Anda di halaman 1dari 20

MEDIA PEMBELAJARAN

BERBASIS FILM
Des1

1. B. PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat menunjang dalam kehidupan manusia. Di
Indonesia sendiri mengenai pendidikan bagi warga negaranya telah diatur dalam Pasal 31
undang-undang dasar 1945. Selain itu pasal lain yang berhubungan dengan pendidikan dalam
Undang Undang Dasar 1945, yaitu pasal 32. Pasal 31 mengatur tentang pendidikan kewajiban
pemerintah membiayai wajib belajar 9 tahun di SD dan SMP, anggaran pendidikan minimal
20% dari APBN dan APBD, dan sistem pendidikan nasional. Sedangkan pasal 32 mengatur
tentang kebudayaan.
Upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan suatu tujuan nasional bangsa
Indonesia sebagaimana tertuang dalam undang-undang dasar 1945. Untuk itu pendidikan
merupakan kewajiban bagi bangsa dan negara untuk menyelenggarakannya dan hak bagi
warga negara untuk memperolehnya.
Pendidikan di Indonesia tidak berorientasi pada pembentukan kepribadian melainkan proses
kognitif. Pembelajaran ini lebih menerapkan pada konteks hafalan. Jadi siswa lebih
cenderung untuk menghafal pelajaran tersebut tanpa menerapkan atau mengaplikasikannya
dalam kehidupan sehari-hari agar tidak mudah lupa.
Sehubungan dengan pendidikan di Indonesia, pada umumnya yang dikejar bukanlah kualitas
dari pendidikan itu sendiri, tapi mereka lebih mengutamakan memdapat ijasah. Seperti yang
kita ketahui bahwa akhir dari pendidikan di Indonesia adalah ijasah. Ijasah ini lah yang
kemudian digunakan untuk mencari pekerjaan dan sebagainya. Di Indonesia sendiri
menggunakan ijasah lebih diutamakan daripada hal lain seperti skill atau keahlian. Untuk itu
mereka terkadang mau melakukan apa saja demi mendapatkan ijasah.
Pendidikan di Indonesia dimulai sejak taman kanak-kanak, namun akhir-akhir ini muncul
seperti play group maupun pendidikan anak usia dini yang dilakukan sebelum anak
menginjak sekolah dasar. Namun sebenarnya pendidikan wajib bagi warga negara Indonesia
adalah pendidikan wajib sembilan tahun, yaitu dimulai dari sekolah dasar (SD) hingga
sekolah menengah pertama (SMP).
Pembelajarkan sosiologi menanamkan nilai-nilai dalam hidup bermasyarakat. Bagaimana
mereka berinteraksi dengan masyarakat, bersosialisasi dam memahami nilai yang ada dalam
masyarakat. Oleh karena itu pembelajaran sosiologi dianggap suatu hal yang penting agar
seorang individu dapat menempatkan diri dalam masyarakat dan dapat bermasyarakat dengan
baik. Karena dalam pembelajaran sosiologi mengkaji tentang kehidupan yang nyata, sehingga
diharapkan mereka dapat mempraktekannya dalam kehidupan nyata.
Kajian sosiologi yang sangat luas yaitu mengenai kehidupan bermasyarakat telah melibatkan
berbagai unsur yang saling berkaitan dan menentukan keberhasilan dalam proses belajar.
Unsur-unsur tersebut adalah pendidik (guru), peserta didik (siswa), kurikulum, pengajaran,
tes dan lingkungan. Siswa dalam hal ini berperan dalam keberhasilan dalam kegiatan belajar
mengajar.
Guru merupakan unsur penting dalam tercapainya tujuan pembelajaran. Untuk itu tugas guru
adalah menciptakan susasana belajar mengajar yang dapat memotivasi siswa untuk belajar
dengan baik dan bersemangat tentunya. Suasana yang demikian tentunya berdampak positif
terhadap pencapaian belajar yang optimal.
Pendidikan di Indonesia telah mengalami berbagai perubahan dan perkembangan, mulai dari
kurikulumnya hingga metode atau cara yang digunakan untuk mengajar. Kurikulum di
Indonesia sendiri telah mengalami berbagai perubahan dari kurikulum tahun 1964 hingga
yang sekara yaitu KTSP, yang mana pergantian kurikulum tersebut dilakukan untuk
memperbaiki kurikulum yang sebelumnya agar diperoleh suatu tujuan yang diharapkan.
Mulyasa (2009) mengemukakan bahwa tugas guru dalam implementasi KTSp adalah
bagaiman membentuk kemudahan belajar kepada peserta didik agar mereka mampu
berinteraksi dengan lingkungan eksternal sehingga terjadi perubahan perilaku.
Seperti halnya kurikulum metode pembelajaran dalam dunia pendidikan juga mengalami
perubahan. Seperti yang kita ketahui bahwa metode yang digunakan dahulu hanya
menggunakan metode ceramah saja. Ceramah dianggap sebagai metode yang tepat untuk
digunakan dalam pembelajaran. Namun pada saat sekarang ini metode pembelajaran telah
banyak perkembangannya karena ceramah dianggap tidak efiktif lagi. Oleh karena itu
diperlukan adanya perubahan dalam metode pembelajaran yang dapat menunjang tercapainya
tujuan pembelajaran.
Pembelajaran di sekolah tentunya menggunakan metode tertentu dalam menyampaikannya.
Misalnya saja pada mata pelajaran sosiologi. Sosiologi merupakan suatu ilmu yang memiliki
arti penting bagi pembangunan dan pendidikan. Meskipun sosiologi belum begitu dimengerti
bagi sebagian kalangan, namun hal tersebut tidak menyurutkan pemerintah untuk memasukan
sosiologi ke dalam ujian nasional di tingkat SMA.
Oleh karena itu guru harus memiliki kemampuan agar dapat menciptakan suasana
pembelajaran yang menyenangkan sehingga peserta didik dapat memahami materi
pembalajaran yang diberikan. Oleh karena itu seorang guru haruslah memilih metode yang
tepat dalam pembelajaran. Biasanya pemilihan metode yang tidak tepat dapat membuat
peserta didik merasa jenuh dan kurang tertarik terhadap mata pelajaran tersebut.
Prinsip pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang mampu mengembangkan konsep
dari materi pembelajaran tersebut kedalam hal yang jelas dan nyata. Maksudnya adalah
bahwa proses belajar dapat memberikan perubahan pada anak dari yang tidak tahu menjadi
tahu dan dari pemahaman yang bersifat umum menjadi yang bersifat khusus. Dalam mata
pelajaran Sosiologi sumber belajar dapat diperoleh melalui buku-buku Sosiologi. Akan tetapi
penyampaian materi akan menjadi lebih jelas apabila penyampaiannya menggunakan media
pembelajaran tertentu. Media ini sangat dibutuhkan untuk membantu para pengajar agar
siswanya mampu menyerap materi dengan baik. Dari berbagai media pembelajaran, salah
satu media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran di SMA N 1 Bobotsari adalah
media pembelajaran yang berbasis teknologi.
Permasalahan yang muncul adalah siawa di SMA N 1 Bobotsari adalah siswa kurang
berminat untuk mengikuti mata pelajaran sosiologi. Mereka cenderung kurang tertarik dan
mengantuk dalam mengikuti mata pelajaran Sosiologi. Dalam penyampaiannya guru
cenderung menggunakan metode ceramah dan kurang variatif dalam menyampaikan materi.
Dari permasalahan tersebut perlu adanya metode tertentu yang tepat agar dapat memotivasi
siswa dan meningkatkan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Sosiologi. Salah
satunya adalah dengan menggunakan metode pembelajaran yang berbasis film. Dengan
media ini peserta didik diharapkan lebih memahami materi dalam mata pelajaran Sosiologi
karena dalam media ini disajikan contoh konkretnya dan dekat dengan kehidupan kita sehari-
hari. Melalui film yang berkaitan dengan mata pelajaran Sosiologi dapat digunakan sebagai
media pembelajaran.
Dari realita tersebut yang prestasi belajarnya kurang menyenangkan pada mata pelajaran
Sosiologi, maka tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul PENGARUH MEDIA
PEMBELAJARAN BERBASIS FILM TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA
MATA PELAJARAN SOSIOLOGI KELAS XI PADA POKOK BAHASAN
KEBUDAYAAN DAN KONFLIK SOSIAL SMA N 1 BOBOTSARI KABUPATEN
PURBALINGGA

RUMUSAN MASALAH
1. 1. Bagaimana hasil belajar siswa di SMA N 1 Bobotsari
pada pokok bahasan Konflik Sosial dan Kebudayaan sebelum menggunakan media
film?
2. 2. Bagaimana hasil belajar siswa di SMA N 1 Bobotsari
pada pokok bahasan Konflik Sosial dan Kebudayaan setelah menggunakan media
film?
3. 3. Apakah hasil belajar siswa SMA N 1 Bobotsari pada
pokok bahasan Konflik Sosial dan Kebudayaan dapat ditingkatkan melalui media
film?
TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas dapat diketahui bahwa penelitian yang dilakukan
tersebut memiliki tujuan sebagai berikut :
1. Mengetahui hasil belajar siswa di SMA N 1 Bobotsari pada pokok bahasan Konflik
Sosial dan Kebudayaan sebelum menggunakan media film.
2. Mengetahui hasil belajar siswa di SMA N 1 Bobotsari pada pokok bahasan Konflik
Sosial dan Kebudayaan setelah menggunakan media film.
3. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa SMA N 1 Bobotsari pada pokok bahasan
Konflik Sosial dan Kebudayaan melalui media film.
MANFAAT
Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini yaitu :
1. Manfaat teoretis
1. Mengembangkan pengetahuan tentang pemanfaatan media pembelajaran
berbasis film dalam proses pembelajaran di sekolah.
2. Menambah wawasan akan adanya film-film yang digunakan sebagai media
dalam pembelajaran di sekolah.
3. Manfaat praktis
Penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh pelaksana pendidikan dalam menambah pengetahuan
tentang pelaksanaan pendidikan di sekolah. Adanya media pembelajaran berbasis film dapat
menambah wawasan bagi guru agar lebih inovatif dalam memberikan materi pembelajaran
agar lebih mudah dipahami.
Bagi para pembaca dapat diketahui bahwa film bukan semata-mata sebagai hiburan saja akan
tetapi juga dapat digunakan sebagai media dalam proses pembelajaran di sekolah, sehingga
dapat diketahui bahwa banyak media yang dapat digunakan untuk memudahkan guru dalam
mengajar siswanya.
1. C. PENEGASAN ISTILAH
1. 1. Belajar
Belajar merupakan suatu proses yang dialami oleh setiap manusia baik melalui lembaga
pendidikan seperti sekolah maupun yang lainnya. Djamarah sebagaimana dalam skripsi
Maulida (2009:15) menuliskan bahwa belajar merupakan suatu proses yang mengandung
serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung
dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Melalui proses belajar terjadi interaksi
antara guru dan siswa yang didalamnya menghasilkan hubungan timbal balik diantara
keduanya.
1. 2. Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru
dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk
mencapai tujuan tertentu.
1. 3. Konflik
Konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (atau juga
kelompok) yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan pihak lain
atau membuatnya tidak berdaya (Maryati, 2006: 54).
Konflik lahir dari kenyataan akan adanya perbedaan-perbedaan, misalnya perbedaan cirri
badaniah, emosi, kebudayaan, kebutuhan, kepentingan, atau pola-pola perilaku antar individu
atau kelompok dalam masyarakat.
1. 4. Kebudayaan
Maryati (2006: 109) kebudayaan merupakan seluruh sistem gagasan, tindakan, dan hasil
karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan
belajar.
Setiap daerah memiliki kebudayaan yang berbeda. Tidak ada satu kebudayaan pun yang
sama. Hal tersebut dapat terjadi karena beberapa faktor, diantaranya keadaan geografis.
1. D. TINJAUAN PUSTAKA
Permasalahan tentang pengajaran sosiologi yang berkaitan dengan penerapan model
pembelajaran kontekstual dengan mengangkat nilai- nilai social di masyarakat dan
penggunaan media video compact disc (VCD) dalam pembelajaran bukanlah hal baru.
Kaitanya dengan masalah pegajaran sosiologi penerapan model pembelajaran kontekstual dan
penggunaan media ada beberapa kajian yang telah dilakukan oleh Arif Sadiman dkk (1996)
dan Agus Triarso (2004).
Penelitian tentang media film dokumenter juga telah dilakukan oleh Kuswinarti. Penelitian
tersebut menekankan pada pemanfaatan film dokumenter dalam pembelajaran Sosiologi
khususnya pada pokok bahasan Konflik Sosial.
Penelitian yang akan dilakukan ini lebih menekankan pada penggunaan semua jenis film
yang berkaitan dengan pokok bahasan yang ada, tidak terbatas pada film-film dokumenter
saja.
1. E. LANDASAN TEORI
1. 1. Proses pembelajaran dan aktifitas belajar
Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru
dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk
mencapai tujuan tertentu.
Menurut Sudjana (2009:28-37) agar suatu pembelajaran efektif perlu memperhatikan hal-hal
berikut :
1. Proses pembelajaran harus mempunyai tujuan yang jelas
2. Dasar proses pembelajaran adalah suatu yang bersifat eksploratif serta menemukan
bukan pengulangan rutin
3. Proses belajar mengajar hendaknya mampu melayani gaya dan kecepatan belajar
peserta didik yang berbeda-beda
4. Proses belajar mengajar perlu didasarkan atas pengalaman yang sudah dimiliki peserta
didik
5. Bahan yang dipelajari hendaknya bersifat praktis, berhubungan dengan situasi
kehidupan
6. Dalam proses pembelajaran hendaknya mendayagunakan berbagai jenis media dan
sumber belajar yang relevan
7. Proses pembelajaran harus melibatkan peserta didik untuk aktif dalam proses belajar
mengajar.
Adapun yang dimaksud dengan tujuan pembelajaran adalah membantu siswa agar
memperoleh berbagai pengalaman dan merubah tingkah laku siswa baik dari segi kualitas
maupun kuantitas. Perubahan tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan yang
menuju ke arah yang lebih baik.
1. 2. Teori-teori Belajar
2. Teori Humanistik
Teori belajar humanistik diawali oleh munculnya gerakan peserta didik pada tahun 1960an
karena mereka tidak menyukai terhadap proses dan hasil pendidikan di Amerika Serikat yang
telah mereka peroleh. Gerakan itu dipelopori oleh Neill, John Holt, Jonathan Kozol, dan Pauf
Goodman. Gerakan itu juga memunculkan nama-nama gerakan pendidikan baru dengan
berbagai sebutan seperti romantisme, system pendidikan alternative, dan pendidikan
humanistic (Anni dkk, 2009:143). Filsafat pendidikan humanistic sangat mementingkan
adanya rasa kemerdekaan dan tanggung jawab. Bila seseorang mampu mengaktualisaasi
dirinya dengan bebas tanpa karena tekanan lingkungan ia akan mencapai kesejahteraan. Maka
tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia agar manusia mampu mengaktualisasi diri
sebaik-baiknya. Prinsip yang nampak dalam kegiatan pembelajaran adalah pembelajaran
humanistic cenderung mendorong anak-anak untuk berfikir induktif karena mementingkan
factor pengalaman dan keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar.
1. Teori Konstruktivisme
Teori belajar konstruktivistik menyatakan bahwa pendidik tidak dapat memberikan
pengetahuan kepada peserta didik. Sebaliknya, peserta didik harus mengkonstruksikan
pengetahuannya sendiri (Anni dkk, 2009:128). Teori belajar konstruktivisme memandang
bahwa belajar adalah lebih dari sekedar mengingat. Inti sari teori konstruktivictik adalah
bahwa peserta didik harus menemukan dan mentransformasikan informasi komplek kedalam
dirinya sendiri. Belajar berarti mengkonstruksi makana atas informasi dan masukan-masukan
yang masuk kedalam otak. Belajar yang bersifat konstruktif ini seperti halnya aktivitas
belajar yang dilakukan oleh para ilmuwan.
1. 3. Pembelajaran Berbasis Multimedia
Secara umum pembelajaran berbasis multimedia merupakan rangkaian dari beberapa jenis
media yang menjadi satu paket setting media yang digunakan dalam pembelajaran.
Dalam kamus istilah teknologi informasi, multimedia adalah suatu istilah serbaguna bagi
transmisi manipulasi semua bentuk informasi, baik dalam bentuk kata- kata, gambar, video,
musik, angka atau tulisan tangan. Dalam penggunaanya multimedia memerlukan
kemampuann komputer dan kapasitas komunikasi tinggi.
Penggunaan multimedia dalam pembelajaran selain akan menghemat waktu bagi guru.
Pengalaman ini juga akan menjadi cara belajar baru yang dapat meningkatkan minat siswa
terhadap pembelajaran. Ini akan mengurangi kebosanan rutinitas pembelajaran, baik guru
maupun siswa. Dengan kondisi belajar siswa yang terus meningkat, guru akan lebih
bersemangat untuk mengembangkan bahan pelajarannya, karena guru senantiasa dituntut oleh
siswa yang haus akan bahan baru dan baru lagi. Interaksi belajar merupakan bagian penting
dalam pembelajaran bebasis multimedia.
Sama halnya dengan pembelajaran, pada umumnya pembelajaran dengan media berpedoman
pada perilaku yang ada. Isi materi (content) meliputi validitas materi, urgensi tiap materi,
serta keaktualanya bagi pembelajaran siswa. Materi program multimedia harus memiliki
tingkat keaktualan dan kompleksitas yang tinggi.
Penggunaan media dalam proses pembelajaran merupakan salah satu cara untuk menciptakan
suatu proses pendidikan yang efektif dan efisien sehingga menghasilkan hasil belajar yang
optimal dan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Pengajar sebagai tenaga yang
professional dapat menentukan dan mengembangkan media yang tepat sesuai dengan
karakteristik materi pembelajaran. Untuk itu seorang pengajar sebelum memanfaatkan media
dalam proses pembelajaran harus mengetahui strategi dan pemanfaatan dalam menggunakan
media. Arif Sadiman (1993 : 198) mengemukakan strategi pemanfaatan dalam penggunaan
media yakni :
1) Persiapan sebelum menggunakan media
2) Kegiatan selama menggunakan media ( ketenangan )
3) Kegiatan tindak lanjut
Dengan memperhatikan strategi pemanfaatan media tersebut diharapkan pengajar dalam
mengaplikasikan yang dapat merusak rencana yang telah tersusun sedemikian rupa sehingga
proses pembelajaran dengan menggunakan media tersebut dapat berhasil.
1. 4. Fungsi, manfaat dan pembelajaran.tujuan media
Dalam suatu proses belajar mengajar, 2 unsur yang amat penting adalah metode mengajar dan
media pengajaran. Pemilihan suatu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis
media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim,
kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.
Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam proses belajar
mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi
dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh- pengaruh psikologi
terhadap siswa.
Sudjana ( 2002 : 2 ) media pembelajaran memiliki 4 manfaat :
1) Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga meningkatkan /
menumbuhkan motivasi belajar.
2) Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga lebih mudah dipahami.
3) Metode mengajar akan lebih bervariasi tidak semata- mata komunikasi verbal.
4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar dari pada mendengarkan uraian guru.
Setiap penggunaan media pembelajaran juga memiliki tujuan Raharjo (2005 : 107)
menjelaskan penggunaan media pembelajaran memiliki 6 tujuan.
1. Sebagai ilustrator yaitu berperan menggambarkan masalah secara jelas.
2. Membentuk kode (sandi).
3. Mampu menunjukan gambaran hidup (animasi).
4. Mamahami maknanya (kodofinasi).
5. e. Melahirkan kesabar baru (dekodefikasi).
6. Mewujudkan terjadinya perubahan kearah perbaikan (transformasi).
1. 5. Jenis media
Pada dasarnya banyak sekali jenis- jenis media pendidikan diantaranya media pandang dan
gerak:
a) Video/ Film
Media Film merupakan gambar- gambar dalam frame dimana frame demi frame di
proyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar itu
hidup. Film bergerak dengan cepat secara bergantian sehingga menghasilkan visual yang
kontinu. Sama halnya dengan Film, Video dapat menggambarkan suatu obyek yang bergerak
bersama- sama dengan suara ilmiah/ suara yang sesuai kemampuan Film dan Video
melukiskan gambar hidup dan suara memberikan bgaya tarik tersendiri. Bertujuan untuk
hiburan, dokumentasi, dan pendidikan. Mereka dapat menyajikan informasi,memaparkan
proses, menjelaskan konsep- konsep yang rumit, mengajarkan ketrampilan, menyingkat dan
memperpanjang waktu dan mempengaruhi sikap (Arsyad,2002 : 48)
b) Media pandang dengar diam = slide suara.
c) Media dengar semi gerak = radio / rekaman audio bersinyal.
d) Media pandang gerak = film tak bersuara.
e) Media pandang diam = OHP, slide / fotografi, gambar, chart ( bagan ) poste benda asli.
f) Media dengar radio, rekaman audio ( kaset dan CD ) piringan hitam.
g) Media cetak = bahan ajar, majalah ilmiah, koran dll.
1. 6. Film
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, film adalah selaput tipis yang dibuat dari selulolid
untuk tempat gambar negative ( yang akan dibuat potret ) atau untuk tempat gambar positif (
yang akan dimainkan dalam bioskop ) : lakon ( cerita ) gambar hidup.
Dalam penggunaan media film, film yang akan digunakan dalam pembelajaran harus sesuai
dengan materi pelajaran yang diberikan. Film sangat menarik sekali sebagai suatu media atau
alat pembelajaran dan hendaknya mendapat perhatian yang lebih banyak. Bila suatu sekolah
mempunyai proyektor film, maka guru harus mengenal film yang tersedia dan lebih dulu
melihatnya untuk mengetahui manfaatnya bagi mata pelajaran.
Media film termasuk golongan audio- visual yang sebenarnya adalah alat- alat yang dapat
menghasilkan suara atau rupa dalam satu unit. Film disini yang dimaksud adalah film sebagai
alat audio- visual untuk pengajaran, penerangan dan penyuluhan.
a) Film documenter adalah film yang mendokumentasikan kenyataan.
Film dokumenter adalah rekaman yang diambil langsung dari suatu kejadian. Jadi film
dokumenter tidak mengandung unsur skenario. Jadi kesimpulanya adalah, media film
dokumenter adalah suatu media pembelajaran dalam bentuk rekaman film yang diambil
secara langsung yang bersifat dokumenter.
b) Kelebihan dan Kekurangan Film
Kelebihan
1) Memiliki semua kemampuan yang dimiliki oleh media audio, visual dan gerak.
2) Memiliki efek menarik yang tidak dimiliki oleh media lain.
3) Dapat menyajikan pesan yang sukar dan langka karena telah direkam terlebih dahulu.
4) Tidak memerlukan ruangan gelap.
Kekuranganya adalah terletak pada pengadaan umumnya memerlukan biaya mahal dan waktu
yang banyak.
1. 7. Hasil belajar
Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami
aktivitas belajar (Anni, 2004: 4). Hasil belajar didefinisikan sebagai hasil usaha penguasaan
pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran lazimnya ditunjukan
dengan nilai tes atau nilai yang diberikan oleh guru.
Syarat-syarat suatu perubahan tingkah laku yang dapat dikatakan sebagai hasil belajar adalah
sebagai berikut :
1) Hasil belajar sebagai pencapaian tujuan
2) Hasil belajar harus sebagai buah dari proses kegiatan yang disadari
3) Hasil belajar harus produk dari proses latihan
4) Hasil belajar merupakan tindak tanduk yang berfungsi aktif dalam kurun waktu tertentu
5) Hasil belajar harus berfunggsi operasional yaitu yang merupakan tindak tanduk yang
berfungsi positif bagi penyembuhan tindak tanduk lainnya
1. F. KERANGKA BERPIKIR
Penggunaan Media
Pembelajaran Sisiologi
1. Memotivasi siswa dalam belajar
2. Pengalaman siswa lebih konkret
3. Perhatian siswa lebih besar terhadap materi yang diajarkan
Teori Konstruktivistik
Pembelajaran menggunakan film Pembelajaran tanpa menggunakan film
Hasil belajar siswa
1. G. HIPOTESIS
Untuk meningkatkat minat belajar siswa yang menunjang prestasi diperlukan adanya media
tertentu untuk menunjang hal tersebut. Penggunaan media ini diharapkan dapat memotivasi
siswa dalam belajar. Oleh karena itu pemakaian media dalam pembelajaran merupakan hal
yang tidak dapat terpisahkan dari proses mengajar untuk tercapainya tujuan pembelajaran
pada khususnya.
Untuk menunjang tujuan tersebut diperlukan suatu media pembelajaran yaitu media
pembelajaran yang berbasis teknologi. Dengan menggunakan teknologi yang ada diharapkan
penyampaian materi dapat diperjelas dengan adanya contoh yang konkret. Dengan demikian
siswa menjadi termotivasi untuk belajar dan mata pelajaran Sosiologi tidak lagi menjadi mata
pelajaran yang membosankan.
Penggunaan media berbasis film
Prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Sosiologi
Berdasarkan uraian di atas maka hipotesis tindakan penelitian adalah sebagai barikut:
Ada pengaruh penggunaan media berbasis film terhadap prestasi belajar siswa pada mata
pelajaran Sosiologi siswa kelas X SMA N 1 Bobotsari.
1. H. METODOLOGI PENELITIAN
1. 1. Jenis Penelitian
Dalam penelitian yang berjudul PENGARUH MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS
FILM TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN SOSIOLOGI
KELAS XI PADA POKOK BAHASAN KEBUDAYAAN DAN KONFLIK SOSIAL
SMA N I BOBOTSARI KABUPATEN PURBALINGGA menggunakan penelitian
eksperimen. Jenis penelitian ini digunakan sesuai dengan tujuan dan permasalahan dalam
penelitian yaitu untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui media film. Untuk
memperoleh data apakah media film ini dapat meningkatkan hasil belajar atau tidak, maka
perlu dilakukan penelitian eksperimen.
Penelitian eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan
kausal) antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeleminasi atau
mengurangi atau menyisihkan faktor-faktor lain yang bisa mengganggu, eksperimen
dilakukan dengan maksud untuk menilai akibat suatu perlakuan (Arikunto 2006: 3)
1. 2. Desain Penelitian
Secara garis besar, menurut Arikunto (2006: 84) ekperimen dibagi menjadi dua desain yaitu
pre-experimental design dan true-experimental design. Bentuk desain eksperimen yang
dipakai dalam penelitian ini adalah Pre-Experimental Designs atau disebut quasi
eksperimen atau eksperimen pura-pura. Hal ini karena hanya ada satu kelompok eksperimen
tanpa adanya kelompok kontrol.
Penelitian ini menggunakan desain pre-test and post-test karena dalam penelitian ini
pengukuran dilakukan sebanyak 2 (dua) kali yaitu sebelum ekperimen dan sesudah
ekperimen tanpa menggunakan kelompok kontrol. Perbedaan antara O
1
dan O
2
(O
2
-O
1
)
diasumsikan sebagai efek dari treatment atau ekperimen.
.
1. 3. Variabel Penelitian
1. a. Jenis Variabel
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel independen (X) dan variabel
dependen (Y). Variabel independen dalam penelitian ini adalah media beerbasis film.
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah hasil belajar.
1. b. Hubungan antar Variabel
Hubungan antar kedua variabel tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 3.2
Hubungan Antar Variabel
X
Y
Variabel Bebas Variabel Terikat
Variabel X mempengaruhi variabel Y, media film sebagai variabel bebas (X) mempengaruhi
hasil belajar sebagai variabel terikat (Y).
1. c. Populasi, Sampel Dan Teknik Sampling
1) Populasi Penelitian
Menurut Azwar (1997: 77) dalam penelitian sosial, populasi didefinisikan sebagai kelompok
subjek yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian. Sedangkan menurut Sugiyono
(2005: 55) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek atau subyek yang
mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi yang dimaksud adalah seluruh siswa kelas XI
IPS SMA N 1 Bobotsari yang berjumlah 160 orang yang terbagi menjadi 4 kelas.
2) Sampel Penelitian dan Teknik Smapling
Menurut Azwar (1997: 79) sampel adalah sebagian dari populasi. Pengambilan sampel dalam
penelitian ini dilakukan dengan mengukur hasil belajar siswa kelas XI IPS. Siswa yang
memilliki hasil belajar yang rendah, sedang, dan tinggi dijadikan sampel pada penelitian ini.
Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel. Teknik sampling yang digunakan
dalam penelitian ini adalah purposive sampling atau sampel bertujuan. Menurut Hadi (2000:
226) dalam purposive sampling pemilihan sekelompok subyek didasarkan atas ciri-ciri atau
sifat-sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau
sifat-sifat populasi. Pengambilan sampel dengan cara ini dengan pertimbangan dan tujuan
tertentu yaitu sampel diambil beberapa anak yang memiliki kriteria motivasi berprestasi
tinggi sampai dengan sangat rendah. Peneliti mengambil sampel sebanyak 35 siswa.
1. d. Validitas
Menurut Arikunto (2006: 168) validitas didefinisikan sebagai suatu ukuran yang
menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen
dinyatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan peneliti atau dapat
mengungkap varibel yang diteliti secara tepat. Validitas diukur dengan menggunakan rumus
korelasi product moment. Adapun rumusnya:
r
xy =

Keterangan :
rxy : Koefisien korelasi antara X dan Y
SXY : Jumlah perkalian skor item X dan Y
X : Jumlah skor item X
Y : Jumlah skor item Y
N : Jumlah responden
SX
2
: Jumlah kuadrat skor item X
SY
2
: Jumlah kuadrat skor item Y
1. e. Reabilitas
Reliabilitas menunjukkan pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk
digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik (Arikunto
2006: 178). Untuk menguji tingkat reliabilitas instrumen dapat digunakan uji reliabilitas.
Internal yang diperoleh dengan cara menggunakan data dari suatu hasil pengetesan dengan
rumus Alpha.
r
11 =

Keterangan :
r
11
: Reliabilitas instrumen
k :Banyaknya butir pertanyaan ataubanyaknya soal
Ss
2
: Jumlah varian butir
s
2
t : Varian total
(Arikunto, 2006:196)
1. f. Analisis Data
Analisis data merupakan salah satu langkah yang sangat penting dalam kegiatan penelitian.
Dengan analisis data maka akan dapat membuktikan hipotesis yang telah ditentukan. Dalam
menganalisis data yang telah diperoleh, teknik yang digunakan adalah :
1) Analisis Deskriptif Presentase
Arikunto (1996:243) mengatakan bahwa data yang bersifat kuantitatif yang berwujud angka-
angka hasil perhitungan/pengukuran dapat diproses dengan dijumlahkan, dibandingkan
dengan jumlah yang diharapkan dan dapat diperoleh prosentase kemudian ditafsirkan dengan
kalimat yang bersifat kualitataif. Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan :
1) Tingkat minat belajar siswa sebelum menggunakan medi pembelajaran berbasis film
(pre test).
2) Tingkat prestasi belajar peserta didik SMA N 1 Bobotsari setelah menggunakan
media berbasis film (post test)
Adapun rumus yang digunakan :
P =
Keterangan :
P : Presentase yang dicari
n : Jumlah skor yang diperoleh
N : Jumlah skor yang diharapkan
(Arikunto, 1996:264)
2) Analisis Uji Wilcoxon Match Pairs Test
Analisis uji Wilcoxon ini digunakan untuk mengetahui perbedaan motivasi sebelum dan
sesudah diberikan layanan. Adapun rumusnya sebagi berikut:
Keterangan :
n : Jumlah sampel
T : Jumlah jenjang yang kecil / ranking yang kecil
(Sugiyono, 2005: 133)
1. 4. SISTEMATIKA SKRIPSI
Secara garis besar penulisan sistematika skripsi adalah sebagai berikut:
1. Bagian awal, terdiri dari halaman judul, abstrak, lembar pengesahan, motto dan
persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar lampiran.
2. Bagian isi terdiri dari 5 bab yaitu:
Bab I: Pendahuluan, berisi tentang alasan pemilihan judul, penegasan istilah, permasalahan,
tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.
Bab II: Landasan teori, berisi tentang konsep-konsep serta teori yang mendukung pemecahan
masalah dalam penelitian.
Bab III: Metode Penelitian, jenis penelitian, desain penelitian, variabel penelitian, populasi
sampel dan teknik sampling, validitas, reabilitas, dan analisis data.
Bab IV: Hasil penelitian dan pembahasan, dalam bab ini disajikan data-data sebagai hasil
penelitian dan diuraikan tentang pembahasan .
Bab V: Simpulan dan saran, berisi kesimpulan dan saran berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan.
1. Bagian akhir: Terdiri dari daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang melengkapi
uraian pada bagian isi.
DAFTAR PUSTAKA

Mulyasa. 2009. Implementasi KTSP. Jakarta : Bumi Aksara.
Sudjana, Nana. 2009. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru
Algensindo.
Sadiman, Arief. 1993. Media Pendidikan : Pengertian, Pengembangan, dan
Pemanfaatan. Jakarta : Grafindo Press.
Depdiknas. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Arsyad, Azhar. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Soekartawi. 1995. Meningkatkan Efektivitas Belajar. Jakarta : Dunia Pustaka Jaya.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,
dan R&D. CV. Alfabeta.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pengantar Praktek.
Yogyakarta : Rineka Cipta.
Anni, dkk. 2004. Psikologi Belajar. Semarang : UPT MKK UNNES.
Azwar, Saifuddin. 1997. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hadi, Sutrisno. 2000. Statistik Jilid 1. Yogyakarta: ANDI.
Sugiyono. 2005. Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
KUESIONER

Pengantar
Dalam rangka pengumpulan data penelitian skripsi, saya Diyana Rahmawati, selaku
Mahasiswa Universitas Negeri Semarang Jurusan Sosiologi dan Antropologi ingin
mengumpulkan data tentang Pengaruh Media Pembelajaran Berbasis Film terhadap Hasil
Belajar Siswa Kelas XI IPS pada Pokok Bahasan Konflik Sosial dan Kebudayaan SMA N 1
Bobotsari Kabupaten Purbalingga. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui tentang
penggunaan film dalam pokok bahasan Konflik Sosial dan Kebudayaan dapat meningkatkan
hasil belajar siswa di SMA N 1 Bobotsari.
Kami mengharaapkan kesediaan saudara untuk mengisi angket ini berdasarkan pengalaman
anda dengan sejujur-jujurnya, sehingga kami dapat memperoleh informasi yang tepat.
Pengisian angket ini tidak akan berpengaruh terhadap penilaian anda pada mata pelajaran
Sosiologi dan juga penilaian kepribadian anda.
Atas kesediannya, saya ucapkan terima kasih.
Petunjuk Pertanyaan (tertutup)
Untuk menjawab petanyaan tertutup anda cukup member tanda X (silang) pada huruf
a atau b.
Apabila pilihanmu pertama keliru anda cukup member tanda x, pada jawaban
sebelumnya, kemudian silang (X) kembali pada jawaban yang anda rasa lebih tepat.
Atas ketersediaan saudara dalam mengisi angket saya ucapkan terima kasih.

1. A. Pertanyaan tertutup
Variabel bebas :
1. 1. Apakah sebelumnya media film pernah diperkenalkan?
1. a. Sudah b. belum
2. 2. Apakah media film sering digunakan dalam pembelajaran Sosiologi?
1. a. Ya b. tidak
2. 3. Apakah guru anda pernah menggunakan media film dalam
pembelajaran Sosiologi?
1. a. Ya b. tidak
2. 4. Apakah media film sangat efektif salam pembelajaran
Sosiologi?
1. a. Ya b. tidak
2. 5. Apakah media film yang digunakan selalu
bersumber dari guru?
1. a. Ya
b. tidak
Variabel terikat :
1. 1. Apakah anda setuju, materi konflik sosial dan kebudayaan akan lebih jelas
dengan menggunakan media film?
1. a. Ya b. tidak
2. 2. Apakah anda setuju penggunaan film lebih memotivasi siswa dalam
belajar?
1. a. Ya b. tidak
2. 3. Apakah anda setuju dengan menggunakan media film, minat
belajar siswa akan meningkat?
1. a. Ya b. tidak
2. 4. Apakah hanya media film yang cocok digunakan untuk
memudahkan pemahaman siswa?
1. a. Ya b. tidak
2. 5. Apakah hasil belajar siswa meningkat dengan
menggunakan medi film?
1. a. Ya
b. tidak

Petunjuk Pertanyaan (terbuka)
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan sebaik-baiknya.
Untuk menjawab pertanyaan, silahkan anda jelaskan jawaban sesuai dengan
pendapat anda.
Atas ketersediaan saudara dalam mengisi angket saya ucapkan terima kasih.

1. B. Pertanyaan terbuka
Variabel bebas :
1. 1. Menurut anda, bagaimana pemanfaatan media film yang efektif?
2. 2. Menurut anda, dari manakah seharusnya film itu bersumber?
3. 3. Menurut anda, haruskah guru melibatkan siswa dalam pembuatan media film?
4. 4. Menurut anda, film yang seperti apa yang tepat untuk digunakan sebagai media?
5. 5. Menurut anda, apakah penggunaan film sangat efektif dalam pokok bahasan
Konflik sosial dan Kebudayaan?
Variabel terikat :
1. 1. Menurut anda, bagaimana minat siswa dalam pelajaran Sosiologi dengan
menggunakan media film?
2. 2. Menurut anda, apakah penggunaan media film berpengaruh pada hasil belajar
siswa?
3. 3. Bagaimana pendapat anda tentang hasil belajar siswa pada pokok bahasan
Konflik Sosial dan Kebudayaan?
4. 4. Bagaimana pendapat anda tentang penggunaan media film sebagai upaya untuk
meningkatkan hasil belajar siswa?
5. 5. Menurut anda, bagaimana cara pemanfaatan media film dalam meningkatkan
hasil belajar siswa?

Petunjuk Pertanyaan (kombinasi tertutup dan terbuka)
Berilah tanda X (silang) pada huruf a atau b.
Apabila pilihanmu pertama keliru anda cukup member tanda x, pada jawaban
sebelumnya, kemudian silang (X) kembali pada jawaban yang anda rasa lebih tepat.
Setelah memilih jawaban anda kemukakan alasan anda.
Atas ketersediaan saudara dalam mengisi angket saya ucapkan terima kasih.

1. C. Pertanyaan (kombinasi tertutup dan terbuka)
Variabel bebas :
1. 1. Apakah penggunaan media film dalam pokok bahasan Konflik Sosial dan
Kebudayaan sangat tepat?
1. a. Ya b. tidak
Berikan alasan anda!


1. 2. Apakah waktu yang diberikan sesuai dengan penggunaan media film?
1. a. Ya b. tidak
Berikan alasan anda!
1. 3. Apakah penggunaan media film dapat meningkatkan hasil belajar siswa
khususnya pada pokok bahasan Konflik Sosial dan Kebudayaan?
1. a. Ya b. tidak
Berikan alasan anda!
1. 4. Apakah siswa perlu terlibat dalam menyediakan bahan ajar dengan
menggunakan media film?
1. a. Ya b. tidak
Berikan alasan anda!
1. 5. Apakah penggunaan media film harus selalu bersumber dar guru?
1. a. Ya b. tidak
Berikan alasan anda!
Variabel terikat :
1. 1. Apakah penggunaan media film dapat mempengaruhi minat belajar anda?
1. b. Ya b. tidak
Berikan alasan anda!
1. 2. Apakah penggunaan media film dapat membantu anda dalam memahami materi
pelajaran?
1. b. Ya b. tidak
Berikan alasan anda!
1. 3. Apakah penggunaan media film lebih menarik minat belajar siswa bila
dibandingkan dengan media lain?
1. a. Ya b. tidak
Berikan alasan anda!

1. 4. Apakah penggunaan media film dapat mengefektifkan waktu?
1. a. Ya b. tidak
Berikan alasan anda!
1. 5. Apakah anda setuju pemggunaan media film dapat meningkatkan hasil belajar
siswa pada pokok bahasan Konflik Sosial dan Kebudayaan?
1. a. Ya b. tidak
Berikan alasan anda!

Petunjuk Pertanyaan (Semi Terbuka)
Berilah tanda X (silang) pada huruf a atau b.
Apabila pilihanmu pertama keliru anda cukup memberi tanda x, pada jawaban
sebelumnya, kemudian silang (X) kembali pada jawaban yang anda rasa lebih tepat.
Apabila jawaban anda tidak tercantum, anda pilih jawaban c, kemudian tuliskan
jawaban anda.
Atas ketersediaan saudara dalam mengisi angket saya ucapkan terima kasih.

1. D. Pertanyaan semi terbuka
Variabel bebas :
1. 1. Media apa saja yang digunakan dalam mata pelajaran Sosiologi?
1. a. Film
2. b. Gambar
3. c. Lain-lain (sebutkan)
4. 2. Media apa yang paling cocok pada pokok bahasan Konflik Sosial dan
Kebudayaan?
1. a. Film
2. b. Gambar
3. c. Lain-lain (sebutkan)
4. 3. Media apa yang paling menarik bagi siswa untuk mengikuti
pelajaran di kelas?
1. a. Film
2. b. Gambar
3. c. Lain-lain (sebutkan)
4. 4. Pokok bahasan apakah yang paling sesuai dengan
menggunakan media film?
1. a. Konflik Sosial
2. b. Kebudayaan
3. c. Lain-lain (sebutkan)
4. 5. Dalam pemanfaatan media film, siapakah yang
menyiapkan media tersebut?
1. a. Guru
2. b. Siswa
3. c. Lain-lain (sebutkan)
Variabel terikat :
1. 1. Berapa jam pelajaran mata pelajaran Sosiologi diberikan dalam waktu 1
minggu?
1. a. 3 jam
2. b. 4 jam
3. c. Lain-lain (sebutkan)
4. 2. Berapa lama waktu yang efektif dalam penggunaan media film untuk 1
kali pertemuan?
1. a. 40 menit
2. b. 45 menit
3. c. Lain-lain (sebutkan)
4. 3. Bagaimana nilai rata-rata siswa pada pokok bahasan Konflik
Sosial dan Kebudayaan sebelum menggunakan media film?
1. a. 70
2. b. 75
3. c. Lain-lain (sebutkan)
4. 4. Bagaimana nilai rata-rata siswa pada pokok bahasan
Konflik Sosial dan Kebudayaan setelah menggunakan media
film?
1. a. 70
2. b. 75
3. c. Lain-lain
4. 5. Bagaimana hasil belajar siswa pada pokok
bahasan Konflik Sosial dan Kebudayaan dengan
menggunakan media film?
1. a. Naik
2. b. Turun
3. c. Lain-lain (sebutkan)