Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KEGIATAN SKILLS LABORATORIUM

PROBLEM-BASED LEARNING
PBL Blok Klinik
SKENARIO For Better Service...
Minggu ke-4
Tanggal 3 s.d 9 Oktober 2014

Grup B
Ilmi Dewi Astuti

125070300111013

Nike Nurjannah
125070300111015
Bintang Kurniawan Amijaya 125070300111018
Rizka Nur Farida
125070300111016
Cecilia Ayu D
125070300111019
Anastasia Billin

125070300111020

Wardatul Ashfia
Rahmat Rezky R
Marselia Nur Latifah
Raudhatul Jannah
Alta Dwi Diniengga B
Efi Setiowati
Fauziatul Firdaus

125070300111022
125070307111003
125070307111004
125070307111006
125070307111007
125070307111008
125070307111009

Jurusan Gizi Fakultas Kedokteran


Universitas Brawijaya
Malang
2014
DAFTAR ISI
Bab I. ISI
Kompetensi

yang

..

Akan

Dicapai

........

Skenario............
....
Daftar

Unclear

2
Term

...
Daftar

..........
2

Cues............

..

Daftar Learning Objectives..........


..

Hasil

Brainstorming..........

..

Hipotesis DK 1............
...
Pembahasan

5
Learning

...

Objective........
7

Hipotesis

DK

2.
19
Bab II. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan............
...

20

Rekomendasi............
...
DAFTAR

20

PUSTAKA............

...

21

TIM PENYUSUN
Ketua............
....

23

Sekretaris............
...

23

Anggota............
..

23

Fasilitator............
..
Proses

23

Diskusi............

....

23

BAB I
ISI
A. KOMPETENSI YANG AKAN DICAPAI
COMPETENCIES
CD 30. Supervise nutrition screening of individual patients/clients
Mampu mengawasi dan mengkoordinir skrining gizi pasien atau klien (clinical setting)
B. SKENARIO
For better services
Dewasa ini banyak rumah sakit yang berusaha untuk meningkatkan pelayanannya
menjadi lebih baik, dengan tujuan untuk meraih akreditasi berskala Internasional.
Salah satu standar pelayanan gizi yang wajib dilakukan di RS adalah skrining gizi
kepada semua pasien.
C. DAFTAR UNCLEAR TERMS
No

ISTILAH

.
1.

Akreditasi

PENGERTIAN
Pengakuan terhadap lembaga yang diberikan oleh badan yang
berwenang yang memenuhi syarat atau kriteria tertentu (KBBI,

Skrining

2007).
Suatu proses cepat dan sederhana oleh staf yang memiliki ijin

gizi

atau tenbaga kesehatan dengan tujuan mengidentifikasi apakah


malnutrisi atau berisiko malnutrisi dan apakah memerlukan

Skala /

nutritional assessment lebih lanjut (KEPMENKES, 2007)


Tingkatan atau derajat mutu kedudukan (Kamus Lengkap

taraf
Pelayanan

Bahasa Indonesia)
Kegiatan yang bertujuan untuk memberikan makanan yang

gizi

sesuai dengan keadaan pasien (Kamus Gizi, 2010)

D. DAFTAR CUES
Ahli gizi mampu merencanakan, mengkoordinir, melakukan, mengawasi, dan
mengevaluasi skrining gizi kepada semua pasien sebagai salah satu standar
pelayanan gizi yang wajib dilakukan untuk meningkatkan pelayanan rumah sakit
yang berstandar internasional.
E. DAFTAR LEARNING OBJECTIVE
1. Apa tujuan skrining gizi?
2. Bagaimana prinsip alat skrining?
3. Komponen apa yang harus ada dalam form skrining gizi?
4. Apa saja tools skrining gizi (parameter dan cut off berdasarkan karakteristik
umur, jenis penyakit, siapa yang melakukan) serta bagaimana kekurangan dan
kelebihan, validitas dan reliabilitas dari setiap tools dan tools apa yang telah
memenuhi komponen wajib dan prinsip skrining?
5. Bagaimana proses (kapan melakukan skrining dan reskrining) dan algoritma
skrining gizi yang terstandar di RS?
F. HASIL BRAINSTORMING
1. Apa tujuan skrining gizi?
Untuk mengetahui status gizi pasien saat itu
Untuk menentukan pelayanan gizi yang akan dilakukan kepada pasien
Untuk mempermudah proses intervensi gizi
Untuk menkategorikan individu yang sehat, sudah terdiagnosa, ataupun
yang beresiko tinggi malnutrisi (DORLAND)
2. Apa sajakah standar pelayanan gizi di Rumah Sakit?
Melakukan NCP dengan tepat ( melakukan assessment dan diagnosa,
pemberian intervensi diet sesuai penyakit, pemantauan status gizi dan

asupan gizi secara berkala, mengevaluasi intervensi )


Pemberian konsultasi gizi
Melakukan skrining gizi

3. Bagaimana prinsip alat skrining?


Lebih singkat
Mendesak
Sederhana
Mudah dilakukan
Biaya lebih murah
Bisa dilakukan selain tenaga gizi
4. Komponen apa yang harus ada dalam form skrining gizi?
Identitas pasien
Jenis penyakit
Data antropometri (LILA,TB, BB, dan IMT)
Frekuensi dan pola makan
Kondisi saat masuk RS

Identitas yang melakukan skrining


Waktu

5. Apa saja tools skrining gizi (parameter dan cut off berdasarkan karakteristik
umur, jenis penyakit, siapa yang melakukan) serta bagaimana kekurangan dan
kelebihan, validitas dan reliabilitas dari setiap tools dan tools apa yang telah
memenuhi komponen wajib dan prinsip skrining?
Tools : MNA, STAMP, SGA. tools tergantung dari populasi yang diskrining,

MNA untuk lansia di rumah sakit


Data : BB, TB, penurunan BB terakhir, penurunan nafsu makan
Data : biokim
Data: dietary

6. Bagaimana proses (kapan melakukan skrining dan reskrining) dan algoritma


skrining gizi yang terstandar di RS?
Wawancara
Observasi
7. Bagaimana cara manajemen (mengawasi dan mengevaluasi kesalahan) dalam
pelaksanaan skrining gizi?
Kesalahan
a. Alat
: Timbangan belum dikalibrasi
b. Petugas : Salah input data, pengukuran antropometri tidak sesuai SOP
c. Pasien
: Tidak memberikan data sebenarnya
Manajemen
a. Melakukan brifing kepada petugas sebelum melakukan skrining gizi
b. Mengkalibrasi alat-alat yang diperlukan
c. Menjelaskan tujuan skrining kepada pasien
d. Memastikan jenis tools sesuai keadaan pasien
Evaluasi :
Memberikan SOP tentang penggunaan alat-alat antropometri

G. HIPOTESIS DK 1

Standar Pelayanan
Gizi
SKRINING
GIZI

Reskrinin
g

Tujuan

Skrinin
g

Metod
e
Observa
si

Wawancar
a

Prinsip

Tools

Komponen

Paramete
r

Cut off

Manajemen &
Evaluasi
H. PEMBAHASAN LEARNING OBJECTIVE
1. Tujuan skrining gizi
Di rumah sakit dapat dilakukan skrining gizi. Skrining gizi dilakukan sebagai
bentuk kegiatan pada perkumpulan penyandang penyakit metabolik atau
degeneratif ataupun vaskuler, seperti perkumpulan hipertensi, diabetes,
stroke, dan sebagainya yang dibina oleh klinik gizi. Tujuan skrining sendiri
adalah
Mengidentifikasi pasien yang beresiko malnutrisi, tidak berisiko, atau kondisi
khusus (Jurnal Metode Skrining Gizi, 2014)
Mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan
dini terhadap kasus2 yang ditemukan (Epidemiologi Kebidanan, 2006)
Untuk menilai status gizi yang ada pada orang beresiko sehingga dapat
dilakukan upaya preventif (Hartono, 2000)
Untuk memprediksi probabilitas hasil yang lebih baik/buruk karena faktor
gizi dan juga kecocokan asuhan gizi yang diberikan (kondrup, 2002)
2. Prinsip alat skrining
- Sederhana (dapat dilakukan oleh petugas kesehatan ruang)
- Cepat
- Efisien
- Tidak mahal
- Resiko rendah pada orang yang diskrining (Jurnal Metode Skrining Gizi RS,
2014)
- Mempunyai level sensitivitas dan spesifisitas yang dapat diterima (arus
akurat dan reliable, aman dan dapat diterima oleh masyarakat luas)
(ADA, 2008)
3. Komponen yang harus ada dalam form skrining gizi

Kondisi sekarang
: BB, TB, IMT, LILA

Kondisi stabil
: kehilangan BB

Kondisi memburuk
: penurunan asupan, kemampuan menguyah dan
menelan
Pengaruh penyakit terhadap status gizi:

karena

penyakit

degeneratif

mempengaruhi asupan intake makan

(resmusen, 2010)
4. Tools yang digunakan dalam skrining gizi
MST (Malnutrition Screening Tools) (memenuhi 75%)
Parameter :
a. IMT
b. Presentase penurunan BB selama 3-6 bulan terakhir
c. Ada tidaknya intake zat gizi selama lebih dari 5 hari
d. Pola makan
e. Nafsu makan
Cut off :
a. Skor paling tinggi 4 setiap parameter
b. Skor >=2 resiko malnutrisi digunakan untuk pasien dewasa rawat inap

termasuk lansia dan pasien pelayanan kesehatan masyarakat


Kelebihan :
a. Efisien
b. Lebih sederhana
c. Tidak tergantung nilai antropometri dan lab
d. Tidak membutuhkan biaya yang banyak
e. Dapat dilakukan siapa saja namun hasil tetap valid
f. Dapat mengukur kehilangan BB tiba-tiba pada pasien luka bakar
Kekurangan :
Tidak bisa deterapkan pada pasien yang mengalami kesulitan komunikasi
Pelaksana :
Dokter, perawat, dietisien, admin staf, keluarga, pasien itu sendiri, teman
Waktu :
Dalam 24 saat masuk RS dan setiap minggu saat dirawat di RS
Nilai sensitivitas dan spesifisitas 93-95%, nilai reliabilitas 90-97%

- NRS 2002 (Nutrition Risk Screening) (memenuhi 100% komponen)


Parameter :
a. Kehilangan BB
b. Food intake
c. IMT
d. Diagnosis albumin
e. Pre albumin C
f. Protein
g. Keparahan penyakit
Cut off :
a. Skor akhir 0-3 (0 normal, 1 mild, 2 moderat, 3 severe) yang didapat >3
pasien butuh terapi gizi segera; 18,5-20,5 moderat; <18,5 severe atau
parah
b. Presentase kehilangan BB >5% selama 3 bulan ringan; >5% selama 2
bulan moderat; >5% selama 1 bulan severe
c. Prosentase asupan makan <50-75% ringan; 25-50% moderat; 0-25%
severe
d. Keparahan penyakit ringan (fraktur, pasien kronis khusunya sirosis
akut, COPD, hemodialisis, diabetes); moderat (operasi abdomen mayor,
stroke, pnemunomi berat, keganasan hematologi); severe ( cidera
kepala, transplatasi sum-sum tulang, pasien dengan perawatan
intensif)

e. Untuk usia lanjut >=70 tahun skor ditambah 1 jadi bisa untuk dewasa
dan lansia
Kelebihan :
a. Penilaian tidak tergantung IMT
b. Cukup menggunakan perubahan BB
Kekurangan :
a. Hanya bisamengetahui siapa yang mendapatkan manfaat dari
intervensi gizi tapi tidak bisa mengelompokkan resiko malnutrisi
b. List penyakit pada daftar terbatas sehingga penyakit yang terdapat di
list yang dapat diskrining
Pelaksana : Dokter, perawat dan ahli gizi
Waktu : Saat masuk rumah sakit dan dilakukan secara regular
Nilai sensitivitas 79-94%
- MNA-SF (Mini Nutritional Assessment Short Form) (memenuhi 75%
komponen)
Parameter :
a. Intake food
b. Kehilangan BB
c. Mobilitas
d. Tekanan psikologis/penyakit akut
e. Presentase dementia/depresi
f. BMI
g. Penurunan nafsu makan 3 bulan terakhir
Cut off : skor 12-14 normal, 8-11 berisiko, 0-7 malnutrisi
Kelebihan :
a. Tidak memerlukan data lab
b. Mudah
c. Cepat
d. Non infasif
e. Murah
f. Dapat digunakan pada kalangan orang tua dengan perawatan di rumah
dan RS
Kekurangan :
a. Pengukuran TB dan BB untuk BMI cenderung kurang akurat karena
individu yang diskrining dalam kondisi berbaring sehinnga pengukuran
diganti lingkar betis
b. Kurang sesuai digunakan untuk pasien geriatrik rawat inap
c. Membutuhkan pelatihan khusus
d. Spesifikasi rendah pada komunitas dan akut
Pelaksana : dokter dan perawat
Waktu : saat masuk rumah sakit dan regular
Sensitivitas 100% (dibandingkan SGA), 80-97,9%; spesifisitas 52%
(dibandingkan SGA), 80-100%
Validitas:
Telah divalidasi di banyak penelitian terhadap orang tua di RS, rawat

jalan, pelayanan ambulans, dan komunitas


Reliabilitas : 0,51-0,89
MUST (Malnutrition Universal Screening Tool) (memenuhi 100%
komponen tetapi kurang spesifik)
Parameter : BMI, penurunan BB 3-6 bulan, penyakit akut

Cut off :
a. Skor 0-3 (total skor >2 high, 1 medium, 0 rendah)
b. BMI >20 skor 0, 18,5-20 skor 1, <18,5 skor 2
c. Penurunan BB <5% skor 0, 5-10% skor 1, >10% skor 2
d. Penyakit akut >5 hari tidak mendapat asupan gizi skor 2
Waktu: regular
Pelaksana: semua staff perawat, ahli gizi, dokter
Target populasi: dewasa akut dan komunitas
Kelebihan :
a. Melakukan pengukuran BB TB dan interpretasi IMT sehingga lebih baik
b.
c.
d.
e.

dalam mengkategorikan IMT dibanding tools lainnya


Konsisten
Sensitifitas dan reliabilitas tinggi
Tidak butuh data biokimia
Dapat mendeteksi baik status obesitas maupun gizi kurang pada orang

dewasa dan dirancang untuk digunakan dalam berbagai pengaturan


f. Dapat memprediksi waktu seseorang di RS
g. Dapat digunakan untuk memperkirakan seseorang di masyarakat

seberapa sering berobat di RS atau klinik


h. Mudah
i. Dapat dilakukan semua tenaga kesehatan
j. Cepat
Kekurangan :
a. Tergantung nilai antropometri
b. Belum adanya validasi pada anak2 dan pasien ginjal
c. Tidak mendeteksi defisiensi asupan mikro
Reliabilitas: 0,8-1
Sensitivitas 87%, spesifisitas 77%
STAMPS (Screening Tool for the Assessment of Malnutrition in
Paediatrics) (memenuhi 75% komponen tapi kurang spesifik)
Target : untuk anak usia 2-17 tahun
Parameter :
a. Diagnosis yang berimplikasi gizi
b. Asupan gizi
c. BB
d. TB
Cut off : 0-1 resiko rendah, 2-3 sedang, >=4 tinggi
Sensitivitas 100%, spesifisitas 11,54%
Kelebihan : murah, mudah, praktis, cepat
Kekurangan :
a. Tidak bisa mendeteksi defisiensi mikronutrient
b. Memerlukan tenaga terlatih
c. Tidak bisa merefleksikan malnutrisi kronis
d. Cenderung subyektif
e. Rumit dalam interpretasi growth chart
PYMS (Paediatric Yorkhill Malnutrition Score) (memenuhi 50% komponen)
Target : anak usia 1-16 tahun
Parameter : status gizi saat ini, perubahan status gizi akibat penyakit
yang diderita
Cut off : 0=tidak berisiko, >=1 berisiko malnutrisi
Sensitivitas 95,31%, spesifisitas 76,92%

Kelebihan : merefleksikan kondisi gizi saat ini akibat penyakit yang


diderita
Kekurangan : tidak merefleksikan keadaan kronis
SNAQ (Short Nutritional Assessment Questionnaire) (memenuhi 50%

komponen)
Target : pasien malnutrisi sedang sampai parah
Parameter:
a. Penurunan BB tidak disengaja
b. Penurunan intake >1 bulan
c. Serum albumin
d. Penggunaan suplementasi/tube feeding selama 1 bulan
Cut off:
Gizi baik <2, kurang >=2, buruk >3; 0-1 nutrisi baik dan tidak menerima
intervensi, 2 moderat malnutrisi dan mendapatkan intervensi, 3
diklasifikasikan severe malnutrisi dan dapat intervensi serta treatment
dari ahli gizi
Sensitivitas >75, spesifitas >83
Kelebihan : cepat, mudah, validitasnya tetap

Yang telah memenuhi komponen wajib dan prinsip tools: NRS 2002

5. Algoritma skrining gizi


Skrining gizi untuk resiko atau adanya
malnutrisi
- Perawatan akut : Dalam waktu 24 jam
- Perawatan jangka panjang : Pada penerimaan atau
dalam waktu 14 hari dari penerimaan
- Perawatan rumah : Pada awal kunjungan
Gizi beresiko
Orang dewasa dianggap berisiko gizi jika terdapat salah satu dari
berikut:
- Aktual atau potensial perkembangan malnutrisi (kehilangan atau
bertambah >10% berat badan biasanya, dalam waktu 6 bulan atau
>5% dari berat badan biasa dalam 1 bulan, atau berat 20% diatas
atau dibawah berat badan ideal), adanya penyakit kronis, atau
meningkatnya kebutuhan metabolik.
- Perubahan diet atau jadwal diet (menerima total parenteral atau
nutrisi enteral, pembedahan, penyakit, atau trauma).
- Asuhan gizi yang tidak memadai termasuk tidak menerima produk
makanan atau gizi (gangguan kemampuan menelan atau menyerap
Reskrining :
- Ditentukan pada
interval yang
teratur atau
- Ketika perubahan
status nutrisi /
klinis

Penilaian gizi termasuk :


- Mengulas riwayat gizi
- Evaluasi data antropometri, biokimia yang
mengindikasikan status gizi
- Mengulas status klinis
- Pemeriksaan fisik terfokus gizi

10

Stabil

Gizi
berisiko

Mengembangkan rencana perawatan


gizi berdasarkan :
- Pendekatan interdisipliner
- Tujuan perawatan, termasuk : tujuan
langsung dan jangka panjang dari terapi
nutrisi, kebutuhan pendidikan,
perencanaan pengembalian, dan/atau
pelatihan
- Desain preskripsi diet

Penilaian ulang berdasarkan :


- Perubahan status klinis
- Dukungan nutrisi pendukung enteral dan
parenteral
- Protokol organisasi

( ASPEN, 1985)
6. Proses skrining gizi
-

Proses skrining dilakukan 1x24 jam setelah masuk RS

Pengumpulan data diperoleh dari alat skrining kepada pasien

Hasil

diolah

dan

jika

hasil

skrining

menunjukkan

malnutrisi

dilakukan

assessment dan langkah-langkah PAGT oleh dietisien


-

Jika pasien tidak malnutrisi/ beresiko malnutrisi maka dilanjutkan reskrining


setelah 1 minggu

Pelaksanaan : pasien rawat inap dilakukan mingguan, rawat jalan bulanan,


komunitas 2-3 bulan

Proses reskrining :
-

Dilakukan 1 minggu setelah skrining pertama

Follow up reskrining (pada lansia setiap 3 bulan sekali dan bisa meminta hasil
rekam medik pada RS)

Manajemen reskrining meliputi perencanaan perawatan dengan memberi


umpan balik yang baik dengan pasien untuk mengidentifikasi masalah dalam
perbaikan gizi yang dibutuhkan.

11

Contoh Form Screening Tools


1. MNA

12

13

2.

MST

14

1. MST

3.

MUST

15

4. NRS

16

5. SGA

17

18

6. SNAQ

7. STAMP

19

I. HIPOTESIS DK 2

Standar Pelayanan Gizi

Skrining Gizi

Prinsip
Cepa
t
Mudah
Mura
h
Efisien

Tujuan

Kompone
n
Stabil
Kondis
i buruk
Kondisi
sekaran
g
Keparaha
n
penyakit

Alat

Algoritma
MUS
T
NRS2002
MNA
SNA
Q
MST

Proses
Observa
si
Wawancar
a

20

Sederhan
a

STAMP
S
PYM
S

Manajemen
Reskrinin
g

Follow Up

Evaluasi

Skrining &
Reskrining

BAB II
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari kasus diskusi kelompok ini adalah skrining gizi wajib dilakukan
dalam pelayanan gizi di rumah sakit dengan menggunakan tools yang tepat pada semua
pasien. Tetapi

penggunaaan

atau

pemilihan

tools

yang

akan

digunakan

harus

memperhatikan komponen dan prinsip pada masing-masing tools yang ada. Untuk
melakukan skrining, dapat menggunakan tools antara lain :
a. MNA-SF (Mini Nutritional Assessment- Short Form)
b. MUST (Malnutrition Universal Screening Tool)
c. MST (Malnutrition Screening Tools)
d. NRS 2002 (Nutrition Risk Screening)
e. SNAQ (Short Nutrition Assessment Quisioner)
f. STAMP (Screening Tool Assessment of Malnutrition in Pediatric)
g. PYMS (Paediatric Yorkhill Malnutrition Score)
3.2 Rekomendasi

Diharapkan kompetensi yang harus dicapai mahasiswa sesuai dengan


keahliannya.

21

DAFTAR PUSTAKA
Hermawati, dkk. Metode Skrining Gizi di Rumah Sakit dengan MST Lebih Efektif
dinbandingkan SGA. Malang; Jurnal Kedokteran Brawijaya 2014
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Palayanan Gizi Rumah Sakit.
Jakarta: Kementrian Kesehatan RI ; 2013
Khasanah, Zumrotin. Gambaran Pelayanan Gizi Rawat Inap di RS Permata Hijau, Jakarta:
FKIF UIN Syarif Hidayatullah 2009
Ghalili. Dimaria, 2012, Assesing Nutrition in Older Adults, New York
Barker, Lisa A. 2011, Hospital Malnutrition, Prevalence, Identification and Impact an
Patients and the Healthcare System
J, Kondrup. 2013. ESPEN Guidelines for Nutrition Screening 2002
Neelemat, Floor, dkk. 2010. Comparison of Five Malnutrition Screening Tools in One
Hospital Inpatient Sample (Original Article). Journal of Clinical Nursing
NEMO, 2014. Validated Malnutrition Screening and Assessment Tools: Comparison Guide
Queensland Government
M.A.E van Bookhost de van der Schueren et al 2014. A Systematic Review of Malnutrition
Screening Tools for the Nursing Home Setting. Amsterdam. Jakarta.
Pamela C, Mary M. 2008. Nutrition Screening and Nutrition Assessment
Kondrup J, Rusmussen HH, Hamberg D, Stranga Z. Nutritional Risk Screening. Clinical
Nutrition. 2003.
Hartono, A. 2000, Asuhan Nutrisi Rumah Sakit. Jakarta: EGC
Anthony P.S, 2014. Nutrition Screening Tools for Hospitalized Patient

22

Charney, P. 2009. ADA Pocked Guide to Nutrition Assessment


Adrienne, et al. 2012. Malnutrition Screening Tools: Comparison Against two validated
nutrition assessment method in older medical patient.
Nutrition Journal 2013 (29) : 101-106
V.V. Lonivorotow, et.al. Evaluation of Nutritional Screening Tools for patients scheduled
for caediac surgery. Nutrition Journal 2013 (29) : 436-442
National Food and Health plan. Recommendations of the scientific group of malnutrition
experts advising on Belgiums National Food and Health Plan.
Department of Health Australia. Tool and Resource Evaluation Template 2010
Moeni, Vesal. Andrew day. Nutrition Risk Screening Tools in Hospitalized Children
International Journal of Child health and nutrition, 2012. 1, 39-43
Wonoputri, et.al. Validity of Nutritional Screening Tools for Hospitalized Children. Journal
of Nutrition and Metabolism, 2014, 1-7
Poulia, et.al. Evaluation of the efficacy of six nutritional screening tools to predict
malnutrition in the elderly. Clinical Nutrition 31 (2012) : 378-385
BAPEN. Nutrition Screening Survey in the UK in 2008
Gibson, Rosalind.2005. Principle of Nutrition Assessment Second Edition. Oxford
University Press : New York
Central Manchester University Hospitals NHS Foundation Trust.2010.
Kamus Besar Bahasa Indonesia .2007.
Kamus Gizi. 2010.
Kamus Dorland

23

TIM PENYUSUN
A. KETUA
Rahmat Rezky R

125070307111003

B. SEKRETARIS
Sekretaris 1 : Bintang Kurniawan Amijaya
Sekretaris 2 : Nike Nurjannah

125070300111018
125070300111015

C. ANGGOTA
Cecilia Ayu D
Rizka Nur Farida

125070300111019
125070300111016

Wardatul Ashfia

125070300111022

Marselia Nur Latifah


Raudhatul Jannah
Alta Dwi Diniengga B
Efi Setiowati
Fauziatul Firdaus
Ilmi Dewi Astuti
Anastasia Billin

125070307111004
125070307111006
125070307111007
125070307111008
125070307111009
125070300111013
125070300111020

D. FASILITATOR
Widi
E. PROSES DISKUSI
1. KEMAMPUAN FASILITATOR DALAM MEMFASILITASI
- Mampu mengarahkan mahasiwa dengan baik dan tepat pada waktunya
2.

apabila topik yang dibicarakan melenceng dari pembahasan yang sebelumnya


Mampu mendorong mahasiswa berpikir kritis dan analitis
Mampu mendorong mahasiswa untuk berpartisipasi aktif
Mampu menyeimbangkan partisipasi mahasiswa
KOMPETENSI / HASIL BELAJAR YANG DICAPAI OLEH ANGGOTA DISKUSI
Mahasiswa mampu merencanakan, melakukan, mengkoordinir, mengawasi,
dan mengevaluasi proses skrining gizi yang wajib dilakukan kepada pasien

24

dengan menggunakan tools yang tepat sesuai dengan komponen dan prinsip
masing-masing tools dalam pelayanan gizi di rumah sakit.

25