Anda di halaman 1dari 11

Makalah Dasar Elektronika

Dioda


Disusun oleh :
David jujur
03111004049



Universitas Sriwijaya
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro
T.A 2012/2013

Dioda
1. Definisi Dioda.
Dioda adalah kristal yang menggabung separuh semikonduktor type-n dan
separuh semikonduktor type-p, atau disebut pula pn junction. Sisi p (Anoda) mempunyai
banyak hole (pembawa mayoritas) dan sisi n (Katoda) mempunyai banyak electron
(pembawa mayoritas). Simbol, struktur dan fisik beberapa dioda dapat dilihat pada
Gambar 1.




Gambar 1 Simbol, Struktur dan Fisik Dioda
2. Grafik Dioda
Jika sebuah dioda dirangkain seperti pada Gambar 2, dimana tegangan Vin
dirancang untuk dapat diubah-ubah besarnya, maka akan didapat tegangan (Vd) dan arus
(Id) pada dioda yang berbeda-beda pula. Dengan menghubungkan titik-titik tegangan dan
arus dioda, maka akan didapat grafik dioda seperti pada Gambar 3.
ANODA KATODA


Gambar 2. Rangkaian Dioda

Gambar 3. Grafik Dioda Forward Biased
Jika dibalik prategangannya, secara lengkap, grafik tersebut menjadi grafik seperti pada
Gambar 4.

Gambar 4 Grafik Dioda Lengkap

Gambar-gambar diatas menjelaskan karakteristik dioda, yaitu sebagai komponen non-
linear. Bila diberikan forward biased dioda menjadi sangat tidak konduk sebelum tegangannya
melampaui potensial barier, sehingga arusnya sangat kecil sekali. Ketika tegangannya mendekali
potensial barier, pasangan elektron-hole mulai melintasi junction. Di atas 0.7 volt, biasa disebut
tegangan lutut (knee voltage), Vg, atau tegangan offset, dioda menjadi sangat konduk dan
mengalirkan arus yang besar. Semakin besar tegangannya, arus bertambah dengan sangat cepat
pula. Hal ini menunjukkan, bahwa dioda memiliki tahanan tertentu, disebut tahanan bulk (bulk
resistance).
Sebaliknya, pada saat dioda di-reverse biased, terdapat arus balik yang sangat kecil. Jika
tegangan ini ditambah, akan dicapai tegangan breakdown, dimana terjadi peningkatan arus yang
sangat besar, yang dapat merusakkan dioda. Sehingga diperlukan kehati-hatian untuk
memberikan tegangan dioda, jangat sampai jatuh ke daerah breakdown.
3. Garis Beban dan Titik Operasi
Jika rangkaian dioda pada Gambar 2 dianalisa, maka akan didapat persamaan sebagai
berikut:
R
V V
I
d in
d

(3.1)
Jika tegangan input dan tahanan pembatas diketahui, maka hanya tegangan dan arus dioda yang
tidak diketahui. Persamaan ini menyatakan hubungan yang linear antara tegangan dan arus.
Pada saat Vd sama dengan nol, maka
R
V
I
in
d

(3.2)
Titik ini disebut dengan titik jenuh (saturation point) yang terletak pada sumbu tegak arus.
Sementara itu, jika Vd sama dengan Vin, maka
I
d
= 0 (3.3)

Titik ini disebut dengan titik putus (cut off point) yang terletak pada sumbu mendatar. Jika kedua
titik ini dihubungkan, atau dengan mengukur titik-titik lain, akan didapatkan sebuah garis yang
khas, disebut garis beban (load line).
Apabila grafik garis beban dioda ditumpukkan dengan grafik dioda, maka akan
didapatkan grafik seperti pada Gambar 5 dengan Vin sama dengan 2 Volt dan R sama dengan
100 . Titik jenuh grafik tersebut adalah 20 mA dan titik potongnya adalah 0 mA. Kedua grafik
itu memiliki sebuah titik potong, yang disebut dengan titik operasi (operating point), yang
menyatakan arus dan tegangan dioda sesuai dengan tegangan input dan tahanannya. Dari gambar
tersebut, tampak bahwa titik operasi dioda jatuh pada tegangan 0.75 V dan arus 12.5 mA.

Gambar 5 Load Line dan Operating Point
4. Pendekatan/Model Analisa Rangkaian Dioda
Di dalam dunia praktek sehari-hari, seringkali dioda cara kerja didekati dengan
menggunakan pendekatan atau model. Sudah barang tentu, model ini tetap berdasarkan kepada
representasi matematika dan grafik dari karakteristik V-I dari dioda itu sendiri.
Penyederhanaan model ini, hanya ingin memberikan gambaran global dari cara kerja dioda,
namun belum merepresentasikan detil-detil penting dari dioda itu sendiri. Terdapat beberapa
model pendekatan dioda, yaitu: Model Dioda Ideal, Model Dioda Offset dan Model Dioda Real.

Model Dioda Ideal memiliki karakteristik V-I seperti pada Gambar 6 di bawah ini. Pada
model ini, suatu dioda berlaku sebagai konduktor yang sempurna (bertegangan nol) bila diberi
forward biased dan berlaku sebagai isolatif yang sempurna (berarus nol) bila diberi reverse
biased. Dalam istilah rangkaian, dioda berlaku seperti saklar (swithc), bila diberi forward biased
ia bertindak sebagai saklar tertutup (ON), dan bertindak seperti saklar terbuka (OFF) bila diberi
reverse biased. Model ini sangat ekstrim, sehingga untuk kondisi-kondisi tertentu, diperlukan
model yang lebih baik lagi.


Gambar 6 Model Dioda Ideal
Sesungguhnya, diperlukan tegangan offset sekitar 0,7 volt sebelum dioda Silikion
menjadi konduktor dengan baik. Bila tegangan sumber besar, 0.7 volt ini tidak menjadi persalan.
Gambar 7 memperlihatkan karakteristik V-I dioda, dimana tidak ada arus mengalir sampai
tegangan dioda mencapai 0,7 volt. Pada titik ini dioda mulai konduksi. Jadi, dioda dianggap
seperti sebuah switch yang disarikan dengan sebuah baterai 0.7 volt. Jika tegangan sumber lebih
besar dari 0.7 volt, switch menutup dan tegangan dioda adalah 0.7 volt. Namun, jika tegangan
sumber kurang dari 0.7 volt maka switch membuka.


Gambar 7 Model Dioda Offset
Pada model ketiga ini, tahanan dalam dioda, R
f
, diperhitungkan. Gambar 8 menunjukkan
model dioda real ini. Sehingga, pada saat konduksi, arus menghasilkan tegangan pada R
f
, dimana
semakin besar arus, semakin besar pula tegangan tersebut. Rangkain ekivalen pada model real
dioda ini, adalah seperti sebuah saklar yang diseri dengan baterai 0.7 volt dan tahanan R
f
.

Gambar 8 Model Dioda Real
Untuk kebanyakan hal praktis, Model Dioda offset seringkali dipergunakan. Namun, jika
diperlukan analisa yang lebih mendalam, Model Dioda Real akan dipakai, sehigga akan
didapatkan analisa yang lebih akurat.
Contoh soal :
Sebuah rangkaian dioda tampak pada gambar di bawah ini, dengan besar nilai E=10 V, R=10k.
Tentukanlah dimana letak garis beban dan titik operasi dari soal diatas dan tunjukkan dalam
bentuk Grafik dengan masing-masing pendekatan.


Gambar 10 Rangkaian Dasar Dioda
Diketahui : E = 10 volt
R = 1 K.
Jawab :
persamaan arusnya adalah:
0
0


R I V E
V V E
d d
R d

Jika digunakan Model Dioda Ideal, maka dioda tidak memiliki tegangan offset dan tahanan
dalam. Sehingga, ketika dioda diberi forward biased, maka akan mengalir arus melalui dioda,
dimana:
R
V E
I
d
d


Dari persamaan diatas, didapat garis beban, dimana:
jika V
d
= 0, maka I
d
= E / R = 10 volt / 1 K = 10 mA, dan
jika I
d
= 0, maka V
d
= E = 10 volt,
dengan titik operasi pada
V
d
= 0 volt dan I
d
= 10 mA
Garis beban dan titik operasi ditampilkan pada gambar di bawah ini.



Gambar 11 Garis Beban dan Titik Operasi Model Dioda Ideal
Jika digunakan Model Dioda Offset, maka dioda memiliki tegangan offset, sebesar V
g
=
0.7 volt. Dengan cara yang sama seperti diatas, akan didapat persamaan garis beban yang sama.
Namun, titik operasinya adalah
R
V E
I
g
d


dimana:
V
d
= V
g
= 0.7 volt, dan
I
d
= (10 0.7 ) volt / 1 K = 9.3 volt
Garis beban dan titik operasi ditampilkan pada gambar di bawah ini.





Gambar 12 Garis Beban dan Titik Operasi Model Dioda Offset
Dengan cara yang sama, dapat pula diturunkan persamaan diatas untuk Dioda Ideal, yang
memiliki tegangan offset sebesar V
g
= 0.7 volt dan tahanan dalam R
f
= 10 . Titik operasinya
adalah
) ( R R
V E
I
f
g
d

, dimana:
V
d
= V
g
= 0.7 volt, dan R
f
= 1 , maka
I
d
= (10 0.7 ) volt / (1.01) K = 9.2 mA
Garis beban dan titik operasi ditampilkan pada gambar di bawah ini.


I
DQ
= 9.3 mA


Gambar 13 Garis Beban dan Titik Operasi Model Dioda Real





I
DQ
= 9.2 mA