Anda di halaman 1dari 37

PERGAULAN BEBAS

PERGAULAN BEBAS

Pendahuluan
Sekarang ini zaman globalisasi, remaja harus diselamatkan dari globalisasi. Karena
globalisasi ini ibaratnya kebebasan dari segala aspek. Sehingga banyak kebudayaan-kebudayaan
yang asing yang masuk, sementara tidak cocok dengan kebudayaan kita. Sebagai contoh
kebudayaan free sex itu tidak cocok dengan kebudayaan kita. Pada saat ini, kebebasan bergaul
sudah sampai pada tingkat yang mengkuatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar
jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling
berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah
pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka merupakan salah satu bentuk gengsi yang
membanggakan. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan
pacar.
Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu
meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik. Dalam mempersiapkan
generasi muda juga sangat tergantung kepada kesiapan masyarakat yakni dengan keberadaan
budayanya. Termasuk didalamnya tentang pentingnya memberikan filter tentang perilaku-
perilaku yang negatif, yang antara lain; minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, sex bebas,
dan lain-lain, yang dapat menyebabkan terjangkitnya suatu penyakit, misalnya HIV/AIDS.

A. Pengertian Pergaulan Bebas
Kita tentu tahu bahwa pergaulan bebas itu adalah salah satu bentuk perilaku
menyimpang, yang mana bebas yang dimaksud adalah melewati batas-batas norma ketimuran
yang ada. Masalah pergaulan bebas ini sering kita dengar baik di lingkungan maupun dari media
massa. Remaja adalah individu labil yang emosinya rentan tidak terkontrol oleh pengendalian
diri yang benar. Masalah keluarga, kekecewaan, pengetahuan yang minim, dan ajakan teman-
teman yang bergaul bebas membuat makin berkurangnya potensi generasi muda Indonesia dalam
kemajuan bangsa.
Sedangkan remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli
pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan
18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih
belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari pola hidup yang
paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metode coba-coba walaupun melalui
banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukan sering menimbulkan kekhawatiran serta perasaan
yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orangtuanya.
Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan
pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang putus
sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan
tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan
sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian
pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus
berlangsung selamanya.

B. Penyebab Maraknya Pergaulan Bebas Remaja Indonesia
Berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen
remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Celakanya, perilaku seks bebas tersebut
berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkawinan. Ancaman pola hidup seks bebas remaja
secara umum baik di pondokan atau kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius. Pakar
seks juga specialis Obstetri dan Ginekologi Dr. Boyke Dian Nugraha di Jakarta mengungkapkan,
dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari
sekitar lima persen pada tahun 1980-an, menjadi dua puluh persen pada tahun 2000. Kisaran
angka tersebut, kata Boyke, dikumpulkan dari berbagai penelitian di beberapa kota besar di
Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu dan Banjarmasin. Bahkan di pulau Palu, Sulawesi
Tenggara, pada tahun 2000 lalu tercatat remaja yang pernah melakukan hubungan seks pranikah
mencapai 29,9 persen.
Kelompok remaja yang masuk ke dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 17-21 tahun,
dan umumnya masih bersekolah di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau
mahasiswa. Namun dalam beberapa kasus juga terjadi pada anak-anak yang duduk di tingkat
Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tingginya angka hubungan seks pranikah di kalangan
remaja erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah aborsi saat ini, serta kurangnya pengetahuan
remaja akan reproduksi sehat. Jumlah aborsi saat ini tercatat sekitar 2,3 juta, dan 15-20 persen
diantaranya dilakukan remaja. Hal ini pula yang menjadikan tingginya angka kematian ibu di
Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai negara yang angka kematian ibunya tertinggi di seluruh
Asia Tenggara.
Dari sisi kesehatan, perilaku seks bebas bisa menimbulkan berbagai gangguan.
Diantaranya, terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Selain tentunya kecenderungan untuk
aborsi, juga menjadi salah satu penyebab munculnya anak-anak yang tidak diinginkan.
Keadaan ini juga bisa dijadikan bahan pertanyaan tentang kualitas anak tersebut, apabila
ibunya sudah tidak menghendaki. Seks pranikah, lanjut Boyke juga bisa meningkatkan resiko
kanker mulut rahim. Jika hubungan seks tersebut dilakukan sebelum usia 17 tahun, risiko terkena
penyakit tersebut bisa mencapai empat hingga lima kali lipat. Sekuat-kuatnya mental seorang
remaja untuk tidak tergoda pola hidup seks bebas, kalau terus-menerus mengalami godaan dan
dalam kondisi sangat bebas dari kontrol, tentu suatu saat akan tergoda pula untuk melakukannya.
Godaan semacam itu terasa lebih berat lagi bagi remaja yang memang benteng mental dan
keagamaannya tidak begitu kuat. Saat ini untuk menekankan jumlah pelaku seks bebas-terutama
di kalangan remaja-bukan hanya membentengi diri mereka dengan unsur agama yang kuat, juga
dibentengi dengan pendampingan orang tua dan selektivitas dalam memilih teman-teman.
Karena ada kecenderungan remaja lebih terbuka kepada teman dekatnya ketimbang dengan
orang tua sendiri. Selain itu, sudah saatnya di kalangan remaja diberikan suatu bekal pendidikan
kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah, namun bukan pendidikan seks secara vulgar.
Pendidikan Kesehatan Reproduksi di kalangan remaja bukan hanya memberikan
pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit
menular seksual dan sebagainya. Dengan demikian, anak-anak remaja ini bisa terhindar dari
percobaan melakukan seks bebas. Dalam keterpurukan dunia remaja saat ini, anehnya banyak
orang tua yang cuek bebek saja terhadap perkembangan anak-anaknya. Kini tak sedikit orang tua
dengan alasan sibuk karena termasuk tipe jarum super alias jarang di rumah suka pergi; lebih
senang menitipkan anaknya di babby sitter. Udah gedean dikit di sekolahin di sekolah yang
mahal tapi miskin nilai-nilai agama. Acara televisi begitu berjibun dengan tayangan yang bikin
gerah, Video klip lagu dangdut saja, saat ini makin berani pamer aurat dan adegan-adegan yang
bikin deg-degan jantung para lelaki. Belum lagi tayangan film yang bikin otak remaja teracuni
dengan pesan sesatnya. Ditambah lagi, maraknya tabloid dan majalah yang memajang gambar
sekwilda, alias sekitar wilayah dada; dan gambar bupati, alias buka paha tinggi-tinggi.
Konyolnya, pendidikan agama di sekolah-sekolah ternyata tidak menggugah kesadaran remaja
untuk kritis dan inovatif.
Ada banyak sebab remaja melakukan pergaulan bebas. Penyebab tiap remaja mungkin
berbeda tetapi semuanya berakar dari penyebab utama yaitu kurangnya pegangan hidup remaja
dalam hal keyakinan/agama dan ketidakstabilan emosi remaja. Hal tersebut menyebabkan
perilaku yang tidak terkendali, seperti pergaulan bebas & penggunaan narkoba yang berujung
kepada penyakit seperti HIV & AIDS ataupun kematian. Berikut ini di antara penyebab
maraknya pergaulan bebas di Indonesia:
1. Sikap mental yang tidak sehat
Sikap mental yang tidak sehat membuat banyaknya remaja merasa bangga terhadap pergaulan
yang sebenarnya merupakan pergaulan yang tidak sepantasnya, tetapi mereka tidak memahami
karena daya pemahaman yang lemah. Dimana ketidakstabilan emosi yang dipacu dengan
penganiayaan emosi seperti pembentukan kepribadian yang tidak sewajarnya dikarenakan
tindakan keluarga ataupun orang tua yang menolak, acuh tak acuh, menghukum, mengolok-olok,
memaksakan kehendak, dan mengajarkan yang salah tanpa dibekali dasar keimanan yang kuat
bagi anak, yang nantinya akan membuat mereka merasa tidak nyaman dengan hidup yang
mereka biasa jalani sehingga pelarian dari hal tersebut adalah hal berdampak negatif, contohnya
dengan adanya pergaulan bebas.
2. Pelampiasan rasa kecewa
Yaitu ketika seorang remaja mengalami tekanan dikarenakan kekecewaannya terhadap orang tua
yang bersifat otoriter ataupun terlalu membebaskan, sekolah yang memberikan tekanan terus
menerus(baik dari segi prestasi untuk remaja yang sering gagal maupun dikarenakan peraturan
yang terlalu mengikat), lingkungan masyarakat yang memberikan masalah dalam sosialisasi,
sehingga menjadikan remaja sangat labil dalam mengatur emosi, dan mudah terpengaruh oleh
hal-hal negatif di sekelilingnya, terutama pergaulan bebas dikarenakan rasa tidak nyaman dalam
lingkungan hidupnya.
3. Kegagalan remaja menyerap norma
Hal ini disebabkan karena norma-norma yang ada sudah tergeser oleh modernisasi yang
sebenarnya adalah westernisasi.

C. Ciri-Ciri Pergaulan Bebas
1. Penghamburan harta untuk memenuhi keinginan sex bebasnya
2. Upaya mendapatkan harta dan uang dengan menghalalkan segala cara termasuk dari jalan yang
haram dan keji
3. Menimbulkan perilaku munafik dalam masyarakat
4. Rasa ingin tahu yang besar
5. Rasa ingin mencoba dan merasakan
6. Terjadi perubahan-perubahan emosi, pikiran, lingkungan pergaulan dan tanggung jawab
yang dihadapi.
7. Mudah mengalami kegelisahan, tidak sabar, emosional, selalu ingin melawan, rasa malas,
perubahan dalam keinginan, ingin menunjukkan eksistensi dan kebanggaan diri serta selalu ingin
mencoba dalam banyak hal.
8. Kesukaran yang dialami timbul akibat konflik karena keinginannya menjadi dewasa dan berdiri
sendiri dan keinginan akan perasaan aman sebagai seorang anak dalam keluarganya.
9. Banyak mengalami tekanan mental dan emosi.
10. Terjerat dalam pesta hura-hura ganja, putau, ekstasi, dan pil-pil setan lain.

D. Dampak Dari Pergaulan Bebas
Pergaulan bebas identik sekali dengan yang namanya dugem (dunia gemerlap). Yang
sudah menjadi rahasia umum bahwa di dalamnya marak sekali pemakaian narkoba. Ini identik
sekali dengan adanya seks bebas. Yang akhirnya berujung kepada HIV/AIDS, dan penyakit
lainnya. Dan pastinya setelah terkena virus ini kehidupan remaja akan menjadi sangat timpang
dari segala segi.

E. Solusi Untuk Menyelesaikan Masalah Pergaulan Bebas
Kita semua mengetahui peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME,
penyaluran minat dan bakat secara positif merupakan hal-hal yang dapat membuat setiap orang
mampu mencapai kesuksesan hidup nantinya. Tetapi walaupun kata-kata tersebut sering
didengungkan tetap saja masih banyak remaja yang melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya
dilakukan. Selain daripada solusi di atas masih banyak solusi lainnya. Solusi-solusi tersebut
adalah sebagai berikut:
1. Memperbaiki Cara Pandang
Memperbaiki cara pandang dengan mencoba bersikap optimis dan hidup dalam
kenyataan, maksudnya sebaiknya remaja dididik dari kecil agar tidak memiliki angan-angan
yang tidak sesuai dengan kemampuannya sehingga apabila remaja mendapatkan kekecewaan
mereka akan mampu menanggapinya dengan positif.
2. Menjaga Keseimbangan Pola Hidup
Yaitu perlunya remaja belajar disiplin dengan mengelola waktu, emosi, energi serta
pikiran dengan baik dan bermanfaat, misalnya mengatur waktu dalam kegiatan sehari-hari serta
mengisi waktu luang dengan kegiatan positif.
3. Jujur Pada Diri Sendiri
Yaitu menyadari pada dasarnya tiap-tiap individu ingin yang terbaik untuk diri masing-
masing. Sehingga pergaulan bebas tersebut dapat dihindari. Jadi dengan ini remaja tidak
menganiaya emosi dan diri mereka sendiri.
4. Memperbaiki Cara Berkomunikasi
Memperbaiki cara berkomunikasi dengan orang lain sehingga terbina hubungan baik
dengan masyarakat, untuk memberikan batas diri terhadap kegiatan yang berdampak negatif
dapat kita mulai dengan komunikasi yang baik dengan orang-orang di sekeliling kita.
5. Perlunya Remaja Berpikir Untuk Masa Depan
Jarangnya remaja memikirkan masa depan. Seandainya tiap remaja mampu menanamkan
pertanyaan Apa yang akan terjadi pada diri saya nanti jika saya lalai dalam menyusun langkah
untuk menjadi individu yang lebih baik? kemudian hal itu diiringi dengan tindakan-tindakan
positif untuk kemajuan diri para remaja. Dengan itu maka remaja-remaja akan berpikir panjang
untuk melakukan hal-hal menyimpang dan akan berkurangnya jumlah remaja yang terkena HIV
& AIDS nantinya.
6. Menanamkan Nilai Ketimuran
Kalangan remaja kita kebanyakan sudah tak mengindahkan lagi akan pentingnya nilai-
nilai ketimuran. Tentu saja nilai ketimuran ini selalu berkaitan dengan nilai Keislaman yang juga
membentuk akar budaya ketimuran. Nilai yang bersumberkan pada ajaran spiritualitas agama ini
perlu dipegang. Termasuk meningkatkan derajat keimanan dan moralitas pemeluknya. Dengan
dipegangnya nilai-nilai ini, harapannya mereka khususnya kalangan muda akan berpikir seribu
kali untuk terjun ke pergaulan bebas.
7. Mengurangi Menonton Televisi
Televisi idealnya bisa menjadi sarana mendapatkan informasi yang mendidik dan bisa
meningkatkan kualitas hidup seseorang. Namun, kenyataannya, saat ini harapan itu sangat jauh.
Televisi kita terutama stasiun televisi swasta, mereka lebih banyak menampilkan acara hiburan,
maupun sinetron-sinetron yang menawarkan nilai-nilai gaya hidup bebas, hedonis. Begitu juga
beragam tayangan infotainment yang kadang menayangkan acara perselingkuhan, sex bebas di
kalangan artis.
Dengan demikian, kisah pergaulan bebas bukan menjadi hal yang tabu lagi. Makanya, tak
ada langkah yang lebih manjur selain mengurangi menonton televisi ini karena lambat laun otak
akan teracuni oleh nilai-nilai yang sebenarnya sangat negatif. Untuk mendapatkan informasi,
kalangan muda bisa mengalihkan perhatian dengan membaca koran, majalah maupun buku-
buku. Pekerjaan yang agak berat memang, tapi jauh lebih produktif daripada kebanyakan
menonton televisi yang tidak jelas dan cenderung merusak akal sehat pikiran.
8. Banyak Beraktivitas Secara Positif
Cara ini menurut berbagai penelitian sangat efektif dijalankan. Pergaulan bebas, biasanya
dilakukan oleh kalangan muda yang banyak waktu longgar, banyak waktu bermain, bermalam
minggu. Nah, untuk mengantisipasi hal tersebut, mengalihkan waktu untuk kegiatan lewat hal-
hal positif perlu terus dikembangkan. Misalnya dengan melibatkan anak muda dalam organisasi-
organisasi sosial, menekuni hobinya dan mengembangkannya menjadi lahan bisnis yang
menghasilkan, maupun mengikuti acara-acara kreatifitas anak-anak muda. Dengan demikian,
waktu mudanya akan tercurahkan untuk hal-hal positif dan sedikit waktu untuk memikirkan hal-
hal negatif seperti pergaulan bebas tersebut.
9. Sosialisasi Bahaya Pergaulan Bebas
Dikalangan muda, pergaulan bebas sering dilakukan karena bisa jadi mereka tidak tahu
akibat yang ditimbulkannya. Seperti misalnya penyakit kelamin yang mematikan. Nah,
sosialisasi hal ini. Informasi-informasi mengenai bahaya yang ditimbulkan akibat pergaulan
bebas ini perlu terus disebarkan di kalangan muda. Harapannya, mereka juga punya informasi
sebagai bahan pertimbangan akal sehatnya. Jika informasi tersebut belum didapatkan ada
kemungkinan mereka akan terus melakukan pergaulan bebas semau mereka. Tapi, kalau
informasi sudah didapatkan tapi mereka tetap nekad melakukan itu persoalan lain lagi.
Sepertinya perlu ada penanganan khusus, apalagi yang sudah terang-terangan bangga melakukan
pergaulan bebas.
10. Menegakkan Aturan Hukum
Bagi yang bangga tersebut, tak ada hal lain yang bisa menghentikan selain adanya
perangkat hukum dan aturan hukum yang bisa menjeratnya. Setidaknya sebagai efek jera. Yang
demikian harus dirumuskan dan dilaksanakan melalui hokum yang berlaku di negara kita.
Langkah ini sebagai benteng terakhir untuk menyelamatkan anak-anak muda dari amoralitas
karena perilaku pergaulannbebas yang lambat laun otomatis akan merusak bangsa ini.


11. Munakahat
Munakahat atau menikah. Cara ini efektif sekali. Kalau masih belum bisa, cara lain
adalah dengan berpuasa. Inilah yang ditawarkan oleh Islam sebagai salah satu solusi atas
pergaulan bebas.
Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi adanya pergaulan bebas
khususnya di kalangan remaja.
Selain usaha dari diri masing-masing sebenarnya pergaulan bebas dapat dikurangi apabila
setiap orang tua dan anggota masyarakat ikut berperan aktif untuk memberikan motivasi positif
dan memberikan sarana & prasarana yang dibutuhkan remaja dalam proses keremajaannya
sehingga segalanya menjadi bermanfaat dalam kehidupan tiap remaja.
Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja yang sedang jatuh
cinta, orangtua hendaknya bersikap seimbang, seimbang antar pengawasan dengan kebebasan.
Semakin muda usia anak, semakin ketat pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak
diberi pengertian agar mereka tidak ketakutan dengan orangtua yang dapat menyebabkan mereka
berpacaran dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia makin meningkat, orangtua dapat memberi
lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus dijaga agar mereka tidak salah jalan.
Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang bermanfaat.
Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja sama orangtua dengan anak.
Misalnya, ketika orangtua tidak setuju dengan pacar pilihan si anak. Ketidaksetujuan ini
hendaknya diutarakan dengan bijaksana, jangan hanya dengan kekerasan dan kekuasaan. Berilah
pengertian sebaik-baiknya. Bila tidak berhasil, gunakanlah pihak ketiga untuk menengahinya.
Hal yang paling penting di sini adalah adanya komunikasi dua arah antara orangtua dan anak.
Orangtua hendaknya menjadi sahabat anak. Orangtua hendaknya selalu menjalin dan menjaga
komunikasi dua arah dengan sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan
masalahnya kepada orangtua.
Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis di masa kini, orangtua
hendaknya memberikan bimbingan pendidikan seksual secara terbuka, sabar, dan bijaksana
kepada para remaja. Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta
segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual. Orangtua hendaknya memberikan
teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan. Dengan memiliki
latihan kemoralan yang kuat, remaja akan lebih mudah menentukan sikap dalam bergaul. Mereka
akan mempunyai pedoman yang jelas tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan
yang tidak boleh dikerjakan. Dengan demikian, mereka akan menghindari perbuatan yang tidak
boleh dilakukan dan melaksanakan perbuatan yang harus dilakukan.

F. Cara Pergaulan Yang Baik
Pergaulan yang baik sebenarnya gampang-gampang susah.yang jelas tergantung dari
tingkah laku kita sendiri.Kita harus banyak berkomunikasi dengan orang-orang yang kita
percayai atau keluarga kita sendiri.Dalam bergaul yang sangat mempengaruhi adalah lingkungan
sekitar.Ada pepatah yang mengatakan masuk ke kandang kambing tapi jangan seperti
kambing,begitu juga dengan bergaul kita harus memperhatikan lingkungan sekeliling
kita.bagaimana cara orang cara orang berperilaku yang baik.Gaya berbicara yang sopan dan
santun dalam bergaul tidak harus dengan cara ugal-ugalan atau ketenaran semata.Jadi yang harus
kita lakukan adalah jadi diri kamu sendiri bagaimana oarang disekeliling kamu merasa nyaman
saat berkomunikasi dengan kita.Jadi cobalah memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang
ada di dalam isi hati kita.

G. Mengapa Pergaulan Bebas Dapat Terjadi Dikalangan Remaja
Apa sebenarnya faktor membuat orang untuk melakukan pergaulan bebas itu sendiri?
Menurut Dr.Soares: Pergaulan bebas adalah salah satu kebutuhan hidup dari makhluk manusia
sebab manusia adalah makhluk sosial yang dalam kesehariannya membutuhkan orang lain, dan
hubungan antar manusia dibina melalui suatu pergaulan (interpersonal relationship).
Bahkan Soares juga menyatakan pendapatnya tentang pergaulan bahwa itu merupakan
HAM setiap individu dan itu harus dibebaskan, sehingga setiap manusia tidak tidak boleh
dibatasi dalam pergaulan, apalagi dengan melakukan diskrriminasi, sebab hal itu melanggar
HAM. Jadi pergaulan antar manusia harusnya bebas, tetapi tetap mematuhi norma hukum, norma
agama, norma budaya, serta norma bermsayarakat. Jadi, kalau secara medis kalau pergaulan
bebas namun teratur atau terbatasi aturan-aturan dan norma-norma hidup manusia tentunya tidak
akan menimbulkan ekses-ekses seperti saat ini.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh perusahaan riset Internasional Synovate atas nama
DKT Indonesia melakukan penelitian terhadap perilaku seksual remaja berusia 14-24 tahun.
Penelitian dilakukan terhadap 450 remaja dari Medan, Jakarta, Bandung dan Surabaya.
Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa 64% remaja mengakui secara sadar
melakukan hubungan seks pranikah dan telah melanggar nilai-nilai dan norma agama. Tetapi,
kesadaran itu ternyata tidak mempengaruhi perbuatan dan prilaku seksual mereka. Alasan para
remaja melakukan hubungan seksual tersebut adalah karena semua itu terjadi begitu saja tanpa
direncanakan.
Hasil penelitian juga memaparkan para remaja tersebut tidak memiliki pengetahuan
khusus serta komprehensif mengenai seks. Informasi tentang seks (65%) mereka dapatkan
melalui teman, Film Porno (35%), sekolah (19%), dan orangtua (5%). Dari persentase ini dapat
dilihat bahwa informasi dari teman lebih dominan dibandingkan orangtua dan guru, padahal
teman sendiri tidak begitu mengerti dengan permasalahan seks ini, karena dia juga
mentransformasi dari teman yang lainnya.
Kurang perhatian orangtua, kurangnya penanaman nilai-nilai agama berdampak pada
pergaulan bebas dan berakibat remaja dengan gampang melakukan hubungan suami istri di luar
nikah sehingga terjadi kehamilan dan pada kondisi ketidaksiapan berumah tangga dan untuk
bertanggung jawab terjadilah aborsi. Seorang wanita lebih cendrung berbuat nekat (pendek akal)
jika menghadapi hal seperti ini.
Pada zaman modren sekarang ini, remaja sedang dihadapkan pada kondisi sistem-sistem
nilai, dan kemudian sistem nilai tersebut terkikis oleh sistem nilai yang lain yang bertentangan
dengan.

Kesimpulan
Pergaulan bebas adalah salah satu kebutuhan hidup dari makhluk manusia sebab manusia
adalah makhluk sosial yang dalam kesehariannya membutuhkan orang lain, dan hubungan antar
manusia dibina melalui suatu pergaulan (interpersonal relationship).
Pergaulan juga adalah HAM setiap individu dan itu harus dibebaskan, sehingga setiap
manusia tidak boleh dibatasi dalam pergaulan, apalagi dengan melakukan diskriminasi, sebab hal
itu melanggar HAM. Jadi pergaulan antar manusia harusnya bebas, tetapi tetap mematuhi norma
hukum, norma agama, norma budaya, serta norma bermasyarakat. Jadi, kalau secara medis kalau
pergaulan bebas namun teratur atau terbatasi aturan-aturan dan norma-norma hidup manusia
tentunya tidak akan menimbulkan ekses-ekses seperti saat ini.
Yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana remaja dapat menempatkan dirinya
sebagai remaja yang baik dan benar sesuai dengan tuntutan agama dan norma yang berlaku di
dalam masyarakat serta dituntut peran serta orangtua dalam memperhatikan tingkah laku dalam
kehidupan sehari-hari anaknya, memberikan pendidikan agama, memberikan pendidikan seks
yang benar. Oleh sebab itu permasalahan ini merupakan tugas seluruh elemen bangsa tanpa
terkecuali.
Usaha untuk pencegahan sudah semestinya terus dilakukan untuk menyelamatkan generasi muda
kita. Agar lebih bermoral, agar lebih bisa diandalkan untuk kebaikan negara ke depan.
ARTIKEL BAHAYA PERGAULAN BEBAS
Posted on October 29, 2012by dedesyafriawan
BAHAYANYA PERGAULAN BEBAS DI KALANGAN REMAJA
Bahaya Pergaulan Bebas Dari dulu, peringatan tentang Bahaya Pergaulan Bebas sudah sering
dibicarakan oleh banyak pihak. Entah dari orang tua, guru-guru di sekolah, bahkan pemerintah
ikut turun tangan dengan cara membuat iklan-iklan yang menghimbau untuk menghindari
pergaulan bebas. Pergaulan bebas sendiri diartikan sebagai suatu pergaulan yang tidak memiliki
batasan, mengabaikan norma-norma agama maupun sosial masyarakat. Karena itu, pergaulan
semacam ini cenderung mengarah kepada hal-hal yang negatif, seperti seks bebas, pemakaian
narkoba, kehidupan malam di diskotek atau tempat hiburan, dan lain-lain. ABG, atau anak baru
gede, adalah subyek yang paling banyak terjun pada pergaulan bebas. Ini bisa dipahami, karena
kebanyakan anak muda seusia mereka memang masih sangat labil. Mereka kadang susah
membedakan sesuatu yang baik dan buruk bagi perkembangan hidup mereka. Apa Saja Bahaya
Pergaulan Bebas? Salah satu bentuk pergaulan bebas adalah seks bebas. Seks bebas artinya ada
dua orang melakukan hubungan suami istri tanpa ikatan pernikahan. Anda pasti sudah bisa
menebak apa bahaya pergaulan bebas yang satu ini. Ya, kehamilan di luar nikah! Hal yang
sangat memalukan bagi siapa saja, terutama bagi orang Indonesia yang masih memegang adat
ketimuran. Menurunnya tingkat kesehatan. Anda mungkin agak aneh dengan bahaya pergaulan
bebas yang satu ini, tapi banyak fakta yang sudah mendukungnya. Seks bebas akan berakibat
hamil di luar nikah. Jalan keluar yang banyak diambil adalah menggugurkan kandungan. Ini
jelas-jelas membahayakan kesehatan wanita yang melakukan. Tak hanya seks bebas, pemakaian
narkoba atau konsumsi minuman beralkohol juga bisa menurunkan kesehatan. Bahkan, ada satu
penyakit mematikan yang mengintai pergaulan bebas. Apa lagi kalau bukan AIDS? Bahaya
pergaulan bebas yang sangat fatal adalah kematian. Bahaya mengerikan ini bisa menimpa
siapapun yang melakukan pergaulan bebas. Pengguguran kandungan terus-menerus atau dengan
cara-cara yang tak sesuai aturan medis, over dosis narkoba dan munuman keras, semuanya pasti
berujung pada kematian. Meningkatkan kriminalitas. Bahaya pergaulan bebas yang satu ini bisa
saja terjadi. Bayangkan bila ada seorang pemuda yang mencandu narkoba, di satu sisi ia harus
mengkonsumsi barang haram tersebut, di sisi lain ia tidak punya banyak uang untuk membelinya
karena harganya yang sangat mahal. Mencuri pun langsung dianggap sebagai jalan keluar terbaik
yang paling cepat. Terjerumus dalam satu aktivitas pergaulan bebas, akan mendorong si pelaku
untuk masuk ke aktivitas negatif yang lain. Misalnya, seorang gadis pergi ke hiburan malam. Di
sana ia akhirnya mencoba minuman keras atau narkoba. Ia menjadi kecanduan, untuk membeli
narkoba ia pun butuh uang. Bisa jadi ia akan menjual tubuhnya (seks bebas) agar bisa membeli
narkoba. Akhirnya ia stres dan butuh sesuatu yang menenangkannya. Lagi-lagi ia mengkonsumsi
narkoba. Ia seolah tidak bisa keluar dari lingkaran pergaulan bebas yang suram.
Merenggangkan hubungan keluarga. Seorang anak yang terjebak dalam pergaulan bebas,
cenderung memiliki emosi yang meledak-ledak. Ia akan jarang di rumah, jarang berkumpul
dengan keluarga. Bahkan rasa hormat pada orang tuanya pun bisa hilang. Menurunnya prestasi,
baik prestasi akademik di sekolah maupun prestasi pekerjaan bagi yang sudah bekerja. Hal ini
tentu saja bisa terjadi apabila seseorang lebih memilih untuk pergi ke hiburan malam, kehilangan
konsentrasi akibat minuman keras dan narkoba yang berakibat nilai akademik atau produktivitas
kerja menurun. Dosa. Hal yang abstrak ini sudah jelas di depan mata apabila nekat terjun ke
pergaulan bebas. Akibat menanggung dosa ini mungkin tidak akan kita rasakan di dunia. Namun
setelah kematian menjemput, dosa akan mengantarkan kita pada sesuatu yang sangat
mengerikan, yaitu neraka. Itu adalah beberapa contoh bahaya pergaulan bebas. Sudah sering
dikumandangkan, tapi tetap saja banyak yang terjerumus ke sana. Ada banyak hal penyebab
kenapa seseorang terjebak pada pergaulan negatif tersebut. Apapun penyebabnya, peran keluarga
dan orang-orang terdekat sangatlah penting. Hendaknya orang tua menanamkan pemahaman
agama sejak dini, mengontrol putra-putri mereka, dan menjalin komunikasi yang baik. Bila
sudah seperti ini, lingkaran pergaulan bebas bisa dihindari dengan mudah.
artikel 1 PERGAULAN BEBAS DI KALANGAN REMAJA SMA

Sekarang, seiring dengan perkembangan jaman,banyak sekali kasus-kasus yang menimpa remaja
pada usia yang produktif ini. Pergaulan bebas adalah salah satu kebutuhan hidup dari makhluk
manusia sebab manusia adalah makhluk sosial yang dalam kesehariannya membutuhkan orang
lain, dan hubungan antar manusia dibina melalui suatu pergaulan (interpersonal relationship).
Masa remaja merupakan masa dimana para remaja masih mencari jati diri mereka
masing-masing. Pergaulan remaja sekarang banyak yang menyalah gunakan. Seperti halnya
berpacaran di luar batas kewajaran , contohnya melakukan hal-hal negative yang seharusnya
dihindari dan tidak dilakukan. Para remaja ini tidak memikirkan hal-hal kedepannya dan resiko
yang akan diterimanya nanti. Mereka hanya menikmati kesenangan dunia remaja semata. Kaum
adam yang mengumbar kemaksiatan demi terpenuhinya nafsu0nafsu mereka. Sedangkankaum
hawa lebih memamerkan postur tubuh mereka demi sang pacar lebih memerhatikannya. Hal-hal
ini sangatlah perlu diperhatikan dari sekarang.
Pergaulan bebas dikalangan remaja SMA bukan hanya seks bebas namun banyak hal-hal
lain, seperti narkoba,melakukan aktifitas ditempat yang salah seperti nongkrong, meminum
minuman berakohol,mengunjungi tempat-tempat maksiat dan masih banyak lagi. Adapun faktor-
faktor yang dapat menimbulkan pergaulan bebas dikalangan remaja adalah :
Pertama, Faktor agama dan iman.
Kedua, Faktor Lingkungan seperti orangtua, teman, tetangga dan media.
Ketiga, Pengetahuan yang minim ditambah rasa ingin tahu yang berlebihan.
Keempat, Perubahan Zaman.
Dari faktor-faktor tersebut dapat disimpulkan baawa remaja saat ini tidak lagi mengetahui betapa
pentingnya masa remaja mereka dan mereka lebih memilih untuk mengabaikan faktor-faktor
tersebut dan menikmati segala keadaan masa remaja saat ini yang lebih banyak menjerumuskan.
Banyak sekali remaja perempuan yang telah mengalami akibat dari pergaulan bebas yang
melakukan seks bebas tanpa memikirkan resikonya. Banyak yang mengalami hamil diluar nikah
sehingga merugikan banyak pihak seperti orang tua-teman dan orang-orang yang mengenal dan
berada di lingkungan hidupnya. Dari resiko yang telah dialami itu, mereka tidak dapat
melanjutkan masa depan yang sangat diharapkan bagi orang tua mereka yang telah mendidik
mereka yang akhirnya dihancurkan begitu saja karena perbuatan yang sangat memalukan itu, dan
itu semua akibat dari pergaulan bebas yang dilakukannya. Mereka pun tidak bisa menggapai cita-
cita yang seharusya bisa diraih, karena mereka harus mengurus keluarga barunya.
Contoh lain yaitu, para remaja pria yang beralih menggunakan narkoba, mengkonsumsi
minuman berakohol dan bergaul dalam pergaulan yang tidak sepantasnya dan sampai akhirnya
mereka terjerumus kedalam situasi kelam dan menimbulkan banyak sekali kerugian bagi diri
sendiri mauoun orang lain. Hal tersebut dapat membunuh mereka perlahan karena mereka telah
merasakn nikmat dan menbuat mereka kecanduan untuk terus mengkonsumsi obat-obatan
terlarang tersebut.
Dari contoh kasus tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kita para remaja lebih berhati-
hati dalam bergaul dan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk agar kita tidak
terjerumus dalam pergaulan bebas tersebut yang dapat merugikan segalanya terutama kehidupan
kita. Yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana remaja dapat menempatkan dirinya sebagai
remaja yang baik dan benar sesuai dengan tuntutan agama dan norma yang berlaku di dalam
masyarakat serta dituntut peran serta orangtua dalam memperhatikan tingkah laku dalam
kehidupan sehari-hari anaknya, memberikan pendidikan agama, memberikan pendidikan seks
yang benar.
Akibat Pergaulan Bebas Pergaulan bebas kebanyakan dilakukan oleh anak remaja (ABG)
yang dalam masa pertumbuhan dan banyak ingin tahu tentang sesuatu yang membuatnya
penasaran. Karena masa remaja adalah masa kita masih mencari jati diri kita. Tetapi dimasa itu
banyak remaja yang salah langkah jika tidak diarahkan oleh orang tuanya, akibat bergaul yang
diluar batas sehingga dampak buruk pada mereka seperti seks bebas yang berakibat hamil duluan
atau terkena penyakit HIV /AIDS, overdosis akibat narkoba, minum- minuman keras.
Pergaulan bebas sekarang suka mulai ke tingkat bawah dan berkembang di anak SMA dan SMP.
Di setiap SMA di indonesia sudah 60 % muridnya tidak virgin lagi, dan 40 % untuk anak SMP.
Semua itu terjadi karena pergaulan bebas dan dunia internet dan ponsel yang dengan gampang
menyimpan film biru (blue film) sehingga membuat anak- anak tersebut penasaran untuk meniru
adegan tersebut, selain dari anak itu sendiri ada juga akibat orang dewasa yang melakukan
pelecehan seksual ditempat umum ataupun di instansi. Dan dari akibat pergaulan bebas ini orang
yang paling dirugikan hanyalah kaum perempuan. Kita harus mampu menjaga nafsu dan hargai
badan kita agar tidak melakukan hal- hal yang dibisikkan syetan.
Kalau disimpulkan berikut ini adalah dampak akibat pergaulan bebas
1. Terserang Penyakit HIV / AIDS
Itu dikarenakan melakukan hubungan gonta ganti pasangan yang tidak menggunakan alat
pengaman (kondom), sebagai akibat rasa ingin tahu atau mungkin masalah ekonomi
2. Hamil di Luar Nikah
Dikarenakan kurang pengetahuan masalah seksologi para remaja melakukan tanpa memikirkan
resiko yang terjadi hanya untuk mencari tahu bagaimana rasanya berhubungan badan yang di
akibatkan menonton film biru
3. Ketergantungan Obat
Indonesia sekarang semakin buruk, karena banyak kasus obat obatan terlarang yang menjadikan
berita di televisi. Bila kita sudah terkontaminasi dengan obat, bila tidak membeli akan sakit dan
itu menguras uang akibatnya bila tidak punya uang, kita akan mencuri atau melakukan tindakan
kriminal untuk mendapatkan obat tersebut. Dan akibat paling buruk adalah overdosis, atau
kelebihan kita menggunakan obat sehingga membuat kita meninggal.
4. Aborsi
Diakibatkan sering melakukan hubungan badan akan berakibat kita hamil di luar nikah. Bila itu
terjadi pasti akan membuat remaja bingung, karena belum waktunya untuk menikah dan jeleknya
kejadian itu tidak diketahui oleh orang tua, sehingga jalan terbaik adalah melakukan aborsi untuk
menutupi mata pada orang tua dan masyarakat. Dan resiko yang paling parah bila aborsi
dilakukan tidak sesuai dengan prosedur berakibat kematian
5. Tawuran Remaja
Mungkin kita tiap hari melihat di televisi tentang berita tawuran antar pelajar yang meresahkan
masyarakat. Sampai diadakan sweeping oleh pihak kepolisian kepada pelajar. Semua itu akibat
pergaulan bebas yang membuat emosi tinggi dan berakibat pada tawuran. Masih banyak lagi
akibat pergaulan bebas yang bisa kita ambil, tetapi dari keterangan diatas itu paling menonjol
dan meresahkan masyarakat. Bagaimana nasib negara kita bila para pelajar salah dalam bergaul.
Tingkat kriminalitas akan meningkat diakibatkan pergaulan yang salah tersebut. Untuk itu kita
harus sadar bila semua itu salah, dan didik anak kita menjadi yang benar. Semua itu tergantung
pada diri kita sendiri bagaimana menyikapi hal tersebut, bila kita bisa menjaga dan bergaul
dengan benar maka kejadian diatas tidak akan terjadi
Untuk hal ini yang harus menjaga dan tidak berakibat seperti hal tersebut adalah kita sendiri,
hanya kita yang mampu mengendalikan hawa nafsu duniawi baik laki- laki maupun perempuan.
Sebenarnya kita di dunia hanya sebentar, ibadah yang penting. Untuk remaja boleh kita
penasaran terhadap sesuatu, namun kita harus berfikir apakah itu positif atau negatif. Dan orang
yang mampu menjawab itu adalah orang dewasa, atau orang yang lebih tua. Hargai kaum
perempuan, dan jaga tubuh kalian. Pasti ada waktunya kelak untuk mengerti dan mampu
memahami.#respect
MAKALAH PERGAULAN DAN SEKS BEBAS
Makalah ini dibuat oleh seorang siswa kelas 2 SMP beberapa tahun yang lalu. Meli namanya,
orangnya cantik tapi anehnya aku tidak memiliki perasaan apa-apa padanya.
Harap disimak baik-baik ya.
Pergaulan dan Seks Bebas
Di kalangan Remaja
1. Seks di mata remaja
Seks merupakan suatu hal yang tidak lagi tabu untuk dibicarakan pada jaman kini dari anak kecil
hingga orang tua tahu apa itu seks. Begitu juga remaja masa kini, mereka tahu apa itu seks. Tapi
saying para remaja hanya sebatas tahu tentang seks, namun tidak memahami apa seks tersebut
sebenarnya. Mereka tidak mengerti akan dampak seks tersebut.
Apa beda antara aktivitas seks dan hubungan seks mungkin mereka juga tidak mengerti. Perlu
diketahui berpelukan dan berciuman dengan pasangan kita pun itu sudah termasuk aktivitas seks.
Untuk itu alangkah pentingnya pendidikan tentang seks dari dini agar kita memahami sisi positif
dan negatif yang ditimbulkan oleh seks tersebut.
2. Pengaruh pengaruh terjadinya seks bebas
2.1 Pengaruh dari dalam
Yang dimaksud pengaruh dari dalam adalah pengaruh yang timbul dari dalam jiwa remaja
tersebut dalam mencari jati dirinya. Sifat remaja antara lain adalah selalu ingin mencoba hal
hal baru yang belum mereka rasakan, selain itu mereka selalu bereksperimen dengan hal hal
beru yang mereka temukan tersebut. Ditambah lagi jiwa muda mereka yang selalu meledak
ledak membuat mereka selalu memutuskan sesuatu hal tanpa memikirkan dengan matang mana
yang baik dan mana yang buruk bagi mereka, begitu juga halnya dengan seks. Mereka selalu
ingin mencoba dan tertantang untuk melakukan apa yang dimaksud dengan seks tersebut tanpa
memikirkan dampaknya bagi mereka.
2.2 Pengaruh dari luar
2.2.1 Pengaruh budaya asing
Kita sebagai orang timur dahulunya sangat menjaga tata krama dalam bergaul namun dengan
masuknya budaya yang tanpa batas tata krama dan kesopanan membuat masyarakat dan remaja
kita terpengaruh sehingga tanpa kita sadari tidak ada lagi batas antara kesopanan dan kebebasan.
Hal tersebutlah yang mendorong kita untuk berbuat dan bertingkah laku layaknya kebudayaan
kebudayaan asing khususnya kebudayaan barat. Alangkah menyedihkan saat kita tahu bahwa
banyak remaja remaja kita yang terpengaruh oleh dari budaya orang tersebut.
2.2.2 Pengaruh lingkungan
Keluarga
Sebagai ruang lingkup terkecil, keluarga mempunyai peranan yang sangat mendasar dalam
kehidupan kita termasuk remaja, seorang remaja yang kurang perhatian dari keluarga akan
berbuat seenaknya tanpa takut dilarang, dimarah maupun dinasehati sehingga budaya budaya
atau apa saja yang mereka dapatkan di luar akan langsung mereka telan tanpa harus menyaring
dan memilah milah mana yang baik dan mana yang buruk bagi mereka dan sebaliknya remaja
yang mendapatkan perhatian dari keluarga akan melangkah hati hati dalam segala hal karena
segala gerak geriknya dinilai oleh orang tua, diawasi dan diperhatikan oleh orang tua remaja
yang terlalu dikekang kebebasannya oleh orang tua jiwa mereka akan memberontak. Jika hal
tersebut terjadi maka mereka (remaja) akan melakukan hal yang lebih dari yang kita (orang tua)
takutkan.
Untuk itu perlunya kita tekankan kedisiplinan dan peraturan pada remaja tersebut dalam
kehidupan keluarga dengan batasan batasan yang terlalu mengekang mereka secara garis besar
bisa kita katakan perhatian dan kasih sayanglah yang merupakan aspek terpenting dalam
keluarga demi masa depan remaja tersebut.
Teman
Terkadang remaja lebih mempercayai teman dibanding kelarganya sendiri. Teman dianggap
tempat yang paling mengerti dengan hati mereka (remaja), karena sesama teman mereka
beranggapan akan lebih mudah berbicara, bergaul dan berinteraksi karena mereka merasa sejiwa,
seusia dan berperasaan serta berpenilaian sama. Namun tidak semua teman yang bisa membawa
kita ke jalan yang baik. Tidak sedikit teman yang malah menjerumuskan kita ke jalan yang
buruk.
Seorang remaja yang memiliki temamn seorang penjahat akan mudah untuk menjadi penjahat
juga. Seorang remaja yang memiliki teman yang pergaulannya bebas akan mudah terpengaruh
bergaul bebas juga namun seorang remaja yang memiliki teman berakhlak serta berbudi luhur
untuk berperilaku sama dengan temannya. Karena itu perlunya kita pandai pandai dalam
memilih teman.
- Sekolah
Di sekolah para guru merupakan contoh atau tauladan bagi muridnya untuk itu perlunya sosok
seorang guru yang bisa dijadikan contoh bagi mereka, seorang guru yang berpenampilan penuh
kebebasan, berperilaku buruk, bertutur kata yang seenaknya dalam mengajar atau mempunyai
pergaulan bebas di luar sekolah akan mudah di contoh oleh murid muridnya dan begitu juga
sebaliknya.
Berbicara soal disiplin di sekolah perlu sekali ditekankan kedisiplinan di sekolah tersebut.
Contohnya dengan larangan berbaju dan bercelana ketat di sekolah, larangan penggunaan rok di
atas lutut maupun larangan penggunaan make up ke sekolah atau di sekolah. Larangan
larangn tersebut akan memperkecil dampak dari pengaruh pergaulan dan seks bebas. Remaja
wanita merupakan subjek utama dalam pelanggaran pelanggran seks, dari riset yang dilakukan
para ahli di dunia 62% terjadinya seks bebas karena mudahnya wanita dirayu oleh pria (suka
sama suka), 17% karena dipaksa oleh pasangan prianya, 10% karena tuntutan biaya hidupnya,
8% karena kriminalitas dan 3% karena disebabkan oleh narkotika.
Untuk itu seorang remaja wanita perlunya memiliki keimanan yang kuat agar tidak mudah dirayu
oleh pasangan prianya atau jika perlu remaja wanita hendaknya memiliki keahlian bela diri untuk
menanggulangi terjadinya pemaksaan dan memperkecil angka kejahatan seksual terhadap
wanita. Perlu diketahui wanita adalah tiang negara apabila runtuh akhlak wanita di negara
tersebut runtuh pulalah negara tersebut. Dan 75% penghuni neraka adalah wanita.
2.2.3 Pengaruh perkembangan teknologi
Media Massa
Pada masa kini banyak sekali beredar majalah majalah, tabloid maupun surat kabar yang
dengan bebas menampilkan gambar gambar seronok, porno atau semi porno contohnya
majalah play boy, ekstravaganza, tabloid hot, buah bibir, MOM Plus dan lain lain. Dengan
bebasnya majalah majalah dan tabloid tabloid tersebut memasang gambar atau cover yang
semi porno atau setengah bugil khususnya gambar gambar tubuh wanita berbikini, bergaun
transparan, atau tubuh polos tanpa sehelai benangpun. Gambar gambar atau artikel tersebut
akan merangsang para remaja untuk dapat mencoba bagaimana jika itu nyata dan dapat mereka
rasakan.
Majalah majalah dan tabloid tabloid yang berunsur ponografi tersebut tidak sulit untuk
didapatkan oleh remaja remaja karena dijual dengan bebas di pasaran. Entah apakah tidak ada
larangan dari pemerintah tentang hal itu atau memang pemerintah menutup matanya. Hanya
mereka yang tahu.
- Media Elektronik
Dengan berkembangnya teknologi elektronik yang pesat, berkembang pulalah pengetahuan
remaja dalam segala hal termasuk pornografi yang mempengaruhi pergaulan dan kehidupan seks
para remaja. VCD porno dengan mudah kita dapatkan di pasaran. Film film yang
mempertontonkan hubungan seks tersebut mempengaruhi otak remaja untuk mencoba hal hal
yang mereka lihat. Ditambah lagi film film yang disiarkan televisi televisi yang mengandung
unsur pornografi walapun kecil dan sanga mudah mempengaruhi para remaja. Plus
perkembangan teknologi internet di komputer. Banyak sekali website website porno yang
dengan mudah bisa kita buka di internet. Hal hal tersebut sangat berpengaruh sekali dalam
kehidupan remaja khususnya dalam terjadinya pergaulan dan seks bebas di kalangan remaja.
3. Narkoba dalam pergaulan pergaulan remaja
Bahaya narkoba kini sedang mencengkeram kehidupan remaja. Seperti halnya seks bebas,
remaja yang mempunyai sifat ingin tahu dan jiwa yang labil membuat mereka terjerembab dalam
lembah narkoba. Mereka selalu ingin merasakan hal baru termasuk narkoba. Remaja yang
tertekan pun akan sangat mudah terjerumus dalam bahaya narkoba. Karena itu sekali lagi
perhatian dan kasih sayang sangat berperan dalam hal ini.
KESIMPULAN DAN SARAN
- Kesimpulan :
Pergaulan remaja yang bebas sebenarnya dikarenakan oleh segala macam perkembangan yang di
salah artikan oleh remaja itu sendiri maupun lingkungannya.
- Saran :
Untuk para remaja, tinggalkanlah pengetahuan tentang segala perkembangan dengan tetap
meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan untuk para orang tua,
berikanlah yang terbaik pada anak remaja dengan tetap menjaga dan mengawasi tingkah
lakunya.
A. PENDAHULUAN
1. 1. Latar Belakang Masalah
Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-
proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Masa
kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat, dengan perkembangan fisik, psikis,
dan emosi yang begitu cepat. Secara psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari
konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja
para pelakunya. Seringkali didapati bahwa ada trauma dalam masa lalunya, perlakuan kasar dan
tidak menyenangkan dari lingkungannya, maupun trauma terhadap kondisi lingkungannya,
seperti kondisi ekonomi yang membuatnya merasa rendah diri. Namun pada kenyataanya orang
cenderung langsung menyalahkan, menghakimi, bahkan menghukum pelaku kenakalan remaja
tanpa mencari penyebab, latar belakang dari perilakunya tersebut.
Mengatasi kenakalan remaja, berarti menata kembali emosi remaja yang tercabik-cabik itu.
Emosi dan perasaan mereka rusak karena merasa ditolak oleh keluarga, orang tua, teman-teman,
maupun lingkungannya sejak kecil, dan gagalnya proses perkembangan jiwa remaja tersebut.
Trauma-trauma dalam hidupnya harus diselesaikan, konflik-konflik psikologis yang
menggantung harus diselesaikan, dan mereka harus diberi lingkungan yang berbeda dari
lingkungan sebelumnya. Pertanyaannya : tugas siapa itu semua ? Orang tua-kah ? Sedangkan
orang tua sudah terlalu pusing memikirkan masalah pekerjaan dan beban hidup lainnya.
Saudaranya-kah ? Mereka juga punya masalah sendiri, bahkan mungkin mereka juga memiliki
masalah yang sama. Pemerintah-kah ? Atau siapa ? Tidak gampang untuk menjawabnya. Tetapi,
memberikan lingkungan yang baik sejak dini, disertai pemahaman akan perkembangan anak-
anak kita dengan baik, akan banyak membantu mengurangi kenakalan remaja. Minimal tidak
menambah jumlah kasus yang ada.
2. Masalah
Akhir-akhir ini fenomena kenakalan remaja makin meluas. Bahkan hal ini sudah terjadi sejak
dulu. Para pakar baik pakar hukum, psikolog, pakar agama dan lain sebagainya selalu mengupas
masalah yang tak pernah habis-habisnya ini. Kenakalan Remaja, seperti sebuah lingkaran hitam
yang tak pernah putus, sambung menyambung dari waktu ke waktu, dari masa ke masa, dari
tahun ke tahun dan bahkan dari hari ke hari semakin rumit. Masalah kenalan remaja merupakan
masalah yang kompleks terjadi di berbagai kota di Indonesia. Sejalan dengan arus globalisasi dan
teknologi yang semakin berkembang, arus informasi yang semakin mudah diakses serta gaya
hidup modernisasi, disamping memudahkan dalam mengetahui berbagai informasi di berbagai
media, di sisi lain juga membawa suatu dampak negatif yang cukup meluas di berbagai lapisan
masyarakat.
Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI 2007) menunjukkan jumlah remaja di
Indonesia mencapai 30 % dari jumlah penduduk, jadi sekitar 1,2 juta jiwa. Hal ini tentunya dapat
menjadi asset bangsa jika remaja dapat menunjukkan potensi diri yang positif namun sebaliknya
akan menjadi petaka jika remaja tersebut menunjukkan perilaku yang negatif bahkan sampai
terlibat dalam kenakalan remaja.
Kondisi remaja di Indonesia saat ini dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Pernikahan usia remaja
2. Sex pra nikah dan Kehamilan tidak dinginkan
3. Aborsi 2,4 jt : 700-800 ribu adalah remaja
4. MMR 343/100.000 (17.000/th, 1417/bln, 47/hr perempuan meninggal) karena komplikasi
kehamilan dan persalinan
5. HIV/AIDS: 1283 kasus, diperkirakan 52.000 terinfeksi (fenomena gunung es), 70% remaja
6. Miras dan Narkoba.
Angka-angka di atas cukup mencengangkan, bagaimana mungkin anak remaja yang masih muda,
polos, energik, potensial yang menjadi harapan orangtua, masyarakat dan bangsanya dapat
terjerumus dalam limbah kenistaan, sungguh sangat disayangkan. Tanpa disadari pada saat ini, di
luar sana anak-anak remaja kita sedang terjerat dalam pengaruh narkoba, miras, seks bebas,
aborsi dan kenakalan remaja lainnya. Bahkan angka-angka tersebut diprediksikan akan terus
menanjak, seperti fenomena gunung es, tidak tampak di permukaan namun jika ditelusuri lebih
dalam ternyata banyak ditemukan kasus kasus yang cukup mengejutkan.


B.PEMBAHASAN MASALAH
Kenakalan remaja di era modern ini sudah melebihi batas yang sewajarnya. Banyak anak
dibawah umur yang sudah mengenal Rokok, Narkoba, Freesex, dan terlibat banyak tindakan
kriminal lainnya. Fakta ini sudah tidak dapat diungkuri lagi, anda dapat melihat brutalnya
remaja jaman sekarang. Dan saya pun pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri ketika
sebuah anak kelas satu SMA di kompelks saya, ditangkap/diciduk POLISI akibat menjadi
seorang bandar gele, atau yang lebih kita kenal dengan ganja.Hal ini semua bisa terjadi karena
adanya faktor-faktor kenakalan remaja berikut:
- kurangnya kasih sayang orang tua.
- kurangnya pengawasan dari orang tua.
- pergaulan dengan teman yang tidak sebaya.
- peran dari perkembangan iptek yang berdampak negatif.
- tidak adanya bimbingan kepribadian dari sekolah.
- dasar-dasar agama yang kurang
- tidak adanya media penyalur bakat dan hobinya
- kebasan yang berlebihan
- masalah yang dipendam
Dampak Penyalahgunaan Narkoba terhadap Remaja
Penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi Over Dosis yaitu konsumsi narkoba
melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya. Over dosis bisa menyebabkan kematian
a. Dampak Pisikis:

1. Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah
2. Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga
3. Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal
4. Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan
5. Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri

b. Dampak Sosial:
1. Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan
2. Merepotkan dan menjadi beban keluarga
3. Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram
c. Dampak Langsung bahaya Narkoba Bagi Jasmani / Tubuh Manusia

Gangguan pada jantung, Gangguan pada hemoprosik,Gangguan pada traktur
urinarius, Gangguan pada otak, Gangguan pada tulang, Gangguan pada pembuluh
darah, Gangguan pada endorin, Gangguan pada kulit, Gangguan pada sistem syaraf, Gangguan
pada paru-paru, Gangguan pada sistem pencernaan, Dapat terinfeksi penyakit menular berbahaya
seperti HIV AIDS, Hepatitis, Herpes, TBC, dll.
d. Dampak Langsung Narkoba Bagi Kejiwaan / Mental Manusia
1. Menyebabkan depresi mental.
2. Menyebabkan gangguan jiwa berat / psikotik.
3. Menyebabkan bunuh diri
4. Menyebabkan melakukan tindak kejehatan, kekerasan dan pengrusakan.

Efek depresi bisa ditimbulkan akibat kecaman keluarga, teman dan masyarakat atau,kegagalan
dalam mencoba berhenti memakai narkoba. Namun orang normal yang depresi dapat menjadi
pemakai narkoba karena mereka berpikir bahwa narkoba dapat mengatasi dan melupakan
masalah dirinya, akan tetapi semua itu tidak benar.


e. Dampak Fisik

Selain ketergantungan sel-sel tubuh, organ-organ vital dalam tubuh seperti liver, jantung, paru-
paru, ginjal,dan otak juga mengalami kerusakan akibat penggunaan jangka panjang narkoba.
Banyak sekali pecandu narkoba yang berakhiran dengan katup jantung yang bocor, paru-paru
yang bolong, gagal ginjal, serta liver yang rusak. Belum lagi kerusakan fisik yang muncul akibat
infeksi virus {Hepatitis C dan HIV/AIDS} yang sangat umum terjadi di kalangan pengguna
jarum suntik.
Walaupun begitu, setiap kehidupan memiliki dua sisi mata uang. Di balik dampak negatif,
narkotika juga memberikan dampak yang positif. Jika digunakan sebagaimana mestinya,
terutama untuk menyelamatkan jiwa manusia dan membantu dalam pengobatan, narkotika
memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Berikut dampak positif narkotika:
1. Opioid
Opioid atau opium digunakan selama berabad-abad sebagai penghilang rasa sakit dan untuk
mencegah batuk dan diare.
2. Kokain
Daun tanaman Erythroxylon coca biasanya dikunyah-kunyah untuk mendapatkan efek stimulan,
seperti untuk meningkatkan daya tahan dan stamina serta mengurangi rasa lelah.
3. Ganja (ganja/cimeng)
Orang-orang terdahulu menggunakan tanaman ganja untuk bahan pembuat kantung karena serat
yang dihasilkannya sangat kuat. Biji ganja juga digunakan sebagai bahan pembuat minyak.

beberapa tips untuk mengatasi dan mencegah kenakalan remaja, yaitu:
- Perlunya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dalam hal apapun.
- Adanya pengawasan dari orang tua yang tidak mengekang. contohnya: kita boleh saja
membiarkan dia melakukan apa saja yang masih sewajarnya, dan apabila menurut pengawasan
kita dia telah melewati batas yang sewajarnya, kita sebagai orangtua perlu memberitahu dia
dampak dan akibat yang harus ditanggungnya bila dia terus melakukan hal yang sudah melewati
batas tersebut.
- Biarkanlah dia bergaul dengan teman yang sebaya, yang hanya beda umur 2 atau 3 tahun baik
lebih tua darinya. Karena apabila kita membiarkan dia bergaul dengan teman main yang sangat
tidak sebaya dengannya, yang gaya hidupnya sudah pasti berbeda, maka dia pun bisa terbawa
gaya hidup yang mungkin seharusnya belum perlu dia jalani.
- Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi seperti tv, internet, radio,
handphone, dll.
- Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah, karena disanalah tempat anak lebih banyak
menghabiskan waktunya selain di rumah.
- Perlunya pembelanjaran agama yang dilakukan sejak dini, seperti beribadah dan mengunjungi
tempat ibadah sesuai dengan iman kepercayaannya
Mengatasi kenakalan remaja, berarti menata kembali emosi remaja yang tercabik-cabik itu.
Emosi dan perasaan mereka rusak karena merasa ditolak oleh keluarga, orang tua, teman-teman,
maupun lingkungannya sejak kecil, dan gagalnya proses perkembangan jiwa remaja tersebut.
Trauma-trauma dalam hidupnya harus diselesaikan, konflik-konflik psikologis yang
menggantung harus diselesaikan, dan mereka harus diberi lingkungan yang berbeda dari
lingkungan sebelumnya. Pertanyaannya : tugas siapa itu semua ? Orang tua-kah ? Sedangkan
orang tua sudah terlalu pusing memikirkan masalah pekerjaan dan beban hidup lainnya.
Saudaranya-kah ? Mereka juga punya masalah sendiri, bahkan mungkin mereka juga memiliki
masalah yang sama. Pemerintah-kah ? Atau siapa ? Tidak gampang untuk menjawabnya. Tetapi,
memberikan lingkungan yang baik sejak dini, disertai pemahaman akan perkembangan anak-
anak kita dengan baik, akan banyak membantu mengurangi kenakalan remaja. Minimal tidak
menambah jumlah kasus yang ada.
C.PENUTUP
1. kesimpulan
Upaya pencegahan terhadap penyebaran narkoba di kalangan pelajar, sudah seyogianya menjadi
tanggung jawab kita bersama. Dalam hal ini semua pihak termasuk orang tua, guru, dan
masyarakat harus turut berperan aktif dalam mewaspadai ancaman narkoba terhadap anak-anak
kita.
Adapun upaya-upaya yang lebih kongkret yang dapat kita lakukan adalah melakukan kerja sama
dengan pihak yang berwenang untuk melakukan penyuluhan tentang bahaya narkoba, atau
mungkin mengadakan razia mendadak secara rutiN, Kemudian pendampingan dari orang tua
siswa itu sendiri dengan memberikan perhatian dan kasih sayang, Pihak sekolah harus
melakukan pengawasan yang ketat terhadap gerak-gerik anak didiknya, karena biasanya
penyebaran (transaksi) narkoba sering terjadi di sekitar lingkungan sekolah.
Yang tak kalah penting adalah, pendidikan moral dan keagamaan harus lebih ditekankan kepada
siswa, Karena salah satu penyebab terjerumusnya anak-anak ke dalam lingkaran setan ini adalah
kurangnya pendidikan moral dan keagamaan yang mereka serap, sehingga perbuatan tercela
seperti ini pun, akhirnya merekajalani.Oleh sebab itu, mulai saat ini, kita selaku pendidik,
pengajar, dan sebagai orang tua, harus sigap dan waspada, akan bahaya narkoba yang sewaktu-
waktu dapat menjerat anak-anak kita sendiri. Dengan berbagai upaya tersebut di atas, mari kita
jaga dan awasi anak didik kita, dari bahaya narkoba tersebut, sehingga harapan kita untuk
menelurkan generasi yang cerdas dan tangguh di masa yang akan datang dapat terealisasikan
dengan baik.
Pemerintah maupun instansi terkait telah banyak melakukan upaya pencegahan maupun
penanggulangan dengan cara sosialisasi dan lainnya namun tidak nampak hasil yang besar, justru
semkin banyak saja remaja yang terjerat dalam jurang narkoba.
Upaya pencegahan dan dimulai dari diri rmaja itu sendiri perlu membentengi pengaruh dari laur
dengan kefahaman agama yang kuat, moral yang baik, dan sebagai penerus bangsa hendaknya
seorang remaja dapat berpikir positif dan harus pandai dalam bergaul dan memilih teman dekat
agar tidak terpengaruh oleh pergaulan yang semakin rusak.
Dalam upaya penanggulangan ini perlu peran aktif dari orang tua, guru dan masyarakat sekitar
tempat tinggal remaja. Peran oran tua dalm pembinaan remaja sangatlah vital karena pendidikan
moral, agama, dan pengatahuan berawal dari keluarga. Keluarga yang telah memenuhi
kebutuhan materi bagi anggotanya tetapi kurang memenuhi kebutuhan psikologis seperti
perhatian, kasih sayang akan menyebabkan remaja merasa jenuh dan merasa kehilangan orang
tempat mengadukan perasaan seperti kecewa, stress. Sehinggga remaja mencari perhatian dan
kebutuhan psikologis dari temannya. Agar dalam bergaul dengan temannya, seorang remaja
tidak terpengaruh hal-hal negatif pergaulan, maka adanya kontrol dari orang tua sangatlah
penting walaupun sibuk dalam urusan kariernya.
Seorang guru yang ramah serta membuka diri untuk berdialog dengan remaja, akan membuka
peluang bagi remaja untuk menyatakan tentang kesulitan/masalahnya sendiri. Sehingga seorang
remaja dapat menemukan orang tua kedua selain dirumah dan akan membuat seoarang remaja
untuk dapat berpikir positif dan lebih aktif dalam kegiatan yang berdampak positif bagi dirinya,
Seperti aktif dalam ekstrakulikuler olah raga, keagamaan, kesenian dan lain sebagainya.
Para tokoh masyarakat hendaknya menyadari bahwa para pelajar memerlukan keterbukaan dan
penghargaan terhadap mereka. Sehingga dalam kegiatan yang ada dimasyarakat hendaknya
remaja di ikut sertakan agar mereka merasa dihargai dan menjadi bagian dalam masayarakat
tersebut. Juga perlunya bimbingan terhadap kelompok remaja, seperti karang taruna dan
pengembangan bakat remaja, karena bakat tersebut tidak hanya dan harus dikembangkan di
sekolah melainkan juga diterapkan dalam masayarakatnya.
1. 2. Saran
Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja yang sedang tumbuh, orangtua
hendaknya bersikap seimbang, seimbang antar pengawasan dengan kebebasan. Semakin muda
usia anak, semakin ketat pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian
agar mereka tidak ketakutan dengan orangtua yang akhirnya membuat mereka tetap
melakukannya namun dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia makin meningkat, orangtua
dapat memberi lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus dijaga agar mereka
tidak salah jalan. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang
bermanfaat.Penyelesaian masalah dalam hal ini dibutuhkan kerja sama orangtua dengan anak.
Jangan hanya dengan kekerasan dan kekuasaan. Berilah pengertian sebaik-baiknya. Bila tidak
berhasil, gunakanlah pihak ketiga untuk menengahinya. Hal yang paling penting di sini adalah
adanya komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Orangtua hendaknya menjadi sahabat
anak. Orangtua hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi dua arah dengan sebaik-
baiknya sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan masalahnya
kepadaorangtua.Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis di masa kini, orangtua
hendaknya memberikan bimbingan pendidikan terbuka, sabar, dan bijaksana kepada para remaja.
Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kenakalan remaja dan narkoba serta segala akibat
baik dan buruk dari adanya hal tsb. Orangtua hendaknya memberikan teladan dalam menekankan
bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan yang sesuai agama.
Artikel tentang kenakalan remaja

Menjembatani Kenakalan Remaja
oleh : Nur Istikomah
Dewasa ini, kenakalan remaja telah menjadi penyakit ganas di tengah-tengah masyarakat,
mengingat remaja merupakan bibit pemegang tampuk pemerintahan negara di masa depan. Lebih
parah, berbagai kasus kenakalan remaja tersinyalir telah meresahkan masyarakat, semisal kasus
pencurian, kasus asusila seperti free sex, pemerkosaan, bahkan pembunuhan. Oleh berbagai
praktisi media bahkan para pemerhati sosial hal ini telah banyak digubris dan dicari benang
merahnya. Hanya saja, sejauh ini usaha tersebut belum terlihat goal dan terkesan hanya sebagai
bahan berita di media massa dan diskursus oleh berbagai kalangan yang belum ada realisasi
khusus.
Sejatinya, kenakalan semacam itu normal terjadi pada diri remaja karena pada masa itu
mereka sedang berada dalam masa transisi: anak menuju dewasa. Seperti pemikiran Emile
Durkheim (dalam Soerjono Soekanto, 1985: 73), perilaku menyimpang atau jahat kalau dalam
batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosial yang normal. Terkait dengan kenakalan
remaja, dalam bukunya yang berjudul Rules of Sociological Method disebutkan bahwa dalam
batas-batas tertentu kenakalan adalah normal karena tidak mungkin dihapusnya secara tuntas.
Dengan demikian, perilaku dikatakan normal sejauh perilaku tersebut tidak menimbulkan
keresahan dalam masyarakat, perilaku tersebut terjadi dalam batas-batas tertentu dan dilihat pada
suatu perbuatan yang tidak disengaja. Namun, kontras dengan pemikiran tersebut, kenyataan
yang akhir-akhir ini terjadi adalah kenakalan remaja yang disengaja, yakni dilakukan dengan
kesadaran. Miris!
Pengaruh psikologis
Remaja, seperti dikatakan di atas, yang merupakan masa transisi dari anak menuju
dewasa, memiliki potensi besar untuk melakukan hal-hal menyimpang dari kondisi (baca:
perilaku) normal. Seperti ada pergolakan dalam diri mereka untuk melakukakan hal-hal yang
berbeda dengan yang lain di sekelilingnya, hal-hal yang dianggap normal oleh kebanyakan
orang. Sependapat dengan hal itu, Becker (dalam Soerjono Soekanto, 198: 86), mengatakan
bahwa mereka yang menyimpang mempunyai dorongan untuk berbuat demikian. Hal itu
disebabkan karena setiap manusia pada dasarnya pasti mengalami dorongan untuk melanggar
pada situasi tertentu. Sebaliknya, orang yang dianggap normal dapat menahan diri dari dorongan-
dorongan untuk menyimpang. Tak pelak, dorongan semacam itupun didasari oleh berbagai hal,
seperti motif untuk mencari sensasi, bahkan karena sifat dasar remaja yang pada usia itu sedang
melalui tahap mengidentifikasi, semisal yang dilakukan dari tokoh idola atau yang
dianggapnya wah.
Lingkungan, Pembentuk Karakter Remaja
Selain pengaruh psikologi, lingkungan pun memiliki pengaruh vital dalam pembentukan
karakter remaja yang selanjutnya akan diperankan dalam proses sosialisasinya sebagai makhluk
sosial, termasuk perannya untuk berbuat kenakalan atau tidak. Seseorang dapat menjadi buruk
atau jelek karena hidup dalam lingkungan yang buruk (Eitzen, 1986:10). Lebih jauh dikritisi,
kondisi semacam itu memungkinkan seseorang (baca: remaja) melakukan penyimpangan karena
lingkungan telah mengalami disorganisasi sosial, sehingga nilai-nilai dan norma yang berlaku
telah lapuk atau seakan tinggal nama/ sebagai simbol. Dengan kata lain, sanksi yang ada seolah
sudah tidak berlaku lagi.
Remaja semacam itu yang oleh Kartini Kartono (1988: 93) disebut sebagai anak cacat
sosial atau cacat mental sebenarnya sudah mengalami demoralisasi atau pemerosotan gradasi
moral. Selain karena kondisi sosial di atas, kondisi keluarga pun sangat menentukan, terutama
proses pendidikan dari orang tua sebagai upaya pembentukan karakter (character building) anak.
Sebagai bukti, Masngudin HMS, dalam sebuah penelitiannya tentang hubungan antara sikap
orang tua dalam pendidikan anaknya dengan tingkat kenakalan di Pondok Pinang, Jakarta,
menyebutkan bahwa salah satu sebab kenakalan adalah sikap orang tua dalam mendidik
anaknya. Dari 30 koresponden, mereka yang orang tuanya otoriter sebanyak 5 responden
(16,6%), overprotection 3 responden (10%), kurang memperhatikan 12 responden (40%), dan
tidak memperhatikan sama sekali 10 responden (33,4%). Dari data seluruh responden yang orang
tuanya tidak memperhatikan sama sekali melakukan kenakalan khusus dan yang kurang
memperhatikan 11 dari 12 responden melakukan kenakalan khusus.
Terkait dengan pembentukan karakter, penelitian itu pun cukup menjadi bukti vitalitas
pendidikan keluarga. Keluarga yang represif (selalu memberikan hukuman) dan otoriter akan
cenderung membentuk sifat yang keras pada pribadi anak sehingga mereka lebih berpotensi
untuk agresif, atau sebaliknya bagi psikis mereka yang tidak kuat atas bentuk didikan orang
tuanya akan menjadikan sifat lembek atau lemah. Ini berbeda dengan bentuk prefentif atau
pemberian nasehat dan pujian, bahkan pemberian kesempatan bagi remaja untuk mencurahkan
gagasannya. Mereka akan terbentuk menjadi pribadi yang cenderung dapat menghargai orang
lain, dan berbagai perilaku yang lebih jauh dari bentuk penyimpangan.
Sebuah tulisan menarik, Samuel Smiles (1887) mencatat dalam bukunya Life and Labor:
tanamkan pemikiran, dan kamu akan memanen tindakan. Tanamkan tindakan, dan kamu akan
memanen kebiasaan. Tanamkan kebiasaan, dan kamu akan meraih karakter.
Tanamkan karakter dan kamu akan memanen tujuan. Beranjak dari kata bijak itu, karakter
merupakan modal awal dari hasil interaksi seseorang, termasuk remaja, untuk mencapai
kehidupan yang penuh dengan ketenangan kelak. Sayangnya, pembentukan tersebut belum
sepenuhnya diterapkan di sejumlah banyak keluarga, terlihat dari proses pendidikan yang
terkesan memanjakan anak, bahkan pendidikan yang termanjakan oleh kemajuan zaman (baca:
globalisasi).
Ya, ternyata karakter remaja dan ujung-ujungnya berbagai kasus kenakalan pun tak jauh-jauh
dari globalisasi, terutama di bidang teknologi, serta westernisasi(budaya kebarat-baratan). Belum
lama, seperti yang sudah dikoar-koarkan berbagai media, kasus smack down yang sempat
memiliki rating tinggi dalam tayangan televisi di Indonesia telah mengambil posisi tersendiri di
kalangan anak/ remaja. Mereka dengan serta merta mempraktekan adegan semacam itu yang
pada akhirnya menjadikan suatu bentuk kriminalitas remaja.
Selain itu, berbagai adegan pornografi di televisi mulai dari kasus ringan-berat pun telah menjadi
bentuk pendidikan nilai-nilai yang tidak sepantasnya dilakukan terhadap remaja. Mereka yang
sebenarnya membutuhkan asupan gizi semisal berupa tontonan yang mendidik yang
mencerminkan insan cendekia, intelek, atau akademis, telah diracuni dengan berbagai adegan
pacaran bahkan bentuk kegiatan seksual yang lebih jauh/ parah. Bidikan semacam itu rupanya
sangat ampuk membangun karakter tempe setiap anak/ remaja.
Sekretaris tetap dalam Kementrian Luar Negeri Singapura, Kishore Mahbubani (dalam John
Naisbitt dalam bukunya yang berjudul Megatrends Asia), mengimbau Barat untuk tidak lagi
meng-kuliah-i orang-orang Asia karena Barat tidak memiliki kualifikasi moral (moral
standing) untuk memberitahu orang lain apa yang harus dilakukan. Ia menganggap bahwa
masyarakat Barat telah kacau. Ini seyogyanya menjadi dasar agar masyarakat tidak lagi
mendewakan Barat sebagai patokan dalam pergaulan (terutama bagi remaja). Dan tak bisa
dipungkiri lagi bahwa sebenarnya budaya di atas adalah budaya yang banyak dipengaaruhi oleh
Barat yang dalam hal tertentu sebenarnya sangat kurang memuat nilai-nilai ketimuran. Yaitu
yang kurang memuat nilai etika dan unggah-ungguh (kesopanan-Jawa).
Menanggapi polemik tersebut, seyogyanya harus ada penanganan serius dan berkesinambungan
oleh berbagai elemen masyarakat. Pertama, orangtua harus selalu mengembangkan karakter
(character building) anak, yakni membangun jiwa anak dengan tabiat/ sifat-sifat yang penuh
dengan nilai-nilai kebaikan. Pentingnya peran keluarga dalam mendidik nilai-nilai anak sejak
dini menjadikan orangtua harus dapat menjadi sang maestrobuah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Singkatnya, orangtua pun harus memiliki sifat yang baik pula. yang dapat dijadikan teladan oleh
anak. Ingat sepenggal peribahasa,
Kedua, sekolah yang kini ibaratnya menjadi rumah kedua bagi anak harus mampu menciptakan
kultur sekolah yang relevan dengan perkembangan psikis remaja: kultur yang penuh dengan
pembentukan karakter positif. Misalnya, pendidikan nir-kekerasan, serta berbagai keculasan
semisal menghindarkan murid pada budaya mencontek yang juga merupakan salah saatu bentuk
kenakalan remaja bertaraf ringan. Penghargaan terhadap prestasi siswa pun sangat diperlukan
untuk menumbuhkan etos juang, semisal ucapan terima kasih atau pemberian pujian, serta
bentuk pembelajaran tanggung jawab semisal minta maaf baik oleh siswa maupun guru apabila
melakukan suatu kesalahan. Dan ini oleh Jepang pun telah lama ditumbuhkan pada pribadi
siswa.
Selain itu, pendidikan etika/ moral pun harus tetap diupayakan secara teoritis. Pendidikan
pancasila/ kewarganegaraan dan agama yang memuat nilai-nilai moral saat ini terkesan mulai
ditinggalkan karena sejumlah banyak siswa lebih tertarik untuk mempelajari dan
mengembangkan ilmu-ilmu eksak ataupun sosial. Inilah tugas guru yang bersangkutan atau pihak
kurikulum untuk menjadikan mata pelajaran tersebut menarik lagi di mata siswa dan dapat
dijadikan ramuan jiwa yang mujarab dalam pembentukan karakternya.
Terakhir, bersama semua pihak, termasuk pemerintah dalam hal penanganan kenakalan remaja
dan berbagai kebijakannya, semoga kenakalan remaja tidak semakin menjadi, cukup menjadi
kenakalan yang normal pada diri remaja dalam menikmati masa remajanya karena seorang
filsuf, Kahlil Gibran pun mengatakan bahwa anak-anak memiliki generasi dan dunianya sendiri.
Semoga remaja Indonesia tumbuh menjadi remaja yang kelak mampu mempersembahkan
kejayaan dengan karakter yang baik sehingga nama Indonesia pun tersiar kepenjuru
dunia bak kasturi. Tabik!
Kenakalan Remaja, Peran Orang Tua, Guru dan Lingkungan

Sebenarnya menjaga sikap dan tindak tanduk positif itu tidak hanya tanggung jawab para guru
dan keluarganya, tetapi semua orang, Guru yang selalu mengusahakan keluarganya menjadi
garda terdepan dalam memberikan pendidikan dengan sebuah contoh, adalah cerminan
komitmen dan pendalaman makna dari seorang guru. Sang guru harus berusaha agar keluarganya
baik dan tidak korupsi agar ia dapat mengajari kepada murid-muridnya yang merupakan remaja
generasi penerus bangsa memiliki moral dan ahlak baik dan tidak korupsi, berusaha tidak
berbohong agar murid-muridnya sebagai remaja yang baik tidak menjadi pendusta, tidak
terjaebak dalam kenakalan remaja.

Guru adalah profesi yang mulia dan tidak mudah dilaksanakan serta memiliki posisi yang sangat
luhur di masyarakat. Semua orang pasti akan membenarkan pernyataan ini jika mengerti sejauh
mana peran dan tanggung jawab seorang guru . Sejak saya baru berusia 6 tahun hingga dewasa,
orang tua saya yang merupakan seorang guru, selalu memberikan instruksi yang mengingatkan
kami para anak-anaknya adalah anak seorang guru yang harus selalu menjaga tingkah laku agar
selalu baik dan jangan sampai melakukan sebuah kesalahan . Seberat itukah, seharus itukah kami
bertindak Lantas apa hubungan profesi orang tua dengan dengan anak-anaknya, apakah hanya
anak seorang guru yang harus demikian ?.

Peran guru tidak hanya sebatas tugas yang harus dilaksanakan di depan kelas saja, tetapi seluruh
hidupnya memang harus di dedikasikan untuk pendidikan. Tidak hanya menyampaikan teori-
teori akademis saja tetapi suri tauladan yang digambarkan dengan perilaku seorang guru dalam
kehidupan sehari-hari.

Terkesannya seorang Guru adalah sosok orang sempurna yang di tuntut tidak melakukan
kesalahan sedikitpun, sedikit saja sang guru salah dalam bertutur kata itu akan tertanam sangat
mendalam dalam sanubari para remaja. Jika sang guru mempunyai kebiasaan buruk dan itu di
ketahui oleh sang murid, tidak ayal jika itu akan dijadikan referensi bagi para remaja yang lain
tentang pembenaran kesalahan yang sedang ia lakukan, dan ini dapat menjadi satu penyebab,
alasan mengapa terjadi kenakalan remaja.

Sepertinya filosofi sang guru ini layak untuk di jadikan filosofi hidup, karena hampir setiap
orang akan menjadi seorang ayah dan ibu yang notabenenya merupakan guru yang terdekat bagi
anak-anak penerus bangsa ini. Akan sulit bagi seorang ayah untuk melarang anak remajanya
untuk tidak merokok jika seorang ayahnya adalah perokok. Akan sulit bagi seorang ibu untuk
mengajari anak-anak remaja untuk selalu jujur, jika dirumah sang ibu selalu berdusta kepada
ayah dan lingkungannya, atau sebaliknya. jadi bagaimana mungkin orang tua melarang remaja
untuk tidak nakal sementara mereka sendiri nakal?

Suatu siang saya agak miris melihat seorang remaja SMP sedang asik mengisap sebatang rokok
bersama adik kelasnya yang masih di SD, itu terlihat dari seragam yang dikenakan dan usianya
memang terbilang masih remaja. Siapa yang harus disalahkan dalam kasus ini. Apakah sianak
remaja tersebut, sepertinya tidak adil kalau kita hanya menyalahkan si anak remaja itu saja, anak
itu terlahir bagaikan selembar kertas yang masih putih, mau jadi seperti apa kelak di hari tuanya
tergantung dengan tinta dan menulis apa pada selembar kertas putih itu . Orang pertama yang
patut disalahkan mungkin adalah guru, baik guru yang ada di rumah ( orang tua ), di sekolah (
guru), atau pun lingkungannya hingga secara tanpa disadari mencetak para remaja tersebut untuk
melakukan perbuatan yang dapat digolongkan ke dalam kenakalan remaja.

Peran orang tua yang bertanggung jawab terhadap keselamatan para remaja tentunya tidak
membiarkan anaknya terlena dengan fasilitas-fasilitas yang dapat menenggelamkan si anak
remaja kedalam kenakalan remaja, kontrol yang baik dengan selalu memberikan pendidikan
moral dan agama yang baik diharapkan akan dapat membimbing si anak remaja ke jalan yang
benar, bagaimana orang tua dapat mendidik anaknya menjadi remaja yang sholeh sedangkan
orang tuanya jarang menjalankan sesuatu yang mencerminkan kesholehan, ke masjid misalnya.
Jadi jangan heran apabila terjadi kenakalan remaja, karena sang remaja mencontoh pola
kenakalan para orang tua

Tidak mudah memang untuk menjadi seorang guru. Menjadi guru diharapkan tidak hanya
didasari oleh gaji guru yang akan dinaikkan, bukan merupakan pilihan terakhir setelah tidak
dapat berprofesi di bidang yang lain, tidak juga karena peluang. Selayaknya cita-cita untuk
menjadi guru didasari oleh sebuah idealisme yang luhur, untuk menciptakan para remaja sebagai
generasi penerus yang berkualitas.

Sebaiknya Guru tidak hanya dipandang sebagai profesi saja, tetapi adalah bagian hidup dan
idialisme seorang guru memang harus dijunjung setinggi-tingginya. Idealisme itu seharusnya
tidak tergantikan oleh apapun termasuk uang. Namun guru adalah manusia, sekuat-kuatnya
manusia bertahan dia tetaplah manusia, jika terpaan cobaan itu terlalu kuat manusia juga dapat
melakukan kesalahan.

Akhir akhir ini ada berita di media masa yang sangat meruntuhkan citra sang guru adalah berita
tentang pencabulan Oknum guru terhadap anak didiknya. Kalau pepatah mengatakan guru
kencing bediri murid kencing berlari itu benar, berarti satu orang guru melakukan itu berapa
orang murid yang lebih parah dari itu, hingga akhirnya menciptakan pola kenakalan remaja yang
sangat tidak ingin kita harapkan.

Gejala-gejala ini telah menunjukan kebenarannya. Kita ambil saja kasus siswa remaja mesum
yang dilakukan oleh para remaja belia seperti misalnya kasus-kasus di remaja mesum di taman
sari Pangkalpinang ibukota provinsi Bangka Belitung, lokasi remaja pacaran di bukit dealova
pangkalpinang, dan remaja Ayam kampus yang mulai marak di tambah lagi foto-foto syur
remaja SMP jebus, ini menunjukkan bahwa pepatah itu menujukkan kebenarannya.

Kerja team yang terdiri dari orang tua (sebagai guru dirumah), Guru di sekolah, dan Lingkungan
(sebagai Guru saat anak-anak, para remaja bermain dan belajar) harus di bentuk. diawali dengan
komunikasi yang baik antara orang tua dan guru di sekolah, pertemuan yang intensif antara
keduanya akan saling memberikan informasi yang sangat mendukung bagi pendidikan para
remaja. Peran Lingkungan pun harus lebih peduli, dengan menganggap para remaja yang ada di
lingkungannya adalah tanggung jawab bersama, tentunya lingkungan pun akan dapat
memberikan informasi yang benar kepada orang tua tentang tindak tanduk si remaja tersebut dan
kemudian dapat digunakan untuk mengevaluasi perkembangannya agar tidak terjebak dalam
kenakalan remaja.

terlihat betapa peran orang tua sangat memegang peranan penting dalam membentuk pola
perilaku para remaja, setelah semua informasi tentang pertumbuhan anaknya di dapat, orang
tuapun harus pandai mengelola informasi itu dengan benar.

Terlepas dari baik buruknya seorang guru nampaknya filosofi seorang guru dapat dijadikan
pegangan bagi kita semua terutama bagi para orang tua untuk menangkal kenakalan remaja, mari
kita bersama-sama untuk menjadi guru bagi anak-anak dan para remaja kita para remaja belia,
dengan selalu memberi contoh kebenaran dan memberi dorongan untuk berbuat kebenaran. Sang
guru bagi para remaja adalah Orang tua, guru sekolah dan lingkungan tempat ia di besarkan.
Seandainya sang guru dapat memberi teladan yang baik mudah-mudahan generasi remaja kita
akan ada di jalan yang benar dan selamat dari budaya "kenakalan remaja" yang merusak
kehidupan dan masa depan para remaja, semoga.

Akibat Pergaulan Bebas

Kita mengenal arti kata pergaulan bebas.Pergaulan bebas adalah suatu tindakan dari para remaja
yang sudah kelewat batas menggunakan kebebasannya demi kepentingan dan kepuasan
dirinya.Mereka melakukan perbuatan yang mampu membuat dirinya merasa puas,bebas,dan
merasa benar.Begitu banyak anak muda zaman sekarang yang menganut pergaulan bebas
ini.Mereka terjerat dalam suatu ikatan yang mampu membuat perasaan anak ini merasa
terpuaskan.

Dari banyak anak muda yang pernah terjerat dalam pergaulan ini merasa terpuaskan atas
tindakan mereka.Meraka masuk dalam pergaulan ini dikarenakan kurangnya pendidikan dan
kasih sayang dari orang tuanya dalam hidup mereka.Kadang seorang bapak atau ibu tidak
memikirkan sama sekali kepentingan anaknya.Mereka sibuk dengan pekerjaanya sendiri dan
anaknya terlupakan.
Dampak yang terjadi jika semua anak muda terjangkit pergaulan bebas memang
menakutkan,masa depan bangsa akan hancur jika semua anak mudanya menganut pergaulan
bebas.Banyak diantara mereka yang masuk dalam pergaulan ini,mereka merasa bahwa semua
yang dilakukannya adalah benar.
Dampak yang lebih parah lagi adalah moral anak bangsa menjadi nol,mereka akan berpikiran
layaknya orang barat yang sudah terbiasa dengan pergaulan bebas.Negara akan hancur bila
generasi mudanya sudah menganut aliran bebas
Solusi Untuk Mengurangi Pergaulan Bebas
Kita semua mengetahui peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME, penyaluran
minat dan bakat secara positif merupakan hal-hal yang dapat membuat setiap orang mampu
mencapai kesuksesan hidup nantinya. Tetapi walaupun kata-kata tersebut sering didengungkan
tetap saja masih banyak remaja yang melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan. Selain
daripada solusi di atas masih banyak solusi lainnya. Solusi-solusi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Memperbaiki cara pandang dengan mencoba bersikap optimis dan hidup dalam kenyataan,
maksudnya sebaiknya remaja dididik dari kecil agar tidak memiliki angan-angan yang tidak
sesuai dengan kemampuannya sehingga apabila remaja mendapatkan kekecewaan mereka akan
mampu menanggapinya dengan positif.

2. Menjaga keseimbangan pola hidup. Yaitu perlunya remaja belajar disiplin dengan mengelola
waktu, emosi, energi serta pikiran dengan baik dan bermanfaat, misalnya mengatur waktu dalam
kegiatan sehari-hari serta mengisi waktu luang dengan kegiatan positif

3. Jujur pada diri sendiri. Yaitu menyadari pada dasarnya tiap-tiap individu ingin yang terbaik
untuk diri masing-masing. Sehingga pergaulan bebas tersebut dapat dihindari. Jadi dengan ini
remaja tidak menganiaya emosi dan diri mereka sendiri.

4. Memperbaiki cara berkomunikasi dengan orang lain sehingga terbina hubungan baik dengan
masyarakat, untuk memberikan batas diri terhadap kegiatan yang berdampak negatif dapat kita
mulai dengan komunikasi yang baik dengan orang-orang di sekeliling kita.

5. Perlunya remaja berpikir untuk masa depan. Jarangnya remaja memikirkan masa depan.
Seandainya tiap remaja mampu menanamkan pertanyaan Apa yang akan terjadi pada diri saya
nanti jika saya lalai dalam menyusun langkah untuk menjadi individu yang lebih baik?
kemudian hal itu diiringi dengan tindakan-tindakan positif untuk kemajuan diri para remaja.
Dengan itu maka remaja-remaja akan berpikir panjang untuk melakukan hal-hal menyimpang
dan akan berkurangnya jumlah remaja yang terkena HIV & AIDS nantinya.

Selain usaha dari diri masing-masing sebenarnya pergaulan bebas dapat dikurangi apabila setiap
orang tua dan anggota masyarakat ikut berperan aktif untuk memberikan motivasi positif dan
memberikan sarana & prasarana yang dibutuhkan remaja dalam proses keremajaannya sehingga
segalanya menjadi bermanfaat dalam kehidupan tiap remaja.

Sabtu, 23 Februari 2013
Solusi Untuk Menyelesaikan Masalah Pergaulan Bebas
Kita semua mengetahui peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME,
penyaluran minat dan bakat secara positif merupakan hal-hal yang dapat membuat setiap orang
mampu mencapai kesuksesan hidup nantinya. Tetapi walaupun kata-kata tersebut sering
didengungkan tetap saja masih banyak remaja yang melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya
dilakukan. Selain daripada solusi di atas masih banyak solusi lainnya. Solusi-solusi tersebut
adalah sebagai berikut:
1. Memperbaiki Cara Pandang
Memperbaiki cara pandang dengan mencoba bersikap optimis dan hidup dalam
kenyataan, maksudnya sebaiknya remaja dididik dari kecil agar tidak memiliki angan-angan
yang tidak sesuai dengan kemampuannya sehingga apabila remaja mendapatkan kekecewaan
mereka akan mampu menanggapinya dengan positif.
2. Menjaga Keseimbangan Pola Hidup
Yaitu perlunya remaja belajar disiplin dengan mengelola waktu, emosi, energi serta
pikiran dengan baik dan bermanfaat, misalnya mengatur waktu dalam kegiatan sehari-hari serta
mengisi waktu luang dengan kegiatan positif.
3. Jujur Pada Diri Sendiri
Yaitu menyadari pada dasarnya tiap-tiap individu ingin yang terbaik untuk diri masing-
masing. Sehingga pergaulan bebas tersebut dapat dihindari. Jadi dengan ini remaja tidak
menganiaya emosi dan diri mereka sendiri.
4. Memperbaiki Cara Berkomunikasi
Memperbaiki cara berkomunikasi dengan orang lain sehingga terbina hubungan baik
dengan masyarakat, untuk memberikan batas diri terhadap kegiatan yang berdampak negatif
dapat kita mulai dengan komunikasi yang baik dengan orang-orang di sekeliling kita.
5. Perlunya Remaja Berpikir Untuk Masa Depan
Jarangnya remaja memikirkan masa depan. Seandainya tiap remaja mampu menanamkan
pertanyaan Apa yang akan terjadi pada diri saya nanti jika saya lalai dalam menyusun langkah
untuk menjadi individu yang lebih baik? kemudian hal itu diiringi dengan tindakan-tindakan
positif untuk kemajuan diri para remaja. Dengan itu maka remaja-remaja akan berpikir panjang
untuk melakukan hal-hal menyimpang dan akan berkurangnya jumlah remaja yang terkena HIV
& AIDS nantinya.
6. Menanamkan Nilai Ketimuran
Kalangan remaja kita kebanyakan sudah tak mengindahkan lagi akan pentingnya nilai-
nilai ketimuran. Tentu saja nilai ketimuran ini selalu berkaitan dengan nilai Keislaman yang juga
membentuk akar budaya ketimuran. Nilai yang bersumberkan pada ajaran spiritualitas agama ini
perlu dipegang. Termasuk meningkatkan derajat keimanan dan moralitas pemeluknya. Dengan
dipegangnya nilai-nilai ini, harapannya mereka khususnya kalangan muda akan berpikir seribu
kali untuk terjun ke pergaulan bebas.
7. Mengurangi Menonton Televisi
Televisi idealnya bisa menjadi sarana mendapatkan informasi yang mendidik dan bisa
meningkatkan kualitas hidup seseorang. Namun, kenyataannya, saat ini harapan itu sangat jauh.
Televisi kita terutama stasiun televisi swasta, mereka lebih banyak menampilkan acara hiburan,
maupun sinetron-sinetron yang menawarkan nilai-nilai gaya hidup bebas, hedonis. Begitu juga
beragam tayangan infotainment yang kadang menayangkan acara perselingkuhan, sex bebas di
kalangan artis.
Dengan demikian, kisah pergaulan bebas bukan menjadi hal yang tabu lagi. Makanya, tak
ada langkah yang lebih manjur selain mengurangi menonton televisi ini karena lambat laun otak
akan teracuni oleh nilai-nilai yang sebenarnya sangat negatif. Untuk mendapatkan informasi,
kalangan muda bisa mengalihkan perhatian dengan membaca koran, majalah maupun buku-
buku. Pekerjaan yang agak berat memang, tapi jauh lebih produktif daripada kebanyakan
menonton televisi yang tidak jelas dan cenderung merusak akal sehat pikiran.
8. Banyak Beraktivitas Secara Positif
Cara ini menurut berbagai penelitian sangat efektif dijalankan. Pergaulan bebas, biasanya
dilakukan oleh kalangan muda yang banyak waktu longgar, banyak waktu bermain, bermalam
minggu. Nah, untuk mengantisipasi hal tersebut, mengalihkan waktu untuk kegiatan lewat hal-
hal positif perlu terus dikembangkan. Misalnya dengan melibatkan anak muda dalam organisasi-
organisasi sosial, menekuni hobinya dan mengembangkannya menjadi lahan bisnis yang
menghasilkan, maupun mengikuti acara-acara kreatifitas anak-anak muda. Dengan demikian,
waktu mudanya akan tercurahkan untuk hal-hal positif dan sedikit waktu untuk memikirkan hal-
hal negatif seperti pergaulan bebas tersebut.
9. Sosialisasi Bahaya Pergaulan Bebas
Dikalangan muda, pergaulan bebas sering dilakukan karena bisa jadi mereka tidak tahu
akibat yang ditimbulkannya. Seperti misalnya penyakit kelamin yang mematikan. Nah,
sosialisasi hal ini. Informasi-informasi mengenai bahaya yang ditimbulkan akibat pergaulan
bebas ini perlu terus disebarkan di kalangan muda. Harapannya, mereka juga punya informasi
sebagai bahan pertimbangan akal sehatnya. Jika informasi tersebut belum didapatkan ada
kemungkinan mereka akan terus melakukan pergaulan bebas semau mereka. Tapi, kalau
informasi sudah didapatkan tapi mereka tetap nekad melakukan itu persoalan lain lagi.
Sepertinya perlu ada penanganan khusus, apalagi yang sudah terang-terangan bangga melakukan
pergaulan bebas.
10. Menegakkan Aturan Hukum
Bagi yang bangga tersebut, tak ada hal lain yang bisa menghentikan selain adanya
perangkat hukum dan aturan hukum yang bisa menjeratnya. Setidaknya sebagai efek jera. Yang
demikian harus dirumuskan dan dilaksanakan melalui hokum yang berlaku di negara kita.
Langkah ini sebagai benteng terakhir untuk menyelamatkan anak-anak muda dari amoralitas
karena perilaku pergaulannbebas yang lambat laun otomatis akan merusak bangsa ini.


11. Munakahat
Munakahat atau menikah. Cara ini efektif sekali. Kalau masih belum bisa, cara lain
adalah dengan berpuasa. Inilah yang ditawarkan oleh Islam sebagai salah satu solusi atas
pergaulan bebas.
Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi adanya pergaulan bebas
khususnya di kalangan remaja.
Selain usaha dari diri masing-masing sebenarnya pergaulan bebas dapat dikurangi apabila
setiap orang tua dan anggota masyarakat ikut berperan aktif untuk memberikan motivasi positif
dan memberikan sarana & prasarana yang dibutuhkan remaja dalam proses keremajaannya
sehingga segalanya menjadi bermanfaat dalam kehidupan tiap remaja.
Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja yang sedang jatuh
cinta, orangtua hendaknya bersikap seimbang, seimbang antar pengawasan dengan kebebasan.
Semakin muda usia anak, semakin ketat pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak
diberi pengertian agar mereka tidak ketakutan dengan orangtua yang dapat menyebabkan mereka
berpacaran dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia makin meningkat, orangtua dapat memberi
lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus dijaga agar mereka tidak salah jalan.
Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang bermanfaat.
Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja sama orangtua dengan anak.
Misalnya, ketika orangtua tidak setuju dengan pacar pilihan si anak. Ketidaksetujuan ini
hendaknya diutarakan dengan bijaksana, jangan hanya dengan kekerasan dan kekuasaan. Berilah
pengertian sebaik-baiknya. Bila tidak berhasil, gunakanlah pihak ketiga untuk menengahinya.
Hal yang paling penting di sini adalah adanya komunikasi dua arah antara orangtua dan anak.
Orangtua hendaknya menjadi sahabat anak. Orangtua hendaknya selalu menjalin dan menjaga
komunikasi dua arah dengan sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan
masalahnya kepada orangtua.
Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis di masa kini, orangtua
hendaknya memberikan bimbingan pendidikan seksual secara terbuka, sabar, dan bijaksana
kepada para remaja. Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta
segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual. Orangtua hendaknya memberikan
teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan. Dengan memiliki
latihan kemoralan yang kuat, remaja akan lebih mudah menentukan sikap dalam bergaul. Mereka
akan mempunyai pedoman yang jelas tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan
yang tidak boleh dikerjakan. Dengan demikian, mereka akan menghindari perbuatan yang tidak
boleh dilakukan dan melaksanakan perbuatan yang harus dilakukan.
Faktor Penyebab Pergaulan Bebas dan Solusinya

Pergaulan bebas sekarang telah merebah kemana-mana, dari kalangan atas sampai kalangan
bawah terdapat banyak kasus tentang pergaulan bebas ini. Banyak beberapa faktor yang
menyebabkan mereka melakukan pergaulan bebas itu. Untuk itu kali ini saya akan membahas
tentang faktor penyebab pergaulan bebas dan solusinya dan baca juga tentang Arti Ciuman Yang
Harus kamu Diketahui biar kamu ga salah menafsirkannya


Faktor Agama & Iman
Ini adalah faktor utama yang menyebabkan mereka melakukan perbuatan yang melenceng
tersebut, dikarenakan mereka tidak memahami betul agamanya. Bahkan semua agama pun tidak
di ijinkan untuk umatnya melakukan tindakan-tindakan tidak senonoh berikut, dan walaupun
anda sudah mengenal agama anda dan anda tau dosa apa yang anda terima jika anda
melakukannya tapi iman anda tidak kuat, itu sama saja bohong.

Solusi : Perbanyaklah mengikuti kegiatan keagamaan atau pahami betul larangan-larangan yang
ada di agama anda, perkuat iman anda, dan sibukkan dengan kegiatan yang positif.
Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan bisa menjadi faktor penting bagi mereka yang terjebak dalam pergaluan
bebas.

Solusi : anda harus dapat mengerti mana yang baik dan mana yang buruk, gunakan logika anda
bukan nafsu anda.

Faktor Pengetahuan
Faktor pengetahuan yang rendah dan rasa ingin tau yang tinggi inilah yang berbahaya, jika anda
sudah tau dampak-dampak pergaulan bebas mungkin anda berpikir-pikir untuk melakukan hal
tersebut.

Solusi : Cari tau dulu sebelum anda ingin mencoba
Faktor Zaman
Sekarang itu adalah zaman edan, kenapa zaman edan? Kalian pasti mengerti sendiri, banyak
kejadian-kejadian yang tidak masuk akal, seperti anak membunuh orang tuanya, bapak
memperkosa anaknya, orang tua menjual anaknya dan lain sebagainya, ditambah lagi norma-
norma kesusilaan manusia yang semakin berkurang.

Solusi : Berpikirlah manusiawi dan jauhi keburukan.
Mungkin hanya itu yang bisa saya sampaikan, terimakasih,kalau ada yang nambah silahkan
komentar di bawah ini ya

pergaulanbebas adalah,pergaulan bebas wikipedia,pergaulan bebas di indonesia dan di
amerika,pergaulan bebas di kalangan pelajar,pergaulan bebas anak sekolah,pergaulan
bebas.ppt,pergaulan bebas mahasiswa,pergaulan bebas dalam islam