Anda di halaman 1dari 8

Tugas

Sosiologi Hukum
Analisis Mengenai Dampak dari Peraturan Daerah Kota
Bandung Nomor 04 Tahun 2011 tentang Penataan dan
Pembinaan Pedagang Kaki Lima

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Hukum
Disusun Oleh :
Regowo Wicaksono Asnar 110110110388
Arjana Bagaskara Solichin 110110110210
Agung Gumelar 110110100017
Kemal Maruszama 110110090365
Faza Hanawiratama 110110090387

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
[SOSIOLOGI HUKUM] Oktober 2, 2014

A. Latar Belakang Lahirnya Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 04 Tahun 2011 tentang
Penataan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima

Setelah menertibkan Pedagang Kaki Lima (PKL) di sejumlah titik, mulai 1 Februari 2014
Pemerintah Kota Bandung memberlakukan denda 1 juta bagi orang yang membeli di PKL.
Sebelum sanksi tersebut berlakukan, Pemkot sudah melakukan sosialisasi dan operasi
simpatik larangan membeli di PKL di kawasan tujuh titik yang termasuk zona merah atau
dilarang seperti Jalan Merdeka, Jalan Asia Afrika, Alun-alun Bandung, Jalan Dewi Sartika,
Jalan Kepatihan, Jalan Dalem Kaum, dan Jalan Otto Iskandardinata
1
.
Pemkot Bandung memberlakukan denda Rp 1 juta bagi pembeli di PKL dalam rangka
melaksanakan Perda Nomor 4 Tahun 2011 tentang Penataan dan Pembinaan Pedagang Kaki
Lima. Selama ini masyarakat banyak mengeluh terhadap kemacetan dan kesemrawutan
akibat dari badan jalan, trotoar atau fasilitas publik yang digunakan berjualan oleh PKL.
Upaya untuk mengatasi masalah tersebut, Pemkot Bandung sudah membuat tiga zona PKL,
yaitu zona merah, zona kuning, dan zina hijau. Zona merah adalah tempat yang sama sekali
dilarang PKL berjualan seperti pada kawasan tujuh titik, rumah ibadah, rumah sakit, komplek
militer, jalan nasional, dan tempat lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Zona
kuning adalah zona yang bisa buka tutup berdasarkan waktu dan tempat, dan zona hijau
adalah zona dimana PKL boleh berjualan.
Aturan baru tersebut sontak mengundang pro dan kontra di tengah masyarakat khususnya
yang suka membeli di PKL. Menjamurnya PKL memang tidak lepas dari hubungan saling
membutuhkan sekaligus menguntungkan antara pedagang dan pembeli. PKL biasanya
berjualan di tempat-tempat yang strategis, banyak dilewati orang atau tempat keramaian,
seperti di pinggir-pinggir jalan. Begitu pun masyarakat cenderung dimudahkan dengan
adanya PKL. Tidak perlu repot-repot masuk ke dalam pasar karena bisa dengan mudah
membeli barang kebutuhan di PKL. Belum lagi harga barang yang biasanya lebih murah
dibandingkan dengan tempat lain membuat barang jualan PKL banyak digemari.
2


1
http://sosbud.kompasiana.com/2014/02/02/menyoal-larangan-membeli-di-pkl-denda-efek-jera-dan-edukasi-etika-
belanja-628964.html
2
http://microsite.metrotvnews.com/videoprogram/detail/2014/01/31/22023/27/Zona-Merah-Larangan-PKL-
Berjualan/Suara_Anda
[SOSIOLOGI HUKUM] Oktober 2, 2014

PKL banyak muncul dan sulit ditertibkan karena masih banyak masyarakat yang mau dan
senang membeli di PKL sehingga papan-papan larangan berjualan di tempat tertentu pun
tidak digubris. Jadi, jika engacu kepada Perda tersebut, yang melanggar hukum bukan hanya
PKL-nya tetapi juga pembelinya. Inilah salah satu hal yang mendasari Pemkot Bandung
memberlakukan sanksi Rp 1 juta bagi pembeli di PKL. Bukan hanya PKL-nya saja yang
perlu diberi sanksi, tetapi juga pembelinya.
Pemerintah Kota Bandung secara resmi mulai memberlakukan hukuman denda sebesar
Rp1 juta rupiah terhadap warga yang membeli dagangan dari pedagang kaki lima (PKL) di
titik larangan.Titik yang disebut Zona Merah ini menurut Walikota Ridwan Kamil melanggar
aturan tentang tata ruang dan karena itu dibersihkan dari operasi PKL dengan dasar terbitnya
Perda Kota Bandung No. 4/2011 B
.Dalam rancangan yang sudah dibuat Pemkot, Ridwan berambisi menata ulang lokasi
PKL ke dalam sejumlah pusat perbelanjaan dengan tawaran kredit.

B. Tinjauan Sosiologis dan Yuridis Mengenai Fenomena Pedagang Kaki Lima (PKL)

a. Terminologi Pedagang Kaki Lima

Pedagang Kaki Lima menurut Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer
3
, adalah
pedagang yang menjual barang dagangannya di pinggir jalan atau di dalam usahanya
menggunakan sarana dan perlengkapan yang mudah dibongkar pasang atau dipindahkan
serta memempergunakan bagian jalan atau trotoar, tempat-tempat yang tidak
diperuntukkan bagi tempat untuk berusaha atau tempat lain yang bukan miliknya.
Menurut Breman (1988), pedagang kaki lima merupakan usaha kecil yang
dilakukan oleh masyarakat yang berpenghasilan rendah (gaji harian) dan mempunyai
modal yang terbatas. Dalam bidang ekonomi, pedagang kecil ini termasuk dalam sektor
informal, di mana merupakan pekerjaan yang tidak tetap dan tidak terampil serta
golongan-golongan yang tidak terikat pada aturan hukum, hidup serba susah dan semi
kriminil pada batas-batas tertentu.


3
Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer (1991)
[SOSIOLOGI HUKUM] Oktober 2, 2014

b. Pedagang Kaki Lima berdasarkan Prespektif Sosiologis

PKL ini timbul dari akibat tidak tersedianya lapangan pekerjaan bagi rakyat kecil
yang tidak memiliki kemampuan dalam berproduksi. Adanya fenomena PKL ini
merupakan salah satu imbas dari semakin banyaknya jumlah rakyat miskin di Indonesia.
Mereka berdagang karena tidak ada pilihan lain, mereka tidak memiliki kemampuan
pendidikan yang memadai, tidak memiliki tingkat pendapatan ekonomi yang baik, dan
tidak adanya lapangan pekerjaan yang tersedia buat mereka. Sehingga untuk memenuhi
kebutuhan pokok sehari-hari dan untuk membiayai keluarganya ia harus berdagang di
kaki lima. Menjadi PKL bukan merupakan suatu pilihan melainkan suatu kondisi yang
tidak dapat dihindari pada sebagian besar rakyat di Indonesia dewasa ini karena
kurangnya pendidikan dan pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah dalam
mengatasi fenomena sosial ini.

c. Pedagang Kaki Lima berdasarkan Prespektif Yuridis

Dalam NKRI ini, belum ada Undang-Undang yang khusus mengatur PKL.
Padahal fenomena PKL sudah merupakan permasalahan Nasional. Karena di setiap kota
pasti ada pedagang kaki limanya. Peraturan mengenai PKL ini hanya terdapat dalam
peraturan daerah (perda). Perda ini hanya mengatur tentang larangan untuk berdagang
bagi PKL di daerah-daerah yang sudah ditentukan.
4

Seperti di kota Bandung, di dalam perda K3 ini terdapat pasal mengenai PKL
yaitu pasal 49 ayat (1) Perda Nomor 11 tahun 2005 yang kemudian direvisi oleh
pemeritah Kota Bandung dengan membuat Peraturan Daerah No 4 Tahun 2011 yang
berbunyi : bahwa setiap orang atau badan hukum yang melakukan perbuatan berupa :
1. berusaha atau berdagang di trotoar ; badan jalan/jalan; taman; jalur hijau dan tempat-
tempat lain yang bukan peruntukkannya tanpa izin dari walikota dikenakan biaya
paksa penegakan hukum sebesar Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah ) dan/atau sanksi
administrative berupa penahanan untuk sementara waktu KTP atau kartu tanda
identitas penduduk lainnya.

4
http://noniaxio.com/2010/05/pedagang-kaki-lima.html
[SOSIOLOGI HUKUM] Oktober 2, 2014

2. mendirikan kios dan/atau berjualan di trotoar; taman; jalur hijau; melakukan kegiatan
yang dapat mengakibatkan kerusakan kelengkapan taman atau jalur hijau dikenakan
pembebanan biaya paksa penegakan hukum sebesar Rp.1.000.000,00 (satu juta
rupiah) dan atau sanksi administratif berupa penahanan sementara KTP atau kartu
identitas penduduk lainnya


C. Analisis Mengenai Dampak Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 04 Tahun 2011
terhadapa Pedagang Kaki Lima

Berdasarkan hasil studi lapangan kami sekelompok yang kami lakukan menggunakan
metode interview dengan 3 Responden Pedagang Kaki Lima (PKL) di jalan Merdeka yang
direlokasi ke dalam basement gedung Bandung Indah Plaza (BIP) Mall. Kami mendaptakan
kesimpulan bahwa dengan adanya Peraturan Pemerintah Kota Bandung berdasarkan Undang
Undang Nomor 4 Tahun 2011 Mengenai Penataan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima,
menimbulkan reaksi yang beragam antara para PKL. Salah satunya PKL yang berjualan
Casing Hand Phone, Topi, dan Aksesoris yang sudah direlokasi kurang lebih 6 bulan yang
lalu mengeluhkan terjadinya penurunan omzet penjualan yang cukup drastic pasca relokasi
yang diberlakukan oleh Pemkot Bandung dengan Manajemen dari pihak BIP. Samahalnya
dengan para PKL yang berjualan Hewan, mereka belum dapat direlokasi karena belum ada
tempat yang dapat memberikan solusi bagi mereka untuk berjualan. Para PKL ini pada
umumnya mengeluhkan bahwa pemerintah masih memiliki banyak kekurangan dalam
mengimplementasikan Perda Kota Bandung ini. Mereka berpendapat bahwa masih minimnya
sosialisasi dan publikasi keberadaan PKL di jalan Merdeka ini, sehingga pelanggan yang
biasa membeli barang dagangan dari PKL di jalan Merdeka atau sekitaran BIP ini tidak
mengetahui keberadaan PKL.
Berdasarkan penuturan para responden , kami mendapkan informasi bahwa para PKL di
jalan Merdeka ini telah mengajukan beberapa saran dan kritik terhadap kebijakan pemerintah
yang digagas oleh Walikota Bandung Ridwan Kamil. Mereka menyampaikan aspirasinya
dibantu oleh beberapa Organisasi Masyarakat (Ormas) dan Lembaga Swadaya Masyarakat
[SOSIOLOGI HUKUM] Oktober 2, 2014

(LSM) yang ingin memberikan bantuan hukum dalam memperjuangkan hak hak dari para
PKL di kawasan Zona Merah khususnya PKL di jalan Merdeka.
Setelah selesai berwawancara dengan beberapa Responden PKL, kelompok kami
mendaptkan kesimpulan pada dasarnya para PKL yang berada di Jalan Merdeka ini
Mendukung atau Pro terhadap kebijakan Pemerintah Kota Bandung dalam upaya
mewujudkan Perda mengenai K3 (Kebersihan, Kenyamanan,Ketertiban) di Kota Bandung
ini, namun mereka masih menuntut hak hak mereka untuk dapat menjalankan kegiatan
usaha mereka sebagai PKL dikarenakan banyaknya kebutuhan hidup, dan semakin
meningkatnya kebutuhan hidup seiring dengan pertumbuhan kota dan kompleksitas
masyarakat di Kota Bandung.

D. Kesimpulan dan Saran berdasarkan keterangan dari hasil wawancara kepada Pedagang Kaki
Lima dihubungakan dengan Perlindungan Hak Setiap Warga Negara untuk Mendapatkan
Penghidupan yang Layak.

Walaupun di dalam Perda K3 (kebersihan, keindahan, ketertiban) terdapat pelarangan PKL
untuk berjualan di trotoar, jalur hijau, jalan dan badan jalan, serta tempat-tempat yang bukan
peruntukannya, namun pemerintah harus mampu menjamin perlindungan dan memenuhi hak-hak
ekonomi PKL. Beberapa produk hukum yang dapat dijadikan landasan perlindungan bagi PKL
ini adalah:
1. Pasal 27 ayat (2) UUD 1945: tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan
penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
2. Pasal 11 UU nomor 39/1999 mengenai Hak Asasi Manusia: setiap orang berhak atas
pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak
3. Pasal 38 UU nomor 39/1999 mengenai Hak Asasi Manusia:
(1) setiap warga Negara, sesuai dengan bakat, kecakapan dan kemampuan,
berhak atas pekerjaan yang layak
(2) setiap orang berhak dengan bebas memilih pekerjaan yang disukainya dan

[SOSIOLOGI HUKUM] Oktober 2, 2014

4. Pasal 13 UU nomor 09/1995 tentang usaha kecil: Pemerintah menumbuhkan iklim
usaha dalam aspek perlindungan, dengan menerapkan peraturan perundang-undangan
dan kebijaksanaan untuk:
a. menentukan peruntukan tempat usaha yang meliputi pemberian lokasi di
pasar, ruang pertokoan, lokasi sentra industri, lokasi pertanian rakyat, lokasi
pertambangan rakyat, dan lokasi yang wajar bagi pedagang kaki lima , serta
lokasi lainnya.
b. memberikan bantuan konsultasi hukum dan pembelaan.

Fenomena dalam pembongkaran dan relokasi PKL ini selalu tidak memperhatikan dan
selalu merusak hak miik para PKL. Padahal hak milik ini telah dijamin oleh UUD 1945 dan
UU nomor 39 tahun 1999 mengenai HAM. Diantaranya berbunyi:

5. Pasal 28 G ayat (1) UUD 45, berbunyi setiap orang berhak atas perlindungan diri
pribadi; keluarga; kehormatan; martabat; dan harta benda yang dibawah
kekuasaannya , serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan
untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.
6. Pasal 28 H ayat (4) UUD 45, berbunyi setiap orang berhak mempunyai hak milik
pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang.
7. Pasal 28 I ayat (4) UUD 45, berbunyi perlindungan; pemajuan; penegakan; dan
pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab Negara terutama pemerintah.

Sedangkan didalam Undang-Undang nomor 39 tahun 1999 mengenai HAM, berbunyi
sebagai berikut :

1. Pasal 36 ayat (2) berbunyi tidak seorang pun boleh dirampas hak miliknya dengan
sewenang-wenang.
2. Pasal 37 ayat (1) berbunyi pencabutan hak milik atas sesuatu benda demi
kepentingan umum; hanya dapat diperbolehkan dengan mengganti kerugian yang
wajar dan segera diperbolehkan dengan mengganti kerugian yang wajar dan serta
pelaksanaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada.
[SOSIOLOGI HUKUM] Oktober 2, 2014

3. Pasal 37 ayat (2) berbunyi apabila ada sesuatu benda berdasarkan ketentuan hukum
demi kepentingan umum harus dimusnahkan atau tidak diberdayakan baik itu untuk
selama-lamanya maupun untuk sementara waktu, maka hal itu dilakukan dengan
mengganti kerugian
4. Pasal 40 berbunyi setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta berkehidupan
yang layak