Anda di halaman 1dari 7

kista duktus tiroglosus

Filed under: med papers,THT ningrum @ 6:27 am


PENDAHULUAN
Duktus tiroglossus adalah suatu struktur anatomi embriologis yang membentuk suatu hubungan
terbuka antara daerah asal perkembangan kelenjar tiroid dan posisi akhirnya. Kelenjar tiroid
mulai berkembang di orofaring saat fetus dan turun ke posisi akhirnya melalui jalur lidah, tulang
hyoid, dan otot-otot leher. Hubungan antara posisi asal dengan posisi akhirnya disebut duktus
tiroglossus. Duktus ini normalnya atrofi dan menutup sebelum lahir, tetapi dapat tetap tersisa
pada beberapa orang.
(1)

Kista duktus tiroglosus merupakan kista kongenital paling sering yang terdapat di leher. Kista ini
merupakan dilatasi kistik pada sisa epitelial dari saluran duktus tiroglosus, terbentuk selama
perpindahan tiroid selama fase embriogenesis. Mereka hadir sebagai massa leher midline pada
level membran tirohyoid dan dihubungkan dengan tulang hyoid karena jaraknya yang dekat.
Kebanyakan pasien adalah anak-anak, meskipun kemunculan pada segala usia memungkinkan.
Pria dan wanita sama-sama bisa terkena, dan kista biasanya asimtomatik namun mereka dapat
terinfeksi dan membentuk abses dan aliran cystula. Reseksi servikal merupakan terapi yang
direkomendasikan. Infeksi pre-operasi dihubungkan dengan peningkatan resiko rekurensi, dan
infeksi harus diterapi dengan antibiotik dibandingkan dengan insisi dan drainase, karena hal ini
akan mengakibatkan parut dan mengakibatkan pembedahan nanti menjadi lebih sulit.
(2)

Selama migrasi kelenjar yang tersisa berhubungan dengan lidah melalui saluran sempit, duktus
tiroglosus. Duktus tersebut biasanya mengalami atrofi dan menghilang dalam 10 minggu.
Sebagian saluran dan sisa jaringan tiroid dapat menetap, dimana saja sepanjang turunan
berbentuk sabit dari lidah menuju tiroid. Sisa duktus yang paling kaudal dari saluran tersebut
adalah lobus parietal yang muncul pada 1/3 orang, dan kita mungkin dapat melihatnya. Kista
duktus tiroglosus dapat muncul dimana saja ketika terjadi kegagalan obliterasi lengkap traktus.
Dilatasi kistik traktus ini menyisakan hasil pada gambaran klinis massa leher midline. Massa ini
biasanya asimtomatik, mobile, dan berlokasi diatas atau dibawah tiroid.
(2)

Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. Penatalaksanaan kista duktus
tiroglosus yang banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan,
yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya, bagian tengah korpus hiod, traktus yang
menghubungkan kista dengan foramen saekum serta mengangkat otot lidah di sekitarnya, seperti
yang dilakukan Sistrunk pada tahun 1920.
(3)

DEFINISI
Duktus tiroglossus adalah suatu transitory endodermal tube, yang membawa jaringan pembentuk
tiroid pada ujung kaudal, duktus ini menghilang setelah tiroid berpindah ke lokasi sebenarnya di
leher, titik asalnya biasanya ditandai pada dasar lidah orang dewasa dengan foramen saekum;
terkadang, hasil perkembangannya yang tidak sempurna menyebabkan pembentukan kista
sepanjang jalur embrioniknya.(4)
Kista duktus tiroglosus adalah suatu kantung berisi cairan yang terdapat saat lahir pada garis
tengah leher. Suatu kista tiroglosus adalah malformasi kongenital (suatu defek lahir). Hal ini
terjadi akibat penutupan yang tidak komplit dari suatu segmen duktus tiroglossus, suatu struktur
seperti tabung yang normalnya menutup saat perkembangan embrio. Juga disebut kista duktus
tiroglossus atau kista tirolingual.(5)
Kista duktus tiroglosus adalah sebuah kantong berisi cairan yang terletak pada garis median leher.
Kista ini paling sering muncul bersama pembengkakan lunak dibawah dagu yang bergerak
selama proses menelan. Adakalanya kista akan muncul bersama infeksi dengan akibat
kemerahan, meningkatnya pembengkakan dan kelembutan.
(6)

EMBRIOLOGI DUKTUS TIROGLOSUS
Kelenjar tiroid adalah kelenjar endokrin tubuh yang pertama kali berkembang, sekitar 24 hari
masa gestasi. Kelenjar ini berasal dari proliferasi sel-sel epitel endodermal pada permukaan
medial dinding faring yang sedang berkembang. Tempat perkembangan awalnya terletak
diantara 2 struktur kunci, yaitu tuberkulum impar dan kopula, dan ini disebut sebagai foramen
saekum.
(9)

Penurunan awal kelenjar tiroid terjadi di anterior faring. Pada titik ini, tiroid masih terhubung
dengan lidah melalui duktus tiroglosus. Duktus tubular kemudian memadat dan berobliterasi
seluruhnya (selama 7-10 minggu masa gestasi). Tetapi pada beberapa orang, sisa duktus ini
masih tetap dijumpai.
(9)

Jika duktus tiroglosus tidak atrofi, kemudian sisa duktus tersebut dapat bermanifestasi klinis
sebagai suatu kista duktus tiroglosus. Ketika setengah dari massa kista yang umumnya midline
terletak di bawah atau di tulang hyoid, mereka dapat terletak dimana saja mulai dari kartilago
tiroid hingga dasar lidah. Jika kista ini ruptur, dapat terbentuk sinus duktus tiroglosus atau fistula
duktus tiroglossus yang terdapat pada kulit yang mendasarinya. Karena tulang hyoid berkembang
kearah anterior dan dapat mengelilingi duktus tiroglosus, ahli bedah harus memotong bagian
sentral tulang hyoid bersamaan dengan kista tersebut (disebut prosedur Sistrunk)
(9)

PATOFISIOLOGI
Kelenjar tiroid pertama kali tampak sebagai divertikulum ventral garis tengah dari dasar faring
tepat di distal perlekatan arkus brankial pertama dan kedua yang dikenal sebagai foramen sekum.
Tiroid yang berkembang pindah ke distal sepanjang saluran yang melewati ventral korpus hyoid,
kemudian membelok dibawahnya dan turun sampai tingkat kartilago krikoidea.
(14)

Selama perkembangan janin, kelenjar tiroid asalnya didalam mulut pada pangkal lidah. Kelenjar
tiroid sisa terhubung dengan pangkal lidah dengan sebuah cekungan berbentuk tabung (traktus
sinus) sampai mencapai posisi akhirnya dibagian bawah leher. Traktus kemudian akan
menghilang. Jika tidak, mungkin terdapat cekungan berbentuk tabung persisten yang membuat
akumulasi material mukoid dan pada akhirnya pembentukan kista. Sebuah kista duktus tiroglosus
paling sering muncul sebelum usia 5 tahun, namun tetap dapat muncul pada segala usia.
(6)

Terdapat dua teori yang dapat menyebabkan terjadinya kista duktus tiroglosus :
1) Infeksi tenggorok berulang akan merangsang sisa epitel traktus, sehingga mengalami
degenerasi kistik.
2) Sumbatan duktus tiroglosus akan mengakibatkan terjadinya penumpukan sekret sehingga
membentuk kista.
Teori lain mengatakan, mengingat duktus tiroglosus terletak di antara beberapa kelenjar limfe di
leher, jika sering terjadi peradangan, maka epitel duktus juga ikut meradang, sehingga
terbentuklah kista.
(3)

ANGKA KEJADIAN
Beberapa penulis menyatakan bahwa kasus ini merupakan kasus terbanyak dari massa non
neoplastik di leher, merupakan 40% dari tumor primer di leher. Ada penulis yang menyatakan
hampir 70% dari seluruh kista di leher adalah kista duktus tiroglosus.
(3)

Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak, walaupun dapat ditemukan di semua usia.
Predileksi umur terbanyak antara umur 0 - 2 tahun yaitu 52 %, umur sampai 5 tahun terdapat
38%. Sistrunk (1920) melaporkan 31 kasus dari 86.000 pasien anak. Tidak terdapat perbedaan
risiko terjadinya kista berdasarkan jenis kelamin dan umur yang bisa didapat dari lahir sampai 70
tahun, rata-rata pada usia 5,5 tahun.
(3)

Penulis lain mengatakan predileksi usia kurang dari 10 tahun sebesar 31,5%, pada dekade kedua
20,4%, dekade ketiga 13,5% dan usia lebih dari 30 tahun sebesar 34,6%. Waddell mendapatkan
28 kasus kista duktus tiroglosus secara histologik dari 61 pasien yang diduga menderita kista
tersebut. Tri D dkk melaporkan 8 kasus kista duktus tiroglosus dari 1983-1985 di RS Kariadi
Semarang.
(3)

LOKASI
Kista duktus tiroglosus dapat tumbuh di mana saja di garis tengah leher, sepanjang jalur bebas
duktus tiroglosus mulai dari dasar lidah sampai ismus tiroid. Lokasi yang sering adalah :
(3)

- Intra lingual : 2,1%
- Suprahyoid : 24,1%
- Tirohyoid : 60,9%
- Suprasternal : 12,9%
Sedangkan Ward mendapatkan dari 72 pasien dengan kista duktus tiroglosus, lokasinya terdapat
di :
(3)

- Submental : 2%
- Suprahyoid : 18%
- Transhyoid : 2%
- Infrahyoid : 43%
- Suprasternal : 3%
Hanlon mendapatkan 1 kasus kista duktus tiroglosus yang lokasinya jauh ke lateral.
(3)

TANDA DAN GEJALA
Kista duktus tiroglosus paling sering dijumpai dengan massa di garis tengah leher yang dapat
diraba dan asimtomatis dibawah tingkatan tulang hyoid. Massa pada leher ikut bergerak jika
menelan. Beberapa pasien akan mengalami nyeri pada leher atau tenggorokan, atau disfagia.
Spektrum gejala klinis mungkin bervariasi.
(11)

Massa bulat, licin, kecil di bagian depan tengah leher
Pembukaan kecil di kulit dekat massa, dengan drainase mucus dari kista
Sulit bernafas atau menelan
Lembek dan kemerahan
(11)

PEMERIKSAAN KLINIS
Anamnesa dan pemeriksaan fisik memberi standar untuk diagnosa dan dalam pembuatan
keputusan terapeutik. Bagaimanapun, jika anamnesa dan pemeriksaan fisik tidak khas untuk
kista duktus tiroglosus sebagai contoh jika massa tidak di midline atau jika pasien adalah anak-
anak dan pemeriksaan fisik lebih sulit ada beberapa studi penciteraan yang telah dianjurkan
untuk membantu menegakkan diagnosa. USG dapat membandingkan antara kista dan massa
solid, dan USG juga bisa memperlihatkan adanya jaringan tiroid normal. Pemeriksaan ini juga
tidak invasif dan tidak mahal, jadi mulai meninggalkan tes-tes yang biasa digunakan oleh
kebanyakan dokter. CT-scan memberi informasi tepat mengenai ukuran massa, lokasi dan
hubungannya pada struktur lainnya. Hampir sama, MRI memberikan informasi lengkap tentang
massa namun, karena adanya studi penciteraan yang tidak begitu mahal namun cukup adekuat,
maka MRI jarang digunakan. FNA bisa digunakan untuk diagnosa jaringan langsung jika
meragukan. Perhatikan bahwa dalam daftar ini tidak terdapat scan tiroid. Scan tiroid tidak
digunakan untuk mendiagnosa kista duktus tiroglosus.
(2)

DIAGNOSA BANDING
Diagnosa bandingnya adalah massa leher median kongenital, termasuk kista duktus
tiroglosus, namun juga termasuk teratoma, yang biasanya mudah dibedakan dari kemunculannya
pada neonatus yang memiliki obstruksi jalan napas akibat ukuran massa leher median. Kista
dermoid, meskipun dapat muncul dibawah leher, biasanya muncul pada area submentalis. Kista
timus, meskipun dapat muncul lebih tinggi pada leher, biasanya muncul di dada dan sama sekali
tidak midline. Kelainan lainnya dalam diagnosa banding termasuk kista sebasea atau lipoma
yang terletak lebih superfisial limfadenopati, malformasi limfatik, dan sarkoma.
(2)

Apa yang secara klasik membandingkan kista duktus tiroglosus dari massa leher midline
lainnya adalah elevasinya dengan protrusi lidah dan proses menelan. Massanya naik ketika
menelan karena hubungan traktus yang dekat dengan tulang hyoid, dan naik bersama dengan
protrusi lidah karena hubungannya dengan pangkal lidah. Pada anak-anak, tidaklah selalu mudah
untuk mendeteksinya sesuai teori. Beberapa pasien awalnya muncul dengan massa leher median
yang terinfeksi, yang biasanya dibarengi dengan infeksi saluran napas atas. Ada satu hipotesis
bahwa hipertrofi jaringan limfoid lokal dengan infeksi saluran napas atas dan tersumbatnya
traktus sebagai akibat dari pembentukan kista. Infeksi akut mungkin menghasilkan pembentukan
abses dan ruptur, menyebabkan sinus atau fistula persisten. Penting untuk dicatat, bahwa fistula
merupakan dapatan dan bukan kongenital kecuali dihubungkan dengan sisa celah brankial.
Beberapa pasien dengan sisa duktus tiroglosus tidak pernah menunjukkan gejala klinis. Sebuah
studi post mortem terhadap 200 orang dewasa yang tidak memiliki massa leher midline
ditemukan 7% insiden sisa kista duktus tiroglosus. Jadi, kebanyakan orang memiliki kista ini dan
tidak pernah muncul gejala.
(2)

EVALUASI PRE-OPERASI
Evaluasi pre operasi yang paling penting terhadap pasien dengan dugaan kista duktus tiroglosus
adalah untuk memastikan pasien memiliki fungsi kelenjar tiroid normal pada posisi pretrakeal
normal. Mengapa hal ini sangat penting? Sebagaimana adanya sisa pada traktus dengan
pembentukan sebuah kista, seseorang sebenarnya dapat memiliki jaringan tiroid dimana saja
sepanjang traktus ini mulai dari pangkal lidah sampai posisi normal tiroid. Jika seseorang
memiliki keseluruhan jaringan tiroid dengan lengkap menahan turunnya, kita dapat melihat
bagaimana begitu mudahnya hal tersebut disalahsangkakan sebagai kista duktus tiroglosus. Jika
diangkat, maka pasien tidak akan memiliki tiroid; kenyataannya, dalam literatur terdapat banyak
laporan pasien yang diduga memiliki kista duktus tiroglosus yang diangkat dan mereka mendapat
hipotiroidisme paska operasi yang berlanjut menjadi miksedema pada beberapa kasus.
(2)

INDIKASI OPERASI
Jadi, setelah mendiagnosa kista duktus tiroglosus dan kita merasa yakin bahwa pasien
memiliki fungsi normal jaringan tiroid, dan kita mengusulkan pembedahan pada pasien yang
akan bertanya, Mengapa kista saya harus diangkat?. Indikasi untuk pengangkatan kista adalah
tampilan kosmetik yang tidak diinginkan, infeksi berulang, dan lagi konfirmasi histologi
diagnosis sebagaimana karsinoma juga dapat muncul meskipun hal ini jarang. Pendekatan
bedah telah dikembangkan seiring berjalannya waktu hingga saat ini, ketika prosedur
dilaksanakan dengan tepat, angka rekurensi dilaporkan sebesar 3%. Secara historis, kista duktus
tiroglosus diterapi dengan eksisi atau insisi sederhana dan drainase. Hal ini dapat dilihat pada
angka rekurensi yang tinggi sebesar 50%. Pada tahun 1893, Schlang menyarankan eksisi kista
bersama dengan bagian sentral tulang hyoid, dan ini mengurangi angka rekurensi menjadi 20%.
Dan pada tahun 1920, Sistrunk menjelaskan sebuah prosedur yang digunakan sekarang ini
dengan mengurangi angka rekurensi menjadi 3%.
(2)

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bervariasi dan banyak macamnya, antara lain insisi dan
drainase, aspirasi perkutan, eksisi sederhana, reseksi dan injeksi dengan bahan sklerotik. Dengan
cara-cara tersebut angka kekambuhan dilaporkan antara 60-100%. Schlange (1893) melakukan
eksisi dengan mengambil korpus hioid dan kista beserta duktus-duktusnya; dengan cara ini angka
kekambuhan menjadi 20%. Sistrunk (1920) memperkenalkan teknik baru berdasarkan
embriologi, yaitu kista beserta duktusnya, korpus hyoid, traktus yang menghubungkan kista
dengan foramen sekum serta otot lidah sekitarnya kurang lebih 1 cm diangkat. Cara ini dapat
menurunkan angka kekambuhan menjadi 2-4 %.
(3)

OPERASI SISTRUNK
(13)

Menjelang operasi:
Penjelasan kepada penderita dan keluarganya mengenai tindakan operasi yang akan
dijalani serta resiko komplikasi disertai dengan tandatangan persetujuan dan permohonan
dari penderita untuk dilakukan operasi (informed consent)
Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi.
Penderita puasa minimal 6 jam sebelum operasi.
Tahapan operasi:
Dilakukan di kamar operasi, dengan anestesi umum, intubasi orotrakeal.
Posisi penderita telentang, hiperekstensi dengan ganjal bantal di pundaknya.
Meja operasi sedikit head up 20-25 derajat.
Desinfeksi lapangan operasi dengan lar. Hibitane alkohol 70% 1 : 1000
Lapangan operasi dipersempit dengan kain steril.
Insisi kolar, sesuai garis Langens tepat di atas tumor, sepanjang 5 cm, diperdalam sampai
fasia koli superfisialis. Perdarahan dirawat.
Dibuat flap ke atas sampai submental, dan flap ke bawah sampai 2 cm di kaudal tepi
bawah kista .
Flap atas dan bawah diteugel dengan menjahitkan ke kain dengan benang sutera 2/0.
Dengan dobel pinset, fasia koli superfisialis dibuka pada garis median. Dengan
menyisihkan otot pretrakealis ke kanan-kiri akan tampak dinding kista.
Kista dibebaskan secara tajam dari jaringan sekitar.
Origo m. hyoglossus bagian tengah dibebaskan dari kartilago hyoid dengan pisau.
Demikian juga bagian- bagian medial dari m. tirohyoid yang menempel di hyoid.
Dengan pemotong tulang, kartilago hyoid dipotong kurang lebih 1 1,5 cm pada bagian
tengah dimana saluran kista tiroglossus melekat ke kartilago hyoid.
Kista beserta kartilago hyoid dielevasi ke kranial sehingga dapat dilihat dan diikuti
salurannya yang menuju ke arah pangkal lidah. Bila perlu isi kista diaspirasi sebagian,
kemudian dimasukkan metilin biru ke dalamnya sehingga saluran bisa nampak lebih jelas.
Saluran kista diikuti dan dibebaskan ke proksimal sampai ujung.
Dibuat ligasi dengan benang sutera 2/0 pada ujung saluran, dan dipotong pada distal dari
ligasi tersebut. Kontrol perdarahan.
Pasang drain handschoen. Untuk penderita yang rawat inap maka dipasang drain Redon.
Fasia koli dan lemak dijahit lapis demi lapis dengan dexon atau vicryl 3/0, kulit dijahit
simpul dengan dermalon atau ethilon 4/0 atau 5/0, drain handschoen difiksasi pada kulit.
Komplikasi Operasi
Komplikasi dini pasca operasi
Perdarahan
Infeksi
Fistel
Residif
Perawatan Paska Bedah
Infus dilanjutkan dari sisa kamar operasi, bila sudah sadar baik boleh minum sedikit-sedikit dan
bila tidak ada gangguan bisa minum bebas, dan boleh makan. Hari ke-3 handschoen drain dilepas,
dan bisa dilanjutkan kontrol poliklinis. Hari ke-7 jahitan kulit diangkat. Kontrol tiap tiga bulan
selama 3 bulan.
KESIMPULAN
Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang tetap ada
sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di
leher. Biasanya terletak di garis median leher yang dapat ditemukan di mana saja antara pangkal
lidah dan batas atas kelenjar tiroid. Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak, walaupun dapat
ditemukan pada semua usia. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus dengan cara Sistrunk yang
sudah banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan.
(2)

http://ningrumwahyuni.wordpress.com/2009/11/01/kista-duktus-tiroglosus/