Anda di halaman 1dari 163

ISBN : 978-602-7536-21-0

Kerjasama
Pusat Perencanaan Tenaga Kerja-Kemnakertrans
Dengan
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan
Provinsi Jawa Tengah
2013
RENCANA TENAGA KERJA
PROVINSI JAWA TENGAH
2014-2018
RENCANA TENAGA KERJA
PROVINSI JAWA TENGAH
2014 - 2018
Kerjasama
Pusat Perencanaan Tenaga Kerja-Kemnakertrans R.I.
Dengan
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan
Provinsi Jawa Tengah
2013
RYA M A U K K I T T IT R A A
K M
A A
M
ISBN : 978-602-7536-21-0












































RENCANA TENAGA KERJA PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2014-2018
Diterbitkan oleh :
Pusat Perencanaan Tenaga Kerja
Sekretariat Jenderal
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Jln. Jenderal Gatot Subroto Kav. 51 Jakarta Selatan 12950
Telepon : 021-5270944
Fax : 021-5270944
Website : http://pusatptk.depnakertrans.go.id
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
iii


KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT PERENCANAAN TENAGA KERJA

Dalam rangka pelaksanaan amanat pasal 7 Undang undang
Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Jo. Peraturan
Pemerintah Nomor 15 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Memperoleh
Informasi Ketenagakerjaan dan Penyusunan serta Pelaksanaan
Perencanaan Tenaga Kerja serta Peraturan Pemerintah Nomor 33
Tahun 2013 tentang Perluasan Kesempatan Kerja, bahwa
perencanaan tenaga kerja baik dalam lingkup kewilayahan (nasional,
provinsi dan kabupaten/kota) maupun lingkup sektoral/ sub sektoral
(sektoral/sub sektoral nasional, sektoral/sub sektoral provinsi,
sektoral/sub sektoral kabupaten/kota), dijadikan acuan dan pedoman
dalam pembangunan ketenagakerjaan ditingkat Nasional, Provinsi,
Kabupaten/Kota, Sektoral/Sub Sektoral Provinsi, dan Sektoral/Sub
Sektoral Kabupaten/Kota. Sebagai pelaksanaan ke dua peraturan
tersebut dituangkan dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi RI Nomor PER. 16/MEN/XI/2010 tentang Perencanaan
Tenaga Kerja Makro.
Masalah utama ketenagakerjaan diantaranya adalah besarnya
pengangguran terbuka, jumlah setengah penganggur yang sangat
besar, serta masalah lain seperti rendahnya kualitas angkatan kerja,
rendahnya produktivitas kerja, dan rendahnya kesejahteraan pekerja,
sehingga bersifat multi dimensional antara berbagai faktor ekonomi,
faktor sosial, dan faktor lainnya. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan
yang komprehensif dan multi dimensi. Untuk itu maka diperlukan
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


iv
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

suatu perencanaan tenaga kerja yang dapat dijadikan acuan oleh
seluruh pemangku kepentingan di Provinsi Jawa Tengah.
Dengan tersusunnya Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa
Tengah Tahun 2014-2018, maka dasar pembangunan yang berpihak
pada penciptaan perluasan kesempatan kerja (pro job) sudah
semakin jelas dan terarah, khususnya dalam menghadapi masalah
pengangguran, penciptaan kesempatan kerja, peningkatan
produktivitas dan kesejahteraan pekerja. Namun demikian, mengingat
permasalahan ketenagakerjaan merupakan permasalahan bersama,
maka diperlukan upaya kolektif dari seluruh pemangku kepentingan
(stakeholder) yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Untuk itu dalam
penyusunan kebijakan, strategi dan program pembangunan
ketenagakerjaan yang berkesinambungan maka pemerintah daerah
harus berpedoman pada perencanaan tenaga kerja untuk mengatasi
permasalahan ketenagakerjaan yang ada di Provinsi Jawa Tengah.
Akhirnya kami menyambut gembira dan memberikan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Provinsi
Jawa Tengah atas tersusunnya buku Rencana Tenaga Kerja ini.


Jakarta, Oktober 2013

Kepala
Pusat Perencanaan Tenaga Kerja,




Drs. NURAHMAN, M.Si.
NIP 19600127 198503 1 001



Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
v


KATA PENGANTAR


Penyusunan Rencana Tenaga Kerja Provinsi (RTKP) Jawa Tengah
Tahun 20142018 merupakan amanat dan implementasi dari Undang-
Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan serta Peraturan
Pemerintah RI Nomor 15 Tahun 2007 tentang Tata Cara Memperoleh
Informasi Ketenagakerjaan, Penyusunan dan Pelaksanaan Perencanaan
Tenaga Kerja.
Buku Rencana Tenaga Kerja Provinsi (RTKP) 2014 2018 memuat
data dan informasi dari kecenderungan pertumbuhan selama Tahun 2014
2018 dan perkiraan Tahun 2014 2018 dari penduduk usia kerja, angkatan
kerja, kesempatan kerja sektoral, produktivitas tenaga kerja, penganggur
terbuka, pelatihan tenaga kerja, penempatan tenaga kerja, perlindungan
tenaga kerja, hubungan industrial dan jaminan sosial tenaga kerja. Angka-
angka dalam buku ini telah disesuaikan dengan data dan informasi terkini,
dengan menggunakan berbagai asumsi termasuk perkiraan pertumbuhan
ekonomi daerah. Rencana Tenaga Kerja Provinsi (RTKP) ini merupakan
rencana indikatif yang digunakan untuk pembinaan ketenagakerjaan di
seluruh sektor ekonomi dan unit teknis ketenagakerjaan. Oleh karena itu
variabel dan angka-angka yang terdapat di dalamnya dapat dievaluasi dan
disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi.
Dengan disusunnya buku Rencana Tenaga Kerja Provinsi (RTKP)
maka diharapkan dapat menjadi pedoman/acuan dalam penyusunan
kebijakan, strategi dan pelaksanaan program pembangunan
ketenagakerjaan sehingga pembangunan di bidang ketenagakerjaan
semakin jelas terarah, khususnya dalam menghadapi masalah
pengangguran, penciptaan kesempatan kerja, peningkatan produktivitas dan
kesejahteraan tenaga kerja. Mengingat masalah ketenagakerjaan
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


vi
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

khususnya pengangguran bukan hanya masalah Dinas Tenaga Kerja dan
Transmigrasi saja melainkan juga merupakan kepentingan instansi
pemerintah lain, maka dukungan melalui produk hukum, kebijakan dan
program nyata diharapkan yang diarahkan pada perluasan kesempatan
kerja.
Kami menyadari bahwa masih terdapat berbagai kekurangan dalam
penyusunan buku ini, yang disebabkan berbagai keterbatasan yang ada.
Untuk itu kami mengharapkan saran konstruktif dari seluruh pihak yang
terkait guna penyempurnaan di masa yang akan datang. Pada kesempatan
ini kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang
berpartisipasi dalam penyusunan buku Rencana Tenaga Kerja Provinsi
(RTKP) Tahun 2014 2018 ini. Semoga bermanfaat dan dapat kita gunakan
sebaik-baiknya sebagai acuan dalam pembangunan ketenagakerjaan.


Semarang, Oktober 2013

Plt. Kepala Dinas
Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan
Provinsi Jawa Tengah



Dra. Wika Bintang, MM
NIP. 19590711 198603 2 006

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
vii

RINGKASAN EKSEKUTIF
EXECUTIVE SUMMARY

Ketenagakerjaan merupakan salah satu bidang pembangunan yang
mencakup segala aspek yang mempunyai kaitan dengan tenaga kerja dalam
rangka keterlibatannya dalam proses produksi barang atau jasa. Masalah
pokok ketenagakerjaan yang kita hadapi saat ini antara lain adalah (1)
rendahnya pendayagunaan angkatan kerja yang tersedia yang
mengakibatkan banyaknya pengangguran terbuka. (2) masih rendahnya
kualitas angkatan kerja yang ditandai oleh tingkat pendidikan formal di Jawa
Tengah didominasi oleh tamatan Sekolah Dasar, termasuk di dalamnya
mereka yang belum tamat dan yang tidak pernah sekolah dan (3) rendahnya
produktivitas, perlindungan dan kesejahteraan pekerja.
Ada banyak hal yang dapat dilakukan pemerintah untuk mengatasi
masalah ketenagakerjaan di antaranya adalah meningkatkan penciptaan
kesempatan kerja, merumuskan strategi dan arah kebijakan
ketenagakerjaan yang tepat, menyusun perangkat peraturan
ketenagakerjaan yang memadai dan lain-lain. Salah satu sarana yang dapat
digunakan untuk mendukung perumusan strategi, kebijakan dan program
ketenagakerjaan yang tepat adalah dengan melakukan penyusunan
Rencana Tenaga Kerja (RTK) baik jangka panjang maupun jangka pendek
(tahunan).
Berdasarkan hasil Sakernas bulan Agustus Tahun 2008, Penduduk
Usia Kerja (PUK) di Jawa Tengah tercatat sebanyak 24.411.601 orang
kemudian naik menjadi 24.669.525 orang pada Tahun 2009. Tahun 2010
mengalami penurunan yang cukup signifikan menjadi 23.874.585 orang,
Tahun 2011 mengalami kenaikan menjadi 23.905.331 orang dan Pada
Tahun 2012 kembali mengalami kenaikan menjadi 23.935.031 orang.
Perkembangan angkatan kerja dari Tahun 2008 sampai Tahun 2012 tidak
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


viii
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

berbeda jauh dengan perkembangan Penduduk Usia Kerja yang cenderung
berfluktuasi. Angkatan Kerja Tahun 2008 mencapai 16.690.966 orang,
Tahun 2009 naik menjadi 17.087.649 orang akan tetapi kemudian menurun
menjadi 16.856.330 orang pada Tahun 2010, Tahun 2011 naik naik menjadi
16.918.797 orang dan Tahun 2012 naik lagi menjadi 17.095.213 orang.
Apabila dilihat menurut tingkat pendidikan, Angkatan Kerja di Provinsi Jawa
Tengah masih didominasi oleh yang berpendidikan maksimum Sekolah
Dasar dimana pada Tahun 2008 mencapai 9.727.920 orang, pada Tahun
2009 meningkat menjadi 9.759.007 orang, kemudian turun menjadi
9.471.995 orang pada Tahun 2010, pada Tahun 2011 turun lagi menjadi
9.400.219 orang dan berangsur menurun lagi hingga menjadi 9.332.104
orang pada Tahun 2012. Demikian juga dengan tenaga kerja berpendidikan
Diploma yang proporsinya mengalami penurunan pada Tahun 2008 sebesar
400.912 orang, pada Tahun 2009 turun lagi menjadi 369.673 orang,
kemudian menurun lagi menjadi 368.397 orang pada Tahun 2010, akan
tetapi pada Tahun 2011 meningkat menjadi 370.931 orang dan sampai
dengan Tahun 2012 turun kembali menjadi sebesar 345.503 orang. Disisi
lain, tenaga kerja berpendidikan pada jenjang yang lebih tinggi justru
universitas, yang mana pada tahun 2008 sebesar 477.625 orang, pada
Tahun 2009 meningkat menjadi sebesar 504.014 orang, kemudian
meningkat kembali menjadi 573.509 pada Tahun 2010, pada Tahun 2011
mengalami penurunan menjadi sebesar 549.456 orang dan sampai dengan
tahun 2012 menjadi 729.821 orang. Angkatan Kerja laki-laki jauh lebih
banyak dibanding angkatan kerja perempuan. Pada Tahun 2008 angkatan
kerja laki-laki mencapai 9.828.535 orang, pada Tahun 2009 meningkat
menjadi sebesar 10.026.990 orang, kemudian turun menjadi 9.794.740
orang pada Tahun 2010, pada Tahun 2011 turun lagi menjadi 9.760.426
orang, dan pada Tahun 2012 turun menjadi 10.106.610 orang. Sebagian
besar angkatan kerja tinggal di perdesaan, Tahun 2008 sebesar 6.684.724
orang, Tahun 2012 meningkat menjadi 9.538.968 orang.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
ix

Jumlah Penduduk yang bekerja di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008
2012 cenderung fluktuatif, pada Tahun 2008 tercatat sebanyak 15.463.658
orang, meningkat menjadi sebanyak 15.835.382 orang pada Tahun 2009,
pada Tahun 2010 turun menjadi 15.809.447 orang, turun lagi menjadi
15.725.135 orang di Tahun 2011 dan pada Tahun 2012 meningkat menjadi
16.132.890 orang. Sebagian besar penduduk yang bekerja terserap di
sektor pertanian (5.697.121 orang), sektor perdagangan (3.254.982 orang),
sektor industri (2.703.427 orang) dan sektor jasa (1.762.808 orang) pada
Tahun 2008, pada Tahun 2012 penduduk yang bekerja di sektor pertanian
semakin berkurang menjadi 5.064.337 orang, sedangkan tiga sektor lainnya
semakin meningkat pada sektor perdagangan (3.447.147 orang), sektor
industri (3.297.707 orang) dan sektor jasa (2.168.066 orang) pada Tahun
2012. Apabila dilihat menurut status, pada Tahun 2008 sebanyak 4.158.813
orang bekerja di sektor formal sedangkan yang bekerja di sektor non formal
11.304.845 orang. Pada Tahun 2012 penduduk yang bekerja di sektor
formal meningkat menjadi 5.463.093 orang, yang mana sebagaian dari
mereka adalah pekerja/buruh/karyawan dan berusaha dengan buruh.
Penduduk yang bekerja di sektor informal turun menjadi sebanyak
10.669.797 orang.
Perkembangan penganggur terbuka (PT) di Provinsi Jawa Tengah
selama Tahun 2008 2012 cenderung menurun fluktuatif. Pada Tahun 2008
jumlah penganggur terbuka sebanyak 1.227.308 orang dengan tingkat
pengangguran terbuka (TPT) sebesar 7,35 persen, Tahun 2009
pengangguran terbuka meningkat menjadi 1.252.267 orang dengan tingkat
pengangguran terbuka (TPT) sebesar 7,33 persen, Tahun 2010
pengangguran terbuka turun menjadi 1.046.883 orang dengan tingkat
pengangguran terbuka (TPT) sebesar 6,21 persen, pada Tahun 2011
pengangguran terbuka turun lagi menjadi 1.002.662 orang dengan tingkat
pengangguran terbuka (TPT) sebesar 5,93 persen dan pada Tahun 2012
pengangguran terbuka turun lagi menjadi 962.141 orang dengan tingkat
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


x
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

pengangguran terbuka (TPT) sebesar 5,63 persen. Sebagian besar
penganggur adalah golongan usia dan berpendidikan Sekolah Dasar (SD).
Pada Tahun 2008 sebesar 669.711 orang penganggur berada di daerah
perdesaan, dan sampai dengan Tahun 2012 turun menjadi 475.263 orang.
Penganggur terbanyak ada di wilayah Kabupaten Cilacap sebesar 75.495
orang dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 10,16 persen
pada Tahun 2008 dan sampai dengan Tahun 2012 turun lagi menjadi 57.222
orang dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 7,40 persen.
Sedangkat TPT tertinggi di Kabupaten Pati sebesar 9,36 persen pada Tahun
2008 berangsur-angsur menurun fluktuatif dan meningkat secara signifikan
hingga 12,20 persen pada Tahun 2012.
Berdasarkan hasil perkiraan Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi
Tahun 2014 2018, Penduduk Usia Kerja di Provinsi Jawa Tengah
diperkirakan akan bertambah sebanyak 235.084 orang hingga mencapai
24.282.694 orang pada Tahun 2018. Sedangkan angkatan kerjanya akan
bertambah sebanyak 478.880 orang menjadi 17.859.237 orang pada Tahun
2018. Secara kualitas, penduduk usia kerja dan angkatan kerja periode 2014
2018 masih didominasi oleh yang berpendidikan Sedolah Dasar, namun
berangsur-angsur menurun. Sebaliknya yang berpendidikan di atasnya
berangsur meningkat/naik.
Perekonomian Jawa Tengah pada Tahun 2012 mampu tumbuh 6,3
persen dan Tahun 2018 tumbuh 6,97 persen. Pertumbuhan ekonomi yang
positif tersebut diperkirakan akan mendorong penciptaan kesempatan kerja,
sehingga jumlah kesempatan kerja pada Tahun 2014 2018 akan
bertambah 675.263 orang menjadi 17.138.059 orang. Peningkatan
penciptaan kesempatan kerja ini juga berdampak positif terhadap penurunan
tingkat dan jumlah pengangguran terbuka (TPT). Pada Tahun 2014 TPT
diperkirakan menurun menjadi 5,28 persen atau sebanyak 917.561 orang.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
xi

Sedangkan Tahun 2018 TPT diperkirakan meningkat hingga menjadi 4,04
persen atau sebesar 721.178 orang.
Agar pembangunan ketenagakerjaan di Provinsi Jawa Tengah dapat
terwujud maka diperlukan berbagai kebijakan, program dan strategi yang
meliputi kebijakan umum adalah kebijakan yang erat kaitannya dengan
penciptaan iklim yang kondusif dalam rangka perluasan dan penciptaan
kesempatan kerja. Kebijakan dimaksud harus dikembangkan secara serasi
dan terpadu serta saling mendukung guna perluasan dan penciptaan
kesempatan kerja yang prodktif dan remuneratif. Kemudian kebijakan
perluasan kesempatan kerja, kebijakan pelatihan tenaga kerja, kebijakan
penempatan tenaga kerja yang merupakan kebijakan dari sembilan sektor
dalam penciptaan kesempatan kerja sebanyak-banyaknya, serta kebijakan
pengendalian tambahan angkatan kerja. Agar angkatan kerja dapat
dimanfaatkan secara optimal, diperlukan kebijakan di bidang pelatihan dan
penempatan tenaga kerja, perlindungan tenaga kerja dan kesejahteraan
pekerja. Kebijakan di bidang pelatihan difokuskan pada dua jenis pelatihan,
yaitu pelatihan kewirausahaan untuk mengisi kesempatan kerja dengan
status berusaha sendiri tanpa bantuan serta berusaha dengan dibantu dan
pekerja/buruh/karyawan. Jumlah angkatan kerja yang perlu dilatih pada
Tahun 2014 2018 dengan fokus kewirausahaan adalah sebanyak 71.075
orang. Untuk menjadi pekerja/buruh/karyawan sebanyak 544.035 orang. Di
bidang penempatan tenaga kerja, diprioritaskan empat lapangan usaha yang
menjadi sektor prioritas dan ditetapkan sebagai target utama penempatan
tenaga kerja pada Tahun 2014 2018 yakni sektor industri, sektor
perdagangan, sektor keuangan dan sektor jasa..
Kebijakan perlindungan tenaga kerja meliputi bidang pengawasan
dan hubungan industrial. Pada Tahun 2014 ditargetkan jumlah perusahaan
yang melapor sebanyak 21.513 perusahaan dan pada Tahun 2018
sebanyak 25.097 perusahaan. Sementara pegawai pengawas pada tahun
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


xii
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

2014 ditargetkan sebanyak 358 orang dan tahun 2018 sebanyak 418 orang.
Di bidang hubungan industrial pada Tahun 2014 2018 ditargetkan
terdapat penambahan jumlah Peraturan Perusahaan. Perjanjian Kerja
Bersama dan Lembaga Kerjasama Bipartit. Untuk itu jumlah mediator pada
Tahun 2014 ditargetkan bertambah menjadi 122 orang dan pada Tahun
2018 menjadi sebanyak 192 orang. Kebijakan kesejahteraan pekerja
meliputi peningkatan kepesertaan jamsostek aktif baik perusahaan maupun
tenaga kerja. Pada Tahun 2014 - 2018 perusahaan yang aktif menjadi
peserta jamsostek ditargetkan sebanyak 13.444 perusahaan dengan
kepesertaan tenaga kerja mencapai 815.685 tenaga kerja. Demikian juga
dengan tingkat upah diharapkan dapat meningkat setiap tahunnya
disesuaikan dengan kebutuhan hidup layak. Dengan melalui pembinaan dan
sosialisasi yang intensif kepada perusahaan diharapkan jumlah perangkat
hubungan industrial serta kepesertaan perusahaan dan tenaga kerja yang
aktif semakin bertambha selama periode 2014 2018.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
xiii

DAFTAR ISI
Hal.
KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT PTK .......................................... iii
KATA PENGANTAR KEPALA DISNAKERTRANSDUK........................ v
RINGKASAN EKSEKUTIF .................................................................... vii
DAFTAR ISI........................................................................................... xiii
DAFTAR TABEL..................................................................................... xix

BAB I PENDAHULUAN .......... 1
1.1 Latar Belakang ...................................................... 1
1.2 Maksud dan Tujuan .............................................. 5
1.3 Hasil Yang Diharapkan .......................................... 6
1.4 Metodologi dan Sumber Data ................................ 6
1.5 Pengertian Dasar, Konsep dan Definisi ................ 10
1.6 Kerangka Isi .......................................................... 12

BAB II KONDISI KETENAGAKERJAAN DI PROVINSI JAWA
TENGAH .......................................................................

15
2.1 Kondisi ekonomi .................................................... 15
2.2 Penduduk Usia Kerja ............................................ 18
2.2.1 Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan
Umur ........................................................

18
2.2.2 Penduduk Usia Kerja Menurut
TingkatPendidikan ...................................

20
2.2.3 Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis
Kelamin ....................................................

21
2.2.4 Penduduk Usia Kerja Menurut
Kabupaten / Kota .....................................

21
2.3 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) ........... 23
2.3.1 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Menurut Golongan Umur .........................

23
2.3.2 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Menurut Tingkat Pendidikan ....................

25
2.3.3 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Menurut Jenis Kelamin ............................

26
2.3.4 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Menurut Kabupaten/Kota .......................

27

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


xiv
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

2.4 Angkatan Kerja ...................................................... 29
2.4.1 Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur 29
2.4.2 Angkatan Kerja Menurut Tingkat
Pendidikan ...............................................

31
2.4.3 Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin ... 32
2.4.4 Angkatan Kerja Menurut Kabupaten /
Kota .........................................................

33
2.5 Penduduk Yang Bekerja ........................................ 37
2.5.1 Penduduk Yang Bekerja Menurut
Lapangan Usaha ......................................

35
2.5.2 Penduduk Yang Bekerja Menurut
Golongan Umur ........................................

37
2.5.3 Penduduk Yang Bekerja Menurut
Tingkat Pendidikan ..................................

38
2.5.4 Penduduk Yang Bekerja Menurut Jenis
Kelamin ...................................................

40
2.5.5 Penduduk Yang Bekerja Menurut Status
Pekerjaan Utama .....................................

41
2.5.6 Penduduk Yang Bekerja Menurut
Jabatan ....................................................

43
2.5.7 Penduduk Yang Bekerja Menurut Jam
Kerja .........................................................

45
2.5.8 Penduduk Yang Bekerja Menurut
Kabupaten / Kota .....................................

46
2.6 Penganggur Terbuka ............................................. 48
2.6.1 Penganggur Terbuka Menurut
Golongan Umur ........................................

48
2.6.2 Penganggur Terbuka Menurut Tingkat
Pendidikan ...............................................

50
2.6.3 Penganggur Terbuka Menurut Jenis
Kelamin ....................................................

52
2.6.4 Penganggur Terbuka Menurut
Kabupaten / Kota .....................................

53
2.7 Produktivitas Tenaga Kerja ....... 56







Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
xv

BAB III PERKIRAAN DAN PERENCANAAN PERSEDIAAN
TENAGA KERJA ............................................................

57
3.1 Perkiraan Penduduk Usia Kerja ... 57
3.1.1 Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut
Golongan Umur ........................................

58
3.1.2 Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut
Tingkat Pendidikan ..................................

59
3.1.3 Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut
Jenis Kelamin ...........................................

60
3.1.4 Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut
Kabupaten / Kota .....................................

61
3.2 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
(TPAK) ...................................................................

63
3.2.1 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan
Kerja Menurut Golongan Umur ................

63
3.2.2 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan
Kerja Menurut Pendidikan .......................

64
3.2.3 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan
Kerja Menurut Jenis Kelamin ...................

64
3.2.4 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan
Kerja Menurut Kabupaten/Kota ...............

65
3.3 Perkiraan Angkatan Kerja ..................................... 67
3.3.1 Perkiraan Angkatan Kerja Menurut
Golongan Umur ........................................

67
3.3.2 Perkiraan Angkatan Kerja Menurut
Tingkat Pendidikan ..................................
68
3.3.3 Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Jenis
Kelamin ....................................................

68
3.3.4 Perkiraan Angkatan Kerja Menurut
Kabupaten/Kota .......................................

69

BAB IV PERKIRAAN DAN PERENCANAAN KEBUTUHAN
TENAGA KERJA ............................................................

71
4.1 Perkiraan Perekonomian Tahun 2014-2018 ......... 72
4.2 Perkiraan Kesempatan Kerja ....... 74
4.2.1 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut
Lapangan Usaha .....................................

74
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


xvi
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

4.2.2 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut
Golongan Umur .......................................

73
4.2.3 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut
Tingkat Pendidikan ..................................

76
4.2.4 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut
Jenis Kelamin ..........................................

77
4.2.5 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut
Status Pekerjaan .....................................

78
4.2.6 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut
Jabatan ....................................................

80
4.2.7 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut
Jam Kerja .................................................

82
4.2.8 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut
Kabupaten/Kota .......................................

83
4.3 Perkiraan Produktivitas Tenaga Kerja ................... 86

BAB V PERKIRAAN DAN PERENCANAAN
KESEIMBANGAN ANTARA PERSEDIAAN DAN
KEBUTUHAN TENAGA KERJA ..................................


89
5.1 Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut
Golongan Umur .....................................................

90
5.2 Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Tingkat
Pendidikan .............................................................

92
5.3 Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Jenis
Kelamin .................................................................

94
5.4 Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut
Kabupaten/Kota .....................................................

95
BAB VI ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI DAN PROGRAM
PEMBANGUNAN KETENAGAKERJAAN .....................

99
6.1 Rekomendasi Kebijakan Umum ............................ 100
6.2 Rekomendasi Kebijakan Perluasan Kesempatan
Kerja ......................................................................

101
6.2.1 Sektor Pertanian, Peternakan, Perburuan
Dan Perikanan .............

102
6.2.2 Sektor Pertambangan dan Penggalian ...... 104
6.2.3 Sektor Industri Pengolahan ..... 106
6.2.4 Sektor Listrik, Gas dan Air ....... 108
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
xvii

6.2.5 Sektor Konstruksi (Bangunan) .... 108
6.2.6 Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran 111
6.2.7 Sektor Angkutan dan Komunikasi ...... 113
6.2.8 Sektor Keuangan ....... 114
6.2.9 Sektor Jasa ....... 116
6.3 Rekomendasi Kebijakan Pelatihan Tenaga Kerja
6.3.1 Pelatihan Berdasarkan Status Pekerjaan
Utama .....................................................
6.3.1.1 Berusaha sendiri tanpa bantuan
dan berusaha dengan dibantu ....
6.3.1.2 Pekerja/buruh/karyawan ............
6.3.1.3 Pelatihan berdasarkan jenis
pekerjaan ....................................
117

119

119
119

120
6.4 Rekomendasi Kebijakan Penempatan Tenaga
Kerja.......................................................................

123
6.5 Rekomendasi Kebijakan Perlindungan Tenaga
Kerja ......................................................................

126
6.5.1 Pengawasan Ketenagakerjaan ..... 127
6.5.2 Pembinaan Hubungan Industrial dan
Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja

130
BAB VII PENUTUP ............ 135

DAFTAR PUSTAKA

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
xix

DAFTAR TABEL

Hal.
Tabel 2.1 : Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga
Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Tahun
2009 2012 .............................................................. 16

Tabel 2.2 : Laju Pertumbuhan dan Kontribusi Produk Domestik
Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Tahun
2009 2012 ............................................................... 17

Tabel 2.3 : Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan Umur
Tahun 2009 2012 ..................................................... 19

Tabel 2.4 : Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Tahun 2009 2012 ..................................................... 20

Tabel 2.5 : Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kelamin Tahun
2009 2012 ................................................................ 21

Tabel 2.6 : Penduduk Usia Kerja Menurut Kabupaten/Kota
Tahun 2009 2012 ..................................................... 22

Tabel 2.7 : Penduduk Usia Kerja Menurut Wilayah Perdesaan/
Perkotaan Tahun 2009 2012 .................................... 24

Tabel 2.8 : Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Golongan
Umur Tahun 2009 2012 ............................................ 26

Tabel 2.9 : Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Tingkat
Pendidikan Tahun 2009 2012 ................................... 27

Tabel 2.10 : Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Jenis
Kelamin Tahun 2009 2012 ....................................... 28

Tabel 2.11 : Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Kabupaten/
Kota Tahun 2009 2012 ............................................ 30

Tabel 2.12 : Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Wilayah
Perdesaan/Perkotaan Tahun 2009 2012 ................ 32

Tabel 2.13 : Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur Tahun
2009 2012 ............................................................... 33

Tabel 2.14 : Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan Tahun
2009 2012 ............................................................... 34

Tabel 2.15 : Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin Tahun
2009 2012 ............................................................... 36
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


xx
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 2.16 : Angkatan Kerja Menurut Kabupaten/Kota Tahun
2009 2012 ............................................................... 38

Tabel 2.17 : Angkatan Kerja Menurut Wilayah Perdesaan/
Perkotaan Tahun 2009 2012 .................................. 39

Tabel 2.18 : Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha
Tahun 2009 2012 .................................................... 41

Tabel 2.19 : Penduduk Yang Bekerja Menurut Golongan Umur
Tahun 2009 2012 .................................................... 42

Tabel 2.20 : Penduduk Yang Bekerja Menurut Tingkat
Pendidikan Tahun 2009 2012 ................................. 44

Tabel 2.21 : Penduduk Yang Bekerja Menurut Jenis Kelamin
Taun 2009 2012 ...................................................... 46

Tabel 2.22 : Penduduk Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan
Utama Tahun 2009 2012 ........................................ 47

Tabel 2.23 : Penduduk Yang Bekerja Menurut Jenis Jabatan
Tahun 2009 2012 ................................................... 49

Tabel 2.24 : Penduduk Yang Bekerja Menurut Jam Kerja
Tahun 2009 2012 ................................................... 49

Tabel 2.25 : Penduduk Yang Bekerja Menurut Kabupaten /
Kota 2009 2012 ...................................................... 51

Tabel 2.26 : Penduduk Yang Bekerja Menurut Wilayah
Perdesaan/Perkotaan Tahun 2009 2012 ................. 51

Tabel 2.27 : Penganggur Terbuka Menurut Golongan Umur
Tahun 2009 2012 ................................................... 52

Tabel 2.28 : Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Golongan
Umur Tahun 2009 2012 .......................................... 52

Tabel 2.29 : Penganggur Terbuka Menurut Tingkat Pendidikan
Tahun 2009 2012 .................................................. 54

Tabel 2.30 : Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Tingkat
Pendidikan Tahun 2009 2012 ............................... 55

Tabel 2.31 : Penganggur Terbuka Menurut Jenis Kelamin
Taun 2009 2012 .................................................... 56


Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
xxi

Tabel 3.1 : Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan
Umur Tahun 2014 2018 .......................................... 59

Tabel 3.2 : Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat
Pendidikan Tahun 2014 2018 ................................. 60

Tabel 3.3 : Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis
Kelamin Tahun 2014 2018 ...................................... 60

Tabel 3.4 : Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut
Kabupaten/Kota Tahun 2014 2018 ......................... 62

Tabel 3.5 : Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Wilayah
Perdesaan/Perkotaan Tahun 20042018 ................... 63

Tabel 3.6 : Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Menurut Golongan Umur tahun 20142018 ............... 64

Tabel 3.7 : Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2014-2018 .......... 65

Tabel 3.8 : Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Menurut Jenis Kelamin Tahun 2014-2018 .................. 66

Tabel 3.9 : Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2014-2018 .............. 67

Tabel 3.10 : Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Menurut Wilayah Perdesaan/Perkotaan Tahun
2014 2018 ................................................................ 68

Tabel 3.11 : Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Golongan
Umur Tahun 2014-2018 ............................................. 69

Tabel 3.12 : Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Tingkat
Pendidikan Tahun 2014-2018 .................................... 70

Tabel 4.1 : Perkiraan Pertumbuhan Produk Domestik
Regional Bruto Menurut lapangan Usaha
Tahun 2014-2018 ....................................................... 73

Tabel 4.2 : Perkiraan Produk Domestik Regional Bruto
Menurut Lapangan Usaha Tahun 2014-2018 ............ 73

Tabel 4.3 : Perkiraan Struktur Produk Domestik Regional
Bruto Menurut Lapangan Usaha Tahun
2014-2018 .................................................................. 75


Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


xxii
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 4.4 : Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Golongan
Umur Tahun 2014 2018 ......................................... 76

Tabel 4.5 : Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Tingkat
Pendidikan Tahun 2014-2018 .................................. 77

Tabel 4.6 : Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jenis
Kelamin Tahun 2014-2018 ....................................... 78

Tabel 4.7 : Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Status
Pekerjaan Utama Tahun 2014-2018 ........................ 80

Tabel 4.8 : Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jenis
Jabatan Tahun 2014-2018 ....................................... 82

Tabel 4.9 : Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jam
Kerja Tahun 2014-2018 ........................................... 83

Tabel 4.10 : Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut
Kabupaten/Kota tahun 2014-2018 .......................... 85

Tabel 4.11 : Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Wilayah
Perdesaan/Perkotaan Tahun 2014-2018 ............... 86

Tabel 5.1 : Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut
Golongan Umur Tahun 2014-2018 ....................... 90

Tabel 5.2 : Perkiraan Tingkat Penganggur Terbuka
Menurut Golongan Umur Tahun 2014-2018 ......... 91

Tabel 5.3 : Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut
Tingkat Pendidikan Tahun 2014-2018 .................. 93

Tabel 5.4 : Perkiraan Tingkat Penganggur Terbuka Menurut
Tingkat Pendidikan Tahun 2014-2018 ................... 93

Tabel 5.5 : Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Jenis
Kelamin Tahun 2014-2018 ..................................... 94

Tabel 5.6 : Perkiraan Tingkat Penganggur Terbuka Menurut
Jenis Kelamin Tahun 2014-2018 ........................... 94

Tabel 5.7 : Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut
Kabupaten/Kota Tahun 2014-2018 ........................... 96

Tabel 5.8 : Perkiraan Tingkat Penganggur Terbuka Menurut
Kabupaten/Kota Tahun 2014-2018 ........................... 97


Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
xxiii

Tabel 6.1 : Perkiraan Tambahan Kesempatan Kerja Menurut
Status Pekerjaan dan Tingkat Pendidikan Tahun
2014 2018 ............................................................ 117

Tabel 6.2 : Kapasitas Lembaga Latihan dan Instruktur Provinsi
Jawa Tengah Tahun 2010 2012 ............................. 118

Tabel 6.3 : Perkiraan Tambahan Kesempatan Kerja
Menurut Status Pekerjaan Utama dan Lapangan
Usaha Tahun 2014-2018 ......................................... 125

Tabel 6.4 : Perusahaan, Tenaga Kerja dan Pegawai Pengawas
Menurut Status Pekerjaan Utama dan Lapangan
Usaha Tahun 2008-2012 ........................................ 128

Tabel 6.5 : Target Perusahaan, Tenaga Kerja dan Pegawai
Pengawas Provinsi Jawa Tengah Tahun
2014-2018 ............................................................ 129

Tabel 6.6 : Perangkat Hubungan Industrial Provinsi Jawa
Tengah Tahun 20082012 ...................................... 130

Tabel 6.7 : Target Perangkat Hubungan Industrial Provinsi
Jawa Tengah Tahun 20142018 ............................. 132

Tabel 6.8 : Upah Minimum Provinsi dan Kebutuhan Layak
Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008-2012 ................. 134

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jawa Tengah secara administratif merupakan sebuah provinsi
yang ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1950,
tanggal 4 Juli 1950. Letaknya diapit oleh dua provinsi besar, yaitu
Jawa Barat dan Jawa Timur. Letaknya 5
0
40' dan 8
0
30' Lintang
Selatan dan antara 108
0
30' dan 111
0
30' Bujur Timur (termasuk Pulau
Karimunjawa).
Provinsi Jawa Tengah terbagi menjadi 29 Kabupaten dan 6
Kota. Luas Wilayah Jawa Tengah sebesar 3,25 juta hektar atau
sekitar 25,04 persen dari luas pulau Jawa (1,70 persen luas
Indonesia).
Keberhasilan pembangunan nasional khususnya di bidang
ketenagakerjaan ditentukan oleh ketersediaan informasi yang akurat
mengenai perkiraan jumlah kebutuhan dan ketersediaan tenaga kerja
baik pada di tingkat nasional, regional, sektoral, menurut struktur
umur, pendidikan serta karakteristik-karakteristik demografi lain.
Masalah ketenagakerjaan merupakan masalah yang penting
karena tenaga kerja atau labor merupakan salah satu faktor utama
dalam produksi, sedangkan faktor yang lainnya seperti tanah, modal,
kewirausahaan dan knowledge yang memiliki karakteristik sangat
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


2
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

berbeda bila dibandingkan dengan faktor labor atau tenaga kerja.
Berbagai masalah kependudukan dan ketenagakerjaan ini dalam
pelaksanaan program-program pembangunan dapat menghambat
laju pertumbuhan ekonomi.
Dengan demikian pemerintah perlu membuat perencanaan
tenaga kerja daerah untuk mengkoordinasikan kebijakan-kebijakan
maupun program-program yang sesuai dan tepat agar masalah-
masalah ketenagakerjaan dan kependududkan tersebut bisa
dieliminir dan diminimalisasi sehingga program pembangunan bisa
berjalan dengan lancar.
Perencanaan Tenaga Kerja dapat didefinisikan sebagai
proses penyusunan rencana ketenagakerjaan secara sistematis yang
dijadikan dasar dan acuan dalam penyusunan kebijakan, strategi dan
pelaksanaan program pembangunan ketenagakerjaan yang
berkesinambungan (Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003).
Dalam menyusun Perencanaan Tenaga Kerja Daerah
diperlukan 2 (dua) faktor yang sangat dominan, yaitu faktor
perekonomian dan faktor kependudukan dan ketenagakerjaan. Di
Provinsi Jawa Tengah pada empat tahun terakhir ini masih terdapat
kesenjangan antara laju pertumbuhan tenaga kerja, angkatan kerja
dan kesempatan kerja.
Di sisi permintaan, kebutuhan tenaga kerja dipengaruhi
perubahan-perubahan yang dinamis pada sisi permintaan output di
tingkat regional dan sektoral. Perkembangan output regional dan
sektoral dapat dilihat dari perkembangan Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB) Jawa Tengah secara sektoral. Secara teoritis, dengan
semakin tingginya tingkat pertumbuhan output secara reginal dan
sektoral akan memperbesar kemungkinan terjadinya peningkatan
kebutuhan tenaga kerja baik di tingkat regional maupun sektoral.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
3

Namun, permintaan tenaga kerja secara tepat dalam arti
kuantitas masih sangat sulit diukur. Jumlah penduduk yang bekerja
(employment) seringkali digunakan sebagai ukuran terhadap
kebutuhan tenaga kerja, meskipun demikian jumlah pekerja secara
statistik bukanlah satu-satunya ukuran terbaik.
Dari sisi penawaran, jumlah penduduk dan angkatan kerja
dipengaruhi oleh variabel demografi, yaitu tingkat kelahiran, kematian
dan migrasi. Di Jawa Tengah, angka migrasi ini relatif kecil
dibandingkan dengan jumlah penduduk dan angkatan kerja.
Keberhasilan pemerintah dalam mencapai sasaran pokok
pembangungan di bidang ketenagakerjaan pada akhirnya ditentukan
oleh kemampuan pemerintah dalam mempengaruhi kedua sisi
permintaan dan penawaran. Dalam pelaksanaanya, perubahan
perubahan dari kedua sisi tersebut dapat disiasati dengan
menetapkan pilihan strategi kebijakan dan penetapan target target
pembangunan.
Berdasarkan data statistik, (Sakernas Provinsi Jawa Tengah
tahun 2008-2012), diketahui bahwa laju pertumbuhan penduduk usia
15 tahun ke atas rata-rata sebesar minus 0,71%, sedangkan laju
pertumbuhan angkatan kerjanya rata-rata sebesar 0,45% dan laju
pertumbuhan kesempatan kerja (jumlah orang yang bekerja) rata-
rata sebesar 0,56%. Walaupun kelihatannya laju pertumbuhan
kesempatan kerja lebih besar dibandingkan dengan laju
pertumbuhan angkatan kerja, tetapi secara absolut, jumlah angkatan
kerja masih lebih besar dari pada jumlah kesempatan kerjanya.
Artinya, masih cukup besar tantangan yang dihadapi Provinsi Jawa
Tengah dalam penyediaan lapangan kerja untuk mengurangi
pengangguran.
Berdasarkan hasil Sakernas tahun 2012, diketahui bahwa
jumlah angkatan kerja di Provinsi Jawa Tengah sebesar 17,095.031
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


4
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

orang, jika dilihat menurut umurnya, bahwa angkatan kerja yang
berumur antara 30-44 tahun merupakan angkatan kerja yang
terbesar yaitu 36,79 persen, diikuti yang berumur 15-29 tahun
sebesar 26,35 persen, kemudian yang berumur 45-59 tahun sebesar
26,88 persen, dan angkatan kerja yang berumur 60 tahun ke atas
hanya sebesar 9,99 persen. Persebaran data angkatan kerja
menurut kelompok umur ini menggambarkan adanya piramida yang
berat ke bawah dan menggelembung ditengah, diantara usia
produktif 30-44 tahun. Artinya, karakteristik angkatan kerja dari sisi
usia menunjukan angkatan kerja di Provinsi Jawa Tengah masuk
dalam kelompok usia yang memiliki kematangan, yang sebenarnya
sudah memiliki cukup pengalaman.
Sedangkan jika dilihat menurut pendidikannya sebagian besar
angkatan kerja Provinsi Jawa Tengah hanya berpendidikan setingkat
SD ke bawah yaitu sebesar 55,56 persen, dengan jumlah orang
yang bekerja terbesar pada sektor Pertanian yaitu sebesar 33,78
persen, dan sektor Perdagangan, Rumah Makan dan Restoran
sebesar 21,38 persen, serta sektor Industri hanya sebesar 19,14
persen, hal yang demikian mencerminkan adanya kualitas dan
produktivitas tenaga kerja yang masih rendah.
Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tahun 2012 sebesar
6,3persen, lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi tahun 2011 dan
tahun 2010 yaitu sebesar 6,01 persen, dan sebesar 5,84 persen.
Pertumbuhan yang tinggi ini terutama pada sektor
pengangkutan & komunikasi yaitu sebesar 8,56 persen, kemudian
pada sektor jasa-jasa sebesar 7,54 persen dan pada sektor
perdagangan, hotel dan restoran sebesar 7,53 persen. Sedangkan
sektor yang rendah dalam pemberian sumbangan terhadap PDRB
adalah sektor pertanian yaitu hanya sebesar 1,33 persen, sektor
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
5

pertambangan & penggalian sebesar 4,91 persen serta sektor Listrik,
gas & air sebesar 4,30 persen.
Berdasarkan hal tersebut di atas dan dalam rangka
mengatasi masalah aktual ketenagakerjaan di Jawa Tengah, maka
diperlukan adanya langkah Penyusunan Rencana Tenaga Kerja
Daerah (RTKD) Provinsi Jawa Tengah. RTKD ini diharapkan akan
menjadi lebih responsif terhadap perubahan strategis yang terjadi
pada konteks lingkungan lokal, regional, dan global yang memiliki
pengaruh terhadap keberhasilan pembangunan ketenagakerjaan di
Provinsi Jawa Tengah pada umumnya untuk jangka waktu 4 (empat)
tahun mendatang.
1.2. Maksud dan Tujuan
Penyusunan Rencana Tenaga Kerja Daerah (RTKD) Jawa
Tengah ini dimaksudkan untuk menggambarkan keadaan
ketenagakerjaan pada waktu 5 (lima) tahun mendatang, dan
diharapkan dapat mengakomodasikan berbagai perubahan kondisi
ketenagakerjaan, perekonomian dan kebijakan di berbagai bidang.
Penyusunan Rencana Tenaga Kerja Daerah dilakukan
dengan tujuan untuk:
1. Perkiraan ketersediaan secara kuantitatif jumlah tenaga kerja
selama lima tahun mendatang (2014-2018) berdasarkan beberapa
karakteristiknya.
2. Memprediksi kebutuhan tenaga kerja selama lima tahun
mendatang yang diturunkan berdasarkan permintaan output
nasional dan sektoral.
3. Memprediksi angka pengangguran yang dihitung berdasarkan
perbedaan antara kebutuhan tenaga kerja dan persediaan tenaga
kerja pada periode yang sama.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


6
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

4. Menyusun rekomendasi kebijakan dan program terkait masalah
ketenagakerjaan secara nasional dan sektoral.
1.3. Hasil Yang Diharapkan
Informasi mengenai perkiraan kebutuhan dan ketersediaan
tenaga kerja dimasa mendatang serta dinamikanya sangat penting
bagi pengambil kebijakan pembangunan. Dengan memperhatikan
asumsi-asumsi yang telah ditetapkan, maka keluaran dari PTKD
diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan untuk menyusun
rencana tenaga kerja sektoral maupun daerah.
1.4. Metodologi dan Sumber Data
1.4.1. Metodologi
Penghitungan persediaan tenaga kerja dengan pendekatan
TPAK menggunakan data dan informasi antara lain :
a. PUK menurut jenis kelamin, golongan umur, tingkat
pendidikan, Kabupaten/Kota dan Pedesaan/Perkotaan;
b. TPAK menurut jenis kelamin, golongan umur, tingkat
pendidikan Kabupaten/Kota dan Pedesaan/Perkotaan;
c. Angkatan Kerja menurut jenis kelamin, golongan umur,
tingkat pendidikan Kabupaten/Kota dan
Pedesaan/Perkotaan.
a. Proyeksi Penduduk Usia Kerja
PUK adalah penduduk yang berusia 15 tahun keatas.
Perhitungan proyeksi PUK menggunakan rumus pertumbuhan
geometrik yang dituliskan dengan rumus :
\



PUK
t
= PUK
0
x (1 + r)
n


Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
7

Dimana : PUK
t
= PUK tahun akhir (tahun proyeksi)
PUK
0
= PUK tahun dasar
r = pertumbuhan PUK
n = selisih tahun akhir dan tahun dasar

Untuk menentukan laju pertumbuhan PUK menggunakan rumus :



b. Proyeksi Tingkat Partisipasi Angka Kerja (TPAK)

Data dasar yang digunakan untuk proyeksi TPAK adalah
TPAK hasil Sakernas bulan Agustus tahun 2008- 2012. Asumsi yang
digunakan, pola TPAK Provinsi Jawa Tengah pada tahun proyeksi
merupakan kelanjutan dari kecenderungan TPAK tahun 2014- 2018.
Perhitungan proyeksi dengan menggunakan rumus
geometrik, yakni :




Dimana : TPAK
t
= TPAK tahun akhir (tahun proyeksi)
TPAK
0
= TPAK tahun dasar
r = pertumbuhan TPAK
n = selisih tahun akhir dan tahun dasar

c. Proyeksi Angkatan Kerja

Proyeksi Angkatan Kerja dapat dihitung dengan mudah
setelah proyeksi PUK dan TPAK dilakukan. Proyeksi angkatan kerja
dapat diperoleh dari hasil perkalian antara PUK dengan TPAK pada
tahun-tahun proyeksi. Atau ditulis dengan rumus :



TPAK
t
= TPAK
0
x (1 + r)
n


TPAK = AK/PUK, maka AK = PUK x TPAK
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


8
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Catatan : AK = Angkatan Kerja
PUK = Penduduk Usia Kerja
TPAK = Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
d. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi

Data dasar yang digunakan untuk proyeksi PDRB adalah PDRB
Provinsi Jawa Tengah tahun 2013-2018 serta membandingkan
dengan hasil proyeksi dari BPS Provinsi Jawa Tengah. Angka PDRB
tersebut diperinci menurut sembilan sektor, menurut harga konstan
tahun 2018 .
Perhitungan proyeksi PDRB menggunakan rumus geometrik :




Dimana : PDRB
t
: angka PDRB untuk tahun akhir (tahun proyeksi)
PDRB
0
: angka PDRB untuk tahun dasar
r : pertumbuhan PDRB
n : selisih antara tahun proyeksi dengan tahun dasar

e. Proyeksi Kesempatan Kerja

Data yang digunakan untuk proyeksi jumlah kesempatan kerja adalah
jumlah kesempatan kerja secara sektoral hasil Sakernas Tahun
2014-2018, dan PDRB Tahun 2014-2018. Proyeksi kesempatan kerja
dihitung dengan menggunakan metode elastisitas, yaitu rasio antara
perubahan atau pertumbuhan kesempatan kerja dengan
pertumbuhan PDRB. Formula elastisitas adalah :
KK
E =
PDRB
Dimana :
E : Elastisitas
KK : pertumbuhan KK
PDRB : pertumbuhan PDRB
PDRB
t
= PDRB
0
x (1 + r)
n


Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
9

Menghitung laju pertumbuhan kesempatan kerja menurut lapangan
usaha sampai dengan tahun proyeksi menggunakan rumus:
KK = E
a
xPDRB
a
Dimana :
KK = Pertumbuhan kesempatan kerja baru
E
a
= Elastisitas perubahan
PDRB
a
= Perkiraan laju pertumbuhan ekonomi

Menghitung proyeksi kesempatan kerja menurut lapangan usaha
sampai dengan tahun proyeksi menggunakan rumus :

KK
t
= KK
0
x (1 + r)
n
Dimana :

KK
t
= Proyeksi kesempatan kerja
KK
0
= Data dasar penduduk yang bekerja
r = Pertumbuhan kesempatan kerja
n = Jarak/selisih tahun proyeksi dengan tahun data dasar
f. PerkiraanPenganggur Terbuka
Perkiraan jumlah pengangguran di Provinsi Jawa Tengah tahun
2014 - 2018 menggunakan data dasar sebagai berikut:
Hasil proyeksi angkatan kerja tahun 2014 - 2018
Hasil proyeksi kesempatan kerja tahun 2014 - 2018
Perkiraan jumlah pengangguran dalam penulisan ini secara
implisit mengasumsikan bahwa jumlah orang yang menganggur
merupakan sisa dari jumlah angkatan kerja yang tidak
memperoleh pekerjaan.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka proyeksi jumlah
pengangguran tahun 2014 - 2018 dihitung dengan rumus :

Penganggur = Hasil Proyeksi AK Hasil Proyeksi
KK

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


10
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

g. Perkiraan Kebutuhan Pelatihan, Penempatan dan
Perlindungan Tenaga Kerja
Dalam memperkirakan kebutuhan latihan dan penempatan tenaga
kerja serta perlindungan tenaga kerja dengan menggunakan
pendekatan industrialstatus metric, education status metric dan
geometrik yang dikalikan dengan tambahan kebutuhan kesempatan
kerja maupun rencana perlindungan tenaga kerja.
1.5. Pengertian Dasar, Konsep, dan Definisi
1. Kebutuhan Tenaga Kerja
Kebutuhan Tenaga Kerja (kesempatan kerja) adalah jumlah
lapangan kerja dalam satuan orang yang dapat disediakan oleh
seluruh sektor ekonomi dalam kegiatan produksi. Dalam arti yang
lebih luas, kebutuhan ini tidak hanya menyangkut jumlahnya,
tetapi juga kualitasnya (pendidikan atau keahliannya).
2. Penduduk Usia Kerja (PUK)
Penduduk Usia Kerja/Tenaga kerja adalah penduduk yang
berumur 15 tahun keatas yang telah dianggap mampu dan mau
melaksanakan pekerjaan. Tenaga kerja ini dikelompokkan
menurut tenaga kerja yang sudah bekerja, mencari kerja,
bersekolah, mengurus rumah tangga dan mereka yang tidak
masuk dalam kategori diatas (cacat, pensiun dan lain-lain).
3. Persediaan Tenaga Kerja
Persediaan Tenaga Kerja adalah jumlah penduduk yang sudah
siap untuk bekerja, disebut angkatan kerja (labour force) yang
dapat dilihat dari segi kualitas dan kuantitas.
4. Penduduk Usia Kerja (PUK)
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
11

Penduduk Usia Kerja adalah penduduk yang berusia 15 tahun
keatas.
5. AngkatanKerja (AK)
Angkatan Kerja adalah penduduk usia kerja yang berumur 15
tahun keatas yang selama seminggu sebelum pencacahan,
bekerja atau punya pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja dan
mereka yang tidak bekerja tetapi mencari pekerjaan. Atau dapat
disimpulkan bahwa angkatan kerja adalah sekelompok penduduk
usia kerja yang potensial untuk bekerja. Pengertian potensial
adalah kesiapan setiap orang untuk masuk di pasar kerja baik
saat itu sedang bekerja maupun mencari pekerjaan.
6. Bekerja
Bekerja adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang
dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh
pendapatan atau keuntungan, paling sedikit 1 jam (tidak terputus)
dalam seminggu yang lalu.
7. Penganggur Terbuka (PT)
Penganggur Terbuka terdiri dari :
a. Mereka yang mencari pekerjaan.
b. Mereka yang mempersiapkan usaha.
c. Mereka yang tidak mencari pekerjaan, karena merasa tidak
mungkin dapat pekerjaan.
d. Mereka yang sudah punya pekerjaan, tetapi belum mulai
bekerja.
8. Tingkat Penganggur Terbuka (TPT)
Tingkat Penganggur Terbuka merupakan rasio jumlah
Penganggur Terbuka terhadap jumlah Angkatan Kerja.
9. Setengah Penganggur
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


12
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Setengah Penganggur adalah kegiatan seseorang yang bekerja
kurang dari 35 jam per minggu.
10. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja adalah perbandingan antara
jumlah angkatan kerja dengan jumlah seluruh penduduk usia
kerja.
11. Jenis Kegiatan / Lapangan Usaha
Jenis Kegiatan / Lapangan Usaha adalah bidang kegiatan dari
pekerjaan / usaha / perusahaan / instansi di mana seseorang
bekerja seperti digolongkan dalam Klasifikasi Lapangan Usaha
Indonesia (KLUI) / Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia
(KBLUI).
12. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
a. Menurut Pendekatan Produksi, PDRB adalah jumlah nilai
barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi
di wilayah suatu daerah dalam jangka waktu tertentu
(biasanya 1 tahun).
b. Menurut Pendekatan Pengeluaran, PDRB merupakan
jumlah balas jasa atas faktor-faktor produksi yang diciptakan
oleh seluruh kegiatan ekonomi berupa uang dan gaji, sewa
tanah, bunga modal dan keuntungan, termasuk pajak tak
langsung dan penyusutan barang modal tetap di suatu
daerah dalam jangka waktu tertentu.
1.6. Kerangka Isi
Penulisan Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah
2014 - 2018 ini di bagi dalam 7 (tujuh) bab, yaitu :
BAB I : PENDAHULUAN
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
13

BAB II : KONDISI KETENAGAKERJAAN PROVINSI JAWA
TENGAH
BAB III : PERKIRAAN DAN PERENCANAAN PERSEDIAAN
TENAGA KERJA
BAB IV : PERKIRAAN DAN PERENCANAAN KEBUTUHAN
TENAGA KERJA
.BAB V : PERKIRAAN DAN PERENCANAAN KESEIMBANGAN
ANTARA PERSEDIAAN DAN KEBUTUHAN TENAGA
KERJA
BAB VI : ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, DAN PROGRAM
PEMBANGUNAN KETENAGAKERJAAN
BAB VII : PENUTUP

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
15

BAB II
KONDISI KETENAGAKERJAAN
DI PROVINSI JAWA TENGAH

2.1 Kondisi Ekonomi
Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur
majunya perkembangan perekonomian suatu daerah adalah dengan
melihat perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dari
suatu periode ke periode berikutnya. Semakin baik perkembangan
ekonomi nasional maka akan berdampak positif terhadap
perkembangan perekonomian daerah.
Perkembangan ekonomi di Provinsi Jawa Tengah pada
periode tahun 2008-2011 mulai menunjukkan tanda-tanda kearah
perbaikan pada seluruh sektor ekonomi, setelah sebelumnya pada
tahun 1998 dilanda krisis ekonomi yang serius. Gejala perbaikan
ekonomi tersebut ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi hampir
diseluruh Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Tengah yang tidak
lagi negatif.
Tiga sektor penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik
Regional Bruto Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2009 s/d 2012
adalah sektor Industri Pengolahan, sektor Perdagangan Hotel dan
Restoran, serta pada sektor Pertanian seperti terlihat pada Tabel 2.1
berikut :
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


16
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 2.1
Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000
Menurut Lapangan Usaha Tahun 2009-2012

Lapangan Usaha 2009 2010 2011 2012
1. Pertanian, Peternakan,
Kehutanan&Perikanan
34.101,15 34.955,96 35.421,52 36.712,30
2. Pertambangan&Penggalian 1.952,87 2.091,26 2.193,96 2.355,80
3. IndustriPengolahan 57.444,19 61.390,10 65.528,81 69.012,50
4. Listrik, Gas, Air Bersih 1.489,55 1.614,86 1.684,22 1.820,40
5. Bangunan 10.300,65 11.014,59 11.712,45 12.574,00
6. Perdagangan, Hotel
&Restoran
37.766,36 40.055,36 43.072,19 46.719,00
7. Pengangkutan&Komunikasi 9.192,95 9.805,50 10.645,26 11.486,10
8. Keuangan, Persewaan&Jasa
Perusahaan
6.701,53 7.038,13 7.503,73 8.206,30
9. Jasa-jasa 17.724,22 19.029,72 20.464,20 21.961,90
Jumlah
176.673,46 186.995,48 198.226,35 210.848,30
Sumber : BPS Tahun 2009-2012 (Agustus)

Dari Tabel 2.1 di atas terlihat bahwa secara berturut-turut nilai
produksi sektor yang terbesar berdasarkan harga konstan tahun
2000 adalah pada sektor Industri Pengolahan yaitu sebesar Rp
69.012,50 milyar, kemudian sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
sebesar Rp. 46.719,00 milyar dan selanjutnya pada sektor Pertanian
sebesar Rp. 36.712,30 milyar.
Sektor-sektor yang dominan dalam pembentukan PDRB
Provinsi Jawa Tengah adalah Sektor Industri Pengolahan, Sektor
Perdagangan, Rumah Makan dan Perhotelan serta sektor Pertanian.
Hal ini tercermin baik atas dasar harga konstan tahun 2000 maupun
atas dasar harga berlaku (terlihat pada Tabel 2.2.)






Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
17

Tabel 2.2
Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto
Menurut Lapangan Usaha Tahun 2009-2012

Lapangan Usaha

Laju Pertumbuhan
2009 2010 2011 2012
1. Pertanian 4,4 2,5 1,3 3,7
2. Pertambangan 5,5 7,1 4,9 7,4
3. Industri 1,8 6,9 6,7 5,5
4. Listrik, Gas & Air 5,6 8,4 4,3 6,4
5. Bangunan 6,8 6,9 6,3 7,0
6. Perdagangan 6,0 6,1 7,5 8,2
7. Angkutan 7,0 6,7 8,6 7,9
8. Keuangan 7,8 5,0 6,6 9,4
9. Jasa 7,8 7,4 7,5 7,3
Jumlah 4,7 5,8 6,0 6,3
Sumber : BPS Tahun 2009-2012 (Agustus)

Memperhatikan distribusi PDRB menunjukkan besar
kontribusi dari masing-masing sektor ekonomi terhadap
pembentukan PDRB. Dengan memperhatikan tabel 2.2 di atas dapat
dilihat bahwa selama periode waktu tahun 2009-2012 terdapat 3
(tiga) sektor ekonomi (lapangan usaha) yang dominan dalam
menyumbang PDRB yaitu sektor Keuangan merupakan sektor yang
memiliki sumbangan terbesar terhadap PDRB baik pada tahun 2009
sebesar 7,8 persen pada tahun 2010 turun menjadi 5,0 persen pada
tahun 2011 naik menjadi 6,6 persen, kemudian pada tahun 2012
meningkat menjadi 9,4 persen (dari PDRB atas dasar harga konstan
tahun 2000).
Sektor dengan nilai sumbangan terbesar kedua adalah sektor
Perdagangan, Hotel dan Restoran dengan besar sumbangan
sebesar 6,0 persen pada tahun 2009, meningkat menjadi 6,1 persen
pada tahun 2010, pada tahun 2011 meningkat lagi menjadi 7,5
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


18
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

persen, kemudian meningkat menjadi 8,2 persen di tahun 2012 (dari
PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000).
Sektor penyumbang terbesar ketiga adalah sektor Angkutan
dengan sumbangan sebesar 7,0persen pada tahun 2009, menurun
menjadi 6,7 persen pada tahun 2010 dan pada tahun 2011 menjadi
8,6 persen, kemudian meningkat menjadi 7,9 persen di tahun 2012
(dari PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000).
2.2 Penduduk Usia Kerja
Penduduk usia kerja (PUK) adalah penduduk yang berusia 15
tahun keatas. Kuantitas dan tren PUK ini tergantung pada naik
turunnya jumlah penduduk secara keseluruhan sesuai dengan
terjadinya perubahan faktor-faktor demografi. Selama 4 (empat) tahun
dari tahun 2009 sampai tahun 2012 jumlah ini tampak ada
kecenderungan menurun , yakni dari 24.669.525 orang pada tahun
2010 menjadi 23.874.585 orang pada tahun 2012 atau berkurang
sebanyak 236.117 orang, kemudian kembali meningkat sekitar 30.746
orang menjadi sebanyak 23.905.331 orang pada tahun 2011 dan tahun
2012 kembali meningkat sebanyak 28.077 orang menjadi 23.933.408
orang. Untuk lebih jelasnya berikut bahasan mengenai PUK menurut
karakteristik yang mencakup golongan umur, tingkat pendidikan, jenis
kelamin dan menurut kabupaten/kota.
2.2.1 Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan Umur
Penduduk usia kerja pada tahun 2009-2012 di Provinsi
Jawa Tengah secara keseluruhan mengalami penurunan di
beberapa golongan umur. Untuk laju pertumbuhan PUK selama
tahun 2009-2012 sebesar 2,98 persen dan hampir sebagian
besar mengalami pertumbuhan negatif, sedangkan golongan
umur dengan laju pertumbuhan positif terdapat pada golongan
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
19

umur 50-54 yaitu sebesar 1,81 persen. Laju pertumbuhan negatif
terbesar terbesar berada pada golongan umur 25-29 tahun yaitu
sebesar 8,46 persen.
Hal yang cukup menarik terjadi pada PUK golongan umur
50-54, secara absolut cenderung mengalami kenaikan.
Peningkatan pada PUK golongan umur itu, menunjukkan adanya
perbaikan atau peningkatan harapan hidup bangsa Indonesia,
khususnya di Provinsi Jawa Tengah.
Pada tahun 2012 terjadi pergeseran posisi mereka yang
berada pada golongan umur tua (60+ tahun) mendominasi
mengalami kenaikan menjadi sebesar 14,25 persen (3.409.855
orang) kemudian golongan umur muda (15-19 tahun) menjadi
sebesar 12,04 persen (2.882.268 orang), sedangkan golongan
umur dewasa (30-34 tahun) juga mengalami kenaikan menjadi
sebesar 11,48 persen (2.747.883 orang). Seperti terlihat pada
tabel dibawah.
Tabel 2.3
Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan Umur
Tahun 2009-2012
Golongan Umur 2009 2010 2011 2012
1. 15-19
3.437.132 2.852.398 2.849.348 2.882.263
2. 20-24
2.579.328 2.115.837 2.217.127 2.190.503
3. 25-29
2.585.678 2.507.247 2.471.319 2.383.964
4. 30-34
2.621.913 2.572.132 2.654.837 2.747.883
5. 35-39
2.364.777 2.365.229 2.434.551 2.407.535
6. 40-44
2.403.640 2.479.047 2.415.412 2.448.503
7. 45-49
2.128.186 2.178.948 2.120.453 2.120.339
8. 50-54
1.812.420 1.917.995 1.959.029 1.963.494
9. 55-59
1.375.461 1.471.656 1.397.638 1.379.064
10. 60+
3.360.990 3.414.069 3.385.617 3.409.855
Jumlah 24.669.525 23.874.585 23.905.331 23.933.408
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


20
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

2.2.2 Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Jika dilihat berdasarkan tingkat pendidikan, pada tahun
2009 terlihat bahwa penduduk yang berpendidikan SD kebawah
secara proposional merupakan yang terbesar yaitu sejumlah
13.829.015 orang (56,06%), kemudian penduduk yang
berpendidikan SLTP/sederajat sebanyak 5.443.466 orang
(22,07%) dan yang berpendidikan SLTA/sederajat sebanyak
4.254.015 orang (17,24%), Sedangkan penduduk yang
berpendidikan tinggi (D-I/D-II/D-III/S-1/S-2) hanya sebanyak
1.143.029 orang (4,63%).
Kemudian pada tahun 2012 mengalami penurunan bagi
penduduk yang berpendidikan SD kebawah menjadi 12.973.540
orang (54,21%) atau turun 1,85 persen, yang berpendidikan
SLTP/sederajat mengalami penurunan menjadi 5.390.867 orang
(22,52%) atau turun 0,97 persen, kemudian yang berpendidikan
SLTA/sederajat mengalami kenaikan menjadi 4.304.093 orang
(17,98%) atau naik 1,16 persen dan mereka yang berpendidikan
tinggi juga mengalami kenaikan menjadi 1.264.908 orang (5,29%)
atau naik 9,64 persen. Seperti terlihat pada tabel berikut:

Tabel 2.4
Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Tahun 2009-2012
Tingkat Pendidikan 2009 2010 2011 2012
1. Maksimum SD 13.829.015 13.084.991 13.101.34
8
12.973.54
0 2. SMTP 5.443.446 5.403.496 5.410.653 5.390.867
3. SMTA Umum 2.627.148 2.698.930 2.702.549 2.590.278
4. SMTA Kejuruan 1.626.867 1.507.733 1.509.849 1.713.815
5. Diploma 505.868 477.224 477.800 441.330
6. Universitas 637.161 702.211 703.132 823.578
Jumlah 24.669.525 23.874.585 23.905.33
1
23.933.40
8
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
21

2.2.3 Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kelamin
Jumlah penduduk Usia Kerja (yaitu penduduk yang berumur 15
tahun ke atas atau sering disebut dengan tenaga kerja) Provinsi Jawa
Tengah cukup besar. Jumlah penduduk usia kerja menurut jenis
kelamin pada tahun 2009-2012 menunjukkan terjadinya penurunan
dikeduanya, namun jenis kelamin perempuan lebih besar dari pada
laki-laki. Pada tahun 2009 penduduk usia kerja laki-laki dan
perempuan masing-masing sebanyak 12.125.711 orang laki-laki dan
12.543.814 orang perempuan, pada tahun 2012 penduduk usia kerja
laki-laki menurun menjadi sebanyak 11.747.347 orang atau menurun
sebanyak 378.364 orang dan penduduk usia kerja perempuan
menurun menjadi sebanyak 12.186.061 orang atau meningkat
sebanyak 357.753 orang. Seperti terlihat pada tabel 2.5 dibawah.
Tabel 2.5
Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kelamin
Tahun 2009-2012
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)
Jenis Kelamin 2009 2010 2011 2012
1. Laki-Laki 12.125.711 11.710.703 11.734.308 11.747.347
2. Perempuan

12.543.814 12.163.882 12.171.023 12.186.061
Jumlah

24.669.525 23.874.585 23.905.331 23.933.408

2.2.4. Penduduk Usia Kerja Menurut Kabupaten / Kota
Jika dilihat berdasarkan Kabupaten/Kota, terlihat bahwa di
Kabupaten Brebes merupakan kabupaten yang banyak penduduk usia
kerjanya yaitu sebesar 1.271.349 orang pada tahun 2009 kemudian
menurun menjadi 1.246.165 orang pada tahun 2012. Kemudian
penduduk usia kerja yang terbanyak kedua adalah Kota Semarang
sebesar 1.167.924 orang pada tahun 2009 dan pada tahun 2012
menurun menjadi 1.183.427 orang. Sedangkan Kabupaten terbanyak
penduduk usia kerjanya ketiga adalah Kabupaten Cilacap sebesar
1.204.878 orang pada tahun 2009 menjadi 1.182.273 orang pada
tahun 2011. Seperti terlihat pada tabel 2.6 berikut :
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


22
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 2.6
Penduduk Usia Kerja Menurut Kabupaten/Kota
Tahun 2009-2012
Kabupaten/Kota 2009 2010 2011 2012
1 Kabupaten Cilacap 1.211.439 1.176.584 1.188.828 1.182.273
2 Kabupaten Banyumas 1.145.444 1.138.747 1.141.051 1.143.263
3 Kabupaten Purbalingga 607.057 611.544 615.759 614.593
4
Kabupaten
Banjarnegara
632.254 633.800 637.955 636.589
5 Kabupaten Kebumen 880.570 832.745 837.694 837.101
6 Kabupaten Purworejo 543.332 518.075 517.220 520.472
7 Kabupaten Wonosobo 546.904 543.724 545.059 546.168
8 Kabupaten Magelang 866.952 875.418 878.557 878.863
9 Kabupaten Boyolali 726.796 693.815 692.682 694.700
10 Kabupaten Klaten 903.994 861.326 859.919 862.686
11 Kabupaten Sukoharjo 652.829 625.664 621.272 623.754
12 Kabupaten Wonogiri 791.791 721.861 721.032 722.574
13 Kabupaten Karanganyar 648.478 610.084 607.102 609.453
14 Kabupaten Sragen 684.718 645.678 645.309 648.438
15 Kabupaten Grobogan 1.008.644 963.072 964.913 968.040
16 Kabupaten Blora 647.687 626.344 627.475 628.802
17 Kabupaten Rembang 441.431 448.749 441.413 449.516
18 Kabupaten Pati 922.119 900.981 899.934 903.167
19 Kabupaten Kudus 607.533 583.765 585.384 580.534
20 Kabupaten Jepara 803.867 801.479 790.965 797.731
21 Kabupaten Demak 758.658 765.770 756.884 765.471
22 Kabupaten Semarang 694.116 701.111 702.779 700.997
23 Kabupaten Temanggung 530.388 529.690 528.089 531.125
24 Kabupaten Kendal 724.507 666.643 662.758 667.084
25 Kabupaten Batang 503.967 519.848 517.706 521.807
26. Kabupaten Pekalongan 610.655 594.810 590.088 596.658
27. Kabupaten Pemalang 1.000.214 893.647 899.234 895.565
28. Kabupaten Tegal 1.046.103 982.384 988.871 988.703
29. Kabupaten Brebes 1.271.349 1.241.463 1.262.665 1.246.165
30. Kota Magelang 105.559 90.489 90.990 90.945
31. Kota Surakarta 423.800 387.050 385.899 386.065
32. Kota Salatiga 137.173 120.749 132.336 130.087
33. Kota Semarang 1.188.982 1.188.368 1.189.906 1.183.427
34. Kota Pekalongan 211.647 200.772 200.907 204.947
35. Kota Tegal 188.568 178.336 176.696 175.645
Jumlah 24669525 23874585 23905331 23933408
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
23

2.3. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) adalah
perbandingan antara jumlah angkatan kerja dengan jumlah tenaga
kerja. Akan tetapi tidak semua tenaga kerja terlibat dalam pekerjaan
atau sedang mencari pekerjaan. Sebagian tenaga kerja masih
merupakan siswa atau murid di sekolah, mengurus rumah tangga,
maupun sementara tidak bekerja di karenakan alasan-alasan tertentu;
artinya cukup banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan
TPAK. Melalui TPAK dapat diperoleh gambaran berapa besar jumlah
tenaga kerja yang sedang atau bersedia secara aktif melakukan
kegiatan ekonomi dari jumlah penduduk usia kerja.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja selama tahun 2009 sebesar
69,27 persen dan pada tahun 2012 juga meningkat menjadi 71,43
persen. TPAK sendiri merupakan gambaran jumlah penduduk yang
bersedia secara aktif melakukan kegiatan ekonomi terhadap total
penduduk usia kerja. Penjelasan berikut merupakan bahasan
mengenai TPAK menurut karakteristik yang mencakup golongan umur,
tingkat pendidikan, jenis kelamin dan menurut kabupaten/kota.
2.3.1. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Golongan
Umur
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja menurut golongan umur
dari tahun 2009-2012 untuk golongan umur 25-29 tahun, 35-39 tahun
dan 50-54 tahun terlihat cenderung bergerak secara fluktuatif. Seperti
terlihat pada tabel 2.7 pada tahun 2009 TPAK untuk golongan umur
15-19 sebesar 35,60 persen turun pada tahun 2010 sebesar 34, 15
persen dan naik pada tahun 2011 yaitu sebesar 35,37 sedangkan
pada Tahun 2012 naik lagi menjadi 36,80 persen. Salah satunya
disebabkan karena tidak tercapainya target sasaran pada program
pendidikan dasar 9 tahun disatu sisi, sedangkan disisi lain semakin
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


24
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

menurunnya kesadaran masyarakat terhadap jenjang pendidikan
yang lebih tinggi karena terpacu memenuhi kebutuhan hidup semata.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) berdasarkan
umur terlihat bahwa pada tahun 2009 yang terbesar pada mereka
yang berumur 45-49 tahun yaitu sebesar 84,18 persen, dan
meningkat menjadi 86,81 persen pada tahun 2012, kemudian diikuti
oleh yang berumur 40-44 tahun yaitu sebesar 83,59 persen pada
tahun 2009 meningkat menjadi 85,47 persen pada Tahun 2012,
tetapi pada umur 50-54 yang pada tahun 2009 sebesar 82,88 persen
meningkat pesat menjadi 85,52 persen pada tahun 2012.
Sedangkan yang terkecil TPAK-nya pada penduduk yang
berumur 15-19 tahun, sebesar 33,60 persen pada tahun 2009
meningkat menjadi 36,80 persen pada tahun 2012. Dan pada
penduduk yang berumur > 65 tahun yaitu sebesar 43,62 persen pada
tahun 2009 turun menjadi 41,28 persen pada tahun 2012. Seperti
terlihat pada tabel 2.7 berikut :
Tabel 2.7
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur
Tahun 2009-2012 (%)


Golongan Umur 2009 2010 2011 20201221
1. 15-19 35,60 34,15 35,37 36,80
2. 20-24 69,99 69,67 69,09 71,52
3. 25-29 76,43 77,07 77,59 77,77
4. 30-34 78,99 79,24 80,71 80,40
5. 35-39 80,90 82,21 82,67 83,47
6. 40-44 83,59 85,04 85,63 85,47
7. 45-49 84,18 85,63 85,80 86,81
8. 50-54 82,88 82,91 83,82 85,52
9. 55-59 78,58 78,58 77,69 78,94
10. 60+ 55,19 56,28 54,49 54,52
Total 69,27 70,60 70,77 71,43
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
25

2.3.2 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Tingkat
Pendidikan
Tinggi rendah tingkat pendidikan merupakan indikator yang
menunjukkan kualitas seorang tenaga kerja. Semakin tinggi tingkat
pendidikan diharapkan juga adanya peningkatan kualitas dari para
tenaga kerja tersebut. Berdasarkan data tabel 2.8 di bawah ini, TPAK
lulusan maksimum SD dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi, yaitu
sebesar 70,57 persen tahun 2009, meningkat menjadi 72,39 persen
pada tahun 2010, kemudian berkurang menjadi 71,75 persen pada
tahun 2011 dan pada tahun 2012 mengalami peningkatan lagi
menjadi 71,93 persen. TPAK maksimum SD diharapkan mengalami
penurunan yang berarti bahwa lulusan SD dapat melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tanpa harus masuk ke pasar
kerja karena alasan ekonomi.
TPAK lulusan SMTP keatas juga mengalami peningkatan
kecuali TPAK berpendidikan Diploma mengalami penurunan pada
tahun 2009 sebesar 85,04 persen, meningkat menjadi 88,31 persen
tahun 2010, kemudian pada tahun 2011 berkurang menjadi 83,48
persen dan berkurang lagi menjadi sebesar 82,67 persen pada tahun
2012. TPAK berpendidikan Universitas merupakan TPAK tertinggi
dan mengalami fluktuasi yaitu sebesar 91,21 persen tahun 2009,
meningkat menjadi 92,69 persen pada tahun 2010, kemudian
berkurang menjadi 88,63 persen dan meningkat kembali menjadi
sebesar 93,55 persen pada tahun 2012. Adanya kondisi fluktuatif
TPAK untuk tiap lulusan menjadi suatu bukti bahwa semakin
besarnya animo penduduk untuk memasuki pasar kerja.



Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


26
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 2.8
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Tahun 2009-2012 (%)
Tingkat Pendidikan 2009 2010 2011 2012
1. MaksimumSD 70,57 72,39 71,75 71,93
2. SMTP 59,03 60,16 61,78 61,71
3. SMTA Umum 69,53 65,75 72,48 74,21
4. SMTA Kejuruan 78,51 85,36 79,17 80,44
5. Diploma 85,04 88,31 83,48 82,67
6. Universitas 91,21 92,69 88,63 93,55
TPAK
69,27 70,60 70,77 71,43

Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)


2.3.3. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Jenis
Kelamin
TPAK menurut jenis kelamin dari tahun 2009-2012
menunjukkan bahwa TPAK laki-laki lebih besar dibandingkan TPAK
perempuan, hal ini terlihat pada tahun 2009 TPAK laki-laki sebesar
82,69 persen, tahun 2010 sebesar 83,64 persen, pada tahun 2011
sebesar 83,18 persen dan tahun 2012 sebesar 86,03 persen. Untuk
jenis kelamin perempuan TPAK nya tidak sebesar TPAK laki-laki, dan
cenderung mengalalmi fluktuasi setiap tahunnya. Tahun 2009
sebesar 56,29 persen, tahun 2010 meningkat sebesar 1,76 persen
menjadi 58,05 persen, pada tahun 2011 meningkat menjadi 58,81
persen atau 0,76 persen dan pada tahun 2012 berkurang menjadi
57,35 persen atau 1,46 persen. Hal ini dipengaruhi peran ganda
mereka dalam rumah tangga dan komitmen mereka untuk aktif dalam
pasar kerja. Perempuan cenderung keluar dari pasar kerja ketika
masa perkawinan, melahirkan dan membesarkan anak dan kemudian
kembali ke dunia kerja ketika anak-anak sudah besar. Selain itu
semakin terbukanya kesempatan pendidikan bagi perempuan di
berbagai bidang akan diikuti oleh meningkatnya partisipasi perempuan
dalam angkatan kerja. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
2.8 dibawah ini.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
27

Tabel 2.9
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin
Tahun 2009-2012 (%)
Jenis Kelamin 2009 2010 2011 2012
1. Laki-laki 82,69 83,64 83,18 86,03
2. Perempuan 56,29 58,05 58,81 57,35
TPAK 69,27 70,60 70,77 71,43
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)
2.3.4. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Kabupaten/
Kota
Jika dilihat berdasarkan Kabupaten/Kota, maka terlihat bahwa
yang memiliki TPAK tertinggi pada tahun 2009 berada di Kabupaten
Blora yaitu sebesar 75,94 persen, kemudian di Kabupaten Boyolali
sebesar 74,65 persen dan Kabupaten Semarang sebesar 73,61
persen. Sedangkan TPAK terendah berada di Kabupaten Tegal yaitu
sebesar 62,20 persen, kemudian di Kota Magelang sebesar 62,50
persen dan Kabupaten Cilacap sebesar 64,28 persen.
Pada tahun 2012 TPAK di Kabupaten Banjarnegara
merupakan yang tertinggi yaitu sebesar 79,47 persen, kemudian di
Kabupaten Temanggung sebesar 77,41 persen dan Kabupaten
Semarang sebesar 77,03 persen. Sedangkan TPAK terendah yang di
Kota Tegal yaitu sebesar 63,51 persen, kemudian di Kabupaten
Tegal sebesar 64,59 persen dan Kabupaten Tegal sebesar 64,41
persen, seperti terlihat pada tabel berikut :




Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


28
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 2.10
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Kabupaten/Kota
Tahun 2009 2012 (%)

Kabupaten / Kota 2009 2010 2011 2012
1. Kab. Cilacap 64,28 64,79 71,76 65,44
2.Kab. Banyumas 64,61 69,55 70,71 65,54
3. Kab. Purbalingga 69,43 71,23 70,50 76,63
4. Kab. Banjarnegara 71,75 73,69 71,25 79,47
5. Kab. Kebumen
6. Kab.Purworejo
7. Kab. Wonosobo
8. Kab. Magelang
9. Kab. Boyolali
10. Kab. Klaten
11. Kab. Sukoharjo
12. Kab. Wonogiri
13. Kab. Karanganyar
14. Kab. Sragen
15. Kab. Grobogan
16. Kab. Blora
17. Kab. Rembang
18. Kab. Pati
19. Kab. Kudus
20. Kab. Jepara
21. Kab. Demak
22. Kab. Semarang
23. Kab. Temanggung
24. Kab. Kendal
25. Kab. Batang
26. Kab. Pekalongan
27. Kab. Pemalang
28. Kab. Tegal
29. Kab. Brebes
30. Kota Magelang
31. Kota Surakarta
32. Kota Salatiga
33. Kota Semarang
34. Kota Pekalongan
35. Kota Tegal
68,86
66,08
72,24
72,86
74,65
68,27
69,15
73,26
70,23
72,29
76,07
75,94
72,56
69,33
72,29
69,42
69,19
73,61
73,39
71,56
68,99
70,49
64,70
62,20
66,04
62,50
65,02
64,40
66,24
68,93
64,57
70,21
68,14
73,09
74,08
76,04
66,71
69,13
71,99
75,03
74,89
74,91
74,56
71,37
68,88
72,03
70,17
68,20
76,48
77,57
71,03
72,66
70,42
65,10
64,43
71,27
68,46
66,81
67,64
67,00
72,30
70,35
70,35
69,97
72,00
71,52
70,44
70,03
70,08
69,62
71,10
71,25
70,96
72,14
72,26
72,35
69,83
71,14
70,87
70,59
72,07
71,36
71,39
71,08
70,25
71,06
69,93
70,60
69,01
67,71
69,61
70,41
70,20
75,49
68,49
76,24
74,52
75,07
72,22
68,63
73,04
72,62
76,24
75,16
73,84
74,88
70,94
75,11
71,94
70,45
77,03
77,41
72,88
72,61
71,64
68,36
64,59
64,41
69,46
70,49
68,98
67,91
69,49
63,51

TPAK 69,27 70,60 70,77 71,43
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)


Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
29

2.4 Angkatan Kerja
Provinsi Jawa Tengah mempunyai potensi sumber daya
manusia yang cukup besar, hal ini ditunjukkan dengan besarnya
jumlah penduduk usia kerja yang tergolong dalam kelompok angkatan
kerja. dimana angkatan kerja yang masuk ke pasar kerja pada empat
tahun terakhir cenderung semakin bertambah.
Angkatan kerja merupakan bagian dari penduduk usia kerja
berumur 15 tahun keatas yang selama seminggu sebelum
pencacahan, bekerja atau punya pekerjaan tetapi sementara tidak
bekerja; dan mereka yang tidak bekerja tetapi mencari pekerjaan.
Apabila dilihat dari kondisi angkatan kerja dari tahun 2009-2012
menunjukkan peningkatan, baik menurut golongan umur, tingkat
pendidikan maupun dari jenis kelamin. Hal ini dapat dilihat kondisi
angkatan kerja mulai tahun 2009 sebesar 17.087.649 orang dan pada
tahun 2010 turun menjadi 16.856.330 orang, serta pada tahun 2011
meningkat menjadi 16.918.797 serta pada tahun tahun 2012 naik
kembali menjadi 17.095.213 orang. Berikut akan dijelaskan secara rinci
kondisi angkatan kerja menurut karakteristiknya.

2.4.1 Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur
Bila dilihat dari sisi kelompok umur, angkatan kerja di
Provinsi Jawa Tengah didominasi golongan umur 30-34 tahun.
Hal ini diperkirakan karena golongan umur ini telah
menyelesaikan pendidikannya baik pada tingkat pendidikan
menengah maupun pendidikan tinggi dan mencapai usia tingkat
kedewasaan dan kematangan berfikir, yang mendorong mereka
memasuki pasar kerja untuk mencari pekerjaan. Golongan umur
50-54 tahun yang mengalami peningkatan setiap tahunnya yaitu
tahun 2009 sebanyak 1.502.207, pada tahun 2010 meningkat
menjadi 1.590.263 orang, dan tahun 2010 meningkat menjadi
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


30
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

1641.986.859 serta mengalami peningkatan kembali menjadi
1.679.194 orang pada tahun 2012. Pada kelompok umur 25-29
cenderung mengalami penurunan dari tahun 2009 sebanyak
1.976.153 orang, pada tahun 2010 berkurang menjadi 1.932.226
orang, pada tahun 2011 berkurang lagi menjadi 1.917.619 orang
dan tahun 2012 berkurang lagi menjadi 1.854.074 orang. Jumlah
maupun proporsi angkatan kerja menurut golongan umur selama
tahun 2009-2012 umumnya meningkat secara fluktuatif terutama
golongan umur 15-24 tahun.
Tabel 2.11
Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur
Tahun 2009 2012


Golongan Umur 2009 2010 2011 2012
1. 15-19
1.223.747 974.134 1.007.934
1.060.784
2. 20-24
1.805.182 1.474.122 1.531.831
1.566.588
3. 25-29
1.976.153 1.932.226 1.917.619
1.854.074
4. 30-34
2.071.115 2.038.258 2.142.719
2.209.311
5. 35-39
1.913.044 1.944.353 2.012.762
2.009.545
6. 40-44
2.009.093 2.108.304 2.068.407
2.092.791
7. 45-49
1.791.528 1.865.830 1.819.370
1.840.659
8. 50-54
1.502.207 1.590.263 1.641.986
1.679.194
9. 55-59
1.091.577 1.156.410 1.085.783
1.088.644
10. 60+
1.704.003 1.772.430 1.690.386
1.693.623
Jumlah 17.087.649 16.856.330 16.918.797 17.095.213
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)

Pada golongan umur 60 tahun ke atas telah terjadi
fenomena yang cukup menarik yaitu proporsinya berada diatas
golongan umur 55-59 tahun, yakni 9,97 persen pada tahun 2009,
tahun 2010 sebesar 10,51 persen, pada tahun 2011 sebesar
9,99 persen dan pada tahun 2012 sebesar 9,90 persen.
Keadaan tersebut menggambarkan walau sudah memasuki usia
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
31

pensiun namun semangat keinginan untuk tetap bekerja masih
cukup tinggi untuk mempertahankan penghasilan rumah tangga.

2.4.2. Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Tabel 2.12 menunjukkan bahwa jumlah angkatan kerja
yang berpendidikan SD ke bawah masih lebih dominan
dibandingkan dengan angkatan kerja yang berpendidikan di
atasnya. Bila ditelusuri kondisi angkatan kerja per pendidikan,
maka terlihat telah terjadi sedikit perubahan proporsi angkatan
kerja untuk setiap jenjang pendidikan. Hal ini ditunjukkan dengan
menurunnya proporsi angkatan kerja berpendidikan SD ke bawah
dan meningkatnya proporsi angkatan kerja pada tingkat
pendidikan SMTA Umum, SMTA Kejuruan dan Universitas.
Angkatan kerja dengan tingkat pendidikan maksimum SD
proporsinya pada tahun 2009 sebesar 57,11 persen, pada tahun
2010 sebesar 56,19 persen, pada tahun 2011 sebesar 55,56
persen dan pada tahun 20121 sebesar 54,59 persen. Keadaan ini
diduga karena kurangnya kesadaran akan pendidikan dan
dorongan bagi angkatan kerja muda untuk menambah tingkat
pendidikannya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Pada tingkat pendidikan Universitas kenaikan yang terjadi
selama tahun 2009-2012 merupakan yang terbesar yakni pada
tahun 2009 sebesar 581.178 orang, pada tahun 2010 sebesar
650.909 orang, pada tahun 2011 sebesar 623.219 orang dan
menjadi sebesar 961.868 orang pada tahun 2012. Dengan
semakin bertambahnya angkatan kerja dengan tingkat
pendidikan universitas, diharapkan akan memacu angkatan kerja
ini untuk meningkatkan kualitas diri mereka dengan keahlian-
keahlian lain yang lebih profesional. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel.2.11 di bawah ini.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


32
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 2.12
Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Tahun 2009 - 2012

Tingkat Pendidikan 2009 2010 2011 2012
1. MaksimumSD 9.759.007 9.471.995 9.400.219 9.332.104
2. SMTP 3.213.403 3.250.505 3.342.462 3.326.748
3. SMTA Umum 1.826.654 1.774.484 1.958.747 1.922.207
4. SMTA Kejuruan 1.277.195 1.286.998 1.195.294 1.378.642
5. Diploma 430.212 421.439 398.856 364.843
6. Universitas 581.178 650.909 623.219 770.487
Jumlah 17.087.649 16.856.330 16.918.797 17.095.031

Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)

2.4.3. Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin

Selama periode tahun 2009-2012 angkatan kerja menurut
jenis kelamin didominasi oleh jenis kelamin laki-laki. Angkatan kerja
jenis kelamin laki-laki mengalami penurunan tiap tahunnya yaitu
sebanyak 10.026.990 orang pada tahun 2009, berkurang pada tahun
2010 menjadi 9.794.740 orang, pada tahun 2011 berkurang lagi
menjadi 9.760.426 orang kemudian berkurang lagi menjadi
10.106.610 orang pada tahun 2012. Masih tinggi jumlah angkatan
kerja laki-laki menunjukkan bahwa laki-laki sebagai kepala keluarga
merupakan tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah dan
menghidupi keluarga.
Sedangkan untuk angkatan kerja perempuan baik secara
absolut dan proporsi masih dibawah angkatan kerja laki-laki. Secara
absolut angkatan kerja perempuan sedikit berfluktuasi yaitu sebanyak
7.060.659 orang pada tahun 2009, meningkat sebanyak 931 orang
menjadi 7.061.590 orang pada tahun 2010, pada tahun 2011
meningkat sebanyak 96.781 orang menjadi 7.158.371 orang dan
pada tahun 2012 berkurang lagi sebanyak 169.950 orang menjadi
sebanyak 6.988.421 orang. Jika dilihat secara proporsi semakin
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
33

menurun yakni 41,32 persen tahun 2009, tahun 2010 menurun
menjadi sebesar 41,89 persen, pada tahun 2011 meningkat menjadi
42,31 persen dan kembali mengalami penurunan menjadi 40,88
persen pada tahun 2012. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
tabel 2.13.
Tabel 2.13
Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin
Tahun 2009 2012

Jenis Kelamin 2009 2010 2011 2012
1. Laki-Laki 10.026.990 9.794.740 9.760.426 10.106.610
2. Perempuan 7.060.659 7.061.590 7.158.371 6.988.421
Jumlah 17.087.649 16.856.330 16.918.797 17.095.031
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)

2.4.4. Angkatan Kerja Menurut Kabupaten / Kota
Keadaan angkatan kerja selama periode 2009-2012 menurut
kabupaten/kota tidak jauh berbeda dengan keadaan penduduk usia
kerja pada periode yang sama. Sebagian besar angkatan kerja
Provinsi Jawa Tengah berada di Kabupaten Brebes yang mencapai
839.546 orang pada tahun 2009, pada tahun 2010 meningkat
menjadi 884.757 orang, pada tahun 2011 berkurang menjadi 882.972
orang dan pada tahun 2012 berkurang lagi menjadi 802.643.
Terbesar kedua ada di Kabupaten Cilacap, kemudian disusul
Kabupaten Grobogan, sedangkan di Kota Magelang jumlah angkatan
kerjanya paling sedikit dibanding kabupaten/kota yang lain yaitu
65.970 orang pada tahun 2009, tahun 2010 berkurang menjadi
61.945 orang dan pada tahun 2011 meningkat menjadi 64.238 orang
kemudian terjadi penurunan kembali menjadi 63.170 orang. Kondisi
angkatan kerja tahun 2009-2012 dapat dilihat dalam tabel 2.14 di
bawah ini :
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


34
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 2.14
Angkatan Kerja Menurut Kabupaten/Kota
Tahun 2009 - 2012

Kabupaten / Kota 2009 2010 2011 2012
1. Kab. Cilacap 778.660 762.347 853.137 773.687
2. Kab. Banyumas 740.042 792.012 800.633 749.349
3. Kab. Purbalingga 421.467 435.598 434.130 470.965
4. Kab. Banjarnegara 453.660 467.074 454.525 505.916
5. Kab. Kebumen
6. Kab. Purworejo
7. Kab. Wonosobo
8. Kab Magelang
9. Kab. Boyolali
10. Kab. Klaten
11. Kab. Sukoharjo
12. Kab. Wonogiri
13. Kab. Karanganyar
14. Kab. Sragen
15. Kab. Grobogan
16. Kab. Blora
17. Kab. Rembang
18. Kab. Pati
19. Kab. Kudus
20. Kab. Jepara
21. Kab. Demak
22. Kab. Semarang
23. Kab. Temanggung
24. Kab. Kendal
25. Kab. Batang
26. Kab. Pekalongan
27. Kab. Pemalang
28. Kab. Tegal
29. Kab. Brebes
30. Kota Magelang
31. Kota Surakarta
32. Kota Salatiga
33. Kota Semarang
34. Kota Pekalongan
35. Kab. Tegal
606.340
359.011
395.068
631.689
542.533
617.172
451.417
580.035
455.446
494.956
494.956
767.310
491.863
320.318
639.265
439.215
558.008
524.939
510.942
389.255
347.665
430.475
647.167
650.691
839.546
65.970
275.546
88.342
787.565
145.890
121.753
584.684
353.027
397.392
648.484
527.581
574.549
432.526
519.702
457.756
483.526
721.475
466.977
320.291
620.602
420.513
562.402
522.266
536.204
410.860
473.515
377.700
418.843
581.757
632.931
884.757
61.945
258.573
81.674
796.186
145.186
125.452
589.330
361.917
392.465
628.377
487.936
602.176
435.414
501.982
431.653
459.766
684.731
452.639
318.985
651.095
408.790
562.700
536.414
496.109
380.592
472.944
369.571
419.446
631.743
702.720
882.972
64.238
266.308
89.609
828.235
141.466
124.049
631.905
356.451
416.421
654.887
521.534
622.990
428.077
527.770
442.583
494.358
727.611
464.309
336.613
640.664
436.041
573.854
539.243
539.950
411.144
486.142
378.893
427.457
612.211
638.632
802.643
63.170
272.144
89.736
803.707
142.422
111.552
Jumlah 17.087.649 16.856.330 16.918.797 17.095.031
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
35

2.5. Penduduk yang Bekerja
Pembangunan ekonomi memberikan kesempatan bagi
angkatan kerja untuk bekerja. Perkembangan jumlah orang yang
bekerja mengarah kepada semua sektor ekonomi dan bersifat
remuneratif yang merupakan indikator pembangunan ekonomi dalam
bidang ketenagakerjaan.
Penduduk yang bekerja merupakan orang yang melakukan
suatu pekerjaan dengan maksud untuk memperoleh atau membantu
memperoleh penghasilan atau keuntungan selama paling sedikit satu
jam dalam seminggu yang lalu. Bekerja satu jam tersebut harus
dilakukan berturut-turut dan tidak terputus.
Berdasarkan hasil Survey Angkatan Kerja Nasional
(Sakernas) yang dilakukan oleh BPS Jawa Tengah pada tahun 2012
jumlah orang yang bekerja mengalami peningkatan jika dibandingkan
dengan tahun 2009, yaitu dari sejumlah 15.835.382 orang menjadi
sejumlah 16.132.890 di tahun 2012.
Selama tahun 2009-2012 total Penduduk Yang Bekerja (PYB)
mengalami peningkatan, yakni dari sebanyak 15.835.382 orang pada
tahun 2009 berkurang menjadi sebanyak 15.809.447 orang pada
tahun2010. Pada tahun 2011 penduduk yang bekerja mengalami
pertumbuhan negatif menjadi sebesar 15.725.135 orang, kemudian
pada tahun 2012 mengalami pertumbuhan positif menjadi 16.132.890
orang. Untuk mengetahui perkembangan penduduk yang bekerja
selama tahun 2009-2012 dari berbagai karakteristiknya akan
dijelaskan lebih rinci dibawah ini.
2.5.1. Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha
Penduduk yang bekerja di Provinsi Jawa Tengah menurut
lapangan usaha mengalami penurunan setiap tahunnya. Sektor
pertanian masih mendominasi dalam penyerapan tenaga kerja
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


36
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

dibandingkan dengan sektor lainnya, walaupun mengalami
penurunan dan peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini terlihat dari
komposisinya pada tahun 2009 sebesar 37,03 persen, menurun
menjadi 35,53 persen pada tahun 2010, pada tahun 2011 menurun
menjadi 33,87 persen, kemudian menurun kembali pada tahun 2012
menjadi 31,39 persen. Penurunan ini disebabkan adanya
pergeseran mata pencaharian atau beralih profesi pada sektor
lainnya. Pada tabel 2.15 dapat dilihat peningkatan pada sektor
industri, bangunan dan jasa. Sektor industri proporsinya meningkat
dari tahun 2009 sebesar 16,78 persen, pada tahun 2010 menjadi
17,81 persen, pada tahun 2011 meningkat menjadi 19,14 persen dan
meningkat lagi menjadi 20,44 persen pada tahun 2012. Demikian
pula pada sektor jasa bila pada tahun 2009 proporsi menunjukkan
11,60 persen, tahun 2010 meningkat menjadi 12,40 persen, tahun
2011 meningkat menjadi 12,92 persen, maka pada tahun 2012
mencapai 13,44 persen.
Tabel 2.15
Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha
Tahun 2009 - 2012
Lapangan Usaha
2009 2010 2011
2012
1. Pertanian
5.864.827 5.616.529 5.376.452 5.064.377
2. Pertambangan
122.572 117.048 79.440 91.208
3. Industri
2.656.673 2.815.292 3.046.724 3.297.707
4. Listrik, Gas &Air
25.425 19.577 29.152 26.564
5. Bangunan
1.028.429 1.046.741 1.097.380 1.207.067
6. Perdagangan
3.462.071 3.388.450 3.402.091 3.447.147
7. Angkutan
683.675 664.080 563.144 547.944
8. Keuangan
154.739 179.804 264.681 282.810
9. Jasa
1.836.971 1.961.926 2.057.071 2.168.066
Jumlah 15.835.382 15.809.447 15.916.135 16.132.890
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 20092012 (Agustus)
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
37

Sektor yang paling sedikit penyerapan tenaga kerjanya adalah
sektor listrik, gas dan air dimana setiap tahunnya hanya mampu
menyerap tenaga kerja kurang dari 1 persen dari keseluruhan
penduduk yang bekerja.
2.5.2. Penduduk Yang Bekerja Menurut Golongan Umur
Bila dilihat dari sisi kelompok umur, penduduk yang
bekerja di Provinsi Jawa Tengah masih didominasi golongan
umur 30-34 hingga 40-44 tahun. Hal ini diperkirakan karena
golongan umur ini telah menyelesaikan pendidikannya baik pada
tingkat pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi,
sehingga mendorong kelompok umur ini memasuki pasar kerja
untuk mencari pekerjaan, dan usia tersebut merupakan usia
produktif dalam bekerja.
Penduduk yang bekerja dengan golongan umur 55-59
tahun terlihat proporsi yang semakin meningkat, hal tersebut
terjadi juga pada usia 60 tahun keatas walaupun mengalami
fluktuasi. Hal ini cukup menarik yaitu bahwa proporsi kelompok
umur ini, dari 10,69% pada tahun 2009, meningkat menjadi
10,84% pada tahun 2011, dan pada tahun 2011 turun menjadi
10,24%, pada tahun 2012 , meningkat menjadi 10,46%. Hal ini
dimungkinkan karena harapan hidup semakin meningkat dan
masih produktif untuk bekerja.





Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


38
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 2.16
Penduduk Yang Bekerja Menurut Golongan Umur
Tahun 2009 - 2012
GolonganUmur 2009 2010 2011 2012
1. 15-19
852.248 687.451 724.111 785.805
2. 20-24
1.465.336 1.209.618 1.255.517 1.334.151
3. 25-29
1.793.738 1.776.692 1.762.373 1.727.348
4. 30-34
1.963.857 1.955.357 2.007.996 2.102.723
5. 35-39
1.844.946 1.889.300 1.899.806 1.951.471
6. 40-44
1.950.671 2.048.624 2.023.912 2.036.980
7. 45-49
1.738.317 1.835.039 1.782.109 1.793.461
8. 50-54
1.461.552 1.562.822 1.600.940 1.635.170
9. 55-59
1.072.648 1.130.192 1.057.086 1.078.595
10. 60+
1.692.069 1.714.352 1.611.285 1.687.186
Jumlah 15.835.382 15.809.447 15.725.135 16.132.890
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)


2.5.3 Penduduk Yang Bekerja Menurut Tingkat Pendidikan
Perbaikan ekonomi membawa pengaruh pada penduduk
yang bekerja menurut pendidikan. Tingkat pendidikan sering
dijadikan sebagai salah satu tolok ukur kemampuan sumberdaya
manusia.
Dalam periode tahun 2009-2012 proporsi penduduk yang
bekerja dengan pendidikan SD ke bawah mengalami penurunan
dari 59,72 persen di tahun 2009 menjadi 55,87 persen di tahun
2012. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kesadaran akan
pendidikan dan adanya kebijakan pemerintah dengan adanya
program wajib belajar 9 tahun dan BOS. Untuk penduduk yang
bekerja dengan pendidikan SMTP mengalami peningkatan setiap
tahunnya pada tahun 2009 hingga tahun 2010 dari 18,27 persen
menjadi 18,94 persen, pada tahun 2011 terjadi peningkatan lagi
yaitu menjadi 19,15 persen dan terjadi penurunan menjadi 18,98
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
39

persen. Untuk penduduk yang bekerja dengan pendidikan
diploma cukup memprihatinkan karena mengalami penurunan
yang fluktuatif, dari 2,33 persen, pada tahun 2009 turun menjadi
2,33 persen di tahun 2010, pada tahun 2011 posisi tetap sebesar
2,33 persen dan kembali mengalami penurunan pada tahun 2012
menjadi 2,14 persen.
Kondisi yang cukup baik terjadi untuk penduduk yang
bekerja dengan tingkat pendidikan Universitas yang mengalami
kenaikan yang fluktuatif setiap tahunnya. Tingkat pendidikan
Universitas pada tahun 2009 yaitu 3,18 persen (504.014 orang)
mengalami peningkatan menjadi 3,63 persen (573.509 orang)
pada tahun 2010, pada tahun 2011 turun menjadi 3,45 persen
(549.456 orang) dan meningkat 4,52 persen (729.821 orang) atau
bertambah 180.265 orang pada tahun 2012. Hal ini menandakan
akan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya strata/
jenjang pendidikan.
Tabel 2.17
Penduduk Yang Bekerja Menurut Tingkat Pendidikan
Tahun 2009 - 2012
Tingkat Pendidikan 2009 2010 2011 2012
1. MaksimumSD 9.457.640 9.173.558 9.135.874 9.013.849
2. SMTP 2.893.843 2.9963.593 3.048.208 3.061.738
3. SMTA Umum 1.541.504 1.578.128 1.739.736 1.737.145
4. SMTA Kejuruan 1.068.708 1.122.262 1.071.930 1.244.834
5. Diploma 369.673 368.397 370.931 345.503
6. Universitas 504.014 573.509 549.456
729.821
Jumlah 15.835.382 15.809.447 15.916.135 16.132.890
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)


Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


40
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

2.5.4 Penduduk Yang Bekerja Menurut Jenis Kelamin
Dilihat dari perkembangan penduduk yang bekerja
menurut jenis kelamin, terlihat bahwa penduduk yang bekerja
lebih banyak yang berjenis kelamin laki-laki. Proporsi
menunjukkan baik jenis kelamin laki-laki dan perempuan
mengalami fluktuasi baik secara jumlah dan proporsi. Untuk jenis
kelamin laki-laki pada tahun 2009-2012 secara absolut dan
proporsi adalah 9.250.34 orang (58,41%), mengalami
peningkatan menjadi 9.265.837 orang (58,61%) di tahun 2010,
pada tahun 2011 mengalami penurunan menjadi 9.241.376 orang
(58,06%), dan pada tahun 2012 menjadi 9.566.274 orang
(59,30%).
Penduduk yang bekerja menurut jenis kelamin perempuan
memiliki kondisi yang sedikit berbeda dengan penduduk yang
bekerja jenis kelamin laki-laki, turun secara absolut dari tahun
2009 ke tahun 2010 sebanyak 41.438 orang dari 6.585.048
orang menjadi 6.543.610 orang, pada tahun 2011 meningkat
sebanyak 131.149 orang menjadi sebanyak 6.674.759 orang,
pada tahun 2012 mengalami penurunan sebanyak 108.143 orang
menjadi 6.566.616 orang. Masih besar dan semakin
meningkatnya penduduk yang bekerja dengan jenis kelamin laki-
laki menunjukkan bahwa laki-laki sebagai kepala keluarga
merupakan tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah dan
menghidupi keluarga.




Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
41

Tabel 2.18
Penduduk Yang Bekerja Menurut Jenis Kelamin
Tahun 2009 - 2012



JenisKelamin 2009 2010 2011
2012
1.Laki-Laki 9.250.343 9.265.837 9.241.376 9.566.274
2. Perempuan 6.585.048 6.543.610 6.674.759 6.566.616
Jumlah 15.835.382 15.809.447 15.916.135 16.132.890
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)

2.5.5 Penduduk Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama
Secara umum status pekerjaan utama dapat
dikelompokkan menjadi 2 (dua) besaran yakni sektor formal
(kegiatan ekonomi formal) dan sektor informal (kegiatan ekonomi
informal). Berusaha dengan buruh tetap dan sebagian dari
pekerja/buruh/karyawan merupakan bagian dari sektor formal.
Sedangkan berusaha sendiri tanpa bantuan, berusaha dengan
dibantu buruh tidak tetap, pekerja bebas di sektor pertanian,
pekerja bebas di sektor non pertanian, pekerja tak dibayar dan
sebagian dari pekerja/buruh/karyawan merupakan bagian dari
sektor informal.
Adanya kecenderungan perubahan perekonomian
ternyata ikut mendorong peningkatan proporsi penduduk yang
bekerja dengan status formal (berusaha dibantu buruh tetap dan
buruh/karyawan). Penduduk yang bekerja sebagai pekerja/buruh
/karyawan pada tahun 2009 sebanyak 3.745.340 orang dan
berusaha dengan buruh 405.682 orang, tahun 2010 pekerja/
buruh/karyawan meningkat menjadi 4.062.402 sementara
berusaha dengan buruh meningkat menjadi 436.354 orang, pada
tahun 2011 pekerja/buruh/karyawan meningkat menjadi
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


42
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

4.486.336 orang dan berusaha dibantu meningkat lagi menjadi
472.504 orang, kemudian pada tahun 2012 pekerja/
buruh/karyawan meningkat lagi menjadi 4.941.878 orang
sedangkan berusaha dengan buruh mengalami peningkatan juga
menjadi 521.215 orang. Untuk sektor formal (bekerja dengan
buruh dan pekerja/buruh/karyawan) jumlah maupun proporsinya
terus meningkat yaitu pada tahun 2009 sebesar 26,21 persen,
pada tahun 2010 meningkat menjadi 28,46 persen, dan pada
tahun 2011 meningkat lagi menjadi 31,16 persen, kemudian
meningkat lagi menjadi 33,86 persen pada tahun 2012.
Peningkatan sektor formal dipengaruhi maraknya dunia usaha
dan tumbuhnya perusahaan-perusahaan sehingga menarik minat
masyarakat untuk bergabung dan meningkatkan kesejahteraan
keluarganya.
Dengan adanya pergeseran sektor informal ke sektor
formal diharapkan kesejahteraan masyarakat di Provinsi Jawa
Tengah semakin meningkat dan sejahtera.

Tabel 2.19
Penduduk Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama
Tahun 2009 - 2012


Status PekerjaanUtama 2009 2010 2011 2012
1. Brsh Sendiri tanpa bantuan
2.942.281 2.875.721 2.566.121 2.655.424
2. Brsh Dengan Dibantu
3.650.147 3.461.016 3.372.725 3.147.240
3. Brsh. Dengan Buruh
405.682 436.354 472.504 521.215
4. Pekerja / Buruh / karyawan
3.745.340 4.062.402 4.486.336 4.941.878
5. Pkj. Bebas di Pertanian
1.045.307 1.066.842 925.894 879.229
6. Pkj. Bebas di Non Pertanian
1.304.151 1.215.204 1.245.556 1.373.062
7. Pekerja tak dibayar
2.742.474 2.691.908 2.846.999 2.614.842
Jumlah 15.835.382 15.809.447 15.916.135 16.132.890
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
43

2.5.6. Penduduk Yang Bekerja Menurut Jabatan
Penduduk yang bekerja dapat diklasifikasikan
berdasarkan jabatannya. Jabatan tersebut menunjukkan posisi
pekerja yang bersangkutan, jabatan tersebut biasanya erat terkait
dengan pendidikan yang ditamatkannya, keahlian yang dimiliki
dan jenjang karier seseorang.
Selaras dengan komposisi penduduk yang bekerja
menurut lapangan usaha, ditinjau berdasarkan jabatannya
penduduk yang bekerja selama tahun 2009-2012 didominasi oleh
mereka yang bekerja sebagai tenaga produksi, tenaga usaha
pertanian, dan tenaga penjualan. Ketiga jenis jabatan ini terdapat
di sektor industri, sektor pertanian dan sektor perdagangan.
Proporsi penduduk yang bekerja menurut jabatan sebagai
tenaga produksi selama tahun 2009-2012 menduduki urutan
pertama dan mengalami pertumbuhan yang fluktuatif yaitu pada
tahun 2009 sebesar 42,15 persen, turun menjadi 37,22 persen di
tahun 2010, dan pada tahun 2011 turun lagi menjadi 33,22
persen, kemudian meningkat menjadi 36,06 persen pada tahun
2012. Sedangkan penduduk yang bekerja sebagai tenaga usaha
pertanian menduduki urutan kedua cenderung mengalami
penurunan dari 31,16 persen pada tahun 2009, meningkat
menjadi 34,63 persen pada tahun 2010 dan pada tahun 2011
turun menjadi 33,44 persen dan pada tahun 2012 turun lagi
menjadi 30,97 persen. Penduduk yang bekerja yang menduduki
urutan ketiga pada jabatan tenaga usaha penjualan juga
mengalami pertumbuhan yang fluktuatif yaitu pada tahun 2009
sebesar 15,27 persen, meningkat menjadi 15,84 persen pada
tahun 2010, pada tahun 2011 meningkat lagi menjadi 19,32
persen dan turun menjadi 18,97 persen pada tahun 2012.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


44
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Pada tahun 2012 penduduk yang bekerja menurut
jabatan dapat diproporsikan bahwa tenaga produksi meningkat
menjadi 5.817.673 orang, tenaga usaha pertanian berkurang
menjadi 4.996.073 orang dan tenaga usaha penjualan juga
berkurang menjadi 3.060.954 orang.
Perkembangan pada tahun 2012 juga menunjukkan
adanya peningkatan jabatan tenaga usaha jasa, tenaga produksi
dan tenaga kepemimpinan dan tenaga profesional, sedangkan
jabatan lainnya mengalami penurunan. Pada tahun 2012 untuk
jabatan tenaga tata usaha mengalami penurunan sehingga
menjadi sebanyak 536.296 orang atau turun menjadi 3,49
persen, untuk tenaga usaha penjualan juga mengalami
penurunan sehingga menjadi 3.060.954 orang atau turun menjadi
18,97 persen. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.20
di bawah ini.

Tabel 2.20
Penduduk Yang Bekerja Menurut Jabatan
Tahun 2009 - 2012
Jabatan 2009 2010 2011 2012
1. TenagaProfesional 698.500 828.857 757.148 765.515
2. TenagaKepemimpinan 175.910 153.481 85.683 104.552
3. Tenaga Tata Usaha 412.037 507.458 577.953 563.296
4. Tenaga Usaha Penjualan 2.418.919 2.505.455 3.075.376 3.060.954
5. Tenaga Usaha Jasa 481.185 405.275 745.743 771.567
6. Tenaga Usaha Pertanian 4.933.795 5.474.397 5.322.406 4.996.073
7. TenagaProduksi 6.675.274 5.884.917 5.287.386 5.817.673
8. Lainnya 39.762 49.607 64.440 53.260
Jumlah 15.835.382 15.809.447 15.916.135 16.132.890
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)


Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
45

2.5.7. Penduduk Yang Bekerja Menurut Jam Kerja
Perkembangan ekonomi suatu daerah dapat ditentukan
oleh sejauh mana penduduk yang bekerja memenuhi jam kerja
normal. Semakin banyak penduduk yang bekerja minimal sama
dengan jam kerja normal, maka akan memberikan nilai tambah
tidak saja kepada pekerja, namun juga kontribusinya bagi
perekonomian secara keseluruhan.
Penduduk yang bekerja berdasarkan jam kerja di Provinsi
Jawa Tengah, terlihat bahwa penduduk yang bekerja dengan jam
kerja normal (diatas 35 jam per minggu) mencapai 67,13 persen
pada tahun 2009 dan mengalami kenaikan yang fluktuatif. Pada
tahun 2010 penduduk yang bekerja antara 35-44 jam kerja
sebanyak 3.238.799 orang (20,49%), penduduk yang bekerja
antara 45-59 jam kerja sebanyak 5.664.143 orang (35,83%) dan
pada penduduk yang bekerja lebih dari 60 jam terdapat sebanyak
1.742.040 orang (11,02%).
Pada tahun 2011 dibandingkan tahun lalu terjadi kenaikan
yang cukup signifikan terutama pada penduduk yang bekerja
antara 35-44 jam kerja sehingga menjadi 3.726.566 orang atau
naik menjadi 23,41 persen. Pada tahun 2012 penduduk yang
bekerja antara 35-44 jam kerja mengalami peningkatan menjadi
3.946.265 orang atau naik menjadi 24,46 persen. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada table 2.21.

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


46
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 2.21
Penduduk Yang Bekerja Menurut Jam Kerja
Tahun 2009 - 2012

Jam Kerja 2009 2010 2011 2012
0 395.203 431.357 408.842 475.786
1-9 350.873 259.990 351.452 358.763
10-14 582.417 515.952 615.726 594.000
15-24 1.724.004 1.771.184 1.792.154 1.696.399
25-34 2.151.940 2.185.982 2.148.106 2.093.749
35-44 3.714.283 3.238.799 3.726.566 3.946.265
45-59 5.108.596 5.664.143 5.143.167 5.207.333
>60 1.808.066 1.742.040 1.730.122 1.760.595
Jumlah 15.835.382 15.809.447 15.916.135 16.132.890
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)

2.5.8. Penduduk Yang Bekerja Menurut Kabupaten/Kota
Penduduk yang bekerja menurut kabupaten/kota
peringkat terbesar terdapat di Kabupaten Brebes yakni mencapai
760.430 orang pada tahun 2009, tahun 2010 meningkat menjadi
812.098 orang, di tahun 2011 meningkat lagi menjadi 824.449
orang dan pada tahun 2012 mengalami penurunan menjadi
736.795 orang. Terbesar kedua yaitu Kota Semarang, kemudian
Kabupaten Cilacap dan yang paling sedikit Kota Magelang.
Penduduk yang bekerja menurut kabupaten/kota pada tahun
2009-2012 cenderung mengalami peningkatan secara fluktuatif
di setiap kabupaten/kota. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
tabel 2.21 berikut.


Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
47

Tabel 2.22
Penduduk Yang Bekerja Menurut Kabupaten/Kota
Tahun 2009 2012
Kabupaten/Kota 2009 2010 2011 2012
1. Kabupaten Cilacap 689.485 688.049 797.518 716.465
2. Kabupaten Banyumas 680.460 733.609 761.034 711.421
3. Kabupaten Purbalingga 401.829 418.945 410.082 446.747
4.
Kabupaten
Banjarnegara
430.667 452.617 429.193 486.897
5. Kabupaten Kebumen 557.099 537.808 558.785 608.771
6. Kabupaten Purworejo 341.263 341.033 345.383 344.750
7. Kabupaten Wonosobo 380.776 381.326 369.940 394.042
8. Kabupaten Magelang 600.436 629.239 590.807 625.635
9. Kabupaten Boyolali 512.634 506.987 462.374 497.984
10
.
Kabupaten Klaten 577.901 548.672 564.784 600.212
11
.
Kabupaten Sukoharjo 414.058 400.526 411.536 402.487
12
.
Kabupaten Wonogiri 550.876 495.295 484.858 508.790
13
.
Kabupaten
Karanganyar
417.838 427.435 407.869 416.941
14
.
Kabupaten Sragen 466.332 463.749 433.620 464.685
15
.
Kabupaten Grobogan 720.700 688.296 649.149 696.085
16
.
Kabupaten Blora 457.502 441.334 424.989 441.652
17
.
Kabupaten Rembang 302.260 304.638 300.096 317.102
18
.
Kabupaten Pati 590.171 581.998 603.103 562.487
19
.
Kabupaten Kudus 406.909 394.361 383.399 410.519
20
.
Kabupaten Jepara 533.446 536.754 527.480 549.769
21
.
Kabupaten Demak 494.917 492.570 505.834 493.747
22
.
Kabupaten Semarang 470.675 502.705 465.735 513.606
23
.
Kabupaten
Temanggung
372.741 396.063 360.636 397.169
24
.
Kabupaten Kendal 489.173 447.120 446.514 455.323
25
.
Kabupaten Batang 322.932 353.214 347.725 356.535
27
.
Kabupaten Pemalang 567.795 515.127 591.728 582.672
28
.
Kabupaten Tegal 590.539 585.618 654.335 599.987
29
.
Kabupaten Brebes 760.430 812.098 824.449 736.795
30
.
Kota Magelang 56.107 53.719 58.919 57.669
31
.
Kota Surakarta 246.768 235.998 249.368 255.621
32
.
Kota Salatiga 78.668 73.329 83.879 83.736
33
.
Kota Semarang 703.602 724.687 770.886 756.906
34
.
Kota Pekalongan 133.326 134.984 131.158 131.826
35
.
Kota Tegal 102.585 107.613 115.187 102.084
Jumlah
15.835.38
2
15.809.44
7
15.916.13
5
16.132.89
0
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


48
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

2.6. Penganggur Terbuka
Penganggur terbuka adalah mereka yang sedang mencari
pekerjaan, mereka yang mempersiapkan usaha, mereka yang tidak
mencari pekerjaan karena tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, dan
mereka yang sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Jika
dilihat dari tahun 2009-2012 jumlah pengangguran terbuka di Provinsi
Jawa Tengah mengalami penurunan. Dimana pada tahun 2009 jumlah
pengangguran sebanyak 1.252.267 orang atau dengan Tingkat
Penganggur Terbuka (TPT) sebesar 7,33 persen, pada tahun 2010
jumlah pengangguran turun menjadi 1.046.883 atau dengan Tingkat
Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 6,21 persen dan pada tahun
2011 terjadi penurunan lagi menjadi sebanyak 1.002.662 orang atau
dengan TPT sebesar 5,93 persen serta jumlah pengangguran di tahun
2012 mengalami penurunan lagi menjadi sebesar 962.141 orang atau
dengan TPT sebesar 5,63 persen.
2.6.1. Penganggur Terbuka Menurut Golongan Umur
Proporsi penganggur menurut kelompok umur
menunjukkan bahwa penganggur pada kelompok umur 15-19
tahun mengalami peningkatan yaitu dari 18,16 persen pada
tahun 2010 menjadi 38,67 persen pada tahun 2011 dan pada
tahun 2012 meningkat menjadi 41,44 persen. Peningkatan
proporsi penganggur pada kelompok umur ini diduga karena
banyaknya persaingan untuk masuk ke dunia kerja. Untuk
kelompok umur diatasnya yang termasuk pada kelompok umur
produktif memperlihatkan proporsi penganggur yang
proporsinya semakin menurun. Penurunan jumlah tersebut
pada dasarnya dipengaruhi oleh bebrapa faktor diantaranya,
makin membaiknya perekonomian Kalimantan Timur sehingga
terbukanya perluasan kesempatan kerja diberbagai sektor
lapangan usaha yang dapat mengurangi jumlah pengangguran.
Untuk penganggur terbuka kelompok umur 50-54 mengalami
peningkatan setiap tahunnya.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
49

Tabel 2.23
Penganggur Terbuka Menurut Golongan Umur
Tahun 2009 - 2012

GolonganUmur 2009 2010 2011 2012
1. 15-19
371.499 286.683 283.823 274.979
2. 20-24
339.846 264.504 186.314 232.437
3. 25-29
182.415 155.534 155.246 126.726
4. 30-34
107.258 82.901 94.723 106.588
5. 35-39
68.098 55.053 51.956 58.074
6. 40-44
58.422 59.680 44.495 55.811
7. 45-49
53.211 30.791 37.261 47.198
8. 50-54
40.655 27.441 41.046 44.024
9. 55-59
18.929 26.218 28.697 10.049
10. 60+
11.934 58.078 79.101 6.255
Jumlah
1.252.267 1.046.883 1.002.662 962.141
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)

Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)



Tabel 2.24
Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Golongan Umur
Tahun 2009 2012 (%)

GolonganUmur
2009 2010 2011 2012
1. 15-19
30,36 29,43 28,16 25,92
2. 20-24
18,83 17,94 12,16 14,84
3. 25-29
9,23 8,05 8,10 6,84
4. 30-34
5,18 4,07 4,42 4,82
5. 35-39
3,56 2,83 2,58 2,89
6. 40-44
2,91 2,83 2,15 2,67
7. 45-49
2,97 1,65 2,05 2,56
8. 50-54
2,71 1,73 2,50 2,62
9. 55-59
1,26 2,27 2,64 0,92
10. 60+
0,81 3,16 4,41 0,85
TPT
7,33 6,21 5,93 5,63
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


50
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

2.6.2. Penganggur Terbuka Menurut Tingkat Pendidikan
Pendidikan menjadi salah satu modal bagi pencari kerja
untuk memasuki pasar kerja. Tingkat penganggur di Provinsi
Jawa Tengah cenderung mengalami penurunan yang fluktuatif di
hampir semua tingkat pendidikan. Penganggur terbuka tingkat
pendidikan Sekolah Dasar (SD) mengalami penurunan fluktuatif
pada tahun 2009 mencapai 24,07 persen, pada tahun 2010
meningkat menjadi 28,51 persen dan pada tahun 2011 turun
menjadi 26,36 persen, kemudian meningkat lagi menjadi 33,08
persen pada tahun 2012. Proporsi untuk tingkat pendidikan
SMTP mengalami penurunan fluktuatif tiap tahunnya yakni 25,52
persen pada tahun 2009, turun menjadi 24,54 persen pada tahun
2010, dan pada tahun 2011 mengalami peningkatan menjadi
29,35 persen, kemudian pada tahun 2012 kembali turun menjadi
sebesar 27,54 persen. Proporsi penganggur terbuka menurut
tingkat pendidikan SMTA Umum dan SMTA Kejuruan tahun
2009-2012 menurun setiap tahunnya. Tahun 2009 jumlahnya
mencapai 493.637 atau sebesar 39,42 persen, tahun 2010 turun
menjadi 361.092 atau sebesar 34,49 persen dan pada tahun
2011 turun lagi menjadi 342.375 atau sebesar 34,14 persen,
kemudian turun kembali menjadi 318.870 orang atau sebesar
33,14 persen pada tahun 2012.
Selama tahun 2010-2012 jumlah dan proporsi
penganggur pendidikan tinggi mengalami penurunan drastis
yakni jumlah pendidikan diploma pada tahun 2009 sebanyak
60.539 orang atau sebesar 4,83 persen, turun menjadi 53.042
orang atau sebesar 5,07 persen di tahun 2010, pada tahun 2011
turun lagi menjadi 27.925 atau sebesar 2,79 persen dan kembali
mengalami penurunan drastis pada tahun 2012 menjadi 19.340
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
51

orang atau sebesar 2,01 persen. Penurunan tingkat
pengangguran terutama pada pendidikan tinggi tersebut
disebabkan terbukanya peluang kesempatan kerja untuk
pendidikan tersebut, disamping karena ketatnya kompetisi yang
semakin ketat diantara pencari kerja sehingga mereka mau
menerima pekerjaan apa saja meskipun tidak sesuai dengan
kualifikasi pendidikannya.
Tabel 2.25
Penganggur Terbuka Menurut Tingkat Pendidikan
Tahun 2009 2012

Tingkat Pendidikan 2009 2010 2011 2012
2. SMTP 319.560 256.912 294.254 265.010
3. SMTA Umum 285.150 196.356 219.011 185.062
4. SMTA Kejuruan 208.487 164.736 123.364 133.808
5. Diploma 60.539 53.042 27.925 19.340
6. Universitas 77.164 77.400 73.763 40.666
Jumlah 1.252.267 1.046.883 1.002.662 962.141
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009 - 2012 (Agustus)
Tabel 2.26
Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Tingkat Pendidikan
Tahun 2009 2012 (%)
Tingkat Pendidikan 2009 2010 2011 2012
1. Maksimum SD 3,09 3,15 2,81 3,41
2. SMTP 9,94 7,90 8,80 7,97
3. SMTA Umum 15,61 11,07 11,18 9,63
4. SMTA Kejuruan 16,32 12,80 10,32 9,71
5. Diploma 14,07 12,59 7,00 5,30
6. Universitas 13,28 11,89 11,84 5,28
TPT 7,33 6,21 5,93 5,63
Sumber : BPS, data diolah Pusat PTK 20092012 (Agustus)
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


52
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

2.6.3 Penganggur Terbuka Menurut Jenis Kelamin
Pada tabel 2.27 menunjukkan karakteristik penganggur
menurut jenis kelamin. Bila dilihat menurut jenis kelamin, maka
dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa proporsi penganggur
terbuka tahun 2009-2012 untuk laki-laki mengalami penurunan
fluktuatif setiap tahunnya yakni pada tahun 2009 sebesar 62,02
persen, pada tahun 2010 turun menjadi 50,52 persen, dan
meningkat pada tahun 2011 menjadi sebesar 51,77 persen dan
tahun 2012 kembali meningkat menjadi 56,16 persen. Sedangkan
untuk penganggur terbuka perempuan dari segi jumlah maupun
proporsi setiap tahun mengalami fluktuatif, lebih kecilnya proporsi
penganggur perempuan dari pada laki-laki mengindikasikan
bahwa laki-laki lebih aktif berusaha untuk mendapatkan
pekerjaan dibandingkan perempuan karena didorong oleh
tuntutan ekonomi, tanggung jawab kepada keluarga dan bisa
juga karena prestise. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
Tabel 2.27 dan Tabel 2.28.
Tabel 2.27
Penganggur Terbuka Menurut Jenis Kelamin
Tahun 2009 - 2012
Jenis Kelamin 2009 2010 2011 2012
1. Laki-Laki 776.656 528.903 519.050 540.336
2. Perempuan 475.611 517.980 483.612 421.805
Jumlah 1.252.267 1.046.883 1.002.662 962.141
Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009-2012 (Agustus)
Tabel 2.28
Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Jenis Kelamin
Tahun 2009 2012 (%)
Jenis Kelamin 2009 2010 2011 2012
Laki-Laki 7,75 5,40 5,32 5,35
Perempuan 6,74 7,34 6,76 6,04
TPT 7,33 6,21 5,93 5,63
Sumber : BPS, data diolah Pusat PTK 2009-2012 (Agustus)
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
53

2.6.4. Penganggur Terbuka Menurut Kabupaten/Kota

Penganggur terbuka di Provinsi Jawa Tengah dari
Tahun 2009-2012 mengalami penurunan secara fluktuatif di
sebagian besar Kabupaten/Kota. Penganggur terbuka
terbanyak terdapat di Kabupaten Cilacap, dimana pada tahun
2009 sebanyak 89.175 orang, turun menjadi 74.298 orang pada
tahun 2010, dan pada tahun 2011 kembali turun menjadi
55.619 orang, kemudian meningkat menjadi 57.22 orang pada
tahun 2012. Jumlah paling sedikit terdapat di Kota Magelang,
yakni sebesar 9.863 orang pada tahun 2009, turun menjadi
8.226 di tahun 2010, dan pada tahun 2011 turun lagi menjadi
5.319 orang, kemudian naik menjadi 5.501 pada tahun 2012.
Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.29 di bawah ini.










Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


54
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 2.29
Penganggur Terbuka Menurut Kabupaten/Kota
Tahun 2009 2012
Kabupaten/Kota 2009 2010 2011 2012
1. Kabupaten Cilacap 89.175 74.298 55.619 57.222
2. Kabupaten Banyumas 59.582 58.403 39.599 37.928
3. Kabupaten Purbalingga 19.638 16.653 24.048 24.218
4. Kabupaten Banjarnegara 22.993 14.457 25.332 19.019
5. Kabupaten Kebumen 49.241 46.876 30.545 23.134
6. Kabupaten Purworejo 17.748 11.994 16.534 11.701
7. Kabupaten Wonosobo 14.292 16.066 22.525 22.379
8. Kabupaten Magelang 31.253 19.245 37.570 29.252
9. Kabupaten Boyolali 29.899 20.594 25.562 23.550
10. Kabupaten Klaten 39.271 25.877 37.392 22.778
11. Kabupaten Sukoharjo 37.359 32.000 23.878 25.590
12. Kabupaten Wonogiri 29.159 24.407 17.124 18.980
13. Kabupaten Karanganyar 37.608 30.321 23.784 25.642
14. Kabupaten Sragen 28.624 19.777 26.146 29.673
15. Kabupaten Grobogan 46.610 33.179 35.582 31.526
16. Kabupaten Blora 34.361 25.643 27.650 22.657
17. Kabupaten Rembang 18.058 15.653 18.889 19.511
18. Kabupaten Pati 49.094 38.604 47.992 78.177
19. Kabupaten Kudus 32.306 26.152 25.391 25.522
20. Kabupaten Jepara 24.562 25.648 35.220 24.085
21. Kabupaten Demak 30.022 29.696 30.580 45.496
22. Kabupaten Semarang 40.267 33.499 30.374 26.344
23. Kabupaten Temanggung 16.514 14.797 19.956 13.975
24. Kabupaten Kendal 29.255 26.395 26.430 30.819
25. Kabupaten Batang 24.733 24.486 21.846 22.358
26. Kabupaten Pekalongan 17.993 16.912 25.663 21.684
27. Kabupaten Pemalang 79.372 66.630 40.015 29.539
28. Kabupaten Tegal 60.152 47.313 48.385 38.645
29. Kabupaten Brebes 79.116 72.659 58.523 65.848
30. Kota Magelang 9.863 8.226 5.319 5.501
31. Kota Surakarta 28.778 22.575 16.940 16.523
32. Kota Salatiga 9.674 8.345 5.730 6.000
33. Kota Semarang 83.963 71.499 57.349 46.801
34. Kota Pekalongan 12.564 10.165 10.308 10.596
35. Kota Tegal 19.168 17.839 8.862 9.468
Jumlah 1.252.267 1.046.883 1.002.662 962.141

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
55

Tabel 2.30
Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Kabupaten/Kota
Tahun 2009 2012 (%)
Kabupaten/Kota 2009 2010 2011 2012
1. Kabupaten Cilacap 11,45 9,75 6,52 7,40
2. Kabupaten Banyumas 8,05 7,37 4,95 5,06
3. Kabupaten Purbalingga 4,66 3,82 5,54 5,14
4. Kabupaten Banjarnegara 5,07 3,10 5,57 3,76
5. Kabupaten Kebumen 8,12 8,02 5,18 3,66
6. Kabupaten Purworejo 4,94 3,40 4,57 3,28
7. Kabupaten Wonosobo 3,62 4,04 5,74 5,37
8. Kabupaten Magelang 4,95 2,97 5,98 4,47
9. Kabupaten Boyolali 5,51 3,90 5,24 4,52
10. Kabupaten Klaten 6,36 4,50 6,21 3,66
11. Kabupaten Sukoharjo 8,28 7,40 5,48 5,98
12. Kabupaten Wonogiri 5,03 4,70 3,41 3,60
13. Kabupaten Karanganyar 8,26 6,62 5,51 5,79
14. Kabupaten Sragen 5,78 4,09 5,69 6,00
15. Kabupaten Grobogan 6,07 4,60 5,20 4,33
16. Kabupaten Blora 6,99 5,49 6,11 4,88
17. Kabupaten Rembang 5,64 4,89 5,92 5,80
18. Kabupaten Pati 7,68 6,22 7,37 12,20
19. Kabupaten Kudus 7,36 6,22 6,21 5,85
20. Kabupaten Jepara 4,40 4,56 6,26 4,20
21. Kabupaten Demak 5,72 5,69 5,70 8,44
22. Kabupaten Semarang 7,88 6,25 6,12 4,88
23. Kabupaten Temanggung 4,24 3,60 5,24 3,40
24. Kabupaten Kendal 5,64 5,57 5,59 6,34
25. Kabupaten Batang 7,11 6,48 5,91 5,90
26. Kabupaten Pekalongan 4,18 4,04 6,12 5,07
27. Kabupaten Pemalang 12,26 11,45 6,33 4,82
28. Kabupaten Tegal 9,24 7,48 6,89 6,05
29. Kabupaten Brebes 9,42 8,21 6,63 8,20
30. Kota Magelang 14,95 13,28 8,28 8,71
31. Kota Surakarta 10,44 8,73 6,36 6,07
32. Kota Salatiga 10,95 10,22 6,39 6,69
33. Kota Semarang 10,66 8,98 6,92 5,82
34. Kota Pekalongan 8,61 7,00 7,29 7,44
35. Kota Tegal 15,74 14,22 7,14 8,49
TPT 7,33 6,21 5,93 5,63


Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


56
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

2.7. Produktivitas Tenaga Kerja
Berdasarkan data produktivitas selama tahun 2009-2012
menunjukkan bahwa terjadi penurunan secara fluktuatif dari jumlah
produktivitas dimana pada tahun 2009 sebesar 11,16 juta
Rupiah/tenaga kerja, pada tahun 2010 meningkat menjadi sebesar
11,83 juta Rupiah/tenaga kerja dan pada tahun 2011 meningkat lagi
menjadi sebesar 12,45 juta Rupiah/tenaga kerja, kemudian pada tahun
2012 mengalami peningkatan kembali menjadi 13,07 juta
Rupiah/tenaga kerja.
Untuk sektor lapangan usaha, sektor listrik, gas dan air
memberikan kontribusi terbesar yaitu 58,59 juta Rupiah/tenaga kerja
pada tahun 2009, pada tahun 2010 meningkat menjadi sebesar 82,49
juta Rupiah/tenaga kerja, dan mengalami penurunan pada tahun 2011
menjadi 57,77 juta Rupiah/tenaga kerja, kemudian terjadi peningkatan
kembali menjadi sebesar 70,01 juta Rupiah/tenaga kerja . Produktivitas
tenaga kerja memegang peranan penting dalam proses pertumbuhan
ekonomi suatu bangsa, karena pendapatan nasional maupun
pendapatan daerah banyak diperoleh dengan cara meningkatkan
keefektifitasan dan mutu tenaga kerja. Sampai dengan tahun 2012 nilai
tambah setiap tenaga kerja di Provinsi Jawa Tengah cukup tinggi.
Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat dari tabel 2.31 di bawah ini.
Tabel 2.31
Produktivitas Tenaga Kerja Menurut Lapangan Usaha
Tahun 2009 2012 (RibuRp./TenagaKerja)
Lapangan Usaha 2009 2010 2011 2012
1. Pertanian, 5,81 6,22 6,59 7,25
2. Pertambangan 19,93 17,87 27,62 26,17
3. IndustriPengolahan 21,62 21,81 21,51 20,97
4. Listrik, Gas, Air
Bersih
58,59 82,49 57,77 70,01
5. Bangunan 10,02 10,52 10,67 10,47
6. Perdagangan 10,91 11,82 12,66 13,58
7. Pengangkutan 13,45 14,77 18,9 21,27
8. Keuangan 43,31 39,14 28,35 29,3
9. Jasa-jasa 9,65 9,7 9,95 10,16


Rata-rata 11,16 11,83 12,45 13,07
Sumber : Data diolah
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
57

BAB III
PERKIRAAN DAN PERENCANAAN
PERSEDIAAN TENAGA KERJA

Perkiraan berikut perencanaan persediaan tenaga kerja merupakan
aspek penting dalam perencanaan tenaga kerja. Ketersediaan tenaga kerja
yang ada berikut kualitas pendidikan, keterampilan dan sikap mental yang
baik merupakan titik fokus pembangunan ketenagakerjaan yang berbasis
pengembangan sumber daya manusia. Perkiraan persediaan tenaga kerja
yang meliputi perkiraan penduduk usia kerja, perkiraan tingkat partisipasi
angkatan kerja, dan perkiraan angkatan kerja dibutuhkan baik dari segi
kuantitasnya maupun kualitasnya, karena itu diperlukan rincian lebih lanjut
mengenai golongan umurnya, tingkat pendidikan, maupun jenis kelamin.
Selain itu informasi lain yang dibutuhkan dalam perkiraan persediaan tenaga
kerja adalah laju pertumbuhan penduduk, tingkat kelahiran, tingkat
kematian, arus migrasi baik migrasi masuk maupun migrasi keluar dan
lainnya.
3.1. Perkiraan Penduduk Usia Kerja
Penduduk usia kerja dikelompokkan ke dalam angkatan kerja
dan bukan angkatan kerja. Dengan demikian, pertumbuhan penduduk
usia kerja berbanding lurus terhadap laju pertumbuhan penduduk dan
memiliki kaitan erat antara lain dengan kondisi kesehatan penduduk
dan kebijakan yang terkait dengan pembatasan kelahiran. Sehingga
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


58
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

melihat laju pertumbuhan penduduk di Provinsi Jawa Tengah
sebelumnya maka diperkirakan pada tahun 2014 jumlah penduduk
usia kerja mencapai 24.047.610 dan pada tahun 2018 mencapai
24.282.694 orang. Dengan pertambahan sebanyak 235.084 orang
tersebut lajunya sebesar 0.24 persen. Untuk karakteristik selanjutnya
dibahas lebih rinci di bawah ini.
3.1.1 Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan Umur
Pada periode tahun 20142018, menurut golongan umur,
pertambahan terbesar diperkirakan pada golongan umur 50-54 tahun
yakni bertambah sebanyak 84.650 orang dengan laju 1,04 persen,
kemudian pada golongan umur 30-34 tahun sebanyak 80.625 orang
dengan laju 0,72 persen. Proporsi PUK Provinsi Jawa Tengah
menunjukkan perkembangan yang menarik dimana yang tertinggi
diperkirakan pada usia yang tergolong lansia yaitu di atas 60 tahun
dengan proporsi di atas 14 persen atau di atas 3 juta orang. Namun
proporsi PUK usia muda (15-19 tahun) juga cukup tinggi, berikutnya
adalah proporsi usia produktif, yaitu 30-34 tahun, 40-44 tahun dan 35-39
tahun yaitu masing-masing dengan proporsi di atas 10 persen. Hanya
golongan umur 55-59 tahun yang diperkirakan proporsinya paling kecil
yaitu 5,73 persen pada tahun 2014 dan 5,68 persen pada tahun 2018.
Secara lebih lengkap diperlihatkan pada tabel di bawah ini.








Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
59

Tabel 3.1
Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan Umur
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018



Golongan
Umur
2014 2015 2016 2017 2018
15 - 19 2.884.109 2.884.741 2.885.662 2.886.295 2.886.639
20 - 24 2.194.326 2.196.240 2.198.156 2.200.074 2.201.993
25 - 29 2.390.308 2.393.486 2.396.669 2.399.856 2.403.047
30 - 34 2.787.342 2.807.283 2.827.367 2.847.595 2.867.967
35 - 39 2.412.395 2.414.828 2.417.264 2.419.703 2.422.144
40 - 44 2.456.736 2.460.862 2.464.996 2.469.137 2.473.284
45 - 49 2.128.172 2.132.100 2.136.035 2.139.977 2.143.926
50 - 54 2.004.524 2.025.360 2.046.412 2.067.682 2.089.174
55 - 59 1.378.248 1.378.656 1.379.064 1.379.472 1.379.880
60 + 3.411.449 3.412.247 3.413.044 3.413.842 3.414.640
Jumlah 24.047.610 24.105.804 24.164.669 24.223.632 24.282.694
3.1.2 Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Berdasarkan tingkat pendidikannya, PUK Provinsi Jawa
Tengah diperkirakan masih didominasi mereka yang
berpendidikan sekolah dasar yaitu lebih dari 52 persen. Namun
pada periode 2014-2018 proporsinya diharapkan semakin
menurun yaitu dengan laju perlambatan minus 0,28 persen atau
berkurang 145.996 orang. Sementara dari segi laju
pertambahannya yang tertinggi adalah tingkat Universitas
bertambah 155.968 orang dengan laju 4,37 persen, berikutnya
adalah SMTA Kejuruan bertambah 150.834 orang dengan laju
2,04 persen. Dengan demikian, diharapkan terjadi peningkatan
kualitas PUK di Provinsi Jawa Tengah ini. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada tabel 3.2 berikut ini.



Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


60
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 3.2
Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018

Tingkat
Pendidikan
2014 2015 2016 2017 2018

Maksimum SD 12.937.671 12.903.333 12.868.144 12.830.982 12.791.675
SLTP 5.417.675 5.424.217 5.430.371 5.435.654 5.439.985
SMTA Umum 2.618.197 2.628.919 2.639.493 2.649.681 2.659.441
SMTA Kejuruan 1.789.764 1.826.664 1.864.189 1.902.177 1.940.598
D1 - D3 447.882 450.621 453.343 456.007 458.607
Universitas 836.421 872.050 909.130 949.130 992.389
Jumlah 24.047.610 24.105.804 24.164.669 24.223.632 24.282.694

3.1.3 Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kelamin
Dilihat dari jenis kelaminnya, PUK di Jawa Tengah
cenderung berimbang antara laki-laki dan perempuan. Hanya
saja proporsi, laju dan pertambahan perempuan sedikit lebih
banyak daripada laki-laki. Proporsi PUK perempuan sebesar
50,92 persen pada tahun 2014 dan sedikit meningkat menjadi
50,93 persen pada tahun 2018. Dengan pertambahan yang
diperkirakan sebanyak 121.436 orang, lajunya mencapai 0.25
persen atau sedikit di atas laki-laki sebesar 0.24 persen.
Perkembangan tersebut dapat dilihat secara terperinci pada
tabel berikut ini.

Tabel 3.3 :
Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018
Jenis Kelamin 2014 2015 2016 2017 2018

Laki-laki 11.802.544 11.830.676 11.859.135 11.887.640 11.916.192
Perempuan 12.245.066 12.275.128 12.305.534 12.335.991 12.366.502

Jumlah 24.047.610 24.105.804 24.164.669 24.223.632 24.282.694

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
61

3.1.4. Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Kabupaten / Kota
Penduduk usia kerja dari ke-35 kabupaten/kota di
Provinsi Jawa Tengah, yang proporsinya paling besar
diperkirakan di Kabupaten Brebes (di atas 5 persen), berikutnya
adalah Kota Semarang, Kabupaten Cilacap dan Banyumas, yaitu
dengan jumlah PUK di atas 1 juta orang. Dan bersama
Kabupaten Tegal serta Kabupaten grobogan proporsinya di atas
4 persen. Namun dari segi laju dan pertambahannya, yang
diperkirakan paling tinggi adalah Kabupaten Rembang yaitu
bertambah sebanyak 32.189 orang (laju pertumbuhan 1,69
persen). Berikutnya Kabupaten Demak bertambah 31.308 orang
(0,99 persen) dan Kabupaten Pekalongan diperkirakan
bertambah 23.864 orang (0,97 persen).
Sementara itu, untuk yang paling sedikit PUK-nya
diperkirakan adalah Kota Magelang, dimana jumlahnya
mencapai puluhan ribu orang saja dengan proporsi diperkirakan
sebesar 0,38 persen. Berikutnya adalah Kota Salatiga (0,55
persen) dan Kota Tegal (0,74 persen). Pada periode 2014-2018
ini dari keseluruhan kabupaten/kota hanya 3 (tiga) kabupaten
yang diperkirakan mengalami perlambatan yaitu Kabupaten
Purbalingga diperkirakan berkurang 1.368 orang atau dengan
laju minus 0,06 persen, Kabupaten Magelang turun 364 orang
(-0,02 persen) dan Kabupaten Purworejo turun sekitar 342 orang
(-0,01 persen). Nilai nominal perkiraan dimaksud tersaji lengkap
pada tabel berikut ini.





Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


62
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 3.4
Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Kabupaten/Kota
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018
Kab/Kota 2014 2015 2016 2017 2018
Kabupaten Cilacap 1.182.394 1.182.469 1.182.557 1.182.629 1.182.686
Kabupaten Banyumas 1.144.578 1.145.251 1.145.936 1.146.606 1.147.262
Kabupaten Purbalingga 613.895 613.554 613.219 612.877 612.527
Kabupaten Banjarnegara 637.452 637.892 638.339 638.778 639.209
Kabupaten Kebumen 837.511 837.726 837.951 838.165 838.367
Kabupaten Purworejo 520.290 520.205 520.126 520.041 519.948
Kabupaten Wonosobo 546.792 547.111 547.436 547.755 548.066
Kabupaten Magelang 878.662 878.573 878.493 878.401 878.298
Kabupaten Boyolali 696.714 697.732 698.759 699.778 700.789
Kabupaten Klaten 865.712 867.240 868.780 870.312 871.834
Kabupaten Sukoharjo 626.912 628.506 630.110 631.709 633.305
Kabupaten Wonogiri 723.550 724.047 724.553 725.049 725.536
Kabupaten Karanganyar 612.389 613.871 615.362 616.849 618.332
Kabupaten Sragen 652.830 655.046 657.276 659.505 661.733
Kabupaten Grobogan 971.480 973.217 974.968 976.709 978.440
Kabupaten Blora 629.621 630.039 630.464 630.881 631.290
Kabupaten Rembang 464.810 472.657 480.642 488.755 496.999
Kabupaten Pati 907.012 908.953 910.907 912.854 914.792
Kabupaten Kudus 581.488 581.973 582.464 582.949 583.425
Kabupaten Jepara 809.068 814.808 820.597 826.416 832.265
Kabupaten Demak 780.653 788.366 796.165 804.029 811.961
Kabupaten Semarang 701.099 701.159 701.226 701.285 701.333
Kabupaten Temanggung 535.681 537.981 540.296 542.614 544.935
Kabupaten Kendal 673.848 677.264 680.705 684.155 687.612
Kabupaten Batang 528.559 531.975 535.418 538.877 542.350
Kabupaten Pekalongan 608.238 614.119 620.064 626.059 632.102
Kabupaten Pemalang 896.670 897.234 897.808 898.370 898.921
Kabupaten Tegal 990.495 991.405 992.326 993.235 994.131
Kabupaten Brebes 1.247.671 1.248.440 1.249.223 1.249.990 1.250.742
Kota Magelang 90.951 91.136 91.323 91.510 91.695
Kota Surakarta 387.583 388.350 389.122 389.890 390.655
Kota Salatiga 131.528 132.256 132.990 133.726 134.464
Kota Semarang 1.185.750 1.186.928 1.188.119 1.189.297 1.190.459
Kota Pekalongan 208.501 210.304 212.124 213.958 215.804
Kota Tegal 177.222 178.018 178.819 179.622 180.426
Jumlah 24.047.610 24.105.804 24.164.669 24.223.632 24.282.694



Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
63

3.2 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Perkiraan tingkat partisipasi angkatan kerja merupakan
persentase rasio perkiraan angkatan kerja terhadap perkiraan
penduduk usia kerja. Diperkirakan tingkat partisipasi angkatan kerja
mengalami peningkatan 0,31 hingga 0,33 persen pertahunnya
sehingga pada tahun 2014 diharapkan sebesar 72,27 persen dan
pada tahun 2018 meningkat menjadi 73,55 persen atau bertambah
1,28 persen. Selama periode 2014-2018 tersebut besaran TPAK
diperkirakan mengalami laju pertumbuhan sebesar 0,44 persen.
3.2.1 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut
Golongan Umur
Golongan umur yang ditargetkan paling tinggi TPAK nya
adalah golongan usia produktif 30-54 tahun (di atas 81 persen)
dan dari kelompok tersebut golongan umur 40-44 tahun yang
diperkirakan paling tinggi persentase dan laju pertambahannya
pada periode 2014-2018 ini. Sedangkan TPAK usia muda (15-
19 tahun) yang ditargetkan paling kecil.
Tabel 3.5
Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018
Golongan Umur 2014 2015 2016 2017 2018
15 - 19 36,74 35,70 34,68 33,69 32,73
20 - 24 72,57 73,10 73,64 74,18 74,72
25 - 29 78,38 78,68 78,98 79,29 79,60
30 - 34 81,34 81,81 82,28 82,76 83,24
35 - 39 84,59 85,16 85,73 86,31 86,88
40 - 44 86,83 87,52 88,22 88,92 89,62
45 - 49 87,68 88,12 88,56 89,00 89,45
50 - 54 86,70 87,30 87,90 88,51 89,12
55 - 59 79,52 79,81 80,10 80,39 80,69
60 + 50,24 50,52 50,81 51,11 51,40

TPAK 72,27 72,58 72,90 73,22 73,55

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


64
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

3.2.2 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut
Tingkat Pendidikan
Sementara itu TPAK menurut tingkat pendidikan yang
diharapkan paling tinggi adalah TPAK mereka yang berpendidikan
tinggi yaitu Universitas dan Diploma, berikutnya yang cukup tinggi
adalah SMTA Kejuruan dan SMTA Umum. Pendidikan merupakan
pintu masuk utama menuju pekerjaan yang berkualitas sehingga
pilihan sukarela maupun terpaksa dalam jenjang pendidikan ini akan
berpengaruh langsung terhadap kesempatan kerja tersedia dan
terutama jenis pekerjaan/jabatan yang diinginkan. Dengan demikian
semakin tinggi pendidikan, tingkat partisipasinya dalam pasar kerja
pun semakin tinggi.
Tabel 3.6
Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018
Tingkat Pendidikan 2014 2015 2016 2017 2018
Maksimum SD 72,05 71,54 71,03 70,50 69,97
SLTP 63,80 65,17 66,57 67,97 69,40
SMTA Umum 75,60 76,65 77,71 78,77 79,82
SMTA Kejuruan 81,77 82,81 83,87 84,92 85,96
D1 - D3 83,81 84,77 85,73 86,69 87,64
Universitas 93,71 94,13 94,25 94,54 94,81
TPAK 72,27 72,58 72,90 73,22 73,55
3.2.3 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut
Jenis Kelamin
Laju pertumbuhan tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki
dan perempuan pada periode tahun 2014 - 2018 diperkirakan naik,
yaitu dengan laju sebesar 0,50 dan 0,34 persen. Dari segi laju maupun
nominalnya, TPAK laki-laki jauh lebih tinggi daripada perempuan. Hal
ini karena laki-laki secara tradisional merupakan kepala keluarga dan
tulang punggung dalam mencari pendapatan bagi keluarganya.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
65

Tabel 3.7
Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018
Jenis Kelamin 2014 2015 2016 2017 2018

Laki-laki 87,01 87,44 87,87 88,32 88,78
Perempuan 58,07 58,26 58,46 58,66 58,87

TPAK 72,27 72,58 72,90 73,22 73,55

3.2.4. Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut
Kabupaten / Kota
TPAK Provinsi Jawa Tengah menurut kabupaten/kota, yang
diperkirakan paling tinggi adalah Kabupaten Banjarnegara yaitu
sebesar 81,45 pada 2014 dan menjadi 85,15 pada 2018, berikutnya
adalah Wonosobo dan Purbalingga. Sementara yang laju
pertumbuhannya paling tinggi diperkirakan adalah Kabupaten
Banyumas yaitu dengan laju 2,27 dari 67,36 pada 2014 menjadi
73,69 pada 2018.
Sementara itu yang TPAK nya diperkirakan paling rendah
adalah Kabupaten Tegal dan lajunya pun mengalami perlambatan
minus 0,07. TPAK terendah berikutnya adalah di Kabupaten Tegal
namun lajunya masih mengalami pertambahan. Kapupaten yang
TPAK nya rendah dan mengalami perlambatan adalah Kabupaten
Brebes, Kota Magelang. Kabupaten Semarang dan Kabupaten
Jepara. Daftar lebih rinci pada tabel berikut.





Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


66
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 3.8
Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Kabupaten/Kota
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018
Kab/Kota 2014 2015 2016 2017 2018
Kabupaten Cilacap 68,03 69,11 70,08 71,12 72,31
Kabupaten Banyumas 67,36 68,91 70,56 72,19 73,69
Kabupaten Purbalingga 78,76 79,25 79,59 79,85 80,02
Kabupaten Banjarnegara 81,45 82,56 83,45 84,35 85,15
Kabupaten Kebumen 76,99 77,78 78,58 79,31 79,88
Kabupaten Purworejo 69,61 70,68 71,29 72,19 72,86
Kabupaten Wonosobo 78,67 79,31 79,89 80,62 81,34
Kabupaten Magelang 75,82 76,36 77,06 77,69 78,15
Kabupaten Boyolali 76,99 77,37 77,62 78,02 78,49
Kabupaten Klaten 73,40 73,73 74,37 74,93 75,85
Kabupaten Sukoharjo 68,59 69,00 69,43 69,78 70,20
Kabupaten Wonogiri 74,81 75,14 75,33 75,60 75,85
Kabupaten Karanganyar 72,38 72,71 73,06 73,33 73,74
Kabupaten Sragen 77,31 77,41 77,53 77,72 77,82
Kabupaten Grobogan 76,09 76,05 76,02 76,07 76,10
Kabupaten Blora 73,92 73,92 73,93 73,93 73,99
Kabupaten Rembang 75,36 75,40 75,35 75,47 75,51
Kabupaten Pati 71,57 71,42 71,42 71,56 71,69
Kabupaten Kudus 75,49 75,48 75,56 75,71 75,69
Kabupaten Jepara 71,67 71,63 71,54 71,36 71,39
Kabupaten Demak 70,86 70,88 70,92 71,02 71,03
Kabupaten Semarang 77,81 77,84 77,89 77,55 77,20
Kabupaten Temanggung 77,57 77,60 77,57 77,69 77,79
Kabupaten Kendal 72,61 72,73 72,92 73,04 73,07
Kabupaten Batang 72,92 73,03 73,29 73,55 73,72
Kabupaten Pekalongan 72,33 72,42 72,52 72,61 72,76
Kabupaten Pemalang 68,21 68,36 68,39 68,55 68,63
Kabupaten Tegal 64,07 64,03 63,93 63,82 63,90
Kabupaten Brebes 65,17 65,06 65,02 64,98 65,05
Kota Magelang 69,89 69,71 69,62 69,52 69,61
Kota Surakarta 70,27 70,33 70,53 70,66 70,78
Kota Salatiga 70,04 70,11 70,13 70,21 70,28
Kota Semarang 68,08 67,99 68,11 68,16 68,26
Kota Pekalongan 70,89 71,06 71,10 71,20 71,30
Kota Tegal 64,18 64,23 64,28 64,33 64,50

TPAK 72,27 72,58 72,90 73,22 73,55

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
67

3.3 Perkiraan Angkatan Kerja
Angkatan Kerja merupakan bagian dari penduduk usia kerja. Pada
tahun 2014 jumlah angkatan kerja diperkirakan sebanyak 17,34 juta orang
dan pada tahun 2018 diperkirakan menjadi 17,86 juta orang atau mengalami
kenaikan sebanyak 478.880 orang atau dengan laju pertumbuhan sebesar
0,68 persen. Dalam berbagai karakteristik, perkembangaan angkatan kerja
disajikan sebagai berikut.
3.3.1 Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur
Pada periode 2014 - 2018 golongan umur 1519 tahun
diperkirakan akan mengalami penurunan jumlah angkatan kerja
dengan laju sebesar minus 2,83 persen. Sementara untuk laju
pertumbuhan terbesar adalah pada golongan umur 50 - 54 tahun
yaitu sebesar 1,74 persen dengan pertambahan 123.892 orang.
Berikutnya adalah pada golongan umur 30-34 tahun dengan laju
pertumbuhan 1,30 persen dengan angka pertambahan sebanyak
120.178 orang, namun dengan proporsi terbesar, yaitu sebesar
13,04 persen pada tahun 2014 dan 13,37 persen pada tahun
2018.
Tabel 3.9
Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018
Golongan
Umur
2014 2015 2016 2017 2018
15 - 19 1.059.753 1.029.771 1.000.736 972.423 944.817
20 - 24 1.592.399 1.605.464 1.618.636 1.631.916 1.645.305
25 - 29 1.873.418 1.883.166 1.892.965 1.902.814 1.912.715
30 - 34 2.267.112 2.296.577 2.326.425 2.356.661 2.387.290
35 - 39 2.040.704 2.056.464 2.072.346 2.088.351 2.104.479
40 - 44 2.133.280 2.153.818 2.174.553 2.195.487 2.216.624
45 - 49 1.865.975 1.878.764 1.891.640 1.904.604 1.917.657
50 - 54 1.738.013 1.768.191 1.798.893 1.830.127 1.861.905
55 - 59 1.095.956 1.100.281 1.104.623 1.108.982 1.113.358
60 + 1.713.746 1.723.989 1.734.294 1.744.660 1.755.088
Jumlah 17.380.357 17.496.484 17.615.110 17.736.026 17.859.237

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


68
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

3.3.2 Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Pada periode 2014-2018 ini angkatan kerja menurut
tingkat pendidikan diperkirakan mengalami penurunan pada
angkatan kerja berpendidikan Maksimum SD yaitu turun
sebanyak 371.387 orang dengan laju minus 1,01 persen,
sementara untuk tingkat pendidikan lainnya akan mengalami
pertambahan. Pertambahan terbesar diperkirakan untuk
angkatan kerja berpendidikan SMTP yaitu bertambah sebanyak
318.495 orang dengan laju pertumbuhan 2,23 persen.
Pertambahan terbesar kedua adalah SMTA Kejuruan sebanyak
204.671 orang. Untuk laju pertumbuhan terbesar adalah pada
tingkat pendidikan Universitas yaitu sebesar 4,67 persen,
dengan pertambahan sebanyak 157.060 orang dan laju
terbesar kedua adalah SMTA Kejuruan dengan laju 3,33
persen.
Tabel 3.10
Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018
Tingkat
Pendidikan
2014 2015 2016 2017 2018




Maksimum SD 9.321.642 9.230.874 9.140.096 9.046.295 8.950.255
SLTP 3.456.746 3.535.098 3.614.872 3.694.848 3.775.241
SMTA Umum 1.979.283 2.014.986 2.051.132 2.087.024 2.122.783
SMTA Kejuruan 1.463.473 1.512.731 1.563.493 1.615.260 1.668.144
D1 - D3 375.362 381.973 388.663 395.298 401.903
Universitas 783.851 820.822 856.853 897.301 940.911

Jumlah 17.380.357 17.496.484 17.615.110 17.736.026 17.859.237

3.3.3 Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin
Sebanding dengan perkiraan PUK dan TPAK, perkiraan
angkatan kerja dengan jenis kelamin laki-laki diperkirakan jauh
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
69

lebih banyak daripada perempuan, demikian juga dengan laju
pertumbuhannya, yaitu sebesar 0,74 persen untuk laki-laki dan
0,59 untuk perempuan. Nominal pertambahan angkatan kerja
laki-laki bertambah 309.270 orang, sementara untuk
perempuan diperkirakan bertambah 169.611 orang. Berikut
disajikan perkiraan Angkatan Kerja menurut Jenis Kelamin.
Tabel 3.11
Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018
Jenis
Kelamin
2014 2015 2016 2017 2018
Laki-laki 10.269.499 10.344.563 10.421.188 10.499.255 10.578.769
Perempuan 7.110.858 7.151.921 7.193.922 7.236.771 7.280.469
Jumlah 17.380.357 17.496.484 17.615.110 17.736.026 17.859.237
3.3.4 Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Kabupaten / Kota
Proporsi angkatan kerja Provinsi Jawa Tengah menurut
kabupaten/kota, yang diperkirakan paling tinggi adalah Kabupaten
Cilacap yaitu sebesar 4,63 persen pada 2014 dan menjadi 4,79
persen pada 2018, berikutnya adalah Kabupaten Banyumas dan
Brebes. Hanya saja laju pertumbuhan Kabupaten Banyumas
diperkirakan yang paling tinggi yaitu sebesar 2,33 persen, sementara
laju pertumbuhan Kabupaten Brebes tergolong rendah yaitu hanya
0,02 persen saja. Kabupaten yang lajunya mengalami penurunan
adalah Kabupaten Semarang, dimana diperkirakan angkatan
kerjanya akan berkurang sebanyak 4.109 orang dengan laju
perlambatan minus 0,19 persen. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
dalam tabel berikut.

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


70
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 3.12
Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Kabupaten/Kota
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018

Kab/Kota 2014 2015 2016 2017 2018
Kabupaten Cilacap 804.373 817.180 828.682 841.087 855.159
Kabupaten Banyumas 771.014 789.171 808.627 827.680 845.366
Kabupaten Purbalingga 483.514 486.226 488.064 489.388 490.145
Kabupaten Banjarnegara 519.205 526.648 532.707 538.787 544.299
Kabupaten Kebumen 644.819 651.578 658.498 664.783 669.689
Kabupaten Purworejo 362.179 367.704 370.819 375.391 378.836
Kabupaten Wonosobo 430.161 433.910 437.325 441.592 445.815
Kabupaten Magelang 666.239 670.886 676.988 682.418 686.416
Kabupaten Boyolali 536.374 539.858 542.377 545.935 550.060
Kabupaten Klaten 635.430 639.433 646.087 652.115 661.290
Kabupaten Sukoharjo 429.996 433.686 437.472 440.821 444.549
Kabupaten Wonogiri 541.284 544.044 545.825 548.106 550.297
Kabupaten Karanganyar 443.221 446.356 449.581 452.346 455.939
Kabupaten Sragen 504.674 507.077 509.571 512.540 514.928
Kabupaten Grobogan 739.160 740.129 741.217 742.980 744.617
Kabupaten Blora 465.437 465.721 466.078 466.399 467.098
Kabupaten Rembang 350.281 356.395 362.172 368.885 375.287
Kabupaten Pati 649.165 649.183 650.591 653.238 655.778
Kabupaten Kudus 438.955 439.279 440.106 441.334 441.617
Kabupaten Jepara 579.830 583.654 587.016 589.770 594.189
Kabupaten Demak 553.178 558.827 564.622 570.994 576.769
Kabupaten Semarang 545.516 545.813 546.196 543.842 541.407
Kabupaten Temanggung 415.537 417.497 419.119 421.544 423.908
Kabupaten Kendal 489.298 492.542 496.372 499.700 502.466
Kabupaten Batang 385.415 388.479 392.400 396.329 399.831
Kabupaten Pekalongan 439.955 444.739 449.644 454.568 459.916
Kabupaten Pemalang 611.616 613.378 614.028 615.842 616.944
Kabupaten Tegal 634.572 634.761 634.423 633.912 635.291
Kabupaten Brebes 813.073 812.180 812.220 812.198 813.635
Kota Magelang 63.563 63.533 63.577 63.615 63.831
Kota Surakarta 272.355 273.111 274.451 275.505 276.513
Kota Salatiga 92.124 92.731 93.265 93.886 94.496
Kota Semarang 807.291 806.998 809.227 810.599 812.628
Kota Pekalongan 147.805 149.440 150.817 152.346 153.862
Kota Tegal 113.748 114.337 114.947 115.551 116.366

Jumlah 17.380.357 17.496.484 17.615.110 17.736.026 17.859.237

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
71

BAB IV
PERKIRAAN DAN PERENCANAAN
KEBUTUHAN TENAGA KERJA

Salah satu pilar terpenting dalam perencanaan tenaga kerja adalah
perkiraan dan perencanaan kebutuhan tenaga kerja. Dimana dalam
pembangunan ketenagakerjaan yang berkesinambungan memang harus
diupayakan secara sadar, sungguh-sungguh dan terencana. Karenanya,
sebaiknya tidak lagi mengandalkan ketersediaan tenaga kerja yang banyak
dengan upah murahnya dalam penyelesaian permasalahan ketenagakerjaan
seperti penganggur terbuka dan setengah penganggur. Penyelesaian hanya
dari satu sisi saja akan berpotensi menciptakan permasalahan baru yang
lebih kompleks seperti permasalahan perselisihan hubungan industrial,
jaminan sosial, pengawasan ketenagakerjaan dan dampaknya belum
menciptakan kondisi ketenagakerjaan yang mampu mensejahterakan
pekerja dan keluarganya pada khususnya serta kondisi masyarakat yang
adil dan sekaligus makmur tanpa kesenjangan yang terlalu besar.
Untuk itu, terkait dengan perkembangan perekonomian terkini, sudah
selayaknya jika upaya penyelesaian yang ada justru dengan memahami
kebutuhan pasar kerja sehingga mampu menciptakan kesempatan kerja
yang seluasnya berikut menyediakan tenaga kerja yang memiliki spesifikasi
sesuai kebutuhan tersebut. Dan karena pembangunan ketenagakerjaan
tidak mungkin lepas dari kondisi perekonomian yang ada, terutama kondisi
perekonomian sektor lapangan usaha, maka perkembangan laju
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


72
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

pertumbuhan ekonomi sektor lapangan usaha juga harus dicermati,
kemudian dengan koordinasi bersama instansi pembina sektor lapangan
usaha tersebut ditindaklanjuti dengan target serta program yang mendukung
penciptaan kesempatan kerja pada sektor tersebut. Berikut ini akan dibahas
perkiraan kebutuhan tenaga kerja yang meliputi perkiraan perekonomian
dan perkiraan kesempatan kerja, serta perkiraan produktivitas tenaga kerja.
4.1 Perkiraan Perekonomian Tahun 2014 2018
Kinerja perekonomian Provinsi Jawa Tengah yang
digambarkan oleh perkembangan laju pertumbuhan ekonomi dan
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada periode 2014-2018
diharapkan terus meningkat. Peningkatan ini terjadi di semua sektor
perekonomian. Dimana dari segi laju pertumbuhannya maka sektor
jasa kemasyarakatan, sektor perdagangan dan sektor angkutan yang
diperkirakan paling tinggi yaitu dengan laju di atas 8 persen. Dimana
untuk jasa kemasyarakatan lajunya diperkirakan yang paling tinggi.
Sementara yang paling kecil adalah sektor pertanian dan berikutnya
sektor industri pengolahan. Bahkan untuk industri pengolahan lajunya
diperkirakan mengalami penurunan sekitar minus 5,35 persen. Secara
umum laju pertumbuhan ekonomi provinsi Jawa Tengah ditargetkan
untuk terus mengalami peningkatan sehingga pada lima tahun ke
depan diharapkan untuk hampir mencapai pertumbuhan 7 persen.
Untuk itu dapat dilihat pada tabel 4.1.
Berdasarkan perkiraan PDRB dari proporsinya, maka sektor
industri pengolahan, sektor perdagangan dan sektor pertanian di
Provinsi Jawa Tengah merupakan sektor yang paling tinggi
proporsinya dengan nilai PDRB yang terus menunjukkan angka yang
positif. Sedangkan yang paling kecil adalah sektor listrik, gas dan air.
Namun jika dari laju pertumbuhannya maka sektor pertanian yang
paling kecil pertumbuhannya yaitu hanya sekitar 3,14 persen. Sektor
lapangan usaha yang lain mengalami laju pertumbuhan yang cukup
tinggi terutama sektor jasa kemasyarakatan, sektor perdagangan dan
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
73

juga sektor angkutan. Sektor angkutan pun tumbuh cukup tinggi, hanya
saja dari segi nominalnya memang tidak sebesar sektor-sektor yang
lain. Mengenai perkiraan perkembangan nilai PDRB tahun 2014-2018
tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Perkiraan PDRB lebih
lanjut pada tabel 4.2..
Tabel 4.1
Perkiraan Laju Pertumbuhan Ekonomi (PDRB) Menurut Lapangan Usaha
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018 (persen)

Lapangan Usaha 2014 2015 2016 2017 2018
1. Pertanian 2,81 2,90 3,05 3,23 3,39
2. Pertambangan 6,61 6,69 6,80 6,95 7,08
3. Industri Pengolahan 5,80 5,62 5,33 4,98 4,66
4. Listrik, Gas dan Air 6,94 6,98 7,05 7,14 7,21
5. Bangunan 6,98 7,01 7,05 7,10 7,14
6. Perdagangan 8,02 8,21 8,51 8,89 9,23
7. Angkutan 8,12 8,28 8,52 8,82 9,09
8.Keuangan 7,91 8,05 8,27 8,54 8,78
9. Jasa Kemasyarakatan 8,06 8,57 9,32 10,28 11,14

Rata-Rata 6,32 6,44 6,59 6,78 6,97

Tabel 4.2
Perkiraan Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018
Lapangan Usaha 2014 2015 2016 2017 2018
1. Pertanian 38.804 39.931 41.147 42.475 43.914
2. Pertambangan 2.677 2.856 3.051 3.263 3.494
3. Industri Pengolahan 77.254 81.592 85.944 90.219 94.421
4. Listrik, Gas dan Air 2.082 2.227 2.384 2.554 2.739
5. Bangunan 14.391 15.399 16.484 17.653 18.913
6. Perdagangan 54.509 58.987 64.008 69.699 76.132
7. Angkutan 13.428 14.540 15.779 17.171 18.732
8. Keuangan 9.556 10.326 11.180 12.135 13.200
9. Jasa
Kemasyarakatan
25.646 27.843 30.439 33.569 37.307
Jumlah 238.347 253.701 270.415 288.739 308.853
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


74
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

4.2. Perkiraan Kesempatan Kerja
Penciptaan kesempatan kerja merupakan salah satu langkah
untuk penanggulangan pengangguran. Semakin banyak kesempatan
kerja yang tercipta menyebabkan rendahnya atau berkurangnya
pengangguran. Penciptaan kesempatan kerja di berbagai sektor atau
lapangan usaha sangat diharapkan sehingga memberikan peluang
kepada penduduk untuk bekerja. Perkiraan kesempatan kerja tahun
2014-2018 merupakan perkiraan besarnya peluang kesempatan kerja
pada tahun dimaksud. Kesempatan kerja pada periode tersebut
diharapkan akan terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2014 yakni
dari 16,46 juta meningkat menjadi 17,14 juta pada tahun 2018, atau
mengalami peningkatan sebanyak 675.263 kesempatan kerja.
4.2.1 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Lapangan Usaha
Pada periode 2014-2018 ini, perkiraan kesempatan kerja
menurut lapangan usaha masih didominasi oleh tiga lapangan usaha
yaitu sektor pertanian, sektor industri pengolahan, dan sektor
perdagangan. Sektor jasa kemasyarakatan dan sektor bangunan pun
masih memiliki proporsi yang cukup tinggi yaitu masih di atas 2,3 dan
1,2 juta kesempatan kerja. Namun demikian sektor-sektor tersebut
tidak selalu mengalami laju pertumbuhan yang positif. Dimana sektor
pertanian cenderung mengalami perlambatan. Sektor lain yang juga
mengalami perlambatan adalah sektor angkutan dan sektor
pertambangan. Sementara itu sektor yang paling tinggi
pertumbuhannya adalah sektor keuangan. Berikutnya yang cukup
tinggi lajunya adalah kesempatan kerja sektor jasa kemasyarakatan,
sektor bangunan dan sektor industri pengolahan.


Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
75

Tabel 4.3
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Lapangan Usaha
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018
Lapangan Usaha 2014 2015 2016 2017 2018

1. Pertanian 4.813.543 4.688.743 4.561.218 4.429.780 4.295.758
2. Pertambangan 89.376 88.463 87.543 86.614 85.676
3. Industri Pengolahan 3.535.045 3.656.001 3.774.822 3.889.262 3.999.622
4. Listrik, Gas dan Air 26.998 27.220 27.445 27.675 27.909
5. Bangunan 1.282.976 1.322.851 1.364.196 1.407.137 1.451.706
6. Perdagangan 3.521.292 3.559.894 3.600.334 3.643.056 3.687.924
7. Angkutan 519.402 505.426 491.435 477.349 463.250
8.. Keuangan 311.972 327.944 345.181 363.921 384.239
9. Jasa Kemasyarakatan 2.362.194 2.451.907 2.553.235 2.669.629 2.741.976

Jumlah 16.462.796 16.628.448 16.805.410 16.994.423 17.138.059

4.2.2 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Golongan Umur
Kesempatan kerja tahun 2014-2018 untuk golongan umur
15-19 tahun diperkirakan akan mengalami penurunan sebanyak
19.824 orang dari 796.248 orang menjadi 776.424 orang,
golongan umur tersebut merupakan golongan usia sekolah,
sehingga penurunan kesempatan kerja bagi golongan umur
tersebut merupakan sesuatu yang harus ditargetkan. Dan
sebaliknya diharapkan proporsi yang tinggi kesempatan kerja
bagi golongan umur produktif antara 25-54 tahun terutama bagi
golongan umur 30-34 tahun, 40-44 tahun dan 35-39 tahun.
Golongan ini secara fisik dan mental merupakan golongan umur
yang paling siap untuk bekerja dan juga yang paling
membutuhkan pekerjaan yang layak. Hal ini karena pada
umumnya mereka menjadi tulang punggung keluarga dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya dan anggota masyarakat lain
yang menjadi tanggungannya seperti anak-anak dan lansia.
Perincian lebih lanjut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


76
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 4.4
Perkiraan Kesempatan Kerja Golongan Umur
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018

Golongan
Umur
2014 2015 2016 2017 2018
15 - 19 796.248 791.227 786.725 782.828 776.424
20 - 24 1.376.301 1.395.829 1.416.510 1.438.564 1.456.221
25 - 29 1.766.852 1.784.299 1.803.034 1.823.316 1.837.844
30 - 34 2.156.439 2.187.097 2.219.565 2.254.184 2.281.916
35 - 39 1.983.403 2.002.566 2.023.166 2.045.494 2.061.358
40 - 44 2.078.618 2.100.821 2.124.575 2.150.191 2.169.056
45 - 49 1.818.003 1.831.317 1.845.870 1.861.918 1.872.013
50 - 54 1.693.641 1.724.557 1.757.124 1.791.633 1.820.893
55 - 59 1.086.093 1.092.585 1.099.390 1.104.843 1.109.349
60 + 1.707.198 1.718.151 1.729.451 1.741.452 1.752.986
Jumlah 16.462.796 16.628.448 16.805.410 16.994.423 17.138.059

4.2.3 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi
pada saat ini kebutuhan akan tenaga kerja yang berkualitas
menjadi sebuah kebutuhan. Oleh karena itu kesempatan kerja
untuk tingkat pendidikan maksimum SD walaupun proporsinya
masih cukup besar namun diperkirakan akan mengalami
penurunan yaitu turun 352.885 kesempatan kerja pada periode
2014-2018 ini. Atau lajunya turun minus 0,99 persen.
Sementara untuk tingkat pendidikan lainnya mengalami
peningkatan dengan proporsi yang bervariasi. Laju peningkatan
terbesar adalah untuk tingkat pendidikan Universitas yaitu
sebesar 5,17 persen. Berikutnya adalah untuk tingkat
pendidikan SMTA Kejuruan sebesar 4,18 persen. Sedangkan
dari segi nominalnya, peningkatan tertinggi diperkirakan adalah
untuk tingkat pendidikan SMTP, meningkat 400.832
kesempatan kerja. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
berikut ini.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
77

Tabel 4.5
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018
Tingkat
Pendidikan
2014 2015 2016 2017 2018
Maksimum SD 9.015.174 8.926.640 8.839.648 8.754.354 8.662.289
SLTP 3.194.804 3.296.076 3.400.816 3.509.226 3.595.636
SMTA Umum 1.806.703 1.855.382 1.905.518 1.957.198 1.996.148
SMTA Kejuruan 1.336.825 1.395.010 1.455.839 1.519.467 1.574.728
D1 - D3 356.023 363.926 372.032 380.356 387.718
Universitas 753.267 791.415 31.557 873.821 921.541
Jumlah 16.462.796 16.628.448 16.805.410 16.994.423 17.138.059


4.2.4 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jenis Kelamin
Kesempatan kerja menurut jenis kelamin di Provinsi Jawa
Tengah diperkirakan masih didominasi oleh laki-laki. Hal ini terlihat dari
komposisi jumlah kesempatan kerja untuk jenis kelamin laki-laki
sebanyak 9,76 juta pada tahun 2014 dan diperkirakan naik menjadi
10,06 juta pada tahun 2018 atau bertambah sebanyak 335.969
kesempatan kerja atau lajunya sebesar 0,85 persen. Namun jika dilihat
dari laju pertumbuhannya kesempatan kerja perempuan justru
mengalami peningkatan yang lebih tinggi yaitu sebesar 1,24 persen,
yaitu diperkirakan bertambah 339.294 kesempatan kerja dari 6,70 juta
pada tahun 2014 menjadi 7,04 juta kesempatan kerja pada tahun
2017. Hal ini karena adanya perkembangan kesetaraan gender pada
masyarakat Provinsi Jawa Tengah, dimana jika sebelumnya laki-laki
otomatis sebagai tulang punggung pencari nafkah bagi keluarga maka
pada perkembangannya perempuan pun memiliki hak yang sama
dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup dan keluarganya. Demikian
pula semakin banyak kesempatan kerja yang lebih membutuhkan
peran perempuan sebagai tenaga kerjanya. Hal yang lebih terinci pada
tabel berikut.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


78
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 4.6.
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018



Jenis
Kelamin
2014 2015 2016 2017 2018

Laki-laki 9.759.848 9.840.742 9.922.591 10.008.105 10.095.817
Perempuan 6.702.949 6.787.706 6.882.819 6.986.318 7.042.243

Jumlah 16.462.796 16.628.448 16.805.410 16.994.423 17.138.059

4.2.5 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Status Pekerjaan
Status pekerjaan dapat dikategorikan menjadi 2 (dua)
kategori besar yaitu informal dan formal. Kategori informal
memiliki presentase yang cukup besar dibandingkan dengan
kategori formal. Namun untuk ke depannya diharapkan status
pekerja formal ini dapat semakin meningkat karena dalam status
ini lebih dapat terjamin dari segi kesejahteraan maupun
perlindungan hukumnya, walaupun dalam beberapa kondisi
tertentu pekerja di sektor informal pun dapat hidup dengan layak
dan sejahtera, bahkan menjadi jaring pengaman pada saat kondisi
perekonomian negara kurang menguntungkan. Untuk itu, pada
periode 2014-2018 ini diharapkan kesempatan kerja di sektor
formal dapat meningkat, dari 35,97 persen pada tahun 2014
menjadi 40,15 persen pada tahun 2018. Yang termasuk dalam
kategori formal adalah berusaha dibantu buruh tetap
(pengusaha/majikan) dan buruh/karyawan/pekerja. Dan untuk
dapat mencapai target dimaksud tambahan kesempatan kerja
keduanya diharapkan dapat mencapai angka 900 ribuan dengan
laju pertumbuhan sebesar 3,83 persen.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
79

Sementara untuk sektor informal di Jawa Tengah pada
periode ini memang masih cukup mendominasi yaitu dengan
jumlah kesempatan kerjanya mencapai 10,5 juta walau dengan
upaya peningkatan sektor formal maka lajunya akan mengalami
perlambatan sebesar minus 0,68 persen atau berkurang 284 ribu
an kesempatan kerja menjadi sekitar 10,2 juta kesempatan kerja
pada tahun 2018. Untuk itu tentu saja harus ada kiat maupun
strategi yang diterapkan agar target ini dapat tercapai.
Secara terinci, status pekerja/buruh/karyawan masih
mendominasi kesempatan kerja yang tersedia yaitu dengan
proporsi sebesar 32,54 persen pada tahun 2014 dan diharapkan
naik menjadi 36,52 persen pada tahun 2018. Status sebagai buruh
ini juga ditargetkan yang memiliki laju pertumbuhan yang tertinggi
yaitu sebesar 3,96 persen pada periode dimaksud, yaitu dengan
pertambahan 900 ribu-an sebagaimana disebut di atas.
Sementara sektor formal berusaha dengan buruh proporsinya
memang masih yang paling kecil yaitu 3,43 persen pada tahun
2014 namun diharapkan juga terus meningkat menjadi 3,64
persen pada tahun 2018.
Sedangkan untuk status pekerjaan yang diperkirakan
mengalami perlambatan adalah status pekerja bebas di pertanian
dengan laju minus 2,65, berusaha dengan dibantu buruh tidak
tetap/buruh tidak dibayar/pekerja keluarga dengan laju sebesar
minus 2,17 namun karena jumlah nominalnya yang cukup besar
maka diperkirakan kesempatan kerjanya akan mengalami
penurunan sebanyak 254.318 kesempatan kerja. Berikutnya
status berusaha sendiri tanpa bantuan akan turun sebanyak
119.130 kesempatan kerja tau dengan laju minus 1,16 persen.

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


80
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 4.7
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Status Pekerjaan
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018

Status Pekerjaan 2014 2015 2016 2017 2018
1. Brsh Sendiri tanpa bantuan 2.601.955 2.574.018 2.546.213 2.518.605 2.482.825
2. Brsh Dengan Dibantu 3.021.189 2.958.223 2.896.378 2.835.709 2.766.871
3. Brsh. Dengan Buruh 564.503 579.176 594.192 609.573 623.224
4. Pekerja/Buruh/karyawan 5.357.693 5.575.062 5.800.866 6.035.568 6.258.413
5. Pkj. Bebas di Pertanian 835.887 814.516 793.638 773.264 750.851
6. Pkj. Bebas di Non Pertanian 1.449.585 1.488.502 1.528.363 1.569.226 1.605.704
7. Pekerja tak dibayar 2.631.984 2.638.950 2.645.760 2.652.478 2.650.170
Jumlah 16.462.796 16.628.448 16.805.410 16.994.423 17.138.059
Formal 5.922.196 6.154.239 6.395.059 6.645.141 6.881.638
Informal 10.540.601 10.474.209 10.410.351 10.349.282 10.256.422
Jumlah 16.462.796 16.628.448 16.805.410 16.994.423 17.138.059

Selain status pekerja proporsi status berusaha dengan
dibantu walau memiliki laju perlambatan terbesar namun dari segi
proporsinya tergolong tinggi yaitu sebesar 18,35 persen pada
tahun 2014 dan ditargetkan menjadi 16,14 persen pada tahun
2018. Namun dari keseluruhan rincian mengenai status pekerjan
ini yang harusnya paling dicermati adalah masih tingginya
proporsi pekerja tak dibayar atau pekerja keluarga di Provinsi
Jawa Tengah, yaitu sebesar 15,99 persen pada tahun 2014 dan
diharapkan turun menjadi 15,46 persen pada tahun 2018. Secara
lebih lengkap dapat dicermati pada tabel 4.7.
4.2.6 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jabatan
Kesempatan kerja menurut jabatan di Provinsi Jawa
Tengah dari segi tambahannya yang terbesar adalah tenaga
produksi dan lainnya yaitu sebanyak 517.858 kesempatan kerja,
sedangkan secara proporsi diperkirakan masih didominasi oleh
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
81

tenaga produksi & lainnya tersebut dan tenaga usaha pertanian.
Hal ini karena pada dasarnya sektor pertanian memang masih
mendominasi kesempatan kerja di Jawa Tengah, dan jika
dikembangkan dengan sungguh-sungguh dari sektor yang
sifatnya tradisional di Indonesia ini bisa dikembangkan menjadi
usaha yang menguntungkan. Hanya saja masih banyaknya
kendala pada umumnya menjadikan sektor ini belum
mensejahterakan mereka yang berkecimpung di dalamnya,
sehingga cenderung hanya sebagai sambilan atau diusahakan
sekadarnya saja. Karenanya dari segi laju pertumbuhannya pada
periode 2014-2018 ini tenaga usaha pertanian justru yang paling
kecil pertumbuhannya yaitu mengalami perlambatan sebesar
minus 1,55 persen atau berkurang sebanyak 297.372
kesempatan kerja. Jabatan tenaga kepemimpinan juga
diperkirakan masih mengalami perlambatan dengan laju minus
0,94 persen atau dari jumlah/proporsi yang tergolong kecil
sebesar 0,63 persen pada tahun 2014 masih harus berkurang
pula sebanyak 3.855 kesempatan kerja menjadi 0,58 persen
pada tahun 2018. Untuk itu masih perlu diupayakan banyak jalan
untuk menumbuhkan jiwa dan tenaga kepemimpinan selain juga
membenahi sistem agar semakin banyak kesempatan kerja bagi
jabatan ini.Sedangkan untuk yang lajunya cukup tinggi setelah
jabatan tenaga produksi adalah tenaga usaha penjualan dan
tenaga profesional. Untuk keterangan lebih lanjut dapat dicermati
pada tabel 4.8 berikut.



Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


82
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 4.8
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jabatan
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018
Jenis Pekerjaan Utma 2014 2015 2016 2017 2018

0/1. Tenaga Profesional 813.362 833.027 853.425 874.611 893.609
2. Tenaga Kepemimpinan 103.999 103.060 102.159 101.300 100.144
3. Tenaga Tata Usaha 586.567 594.729 603.185 611.964 618.990
4. Tenaga Usaha Penjualan 3.229.291 3.295.662 3.364.411 3.435.727 3.497.931
5. Tenaga Usaha Jasa 818.237 837.225 856.912 877.351 895.558
6. Tenaga Usaha Pertanian 4.908.588 4.834.268 4.762.509 4.693.363 4.611.216
7/8/9. Tenaga Produksi & lainnya 6.002.752 6.130.477 6.262.808 6.400.106 6.520.610


Jumlah 16.462.796 16.628.448 16.805.410 16.994.423 17.138.059

4.2.7 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jam Kerja
Jam kerja menunjukkan pemakaian waktu yang digunakan
oleh tenaga kerja selama mereka bekerja. Secara garis besar
katagori mengenai jam kerja ini berperan dalam membagi
penduduk yang bekerja dalam 2 kategori yaitu bekerja penuh
(penduduk yang bekerja lebih dari 35 jam seminggu) dan bekerja
kurang dari jam kerja normal (penduduk yang bekerja kurang dari
35 jam seminggu). Penduduk yang bekerja kurang dari normal ini
atau dikenal sebagai setengah penganggur dan dibagi menjadi
setengah penganggur sukarela dan terpaksa. Dari definisi di atas
untuk periode 2014-2018 ini setengah penganggur di Jawa Tengah
lajunya diperkirakan sebesar 1,21 persen, yaitu dengan
pertambahan sebanyak 239.298 kesempatan kerja. Sedangkan
untuk yang bekerja penuh laju pertumbuhannya hanya mencapai
0,93 persen namun dengan pertambahan sebanyak 435.966
kesempatan kerja. Dengan demikian proporsi pekerja penuh
diperkirakan mengalami penurunan yaitu dari 70,48 persen pada
tahun 2014 menjadi 70,25 persen pada tahun 2018.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
83

Dari besaran di atas, yang mengalami perlambatan adalah
kesempatan kerja untuk jam kerja di atas 60 jam, sementara
katagori jam kerja lain mengalami pertumbuhan. Laju pertumbuhan
terbesar adalah untuk jam kerja 1-9 jam dengan laju sebesar 3,85
persen, walaupun dari segi proporsi yang paling kecil yaitu sebesar
2,35 persen pada tahun 2014 dan menjadi 2,63 persen pada tahun
2018. Sementara untuk nominal tambahan terbesar adalah untuk
jam kerja 35-44 tahun yaitu bertambah 287.387 kesempatan kerja
dengan laju pertumbuhan 1,71 persen. Untuk keterangan lebih
lengkap pada tabel 4.9 berikut ini.

Tabel 4.9
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jam Kerja
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018



4.2.8. Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Kabupaten/Kota
Ada beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah yang
proporsi kesempatan kerjanya cukup besar dibanding
kabupaten/kota lainnya. Pada tahun 2014 Kota Semarang
proporsinya mencapai 4,65 persen namun karena laju
Jam Kerja 2014 2015 2016 2017 2018

0 494.104 503.409 513.142 523.333 532.209
1-9 387.141 402.067 417.774 434.320 450.236
10-14 618.312 630.692 643.637 657.187 669.113
15-24 1.725.848 1.740.358 1.755.855 1.772.406 1.784.022
25-34 2.127.915 2.144.708 2.162.698 2.181.966 2.195.143
35-44 4.085.300 4.155.677 4.229.348 4.306.551 4.372.687
45-59 5.299.193 5.344.486 5.392.819 5.444.404 5.480.845
60 1.724.983 1.707.050 1.690.136 1.674.255 1.653.805

Jumlah 16.462.796 16.628.448 16.805.410 16.994.423 17.138.059
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


84
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

pertumbuhannya hanya sekitar 0,38 persen maka pada tahun
2018 diperkirakan menjadi sebesar 4,53 persen. Sementara
Kabupaten Banyumas dengan proporsi no 4 terbesar setelah
Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Brebes, namun karena
lajunya tergolong yang paling tinggi sebesar 2,57 persen maka
pada tahun 2018 proporsinya diperkirakan menjadi 4,76 persen.
Baru berikutnya Kabupaten Cilacap dengan laju 2,08 persen
maka proporsinya menjadi 4,75 persen dan Kabupaten Grobogan
juga proporsinya di atas 4 persen. Pada tahun 2018 Kabupaten
Brebes dan kabupaten Grobogan proporsinya diperkirakan
menjadi 4,44 dan 4,27 persen.
Sementara proporsi dan laju pertumbuhan yang paling kecil
adalah Kota Magelang yaitu dengan proporsi hanya 0,35 persen
pada tahun 2014 dan dengan laju 0,09 persen maka pada tahun
2018 proporsinya diperkirakan menjadi 0,34 persen saja yaitu
dengan tambahan kesempatan kerja hanya sekitar 198
kesempatan kerja. Rincian lebih jelas dapat dilihat pada tabel
4.10.









Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
85

Tabel 4.10
Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Kabupaten/Kota
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018
Kab/Kota 2014 2015 2016 2017 2018
Kabupaten Cilacap 749.164 764.397 780.886 798.324 813.368
Kabupaten Banyumas 736.601 755.211 775.231 796.373 815.302
Kabupaten Purbalingga 460.945 466.275 471.310 476.284 478.250
Kabupaten Banjarnegara 500.440 507.937 514.453 521.952 527.236
Kabupaten Kebumen 622.028 629.249 636.072 643.448 648.305
Kabupaten Purworejo 348.364 353.924 358.952 363.965 367.427
Kabupaten Wonosobo 409.556 415.408 423.095 431.245 438.052
Kabupaten Magelang 637.364 642.542 649.186 658.974 665.974
Kabupaten Boyolali 512.407 518.641 525.070 531.975 537.660
Kabupaten Klaten 614.824 620.905 627.807 635.258 644.389
Kabupaten Sukoharjo 406.832 410.557 414.818 419.435 423.490
Kabupaten Wonogiri 523.879 528.348 532.448 535.919 539.701
Kabupaten Karanganyar 420.819 424.778 429.294 434.182 438.488
Kabupaten Sragen 477.792 483.427 489.721 496.466 501.587
Kabupaten Grobogan 709.631 714.940 721.161 727.978 732.353
Kabupaten Blora 443.081 444.151 445.763 447.714 448.583
Kabupaten Rembang 331.857 338.749 346.203 354.085 360.911
Kabupaten Pati 575.746 581.221 587.460 594.208 598.983
Kabupaten Kudus 416.389 418.441 421.012 423.915 425.382
Kabupaten Jepara 557.101 561.242 564.422 568.044 571.994
Kabupaten Demak 507.927 514.046 520.868 528.174 533.756
Kabupaten Semarang 523.066 526.709 531.021 532.064 530.762
Kabupaten Temanggung 403.299 405.514 408.234 411.279 412.933
Kabupaten Kendal 460.001 463.179 466.944 471.091 473.652
Kabupaten Batang 364.214 367.313 371.252 375.143 378.527
Kabupaten Pekalongan 419.523 425.642 432.373 439.537 445.296
Kabupaten Pemalang 586.998 589.055 590.663 592.716 593.924
Kabupaten Tegal 598.162 598.922 600.411 602.351 602.235
Kabupaten Brebes 745.236 751.563 755.121 759.261 760.819
Kota Magelang 57.397 57.422 57.516 57.654 57.595
Kota Surakarta 256.380 257.220 258.581 259.936 260.871
Kota Salatiga 82.855 83.591 84.435 85.351 85.982
Kota Semarang 765.299 767.852 771.348 775.436 776.886
Kota Pekalongan 134.070 135.712 137.270 138.949 140.444
Kota Tegal 103.548 104.368 105.012 105.738 106.945
Jumlah 16.462.796 16.628.448 16.805.410 16.994.423 17.138.059

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


86
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

4.3 Perkiraan Produktivitas Tenaga Kerja
Besarnya produktivitas tenaga kerja merupakan gambaran
besarnya aktifitas tenaga kerja yang dapat dihasilkan, tinggi
rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja yang dicapai setiap
sektor lapangan usaha tergantung pada nilai pendapatan dan
banyaknya jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor tersebut.
Secara umum pada tahun 2014 produktivitas tenaga kerja di Provinsi
Jawa Tengah diperkirakan akan mencapai Rp. 14,48 juta/tenaga
kerja jumlah ini diperkirakan akan meningkat pada tahun 2018
mencapai Rp. 18,02 juta/tenaga kerja.
Tabel 4.11
Perkiraan Produktivitas Tenaga Kerja Menurut Lapangan Usaha
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018
(Juta Rp/TK)
Lapangan Usaha 2014 2015 2016 2017 2018

1. Pertanian 8,06 8,52 9,02 9,59 10,22
2. Pertambangan 29,96 32,29 34,85 37,67 40,78
3. Industri Pengolahan 21,85 22,32 22,77 23,20 23,61
4. Listrik, Gas dan Air 77,11 81,82 86,87 92,29 98,12
5. Bangunan 11,22 11,64 12,08 12,55 13,03
6. Perdagangan 15,48 16,57 17,78 19,13 20,64
7. Angkutan 25,85 28,77 32,11 35,97 40,44
8. Keuangan 30,63 31,49 32,39 33,34 34,35
9. Jasa Kemasyarakatan 10,86 11,36 11,92 12,57 13,61

Rata-Rata 14,48 15,26 16,09 16,99 18,02

Produktivitas tertinggi diperkirakan pada lapangan usaha
Listrik, Gas dan Air baik pada tahun 2014 hingga tahun 2018.
Berikutnya, adalah sektor keuangan dan pertambangan pada tahun
2014 namun karena laju pertumbuhan tertinggi adalah pada sektor
angkutan (11,83 persen), pertambangan (8,02 persen) dan
perdagangan (7,46 persen) maka pada tahun 2018 proporsinya mulai
dari yang tertinggi adalah sektor LGA, pertambangan dan angkutan.

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
87

Sektor lapangan usaha yang proporsi produktivitasnya
terendah adalah pertanian, namun laju pertumbuhannya masih
mencapai 6,12 persen. Laju pertumbuhan yang paling kecil adalah
sektor industri pengolahan sebesar 1,95 persen dan berikutnya
sektor keuangan 2,91 persen.





Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
89

BAB V
PERKIRAAN DAN PERENCANAAN
KESEIMBANGAN ANTARA PERSEDIAAN
DAN KEBUTUHAN
TENAGA KERJA

Masalah pengangguran merupakan masalah kompleks yang
dihadapi banyak daerah di Indonesia termasuk di Jawa Tengah.
Pengangguran terjadi sebagai akibat dari tidak sempurnanya pasar tenaga
kerja atau tidak mampunya pasar tenaga kerja dalam menyerap tenaga
kerja yang ada sehingga mengakibatkan timbulnya sejumlah tenaga kerja
yang tidak diberdayakan dalam kegiatan perekonomian. Ini merupakan
akibat tidak langsung dari supply (penawaran) tenaga kerja di pasar tenaga
kerja melebihi demand (permintaan) tenaga kerja untuk mengisi kesempatan
kerja yang tercipta.
Tingkat penganggur terbuka di Provinsi Jawa Tengah pada tahun
2014-2018 diperkirakan akan terus menurun. Pada tahun 2014 diperkirakan
tingkat penganggur terbuka Jawa Tengah sebesar 5,28 persen dengan
Jumlah penganggur sebanyak 917.561 orang dan diperkirakan akan
mengalami penurunan pada tahun 2018, yakni menjadi sebesar 4,04 persen
dengan jumlah penganggur sebanyak 721.178 orang. Dengan perkiraan
terus menurunnya tingkat penganggur terbuka ini adalah prestasi yang luar
biasa jika pemerintah Provinsi Jawa Tengah dapat mewujudkan targetnya,
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


90
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

karena tingkat pengganguran yang rendah akan berdampak sangat
signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan penduduk Jawa Tengah.
5.1 Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Golongan Umur

Penganggur terbuka menurut golongan umur diperkirakan semuanya
mengalami penurunan. Persentase penurunan terbesar terjadi pada
golongan umur 60 tahun ke atas sebesar 67,90 persen. Penurunan terbesar
kedua terdapat pada golongan umur 55-59 tahun sebesar 59,35 persen dan
yang ketiga adalah golongan umur 15-19 tahun yang sebesar 36,09 persen.
Ditinjau dari jumlah penurunannya, golongan umur 15-19 tahun
mengalami penurunan terbanyak yakni sebanyak 95.112 orang diikuti oleh
golongan umur 25-29 tahun sebanyak 31.695 orang dan yang ketiga adalah
golongan umur 20-24 tahun sebanyak 27.014 orang.

Tabel 5.1
Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Golongan Umur
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018
Golongan Umur 2014 2015 2016 2017 2018
15 - 19 263,505 238,543 214,011 189,595 168,394
20 - 24 216,098 209,635 202,125 193,352 189,084
25 - 29 106,566 98,867 89,931 79,499 74,871
30 - 34 110,673 109,480 106,860 102,477 105,374
35 - 39 57,301 53,898 49,180 42,857 43,121
40 - 44 54,662 52,997 49,978 45,296 47,568
45 - 49 47,972 47,447 45,770 42,686 45,645
50 - 54 44,372 43,634 41,769 38,494 41,011
55 - 59 9,863 7,696 5,233 4,139 4,010
60 + 6,547 5,838 4,842 3,208 2,102
Jumlah 917,561 868,036 809,699 741,603 721,178


Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
91

Sementara itu, golongan umur muda (15-24 tahun) memiliki tingkat
penganggur terbuka yang cukup tinggi. Pada tahun 2014 diperkirakan untuk
golongan umur 15-19 tahun TPT-nya sebesar 24,86 persen terus mengalami
penurunan dalam lima tahun ke depan menjadi sebesar 17,82 persen.
Begitu juga pada golongan umur 20-24 tahun TPT-nya terus mengalami
penurunan dari yang sebesar 13,57 persen tahun 2014 menjadi sebesar
11,49 persen tahun 2018. TPT terendah diperkirakan terdapat pada
golongan umur tua (55 tahun ke atas) dengan besaran hanya 0,12 persen
sampai dengan 0,90 persen dalam lima tahun ke depan. Secara lebih
lengkap dapat dilihat pada Tabel 5.2.
Tabel 5.2
Perkiraan Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Golongan Umur
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018 (%)
Golongan Umur 2014 2015 2016 2017 2018
15 - 19 24.86 23.16 21.39 19.50 17.82
20 - 24 13.57 13.06 12.49 11.85 11.49
25 - 29 5.69 5.25 4.75 4.18 3.91
30 - 34 4.88 4.77 4.59 4.35 4.41
35 - 39 2.81 2.62 2.37 2.05 2.05
40 - 44 2.56 2.46 2.30 2.06 2.15
45 - 49 2.57 2.53 2.42 2.24 2.38
50 - 54 2.55 2.47 2.32 2.10 2.20
55 - 59 0.90 0.70 0.47 0.37 0.36
60 + 0.38 0.34 0.28 0.18 0.12
TPT 5.28 4.96 4.60 4.18 4.04


5.2 Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Tingkat Pendidikan
Penganggur terbuka di Jawa Tengah dalam lima tahun ke depan
diperkirakan masih didominasi yang berpendidikan maksimum SD. Hal ini
dimungkinkan oleh masih banyaknya golongan tua dengan pendidiakn SD
yang termasuk kedalam kelompok ini yng sudah tidak bisa bersaing lagi di
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


92
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

pasar kerja karena persyaratan pendidikan minimal mereka terlalu rendah.
Diperkirakan tahun 2014 jumlahnya sebanyak 306.468 orang (3,29 %)
menurun pada tahun 2018 menjadi sebanyak 287.966 orang (3,22 %).
Untuk tingkat pendidikan di atas SD yakni SLTP, jumlah
penurunannya diperkirakan merupakan yang terbesar yakni sebanyak
82.336 orang atau sebesar 31,43 persen. Yang cukup menarik dari hasil
perkiraan seperti pada Tabel 5.3 dan 5.4, jumlah dan tingkat penganggur
terbuka pendidikan SLTA Kejuruan diperkirakan akan lebih rendah
dibandingkan dengan pendidikan SLTA Umum. Pada tahun 2014 jumlah
penganggur terbuka SLTA Kejuruan sebanyak 126.648 orang dengan TPT
8,65 persen diperkirakan menurun menjadi sebanyak 93.416 orang dengan
TPT 5,60 persen pada tahun 2018. Sedangkan SLTA Umum meskipun
menurun namun jumlah dan TPT-nya masih di atas SLTA Kejuruan yang
sebanyak 172.580 orang dengan TPT 8,72 persen tahun 2014 menurun
menjadi sebanyak 126.635 orang dengan TPT 5,97 persen tahun 2018.
Perkiraan ini tentunya sejalan dengan program pemerintah yang lebih
menganjurkan lulusan SLTP untuk melanjutkan ke SLTA Kejuruan agar lebih
siap memasuki dunia kerja karena telah memiliki kemampuan dan
keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja.
Tabel 5.3
Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018
Tingkat Pendidikan 2014 2015 2016 2017 2018
SD 306,468 304,234 300,448 291,941 287,966
SLTP 261,941 239,022 214,056 185,621 179,606
SLTA Umum 172,580 159,604 145,615 129,825 126,635
SLTA Kejuruan 126,648 117,721 107,655 95,793 93,416
Diploma 19,339 18,047 16,631 14,942 14,186
Universitas 30,583 29,407 25,296 23,480 19,369
Jumlah 917,561 868,036 809,699 741,603 721,178
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
93

Tingkat pendidikan Diploma dan Universitas dalam lima tahun ke
depan diperkirakan memiliki TPT dan jumlah yang paling kecil diantara
tingkat pendidikan lainnya. Tahun 2014, Diploma diperkirakan jumlahnya
mencapai 19.339 orang dengan TPT 5,15 persen sementara Universitas
berjumlah 30.583 orang dengan TPT 3,90 persen. Pada tahun 2018 jumlah
penganggur terbuka Diploma menurun menjadi 14.186 orang dengan TPT
3,53 persen dan Universitas menurun menjadi 19.369 orang dengan TPT
2,06 persen.
Tabel 5.4
Perkiraan Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018 (%)
Tingkat Pendidikan 2014 2015 2016 2017 2018
SD 3.29 3.30 3.29 3.23 3.22
SLTP 7.58 6.76 5.92 5.02 4.76
SLTA Umum 8.72 7.92 7.10 6.22 5.97
SLTA Kejuruan 8.65 7.78 6.89 5.93 5.60
Diploma 5.15 4.72 4.28 3.78 3.53
Universitas 3.90 3.58 2.95 2.62 2.06
TPT 5.28 4.96 4.60 4.18 4.04
5.3 Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Jenis Kelamin
Dalam kurun waktu lima tahun ke depan, diperkirakan jumlah
penganggur terbuka laki-laki masih merupakan yang terbanyak. Secara
proporsi penganggur laki-laki diperkirakan mengalami peningkatan dari yang
sebesar 55,54 persen tahun 2014 meningkat menjadi 66,97 persen tahun
2018. Sedangkan untuk jenis kelamin perempuan diperkirakan mengalami
penurunan dari yang sebesar 44,46 persen tahun 2014 menurun menjadi
33,03 persen tahun 2018.


Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


94
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 5.5
Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018

Jenis Kelamin 2014 2015 2016 2017 2018
Laki-laki 509,651 503,821 498,597 491,150 482,952
Perempuan 407,909 364,215 311,103 250,453 238,226
Jumlah 917,561 868,036 809,699 741,603 721,178

Dilihat dari TPT-nya, sebenarnya antara laki-laki dan perempuan
keduanya sama-sama mengalami penurunan, hanya saja penurunan yang
terjadi pada perempuan diperkirakan akan lebih besar dibandingkan dengan
laki-laki. Tahun 2014, TPT laki-laki sebesar 4,96 persen mengalami
penurunan sedikit menjadi 4,57 persen. Sedangkan perempuan menurun
dari yang sebesar 5,74 persen tahun 2014 menjadi 3,27 persen tahun 2018.
Hasil perkiraan ini menunjukkan bahwa diperkirakan peran serta perempuan
di pasar kerja di Jawa Tengah lima tahun ke depan akan lebih besar dan
terbuka.
Tabel 5.6
Perkiraan Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Jenis Kelamin
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018 (%)

Jenis Kelamin 2014 2015 2016 2017 2018
Laki-laki 4.96 4.87 4.78 4.68 4.57
Perempuan 5.74 5.09 4.32 3.46 3.27
TPT 5.28 4.96 4.60 4.18 4.04

5.4. Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Kabupaten / Kota
Jumlah penganggur terbuka di tiga kota Jawa Tengah diperkirakan
merupakan yang terendah. Tiga kota tersebut adalah Kota Magelang, Kota
Salatiga dan Kota Tegal. Kota Magelang diperkirakan memiliki penganggur
terbuka terendah yang sebanyak 6.166 orang tahun 2014 mengalami
peningkatan sedikit menjadi 6.237 orang tahun 2018. Sedangkan Kota
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
95

Salatiga dan Kota Tegal keduanya diperkirakan terus mengalami penurunan
jumlahnya dalam lima tahun ke depan.
Sementara itu, Kabupaten Pati, Kabupaten Brebes dan Kabupaten
Cilacap diperkirakan akan memiliki jumlah penganggur terbuka terbanyak di
Jawa Tengah. Tahun 2014, Kabupaten Pati jumlah penganggur terbukanya
diperkirakan sebanyak 73.419 orang mengalami penurunan menjadi 56.796
orang tahun 2018. Kabupaten Brebes tahun 2014 diperkirakan memiliki
penganggur sebanyak 67.837 orang mengalami penurunan menjadi
sebanyak 52.816 orang tahun 2018. Dan Kabupaten Cilacap diperkirakan
memiliki jumlah penganggur sebanyak 55.209 orang tahun 2014 meningkat
pada tahun 2018 menjadi sebanyak 41.791 orang.
Ditinjau dari angka TPT, Kabupaten Pati, Kota Salatiga dan Kota
Magelang diperkirakan memiliki angka tertinggi dibandingkan dengan
kabupaten/kota lainnya di Jawa Tengah. Tahun 2014 secara berurutan
ketiga kabupaten/kota itu diperkirakan memiliki TPT sebesar 11,31 persen,
10,06 persen dan 9,70 persen. Dan pada tahun 2018 ketiga kabupaten/kota
tersebut memiliki TPT sebesar 8,66 persen, 9,01 persen dan 9,77 persen.
Sedangkan apabila kita tinjau dari pergeseran angka TPT-nya,
Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Sragen dan Kabupaten Pati diperkirakan
akan mengalami pergeseran angka TPT yang cukup besar. Kabupaten
Wonosobo pergeseran TPT-nya merupakan yang terbesar yakni sebesar
3,05 persen, Kabupaten Sragen sebesar 2,74 persen dan Kabupaten Pati
sebesar 2,65 persen dalam lima tahun ke depan.









Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


96
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Tabel 5.7
Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Kabupaten / Kota
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018

Kabupaten/Kota 2014 2015 2016 2017 2018
Kabupaten Cilacap 55,209 52,783 47,796 42,762 41,791
Kabupaten Banyumas 34,414 33,960 33,396 31,306 30,064
Kabupaten Purbalingga 22,568 19,951 16,754 13,104 11,895
Kabupaten Banjarnegara 18,765 18,711 18,254 16,835 17,063
Kabupaten Kebumen 22,790 22,329 22,426 21,335 21,384
Kabupaten Purworejo 13,814 13,779 11,867 11,427 11,409
Kabupaten Wonosobo 20,606 18,502 14,230 10,348 7,763
Kabupaten Magelang 28,875 28,345 27,802 23,444 20,443
Kabupaten Boyolali 23,967 21,217 17,307 13,959 12,400
Kabupaten Klaten 20,606 18,528 18,280 16,857 16,902
Kabupaten Sukoharjo 23,164 23,129 22,654 21,386 21,059
Kabupaten Wonogiri 17,405 15,697 13,377 12,187 10,596
Kabupaten Karanganyar 22,402 21,578 20,286 18,165 17,450
Kabupaten Sragen 26,882 23,651 19,850 16,074 13,341
Kabupaten Grobogan 29,529 25,189 20,055 15,002 12,265
Kabupaten Blora 22,356 21,570 20,316 18,686 18,515
Kabupaten Rembang 18,425 17,647 15,968 14,800 14,376
Kabupaten Pati 73,419 67,962 63,131 59,030 56,796
Kabupaten Kudus 22,566 20,838 19,094 17,419 16,236
Kabupaten Jepara 22,729 22,413 22,594 21,726 22,195
Kabupaten Demak 45,250 44,781 43,753 42,820 43,013
Kabupaten Semarang 22,450 19,104 15,175 11,778 10,646
Kabupaten Temanggung 12,238 11,984 10,885 10,265 10,975
Kabupaten Kendal 29,297 29,362 29,428 28,609 28,814
Kabupaten Batang 21,201 21,166 21,148 21,185 21,304
Kabupaten Pekalongan 20,431 19,097 17,272 15,031 14,620
Kabupaten Pemalang 24,618 24,323 23,365 23,126 23,020
Kabupaten Tegal 36,410 35,838 34,013 31,561 33,056
Kabupaten Brebes 67,837 60,617 57,100 52,937 52,816
Kota Magelang 6,166 6,112 6,061 5,961 6,237
Kota Surakarta 15,975 15,890 15,870 15,569 15,642
Kota Salatiga 9,269 9,141 8,830 8,536 8,513
Kota Semarang 41,992 39,145 37,880 35,163 35,742
Kota Pekalongan 13,735 13,728 13,548 13,397 13,418
Kota Tegal 10,200 9,968 9,935 9,813 9,421
Jumlah 917,561 868,036 809,699 741,603 721,178


Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
97

Tabel 5.8
Perkiraan Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Kabupaten / Kota
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018 (%)

Kabupaten/Kota 2014 2015 2016 2017 2018
Kabupaten Cilacap 6.86 6.46 5.77 5.08 4.89
Kabupaten Banyumas 4.46 4.30 4.13 3.78 3.56
Kabupaten Purbalingga 4.67 4.10 3.43 2.68 2.43
Kabupaten Banjarnegara 3.61 3.55 3.43 3.12 3.13
Kabupaten Kebumen 3.53 3.43 3.41 3.21 3.19
Kabupaten Purworejo 3.81 3.75 3.20 3.04 3.01
Kabupaten Wonosobo 4.79 4.26 3.25 2.34 1.74
Kabupaten Magelang 4.33 4.22 4.11 3.44 2.98
Kabupaten Boyolali 4.47 3.93 3.19 2.56 2.25
Kabupaten Klaten 3.24 2.90 2.83 2.58 2.56
Kabupaten Sukoharjo 5.39 5.33 5.18 4.85 4.74
Kabupaten Wonogiri 3.22 2.89 2.45 2.22 1.93
Kabupaten Karanganyar 5.05 4.83 4.51 4.02 3.83
Kabupaten Sragen 5.33 4.66 3.90 3.14 2.59
Kabupaten Grobogan 3.99 3.40 2.71 2.02 1.65
Kabupaten Blora 4.80 4.63 4.36 4.01 3.96
Kabupaten Rembang 5.26 4.95 4.41 4.01 3.83
Kabupaten Pati 11.31 10.47 9.70 9.04 8.66
Kabupaten Kudus 5.14 4.74 4.34 3.95 3.68
Kabupaten Jepara 3.92 3.84 3.85 3.68 3.74
Kabupaten Demak 8.18 8.01 7.75 7.50 7.46
Kabupaten Semarang 4.12 3.50 2.78 2.17 1.97
Kabupaten Temanggung 2.94 2.87 2.60 2.44 2.59
Kabupaten Kendal 5.99 5.96 5.93 5.73 5.73
Kabupaten Batang 5.50 5.45 5.39 5.35 5.33
Kabupaten Pekalongan 4.64 4.29 3.84 3.31 3.18
Kabupaten Pemalang 4.03 3.97 3.81 3.76 3.73
Kabupaten Tegal 5.74 5.65 5.36 4.98 5.20
Kabupaten Brebes 8.34 7.46 7.03 6.52 6.49
Kota Magelang 9.70 9.62 9.53 9.37 9.77
Kota Surakarta 5.87 5.82 5.78 5.65 5.66
Kota Salatiga 10.06 9.86 9.47 9.09 9.01
Kota Semarang 5.20 4.85 4.68 4.34 4.40
Kota Pekalongan 9.29 9.19 8.98 8.79 8.72
Kota Tegal 8.97 8.72 8.64 8.49 8.10
TPT 5.28 4.96 4.60 4.18 4.04

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
99

BAB VI
ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI
DAN PROGRAM PEMBANGUNAN
KETENAGAKERJAAN

Masalah ketenagakerjaan merupakan masalah yang kompleks dan
luas, sehingga bersifat multi dimensional yang dipengaruhi faktor ekonomi,
sosial, politik dan sebagainya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut
membutuhkan suatu kebijakan yang komperehensif dan multi dimensi pula.
Oleh karena itu, tidak tepat jika ada anggapan bahwa pemecahan masalah
ketenagakerjaan dapat dilakukan dengan mengandalkan suatu kebijakan
tunggal. Demikian juga halnya dengan aspek kelembagaan fungsional yang
terlibat dalam bidang ketenagakerjaan, adalah suatu hal yang tidak mungkin
apabila tanggung jawabnya hanya diletakkan pada satu atau beberapa
instansi saja. Pembangunan ketenagakerjaan harus dilakukan mulai dari
hulu hingga hilir.
Masalah pokok ketenagakerjaan di Provinsi Jawa Tengah antara lain
masih besarnya jumlah penganggur terbuka dan setengah penganggur,
masih rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja dan masih rendahnya
perlindungan dan kesejahteraan pekerja.
Sehubungan dengan itu, maka kebijakan komperehensif yang
dibutuhkan adalah kebijakan berkaitan dengan perluasan kesempatan kerja,
pembinaan angkatan kerja, peningkatan perlindungan dan kesejahteraan
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


100
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

pekerja, yang secara lebih rinci uraian kebijakan tersebut adalah
sebagai berikut :
6.1 Rekomendasi Kebijakan Umum
Kebijakan umum adalah kebijakan yang erat kaitannya
dengan penciptaan iklim yang kondusif dalam rangka perluasan dan
penciptaan kesempatan kerja. Oleh karena itu, kebijakan dimaksud
harus dikembangkan secara serasi dan terpadu serta saling
mendukung guna perluasan dan penciptaan kesempatan kerja yang
produktif dan remuneratif yang antara lain melalui :
a. Meningkatkan kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam
penyerapan tenaga kerja, baik regional, nasional maupun
internasional;
b. Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya pelatihan dan
produktivitas;
c. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama dalam penyelenggaraan
bursa kerja dan optimalisasi sistem informasi bursa kerja yang
mudah diakses oleh masyarakat;
d. Meningkatkan pengawasan dan perlindungan tenaga kerja sesuai
norma hukum yang berlaku, serta meningkatkan peran lembaga
ketenagakerjaan;
e. Menyusun perencanaan tenaga kerja daerah sebagai acuan dalam
rangka pelaksanaan pembangunan ketenagakerjaan yang
berkesinambungan;
f. Peningkatan promosi potensi dan peluang investasi di dalam dan
luar negeri secara selektif dan terpadu serta pengembangan
fasilitasi kerjasama berkaitan dengan investasi;
g. Penciptaan iklim investasi yang kondusif untuk realisasi investasi
dan menjaga investasi berkelanjutan;
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
101

h. Peningkatan sumberdaya yang mendukung realisasi investasi,
maupun sarana dan prasarana investasi yang memadai.
6.2 Rekomendasi Kebijakan Perluasan Kesempatan Kerja
Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu daerah dengan
daya tarik wisata sehingga Provinsi Jawa Tengah menjadi tujuan
utama para pencari kerja baik dari daerah sekitar maupun dari luar
daerah. Jumlah penganggur terbuka di Provinsi Jawa Tengah ini
jumlah relatif cukup besar, dimana pada tahun 2008 sebanyak
1.227.308 orang dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) 7,35
persen, pada tahun 2009 meningkat dari segi jumlah menjadi
1.252.267 orang namun TPT menurun menjadi 7,33 persen dan
berdasar Sakernas BPS tahun 2010 jumlah penganggur di Provinsi
Jawa Tengah sebesar 1.046.883 orang dengan TPT 6,21 persen.
Selanjutnya penganggur terus mengalami penurunan yaitu pada
tahun 2011 sebesar 1.002.662 orang dengan TPT 5,93 persen, dan
pada tahun 2012 menurun menjadi 962.141 orang dengan TPT 5,63
persen.
Penganggur terbuka dengan jumlah sebanyak itu merupakan
suatu pemborosan secara ekonomi yang sangat mahal karena
mereka tidak mempunyai mata pencaharian namun membutuhkan
biaya untuk hidup sehari-hari. Selain itu, penganggur terbuka ini
memiliki potensi negatif yang besar yaitudapat menimbulkan
kerawanan sosial yang dapat mengganggu keamananan politik
secara keseluruhan.
Sehubungan dengan itu, maka kebijakan ketenagakerjaan
perlu diarahkan pada upaya perluasan lapangan kerja yang produktif
dan remuneratif sekaligus mampu menanggulangi penggangur,
pembinaan angkatan kerja dan perlindungan serta peningkatan
kesejahteraan pekerja. Perluasan kesempatan kerja tersebut
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


102
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

ditentukan oleh banyak faktor baik yang berkaitan dengan aspek
permintaan terhadap tenaga kerja maupun aspek penyediaan tenaga
kerja untuk berbagai kegiatan ekonomi.
Faktor utama yang berkaitan dengan upaya menciptakan
permintaan terhadap tenaga kerja adalah perkembangan usaha
ekonomi yang produktif dengan berbagai skala dan jenis yang tentu
membutuhkan tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksi.
Sedangkan faktor utama yang berkaitan dengan penyediaan tenaga
kerja adalah pembinaan pengetahuan, keterampilan dan keahlian
yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja yang ada. Selain itu,
kebijakan tersebut harus pula dapat mencakup seluruh wilayah
provinsi Jawa Tengah dengan efektifitas yang sama serta mampu
menggerakkan dan merangkul partisipasi seluruh elemen masyarakat,
seperti dunia usaha, serikat pekerja, dunia pendidikan dan lain
sebagainya .
6.2.1 Sektor Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Perikanan
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang
menopang pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Tengah.
Tenaga kerja yang terserap di sektor ini cukup besar bila
secara proporsi sektor pertanian berada di urutan pertama
penyumbang pertumbuhan perekonomian Provinsi Jawa
Tengah. Tenaga kerja di sektor pertanian ini antara lain
sebagai peternak, petani, penggarap, agro industri dan lain
sebagainya. Pada tahun - tahun mendatang penciptaan
kesempatan kerjanya diperkirakan akan terus menurun.
Kebijakan sektor pertanian yang mungkin bisa
dilakukan antara lain :
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
103

Meningkatkan dan memantapkan produksi melalui
penyediaan air irigasi yang cukup, sarana produksi dan
pengamanan pertanaman serta produksi;
Mengembangkan industri pertanian perdesaan melalui
pengolahan hasil, manajemen usaha dan penguatan
sistem pemasaran;
Menguatkan kelembagaan petani melalui fasilitasi,
bimbingan dan pembinaan;
Penguatan Sistem Kelembagaan Penyuluhan, Pelaku
utama (petani) dan Pelaku usaha di bidang Pertanian;
Pengembangan komoditas dengan peningkatan
dukungan terhadap pengelolaan sumberdaya alam dan
lingkungan hidup;
Peningkatan produksi, produktivitas dengan intensifikasi,
rehabilitasi, diversifikasi, integrasi pertanian serta
penggunaan benih/bibit unggul;
Fasilitasi penggunaan sarana/prasarana produksi, alat
mesin dan pengendalian hama penyakit;
Peningkatan kemampuan/ketrampilan teknik budidaya,
pengelolaan lahan, kelembagaan, kemitraan, pengolahan
hasil, pasca panen dan pemasaran;
Peningkatan pengelolaan sumber daya hutan yang
berkelanjutan dengan melibatkan partisipasi masyarakat;
Peningkatan produksi hasil hutan non kayu untuk
kesejahteraan masyarakat sekitar hutan;
Pemantapan Kelembagaan dan Pengembangan Jaringan
Kerja dan Kemitraan Penyuluhan Kehutanan;
Meningkatkan kemampuan SDM dan kapasitas
kelembagaan masyarakat, utamanya masyarakat pesisir
dalam optimalisasi pemanfaatan sumberdaya kelautan
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


104
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

dan mengurangi ketergantungan terhadap eksploitasi
sumberdaya kelautan dan perikanan;
Meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum untuk
pengendalian eksploitasi sumberdaya kelautan dan
perikanan dengan memperbesar peran serta Kelompok
Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) ;
Melaksanakan optimalisasi usaha perikanan tangkap,
memasyarakatkan penggunaan alat tangkap yang ramah
lingkungan dan pengembangan sarana dan prasarana
pendukung perikanan tangkap;
Peningkatan usaha perikanan budidaya dengan dukungan
sarana dan prasarana pendukung yang diperlukan serta
meningkatkan kemampuan teknis pembudidayaan ikan,
terutama dalam penerapan good aquaculture practices;
Optimalisasi usaha pengolahan dan pemasaran hasil
perikanan untuk meningkatkan mutu produk, teknologi,
sanitasi dan higienis agar dapat memenuhi persyaratan
mutu ekspor maupun pemenuhan kebutuhan dalam
negeri;
Rehabilitasi dan konservasi habitat vital di laut / pesisir
baik dengan penanganan fisik maupun vegetasi serta
meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan peran serta
masyarakat dalam menjaga kelestarian ekosistem/
lingkungan.
6.2.2 Sektor Pertambangan dan Penggalian
Sektor ekonomi yang kontribusinya paling rendah
dalam PDRB Provinsi Jawa Tengah adalah sektor
pertambangan dan penggalian. Keberadaan kontribusi sektor
pertambangan dan penggalian relatif sulit dipertahankan
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
105

dalam jangka menengah hingga jangka panjang mengingat
status sumberdayanya yang tidak dapat diperbaharui. Tetapi
meskipun demikian, sumberdaya bahan galian di Jawa
Tengah keberadaannya tidak terlepas dari sejarah geologi
pembentukannya , tatanan geologi Jawa Tengah yang sangat
kompleks karena terletak pada pertemuan 2 lempeng tektonik
sehingga sangat memungkinkan terbentuk, terendapkan dan
terakumulasikannya keanekaragaman bahan galian baik
jenis, kualitas maupun kuantitasnya.
Kebijakan yang dapat ditempuh di sektor pertambangan
dan penggalian antara lain :
Peningkatan SDM Bidang Energi dan Sumber Daya
Mineral;
Peningkatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya
mineral serta menerapkan good mining practice di lokasi
tambang yang sudah ada dengan selalu memperhatikan
aspek pembangunan berkelanjutan;
Peningkatan manfaat pertambangan dan nilai tambah
serta peluang usaha pertambangan dengan
memperhatikan aspek sosial dan lingkungan hidup;
Peningkatan upaya konservasi air tanah dan
keseimbangan daya dukung dan daya tampung
lingkungan;
Penyediaan infrastruktur kelistrikan untuk masyarakat dan
industri;
Mendorong pencarian potensi dan cadangan energi baru
serta penganekaragaman pemanfaatan energi baru
terbarukan maupun yang tidak terbarukan (energi
alternatif) ;
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


106
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Peningkatan konservasi energi untuk menjamin generasi
yang akan datang;
Peningkatan pengawasan dalam distribusi migas;
Peningkatan pelayanan informasi kawasan yang rentan
terhadap bencana geologi dan pengembangan sistem
mitigasi bencana alam.
6.2.3 Sektor Industri Pengolahan
Sektor Industri merupakan salah satu motor penggerak
perekonomian Jawa Tengah yang memberikan sumbangan
cukup dominan dalam menunjang pertumbuhan ekonomi dan
penyerapan tenaga kerja. Pembangunan industri Jawa
Tengah pada dasarnya tidak terlepas dari pengaruh
lingkungan strategis industri baik dalam skala nasional,
regional maupun internasional. Terkait dengan hal tersebut,
pengembangan industri di Jawa Tengah diarahkan untuk
mendorong peningkatan daya saing, struktur industri yang
sehat dan berkeadilan, berkelanjutan dan memperkokoh
ketahanan ekonomi.
Beberapa kelompok industri yang merupakan penghela
pertumbuhan sektor industri antara lain : mebel, tekstil dan
produk tekstil (TPT), kulit dan barang dari kulit, komponen
otomotif, perlogaman, keramik dan makanan/ minuman,
pengolahan hasil tembakau. Kelompok industri dimaksud,
penting untuk dikembangkan mengingat industri tersebut
mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, mampu menyerap
tenaga kerja dalam jumlah yang besar, banyak tersebar di
wilayah Jawa Tengah, menggunakan teknologi sederhana
dan hasil produknya berorientasi ekspor.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
107

Mengacu pada kebijakan industri nasional,
pembangunan industri di Jawa Tengah antara lain ditempuh
melalui penanganan panen dan pasca panen; perkuatan
klaster industri dengan menggunakan pendekatan
Kompetensi Inti Industri Daerah. Selanjutnya untuk lebih
meningkatkan efektivitas pengembangan industri di tingkat
Kabupaten/ Kota digunakan pendekatan One Village One
Product (OVOP). Melalui pendekatan tersebut, diharapkan
dapat menggali dan mempromosikan produk inovatif dan
kreatif lokal, menggunakan sumber daya lokal, bersifat unik
khas daerah, bernilai tambah tinggi dengan tetap menjaga
kelestarian lingkungan, memiliki brand image dan daya saing
tinggi. Jenis Industri yang menjadi lingkup pengembangan
industri di Jawa Tengah berbasis Kompetensi Inti Industri
Daerah adalah : Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT),
Industri Mebel, Industri Makanan Ringan, Industri
Perlogaman, Industri Komponen Otomotif, Industri Hasil
Tembakau (Rokok).
Berikut adalah berbagai kebijakan di sektor industri
yang perlu ditempuh dalam rangka pembangunan
ketenagakerjaan di Jawa Tengah :
- Meningkatkan penggunaan bahan baku lokal dan
penggunaan produk dalam negeri untuk mendorong
kemandirian dan daya saing;
- Mengembangkan klaster industri yang mempunyai daya
saing produk untuk mendukung industri-industri unggulan
Jawa Tengah;
- Meningkatkan penataan kelembagaan struktur industri
untuk meningkatkan kapasitas sektor industri;
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


108
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

- Memanfaatkan teknologi modern dan kearifan lokal untuk
meningkatkan daya saing produk;
- Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam
menguasai teknologi.
6.2.4 Sektor Listrik, Gas dan Air
Kontribusi sektor ini dalam penyerapan tenaga kerja
relatif kecil. Namun demikian, sesuai dengan karakteristinya
sektor ini sangat terkait dengan sektor dan aspek lain seperti
sektor industri, bangunan, perdagangan dan kesejahteraan
masyarakat. Oleh karena itu, maka kebijakan yang perlu
ditempuh disektor ini harus disesuaikan dengan sektor dan
bidang terkait seperti : pengembangan listrik yang ramah
lingkungan untuk mendukung kebutuhan kawasan industri,
permukiman, pengembangan jaringan pipa gas untuk
melayani kebutuhan kawasan industri, permukiman, dan
kepentingan komersial. Seiring dengan menurunnya kualitas
dan volume air tanah sebagai sumber kebutuhan air bagi
masyarakat, maka penyediaan fasilitas air minum menjadi
mempunyai peluang lapangan kerja yang lebih besar.
6.2.5 Sektor Konstruksi (Bangunan)
Perkembangan sektor konstruksi tidak saja berdampak
pada kehidupan ekonomi, namun juga berimbas positif
kepada kehidupan sosial masyarakat. Kohesi sosial di
masyarakat dan kemajuan ekonomi bisa terbangun dengan
berbagai hasil kerja para pelaku di industri konstruksi.
Keberadaan berbagai macam hasil pekerja konstruksi, seperti
pasar, sekolah, pusat bisnis, gedung pemeritahan, jembatan
hingga sarana jalan raya akan menciptakan gerak
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
109

perekonomian, sekaligus menopang kehidupan sosial budaya
suatu daerah.
Sesuai dengan proyeksi perkembangan dan
pertumbuhan dan pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Tengah
tahun 2014 -2018, perkembangan sektor konstruksi di
Provinsi Jawa Tengah masih cukup tinggi meskipun
diperkirakan mengalami penurunan selama periode tersebut.
Hal ini bisa terjadi seiring terealisirnya berbagai proyek
pembangunan yang dikebut untuk mendinamisasi
perekonomian Provinsi Jawa Tengah. Jadi jelas, bahwa
potensi bisnis konstruksi di Provinsi Jawa Tengah sangat
besar akibatnya banyak peluang yang terbuka di sektor ini.
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Tengah beberapa tahun
terakhir ini cukup menggembirakan, mengindikasikan bahwa
gerak ekonomi di Provinsi Jawa Tengah semakin bergairah.
Untuk itu, dengan sendirinya permintaan terhadap bisnis jasa
konstruksi juga terangkat. Bukan itu saja tumbuhnya sektor
konstruksi yang umumnya padat karya akan berdampak pada
perluasan dan penciptaan kesempatan kerja di Provinsi Jawa
Tengah itu sendiri .
Sehubungan dengan itu, diperlukan berbagai kebijakan
yang tepat agar sektor konstuksi dapat bertumbuh tinggi dan
menciptakan banyak kesempatan kerja bagi masyarakat
Provinsi Jawa Tengah . Berikut adalah berbagai kebijakan
yang dapat ditempuh dalam rangka pembangunan
ketenagakerjaan di Provinsi Jawa Tengah :
- Mewujudkan pembangunan jalan dan jembatan guna
mendukung pengembangan wilayah Jawa Tengah;
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


110
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

- Meningkatkan kondisi jalan dan jembatan provinsi dari
kondisi rusak dan sedang menjadi kondisi baik serta
tertanganinya perbaikan kerusakan jalan dan
- jembatan yang disebabkan bencana alam;
- Meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana dan
prasarana kebinamargaan dalam mendukung kinerja
penanganan jalan dan jembatan provinsi;
- Meningkatkan fungsi sarana dan prasarana sumber daya
air untuk irigasi dan air baku dalam mendukung
ketahanan pangan dan kebutuhan berbagai sektor
(pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, industri,
pariwisata, dan lainlain);
- Meningkatkan fungsi sarana dan prasarana pengendalian
banjir dan pengamanan pantai untuk melindungi kawasan
strategis, sentra produksi, serta perumahan dan
permukiman;
- Meningkatkan peran serta masyarakat dalam
pembangunan, pengembangan dan pengelolaan
infrastruktur;
- Meningkatkan fungsi sarana dan prasarana konservasi
sumber daya air untuk kelestarian air dan sumber air;
- Mengurangi kesenjangan penyediaan sarana dan
prasarana antar wilayah;
- Meningkatkan ketersediaan prasarana dan sarana
pemukiman bagi masyarakat di perkotaan dan perdesaan;
- Meningkatkan pelayanan air bersih, sanitasi dan
persampahan terutama bagi masyarakat RTM;
- Menguatkan kinerja pengelolaan dan pembangunan
gedung publik.

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
111

6.2.6 Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
Sektor perdagangan merupakan sektor kedua terbesar
penopang pertumbuhan perekonomian setelah sektor
pertanian di Provinsi Jawa Tengah, sektor ini mencakup
perdagangan besar, eceran dan rumah makan serta hotel.
Kegiatan yang tercakup dalam sektor perdagangan tergolong
sangat luas dan beragam, mulai dari perdagangan kecil
seperti warung rokok dan warung makanan hingga
perdagangan besar seperti keagenan dan distributor.
Perdagangan adalah salah satu sektor yang diperkirakan
mampu menyerap tenaga kerja yang cukup besar selama
periode 2014 - 2018 yaitu sebesar 3.266.805 orang. Khusus
untuk kegiatan perdagangan kecil sektor ini mempunyai ciri
yaitu seolah tanpa hambatan untuk dimasuki oleh siapa saja
tanpa persyaratan yang berat. Perkembangan usaha
perdagangan eceran khususnya yang tergolong modern,
walaupun bersifat padat karya, namun perlu diwaspadai
dampaknya terhadap usaha perdagangan tradisional yang
memang lebih ramah terhadap tenaga kerja.
Namun demikian seiring dengan terus meningkatnya
kebutuhan masyarakat terhadap penyediaan berbagai barang
dan jasa yang penyampaiannya adalah melalui aktivitas
perdagangan maka prospek pengembangan usaha
perdagangan ini menjadi cerah. Secara lebih rinci, kebijakan
yang perlu ditempuh diantaranya adalah :
Meningkatkan akses dan perluasan pasar produk ekspor
serta pengembangan kerjasama perdagangan
internasional yang saling menguntungkan;
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


112
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Meningkatkan daya saing produk utama ekspor, produk
potensial ekspor dan produk jasa;
Memperkuat kelembagaan usaha perdagangan dan
pengembangan jaringan usaha perdagangan (networking)
di dalam negeri dan luar negeri;
Meningkatkan efisiensi dan efektivitas sistem distribusi,
tertib niaga, perlindungan konsumen dan kepastian
berusaha;
Mengembangkan prasarana distribusi dan sarana
penunjang perdagangan;
Mengembangkan jaringan informasi produksi dan pasar
serta pengintegrasian pasar lokal dan regional;
Meningkatkan pembudayaan penggunaan produksi dalam
negeri;
Mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) sektor
perdagangan secara intensif melalui transformasi ilmu
pengetahuan dan teknologi;
Meningkatnya promosi produk unggulan;
Peningkatan jumlah kunjungan, lama tinggal dan
pengeluaran belanja wisatawan melalui pengembangan
pemasaran dan promosi pariwisata di dalam dan luar
negeri;
Peningkatan daya saing dan daya jual destinasi
pariwisata melalui diversifikasi dan pengembangan
kualitas produk dan jasa pariwisata, pemenuhan sarana
dan prasarana di lingkungan obyek dan daya tarik wisata,
serta peningkatan kualitas pengelola obyek dan daya tarik
wisata, pramuwisata dan para pelaku pariwisata lainnya;

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
113

Peningkatan kemitraan antara pemerintah daerah dengan
dunia usaha pariwisata dan masyarakat guna
mensinergikan pengembangan pariwisata dan mendorong
tumbuhnya partisipasi masyarakat.
6.2.7 Sektor Angkutan dan Komunikasi
Provinsi Jawa Tengah memiliki potensi yang cukup
prospektif disektor angkutan dan komunikasi. Jika hal ini
berhasil dikembangkan. Maka akan berdampak pada
tumbuhnya benyak kesempatan kerja di sektor angkutan dan
komunikasi. Untuk itu diperlukan juga kebijakan-kebijakan
yang dapat mendorong pertumbuhan sektor angkutan dan
komunikasi agar berdampak pada perluasan dan penciptaan
kesempatan kerja. Berikut adalah beberapa kebijakan yang
dapat ditempuh dalam rangka pembangunan
ketenagakerjaan di sektor angkutan dan komunikasi.
- Meningkatkan sarana prasarana lalu lintas, kualitas
pelayanan jasa bidang angkutan jalan dan manajemen
rekayasa lalu lintas, serta prasarana
- keselamatan sungai danau dan penyeberangan serta
Kereta Api.
- Meningkatkan sarana dan prasarana perhubungan laut,
keselamatan, keamanan serta ketertiban angkutan laut di
Jawa Tengah;
- Mengembangkan kapasitas dan kualitas layanan Bandar
udara di Jawa Tengah;
- Mengembangkan dan meningkatkan teknologi, informasi,
telekomunikasi, metereologi dan SAR.
- Memperkuat kemandirian industri telekomunikasi;
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


114
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

- Meningkatkan sarana dan prasarana dan memperkuat
jejaring di bidang komunikasi dan informasi;
- Meningkatkan pengkajian dan penelitian bidang informasi
dan komunikasi;
- Meningkatkan kualitas SDM bidang komunikasi dan
informatika;
6.2.8 Sektor Keuangan
Peran serta sektor keuangan dalam mendukung sisi
pembiayaan merupakan pilar yang menentukan dalam
mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan
berkualitas di sektor riil. Jadi kinerja sektor moneter sangat
mempengaruhi kinerja sektor riil, untuk itu diperlukan peran
serta sektor moneter yang lebih agresif lagi untuk mendorong
pertumbuhan sektor riil yang mana akan mendorong
perluasan dan penciptaan kesempatan kerja. Hal ini
diantaranya dapat dilaksanakan melalui peran perbankan
dalam menjalankan fungsi intermediasinya.
Perbankan memiliki fungsi strategis dan penting dalam
pembangunan ekonomi Provinsi Jawa Tengah, khususnya
dalam mendukung peningkatan kegiatan ekonomi serta
mendorong pertumbuhan sektor riil, terutama sektor industri
dan perdagangan. Untuk itu, perbankan diharapkan lebih
mampu mengubah struktur pembiayaannya dari pembiayaan
ke sektor konsumsi dan penempatan di pasar uang kearah
yang lebih produktif, yakni pembiayaan modal dan investasi,
terutama pada kegiatan usaha yang bersifat padat kerja.
Perbankan juga dituntut untuk lebih mampu mencari peluang-
peluang baru dalam pembiayaan, dan lebih mengenali
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
115

karakteristik dunia usaha atau sektor riil, sehingga dapat
mengurangi persepsi risiko bank atas dunia usaha.
Berikut adalah beberapa kebijakam yang dapat
ditempuh dalam rangka pembangunan ketenagakerjaan di
sektor keuangan :
- Membangun lembaga keuangan mikro untuk usaha mikro
dan kecil di setiap desa/kelurahan.
- Membentuk badan layanan umum daerah keuangan
mikro di setiap kabupaten.
- Menumbuhkembangkan lembaga keuangan daerah (LKD)
disetiap desa.
- Memberikan pinjaman lunak bagi koperasi dan UMKM
- Usaha perbankan diarahkan untuk mampu membantu
berkembangnya usaha mikro.
- Mengembangkan sistem perkreditan yang didukung oleh
bantuan teknis dan fasilitasi yang meliputi pelatihan,
penelitian dan penyediaan informasi
- Pembinaan dan penyediaan sumber daya manusia
kualifikasi ahli guna memenuhi kebutuhan bidang
keuangan secara berkelanjutan akan mendorong
peningkatan lingkup dan kaulitas sektor keuangan yang
pada gilirannya dapat meningkatkan kebutuhan
tenaga kerja pada sektor ini.
- Mengembangkan dan mengefektifkan persyaratan
perijinan pendirian perusahaan jasa keuangan yang
mengharuskan mempekerjakan pegawai tetap guna
mendorong penciptaan kesempatan kerja yang lebih
permanen


Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


116
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

6.2.9 Sektor Jasa
Hampir segala aspek dimulai dari kebutuhan sarana
komunikasi, pendidikan dan ilmu pengetahuan, politik, dunia
kerja dan sarana perkantoran, rumah tangga, kesehatan,
hiburan, pertelevisian hingga kebutuhan aksesoris dan pernik-
pernik kehidupan yang lain sangat banyak, mengalami
perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan yang
sangat pesat dan kompleks tersebut mendorong permintaan
terhadap jasa tertentu yang sangat beragam dan pada
gilirannya menciptakan peluang besar dalam bisnis jasa,
sehingga akan menyerap tenaga kerja yang cukup besar,
khususnya tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus.Jasa
yang sangat bervariasi dan spesifik terus dibutuhkan oleh
masyarakat secara luas dan akan terus berkembang sejalan
dengan perkembangan dunia secara global, yang ditandai
dengan perkembangan teknologi informasi yang cepat.
Perkembangan yang dinamis memunculkan banyak peluang
kerja di sektor jasa bagi para angkatan kerja.
Peranan kegiatan layanan jasa dalam penyerapan
tenaga kerja tergolong besar yang menduduki urutan
keempat. Mengingat kebutuhan masyarakat akan pelayanan
jasa semakin meningkat dari waktu ke waktu, maka prospek
pengembangan sektor ini menjadi cukup cerah. Untuk itu
perlu dilakukan penyiapan sumberdaya manusia yang
kompeten di bidang jasa ini. Selain itu, perlu juga dilakukan
pembinaan berupa peningkatan kapasitas dan kualitas bagi
para pekerja di sektor jasa ini dalam rangka produktvitas.


Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
117

6.3 Rekomendasi Kebijakan Pelatihan Tenaga Kerja
Kebijakan pelatihan tenaga kerja bertujuan untuk meningkatkan
keterampilan, keahlian, dan kompetensi tenaga kerja dan
produktivitas. Peningkatan kualitas tenaga kerja dilakukan melalui
pendidikan formal, pelatihan kerja,dan pengembangan di tempat
kerja sebagai suatu kesatuan sistem pengembangan SDM yang
komprehensif dan terpadu. Pelatihan kerja akan semakin penting
perannya dalam peningkatan kualitas tenaga kerja dimana
dibutuhkan kemampuan dalam mengantisipasi perubahan teknologi
dan persyaratan kerja.
Tabel 6.1
Perkiraan Tambahan Kesempatan Kerja
Menurut Status Pekerjaan dan Tingkat Pendidikan
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018
Status Pekerjaan
Utama/Pendidikan
Maks. SD SMTP
SMTA
Umum
SMTA
Kejuruan
Diploma Universitas Jumlah
1. Brsh Sendiri tanpa bantuan (15,860) 18,015 8,515 10,693 1,425 7,563 30,350
2. Brsh Dengan Dibantu (26,630) 30,248 14,296 17,953 2,392 12,699 50,958
3. Brsh Dengan Buruh (12,460) 14,153 6,689 8,400 1,119 5,942 23,844
4. Pekerja/Buruh/karyawan (282,750) 321,167 151,794 190,620 25,395 134,830 541,056
5. Pkj Bebas di Pertanian 63,934 (72,620) (34,323) (43,102) (5,742) (30,487) (122,340)
6. Pkj Bebas di Non Pertanian (34,549) 39,243 18,548 23,292 3,103 16,475 66,111
7. Pekerja tak dibayar (44,569) 50,624 23,927 30,047 4,003 21,253 85,285
JUMLAH (352,885) 400,831 189,446 237,903 31,695 168,274 675,263

Dari perkiraan tambahan kesempatan kerja menurut status
pekerjaan utama, bahwa sebagai prioritas yang perlu kita lakukan
pelatihan adalah mereka-mereka yang akan berusaha sendiri,
berusaha dengan dibantu dan pekerja atau buruh pendidikan
maksimum SMTA Umum. Sementara berusaha dengan buruh
(pengusaha) tidak perlu diberikan pelatihan. Karena untuk menjadi
seorang pengusaha sebagian melalui usaha sendiri atau usaha
dibantu dan apabila langsung menjadi pengusaha kemunginan besar
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


118
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

sudah belajar dari keluarganya. Sedangkan mereka yang akan
bekerja dengan status pekerja bebas dan pekerja keluarga tidak
perlu kita lakukan pelatihan. Selain itu mereka- mereka yang
berpendidikan SMTA Kejuruan diperkirakan sewaktu sekolah sudah
mendapat pengetahuan praktis sesuai dengan bidangnya dinilai
sudah cukup, sedangkan yang berpendidikan diploma dan
universitas rata-rata memiliki kemampuan yang cukup apabila ingin
bekerja sebagai karyawan maupun berusaha.
Berdasarkan perkiraan kesempatan kerja tahun 2014 - 2018
bahwa perlu dilakukan pelatihan tentang :
a. Kewirausahaan (usaha sendiri dan dibantu) sebanyak 71.075
orang
b. Karyawan sebanyak 472.960 orang
Jumlah sasaran yang perlu dilatih selama tahun 2014 - 2018
adalah sebanyak 544.035 orang.

Tabel 6.2
Kapasitas Lembaga Latihan dan Instruktur
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2010-2012

Keterangan 2010 2011 2012
Kapasitas Lembaga Pelatihan 34.944 34.944 34.944
Instruktur 480 526 499
Dengan melihat kebutuhan latihan pada tahun 2014 - 2018,
serta melihat kapasitas lembaga latihan yang masih sedikit
dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja yang harus dilatih maka
target kebutuhan latihan tersebut semestinya terus ditingkatkan
selama lima tahun mendatang. Peningkatan jumlah peserta dan
kapasitas lembaga latihan mengandung konsekuensi terhadap
peningkatan anggaran maupun infrastruktur.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
119

Berikut akan diuraikan beberapa kebijakan yang berkaitan
dengan pelatihan yang difokuskan kepada kewirausahaan dan untuk
menjadi pekerja/buruh/karyawan:
6.3.1 Pelatihan Berdasarkan Status Pekerjaan Utama
6.3.1.1 Berusaha Sendiri Tanpa Bantuan dan Berusaha
Dengan Dibantu
Dari perkiraan tambahan kesempatan kerja,
dengan banyaknya tenaga kerja yang perlu dilatih maka
dibutuhkan pula biaya besar yang harus dikeluarkan. Selain
itu, jumlah lembaga pelatihan, instruktur, serta daya tampung
lembaga pelatihan itu sendiri perlu ditambah mengingat
besarnya tenaga kerja yang perlu dilatih.
Program pelatihan yang potensial dikembangkan
untuk kelompok berusaha sendiri tanpa bantuan dan dibantu
antaranya :
1. Pelatihan tata boga
2. Pelatihan kerajinan tangan
3. Pelatihan pertukangan
4. Pelatihan meubel
5. Pelatihan elektronika
6. Pelatihan otomotif
6.3.1.2 Pekerja/Buruh/Karyawan
Berdasarkan pada perkiraan tambahan kesempatan
kerja diperkirakan akan terdapat tambahan 472.960 orang
pada tahun 2014 - 2018 yang perlu dilatih untuk menjadi
pekerja/buruh/ karyawan, jumlah tersebut adalah merekayang
berpendidikan SMTA Umum ke bawah.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


120
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Prioritas pelatihan bisa dikembangkan bagi mereka
yang akan menjadi pekerja/buruh/karyawan diantaranya :
1. Pelatihan otomatif
2. Pelatihan teknologi mekanik
3. Pelatihan elektronika
4. Pelatihan computer, sekretaris
5. Pelatihan operator mesin
6. Pelatihan pembukaan / akuntansi
7. Pelatihan perhotelan dan lain-lain
6.3.1.3 Pelatihan Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Selain prioritas pelatihan tersebut di atas, pelatihan
yang perlu dilakukan juga bisa didasarkan pada jenis pekerjaan
yang akan dimasuki pencari kerja. Dari beberapa jenis jabatan
yang ada, dapat kita bedakan jenis pelatihan prioritasnya agar
pelatihannya lebih terarah dan luarannya dapat diserap pasar
kerja.
1. Pertanian
Di sektor pertanian ada beberapa jenis pelatihan yang bisa
dikembangkan, misalnya:
a. Pelatihan peternak unggas
b. Pelatihan operator mesin pertanian dan kehutanan
c. Pelatihan pekerja pertanian, perkebunan, dan
pembibitan
d. Pelatihan petani dan nelayan
e. Pelatihan pekerja pertanian dan peternakan
2. Industri Manufaktur
Untuk sektor industri manufaktur sedapat mungkin
disesuaikan dengan potensi daerah dan jenis industry yang
ada di daerah masing-masing. Hal ini diperlukan agar jenis
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
121

pelatihan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan di
lapangan. Beberapa jenis pelatihan yang bisa
dikembangkan, diantaranya :
a. Pelatihan pembuat roti, kue kering, dan kembang gula
b. Pelatihan menjahit, konveksi
c. Pelatihan penyulam
d. Pelatihan tukang kayu dan meubel
e. Pelatihan operator mesin jahit
3. Konstruksi
Di bidang konstruksi, jenis pelatihan yang masih bisa
dikembangkan diantaranya :
a. Pelatihan tukang pemula (tukang kayu,tukang
konstruksi, tukang batu)
b. Pelatihan mandor
c. Pelatihan operator alat berat, mekanik engginer
d. Pelatihan pelaksana lapangan (pekerjaan jalan,
jembatan, irigasi dan pekerjaan gedung)
e. Pelatihan teknisi laboratorium bahan bangunan
f. Pelatihan manajer kontraktor kecil dan menengah
g. Pelatihan quantity surveyor
h. Pelatihan estimasi biaya (jalan, jembatan, irigasi, dan
pekerjaan gedung)
i. Pelatihan K-3 konstruksi
j. Pelatihan tukang bekisting dan perancah
k. Pelatihan operator tower crane
l. Pelatihan pengawas lapangan
m. Pelatihan juru hitung quantitas
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


122
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

4. Jasa-jasa
Untuk sektor jasa, sebenarnya banyak pelatihan yang bisa
dikembangkan. Karena sektor ini memang mengharuskan
memiliki tingkat keterampilan yang tinggi. Beberapa jenis
pelatihan yang bisa dikembangkan diantaranya :
a. Pelatihan montir kendaraan
b. Pelatihan pemangkas rambut, perias, dan perawat
kecantikan
c. Pelatihan pembantu dan pembersih rumah tangga
d. Pelatihan pengemudi taksi
e. Pelatihan tukang jahit, pembuat pakaian, dan pembuat
topi, dan lain-lain
5. Sektor lainnya
Untuk sektor lainnya yang masih dapat dikembangkan,
untuk menambah keterampilan tenaga kerja yang akan
memasuki pasar kerja diantaranya :
a. Pelatihan operator mesin forklift
b. Pelatihan teknisi mesin
c. Pelatihan tekhnisi listrik
d. Pelatihan juru masak
e. Pelatihan operator computer dan mesin pengolah data
f. Pelatihan pelayan restoran dan bar
g. Pelatihan perakit peralatan listrik, dan lain-lain
Dari uraian di atas, diperlukan strategi yang dapat mendukung
terlaksananya pelatihan yang terencana dan terarah. Strategi
dimaksud antara lain :
1. Adanya perencanaan pelatihan berdasarkan pada
kebutuhan sektor, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan dan
status pekerjaan.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
123

2. Mendayagunakan seluruh potensi lembaga pelatihan baik
yang dikelola oleh pemerintah, swasta dan perusahaan
serta membangun BLK baru.
3. Memberikan pelatihan kepada angkatan kerja baru untuk
meningkatkan kualitasnya agar mampu mengisi
kesempatan kerja yang ada di dalam negeri maupun di luar
negeri.
4. Membangun link and match antara program pendidikan dan
program pelatihan dengan dunia kerja.
6.4 Rekomendasi Kebijakan Penempatan Tenaga Kerja
Kebijakan penempatan tenaga kerja diarahkan untuk
pengembangan pasar kerja, penempatan tenaga kerja dalam negeri
dan luar negeri, pengembangan kesempatan kerja dan pengendalian
penggunaan tenaga kerja asing. Keempat kebijakan tersebut
dilaksanakan dalam rangka untuk mengatasi permasalahan di bidang
ketenagakerjaan yaitu masalah pengangguran dan setengah
pengangguran.
Pendekatan yang digunakan adalah untuk memformulasikan
kebijakan penempatan tenaga kerja dalam Rencana Tenaga Kerja
Provinsi (RTKP) tahun 2014 - 2018 ini adalah dengan cara
menentukan target utama penempatan tenaga kerja berdasarkan
jenis status pekerjaan dan lapangan usaha (sektor).
Adapun ketiga jenis status pekerjaan yang menjadi target
utama penempatan tenaga kerja pada tahun 2014 - 2018 adalah
kesempatan kerja dengan status berusaha sendiri tanpa bantuan,
berusaha dengan dibantu, dan pekerja/buruh/karyawan. Dasar
pertimbangan penetapan kesempatan kerja dengan status berusaha
sendiri tanpa bantuan serta berusaha dengan dibantu sebagai target
utama penempatan tenaga kerja pada tahun 2014-2018 adalah
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


124
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

karena kedua jenis pekerjaan tersebut merupakan bentuk dari
kewirausahaan. Dengan menciptakan banyak kewirausahaan, maka
akan mendorong terciptanya kesempatan kerja baru, sedangkan
dasar pertimbangan penetapan kesempatan kerja dengan status
pekerja/buruh. Karyawan sebagai salah satu target utama
penempatan tenaga kerja pada tahun 2014 - 2018 adalah karena
pekerjaan ini merupakan jenis pekerjaan yang bersifat formal. Seperti
diketahui bersama bahwa penciptaan kesempatan kerja formal dalam
jumlah yang banyak merupakan salah satu sasaran pembangunan
ketenagakerjaan. Hal ini disebabkan pekerja sektor formal
merupakan pekerja yang bekerja pada segala jenis pekerjaan yang
mendapat perlindungan, menghasikan pendapatan yang tetap,
dengantempat kerja yang memiliki keamanan kerja (job security),
serta dengan status permanen pada unit usaha atau lembaga yang
berbadan hukum .
Sektor prioritas dan ditetapkan sebagai target utama
penempatan tenaga kerja pada tahun 2014 - 2018 adalah sektor
industri, sektor perdagangan, sektor keuangan dan sektor jasa.
Sektor industri merupakan representasi lapangan pekerjaan sektor
formal. Sektor perdagangan merupakan sektor yang diharapkan
memiliki kesempatan kerja terbesar selama periode 2014 2018.
Sektor keuangan dan sektor jasa merupakan jenis lapangan usaha
yang diharapkan terus berkembang pesat. Bersama sektor industri,
sektor keuangan dan sektor jasa ini merupakan ciri dari negara yang
berbasis perekonomian modern.
Kesempatan kerja kemudian diperkirakan menurut jenis
jabatan dengan menggunakan basis 5 (lima) digit berdasarkan
Klasifikasi Lapangan Usaha Indonesia (KLUI). Kesempatan kerja
menurut jenis jabatan ini difokuskan hanya pada lapangan usaha
yang menjadi sektor prioritas, yaitu sektor industri, sektor
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
125

perdagangan, sektor keuangan dan sektor jasa. Dengan demikian,
dapat diketahui jenis jabatan yang dibutuhkan pada tahun 2014
2018, sehingga dapat diidentifikasi spesifikasi dan kualifikasi yang
dibutuhkan oleh angkatan kerja guna mengisi jabatanjabatan
tersebut. Selanjutnya dapat dirancang programprogram pelatihan
yang mengacu kepada kebutuhan jabatan tersebut.
Berdasarkan hasil proyeksi, diperkirakan akan terdapat
tambahan kesempatan kerja sebesar 675.263 ribu orang pada tahun
20142018 (Lihat Tabel 6.3). Berdasarkan status pekerjaan utama,
tambahan kesempatan kerja terbesar selama lima tahun kedepan
adalah untuk pekerja / buruh/ karyawan. Sedangkan berdasarkan
lapangan usaha utama, tambahan kesempatan kerja terbesar adalah
pada sektor industri pengolahan.

Tabel 6.3
Perkiraan Tambahan Kesempatan Kerja
Menurut Status Pekerjaan dan Lapangan Usaha
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014-2018
Status Pekerjaan
Utama/Lapangan Usaha
1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jumlah
1 Brsh Sendiri tanpa bantuan (16,407) (145) 18,207 36 6,613 6,531 (2,201) 2,832 14,884 30,350
2 Brsh Dengan Dibantu (27,548) (243) 30,571 60 11,103 10,965 (3,695) 4,755 24,991 50,958
3 Brsh Dengan Buruh (12,890) (114) 14,304 28 5,195 5,131 (1,729) 2,225 11,693 23,844
4 Pekerja/Buruh/karyawan (292,495) (2,585) 324,588 636 117,887 116,422 (39,232) 50,491 265,344 541,056
5 Pkj Bebas di Pertanian (122,340)

(122,340)
6 Pkj Bebas di Non Pertanian

(205) 25,744 50 9,350 9,234 (3,112) 4,005 21,045 66,111
7 Pekerja tak dibayar (46,105) (407) 51,163 100 18,582 18,351 (6,184) 7,959 41,825 85,284
JUMLAH (517,785) (3,699) 464,577 911 168,730 166,632 (56,152) 72,267 379,782 675,263

Keterangan : 1. Pertanian, 2. Pertambangan, 3. Industri Pengolahan, 4. Listrik, gas, dan air bersih,
5. Bangunan, 6. Perdagangan Hotel dan Restoran, 7. Angkutan dan Komunikasi, 8. Keuangan, 9. Jasa

Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


126
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Untuk kesempatan kerja dengan status berusaha sendiri tanpa
bantuan pada tahun 2014 2018 ditargetkan bertambah sebanyak
30.350 orang. Pada lapangan usaha industri pengolahan ditargetkan
bertambah sebanyak 18.207 orang. LGA ditargetkan bertambah
sebanyak 36 orang. Lapangan usaha bangunan ditargetkan dapat
bertambah sebanyak 6.613 orang. Lapangan usaha perdagangan
ditargetkan bertambah sebanyak 6.531 orang. Lapangan usaha
keuangan ditargetkan bertambah sebanyak 2.832 orang dan pada
lapangan usaha jasa diperkirakan bertambah sebanyak 14.884
orang. Untuk status berusaha dibantu buruh tidak tetap ditargetkan
bertambah sebanyak 50.598 orang.
Untuk kesempatan kerja dengan status pekerja/buruh/
karyawan pada tahun 20142018 ditargetkan bertambah sebanyak
541.056 orang. Pada lapangan usaha industri pengolahan
ditargetkan bertambah sebanyak 324.588 orang. Lapangan usaha
konstruksi / bangunan, ditargetkan bertambah sebanyak 117.887
orang. Sedangkan pada lapangan usaha jasa, ditargetkan bertambah
sebanyak 265.344 orang. Lebih lengkapnya dapat dilihat pada
Tabel 5.3.
6.5 Rekomendasi Kebijakan Perlindungan Tenaga Kerja
Dalam pembangunan bidang ketenagakerjaan, tenaga kerja
merupakan pelaku utama sekaligus tujuan pembangunan
ketenagakerjaan. Peran serta tenaga kerja dalam pembangunan
nasional ini semakin meningkat begitu pula dengan berbagai
tantangan dan resiko yang dihadapinya. Karenanya kepada tenaga
kerja perlu diberikan perlindungan, pemeliharaan dan peningkatan
kesejahteraan, sehingga pada gilirannya akan dapat meningkatkan
produktivitas.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
127

Selain itu kebijakan perlindungan tenaga kerja ditujukan untuk
menciptakan suasana hubungan kerja yang harmonis melalui
peningkatan pelaksanaan fungsi dan peranan sarana hubungan
industrial bagi pelaku proses produksi barang dan jasa. Dengan
demikian kebijakan perlindungan tenaga kerja ini berguna baik pada
tenaga kerja itu sendiri maupun bagi para pelaku usaha dan lainnya
sehingga mampu menciptakan iklim usaha yang kondusif,
menimbulkan ketenagan bekerja dan berusaha, meningkatkan
produktivitas dan kesejahteraan pekerja, pengusaha, dan berbagai
pihak terkait. Dengan upaya ini pada akhirnya juga berpotensi
membuka berbagai peluang berusaha dan berinvestasi untuk
menciptakan perluasan kesempatan kerja baru.
6.5.1 Pengawasan Ketenagakerjaan
Bentuk perlindungan, pemeliharaan dan peningkatan
kesejahteraan dimaksud diselenggarakan dalam bentuk
pengawasan ketenagakerjaan, penyelesaian perselisihan
hubungan industrial dan program jaminan sosial tenaga kerja.
Bentuk perlindungan ini berlaku umum untuk seluruh kegiatan
yang menyangkut upaya produksi yang melibatkan bidang
ketenagakerjaan baik formal maupun informal, untuk kelas
industri berskala besar, menengah, kecil bahkan mikro dan
perorangan atau tidak dapat diklasifikasikan sekalipun. Hanya
saja untuk proses pengukuran dan perencanaan perlindungan
yang terstruktur dan sistematis perlu adanya landasan berupa
data tempat usaha/perusahaan.
Dalam bidang ketenagakerjaan, perusahaan adalah
setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik
orang perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan
hukum, baik milik swasta maupun milik negara yang
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


128
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah atau
imbalan dalam bentuk lain. Untuk itu, berdasarkan UU Nomor
7 Tahun 1981 tentang wajib lapor ketenagakerjaan, pada
tahun 2008 terdapat 17.062 perusahaan yang telah melapor
dan tahun 2009 sebanyak 17.062 perusahaan. Tahun 2010
sebanyak 17.958 perusahaan, Tahun 2011 sebanyak 19.342
perusahaan dan Tahun 2012 sebanyak 20.617 perusahaan.
Dan selama lima tahun kedepan diharapkan jumlah
perusahaan yang melaporkan perusahaannya semakin
meningkat.
Tabel 6.4
Perusahaan, Tenaga Kerja dan Pegawai Pengawas
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2008 2012
No.

Keterangan

Tahun
2008 2009 2010 2011 2012
1. Perusahaan Yg Melaporkan 17.062 17.062 17.958 19.342 20.617
2. Tenaga Kerja 1.513.369 1.513.369 1.361.423 1.240.884 1.218.945
3. Pengawas Ketenagakerjaan

176

Ketimpangan akan perusahaan yang melaporkan tersebut
akan sangat mempangaruhi kualitas perlindungan ketenagakerjaan.
Dengan demikian melalui sosialisasi yang intensif jumlah perusahaan
yang melaporkan tersebut harus ditingkatkan, sehingga pada tahun
20142018 ditargetkan dapat meningkat menjadi 418 perusahaan



Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
129

Tabel 6.5
Target Perusahaan, Tenaga Kerja dan Pegawai Pengawas
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014 2018
No. Keterangan

Tahun

2014 2015 2016 2017 2018
1. Perusahaan Yang Melaporkan 21.513 22.409 23.305 24.201 25.097
2. Tenaga Kerja 1.339.484 1.460.023 1.580.562 1.701.101 1.821.640
3. Pengawas Ketenagakerjaan 358 373 388 403 418


Dalam mendukung peningkatan kuantitas dan kualitas
pelaporan serta upaya sosialisasi tersebut sangat dibutuhkan
pengawas ketenagakerjaan yang memadai, sementara jumlahnya
masih sangat minim dibandingkan jumlah perusahaan maupun
jumlah tenaga kerja yang ada. Untuk itu pada tahun 20142018
jumlah pengawas ketenagakerjaan sedikitnya harus bertambah
sebanyak 242 orang sehingga menjadi 418 tenaga pengawas,
dengan demikian setiap pengawas ketenagakerjaan mampu
mengawasi 5 (lima) perusahaan tiap bulan.
Untuk mempercepat penambahan pengawas
ketenagakerjaan perlu dilakukan :
a. Pembiayaan bersama (sharing) antara pemerintah pusat dan
daerah. Hal ini karena bidang ketenagakerjaan merupakan
bagian dari kewenangan/urusan wajib setiap tingkat
pemerintahan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan
pelayanan dasar pada masyarakat sebagaimana diatur dalam PP
Nomor 38 tahun 2007.
b. Pelatihan jarak jauh (distance training) untuk materi dan teori,
praktek di kelas maupun lapangan.
c. Pengadaan pengawas ketenagakerjaan oleh Dinas Tenaga Kerja
dan Transmigrasi se Jawa Tengah.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


130
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

6.5.2 Pembinaan Hubungan Industrial dan Program Jaminan
Sosial Tenaga Kerja
Perlindungan tenaga kerja tidak hanya berkaitan
dengan pengawasan norma ketenagakerjaan sebagaimana
tersebut diatas tetapi juga menyangkut penyelesaian
perselisihan hubungan industrial. Untuk penyelesaian yang
bersifat antisipatif telah diundangkan berbagai peraturan yang
mengatur adanya perangkat hubungan industrial ini yaitu
minimal adanya Peraturan Perusahaan (PP) atau lebih baik
lagi bila ada Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang dapat
menjadi acuan bersama bagi pekerja dan pemebri kerja
(pengusaha). Selain itu sebagaimana aturan yang berlaku
secara internasional perlu dibentuk Serikat Pekerja (SP) yang
menjamin kebebasan berpendapat bagi pekerja. Perangkat
hubungan industrial yang paling utama adalah adanya
Lembaga Kerjasama (LKS) Bipartit karena diharapkan
menjadi jembatan utama dalam pencarian solusi yang
menguntungkan kedua belah.

Tabel 6.6
Perangkat Hubungan Industrial
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2008 2012
No. Keterangan

Tahun

2008 2009 2010 2011 2012
1. Perusahaan dengan PP 20 20 20 2.709 3.010
2. Perusahaan dengan PKB 6 6 6 857 759
3. Jumlah SP/SB berdasar 2.085 2.168 2.068 1.975 2.834
Kepmen No.16/2011




4. Jumlah LKS Bipartit 607 607 607 1.068 1.317
5. Mediator 68 76 87


Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
131

Jumlah perusahaan yang memiliki PP dan PKB
diharapkan terus meningkat, sehingga pada rentang tahun
20142018 jumlah perusahaan yang memiliki PP diperkirakan
sebanyak 4.500 perusahaan. Kebijakan yang dapat
dilakukan adalah melalui sosialisasi dan perusahaan yang
bermasalah dihimbau segera menyusun PP dan PKB.
Dalam hal ini penyelesaian perselisihan hubungan
industrial langkah terbaik adalah adanya dialog antara pekerja
dan pengusaha dalam penyelesaian yang menguntungkan
kedua belah pihak (win-win solution). Untuk itu seharusnya
pekerja memiliki kebebasan berpendapat yang disalurkan
secara terarah dan pada jalurnya melalui Serikat Pekerja /
Serikat Buruh. Dengan demikian upaya perlindungan tetap
menitikberatkan pada upaya preventif sebelum terjadinya
kasus kasus yang harus diselesaikan secara hukum. Untuk
itu jumlah serikat pekerja / serikat buruh yang dicatatkan
berdasarkan Kepmen Nomor 16 Tahun 2001 diharapkan
semakin meningkat sehingga pada tahun 2014 - 2018
menjadi 7.305 serikat pekerja / serikat buruh.
Kerjasama yang baik antara pekerja dan pengusaha
akan menimbulkan ketenangan bekerja bagi pekerja karena
yakin hakhaknya akan dijamin sesuai dengan kontribusinya.
Pengusaha pun akan memetik keuntungan dengan
peningkatan produktivitas dan terciptanya budaya kerja yang
baik. Untuk itu dari keseluruhan perangkat hubungan
industrial berupa adanya Peraturan Perusahaan (PP),
Perjanjian Kerja Bersama (PKB) maupun Serikat Pekerja (SP)
dan Tenaga Mediator maka yang terbaik adalah keberadaan
perangkat hubungan industrial berupa Lembaga Kerjasama
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


132
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

(LKS) Bipartit yang berfungsi baik akan meminimalisir peran
pemerintah melalui Lembaga Kerjasama (LKS) Tripartit.
Dengan sosialisasi dan penekanan pelaksanaan pelaksanaan
peraturan perundangan yang berlaku maka pembentukan
LKS Bipartit ini diharapkan akan semakin meningkat sehingga
ditargetkan pada tahun 20142018 menjadi 2.562
perusahaan yang LKS Bipartit.
Tabel 6.7
Target Perangkat Hubungan Industrial
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2014 2018

No.

Keterangan


Tahun

2014 2015 2016 2017 2018
1. Perusahaan dengan PP 3.311 3.612 3.913 4.214 4.515
2. Perusahaan dengan PKB 857 955 1.053 1.151 1.249
3. Jumlah SP/SB berdasar 3.693 4.552 5.411 6.270 7.129

Kepmen No.16/2011




4. Jumlah LKS Bipartit 1.566 1.815 2.064 2.313 2.562
5. Mediator 122 139 157 174 192


Tidak dapat dipungkiri bahwa walau telah diupayakan
adanya adanya perangkat hubungan industrial yang memadai
tetapi sangat dimungkinkan terjadi perselisihan hubungan
industrial apalagi berbagai perangkat tersebut diatas dari
jumlah masih jauh dari kebutuhan. Hal ini terutama agar
perselisihan tersebut tidak perlu masuk dalam ranah hukum
yang pada akhirnya cenderung merugikan kedua belah pihak
baik dari segi biaya, waktu, tingkat kerepotan yang
ditimbulkan, citra buruk, rusaknya hubungan baik hingga
berbagai kerugian non materil lainnya. Untuk itu diperlukan
banyak tenaga mediator yang kompeten dalam rangka
memediasi perselisihan yang timbul. Dengan demikian pada
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
133

tahun 20142018 ditargetkan sedikitnya harus bertambah
sebanyak 105 orang sehingga menjadi 192 orang mediator.
Perlindungan tenaga kerja erat pula kaitannya dengan
pemenuhan jaminan sosial terahadap tenaga kerja dan juga
bagi keluarganya. Pekerja dan keluarganya yang hidup
sejahtera inilah yang hakekatnya menjadi tujuan dari
konstitusi. Negara diwajibkan menyediakan pekerjaan yang
(berpenghasilan) layak bagi tiap tiap warga negaranya.
Dengan demikian, masyarakat yang sejahtera dapat terwujud.
Perwujudan ini melalui jalur yang memang seharusnya, yaitu
bukan dari serangkaian program subsidi dan bantuan namun
di sisi lain mengesampingkan hak hak pekerja yang telah
bekerja keras bagi peningkatan kesejahteraan diri dan
keluarganya. Pada kenyataannya, tenaga kerja memang
relatif mempunyai kedudukan yang lemah sehingga
tanggungjawab utama dalam perlindungan dan kesejahteraan
pekerja ini berada di tangan pengusaha, selain tenaga kerja
yang juga turut berperan aktif dalam pelaksanaan program
jaminan sosial tenaga kerja ini.
Adanya program jaminan sosial ini berkenaan dengan
pemeliharaan kesejahteraan pada saat tenaga kerja
kehilangan sebagian atau seluruh penghasilannya sebagai
akibat terjadinya risiko risiko sosial seperti kecelakaan kerja,
sakit, meninggal dunia, dan hari tua. Jaminan sosial tenaga
kerja mempunyai beberapa aspek, antara lain :
a. Memberikan perlindungan dasar untuk memenuhi
kebutuhan hidup minimal bagi tenaga kerja beserta
keluarganya;
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


134
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

b. Merupakan penghargaan kepada tenaga kerja yang
telah menyumbangkan tenaga dan pikirannya kepada
perusahaan tempatnya bekerja.
Jumlah kepesertaan jamsostek (perusahaan dan
tenaga kerja) yang aktif harus terus ditingkatkan sehingga
pada rentang tahun 2014 2018 jumlah perusahaan yang
aktif menjadi 13.444 perusahaan dengan kepesertaan tenaga
kerja mencapai 815.685 tenaga kerja.
Tabel 6.8
Upah Minimum Provinsi dan Kebutuhan Layak
Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2008 2012
Tahun UMP (Rp) KHL (Rp)
2008 715.700 715.679,65
2009 838.500 838.508,86
2010 939.756 939.756
2011 961.323 961.323,51
2012 991.500 991.503,45

Untuk meningkatkan daya beli buruh/karyawan, UMP
setiap tahun harus ditinjau dan ditingkatkan. Peningkatan ini
harus lebih tinggi dari peningkatan inflasi yang ada sehingga
UMP yang ditetapkan akan meningkat persentasenya bila
dibandingkan Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Besarnya UMP
Jawa Tengah Tahun 2012 tertinggi sebesar Rp 1.209.100,-
meningkat sebesar Rp 217.600 dibandingkan tahun 2011
sebesar Rp 961.323 dan tahun 2010 sebesar Rp 939.756
Tahun 2009 sebesar Rp 838.500 serta tahun 2008 sebesar
Rp 715.700 Diharapkan proporsi UMP terhadap KHL ini terus
meningkat setiap tahunnya sehingga kesejahteraan buruh/
karyawan juga meningkat.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah
135

BAB VII
PENUTUP


Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018
merupakan dasar acuan perencanaan pembangunan ketenagakerjaan
dalam kurun waktu 5 (lima) tahun ke depan yang berbasis pendayagunaan
tenaga kerja melalui pengendalian tambahan angkatan kerja baru,
penciptaan kesempatan kerja sektoral, serta perencanaan pelatihan,
penempatan tenaga kerja, hubungan industrial dan jamsostek serta
pengawasan ketenagakerjaan. Rencana Tenaga Kerja Provinsi ini
merupakan dasar penyusunan kebijakan, strategi dan program
pembangunan ketenagakerjaan yang berkesinambungan sebagaimana
diamanatkan Pasal 7 Ayat (3) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan.
Dokumen rencana tenaga kerja dirancang untuk mengakomodir
kemungkinan terjadinya perubahan-perubahan yang terjadi di masa yang
akan datang. Oleh karena itu, Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa
Tengah ini dapat direview secara berkala untuk menyelaraskan
berbagai kebijakan dan program yang ada terhadap perubahan dan
perkembangan baru, sehingga tetap relevan dengan kebutuhan
pembangunan ketenagakerjaan di Provinsi Jawa Tengah.
Rencana Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014-2018


136
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah

Keberhasilan melaksanakan Rencana Tenaga Kerja ini akan
sangat tergantung pada komitmen, integritas dan dedikasi seluruh
stakeholders (pihak terkait), sehingga tujuan pembangunan
ketenagakerjaan dapat terwujud.


DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, Keadaan Angkatan Kerja
di Jawa Tengah Tahun 2009, Semarang, 2009

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, Keadaan Angkatan Kerja
di Jawa Tengah Tahun 2010, Semarang, 2010

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, Keadaan Angkatan Kerja
di Jawa Tengah Tahun 2011, Semarang, 2011

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, Keadaan Angkatan Kerja
di Jawa Tengah Tahun 2012, Semarang, 2012

Departemen Tenaga Kerja RI, Modul Pengembangan Sumber Daya
Manusia dan Perencanaan Tenaga Kerja, Jakarta, 1993

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Peraturan Daerah Provinsi Jawa
Tengah Nomor 4 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008-
2013, Semarang, 2009

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, Perencanaan Tenaga
Kerja Nasional Tahun 2012-2013, Jakarta, 2011

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Peraturan Gubernur Jawa Tengah
Nomor 25 Tahun 2013 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah
(RKPD) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014, Semarang, 2013

Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa
Tengah, Rencana Strategis Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan
Kependudukan Provinsi Jawa Tengah Tahun 20082013,
Semarang, 2008

Simanjuntak, J. Payaman, Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia,
1984, Jakarta