Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Berdasarkan UU no 12 tahun 1992 pasal 20 ayat 2, yang berbunyi
pelaksanaan perlindungan tanaman menjadi tanggug jawab masyarakat dan
pemerintah, tersirat kewajiban seluruh lapisan masyarakat untuk ikut aktif dalam
menghasilkan tanaman budidaya yang berkualitas bagus serta aman untuk
dikonsumsi. Untuk menghasilkan tanaman organik yang berkualitas maka perlu
adanya perawatan yang serius seperti pemberian pupuk kompos. Selain pupuk
kompos dapat meningkatkan kualitas tanaman, juga dapat memperbaiki struktur
tanah, serta dapat menciptakan budaya hidup sehat. Karena dengan pembuatan
kompos ini, sampah rumah tangga tidak lagi mencemari lingkungan dan
menimbulkan masalah namun justru mendatangkan keuntungan.
Pupuk kompos adalah pupuk yang dibuat dari sampah organik.
Pembuatan pupuk kompos ini tidak terlalu rumit, tidak memerlukan tempat yang
luas serta tidak menghabiskan banyak biaya. Kompos yang dihasilkan dapat
dimanfaatkan sendiri, tidak perlu membeli..
Kompos sangat berpotensi untuk dikembangkan mengingat semakin
tingginya jumlah sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dan
menyebabkan terjadinya polusi bau dan lepasnya gas metana ke udara. DKI
Jakarta menghasilkan 6000 ton sampah setiap harinya, di mana sekitar 65%-nya
adalah sampah organik. Dan dari jumlah tersebut, 1400 ton dihasilkan oleh
seluruh pasar yang ada di Jakarta, di mana 95%-nya adalah sampah organik.
Melihat besarnya sampah organik yang dihasilkan oleh masyarakat, terlihat
potensi untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk organik demi kelestarian
lingkungan dan kesejahteraan masyarakat (Rohendi, 2005).
2

Peningkatan produksi pertanian, tidak terlepas dari penggunaan bahan
kimia, seperti pupuk buatan/anorganik dan pestisida. Penggunaan pupuk
buatan/kimia dan pestisida saat ini oleh petani kadang kala sudah berlebihan
melebihi takaran dan dosis yang dianjurkan, sehingga menggangu keseimbangan
ekosistem, disamping itu tanah cendrung menjadi tandus, organisme-organisme
pengurai seperti zat-zat rensik, cacing-cacing tanah menjadi habis, demikian juga
binatang seperti ular pemangsa tikus, populasi menurun drastis.
Pemakaian pupuk pada waktu yang bersamaan (awal musim hujan) oleh
petani, mengakibatkan sering terjadi kelangkaan pupuk di pasaran, walaupun ada
harganya sangat tinggi, sehingga sebagian petani tidak sanggup membeli,
akibatnya tanaman tidak dipupuk, produksi tidak optimal. Perlu ada trobosan
untuk mengatasi hal tersebut, salah satu diantaranya adalah pembuatan pupuk
organik (kompos).
Hal itulah yang mendasari kami sebagai mahasiswa-mahasiswi AKA
Bogor membuat alternatif pemecahan masalah terhadap hal tersebut untuk
membantu para petani dan lingkungan sekitar yaitu dengan memanfaatkan limbah
tersebut dengan menjadikannya sebagai kompos yang menggunakan teknologi
yang sederhana dan cara pembuatannya lebih mudah dibuat karena memanfaatkan
dari bahan yang mudah didapat seperti kotoran hewan ternak dan tentunya
hasilnya pun lebih baik. Disamping itu pupuk organik memiliki manfaat serta
mutu dan nilai yang ekonomis.

1.2 TUJUAN
a) Mengetahui langkah langkah pembuatan kompos
b) Mengetahui cara untuk mempercepat pembuatan kompos
c) Mengetahui kondisi yang mendukung terbentuknya kompos dalam waktu
singkat
d) Mengetahui proses terjadinya pupuk kompos dari minggu ke minggu


3

1.3 MANFAAT KOMPOS
Manfaat dari Pembuatan kegiatan ini adalah:
a) Mengurangi permasalahan lingkungan akibat sampah organik yang
dihasilkan terutama dari aktivitas manusia;
b) Berkurangnya jumlah limbah berupa sampah organik domestik sehingga
tercipta kenyamanan dan kebersihan di lingkungan pribadi, keluarga,
maupun masyarakat;
c) Meningkatkan efisiensi produksi padi dengan memanfaatkan sumberdaya
yang ada
d) Menghasilkan suatu produk (kompos) yang memiliki nilai tambah bagi
masyarakat maupun pemerintah;
e) Tercipta lapanngan kerja baru sehingga dapat mengurangi tingkat
pengangguran



















4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI KOMPOS
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran
bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai
macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik atau
anaerobik (Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003). Sedangkan pengomposan adalah
proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya
oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi.
Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar
kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan
yang seimbang, pemberian air yang cukup, mengaturan aerasi, dan penambahan
aktivator pengomposan.
Sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik dan anorganik. Rata-
rata persentase bahan organik sampah mencapai 80%, sehingga pengomposan
merupakan alternatif penanganan yang sesuai. Pada dasarnya semua bahan-bahan
organik padat dapat dikomposkan, misalnya: limbah organik rumah tangga,
sampah-sampah organik pasar/kota, kertas, kotoran/limbah peternakan, limbah-
limbah pertanian, limbah-limbah agroindustri, limbah pabrik kertas, limbah pabrik
gula, limbah pabrik kelapa sawit, dll. Bahan organik yang sulit untuk
dikomposkan antara lain: tulang, tanduk, dan rambut.
Pengomposan secara aerobik paling banyak digunakan, karena mudah dan
murah untuk dilakukan, serta tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit.
Dekomposisi bahan dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri
dengan bantuan udara. Sedangkan pengomposan secara anaerobik memanfaatkan
mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi bahan
organik.
Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat
dibutuhkan untuk kepentingan tanah-tanah pertanian , sebagai upaya untuk
5

memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah, sehingga produksi tanaman
menjadi lebih tinggi. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah dapat
digunakan untuk menguatkan struktur lahan kritis, menggemburkan kembali tanah
pertanian, menggemburkan kembali tanah petamanan, sebagai bahan penutup
sampah di TPA, eklamasi pantai pasca penambangan, dan sebagai media tanaman,
serta mengurangi penggunaan pupuk kimia.

2.2 PROSES PENGOMPOSAN
Proses pengomposan akan segera berlansung setelah bahan-bahan mentah
dicampur. Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi menjadi dua tahap,
yaitu tahap aktif dan tahap pematangan. Selama tahap-tahap awal proses, oksigen
dan senyawa-senyawa yang mudah terdegradasi akan segera bahan yang mudah
ditemukan, sehingga tidak memerlukan biaya banyak dalam pembuatannya.
Pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian
secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan
organik sebagai sumber energi. Pembuatan Kompos sangat baik bagi kehiduan
masyarakat mengingat bahwa jumlah atau persentase sampah organic yang di
buang ke pembuangan sampah.
Secara alami sampah atau bahan organik akan terurai dengan sendirinya
dengan bantuan mikroba yang berada pada lingkunganya, tetapi membutuhkan
waktu yang sangat lama , maka dengan itu banyak teknologi teknologi yang
dikembangkan untuk membuat kompos dengan waktu yang cukup cepat. Prinsip
dari teknologi pembuatan kompos didasarkan pada proses penguraian bahan
organik yang terjadi secara alami.Proses penguraian dioptimalkan sedemikian
rupa sehingga pengomposan dapat berjalan dengan lebih cepat dan efisien.
Teknologi pengomposan saat ini menjadi sangat penting artinya terutama untuk
mengatasi permasalahan limbah organik, seperti untuk mengatasi masalah sampah
di kota-kota besar, limbah organik industri, serta limbah pertanian dan
perkebunan. (Setiawan,2002).
6

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan kompos meliputi :
a. Kebutuhan nutrisi untuk kelangsungan hidup bakteri atau
mikroorganisme yang berperan dalam proses pengomposan
b. Derajat keasaman (pH) ideal dalam proses pembuatan kompos
secara aerobik berkisar pada pH netral (6 8,5), sesuai dengan pH
yang dibutuhkan tanaman
c. Ukuran Partikel sampah yang digunakan harus kecil untuk
memudahkan effisiensi aerasi dan mudah di urai oleh
mikroorganisme
d. Pengaturan Suhu juga sangat berpengaruh dalam proses
pemngomposan
e. Kelembaban udara, dan homogenitas sampah yang digunakan
Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat
dibutuhkan untuk kepentingan tanah-tanah pertanian di Indonesia, sebagai upaya
untuk memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah, sehingga produksi
tanaman menjadi lebih tinggi. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah
dapat digunakan untuk menguatkan struktur lahan kritis, menggemburkan kembali
tanah pertanian, menggemburkan kembali tanah petamanan, sebagai bahan
penutup sampah di tempat pembuangan akhir ( TPA ), eklamasi pantai pasca
penambangan, dan sebagai media tanaman, serta mengurangi penggunaan pupuk
kimia. Bahan baku pengomposan adalah semua material yang mengandung
karbon dan nitrogen, seperti kotoran hewan, sampah hijauan, sampah kota,
lumpur.
Macam macam kompos :
a. Kompos cacing (vermicompost), yaitu kompos yang terbuat dari bahan
organic yang dicerna oleh cacing. Yang menjadi pupuk adalah kotoran
cacing tersebut.
b. Kompos bagase, yaitu pupuk yang terbuat dari ampas tebu sisa
penggilingan tebu di pabrik gula.
7

c. Kompos bokashi (bahan organik kaya akan sumber hayati), yaitu kompos
yang dibuat dengan menggunakan starter aerobik maupun anaerobik untuk
mengkomposkan bahan organik, yang biasanya berupa campuran
molasses, air, starter mikroorganisme, dan sekam padi. Kompos yang
sudah jadi dapat digunakan sebagian untuk proses pengomposan
berikutnya, sehingga proses ini dapat diulang dengan cara yang lebih
efisien.
2.3 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMPOS
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengomposan antara lain :
1. Keseimbangan Nutrien (Rasio C/N)
Parameter nutrien yang paling penting dalam proses pembuatan
kompos adalah unsur karbon dan nitrogen. Dalam proses pengurai terjadi
reaksi antara karbon dan oksigen sehingga menimbulkan panas (CO
2
).
Nitrogen akan ditangkap oleh mikroorganisme sebagai sumber makanan.
Apabila mikroorganisme tersebut mati, maka nitrogen akan tetap tinggal
dalam kompos sebagai sumber nutrisi bagi makanan. Besarnya
perbandingan antara unsur karbon dengan nitrogen tergantung pada jenis
sampah sebagai bahan baku. Perbandingan C dan N yang ideal dalam
proses pengomposan yang optimum berkisar antara 20 : 1 sampai dengan
40: 1, dengan rasio terbaik adalah 30 : 1.
2. Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) ideal dalam proses pembuatan kompos
secara aerobik berkisar pada pH netral (6 8,5), sesuai dengan pH yang
dibutuhkan tanaman. Pada proses awal, sejumlah mikroorganisme akan
mengubah sampah organik menjadi asam-asam organik, sehingga derajat
keasaman akan selalu menurun. Pada proses selanjutnya derajat keasaman
akan meningkat secara bertahap yaitu pada masa pematangan, karena
beberapa jenis mikroorganisme memakan asam-asam organik yang
terbentuk tersebut. Derajat keasaman dapat menjadi faktor penghambat
dalam proses pembuatan kompos, yaitu dapat terjadi apabila :
8

a. pH terlalu tinggi (di atas 8) , unsur N akan menguap menjadi NH
3
.
NH
3
yang terbentuk akan sangat mengganggu proses karena bau yang
menyengat. Senyawa ini dalam kadar yang berlebihan dapat
memusnahkan mikroorganisme.
b. pH terlalu rendah (di bawah 6), kondisi menjadi asam dan dapat
menyebabkan kematian jasad renik.
3. Temperatur
Proses biokimia dalam proses pengomposan menghasilkan panas yang
sangat penting bagi mengoptimumkan laju penguraian dan dalam
menghasilkan produk yang secara mikroorganisme aman digunakan. Pola
perubahan temperatur dalam tumpukan sampah bervariasi sesuai dengan
tipe dan jenis mikroorganisme ada awal pengomposan, temperatur
mesofilik, yaitu antara akan terjadi dan segera diikuti oleh
temperatur termofilik antara emperatur termofilik dapat
berfungsi untuk :
a. Mematikan bakteri/bibit penyakit baik patogen maupun bibit vektor
penyakit seperti lalat;
b. Mematikan bibit gulma. Kondisi termofilik, kemudian berangsur-
angsur akan menurun mendekati tingkat ambien.
4. Aerasi
Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup
oksigen (aerob). Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi
peningkatan suhu yang menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang
lebih dingin masuk ke dalam tumpukan kompos. Aerasi ditentukan oleh
posiritas dan kandungan air bahan (kelembaban). Apabila aerasi
terhambat, maka akan terjadi proses anaerob yang akan menghasilkan bau
yang tidak sedap. Aerasi dapat ditingkatkan dengan melakukan
pembalikan atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos.
5. Porositas
Porositas adalah ruang diantara partikel di dalam tumpukan
kompos. Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi
dengan volume total. Rongga-rongga ini akan diisi oleh air dan udara.
9

Udara akan mensuplay Oksigen untuk proses pengomposan. Apabila
rongga dijenuhi oleh air, maka pasokan oksigen akan berkurang dan
proses pengomposan juga akan terganggu.
6. Ukuran Partikel Sampah
Ukuran partikel sampah yang digunakan sebagai bahan baku
pembuatan kompos harus sekecil mungkin untuk mencapai efisiensi aerasi
dan supaya lebih mudah dicerna atau diuraikan oleh mikroorganisme.
Semakin kecil partikel, semakin luas permukaan yang dicerna sehingga
pengurai dapat berlangsung dengan cepat.
7. Kelembaban Udara
Kandungan kelembaban udara optimum sangat diperlukan dalam
proses pengomposan. Kisaran kelembaban yang ideal adalah (40 60) %
dengan nilai yang paling baik adalah 50 %. Kelembaban yang optimum
harus terus dijaga untuk memperoleh jumlah mikroorganisme yang
maksimal sehingga proses pengomposan dapat berjalan dengan cepat.
Apabila kondisi tumpukan terlalu lembab, tentu dapat menghambat
pertumbuhan mikroorganisme karena molekul air akan mengisi rongga
udara sehingga terjadi kondisi anaerobik yang akan menimbulkan bau.
Bila tumpukan terlalu kering (kelembaban kurang dari 40%), dapat
mengakibatkan berkurangnya populasi mikroorganisme pengurai karena
terbatasnya habitat yang ada.
8. Homogenitas Campuran Sampah
Komponen sampah organik sebagai bahan baku pembuatan
kompos perlu dicampur menjadi homogen atau seragam jenisnya, sehingga
diperoleh pemerataan oksigen dan kelembaban. Oleh karena itu kecepatan
pengurai di setiap tumpukan akan berlangsung secara seragam.
9. Lama Pengomposan
Lama waktu pengomposan tergantung pada karakteristik bahan
yang dikomposakan, metode pengomposan yang dipergunakan dan dengan
atau tanpa penambahan aktivator pengomposan. Secara alami
pengomposan akan berlangsung dalam waktu beberapa minggu sampai 2
tahun hingga kompos benar-benar matang.
10



10. Kandungan Hara
Kandungan P dan K juga penting dalam proses pengomposan dan
bisanya terdapat di dalam kompos-kompos dari peternakan. Hara ini akan
dimanfaatkan oleh mikroba selama proses pengomposan.
11. Kandungan Bahan Berbahaya
Beberapa bahan organik mungkin mengandung bahan-bahan yang
berbahaya bagi kehidupan mikroba. Logam-logam berat seperti Mg, Cu,
Zn, Nickel, Cr adalah beberapa bahan yang termasuk kategori ini. Logam-
logam berat akan mengalami imobilisasi selama proses pengomposan.
Kondisi yang optimal untuk mempercepat proses pengomposan
(Ryak,1992)
Kondisi
Kondisi yang bisa
diterima
Ideal
Rasio C/N 20:1 s/d 40:1 25-35:1
Kelembaban 40-65 % 45-62 %
Konsentrasi O
2
tersedia >5% >10%
Ukuran partikel 1 inchi Bervariasi
Bulk Density 1000 lbs/cu yd 1000 lbs/cu yd
pH 5,5-9,0 6,5-8,0
Suhu 43-66
o
C 54-60
o
C

4.1 BAHAN-BAHAN PEMBUATAN KOMPOS
Pada dasarnya semua bahan-bahan organik padat dapat dikomposkan,
misalnya: limbah organik rumah tangga, sampah-sampah organik pasar/kota,
kertas, kotoran/limbah peternakan,limbah-limbah pertaniah, limbah limbah
agroindustri, limbah pabrik kertas, limbah pabrik gula, limbah pabrik kelapa
sawit, dll.
Menurut Djuarnani Nan, dkk. (2005) pada dasarnya semua bahan-bahan
organik padat dapat dikomposkan, misalnya : limbah organik rumah tangga,
11

sampah-sampah organik pasar atau kota, kertas, kotoran atau limbah
peternakan, limbah-limbah pertanian, limbah-limbah agroindustri, limbah
pabrik kertas, limbah pabrik gula, limbah pabrik kelapa sawit, dll.
2.4.1 Berdasarkan komponen yang dikandungnya
1. Bahan organik lunak
Bahan organik dikatakan lunak jika bahan tersebut sebagian besar
terdiri dari air. Bahan yang termasuk dalam kategori ini adalah
buah-buahan, sayur-sayuran, limbah kebun termasuk potongan
rumput dan dedaunan, serta limbah dapur.
2. Bahan organik keras
Bahan organik keras memiliki kadar air relative rendah
dibandingkan dengan jumlah total berat bahan tersebut. Contoh
bahan organik keras adalah dedaunan segar, bunga, dan hasil
pemotongan pagar hidup.
3. Bahan selulosa
Bahan selulosa merupakan bahan yang struktur selulornya sebagian
besar terdiri dari selulosa dan lignin dengan kadar air yang relative
rendah. Bahan ini akan didekomposisikan dengan sangat lambat,
bahkan tidak sama sekali. Contohnya adalah sisipan kayu, jerami
padi, daun kering, kulit pohon, dan kertas.
4. Limbah protein
Limbah protein merupakan limbah yang mengandung banyak
protein, seperti kotoran hewan, limbah dari pemotongan hewan, dan
limbah makanan. Limbah yang mengandung banyak protein ini
merupakan bahan pembuat kompos yang sangat bagus karena
kandungan nutrisinya baik untuk pertumbuhan tanaman.
5. Limbah manusia
Limbah manusia dan hewan yang dimaksud adalah kotoran (feses).
Kotoran ini sangat disenangi mikroorganisme.


12

2.4.2 Berdasarkan asal bahannya
1. Limbah Pertanian
a) Limbah dan residu tanaman, contohnya jerami padi, sekam
padi, gulma, batang dan tongkol jagung.
b) Semua bagian vegetative tanaman, contohnya batang pisang,
serabut kelapa, dan dedaunan.
c) Limbah dan residu ternak, contohnya kotoran, limbah cair, dan
limbah pakan.
2. Limbah Industri
a) Limbah padat, contohnya kayu, kertas, serbuk gergaji, ampas
tebu, limbah kelapa sawit, limbah pengalengan makanan,dan
limbah dari hewan.
b) Limbah cair, contohnya alkohol, limbah dari pengolahan kertas,
dan limbah dari pengolahan minyak kelapa.
3. Limbah Rumah Tangga
a) Sampah, contohnya tinja, urin, sampah rumah tangga, sampah
kota, dan limbah dapur.
b) Garbage diartikan sebagai limbah yang berasal dari tumbuhan
hasil pemeliharaan dan budidaya. Dapur rumah tangga, pusat
perbelanjaan pasar, dan restoran atau tempat yang menjual
masakan olahan.
c) Rabbish mengandung berbagai limbah padat yang mudah
terbakar yang berasal dari rumah, pusat perbelanjaan dan
kantor.
Sebaiknya dalam pembuatan pupuk kompos perbandingan penggunaan
Sampah Coklat : Sampah Hijau yaitu (2:1). Karena apabila hanya menggunakan
sampah coklat saja maka akan dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk proses
pengomposannya.


13


Bahan yang sebaiknya dihindari untuk pembuatan pupuk kompos adalah :
1. Daging, ikan, kulit udang, tulang, susu, keju, lemak/minyak, karena
dapat mengundang serangga seperti lalat sehingga proses
pengomposan akan menimbulkan belatung.
2. Feses anjing, feses kucing ini dapat membawa penyakit.

2.5 KARAKTERISTIK KOMPOS YANG MATANG
Untuk mengetahui tingkat kematangan kompos dapat dilakukan dengan
uji di laboratorium atau pun pengamatan sederhana di lapang. Berikut ini
disampaikan beberapa cara sederhana untuk mengetahui tingkat kematangan
kompos :
1. Dicium/dibaui
Kompos yang sudah matang berbau seperti tanah dan harum, meskipun
kompos dari sampah kota. Apabila kompos tercium bau yang tidak
sedap, berarti terjadi fermentasi anaerobik dan menghasilkan senyawa-
senyawa berbau yang mungkin berbahaya bagi tanaman. Apabila
kompos masih berbau seperti bahan mentahnya berarti kompos masih
belum matang.
2. Kekerasan Bahan
Kompos yang telah matang akan terasa lunak ketika dihancurkan.
Bentuk kompos mungkin masih menyerupai bahan asalnya, tetapi ketika
diremas-remas akan mudah hancur.
3. Warna kompos
Warna kompos yang sudah matang adalah coklat kehitam-hitaman.
Apabila kompos masih berwarna hijau atau warnanya mirip dengan
bahan mentahnya berarti kompos tersebut belum matang. Selama proses
pengomposan pada permukaan kompos seringkali juga terlihat miselium
jamur yang berwarna putih.

14

4. Penyusutan
Terjadi penyusutan volume/bobot kompos seiring dengan kematangan
kompos. Besarnya penyusutan tergantung pada karakteristik bahan
mentah dan tingkat kematangan kompos. Penyusutan berkisar antara 20-
40 %. Apabila penyusutannya masih kecil/sedikit, kemungkinan proses
pengomposan belum selesai dan kompos belum matang.
5. Suhu
Suhu kompos yang sudah matang mendekati dengan suhu awal
pengomposan. Suhu kompos yang masih tinggi, atau di atas 50
o
C,
berarti proses pengomposan masih berlangsung aktif dan kompos belum
cukup matang.

2.5 KUALITAS KIMIA KOMPOS
Ada beberapa parameter kimia pada pembuatan kompos yaitu :
1. pH
pH optimal dalam pembuatan kompos adalah kisaran pH netral
(7,8-8,0). pH selama proses pembuatan kompos harus dijaga agar tidak
dalam suasana asam, karena pH asam dapat mematikan jasad jasad renik
yang berfungsi mengurai kompos. Selama proses penguraian, akan
dihasilkan asam asam organik yang akan menurunkan pH.
Apabila pH kompos bersifat asam perlu ditambahkan serbuk kayu
agar pH naik kembali, namun hal itu tidak dilakukan karena penurunan
pH tidak sampai ke pH asam. Menurut standart kualitas SNI, pH yang
optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5. pH
kotoran ternak umumnya berkisar antara 6.8 hingga 7.4. pH kompos yang
sudah matang biasanya mendekati netral.
2. Keseimbangan Nutrien (Rasio C/N)
Parameter nutrien yang paling penting dalam proses pembuatan
kompos adalah unsur karbon dan nitrogen.
Pembuatan kompos adalah proses perombakan limbah pertanian
dari susunan bahan organik dengan perbandingan C/N tinggi menjadi C/N
15

rendah. Perubahan-perubahan yang terjadi dapat diuraikan sebagai
berikut :
Senyawa-senyawa hidrat arang seperti selulosa, hemiselulosa, dan
sebagainya diuraikan menjadi senyawa-senyawa CO
2
dan H
2
O atau CH
4

dan H
2
.
Zat putih telur diuraikan melalui bentuk amida-amida dan asam-
asam amino menjadi NH
3
, CO
2
, dan H
2
.
Penguraian lemak dan lilin menjadi CO
2
dan air.Pelepasan kembali
unsur-unsur hara yang menyusun tubuh mikroorganisme (N, P, K, dll)
setelah jasad-jasad mikro tersebut mati.
Pembebasan unsur-unsur hara dari senyawa-senyawa organik
(humus) menjadi senyawa-senyawa anorganik (mineral) melalui proses
mineralisasi.Akibat terjadinya perubahan senyawa-senyawa tersebut,
maka baik volume maupun bobot bahan yang dijadikan kompos menjadi
sangat berkurang.
Sebagian besar senyawa karbon (dalam bentuk CO
2
) hilang ke
udara, kadar N yang larut (amoniak) meningkat, sehingga dengan
demikian perbandingan C/N yang semula tinggi menjadi rendah dan
akhirnya relatif stabil pada perbandingan C/N 15-22. Perbandingan C/N
yang demikian terdapat pada kompos yang telah matang.
3. Kadar air
Kadar air sangat berpengaruh terhadap kelembaban kompos yang dibuat.
Kelembaban berperan penting terhadap proses dekomposis bahan baku,
karena berhubungan dengan aktivitas organisme. Kelembaban optimum
untuk proses pengomposan aerobik berkisar 5060% setelah bahan
dicampur. Kelembaban campuran bahan kompos yang rendah akan
menghambat proses pengomposan dan akan menguapkan nitrogen ke
udara. Namun, jika kelembaban tinggi proses pertukaran udara dalam
campuran bahan kompos akan terganggu. Poripori udara yang ada dalam
tumpukan bahan kompos akan diisi oleh air dan cenderung menimbulkan
kondisi anaerobic.

16

BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 WAKTU DAN TEMPAT
3.1.1 Pembuatan Kompos
Tempat : Di belakang Lab. Terapan Fisika Kampus AKA Bogor
Waktu : Selama Praktikum TPLI (1x Seminggu)
3.1.2 Pengukuran pH
Tempat : Lab. terapan II AKA Bogor
Waktu : 14 April 2014 ; 21 April 2014dan 29 April 2014
3.2 ALAT DAN BAHAN
3.2.1 Alat
Alat yang dibutuhkan, yaitu :
1. Komposter
2. Sarung tangan
3. Masker
4. Alat untuk analisis fisik (Termometer, pH meter)
5. Alat ukur ketinggian
6. Sekop
7. Ember
8. Ayakan
9. Parang
10. Spidol


17

3.2.2 Bahan yang dibutuhkan, yaitu :
1. Sampah hijau dan sampah coklat dengan perbandingan (1 : 2)
sebanyak 1,5 kg sampah hijau dan 3 kg sampah coklat
a) Aktivator, yakni bakteri promi
b) Air secukupnya
c) Serbuk kayu (gergaji)
3.3 CARA KERJA
3.3.1 Pembuatan Kompos
Langkah pembuatan kompos sebagai berikut :
1. Sampah pasar/kebun dipilah terlebih dahulu dan dipisahkan sampah
organik dari sampah anorganik.
2. Sampah organik dengan perbandingan hijau (basah) : (kering) (1:2)
dicacah hingga berukuran kecil, untuk sampah cokelat dapat
dicacah menggunakan penggilingan.
3. Terpal disiapkan, sebagai alas untuk pengandukan sampah coklat
dan sampah hijau.
4. Kemudian dihomogenkan hingga tercampur secara merata.
5. Serbuk gergaji yang telah ditimbang, ditambahkan ke dalam
campuran sampah kemudian diaduk kembali untuk dihomogenkan.
6. Campuran sampah dan serbuk gergaji ditambahkan dengan mikroba
pendegradasi sampah dituangkan ke dalam campuran sampah dan
serbuk gergaji secara merata.
7. Setelah semua bahan tercampur merata, dimasukan ke dalam
composer (berbentuk seperti gentong air yang sudah dimodifikasi
untuk pengolahan kompos).
8. Ketinggian campuran untuk kompos ditandai pada pipa yang berada
dalam komposter sebagai ketinggian awal.
9. Komposter ditutup rapat, agar terjadi proses pembusukan yang
sempurna.
18

3.3.2 Pengukuran pH
Pengukuran pH dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Ditimbang sebanyak 5 gram kompos di erlenmeyer
2. Ditambahkan aquadest sampai volumenya 100 ml, hingga kompos
tersebut terendam semua
3. Lalu dikocok dengan shaker selama 15 menit dengan 120 rpm
4. Kompos yang telah dishaker disaring ke dalam tiga erlemeyer yang
berbeda
5. pH kompos diukur dengan alat pH meter
3.3.3 Pengukuran Ketinggian Kompos
Langkah pengukuran ketinggian kompos sebagai berikut :
1. Tutup composer dibuka untuk mengukur ketinggian kompos.
2. Diukur ketinggian kompos pada setiap pekannya, dengan mengukur
ketinggian pada pipa yang telah diberi tanda untuk ketiggian kompos
awal.
3. Setelah ketingian kompos diukur, composer ditutup kembali.
3.3.4 Pengukuran Suhu kompos
Langkah pengukuran suhu kompos sebagai berikut :
1. Pengukuran temperatur pada kompos dapat diketahui dengan
meletakkan termometer ke dalam komposter
2. Temperatur diukur pada tiga sisi kompos dalam komposter





19

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL PENGAMATAN
Pada proses pembuatan kompos yang dilakukan di laboratorium Akademi
Kimia Analisis Bogor secara komposter diperoleh data sebagai berikut :

4.2 PEMBAHASAN
1. Suhu
alam prakrikum, suhu maksimal yang kompos kami buat
menghasilkan suhu , dan minimum , imana suhu-suhu ini
cocok untuk aktivitas mikroorganisme mesofilik. Spesies contoh-contoh
bakteri mesofil :
a. Thiobacillus
b. C. Pasteurianum
No Tanggal
Pengukuran
pH uhu Ketinggian (cm)
1. 14 April 2014
6,93 26,7 26,00
6.86 27,0 27,50
6,92 26,5 25,50
2. 21 April 2014
7,82 29,7 18,13
7,68 29,5 20,08
7,58 29,3 20,83
3. 29 April 2014
7,62 32,0 25,00
7,64 31,0 26,00
7,58 31,0 26,00
4.



20

c. Staphylococcusaureus
d. Bacillus Subtilis
e. Methylococcus capsulatus
Pengomposan dilakukan secara anaerobik memanfaatkan
mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi
bahan organik.
Suhu tinggi disebabkan dari proses penguraian yang
menghasilkan panas, sedangkan suhu yang menurun dapat disebabkan
oleh penurunan aktivitas penguraian sampah atau pun akibat kondisi
lingkungan yaitu hujan.
2. pH
Jika terdapat pH kompos bersifat asam perlu ditambahkan serbuk
kayu agar pH naik kembali, namun hal itu tidak dilakukan karena
penurunan pH tidak sampai ke pH asam. Apabila pH kompos sedikit
naik hal ini dapat disebabkan dihasilkannya gas NH
3
pada proses
penguraian sehingga pH naik. pH kompos pada praktikum ini bersifat
fluktuatif (naik atau turun) disebabkan oleh selama proses penguraian
oleh mikroorganisme akan dihasilkan asam asam organik yang akan
menurunkan pH.
3. Warna dan bau
Kompos yang telah di panen secara fisiknya tidak memenuhi
kriteria kompos siap panen.Warna kompos dari awal pengomposan
dominan coklat karena komposisi sampah cokelat lebih banyak.
Adapun sampah dari awal terlihat dominan cokelat tua disebabkan
dedaunan yang digunakan adalah dedaunan yang kering sehingga sulit
mengurai dan bisa merupakan penyebab lain.






21

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 SIMPULAN
Kompos yang siap panen dapat dilihat dai sifat fisika maupun kimianya.
Sifat fisika meliputi warna dan bau, kekerasan bahan, penyusutan, suhu.
Sementara sifat kimia meliputi pH, kesetimbangan nutrient (Rasio C/N),
kadar air, dan kandungan unsur hara.
Pembuatan kompos dari sampah pasar berhasil dilaksanakan, namun
masih terdapat beberapa kekurangan yang perlu diperbaiki. Dimulai dari
pemilihan sampah dan pencacahan sehingga kompos yang dihasilkan lebih
banyak dan meningkatkan efisiensi proses pengomposan.
5.2 SARAN
Sebaiknya pilih dedaunan cokelat muda atau kekuning-kuningan agar
kandungan airnya masih berada di dalam sehingga dapat mempercepat proses
dekomposisi menghasilkan kompos bertekstur halus. Hendaknya tidak
digunakan jenis sampah yang berwarna cokelat tua dan kering karena kadar
airnya sedikit serta sulit di dekomposisi. Agara mempermudah proses
penguaraian bahan organik oleh mikroorganisme, hendaknya dedaunan
dicacah sedemikian kecil agar proses dekomposisi berjalan cepat dan
menghasilkan kompos yang banyak.