Anda di halaman 1dari 3

Nama : Muslimin

Nim : P3400214011

Siapakah Aku sebagai obyek melalui kajian literatur?

Istilah aku (self) atau individualitas (selfhood) menunjukkan subjek atau sesuatu
yang tetap ada sepanjang pengalaman yang berubah-ubah untuk kehidupan seseorang.
Walaupun kita tidak dapat memberi definisi aku (self) secara sempurna, namun kalimat itu
merupakan konsep yang penting. Ada filosof yang mengatakan bahwa ide aku itu tidak ada
artinya, namun beberapa filosof lain tetap mengatakan bahwa aku merupakan faktor yang
penting dalam kehidupan manusia. Aku (self) adalah sesuatu yang melakukan persepsi,
memikir, merasa, menghendaki, mimpi dan menentukan. Aku merupakan faktor yang
penting dalam kehidupan manusia. Aku (self) adalah sesuatu yang melakukan persepsi,
memikir, merasa, menghendaki, mimpi dan menentukan.
Dalam teori kebudayaan, aku memiliki tiga dimensi yaitu ontologik, fungsional, dan
mitik. Ketiga dimensi ini dibedakan berdasarkan suatu kata kerja yaitu menempatkan,
menyeimbangkan, dan menyatukan. Ontologik tidak lain adalah bagaimana manusia
menempatkan dirinya terhadap objek, fungsional merupakan bagaimana manusia
menyeimbangkan dirinya dengan objek, dan mitik merupakan bagaimana manusia
menyatukan dirinya dengan objek.
Tulisan ini lebih berfokus pada aku ontologik. Sebagai sebuah dimensi, aku ontologik
bukan sebuah fase dalam evolusi ataupun siklus, namun sebuah bagian dari perilaku manusia
terhadap dunia luar. Setiap fenomena memiliki derajat ke akuan ontologik yang berbeda,
begitu juga derajat dari fungsional ataupun mitik.
Aku ontologik dicirikan oleh perilaku mengambil jarak, meneliti, dan menguasai
sesuatu objek, termasuk dirinya sendiri. Ia dapat dikatakan bersumber pada daya cipta
individu secara sistematik yang bentuk tercanggihnya mewujud dalam perilaku saintifik
manusia.
Aku ontologik telah dapat diamati pada masa bayi. Beberapa bulan setelah lahir, bayi
manusia telah mampu membedakan antara dirinya dan orang lain. Dapat diargumenkan,
walau begitu, aku mitik adalah yang pertama muncul pada diri bayi. Begitu lahir bayi masih
menganggap manusia lain seperti orang tuanya merupakan bagian dari dirinya sendiri. Tetapi
aku ontologik sebenarnya telah hadir juga pada masa ini. Walaupun bayi menganggap orang
tuanya sebagai bagian dari dirinya, ia menganggap benda-benda lain sebagai sesuatu di luar
dirinya. Disini objek dimaknai sepenuhnya sebagai bukan manusia.
Lewat pembelajaran yang cepat disertai kemampuan biologis yang juga semakin
terkoordinir, bayi mulai memisahkan antara dirinya dan orang tuanya. Disinilah manusia
mulai memisahkan orang lain sebagai objek dan saya sebagai subjek. Sebagian orang tua
bahkan sering menilai bayi sebagai mahluk egois yang menuntut segalanya dari orang tuanya.
Lebih jauh, hal ini dapat diamati pada bayi autis dimana sang bayi sepenuhnya tidak mampu
membedakan manusia dengan alat.
Kesadaran bahwa aku sebagai individu dapat pula berperan sebagai objek tercapai
jauh ketika anak manusia mulai mampu berpikir. Hal ini tercapai kurang lebih pada usia satu
hingga dua tahun. Karenanya, secara perkembangan, dapat diargumenkan kalau manusia
diawali dari memisahkan manusia dengan alat, memisahkan diri dengan orang lain, dan
akhirnya memisahkan diri subjek dengan diri objek. Ini tercermin misalnya dari proses mimpi
atau berimajinasi. Dalam mimpi, manusia pemimpi adalah subjek dan manusia-manusia
dalam mimpinya adalah objek. Begitu juga, dalam berimajinasi, orang yang berimajinasi
adalah subjek sementara dirinya yang diimajinasikan, katakanlah dirinya yang kaya raya,
adalah objek.
Di usia sekitar satu tahun, barulah manusia mempelajari bagaimana memanipulasi
benda. Disini dapat dikatakan manusia telah mencapai aku fungsional. Ia bermain dengan
benda-benda. Menyentuh benda dengan segenap inderanya sambil merangkak. Sering kali
orang tua ketakutan melihat anaknya memasukkan barang ke dalam mulutnya tanpa takut.
Setelah berusia balita, manusia bukan hanya memanipulasi benda tak hidup, namun
juga memanipulasi manusia. Dalam usia ini, balita telah memasuki fase sosial dimana ia
bergaul dengan individu-individu lain. Proses manipulasi berjalan lewat kemampuan
berbahasa, dan lebih lanjut dalam kemampuan menulis. Semua usaha komunikasi yang
dilakukan manusia dengan manusia lain dapat dimaknai sebagai usaha manipulasi individu
lain sebagai objek dan karenanya merupakan penerapan aku fungsional. Kenapa dikatakan
fungsional? Karena individu lain tersebut juga memberikan berbagai pengaruh dalam bentuk
umpan balik, entah itu respon bicara atau respon emosional. Ingat kalau fungsional mencakup
isu keseimbangan. Disini terjadi keseimbangan akibat dua dorongan, satu pengaruh dari aku,
dan satu pengaruh dari mereka. Adanya aku fungsional inilah yang mengkendalai positivisme
berkembang dalam ilmu sosial. Interaksi yang ada terlalu kompleks dan masih diluar piranti
positivisme untuk menjangkaunya.
Aku fungsional pada gilirannya mampu memanipulasi aku objek sehingga
membentuk keseimbangan aku subjek-aku objek. Ini terwujud pada masa baligh ketika
manusia harus menyesuaikan dirinya dengan norma-norma sosial di masyarakat. Di satu sisi,
ada dorongan dari dirinya untuk melakukan sesuatu, katakanlah telanjang. Di sisi lain, ada
dorongan juga dari dirinya untuk tidak melakukan sesuatu tersebut, katakanlah untuk
berpakaian. Jadi keseimbangan antara dua dorongan ini mewujud pada tidak telanjang. Ini
bukan berarti condong ke arah norma sosial, namun seimbang dalam artian norma sosial
tersebut pada dasarnya telah tertanam pada diri individu sejak kecil sehingga mewujud pada
rasa malu. Aku fungsional juga dapat dilihat dari perilaku berpuasa dan berbagai usaha
menahan diri lainnya.
Dimensi terakhir yang muncul pada diri manusia adalah dimensi mitik. Baru ketika
manusia dewasa ia dapat membaca dan menulis. Proses membaca dan menulis dapat
dimaknai sebagai aku mitik karena dari sekian fungsi yang ada, satu fungsi merupakan
indikasi dimensi mitik, kerinduan manusia akan alam. Adanya indikasi ini ditunjukkan oleh
keinginan manusia untuk mengetahui segalanya. Sains rindu akan teori segalanya, seorang
ilmuan rindu akan pengetahuan atas misteri jagad raya, dan seorang mistikus rindu akan
pengetahuan segalanya. Mereka merasakan adanya kesatuan dengan dunia luar.
Proses membaca ini secara umum diawali dari semata membaca hal-hal yang terkait
dengan lingkungannya di masa kanak-kanak. Hal ini berlanjut dengan membaca segalanya
sehingga seseorang menjadi generalis (omniheuristikawan) sebagaimana ditekankan sistem
pendidikan. Setelah dewasa mereka menjadi spesialis seperti ilmuan atau tetap generalis
seperti filsuf atau mistikus.
Aku mitik paling jelas dalam perilaku skeptik manusia. Manusia skeptik atas hal-hal
yang tidak masuk akalnya atau bertentangan dengan pengetahuannya. Mereka ingin menjadi
maha tahu. Saya ragu kalau manusia ingin maha tahu karena ingin memanipulasi (aku
fungsional) atau karena ingin keluar dari alam ini (aku ontologik). Saya rasa manusia ingin
tahu karena memang mereka ingin mengembalikan segalanya ke dalam dirinya, sebuah ciri
dari dimensi mitik yang bermakna penyatuan.
Jadi, berdasarkan kajian psikologi perkembangan dan literatur teoritis mengenai teori
budaya, dapat disimpulkan kalau manusia dewasa memiliki dimensi ontologis, fungsional,
dan mitik. Ketiga dimensi ini, walaupun hampir selalu ada, namun muncul dalam waktu
berbeda dalam hidup manusia. Pada awalnya manusia memunculkan dimensi ontologis,
kemudian fungsional, dan akhirnya dimensi mitik. Kita berasal dari alam, tapi begitu eksis,
kita tidak menyadari itu, baru kemudian akhirnya kita rindu akan hal ini kembali. Karenanya,
dapat pula dirumuskan sebuah prinsip moral ilmiah: sains semestinya semakin mendekatkan
diri kita pada alam, bukannya menjauhkan kita. Al Quran mungkin merupakan sebuah kitab
mitik. Ia tidak diawali oleh perintah sembahlah Aku (ontologis) atau sebarkanlah Islam
(fungsional). Ia diawali dengan perintah membaca.
Periode perkembangan dimensi-dimensi aku dapat diilustrasikan dalam gambar berikut.
Aku ontologik Aku fungsional Aku mitik
Dewasa Ilmuan/mistikus
Aqil baligh Manipulasi diri Omniheuristikawan
Anak-anak Membaca
Balita Manipulasi manusia
Satu tahun Aku subjek dan aku objek Manipulasi benda
Beberapa bulan Aku dan manusia lain
Lahir Manusia dan benda
Pra lahir Menyatu?
Sumber: dikembangkan untuk tulisan ini
Referensi: