Anda di halaman 1dari 96

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU

TERHADAP PRAKTIK PERAWATAN LUKA EPISIOTOMI


POSTPARTUM DENGAN PERSALINAN NORMAL
DI RUMAH SAKIT UMUM DR. ABDUL AZIZ
SINGKAWANG KALIMANTAN BARAT

Skripsi

Untuk memenuhi persyaratan mencapai Sarjana Keperawatan






Disusun Oleh:
JUPITA SURIA NINGSIH
G2B205021


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG, FEBRUARI 2007

HALAMAN PERSEMBAHAN

Puji syukur kehadirat Allah karena ridhanya buah fikir ini dapat terselesaikan,
dengan penuh rasa ikhlas dan kesabaran.
Hiasilah diri dengan kesabaran bila ingin meraih keperluan karna orang yang
suka mengetuk pintu pasti akan masuk kedalamnya.

















Ayahanda tersayang H. M. Salehun Hidjrat
Ibunda tersayang Rustina

Suami tercinta Agus Mulyanto
Anak terkasih Fithryyah Mulyaningsih

Saudaraku tersayang Joni, Jemmy dan Henny

KATA PENGANTAR





Alhamduliiiahirabbilalamin, segala puji syukur kepada Allah SWT yang
senantiasa mengiringi hari-hari kita dengan kasih sayang-Nya, melimpahkan
nikmat yang tak terhitung jumlahnya hingga saya mampu menyelesaikan skripsi
penelitian sebagai persyaratan kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana
Keperawatan. Sholawat dan salam semoga senatiasa tercurah kepada Rosullullah
SAW beserta keluarga, sahabat dan pengikutnya yang senantiasa istiqomah.
Skripsi yang berjudul Hubungan tingkat pengetahuan dan sikap ibu
terhadap praktik perawatan luka episiotomi postpartum dengan persalinan
normal di Rumah Sakit Dr. Abdul Aziz Singkawang Kalimantan Barat ini
disusun bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap ibu
terhadap praktik perawatan luka episiotomi postpartum dengan persalinan normal
di Rumah Sakit Dr. Abdul Azis Singkawang Kalimantan Barat.
Selama proses penyusunan proposal ini banyak pihak yang telah membantu
dan memberikan kemudahan kepada saya, oleh karena itu saya sangat berterima
kasih kepada:
1. Ibu Setyowati, SKp,M.App.Sc,PhD selaku Ketua Program Studi Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
2. Ibu Anggorowati, S.Kp,M Kep selaku Pembimbing I yang telah sabar dan
meluangkan waktu untuk membimbing saya dan mengarahkan saya dalam
penyusunan proposal ini.
3. Ibu Megah Andriany, S.Kp selaku pembimbing II yang selalu sabar dan
memberikan semangat untuk belajar kepada saya selama proses penyusunan
proposal
4. Kepala RSUD Dr. Abdul Aziz Singkawang Kalimantan Barat
5. Kepala Keperawatan dan Kebidanan RSUD Dr. Abdul Aziz Singkawang
Kalimantan Barat
6. Segenap staf PSIK FK UNDIP yang telah membantu peneliti melengkapi
persyaratan kesekretariatan
7. Teman-teman sejawat Akper Poltekkes Singkawang Kalimantan Barat
8. Semua pihak yang telah membantu penyusunan proposal ini yang tidak bisa
saya sebutkan satu persatu
Atas segala bantuan dan kebaikan yang diberikan, saya mengucapkan terima
kasih dan semoga Allah S. W. T memberikan sebaik-baiknya balasan bagi
semuanya.
Tentunya proposal ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu
kritik saran saya harapkan agar bisa melengkapinya. Semoga proses penelitian
dan penyusunan proposal ini bisa membawa manfaat bagi saya pribadi dan juga
pembaca.


Semarang, Febuari 2007

Peneliti
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERSETUJUANii
KATA PENGANTARiii
DAFTAR ISIv
DAFTAR GAMBAR.vii
DAFTAR LAMPIRANviii
DAFTAR TABEL...ix
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.1
B. Perumusan Masalah.4
C. Tujuan Penelitian.4
D. Manfaat Penelitian...5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengetahuan ibu tentang perawatan luka episiotom7
B. Sikap....9
C. Praktik Perawatan Luka Episiotomi..14
D. Perilaku..17
E. Kerangka Teori Penelitian.22
BAB III METODE PENELITIAN
A. Kerangka Konsep...23
B. Hipoteis..22
C. Jenis dan Rancangan Penelitian.24
D. Populasi dan Sampel Penelitian.24
E. Tempat Penelitia dan Waktu..26
F. Definisi Operasional..27
G. Alat dan Cara Pengumpulan Data.29
H. Teknik Pengolahan Dan Pengumpulan..32
I. Etika Penelitian..36
BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Karakteristik Responden..39
B. Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Praktik Ibu Terhadap Praktik Perawatan
Luka Episiotomi postpartum dengan Persalinan Normal...41
C. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dan Sikap terhadap Praktik
Perawatan Luka Episiotomi Postpartum dengan persalinan normal..42
BAB V PEMBAHASAN
A. Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Praktik Perawatan Luka Episiotomi
Postpartum dengan Persalinan Norma...44
B. Sikap Ibu terhadap Praktik Perawatan Luka Episiotomi Postpartum dengan
Persalinan Normal..45
C. Praktik Perawatan Luka episiotomi Poatpartum dengan Persalianan
Normal...46
D. Hubungan antara Antara tingkat pengetahuan terhadap Praktik Perawtan
Episiotomi Postpartum dengan Persalinan Normal47
E. Hubungan Sikap terhadap Praktik Perawatan Luka Episiotomi49

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan51
B. Saran..52
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

































DAFTAR GAMBAR




Halaman

1. Kerangka teori penelitian...21
2. Kerangka konsep penelitian...22
























DAFTAR LAMPIRAN


1. Lampiran 1. Surat Permohonan menjadi responden
2. Lampiran 2. Surat Persetujuan menjadi responden
3. Lampiran 3. Kuesioner
4. Lampiran permohonan ijin uji validitas dan reliabilitas
5. Surat permohonan ijin penelitian
6. Data Hasil Penelitian
7. Hasil uji validitas dan reabilitas
8. Hasil uji statistik frekuensi penelitian
9. Hasil uji Chi Squer




















DAFTAR TABEL
halaman



1. Tabel definisi operasional.28
2. Tabel karakteristik responden...40
3. Tabel distribusi tingkat pengetahuan,sikap dan praktik perawatan luka
episiotimi postpartum dengan persalinan normal.....42
4. Tabel Hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap terhadap praktik
perawatan luka episiotomi postpartum dengan persalinan normal43
























Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedoteran
Universitas Diponegoro
Skripsi, Febuari 2007

ABSTRAK
Jupita Suria Ningsih
Hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap ibu terhadap praktik
perawatan luka episiotomi postpartum dengan persalinan normal di RSUD
Dr. Abdul Aziz Singkawang Kalimantan Barat
xii+ 53 halaman + 4 tabel + 9 lampiran

Infeksi luka episiotomi pada ibu postpartum akan dicegah sedini mungkin bila ibu
melakukan perawatan luka secara benar. Faktor yang mempengaruhi praktik
perawatan luka episiotomi postpartum dengan persalinan normal di RSUD Dr.
Abdul Aziz Singkawang adalah pengetahuan dan sikap.Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap ibu terhadap praktik
perawatan luka episiotomi postpartum dengan persalinan normal. Penelitian ini
adalah penelitian kuantitatif dengan korelasi cross sectional dan menggunakan uji
Chi Square. Responden dalam penelitian ini adalah ibu dengan luka episiotomi
postpartum pada persalinan normal, pengambilan sampel dengan teknik total
sampling dan jumlah sampel sebesar 31 responden. Data mengenai tingkat
pengetahuan dan sikap diperoleh dengan kuesioner dan observasi langsung. Hasil
penelitian menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan
(P value= 0,049), sikap (P value= 0,020) terhadap praktik perawatan luka
episiotomi postpartum dengan persalinan normal, nilai signifikan (= 0,05).
Perlunya dilanjutkan penelitian eksperimen tentang efektifitas perawatan luka
episiotomi.

Kata kunci: tingkat pengetahuan, sikap, praktik perawatan luka episiotomi
postpartum dengan persalinan normal, kuantitatif.

Daftar pustaka: 27 (1995-2006)














Nursing Program faculty of medicine
Diponegoro University
Paper, February 2007

ABSTRACT
Jupita Suria Ningsih
The relationship between mothers knowledge level and attitude to practice of
postpartum episiotomy wound dressing in normal delivery in RSUD Dr. Abdul
Aziz Singkawang Kalimantan Barat.
Xii + 53 pages + 4 tables + 9 enclosures

Infection episiotomy wound can be prevented as soon as possible if mothers
dressing wound correctly. The factors influencing at episiotomy wound dressing
practice in RSUD Dr. Abdul Aziz Singkawang are knowledge and attitude. The
research aim was to know the relationship between mothers level and attitude to
practice of postpartum episiotomy wound dressing in normal delivery. This
research are quantitative research by cross sectional correlation method and Chi
Square Test. The respondents in this research were mothers with postpartum
episiotomy wound in normal delivery. The samples were taken by total sampling
technique and the numbers of samples are 31 respondents. Data of knowledge and
attitude level were obtained by direct questioner and observation. The research
result indicated that there was a significant relation she between knowledge level
(P value= 0,049) and attitude (P value= 0,020) to practice of postpartum
episiotomy wound dressing in normal delivery, (= 0,05). It needs to be continued
to experimental research about effectiveness of episiotomy wound dressy.

Key words: knowledge level, attitude, practice of postpartum episiotomy wound
dressing in normal delivery, quantitative.

Bibliography: 27 (1995-2006)














BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Visi Indonesia sehat 2010 ditetapkan berdasarkan pembangunan yaitu
bagaimana agar penduduk Indonesia hidup dalam lingkungan yang sehat
dengan pola hidup yang sehat serta kemampuan untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau. Dalam rencana
strategi nasional Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2001-2010
yang mana tujuan akhir dan sistem pelayanan kesehatan ibu hamil adalah hasil
persalinan dengan bayi sehat dan ibu selamat (1). Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) tahun 1999 terbesar 80% kematian maternal merupakan akibat
meningkatnya komplikasi selama kehamilan, persalinan dan setelah
melahirkan (2).
Pada periode post partum terdapat perawatan masa nifas yaitu perawatan
terhadap wanita hamil yang telah selesai bersalin sampai organ-organ
reproduksi kembali ke keadaan normal sebelum hamil, lamanya kira-kira 6
minggu (4). Pada perawatan masa nifas terjadi perubahan fisiologis, yaitu:
perubahan fisik, involusi uterus dan pengeluaran lokea, laktasi/pengeluaran air
susu ibu, perubahan sistem tubuh lain, dan perubahan psikis.
Asuhan perawatan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan
masa kritis baik ibu maupun bayinya (4).


Setelah melahirkan, terdapat respon fisiologis tubuh terhadap perubahan
organ reproduksi yang dapat mengakibatkan timbulnya nyeri pada ibu post
partum. Nyeri ini disebabkan karena beberapa hal antara lain timbulnya
kontraksi uterus karena pengaruh oksitoksin, pembengkakan payudara
(engorgement) sebagai persiapan proses menyusui dan juga karena adanya
luka episiotomi yang dilakukan pada saat pertolongan persalinan (4). Nyeri
pada luka episiotomi, biasanya dijadikan alasan bagi ibu-ibu postpartum untuk
mengurangi aktivitas kegiatannya sehari-hari, seperti aktivitas pemenuhan
kebutuhan diri, merawat bayi, menyusui, termasuk aktivitas perawatan luka
episiotomi (6).
Ibu-ibu berpendapat bahwa luka episiotomi merupakan suatu istilah
digunting yang sering sekali menjadi sebab kesakitan bagi ibu bersalin untuk
melakukan aktivitas, hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan ibu
tentang perawatan luka episiotomi. Perawatan luka episiotomi sangat penting
untuk dilakukan karena apabila tidak dilakukan akan mengakibatkan
komplikasi misalnya infeksi, bengkak dan nyeri semakin bertambah. Infeksi
bisa terjadi karena ibu takut menyentuh luka sehingga memilih untuk tidak
membersihkan luka. Oleh karena itu para ibu selain mereka harus memiliki
pengetahuan, mereka juga harus memberikan respon atau menentukan sikap
dari pengetahuan yang mereka dapat, apakah melaksanakan perawatan luka
episiotomi sesuai dengan pengetahuan yang ada atau tidak mau melakukan
perawatan luka episiotomi (4, 5, 6, 7).
Data persalinan pervaginam yang didapat di ruang kebidanan Rumah
Sakit Umum Dr. Abdul Aziz Singkawang Kalimantan Barat pada bulan
Oktober 2006 terdapat 198 kasus persalinan normal, dengan 69 kasus
dilakukan episiotomi atau sekitar 34,8% dari seluruh persalinan pervaginam.
Dari 69 terdapat 2 orang yang terkena gejala infeksi pada luka episiotomi
karena tidak melakukan perawatan luka episiotomi sesuai dengan praktik
perawatan yang ada di Rumah Sakit tersebut. Perawatan luka episiotomi
bukan hanya tanggung jawab perawat, namun juga menjadi tanggung jawab
klien sendiri, maka klien juga harus memahami cara perawatan luka
episiotomi di rumah agar proses pemulihan seperti yang di harapkan (4, 5, 6).
Dari hasil wawancara belum semua ibu-ibu mempraktikkan perawatan
luka episiotomi, sehingga mudah terinfeksi (4, 5, 6). Sebagian ibu belum
mengerti tentang perawatan luka episiotomi, tetapi tetap melakukan
perawatan, dan sebagian lagi sudah mengetahui tentang perawatan luka
episiotomi tetapi tidak melakukannya.
Berdasarkan permasalahan di atas peneliti ingin mengetahui apakah ada
hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap ibu terhadap pratik perawatan
luka episiotomi postpartum pada persalinan normal di Rumah Sakit Umum
Dr. Abdul Aziz Singkawang Kalimantan Barat.




B. Rumusan Masalah
Merawat luka episiotomi setelah persalinan merupakan suatu hal penting
untuk mencegah infeksi dan memberikan kesejahteraan psikologis. Selama ini
perawatan luka episiotomi sering diabaikan oleh ibu-ibu. Hasil wawancara di
RSUD Dr. Abdul Aziz Singkawang didapat data bahwa belum semua ibu
mempraktikan perawatan luka episiotomi. Sebagian dari ibu-ibu belum
mengerti tentang perawatan luka episiotomi, tetapi tetap melakukan
perawatan, dan sebagian lagi sudah mengetahui tentang perawatan tetapi tidak
melakukanya, oleh karena itu klien harus memahami cara perawatan luka
episiotomi. Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas maka dapat
dirumuskan sebagai berikut Adakah hubungan antara tingkat
pengetahuan dan sikap ibu terhadap praktik perawatan luka episiotomi
postpartum pada persalinan normal di ruang kebidanan Rumah Sakit
Umum Dr. Abdul Aziz Singkawang Kalimantan Barat

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat
pengetahuan dan sikap ibu terhadap praktik perawatan luka episiotomi
postpartum persalinan normal di Rumah Sakit Dr. Abdul Aziz Singkawang
Kalimantan Barat.


2. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan ibu tentang praktik perawatan luka
episiotomi di ruang obstetri Rumah Sakit Umum Dr. Abdul Azis
Singkawang Kalimantan Barat.
b. Mengidentifikasi sikap ibu terhadap perawatan luka episiotomi
postparum pada persalinan normal di ruang obstertri Rumah Sakit
Umum Dr. Abdul Azis Singkawang Kalimantan Barat.
c. Mengidentifikasi hubungan tingkat pengetahuan terhadap praktik
perawatan luka episiotomi di ruang obstetri Rumah Sakit Umum Dr.
Abdul Azis Singkawang Kalimantan Barat.
d. Mengidentifikasi hubungan sikap ibu terhadap praktik perawatan luka
episiotomi di ruang obstertri Rumah Sakit Umum Dr. abdul Azis
Singkawang Kalimantan Barat.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan untuk
meningkatkan mutu asuhan keperawatan pada ibu dengan luka episiotomi
postpartum pada persalinan normal.
2. Bagi pelayanan keperawatan
Meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dengan cara melaksanakan
proses standar asuhan keperawatan (SAK) pada praktik perawatan luka
episiotomi.
3. Bagi institusi pendidikan keperawatan
Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi lebih lanjut
dibidang keperawatan maternitas khususnya tentang pengetahuan dan
sikap ibu terhadap praktik perawatan luka episiotomi postpartum pada
persalinan normal.
4. Bagi peneliti
Menambah wawasan mengenai hubungan antara pengetahuan dan sikap
terhadap perawatan luka episiotomi.





























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGETAHUAN IBU TENTANG PERAWATAN LUKA EPISIOTOMI
Pengetahuan merupakan kumpulan kesan-kesan dan penerangan yang
terhimpun dari pengalaman yang siap untuk digunakan. Adapun pengetahuan
tersebut dapat diperoleh dari diri sendiri maupun orang lain. Pengetahuan
adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Sebagian besar pengetahuan
manusia diperoleh melalui mata dan telinga (8).
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya
tindakan seseorang (perilaku) dan perilaku yang didasari oleh pengetahuan
akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.
Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum mengadopsi perilaku baru
dalam diri seseorang akan terjadi proses yang berurutan, yaitu (7):
1. Awareness (kesadaran)
Dimana orang menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap
stimulus.
2. Interest (tertarik)
Subjek mulai tertarik terhadap stimulus/objek tersebut. Di sini sikap
subjek sudah mulai timbul.


3. Evaluation
Pada tahap ini subjek mulai menimbang-nimbang baik buruknya stimulus
terhadap dirinya.
4. Trial
Dimana subjek mulai melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang
dikehendaki oleh stimulus.
5. Adoption
Dimana subjek telah berperilaku sesuai dengan pengetahuan, kesadaran,
dan sikapnya terhadap stimulus.
Pengetahuan ibu tentang perawatan luka episiotomi sangatlah penting,
untuk menambah pengetahuan ibu tentang perawatan luka episiotomi perawat
atau petugas kesehatan lainnya memberikan penyuluhan kesehatan tentang
perawatan luka episiotomi tujuannya untuk pencegahan infeksi dan
meningkatkan proses penyembuhan pada ibu. Perawat memberi perawatan
yang berfokus pada pemulihan, kesejahteraan psikologis, kemampuan ibu
untuk merawat diri sendiri dan bayinya (4, 7, 8). Perawatan luka episiotomi
dan setiap laserasi perineum yang dilakukan dengan baik mencegah infeksi
pada daerah genitourinaria dan mempercepat proses penyembuhan (4).
Perawat sebaiknya mengajari ibu membersihkan perineum dari arah
depan kebelakang (uretra ke anus) setelah buang air besar dan buang air kecil.
Hal ini merupakan langkah pertama yang sederhana, tetapi sangat efektif. Di
beberapa Rumah Sakit sudah banyak memakai botol percik yang diisi air
hangat atau larutan antiseptik untuk membersihkan daerah perineum setiap
selesai berkemih. Pasien perlu juga diajari mengganti pelapis perineum dari
arah depan ke belakang setiap kali berkemih atau defekasi dan untuk mencuci
tangannya sampai bersih sebelum dan sesudah melakukan hal tersebut di atas
(4).
Sesuai dengan teori Rogers (1974) bahwa dalam diri seseorang akan
terjadi proses dimana seseorang menyadari arti dari tindakan yang
dilakukannya, begitu juga dengan seorang ibu yang melakukan perawatan
luka episiotomi dia akan merasakan hasil dari perawatan luka episiotomi pada
dirinya dengan pengetahuan yang ibu dapat dari penyuluhan kesehatan dan
kemudian membuat ibu sadar akan pentingnya perawatan luka episiotomi
(4, 8).

B. SIKAP
Sikap adalah suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif,
predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara
sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah
terkondisikan. Salah seorang ahli psikologi sosial Newcomb (1957), dikutip
Notoatmodjo (1997) menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau
kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu.
Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan
predisposisi tindakan atau perilaku/peran. Sikap masih merupakan reaksi
tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka, merupakan reaksi terhadap objek di
lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek (7, 8, 9).
Dalam bagian lain Allport dikutip Notoatmodjo (1997:131) menyatakan
bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok yaitu: kepercayaan
(keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek, kehidupan emosional atau
evaluasi emosional terhadap suatu objek dan kecenderungan untuk bertindak
(tend to behave). Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap
yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini pengetahuan,
berpikir, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting.

1. Tingkatan Sikap
a. Menerima (Receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan (objek). Misalnya sikap orang terhadap gizi
dapat dilihat dari kesediaan dan perhatian itu terhadap ceramah-
ceramah.
b. Merespon (Responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau
mengerjakan tugas yang diberikan, lepas pekerjaan itu benar atau
salah adalah berarti orang menerima ide tersebut.



c. Menghargai (Valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan
orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat
tiga.
d. Bertanggung jawab (Responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan
segala risiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi. Sikap
mungkin terarah terhadap benda, orang tetapi juga peristiwa,
pandangan, lembaga, norma dan nilai.

2. Ciri sikap
a. Sikap bukan dibawa sejak lahir, melainkan dibentuk atau dipelajari
sepanjang perkembangan orang itu dalam hubungan dengan objeknya.
Sifat ini membedakannya dengan sifat motif-motif biogenetis seperti
lapar, haus, kebutuhan akan istirahat.
b. Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan dapat
berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan dan syarat tertentu
c. Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi mempunyai hubungan terhadap suatu
objek. Sikap terbentuk, dipelajari atau berubah senantiasa berkenaan
dengan suatu objek yang dapat dirumuskan secara jelas.
d. Objek sikap dapat merupakan satu hal tertentu, tetapi dapat juga
merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut.
e. Sikap mempunyai segi motivasi dan perasaan. Sifat inilah yang
membedakan sikap dari kecakapan atau pengetahuan yang dimiliki
orang.
Menurut Purwanto (1999) pembentukan sikap tidak terjadi demikian saja,
melainkan melalui suatu proses tertentu, melalui kontak sosial terus menerus
antara individu dengan individu lain di sekitarnya. Faktor-faktor yang
mempengaruhi terbentuknya sikap adalah: (1) faktor intern: yaitu faktor-faktor
yang terdapat dalam diri orang yang bersangkutan seperti selektifitas dan (2)
faktor ekstern yang merupakan faktor di luar manusia yaitu:
1. Sifat objek yang dijadikan sasaran sikap.
2. Kewibawaan orang yang mengemukakan suatu sikap.
3. Sikap orang-orang atau kelompok yang mendukung sikap tersebut.
4. Media komunikasi yang digunakan dalam penyampaian sikap.
5. Situasi pada saat sikap terbentuk.
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulasi atau objek. Notoatmodjo (1997) menjelaskan bahwa
sikap itu mempunyai 3 komponen pokok yakni kepercayaan (keyakinan), ide dan
konsep terhadap suatu objek, kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu
objek dan kecenderungan untuk bertindak (tend to behave). Sikap merupakan
respon seseorang yang berhubungan dengan nilai, interest (perhatian), apresiasi
(penghargaan) persepsi (perasaan). Sikap secara nyata menunjukkan konotasi
adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-
hari merupakan reaksi yang bersifat emosional.
New Comb pada tahun 1967 menyatakan sikap merupakan kesiapan atau
kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu.
Sikap sebelum merupakan suatu tindakan atau, akan tetapi predisposisi melalui
suatu perilaku. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek
lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.
Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Notobroto, Hari Basuki dari
JIPTUNAIR/2004 tentang pengetahuan dan sikap masyarakat pedesaan terhadap
perawatan episiotomi menunjukkan hasil pengetahuan dan sikap masyarakat
masih kurang, dari hasil responden bidan desa sendiri ternyata sebagian besar
(70%) memiliki pengetahuan yang kurang mengenai episiotomi dan perawatan
luka episiotomi (10). Hasil penelitian tentang episiotomi pada tahun 2003 oleh
Norhayati Asnawi FK UNAIR di RSUD Zalecha Martapura Penelitian Cross
Sectional yang berjudul Hubungan antara Pengetahuan Perawat dan Pelaksanaan
Perawatan Luka Episiotomi pada Persalinan Normal, menunjukkan hasil
pelaksanaan perawatan luka episiotomi yang benar sesuai dengan standar pratik
perawatan oleh perawat. 28 orang (93%), sedangkan yang tidak trampil 2 orang
(7%).
Penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa ada hubungan antara
pengetahuan perawat dan pelaksanaan perawatan luka episiotomi terhadap praktik
perawatan luka episiotomi. Pelaksanan praktik yang benar dapat mencegah dan
mengurangi terjadinya infeksi. Sedangkan perbedaan dengan penelitian yang akan
dilakukan yaitu: penelitian ini akan meneliti hubungan tingkat pengetahuan dan
sikap ibu terhadap perawatan luka episiotomi postpartum dengan persalinan
normal, jadi fokus penelitian pada pengetahuan dan sikap ibu yang melakukan
pratik perawatan luka episiotomi sesuai dengan stantar asuhan keperawatan yang
ada di RSUD Dr. Abdul Azis Singkawang Kalimantan Barat.

C. PRATIK PERAWATAN LUKA EPISIOTOMI
Episiotomi adalah insisi pada perineum untuk memperbesar mulut vagina
dan merupakan suatu tindakan insisi yang disengaja pada perineum dan
vagina yang sedang dalam keadaan teregang (4,11).

1. Manfaat Episiotomi
Manfaat tindakan episiotomi yaitu: Mencegah robekan perineum,
Kemungkinan mengurangi tegangan otot penyangga kandung kemih
atau rectum yang terlalu kuat dan berkepanjangan, yang kemudian hari
menyebabkan inkontinensia urine atau prolaps vagina, Mengurangi lama
tahap kedua yang mungkin penting mengingat keadaan ibu, misalnya:
bradikardia yang menetap, memperbesar vagina jika diperlukan
manipulasi untuk melahirkan bayi (4, 11)
Hasil penelitian The American College of Obstetricians and
Gynecologists (ACOG) pada tahun 2004 diperkirakan 35% persalinan
pervagina berlangsung disertai episiotomi, tindakan episiotomi di lakukan
untuk mencegah robekan vagina yang berat atau mengurangi rasa sakit
(16).


2. Kontraindikasi
Adapun kontra indikasi dari tindakkan episiotomi yaitu: bila
persalinan tidak berlangsung pervaginam, bila terdapat kondisi untuk
terjadinya perdarahan yang banyak, seperti penyakit kelainan darah
maupun terdapatnya varises yang luas pada vulva dan vagina (4, 5).

3. Komplikasi
Komplikasi dari tindakan episiotomi yaitu: perluasan atau sobekan ke
dalam otot rektum ataupun rektum itu sendiri, perdarahan, infeksi,
bengkak, nyeri lokal (17).

4. Luka Episiotomi
Luka episiotomi dikategorikan jenis luka terbuka karena luka
episiotomi rusak kulit melampaui tebalnya kulit yang disebabkan oleh
suatu tindakan insisi pada mulut rahim untuk memperbesar mulut vagina
sehingga terjadi diskontinuitas suatu jaringan (4,12,13). Proses
penyembuhan luka episiotomi sama dengan luka operasi lain, kecepatan
penyembuhan tergantung pada letak dan kedalaman insisi. Kebanyakan
episiotomi sembuh pada minggu keenam postpartum (4, 14). Tanda-tanda
infeksi sama dengan (nyeri, merah, panas, bengkak, atau rabas) atau tepian
insisi tidak saling mendekat bisa terjadi. Penyembuhan harus berlangsung
dalam dua sampai tiga minggu (4).

5. Perawatan Luka Episiotomi
Ada beberapa tindakan untuk perawatan luka episiotomi yang dapat
dilakukan oleh ibu postpartum dengan prinsip bersih, yang bertujuan
untuk mengurangi nyeri, memberikan rasa nyaman dan mencegah infeksi,
yaitu (4, 11):
a. Membersihkan perineum dengan sabun ringan dan air hangat.
Bersihkan dari arah simpisis pubis sampai anus, kemudian keringkan
luka dengan handuk halus. Setelah itu gunakan pembalut dari arah
depan ke balakang untuk melindungi permukaan dalam pembalut dari
kontaminasi. Mengganti pembalut sebaiknya setiap kali buang air
besar dan buang air kecil, atau empat kali sehari. Cuci tangan sebelum
dan sesudah mengganti pembalut. Kaji jumlah dan tanda lokia pada
setiap penggantian pembalut.
b. Kompres es yang di kemas atau es kemasan.
Tindakan ini dilakukan setelah dua jam melahirkan tujuannya untuk
mengurangi pembentukan edema dan meningkatkan rasa nyaman,
caranya adalah tempatkan bungkusan es pada perineum dari bagian
depan ke belakang.





c. Botol percik.
Isi botol percik dengan air yang di hangatkan dengan suhu 38C.
Letakkan mulut botol pada pergelangan tangan atau antara kedua
tungkai lengan, sehingga percikan air sampai mencapai perineum saat
duduk di toilet. Setelah itu keringkan dengan tisu atau lap bersih. Ingat
kan ibu untuk menghindari kontaminasi dari daerah anus.
d. Duduk berendam.
Siapkan tempat berendam atau baskom yang bersih. Isi dengan air
hangat kira-kira 38C, berendam dengan mengencangkan otot gluteus,
pertahankan sejenak kemudian merelaksasinya setelah berendam.
Cara ini di gunakan sekurang-kurangnya dua kali sehari selama dua
puluh menit.

D. PERILAKU
Perilaku ibu saat akan dilakukan perawatan luka episiotomi menurut
Bobak (2004) yaitu ibu takut dan biasanya menolak untuk menyentuh lukanya
karena nyeri pada daerah perineum, tapi bagaimanapun perawat harus
melakukan perawatan luka episiotomi dengan cara memberikan pengertian
dan penjelasan tentang perawatan dan tujuan dari perawatan luka episiotomi
sehingga ibu bersedia untuk melakukan perawatan luka episiotomi dan
merubah perilakunya dari kurang baik menjadi baik (4, 5).
Perilaku adalah suatu tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat
diamati atau bahkan dapat dipelajari. Adapun dalam pengertian yang lain
disebut sebagai suatu aksi-reaksi organisme terhadap lingkungannya (8).
Dalam proses pembentukannya perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor
yang berasal dari dalam dan dari luar individu itu sendiri, faktor-faktor
tersebut antara lain: susunan saraf pusat, persepsi, emosi, proses belajar,
lingkungan dan sebagainya.
Perubahan perilaku dalam diri seseorang dapat diketahui melalui persepsi.
Persepsi adalah sebagai pengalaman yang dihasilkan melalui panca indera.
Motivasi yang diartikan sebagai dorongan dalam diri untuk bertindak untuk
mencapai tujuan juga dapat terwujud dalam bentuk perilaku. Perilaku dapat
juga timbul akibat emosi (8).
Perilaku dapat berubah dalam individu dengan melalui berbagai
mekanisme dan diakibatkan oleh banyak faktor. Menurut teori Hosland (1953)
proses perubahan perilaku sama dengan proses belajar, yang terdiri dari (8):
1. Stimulus (rangsang) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau
ditolak, Apabila stimulus tersebut tidak diterima atau ditolak berarti
stimulus itu tidak efektif mempengaruhi perhatian individu, dan berhenti
sampai di sini. Tetapi bila stimulus diterima oleh organisme berarti ada
perhatian dari individu dan stimulus tersebut efektif.
2. Apabila stimulus telah mendapat perhatian dari organisme diterima maka
ia mengerti stimulus ini dan dilanjutkan kepada proses berikutnya.
3. Setelah itu organisme mengolah stimulus tersebut sehingga terjadi
kesediaan untuk bertindak demi stimulus yang telah diterimanya
(bersikap).
4. Akhirnya dengan dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka
stimulus tersebut mempunyai efek tindakan dari individu (perubahan
perilaku).
Perilaku manusia sangatlah kompleks, dan mempunyai ruang lingkup
yang sangat luas. Benjamin Bloom (1908), seorang ahli psikologi pendidikan,
membagi perilaku itu dalam 3 domain (ranah/kawasan), meskipun kawasan-
kawasan tersebut tidak mempunyai batasan yang jelas dan tegas. Ketiga
domain/ranah perilaku tersebut meliputi ranah kognitif (cognitive domain),
ranah afektif (affective domain) dan ranah psikomotor (psychomotor domain).
Terbentuknya suatu perilaku baru, terutama pada orang dewasa, dimulai
pada domain kognitif, dalam arti dari subjek tahu terlebih dahulu terhadap
stimulus yang berupa materi atau objek yang di luarnya sehingga
menimbulkan pengetahuan baru pada subjek tersebut, dan selanjutnya
menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap subjek terhadap objek yang
diketahuinya itu. Akhirnya rangsangan, yakni objek yang telah diketahui dan
disadari sepenuhnya tersebut, akan menimbulkan respon lebih jauh lagi, yaitu
berupa tindakan (action) terhadap atau sehubungan dengan stimulus atau
objek tadi, namun demikian di dalam kenyataannya stimulus yang diterima
oleh subjek dapat langsung menimbulkan tindakan. Artinya seseorang dapat
bertindak atau berperilaku baru tanpa terlebih dahulu mengetahui makanan
dari stimulus yang diterimanya. Dengan kata lain tindakan (action) seseorang
tidak harus didasari oleh pengetahuan atau sikap.
Model pendekatan perilaku dari Lowrence Green (1980) menyebutkan
bahwa perilaku individu atau masyarakat dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu (7):
1. Faktor predisposisi (Predisposing Factors) adalah faktor yang mendahului
perilaku yang menjelaskan alasan atau motivasi untuk berperilaku, berupa
pengetahuan, sikap, kepercayaan, nilai, dan faktor demografi (status
ekonomi, umur, jenis kelamin, besar keluarga).
1. Faktor pendukung (enabling factors) adalah faktor yang memungkinkan
motivasi atau keinginan terlaksana termasuk lingkungan fisik (ada atau
tidaknya fasilitas/sumberdaya).
2. Faktor pendorong (Reinforcing Factors) adalah faktor yang memperkuat
perubahan perilaku seseorang yang dapat diakibatkan adanya sikap,
perilaku petugas, maupun tokoh masyarakat.
Model lain untuk mempelajari sikap individu terhadap suatu hal yang
baru adalah teori Innovation Decision Process yang terdiri dari 4 tahap, yaitu:
1. Tahap pengertian (Knowledge)
Pada tahap ini individu memperkenalkan akan adanya sesuatu yang baru
(inovasi) dan individu lalu memperoleh pengertian tentang inovasi
tersebut.
2. Tahap persuasi (Persuasion)
Setelah mengenal dan mempunyai sedikit pengertian tentang inovasi yang
diperkenalkan kepadanya, maka dalam individu tersebut akan tumbuh
sikap positif atau negatif terhadap inovasi tersebut.

3. Tahap pengambilan keputusan (decision making)
Sesudah individu mempunyai sikap positif atau negatif, tertarik atau tidak
tertarik, maka pada individu tersebut sampai pada tahap ini harus
memutuskan apakah ia menolak atau menerima inovasi tersebut.
4. Tahap pemantapan
Pada tahap ini individu mencari informasi-informasi lebih lanjut
sehubungan dengan keputusan yang telah diambil.
Kalau misalnya pada tahap pengambilan keputusan ia telah memutuskan
untuk menerima inovasi tersebut, maka pada tahap ini ia akan masih bertanya-
tanya kepada orang-orang yang mempunyai pengalaman tentang inovasi tersebut
untuk meyakinkan dirinya, apakah keputusan yang diambil sudah tepat. Jadi tahap
ini adalah tahap pemantapan keputusan yang diambil.










E. KERANGKA TEORI PENELITIAN












Gambar 1. Kerangka teori (5, 7, 8, 9)














Faktor Predisposisi :
1. Pengetahuan
2. Sikap
3. Motivasi
Faktor Pendukung :
1. Sikap pasien
2. Pendidikan
3. Perilaku
pasien
4. Fasilitas
5 Lingkungan
Faktor Pendorong :
1. Waktu
2. Program-
program
kesehatan
3. Perilaku
petugas kesehatan
Perilaku Merawat
Luka
BAB III
METODE PENELITIAN


A. KERANGKA KONSEP PENELITIAN












= Area yang diteliti


Gambar 2. Konsep Penelitian


B. HIPOTESIS
1. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu terhadap praktik perawatan
luka episiotomi postpartum pada persalinan normal di Rumah Sakit Dr.
Abdul Azis Singkawang Kalimantan Barat
2. Ada hubungan antara sikap ibu terhadap praktik perawatan luka
episiotomi postpartum pada persalinan normal dengan cara perawatan
Variabel Independen
Variabel Dependen
Pengetahuan
Sikap Ibu
Perilaku : Cara Merawat
Luka Episiotomi
Tingkat
Pendidikan
Keluarga
Sosial
ekonomi
Pengalama
n
Variabel Pengganggu
episiotomi setelah persalinan di Rumah Sakit Dr. Abdul Azis Singkawang
Kalimantan Barat.

C. JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN
Penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif dengan metode
deskriptif yang mengarah pada korelasi (19, 20). Berdasarkan hal tersebut,
peneliti bertujuan untuk menyajikan suatu fakta dan menunjukkan hubungan
antara satu variabel dengan variabel yang lain. Pengumpulan data
menggunakan teknik survei, serta tidak diberi perlakuan (19).
Dalam penelitian ini adalah pendekatan cross sectional atau dapat juga
disebut dengan studi potong lintang, dengan maksud bahwa pada penelitian ini
waktu pengukuran atau observasi data variabel independen hanya satu kali dan
pada satu saat (19, 20). Dengan pengertian kedua variabel tersebut hanya
dilakukan pengukuran satu kali, walaupun kemungkinan tidak dalam hari dan
waktu yang sama.

D. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN
1. Populasi
Sugiyono (2002) dalam Ridwan (2005) menyatakan bahwa populasi
adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang
menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (21). Populasi dalam penelitian
ini adalah seluruh ibu dengan episiotomi postpartum pada persalinan
normal di rumah sakit Abdul Azis Singkawang Kalimantan Barat dengan
jumlah populasi 69 orang pada bulan april tahun 2006.
2. Sampel
Arikunto (1998) dalam Ridwan (2005) mengatakan bahwa sampel
adalah bagian dari populasi (sebagian atau wakil populasi yang diteliti)
yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi.
Pengambilan sampel menggunakan teknik total populasi yaitu
pengambilan sampel dari keseluruhan populasi yang ada untuk dijadikan
sampel atau responden sehingga diharapkan penelian ini lebih akurat (22),
yaitu dengan menggunakan data yang didapat dari Rumah Sakit Abdul
Azis Singkawang Kalimantan Barat sebagai daftar calon responden.
Sampel dipilih dengan menggunakan kriteria inklusi dan ekslusi
a. Kriteria Inklusi
Nursalam (2003) menyebutkan kriteria inklusi adalah karakteristik
umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau
yang akan diteliti, sedangkan Azis (2003) mengatakan bahwa kriteria
inklusi adalah kriteria dimana subjek penelitian dapat dijadikan sampel
penelitian karena memenuhi syarat sebagai sample (19, 20).
Dalam penelitian ini kriteria inklusi dari responden yaitu:
1) Ibu dengan episiotomi pada postpartum persalinan normal.
2) Ibu tercatat sebagai pasien rumah sakit Abdul Azis Singkawang.
3) Ibu pendidikan sekolah dasar minimal bisa membaca dan menulis.
4) Ibu bersedia menjadi responden.
5) Ibu dengan tindakkan episiotomi yang pertama.
6) Ibu yang mampu menyediakan alat untuk perawatan.
b. Kriteria Eksklusi
Azis (2003) mendefinisikan kriteria eksklusi sebagai kriteria dimana
subjek penelitian tidak dapat dijadikan sampel karena tidak memenuhi
syarat sebagai sampel penelitian karena berbagai sebab, kriteria
eksklusi adalah sebagai berikut (21):
1) Ibu bersalin yang dirawat di ruang kebidanan tapi tidak di
episiotomi.
2) Ibu melahirkan dengan luka perineum tanpa episiotomi seperti
ruptur.
3) Ibu bersalin dengan tidak normal.
4) Ibu yang dirawat di ruang kebidanan tanpa episiotomi seperti
ruptur (menderita penyakit lain).
5) Ibu yang tidak mampu menyediakan alat untuk perawatan
episiotomi.

E. TEMPAT PENELITIAN DAN WAKTU
Penelitian dilakukan di ruang kebidanan Rumah Sakit Umum Dr. Abdul Aziz
Singkawang Kalimantan Barat selama minggu ketiga Desember 2006 sampai
Januari 2007.



F. DEFINISI OPERASIONAL, VARIABEL PENELITIAN, DAN SKALA
PENGUKURAN
1. Variabel Penelitian
a. Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau
berubahnya variabel dependen (variabel terikat). Variabel bebas dalam
penelitian ini adalah tingkat pengetahuan dan sikap ibu terhadap
perawatan luka episiotomi pada persalinan normal post partum.
Tingkat pengetahuan meliputi perawatan luka episiotomi setelah
melahirkan, tujuan perawatan luka episiotomi, cara melakukan
perawatan luka episiotomi. Sikap meliputi sikap ibu terhadap
perawatan luka episiotomi setelah melahirkan. Motivasi meliputi
motivasi ibu untuk melakukan perawatan luka episiotomi setelah
melahirkan (21, 22, 23, 24).
b. Variabel terikat
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi
akibat karena adanya variabel bebas (24). Variabel terikat dalam
penelitian ini adalah praktik ibu mengenai cara perawatan luka
episiotomi pada ibu persalinan normal post partum.



2. Table definisi operasional
No Variabel Definisi Operasional Cara dan Hasil
Ukur
Skala
1. Tingkat
pengetahuan ibu
tentang perawatan
luka episiotomi
pada persalinan
normal postpartum
Pengetahuan ibu tentang
perawatan luka episiotomi
pada persalinan normal post
partum meliputi pengertian
luka episiotomi, tujuan
perawatan, manfaat, cara
perawatan luka episiotomi
setelah persalinan.
Variabel ini diukur
dengan kuesioner II
yang terbagi
menjadi:
- pengetahuan tinggi
skor 20 25
- pengetahuan
rendah
skor 14-19




Nominal
2. Sikap ibu terhadap
perawatan luka
episiotomi setelah
persalinan normal
Jawaban dari pertanyaan
responden tentang perawatan
luka episiotomi setelah
persalinan dengan
menggunakan data Likert
yang terbagi menjadi:
- Sikap baik
- Sikap tidak baik
Variabel diukur
dengan cara
kuesioner III,
dengan
menggunakan skala
Likert yang terbagi
menjadi:
- Sikap baik
Skor 34-68
- Sikap tidak baik
Skor 0-33


Nominal
3 Praktik Ibu dalam
melakukan
perawatan luka
episiotomi setelah
melahirkan
Tindakan nyata yang pernah
dilakukan ibu dalam
melakukan perawatan luka
episiotomi setelah persalinan
yang terdiri dari kegiatan ibu
dalam merawat luka
episiotomi setelah persalinan.
Variabel ini diukur
dengan lembar
observasi yang
terbagi menjadi :
- Praktik benar
skor 20-38
- Praktik salah
skor 0-19
Nominal




G. ALAT DAN CARA PENGUMPULAN DATA

1. Alat Penelitian
Dalam penelitian ini instrumen penelitian yang digunakan adalah
kuesioner yang disampaikan langsung kepada responden untuk
mengetahui tingkat pengetahuan, sikap terhadap praktik perawatan luka
episiotomi pasca persalinan, selain kuesioner inti juga disertakan
kuesioner untuk karakteristik demografi dari responde (25, 26):
Kuesioner akan digunakan sebagai instrumen dalam penelitian ini
disusun oleh peneliti dengan pengembangan dari teori yang ada dengan
persetujuan ekspert dari tiga penguji yang ahli di bidang maternitas,
sehingga diperlukan uji validitas dan reabilitas untuk mengetahui
kevalidan dari instrumen tersebut (27).
a. Uji validitas
Penelitian ini menggunakan uji validitas isi (content validiti)
dimana para ahli diminta pendapatnya tentang instrumen yang telah
disusun. Mungkin para ahli memberi pendapat bahwa instrumen dapat
langsung digunakan tanpa ada perbaikan atau mungkin dirombak total
(24).
Setelah mengetahui hasil dari uji validitas tersebut dilakukan
analisis product moment untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan
kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi pengukurannya
(27).

Dengan rumus sebagai berikut :
r =
( ) ( ) ( )
( ) { } ( ) { }
2 2 2 2
Y Y . N X X . N
Y X XY N




Keterangan:
r : r hitung
X : jumlah skor tiap pertanyaan

Kuesioner diuji kepada 10 responden ibu hamil dengan perawatan
luka episiotomi postpartum persalinan normal. Kuesioner dinyatakan
valid jika korelasi yang diperoleh lebih dari nilai r kritis (25). Untuk
jumlah (N) 10 maka nilai r kritisnya adalah 0,614. dari hasil uji
validitas kepada 10 orang sampel dari 25 pertanyaan tentang
pengetahuan dan pertanyaan tentang sikap ada 17 pertanyaan, semua
dinyatakan valid karena korelasi yang diperoleh lebih dari koefisien,
di tabel nilai-nilai kritis r yaitu 0,614 pada taraf signifikansi 0,05
(5%).
b. Uji Reliabilitas
Penelitian ini menggunakan pengujian reliabilitas dengan internal
consistency, dilakukan dengan cara mencobakan instumen tertentu
yaitu alfa cronbach.


Rumus alfa cronbach:

=
2
2
1
1 St
Si
k
k
ri
Keterangan :
R1 : reabilitas
K : Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal.
: Jumlah varian butir
: Varian
Dari hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa untuk kuesioner
tingkat pengetahuan dinyatakan reliabel dengan koefisien r = 0,970
dan untuk kuesioner sikap r = 0,958 didapatkan juga hasil bahwa
kuesioner tersebut reliabel. Nilai reliabilitas tersebut lebih besar dari
nilai alpha tabel yaitu > 0,968 sehingga kuesioner dikatakan valid dan
relialibel (24).
2. Cara Pengumpulan Data
a. Prosedur pengumpulan data
Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
kuesioner secara langsung kepada responden dengan prosedur sebagai
berikut (26):
1) Peneliti mengajukan permohonan ijin dari Kepala Rumah Sakit Dr.
Abdul Aziz Singkawang Kalimantan Barat.
2) Peneliti menjelasan, maksud, dan tujuan penelitian kepada petugas
pelayan kesehatan Rumah Sakit Dr. Abdul Aziz Singkawang
Kalimantan Barat.
3) Setelah mendapatkan ijin dari Kepala Rumah Sakit Dr. Abdul Aziz
Singkawang Kalimantan Barat peneliti menghubungi Petugas
Pelayanan Kesehatan untuk teknis pengambilan sampel yang akan
dilakukan.
4) Peneliti akan berdiskusi dengan Petugas Pelayanan Kesehatan
untuk pengambilan sampel tentang perawatan luka episiotomi
dengan memberikan penjelasan tentang tujuan penelitian terlebih
dahulu pada awal kegiatan.
5) Kepada ibu yang bersedia menjadi responden maka diminta untuk
menandatangani lembar persetujuan menjadi responden dan
mengisi kuesioner yang telah disediakan peneliti dan setelah
selesai mengisi kuesioner langsung dikumpulkan kepada peneliti.
6) Calon responden yang menolak untuk dijadikan responden tidak
dipaksa untuk menjadi responden karena peneliti harus menghargai
sikap dan keputusan calon responden.






H. TEKNIK PENGOLAHAN DAN PENGUMPULAN
1. Teknik Pengolahan Data
Sutanto (2001) mengatakan agar data yang telah didapatkan
menghasilkan informasi yang benar, dilakukan pengolahan dengan 4
(empat) tahap pengolahan data (27), yaitu:
a. Editing
Pada tahap ini dilakukan pengecekan isian kuesioner apakah jawaban
yang ada di kuesioner sudah lengkap (semua jawaban berisi jawaban),
jelas (jawaban pertanyaan apakah tulisannya cukup jelas), relevan
(jawaban yang tertulis apakah relevan dengan pertanyaan), dan
konsisten.
b. Coding
Pada tahap ini dilakukan kegiatan merubah data berbentuk huruf
menjadi data berbentuk angka/bilangan. Kegunaan dari koding adalah
untuk mempermudah pada saat analisis data dan juga mempercepat
pada saat entry data.
c. Processing
Pada tahan ini dilakukan pemrosesan data agar dapat dianalisis.
Pemrosesan ini dilakukan dengan meng-entry data dari kuesioner ke
dalam program komputer. Dalam penelitian ini dilakukan
menggunakan komputer.




d. Cleaning
Tahap terakhir dari pengolahan data ini adalah pengecekan kembali
data yang sudah di-entry apakah ada kesalahan atau tidak. Pada tahap
ini ada beberapa cara meng-cleaning data yaitu: mengetahui missing
data, mengetahui variasi data, mengetahui konsistensi data, dan
membuat tabel silang.

2. Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan adalah dengan (27)
a. Univariat
Pada analisis univariat ini dilakukan pada tiap variable dari hasil
penelitian, untuk melihat distribusi dengan melihat prosentase masing-
masing variabel.
Dalam penelitian ini analisis univariat digunakan untuk mengetahui
proporsi dari masing-masing variabel penelitian meliputi data
demografi, tingkat pengetahuan, sikap dan praktik perawatan luka
episiotomi.
b. Bivariat
Untuk mendapatkan korelasi antara pengetahuan ibu tentang
perawatan luka episiotomi pasca persalinan dengan praktik cara
merawat luka, antara sikap ibu tentang perawatan luka episiotomi
pasca persalinan dengan praktik cara merawat luka episiotomi pasca
persalinan, dan korelasi antara motivasi ibu dengan praktek perawatan
luka episiotomi setelah melahirkan serta data yang dimiliki ordinal
dengan nominal, maka menggunakan uji Chi Square (X
2
).
Rumus:
X
2
=
( )
fh
fh fo
2



Keterangan :
X
2
: Chi kuadrat
fo : Frekuensi yang diobservasi
fh : Frekuensi yang diharapkan

Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang praktik
perawatan luka episiotomi setelah persalinan dengan menggunakan
pertanyaan benar dan salah. Adapun jumlah pertanyaan sebanyak 25 item
dan jumlah skor tertinggi 25, dengan ketentuan skor 1 apabila jawaban
benar dan skor 0 apabila jawaban salah.
Kuesioner untuk mengetahui sikap responden terhadap praktik
perawatan luka episiotomi setelah persalinan, kuesioner ini berisi
pertanyaan sebanyak 17 dengan total skor tertinggi 68, dengan
menggunakan skala likert dan kategorinya adalah: Sangat Setuju (SS),
Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS), Skor
jawaban dan pernyataan responden adalah: SS=4, S=3, TS=2, STS=1.

sikap ibu dikatakan baik apabila skor total dari jawaban pertanyaan lebih
dari atau sama dengan 51, sikap ibu dikatakan tidak baik apabila skor total
dari jawaban pertanyaan kurang dari 51. Lembar observasi digunakan
untuk mengetahui praktik responden dalam melakukan perawatan luka
episiotomi postpartum dengan persalinan normal. Kuesioner ini berisi 2
item hal yang perlu di observasi untuk mengukur kemampuan ibu dalam
melakukan praktik perawatan luka episiotomi postpartun persalinan
normal dengan skor tiap item 6 dengan total skor 30. Dengan rincian skor
per item: nomor 1 point a sampai f skornya adalah 3 jumlah skor 18,
sedangkan nomor 2 point a sampai d skornya 5 jumlah skor 20 jadi total
skor 38. Praktik perawatan luka episiotomi dikatakann benar apabila skor
total lebih dari atau sama dengan 20, dan skor salah apabila skor total
kurang dari 20.

H. ETIKA PENELITIAN

Dalam melakukan penelitian ini, peneliti perlu mendapatkan
rekomendasi dari institusi untuk mengajukan permohonan ijin kepada
Kepala Rumah Sakit Dr. Abdul Azis Singkawang Kalimantan Barat.
Masalah etika dalam keperawatan merupakan masalah yang sangat penting
untuk diperhatikan mengingat ilmu keperawatan berhubungan langsung
dengan manusia. Oleh karena itu segi etika harus diperhatikan karena
manusia mempunyai hak asasi dalam kegiatan penelitian. Masalah etika
dalam penelitian meliputi (25):
1. Informed consent
Informed consent merupakan cara persetujuan antara peneliti dengan
responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan
Informed consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan
dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden.
Tujuan dari informed consent adalah agar subjek mengerti maksud dan
tujuan penelitian, mengetahui dampaknya, jika subyek bersedia maka
mereka harus menandatangani lembar persetujuan dan jika responden
tidak bersedia maka peneliti harus menghormati hak subjek.
2. Anonimity
Anonimity atau tanpa nama merupakan masalah dalam penelitian
keperawatan dengan cara tidak memberikan nama responden pada
lembar alat ukur hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan
data.
3. Confidentiality
Confidentiality atau kerahasiaan merupakan masalah etika dengan
menjamin kerahasiaan dari hasil penelitian baik informasi maupun
masalah-masalah lain, semua informasi yang telah dikumpulkan
dijamin kerahasiaan oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang
akan dilaporkan pada hasil riset.
BAB IV
HASIL PENELITIAN




Pada bab ini akan membahas hasil penelitian tentang hubungan pengetahuan
dan sikap ibu terhadap praktik perawatan luka episiotomi postpartum dengan
persalinan normal diruang Kebidanan RSUD Dr. Abdul Aziz Singkawang.
Adapun penyajian hasil meliputi, karakteristik tingkat pengetahuan, sikap, dan
hubungan antara pengetahuan ibu terhadap praktik, sikap ibu terhadap praktik
perawatan luka episiotomi postpartum pada persalinan normal.
Data persalinan yang didapat dari ruang Kebidanan RSUD Dr. Abdul Aziz
Singkawang Kalimantan Barat pada tanggal 23 Desember 2006 sampai dengan 7
Januari 2007 terdapat 100 kasus persalinan, diantaranya peneliti mendapatkan 31
sampel ibu dengan perawatan luka episiotomi postpartum dengan persalinan
normal.
Tingkat signifikan ditentukan dengan menggunakan uji statistik
menggunakan nilai alpha 5% (0,05) dengan tingkat kemaknaan dalam penelitian
ini P<0,05 maka H ditolak berarti ada hubungan yang bermakna antara dua
variabel yang diukur, bila P>0,05 maka H diterima artinya tidak ada hubungan
yang bermakna antara variabel yang diukur.




A. Karakteristik responden
Ibu dengan perawatan luka episiotomi postpartum pada persalinan normal di
Ruang Kebidanan RSUD Dr. Abdul Aziz Singkawang, yang terdiri dari:
karakteristik responden, jumlah responden dan prosentase
Tabel 4.1
Distribusi frekuensi responden pada bulan Desember 2006-Januari 2007
(N=31).
o Karakteristik responden Jumlah responden Prosentase (%)
1. Umur (tahun)
<20
21-25
26-30
>30

8
16
5
2

25,8
51,6
16,1
6,5
Total 31 100
2. Tingkat pendidikan
SD
SLTP
SLTA
AKADEMI/PT

7
12
9
3

22,6
38,7
29
9,7
Total 31 100
3. Pendidikan kesehatan
pernah

31

100
Total 31 100
4. Pendapatan keluarga
perbulan(rupiah)
<500.000
500.000-1 jt
1,1 jt-1,5 jt
1,6 jt-2 jt
>2jt


5
7
3
6
10


16,1
22,6
9,7
19,4
32,3
Total 31 100
5. Persalinan
Pertama
Kedua

26
5

83,9
16,1
Total 31 100
6. Pengalaman episiotomi
Pertama
Kedua

26
5
83,9
16,1
Total 31 100

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa frekuensi terbesar umur respon
berada pada umur antara 21-25 tahun, yaitu sejumlah 51,6%, frekuensi terbesar
kedua pada umur <20 tahun berjumlah 25,8%. frekuensi terbesar ketiga pada
umur 26-30 tahun yaitu 16,1% dan yang paling kecil pada umur >30 tahun
berjumlah 6,5%.
Frekuensi terbesar tingkat pendidikan yaitu tingkat pendidikan SLTP sebesar
38%, frekuensi terbesar kedua yaitu pendidikan SLTA sebesar 29%, yang ketiga
pendidikan SD yaitu sebesar 22,6% yang paling kecil adalah pendidikan
AKADEMI/PT sebesar 9,7%. Frekuensi pendidikan kesehatan tentang praktik
perawatan luka episiotomi postpartum dengan persalinan normal berjumlah 100%.
Frekuensi terbesar pendapatan keluarga adalah 32% yang penghasilannya
lebih dari dua juta rupiah, peringkat kedua terbesar 22,6% penghasilannya antara
lima ratus sampai satu juta rupiah, peringkat tiga yaitu 19,4% penghasilannya
antara satu koma enam juta sampai dua juta rupiah, peringkat empat 16,1%
penghasilannya kurang dari lima ratus ribu rupiah dan yamg terakhir 9,7%
penghasilannya satu koma satu juta sampai satu koma lima.
Frekuensi persalinan ibu dengan perawatan luka episiotomi postpartum
persalinan normal yang pertama, sebanyak 26 orang (83,9%) sedangkan yang
persalinan kedua hanya 5 orang (16,1%). Begitu juga dengan pengalaman
persalinan pertama berjumlah 83% dan pengalaman yang kedua berjumlah 16,1%.



B. Tingkat pengetahuan, sikap dan praktik ibu terhadap praktik perawatan
luka episiotomi pospartum dengan persalinan normal di Ruang
Kebidanan RSUD Dr. Abdul Aziz Singkawang Kalimantan Barat
Tabel 4.2
Distribusi frekuensi responden,
pada bulan Desember 2006 januari 2007 (N=31).
No Kategori Jumlah Prosertase (%)
1. Pengetahuan
Tinggi
Rendah

24
7

77,4
22.6
Total 31 100
2. Sikap
Baik
Tidak baik

25
6

80,6
29,4
Total 31 100
3. Praktik
Benar
Salah

24
7

77,4
22,6
Total 31 100

Dari tabel dapat diketahui bahwa sebagian besar ibu memiliki
tingkat pengetahuan yang tinggi tentang perawatan luka episiotomi
adalah sejumlah 24 orang (77,4%). Sedangkan ibu yang memiliki
tingkat pengetahuan rendah sejumlah 7 orang (22,6%). Frekuensi sikap
ibu yang baik terhadap praktik perawatan luka episiotomi sejumlah 25
orang (80,6%) dan sikap yang tidak baik berjumlah 6 orang (29,4%).
Frekuensi yang melakukan praktik perawatan luka episiotomi secara
benar adalah 24 orang (77,4%) dan yang melakukan praktik perawatan
luka episiotomi secara salah adalah 7 orang (22,6%).
C. Hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap terhadap praktik
perawatan luka episiotomi postpartum dengan persalinan norma di RSUD
Dr. Abdul Aziz Singkawang Kalimantan Barat
Tabel 4.3. Hubungan antara tingkat pegetahuan dan sikap ibu
terhadap praktik perawatan luka episiotomi dengan
persalinan normal
pada bulan Desember 2006- Januari 2007 (N=31).
Praktik perawatan
Luka episiotomi
No Kategori
Benar Salah
Total P value
1. Pengetahuan
Tinggi
Rendah

21 (87,5%)
3 (42,9%)

3 (12,5%)
4 (57,1%)

24 (100%)
7 (100%)
Total 24 (77,4%) 7 (22,6%) 31 (100%)
0,049
2. Sikap
Baik
Tidak baik

22 (88,0%)
2 (33,3%)

3 (12,0%)
4 (66,7%)

25 (100%)
6 (100%)
Total 24 (77,4%) 7 (22,6%) 31 (100%)
0,020
= 0,05
Berdasarkan tabel 4.3. dapat diketahui bahwa ibu yang memiliki
tingkat pengetahuan tinggi, melakukan praktik perawatan luka
episiotomi secara benar yaitu 21 orang (87,5%) yang melakukan secara
salah 3 orang (12,5%). Sedangkan yang memiliki pengetahuan rendah
yang dapat melakukan praktik keperawatan secara benar ada 3 orang
(42,9%), secara salah ada 4 orang (57,1%). Dari hasil perhitungan
statistik dengan menggunakan rumus Chi Square didapatkan nilai P
value= 0,049. nilai tersebut lebih kecil jika dibanding dengan nilai
signifikan yaitu 0,05. Ini berati P value lebih kecil daripada nilai
signifikan maka H ditolak dan H diterima, dengan demikian dapat
dikatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu
terhadap praktik perawatan. Pada tabel 4.3. menunjukkan bahwa ibu
yang memiliki sikap yang baik terhadap praktik perawatan luka
episiotomi yang dapat melakukan praktik secara benar ada 22 orang
(88,0%) diantaranya melakukan praktik salah ada 3 orang (12,0%). Jika
dibanding dengan ibu yang memiliki sikap tidak baik dan melakukan
praktik secara benar terdapat 2 orang (33,3%) yang melakukan praktik
salah ada 4 orang (66,7%). Dari perhitungan statistik dengan
menggunakan rumus Chi Square didapatkan nilai P value=0,020. Nilai
tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai signifikan yaitu
0,05 karena P value lebih kecil daripada nilai signifikan, maka ada
hubungan yang signifikan antara sikap ibu terhadap praktik perawatan
luka episiotomi postpartum dengan persalinan normal.











BAB V
PEMBAHASAN

Berikut ini akan dibahas mengenai beberapa hal yang terkait dengan hasil
penelitian antara lain tentang: tingkat pengetahuan, sikap, praktik perawatan luka
episiotomi postpartum dengan persalinan normal serta hubungan antara tingkat
pengetahuan ibu terhadap praktik perawatan luka episiotomi postpartum dengan
persalinan normal, hubungan antara sikap ibu terhadap praktik perawatan luka
episiotomi postpartum dengan persalinan normal.

A. Tingkat pengetahuan ibu tentang praktik perawatan luka episiotomi
dengan persalinan normal
Berdasarkan hasil penelitian perolehan data dapat diketahui bahwa tingkat
pengetahuan ibu tentang praktik perawatan luka episiotomi sebagian besar
(77,4%) berpengetahuan tinggi dan sebagian kecil (22,6%) berpengetahuan
rendah. Apabila dikaitkan dengan pendidikan responen yang paling banyak
adalah tingkat SLTP yaitu 38,7% sebanyak 12 orang, ini berarti tingkat
pendidikan rendah, walaupun demikian bukan berarti bahwa tingkat
pendidikan yang rendah akan selalu diikuti dengan tingkat pengetahuan dan
perilakunya tetapi bagaimana cara pola fikir responden dalam menerima dan
mencari wawasan untuk mendapatkan pengetahuan (8). Notoatmojo
berpendapat bahwa pengetahuan merupakan hasil tahu setelah melakukan
pengindraan terhadap suatu subjek. Hal ini berarti bahwa pengetahuan tentang
praktik perawatan episiotomi didapatkan baik dari pendidikan kesehatan
berupa penyuluhan dari petugas kesehatan dan pengalaman yang diperoleh
oleh responden (8).
Dari segi pengalaman misalnya ibu dengan perawatan episiotomi
pospartum dengan persalinan normal yang kedua, dimana ibu pernah
mengalami persalinan pertama dan pernah mengalami gejala infeksi pada luka
episiotomi, tentunya ibu akan lebih berhati-hati menjaga kebersihan luka
episiotomi. Dari pengalaman tersebut mungkin ibu bisa berbagi cerita dengan
ibu postpartum lain supaya mau menjaga kebersihan diri terutama di daerah
luka episiotomi. Pengetahuan juga bisa diperoleh melalui media masa seperti
koran, radio, TV dan internet.
Dengan demikian dari hasil penelitian mengenai tingkat pengetahuan ibu
tentang praktik perawatan luka episiotomi postpartum dengan persalinan
normal menunjukkan bahwa ibu sudah mengetahui atau sudah memiliki
pengetahuan tentang praktik perawatan luka episiotomi.

B. Sikap ibu terhadap praktik perawatan luka episiotomi postpartum
dengan persalinan normal
Hasil penelitian tentang sikap ibu terhadap praktik perawatan luka
episiotomi postpartum dengan persalinan normal menyebutkan bahwa
sebagian besar responden (80,6%) memiliki sikap yang baik. Menurut Alport
(1945) dalam Notoatmojo 2003 menyebutkan bahwa sikap merupakan
pernyataan kesiapan secara fisik dan mental yang terorganisasi tentang suatu
keahlian dan kesediaan mengusahakan untuk melakukan suatu hal (8).
Menurut Newcomb (1957) sikap merupakan predisposisi suatu tindakan yang
dilakukan seseorang dan reaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai
suatu penghayatan terhadap objek (7), teori ini sesuai dengan hasil penelitian
sikap ibu terhadap praktik perawatan luka episiotomi postpartum dengan
persalinan normal dapat diartikan bahwa ibu memiliki konsep berfikir yang
baik karena ibu memiliki kesiapan dan kesediaan secara mental dan fisik
untuk melakukan perawatan luka episiotomi secara benar.
Hasil penelitian tentang sikap tidak baik berjumlah 6 oramg yaitu 29,4%.
Menurut Purwanto pembentukan sikap tidak demikian saja, melainkan melalui
suatu proses tertentu, melalui kontak sosial terus menerus antara individu lain
dan sekitarnya misalnya ada faktor intern yaitu faktor-faktor yang terdapat
dalam diri orang yang bersangkutan, dan faktor ekstern yaitu faktor yang di
luar manusia (7). Bila dilihat kondisi pasien pada saat melakukan pengisian
kuesioner perawatan luka kurang efisien dan kurang teliti dalam membaca
karena mengingat kondisi fisik dan psikologis kurang baik sehingga tidak bisa
berkonsentrasi penuh dalam pengisian kuesioner. Hal ini terjadi hanya pada
sebagian kecil ibu postpartum saja, sedangkan sebagian besar bisa melakukan
pengisian kuesioner dengan baik.



C. Praktik perawatan luka episiotomi postpartum dengan persalinan
normal.
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa jumlah ibu yang melakukan
praktik perawatan luka episiotomi secara benar lebih banyak yaitu 24
responden (77,4%) yang melakukan praktik secara salah sebanyak 7
responden (22,6%). Untuk bisa melakukan praktik secara benar dalam hal ini
masuk dalam domain psikomotor (praktik) diperlukan adanya faktor
pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain fasilitas (8).
Selain itu psikomotor juga memiliki beberapa tingkatan yaitu persepsi, respon
terpimpin, mekanisme, dan adopsi (8). Hal ini berhubungan dengan hasil
penelitian, karena di ruang kebidanan RSUD Dr. Abdul Aziz Singkawang
sudah mulai menerapkan perawatan luka episiotomi langsung kepada ibu
postpartum dengan episiotomi, setelah ibu kembali ke ruang nifas perawat
kembali memberi penyuluhan tentang perawatan luka episiotomi kepada
pasiennya dengan menyediakan fasilitas langsung, misalnya alat peraga yang
berhubungan dengan perawatan luka episiotomi. Setelah itu pasien diminta
untuk mengulanginya kembali tentunya dengan bimbingan perawat atau
bidan. Adapun standar prosedur operasional (SOP) pada asuhan keperawatan
yang digunakan diruang bersalin RSUD Dr. Abdul Azis adalah menggunakan
teknik membersihkan, sayangnya SOP tersebut belum bisa dilihat karena
masih dalam tahap revisi. Dari hasil wawancara dengan kepala kebidanan,
beliau mengatakan bahwa intinya praktik perawatan luka episiotomi sama
dengan kuesioner observasi yang dibuat oleh teori bobak yaitu teknik
membersihkan, berdasarkan observasi langsung cara melakukan praktik
perawatan luka episiotomi memang sesuai dengan teori bobak dan sesuai
dengan lembar observasi yang peneliti buat.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktik perawatan luka
episiotomi postpartum dengan persalinan normal dilakukan secara benar, ada
faktor pendukung yaitu kesediaan petugas kesehatan dalam memberikan
penyuluhan kesehatan kepada semua responden, setelah itu dipraktekkan
secara langsung kepada responden atau pasien, sehingga tingkat pengetahuan
pasien bertambah dan prilaku menjadi baik karena mulai menyadari
pentingnya perawatan luka episiotomi bagi ibu (4, 8).

D. Hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap praktik perawatan
episiotomi postpartum dengan persalinan normal
Hasil penelitian antara tingkat pengetahuan ibu tentang praktik perawatan
luka episiotomi postpartum dengan persalinan normal yang dilakukan ibu
menunjukkan bahwa adanya hubungan yang bermakna P value = 0,029, hal
ini berarti bahwa tingkat pengetahuan yang tinggi dapat mempengaruhi cara
praktik perawatan luka episiotomi postpartum dengan persalinan normal
dilakukan secara benar, karena pengetahuan merupakan domain yang sangat
penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (perilaku) dan perilaku yang
didasari oleh pengetahuan akan lebih baik dari pada prilaku yang tidak
didasari pengetahuan (7). Sesuai dengan hasil penelitian bahwa pasien tertarik
dengan perawatan luka episiotomi karena sering diberikan penyuluhan secara
langsung, selain caranya yang mudah dan ekonomis, bagi yang tidak mampu
akan ditanggung biaya sesuai dengan ketentuan rumah sakit.
Di Rumah Sakit Dr. Abdul Aziz Singkawang di ruang Kebidanan
melakukan tehnik membersihkan dengan sabun ringan dan air hangat kepada
semua pasien dengan luka epsiotomi dengan cara melakukan penyuluhan
langsung ke pasien setelah persalinan kemudian pasien dibantu untuk
mengulangi kembali, teknik ini mudah untuk dilakukan oleh pasien dan
biayanyapun ringan dan bisa dilakukan oleh semua golongan, dari tingkat
pendidikan SD sampai perguruan tinggi. Menurut peneliti dengan
diadakannya penyuluhan yang sering kemudian dipraktikkan langsung secara
terus menerus kepada pasien akan dapat membantu atau menambah
pengetahuan pasien sehingga pasien sadar untuk melakukan praktik secara
benar.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Norhayati Asnawi FK
UNAIR di RSUD Zalecha Martapura tahun 2003 yang berjudul hubungan
antara pengetahuan perawat dan pelaksanaan perawatan luka episiotomi pada
persalinan normal, menunjukkan hasil 24 orang (80%) memiliki tingkat
pengetahuan tinggi dan tingkat pengetahuan rendah ada 6 orang (20%) hasil
uji statistik hasil P=0,002 maka H0 ditolak berarti ada hubungan yang
bermakna antara pengetahuan terhadap praktik perawatan luka episiotomi.
Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum mengadopsi perilaku baru
dalam diri seseorang akan terjadi proses yang berurutan, yaitu kesadaran,
dimana pasien mulai menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu
terhadap stimulus, tertarik dimana subjek mulai tertarik terhadap
stimulus/objek tersebut disini sikap subjek sudah mulai timbul, evaluasi, pada
tahap ini mulai menimbang-nimbang baik buruknya stimulus terhadap dirinya,
setelah itu subjek mulai melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang
dikehendaki oleh stimulus (trial), adaption adalah dimana subjek telah
berperilaku sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap
stimulus (7).

E. Hubungan sikap ibu terhadap praktik perawatan luka episiotomi
Berdasarkan hasil penelitian antara sikap ibu terhadap praktik perawatan
luka episiotomi postpartum dengan persalinan normal yang dilakukan ibu
menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna P value= 0,014.
Sebagaimana teori yang dikemukakan oleh Allen, Guy, dan Edgley (1980)
yang mendefinisikan sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi, atau
kesiapan antisipasif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dengan situasi
sosial. Hal ini juga selaras dengan teori yang dikemukakan oleh Secord
Bacman (1964) yang memiliki kerangka penelitian bahwa sikap merupakan
konstelasi komponen-komponen kognitif, dan afektif dan konatif yang saling
berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku terhadap suatu
objek. Salah seorang ahli psikologi sosial Newcom (1957), dikutip
Notoatmodjo (1997) menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau
kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu
(7, 8). Teori ini sesuai dengan hasil penelitian karena setelah pasien
mendapatkan penyuluhan maka pengetahuan pasien akan bertambah, hal ini
akan meimbulkan kesadaran bagi pasien untuk berfikir dan menentukan sikap
sehingga siap untuk melakukan perawatan episiotomi.
Terbentuknya perilaku baru, terutama pada orang dewasa dimulai pada
domain kognitif, dalam arti dari subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus
yang berupa materi atau objek yang diluarnya sehingga menimbulkan
pengetahuan baru pada subjek tersebut, dan selanjutnya menimbulkan respon
batin dalam bentuk sikap subjek terhadap objek yang diketahuinya itu.
Akhirnya rangsangan, yakni penyuluhan kesehatan tentang praktik perawatan
luka episiotomi yang diberikan telah diketahui dan disadari akan
menimbulkan respon lebih jauh lagi dalam mengambil sikap, yaitu berupa
tindakan yaitu berupa melakukan praktik perawatan luka episiotomi (7).
Menurut peneliti sikap merupakan faktor penting dalam pembentukan
prilaku seseorang karena dengan memiliki sikap yang baik kemungkinan
besar praktik yang dilakukan secara benar akan lebih banyak. Adanya
hubungan yang signifikan antara sikap terhadap praktik perawatan luka
episiotomi postpartum dengan persalinan normal dalam hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa responden sudah memperhatikan stimulus yang diterima
dan memiliki kecendrungan untuk berperilaku sesuai stimulus yang pernah
didapatnya.
Ada beberapa faktor yang mendukung perubahan prilaku salah satunya
adalah dengan memberi keterangan atau informasi dengan cara
memperlihatkan standar operasional praktik di setiap ruangan nifas dan ruang
perawat, misalnya dengan menempelkan prosedur praktik perawatan luka
episiotomi didinding ruangan nifas, disamping tempat tidur atau diruang
keperawatan. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pasien melihat dan
mengingat kemudian mencatatnya untuk perawatan dirumah, dengan
demikian perilaku pasien akan terbentuk dan menyadari pentingnya perawatan
luka episiotomi.

















BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat peneliti sampaikan dari hasil penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Tingkat pengetahuan ibu di RSUD Dr. Abdul Aziz Singkawang Kalimantan
Barat tentang praktik perawatan luka episiotomi postpartum dengan persalinan
normal sebagian besar tinggi yaitu sebanyak 24 orang (77,4%).
2. Sikap ibu terhadap praktik perawatan luka episiotomi postpartum dengan
persalinan normal sebagian besar tinggi yaitu sebanyak 25 orang (80,6%).
3. Praktik perawatan luka episiotomi postpartum dengan persalinan normal yang
dilakukan ibu secara benar sebanyak 24 orang (77,4%).
4. Ada hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan tentang perawatan luka
episiotomi dengan persalinan normal terhadap praktik perawatan luka
episiotomi nilai P= 0,049.
5. Ada hubungan bermakna antara sikap terhadap praktik perawatan luka
episiotomi dengan persalinan normal, sesuai hasil uji statistik menunjukkan
nilai P=0,020.




B. SARAN
1. Bagi petugas kesehatan
Perlu dilanjutkan pemberian penyuluhan tentang perawatan luka
episiotomi, dan lebih baik jika penyuluhan yang diberikan dengan
menggunakan metode baru misalnya dengan teknik menggunakan botol
percik.
2. Bagi institusi pendidikan
Perlu adanya praktik modifikasi pada perawatan luka episiotomi
misalnya melakukan kerja sama dengan pihak rumah sakit untuk
perawatan rumah (home care).
3. Bagi ibu postpartum
Bagi ibu atau responden sebaiknya berusaha bertanya dan mencari
informasi yang benar tentang perawatan luka episiotomi sehingga bisa
mendapatkan informasi yang benar, misalnya dengan meminta lembar
prosedur perawatan luka episiotomi untuk perawatan rumah kepada
perawat ruangan atau dengan mencari informasi lewat internet dan masih
banyak lagi cara mencari informasi.
4. Bagi peneliti berikutnya
Peneliti berikutnya dapat melakukan penelitian eksperimen tentang
praktik perawatan luka episiotomi. Misalnya tentang efektifitas perawatan
luka episiotomi dengan menggunakan salap bethadin.


DAFTAR PUSTAKA


1. Ardhive. Karakeristik Kematian Maternal. http://www.mail.ardhive.com/2003.
Diakses tanggal 15 September 2006.
2. Wikipedia. Episiotomi. http://www.en.wikipedia.com/2005
Diakses tanggal 20 September 2006.
3. Edu. Make Every Mother And Child Count. http://www.ui.edu.com/2005
Diakses tanggal 20 September 2006.
4. Bobak, Lowdermik and Jensen. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Edisi 4.
Edisi 4. EGC. Jakarta. 2004.
5. Hanafiah. Puerperuim. http://www.hanafiah.com/file/2004
Diakses tanggal 21 september. 2006.
6. Iman. Pasca Bersalin. http://www.tabloid-nakita.com/khasnah/2006
diaskes tanggal 27 septemner 2006.
7. Notoatmodjo, S. Pendidikan Dan Prilaku Kesehatan.Rineka Persada.
Jakarta. 2002.
8. Notoatmidjo, S. Prinsip-prinnsip Dasar Ilmu Kesehatan. Masyarakat. Edisi 3.
Rineka Cipta. Jakarta. 2003.
9. Azwar, Azrul. Pengantar administrasi kesehatan. Edisi 3.
Bina Rupa Aksara Jakarta. 1996.
10. Notobroto, Hari Basuki. Pengetahuan Dan Sikap Masyarakat Pedesaan
Terhadap Episiotomi. http://www.JIPTUNAIR.com/file/2004.
11. Liewellyn, Jones. D. Dasar-dasar Obstertri Dan Ginekologi. Edisi 6.
Hipokrates. Jakarta. 2001.
12. Mochtar, Rustam. Sinopsis Obtertri. Jilid 1. EGC. Jakarta. 1998.
13. Black M, Joyce And Jacob Mattasarin Esther. Medical Surgical Nursing:
Clinical Management ForCompany. Philadelphia. 1997.
14. Hamilto, Persis Mary. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. Edisi 6.
EGC. Jakarta. 1995
15. Azwar. Saifudin. Sikap manusia: Teori Dan Pelaksanaannya. Edisi Dua.
Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2002.
16. Hartman. Episiotomi. http://www.kalbe.co.id.com/file/2004.
Diaskes tanggal 25 Nopember 2006.
17. Manuaba, Ida Bagus Gde. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan Dan
Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. EGC. Jakarta. 1998.
18. Norhayati Asnawi. Hubungan Antara Pengetahuan Perawat Dan
Pelaksanaan Perawatan Lika Episiotomi Pada Persalinan Normal.
PSIK FK UNAIR. 2003.
19. Manuaba, Ida Bagus Gde. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan Dan
Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. EGC. Jakarta. 1998.
20. Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-dasar metodelogi Penelitian Klinis.
Jakarta: FKUI 1995.
21. Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-dasar metodelogi Penelitian Klinis.
Jakarta: FKUI 1995.
22. Riduwan. Belajar Mudah Penelitian: Untuk Guru Karyawan dan Pemula
Cetakan 1. Alfabeta Bandung. 2005.
23. Subana M. Surajat. Dasar-dasar Penelitian Ilmiah. CV Pustaka.
Bandung. 2001.
24. Sugiono. Statistik Untuk penelitian. Cetakan Ke Empat. CV Alfabeta. 2002.






25. Nursalam. Konsep Dan Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmi Keperawatan
Pedolam Skripsi, tesis, Dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Edisi Pertama
Salemba Medika. Jakarta. 2003.
26. Pariani S, Nursalam. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan.
CV Info Medika. Jakarta. 2001.
27. Purwanto, N. Psikologi Pendidikan.CV Remaja Rosdakarya
Bandung. 1999.

















HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU
TERHADAP PERAWATAN LUKA EPISIOTOMI PADA PERSALINAN
NORMAL POSTPARTUM DIRUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT UMUM
DR.ABDUL AZIS SINGKAWANG KALIMANTAN BARAT


KUESIONER 1
IDENTITAS RESPONDEN

Petunjuk pengisian:
Isilah pertanyan di bawah ini dengan mengisi titik atau mengisi kotak yang
tersedia dengan jawaban yang dipilih dari pilihan jawaban yang tersedia.

Pertanyaan:

1. Kode responden :

2. Umur :

3. Pendidikan terakhir:
1. SD
2. SLTP
3. SLTA
4. AKADEMI/Perguruan tinggi

4. Pernah mengikuti penyuluhan tentang perawatan luka episiotomi
bekas pengguntingan luka untuk memperlebar jalan lahir setelah
melahirkan:
1. Pernah
2. Tidak pernah




5. Pendapatan keluarga perbulan:
1. Kurang dari Rp. 5.00.000,00 perbulan
2. Antara Rp. 500.000,00 Rp. 1.000.000,00 perbulan
3. Antara Rp. 1,1 juta-1,5 juta
4. Antara Rp. 1,6 juta- 2 juta
5. > 2 juta

6. Persalinan keberapa:
1. Pertama
2. Kedua
3. Ketiga

7. Pengalaman episiotomi yang
1. pertama
2. Kedua
3. ketiga























KUESIONER II

Petunjuk Pengisian:
Isilah kolom disamping kanan pertanyaan dengan menggunakan tanda cek ()
pada:
Kolom B jika pernyataan benar
Kolom S jika pernyataan salah

NO PERNYATAAN B
(BENAR)
S
(SALAH)
1. Episiotomi atau digunting merupakan
suatu tindakan untuk memperlebar jalan
lahir

2. Manfaat episiotomi atau digunting adalah
mencegah robekan

3. Luka jahitan sebaiknya dilakukan
perawatan setelah melahirkan

4. Tujuan perawatan luka jahitan untuk
mencegah terjadinya infeksi

5. Akibat dari tindakan pengguntingan pada
jalan lahir akan terasa nyeri/sakit

6. Cara membersihkan luka jahitan yaitu
dari arah depan ke belakang

7. Membersihkan luka jahitan sebaiknya
dengan air hangat

8. Melakukan perawatan luka jahitan
minimal sekali sehari

9. Sebelum melakukan perawatan luka
jahitan sebaiknya mencuci tangan
terlebih dahulu dengan air bersih

10. Mengganti pembalut atau softek pada ibu
dengan luka jahitan sebaiknya empat kali
sehari

11. Mengganti pembalut atau softek
sebaiknya setiap kali buang air besar

12. Cara menggunakan pembalut adalah dari
bagian depan ke bagian belakang

13. Tujuanya dari pemasangan pembalut
adalah untuk melindungi permukaan
dalam pembalut dari kotoran yang berada
diluar supaya tidak terkena luka jahitan

14. Pemberian bungkusan es pada daerah
luka jahitan adalah untuk mengurangi
pembengkakan



15. Pemberian bungkusan es pada daerah
luka jahitan dari bagian depan ke
belakang setelah dua jam pertama setelah
melahirkan

16. Episiotomi atau digunting pada daerah
jalan lahir adalah tindakan untuk
memperbasar mulut vagina supaya
memudahkan kelahiran bayi

17. Manfaat episiotomi adalah untuk
mencegah rasa sakit

18. Tujuan perawatan luka jahitan adalah
supaya luka bersih

19. Cara membersihkan luka jahitan adalah
dari dubur ke jalan lahir

20. Membersihkan luka jahitan sebaiknya
setelah buang air kecil

21. Membersihkan luka jahitan sebaiknya
setelah buang air besar

22. Untuk membersihkan luka jahitan dapat
menggunakan air dingin

23. Mengganti pembalut atau softek
sebaiknya setiap kali buang air kecil

24. Pemberian bungkusan es pada daaerah
luka jahitan adalah memberikan rasa
nyaman pada ibu

25. Setelah membersihkan luka jahitan
sebaiknya luka di keringkan dengan
handuk halus

















KUESIONER III

Petunjuk pengisian:
Isilah kolom disamping kanan pertanyaan dengan menggunakan tanda cek
( ) pada:
Kolom SS apabila ibu sangat setuju dengan pernyataan yang telah tersedia
Kolom S apabila ibu setuju dengan pernyataan yang tersedia
Kolom TS apabila ibu tidak setuju dengan pernyataan yang tersedia
Kolom STS apabila ibu sangat tidak setuju dengan pernyataan yang
tersedia

Pertanyaan
NO PERNYATAAN SS S TS STS
1. Saya perlu merawat luka
jahitan

2. Perawatan luka jahitan saya
hanya boleh dilakukan perawat

3. Saya harus merawat luka
jahitan untuk mencegah infeksi

4. Saya merawat luka jahitan
setiap kali mandi

5. Saya merawat luka jahitan
setelah buang air kecil

6. Saya tahu tentang perawatan
luka tapi saya tidak mau
melakukannya

7. Saya ingin melakukan
perawatan luka tapi saya tidak
tau caranya merawat luka
jahitan

8. Saya perlu dukungan keluarga
untuk merawat luka

9. Saya akan menjaga kebersihan
diri saya

10. Saya akan menjaga kebersihan
pada luka jahitan

11. Saya akan membersihkan luka
jahitan saya dari arah depan
kebelakang setelah buang air
besar

12. Saya belum pernah
mendapatkan informasi tentang
perawatan luka

13. Saya membersihkan luka
jahitan dengan air hangat
minimal sekali sehari

14. Saya membersihkan luka
jahitan dengan sabun ringan

15. Saya gunakan pembalut dari
bagian depan ke bagian
belakang untuk melindungi
permukaan dalam pembalut
dari kontaminasi

16. Bungkus pembalut yang kotor
saya buang ke tempat sampah

17.

Saya tempatkan bungkus es
pada luka jahitan supaya terasa
nyaman










































KUESIONER IV
( Bobak, 2004)
Petunjuk pengisian:
Lembar ini akan diisi oleh peneliti dengan memberi tanda check list pada
praktik yang bisa dilakukan oleh ibu dan tanda silang praktik yang tidak
dapat dilakukan ibu.

Nomor Kode Responden :
Waktu Observasi :
NO PRAKTIK PERAWATAN LUKA YA TIDAK
1. Kemampuan ibu dalam menyiapkan alat untuk
praktik perawatan luka episiotomi:
a. Air hangat
b. Sabun ringan
c. Handuk halus
d. Softek/pembalut
e. Botol percik
f. Tisu atau lap bersih

2. Kemampuan ibu dalam melakukan perawatan luka
episiotomi:
a. Cara membersihkan: membersihkan perineum
dengan sabun ringan dan air hangat, dari simpisis
pubis sampai daerah anus, kemudian luka dikering
kan dengan handuk halus.
b. Cara menggunakan pembalut: mencuci tangan
sebelum mengganti pembalut dengan air bersih.
Menggunakan pembalut dari bagian depan
Kebelakang, setelah itu mencuci tangan.
c. Menggunakan botol percik: mengisi air hangat
sampai sepertiganya, meletakkan mulut botol di
antara kedua tungkainya sehingga percikkan air
dapat mencapai perineum saat duduk di toilet.
Mengeringkan perineum dengan tisu atau handuk
halus.
d. Duduk berendam: duduk berendam di dalam
tempat yang sudah di sediakan dengan air hangat
selama 20 menit, sambil mengencangkan otot
gluteus dan mempertahankannya sejenak,
kemudian merelaksasikannya setelah berendam,
kemudian keringkan dengan handuk halus

Anda mungkin juga menyukai