dan akan semakin rendah kandungan bahan organik
tanah yang bersangkutan.
Selain temperatur, lengas tanah mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap
dekomposisi dan akumulasi bahan organik. Tanah-tanah yang tergenang cenderung akan
menyebabkan bahan organik terakumulasi karena proses dekomposisi mikrobia terhambat.
Pada tanah-tanah dengan rezim lengas tanah aquik (aquic moisture rezim) akan terbentuk
suasana langka udara di dalam tanah dan dalam suasana anaerobik seperti ini dekomposisi
bahan organik kurang efisien. Apabila bahan organik terus tertimbun akan terbentuk tanah
organik (histosol). Histosol biasanva terbentuk pada tanah basah, aerasi buruk seperti pada
danau, rawa, dan depresi.
Vegetasi/Organisme Tanah
Vegetasi mempengaruhi bahan organik dalam hal tipe, jumlah dan sebaran residu
organik. Dekomposisi bahan organik berkaitan dengan sifat komunitas flora dan fauna tanah.
Apabila biomassa ditambahkan ke dalam tanah, akan terjadi tiga reaksi umum di dalam
tanah:
_ Bahan organik akan mengalami oksidasi enzimatik dengan hasil utama adalah karbon
dioksida, air dan panas.
_ N, P dan S dilepaskan dan/atau mengalami immobilisasi oleh sederetan reaksi spesifik
untuk tiap unsur.
_ Pembentukan ikatan (compound) yang tahan terhadap reaksi dekomposisi
mikroorganisme lanjutan, biasanya terbentuk dari ikatan yang bersumber dari dalam
bahan asal/semula, atau hasil sintesis mikrobia.
Kecepatan dekomposisi, meskipun untuk substrat sederhana seperti glucose,
bervariasi luas perbedaan dalam kandungan air, temperatur, pH dan ketersediaan hara seperti
P dan N untuk mendukung aktivitas mikrobia. Meskipun demikian, monomer yang lebih
sederhana dari karbohidrat, protein dan lemak, dan bahan-bahan polyphenolik di dalam
lingkungan tanah akan didekomposisi dalam waktu satu minggu. Polymer (ikatan kompleks)
seperti hemi-sellulose atau sellulose terdekomposisi lebih lambat dan ketahanannya
terhadap dekomposisi meningkat dengan semakin kompleksnya struktur polymer. Perlu
ditekankan bahwa banyak ikatan organik (organic compound) dijumpai di dalam tanah
merupakan hasil sintesis mikrobia in situ.
Topografi
Topografi mempengaruhi jumlah aliran permukaan, erosi dan deposisi. Erosi akan
mengangkut tanah atasan dari punggung atau lereng atasan suatu perbukitan akan
berakibat tanah menipis dan yang tersisa adalah tanah yang berwarna cerah dengan
kandungan bahan organik rendah. Tanah yang terdapat pada lereng bawah atau lembah
biasanya mempunyai kandungan bahan organik lebih tinggi dengan horizon A yang lebih
tebal. Oleh karena lengas tanah sering berbeda sepanjang lereng maka aktivitas mikrobia
juga beragam.
Bahan Induk
Tanah pasiran biasanya mengandung bahan organik yang lebih rendah dibandingkan
dengan tanah debuan atau lempungan. Ini dapat dijelaskan dengan mempertimbangkan
karakteristik dari tanah-tanah tersebut. Tanah pasiran mempunyai aerasi baik dan biasanya
mempunyai kemampuan menahan lengas rendah sehingga cenderung mempunyai
kandungan bahan organik rendah. Sebaliknya tanah lempungan biasanya aerasi kurang
baik, jumlah pori mikro tinggi dengan kapasitas menahan lengas tinggi sehingga cenderung
mempunyai kandungan bahan organik tinggi. Tanah-tanah gampingan atau kaya dengan
Al/Fe cenderung mempunyai kandungan bahan organik tinggi.
Waktu
Masa penggantian (turnover time) C-organik di dalam tanah dapat diketahui dengan
membagi kandungan bahan organik tanah dengan input biomassa tahunan dan dinyatakan
dalam satuan tahun. Masa penggantian C global berkisar 30-40 tahun, beragam tergantung
kondisi ekosistem. Tanah organik (histosol) dimana pembentukannya menyukai
penggenangan mungkin mempunyai masa penggantian lebih dari 2000 tahun, tanah-tanah
di daerah tundra dimana suhu rendah menghambat oksidasi mungkin mempunyai masa
penggantian sekitar 100 tahun. Sebaliknya, masa penggantian yang paling pendek sekitar 4
tahun berlangsung pada ekosistem hutan tropis. Meskipun produksi biomassa maksimum
pada ekosistem ini tetapi dekomposisi yang cepat mencegah akumulasi berlebihan dari
bahan organik.
Sifat-sifat Bahan Organik
Bahan organik mempunyai pengaruh yang amat besar atas kapasitas pertukaran
kation (KPK) tanah dan retensi kation tertukarkan. Hal ini disebabkan humifikasi
menghasilkan koloid organik yang mempunyai luas permukaan tinggi. Perlu diingat bahwa
KPK bahan organik sepenuhnya KPK tergantung pH (pH dependent). Gugus fungsional
seperti -COOH (carboxylic) dan -OH (phenolic), melepaskan H+ dan dengan demikian dapat
menyerap kation seperti kation K+, Na+, Ca++ atau Mg2+. Kation-kation ini biasanya
dianggap
sebagai bagian dari cadangan kation di dalam tanah. Perkiraan KPK bahan organik
bervariasi antara 1500-5000 cmol/kg. Sekitar 7-20 % KPK sebagian besar tanah bersumber
dari bahan organik.
Interaksi bahan organik dengan bahan berukuran lempung
Hubungan antara tipe lempung dan kandungan serta akumulasi dan stabilisasi bahan
organik merupakan hubungan yang rumit. Hal ini karena kandungan bahan organik biasanya
berkaitan dengan faktor lain yang mempengaruhi produksi bahan organik. Sebagai contoh,
kandungan lempung sering berkorelasi dengan pertumbuhan yang cepat tanaman dan
menghasilkan masukan C tahunan tinggi. Terdapat pula bukti bahwa tipe lempung dan jenis
kation yang terikat/terjerap mempengaruhi stabilisasi bahan organik. Lebih lanjut,
keberadaan bahan organik mempunyai pengaruh penting dalam hal pembentukan dan
stabilisasi struktur. Asam fulvat dan humat dan polimernya terjerap ke permukaan mineral
lewat gugus fungsional, dimana yang terpenting adalah karboksil (-COOH), karbonil (-C=O),
hidroksil (-OH), amino (=NH), dan amine (-NH2). Polimer tak bermuatan (uncharge)
misalnya
poly-saccharide, dapat dijerap lewat ikatan hidrogen (hydrogen bonding) dan van der Waals,
dan juga berfungsi sebagai agen pengikat (bonding agent) diantara partikel mineral.
Penelitian lapangan dan laboratorium dengan menggunakan C-isotop (C14-labelled)
telah banyak dilakukan untuk menentukan nasib bahan organik tambahan pada tanah-tanah
dengan tekstur yang kontras. Hasil penelitian menunjukkan makin halus tekstur tanah
memperlihatkan aktivitas mikrobia yang lebih tinggi diikuti oleh penumpukan dan stabilitas
bahan organik yang lebih tinggi dibandingkan pada tanah dengan tekstur yang lebih kasar.
Porositas mempunyai pengaruh kuat atas residu organik yang ditambahkan ke dalam tanah
karena porositas menentukan ruang dimana mikroorganisme berfungsi, pada ruang yang
sangat kecil dimana molekul organik dapat secara fisik terlindung dari serangan
mikroorganisme. Menurut Kilbertus (1980) bakteria berfungsi hanya di dalam pori yang 3
kali lebih besar dari diameter bakteri tersebut. Dengan demikian pada tanah lempungan
peranan bakteria menjadi sangat tidak penting karena pori mikro akan meningkat dengan
meningkatnya kandungan lempung. Ini menyebabkan pada tanah-tanah lempungan terdapat
pemisahan fisik antara molekul organik dengan mikrorganisme dan merupakan sebagian
penyebab lebih tingginya akumulasi bahan organik pada tanah lempungan dibandingkan
dengan tanah tekstur kasar pada kondisi yang serupa. Beberapa penelitian memperlihatkan
bahwa stabilisasi molekul organik terjadi antara quasi-kristal (tumpukan beberapa lapisan)
dan di dalam ruang antar lapisan (interlayer) mineral 2:1 seperti montmorillonit. Mekanisme
ini diperoleh dari bukti-bukti pengujian dengan mikroskop elektron resolusi tinggi yang
memperlihatkan keberadaan molekul organik di dalam pori diantara kristal yang berdiameter
~ 1.0 mm dan ini memberikan perlindungan yang sangat baik terhadap serangan mikrobia.
Jembatan kation dan retensi bahan organik
Kation polivalen (e.g. Ca2+, Mg2+, Fe3+, Al3+) mempunyai peranan penting dalam
stabilisasi koloid organik dan anorganik, apabila terdapat dalam jumlah banyak akan
menghambat kemampuan koloid untuk mengerut dan mengembang dan cenderung
terflokulasi dan stabil. Kation polivalen berfungsi sebagai jembatan antara lempung
bermuatan negatif (koloid inorganik) dan koloid organik bermuatan negatif yang
meningkatkan stabilitas struktur.
Pada tanah-tanah netral dan alkalis, Ca2+ dan Mg2+ adalah kation-kation utama yang
berfungsi sebagai jembatan, sedangkan pada tanah-tanah masam serta tanah yang kaya
hidroksida maka peranan tersebut dilaksanakan oleh ion-ion Fe3+ dan Al3+. Dari penelitian-
penelitian tentang pengapuran diperoleh beberapa petunjuk tentang peranan Ca2+ dalam
konversi residu tanaman menjadi bahan organik yang stabil. Penambahan CaSO4 atau
CaCO3 pada jerami yang mengandung C-14 labelled memperlihatkan peningkatan aktivitas
mikrobia yang menghasilkan percepatan pelepasan CO2 diikuti oleh meningkatnya retensi
dan stabiitas bahan organik.
Mekanisme yang mengendalikan/mempengaruhi terbentuknya ikatan Fe3+ dan Al3+
dengan molekul organik tidak banyak diketahui. Hanya sebagian sangat keci Fe3+ terdapat
dalam bentuk dapat larut. Pada kebanyakan tanah Fe3+ terdapat dalam bentuk hidroksida
yang sebagian bermuatan positif pada pH rendah akibat protonasi atau penambahan ion
hidrogen ke permukaan gugus hidroksi yang tersingkap. Permukaan yang bermuatan positif
tersebut dapat menarik molekul organik yang bermuatan negatif. Mekanisme yang serupa
sangat boleh jadi berlaku juga buat Al3+.
Proses khelasi (chelation) membentuk khelat, yang merupakan kompleks stabil mengandung
gugus organik dan kation logam yang terperangkap di dalam struktur cincin molekul organik.
Kompleks logam-organik sukar larut. Khelat dapat terbentuk dengan beberapa di- dan
polivalen- kation dengan stabilitas menurun sebagai berikut:
Cu > Fe = Al > Mn = Co > Zn
Lengas Tanah
Asam humat dan fulvat dianggap sebagai koloid hidrofilik dan mempunyai afinitas
tinggi terhadap molekul air. Oleh karena itu koloid organik mempunyai karakteristik
meningkatkan kapasitas lapangan. Bahan organik mampu menahan air sekitar 20 kali lipat
dari berat bahan organik tersebut dan sifat ini sangat penting terutama pada tanah pasiran
yang biasanya kapasitas menahan air sangat rendah. Apabila kering bahan organik rentan
terhadap erosi angin dan dapat mengalami transportasi dan mencapai jarak jauh.
Temperatur Tanah
Karena bahan organik berwarna gelap sampai hitam serapan radiasi matahari tinggi
dan pemantulan rendah. Oleh karena itu tanah dengan kandungan bahan organik tinggi lebih
cepat mengalami pemanasan dibandingkan dengan tanah dengan bahan organik rendah.
Klasifikasi
Sisa organik (litter)
Akumulasi sisa organik dan tingkat dekomposisinya pada tanah permukaan (horizon
O) sangat beragam tergantung ekosistem. Faktor iklim mempunyai pengaruh kuat terhadap
penggantian (turnover) biomassa dan komposisi guguran jaringan tanaman (plant debris).
Umumnya guguran tanaman yang mengandung N tinggi berkaitan dengan gugus organik
larut air (e.g. asam amino, gula) dan unsur seperti S, dan P yang merangsang aktivitas
mikrobia, dan dengan demikian mendorong degradasi dari guguran tanaman tersebut.
Penggolongan lapisan guguran tanaman atau horizon O didasarkan atas nisbah C:N, yaitu
sbb:
_ Mull rendah C:N < 25, spesies: alder, false acacia, ash, grasses, legume
_ Moder sedang C:N 30-45, spesies: oak, beach
_ Mor tinggi C:N > 60, spesies: conifers
Simbol h digunakan untuk akumulasi illuvial bahan organik pada horizon B. Pengolahan
tanah dapat menyebabkan bahan organik membaur dalam horizon A yang dicirikan oleh
warna gelap dan biasanya diberi simbol p. Simbol ini hanya digunakan pada horizon A saja
meskipun bahan organik, karena pengolahan tanah, tercampur sampai pada horizon E, B
atau C.