Anda di halaman 1dari 9

UNIVERSITAS INDONESIA

JENIS-JENIS RUMAH SAKIT DAN TATA KELOLANYA





MAKALAH

Titik Dwi Wahyuni (13)
Toton Hartanto (14)
Vitrie Rahmawati (15)
Wing Hartopo (16)


FAKULTAS EKONOMI
DEPARTEMEN AKUNTANSI
PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI
JAKARTA
APRIL 2014












DAFTAR ISI

Daftar Isi..
Jenis-Jenis Rumah Sakit...
Tata Kelola Rumah Sakit
Kesimpulan
Daftar Pustaka.

























JENIS-JENIS RUMAH SAKIT

Rumah Sakit (RS) merupakan lembaga atau entitas yang hampir setiap orang
mengetahuinya. Selama ini kita sering dengan ada bermacam-macam RS seperti RS
umum, RS Ibu dan anak, RS kanker, dan RS Jiwa serta banyak lagi. Beberapa referensi
memberikan klasifikasi jenis RS sebagai berikut:
A. Menurut penyedianya
Granov(2012:p 600) menyebutkan bahwa Health care disediakan oleh entitas pada 3
sektor ekonomi, yaitu:
1. Privately owned for profit hospital;
2. Non governmental not-for-profit hospital;
3. Government hospital mainly owned by country and city government.
B. Menurut jenisnya
Deddi Nordiawan & Ayuningtyas Hertianti (2010,p-59) mengklasifikasinya RS menjadi:
RS Umum yaitu rumah sakit yang melayani hampir seluruh penyakit umum dan biasanya
memiliki institusi perawatan darurat siaga 24 jam untuk memberikan pertolongan
pertama.
1. RS Terspesialisasi yaitu rumah sakit yang memiliki spesialisasi terhadap suatu
penyakit yang membutuhkan penanganan khusus seperti trauma center, RS Ibu dan
Anak, RS Gigi dan Mulut, psychiatric hospital, dan lain-lain.
2. RS Penelitian/Pendidikan yaitu RS umum yang terkait dengan kegiatan penelitian dan
pendidikan di fakultas kedokteran pada suatu universitas/lembaga pendidikan tinggi.
3. RS Lembaga/Perusahaan yaitu RS yang didirikan oleh suatu lembaga/perusahaan
untuk memberikan kesehatan kepada anggota lembaga/perusahaan tersebut.
4. Klinik yaitu fasilitas medis yang lebih kecil dari RS dan hanya melayani keluhan
tertentu.

C. Menurut Kepemilikannya
Deddi Nordiawan & Ayuningtyas Hertianti (2010,p:59-61) membedakan RS menjadi:
1. RS Milik Pemerintah
RS ini dimiliki oleh pemerintah dimana rumah sakit milik pemerintah ini dibedakan
menjadi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP), rumah sakit milik pemerintah propinsi dan
kabupaten atau kota yang disebut Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Bentuk RS ini
dibagi menjadi dua jenis yaitu:
a) RS Milik Pemerintah yang tidak dipisahkan yaitu RS yang dimiliki oleh kekayaan
pemerintah.
b) RS Milik Pemerintah yang dipisahkan yaitu RS yang dimiliki oleh kekayaan
pemerintah yang dipisahkan seperti RSUP Pertamina.
2. RS berbentuk Badan Layanan Umum (BLU)
BLU merupakan instansi dilingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan
pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/jaasa yang dijual tanpa
mengutamakan keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasari pada prinsip
efisiensi dan produktivitas.

D. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit
mendefinisikan bahwa rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan
pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
1) Menurut Jenis Pelayanan dan Pengelolaan
Undang-Undang tersebut mengklasifikasikan RS berdasarkan jenis pelayanan dan
pengelolaannya.
a) Rumah sakit umum, memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis
penyakit.
b) Rumah sakit khusus, memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis
penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit, atau
kekhususan lainnya.

2) Menurut fasilitas dan kemampuan pelayanan
Menurut Undang-Undang tersebut, rumah sakit umum diklasifikasikan sebagai berikut :
a) Rumah Sakit umum kelas A adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas
dankemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar, 5 (lima)
spesialis penunjang medik, 12 (dua belas) spesialis lain dan 13 (tiga belas) subspesialis.
b) Rumah Sakit umum kelas B adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar, 4 (empat)
spesialis penunjang medik, 8 (delapan) spesialis lain dan 2 (dua) subspesialis dasar.
c) Rumah Sakit umum kelas C adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar dan 4 (empat)
spesialis penunjang medik.
d) Rumah Sakit umum kelas D adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan pelayanan medik paling sedikit 2 (dua) spesialis dasar.
Klasifikasi Rumah Sakit khusus sebagaimana dimaksud terdiri atas :
a) Rumah Sakit khusus kelas A adalah rumah sakit khusus yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan paling sedikit pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik subspesialis
sesuai kekhususan yang lengkap.
b) Rumah Sakit khusus kelas B adalah rumah sakit khusus yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan paling sedikit pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik subspesialis
sesuai kekhususan yang terbatas.
c) Rumah Sakit khusus kelas C adalah rumah sakit khusus yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan paling sedikit pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik subspesialis
sesuai kekhususan yang minimal.













TATA KELOLA RUMAH SAKIT

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 755/MENKES/PER/IV/2011 Tentang
Penyelenggaraan Komite Medik Di Rumah Sakit mengatur mengenai peraturan internal
rumah sakit (Hospital By Laws) yang terdiri dari Tata Kelola Korporasi (Corporate
Bylaws) dan Tata Kelola Staf Medis (Medical Staf Bylaws) yang didalamnya memuat
a. struktur organisasi;
b. prosedur kerja;
c. pengelompokan fungsi-fungsi yang logis;
d. pengelolaan sumber daya manusia.

Tata Kelola menganut prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas dan
independensi. Sebagaimana disebutkan pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
44 Tahun 2009 tentang rumah sakit,setiap Rumah Sakit harus memiliki organisasi yang
efektif, efisien, dan akuntabel. Organisasi Rumah Sakit disusun dengan tujuan untuk
mencapai visi dan misi Rumah Sakit dengan menjalankan tata kelola perusahaan yang
baik (Good Corporate Governance) dan tata kelola klinis yang baik (Good Clinical
Governance).
Berdasarkan UU No. 44 Tahun 2009 pengaturan penyelenggaraan Rumah Sakit
bertujuan:
a. mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan;
b. memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan
rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit;
c. meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit;
d. memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber daya manusia
rumah sakit, dan Rumah Sakit.

Setiap Rumah Sakit harus menyelenggarakan tata kelola Rumah Sakit dan tata kelola
klinis yang baik.
a. Tata kelola rumah sakit yang baik adalah penerapan fungsi-fungsi manajemen Rumah
Sakit yang berdasarkan prinsip-prinsip tranparansi, akuntabilitas, independensi dan
responsibilitas, kesetaraan dan kewajaran.
b. Tata kelola klinis yang baik adalah penerapan fungsi manajemen klinis yang meliputi
kepemimpinan klinik, audit klinis, data klinis, resiko klinis berbasis bukti,
peningkatan kinerja, pengelolaan keluhan, mekanisme monitor hasil pelayanan,
pengembangan profesional, dan akreditasi rumah sakit.
c. Clinical Governance (Tata Kelola Klinis) adalah sistem peningkatan mutu rumah
sakit yang terdiri dari komponen quality asurance yakni setting standards, conform to
standards dan continuous quality improvement.
d. Clinical Governance (Tata Kelola Klinis) adalah sebuah sistem untuk meningkatkan
standar praktik klinis.

Hospital by Laws/Statuta Hospital by Laws (Peraturan Internal Rumah Sakit) adalah
aturan dasar yang mengatur tata cara penyelenggaraan rumah sakit meliputi peraturan
internal staf medis dan peraturan internal korporasi. Peraturan intern dan ketentuan yang
dibuat sendiri oleh rumah sakit untuk mengatur tingkah laku atau perbuatan. Dalam
aturan tersebut fungsi, kewajiban, wewenang, hubungan fungsional dan hubungan
tanggung jawab yaitu :
Governing Body (owner), Chief Executive Officier (CEO), dan Medical Staff
Organization Three-Legged Stool
Peraturan intern tersebut merupakan kerangka hukum dan manajerial yang menjadi
acuan bagi rumah sakit dalam mencapai tujuannya. (KEPUTUSAN MENTERI
KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 772/MENKES/SK/VI/2002
TENTANG PEDOMAN PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT (HOSPITAL
BYLAWS)
HOSPITAL BYLAWS terdiri dari :
1. CORPORATE BYLAWS
Corporate by Laws (Peraturan Internal Korporasi) adalah aturan yang mengatur agar
tata kelola korporasi (corporate governance) terselenggara dengan baik melalui
pengaturan hubungan antara pemilik, pengelola, dan komite medik di rumah sakit.
(PMK No.775 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Komite Medik di Rumah Sakit).
Menurut Blum, J,D,.2001 merupakan:
The role and purpose of the hospital.
The duties and responsibilities of the GB.
The mechanism for selecting members of the GB.
The GBs organizational structure.
The relationship between the GB and the hospital chief executive officer and the
medical staff.
The requirement for establishment of medical staff.
The requirement for the establishment of auxiliary organizations.
Mechanism for adopting the governing body bylaws.
Mechanism for review and revision of bylaws.
2. MEDICAL STAFF BYLAWS(Blum, J, D,. 2001)
Medical Staff by Laws (Peraturan Internal Staf Medis) adalah aturan yang mengatur
tata kelola klinis (clinical governance) untuk menjaga profesionalisme staf medis di
rumah sakit. (PMK No.775 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Komite Medik di
Rumah Sakit).
Menurut Blum, J,D,.2001 merupakan:
Tujuan, otoritas staf klinik, keanggotaan, katagori keanggotaan, hak-hak klinik
(clinical privileges), keanggotaan non-dokter dsb.
Penanganan terhadap performance profesional dan etik dibawah standar (tindakan
korektif, skorsing, prosedur persidangan dan banding).
Rincian mengenai departemen klinik, komite klinik,rapat-rapat (meeting) serta
kebijakan menyangkut hal-hal yang bersifat rahasia.
Prinsip-prinsip umum menyangkut admisi, otopsi,informed consent, layanan
emergensi, rekam medic dan kebijakan mengenai operasi.
Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit harus bekerja sesuai dengan standar
profesi, standar pelayanan Rumah Sakit, standar prosedur operasional yang berlaku, etika
profesi, menghormati hak pasien dan mengutamakan keselamatan pasien.
standar profesi adalah batasan kemampuan (capacity) meliputi pengetahuan
(knowledge), keterampilan (skill), dan sikap profesional (professional attitude) yang
minimal harus dikuasai oleh seorang individu untuk dapat melakukan kegiatan
profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi.
standar pelayanan Rumah Sakit adalah pedoman yang harus diikuti dalam
menyelenggarakan Rumah Sakit antara lain Standar Prosedur Operasional, standar
pelayanan medis, dan standar asuhan keperawatan.
standar prosedur operasional adalah suatu perangkat instruksi/langkah-langkah yang
dibakukan untuk menyelesaikan proses kerja rutin tertentu. Standar prosedur
operasional memberikan langkah yang benar dan terbaik berdasarkan konsensus
bersama untuk melaksanakan berbagai kegiatan dan fungsi pelayanan yang dibuat
oleh sarana pelayanan kesehatan berdasarkan standar profesi.
etika profesi adalah kode etik yang disusun oleh asosiasi atau ikatan profesi.


KESIMPULAN
1) Rumah sakit dapat diklasifikasikan berdasarkan penyediaanya, jenisnya,
kepemilikannya, jenis pelayanan dan pengelolaan, dan fasilitas dan kemampuan
pelayanan.
2) Tata kelola Rumah Sakit terdiri atas Corporate by Laws (Peraturan Internal
Korporasi) dan Medical Staff by Laws (Peraturan Internal Staf Medis).



Daftar Pustaka
Granof, Michael H. & Khumawala, Saleha B. (2012). Government and Not-for-Profit
Accounting: Concepts and Practices (5
th
ed). USA:John Wiley & Sons, Inc.
Nordiawan, Deddi & Hertianti, Ayuningtyas (2010). Akuntansi Sektor Publik (edisi 2).
Jakarta: Penerbit Salemba Empat.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 755/MENKES/PER/IV/2011 Tentang
Penyelenggaraan Komite Medik Di Rumah Sakit.