Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Vitamin adalah senyawa-senyawa organik tertentu yang diperlukan
dalam jumlah kecil dalam tetapi esensial untuk reaksi metabolisme dalam
sel dan penting untuk melangsungkan pertumbuhan normal serta
memelihara kesehatan. Oleh karenanya tubuh harus memperoleh vitamin
dari makanan sehari-hari. Jadi vitamin mengatur metabolisme, mengubah
lemak dan kabohidrat menjadi energi, dan ikut mengatur pembentukan
tulang dan jaringan.
Vitamin tidak dapat diproduksi oleh tubuh, tetapi diperoleh dari
makanan sehari-hari. Fungsi khusus vitamin adalah sebagai kofaktor
(elemen pembantu) untuk reaksi enzimatik. Vitamin juga berperan dalam
berbagai macam fungsi tubuh lainnya, termasuk regenerasi kulit,
penglihatan, sistem susunan syaraf dan sistem kekebalan tubuh dan
pembekuan darah.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan vitamin ?
2. Bagaimana klasfikasi vitamin ?
3. Apa saja fungsi vitamin ?
4. Bagaimana metabolisme vitamin dalam tubuh ?

C. TUJUAN
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan vitamin.
2. Mengetahui bagaimana klasifikasi vitamin.
3. Mengetahui apa saja fungsi vitamin.
4. Mengetahui bagaimana metabolisme vitamin dalam tubuh.

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN VITAMIN

Vitamin adalah molekul organik yang di dalam tubuh mempunyai fungsi yang
sangat bervariasi. Vitamin adalah senyawa organik yang diperlukan dalam jumlah
kecil untuk pertumbuhan normal dan pemeliharaan kehidupan (Tilman et al.,
1989). Di dalam tubuh diperlukan dalam jumlah sedikit (micronutrient). Biasanya
tidak disintesis di dalam tubuh, jika dapat disintesis jumlahnya tidak mencukupi
kebutuhan tubuh, sehingga harus diperoleh dari makanan atau diet. Vitamin dalam
arti luas adalah senyawa organik, bukan karbohidrat, lemak maupun protein, yang
memiliki peranan vital untuk berjalannya fungsi tubuh yang normal, meskipun
dibutuhkan dalam jumlah kecil. Vitamin adalah zat gisi yang sangat dibutuhkan
oleh tubuh, karena berperan mambantu proses metabolisme tubuh yang normal.
Beberapa vitamin tidak dapat dibuat tubuh dalam jumlah cukup, sehingga harus
dilengkapi dari bahan pangan, kecuali vitamin D. Defisiensi vitamin tertentu akan
menyebabkan berkembangnya suatu sindrome yang spesifik untuk tiap-tiap
vitamin. Beberapa vitamin tidak diperlukan dalam diet, dikarenakan vitamin-
vitamin tersebut dapat disintesis sendiri dengan bantuan mikroflora usus.
Adanya vitamin dalam bahan makanan belum merupakan suatu jaminan
bahwa suatu defisiensi dari vitamin tersebut tidak timbul, karena mungkin ada
faktor-faktor lain yang terdapat dalam diet yang menghalangi pemanfaatannya
oleh tubuh, misalnya proses absorbsinya di dalam usus. Telah diketahui bahwa
pengobatan secara terus-menerus dengan parafin cair dapat menghalangi
penyerapan karoten, karena parafin melarutkan senyawa karoten dan membentuk
suatu larutan yang tidak dapat diserap oleh mukosa usus, maka akan timbul gejala
defisiensi vitamin A. Merupakan fakta yang jelas juga bahwa terlalu banyak
minyak ikan dalam diet akan menimbulkan defisiensi vitamin E dalam waktu
singkat dengan akibat degenerasi otot. Infeksi usus ada hubungannya dengan
penyerapan vitamin A dan penggunaannya. Gangguan hidrolisis lemak dan
penyerapannya secara otomatis mempengaruhi penyerapan semua vitamin yang
larut dalam lemak.
Di bidang peternakan, dewasa ini sebagian vitamin dapat dihasilkan secara
sintetik dan penggunaan penentuan secara kimiawi makin meningkat. Vitamin-
vitamin sintetik tersebut sama efektifnya seperti dari sumber-sumber alam dan
lebih disukai karena kualitas standarnya, garansi potensinya, dan stabilitasnya.
Vitamin-vitamin sintetik memungkinkan formulasi ransum yang fleksibel, sesuai
dengan kebutuhan setempat dan penggunaan ekonomisnya. Bentuk-bentuk
stabilitas vitamin A, D, dan E dapat diperoleh di pasaran. Vitamin dapat diberikan
terdiri dalam konsentrasi tinggi atau sebagai premiks yang berpotensi rendah
dalam kombinasi dengan zat-zat makanan aktif lainnya, seperti zat-zat mineral,
antibiotika dan lain-lain. Bila hanya tersedia sumber-sumber vitamin alami, maka
perlu diperhatikan bahwa konsentrasi vitamin-vitamin tersebut dalam bahan
makanan dapat bervariasi luas dengan musim, panenan dan kondisi penyimpanan.
Nilai hayati vitamin dapat berkurang atau hilang akibat terdapatnya zat-zat
antagonis dalam sumber-sumber vitamin alam tersebut. Vitamin A, D
3
, E,
riboflavin, dan B
12
perlu mendapat perhatian khusus. Akan tetapi jumlah kholin,
asam nikotinat dan kadangkala asam pantothenat yang tidak mencukupi dapat
dijumpai dalam berbagai ransum, terutama pada ransum-ransum yang tidak
mengandung protein hewan.
Pada ternak, daun hijau leguminosa dan rumput diketahui merupakan sumber
vitamin yang baik, terutama karoten. Pada manusia, vitamin yang alami bisa
didapat dari sayur, buah dan produk hewani. Pada umumnya, vitamin-vitamin
ditemukan berkaitan dengan adanya pengaruh biologis yang menarik bagi seorang
peneliti, sedangkan sifat-sifat kimianya dipelajari kemudian. Pembedaan nama
vitamin yang satu dengan lainnya didasarkan dengan huruf, yang kadang-kadang
disertai dengan nomor-nomor subskrip. Pada beberapa hal, untuk beberapa
vitamin, sistem ini tetap dipakai, walaupun sifat-sifat kimianya telah ditemukan
kemudian, di lain pihak, nama umum tersebut segera dirubah karena terminologi
vitamin tidak lagi diterima dengan baik. Oleh karena itu, di dalam praktek, nama
vitamin dan nama kimianya tetap dipakai, walaupun untuk beberapa seri,
terminologi kimianya dibuang, diganti dengan nama lain. Dalam tentative rules
(1970), tentang pemberian nama vitamin dan zat-zat yang berhubungan
dengannya dinyatakan bahwa nama umum vitamin penting, terutama untuk
membawahi suatu grup zat-zat organik yang essensial. Pemberian nama dengan
huruf masih penting, sekurang-kurangnya untuk para ahli nutrisi.
Jenis dan jumlah vitamin dalam masing-masing bahan pangan sangat bervariasi.
Secara umum dapat dikatakan bahwa bahan pangan dari hewan, seperti daging,
telur, susu dan hati, mengandung hampir semua jenis vitamin yang telah diketahui
dan jumlahnya relatif tinggi, sedangkan pada biji-bijian, misalnya jagung dan
umbi-umbian, misalnya ubi kayu, mengandung hanya sedikit sampai cukup saja.
B. KLASIFIKASI VITAMIN
Secara klasik, berdasarkan kelarutannya, vitamin digolongkan dalam dua
kelompok, yaitu (1) vitamin yang larut dalam lemak dan (2) vitamin yang larut
dalam air, karena yang pertama dapat diekstraksi dari bahan makanan dengan
pelarut lemak dan yang terakhir dengan air. Beberapa vitamin larut lemak
adalah vitamin A, D, E, dan K, yang hanya mengandung unsur- unsur karbon,
hidrogen dan oksigen. Vitamin yang larut dalam air terdiri atas asam askorbat
(C) dan B-komplek (B
1
sampai B
12
), yang selain mengandung unsur-unsur
karbon, hidrogen, oksigen, juga mengandung nitrogen, sulfur atau kobalt.
Vitamin yang larut dalam lemak, yaitu A, D, E dan K, memiliki sifat-sifat
umum, antara lain (1) tidak terdapat di semua jaringan; (2) terdiri dari unsur-
unsur karbon, hidrogen dan oksigen; (3) memiliki bentuk prekusor atau
provitamin; (4) menyusun struktur jaringan tubuh; (5) diserap bersama lemak;
(6) disimpan bersama lemak dalam tubuh; (7) diekskresi melalui feses; (8)
kurang stabil jika dibandingkan vitamin B, dapat dipengaruhi oleh cahaya,
oksidasi dan lain sebagainya.
Vitamin yang larut dalam air memiliki sifat-sifat umum, antara lain : (1)
tidak hanya tersusun atas unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen; (2) tidak
memiliki provitamin; (3) terdapat di semua jaringan; (4) sebagai prekusor
enzim-enzim; (5) diserap dengan proses difusi biasa; (6) tidak disimpan secara
khusus dalam tubuh; (7) diekskresi melalui urin; (8) relatif lebih stabil, namun
pada temperatur berlebihan menimbulkan kelabilan.
C. FUNGSI VITAMIN
a. Vitamin A (Antixeroptalmia)
Vitamin A, yang juga dikenal dengan nama retinol, merupakan vitamin
yang berperan dalam pembentukkan indra penglihatan yang baik, terutama
di malam hari, dan sebagai salah satu komponen penyusun pigmen mata di
retina. Selain itu, vitamin ini juga berperan penting dalam menjaga
kesehatan kulit dan imunitas tubuh. Vitamin ini bersifat mudah rusak oleh
paparan panas, cahaya matahari, dan udara. Sumber makanan yang banyak
mengandung vitamin A, antara lain susu, ikan, sayur-sayuran (terutama
yang berwarna hijau dan kuning), dan juga buah-buahan (terutama yang
berwarna merah dan kuning, seperti cabai merah, wortel, pisang, dan
pepaya).
Apabila terjadi defisiensi vitamin A, penderita akan mengalami rabun
senja dan katarak. Selain itu, penderita defisiensi vitamin A ini juga dapat
mengalami infeksi saluran pernafasan, menurunnya daya tahan tubuh, dan
kondisi kulit yang kurang sehat. Kelebihan asupan vitamin A dapat
menyebabkan keracunan pada tubuh. Penyakit yang dapat ditimbulkan
antara lain pusing-pusing, kerontokan rambut, kulit kering bersisik, dan
pingsan.
Selain itu, bila sudah dalam kondisi akut, kelebihan vitamin A di
dalam tubuh juga dapat menyebabkan kerabunan, terhambatnya
pertumbuhan tubuh, pembengkakan hati, dan iritasi kulit. Sayur-sayuran
hijau dan kacang-kacangan sebagai sumber vitamin A dan vitamin B yang
tinggi.
b. Vitamin B
Secara umum, golongan vitamin B berperan penting dalam
metabolisme di dalam tubuh, terutama dalam hal pelepasan energi saat
beraktivitas. Hal ini terkait dengan peranannya di dalam tubuh, yaitu
sebagai senyawa koenzim yang dapat meningkatkan laju reaksi
metabolisme tubuh terhadap berbagai jenis sumber energi. Beberapa jenis
vitamin yang tergolong dalam kelompok vitamin B ini juga berperan
dalam pembentukan sel darah merah (eritrosit). Sumber utama vitamin B
berasal dari susu, gandum, ikan, dan sayur-sayuran hijau.
c. Vitamin B1 (Tiamin)
Vitamin B1 terdiri dari satu substitusi pirimidin yang terikat melalui
ikatan metilen pada satu substitusi tiasol. Sifat umum vitamin B1 adalah
stabil dalam pH sedikit asam, rusak dalam pH alkalis, rusak dalam larutan
mineral, larut dalam air dan alkohol 70 persen dan rusak oleh panas.
Tiamin banyak terdapat dalam daging, bagian luar biji-bijian (oleh karena
itu beras merah mempunyai nilai gizi tiamin lebih baik daripada beras
putih), kacang-kacangan dan hasil ikutannya, bungkil kacang kedelai,
bungkil kacang tanah, tepung alfalfa dan ragi.
Pada ikan mentah terdapat kandungan tiaminase yang dapat memecah
tiamin menjadi dua gugus pirimidin dan pikolin sehingga tiamin menjadi
inaktif. Sumber tiamin yang penting adalah kacang-kacangan dan hasil
ikutannya, bungkil kedelai, bungkil kacang tanah dan tepung alfalfa.
Defisiensi tiamin akan menyebabkan reaksi-reaksi metabolisme terutama
metabolisme piruvat terganggu yang menyebabkan sumber energi pada
sel. Apabila sel tubuh unggas kekurangan energi akan menyebabkan
gangguan syaraf dan pelebaran otot-otot jantung yang sensitif apabila
kekurangan energi.
Kurang berfungsinya otot jantung dapaat menyebabkan menurunnya
siklus Krebs dan diikuti menurunnya ATP untuk kontraksi jantung,
naiknya katekolamin (norepinefrin dan epinefrin) dan asetilkolin yang
bersifat kardiotoksik. Akumulasi asam piruvat dan asam laktat di dalam
darah dan jaringan oleh defisiensi tiamin menyebabkan iritabilitas,
hilangnya nafsu makan, fatique, degenerasi selaput myelin dari serabut
syaraf, melemahnya otot jantung dan gangguan-gangguan
gastrointestinal, polyneuritis gallinarum, anorexia, kehilangan bobot
badang, kaki lemah dan blue comb. Defisensi tiamin dapat menyebabkan
timbulnya polineuritis pada unggas. Defisiensi kronis menyebabkan star
grazing dan atrophy.
d. Vitamin B2 (Riboflavin)
Vitamin B2 terdiri dari struktur heterosiklik yang terikat dengan
ribitol. Riboflavin membentuk suatu gugus protetik untuk enzim
flavoprotein yang diperlukan untuk reaksi oksidasi dalam metabolisme
seluler yang normal. Struktur cincin berkonyugasi, karena itu riboflavin
merupakan pigmen yang berwarna dan berfluoresensi. Fungsi utama
riboflavin adalah untuk proses oksidasi-reduksi dalam jaringan. Beberapa
contoh keterlibatan riboflavin antara lain pada oksidasi asam amino (L
atau D asam amino-oksidase).
Reaksi ini disebut juga O2-linked. Contoh lain adalah reaksi
dehidrolipoate dehidrogenase. Enzim flavin ini ikut berperan dalam reaksi
dehidrogenase dimana NAD dan NADP sebagai akseptor atom H, jadi
bukan atom O2. Contoh lainnya lagi adalah enzim flavin. Enzim ini
berperan dalam transport elektron, sebagai akseptor elektron adalah
sitokrom. Sumber riboflavin yang penting adalah susu, sayur-sayuraan,
yeast, daging dan kacang-kacangan. Sumber-sumber riboflavin potensial
lainnya adalah ragi, produk-produk susu, hati, ikan dan hijauan pada
sayuran dan bakteri autrotof. Riboflavin sangat berperan untuk fungsi
normalnya jaringanjaringan yang berasal dari ektoderm seperti kulit, mata
dan syaraf. Riboflavin juga mencegah senilyti. Tanda-tanda defisiensi
riboflavin mencakup rontoknya rambut, "lesion" pada kulit, muntah, diare
dan gangguan mata.
e. Vitamin B5 (Asam Pantotenat)
Asam pantotenat adalah suatu amida dari asam pantoat dan alanin.
Asam pantotenat merupakan bagian dari koenzim A, yang berperan dalam
transfer gugus asetil. Hal ini terjadi dalam asetilasi kolin hingga terbentuk
asetilkolin, serta dalam asetilasi dari piruvat dekarboksilat untuk
membentuk asetilkolin A dalam siklus Krebs. Koenzim A juga berperan
dalam degradasi asam-asam lemak menjadi asetil CoA. Sumber asam
pantotenat adalah biji-bijian, yeast, hati dan telur. Defisiensi asam
pantotenat berkaitan dengan gejala dermatitis, terhambatnya pertumbuhan,
rontoknya rambut, memutihnya rambut, serta "lesion" pada berbagai
organ, degenerasi testis, ulcus duodenum, abnormal fetus yang
kesemuanya disebabkan oleh oksidasi lemak dan karbohidrat yang tidak
berjalan sempurna.
f. Vitamin B6 (Piridoksin)
Vitamin B6 terdiri dari tiga derivat piridin alam yang berhubungan
erat, yaitu : piridoksin, piridoksal dan piridoksamin. Perbedan dari ketiga
zat tersebut adalah pada rantai C nomor 4. Rantai basis dari zat-zat
tersebut adalah piridin. Ketiganya sama aktif sebagai pra zat koenzim
piridoksal fosfat. Piridoksin berperan penting dalam metabolisme protein
dimana pyridoxial fosfat merupakan suatu konensium untuk berbagai
reaksi kimia yang berkaitan dengan metabolisme protein dan asam amino,
seperti transaminasi dan dekarboksilasi.
Bentuk piridoksal dan piridoksamin biasanyaa terdapat dalam produk-
produk hewani, sedangkan piridoksin terdapat dalam produk-produk
tanaman. Sumber vitamin B6 adalah daging, hati dan tanaman berdaun
hijau. Peranan dari koenzim adalah untuk metabolisme asam amino, oleh
sebab itu apabila kekeurangan piridoksin akan terjadi gangguan
metabolisme protein. Vitamin B6 berguna bagi pencegahan dermatitis, dan
gejala-gejala kerusakan syaraf pusat. Pembentukan asam nikotinat dari
triptofan tergantung pada piridoksal fosfat sebagai koenzim. Karena itu
penyakit pellagra seringkali disertai defisiensi piridoksin. Defisiensi
piridoksin jarang terjadi. Defisiensi piridoksin dapat menyebabkan
pertumbuhan yang terhambat, dermatitis, kepekaan abnormal, kepala
tertarik ke belakang, produksi telur dan daya tetas menurun serta anemia.
g. Vitamin B12 (Kobalamin)
Kobalamin adalah vitamin yang mengandung kobalt yang berada
dalam bentuk derivat "cyanide" yaitu "cyanocobalamin". Kobalamin
mempunyai gugus nukleotida yang disambung dengan porfirin lewat
gugus fosfat dan amino-propanol. Gugus cyanide dapat diganti dengan
gugus hidroksil (B12a) atau hidrokobalamin dan juga gugus nitrit (B12c)
atau nitrokobalamin. Sianokobalamin berbentuk kristal padat berwarna
merah hitam dan merupakan bentuk yang paling stabil, tetapi larut dalam
air, tahan panas, mudah rusak karena sinar matahari, oksidasi dan proses
reduksi.
Vitamin B12 berfungsi dalam sintesa protein dan dalam metabolisme
asam nukleat serta senyawa-senyawa yang mengandung satu atom C.
Peranan tersebut dalam bentuk metil-malonil CoA isomerase. Enzim ini
berperan dalam mengubah metil-malonil CoA menjadi suksinil CoA yang
berfungsi dalam siklus Krebs. Peranan lainnya adalah sebagai enzim L-
homosistein metilating. Enzim ini berisi koenzim metil kobalamin yang
bersama-sama folacin mengubah L-homosistein menjadi L-metionin.
Donasi metil ini diberikan oleh 5-metil THF dengan harus adanya
vitaamin B12.
Vitamin B12 banyak terdapat pada produk-produk hewan dan dalam
rumen ruminansia serta jaringan organ.. Vitamin B12 dibutuhkan relatif
sedikit oleh unggas. Protein dalam ransum akan meningkatkan kebutuhan
vitamin B12. Kebutuhan vitamin B12 juga tergantung pada level kolin,
metionin dan asam folat dalam ransum dan akan berinterelasi dengan asam
askorbaat dalam metabolisme tubuh. Substitusi isokalori lemak dengan
glukosa juga menekan vitamin B12 yang ditambahkan. Ini
mengindikasikan bahwa vitamin B12 penting pada metabolisme energi.
Vitamin B12 berperan penting dalam pembentukan darah merah.
Defisiensi kobalamin menyebabkan anemia karena sel-sel darah merah
yang tidak dapat masak. Defisiensi vitamin ini juga dapat menyebabkan
demyelinasi serta degenerasi yang irresersibel dari korde spinal,
inkoordinasi anggota badan (posterior), pertumbuhan lambat, mortalitas
meningkat, vitabilitas menurun dan daya tetas telur menurun.
h. Vitamin C (Asam Askorbat)
Vitamin C mempunyai dua bentuk, yaitu bentuk oksidasi (bentuk
dehydro) dan bentuk reduksi. Kedua bentuk ini mempunyai aktivitas
biologi. Dalam makanan bentuk reduksi yang terbanyak. Bentuk dehydro
dapat terus teroksidasi menjadi diketogulonic acid yang inaktif. Keadaan
vitamin C inaktif ini sering terjadi pada proses pemanasan. Dalam suasana
asam vitamin ini lebih stabil daripada dalam basa yang menjadi inaktif.
Formula vitamin C mirip dengan glukosa. Vitamin C bukanlah merupakan
bagian dari salah satu koenzim yang dikenal. Sebaliknya asam askorbat
berperan dalam sintesa kolagen, yang merupakan protein struktural dari
jaringan ikat. Struktur asam askorbat mirip dengan struktur monosakarida
tetapi mengandung gugus enediol dari mana pembuangan hidrogen terjadi
untuk menghasilkan dehidroaskorbat.
Dehidroaskorbat dihasilkan secara spontan dari vitamin C oleh
oksidasi udara, tetapi kedua bentuk secara fisiologis aktif dan ditemukan
dalam cairan tubuh. Vitamin C berperan sebagai transport elektron (sistem
redoks), enzim-enzim yang berperan dalam elektron transport adalah
ascorbic acid oksidase, cytochrome oxidase, flavin transhydrogenase. Ada
yang menyebutkan bahwa pada jaringan hewan tidak terjadi proses
oksidasi dengan vitamin C sebagai kaatalis respiratori, karena pada hewan
tidak ada enzim dehydro ascorbate reductase dan ascorbate oxidase.
Vitamin C juga berperan dalam metabolisme tirosin yaitu berperan dalam
enzim -hydroxy phenyl pyruvic acid oxidase sebagai katalisator
perubahan p-OH phenylpyruvic menjadi homogentisic acid. Sumber-
sumber asam folat yang potensial adalah daging, sayuran, terutama daun-
daun hijau. Beberapa tanaman serta hewan termasuk unggas dapat
mensintesa vitamin C.
Semua spesies ayam dapat mensintesis vitamin C (AsAc) di dalam
ginjal. Defisiensi vitamin C dapat menyebabkan "scurvy". Gejala ini
berkaitan dengan kebutuhan vitamin C guna sintesa kolagen. Oleh karena
itu, patologinya akan berkaitan dengan melemahnya pembuluh darah dan
kapiler bed (yang cenderung menimbulkan perdarahan), ulserari dan
lambatnya penyembuhan luka, serta perubahan-perubahan pada gigi dan
gusi. Pertumbuhan tulang terhambat dan lambatnya kesembuhan keretakan
tulang. Vitamin C hanya dibutuhkan oleh manusia, monyet dan marmut
dan tidak berperan penting bagi unggas
i. Vitamin D (Anti Rakhitis)
Vitamin D merupakan prohormon jenis sterol yang sah. Vitamin D
adalah istilah umum untuk derivat-derivat sterol yang larut dalam lemak
dan aktif dalam mencegah rakhitis. Sifat umum dari vitamin D adalah larut
dalam lemak dan lebih tahan terhadap oksidasi daripada vitamin A.
Vitamin D terdiri dari vitamin D2 dan D3. Vitamin D3 mempunyai tiga
peran pokok, yaitu : meningkatkan absorpsi kalsium di usus halus,
memungkinkan resorpsi kalsium dari tulang, dan meningkatkan ekskresi
fosfat dari ginjal. Bersama-sama dengan hormon paratiroid, hasil dari
aktivitas vitamin D adalah berupa peningkatan kadar kalsium dalam darah.
Sebelum vitamin D3 efektif, haruslah terlebih dahulu diaktifkan.
Sebagiannya diaktifkan di dalam hati, melalui konversinya menjadi 25-
hidroksikalsiferol (dengan hidroksilasi). Ini lalu diangkut ke ginjal, untuk
hidroksilasi berikutnya menjadi 1, 25- hidroksikalsiferol. Dalam bentuk
inilah vitamin ini sepenuhnya aktif. Di dalam darah, bentuk yang aktif
tersebut bekerja pada sel dari mukosa usus hingga terjadi sintesa suatu
mRNA yang spesifik, mRNA itu lalu menyebabkan diproduksinya protein
pembawa kalsium dari usus.
Oleh karena itu vitamin D memudahkan absorpsi kalsium dan
kemudian tentunya memperlancar kalsifikasi tulang. Defisiensi vitamin D
menyebabkan timbulnya rickets pada tulang karena kekurangan kalsium.
Keadaan ini dapat menimbulkan pembengkakan sendi, kaki yang
melengkung dan sebagainya. Seperti halnya vitamin A, vitamin D
diekskresikan dari tubuh secara amat perlahan, melalui empedu, eleh
karena itu apabila terlalu banyak dimakan dapat menimbulkan keracunan.
Kadar vitamin D yang tinggi di dalam darah mempengaruhi metabolisme
kalsium, hingga dapat terjadi problem neurologik, serta terjadinya deposisi
kalsium pada jaringan-jaringan lunak. Hal ini dapat terjadi apabila keadaan
berlangsung lama.
j. Vitamin E (Tokoferol)
Vitamin E (tokoferol) adalah minyak yang terdapat pada tumbuh-
tumbuhan, khususnya benih gandum, beras dan biji kapas. Susunan kimia
vitamin E terdiri dari nukleus chroman dan rantai samping isoprenoid.
Sifat umum vitamin E adalah tahan panas, mudah dioksidasikan dan rusak
apabila terdapat dalam lemak tengik. Terdapat tiga jenis vitamin E, yaitu
tokoferol. Perbedanya terletak pada gugus R1, R2 dan R3. -tokoferol
adalah bentuk vitamin E yang paling aktif atau paling efektif, sedang
efektivitasnya sebagai antioksidan berturut-turut dari , dan .
Vitamin E berperan sebagai kofaktor untuk sitokrom reduktase pada
otot rangka dan otot jantung. Vitamin E juga berfungsi sebagai anti
oksidan, yaitu mencegah oto oksidasi pada asam-asam lemak tak jenuh
serta menghambat timbulnya peroksidasi dari lipida pada membran sel.
Selain itu juga berfungsi dalam reaksi fosforilasi, metabolisme asam
nukleat, sintesis asam askorbat dan sintesis ubiquinon, reproduksi,
mencegah encephalomalasia dan distorsi otot. Vitamin E terdapat di alam
yaitu pada lemak dan minyak hewan atau tanaman terutama bagian
kecambah gandum, telur, dan colustrum susu sapi. Defisiensi vitamin E
dapat menyebabkan degenerasi epitel germinal pada hewan jantan serta
resorpsi embrio pada hewan betina (pada mamalia) yang tergantung pada
vitamin E.
k. Vitamin K
Vitamin K disintesis oleh tanaman dan mikroorganisme. Dalam
tanaman, sintesis tersebut terjadi pada daun hijau dan proses tersebut
terjadi dengan pertolongan sinar matahari. Vitamin K adalah substitusi
poliisoprenoid naftokuinon. Vitamin K adalah vitamin untuk pembekuan
darah. Vitamin K penting untuk pembentukan protrombin (faktor II), serta
tissue thromboplastin (faktor VII), plasma thromboplastin (faktor IX) dan
stuart factor (faktor XX) yang bersifat esensial untuk pembekuan darah.
Vitamin K penting untuk sintesa empat macam protein darah yang ada
hubungannya dengan pembekuan darah yaitu : prothrombin, plasma
thromboplastin, prokovertin dan faktor Stuart.
Pada proses pembekuan darah fungsi vitamin K adalah menstimulir
proteombin menjadi thrombin. Langkah berikutnya adalah thrombin
menstimulir fibrinogen dalam plasma darah menjadi fibrin. Fibrin inilah
yang berperan dalam pembekuan darah. Vitamin K terdiri dari vitamin K1
(filloquinon) yang berasal dari nabati., vitamin K2 (menaquinon) yang
berasal dari hewani. Vitamin K3 (menadion) adalah bentuk aktif vitamin K
dalam tubuh. Vitamin K dalam bentuk "farnoquinon" dibuat oleh
mikroorganisme di dalam saluran cerna. Sifat dari vitamin K adalah sedikit
larut dalam air, tahan panas, tahan oksidasi dan tidak tahan radiasi
matahari.
Sumber vitamin K adalah hijauan, jaringan hewan, tepung ikan yang
sedang membusuk terutama berasal dari bakteri baccillus brevis,
mycobacterium tuberculosis, baccilus subtilis dan lactobacillus casei,
bakteri saecina lutea, escherachia coli, proteus vulgaris dan chromatium
vinosum dan bakteri pseudomas pyocyanea dan corynebacterium
tuberculosis. Defisiensi vitamin K dapat menyebabkan timbulnya
perdarahan karena darah yang sulit membeku, anemia dan perkembangan
tulang hipoplastis. Terdapat keracunan potensial dari dosis tinggi vitamin
K, khususnya menadion dapat menyebabkan hemolisis dan memperberat
hiperbilirubinemia.

D. METABOLISME VITAMIN
Vitamin yang larut lemak atau minyak, jika berlebihan tidak dikeluarkan oleh,
tubuh, melainkan akan disimpan. Sebaliknya, vitamin yang larut dalam air, yaitu
vitamin B kompleks dan C, tidak disimpan, melainkan akan dikeluarkan oleh
sistem pembuangan tubuh. Akibatnya, selalu dibutuhkan asupan vitamin tersebut
setiap hari. Vitamin yang alami bisa didapat dari sayur, buah dan produk hewani.
Seringkali vitamin yang terkandung dalam makanan atau minuman tidak berada
dalam keadaan bebas, melainkan terikat, baik secara fisik maupun kimia. Proses
pencernaan makanan, baik di dalam lambung maupun usus halus akan membantu
melepaskan vitamin dari makanan agar bisa diserap oleh usus. Vitamin larut
lemak diserap di dalam usus bersama dengan lemak atau minyak yang
dikonsumsi.
Vitamin diserap oleh usus dengan proses dan mekanisme yang berbeda.
Terdapat perbedaan prinsip proses penyerapan antara vitamin larut lemak dengan
vitamin larut air. Vitamin larut lemak akan diserap secara difusi pasif dan
kemudian di dalam dinding usus digabungkan dengan kilomikron (lipoprotein)
yang kemudian diserap sistem limfatik, baru kemudian bergabung dengan saluran
darah untuk ditransportasikan ke hati. Sedangkan vitamin larut air langsung
diserap melalui saluran darah dan ditransportasikan ke hati. Proses dan
mekanisme penyerapan vitamin dalam usus halus diperlihatkan pada Tabel 1.



Tabel 1. Proses dan Mekanisme Penyerapan Vitamin dalam Usus Halus
Jenis Vitamin Mekanisme Penyerapan
Vitamin A, D, E, K dan
beta-karoten
Dari micelle, secara difusi pasif, digabungkan
dengan kilomikron, diserap melalui saluran
limfatik.
Vitamin C Difusi pasif (lambat) atau menggunakan Na
+

(cepat)
Vitamin B
1
(Tiamin) Difusi pasif (apabila jumlahnya dalam lumen
usus sedikit), dengan bantuan Na
+
(bila
jumlahnya dalam lumen usus banyak).
Vitamin B
2
(Riboflavin) Difusi pasif
Niasin Difusi pasif (menggunakan Na
+
)
Vitamin B
6
(Piridoksin) Difusi pasif
Folasin (Asam Folat) Menggunakan Na
+

Vitamin B
12
Menggunakan bantuan faktor intrinsik (IF) dari
lambung.
Sumber : Muchtadi, 2009











BAB III
KESIMPULAN

Vitamin adalah sekelompok senyawa organik amina berbobot molekul
kecil yang memiliki fungsi vital dalam metabolisme setiap organisme, yang tidak
dapat dihasilkan oleh tubuh. Secara klasik, berdasarkan kelarutannya, vitamin
digolongkan dalam dua kelompok, yaitu (1) vitamin yang larut dalam lemak, yaitu
vitamin A, D, E, K dan (2) vitamin yang larut dalam air yaitu B, C, karena yang
pertama dapat diekstraksi dari bahan makanan dengan pelarut lemak dan yang
terakhir dengan air.
Vitamin memiliki peranan spesifik di dalam tubuh dan dapat pula
memberikan manfaat kesehatan. Bila kadar senyawa ini tidak mencukupi, tubuh
dapat mengalami suatu penyakit. Vitamin diperkirakan berperan sebagai
katalisator dalam reaksi biokimia tubuh. Vitamin dapat berperan secara
bersamasama dalam mengatur fungsi tubuh, misalnya memacu dan memelihara :
Pertumbuhan, Reproduksi, Kesehatan dan kekuatan tubuh, Stabilitas sistem
syaraf, Selera makan, Pencernaan, Penggunaan zat-zat makanan lainnya. Selain
itu vitamin berperan sebagai antioksidan, yakni zat untuk menghindari
terjadinya radikal bebas (free radikal bebas).
Vitamin diserap oleh usus dengan proses dan mekanisme yang berbeda.
Terdapat perbedaan prinsip proses penyerapan antara vitamin larut lemak dengan
vitamin larut air. Vitamin larut lemak akan diserap secara difusi pasif dan
kemudian di dalam dinding usus digabungkan dengan kilomikron (lipoprotein)
yang kemudian diserap sistem limfatik, baru kemudian bergabung dengan saluran
darah untuk ditransportasikan ke hati. Sedangkan vitamin larut air langsung
diserap melalui saluran darah dan ditransportasikan ke hati.

DAFTAR PUSTAKA

Dr. Ir. Wahyu Widodo. 2010. Dasar Ilmu Nutrisi Ternak. Universitas
Muhammadiyah Malang, Malang.
Wiguna, Candra. 2014. Ilmu Kesehatan Masyarakat. (online). Available at :
http://ilmukesmas.com/vitamin-c-asam-askorbat/ (diakses pada 13 Oktober
2014)
Tilman A. D., H. Hari, R. Soedomo, P. Soeharto, dan Soekamto. 1989. Ilmu
Makanan Ternak Dasar . Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Muchtadi, Deddy. 2009. Pengantar Ilmu Gizi. Bandung: Alfabeta.
Rusli, Patimah. 2013. Makalah Vitamin Biokimia. (online). Available at :
http://patimahlina.blogspot.com/2013/08/makalah-vitamin-biokimia-
share.html (diakses pada 13 Oktober 2014)



MAKALAH NUTRISI TERNAK
VITAMIN DAN METABOLISMENYA
Disusun Oleh :
KELAS E
KELOMPOK 11

ALDILLA RIFQI M 200110130250
CITRA FARADITA UTAMI 200110130273
INDRA PERMANA 200110130274






FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2014