Anda di halaman 1dari 13

Hasil Kerajinan

1. Gerabah
Pengambilan tanah liat
Tanah liat diambil dengan cara menggali secara langsung ke dalam tanah
yang mengandung banyak tanah liat yang baik. Tanah liat yang baik
berwarna merah coklat atau putih kecoklatan. Tanah liat yang telah digali
kemudian dikumpulkan pada suatu tempat untuk proses selanjutnya.
Persiapan tanah liat
Tanah liat yang telah terkumpul disiram air hingga basah merata kemudian
didiamkan selama satu hingga dua hari. Setelah itu, kemudian tanah liat
digiling agar lebih rekat dan liat. Ada dua cara penggilingan yaitu secara
manual dan mekanis. Penggilingan manual dilakukan dnegan cara
menginjak-injak tanah liat hingga menjadi ulet dan halus. Sedangkan secar
mekanis dengan menggunakan mesin giling. Hasil terbaik akan dihasilkan
dengan menggunakan proses giling manual.
Proses pembentukan
Setalah melewati proses penggilingan, maka tanah liat siap dibentuk sesuai
dengan keinginan. Aneka bentuk dan disain depat dihasilkan dari tanah liat.
Seberapa banyak tanah liat dan berapa lama waktu yang diperlukan
tergantung pada seberapa besar gerabah yang akan dihasilkan, bentuk dan
disainnya. Perajin gerabah akan menggunakan kedua tangan untuk
membentuk tanah liat dan kedua kaki untuk memutar alat pemutar
(perbot). Kesamaan gerak dan konsentrasi sangat diperlukan untuk dapat
melakukannya. Alat-alat yang digunakan yaitu alat pemutar (perbot), alat
pemukul, batu bulat, kain kecil. Air juga sangat diperlukan untuk
membentuk gerabah dengan baik.
Penjemuran
Setelah bentuk akhir telah terbentuk, maka diteruskan dengan penjemuran.
Sebelum dijemur di bawah terik matahari, gerabah yang sudah agak
mengeras dihaluskan dengan air dan kain kecil lalu dibatik dengan batu api.
Setalah itu baru dijemur hingga benar-benar kering. Lamanya waktu
penjemuran disesuaikan dengan cuaca dan panas matahari.
Pembakaran
Setalah gerabah menjadi keras dan benar-benar kering, kemudian banyak
gerabah dikumpulkan dalam suatu tempat atau tungku pembakaran.
Gerabah-gerabah tersebut kemudian dibakar selama beberapa jam hingga
benar-benar keras. Proses ini dilakukan agar gerabah benar-benar keras
dan tidak mudah pecah. Bahan bakar yang digunakan untuk proses
pembakaran adalah jerami kering, daun kelapa kering ataupun kayu bakar.
Penyempurnaan
Dalam proses penyempurnaan, gerabah jadi dapat dicat dengan cat khusus
atau diglasir sehingga terlihat indah dan menarik sehingga bernilai jual
tinggi.




Cara membuat kerajinan tangan dari tanah liat ini cukuplah sederhana,
karena kita hanya membutuhkan dua bahan utama yakni tanah liat (clay)
dan air untuk membuat pasta tanah liat. Anda bisa menggunakan tanah
lempung atau tanah liat yang terdapat di alam sekitar anda atau anda bisa
mendapatkanya di toko-toko kerajinan tangan, namun toko ini masih jarang
terdapat di Indonesia.
Secara garis besar, bunga mawar dari tanah liat ini terdiri dari 3 bagian
kelopak bunga saja, anda bisa menambahkan sesuai keinginan anda sendiri,
untuk lebih jelasnya berikut tutorial membuat bunga mawar yang sudah
saya sertakan tahapan membuat disertai dengan gambar.
Buat adonan tanah liat jangan terlalu lembek sehingga mudah untuk
dibentuk, buat 1 kelopak bunga dengan bentuk memanjang kemudian
pipihkan menggunakan tangan anda. Setelah itu, gulung kelopak bunga
sehingga berbentuk seperti pada gambar dibawah.














Buat kelopak bunga ke dua sama seperti kelopak pertama, untuk
menempelkan antara kelopak pertama dan kedua beri sedikit
tanah liat cair pada dasar kelopak pertama kemudian tempel dan
gulung kelopak kedua pada kelopak pertama.






Setelah dua kelopak bunga jadi, anda dapat menambahkan 1
kelopak bunga lagi agar bunga tanah liat anda terlihat semakin
cantik.














Pada tahapan terakhir ini, anda bisa menempelkan bunga mawar anda pada
mangok atau pot bunga sebagai penghias. Selesai kerajinan dari tanah liat
kali ini.














Desa Pejaten adalah sebuah desa yang terletak di wilayah Kecamatan Kediri,
Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Desa ini merupakan sebuah desa
tradisional yang terkenal karena kerajinan barang yang terbuat dari tanah
liat seperti gerabah dan keramik. Sebagai sebuah desa yang terkenal dengan
kerajinannya desa Pejaten sudah terkenal sejak dahulu, kerajinan tanah liat
dari Desa Pejaten berbeda dengan kerajinan yang bisa di temukan di tempat
lain dan hasil kerajinannya sudah di pasarkan sampe ke berbagai negara
Eropa seperti Jerman dan Swedia serta negara tetangga Australia.
Salah satu keunikan kerajinan keramik yang dibuat di Desa Pejaten adalah
barangnya tidak diproduksi secara masal sehingga kualitasnya sangat
terjaga dan terjamin, sehingga produknya pun diakui oleh negara lain.
Bahan kerajinan yang di hasilkan oleh Desa Pejanten seperti keramik dan
gerabah banyak di beli oleh beberapa Perusahaan, Hotel serta restaurant
bertaraf internasional untuk di jadikan pajangan karena memiliki desain dan
kualitas yang baik. Hiasan dan pajangan itu berupa guci berhiaskan ukiran
khas Bali, pot serta vas bunga, perlatan makan, asbak, tempat lilin dan lain
sebagainya.
Para wisatawan yang datang ke Desa biasanya suka menyaksikan pembuatan
produksi kerajinankhas Desa yakni keramik atau gerabah. Pengerjaannya
dilakukan masih semi tradisional dengan bahan dasar lokal, sementara
proses produksi kedua melalui penggarapan yang cukup modern dan bahan
bakunya didatangkan dari salah satu kabupaten di Jawa Timur yakni
Malang. Selain bisa menyaksikan proses pembuatan dan pembelian,
pengunjung juga bisa memesan bentuk atau desain keramik yang bisa di
kehendaki.
Menurut sejarahnya, sejak jaman dahulu masyarakat setempat telah
menambang tanah liat merah sebagai bahan dasar keramik yang banyak
terdapat di desa setempat. Tetapi di tahun 80-an karena sering di ekploitasi,
tanah liat yang biasa digunakan sebagai bahan baku pembuatan genting dan
kerajinan gerabah mulai menipis tidak lagi melimpah seperti dahulu selain
itu masuknya barang-barang yang elbih modern seperti yang terbuat dari
bahan alumunium semakin mendesak keberadaan kerajinan des pejaten
sehingga memukul omzet penjualan. Para pengrajin yang khawatir hasil
produksinya semakin menurun akhirnya mereka berunding untuk
menyelesaikan permasalahan tersebut mengatasi masalah tersebut, dan pada
tahun 1985 sebagai upaya untuk peningkatan kualitas agar bisa bersaing
maka beberapa pengrajin belajar dan untuk menguasai tehnik pembuatan
keramik dengan temperatur yang tinggi atau biasa di namakan dengan
stonewere. Dari hasil belajar dan keinginan untuk berubah itulah walupun
masih menggunakan tanur tradisional serta bahan bakar batok tetapi para
pengrajin berhasil membuat keramik yang memiliki kualitas yang tinggi
serta artistik sehingga mendongkrak nilai jual dan bisa terkenal hingga saat
ini.
Untuk menuju desa Pejaten di butuhkan jarak lebih kurang 12 km dari kota
Tabanan. Sementara jika dari kota Denpasar membutuhkan jarak 33 km.
kunjungilah desa ini jika anda ingin menyaksikan pembuatan barang
kerajinan berkualitas tinggi yang sudah di akui negara lain.


Seni kerajinan gerabah di daerah kendal ini tidak berbeda jauh dengan seni
kerajinan gerabah yang ada di daerah Klampok Banjarnegara dan Kasongan
Yogyakarta.
Seni kerajinan yang berbahan dasar tanah liat ini untuk dapat menjadi suatu
bentuk yang diinginkan membutuhkan proses dalam waktu yang tidakk sedikit.
Untuk di daerah pekunden ini seperti yang sudah dilakukan oleh para perajin
gerabah adalah mencampuri tanah liat dengan pasir yang sudah disaring.
Kemudian adonan tersebut dari tanah liat, pasir dan sedikit air dengan cara yang
masih sangat tradisional di injak injak untuk mencampur dan melembutkan
tekstur tanah liat tersebut yang membutuhkan waktu 1 jam.
Setelah tanah liat tersebut selesai tahap pencampuran baru dapat diolah dan
diproses sesuai dengan bentuk yang diinginkan.
Baik itu berupa periuk, cobek, tungku, wajan dan barang barang bersifat seni
seperti aneka pot atau vas bunga, barang hiasan hiasan ruang tamu, hiasan taman
dan lainnya sesuai barang yang dipesan oleh pengemar barang seni.
Tidak hanya sampai disini, para perajin gerabah dipekunden kota Kendal ini masih
menggunakan peralatan tradisional yaitu perbot.
Alat putar pembuat gerabah di sini terbuat dari kayu dan dibawahnya ditaruh alat
pemutar sehingga para perajin antara kaki dan tangan teratur dalam
menggerakannya.
Setelah gerabah selesai masih membutuhkan waktu untuk pengeringan yang
memakan waktu kurang lebih satu hari tergantung cuaca. Jika mendung atau
hujan bahkan sampai hari, tapi jika panas terik cukup 1 hari gerabah sudah
dapat masuk ke tahap akhir yaitu pembakaran.
Pembakaran disini juga masih menggunakan cara sederhana karena Kampung
Kunden belum mempunyai tempat pembakaran gerabah yang permanen, seperti
yang ada di daerah Klampok dan Kasongan.
Karena mungkin dengan proses yang panjang dan melelahkan ini sehingga
mengakibatkan turunnya minat generasi muda untuk meneruskan warisan turun
temurun ini.

Kasongan merupakan kawasan sentra produksi kerajinan gerabah. Sebagian
besar penduduk di Kasongan bekerja sebagai pengrajin gerabah. Kasongan
adalah daerah yang ikut menjadi korban bencana gempa bumi pada 27 Mei
2006 lalu, kawasan yang terdiri dari lima dusun ini menjadi salah satu
daerah yang mengalami kerusakan paling parah akibat gempa bumi. Meski
produk kerajinan gerabah kasongan mengalami penurunan hampir
50% karena bencana tersebut, perlahan-lahan mulai bangkit kembali.
Produksi kerajinan gerabah Kasongan sebagian besar sudah diekspor ke
beberapa negara Eropa dan Australia. Dinas Perindustrian Perdagangan dan
Koperasi Kabupaten Bantul mencatat, pada 2009 unit usaha kerajinan
gerabah Kasongan jumlahnya telah mencapai 441 unit, melebihi jumlah
sebelum gempa yang sebanyak 401 unit. Jumlah tenaga kerja yang terserap
juga bertambah menjadi 2.367 tenaga kerja, dari sebelumnya hanya 1.995
orang.
Kasongan, Yogyakarta Kasongan terletak di selatan kota Yogyakarta kurang
lebih 6 km dari pusat kota, tepatnya daerah pedukuhan Kajen, desa
Bangunjiwo, kecamatan Kasihan, Bantul. Desa ini penghasil kerajinan
Gerabah yang sudah terkenal sampai ke Luar negeri serta banyak
Wisatawan Mancanegara yang datang berkunjung untuk belanja dan
melihat proses pembuatan Grabah tersebut. Awal mulanya tempat ini
merupakan desa biasa, pada masa penjajahan Belanda terjadi peristiwa
dimana ada seekor kuda milik seorang Reserse Belanda mati di wilyah
tersebut, karena ketakutan maka penduduk melepaskan hak atas tanahnya
dengan tidak mengakui bahwa tanah tersebut bukan miliknya. Akhirnya hak
tanah diambil oleh penduduk desa lain, karena tidak mempunyai lahan
persawahan lagi maka mereka mengisi hari-hari luang mereka dengan
membuat peralatan rumah tangga dan mainan anak-anak dengan tanah liat
yang banyak ditemukan didaerah itu. Dan akhirnya bakat tersebut secara
turun temurun terus menerus hingga sekarang . Selain berbelanja dan
wisata di kasongan, kita juga bisa melihat proses pembuatan aneka
kerajinan tangan gerabah. Kerajinan tangan kerabah sendiri dibuat dalam
berbagai maam bentuk misalnya alat rumah tangga, hiasan rumah,
souvenir, vas , guci, benda-benda antic dan lain sebaginya masih banyak
lagi.
Pembuatan gerabah di Kasongan menjadi salah satu fokus
matapencaharian penduduk di Desa Kasongan, Bantul, DIY. Gerabah
sendiri merupakan sebuah tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke
generasi yang lain. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya warga di Desa
Kasongan yang membuat dan bermata pencaharian sebagai pembuat
gerabah. Gerabah lebih dikenal masyarakat dengan sebutan secara
tradisional. Sebagai contoh kendi, gentong, pengaron dansebagainya.
Meskipun begitu gerabah di Kasongan telah memiliki banyak variasi, variasi
ini disebabkan karena adanya selera peminat gerabah yang berbeda. Hal ini
menuntut para pengrajin gerabah mengembangkan teknik dan pola hias
mereka sesuai dengan tuntutan pasar. Bahan dasar pembuat gerabah ini
berasal dari tanah di tepian aliran sungai yang membentang di tengah Desa
Kasongan (Sungai Opak). Jadi pada dasarnya pembuatan gerabah di
Kasongan menunjukkan pemanfaatan SDA oleh masyarakatnya.
Memasuki kampung Kasongan, di halaman-halaman rumah dan pekarangan
warga dengan mudah akan terlihat gerabah berbagai bentuk dan ukuran.
Baik yang masih alami berwarna merah bata, ataupun yang telah dilakukan
finishing dengan pengecatan beraneka warna atau teknik finishing lain. Di
sudut-sudut kampung akan terlihat pula tungku-tungku pembakaran. Jika
tertarik, wisatawan dapat pula turut membentuk tanah liat menjadi
gerabah bersama para perajin.

Kerajinan hasil olahan masyarakat Bali yang berbahan baku tanah
liat menembus pasar ekspor lantaran mampu mengetengahkan
rancang bangun (desain) yang memikat konsumen luar negeri.
Kami hampir setiap bulan mengirim aneka barang kerajinan
berbahan baku tanah liat ke pasar ekspor terutama Eropa, Jepang
dan AS, kata Made Kusuma, pedagang dan eksportir aneka
barang kerajinan Bali di Kawasan Wisata Kuta, Kabupaten Badung,
Selasa.
Menurut dia perdagangan ekspor itu menggembirakan mengingat
hasil kerajinan masyarakat Bali selama ini hanya untuk memenuhi
kepentingan sendiri untuk keperluan upacara adat dan
keagamaan.
Berkat komunikasi dan perkembangan dunia pariwisata, maka
banyak orang asing yang ingin memiliki dan membeli aneka
kerajinan dari tanah liat dengan rancang bangun (desain) yang
bernilai seni dan unik, ujarnya.
Aneka barang kerajinan biasanya dibuat berupa guci atau gentong
yang dipergunakan sebagai tempat menyimpan beras oleh
penduduk setempat, namun kini berkembang berupa tempat
hiasan lampu yang banyak ditempatkan di taman.
Piring berbahan baku tanah liat juga banyak diperdagangkan dari Bali
dengan berbagai desain unik hadir untuk menemani aktivitas makan di
rumah-rumah makan atau hanya untuk pajangan di ruang tamu atau
ditempatkan di tempat strategis oleh pemilik rumah.
Made Kusuma mengatakan, perajin mampu memproduksi barang
berkualitas ekspor sesuai selera konsumen mancanegara, karena sudah
mendapatkan pelatihan dari petugas yang ahli di bidang itu dalam
perancangannya maupun dalam pembakarannya.
Piring-piring cantik untuk dijadikan pajangan yang sudah dicat maupun
dengan warna alami tentu sesuai kesukaan dari para konsumen, kata dia
sambil menambahkan bahwa pengusaha hotel di Jepang banyak memesan
piring dari Pejaten, Kabupaten Tabanan.
Kerajinan berbahan baku tanah liat ini diproduksi oleh masyarakat Bali
terutama di pusat kerajinan Desa Pejaten, Tabanan, Kapal Badung, Buleleng
dan Gianyar diharapkan akan terus bertambah sesuai perkembangan pasar
luar negeri yang semakin bergairah.
Hasil kerajinan berbahan baku tanah liat yang diperdagangkan ke
mancanegara ikut memperbesar perolehan devisa dari sektor kerajinan Bali
yang tercatat sebanyak 1,2 juta dolar AS selama Januari-Juli 2013, hasil
pengapalan sebanyak 674.024 keping

Polimer tanah liat adalah sejenis material yang banyak digunakan
para pekerja di bidang seni. Anak-anak pun menyukainya karena
sifatnya yang lentur dan bisa dipakai untuk membuat berbagai
macam benda dan bentuk.
Kini juga telah tersedia cat khusus untuk polimer tanah liat,
termasuk cat warna metalik. Ini membuat polimer tanah liat
mampu disulap menjadi menyerupai batu, porselen, batu dan
kaca.
Dengan tersedianya fasilitas semacam ini, kesempatan bagi bisnis
kerajinan tangan dari bahan polimer tanah liat pun terbuka lebar.



Saat Anda mengunjungi Bantul Yogyakarta, pastinya tidak asing lagi dengan
Desa Wisata Kasongan yang dikenal sebagai sentra industri gerabah dan
keramik. Beragam jenis dan ukuran keramik bisa dengan mudah didapatkan
di workshop yang berjejer sepanjang jalan. Namun Kasongan bukan satu-
satunya sentra usaha keramik yang ada di Kabupaten Bantul. Salah satu
lokasi produksi yang sampai saat ini masih aktif menghasilkan aneka
kerajinan keramik hias adalah Sujiyo Keramik yang beralamat di Dogongan
Imogiri.
Membangun usaha sejak tahun 1996, Pak Sujiyo (41) yang seorang alumni
jurusan grafis memiliki ide untuk mengembangkan ilmunya dengan
membangun usaha keramik hias. Dengan bahan baku dari tanah liat yang
didatangkan dari Godean Sleman, Pak Sujiyo rutin memproduksi beragam
keramik dengan desain yang lucu dan menarik. Realita kehidupan pedesaan,
religi, hewan, dan tumbuhan menjadi motif desain yang selama ini menjadi
ciri khas bapak berputra dua tersebut. Desain yang sesuai dengan realita
kehidupan lebih mudah diterima masyarakat ketimbang desain abstrak yang
belum tentu orang lain paham kata Pak Sujiyo ketika ditemui tim
bisnisUKM Rabu (13/4).
Selama ini Pak Sujiyo dibantu 5 orang tenaga produksi yang menangani
bagian cetak, penjemuran, pembakaran, pengecatan,finishing,
dan packing. Sementara untuk urusan ide dan desain semuanya
dihandle Pak Sujiyo sendiri. Keunggulan produksi kami karena untuk
desain dan cetakan produk kami buat sendiri dengan menggunakan bahan
baku gipsum dan silikon terang Pak Sujiyo. Pak Sujiyo mengaku jika banyak
usaha sejenis yang sering menjiplak dan menduplikasi desain-desain
produksinya. Sehingga, setiap ada kesempatan Pak Sujiyo selalu
menciptakan desain baru agar mampu tetap bersaing dengan produk
lainnya
Untuk menghasilkan keramik-keramik hias tersebut, dibutuhkan waktu
beberapa hari sampai produk tersebut bisa siap jual. Tahap awalnya
dicetak sesuai dengan desain, kemudian dilakukan penjemuran selama
beberapa hari sampai benar-benar kering, setelah itu dilakukan
pembakaran, dilanjutkan dengan penghalusan, pengecatan produk,
finishing produk, dan terakhir pengemasan produkjelas Pak Sujiyo di lokasi
produksinya. Meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama dengan
biaya operasional yang tidak sedikit, namun harga jual produk keramik hias
tersebut hanya berkisar Rp.800,00-Rp.2.000,00/ biji untuk ukuran kecil.
Sementara untuk ukuran 27 x 37 cm harganya Rp.60.000,00/ biji.
Diakui Pak Sujiyo, saat ini trend penjualan produk keramiknya cenderung
mengalami penurunan. Keramik itu mengalami masa jaya-jayanya antara
tahun 90an sampai tahun 2000, imbuh Pak Sujiyo. Meskipun mengalami
penurunan, Pak Sujiyo tetap rutin memproduksi beragam jenis keramik
untuk disetorkan di beberapa toko souvenir yang ada di pusat wisata
Malioboro. Selain itu, adanya pelanggan dari Bali yang rutin memesan
4000-5000 biji keramik per bulannya juga menjadi sumber pemasukan
utama Pak Sujiyo saat ini. Dengan kondisi tersebut, Pak Sujiyo mengaku bisa
memperoleh omzet 5-6 juta rupiah per bulan.
Adanya persaingan yang semakin ketat dan daya tarik masyarakat yang
cenderung menurun terhadap produk kerajinan keramik membuat Pak
Sujiyo berfikir bagaimana meningkatkan penjualan produknya. Dan yang
baru-baru ini dilakukan adalah inovasi produk kerajinannya dengan
menggunakan bahan baku semen yang dicampur kertas daur ulang.
Semen dan kertas tersebut memiliki keunggulan lebih kuat dan bisa detail
dalam membuat desain produknya terang Pak Sujiyo. Dengan
menggunakan silikon sebagai bahan cetaknya, produk kerajinan yang
dihasilkan tersebut memiliki keunggulan lebih mudah didesain sedemikian
rupa.
Dalam sebulan Sujiyo Keramik mampu menghasilkan 5000 buah keramik
ukuran kecil dan sedang, sementara untuk produk baru berbahan baku
semen baru bisa diproduksi dalam jumlah ratusan. Karena baru 2 bulan
berjalan, maka untuk produk yang berbahan baku semen dan kertas belum
banyak diminati masyarakat, sehingga dibutuhkan kerja keras untuk
memperkenalkan produk kami tersebut jelas Pak Sujiyo ketika ditanya
mengenai perkembanganbisnisnya. Produk baru tersebut saat ini selain
dipasarkan di Malioboro juga mulai diperkenalkan kepada wisatawan di
Candi Prambanan dan Candi Borobudur.


















Kata gipsum berasal dari kata kerja dalam bahasa Yunani , yang
artinya memasak. Disebut memasak karena di daerah Montmartre, Paris,
pada beberapa abad yang lalu orang-orangnya membakar gipsum untuk
berbagai keperluan, dan material tersebut kemudian disebat dengan plester
dari Paris. Orang-orang di daerah ini juga menggunakan gipsum sebagai
krim untuk kaki, sampo, dan sebagai produk perawatan rambut lainnya.
Karena gipsum merupakan mineral yang tidak larut dalam air dalam waktu
yang lama, sehingga gipsum jarang ditemui dalam bentuk butiran atau pasir.
Tetapi ada suatu kejadian unik di White Sands National Monument, di
negara bagian New Mexico, Amerika Serikat, terdapat 710 km pasir gipsum
putih yang cukup sebagai bahan baku untuk industri drywall selama 1000
tahun. Kristal gipsum terbesar dengan panjang lebih dari 10 meter pernah
ditemukan di Naica, Chihuihua, Mexico. Gipsum banyak ditemukan di
berbagai daerah di dunia, yaitu Jamaika, Iran, Thailand, Spanyol (penghasil
gipsum terbesar di Eropa), Jerman, Italia, Inggris, Irlandia, Manitoba,
Ontario, Canada, New York, Michigan, Indiana, Texas, Iowa, Kansas,
Oklahoma, Arizona, New Mexico, Colorado, Utah, Nevada, Paris, California,
New South Wales, Kalimantan, dan Jawa Barat.
Gipsum dari New South Wales, Australia.
Gipsum adalah salah satu contoh mineral dengan kadar kalsium yang
mendominasi pada mineralnya. Gipsum yang paling umum ditemukan
adalah jenis hidrat kalsium sulfat dengan rumus kimia CaSO
4
.2H
2
O. Gipsum
adalah salah satu dari beberapa mineral yang teruapkan. Contoh lain dari
mineral-mineral tersebut adalah karbonat, borat, nitrat, dan sulfat. Mineral-
mineral ini diendapkan di laut, danau, gua dan di lapian garam karena
konsentrasi ion-ion oleh penguapan. Ketika air panas atau air memiliki
kadar garam yang tinggi, gipsum berubah menjadi basanit (CaSO
4
.H
2
O) atau
juga menjadi anhidrit (CaSO
4
). Dalam keadaan seimbang, gipsum yang
berada di atas suhu 108 F atau 42 C dalam air murni akan berubah
menjadi anhidrit





Gips merupakan bahan mineral yang tidak larut dengan air dalam waktu
yang lama jika sudah menjadi padat. Kandungan gips terdiri atas jenis zat
hidrat kalsium sulfat yang dapat terlepas sehingga gips dalam proses
pengerasan akan terasa panas. Prosesnya harus dicairkan dahulu jika ingin
bentuk seperti yang di inginkan, harus dibuat cetakan. Jika akan diproduksi
dalam jumlah banyak, harus di buat model terlebih dahulu.

Secara umum, untuk semua prosuk gips diperlukan cetakan. Bahan utama
pembuatan cetakan adalah silicone rubber, tetapi yang paling gampang dan
mudah dicari adalah plastisin atau tanah liat. Fungsi kerajinan dari gips
biasanya dapat beupa hiasan dinding, mainan, dan sebagainya.
















Binsis gips saat ini mempunai peluang yang bagus seiring dengan
meningkatnya perekonomian Indonesia. Pesatnya pembangunan rumah
dan perkantoran baru merupakan peluang yang baik untuk bisnis gips ini.
Usaha Gips tidak memerlukan modal yang besar, dengan sedikit modalpun
Anda sudah bisa menjalankan usaha Gips. Modal yang tepenting adalah
keuletan Anda dalam menjalankan, dan tidak ketinggalan bagai mana cara
Anda menerapkan sistem pemasaran Usaha Gips itu saja sudah lebih dari
cukup. Dengan begitu usaha Gips bisa untuk meningkatkan taraf hidup atau
menjadi perkerjaan keseharian guna mendapatkan keuntungan. Bicara
tentang keuntungan usaha gips memiliki peluang yang cukup bagus.
Kerajinan gips bisa juga menjadi alternative usaha untuk yang mencari
peluang usaha. Dibanding dengan Keramik gips memiliki keunggulan karena
tidak perlu proses pembakaran, dibanding dengan fiberglass bahan gips
lebih murah. Sedangkan kerajinan berbahan dasar gips bahannya murah
serta mudah didapat dan pembuatannya mudah.
Berbagai bentuk kresasi yang bisa dihasilkan dari gips sudah sering kita lihat
dipasaran antara lain: celengan gips, boneka macam macam bentuk, frame
photo atau pigura foto dari gips souvenir kecil-kecil misal tempelan kulkas,
tempat tusuk gigi, gantungan baju , dekorasi ornament gips untuk hiasan
rumah, dsb. Tapi gips juga memiliki kelemahan yaitu mudah
pecah/rusak/patah.




Beralih Dari Usaha Kerajinan Fiber, Kini Mampu Cetak Karakter Maradona
Hingga Angry Bird

KERAJINAN yang tak banyak ditekuni ini menyimpan potensi. Sesuai
karakter Kota dengan wilayah yang sempit, tapi dihuni masyarakat yang
kreatif. Lantas, bagaimana cerita, Rini, perajin boneka gipsum asal
Purwotengah VI/16, Kecamatan Magersari , Kota Mojokerto ini?
Berada dalam perkampungan padat di Kota Onde-onde, sepasang suami
istri ini mengembangkan bahan bangunan gipsum menjadi barang kerajinan
yang laku di pasaran. Prosesnya sederhana. Boneka gipsum dapat
digunakan sebagai hiasan fungsional.
Nono Heri Santoso dan Rini Hadi Mujiastuti, memulai usaha ini persis di
tahun 2000 silam. Idenya, berawal dari pesanan boneka gipsum seorang
kolega asal Jember. Sebelumnya, keduanya banyak terlibat dengan usaha
kerajinan fiber milik orang tua di Jombang.
Awalnya seorang teman mau mengajari dan memberikan cetakan,
ungkap Rini, ditemui di kediamannya. Dari situlah, pasangan yang kini
dianugerahi tiga putra ini membangun bisnis keluarga berupa boneka
gipsum.
Tiap bulan, omset boneka gipsum mencapai 30 ribu biji. Boneka yang
mengadopsi tokoh-tokoh kartun terkenal tersebut dipasarkan ke sejumlah
kota besar di Jawa Timur. Saya bagian produksi, bapak bagian
pemasaran, lanjut Rini.
Proses pembuatan boneka tergolong sederhana. Ujar Rini, , bahan gipsum
ditambah air dimasukkan dalam cetakan. Lalu, digoyang hingga merata.
Setelah itu, hasil cetakan dikeluarkan usai tiga menit digoyang. Bahan
setengah jadi itu kemudian digosok dan didempul.
Langkah pamungkasnya, boneka dilapisi cat dan bahan anti gores.
bagian paling sulit, justru membuat master cetakannya. Untuk urusan
bikin-membikin model master cetakan, biasanya langsung ditangani
Nono. Karena, butuh ketelatenan dan ketrampilan khusus.
Banyak model yang dihasilkan. Kebanyakan mengadopsi bentuk tokoh
kartun terkenal seperti, tweety, mickey mouse, doraemon, dan lainnya.
Selain itu, bentuk lain yang diinginkan pemesan, seperti pemain
sepakbola terkenal, Maradona.
Boneka gipsum tersebut juga punya nilai tambah. Karena selain
menjadi hiasan juga memiliki fungsi tersendiri. Ada yang berupa
celengan, tempat pensil, atau tempat tusuk gigi dan pigora. Sekarang,
mereka mencoba mengembangkan boneka karakter angry bird yang
tengah populer di masyarakat.
Pengembangan usaha kecil menengah tersebut terus dilakukan Rini
dan suaminya. Beberapa kali ia ikut pameran besutan Diskoperindag
Kota Mojokerto. Ia juga pernah mendapat bantuan modal. Melalui
website dinas, ia beberapa kali mendapat pesanan.
Meski begitu, usaha tersebut bukannya tanpa kendala. Menurut Rini,
sulit mencari karyawan. Pasalnya, dengan harga jual yang relatif
murah, banyak orang yang enggan bekerja di bidang tersebut. Karena,
margin keuntungan dengan honor karyawan rendah.
Kendala pengembangan usaha tersebut sebenarnya dapat diatasi.
Karena menurut Rini pasar boneka gipsum masih potensial. Karena,
peminatnya sangat luas. Boneka ini laku mulai musim liburan sampai
musim sekolah, katanya.
Jadi, saat musim liburan, ia banyak melempar bonekanya ke
tempat-tempat wisata. Sementara, bila musim liburan habis, giliran
toko-toko yang berdekatan dengan sekolah-sekolah jadi sasaran
pemasaran.(rg)