Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanpa disadari manusia selalu berhubungan dengan jasad renik dari alam
dunia yang tidak tampak dengan mata biasa. Sebagian dari manusia hidup dengan
bergantung pada mikroba. Itu sebabnya pengetahuan mengenai peranan
mikroorganisme dalam kehidupan manusia tersebut sangat penting untuk
dimengerti dan dipahami (Irianto, 2006).
Jika manusia mendapat kesempatan melihat dunia yang berada di bawah
pandangan sebuah lensa mikroskop yang kuat, akan terlihat suatu dunia baru,
seperti halnya jika kita memperhatikan dunia tumbuhan dan hewan. Dunia baru
tersebut dihuni oleh berbagai jasad renik yang demikian kecilnya sehingga dalam
setetes air atau susu pun kita dapat menemukan beribu-ribu atau berjuta-juta jasad
renik tersebut. Organisme ini dapat membuat orang sehat menjadi sakit; benda-
benda keras menjadi lunak; makanan yang baik menjadi tidak sedap, berbau dan
tidak aman untuk dikonsumsi; merusak bangunan, menghancurkan tenda;
beberapa di antaranya dapat membuat bahan obat yang jika bereaksi akan
menghambat kehidupan mikroba lainnya; mengubah sari anggur menjadi wine
atau sari buah apel manis menjadi cuka; mengubah zat pati dan gula yang terdapat
dalam buah-buahan dan beras menjadi alkohol dan sebagainya (Irianto, 2006).
Inilah yang menjadi dasar dilakukannya percobaan isolasi enzim amilase dari
mikroba Bacillus subtilis.

1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan kali ini adalah untuk mempelajari dan mengetahui
teknik isolasi enzim dari mikroba.

1.2.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan kali ini adalah untuk mengisolasi enzim amilase
dari mikroba Bacillus subtilis dan mengetahui aktivitas enzim dari mikroba
tersebut.

1.3 Prinsip Percobaan
Prinsip dari percobaan kali ini adalah mengisolasi enzim amilase dari
mikroba Bacillus subtilis dalam suatu medium padat dengan cara menginokulasi
pada agar cawan dengan jarum ose melalui metode penyebaran kultur mikroba di
atas agar pada kondisi optimum yaitu suhu 50
o
C dan pH 7 dan melakukan
pengukuran OD dan uji aktivitas.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Mikrobiologi berasal dari kata mikro (kecil atau renik), bio (hidup) dan
logos (ilmu). Jadi mikrobiologi merupakan bidang ilmu yang mengkaji tentang
mikroba seperti virus, archeae, bakteri, fungi, algae, dan protozoa. Mikrobia
(mikroorganisme) digunakan untuk menyatakan suatu organisme yang
mempunyai ukuran yang sangat kecil, sehingga tidak dapat dilihat dengan mata
telanjang tanpa menggunakan mikroskop (Ali, 2005).
Timbulnya mikroba dalam bahan makanan dapat menghasilkan enzim
yang aktif, sehingga dapat mengubah komposisi bahan makanan dengan cara
menghidrolisis pati, selulosa, atau dapat memfermentasikan gula. Mikroba lain
dapat menghasilkan enzim yang dapat menghidrolisis lemak, sehingga terbentuk
bau tengik atau merusak protein, yang menghasilkan bau busuk. Beberapa
mikroba tersebut dapat membentuk lender, gas, busa dan lain-lain (Patong, 2013).
Mikroorganisme memegang peranan yang sangat penting, bahkan
eksistensinya merupakan persyaratan mutlak bagi terbinanya semua kehidupan
yang lain. Sebelum orang mengenal pemakaian mikroskop dengan daya
pembesaran yang kuat, dan belum diketahui adanya dunia mikroorganisme, para
ahli biologi tidak mengalami kesukaran dalam mengklasifikasi bermacam-macam
bentuk hidup yang tampak oleh mata biasa, seperti dunia hewan (animalia) atau
dunia tumbuhan (plantae). Tumbuhan dianggap tidak dapat bergerak dan
sederhana susunannya, sedangkan hewan dapat bergerak dan susunannya lebih
kompleks (Irianto, 2006).
Berdasarkan ciri morfologinya, maka sejak tahun 1872 Ferdinan Cohn
telah membagi bakteri ke dalam 4 bentuk yang berbeda-beda yaitu (Ali, 2005) :
1. Bentuk coccus, bakteri berbentuk bundar atau bulat.
2. Bentuk basil, bakteri berbentuk batang atau silinder.
3. Bentul spiral, bakteri berbentuk batang bengkok atau melingkar.
4. Bentuk filamen, bakteri berbentuk serabut.
Bakteri berbentuk batang dinamakan basilus (bacillus yang berarti
batang). Bentuk basilus dapat pula dibedakan atas dua (Irianto, 2006) :
1. Basil tunggal, yaitu bakteri yang hanya berbentuk satu batang tunggal.
2. Diplobasil, yaitu bakteri berbentuk batang yang bergandengan dua-dua.
3. Streptobasil, yaitu bakteri berbentuk batang yang bergandengan memanjang
membentuk rantai.
Berdasarkan susunan kelompoknya, maka bakteri Bacillus subtilis
termasuk dalam kelompok Bacillus, streptobacillus, dan spirillum, yaitu
pembelahan melintang terhadap axis longitudinal selnya, lalu terbentuk sel anakan
seperti bakteri coccus (sendiri-sendiri). (Ali, 2005).
Bahan atau peralatan yang dipergunakan dalam bidang mikrobiologi harus
dalam keadaan steril dimana artinya tidak didapatkan mikroba, yang tidak
diharapkan kehadirannya, baik yang mengganggu atau merusak media atau
mengganggu kehidupan dan proses yang sedang dikerjakan. Setiap proses baik
fisika, kimia, dan mekanik yang membunuh semua bentuk hidup terutama
mikroorganisme disebut dengan sterilisasi (Waluyo, 2004).
Sterilisasi dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu : 1) sterilisasi pemanasan
basah dengan menggunakan uap atau air panas; 2) sterilisasi kering dalam tanur;
dan 3) pembakaran total (incineration). Berdasarkan pada ketiga cara tersebut,
sterilisasi dapat dibagi menjadi sterilisasi kering (pemijaran, flaming, tanur uap
panas) dan sterilisasi basah (penggodokan dalam air, uap mengalir, uap dalam
tekanan) (Irianto, 2006).
Beberapa mikroba dapat tumbuh dengan baik pada keadaan yang hangat
dan lembap misalnya bakteri dapat dibedakan berdasarkan daya tahannya terhadap
panas. Bakteri termofilik adalah bakteri yang suhu pertumbuhannya antara
45-55
o
C, bakteri mesofilik yang suhu pertumbuhannya antara 20-45
o
C dan
bakteri psikrofilik adalah bakteri yang suhu pertumbuhannya dibawah 20
o
C.
spora bakteri pada umumnya pada suhu air mendidih dan pada suhu yang lebih
rendah sporanya akan bergraminasi dan berkembang biak (Patong, 2013).
Beberapa bakteri yang membutuhkan oksigen untuk tumbuh disebut
bakteri aerobik sedangkan bakteri yang lain dapat tumbuh tanpa adanya oksigen
disebut bakteri anaerobik. Faktor lingkungan hidup yang mempengaruhi
pertumbuhan mikroba diantaranya air, kelembapan nisbi, suhu, pH, oksigen,
mineral dan lain-lain (Patong, 2013).
Enzim merupakan suatu molekul protein kompleks yang dihasilkan oleh
sel hidup dan bekerja sebagai katalisator dalam berbagai proses kimia di dalam
tubuh makhluk hidup. Secara umum, enzim memiliki fungsi sebagai
biokatalisator, yaitu mempengaruhi dan mempercepat berlangsungnya sebuah
reaksi kimia di dalam tubuh organisme (sel hidup) baik pada reaksi-reaksi
penguraian molekul kompleks menjadi molekul-molekul sederhana maupun
penyusunan senyawa-senyawa kompleks dari molekul-molekul sederhana
(Abinemuwahhid, 2012).
Pada beberapa mikroorganisme dikenal adanya enzim ekstraseluler
Bioenzim, yaitu enzim yang dikeluarkan oleh sejenis bakteri dan jasad renik
lainnya ke dalam bahan di sekelilingnya untuk mencernakan bahan substrat
dimaksud menjadi senyawa sederhana. Ini dilakukan oleh mikroorganisme
sebagai bentuk upaya mereka memperoleh energi (Abinemuwahhid, 2012).
Enzim -amilase adalah enzim ekstrasel yang mengkatalisis reaksi
pemotongan ikatan glukosidik 1,4 pada bagian dalam molekul substrat
(endoenzim). Secara komersial enzim ini dihasilkan baik oleh bakteri dari genus
Bacillus (Setiasih, dkk., 2006).















BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Alat Percobaan
Alat-alat yang digunakan pada percobaan kali ini, yaitu cawan petri,
tabung erlenmeyer, jarum ose, batang pengaduk, sendok tanduk, botol semprot,
gelas ukur 100 mL, gelas kimia, neraca analitik, enkas, pembakar spiritus,
autoclave, oven, inkubator, spektronik 20 D+, kuvet, sentrifus dingin, spidol
permanen, pipet tetes, pipet skala, tabung reaksi, rak tabung reaksi, dan sikat
tabung.

3.2 Bahan Percobaan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini, yaitu menggunakan
yeast ekstrak 0,05 %, pepton 0,01 %, CaCl
2
0,01 %, K
2
PO
4
0,01 %, NaCl 0,1 %,
MgSO
4
7H
2
O 0,01 %, pati 0,5 %, bakto agar 1,5 %, larutan iodin 0,1 M, akuades,
alkohol, korek api, aluminium foil, plastic wrap, kapas, kasa, kertas A4,
cotton swipt, spiritus, kertas pH indikator, sabun cair, tissue roll, larutan buffer pH
6,8; 7,0; 7,4; dan larutan amilum.

3.3 Prosedur Percobaan
3.3.1 Pembuatan Medium Padat
Mula-mula ditimbang yeast ekstrak 0,05 gram, pepton 0,01 gram, CaCl
2

0,01 gram, K
2
HPO
4
0,01 gram, NaCl 0,1 gram, MgSO
4
7H
2
O 0,01 gram, pati
0,5 gram dan bakto agar 1,5 gram dengan neraca analitik dan dimasukkan dalam
gelas kimia. Setelah itu, campuran dilarutkan dengan akuades hingga 200 mL.
Diukur pH larutan hingga mencapai pH 7. Larutan kemudian dididihkan lalu
diaduk sampai tercampur sempurna lalu dipindahkan dalam tabung erlenmeyer.
Tabung kemudian ditutup dengan kapas yang dibungkus kasa, lalu ditutupi lagi
dengan aluminium foil. Tabung erlenmeyer dimasukkan dalam autoclave selama
15 menit, dan ditunggu sampai tekanannya turun selama kurang lebih 15 menit
lagi. Larutan lalu dituang ke dalam cawan petri yang sebelumnya telah disterilkan
dengan cara dicuci bersih, dibungkus kertas dan dimasukkan ke dalam oven.
Cawan petri yang telah diisi media padat kemudian dibungkus dengan
plastic wrap dan diinkubasi selama 24 jam. Dibuat 4 kuadran pada bagian bawah
cawan petri dengan spidol permanen.

3.3.2 Peremajaan Mikroba
Setelah terbentuk medium padat, bakteri Bacillus subtilis digoreskan pada
medium tersebut. Mula-mula, jarum ose dicelupkan dalam etanol lalu dibakar
pada pembakar spiritus sampai berubah warna menjadi kemerahan. Dalam
keadaan membara, jarum ose ditempelkan pada tutup bagian dalam cawan petri
kemudian diambil sampel bakteri Bacillus subtilis yang telah disediakan
sebelumnya, lalu dipindahkan dengan cara digoreskan pada medium padat.
Dilakukan berulang-ulang sampai keempat kuadran telah digores. Setelah itu,
cawan petri dibungkus kembali dengan plastic wrap dan dimasukkan ke dalam
inkubator pada suhu 50 C selama 24 jam kemudian dilanjutkan dengan uji
iodida. Stok bakteri yang telah tumbuh dalam cawan petri ditetesi dengan larutan
iodida dan dilihat zona bening yang terbentuk.


3.3.3 Pembuatan Media Inokulum
Pembuatan media inokulum dimulai dengan penimbangan yeast ekstrak
0,05 gram, pepton 0,01 gram, CaCl
2
0,01 gram, K
2
HPO
4
0,01 gram, NaCl
0,1 gram, MgSO
4
7H
2
O 0,01 gram dan pati 0,5 gram dengan menggunakan neraca
analitik dan dimasukkan dalam tabung erlenmeyer. Setelah itu dilarutkan dengan
akuades hingga 100 mL kemudian distirrer sampai tercampur sempurna. Larutan
kemudian dimasukkan ke dalam autoclave. Setelah 30 menit, larutan dibawa ke
dalam enkas. Cotton swipt steril digoreskan pada bagian bakteri Bacillus subtilis
yang terbentuk di atas media padat lalu dicelupkan dalam larutan inokulum.
Setelah itu, tabung Erlenmeyer ditutup dan dishaker selama 24 jam.

3.3.4 Pembuatan Media Produksi
Pembuatan media produksi dimulai dengan penimbangan yeast ekstrak
0,05 gram, pepton 0,01 gram, CaCl
2
0,01 gram, K
2
HPO
4
0,01 gram, NaCl
0,1 gram, MgSO
4
7H
2
O 0,01 gram, dan pati 0,5 gram dengan neraca analitik dan
dimasukkan dalam tabung erlenmeyer. Setelah itu dilarutkan dengan akuades
hingga 90 mL akuades kemudian distirrer sampai tercampur sempurna. Larutan
kemudian dimasukkan ke dalam autoclave. Setelah 30 menit, larutan dimasukkan
ke dalam enkas dan ditambahkan 10 mL larutan inokulum yang sebelumnya telah
dishaker selama 1 hari. Setelah tercampur, diambil 30 mL larutan dari medium
produksi dan dimasukkan dalam botol, lalu dimasukkan kedalam lemari es.
Kemudian sisa dari larutan sebanyak 70 mL dishaker selama 72 jam.



3.3.5 Pengukuran Optical Density (OD)
Larutan enzim keruh diukur optical density dengan spektrofotometer pada
panjang gelombang 660 nm lalu disentrifugasi 3.500 rpm pada suhu 4 C selama
30 menit. Larutan kemudian akan terbagi menjadi dua bagian, yaitu residu (berupa
padatan di dasar tabung) dan supernatan (cairan bening kekuningan). Bagian
residu dibuang, sedangkan bagian supernatan diambil untuk pengujian uji
aktivitas enzim.

3.3.6 Uji Aktivitas Enzim Amilase
Sebanyak 1 mL larutan enzim dipipet ke dalam tabung reaksi kemudian
ditambahkan akuades sebanyak 4 mL. dari tabung tersebut dipipet 0,5 mL
kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Tabung reaksi dipanaskan selama
20 menit.












DAFTAR PUSTAKA
Abinemuwahhid, 2006, Fungsi Enzim dalam Metabolisme (online),
(http://rmhbaca.blogspot.com/2012/07/fungsi-enzim-dalam-metabolisme,
diakses pada tanggal 1 Juni pukul 19.00 WITA).

Ali, A., 2005, Mikrobiologi Dasar, Badan Penerbit UNM, Makassar.

Irianto, K., 2006, Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme, CV. Yrama
Widya, Bandung.

Patong, A.R., 2013, Analisis Kimia Pangan, Dua Satu Press, Makassar.

Setiasih, S., Wahyuntari, B., Trismilah, dan Apriliani, D., 2006, Karakterisasi
Enzim -Amilase Ekstrasel dari Isolat Bakteri Termofil SW2, Jurnal
Kimia Indonesia, 1(1):22-27.

Waluyo, L., 2004, Mikrobiologi Umum, UMM Press, Malang.




























LAPORAN PRAKTIKUM
ISOLASI ENZIM AMILASE DARI MIKROBA Bacillus subtilis
NAMA : DWI NICHE
NIM : H311 12 264
HARI / TGL PERC. : KAMIS / 2 MEI 2013
KELOMPOK : III (TIGA)
ASISTEN : SARTIKA, S.Si
















LABORATORIUM BIOKIMIA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
LEMBAR PENGESAHAN


















Makassar, 12 Mei 2013
Asisten Praktikan


SARTIKA DWI NICHE
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Data Pengukuran Optical Density (OD)
Sampel Panjang Gelombang (nm) OD
Enzim (I) 660 0,349
Enzim (II) 660 0,276
Enzim (III) 660 0,138

4.2 Reaksi
Reaksi yang terjadi antara larutan amilum dengan iodin sebagai berikut :
CH
2
O
H
O
OH
O
O
H
H H
H OH
CH
2
O
H
OH
O
O
H
H H
H OH
+ nI
2
n
CH
2
O
H
O
OH
O
O
H
H H
H OH
CH
2
O
H
OH
O
O
H
H H
H OH
n
I
I
amilase
CH
2
O
H
OH
OH
O
H
H H
H OH
OH
+ nI
2
biru
bening

4.3 Pembahasan
Pengerjaan isolasi mikroba Bacillus subtilis pada percobaan ini, dilakukan
dengan empat tahapan utama yaitu pembuatan medium padat, pembuatan
inokulum, pembuatan medium produksi, dan pengukuran optical density. Pada
percobaan ini juga dilakukan uji aktivitas enzim amilase. Untuk mengetahui hasil
uji aktivitas enzim tersebut, maka dilakukan terlebih dahulu pengukuran panjang
gelombang maksimum dan hasilnya adalah pada panjang gelombang 660 nm.
Penentuan nilai optical density dilihat dari tingkat kekeruhan suatu larutan sampel
dengan melakukan pengukuran absorbansi.
Langkah pertama yang dilakukan yaitu pembuatan medium padat. Alat-
alat yang digunakan harus disterilkan lebih dahulu dalam autoclave, yang
bertujuan agar mematikan mikroba-mikroba lain yang mungkin terdapat pada alat.
Mikroba kemudian ditumbuhkan dalam medium padat yang komposisinya
terdiri dari yeast ekstrak, pepton, CaCl
2
, K
2
PO
4
, NaCl, MgSO
4
7H
2
O, pati, dan
bakto agar. Yeast ekstrak berfungsi sebagai pemberi nutrisi bagi mikroba. Pepton
berfungsi mempercepat pertumbuhan mikroba karena banyak mengandung
nitrogen. CaCl
2
digunakan untuk mendeteksi adanya ammonium sulfat pada
campuran. K
2
PO
4
digunakan sebagai sumber fosfat yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan mikroba. NaCl berfungsi sebagai sumber unsur Na. MgSO
4
7H
2
O
berfungsi sebagai sumber unsur logam Mg. Bakto agar berfungsi sebagai sumber
energi dan sumber karbohidrat.
Alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain oven, autoclave,
enkas, sentrifuge, dan inkubator. Oven digunakan untuk mengeringkan cawan
petri, autoclave digunakan untuk mensterilkan alat, enkas digunakan sebagai
tempat peremajaan mikroba serta tempat untuk bekerja, sentrifuge digunakan
untuk mensentrifugasi bahan agar dapat terpisah antara residu dan filtratnya.
Inkubator digunakan untuk memanaskan larutan sesuai dengan suhu yang
diinginkan.
Bahan yang telah ditimbang kemudian dilarutkan dengan akuades dalam
gelas kimia dan dipanaskan hingga mendidih. Setelah beberapa saat, larutan
dipindahkan ke tabung Erlenmeyer ditutup menggunakan bulatan yang terbuat
dari kapas, kain kasa, dan aluminium foil kemudian dipindahkan dalam enkas
yang sudah disterilkan terlebih dahulu. Cawan petri kemudian diambil dan larutan
dalam tabung Erlenmeyer dituang tidak perlu terlalu banyak, cukup sampai
permukaan cawan petri tertutup seutuhnya. Setelah itu ditunggu sampai mengeras.
Di sinilah yang akan menjadi tempat perkembangbiakan bakteri Bacillus subtilis.
Penggoresan bakteri dilakukan kurang lebih 24 jam setelah penuangan,
atau kira-kira sampai media padat kenyal. Penggoresan dilakukan dengan
menggunakan jarum ose dan digoreskan secara zig-zag yang bertujuan agar
perkembangbiakan bakteri Bacillus subtilis teratur. Sebelum melakukan
penggoresan yang perlu diperhatikan adalah enkas harus berada dalam keadaan
steril. Sebelumnya enkas harus disemprotkan dengan alkohol dan pembakar
spiritus dinyalakan. Ketika akan dilakukan penggoresan ujung cawan petri beserta
jarum ose harus dipanaskan pada lampu spiritus, bertujuan mencegah adanya
kontaminasi mikroba lain. Ketika akan ditutup dengan plastic wrap juga harus
dilakukan pemanasan lagi. Cawan petri kemudian ditinggalkan dalam enkas untuk
masa peremajaan bakteri Bacillus subtilis selama 24 jam.
Peremajaan bakteri bertujuan agar memberikan waktu pada mikroba untuk
berkembangbiak. Setelah 24 jam, akan dilakukan uji iodin dan menghasilkan zona
bening saat diteteskan pada media padat. Terjadinya zona bening ini menandakan
bahwa bakteri Bacillus subtilis terbukti menghasilkan enzim amilase.
Pembuatan media inokulum dan media produksi menggunakan bahan-
bahan yang sama dengan media padat, hanya saja tanpa tambahan bakto agar.
Bakteri Bacillus subtilis yang telah diremajakan kemudian dimasukkan dalam
media inokulum menggunakan cotton swipt kemudian dishaker selama 24.
Pembuatan media inokulum bertujuan agar bakteri dapat berkembang biak
sempurna dalam media produksi. Selanjutnya dipindahkan dalam media produksi
dan kembali di shaker selama 72 jam.
Tahap selanjutnya adalah pengukuran Optical Density (OD) dengan
menggunakan spektrofotometer 20 D+. Pengukuran ini bertujuan untuk melihat
pertumbuhan mikroba, dimana diasumsikan bahwa semakin keruh mediumnya,
maka semakin banyak juga mikroba yang tumbuh. Hasil pengukuran OD dapat
dilihat pada Tabel 1.
Selanjutnya dilakukan sentrifugasi yang bertujuan untuk memisahkan
antara residu dan supernatan. Residu akan mengendap pada dasar tabung reaksi,
dan menjadikan larutan supernatan lebih jernih. Residu ini merupakan bakteri
Bacillus subtilis dan tidak diperlukan lagi pada pengujian aktivitas enzim amilase,
maka dari itu residu ini dipisahkan dengan supernatan dan dibuang.
Terakhir yang dilakukan adalah pengujian aktivitas enzim amilase yaitu
dengan cara pengetesan supernatan menggunakan larutan iodin. Sampel yang
digunakan adalah larutan buffer dengan pH 6,8; 7,0; dan 7,4. Hasil yang
didapatkan setelah pemanasan pada suhu 38
o
C selama 33 menit adalah sampel
dengan pH 7,4 mengalami perubahan paling cepat menjadi warna bening
dibandingkan dengan pH lainnya.

Pengujian dilakukan menggunakan larutan iodin karena dengan bantuan
enzim amilase pada saat penambahan larutan amilum dengan iodin yang akan
membentuk kompleks yang berwarna biru keunguan. Amilum akan terhidrolisis
menjadi disakarida membentuk 2 molekul glukosa secara enzimatis. Terjadinya
perubahan warna dari biru tua menjadi bening disebabkan lepasnya ikatan semu
antara O dan I.














BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan yaitu enzim
amilase dapat diisolasi dari mikroba Bacillus subtilis.

5.2 Saran
5.2.1 Saran untuk Laboratorium
Saran saya untuk laboratorium pada saat pengerjaan aktivitas enzim ini
agar lebih diefisiensikan lagi waktu pengerjaannya.

5.2.2 Saran untuk Asisten
Saran saya untuk asisten ini untuk lebih banyak menjelaskan cara kerja
pada percobaan ini agar dapat meminimalisir kesalahan.










Lampiran 1. Bagan Kerja
1. Pembuatan Medium Padat

ditimbang yeast ekstrak 0,05 gram, pepton 0,01 gram,
CaCl
2
0,01 gram, K
2
HPO
4
0,01 gram, NaCl 0,1 gram,
MgSO
4
7H
2
O 0,01 gram, pati 0,5 gram dan bacto agar 1,5
gram dengan menggunakan neraca analitik
bahan dimasukkan dalam gelas kimia dan ditambahkan
akuades hingga 200 mL.
larutan kemudian di didihkan lalu diaduk sampai tercampur
sempurna. Larutan dipindah ke tabung Erlenmeyer lalu
ditutup rapat.
tabung erlenmeyer dimasukkan dalam autoclave selama 15
menit, dan tunggu sampai tekanannya turun selama kurang
lebih 15 menit lagi
larutan lalu dituang ke dalam cawan petri yang sebelumnya
telah disterilkan dengan cara dicuci bersih, dibungkus kertas
dan dimasukkan ke dalam oven
larutan dituang ke cawan petri di dalam enkas lalu
dibungkus plastic wrap dan diinkubasi selama 24 jam.
Kemudian dibuat 4 kuadran pada cawan petri dengan spidol
permanen

Bahan
Hasil
2. Peremajaan Mikroba

ose dicelupkan dalam etanol lalu dibakar menggunakan
spiritus sampai berubah warna menjadi kemerahan
dalam keadaan membara, ose ditempelkan pada tutup cawan
petri kemudian medium padat lalu digoreskan pada bakteri
kemudian digoreskan kembali pada medium padat dan
jangan sampai mengenai bagian yang telah ditempelkan tadi
lakukan berulang-ulang sampai kuadran keempat
setelah itu dibungkus dengan plastic wrap dan dimasukkan
ke dalam inkubator pada suhu 50
0
C

3. Pembuatan Media Inokulum

penimbangan yeast ekstrak 0,05 gram, pepton 0,01 gram,
CaCl
2
0,01 gram, K
2
HPO
4
0,01 gram, NaCl 0,1 gram,
MgSO
4
7H
2
O 0,01 gram dan pati 0,5 gram dengan
menggunakan neraca analitik dan dimasukkan dalam tabung
Erlenmeyer dan dilarutkan dalam 100 mL akuades
dimasukkan dalam autoclave selama 30 menit
bakteri yang telah terbentuk pada medium padat digores
dengan cotton swipt, lalu dicelupkan pada larutan inokulum
dishaker selama 24 jam


Isolat Bacillus subtilis
Hasil
Bahan
Hasil
4. Pembuatan Medium Produksi

penimbangan yeast ekstrak 0,05 gram, pepton 0,01 gram,
CaCl
2
0,01 gram, K
2
HPO
4
0,01 gram, NaCl 0,1 gram,
MgSO
4
7H
2
O 0,01 gram dan pati 0,5 gram dengan
menggunakan neraca analitik dan dimasukkan dalam tabung
erlenmeyer dan dilarutkan dengan 90 mL akuades
dimasukkan dalam autoclave selama 30 menit
ditambahkan sebanyak 10 mL larutan dari media inokulum
diambil 30 mL dari medium produksi dan dimasukkan
kedalam botol, lalu dimasukkan ke dalam lemari es
kemudian 70 mL dari larutan tersebut di shaker selama
72 jam


5. Pengukuran Optical Density (OD)

diukur optical density pada panjang gelombang 660 nm
disentrifugasi 3.500 rpm dengan suhu 4
0
C selama 30 menit



dibuang


Bahan
Hasil
Larutan Enzim keruh
Residu Supernatan
Uji aktivitas enzim amilase
6. Uji Aktivitas Enzim Amilase

ditambah 5 mL larutan buffer pH 6,8; 7,0; dan 7,4
ditambah 2,5 mL larutan amilum
ditambah larutan iodin
dimasukkan dalam autoclave pada suhu 38
0
C
diamati hingga bening


















1 mL enzim
Hasil
Lampiran 2. Foto Hasil Percobaan


Setelah penggoresan mikroba Media inokulum

Setelah penambahan iodin dan dimasukkan dalam inkubator selama 33 menit