Anda di halaman 1dari 23

DIKSI DALAM TEKS AL-QUR’AN

(Sebuah Pemetaan awal)
Oleh: Abul !a"u#

Ab$t#a%t
Salah satu Aspek lain yang mendukung wajah estetik teks al-Qur’an adalah pilihan
kata-katanya yang begitu cermat, baik dalam relasinya dengan kata-kata lain yang
terlihat serasi, maupun dalam kaitannya dengan makna kata tersebut. Perhatian al-
Qur’an begitu besar terhadap pilihan kata kata yang digunakannya. Satu kata dalam
konstruksi tertentu betul-betul tak tergantikan oleh kata yang lain, bahkan oleh kata
yang dinilai sinonimnya. Tulisan ini akan mengulas diksi dalam teks al-Qur’an yang
merupakan sisi lain dari keagungan kitab suci tersebut. Pendekatan yang digunakan
adalah linguistik diakronik yang merupakan salah satu bentuk pendekatan dalam
strukturalisme linguistik.

Penahuluan
ika kita mengikuti pandangan bahwa teks al-Qur’an tidak bisa disangkal
keberadaannya sebagai teks dengan kandungan nilai sastra yang begitu tinggi!
bahkan tertinggi dibandingkan sederetan karya sastra manusia seperti diakui beberapa
pemikir,"#$ maka bahasa yang digunakan dalam kitab suci ini pasti memiliki aspek
kekhasan dan keistimewaan yang membuatnya unggul di bandingkan teks-teks
kebahasaan lainnya."%$ Salah satu aspek yang membuat bahasa al-Qur’an teramat
unggul adalah ketelitiannya dalam memilih kata-kata untuk menyampaikan
kandungannya. &etelitian ini telah menempatkannya pada puncak tertinggi di
belantika sastra Arab, waktu itu dan hingga saat ini. 'eberapa contoh berikut bisa
membuktikan diatas.
(alam Q.S al-'a)arah "%$* +, yang berbicara tentang terpancarnya air dari batu yang
dipukul nabi -usa a.s, al-Qur’an mengungkapkannya dengan kata .fa infajarat.,
sementara dalam Q.S. al-A‘ra>f "/$* #+, yang berbicara tentang tema yang sama, al-
Qur’an menggunakan kata .fa inbajasat.. 0ontoh lain, kata .balad. disebutkan
dalam bentuk nakirah .balad. dalam ayat .wa iz\ qa>la Ibra>hi>mu rabbi
ij‘al ha>z\a> baladan a>minan. 1Q.S. al-'a)arah "%$* #%+2, sementara dalam
ayat lain kata .balad. digunakan dalam bentuk ma‘rifah .al-balad., yaitu 3irman
Allah Ta4ala dalam ayat .wa iz\ qa>la Ibra>hi>mu rabbi ij‘al ha>z\a> al-
balada a>minan. 1Q.S. Ibra>hi>m "#5$* 67.
&eistimewaan diksi dalam teks al-Qur’an juga dapat dilihat dalam potongan ayat
berikut .a‘ja>zu nakhlin munqa‘ir. 1Q.S. al-Qamar "75$* %,2, dan potongan
ayat .a‘ja>zu nakhlin kha>wiyah. 1Q.S. al-H}a>qqah "+8$* /2. (alam ayat
pertama kata .nakhlin. diberi ajekti3 berbentuk muz\akkar 1munqa‘ir2,
sementara dalam ayat yang kedua kata tersebut diberi ajekti3 berbentuk mu’annas\
1kha>wiyah2. Perhatikan pula bagaimana perbedaan redaksi ayat .fa lilla>hi al-
a>khiratu wa al-u>la> 9 1Q.S al-:ajm "76$* %72 dengan ayat .lahu al-
h}amdu f> al-u>la> wa al-a>khirati. 1Q.S. al-Qas}as{ "%;$* /2, di mana
dua kata terakhir dalam dua ayat ini saling bertukar posisinya dalam kalimat.
'erbagai keunikan pilihan kata dalam teks al-Qur’an telah diteliti oleh para sarjana
Qur’an. <leh sebab itu, pada pembahasan selanjutnya, penulis akan menampilkan
beberapa sampel analisa diksi dari para ulama dari berbagai periode yang ada dalam
sejarah pena3siran al-Qur’an, sekaligus memetakan pokok-pokok analisa diksi yang
mereka lakukan dalam akti=itas eksegesis mereka.

De$&#'($' D'&$' Se%a#a Umum
(iksi atau pilihan kata, pada dasarnya adalah kajian bala>gah!dengan
ketiga cabangnya> ma‘a>ni>, baya>n, dan badi>‘!dan merupakan sub
sekaligus objek kajian uslu>b 1stilistika2 bahasa Arab."6$ (alam linguistik Arab,
diksi disebut dengan istilah tansi>q al-alfa>z}, atau ada>’ al-kala>m yang
dide3inisikan dengan pemilihan kata dan penyusunannya sesuai dengan sistem
kebahasaan, jelas, dan memiliki e3ek tertentu.[4]
&esesuaian pilihan kata menyangkut kemampuan untuk menyampaikan suatu
gagasan yang dimaksud oleh penutur?penulis dalam semua kesempatan dan
lingkungan yang berbeda 1mut}a>baqtu al-kala>m li muqtad}a> al-
h}a>l2, mengingat dalam kenyataannya, minimal ada tiga hal yang mempengaruhi
seseorang dalam akti=itas berbahasa> pokok persoalan yang dibawakan, pihak yang
terlibat dalam komunikasi, dan konteks pembicaraan. Selain ketiga hal itu, terdapat
3aktor-3aktor lain yang mempengaruhi pemilihan suatu kata yang terkait dengan
signi3ikansi makna yang dikandungnya, dan pada akhirnya berperan menyebabkan
terjadinya perubahan makna suatu kata. @al-hal tersebut antara lain* #2 ciri-ciri atau
unsur internal kebahasaan 13aktor kebahasaan2, seperti proses hubungan sintagmatik,
rumpang di dalam kosa kata, perubahan konotasi, pengalihan dari pengacuan yang
konkrit pada pengacuan yang abstrak, timbulnya gejala sinestesia, dan penerjemahan
har3iah. %2 sistem sosial budaya yang melatari 13aktor sosio-historis2 pengguna bahasa,
baik sebagai penutur maupun penanggap, misalnya pada perubahan konotasi, di mana
sebuah kata diungkapkan tergantung pada pembicaranya, pendengar, dan situasi
1konteks2 yang melingkupi. 62 ciri in3ormasi dan ragam tuturan yang disampaikan
13aktor wacana2."7$
Sebagai suatu analisis atau bentuk respon kebahasaan pada diri pendengar
ataupun pembaca, maka istilah diksi terkait analisa suatu kata yang digunakan penutur
dari berbagai aspek, atau kajian kebahasaan yang meletakkan kata sebagai titik tolak
atau tempat berangkat memasuki kajian bahasa secara luas. -engingat objek kajian
dalam tulisan ini adalah kata-kata dalam teks al-Qur’an, maka istilah diksi di sini
berarti suatu analisis kebahasaan yang bertolak dan berkisar pada kata-kata yang
digunakan dalam teks al-Qur’an.
-enganalisa diksi tidak bisa dilepaskan dari apa yang disebut semiotika
bahasa. Astilah ini terdiri dari dua kata> .semiotika. dan .bahasa.. Semiotika adalah
suatu disiplin ilmu yang mempelajari tanda-tanda."+$ <leh karena itu, istilah
semiotika bahasa berarti mempelajari tanda-tanda kebahasaan sebagai sistem
semiotik. Salah satu ciri bahasa adalah berupa lambang. (alam semiotika, lambang!
atau disebut juga simbol!merupakan bagian dari tanda menurut si3at
penghubungannya!secara arbitrer!dengan denotatum 1acuan2>"/$ berupa hubungan
yang terbentuk secara kon=ensional antara tanda dan acuannya.

U#)en$' D'&$' Pe#$(e&t'" al-Qu#’an
Tidak diragukan lagi bahwa anjuran untuk memperhatikan diksi dalam setiap
ungkapan telah ditunjukkan sendiri oleh al-Qur’an dalam setiap ungkapannya. 'agi
orang yang meneliti dengan seksama kata-kata dalam al-Qur’an, pernyataan ini jelas
tak terbantahkan. Suatu posisi dalam struktur kalimat sebuah ayat betul-betul dibuat
untuk menampung suatu kata yang dipilihnya. Setiap kata dibuat untuk
mengemukakan bagiannya sendiri, dan al-Qur’an menggunakan kata tersebut sesuai
dengan kehalusan makna yang dimilikinya. &ata-kata lain yang dianggap bersinonim
tidak bisa mewakili kesempurnaan makna yang terkandung dalam kata yang dipilih
al-Qur’an. <leh sebab itu, di dalam al-Qur’an tidak terdapat sinonimitas, karena
meskipun dua kata dianggap bersinonim, tetapi masing-masing mempunyai perbedaan
nuansa makna yang halus dan spesi3ik.";$
&itab suci al-Qur’an menyeru pemirsanya untuk mencermati ungkapan, dan
tidak sembarangan menempatkan suatu kata pada tempat kata yang lain!pada sebuah
3ungsi sintaksis yang memang menyediakan kemungkinan menggunakaan kata-kata
yang berbeda!karena hal itu bisa menyesatkan makna ungkapan, dan membuat
pendengarnya ragu-ragu menebak maksudnya. Sehubungan dengan urgensi diksi ini,
Allah TaBala ber3irman .Qa>lati al-a‘ra>bu a>manna> qul lam
tu’minu>, wala>kin qu>lu> aslamna> wa lamma> yadkhul al-
i>ma>nu f> qulu>bikum. 1Q.S. al-H}ujura>t "58$* #52.
(alam ayat ini Allah SCT mengingatkan bangsa Arab supaya mencermati
ungkapannya, di mana mereka seharusnya mengatakan .aslamna>. 1kami telah
tunduk2 sebagai ganti dari .a>manna>. 1kami telah beriman2 agar kata itu
diposisikan pada maknanya yang asli tanpa penyimpangan."8$
Perhatian al-Qur’an begitu besar terhadap pilihan kata yang digunakannya.
Satu kata dalam konstruksi tertentu betul-betul tak tergantikan oleh kata yang lain.
@al ini tidak bisa dilakukan manusia. Perhatikan bagaimana 3irman Allah SCT dalam
hal keluarnya tetesan dari awan, di mana diungkapan .fa tara > al-wadqa
yakhruju min khila>lihi. 1Q.S. al-Nu>r "%5$* 562. Sekarang bandingkan dengan
ungkapan Amru’ al-Qis berikut untuk menyampaikan makna yang sama .fa alqa>
bi sah}ra>’a al-‘abi>t}i ba‘a>‘ah. 'isa di renungkan perbedaan kata al-
wadq dan kata al-ba‘a>‘, di mana kekhususan kata yang pertama terletak pada segi
tipis dan kelembutannya, dan kata yang kedua dari segi tebal dan kerasnya,
menunjukkan bahwa ke3asihan itu terpulang pada kata karena kemampuannya
menunjukkan pada makna."#,$
(alam sastra Arab, satu kata adakalanya 3asih dalam semua penggunaannya,
baik dalam bentuk tunggal maupun jamak, digunakan dalam bentuk muz\akkar
atau mu’annas\, dijelaskan atau disamarkan, dan bentuk-bentuk pemakaian lainnya.
&ata jenis ini banyak terdapat dalam bahasa Arab, seperti kata di>na>r, fars,
insa>n dan kata-kata Arab yang lain. Ada juga kata-kata yang kondisinya berbeda-
beda tergantung pemakaiannya. &adangkala pemakaiannya dalam bentuk tunggal
dinilai buruk, namun tidak demikian halnya ketika digunakan dalam bentuk jamak.
'egitu juga sebaliknya, ada kata tertentu yang dinilai buruk ketika digunakan dalam
bentuk jamak, namun bagus digunakan dalam bentuk tunggal. Adakalanya suatu kata
dinilai unggul ketika digunakan dalam bentuk nakirah, namun tidak disukai
penggunaanya dalam bentuk ma‘rifah."##$
Sungguh al-Qur’an begitu cermat dan teliti dalam pemilihan dan penyeleksian
kata-katanya. Apabila al-Qur’an memilih kata dalam bentuk ma‘rifah, hal itu
dikarenakan sesuatu hal. &alau ia memilih bentuk nakirah, maka karena ada tujuan
tertentu. 'egitu juga apabila ia memilih bentuk mufrad atau jamak, tentu karena
bentuk itu yang sesuai digunakan dalam konteks tersebut. Tak jarang pula ia memilih
satu kata dan mengabaikan sinonimnya. Dingkasnya, dalam ungkapan Qur’ani, setiap
konteks memiliki ungkapan yang sesuai dengannya."#%$

D'&$': Salah Satu In$t#umen Pen*(an) E&$(#e$' Pu't'$ Te&$ al-Qu#’an
Sejarah bangsa Arab mencatat bahwa sejak kehadiran al-Qur’an, tidak ada teks
sastra yang melebihi keunggulannya dalam hal pilihan kata-kata dan penggunaan gaya
bahasanya. &itab suci ini betul-betul melampaui batas-batas tertinggi sastra Arab
sepanjang masa. Aa adalah puncak tertinggi sastra Arab dan menjadi tolok ukur bagi
karya sastra selainnya. &eunggulan teks al-Qur’an bukan hanya karena ia adalah
kalam Alahi, tetapi juga karena dimensi internal teks itu sendiri yang sungguh indah
menakjubkan, dan mengatasi semua jenis karya sastra yang lain, sehingga sulit
rasanya untuk membantah ketika ada pemikir muslim yang memberi predikat kepada
teks al-Qur’an sebagai kitab sastra terbesar.
-eskipun al-Qur’an menolak dirinya disebut puisi dan nabi -uhammad SAC
disebut penya4ir,"#6$ namun penolakan ini tidaklah mena3ikan realitas teks yang
berwajah puitis, terutama pada ayat-ayat makkiyah. 'ila dilihat dari perspekti3
stilistika, tidak dapat disangsikan lagi bahwa salah satu hal penting yang membedakan
ayat-ayat makkiyah dan madaniyah adalah penggunaan pembatas ayat 1fa>s}ilah2.
"#5$ Penggunaan unsur ini memperlihatkan secara jelas wajah puitis teks al-Qur’an.
EaFlur Dahman secara eksplisit menyatakan bahwa kaum muslimin mula-mula
telah mengembangkan doktrin tak tertandinginya al-Qur’an, bahkan bagi orang-orang
Arab non-muslim, al-Qur’an tetap merupakan produk kesusastraan yang kekal hingga
masa kini. -emang al-Qur’an dengan tegas menolak anggapan yang dilontarkan oleh
lawan-lawan nabi -uhammad kepadanya bahwa beliau adalah penyaBir dan tidak
pernah membiarkan al-Qur’an disebut puisi. :amun dalam kedalaman rasanya, dalam
ekspresinya yang mengena, dan iramanya yang memberi e3ek emosional, al-Qur’an
tidaklah kurang derajatnya dibandingkan puisi yang paling tinggi sekalipun."#7$
&eistimewaan dan keunggulan gaya bahasa al-Qur’an dibandingkan gaya
bahasa yang lain terletak pada beberapa hal, antara lain* Pertama, Pesona yang
menakjubkan dari kata-kata dan ungkapan al-Qur’an. Kedua, kemampuannya
memuaskan kalangan awam dan kalangan khusus. &eunggulan gaya bahasa al-Qur’an
yang tak kalah menakjubkan adalah kemampuan akomodati3nya. Ketiga,
kemampuannya dalam memuaskan akal 1rasio2 dan emosi 1perasaan2. al-Qur’an
menggunakan gaya bahasa yang bisa menyapa akal dan emosi secara bersamaan, dan
menggabungkan antara kebenaran 1wilayah rasio2 dan keindahan 1wilayah emosi2.
Keempat, keindahan susunan dan kesesuaian kata-kata al-Qur’an. &itab suci ini
mengaitkan bagian-bagiannya, menyusun kata-kata, kalimat-kalimat, ayat-ayat, dan
surat-suratnya dalam bentuk yang tidak bisa dicapai oleh ungkapan manapun. Kelima,
kemahiran dan kekayaan al-Qur’an menggunakan seni-seni ungkapan. &itab suci ini
menyampaikan satu pesan 1makna2 dengan beberapa kata dan dalam berbagai bentuk
dengan kemampuan tingkat tinggi dan melampaui batas-batas kebiasaan, di mana
ahli-ahli sastra dibuat tidak berkutik untuk menandinginya. Keenam, kemampuannya
menggabungkan yang global dan yang terinci. Ketujuh, ungkapan sederhana dengan
makna yang dalam dan sempurna.
&alau diperhatikan dari karakteristik gaya bahasa al-Qur’an di atas, maka
sebenarnya kitab suci ini telah menghimpun dua bentuk gaya bahasa 1sastra dan
ilmiah2 yang berkembang dalam bahasa manusia. -emang tidak dapat dipungkiri!
seperti yang telah dijelaskan sebelumnya!bahwa gaya bahasa sastra lebih dominan
dalam ungkapan-ungkapan Qur’a>ni> yang nantinya menghasilkan ekspresi puitis
kitab suci ini. Penggunaan gaya bahasa sastra dalam teks al-Qur’an sangat sesuai
dengan si3at al-Qur’an yang uni=ersal dan berlaku sepanjang masa, karena gaya
bahasa sastra lebih memungkinkan untuk timbulnya interpretasi-interpretasi baru di
setiap Faman yang sesuai dengan situasi dan kondisi Faman itu.
(engan demikian, keistimewaan teks al-Qur’an yang ikut menopang
kemukjiFatannya terletak pada* pertama, perbedaan antara teksnya dengan teks-teks
kebahasaan yang lain dalam genre atau tipenya, sebab ia tidak termasuk ke dalam
ketegori puisi, prosa, sajak, khotbah, surat-menyurat, atau saja‘. Kedua, terletak pada
pola susunan dan susunannya, di mana kita tidak menemukan perbedaan tara3 susunan
dan penyusunannya meskipun kalimatnya panjang dan temanya ber=ariasi."#+$
Ketiga, esensi al-Qur’an adalah kalam Alahi yang berisi ajaran-ajaran 1pesan-pesan
moral2 yang bersi3at uni=ersal untuk dijadikan pedoman umat manusia dalam
kehidupan mereka. <leh karena itu, dalam setiap surat al-Qur’an ditemukan kata-kata
yang bernuansa teologis-eskatologis. Sedangkan esensi puisi adalah ontologi bangsa
Arab yang bersi3at lokal dan mencerminkan budaya mereka, sehingga kandungannya
tidak menjangkau hal-hal sebagaimana dalam al-Qur’an.

Peta Awal Anal'$a D'&$' alam T#a'$' E&$e)e$'$ al-Qu#’an
Sebagaimana yang biasa ditemukan dalam tradisi pena3siran al-Qur’an, untuk
dapat memahami kandungan al-Qur’an secara tepat, dan supaya terhindar dari
kesalahan yang 3atal dalam pena3siran, para ulama telah menyusun beberapa
subdispilin ilmu yang berada dalam wilayah 4ulu>m al-Qur’a>n seperti
asba>b al-nuzu>l, makki> dan madani>, ilmu qira>’at, muh}kam dan
mutasya>bih, na>sikh dan mansu>kh, muna>sabah, ams\al al-
Qur’a>n, jadal al-Qur’a>n, aqsa>m al-Qur’a>n, qis}as} al-Qur’a>n,
gari>b al-Qur’a>n, dan qawa>’id al-tafsi>r yang meliputi ‘a>mm dan
kh>as}s}, mutlaq dan muqayyad, mant}u>q dan mafhu>m, kaidah
isim dan f‘il, kaidah amr dan nahy, kaidah istifha>m, kaidah nakirah dan
ma‘rifah, kaidah mufrad dan jama‘, kaidah tanya dan jawab, kaidah
d}ama>’ir, taz\ki>r dan ta’ni>s, kaidah syarat dan jawabnya, kaidah h}az\f,
dan kaidah-kaidah kebahasaan lain yang dibutuhkan dalam akti=itas pena3siran.
Apabila subdisiplin ilmu-ilmu al-Qur’an di atas diteliti lebih jauh, akan
terlihat banyak di antaranya yang berhubungan dengan analisa diksi. 'erdasarkan
penelusuran yang penulis lakukan, penulis sementara berkesimpulan bahwa pokok-
pokok analisa diksi dalam teks al-Qur’an di kalangan ulama berada pada wilayah ilmu
muna>sabah, gari>b al-Qur’a>n dan qawa>id al-tafsi>r 1kaidah-kaidah
pena3siran2. Sebenarnya masih ada tema lain!di luar beberapa cabang ilmu al-
Qur’an di atas!yang termasuk pokok analisa diksi dalam teks al-Qur’an. Tema ini
termasuk diskursus utama dan menimbulkan perdebatan dikalangan para sarjana
Qur’an dalam akti=itas eksegesis mereka, yaitu diskursus sinonimitas dalam teks al-
Qur’an.
Almu muna>sabah yang diposisikan sebagai salah satu perspekti3 dalam
memetakan analisa diksi di kalangan para ulama harus dimaknai lebih luas dari pada
pengertian yang biasa dikemukakan para sarjana Qur’an."#/$ <leh sebab itu, dalam
tulisan ini, muna>sabah mencakup korelasi 3onetis antar pembatas ayat, korelasi
pembatas ayat dengan makna ayat yang bersangkutan, dan korelasi suatu kata dengan
makna ayat secara keseluruhan.
Sejauh penelusuran yang penulis lakukan, analisa diksi yang terkait dengan
kesesuaian 3onetis tidak begitu mendapat perhatian yang serius di kalangan mu3assir
klasik. &alaupun ada bentuk pembatas ayat yang keluar dari aturan yang semestinya
dalam bahasa Arab, maka umumnya mu3assir klasik hanya menjelaskan asal kata
tersebut dan tidak menyatakan bahwa penggunaan bentuk itu untuk menjaga
kesesuaian antar pembatas ayat. @al ini dapat ditemukan dalam pena3siran al-
Gamakhsyari. -isalnya, ketika ia mena3sirkan Q.S. al-H}ajj "%%$* +, berikut*
ه
ه
للل
ل
لا ه
ه
ن لر
ر
للص
ه
ني
ر
ل
ر
ه
ه
ي
ي
ل
ر
عر ي
ر
غه ب
ه
م
ل
ث
ه
ه
ه
ب
ه
ب
ر
قه وعه ام
ر
ل
ه
ث
ي
م
ه
ب
ه
ب
ر
ق
ر
اعر ن
ي
م
ر

ر
!
ر
ل ه" ر
# $%لا& '
(
و)
ه
*
ر
و
+
)
ه
,
ر
ل
ر
ه
ر
ل
ل
لا -
ل
.
ه
++ /

al-Gamakhsyari mempertanyakan alasan mengapa bisa dikatakan pembatas ayat
.al-‘!fuww al-"afu>r. 1Hang -aha Pema4a3 lagi -aha Pengampun2 sesuai
dengan konteks pembicaraan ayat itu. &emudian beliau menyatakan bahwa tindakan
pembalasan yang ingin dilakukan oleh seseorang yang dianiaya, bukanlah hal yang
diharamkan, tetapi seseorang dianjurkan untuk tidak melakukannya. Siapa yang bisa
menahan diri, berarti ia telah melakukan sikap yang disunatkan dan akan mendapat
pujian dari Allah. Tetapi bagi mereka yang lebih mengutamakan pembalasan dan tidak
menghiraukan 3irman Allah Ta4ala dalam Q.S. al-'a)arah "%$* %6/,"#;$ dan Q.S. al-
Syu>ra> "5%$* 5,,"#8$ maka sesungguhnya Allah -aha -emaa3kan lagi -aha
Pengampun. Artinya (ia tidak mencela seseorang atas tindakan pembalasannya."%,$
Analisi diksi pada pembatas ayat yang dilakukan al-Gamakhsyari dalam
akti=itas pena3sirannya!seperti yang terlihat di atas!tidak dilihat dari perspekti3
kesesuaian 3onetis antar ayat, tetapi pada kesesuaian antara kata pembatas dengan
makna ayat secara keseluruhan. <leh sebab, dalam pandangan al-Gamakhsyari, tidak
ada bentuk pembatas ayat yang tidak mempunyai korelasi dengan makna ayat itu.
@al ini berbeda dengan sikap ulama abad pertengahan dan era modern yang
begitu memperhatikan aspek kesesuaian 3onetis ini. (i abad pertengahan, tercatat
beberapa mu3assir yang cukup besar perhatiannya terhadap aspek ini, meskipun
mereka menyinggung persoalan ini sekilas saja di sela-sela pena3siran yang mereka
lakukan, antara lain Abn Qayim al-auFiyah. Tokoh ini, sebagaimana yang dikutip al-
Suyuthi, mengemukakan beberapa bentuk pembatas ayat yang semuanya digunakan
untuk menjaga kesesuaian musikalitas antar ayat. Pendapat ini juga terlihat dalam
pemikiran al-Garkasyi dan diikuti oleh al-Suyuthi sendiri, di mana ia menyimpulkan
sekitar empat puluh bentuk =ariasi pembatas ayat."%#$
Pada era modern analisa diksi pada pembatas ayat yang terkait dengan korelasi
semantis sangat banyak dilakukan oleh Abdul Eattah Iasyin, antara lain ketika ia
mena3sirkan Q.S. Hu> "##$* %% dan membandingkannya dengan Q.S. al-Na}hl
"#+$* #,8 yang sama-sama berbicara tentang aFab yang akan diterima suatu kaum, di
mana ayat yang pertama dibatasi dengan kata al-akhsaru>n, dan ayat yang kedua
dibatasi dengan kata al-kha>siru>n.
Tokoh ini lalu menjelaskan bahwa ayat pertama di akhiri dengan kata .al-
akhsaru>n. karena ayat sebelumnya berbicara tentang suatu komunitas yang
pantas mendapatkan aFab yang berlipat ganda disebabkan tindakan mereka yang
menghalangi orang lain dari jalan Allah. adi dalam hal ini mereka melakukan dua
bentuk kejahatan yaitu menghalangi diri sendiri, dan menghalangi orang lain dari
jalan Allah, sesat dan menyesatkan. -aka pantaslah jika siksa mereka juga berlipat
ganda, dan makna itu hanya terkandung dalam kata .al-akhsaru>n. 1orang-orang
yang paling rugi2 tidak .al-kha>siru>n. 1orang-orang yang merugi2."%%$
Sedangkan ayat kedua diakhiri dengan kata .al-kha>siru>n. karena ayat
sebelumnya berbicara tentang perilaku orang-orang ka3ir yang sesat, namun mereka
tidak menyesatkan orang lain. Artinya, mereka hanya melakukan satu kejahatan,
sehingga siksa yang akan diberikan juga tidak berlipat-lipat. <leh sebab itu sesuailah
bila ayat ini diakhiri dengan kata .al-kha>siru>n.."%6$
Adapun korelasi pembatas ayat makna ayat yang memuatnya sudah masuk
dalam analisa para mu3assir sejak abad-abad awal sejarah ta3sir al-Qur’an. Jmumnya,
para mu3assir menaruh perhatian yang besar terhadap diksi model ini. 'iasanya yang
menjadi perhatian utama mereka adalah penggunaan kata-kata dalam kategori partikel
1h}arf2 dalam bahasa Arab. (alam realitasnya, partikel yang digunakan dalam al-
Qur’an cukup banyak, maka penulis tidak akan menguraikannya satu persatu dalam
penulisan ini."%5$
Analisa diksi dalam kaitannya dengan makna ayat pada abad-abad awal dapat
dilihat dari analisa diksi yang dilakukan al-!arra>" ketika beliau mena3sirkan Q.S.
al-'a)arah "%$* #+ .fa ma> rabih}at tija>ratuhum. 1perniagaan mereka
tidaklah mendapatkan keuntungan2. &alimat ini menurut al-!arra>" melampaui
batas-batas bahasa Arab, mengingat dalam kesehariannya masyarakat Arab tidak
laFim menggunakan kata .tija>rah. dalam pengertian di atas. -ereka biasanya
menggunakan kata bai‘ 1jual beli yang bisa mendatangkan keuntungan2 untuk
pengertian tersebut. -aka penggunaan kata . tija>rah. dalam konteks di atas
merupakan pilihan al-Qur’an yang sangat bagus secara susastra untuk mewakili
akti=itas sekaligus pelaku perniagaan, meskipun kata itu dalam keseharian tidak laFim
digunakan."%7$
(alam studi al-Qur’an, diskursus sinonimitas banyak mendapat sambutan dari
para sarjana QurBan, klasik maupun kontemporer. Sikap mereka dalam masalah ini
juga beragam. Ada tokoh yang menolak, sebaliknya ada yang menerima. -asing-
masing dengan kadar dan kecenderungan yang berbeda. Para ulama al-Qur’an yang
setuju dengan adanya sinonimitas membahas persoalan ini bukan sebagai tujuan,
tetapi sebagai perangkat 1sarana2 dalam kajian 4ulu>m al- Qur’a>n yang mereka
lakukan serta dalam rangka mengungkap kemukjiFatan kitab suci ini."%+$
Arti penting pilihan kata yang digunakan al-Qur’an!terkait dengan
sinonimitas!dalam menyampaikan pesan telah disadari sejak abad-abad awal.
Jrgensi tersebut dapat dipahami dari pandangan al-#a>h}i$ tentang kata-kata dalam
al-Qur’an, yaitu ketika ia membandingkannya dengan puisi-puisi, baik pada periode
Arab jahiliyah, maupun Arab-Aslam. Tokoh ini menolak sinonimitas yang menurut
para sastrawan Arab terdapat dalam bahasa Arab. Aa mengemukakan beberapa kata
yang dianggap sinonimitas, seperti kata ju>‘ dan sagab, juga kata mat}ar dan
gays\, lalu mengungkapkan perbedaan nuansa makna dari masing-masing kata itu.
@al ini bisa dilihat dari pernyataan beliau berikut ini*
.&adang-kadang orang meringankan persoalan kata-kata sehingga ia sembarangan
menggunakannya, padahal kata-kata yang lain lebih berhak digunakan pada posisi
tersebut. Apakah anda tidak memperhatikan bahwa Allah #aba>raka wa
#a‘a>la> tidak menggunakan kata .ju>‘ dalam al-Qur’an kecuali pada konteks
hukuman, kemiskinan, dan kelemahan yang nyata,K sementara orang-orang
menggunakan kata .sagab. pada konteks-konteks tersebut, dan malah menempatkan
kata .ju>‘ pada konteks yang menunjukkan kesanggupan dan keselamatan. @al yang
sama juga terlihat pada penggunaan kata .mat}ar. dan .gais\., karena anda
tidaklah menemukan kata .mat}ar. dalam al-Qur’an kecuali pada konteks hukuman
1siksaan2, tetapi orang banyak dan mayoritas para ahli tidak membedakan makna
kedua kata tersebut."%/$

Pada abad pertengahan, persoalan ini malah sedikit sekali mendapat sorotan.
&alaupun ada serpihan pemikiran ulama abad pertengahan tentang sinonimitas yang
bisa ditampilkan, maka di sini penulis hanya bisa menemukan satu contoh dari analisa
al-Suyuthi, yaitu ketika ia membandingkan kata .infajarat. dalam Q.S. al-'a)arah
"%$* +, dengan kata .inbajasat. dalam Q.S. al-A‘ra>f "/$* #+,. Tokoh ini
mengatakan bahwa kata inbajasat menunjukkan munculnya sedikit air dari batu,
sedangkan kata infajarat menunjukkan melimpahnya air yang keluar."%;$
Sedangkan di kalangan tokoh muslim kontemporer kiranya nama -uhammad
Syahrur sudah tidak asing lagi dalam studi Qur’an sebagai orang yang keras menolak
sinonimitas. @al ini terlihat jelas dari distingsi-distingsi yang dilakukannya pada
beberapa istilah dalam al-Qur’an. -isalnya, pembedaan antara term al-$ita>b
dengan term al-Qur’a>n, basyar dengan insa>n, dan . Astilah basyar menurut
Syahrur digunakan untuk menunjukkan eksistensi 3isiologis bagi semua makhluk
hidup, termasuk manusia. Tokoh ini mengemukakan beberapa ayat yang mendukung
pendapatnya ini, seperti Q.S. Ali Amran "6$* 5/, Q.S. al-Nisa>% "5$* #/ dan %,,"%8$
Q.S. Ali Amran "6$* /8 dan Q.S. al-Syu>ra> "5%$* 7#,"6,$ Q.S. al-Nah}l "#+$* #,6,
Q.S. al-&uas's'ir* %7, Q.S. al-&u"mi(u>( "%6$* 66, Q.S. al-&a>%iah "7$*
#;, Q.S. al-A(‘a>m "+$* 8#, Q.S. Ibra>hi>m "#5$* #,, dan banyak lagi ayat-ayat
yang menggunakan kata basyar dalam pengertian manusia dari sisi 3isiologisnya.
"6#$
&itab suci al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang paling 3asih. tidak
ada kata-katanya yang keluar dari kosa kata bahasa Arab. :amun bukan berarti semua
kata-kata itu bisa dipahami dengan mudah oleh semua masyarakat Arab. 'ahkan
sebaliknya, ada beberapa kata yang diketahui maknanya kecuali setelah meneliti lebih
dalam kosa kata tersebut. &ataLkata yang sulit dipahamu inilah yang disebut dengan
kata-kata asing dalam al-Qur’an 1gari>b al-Qur'a>n2."6%$
&ata asing yang dimaksud adalah kata-kata yang sedikit beredar di dalam
ungkapan dan pemakaian, mengingat para penutur dan pujangga tidak
menggunakannya sebagaimana penggunaan kata-kata yang lain. Sementara itu,
beberapa di antaranya diakomodasi oleh al-Qur’an. Abu Sulaiman -uhammad al-
&hithabi!sebagimana yang dikutip -uhammad Salim al-@ajj!menyatakan bahwa
yang dimaksud dengan kata gari>b ada dua kemungkinan. Pertama, yaitu kata-kata
yang dalam maknanya dan jauh dari pemahaman, sebagaimana orang asing adalah
orang yang jauh dari tanah air dan terpisah dengan keluarganya. adi, makna kata itu
tidak dapat dicapai kecuali setelah memikirkannya dengan serius dan membutuhkan
waktu yang lama. &edua, kata asing adalah kata yang berasal dari ungkapan-
ungkapan kabilah Arab yang ganjil. &etika satu kata dari bahasa mereka sampai
kepada masyarakat umum, kata itu disebut gari>b. (ari dua kemungkinan ini, yang
dimaksud dengan kata asing dalam al-Qur’an adalah kata dalam pengertian yang
kedua. 'ukan pula yang dimaksud itu berupa kata-kata yang liar dan merusak
ke3asihan. Sungguh al-Qur’an maha suci dari hal itu. Aa adalah kitab yang paling 3asih
dan mengandung baya>n yang paling tinggi."66$
ika merunut pada sejarah pena3siran al-Qur’an, maka analisa diksi yang
terkait dengan kata-kata asing dalam al-Qur’an merupakan analisa diksi paling awal
dari beberapa pokok analisa diksi. @al ini dapat ditemukan dalam banyak pena3siran
Abn Abbas. -u3assir ini tidak diragukan lagi kemampuannya dalam bidang ta3sir,
terutama yang berhubungan dengan kata-kata asing dalam al-Qur’an. Pengetahuannya
yang luas tentang sya’ir-sya’ir pra-Aslam menjadi modal penting baginya untuk
mena3sirkan kosa kata al-Qur’an yang tidak populer di masyarakat. Salah satu bukti
otentik yang sampai kepada kita sehubungan dengan analisa diksi dalam teks al-
Qur’an yang dilakukan Abn Abbas adalah .%asa>’il &a>f‘ bin al-!zraq.
sebagaimana yang dimuat al-Suyuthi dalam al-Itqa>n."65$
&ata-kata yang sekarang dapat dianggap termasuk kelompok gari>b hanya
beberapa kata, misalnya .qad}ban, abban., dalam ayat .fa anbatna> fha>
h}abban, wa ‘inaban wa qad}banMwa fa>kihatan wa abban. 1Q.S.
BAbasa ";,$* 66 dan 672, dan kata .iddan. dalam ayat .laqad ji’tum syaian
iddan. 1Q.S. -aryam "#8$* #;2. &adang-kadang sesuatu yang meliputi suatu kata
menunjukkan maknanya, sebagaimana yang dapat ditemukan pada kata .urkisa.
dalam Q.S. al-Nisa>"* "5$* 8#2, kata .akinnah. dalam Q.S. al-A(‘a>m "+$* %7,
kata .amtan. dalam Q.S. )}a>ha "%,$* #,/, kata .alatna>. dalam Q.S. al-
)}u>r "7%$* %#. &ata-kata tersebut, sekalipun bisa kita sebut gari>b karena sedikit
munculnya dalam ungkapan, namun kata-kata itu dilingkupi dengan sesuatu yang
mengisyaratkan maknanya. al-Qur’an sendiri kadang-kadang memberikan ta3sir
terhadap kata-kata tersebut dalam hal teguran, larangan, dan janji kebaikan."67$
Setelah melakukan penelusuran yang panjang dan pengamatan yang cukup
dalam, maka penulis!untuk sementara dan berdasarkan klasi3ikasi kata yang telah
penulis sebutkan pada bab sebelumnya!menyimpulkan bahwa analisa diksi
perspekti3 kata-kata tunggal meliputi penggunaan suatu kata dalam bentuk nama diri
atau kata ganti 1pronomina2, bentuk ma'rifah atau nakirah, bentuk muz\akkar atau
mu’annas\, dan bentuk nomina atau =erba, sedangkan analisa diksi perspekti3
sintaksis bahasa Arab meliputi penggunaan klausa nominal atau klausa =erbal,
taqdi>m atau ta’khi>r, dan iltifa>t.
Perlu penulis tegaskan di sini, bahwa dalam linguistik Arab terdapat beberapa
jenis isim ma‘rifah. (ari jenis-jenis ma4ri3ah itu, yang penulis maksudkan di sini!
sebagaimana halnya yang banyak dibicarakan dalam studi-studi al-Qur’an!adalah
penggunaan isim ma‘rifah yang berupa nomina yang diberi preposisi alif-la>m..
@al ini bukan berarti penggunaan isim ma‘rifah jenis lain tidak mengindikasikan,
atau tidak berimplikasi apapun pada pena3siran, karena yang dimaksud di sini adalah
bentuk kata yang berupa nakirah dan ma‘rifah ma’rifah, bukan jenis-jenis katanya,
karena jenis-jenis isim ma‘rifah yang lain memang betul-betul hanya mengandung
makna ma‘rifah pada awal pembentukannya dalam bahasa Arab 1wad}‘iyah2.
@al ini berbeda dengan isim ma'rifah yang diberi preposisi alif-la>m, di
mana pada dasarnya ma‘rifah jenis ini adalah kata yang bermakna netral. Artinya,
nomina ini bisa bermakna ma‘rifah dan bisa bermakna nakirah. &ata itu bermakna
nakirah 1tak tentu2 jika ia digunakan terlepas dari perposisi alif-la>m, dan
bermakna ma‘rifah 1tertentu2 jika digunakan dalam bentuk sebaliknya. Penggunaan
salah satu bentuk inilah yang menjadi perhatian dalam analisa diksi.
Perhatian terhadap bentuk mufrad-jama‘ tampak begitu kuat di kalangan para
mu3assir dari periode klasik hingga kontemporer. Pembahasan topik ini secara khusus
bisa ditemukan dalam buku-buku ilmu al-Qur’an. Satu hal yang ingin penulis
kemukakan bahwa yang menjadi titik tekan dalam analisa diksi adalah semua
pemakain kata dalam kedua bentuk ini yang berimplikasi pada pena3siran al-Qur’an,
bukan sekedar deskripsi beberapa kata yang khusus digunakan dalam bentuk tunggal
atau plural, sebagaimana yang biasa ditemukan pada kebanyakan buku ilmu-ilmu al-
Qur’an."6+$
Analisa terhadap bentuk ini dapat ditemukan dalam pena3siran al-Guhaili atas
kalimat .z}ahi>r. dalam Q.S. al-Tahrim "$* 5. tokoh ini mengatakan bahwa
hanyasanya Allah TaBala mengungkapkan kata .z}ahi>r. dalam bentuk mufrad tidak
kata z}uhara>’ 1bentuk jamaknya2 karena kata yang sewaFan dengan .fa‘i>l. itu
berlaku untuk acuan tunggal dan plural, seperti halnya dalam 3irman-:ya yang lain
.khalas}u> najiyya>. 1Q.S. Husu3 "#%$* ;,2. &emungkinan lainnya bahwa
terkadang dicukupkan penyebutan kata tunggal untuk menunjukkan banyak acuan,
seperti dalam 3irman-:ya .s\umma nukhrijukum t}i'an. 1Q.S. *a>+r "5,$*
+/."6/$
&ata muz\akkar dan mu’annas yang dimaksudkan di sini adalah kata
deri=ati3 yang menunjukkan peran pelaku 1isim fa>‘il2 atau sasaran 1isim
maf‘u>l2 yang di dalam bahasa Arab dibedakan dengan penambahan ta>’
marbu>}tah pada kata muannas\-nya. adi penulisan ini tidak akan membahas
bentuk-bentuk atau jenis-jenis muannas\ sebagaimana yang biasa ditemukan
dalam buku-buku ilmu tata bahasa 1gramatika* nah}w2, karena hal itu tidak terkait
dengan analisa diksi. Penulisan ini berhubungan dengan kata-kata yang memiliki
kemungkinan untuk digunakan dalam kedua bentuk ini. -aka yang diperhatikan
dalam analisa ini adalah penggunaan kata-kata yang dalam bahasa Arab dinilai atau
dikategorikan muz\akkar 1taz\ki>r2 dan kata-kata yang dikategorikan
mu’annas\ 1ta’ni>s\2 yang terdapat dalam teks al-Qur’an.
Penggunaan kata benda dan kata kerja yang dimaksud pada dasarnya bukan
dilihat dalam kapasitasnya sebagai kata-kata tunggal tetapi lebih pada keberadaannya
dalam susunan kalimat. Analisa diksi pada bagian ini berada pada wilayah sintaksis,
bukan wilayah mor3ologi seperti halnya bentuk-bentuk kata tunggal yang lain.
'arangkali yang lebih dekat dengan analisa diksi ini adalah penggunaan klausa
nominal 1jumlah ismiyah2 dan klausa =erbal 1jumlah f‘liyah.
Susunan balik yang dimaksudkan adalah penggunaan suatu kata pada posisi
tertentu dalam suatu ayat al-Qur’an. Sebuah kata dalam relasi sintagmatik bisa
ditempatkan di depan atau di belakang kata lain yang terdapat dalam relasi itu. <leh
karena itu, sisi yang dilihat dalam analisa diksi pada tema ini adalah posisi suatu kata,
baik pada dua ayat dalam tema 1konteks2 yang sama, ataupun hanya pada satu ayat.
Apabila satuan bahasa tersebut terdapat dalam dua ayat yang temanya sama, maka
yang diperhatikan adalah penyebutannya lebih dulu dari pada satuan yang lain
1taqdi>m2 atau penyebutannya belakangan 1takhi>r2. :amun jika satuan bahasa
itu hanya terdapat dalam satu ayat, maka analisa dilakukan!untuk melihat
signi3ikansinya!pada posisinya di antara satuan-satuan bahasa yang lain dalam relasi
sintagmatiknya.
Iltifa>t secara etimologi diartikan dengan .berpaling.. Sedangkan menurut
istilah para sarjana QurBan, iltifa>t adalah perpindahan suatu gaya bahasa 1uslu>b2
kepada gaya bahasa yang lain untuk menarik perhatian pendengar, memperbaharui
akti=itasnya, dan menghindarkan kebosanan pada diri mereka. Astilah ini poluler pada
perpindahan pada d}ama>ir 1pronominal2 dari salah satu bentuk pronomina
kepada bentuk yang lain setelah menyebutkan yang pertama.
&egunaan iltifa>t secara umum adalah untuk memperindah kalimat,
membuat pendengar jadi kreati3, mengundang kejernihan pikirannya, dan meluaskan
kandungan kalimat, serta memudahkan wazan dan akhir kalimat. Para sastrawan
berkata* bila ungkapan itu dalam satu gaya bahasa, sementara ungkapannya panjang
maka sebaiknya cara pengungkapannya dirubah.

KERAN!KA TEORITIS ANALISA DIKSI
DALAM TEKS AL-QUR’AN



:o Pokok 'ahasan &eterangan
# Asumsi (asar Al-Qur’an merupakan teks berbahasa Arab sekaligus
parole dalam lingkaran langue bahasa Arab umum
% Pendekatan dalam analisa Strukturalisme linguistik dan linguistik diakronik
6 Prinsip-prinsip dasar analisa - -emposisikan al-Qur’an sebagai teks kebahasaan
- 'erpegang secara konsisten pada rasm
mus}h}af (s\ma>ni>
- -engikuti salah satu qira>’at mutawa>tirah
secara konsisten
5 Tujuan analisa -enemukan keunikan pilihan kata yang terdapat dalam
teks al-Qur’an dan menjadikannya sebagai salah satu
elemen pendukung kemukjiFatannya dari aspek
kebahasaan
7 Perspekti3 yang dipakai - Perspekti3 ilmu muna>sabah dalam
pengertian yang luas
- Perspekti3 gari>b al-Qur’a>n
- Perspekti3 sinonimitas 1tara>duf2
- Perspekti3 kaedah-kaedah pena3siran 1qawa>‘id
al-tafsi>r2
+ Tempat analisa diksi dalam Sebaiknya analisa diksi diterapkan pada awal akti3itas
akti3itas pena3siran pena3siran sebelum menggunakan analisa yang lain



PETA A,AL ANALISA DIKSI
DALAM AKTI-ITAS EKSE!ESIS AL-QUR’AN



Pokok 'ahasan &eterangan
<byek-obyek analisa - &orelasi 3onetis antar pembatas ayat 1fawa>s}il al-
a>yi2.
- &orelasi semantis antara pembatas ayat dengan makna ayat
secara umum.
- &orelasi semantis antara pilihan kata dalam suatu ayat
dengan makna ayat secara keseluruhan.
- &ata-kata asing 1gari>b2 dalam teks al-Qur’an.
- &ata-kata yang dinilai bersinonim
- Eenomena nama diri dan kata ganti 1isim z}a>hir dan
d}ami>r 2
- Eenomena kata tertentu dan tak tertentu 1isim nakirah-
ma’rifah2
- Eenomena tunggal-plural 1mufrad-jama’2
- Eenomena kata muz\akkar dan mu’annas\
- Eenomena nomina-=erba 1jumlah ismiyah dan fi’liyah2
- Eenomena susunan balik 1taqdi>m-ta’khi>r2
- Eenomena pemalingan wacana dalam al-Qur’an 1iltifa>t2
Periodisasi analisis Sejak awal interaksi umat Aslam dengan al-Qur’an hingga saat
ini. Artinya, diksi dalam teks al-Qur’an dianalisa pada abad-
abad awal, periode pertengahan, dan era modern dengan
intensitas, kuantitas, dan kualitas yang beragam


"#$ Ahli balaghah yang sangat terkenal, Abdul Qahir al-#urja>(i> menyatakan* kita
maklum bahwa segi yang membangun tegaknya kehujjahan al-Qura>n, membuat kehujjahannya
terasa jelas, nyata dan akurat adalah bahwa ia berada pada tingkat keelokan 1fasa>h)ah2 yang tak
teraih oleh kemampuan manusia, dan mencapai puncak yang tidak bisa digapai oleh pemikiran mereka.
Iihat Abdul Qahir al-urjani, *ala>il al-I‘ja>z 1 'eirut * (ar al-&utub al-Almiah, tt2, hal. ;.

"%$ Al-#urja>(i> menyatakan dalam .*ala>il al-I‘ja>z. bahwa* .setiap kata dan
ungkapan yang anda nilai baik dan indah mestilah ada sisi atau aspek yang bisa diketahui dan alasan
logis yang membuatnya demikian, serta ada sarana bagi orang lain untuk membuktikanya..
"6$ <bjek kajian stilistika adalah semua 3enomena bahasa mulai dari tataran 3onologi hingga
semantik. Selain persoalan diksi, stilistika juga mengkaji 3onologi, pre3erensi kalimat, dan de=iasi
1penyimpangan dalam struktur kalimat2. Iihat Syihabuddin Qalyubi, tilistika !ur'an" Pengantar
#rientasi tudi al-Qura>n 1Hogyakarta* Titian Alahi Press, #88/2, hlm. %8.

"5$ &amil -uhandis dan -ajdi Cahbah, %u‘jam al-%us}t}alah}a>t al-‘!rabiyyah
f> al-+ugah wa al-!dab 1'eirut* -aktabah Iubnan, #8;52, cet. AA, hlm. #%5.
"7$ Eatimah (jajasudarma, emantik$ Pengantar ke %rah &lmu 'akna 1'andung* Nresco,
#8862, bagian AA, hlm.+6.

"+$ Panuti Sudjiman O Aart =an Goest 1ed2, erba-erbi emiotika 1akarta* Pramedia Pustaka
Jtama, #88%2, bagian pendahuluan, hlm. =ii, dan %.

"/$ Astilah denotatum digunakan untuk menyatakan himpunan unsur kenyataan yang menjadi
acuan suatu tanda. Iihat Aart =an Goest, emiotika$ (entang (anda, )ara Kerjanya, dan %pa yang Kita
*akukan dengannya 1akarta* Hayasan Sumber Agung, #8862, hlm. %%.
";$ Ahmad Ahmad 'adawi, %in ,ala>gah al-Qura>n, 1&airo* ,a>r al-Nah}ah,
tt2, hlm. 7/.
"8$ Abdul Eatah Iasyin, %in !sra>r al-#a‘bi>r f> al-Qur’a>n bagian kedua yang
diberi anak judul }-afa> al-$alimah 1Diyadh* (ar al--urikh, #8;62, hlm. ;. Iihat juga Ahmad
Ahmad 'adawi, %in ,ala>gah al-Qura>n, hlm. 7/-7;.

"#,$ Abdul Eattah -a>syi>(, }-afa> al-$alimah, hlm. +.
"##$ &bid, hlm. #7.

"#%$ &bid, hlm. #+.
"#6$ Iihat Q.S. Hasin "6+$* +8 yang menyatakan* .+an Kami tidak mengajarkan syair
kepadanya, dan kepandaian bersyair itu tidak pula sesuai baginya, -ang Kami wahyukan kepadanya
itu tidak lain melainkan pelajaran dan kitab suci yang memberi penerangan.. Sedangkan penegasian
penyaBir dari diri :abi SAC terdapat dalam Q.S. al-H}a>qqah "+8$* 5# .+an al-!ur’an itu
bukanlah perkataan seorang penya'ir, namun sedikit sekali dari kalian yang mau mempercayainya..

"#5$ Pembatas ayat di kalangan ulama di sebut dengan istilah fa>s}ilah 1jamak*
fawa>s}il2. Pembatas ayat merupakan salah satu aspek yang membedakan al-Qur’an dengan
ungkapan lain. (i sebut pembatas karena ia memisahkan dua buah ungkapan, dan di dalam al-Qur’an
ia membatasi akhir ayat dengan awal ayat sesudahnya. Abdul Eattah Iasyin, %in !sra>r al-#a‘bi>r
f> al-Qur’a>n. al-/a>}silah al-Qur’a>niyah, 1Diyad* ,a>r al-&uri>.h, #8;%2, hlm. +.

"#7$ EaFlur Dahman, &slam, hlm. 58.
"#+$ :ashr @amid Abu Gaid, %afhum al-&as}s}M..,hlm. #;7. Susunan kata-kata dalam
al-Qur’an terkait erat dengan gaya bahasanya yang khas. @al ini akan dibahas pada bagian selanjutnya.
"#/$ Pemaknaan ini bukan tanpa alasan, karena menurut Abu Gaid, muna>sabah itu ada
dua macam, yaitu korelasi yang bersi3at umum, dan korelasi yang bersi3at khusus. Iihat Abu Gaid,
%afhu>m al-&as}s}0M, hlm. #88.
"#;$ Terjemahnya* M..dan bahwa mema‘afkan itu lebih dekat kepada keta.waan.

"#8$ Terjemahnya* M..siapa yang mau mema‘afkan dan berbuat baik, maka pahalanya
ditanggung oleh %llah (a'ala.

"%,$ -ahmud bin Jmar al-Gamakhsyari, al-$asysya>f ‘an 1}aqa>iq al-#anzi>l wa
‘(yu>n al-!qa>wi>l f> 2uju>h al-#a’wi>l 1Teheran* Antisyarat N3tab, tt2, juF. AAA, hlm. %,.

"%#$ Iihat alaluddin al-Suyuthi, %u‘tarak al-!qra>n f> I‘ja>z al-Qur’a>n 1'eirut*
(ar al-&utub al-Almiah, #8;;2, hlm. %+-6%.

"%%$ Abdul Eattah Iasyin, -}afa>’ al-$alimah, hlm. #%,.
"%6$ &bid, hlm. #%#.

"%5$ Pembahasannya secara lengkap dapat ditemukan dalam kitab al-,urha>n f ‘(lu>m
al-Qur’a>n karya al-Garkasyi. Iihat 'adruddin -uhammad bin Abdullah al-Garkasyi, al-
,urha>n f> (lu>m al-Qur’a>n 1Ttp* 4I>sa> al-/a>bi> al-H}alabiy, tt2, uF. AQ.
"%7$ Abu Gakariya al-!arra>", %a‘a>ni al-Qur’a>n, di-tah}qi>q dan
dimura>ja‘ah oleh -uhammad Ali al-:ajjar 1Ttp* al-,a>r al-&is}riyah li al-Nasyr 0a al-
)arjamah, tt2, juF. A, hlm. %#.

"%+$ &bid, hlm. #,8.
"%/$ Abu Jtsman al-ahiF, al-,aya>n wa al-#abyi>n, al-,aya>n wa al-#abyi>n,
ta}hqi>q dan syarh Abdus Salam -uhammad @arun 1'eirut* ,a>r al-#ail, #88,2, juF. A. hlm. %,.

"%;$ alaluddin al-Suyuthi, %u‘tarak al-!qra>n300, juF. AAA, hlm. ;.

"%8$ Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa -aryam melihat malaikat betul-betul dalam bentuk
manusia, bukan berbentuk malaikat dan jin.

"6,$ (ua ayat ini ditegaskan cara-cara pewahyuan yang diberikan Allah SCT kepada makhluk
dari jenis manusia.

"6#$ -uhammad Syahrur, al-$ita>b wa !l-Qur’a>n Qira>ah %u‘a>s}irah, hlm.
%;5.

"6%$ Almu "ari>b al-Qur’a>n telah dikembangkan sejak masa Dasulullah SAC, mengingat
al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab pada waktu bahasa ini telah mencapai puncak
kecemerlangannya. Percampuran bahasa Arab dengan bahasa lain pada waktu ekspansi wilayah
dakwah Aslam, membuat ilmu ini berkembang pesat. @al ini bisa dimaklumi, mengingat kemampuan
umat Aslam tidak sama dalam memahami al-Qur’an, dan terutama lagi bagi mereka yang tidak selalu
berada di dekat :abi SAC. Almu ini menjadi satu disiplin ilmu sendiri pada abad kedua hijriyah. Iihat
-uhammad Salim al-@ajj, pentah)i) kitab ."ari>b al-Qur’a>n wa #afsi>ruha>. karya Abu
Abdur Dahman Abdullah bin Hahya bin al--ubarak al-HaFidi, dalam al-HaFidi, "ari>b al-Qur’a>n
wa #afsi>ruha> 1 'eirut * ‘A>lam al-1utub, tt2, hlm. 8.

"66$ -uhammad Salim al-@ajj, "ari>b al-Qur’a>n wa #afsi>ruha>., /-;. Pendapat
al-&hithabi ini sejalan dengan pengertian gari>b yang dikemukakan oleh -ushtha3a Shadi) al-Da3iBi,
di mana ia menyatakan bahwa gari>b al-Qur’a>n bukanlah kata yang tidak dikenal, janggal, atau
tidak serasi, tetapi ia adalah kata-kata yang bagus lagi asing dalam pentakwilan. Artinya, pengetahuan
tentang makna kata itu tidak sama di antara ahli bahasa dan seluruh masyarakat.

"65$ alaluddin al-Suyuthi, al-Itqa>n f ‘(lu>m al-Qur’a>n 1 'eirut * ,a>r al-!i.r,
tt2, juF. A. hlm. %#-6%.
"67$ &bid, hlm. 8#.
"6+$ Para pakar 4ulu>m al-Qur’a>n menaruh perhatian pada beberapa kata terkait dengan
3enomena mufrad dan jama‘, dan dalam penulisan mereka terhadap teks al-Qur’an mereka
menemukan kata-kata yang hanya berupa mufrad, hanya berupa jama‘, dan ada pula kata-kata yang
terkadang digunakan dalam bentuk mufrad, dan di lain kesempatan digunakan dalam bentuk jama‘.
&ata-kata yang hanyadigunakan dalam bentuk mufrad dalam teks al-Qur’an adalah kata al-ar}d
1bumi2, s}ira>t} 1jalan2, dan nu>r 1cahaya2. &ata-kata ini dalam semua konteks selalu digunakan
dalam bentuk mu3rad seperti dalam Q.S. al-)}ala>q "+7$* #%, Q.S. al-'a)arah "%$* %7/, dan Q.S. al-
!a>tih}ah "#$* +. Sedangkan kata-kata yang selalu digunakan dalam bentuk jama’ adalah kata
Rkub9 dan Rlubb9 yang selalu digunakan dalam bentuk jama’, yaitu akwa>b dan albab. Apabila
kita dikehendaki mu3radnya, maka digunakan sinonimnya 1tentu saja jika kita berpendapat ada
sinonimitas dalam al-Qur’an2, seperti dalam Q.S. Qa>f "7,$* 6/. Iihat @asbi ash-Shiddie)y, &lmu-
&lmu al-!ur’an$ 'edia-'edia Pokok dalam 'enafsirkan al-!ur’an 1akarta* 'ulan 'intang, #8862,
cet. AAA, hlm. %8;. Iihat juga -uhammad 0hirFin, al-!ur’an dan ilmu al-!ur’an, hlm. #8/-#8;.

"6/$ Cahbah al-Guhaili, al-#afsi>r al-%uni>rM.., juF. SSQAAA, hlm. 6,%.