Anda di halaman 1dari 13

PEMISAHAN ION Fe(III),

Cu(II), Co(II), Ni(II) DENGAN


TEKNIK KROMATOGRAFI
KERTAS
Disusun Oleh :
Dabarniwas Trifalinia Telaumbanua
(25.12.1118F)
Nur Ratna Sari
(25.12.1119F)
D3 ANALIS KIMIA


PENGERTIAN KROMATOGRAFI KERTAS
Kromatografi kertas termasuk dalam kromatografi planar adalah salah
satu metode kromatografi yang sederhana namun penggunaannya
sangat luas.
Pada kromatografi planar sejumlah tertentu larutan contoh
ditempatkan dengan cara menotolkannya di dekat salah satu sisi
kertas kromatografi.
Teknik kromatografi kertas bermacam-macam, salah satunya adalah
dengan menempatkan kertas dalam suatu bejana tertutup (bejana
pengembang) yang telah dijenuhkan dengan uap pelarut yang akan
digunakan sebagai eluen. Ketika solven atau fasa gerak mencapai titik
sampel (spot), komponen dalam tiap titik akan terdistribusi baik
kedlam fasa gerak maupun fasa diam, sehingga dapt terjadi
pemisahan. Keseimbangan distribusi dalam kromatografi kertas
dipengaruhi oleh beberapa factor termasuk kepolaran dari senyawa,
pelarut, dan jenis kertas.
Alat dan bahan
Alat :
Gelas kimia 400 mL atau 600 mL (2 buah)
Plastic
Kertas saring kasar dan halus
Cawan petri dan tutup
Pipa kapiler
Botol semprot untuk reagen
Hair dryer
Penggaris
Pensil

Bahan :

HCl 6 M
Aseton
Larutan Fe(III), Cu(II), Co(II), Ni(II) masing-masing 0,5 M
Larutan NH
3
pekat
Larutan NH
4
SCN 10% dalam alcohol
Larutan DMG 10% dalam alcohol
NaOH 0,25 M
Larutan K
4
Fe(CN)
6

Sampel (campuran ion-ion)
Etanol


Langkah kerja
Gelas kimia disiapkan sebagai bejana kromatografi.
Gelas kimia tersebut diisi dengan 7 mL HCl 6 M dan 25 mL
aseton.
Bejana ditutup supaya terjadi kejenuhan ruang.
Setelah itu kertas saring halus dan kasar yang berukuran
11X26 disiapkan dan dibuat garis yang berjarak 2 cm dari
tepi bawah serta 2 cm dari tepi atas dengan pensil.
Untuk penotolan cuplikan dilakukan pada garis tepi bawah.
Dari sisi kanan dan kiri diberi jarak 2 cm, dan tiap titik diberi
jarak 2 cm juga.
Pipa kapiler digunakan untuk menotolkan tiap titik larutan
sebanyak 7 kali penotolan. Setiap satu kali penotolan,
ditunggu hingga kering dengan mengangin-anginkan kertas.
Urutan titik adalah : (1) standar Fe(III), (2)
standar Cu(II), (3) standar Co(II), (4) standar
Ni(II), (5) campuran dari keempat standar, (6)
sampel A ( campuran Cu(II) dan Fe(III) ), (7)
sampel B (campuran Co(II) dan Ni (II)).
Setelah penotolan terakhir kering, kertas saring
dimasukkan dalam gelas kimia yang telah berisi
larutan. Fase gerak dibiarkan mencapai
garis/tepi atas. Setelah fase gerak mencapai tepi
atas, kertas saring dikeluarkan dan dikeringkan.
Harga Rf tiap noda yang timbul dihitung. Jika
noda tidak tampak, maka reagen
pengidentifikasian disemprotkan pada kertas
saring.
Untuk penyemprotan, per bagian dipotong, lalu
NaOH disemprotkan terlebih dahulu. Untuk ion
Fe(III) dan Cu(II) larutan K
4
FeCN
6
digunakan
sebagai reagen pengidentifikasiannya, Co(II)
digunakan NH
4
SCN, dan Ni(II) dengan DMG.
Langkah terakhir adalah komponen yang
terdapat dalam sampel A dan B ditentukan dan
dibandingkan bagaimana pemisahan ion-ion
dengan teknik kromatografi kertas jika
digunakan kertas saring halus dan kertas saring
kasar.

HASIL PENGAMATAN
Terdapat perbedaan harga Rf pada
penggunaan jenis kertas saringnya. Pada
kertas saring kasar jarak migrasi
komponennya lebih jauh daripada kertas
saring halus. Hal ini menunjukkan pada
kertas saring kasar lebih cepat dan lebih
efisien dalam melakukan pemisahan ion
logamnya.

REFERENSI
Purwati, D. F. (2013). PEMISAHAN ION LOGAM
DENGAN TEKNIK KROMATOGRAFI KERTAS.
LAPORAN PRAKTIKUM PEMISAHAN KIMIA ,
3-8.