Anda di halaman 1dari 55

FARMAKOGNOSI

Definisi Farmakognosi
Berasal dari bahasa latin
Pharmacon : obat
Gnosis : pengetahuan
Jadi Pharmacognosi adalah ilmu
pengetahuan yang menyelidiki bahanbahan
baik berasal dari tumbuh-tumbuhan maupun
hewan dan juga beberapa mineral yang
mempunyai khasiat sebagai obat.








SEJARAH









Berkembang dari peradaban kuno digunakan bagian
dari tumbuh-tumbuhan dan hewan untuk
penyembuhan, dari mantera, ilmu sihir, dan
berkembang terus sebagai resep rahasia yang tak
tertulis .
Pelajaran farmakognosi sekarang tidak berdasarkan
tukang sihir/mistik melainkan suatu spesialisasi dari
ilmu pendidikan farmasi.
Berkembang terus dari zaman ke zaman berdasarkan
pengalaman (empiris) sampai sekarang di kenal
theraputik agents.
Dalam sejarah obat-obatan terkenal nama-nama:








Hippocrates (460370 SM) sebagai Bapak pengobatan
dan banyak karangannya mengenai anatomi, fisiologi
manusia.
Aristotle (370322 SM) murid Plato, berusaha memisahkan
tahayul dari kenyataan dalam tulisannya mengenai dunia
hewan.
Theophrastus (370287 SM) murid Aristotle mengenai
dunia tanaman.
Dioscorides seorang dokter Yunani (78 SM) menulis De
Materia Medica . Di dalamnya di tulis 600 tumbuh-tumbuhan
yang mengandung obat. Hal ini sangat menakjubkan dan
penting bagi pengobatan modern









Galen (131200 M) seorang dokter dan juga
farmasis Yunani menulis tentang cara-cara
penyediaan dari bahan obat yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan dan hewan. Sebagai
penghormatan atas jasa-jasany penyelidikannya
disebut Galenika. Dari sini ilmu farmasi di
mulai dan di pisahkan dari tugas dokter. Dokter
mendiagnosa dan menulis obat-obat
farmasis/apoteker mengkoleksi, menyediakan
dan mencampur bahan-bahan obat.
C. A Seydler (1815) Pharmacognosy mulai di
kembangkan oleh Seydler. Pharmacognosi
memegang peranan penting sebagai
penghubung antara farmakologi, kimia farmasi,
farmasetika.








Pada tahun 1737 linnaeus, seorang ahli botani swedia,
menulis buku Genera Plantarum yang kemudian
menjadi buku pedoman utama dari sistematik botani,
sedangkan farmakognosi modern mulai dirintis oleh
Martiuss, seorang Apoteker jerman dalam bukunya
Grundriss Der Pharmakognosie Des Planzenreisches
telah menggolongkan simplisia menurut segi morfologi,
cara-cara untuk mengetahui kemurnian simplisia.









Farmakognosi metode untuk
identifikasi, evaluasi.
Fitokimia isolasi, sintesa.
Farmakologi Farmakognosi kimia
farmasi.
Farmasetika farmakognosi farmasi
klinik.








Proses penemuan senyawa obat dari tanaman :
proses yang cukup panjang, melalui
1.Etnofarmakologi, (adanya informasi-informasi
penggunaan suatu tumbuhan untuk pengobatan suatu
penyakit)
2. Diikuti dengan percobaan eksperimental untuk
membuktikan khasiat/ aktifitas biologi
3. Isolasi dan beberapa tahap fraksinasi yang diiiringi
dengan monitoring khasiat sehingga diperoleh senyawa
murni
4. Elusidasi struktur guna menentukan struktur molekul.
5.Tahap selanjutnya adalah uji khasiat hasil isolasi
6. Mencari formula :suatu bentuk sediaan farmasi yang
dapat diterima oleh konsumen. Upaya lain yaitu dengan
melakukan sintesis beserta modofikasi-modifikasi molekul
untuk memperoleh senyawa obat tersebut, ataupun
senyawa lain yang serupa yang kemungkinan mempunyai
khasiat lebih potensial dan efek samping yang lebih sedikit.
Perkembangan obat herbal Indonesia
Beberapa publikasi tanaman obat
antara lain De Indiae Utriusquere
Naturalis et Medika (1665), Herbarium
Amboinense (1741), Jamu asli Indonesia
(1940), Apotik Hijau (1980), Materia
Medika I VI, Tanaman obat keluarga
sampai pada Fitofarmaka (2005).
Farmakope Herbal Indonesia (2009)








Penduduk Indonesia lebih 200 juta jiwa, merupakan
unsur yang sangat potensial untuk obat herbal.
Budaya bangsa Indonesia untuk mengkonsumsi
jamu guna pemeliharaan kesehatan merupakan
salah satu penunjang perkembangan obat herbal.
Presiden RI mencanangkan merupakan Tahun
Kebangkitan Jamu (2008)
Umumnya Tujuan masyarakat menggunakan
tanaman obat untuk menjaga kondisi tubuh agar
tetap sehat, mencegah maupun menyembuhkan
penyakit, memulihkan kondisi tubuh (rehabilitatif).
Tidak dapat dipungkiri penggunaan obat herbal di
Indonesia merupakan bagian dari budaya Indonesia,
dan makin lama makin berkembang, meskipun
umumnya efektivitas dan keamanannya belum
banyak didukung oleh penelitian yang memadai.
Faktor yang mendorong masyarakat Indonesia
menggunakan obat Herbal








Efek samping yang lebih kecil
Ketidakpuasan terhadap obat modern,
Timbulnya kesadaran akan gaya hidup sehat yang
lebih cenderung pada unsur pencegahan dan harga
relative lebih murah,
Persepsi masyarakat bahwa karena berasal dari
bahan alam, maka obat tradisional itu aman perlu
diluruskan.
Dalam Industri obat herbal ada 3 pihak yang terkait
erat :petani, industri dan konsumen.
Peran petani sangat menentukan untuk
menghasilkan suatu simplisia yang memenuhi
standar mutu sebagai bahan baku.
Mengingat bahwa kandungan kimia aktif dalam
tanaman dipengaruhi oleh faktor eksternal (tempat
tumbuh meliputi: tanah, suhu, iklim, cuaca panen
dan pasca panen) dan internal.

SIMPLISIA (MMI)








DEFINISI :
Simplisia adalah bahan alamiah
yang digunakan sebagai obat yang belum
mengalami pengolahan apapun juga dan
kecuali dinyatakan lain, berupa bahan
yang telah dikeringkan.
DIPAKAI UNTUK MENYEBUT BAHAN-BAHAN
OBAT ALAM YANG MASIH BERADA DALAM
WUJUD ASLINYA








1. SIMPLISIA NABATI
Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa
tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat
tanaman. Eksudat tanaman ialah isi sel yang secara
spontan keluar dari tanaman atau isi sel yang
dengan cara tertentu (disengaja) di keluarkan dari
selnya, atau zat nabati lainnya yang dengan cara
tertentu di pisahkan dari tanamannya dan belum
berupa zat kimia murni.Contoh : Folium, Herba, Flos,
Cortex, Radix, Lignum, Fructus, Semen. Eksudat:
Gummi arabicum, tragacan








2. SIMPLISIA HEWANI
Simplisia hewani ialah simplisia yang berupa hewan
utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang
dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia
murni.
Contoh : hormon, enzym, tulang dan lain-lain.

3. SIMPLISIA PELIKAN (MINERAL)
Simplisia pelikan (mineral) ialah simplisia yang
berupa bahan pelikan (mineral) yang belum diolah
atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum
berupa zat kimia murni.
Contoh : CaCO3, kaolin .
Tata Nama Simplisia








Nama latin Simplisia ditetapkan dengan menyebut nama
Marga (Genus), atau nama Species (Jenis) atau
petunjuk lain dari Tanaman Asal, diikuti bagian tanaman
yang dipergunakan. Ketentuan ini tidak berlaku untuk
simpisia nabati yang diperoleh dari beberapa macam
tanaman yang berbeda marganya maupun untuk
eksudat tanaman
Nama latin simplisia hewani dan pelikan ditetapkan
dengan menyebut nama latin yang paling umum bagi
simplisia
Nama Indonesia: untuk semua jenis simplisia di tulis
dengan mentebutkan nama daerah yang paling lazim.
Bagian yang digunakan disebut sebelum nama simplisia
tersebut (di depan)








Nama latin tan. Bag. Yg digunakan Latin simplisia
Indonesia

Abrus precatorius Daun Abri Folium
Daun Saga

Curcuma domestica Rimpang Curcumee domesticae Rhizoma
Rimpang kunyit

Chincona Succirubra Kulit batang Chinconae Cortex
Kulit Kina Chinae Cortex

Piper nigrum Biji Piperis nigri Semen
Lada hitam

Rosa gallica Bunga Rosae Flos
Bunga mawar








Tumbuhan:
- Radix = Akar
- Fructus = Buah
- Cortex = Kulit
- Semen = Biji
- Lignum = Kayu
- Herba = Seluruh bagian tumbuhan
- Flos = bunga
- Caulis = Batang
Hewan; Hormon, enzim
Mineral : CaCO3, Kaolin








Simplisia tanaman makroskopis dan mikroskopis
Makroskopis: Morfologi Tanaman
Mikroskopis: Anatomi Tanaman
Morfologi Tanaman:
. Folium: bagian-bagian daun (petiolus, lamina dan
vagina)
Bentuk/bangun daun (Apex folii, Basis folii, nervatio,
margo folii, warna, permukaan, daun majemuk atau
tunggal)
Caulis: bentuk permukaan,
Radix: monokotyledonae atau dikotyledonae
Metamorfosis akar, batang dan daun (Rhizome, tuber,
bulbus)
Fructus: ( buah semu, buah sejati)
Semen
Simplisia untuk Perdagangan
Meliputi :
. Cara pengambilan simplisia (panen)
Cara pengeringan
Cara pengawetan
Cara penyimpanan dll








Pengambilan Simplisia (Panen)
Pengambilan simplisia sangat
penting

Zat berkhasiat
Tehnik pengumpulan simplisia
(Good Collection Practise)








Zat berkhasiat tersebut paling banyak yang paling penting
yaitu musim dan umur apakah pagi atau sore dsb.
Secara jelas untuk bahan obat/ simplek, panen dapat pula
diartikan pengumpulan.
Beberapa simplisia dapat dikumpulkan
> sembarangan dari tumbuhan liar tanpa keahlian, misalnya
Ipecae Radix.
> Cara yang kedua yaitu cara panen yang memerlukan
keahlian berdasarkan ilmu pengetahuan dan biasanya dari
tanaman yang penanamannya teratur di kebun-kebun atau
tanaman yang di kultivasikan.
Contohnya : yang memerlukan keahlian yang berdasarkan
ilmu pengetahuan ialah Digitalis Folium, Belladonna Folium
dan Chinae Cortex.
Di Eropa diadakan research-research khusus mengenai
penyebaran, kultivasi, panen, pengeringan, dan penyimpanan
simplisia.








Cara pengumpulan bagian-bagian tanaman yang di
pergunakan sebagai bahan obat sebagai berikut :
Daun : dipanen waktu proses fotosintesis masih aktif, yaitu
pada waktu hampir berbunga
Bunga : diambil dan dikumpulkan sesaat setelah terjadi
penyerbukan/pembuahan. Kadang-kadang diambil pada
waktu bunga belum mekar. Untuk yang mengandung minyak
atsiri sebaiknya di panen sebelum mekar
Herba : diambil ketika tumbuhan sedang mencapai tumbuh
optimum. Lebih baik lagi kalau tumbuhan sedang berbunga.
Buah : sebaiknya dilakukan sebelum buah masak benar.
Umumnya yang diambil dari buah ini adalah biji.
Contoh yang diambil sebelum masak yaitu lateks, daging
buah.
Yang di ambil dari buah yang sudah masak benar contohnya
Formiculi Fructus, kopi coklat dll








Biji : di ambil kalau buah masak benar.
Rhizoma-Radix : diambil setelah selesai proses vegetatif.
Pada tumbuhan terdapat zat penumbuh yaitu auxin. Jika
pertumbuhan telah selesai berarti tumbuhan sudah cukup
tua. Pada zingiberaceae umumnya di anggap cukup tua bila
umurnya kurang lebih setahun / 8 bulan.
Rhizoma sangat penting karena kalau di ambil sudah
tua/kering : kadar amylumnya tinggi, kadar minyak atsiri
tinggi, kadar air rendah. Sebagai tanda dimana rhizome dapat
diambil baik: daun-daun sudah layu dan kering.
Cortex : diambil bila tumbuhan sudah cukup besar umumnya
zat berkhasiat terdapat dalam serat terutama alkaloid.
Lignum : diambil dari batang pohon yang sudah tua. Zat-zat
yang di ambil dari lignum antara lain :
Zat warna misalnya : Santali Lignum, Santalini Lignum,
Sasafras Lignum, Quassiae Lignum, glikosida makin tua
makin tinggi.








Sebelum dikeringkan perlu di perhatikan :
Pengotoran perlu dibersihkan, pada pengumpulan
pengotoran organ-organ lain harus dihilangkan sesuai
dengan syarat-syarat pengotoran suatu simplek yang di
cantumkan dalam monografi farmakope/MMI.

Contohnya :
Daun tidak boleh lebih dari sekian prosen pengotoran
gagang/tangkai atau zat organik asing.
Untuk Rhizoma dan Radix syarat pengotoran yang di
perbolehkan sampai sekian % adalah pengotoran dari
bagian tanaman sebelah atas tanah.Organ dibawah tanah
harus bebas tanah, misalnya dengan cara waktu panen
tanaman digoyangkan sebelum di keringkan. Rhizoma yang
bercacing harus di buang. Akar-akar yang kecil harus di
potong. Sebelum di keringkan harus di iris-iris,
Biji yang berasal dari buah berlendir harus di cuci dulu.








CARA PANEN
Ada beberapa macam :
Dengan tangan
Secara mekanik

Dengan tangan : contohnya Digitalis Folium, Nicotianae
Folium, karena harus dipetik secara teliti untuk
mendapatkan alkaloid yang tertinggi dan ini berdasarkan
pengalaman. Tidak dilakukan secara mekanik walaupun
lebih ekonomis.
Secara mekanik : contohnya untuk simplisia yang
mengandung minyak atsiri, tapi harus diperhatikan
misalnya pisaunya, kulit batang biasanya dipanen dengan
pisau tertentu pula.








Penanganan Pasca Panen harus diperhatikan karena
dengan penanganan yang salah akan berakibat terhadap
kandungan kimia tanaman. Harus dipahami betul kapan
melakukan panen, bagaimana cara pengeringan suatu
simplisia, mengingat kandungan kimia mempunyai sifat
yang berbeda-beda, misalnya mudah menguap, tidak tahan
panas. Enzim-enzim dalam tanaman masih dapat terus
bekerja, yang kemungkinan akan mengubah kandungan
kimia aktif menjadi kandungan yang tidak aktif atau bahkan
menjadi senyawa yang toksik. Sampai saat ini mutu
simplisia umumnya kurang memadai persyaratan yang
diperlukan, karena penanganan pasca panen kurang tepat
dan masih terbatasnya IPTEK serta lemahnya kualitas
sumber daya petani tumbuhan obat.
Tidak jarang terjadi problem di lapangan antara lain tentang
pengumpulan dari sumber dan kualitas yang berbeda,
kelangkaan suplai, penanganan pasca panen, proses
pengeringan dan kontaminasi, kandungan logam berat, dll

Guna menjamin keamanan mutu dan khasiat (safety, quality,
efficacy) obat bahan alam, harus dilakukan standarisasi meliputi
standarisasi bahan baku (Simplisia dan Ekstrak yang meliputi:
kadar air, kadr abu, residu pelarut, residu pestisida, kontaminasi
mikroba, cemaran logam berat, aflatoksin dan campuran dengan
simplisia lain, kandungan kimia dari suatu simplisia), produk,
proses dan metodologi.
Kita semua paham: Indonesia mempunyai kekayaan bahan alam
luar biasa, tetapi lemah dalam :
- Pemanfaatan yang berkesinambungan
- Penyediaan dalam jumlah memadai,
- Standarisasi yang terkait dengan kualitas,
keamanan dan khasiat.








Pengeringan

Tujuan Pengeringan:
Untuk membantu pengawetan bahan.
Untuk mengurangi volume berat bahan.
Untuk mempermudah pembuatan, bentuk-
bentuk yang umum digunakan dalam
perdagangan.
Untuk mencegah reaksi enzymatik
Untuk mencegah perubahan-perubahan kimiawi
Apa yang dimaksud dengan kering dari simplek : simplek
masih mengandung kadar air tertentu misal Digitalis Folium
kering, masih mengandung air < 5 %.

Kadar air di perlukan terutama dalam pengolahan simplisia,
baik secara langsung sebagai obat atau sebagai bahan obat.
Kadar air di perlukan untuk menghitung simplisia segar yang
harus di ambil untuk membuat sediaan .

Misalnya untuk pembuatan infus/dekok dari simplisia kering.
Berapa yang harus diambil dari simplisia segar. Ini dapat di
perhitungkan.
CARA PENGERINGAN
Secara alami : dengan sinar matahari.
Secara buatan : - Penaikan suhu
- Pengurangan tekanan
- Vakum.
Secara kimia : dengan menggunakan zat
pengering.
Secara fisik : dengan sinar I.R dan cara
gelombang radiasi.

Secara alami
Matahari langsung
Tidak langsung : - terbuka
- bangsal ditutup








Contoh :
Langsung : di udara terbuka pada cuaca baik untuk :
Caryophylli Flos
Cinnamomi Cortex , Cardamomi Fructus
Tapi suatu pengeringan pada malam hari atau cuaca lembab
maka pengeringan dilakukan pada bangsal tertutup atau
dengan memberi penutup di atas bahan yang di keringkan.
Tidak langsung
Pengeringan tanpa pemanasan buatan sebaiknya dilakukan
dalam bangsal-bangsal kecuali :
Mentha piperitae Folium : mula-mula pengeringan dilakukan
di ladang-ladang.
Bunga dan buah dapat pula digunakan tempat dalam bangsal
yang dasarnya berupa anyaman kayu yang kemudian dialasi
dengan kertas penyerap (koran).








Pengeringan dengan panas buatan lebih cepat dan sesuai
untuk tempat dalam udara dingin daripada udara terbuka.
Untuk bahan obat yang dikeringkan dalam jumlah sangat
sedikit sangat sesuai bila dikeringkan menggunakan ruang
vakum dengan suhu serendah mungkin.
Dengan menaikkan suhu : 400-600C tanpa pengurangan
tekanan : menggunakan lemari pengering.
Contoh : untuk simplisia tahan panas (termostabil).
Dengan pengurangan tekanan (vakum) : untuk simplisia
mengandung minyak atsiri.
Dan sering di bolak-balik, agar semua bagian rata.
Kering sudah cukup bila daun diremas cukup rapuh.
Cara pengeringan di daerah dingin, tropis, dan subtropis
berlainan.








Kimia (dengan penambahan zat-zat pengering)
untuk bahan-bahan termolabil.

Contoh-contoh cara pengeringan :
Bunga, daun : harus hati-hati dan secepat mungkin pada
suhu cukup rendah (400-600C), karena umumnya
mengandung minyak atsiri, warna akan tetap, bau tidak
hilang.
Rhizoma Radix :
Radix dan rhizoma yang besar diiris membujur/
melintang dengan tujuan untuk mempermudah
pengeringan
Harus diperhatikan
> bila kurang hati-hati akan ditumbuhi
jamur, maka harus sering di aduk dan di bolak-balik.
> mengetahui pengeringan di bagian padat harus
dipatahkan, di potong dan di tengah harus kering.








- Cortex
Biasanya dengan sinar matahari langsung/di tempat
teduh.
Sesudah di keringkan harus langsung di simpan di tempat
yang tertutup.
Kulit kina mengandung alkaloid, kina yang mudah rusak
bila lembap, maka di keringkan dengan cara buatan

- Pengeringan buah dan biji
Umumnya di panaskan dengan sinar matahari
langsung/dengan penteduhan.
Sesudah di keringkan harus langsung di simpan di tempat
yang tertutup.
Untuk vanili di perlukan pengeringan yang khusus. Proses
pengeringan fermentasi dimana zat di ubah menjadi
wangi.








Hal-hal yang perlu di perhatikan pada waktu pengeringan :
Bila enzym dalam simplek di perlukan maka pengeringan di
lakukan perlahan-lahan, misal pada :
Vanilae Fructus
Cacao Semen
Gentionae Radix
Bila enzym-enzym tidak di perlukan maka pengeringan di
lakukan segera setelah panen.
Bahan-bahan yang mengandung minyak atsiri harus di jaga
agar aromanya tidak hilang segera di suling untuk di ambil
minyak atsirinya.
yang mengandung air dalam jumlah banyak/menyebabkan
tumbuh dan berkembangnya jamur, maka sangat mungkin
alat-alat pengering dekat dengan tempat panen.
PEMALSUAN DAN PENURUNAN MUTU SIMPLISIA
"Simplisia dianggap bermutu rendah
"Simplisia dianggap rusak
"Simplisia dinyatakan bulukan
"Simplisia dinyatakan tercampur
"Simplisia dianggap dipalsukan

PENAMAAN GENUS SPESIES









PENGAWETAN
Tujuan utama pengawetan simplisia adalah untuk :
Mencegah agar simplisia tidak rusak (kandungan kimia
tidak rusak).
Untuk mencegah terjadinya reaksi-reaksi terutama
Reaksi enzymatis pada waktu simplek tidak di simpan
yang yang dapat menyebabkan :
Kadar zat aktif turun.
Mengurangi mutu morfologis simplek tersebut.
Merusak sama sekali kadar-kadar mutu simplek.
Reaksi biokimia.
Mencegah pembusukan akibat berkembangnya bakteri
dan jamur.








Cara Pengawetan
Dengan pengeringan (menghilangkan/mengurangi kadar air)
Alasan :
Adanya air merupakan :
Medium yang baik untuk reaksi biokimia, reaksi enzymatik
telah terbukti bahwa kadar air di bawah 5% dalam suatu
simplisia akan menyebabkan aktivitas enzymatik terhenti
karena kadar air di bawah 5% terlalu rendah untuk reaksi
enzymatik.
Adanya air merupakan media baik untuk tumbuh jamur atau
bakteri.
Akibatnya : bahan rusak, beracun.
Stabilisasi dengan pemanasan
Perusakan enzym dalam bahan obat dapat di
hilangkan dengan pemanasan hanya dapat
di lakukan untuk simplisia yang konstituen
aktifnya termostabil.
Caranya :
Pemanasan pada suhu 800C
Protein akan terendapkan dan enzym-enzym
jadi tidak aktif.
Pemanasan dalam air mendidih/dengan uap
air








Bahan obat di masukkan dalam air mendidih
sedikit-sedikit. Suhu selama pemanasan simplisia di
jaga terus agar tidak berkurang dari titik didih.
Pemanasan selama 30 menit, cukup untuk
menghancurkan enzym secara sempurna. Selain itu
di ketahui tanaman-tanaman tertentumengandung
asam-asam organik yang menyebabkan
terhidrolisannya glukosida-glukosida atau alkaloid
ester. Untuk mencegah terhidrolisannya zat-zat
tersebut, pada pemanasan dengan air mendidih/uap
air, ditambahkan CaCO3 untuk menetralkan asam-
asam organik tersebut.
Pemanasan dengan etanol (ethyl alkohol) dengan
tekanan lebih kurang dari 1 atm.








Penyimpanan
cara penyimpanan suatu bahan obat tidak ada suatu
keistimewaan.
Tempat penyimpanan : tempat/gudang, dingin, di aliri
udara kering.
Untuk jumlah sedikit : dalam wadah tertutup rapat dan
tahan sinar yang terbuat dari gelas, kaleng timah, gelas
coklat dll, suhu rendah (biologi 2-80C).
Bila di simpan dalam kotak kayu dan kantong kertas
akan mengabsorbsi kembali uap air udara 10-12% (>12%)
yang di sebut kekeringan udara karena uap airnya di serap
simplek. selain itu akan di rusak oleh serangga, tikus,
bau simplisia akan campur aduk.








Pengepakan
- Bentuk dalam perdagangan.
- Melindungi bahan.
- Tidak banyak makan tempat.
Tujuan pengepakan :
Untuk melindungi terhadap ;
Sinar dan uap air/kelembaban
Gangguan serangga, tikus.

Alat yang di gunakan /Wadah : Dari kayu/kotak.
Kantong/anyaman.
Gallon/drum baja.









Bahan obat misalnya digitalis folium tidak boleh di
biarkan dalam kekeringan/kelembaban udara, hal ini akan
menyebabkan pengurangan aktivitas. Bahan ini harus di
simpan dalam tempat tertutup rapat dengan zat penarik
air dalam jumlah banyak, bagian bawah tempat digitalis
tersebut di beri kapur yang di pisahkan dari daun
digitalis dengan lubang-lubang (seperti pada exikator)
bila kapur telah basah harus segera di ganti
Bahan obat yang mengandung minyak lemak atau
minyak atsiri harus di simpan dalam tempat tertutup
rapat, dingin, dan gelap.
Untuk minyak lemak, udara diatasnya sebaiknya di ganti
dengan gas inert (untuk mencegah oksidasi yang
menyebabkan ketengikan).
Syarat-syarat penyimpanan lihat Pharmacope.
Evaluasi Simplisa








Mengidentifikasi kualitas, kemurnian dari bahan obat.
Identifikasi dalam prakteknya dapat di lakukan :
Menurut cara yang telah ada
Dapat juga dengan membandingkan suatu simplek yang di
periksa dengan bahan baku yang telah diketahui
kualitas/kemurniannya. Kualitas terutama di tujukan terhadap
nilai/kadar dalam bahan obat tersebut.
Biasanya di sebut intensive value








Evaluasi dapat di lakukan menurut
beberapa metode/cara sbb:
Organoleptik
Makroskopik, mikroskopik
Biologi
Kimia
Fisika








Organoleptik
Pengamatan dilakukan dengan mempergunakan organ-
organ termasuk perasa, bau, peraba.
Pemeriksaan meliputi :
Bentuk dan ukuran
Warna luar dan bentuk permukaan
Warna dalam
Bau dan rasa.
Cara ini terutama di lakukan terhadap organ tumbuh-
tumbuhan misal : Folia, Cortex, Lignum, dsb.








Makroskopik, mikroskopik
Cara ini di lakukan terhadap bahan obat di mulai
1847: C.A.Seydler memeriksa Sarsaparilla.
Pemeriksaan meliputi mikroskopik
Untuk mengetahui adanya jenis
pengotoran/pemalsuan, misal : Orthosiphonis
Folia biasanya di campur Eupatorini Folia.
Untuk mengetahui kemurnian serbuk bahan obat
Untuk mengetahui mikrophologi/histologi dari
suatu bagian tumbuhan.
Prinsip pemeriksaan : bahwa untuk bagian
tertentu dari suatu species atau varietas
mempunyai ciri khas.








Ragam pereaksi yang digunakan:
Hydras Chlorali / Kloral Hidrat 70% untuk clearing
agent yang fungsinya melarutkan amylum dan
chlorophyl sehingga bentuk sel jelas
Gliserin murni
Anilin sulfat : mewarnai lignum kuning
Floroglucin HCl :mewarnai lignum merah
Sudan III : untuk minyak merah
Gabus dengan suberin merah
H2SO4 pekat, FeCl3, HCl, HAc








Selain cara di atas di kenal juga pemeriksaan jaringan secara kuantitatif ini
di lakukan terutama pada daun.Dalam pemeriksaan ini biasa di lakukan
pemeriksaan
Index stomata
Index pallisade.

Index Stomata (Is)
Is : Prosentase dari perbandingan jumlah stomata persatuan luas tertentu
dengan jumlah epidermis dan stomata pada jumlah yang sama.
Is : S/E X 100%
I : Index Stomata.
S : Jumlah stomata persatuan luas tertentu.
E : Jumlah epidermis pada luas yang sama.

Index Pallisade
Ip : adalah jumlah rata-rata sel pallisade di bawah satu sel epidermis.
Untuk memudahkan perhitungan dihitung jumlah sel pallisade di
bawah 4 sel epidermis.

Tiap species atau varietas mempunyai Ip dan Is tidak sama. Data ini dapat di
gunakan sebagai pegangan menentukan kemurnian zat.Selain pemeriksaan
mikromorfologi dapat juga dengan mikroanalisa, ini termasuk mikrokimia,
memeriksa bahan obat dengan menggunakan pereaksi kimia dalam jumlah
kecil.








Biologi
Pemeriksaan dimana diperlukan organisme hidup
sebagai bahan pemeriksaan di sebut pemeriksaan
biologi.
Beberapa bahan obat kadang-kadang di perlukan
standarnya, terutama ditujukan terhadap konstituen
yang aktif.
Contoh :
Bakteri-bakteri hidup dari ragi serta jamur di gunakan
sebagai bahan pemeriksaan vitamin.
Lactobacillus casei untuk Riboflavin,
Lactobacillus arabinosus untuk asam nicotinat,








Kimia Kromatografi
Yaitu suatu metoda analisa di mana dengan
mengalirkan suatu pelarut atau aliran terhadap suatu
bahan obat, dapat memisahkan konstituen aktif dari
bahan obat tersebut.
Metoda ini di gunakan untuk menentukan kemurnian
dan identifikasi suatu zat yang biasa terdapat dalam
suatu bahan alam, juga untuk mengetahui jumlah
konstituen, memisahkan dan mengidentifikasinya.
Menurut cara pengerjaan ada 4 macam Chromatografi :
Column Chromatography (k. kolom)
Paper Chromatography (k. kertas)
Thin Layer Chromatography (k. Lapis tipis)
Gas Chromatography (k. gas)








Fisika
Cara ini meliputi penetuan-penentuan dari konstituen
yang telah di isolasi.
Penentuan meliputi :
Kelarutan
B. J (pada penentuan minyak lemak dan minyak atsiri)
Pemutaran bidang polarisasi
Indeks bias
Tek. Cairan
Kadar air.








KLASIFIKASI
Metoda yang di kenal sampai sekarang sbb :
1. Morfologi di susun atas organ tumbuhan misal
Folia, Flores, Radix, dsb
2.Taksonomi : simplisia di susun menurut
keluarga genus, species.
3. Khasiat : farmakologis di susun atas efek
farmakologi
4. Chemis (kandungan kimia)
5. Chemotaksonomi gabungan 2 dan 4,
penyusunan atas adanya zat kimia yang di
kandung dengan tempatnya dalam sistematis
6. Alfabetis di susun berdasar abjad.
Kandungan kimia








Metabolit Primer fotosintesis,
asam amino, gula, asetil koenzim A,
asam mevalonat, nukleotida
bersifat esensial untuk kehidupan
Metabolit Sekunder ;
- penyebaran lebih terbatas,
- memiliki karakteristik tiap genus atau strain tertentu
- di biosintesis dari metabolit primer atau
- dibentuk melalui pathway yang khusus dari metabolit
primer