Anda di halaman 1dari 64

Jurnal Ilmiah Kebidanan Page ii

JURNAL ILMIAH
ILMU KEBIDANAN
Susunan Redaksi
Pelindung
Dr. Denok Sri Utami
Penasehat
Siti Maryam, SST. M.Kes
Dra. Nunun Nurhajati, M.Si
Nunik Ningtiyasari, S.Si.T
Penanggung Jawab
Ainun Hanifa, S.Si.T
Pemimpin Redaksi
Ainun Hanifa, S.Si.T
Sekretaris Redaksi
Widya Lusi A, SST
Anggota Redaksi
Sri Hartatik, Amd
Moch. Eldon, SE
Sri Supeni, Amd
Alamat Redaksi
Program Studi D III Kebidanan Universitas Tulungagung
Jl. Raya Tulungagung-Blitar Km. 4 Sumbergempol Tulungagung 66291
Telp. (0355) 331080, 335735, fax. (0355) 331080
Email. akbid_unita@yahoo.co.id
Website. www.akbid-unita.ac.id
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page iii
Pedoman Bagi Penulis
Jurnal Ilmiah Kebidanan merupakan
jurnal ilmiah yang terbit setiap 1
tahun sekali. Jurnal Ilmiah
Kebidanan Prodi D III Kebidanan
Universitas Tulungagung dapat
menerima semua artikel penelitian
asli yang relevan dengan bidang
kebidanan dengan ketentuan
sebagai berikut:
Artikel Penelitian
Artikel penelitian asli dalam ilmu
kebidanan. Format artikel penelitian
terdiri atas halaman judul, abstrak
(Indonesia/ Inggris), pendahuluan,
tinjauan pustaka, metode penelitian,
hasil dan pembahasan, kesimpulan,
saran dan daftar pustaka.
Laporan Kasus
Artikel mengenai kasus dalam
bidang ilmu kebidanan yang perlu
disebarluaskan. Format laporan
kasus terdiri atas judul, abstrak
(Indonesia/ Inggris), pendahuluan,
tinjauan pustaka, kasus,
pembahasan, daftar pustaka.
Surat Kepada Redaksi
Sarana komunikasi pembaca
dengan redaksi dan pembaca lain
yang dapat berisi komentar,
sanggahan, atau opini mengenai isi
jurnal ilmiah kebidanan sebelumnya
atau usul untuk selanjutnya.
Petunjuk Umum
Untuk menghindari duplikasi, Jurnal
Ilmiah Kebidanan Prodi D III
Kebidanan Universitas Tulungagung
tidak menerima artikel yang sudah
dipublikasikan atau sedang diajukan
kepada jurnal ilmiah lain, dengan
menandatangani surat pernyataan.
Penulis harus memastikan bahwa
seluruh penulis pembantu telah
menyetujui. Bila diketahui artikel
telah dimuat pada jurnal lain, maka
Jurnal Imiah Kebidanan Prodi D III
Kebidanan Universitas Tulungagung
edisi selanjutnya artikel akan
dianulir.
Penulisan Artikel
Artikel diketik 1 spasi pada kertas A4,
dengan jarak dari tepi kiri 4 cm, tepi
kanan, atas dan bawah 3 cm. Jumlah
halaman maksimal 10 lembar tiap
artikel, jenis huruf Arial ukuran 11.
Setiap halaman diberi nomor secara
berurutan dimulai dari halaman judul
sampai halaman terakhir. artikel
ilmiah dikirimkan dalam bentuk
softcopy (CD) dan 1 berkas artikel
penelitian asli. Tulis nama file dan
program yang dipergunakan pada
label CD.
Halaman Judul
Halaman judul berisi judul artikel
ilmiah, nama penulis dengan gelar
lengkap.
Abstrak dan Kata Kunci
Abstrak untuk setiap artikel bisa ditulis
menggunakan bahasa Indonesia/
Inggris. Bentuk abstrak tidak
terstruktur dengan jumlah maksimal
200 kata. Abstrak ditulis ringkas dan
jelas sesuai dengan format
introduction, method, resulth,
discussion (IMRAD).
Tabel
Tabel disusun berurutan. Setiap tabel
harus diberi judul singkat. Tempatkan
penjelasan dan singkatan pada
keterangan tabel, bukan pada judul
tabel. Jumlah tabel maksimal 6 buah.
Metode Statistik
Jelaskan metode statistik secara rinci
pada bab metode.
Daftar Pustaka
Rujukan ditulis sesuai dengan aturan
penulisan, diberi nomor urut sesuai
dengan pemunculan dalam jurnal
ilmiah kebidanan. Jumlah rujukan
maksimal 20 buah dar iterbita minimal
10 tahun terakhir. hindarkan rujukan
berupa komunikasi pribadi kecuali
untuk informasi yang tidak mungkin
diperoleh dari sumber umum.
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page iv
DAFTAR ISI
Hubungan sikap bidan tentang pemeriksaan 14t dengan deteksi dini resiko tinggi
kartu skor poedji rochjati di wilayah kerja puskesmas kademangan kabupaten blitar
tahun 2012
Tevrilia Nur Firaya, Siti Maryam, Astika Rasyiid............................................................. 1
Hubungan sikap dengan perilaku ibu post partum tentang pemberian colostrum pada
bayi baru lahir di ruang nifas rsud dr. iskak tulungagungtahun 2012
Khoridatul Jannah, Nunik Ningtiyasari, Erik Ekowati ...................................................... 6
Analisis pengetahuan dengan sikap tentang pemanfaatan buku kia oleh kader
posyandu study pada kader posyandu di wilayah kerja puskesmas junjung
kecamatan sumbergempol kabupaten tulungagungtahun 2012
Siti Maryam................................................................................................................... 10
Studi komparatif berat badan sebelum dan sesudah menggunakan kb suntik 3
bulan di bps titin desa bangunjaya kecamatan pakel kabupaten tulungagung tahun
2012
Merlinda Diyas Octia, Rini Sulistyowati, Ainun Hanifa ................................................... 13
Hubungan berat badan lahir rendah dengan kejadian asfiksia neonatorum di
ruang mawar rsud dr. iskak kabupaten tulungagung tahun 2011
Ratih Indra Driviana, Nunik Ningtiyasari, Ainun Hanifa.................................................. 17
Hubungan kejadian pre-eklamsia dengan kejadian berat badan lahir rendah (bblr) di
rsud dr. iskak kabupaten tulungagung tahun 2011
Dewi Puspitasari, Nunik Ningtiyasari, Sandra Dewi S ................................................... 21
Hubungan sikap ibu menyusui dengan cara menyusui yang benar di desa sumurup
kecamatan bendungan kabupaten trenggalek tahun 2012
Dyah Risca Arini, Nunik Ningtiyasari, Widya Lusi A ..................................................... 25
Hubungan status gizi dengan perkembangan balita usia 1-3 tahun di desa kepuh
kecamatan boyolangu kabupaten tulungagung tahun 2012
Niken Ningtiyas, Siti Maryam, Erik Ekowati ................................................................... 29
Hubungan sikap ibu tentang imunisasi dasar lengkap dengan kelengkapan imunisasi
pada bayi di posyandu desa pucangan kecamatan kauman kabupaten tulungagung
tahun 2012
Naning Hartatik, Siti Maryam, Sandra Desi S................................................................ 32
Hubungan sikap ibu bayi tentang imunisasi dpt combo dengan pelaksanaan
imunisasi dpt combo pada bayinya di posyandu desa sobontoro kabupaten
tulungagung tahun 2012
Leni Gita Pangestri, Nunik Ningtiyasari, Erik Ekowati.................................................... 35
Hubungan pelaksanaan inisiasi menyusu dini (imd) dengan kejadian atonia uteri pada
ibu bersalin di wilayah kerja puskesmas kauman kecamatan kauman kabupaten
tulungagung tahun 2012
Pepen Eka Fitriyanti, Siti Maryam, Astika Rasyid.......................................................... 38
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page v
Hubungan sikap bidan dalam pelayanan antenatal care (anc) dengan keteraturan
kunjungan ibu hamil di wilayah kerja puskesmas sumbergempol kabupaten
tulungagung tahun 2012
Ela Fahdalia, Siti Maryam, Astika Rasyid...................................................................... 42
Hubungan status gizi dengan perkembangan anak usia 0-1 tahun di posyandu desa
bago kecamatan Tulungagung kabupaten Tulungagung tahun 2012
Etty Yuvitasari, Siti Maryam, Erik Ekowati ..................................................................... 45
Hubungan kejadian pre-eklampsia dengan kejadian haemoragic post partum (hpp) di
rsud dr. iskak kabupaten tulungagung tahun 2011
Isna lailatul mahya, Nunik Ningtiyasari, Widya Lusi A ................................................... 48
Hubungan sikap wanita usia subur (wus) tentang kb suntik dengan kepatuhan
kunjungan kb di bps lely desa sobontoro kabupaten tulungagung tahun 2012
Wahidatus Khumeiyaroh, Siti Maryam, Astika Rasyid ................................................... 52
Hubungan usia ibu dengan kejadian berat badan lahir rendah (bblr) di rsud dr. iskak
tulungagung tahun 2012
Lina Amalia, Nunik Ningtiyasari, Anita Dwi A ................................................................ 56
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 1
HUBUNGAN SIKAP BIDAN TENTANG PEMERIKSAAN 14T DENGAN DETEKSI
DINI RESIKO TINGGI KARTU SKOR POEDJI ROCHJATI
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KADEMANGAN
KABUPATEN BLITAR TAHUN 2012
Oleh :
TEVRILIA NUR FIRAYA
SITI MARYAM, SST. M.Kes
ASTIKA RASYIID, SST
Antenatal care is used to monitor, support the health, detection of pregnant women. Based
from the data in the health center Kademangan, January until June 2011 from 42 midwives who
provide antenatal care practices only 26 midwives (61.9%) carry out checks with 14T Poedji Rochjati
score card beside that the 16 midwives (38.1%) do not apply the check 14T Poedji Rochjati score
card.Purpose of the study to the determine from the correlation attitudes of midwives about 14T
examination with a high risk of early detection Poedji Rochjati score card at the health center of
Kademangan, Blitar 2012.
The data from the research showed nearly half of the 37 midwives to be positive about 14T
examination and early detection of high risk Poedji Rochjati score cards is 18 midwives (48.6%).
Midwives who have a good understanding of the examination 14T has a positive attitude about 14T
examination so that early detection of high risk pregnant women to fill out a score card Poedji
Rochjati to prevent delay in referral.
Pendahuluan
Kehamilan dan persalinan merupakan
proses alami, tetapi bukannya tanpa risiko,
yang merupakan beban bagi seorang wanita.
Mortalitas dan Morbiditas pada wanita hamil
dan bersalin masih merupakan masalah besar
di negara-negara berkembang termasuk
Indonesia. Di negara miskin, sekitar 25-50 %
kematian wanita usia subur disebabkan hal
yang berkaitan dengan kehamilan.
Berdasarkan Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) Propinsi Jawa
Timur jumlah ibu hamil risti di Propinsi Jawa
Timur tahun 2010 sebesar 151.380. Jumlah
ibu risti di Jawa Timur pada tahun 2009
sebesar 160.170 (21,94 %), dengan bumil risti
yang dirujuk 143.192 (89,40 %), untuk tahun
2009 cakupan bumil risti yang dirujuk jauh
dari target 2009 sebesar 90 %. Sementara
target Indonesia Sehat 2010 untuk ibu hamil
resiko tinggi yang dirujuk sebesar 100 %.
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui hubungan sikap
bidan tentang pemeriksaan 14T dengan deteksi
dini resiko tinggi kartu Skor Poedji Rochjati di
wilayah kerja Puskesmas Kademangan
Kabupaten Blitar tahun 2012.
Tinjauan Pustaka
Menurut Notoatmodjo (2003: 130),
sikap merupakan reaksi atau respon yang
masih tertutup dari seseorang terhadap
stimulus atau obyek.
Sikap mengandung 3 komponen yang
membentuk struktur sikap, yaitu:
1. Komponen Kognitif (komponen
perseptual)
2. Komponen Afektif (komponen emosional)
3. Komponen Konatif (komponen perilaku)
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Sikap:
1. Pengalaman pribadi
Middle Back (1974) mengatakan tidak
adanya pengalaman sama sekali dengan
suatu obyek cenderung akan membentuk
sikap yang negatif
2. Pengaruh orang lain yang dianggap
penting
Orang lain di sekitar kita merupakan salah
satu di antara komponen sosial yang ikut
mempengaruhi sikap kita
3. Kebudayaan
Kebudayaan dimana kita hidup dan
dibesarkan, mempunyai pengaruh besar
terhadap sikap.
4. Informasi
Dalam rangka pembentukan sikap
seseorang dapat dilakukan secara tidak
langsung dan langsung
5. Lembaga pendidikan dan agama
Meletakkan dasar dan pengertian konsep
dalam diri individu
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 2
6. Pengaruh faktor emosi
Sikap merupakan pernyataan yang
disadari oleh emosi yang berfungsi
sebagai semacam penyuluhan frustasi.
Skala sikap menggunakan skala Likert.
Beberapa bentuk jawaban pertanyaan atau
pernyataan yang masuk dalam kategori skala
likert dengan skor adalah sebagai berikut:
No. Pernyataan STS TS S SS
1. Negatif 4 3 2 1
2. Positif 1 2 3 4
Keterangan:
SS : Sangat setuju
S : Setuju
TS : Tidak setuju
STS : Sangat tidak setuju
Data-data tersebut kemudian dirubah
menjadi skor T dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:

)
`

+ =
S
X - X
10 50 T
Keterangan :
X : Skor responden
X : Mean skor kelompok
S : Standar deviasi skor kelompok.
Skor mean T merupakan skala yang
biasa digunakan dalam skala model Likert
untuk menentukan sikap seseorang
1) Sikap Positif : skor T mean T
2) Sikap negatif : skor T < mean T
(Azwar, 2007: 156)
Pelayanan pemeriksaan selama
kehamilan (ANC) adalah pelayanan kesehatan
yang diberikan kepada ibu selama
kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan
yang lengkap. ANC dilakukan minimal 1 kali
dalam trimester I, 1 kali dalam trimester II dan
2 kali dalam trimester III. Dalam penerapan
operasionalnya dikenal standar yang disebut
dengan 14 T.
Pada pemeriksaan 14T selama
kehamilan yang harus dilakukan oleh bidan
yaitu:
1. Tanyakan dan Menyapa Ibu dengan
Ramah
2. Temukan kelainan/ periksa daerah muka
dan leher (gondok, vena jugularis
eksterna), jari dan tungkai (edema),
lingkar lengan atas dan panggul (perkusi
ginjal), dan reflek lutut
3. Tekan/ palpasi payudara (benjolan),
perawatan payudara
4. Tentukan posisi janin (leopold I-IV) dan
detak jantung janin
5. Tentukan keadaan (palpasi) liver dan
limfa
6. Tingkatkan kesegaran jasmani (accu
pressure) dan senam hamil
7. Tingkatkan pengetahuan ibu hamil (
penyuluhan)
8. Timbang berat badan dan ukur Tinggi
badan
9. Ukur tekanan darah
10. Ukur tinggi fundus uteri
11. Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid /
TT lengkap
12. Terapi dan pencegahan anemia (tablet Fe)
dan dan penyakit lainnya sesuai indikasi
(gondok, malaria)
13. Tentukan kadar Hb dan periksa
laboratoium (protein dan glukosa urine),
sediaan vagina dan VDRL (PMS) sesuai
indikasi
14. Temu wicara dalam rangka persiapan
rujukan
Kehamilan risiko tinggi adalah
kehamilan dimana ibu hamil maupun janin
yang dikandungnya berada dalam risiko
kematian. Angka kejadian kehamilan risiko
tinggi kurang lebih 20 % dari semua
kehamilan. pada umumnya kehamilan resiko
tinggi dibagi menjadi dua faktor:
1. Faktor resiko dari ibu
a. Usia Ibu
b. Fertilitas
c. Grande multipara
d. Tinggi badan ibu kurang dari 145 cm
e. Kebiasaan (Habits) :
Perokok berat, pecandu narkoba,
peminum alkohol.
f. Riwayat Persalinan / Obstetrik yang
jelek
g. Riwayat Penyakit yang diderita
h. Riwayat Operasi dan Trauma
sebelumya
2. Faktor resiko dari janin
a. Malpresentasi dan malposisi
b. Bayi Kembar
c. Perdarahan antepartum
d. Kelainan congenital
e. Hamil lebih bulan (post date)
f. Poli dan atau Oligohidramnion
g. Makrosomia
h. Intrauterine Growth Restriction
i. Janin mati dalam kandungan
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 3
Bahaya yang dapat timbul sebagai akibat
ibu hamil dengan risiko tinggi antara lain :
a. Keguguran (abortus)
b. Bayi lahir prematur (belum cukup
bulan)
c. Berat badan bayi lahir rendah
(kurang dari 2500 g)
d. Bayi mati dalam kandungan
e. Bayi dengan cacat bawaan
f. Ibu mengalami perdarahan yang
dapat berakibat ibu meninggal dunia
g. Ibu mengalami keracunan kehamilan
(toksemia gravidarum)
h. Penyakit ibu menjadi lebih berat
(payah jantung s.d gagal jantung,
asma berat, diabetes mellitus)
i. Persalinan lama dan atau macet
j. Kegawatan sehingga bayi harus
dilahirkan dengan operasi Caesar
Batasan pengisian skrining antenatal
deteksi dini ibu hamil risiko tinggi dengan
menggunakan kartu skor Poedji Rochjati
berupa kartu skor yang digunakan sebagai alat
skrining antenatal.
1. Manfaat Kartu Skor Poedji Rochjati:
a. Menemukan faktor risiko Bumil
b. Menentukan Kelompok Risiko Bumil
c. Alat pencatat Kondisi Bumil
2. Fungsi Skor Poedji Rochjati
a. Melakukan skrining atau deteksi dini
Risiko Tinggi Ibu Hamil
b. Memantau kondisi ibu dan janin
selama kehamilan
c. Mencatat dan melapor keadaan
kehamilan, persalinan dan nifas
d. Memberi pedoman penyuluhan untuk
persalinan aman berencana
e. Validasi data mengenai perawatan
ibu selama kehamilan,
persalinan,nifas dengan kondisi ibu
dan bayinya.
3. Cara pemberian skor
a. Skor awal X, sama untuk semua ibu
hamil.
b. Skor awal X+Y, nilai Y adalah skor
dari faktor risiko kelompok I
ditemukan pada kontak pertama
c. Jumlah skor tetap atau bertambah
d. Jumlah skor tidak akan berkurang
walaupun gejala klinis dari faktor
risiko tersebut tidak ada
Faktor risiko pada ibu hamil oleh
Poedji Rochjati dikelompokkan
menjadi
4. Faktor risiko pada ibu hamil oleh Poedji
Rochjati dikelompokkan menjadi:
a. Kelompok Faktor Risiko I (Ada
potensi risiko)
a) Primi Muda
Terlalu Muda hamil pertma umur
16 tahun atau kurang
b) Primi Tua Primer
(a) Terlalu tua, hamil pertama
umur 35 tahun atau lebih
(b) Terlalu lambat hamil. Setelah
kawin 4 tahun lebih
c) Primi Tua Sekunder
d) Terlalu lama punya anak lagi,
terkecil 10 tahun lebih
e) Terlalu cepat punya anak lagi,
anak terkecil usia kurang 2 tahun
f) Grande Multi
Terlalu banyak punya anak 4 atau
lebih
g) Terlalu Tua
(a) Umur 35 tahun
(b) Hamil umur 35 tahun atau
lebih
h) Terlalu pendek
(a) Tinggi Badan 145
i) Pada hamil pertama, kedua atau
lebih belum pernah melahirkan
normal
j) Pernah gagal pada kehamilan
yang lalu
k) Pernah melahirkan dengan :
(a) Tarikan
(b) Uri dikeluarkan oleh
penolong
(c) Pernah diinfus atau transfusi
pada pendarahan post partum
l) Bekas Operasi Sesar
b. Kelompok Faktor Risiko II ( Ada
Risiko )
a) Ibu Hamil Dengan Penyakit :
(a) Anemia : Pucat, lemas badan
lekas lelah
(b) Malaria: Panas Tinggi,
Menggigil keluar keringat,
sakit kepala
(c) Tuberculosa Paru
(d) Payah Jantung
(e) Penyakit lain : HIV-AIDS,
Penyakit Menular Seksual
b) Pre eklampsia Ringan
c) Hamil Kembar/ gemeli
d) Kembar Air/ Hidramnion
e) Bayi mati dalam
f) Hamil lebih bulan (Serotinus)
g) Letak Sungsang
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 4
h) Letak Lintang
c. Kelompok Faktor Risiko III (Ada
Gawat Darurat)
a) Perdarahan sebelum bayi lahir
Mengeluarkan darah pada waktu
hamil, sebelum kelahiran bayi
b) Pre eklamsia Berat dan atau
Eklamsia
Hubungan Sikap Bidan Dalam Pemeriksaan
14T dengan Deteksi Dini Resiko Tinggi Kartu
Skor Poedji Rochjati Pada Kehamilan:
Sikap merupakan penilaian seseorang
terhadap stymulus atau obyek dan setelah
seseorang mengetahui stymulus atau obyek,
proses selanjutnya akan menilai. Hubungan
yang positif atau negatif antara individu
dengan obyek tertentu, akan menimbulkan
sikap tertentu pula dari individu terhadap
obyek tersebut, seperti halnya bidan yang
telah memiliki pemahaman yang baik tentang
pemeriksaan 14T maka bidan akan memiliki
sikap yang positif tentang pemeriksaan 14T
sehingga bidan akan melakukan deteksi dini
resiko tinggi pada ibu hamil dengan
melaksanakan pengisian kartu skor Poedji
Rochjati yang mana untuk mencegah
terjadinya terlambat dalam melakukan rujukan
pada ibu hamil ataupun saat persalinan ketika
terjadi komplikasi.
Metode Penelitian
Jenis penelitian dalam penelitian ini
adalah observasional. Dalam penelitian ini
menggunakan desain penelitian Analitik.
Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian
ini adalah Cross Secttional.
Populasi dari penelitian ini adalah
seluruh bidan diwilayah kerja Puskesmas
Kademangan sampai dengan bulan Februari
tahun 2012 yaitu sebanyak 42 bidan. Dan
teknik sampling yang di gunakan adalah tehnik
quota sampling yaitu penetapan sampel
berdasarkan kapasitas yang diperlukan dalam
penelitian, yang mempunyai pengaruh terbesar
yang bersifat non probability samplin. Jumlah
sampel dalam penelitian ini adalah 37 bidan.
Pengumpulan data dengan menggunakan
lembar kuesioner pengetahuan ibu tentang
imunisasi dasar serta lembar KMS yang
dibawa oleh ibu saat datang ke Posyandu.
Pengolahan data dengan menjumlahkan
jawaban masing-masing responden dan
dikriteriakan sesuai dengan tingkatan
mengetahui, memahami serta mengaplikasikan
kemudian untuk menguji tingkat hubungan
antara 2 variabel digunakan uji chi-square.
Hasil Dan Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian dapat
diketahui bahwa dari total 37 bidan hampir
setengah bidan bersikap positif tentang
pemeriksaan 14T dan melakukan deteksi dini
resiko tinggi kartu Skor Poedji Rochjati yaitu
sebanyak 18 bidan (48,6%).
Berdasarkan uji kai kuadrat dengan X
tabel 3,84 didapatkan X hitung 6,68 > 3,84
sehingga Ho ditolak dan H1 diterima, yang
berarti ada hubungan antara sikap bidan
tentang pemeriksaan 14T dengan deteksi dini
resiko tinggi kartu Skor Poedji Rochjati di
Wilayah Kerja Puskesmas Kademangan
Kabupaten Blitar tahun 2012.
Sikap merupakan penilaian seseorang
terhadap stymulus. Sementara itu sikap
merupakan sesuatu yang dipelajari melalui
pengamatan, pendengaran dan pengalaman.
Sikap yang didasari oleh pengetahuan akan
lebih langgeng dari pada seseorang yang
bersikap tanpa pengetahuan.
Sesuai dengan teori dan fakta diatas
bahwa semakin baik sikap bidan terhadap
pemeriksaan 14T maka akan berdampak pada
perilakunya dalam melaksanakan deteksi dini
dengan mengisi kartu Skor Poedji Rochjati.
Hubungan yang positif atau negatif
antara individu dengan obyek tertentu, akan
menimbulkan sikap tertentu pula dari individu
terhadap obyek tersebut, seperti halnya bidan
yang telah memiliki pemahaman yang baik
tentang pemeriksaan 14T maka bidan akan
memiliki sikap yang positif tentang
pemeriksaan 14T sehingga bidan akan
melakukan deteksi dini resiko tinggi pada ibu
hamil dengan melaksanakan pengisian kartu
skor Poedji Rochjati dan sebaliknya.
Kesimpulan
1. Dari total 37 responden sebagian besar
responden bersikap positif terhadap
pemeriksaan 14T yaitu sebanyak 23
(62,2%) responden.
2. Dari total 37 responden, sebagian besar
dari responden melaksanakan deteksi dini
resiko tinggi kartu Skor Poedji Rochjati
yaitu sebanyak 23 (62,2%) responden.
3. Berdasarkan uji kai kuadrat dengan X
tabel 3,84 didapatkan X hitung 6,68 >
3,84 sehingga Ho ditolak dan H diterima,
yang berarti ada hubungan antara sikap
bidan tentang pemeriksaan 14T dengan
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 5
deteksi dini resiko tinggi kartu Skor Poedji
Rochjati di Wilayah Kerja Puskesmas
Kademangan Kabupaten Blitar tahun 2012.
Saran
1. Perlunya KIE (komunikasi, informasi dan
edukasi) tentang pemeriksaan 14T dan
pentingnya deteksi dini resiko tinggi dalam
kehamilan.
2. Bagi institusi diharapkan proaktif untuk
melakukan atau menjalin kerjasama
dengan Puskesmas dalam meningkatkan
sikap positif bidan dalam pemeriksaan 14T
dan melaksanakan deteksi dini dengan
mengisi kartu Skor Poedji Rochjati.
3. Bagi Penelitian Selanjutnya diharapkan
dapat menjadi bahan wacana dalam
penelitian selanjutnya
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi, 2006. Prosedur
Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Hal 209
Asmadi, Tengku. 2003. Ilmu Perilaku. Jakarta:
Rineka Cipta. Hal 24.
Alimul Hidayat, Aziz. 2007. Metode Penelitian
Kebidanan: Teknik Analisa Data.
Jakarta: Salemba Medika. Hal 86.
Azwar, S. 2009. Sikap Manusia Teori dan
Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar. Hal 24, 156.
BKKBN. 2002. Standar Pelayanan
Kebidanan. Jakarta: Balai Pustaka. Hal
98.
DEPKES. 2003. Asuhan Kehamilan. Jakarta:
BKKBN. Hal 1.
Heri, Saputra. 2010. Asuhan Kebidanan Masa
Kehamilan. Jakarta: Salemba Medika.
Hal 23.
Hidayat, S. 2003. 2009. Metode Penelitian
Kebidanan dan Teknik Analisa Data.
Jakarta: Salemba Medika.Hal 81
Kusmiyati, Yuni. 2010. Penuntun Praktikum
Asuhan Kehamilan. Yogyakarta:
Penerbit Fitramaya. Hal 192.
Nasir. 2005. Metode Penelitian Kuantitatif
Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Niken Meilani, Nanik Setiyawati,
Dwiana Estiawadani, Sumarah. 2009.
Kebidanan Komunitas. Yogyakarta:
Penerbit Fitramaya. Hal 94-96.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi
Penelitian Suatu Pendekatan. Jakarta:
Rineka Cipta. Hal 43, 64, 88, 125, 129,
138.
Nursalam.2003. Konsep-konsep Metodologi
Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman
Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian
Keperawatan. Edisi I. Jakarta: Salemba
Medija. Hal 79, 93,96, 97-98,101,106,
115, 118 - 119.
Poltekkes, DEPKES. 2010.Standar Asuhan
Kebidanan. Jakarta: EGC. Hal 1.
Prawirohardjo,Sarwono. 2010. Buku Acuan
Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka. Hal 89-91.
Pudiastuti, Ratna. 2010. Pentingnya Menjaga
Organ Kewanitaan. Jakarta: Indeks. Hal
1.
Silalahi, Ulber. 2003. Metode Penelitian
Sosial. Bandung: PT. Refika Aditama.
Hal: 38.
Sofyan, Mustika. 2006. Bidan Menyongsong
masa Depan. Jakarta: PP IBI, Cetakan
VII. Hal 15.
Subari. 2010. Buku Asuhan Kebidanan.
Yogyakarta: Pustaka Medika. Hal 1.
Sugiyono. 2005. Metode Penelitian
administrasi. Cetakan VIII. Bandung:
Alfa Beta. Hal 146.
Sulistyawati, Ari. 2009. Asuhan Kebidanan
Pada Masa Kehamilan. Jakarta:
Salemba Medika. Hal 1-4.
Tim Bahasa Pustaka Agung Harapan.2003.
Kamus Lengkap Bahasa Indonesia
Modern. Surabaya : Pustaka Agung
Harapan. Hal: 243.
Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial. Edisi
IV. Yogyakarta: Andi Offset. Hal 110-
111, 145.
Wawan. 2010. Teori dan Pengukuran
Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku
Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika.
Hal 12, 23, 34. 37
Wikipwdia. 2010. Konsep Keluarga. www.
Wikipedia. Org. Diakses tanggal 9
Oktober 2011 jam 19.13 WIB.
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 6
HUBUNGAN SIKAP DENGAN PERILAKU IBU POST PARTUMTENTANG
PEMBERIAN COLOSTRUM PADA BAYI BARU LAHIR DI RUANG
NIFAS RSUD dr. ISKAK TULUNGAGUNGTAHUN 2012
Oleh :
KHORIDATUL JANNAH
NUNIK NINGTIYASARI S.Si.T
ERIK EKOWATI, SST
Colostrum Is the first fluid secreted by themammary glandsfrom1 to 3 days after
delivery. Most of the mothers postpartum did not give colostrums to their infants, because
they dont know the benefits that exist in the colostrum. The study was conducted on March
19, up to 31 March 2012. The population is all women postpartum: 86 respondents. Sampling
with accidental sampling technique. Number of samples 40 respondents. Data were collected
by questionnaires and observation sheets, processed and presented in the form of cross
tabulation using the Chi-Square test statistic: 0.05 using a computer.
The results of Chi-Square statistical tests 0.002<0.05 so that Ho is rejected, which
means there is a relationship between attitudes to post-partum maternal behavior on giving
colostrums to the new born. The study found that most of the post partum mother being
negative and not give colostrums to their infants.
Pendahuluan
Kolostrum merupakan cairan yang
pertama kali disekresi oleh kelenjar payudara
dari hari pertama sampai ke 3-5 (Suradi, 2008).
Colostrum mengandung protein, zat penangkal
infeksi, mineral (terutama K, Na dan Cl) dan
vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E dan
K). Dengan keunggulan yang dimiliki
colostrum, cukup jelas bahwa bayi yang
memperoleh ASI sedini mungkin akan
terhindar dari kemungkinan terjadinya
gangguan pencernaan, infeksi usus dan
penyakit lainnya (Rosita, 2008).
Berdasarkan hasil penelitian di Jakarta
menunjukkan sebagian besar para ibu
menghindari pemberian colostum (Hapsari,
2001). Berdasarkan data hasil penelitian di
Yogyakarta sebagian dari ibu melahirkan tidak
menyusukan ASI pertamanya karena berbagai
alasan yaitu adanya larangan dari orang tua
untuk menyusukan ASI pertamanya karena
dianggap kotor dan karena kurangnya
pengetahuan dari ibu tentang manfaat
colostrum kepada bayinya, justru colostrum
yang keluar dibuang oleh ibu (Muchtadi, 2004:
12).
Berdasarkan data dari Kabupaten/Kota
diketahui bahwa cakupan bayi yang mendapat
ASI Eksklusif di Jawa Timur pada tahun 2010
sebesar 30,72%. Cakupan tersebut menurun
dibandingkan tahun 2009 dan belum dapat
mencapai target yang ditetapkan sebesar 80%
(Dinkes Jawa Timur, 2010). Di Tulungagung
pada tahun 2009 cakupan bayi yang mendapat
ASI Eksklusif sebesar 56,03% (Depkes
Tulungagung, 2009).
Tujuan Penelitian
Mengetahui hubungan sikap dengan
perilaku ibu post partum tentang pemberian
colostrum pada bayi baru lahir di RSUD dr.
Iskak Tulungagung Tahun 2012.
Tinjauan Pustaka
Menurut Notoatmodjo (2003) sikap
merupakan reaksi atau respon yang masih
tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau
obyek. Menurut Walgito (2003) faktor-faktor
yang mempengaruhi sikap antara lain:
1. Faktor Internal
a. Faktor fisiologis
b. Faktor psikologis
2. Faktor Eksternal
a. Pengalaman
b. Situasi
c. Norma-norma
d. Informasi
e. Hambatan
f. pendorong
Cara pengukuran sikap secara garis
besar dapat dibedakan secara langsung dan
secara tidak langsung. Secara langsung
misalnya mengukur sikap dengan wawancara
bebas, pengamatan langsung atau dengan
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 7
survey. Pengukuran sikap dengan cara tidak
langsung ialah pengukuran sikap dengan
menggunakan tes (Notoatmodjo, 2003).
Skala sikap menggunakan skala Likert.
Beberapa bentuk jawaban pertanyaan atau
pernyataan yang masuk dalam kategori skala
Likert dengan skor adalah sebagai berikut:
No. Pernyataan STS TS S SS
1. Negatif 4 3 2 1
2. Positif 1 2 3 4
Keterangan:
SS : Sangat setuju
S : Setuju
TS : Tidak setuju
STS : Sangat tidak setuju
(Hidayat, 2007)
Data-data tersebut kemudian dirubah
menjadi skor T dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
Keterangan:
X : Skor responden
X : Mean skor kelompok
S : Standar deviasi skor kelompok.
Skor mean T merupakan skala yang
biasa digunakan dalam skala model Likert
untuk menentukan sikap seseorang:
1. Sikap positif : skor T mean T
2. Sikap negatif : skor T < mean T
(Azwar, 2007: 156)
Kemudian sikap positif dan negatif
responden dibandingkan dengan jumlah semua
responden dan dikalikan 100%.
Berikut rumus perhitungan prosentase
menurut Nursalam (2003: 113):
Keterangan:
P : Prosentase
Sp : Skor yang diperoleh
Sm : Skor maksimal
Menurut Skiner (1938) Perilaku adalah
respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus
(rangsangan dari luar) (Notoatmodjo, 2003:
144). Perilaku dapat dibedakan menjadi 2 yaitu
perilaku tertutup dan terbuka. Selanjutnya
perilaku itu sendiri ditentukan atau dibentuk
oleh tiga faktor, yaitu:
1. Faktor-faktor predisposisi (predisposing
factor) yang terwujud dalam pengetahuan,
sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai
dan sebagainya.
2. Faktor-faktor pendukung (enabling
factor) yang terwujud dalam lingkungan
fisik, tersedia atau tidak tersedianya
fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana
kesehatan.
3. Faktor-faktor pendorong (reinforcing
factor) yang terwujud dalam sikap dan
perilaku petugas kesehatan atau petugas
yang lain.
Menurut Guttman (Hidayat, 2007)
pengukuran perilaku dapat diukur dengan
menggunakan jawaban ya atau tidak, sebagai
berikut:
1. Tidak : 0
2. Ya : 1
Ibu nifas (puerperium) adalah masa
setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-
alat kandungan kembali seperti keadaan
sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama
kira-kira 6 minggu (Saleha, 2009: 2).
Colostrum adalah ASI yang dihasilkan
pada hari pertama sampai hari ketiga setelah
kelahiran bayi. Colostrum merupakan cairan
yang agak kental berwarna kekuning-
kuningan, lebih kuning dibanding ASI matur,
bentuknya agak kasar karena mengandung
butiran lemak dan sel epitel (Retna, 2009: 25).
Menurut Kodrat (2010) kandungan zat-zat
dalam colostrum adalah:
1. Colostrum memiliki dua kali lipat kadar
protein dibanding ASI biasa.
2. Colostrum mengandung kadar gula yang
rendah
3. Vitamin yang terkandung dalam
colostrum adalah vitamin A, B6, B12, C,
D dan K.
4. Zat mineral yang ada di dalam colostrum
sama seperti zat besi dan kalsium.
5. Colostrum banyak mengandung
immunoglobulin (Ig)
6. Leukosit, sel ini menghasilkan antibodi
yang berperan melindungi bayi dari
infeksi pernafasan dan saluran pencernaan
bayi.
7. Laktoferin yang mampu mengikat zat
besi.
8. Lisosim yang dapat melindungi bayi
terhadap bakteri dan virus yang
merugikan.
9. Berbagai macam enzim pencernaan yang
bagus untuk tubuh (lipase, amylase,
protease).
T = 50 + 10
P =
Sm
Sp
x 100%
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 8
Hubungan Sikap Dengan Perilaku Ibu Post
Partum Tentang Pemberian Colostrum
Perilaku seseorang dipengaruhi oleh
sikap (attitude) sedangkan sikap yang
terbentuk dipengaruhi oleh pengetahuan
(knowledge). Demikian juga disini perilaku ibu
post partum tentang pemberian colostrum pada
bayi baru lahir bisa saja dipengaruhi oleh sikap
ibu post partum tentang pemberian colostrum
pada bayi baru lahir (Notoatmodjo, 2003).
Terbentuknya suatu perilaku, dimulai dari
pemahaman informasi (stimulus) yang baik,
kemudian sikap yang ditunjukkan akan sesuai
dengan informasi. Kemudian sikap akan
menimbulkan respons berupa perilaku atau
tindakan terhadap stimulus atau objek tadi.
Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah observasional, Desain
penelitian dalam penelitian ini adalah analitik,
dengan pendekatan Cross Sectional". populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh ibu post
partum di Ruang Nifas RSUD dr. Iskak
Tulungagung sejumlah 86 ibu post partum.
Penelitian ini dilaksanakan tanggal 19 Maret
sampai dengan 1 April 2012 di Ruang Nifas
RSUD dr. Iskak Tulungagung. Setelah data
terkumpul kemudian dilakukan analisa data
dengan tahap-tahap editing, coding, scoring
dan tabulating kemudian dilakukan uji statistik
menggunakan Chi-Square.
Hasil Dan Pembahasan
Berdasarkan hasil uji silang antara sikap
dengan perilaku ibu post partum tentang
pemberian colostrum pada bayi baru dari 40
responden, sebagian besar dari responden atau
23 (57,5%), dan 22 (55%) responden tidak
memberikan colostrum. Berdasarkan tabel uji
statistik Chi Square didapatkan nilai p value
0,002<0,05 sehingga Ho ditolak, yang berarti
ada hubungan antara sikap dengan perilaku ibu
post partum tentang pemberian colostrum pada
bayi baru lahir di Ruang Nifas RSUD dr.
Iskak Tulungagung tahun 2012.
Perilaku adalah respon atau reaksi
seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari
luar), oleh karena itu perilaku kesehatan juga
sejalan dengan sikap kesehatan (Notoatmodjo,
2003). Hal ini sesuai dengan konsep K-A-P
(Knowledge-Attitute-Practice) Perilaku
seseorang dipengaruhi oleh sikap (attitude)
sedangkan sikap yang terbentuk dipengaruhi
oleh pengetahuan (knowledge). Demikian juga
disini perilaku ibu post partum tentang
pemberian colostrum pada bayi baru lahir bisa
saja dipengaruhi oleh sikap ibu post partum
tentang pemberian colostrum pada bayi baru
lahir. Dalam penelitian yang dilakukan pada
periode tanggal 19 Maret sampai dengan 31
Maret 2012, menurut peneliti sikap negatif
seseorang dipengaruhi oleh kurangnya
informasi yang mereka dapat, sehingga sikap
tersebut berpengaruh pula pada perilaku yang
akan dilakukan oleh seseorang.
Kesimpulan
1. Sikap responden yang negatif sebanyak 23
(57,5%) responden dari total 40 responden
dan yang tidak memberikan colostrum
sebanyak 22 (55%) responden.
2. Setelah dilakukan perhitungan Chi Square
dengan menggunakan bantuan komputer
diketahui bahwa penelitian yang dilakukan
terhadap 40 responden yang terdapat di
Ruang Nifas RSUD dr. Iskak Tulungagung
menunjukkan bahwa nilai p value
0,002<0,05 sehingga Ho ditolak artinya
Ada hubungan antara sikap dengan
perilaku ibu post partum tentang
pemberian colostrum pada bayi baru lahir
di Ruang Nifas RSUD dr. Iskak
Tulungagung tahun 2012.
Saran
1. Bagi tempat penelitian
Diharapkan lebih memberikan informasi
tentang pentingnya pemberian colostrum
pada bayi baru lahir kepada ibu hamil atau
ibu post partum sehingga dapat
menurunkan Angka Kematiam Bayi
(AKB)
2. Bagi responden
Diharapkan ibu/responden untuk
memberikan colostrum untuk bayinya
sehingga di kemudian hari dapat mencegah
terjadinya penyakit pada bayi.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan peneliti dapat lebih
mengembangkan dan meningkatkan lebih
lanjut penelitianya tentang pemberian
colostrum pada bayi baru lahir.
4. Bagi institusi pendidikan
Diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi
mahasiswa untuk meneruskan penelitian
ini dengan lebih baik lagi.
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 9
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi, 2002. Prosedur
Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Hal 209.
Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta:
Rineka Cipta. Hal.130, 235- 236.
Azwar, S. 2007. Sikap Manusia Teori dan
Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar. Hal 156.
Depkes RI, 2009. Buku Panduan PWS-KIA.
Hal 1-2.
Hastanto, Sutanto. 2001. Modul Analisis Data.
Depok: Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia.
Hal 113, 115.
Hidayat. 2007. Metode Penelitian Kebidanan
dan Teknik Analisa Data. Jakarta:
Salemba Medika. Hal 102
http//:www.depkes.tulungagung.go.id. 2011
Profil DepKes Tulungagung 2010.
diakses pada tanggal 14 Oktober
2011 pukul 14.30 WIB
http//:www.dinkes.jatimprov.go.id. 2011.
Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur
2010. diakses pada tanggal 14 Oktober
2011 pukul 14.00 WIB
Kodrat, Laksono. 2010. Dahsyatnya ASI &
Laktasi Untuk Kecerdasan Buah Hati
Anda. Yogyakarta: Media Baca. Hal
36-44
Muchtadi, Deddy. 2002. Gizi Untuk Bayi.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Hal
12
Notoatmodjo, Soekidjo. 2002. Metodologi
Penelitian Suatu Pendekatan.
Jakarta: Rineka Cipta. Hal 48, 145.
_________. 2003. Metodologi Penelitian Suatu
Pendekatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Hal 130, 132.
_________. 2005. Metodologi Penelitian Suatu
Pendekatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Hal 43, 64, 138.
Nursalam. 2003. Konsep-konsep Metodologi
Penelitian Ilmu Keperawatan
Pedoman Skripsi, Tesis dan
Instrumen Penelitian Keperawatan.
Edisi I. Jakarta: Salemba Medija. Hal
79, 93,96, 97-98,101,106,119.
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Surabaya: Salemba
Medika. Hal 59,91,111.
Purnomo,Windhu. 2009. Metodologi
Penelitian Kuantitatif. Surabaya:
Universitas Airlangga. Hal 23,27.
Retna, Eny. 2009. Asuhan Kebidanan Nifas.
Yogyakarta: Mitra Cendikia. Hal 25
Roesli, Utami. 2005. Panduan Praktis
Menyusui. Jakarta: Puspa Swara. Hal
13
Saleha, Sitti. 2009. Asuhan Kebidanan pada
Masa Nifas. Jakarta: Salemba
Medika. Hal 4-5
Setiawan dan Saryono. 2010. Metodologi
Penelitian Kebidanan. Yogyakarta:
Nusa Medika.
Sugiyono. 2004. Metode Penelitian
Administrasi. Cetakan VIII.
Bandung: Alfabeta. Hal 73-76.
Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial. Edisi
IV. Yogyakarta: Andi Offset. Hal
110-111, 145
Wulandari, Diah. 2010. Asuhan Kebidanan
Nifas. Jakarta: Nuha Medika.
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 10
ANALISIS PENGETAHUAN DENGAN SIKAP TENTANG PEMANFAATAN
BUKU KIA OLEH KADER POSYANDU STUDY PADA KADER POSYANDU
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JUNJUNG KECAMATAN
SUMBERGEMPOL KABUPATEN TULUNGAGUNG
TAHUN 2012
Oleh :
SITI MARYAM, SST. M.Kes
Cadre knowledge has very important role in applying posyandu in the field so its existence need
to be maintained. Percentage of active cadre is about 69,2% and drop out cadre is 30,8%. Posyandu
revitalization, nationally proclaimed by mendagri in 2001, so the research good to know knowledge
and attitude relationship of KIA book usage by posyandu cadre study in posyandu cadre in work area
of Puskesmas Junjung Sumbergempol city Tulungagung districk in the year of 2012. Design
observation analytical research is research types using time approach crossectional.
The result of research shows that of respondent have good knowledge is 12 respondent (60%)
from the total of 20 respondent, attitude most respondent have positive attitude i.e.11 respondent
(55%) while the result of statistic test Chi Square fiand out p value = 0,001 significance =0,05 so Ho
rejected and Hi received which mean that there are significance relationship between knowledge and
cadre attitude about KIA book usage.
Pendahuluan
Kesehatan ibu dan anak merupakan
salah satu wujud hak asasi perempuan dan
anak. Kesehatan ibu dan anak di Indonesia
masih belum menggembirakan. Hal tersebut
terlihat dari, masih tingginya angka kematian
ibu (AKI) yaitu 334 per seratus ribu kelahiran
hidup dan angka kematian bayi baru lahir 21,8
per seribu kelahiran hidup (SDKI, 1977).
Menurut data dari survey demografi kesehatan
Indonesia (SDKI) 2002/2003, AKI di
Indonesia adalah 307 per 100.000 kelahiran
hidup. Masalah tersebut salah satunya
dilatarbelakangi masyarakat yang kurang
memetingkan kesehatan ibu dan anak yang
mana jika ditelaah kurang memahaminya isi
dari buku KIA.
Posyandu merupakan salah satu bentuk
pendekatan pertisipasi masyarakat di bidang
kesehatan yang dikelola oleh kader posyandu
yang telah mendapatkan pendidikan dan
pelatihan dari puskesmas. Kader posyandu
memiliki peranan penting karena merupakan
pelayanan kesehatan (health provider) yang
berada dekat kegiatan sasaran posyandu.
Persentase kader aktif nasional adalah
69,2% dan kader drop out sebesar 30,8%.
Revitalisasi posyandu secara nasional
dicanangkan oleh Mendagri pada tahun 2001
sehingga upaya membangkitkan kinerja
posyandu termasuk di dalamnya adalah kader
posyandu (Surinah, 2007). Berdasarkan profil
Kesehatan Jawa Timur tahun 2003, pada tahun
2002 jumlah posyandu mengalami penurunan
sebanyak 1,145% posyandu dibandingkan
tahun 2001. Demikian juga dengan jumlah
kader aktif pada tahun 2002 mengalami
penurunan 23,98% kader dibandingkan dengan
tahun 2001 (Surinah, 2007).
Tujuan Penelitian
Mengetahui analisis hubungan
pengetahuan dan sikap tentang pemanfaatan
buku KIA oleh kader posyandu study pada
kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas
Junj ung Kecamatan Sumbergempol
Kabupaten Tulungagung tahun 2012.
Metode Penelitian
Jenis penelitiannya observasional,
desainnya adalah analitik dengan pendekatan
korelasi untuk menjelaskan hubungan antara
variabel bebas terhadap variabel terikat melalui
pengujian hipotesis yang telah dirumuskan.
Pendekatan waktu yang digunakan adalah
cross sectional.
Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh kader posyandu di wilayah kerja
Puskesmas Junjung di Kabupaten
Tulungagung. Prosedur Sampel dan Sampel
Penelitian dengan menggunakan tehnik total
sampling dan setelah dilakukan kriteria inklusi
dan eksklusi didapatkan jumlah sampel
sebanyak 20 responden.
Pengolahan data dengan menggunkan
langkah editing, coding, scoring dan
tabulating. Analisis bivariat dilakukan untuk
melihat hubungan dua variabel independen dan
variabel dependen. Uji statistik yang
digunakan adalah Chi-square.
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 11
Hasil Dan Pembahasan
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa
sebagian besar responden yaitu 12 responden
(60%) dari 20 total responden berpengetahuan
baik tentang pemanfaatan buku KIA dan
bersikap positif tentang pemanfaatan buku
KIA. Berdasarkan hasil uji statistik Chi square
menunjukkan bahwa semakin baik
pengetahuan maka jumlah sikap positif
semakin meningkat.
Dari hasil perhitungan Chi square,
diketahui bahwa penelitian yang dilakukan
terhadap 20 responden di wilayah Kerja
Puskesmas Junjung Kecamatan Sumbergempol
Kabupaten Tulungagung Tahun 2012
menunjukkan 0.000 < 0.05 maka Ho ditolak
dan Hi diterima artinya ada hubungan yang
signifikan antara pengetahuan dengan sikap
tentang pemanfaatan buku KIA.
Menurut Notoatmodjo (2003) hal ini
dapat disebabkan oleh faktor pengetahuan
yang memegang peranan penting dalam
menentukan sikap karena pengetahuan akan
membentuk kepercayaan yang selanjutnya
akan memberikan perspektif pada manusia
dalam mempersiapkan kenyataan, memberikan
dasar bagi pengambilan keputusan dan
menentukan sikap terhadap obyek tertentu.
Pengetahuan yang dilatar belakangi
oleh umur, pendidikan dan pengalaman yang
akan cenderung berpengaruh positif pada sikap
seseorang. Oleh karena itu sikap terhadap
kesehatan juga sejalan dengan pengetahuan
tentang kesehatan. Pengetahuan kader tentang
pemanfaatan buku KIA merupakan salah satu
faktor pendukung terbentuknya sikap kader
posyandu yang mana dampak yang diharapkan
yaitu sikap yang positif juga pada masyarakat
tentang Pemanfaatan buku KIA yang
diperlukan dalam pemantauan kesehatan ibu
dan anaknya.
Kesimpulan
1. Sebagian besar dari responden
berpengetahuan baik yaitu sebanyak 12
responden (60%) dari total 20 responden.
2. Sebagian besar dari responden bersikap
positif yaitu sejumlah 11 responden (55%)
dari total 20 responden.
3. Berdasarkan hasil uji statistik Chi Square
diperoleh p value = 0.001 dengan
signifikan = 0.05 sehingga Ho ditolak dan
Hi diterima yang berarti ada hubungan
yang signifikan antara pengetahuan dengan
sikap Kader tentang pemanfaatan buku
KIA.
Saran
1. Bagi Tempat Penelitian
Diharapkan masyarakat (ibu) mau
lebih meningkatkan pengetahuan di bidang
kesehatan utamanya yang menyangkut
masalah kesehatan dan dapat digunakan
sebagai masukan dalam penyusunan
program kesehatan tentang pemanfaatan
buku KIA
2. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan memberikan motivasi
dan meningkatkan kesadaran masyarakat
tentang pentingnya pemanfaatan buku KIA
melalui penyuluhan-penyuluhan atau atau
memperbanyak iklan baik di media
elektronik, media massa, ataupun
pemasangan poster-poster.
3. Bagi Responder
Diharapkan bagi kader kesehatan
untuk menambah pengetahuannya tentang
kesehatan utamanya tentang pemanfaatan
buku KIA dengan cara mengikuti setiap
kegiatan yang membawa informasi tentang
kesehatan ibu dan anak.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan dapat menjadi wahana
penelitian dan tambahan pengetahuan
tentang hubungan pengetahuan dan sikap
kader tentang pemanfaatan buku KIA.
Daftar Pustaka
Arikunto, S. 2000. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka
Cipta.
_______. 2000. Prosedur Penelitian, Jakarta:
Rineka Cipta.
Azwar. 2007. Sikap Manusia Teori dan
Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
______. 2009. Sikap Manusia Teori dan
Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Dep Kes RI. Petunjuk Pelaksanaaan Program
Peminat Kesehatan Ibu Dan Anak.
Bina Kesehatan Keluarga. Jakarta.
1993.
Dep Kes RI. Petunjuk Pelaksanaaan Program
Peminat Kesehatan Ibu Dan Anak.
Bina Kesehatan Keluarga. Jakarta.
2003.
Hidayat. 2003. Metode Penelitian. Jakarta:
Salemba Medika.
_______. 2007. Metode Penelitian Kebidanan
Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba
Medika.
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 12
Hasanbasri dkk. 2006 Kegiatan Pelayanan
KIA, Bina Pustaka. Jakarta
Iswanti, Cahyo dkk. 2010. Posyandu dan Desa
Siaga. Bantul: Nuha Medika
Ivander. 2007. Kesehatan Ibu. Jakarta:
Salemba Medika.
Manuaba, Ida Bagus. 1998. Ilmu Kebidanan
Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana. Jakarta .
Meilani, Niken dkk, 2009. Kebidanan
Komunitas. Yogyakarta: Fitramaya.
Men Kes RI. Gerakan Partisipatif
Penyelamatan Ibu Hamil, Menyusui
dan Bayi. Jakarta. 2003.
Mochtar R. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid 1.
Ed.2 Jakarta.
Notoadmodjo. 2002. Pendidikan dan Perilaku
Kesehatan. Jakarta Salemba
Medika.
_______. 2003. Pendidikan dan Perilaku
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
_______. 2005. Metodologi Penelitian
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam. 2001. Metodologi Penelitian.
Jakarta: Salemba Medika.
_______. 2003. Konsep-konsep Metodologi
Penelitian Ilmu
Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis
dan Instrumen Penelitian
Keperawatan. Ed. 1. Jakarta: Salemba
Medika.
Surinah, 2001. Posyandu dan Kader
Kesehatan. Tulungagung.co.id.
Accesed August 25th 2007 clock 10.15
a.m.
Tesis Siti Maryam. 2011. Analsis Faktor yang
Mempengaruhi Implementasi Program
SDIDTK Anak oleh Bidan di
Kabupaten Tulunagung Propinsi Jawa
Timur Tahun 2011. Undip. Semarang.
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 13
STUDI KOMPARATIF BERAT BADAN SEBELUM DAN SESUDAH
MENGGUNAKAN KB SUNTIK 3 BULAN DI BPS TITIN
DESA BANGUNJAYA KECAMATAN PAKEL
KABUPATEN TULUNGAGUNG
TAHUN 2012
Oleh :
MERLINDA DIYAS OCTIA
RINI SULISTYOWATI, SST
AINUN HANIFA, S.Si.T
Shortage of injectable contraceptives, one of which weight gain. The Purpose of the study to
determine maternal weight difference before and after using the 3-month injectable KB BPS Titin
Bangunjaya Village Pakel District Tulungagung 2011. The research was conducted on February 13 to
March 3, 2012. This type of research is pre experimental, analytical design using a design with ex post
facto. Samples were taken with accidental sampling technique from 30 samples. Data were analyzed
with the Wilcoxon test using SPPS program.
The results obtained from a total of 30 family planning acceptors Injection 3 months, almost
entirely of 24 respondents (80%) experienced weight gain after using the KB Syringe 3 months for 1
year. Test Wilcoxon Signed Rank Test statistic values obtained Exact Sig. (2-tailed) = 0.001 is smaller
than the value of 0.05, so that Ho is rejected, meaning that the weight difference before and after
using the KB Syringe 3 Months in BPS Titin Bangunjaya Village District Pakel Tulungagung District.
Pendahuluan
Program keluarga berencana (KB)
merupakan salah satu upaya untuk
meningkatkan kesejahteraan keluarga dan
mengendalikan angka kelahiran (Bappenas,
2010: V.2). Salah satu jenis kontrasepsi
efektif yang menjadi pilihan kaum ibu adalah
KB suntik, ini disebabkan karena aman,
efektif, sederhana dan murah. Masalahnya
para akseptor KB suntik biasanya mengeluh
tentang terjadinya peningkatan berat badan
setelah beberapa kali menggunakan KB
suntik.
N
o
Tahun
Jumlah
PUS
Akseptor
KB
Suntik 3
Bulan
Akseptor
yang
mengalami
kenaikan
BB
1 2008 6.185.410 487.183 270.951
2 2009 6.248.972 531.278 302.809
Sumber: BKKBN Jatim 2010
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan
tingginya akseptor KB Suntik 3 bulan yang
mengalami kenaikan berat badan. Hal tersebut
menunjukkan bahwa pemakai KB Suntik 3
bulan mempunyai kecenderungan mengalami
kenaikan berat badan. Pertambahan berat badan
tersebut bisa saja menjadi salah satu penghalang
suksesnya program Keluarga Berencana. Hal ini
dikarenakan calon akseptor KB merasa takut
gemuk kalau mengikuti KB suntik 3 bulanan
(Nurwitasari, 2010).
Tujuan Penelitian
Mengetahui perbedaan berat badan
sebelum dan sesudah menggunakan KB suntik
3 bulan di BPS Titin desa Bangunjaya
kecamatan Pakel kabupaten Tulungagung
tahun 2012.
Tinjauan Pustaka
Sesuai dengan Undang-undang Republik
Indonesia nomor 52 tahun 2009 pasal 1 alinea
8 bahwa KB adalah upaya mengatur kelahiran
anak, jarak dan usia ideal melahirkan,
mengatur kehamilan, melalui promosi,
perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak
reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang
berkualitas. sasaran program KB nasional 5
tahun mendatang seperti tercantum dalam
RPJM (2004-2009) adalah sebagai berikut:
1. Menurunnya ratarata laju pertumbuhan
penduduk secara nasional menjadi
1,14% per tahun menurunkan angka
kelahiran Total Fertility Rate (TFR)
menjadi 2,2 per perempuan
2. Meningkatnya peserta KB pria menjadi
4,5%
Menurut Prawiroharjo (2006: 42)
Keuntungan KB suntik 3 bulan:
1. Sangat efektif untuk pencegahan
kehamilan jangka panjang
2. Tidak berpengaruh terhadap hubungan
suami istri
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 14
3. Tidak mengandung estrogen sehingga
tidak berdampak serius terhadap penyakit
jantung dan gangguan pembekuan
darah
4. Tidak berpengaruh terhadap ASI
5. Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
6. Dapat digunakan untuk wanita usia 35
tahun sampai premenopause
7. Membantu mencegah kanker
endometrium dan kehamilan ektopik
8. Menurunkan kejadian penyakit kanker
payudara
9. Menurunkan krisis anemia bulan sabit
Menurut Prawiroharjo (2006: 43)
Kerugian KB suntik 3 bulan
1. Sering ditemukan gangguan siklus haid
seperti memendek atau memanjang
2. Perdarahan yang banyak atau sedikit
3. Perdarahan tidak teratur atau bercak
(spoting)
4. Tidak haid sama sekali
5. Permasalahan berat badan merupakan
efek samping tersering
6. Tidak menjamin terhadap perlindungan
penularan penyakit menular seksual
Efek samping KB suntik 3 Bulan
terhadap perubahan berat badan:
Pemakaian KB suntik 3 bulan mempunyai
efek samping utama yaitu perubahan berat
badan. Adapun faktor yang mempengaruhi
perubahan berat badan akseptor KB suntik 3
bulan adalah adanya hormon progesteron kuat
sehingga merangsang hormon nafsu makan
yang lebih banyak dari biasanya, tubuh akan
kelebihan zat-zat gizi. Kelebihan zat-zat gizi
ini oleh hormon progesteron dirubah menjadi
lemak dan disimpan di bawah kulit.
Perubahan berat badan ini akibat adanya
penumpukan lemak yang berlebih, hasil
sintesa dari karbohidrat menjadi lemak
(Mansjoer, 2003).
Wanita yang menggunakan Depo
Medroxy Progesterone Acetate (DMPA) rata-
rata mengalami peningkatan berat badan
sebanyak 11 pon atau 5,5 kilogram, dan
mengalami peningkatan lemak tubuh
sebanyak 3,4% dalam waktu 3 tahun
pemakaian, berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh University of Texas Medical
Branch (UTMB) (Mansjoer, 2003: 354).
Sebuah penelitian juga melaporkan
peningkatan berat badan lebih dari 2,3
kilogram pada tahun pertama dan selanjutnya
meningkat secara bertahap hingga mencapai
7,5 kilogram selama enam tahun (Varney,
2007: 483,484).
Penanganan bila terjadi perubahan berat
badan:
1. Informasikan bahwa dapat terjadi
kenaikan atau penurunan berat badan
sebanyak 1-2 kg
2. Bila berat badan meningkat anjurkan
untuk diet rendah kalori dan bila berat
badan menurun anjurkan diet tinggi
protein dan kalori
3. Bila berat badan berlebihan hentikan
suntik KB dan anjurkan kontrasepsi lain
Dampak peningkatan berat badan pada
KB suntik 3 bulan Menurut Nurwitasari
(2010) peningkatan berat badan yang berlebih
dapat menyebabkan berbagai penyakit antara
lain jantung, diabetes mellitus, hipertensi,
kanker, sering menimbulkan beban psikologis
bagi penderitanya, tubuh yang kehilangan
bentuk akan sangat merisaukan terutama bagi
wanita yang berhasrat untuk menurunkan
berat badannya.
Yang dapat menggunakan KB Suntik 3
Bulan Usia reproduksi:
1. Nulipara dan yang telah memiliki anak
2. Menghendaki kontrasepsi jangka panjang
dan yang memiliki efektiftas tinggi
3. Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi
yang sesuai
4. Setelah melahirkan dan tidak menyusui
5. Setelah abortus atau keguguran
6. Telah banyak anak, tetapi belum
menghendaki tubektomi
7. Perokok
8. Tekanan darah (180/110 mmHg), dengan
masalah gangguan pembekuan darah atau
anemia bulan sabit
9. Menggunakan obat untuk epilepsy
(fenitoin dan berbiturat) atau obat
tuberculosis (rifampisin)
10. Tidak dapat memakai kontrasespsi pil
11. Anemia defisiensi besi
12. Mendekati usia menopause yang tidak
mau atau tidak boleh menggunakan pil
kontasepsi kombinasi yang tidak
menggunakan kontrasepsi suntikan
progestin
Yang tidak boleh menggunakan KB
Suntik 3 Bulan:
1. Hamil atau dicurigai hamil (resiko cacat
pada janin 7 per 100.000 kehamilan)
2. Perdarahan pervaginan yang belum jelas
penyebabnya
3. Tidak dapat menerima terjadinya
ganguan haid terutama amenorea
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 15
4. Menderita kanker payudara atau riwayat
kanker payudara diabetes mellitus
disertai komplikasi (Sarwono, 2006:
MK42).
Berubahnya ukuran berat, baik bertambah
atau berkurang akibat dari konsumsi makanan
yang diubah menjadi lemak dan disimpan di
bawah kulit. Menurut Suparyanto (2011: 56)
Perubahan berat badan dibagi menjadi:
1. Berat badan meningkat atau naik jika
hasil penimbangan Berat badan lebih
besar dibandingkan dengan berat badan
sebelumnya.
2. Berat badan tetap jika berat badan sama
dengan berat badan sebelumnya.
3. Berat badan menurun jika hasil
penimbangan berat badan lebih rendah di
bandingkan berat badan sebelumnya.
Penambahan berat badan ideal bila perubahan
berat badan hingga 10% menandakan
kesehatan terganggu (Arisman, 2004: 185).
Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan tanggal 13
Februari s/d 3 Maret 2012. Jenis penelitian ini
adalah penelitian pre eksperimen. Desain dari
penelitian ini adalah analisis komparasi.
Penelitian ini menggunakan rancangan ex post
facto atau sering disebut dengan after the fact.
Artinya, penelitian yang dilakukan setelah
suatu kejadian itu terjadi. Dalam penelitian ini
variabelnya adalah tunggal berpasangan yaitu
variabel tunggal adalah perbedaan berat badan
dan variabel berpasangan adalah berat badan
sebelum menggunakan KB suntik 3 bulan dan
berat badan setelah menggunakan KB suntik 3
bulan.
Populasi dalam penelitian ini adalah
akseptor KB suntik 3 bulan yang berkumjung
di BPS Titin rata-rata dalam 1 bulan sejumlah
50 akseptor. Tehnik sampling dalam
penelitian ini menggunakan accidental
sampling, Jumlah sampel dalam penelitian ini
adalah 30 responden. Langkah-langkah
analisa data meliputi editing, coding, scoring,
tabulating. Untuk mengetahui ada tidaknya
perbedaan berat badan sebelum dan sesudah
menggunakan KB suntik 3 bulan diperlukan
tehnik uji statistik. Tehnik uji statistik yang
dipilih, berdasarkan tujuan uji yaitu
membedakan dan skala yang digunakan
adalah ordinal maka tehnik uji yang di
gunakan adalah Uji peringkat bertanda dari
Wilcoxon signed rank test (Hidayat, 2007:
106).
Hasil Dan Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan
bahwa dari total 30 akseptor KB Suntik 3
bulan, hampir seluruhnya dari responden 24
(80%) berat badan sesudah menggunakan KB
suntik 3 bulan adalah naik. Berdasarkan uji
statistic Wilcoxon Signed Rank Test
didapatkan nilai Exact Sig.(2-tailed) = 0,001
lebih kecil dari nilai 0,05, sehingga Ho
ditolak, artinya ada perbedaan berat badan
sebelum dan sesudah menggunakan KB
Suntik 3 Bulan di BPS Titin Desa Bangunjaya
Kecamatan Pakel Kabupaten Tulungagung.
Suntik KB adalah kontrasepsi yang
menyuntikkan suatu sintesa progestin yang
mempunyai efek seperti progesteron asli dari
tubuh wanita (Prawiroharjo, 2006: 45).
Akseptor KB Suntik 3 Bulan hampir
seluruhnya mengalami kenaikan berat badan,
hal tersebut menunjukkan bahwa kenaikan
berat badan memang merupakan efek samping
utama pada pemakaian KB Suntuk 3 Bulan.
Kenaikan berat badan ini dikarenakan adanya
hormon progesteron yang kuat pada
pemakaian KB Suntik 3 bulan sehingga
merangsang hormon nafsu makan yang lebih
banyak dari biasanya yang menyebabkan
tubuh akan kelebihan zat-zat gizi. Kelebihan
zat-zat gizi tersebut oleh hormon progesteron
dirubah menjadi lemak dan disimpan di
bawah kulit, sehingga dengan bartambahnya
lemak tersebut akan meningkatkan berat
badan pemakai KB Suntik 3 Bulan.
Kesimpulan
1. Dari total 30 akseptor KB Suntik 3 bulan,
seluruhnya dari responden 30 (100%)
berat badan sebelum menggunakan KB
suntik 3 bulan adalah tetap.
2. Dari total 30 akseptor KB Suntik 3 bulan,
hampir seluruhnya dari responden 24
(80%) berat badan sesudah menggunakan
KB suntik 3 bulan adalah naik.
3. Uji statistic Wilcoxon Signed Rank Test
didapatkan nilai Exact Sig.(2-tailed) =
0,001 lebih kecil dari nilai 0,05,
sehingga Ho ditolak, artinya ada
perbedaan berat badan sebelum dan
sesudah menggunakan KB Suntik 3
Bulan di BPS Titin Desa Bangunjaya
Kecamatan Pakel Kabupaten
Tulungagung
Saran
1. Bagi Peneliti
Dapat dijadikan sebagai pengabdian
kepada masyarakat sebagai wujud
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 16
Tridharma pendidikan
2. Bagi Responden (Akseptor KB 3 Bulan)
Disarankan untuk meningkatkan
pengetahuan dan pemahamannya tentang
KB suntik 3 bulan melalui konsultasi
dengan bidan atau petugas kesehatan lain
3. Bagi Tempat Penelitian (BPS Titin)
Hendaknya lebih banyak memberikan
wawasan kepada aksptor KB tentang efek
samping KB Suntik 3 bulan sehingga
lebih bisa memahami efek samping dari
KB Suntik 3 bulan.
4. Kepada Institusi Pendidikan (Prodi D III
Kebidanan Universitas Tulungagung)
Hendaknya mengadakan seminar-
seminar akademik/ilmiah yang
berhubungan dengan kontrasepsi kepada
masyarakat khususnya pasangan usia
subur, sehingga masyarakat lebih
memahami tentang kontrasepsi dan efek
sampingnya, dengan harapan masyarakat
lebih teliti dalam memilih dan
menggunakan kontrasepsi.
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta. Hal: 209.
Arisman. 2004. Gizi Dalam Daur Kehidupan.
Buku Kedokteran ECG. Jakarta. Hal:
185.
Arum. DNS dan Sujiyatini. 2009. Panduan
Lengakap Pelayanan KB Terkini.
Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.
Hal: 28, 31, 169, 206.
Binadiknakes. 2001. Pengaruh KB Suntik
Terhadap Perubahan Berat Badan.
Edisi No 17.
BKKBN Kabupaten Tulungagung. 2011.
Profil Kesehatan Kabupaten
Tulungagung 2010. Tulungagung:
Dinkes.
BKKBN Jawa Timur. Profil Kesehatan Jawa
Timur. Surabaya: Dinkes.
BKKBN. 2011. Pelayanan Kontrasepsi.
Jakarta: BKKBN.
Furchan, A. 2002. Pengantar Penelitian
dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar. Hal: 383.
Hartanto, Hanafi. 2003. Keluarga Berencana
dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka.
Sinar Harapan. Hal: 98, 106-107, 113,
116, 118, 121, 163.
Hidayat, Alimul Aziz. 2003. Metode
Penelitian Kebidanan Teknik Analisa
Data. Jakarta: Salemba Medika. Hal:
34.
Mansjoer. 2003. Pengaruh KB Suntik
terhadap Perubahan Berat Badan.
http://mutupelayananseorangbidan.blo
gspot.com/2011/02_01archive...
Mochtar R. 2002. Sinopsis Obstetri. ed 3.
Jakarta: EGC. Hal: 24.
Notoatmodjo. 2002. Metodologi Penelitian
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam. 2003. Metodologi Riset
Keperawatan. Jakarta: Infomedika.
Hal: 81, 96-97, 100-101, 119.
Nurwitasari, Dyah. 2010. Perbedaan antara
penggunaan KB suntik dan KB pil
dengan peningkatan berat badan.
digilib.unimus.ac.id. 14/11/2011.
10.55.
Prawirohardjo, Sarwono. 2006. Buku
Panduan Praktis Pelayanan
Kontrasepsi Edisi 2. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Hal: 42-43, 45-46.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,
2004. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Hal: 472.
Renstra 2005-2009. Rencanan Strategis
Perkembangan Program KB
di Indonesia. Jakarta: BKKBN.
Saifuddin. AB. 2002. Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Hal: 168, 171.
Silalahi, Ulber. 2003. Metode Penelitian
Sosial. Bandung: PT. Refika Aditama.
Hal: 38.
Sugiono. 2003. Metode Penelitian Kuantitatif
Kualitatif. Jakarta: Alfabeta. Hal: 133.
Supariasa, I.D.N. 2001. Penilaian Status Gizi.
Jakarta: EGC. Hal: 56.
Suzilawati. 2009. Keluarga Berencana (KB)
Dan Alat Kontrasepsi Suntik.
suparyanto.web.id. 12/11/2011. 10.15
AM.
Suparyanto. 2011. Keluarga Berencana (KB)
Dan Alat Kontrasepsi Suntik.
suparyanto.web.id. 12/11/2011. 10.55
AM. Hal. 56.
Varney. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan
edisi 4. Jakarta: EGC. Hal: 483-484.
Wiknjosastro. 2006. Ilmu Kandungan.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo. Hal: 534
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 17
HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DENGAN KEJADIAN
ASFIKSIA NEONATORUMDI RUANG MAWAR RSUD dr. ISKAK
KABUPATEN TULUNGAGUNG
TAHUN 2011
Oleh :
RATIH INDRA DRIVIANA
NUNIK NINGTIYASARI, S.Si.T
AINUN HANIFA, S.Si.T
Asphyxia is a condition in which the newborn is not breathing spontaneously immediately after
birth and regularly. Study aims to determine the relationship between low birth weight with neonatal
asphyxia event in the Rose Room Hospital dr. Iskak Tulungagung in 2011. The purpose of this study
tends to examine the association between low birth weight with the incidence of neonatal asphyxia in
the Rose Room Hospital dr. Isaac Tulungagung in 2011.
The research was conducted in September 2011. This type of research in this study was
observational, analytical research design that is corelasional crossectional approach. . The
population in this study is All neonates in the Rose Room Hospital dr. Iskak Tulungagung
District. Samples were taken with the technique of sampling a total of 112 samples. Data were
analyzed by Chi Square test using SPPS program. Chi Square test statistic with a 0.05 earned
significant p value 0.001 where 0.001 <0.05, so H0 is rejected and H1 accepted, meaning there is a
relationship between the incidence of LBW in the incidence of neonatal asphyxia in hospitals dr. Iskak
Tulungagung in 2011.
Pendahuluan
BBLR yang tidak ditangani dengan baik
dapat mengakibatkan timbulnya masalah pada
semua sistem organ tubuh. Selain itu bayi berat
lahir rendah dapat mengalami gangguan
mental dan fisik serta tumbuh kembang. BBLR
berkaitan dengan tingginya angka kematian
bayi dan balita. Asfiksia neonatorum bisa
menyebabkan pendarahan otak dan
hidrosefalus.
Sementara untuk AKB, berdasarkan
perhitungan dari BPS, pada tahun 2007
diperoleh AKB sebesar 26,9/1000 KH, tahun
2009 sebesar 25/1000 KH. Adapun target AKB
pada MDGs 2015 sebesar 17/1000 KH.
Sedangkan penyebab kematian neonatal pada
tahun 2009 antara lain karena BBLR 29%,
asfiksia 27%, masalah pemberian minum 10%,
tetanus 10%, gangguan hematologi 6%, infeksi
5% dan lain-lain 13% (Rachmawaty, 2009 : 1).
Menurut Dirjen Bina Gizi dan KIA (2011: iii)
tingginya angka kejadian dan angka kematian
BBLR salah satunya diakibatkan komplikasi
seperti Asfiksia, Infeksi, Hipotermia,
Hiperbilirubinemia.
Asfiksia neonatorum dikategorikan kasus
kedaruratan neonatal, bahkan sangat berisiko
untuk terjadinya kematian neonatal.
Diperkirakan bahwa sekitar 23% seluruh angka
kematian neonatus di seluruh dunia disebabkan
oleh asfiksia neonatorum, dengan proporsi
lahir mati yang lebih besar. Bayi dengan
BBLR/prematur kurang sempurna
pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya
terutama paru-paru sehingga sangat peka
terhadap gangguan pernafasan yang
berdampak pada asfiksia (Saifudin, 2005: 167).
Tujuan Penelitian
Mengetahui hubungan antara berat badan
lahir rendah dengan kejadian asfiksia
neonatorum di Ruang Mawar RSUD dr. Iskak
Tulungagung tahun 2011.
Tinjauan Pustaka
Berat Badan lahir Rendah (BBLR) juga
dapat diartikan sebagai bayi yang lahir dengan
berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa
memandang masa kehamilan (Depkes RI,
2009). Faktor-faktor yang berhubungan
dengan BBL:
1. Ibu hamil pada umur :
a. Kurang dari 20 tahun atau lebih dari
35 tahun
b. Jarak kehamilan terlalu pendek
(kurang dari 1 tahun)
2. Ibu dengan keadaan :
a. Mempunyai BBLR sebelumnya
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 18
b. Mengerjakan pekerjaan fisik
beberapa jam tanpa istirahat
c. Sangat miskin
d. Beratnya kurang dan kurang gizi
e. Perokok, pengguna obat terlarang,
alcohol
3. Ibu hamil dengan masalah-masalah seperti
a. Anemia berat
b. Pre eklamsia atau hipertensi
c. Infeksi selama kehamilan
d. Kehamilan ganda
4. Bayi dengan :
a. Cacat bawaan
b. Infeksi selama dalam kandungan
Faktor-faktor yang mempengaruhi berat
badan lahir rendah:
1. Status gizi ibu hamil
2. Asupan nutrisi pada ibu hamil
3. Usia ibu hamil
4. Jarak kehamilan ibu yang terlalu pendek
(kurang dari 1 tahun)
5. Kebiasaan dan gaya hidup ibu hamil
6. Komplikasi yang dialami ibu selama
hamil
7. Penyakit yang menyertai kehamilan
8. Usia gestasi pada saat bayi lahir
Masalah-masalah BBLR:
1. Asfiksia
2. Gangguan napas
3. Hipotermi
4. Hipoglikemi
5. Masalah pemberian ASI
6. Infeksi
7. Hiperbilirubinemia
8. Masalah perdarahan
BBLR perlu mendapat perhatian dan
tatalaksana yang baik pada saat lahir, yaitu
harus mendapat Pelayanan Neonatal
Esensial yang terdiri atas :
1. Persalinan yang bersih dan aman
2. Stabilisasi suhu
3. Inisiasi pernapasan spontan
4. Pemberian ASI dini dan eksklusif
5. Pencegahan infeksi dan pemberian
imunisasi
Asfiksia neonatorum adalah keadaan
dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara
spontan dan teratur setelah lahir. Bila terdapat
gangguan pertukaran gas atau pengangkutan
oksigen dari ibu ke janin, akan terjadi asfiksia
janin neonatus. Gangguan ini dapat timbul
pada masa kehamilan, persalinan atau segera
setelah lahir. asfiksia neonatorum dapat dibagi
dalam :
1. Skor Apgar : 7-10. Dalam hal ini bayi di-
anggap sehat dan tidak memerlukan
tindakan istimewa.
2. Asfiksia sedang. Skor Apgar 4-6. Pada
pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi
jantung lebih dari 100/menit, tonus otot
kurang baik atau baik, sianosis, refleks
iritabilitas tidak ada.
3. Asriksia berat. Skor apgar 0-3. Pada
pemeriksaan finis ditemukan frekuensi
jantung kurang dari 100/menit, tonus otot
buruk, sianosis berat dan kadarig-kadang
pucat, refleks-iritablitas tidak ada.
Tujuan utama mengatasi asfiksia ialah
untuk mempertahankan kelangsungan hidup
bayi dan membatasi gejala sisa yang mungkin
timbul di kemudian hari. Tindakan yang
dikerjakan pada bayi lazim disebut resusitasi
bayi baru lahir.
Konsep Hubungan Berat Badan Lahir Rendah
dengan Asfiksia Neonatorum
Berat badan lahir rendah akan
menimbulkan komplikasi medis yang lebih
berpengaruh terhadap morbiditas dan
mortalitas janin yang dilahirkan, hal ini
disebabkan oleh kekurangan surfaktan,
pertumbuhan dan pengembangan paru yang
belum sempurna, otot pernapasan yang masih
lemah dan tulang iga yang mudah melengkung,
perdarahan intraventikuler, 50% bayi prematur
menderita perdarahan intraventikuler. Hal ini
disebabkan oleh karena bayi prematur sering
menderita apneu, afiksia berat dan sindroma
gangguan pernapasan (Dedy, 2008). BBLR
bisa kurang, cukup bulan atau lebih bulan
semuanya berdampak pada proses adaptasi
pernafasan waktu lahir sehingga mengalami
asfiksia lahir.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal
15 Februari 2012. Jenis penelitian ini adalah
penelitian observasional. Desain penelitian
yang digunakan adalah analitik. Pendekatan
yang digunakan adalah pendekatan Cross
Sectional". Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh neonatus yang ada di Ruang
Mawar RSUD dr. Iskak Kabupaten
Tulungagung bulan September 2011 sejumlah
112 neonatus. Teknik pengambilan sampel
yang digunakan dalam penelitian ini adalah
jenis non probability sampling dengan metode
total sampling. Jumlah sampel dalam penelitan
ini adalah 112 responden.
Setelah data terkumpul kemudian
dilakukan analisa data dengan tahap-tahap
editing, coding, scoring, tabulating. Teknik uji
statistik yang dipilih berdasarkan tujuan uji
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 19
yaitu hubungan (kolerasi atau asosiasi) dan
skala data berat badan bayi yaitu nominal dan
asfiksia neonatorum adalah nominal.
Berdasarkan acuan tersebut maka digunakan
Uji Chi Square.
Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari
total 112 neonatus sebagian besar 62 (55,36%)
adalah BBLN dan tidak mengalami asfiksia
neonatorum. Uji statistik Chi Square dengan
signifikan 0,05 didapatkan p value 0,001
dimana 0,001 < 0,05 sehingga H
0
ditolak dan
H
1
diterima, yang berarti ada hubungan antara
BBLR dengan kejadian asfiksia neonatorum di
RSUD dr. Iskak Tulungagung.
Menurut Dirjen Bina Gizi dan KIA (2011:
iii) tingginya angka kejadian dan angka
kematian BBLR salah satunya diakibatkan
komplikasi seperti Asfiksia, Infeksi,
Hipotermia, Hiperbilirubinemia. Bayi dengan
BBLR/prematur kurang sempurna
pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya
terutama paru-paru sehingga sangat peka
terhadap gangguan pernafasan yang
berdampak pada asfiksia. Berat badan lahir
rendah akan menimbulkan komplikasi medis
yang lebih berpengaruh terhadap morbiditas
dan mortalitas janin yang dilahirkan, hal ini
disebabkan oleh kekurangan surfaktan,
pertumbuhan dan pengembangan paru yang
belum sempurna, otot pernapasan yang masih
lemah
Teori tersebut sesuai dengan fakta di
RSUD dr. Iskak dimana sebagian besar dari
neonatus mempunyai berat badan lahir normal,
sehingga dengan berat badan lahir normal
tersebut menyebabkan neonatus tidak
mengalami asfiksia neonatorum. Namun
demikian juga ada sebagian kecil kejadian
asfiksia neonatorum di RSUD dr. Iskak, hal
tersebut dikarenakan ada juga sebagian kecil
responden yang lahir dengan BBLR dimana
bayi dengan BBLR/prematur kurang sempurna
pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya
terutama paru-paru sehingga sangat peka
terhadap gangguan pernafasan yang
berdampak pada asfiksia.
Kesimpulan
1. Dari total 112 neonatus yang ada di
RSUD dr. Iskak Tulungagung, sebagian
besar dari responden 81 (72,32%)
mempunyai berat badan lahir normal.
2. Dari total 112 neonatus, sebagian besar 73
(65,18%) neonatus yang ada di RSUD dr.
Iskak Tulungagung tidak mengalami
asfiksia neonatorum.
3. Berdasarkan uji statistik Chi Square
dengan signifikan 0,05 didapatkan p value
0,001 dimana 0,001 < 0,05 sehingga H
0
ditolak dan H
1
diterima, yang berarti ada
hubungan antara BBLR dengan kejadian
asfiksia neonatorum di RSUD dr. Iskak
Tulungagung.
Saran
1. Bagi Tempat Penelitian
Disarankan hendaknya meningkatkan
kemampuan dalam pengawasan dan
pelayanan antenatal serta penanganan
neonatus dengan komplikasi dengan
memberikan pelatihan yang berkelanjutan
sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang ada.
2. Bagi Instansi Pendidikan
Diharapkan ada kerjasama dengan Dinas
Kesehatan untuk menyelenggarakan
berbagai kegiatan penyuluhan kepada ibu
hamil dan sosialisasi kepada tenaga
kesehatan tentang pengawasan antenatal
paripurna dan teratur
3. Bagi Tenaga Kesehatan
Hendaknya dapat memberikan
pengawasan dan penatalaksanaan yang
tepat serta pengurangan kejadian BBLR
dan asfiksia neonatorum dapat lebih
ditekan.
4. Bagi peneliti selanjutnya
Diharapkan penelitian selanjutnya dapat
meneliti data-data pendukung terhadap
hubungan kejadian BBLR dengan asfiksia
neonatorum dengan mengambil data
primer, sehingga faktor yang berpengaruh
terhadap keduanya dapat diketahui.
Daftar Pustaka
Agus. 2011. Pentingnya Tangis Pertama Bayi.
generasikita.web.id.11/11/2011 11.21
AM.
Arikunto, Suharsini. 2006. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta. Hal: 111.
Bobak, Irene. 2004. Keperawatan Maternitas.
Jakarta : EGC.
Dedy, dkk. 2008. Hubungan BBLR Dengan
Asfiksia Neonatorum.
gtcommunitys.blogspot.com.
23/11/2011. 14.01.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
2009. Manajamen Bayi Berat Lahir
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 20
Rendah Untuk Bidan Dan Perawat.
Jakarta: DepKes RI. Hal: 10,13,14,20.
Departemen RI. 2005. BBLR dan
Penatalaksanaannya. Jakarta: Depkes
RI.
_________. 2007. Profil Kesehatan di
Indonesia. Jakarta: Depkes RI.
_________. 2008. Pencegahan dan
Penataksanaan Asfiksia Neonatorum.
Jakarta: Depkes RI.
_________. 2009. Buku Kesehatan Ibu Dan
Anak. Jakarta: DepKes RI. Hal: 25.
_________. 2009. Manajamen Bayi Berat
Lahir Rendah Untuk Bidan Dan
Perawat. Jakarta: DepKes RI. Hal:
10,13,14,20.
Dirjen Bina Gizi. 2011. Kejadian BBLR di
Indonesia. Gizi.KIA.depkes.go.id,
12/11/2011. 09.18 AM.
Hidayat, Alimul, A. 2003. Metode Penelitian
Kebidanan dan Teknik Analisa Data.
Jakarta : Salemba Medika. Hal: 43, 50,
67, 68, 81, 121.
_________. 2007. Metode Penelitian
Kebidanan dan Teknik Analisa Data.
Jakarta : Salemba Medika. Hal: 43, 50,
67, 68, 81, 121.
_________. 2008. Praktikum Ketrampilan
Dasar Praktek Klinik. Jakarta :
Salemba Medika. Hal: 166.
Manuaba, IBG. 2002. Buku Ajar Patologi
Obstetri Untuk Mahasiswa
Kebidanan. Jakarta: EGC.
Mohctar, Rustam. 2002. Sinopsis Obstetri jilid
1. Jakrta : EGC
Nazir, Moh. 2005. Metode Penelitian. Bogor:
Ghalia. Hal: 124, 126.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2002. Metode
Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta.
________. 2005. Metode Penelitian
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Hal: 69, 142, 145.
________. 2010. Metode Penelitian
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Hal: 103, 124, 130.
Nursalam. 2008. Konsep Dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Surabaya: Salemba
Medika. Hal: 59, 91, 94, 111.
Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Buku Acuan
Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal Dan Neonatal. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Hal: 381.
_________. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Hal: 753-757, 763-764.
Saifuddin, AB. 2002. Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
________. 2003. Panduan Praktek Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
________. 2005. Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Santrock, J. W.. 2002. Perkembangan Masa
Hidup. Jakarta : Erlangga.
Setiawan dan Saryono. 2010. Metodologi
Penelitian Kebidanan. Yogyakarta :
Nuha Medika. Hal : 54.
Silalahi, Amin. 2003. Metodologi dan Studi
Kasus, cetakan pertama. Jakarta: CV.
Citramedia.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian
Kuantitatif Kualitatif Dan R & D.
Bandung: Alfabeta. Hal: 38-39, 80.
Sunarto, dkk. 2010. Hubungan Antara
Hipertensi, Proteinuria Ibu
Preeklampsia Dengan Kejadian
Asfiksia Neonatorum Di RSU dr.
Harjono S. Ponorogo. Jurnal Peneltian
Suara Forikes. Vol. I. No. 4. Oktober
2010.
Wijaya. 2009. Hubungan antara umur
kehamilan ibu pada saat bayi lahir
dengan kejadian asfiksia di Rumah
Sakit Umum Provinsi Sulawesi
Tenggara. Karya Tulis Ilmiah. Tidak
Diterbitkan.
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 21
HUBUNGAN KEJADIAN PRE-EKLAMSIA DENGAN KEJADIAN BERAT BADAN
LAHIR RENDAH (BBLR) di RSUD dr. ISKAK
KABUPATEN TULUNGAGUNG
TAHUN 2011
Oleh :
DEWI PUSPITASARI
NUNIK NINGTIYASARI, S.Si.T
SANDRA DEWI S., SST
Pre-eclampsia in pregnancy is an important cause of stillbirth and neonatal death. Mothers
with pre-eclampsia would lead to placental insufficiency, fetal hypoxia that inhibited growth and often
occurs with the birth of one of the factors that cause low birth weight births. The purpose of this study
was to determine the relationship with the incidence of LBW preklamsia events in hospitals dr. Iskak
Tulungagung District in 2011.
The experiment was conducted in September 2011. This type of observational study, with design
and analytic approaches are corelasional crossectional. Data were analyzed by Chi Square test using
SPPS program. The study found the majority of labor is labor of mothers who had not had pre-
eclampsia and low birth weight babies are not born, as many as 74 deliveries (66.07%). Chi Square
test statistic with a significant p value 0.001 0.05 yield where 0.001 <0.05 so that H1 is accepted,
which means there is a relationship between pre-eclampsia with LBW in hospitals dr. Isaac
Tulungagung in 2011.
Pendahuluan
Pre-eklampsia merupakan penyakit
dengan tanda-tanda hipertensi, edema dan
proteinuria yang timbul karena kehamilan.
Pre-eklampsia terjadi pada umur kehamilan
diatas 20 minggu, paling banyak terlihat pada
umur kehamilan 37 minggu, tetapi dapat juga
timbul kapan saja pada pertengahan kehamilan.
Peningkatan kejadian kematian akibat pre-
eklampsia dengan komplikasi berat badan lahir
rendah (BBLR) sampai saat ini penyebabnya
belum diketahui. Bayi baru lahir yang berat
badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari
2500 gram disebut BBLR.
Data dari Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) hipertensi selama
kehamilan (yang meliputi preeklamsia dan
eklamsia) menduduki peringkat kedua
penyebab kematian ibu melahirkan di
Indonesia yakni 24%. Sementara itu proporsi
BBLR di Indonesia berkisar antara 7 14%
selama periode 2006 2009. diperkirakan
355.000 710.000 dari 5 juta bayi lahir dengan
kondisi BBLR dan 6-8% dari angka tersebut
disebabkan oleh pre-eklamsia yaitu 35.000-
45.000 bayi (Depkes RI, 2010). Ibu dengan
pre-eklamsia akan menyebabkan terjadinya
insufisiensi plasenta, hipoksia sehingga
pertumbuhan janin terhambat dan sering terjadi
kelahiran dengan BBLR.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui hubungan kejadian preklamsia
dengan kejadian BBLR di RSUD dr. Iskak
Kabupaten Tulungagung Tahun 2011.
Tinjauan Pustaka
Pre-eklampsia merupakan suatu kondisi
spesifik kehamilan dimana hipertensi terjadi
setelah kehamilan 20 minggu pada wanita yang
sebelumnya memiliki tekanan darah normal
(Bobak, 2004: 629). Penyebab pre-eklampsia
belum diketahui dengan pasti. Meskipun
demikian, penyakit ini lebih sering ditemukan
pada wanita hamil yang:
1. Primigravida
2. Hiperplasentosis
3. Mempunyai dasar penyakit vaskular
4. Mempunyai riwayat pre-
eklampsia/eklampsia dalam keluarganya
Pada pre-eklampsia yang berat dan
eklampsia dapat terjadi perburukan patologis
pada sejumlah organ dan sistem yang
kemungkinan diakibatkan oleh vasospasme
dan iskemia (Cunningham, 2003). Tanda dan
Gejala Pre-eklampsia:
1. Hipertensi
2. Proteinuri
3. Edema
Penggolongan Pre-eklamsia:
1. Pre eklampsia ringan
Tanda-tanda pre-eklampsia ringan:
a. Tekanan sistolik 140 mmHg atau
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 22
lebih atau kenaikan 30 mmHg diatas
tekanan biasanya. Tekanan diastolik
90 mmHg atau lebih atau kenaikan
15 mmHg diatas tekanan biasanya.
b. Proteinuri lebih dari 0,3 g/l dalam
urine 24 jam.
c. Edema pada kaki, jari tangan, dan
wajah, terutama yang menetap
sesudah bangun pagi.
2. Pre eklampsia berat
Tanda-tanda Pre-eklamsia berat:
a. Tekanan darah sistolik 160 mmHg
atau lebih, dan/atau diastolik 110
mmHg atau lebih, diukur 2 kali
dengan jarak waktu sekurang-
kurangnya 6 jam dan pasien dalam
keadaan istirahat rebah.
b. Proteinurine 5 gram atau lebih dalam
24 jam.
c. Oliguri, yaitu produksi urine 400 cc
atau kurang dalam 24 jam.
d. Gangguan serebral atau gangguan
penglihatan.
e. Edema paru atau sianosis.
Epending Eklamsia:
1. Gastrik-Vomitus, nyeri epigastrium.
2. Visual-penglihatan kabur, bintik-bintik
dan kilatan cahaya dalam penglihatan,
kehilangan penglihatan.
3. Sakit kepala dibagian frontalis.
4. Oliguria.
Penatalaksanaan:
1. Pre-eklampsia ringan
Istirahat di tempat tidur masih merupakan
terapi utama untuk penanganan pre-
eklampsia. Penderita pre-eklampsia
ringan harus dirawat inap, akan tetapi
dengan pertimbangan efisiensi, perawatan
penderita pre-eklampsia ringan dapat
dilakukan di luar rumah sakit
2. Pre-eklamsia berat
Pada pre-eklampsia berat dapat dilakukan
perawatan konservatif dan perawatan
aktif, yaitu :
a. Perawatan konservatif (usia
kehamilan <36 minggu)
1) Tirah baring
2) Infus D5:RL = 3:1
3) Diet cukup garam dan cukup
protein (diet pre-klampsia)
4) Pasang kateter tetap (bila perlu)
5) Medikamentosa:
a) Anti konvulsan MgSO4
b) Anti hipertensi nifedipine
10 mg sub lingual,
dilanjutkan dengan 10
mg/8jam
c) Kortikosteroid (oradexon
IM 2x 10 mg) untuk
kehamilan kurang 36
minggu.
d) Antibiotikum, diuretikum
dan kardiotonikum hanya
diberikan atas indikasi.
b. Perawatan aktif (terminasi
kehamilan), yaitu pada keadaan-
keadaan dibawah ini:
1) Umur kehamilan >36 minggu
2) Terdapat tanda-tanda impending
eklampsia atau eklampsia
3) Gawat janin
4) Sindrom HELLP
5) Kegagalan perawatan
konservatif, yakni setelah 6 jam
perawatan tidak terlihat tanda-
tanda perbaikan penyakit
(Achadiat, 2003: 6).
BBLR yaitu berat bayi 2500 gram atau
kurang pada saat lahir (Bobak, 2004: 888).
Faktor-faktor yang mempengaruhi BBLR:
1. Status gizi ibu hamil
2. Asupan nutrisi pada ibu hamil
3. Usia ibu hamil
4. Jarak kehamilan ibu yang terlalu pendek
(kurang dari 1 tahun)
5. Kebiasaan dan gaya hidup ibu hamil
6. Komplikasi yang dialami ibu selama
hamil
7. Penyakit yang menyertai kehamilan
8. Usia gestasi pada saat bayi lahir
Bayi lahir dengan berat lahir rendah
mempunyai lemak di bawah kulit yang sangat
sedikit, karena beratnya kurang dari 2500
gram. Masalah-masalah BBLR:
1. Asfiksia
2. Gangguan napas
3. Hipotermi
4. Hipoglikemi
5. Masalah pemberian ASI
6. Infeksi
7. Hiperbilirubinemia
8. Masalah perdarahan
Seperti bayi baru lahir (BBL) yang lain,
BBLR perlu mendapat perhatian dan
tatalaksana yang baik pada saat lahir, yaitu
harus mendapat Pelayanan Neonatal
Esensial yang terdiri atas :
1. Persalinan yang bersih dan aman
2. Stabilisasi suhu
3. Inisiasi pernapasan spontan
4. Pemberian ASI dini dan eksklusif
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 23
5. Pencegahan infeksi dan pemberian
imunisasi. (Manajemen Bayi Berat Badan
Lahir Rendah Untuk Bidan dan Perawat,
2009: 20)
Konsep Hubungan Pre-eklamsia Dengan
BBLR
Menurut Michael (2005) wanita dengan
pre-eklamsia pada kehamilan dapat mengalami
peningkatan respon terhadap berbagai
substansi endogen (seperti prostaglandin,
tromboxan) yang dapat menyebabkan
vasospasme dan agregasi platelet. Peningkatan
hemolisis microangiopati menyebabkan
anemia dan trombositopeni. Infark plasenta
dan obstruksi plasenta menyebabkan
pertumbuhan janin terhambat sehingga
menyebabkan BBLR bahkan kematian janin
dalam rahim.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan tanggal 15
Februari 2012. Jenis penelitian yang digunakan
adalah penelitian observasional. Desain
penelitian ini adalah analitik yang bersifat
korelasional. Pendekatan yang digunakan
adalah pendekatan cross sectional. Populasi
dalam penelitian ini adalah semua ibu bersalin
dan bayinya di RSUD dr. Iskak Kabupaten
Tulungagung pada bulan September 2011
sejumlah 112 persalinan. Teknik sampling
yang digunakan dalam penelitian ini adalah
total sampling yang berjenis non probability.
Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 112
persalinan.
Setelah data terkumpul kemudian
dilakukan analisa data dengan tahap-tahap
editing, coding, scoring, tabulating. Teknik uji
statistik yang dipilih berdasarkan tujuan uji
yaitu hubungan (kolerasi atau asosiasi) dan
skala data pre-eklampsia yaitu data kategorik
dan BBLR adalah data kategorik. Berdasarkan
acuan tersebut maka digunakan Uji Chi
Square.
Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian yang disajikan dalam
tabel 4.3 menunjukkan bahwa dari total 112
persalinan sebagian besar persalinan adalah
persalinan dari ibu yang tidak mengalami pre-
eklamsia dan bayi yang dilahirkan tidak
BBLR, yaitu sebanyak 74 persalinan (66,07%).
Dari uji statistik Chi Square dengan signifikan
0,05 yang telah dilakukan, didapatkan p value
0,001 dimana 0,001 < 0,05 sehingga H
0
ditolak
dan H
1
diterima, yang berarti ada hubungan
antara pre-eklamsia dengan BBLR di RSUD
dr. Iskak Tulungagung.
Sistiarani (2008) menjelaskan pre-
eklampsia adalah kelainan akut pada wanita
hamil, dalam persalinan/nifas yang ditandai
hipertensi, proteinurea dan edema yang dapat
mempengaruhi plasenta dan uterus karena
aliran darah ke plasenta menurun sehingga
terjadi gangguan fungsi plasenta. Pada
hipertensi yang agak lama dapat
mempengaruhi perkembangan janin, sehingga
mudah terjadi BBLR. Dengan tidak adanya
kejadian ibu hamil dengan pre-eklamsia
tersebut berdampak pada bayi yang dilahirkan
sehingga dapat lahir dengan BBLN.
Kesimpulan
1. Dari total 112 responden yang melahirkan
di RSUD dr. Iskak Tulungagung, hampir
seluruhnya dari responden tidak
mengalami pre-eklamsia, yaitu sebanyak
91 (81,25%) responden.
2. Dari total 112 bayi yang dilahirkan di
RSUD dr. Iskak Tulungagung, sebagian
besar dari responden mempunyai berat
badan lahir normal, yaitu sebanyak 81
(72,32%) responden
3. Berdasarkan uji statistic Chi Square
dengan signifikan 0,05 didapatkan p value
0,001 dimana 0,001 < 0,05 sehingga H
0
ditolak dan H
1
diterima, yang berarti ada
hubungan antara pre-eklamsia dengan
BBLR di RSUD dr. Iskak Tulungagung.
Saran
1. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai
sarana penerapan ilmu yang diperoleh
selama perkuliahan, dan sebagai sarana
pengabdian kepada masyarakat sebagai
penerapan tri dharma perguruan tinggi.
2. Bagi Tempat Penelitian
Disarankan hendaknya meningkatkan
kemampuan dalam pelayanan antenatal
serta penanganan neonatus dengan
komplikasi dengan cara memberikan
pelatihan yang berkelanjutan.
3. Bagi Instansi Pendidikan
Diharapkan ada kerjasama dengan Dinas
Kesehatan untuk menyelenggarakan
berbagai kegiatan penyuluhan dan
sosialisasi kepada tenaga kesehatan
sehingga angka kejadian preeklamsi dan
BBLR dapat ditekan
4. Bagi peneliti berikutnya
Hasil penelitian ini dapat dijadikan
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 24
tambahan wacana bagi penelitian lebih
lanjut yang berkaitan dengan pre-eklamsia
dan BBLR.
Daftar Pustaka
Achadiat, 2003. Prosedur Tetap Obstetri dan
Ginekologi. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Arikunto, Suharsini. 2006. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta. Hal: 111.
Hidayat, Alimul, A. 2003. Metode Penelitian
Kebidanan dan Teknik Analisa Data.
Jakarta : Salemba Medika.
Bobak, Irene. 2004. Keperawatan Maternitas.
Jakarta : EGC. Hal: 909.
Cunningham, G. F Gant. 2003. Obstetri
Williams. Jakarta : EGC.
Depkes RI. 2005. BBLR dan
Penatalaksanaannya. Jakarta: Depkes
RI.
_________. 2009. Buku Kesehatan Ibu Dan
Anak. Jakarta: DepKes RI. Hal: 13,25.
Dirjen Bina Gizi. 2011. Kejadian BBLR di
Indonesia. Gizi.KIA.depkes.go.id,
12/11/2011. 09.18 AM.
Farren, Helen. 2001. Perawatan Maternitas
edisi 2. Jakarta: EGC
Ganiswarna, Sulistia G. 2003. Farmakologi
dan Terapi. Jakarta: Bagian
Farmakologi Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
George, 2007. Preeklamsia. scibd.web.id.
4/11/2011.10.12 am.
Gilang, 2001. Perdarahan pasca persalinan.
herdanfamily.blogspot.com.
4/11/2011.10.12 am
Hidayat, Alimul, A. 2007. Metode Penelitian
Kebidanan dan Teknik Analisa Data.
Jakarta : Salemba Medika. Hal: 43, 50,
67, 68, 81, 121.
_________. 2008. Praktikum Ketrampilan
Dasar Praktek Klinik. Jakarta :
Salemba Medika. Hal: 166.
Kurniawati, Leni. 2010. Hubungan Pre
Eklampsia Dengan Kelahiranberat
Bayi Lahir Rendah (BBLR) Di RSUD
Sragen. Karya Tulis. Tidak Diterbitkan
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
2009. Manajamen Bayi Berat Lahir
Rendah Untuk Bidan Dan Perawat.
Jakarta: DepKes RI. Hal: 10,13,14,20.
Michael. 2005. Hipertensi dalam Kehamilan.
scibd.com. 4/11/2011.10.25 am
Nazir, Moh. 2005. Metode Penelitian. Bogor:
Ghalia. Hal: 124, 126.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metode
Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta. Hal: 69, 142, 145.
Nursalam. 2008. Konsep Dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Surabaya: Salemba
Medika. Hal: 59, 91, 94, 111.
Prawesty. 2010. Keracunan Kehamilan.
bidanku.web.id. 4/11/2011.10.45 am
Rustam, Mohctar. 2002. Sinopsis Obstetri jilid
1. Jakrta : EGC
Saifuddin, AB. 2002. Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Sarwono, Prawirohardjo. 2002. Buku Acuan
Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal Dan Neonatal. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Hal: 381.
Sastrawinata, S., 2004. Obstetri Patologi Ilmu
Kesehatan Reproduksi, ed.2. Jakarta:
EGC.
Silalahi, Amin. 2003. Metodologi dan Studi
Kasus, cetakan pertama. Jakarta: CV.
Citramedia.
Sistiarani, Colti. 2008. Faktor Maternal Dan
Kualitas Pelayanan Antenatal Yang
Berisiko Terhadap Kejadian Berat
Badan Lahir Rendah (BBLR). Karya
Tulis. Tidak Diterbitkan.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian
Kuantitatif Kualitatif Dan R & D.
Bandung: Alfabeta. Hal: 38-39, 80.
Trijatmo, 2005. Patologi. Jurnal Patologi. No.
1 Vol. 1 Unair. Journal.unair.ac.id.
4/11/2011.10.50 am
Wikipedia. 2011. Bayi. Wikipedia.web.id.
4/11/2011.10.45 am
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 25
HUBUNGAN SIKAP IBU MENYUSUI DENGAN CARA MENYUSUI YANG BENAR
DI DESA SUMURUP KECAMATAN BENDUNGAN
KABUPATEN TRENGGALEK
TAHUN 2012
Oleh :
DYAH RISCA ARINI
NUNIK NINGTIYASARI, S.Si.T
WIDYA LUSI A, SST
Milk production was more or less directly related to the position of the mother during nursing.
Proper position will drive the most lactation. Breastfeeding is a natural process. The success of
breastfeeding is influenced by the attitude of the mother during nursing. The purpose of this study was
to determine the relationship Attitudes Breastfeeding Breastfeeding With the right attitude in the
Village District Sumurup Dam Race in 2012. This type of research is observational analytic design.
The sample was taken by purposive technique in 49 nursing mothers. Data were collected using a
questionnaire and checklist were analyzed using chi square.
The results obtained from 49 respondents the majority of respondents are positive about
breastfeeding that is right and true way is to feed him as many as 26 (53.1%) breast-feeding mothers.
Chi Square test statistic with a 0.05 yield significant p value = 0.002 where 0.002 <0.05, so H0 is
rejected and H1 accepted, meaning there is a relationship between attitudes to breastfeeding mothers
to breastfeed in the Village District Sumurup Trenggalek.
Pendahuluan
Salah satu cara meningkatkan kesehatan
bayi adalah dengan memberikan air susu ibu
segera setelah lahir minimal usia 6 bulan
karena ASI memberikan manfaat untuk
kecerdasan, kekebalan dan merangsang
terbentuknya emotio intellegence (EI). Banyak
sedikitnya produksi ASI ternyata berhubungan
langsung dengan posisi ibu saat menyusui.
Posisi yang tepat akan mendorong keluarnya
ASI secara maksimal. Masih tingginya
perilaku ibu menyusui bayinya dengan tidak
memasukan seluruh areola akibatnya akan
mengakibatkan kesakitan pada ibu.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan
Propinsi Jawa Timur (2008) menyebutkan
bahwa persentase ibu menyusui ASI Eksklusif
di Jawa Timur sebesar 40,77% sedangkan
target pencapaian nasional sebesar 80%.
Tujuan Penelitian
Mengetahui sikap ibu menyusui terhadap
cara menyusui yang benar di Desa Sumurup
Kecamatan Bendungan Kabupaten Trenggalek
tahun 2012.
Tinjauan Pustaka
Menurut Notoatmodjo (2003) sikap
merupakan reaksi atau respon yang masih
tertutup dari seseorang terhadap stimulus
atau obyek.
Pernyataan sikap menurut Azwar (2010:
106) yaitu:
1. Positif / Favourable
Pernyataan sikap yang menyatakan hal-
hal yang positif mengenai obyek sikap,
yaitu kalimatnya bersifat mendukung atau
memihak pada obyek sikap.
2. Negatif / Unfavourable
Pernyataan sikap yang menyatakan hal-
hal yang negatif mengenai obyek sikap,
yaitu tidak mendukung atau kontra
terhadap obyek sikap.
Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap
menurut Azwar (2005: 68) yaitu:
1. Pengalaman pribadi
2. Pengaruh orang lain yang dianggap
penting
3. Media massa
4. Lembaga pendidikan dan lembaga
agama
5. Faktor emosional
Skala pengukuran dengan Guttman ini,
akan didapat jawaban yang tegas. Skala
pernyataan sikap:
Keterangan :
TS : Tidak Setuju
S : Setuju
No Pernyataan TS S
1
2
Positif
Negatif
0
1
1
0
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 26
Kemudian diubah menjadi skor mean T
dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
x : Skor responden
x : mean skor kelompok
s : standar devisi Skor kelompok
Kriteria:
Sikap Positif skor T mean T.
Sikap Negatif skor T < mean T.
Perilaku adalah bentuk respons atau reaksi
terhadap stimulus atau rangsangan dari luar
organisme (orang). Pengukuran perilaku yaitu
dengan menggunakan skala Guttman dengan
jawaban ya atau tidak adalah sebagai berikut:
1. Benar : 1
2. Salah : 0
Kemudian diprosentasekan menggunakan
rumus prosentase menurut Nursalam (2003:
113) :
Rumus : P =
Keterangan :
P : Prosentase
SP : Jumlah Skor yang diperoleh
Sm : Jumlah Skor Maximal
Kemudian hasilnya dikreteriakan menurut
Panduan Akademik sebagai berikut:
1. Perilaku benar : > 78 %
2. Perilaku salah : < 78 %
Menyusui yang benar yaitu memberikan
ASI kepada bayi dengan memperhatikan posisi
badan ibu, posisi badan ibu dan bayi serta
posisi mulut bayi dengan payudara ibu
(perlekatan). Faktor-faktor yang
mempengaruhi ibu menyusui:
1. Perubahan sosial budaya
a. ibu-ibu bekerja atau kesibukan sosial
lainnya.
b. Meniru teman, tetangga dekat atau
orang ketermuka yang memberikan
susu botol.
c. Merasa ketinggalan zaman jika
menyusui bayinya.
2. Faktor psikologis
a. Faktor kehilangan daya tarik sebagai
seorang wanita.
b. Tekanan batin, kurangnya dukungan
keluarga, lingkungan.
3. Faktor fisik ibu
4. Faktor kurangnya petugas kesehatan
Cara menyusui yang benar:
1. Posisi bayi yang benar

Gambar 1 Posisi badan ibu dan badan
bayi
a. Kepala dan tubuh bayi dalam satu
garis lurus.
b. Badan bayi menghadap ke dada ibu.
c. Badan bayi melekat kebadan ibu.
d. Seluruh badan badan bayi tersangga
dengan baik, tidak hanya leher dan
bahu saja.
2. Tanda bayi melekat dengan baik
a. Dagu bayi menempel pada payudara
ibu.
b. Mulut bayi membuka lebar.

Gambar 2 Bayi membuka mulutnya
c. Bibir bawah membuka lebar, lidah
terlihat di dalamnya.
d. Areola bagian atas tampak lebih
banyak/lebar (areola juga masuk ke
dalam mulut bayi, tidak hanya puting
susu).
e.
Gambar 3 Bayi menyudengan sebagian
besar areola masuk ke mulut bayi.
Tanda-tanda menyusui yang benar:
1. Tubuh bayi menempel pada tubuh ibu
2. Dagu bayi menempel pada payudara
3. Telinga bayi berada dalam satu garis
dengan leher dan lengan bayi
T = 50 + 10
% 100 x
SM
Sp
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 27
4. Mulut bayi terbuka dengan bibir bawah
yang terbuka
5. Sebagian besar areola tidak tampak
6. Bayi menghisap dengan irama yang
teratur
7. Bayi tenang dan puas pada akhir menyusu
8. Terkadang terdengar suara bunyi menelan
9. Puting susu tidak terasa sakit atau lecet.
Posisi-posisi menyusui yang benar:
1. Posisi badan ibu
2. Posisi ibu duduk
3. Posisi ibu tidur miring
4. Posisi ibu tidur terlentang
Posisi menyusui yang kurang tepat:
1. Scissors hold terlalu dengan puting susu
2. Badan bayi tidak ditunjang
3. Kepala bayi dipegang
4. Badan bayi tidak menghadap ke badan ibu
5. Kepala bayi terletak disiku sehingga
menunduk
6. Ibu merokok
7. Tidak ada perhatian ibu (tidak ada kontak
mata)
8. Badan ibu tidak menghadap ke badan bayi
9. Badan bayi tidak menghadap ke badan ibu
10. Hanya bahu bayi yang ditopang oleh ibu
Cara menghentikan menyusui yang benar
bisa dilakukan dengan cara :
1. Bayi akan mengakhiri menyusui sendiri
dengan melepaskan puting susu dari
bibirnya.
2. Dengan menggunakan jari kelingking ibu
yang bersih, kemudian dimasukkan mulut
bayi secara perlahan-lahan, maka bayi
dengan sendiri akan melepaskan puting.
Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada 11-18
Januari 2012. Jenis dalam penelitian ini adalah
observasional. Desain penelitian analitik.
Pendekatan yang dilakukan adalah Cross
Sectional. Tehnik sampling yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Purposive
sampling. Jumlah sampel yang didapat
sebanyak 49 ibu menyusui. Instrumen yang
digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner
tertutup. Setelah data terkumpul, maka
dilakukan pengolahan data dengan langkah-
langkah editing, coding, scoring, tabulating.
Setelah itu dilakukan perhitungan hasil
kuesioner dengan menggunakan T skor model
likert kemudian diubah menjadi skor Mean T.
Teknik uji statistik yang dipilih berdasarkan
tujuan uji yaitu hubungan (kolerasi atau
asosiasi) dan skala data sikap yaitu data
nominal dan perilaku adalah nominal.
Berdasarkan acuan tersebut maka digunakan
Uji Chi Square.
Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian yang didapatkan
menunjukkan bahwa dari total 49 ibu
menyusui sebagian besar ibu 26 (53,1%)
bersikap positif tentang menyusui yang benar
dan cara menyusuinya benar. Hasil uji statistik
Chi Square dengan signifikan 0,05
menghasilkan p value = 0,002 dimana 0,002 <
0,05 sehingga H
0
ditolak dan H
1
diterima, yang
berarti ada hubungan antara sikap ibu
menyusui dengan cara menyusui yang benar.
Sikap ibu menyusui dengan cara
menyusui yang benar yaitu dimulai dari
pemahaman informasi yang baik tentang cara
menyusui yang benar kemudian sikap yang
ditunjukkan akan sesuai dengan informasi.
Kemudian sikap ibu menyusui akan
menimbulkan respon berupa perilaku dari cara
menyusui yang benar. Sesuai dengan teori
sikap yang dilatarbelakangi oleh umur,
pendidikan, pernah dan tidak pernah mendapat
informasi, sumber informasi dimana sikap
positif ibu menyusui tentang cara menyusui
yang benar akan berdampak positif pula
dengan cara menyusui yang benar.
Kesimpulan
1. Dari total 49 responden sebagian besar
responden 37 (75,5%) responden bersikap
positif tentang menyusui yang benar.
2. Dari total 49 responden, sebagian besar
dari responden 28 (57,1%) responden cara
menyusuinya adalah benar.
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 28
3. Hasil uji statistik Chi Square dengan
signifikan 0,05 menghasilkan p value =
0,002 dimana 0,002 < 0,05 sehingga H
0
ditolak dan H
1
diterima, yang berarti ada
hubungan antara sikap ibu menyusui
dengan cara menyusui yang benar di Desa
Sumurup Kecamatan Bendungan
Kabupaten Trenggalek.
Saran
1. Bagi Resoponden (Ibu menyusui)
Diharapkan dapat menambah informasi
dan wawasan sikap bagi ibu menyusui
terhadap cara menyusui yang baik.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat
menjadi sumbangan pemikiran ilmiah dan
tambahan kepustakaan yang sudah ada.
3. Bagi Penelitian Selanjutnya
Diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi
mahasiswa untuk meneruskan penelitian
ini dengan metode yang lebih baik lagi.
4. Bagi Tenaga Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
meningkatkan upaya penyuluhan tentang
cara menyusui yang benar.
Daftar Pustaka
Arikunto, 2006. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka
Cipta
Azwar, Saifudin. 2003. Sikap Manusia Teori
dan Pengukuran. Yogyakarta : Pustaka
Pelajaran
Azwar, saifudin. 2005. Sikap Manusia.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia
hal. 527.
Depkes RI. 2005. Manajemen Laktasi. Jakarta
: Direktorat Jendral Bina Kesehatan
Masyarakat
Hidayat, Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian
Kebidanan dan Teknik Analisis Data.
Jakarta Salemba Medika
Karyanti. 2007. Faktor yang mempengaruhi
menyusui. Jakarta :
www.dinkes.jatim.go.id
Notoatmodjo, S. 2002 Metodologi Penelitian
Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Notoatmodjo, S. 2003 Ilmu Kesehatan
Masyarakat Prinsip-prinsip dasar.
Jakarta : Rineka Cipta
Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
___________. 2008. Panduan dan Ilmu
Pengetahuan dan Penelitian. Jakarta :
Salemba
Nursalam dan Pariani 2002. Pendekatan
Praktis Metodologi Riset Keperawatan.
Jakarta : CV SETO
Rusli, Utami. 2005. Panduan Praktis
Menyusui. Jakarta : Puspa Swara
Soetjningsih. 2003. ASI. Jakarta : ECG
Sugiono. 2003. Statistika Untuk Penelitian.
Bandung : Alfabeta
__________. 2010. Statistik Untuk Penelitian.
Bandung : Alfabeta
Sukijo. 2003. Metodelogi Penelitian
Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
__________. 2003. Pendidikan dan Prilaku
Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Wawan. 2010. Teori dan Pengukuran
Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku
Manusia. Yogyakarta : Nuha Medika.
Hal: 34, 37-38.
Wulandari, Diah. 2010. Asuhan Kebidanan
Nifas. Yogyakarta : Nuha Medika
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 29
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN PERKEMBANGAN BALITA
USIA 1-3 TAHUN DI DESA KEPUH KECAMATAN BOYOLANGU
KABUPATEN TULUNGAGUNG
TAHUN 2012
Oleh :
NIKEN NINGTIYAS
SITI MARYAM, SST, M.Kes
ERIK EKOWATI, SST
Child's intellectual development can be disrupted by environmental conditions or a lack of
physical support. The purpose of this study to know the relationship with the development of the
nutritional status of children aged 1-3 years in the Village District Kepuh Boyolangu Tulungagung
District 2012. The experiment was conducted on 13 to 16 February 2012. This type of observational
study, with design and analytic approaches that are corelasional crossectional. Data were analyzed
with chi square tests of computer-assisted.
The results obtained from a total of 41 respondents almost all have good nutritional status and
undergo normal development as many as 38 (92.7%) respondents. Chi Square test statistic with a
significant p value 0.001 0.05 yield where 0.001 <0.05 so that the H1 accepted which means there is a
relationship between the nutritional status of children aged 1-3 years progress in the Village District
Kepuh Boyolangu Tulungagung District in 2012.
Pendahuluan
Masa balita merupakan periode terpenting
dalam tumbuh kembang anak. Karena pada
masa ini terjadi pertumbuhan dasar yang akan
mempengaruhi dan menentukan perkembangan
anak selanjutnya. Faktor yang mempengaruhi
perkembangan anak antara lain adalah status
gizi anak. Perkembangan sel otak terpesat
terjadi pada usia 13 tahun sehingga masa ini
biasa disebut sebagai masa keemasan balita.
Sehingga periode 2 tahun pertama kehidupan
merupakan masa kritis. Perlunya perhatian
lebih dalam tumbuh kembang di usia balita
didasarkan fakta bahwa kurang gizi yang
terjadi pada masa emas ini, bersifat
irreversible (tidak dapat pulih).
Indikator keberhasilan pogram SDIDTK
adalah 90% balita oleh kegiatan SDIDTK pada
tahun 2010. Cakupan SDIDTK balita dan anak
pra sekolah Provinsi Jawa Timur tahun 2005
adalah 52,1% dan tahun 2006 adalah 53,14%.
Data dari Dinkes Kabupaten Tulungagung
tahun 2010 anak dengan status gizi lebih
5,06%, status gizi baik 88,23%, status gizi
kurang 6,01%, dan status gizi buruk 0,7%,
sedangkan 1,3% mengalami penyimpangan
perkembangan.
Tujuan Penelitian
Mengetahui hubungan ststus gizi dengan
perkembangan balita usia 1-3 tahun di Desa
Kepuh Kecamatan Boyolangu Kabupaten
Tulungagung Tahun 2012.
Tinjauan Pustaka
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai
akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-
zat gizi. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
Status Gizi:
1. Produk Pangan
2. Produk Papan
3. Akseptabilitas (Daya Terima)
4. Pantangan Pada Makanan Tertentu
5. Kesukaan Terhadap Jenis Makanan
Tertentu
6. Kebiasaan Makan
7. Sanitasi Makanan
8. Pengetahuan Gizi
cara pengukuran status gizi yang paling
sering digunakan adalah antropometri gizi.
Antropometri sebagai indikator status gizi
dapat dilakukan dengan mengukur beberapa
parameter yaitu umur, berat badan dan tinggi
badan.
Kombinasi antara beberapa parameter
disebut indeks antropometri, beberapa indeks
antropometri yang sering digunakan yaitu:
1. Berat Badan menurut Umur (BB/U)
2. Berat Badan menurut Tinggi Badan
(BB/TB)
3. Tinggi Badan menurut Umur (TB/U)
Perkembangan adalah bertambahnya
stuktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks
dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus,
bicara dan bahasa serta sosialisasi dan
kemandirian. Menurut Soetjiningsih (2005)
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 30
secara umum terdapat dua faktor yang
mempengaruhi tumbuh kembang anak yaitu
faktor genetik (instrinsik) dan faktor
lingkungan (ekstrinsik).
Skrining atau deteksi dini penyimpangan
perkembangan umur anak 1-3 tahun.
Umur Anak KPSP TDL TDD
3 bulan
6 bulan
9 bulan
12 bulan
15 bulan
18 bulan
21 bulan
24 bulan
30 bulan
36 bulan

(Dep Kes RI, 2006: 1)


Keterangan :
KPSP : Kuesioner Pra Skrining
Perkembangan
TDL : Tes Daya Lihat
TDD : Tes Daya Dengar
Skrining atau pemeriksaan perkembangan
anak menggunakan Kuesioner Pra Skrining
Perkembangan (KPSP) bertujuan untuk
mengetahui perkembangan anak normal atau
mengalami penyimpangan. Jadwal skrining
atau pemeriksaan KPSP rutin adalah pada
umur 36, 42, 48, 54, 60, 66 dan 72 bulan. Alat
instrument yang digunakan adalah Formulir
KPSP menurut umur.
Alat bantu pemeriksaan berupa: pensil,
kertas, bola sebesar bola tenis, kubus
berukuran 2,5 cm sebanyak 8 buah, kismis,
kacang tanah, potongan biskuit kecil berukuran
0,5-1 cm.
Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 13-
16 Februari 2012. Jenis penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian observasional. Desain penelitian
yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analitik. Pendekatan yang digunakan adalah
pendekatan Cross Sectional". Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh ibu dan anak
balitanya yang berusia 1-3 tahun di Desa
Kepuh Kecamatan Boyolangu Kabupaten
Tulungagung bulan Februari 2012 sejumlah 69
responden. Teknik sampling yang digunakan
dalam penelitian ini adalah simple random
sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini
dibulatkan menjadi 41 ibu dan anaknya.
Analisa data dilakukan dengan melakukan
editing, coding, scoring, tabulating. Teknik uji
statistik yang dipilih berdasarkan tujuan uji
yaitu hubungan (korelasi atau asosiasi) dan
skala data status gizi balita usia 1-3 tahun yaitu
ordinal dan perkembangan balita 1-3 tahun
adalah ordinal. Berdasarkan acuan tersebut
maka digunakan Uji Chi Square.
Hasil dan Pembahasan
Berdasakan data yang diperoleh dari
penelitian didapatkan dari total 41responden
hampir seluruhnya dari responden mempunyai
status gizi baik dan mengalami perkembangan
normal yaitu sebanyak 38 (92,7%) responden.
Hasil uji statistik Chi Square dengan
signifikan 0,05 menghasilkan P value< 0,05
(0,004 < 0,05) sehingga H
0
ditolak dan H
1
diterima, yang berarti ada hubungan antara
status gizi dengan perkembangan balita usia 1-
3 tahun di Desa Kepuh Kecamatan Boyolangu
Kabupaten Tulungagung.
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai
akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-
zat gizi. Perkembangan kecerdasan anak dapat
terganggu oleh kondisi lingkungan atau fisik
yang kurang mendukung. Anak dengan status
gizi yang dilatarbelakangi oleh produk pangan,
produk papan, akseptabilitas, pantangan pada
makanan tertentu, kesukaan terhadap jenis
makanan tertentu, kebiasaan makan, sanitasi
makanan dan pengetahuan gizi akan
berdampak pada status gizi anak normal,
sehingga anak memiliki kemampyan gerak
kasar, kemampuan gerak halus, kemampuan
bersoalisasi dan kemandirian, kemampuan
bicara dan bahasa yang normal sesuai dengan
perkembangan usianya.
Kesimpulan
1. Dari total 41 responden hampir
seluruhnya dari responden mempunyai
status gizi baik yaitu sebanyak 38 (92,7%)
responden.
2. Dari total 41 responden hampir
seluruhnya dari responden mempunyai
status perkembangan normal yaitu
sebanyak 39 (95,1%) responden.
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 31
3. Uji statistik Chi Square dengan signifikan
0,05 menghasilkan P value< 0,05 (0,004 <
0,05) sehingga H
0
ditolak dan H
1
diterima,
yang berarti ada hubungan antara status
gizi dengan perkembangan balita usia 1-3
tahun di Desa Kepuh Kecamatan
Boyolangu Kabupaten Tulungagung.
Saran
1. Bagi Peneliti
Diharapkan hasil penelitian ini dapat
dijadikan sebagai tambahan pengalaman
bagi peneliti dalam melakukan penelitian
2. Bagi Institusi
Bagi Institusi Pendidikan diharapkan lebih
proaktif bekerja sama dengan institusi
kesehatan dalam menginformasikan
tentang pentingnya status gizi dan
perkembangan balita kepada masyarakat
3. Bagi Responden (Ibu balita usia 1-3
tahun)
Diharapkan responden untuk menambah
informasi, meningkatkan wawasan dan
ketrampilan ibu dalam mengusahakan
pentingnya status gizi dan stimulasi dan
perkembangan anak
4. Bagi Tempat Penelitian (Desa Kepuh)
Diharapkan pihak pemerintah desa lebih
aktif bekerja sama dengan pihak tenaga
kesehatan dalam melakukan tes
perkembangan balita
Daftar Pustaka
Agoes, Achidiat. 2003. Teori dan Manajemen
Perkembangan. Malang: Taroda.
Almatsier, S, 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Arikunto, Suharsini. 2006. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta. Hal: 111.
Depkes RI. 2006. Profil Kesehatan di
Indonesia. Jakarta: Depkes RI.
Depkes RI. 2007. Ditjen Bina kesehatan
Masyarakat, Direktorat Gizi
Masyarakat. Keluarga Sadar Gizi
(Kadarzi). Jakarta
Dinkes Jatim. 2006. Profil Kesehatan Jawa
Timur. Surabaya: Dinkes
Hidayat, Alimul, A. 2007. Metode Penelitian
Kebidanan dan Teknik Analisa Data.
Jakarta : Salemba Medika.
_________. 2009. Metode Penelitian
Kebidanan dan Teknik Analisa Data.
Jakarta: Salemba Medika.
Hurlock, Elizabeth B . 1980. Psikologi
Perkembangan. Jakarta: Erlangga..
Ali Khomsan. 2003. Pangan dan Gizi untuk
Kesehatan. Jakarta: PT. Rajagrafindo
Persada
Ali Khomsan. 2010. Pangan dan Gizi untuk
Kesehatan. Jakarta: PT. Rajagrafindo
Persada
Marzuki, 2001. Statistik Terapan. Yogyakarta:
Gajahmada University Press.
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Edisi
2. Jakarta: EGC.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metode
Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta. Hal: 69, 142, 145.
Nursalam. 2003 . Pendekatan Praktis
Metodologi Riset Keperawatan.
Jakarta: CV. Seta. Halaman (79, 94,
114, 119).
Nursalam. 2008. Konsep Dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Surabaya: Salemba
Medika.
Paath. Dkk. 2004. Gizi Dalam Kesehatan
Reproduksi. Jakarta: EGC.
Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo dan
Persatuan Ahli Gizi Indonesia. 2003.
Penuntun Diit Anak. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama
Setiawan dan Saryono. 2010. Metodologi
Penelitian Kebidanan. Yogyakarta:
Nuha Medika. Hal: 54.
Silalahi, Amin. 2003. Metodologi dan Studi
Kasus, cetakan pertama. Jakarta: CV.
Citramedia.
Soekirman. 2000. Ilmu Gizi dan Aplikasinya.
Jakarta: Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Departemen
Pendidikan Nasional.
Supriasa. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta:
Buku Kedokteran EGC.
Soetjiningsih. 2002. Tumbuh Kembang Anak.
Jakarta: EGC.
Supriasa. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta:
Buku Kedokteran EGC.
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 32
HUBUNGAN SIKAP IBU TENTANG IMUNISASI DASAR LENGKAP DENGAN
KELENGKAPAN IMUNISASI PADA BAYI DI POSYANDU DESA PUCANGAN
KECAMATAN KAUMAN KABUPATEN TULUNGAGUNG
TAHUN 2012
Oleh:
NANING HARTATIK
SITI MARYAM S.ST.M.Kes
SANDRA DEWI S.S.ST
Immunization is a form of medical intervention that is effective in reducing infant mortality.
With immunization, diseases such as tuberculosis, diferi, pertussis, hepatitis B, poliomyelitis, and
measles can be prevented. The study was conducted on 05 to 08 July 2012. This type of study is a
Cross Sectional Analytic approach. Sampling techniques Purposive to the number of 44 respondents.
Method of data collection using questionnaires closed. Further processed as a percentage. Statistical
analysis using Chi square test with a significant 0.05.
Based on the results of research that has been done to show the vast majority of respondents is
26 (59.09%) of respondents have a positive attitude, and almost all of the respondents is 19
respondents (79.55%) fully immunized infants. Chi square statistical test results in get p-value 0.001
<0.05 so Ho rejected and H1 accepted which means the relationship between Attitude Mom About
Immunization Primary Immunization Complete With Fittings In Infants.
Pendahuluan
Imunisasi merupakan bentuk intervensi
kesehatan yang sangat efektif dalam
menurunkan angka kematian bayi. Dengan
imunisasi, berbagai penyakit seperti TBC,
diferi, pertusis, hepatitis B, poliomyelitis, dan
campak dapat dicegah. Dengan adanya
pengetahuan yang baik tentang imunisasi dasar
lengkap maka ibu akan memiliki sikap yang
positif untuk mengimunisasikan bayinya secara
teratur.
Program imunisasi telah menunjukkan
keberhasilan dan mencegah terjadinya penyakit
menular. Angka cakupan imunisasi dasar di
Indonesia dari tahun ke tahun mengalami
peningkatan. Cakupan imunisasi di Propinsi
Jawa Timur juga mengalami peningkatan,
pada tahun 2007 angka cakupan imunisasi
dasar mencapai 96,7%, tahun 2008 angka
cakupan imunisasi dasar mencapai 97,1% dan
angka cakupan tahun 2009 mencapai 98,2%.
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui Hubungan Antara
Sikap Ibu Tentang Imunisasi Dasar Lengkap
Dengan Kelengkapan Imunisasi Pada Bayi Di
Posyandu Desa Pucangan Kecamatan Kauman
Kabupaten Tulungagung Tahun 2012.
Tinjauan Pustaka
Sikap merupakan aksi atau respon yang
masih tertutup dari seseorang terhadap obyek
tersebut.
Menurut Notoatmodjo sikap mempunyai
empat tingkatan dari yang terendah sampai
yang tertinggi, yaitu:
1. Menerima (recieving)
2. Merespon (responding)
3. Menghargai (valuing)
4. Bertanggung jawab (responsible)
Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap
yaitu Faktor internal (fisiologis, psikologis)
dan Faktor eksternal (pengalaman, situasi,
norma-norma, informasi, hambatan,
pendorong). Penilaian sikap dapat dibedakan
atas sikap positif dan sikap negative.
Skala sikap menggunakan skala Likert
dikenal sebagai summatedratings method.
Keterangan:
SS : Sangat setuju
S : Setuju
TS : Tidak setuju
STS : Sangat tidak setuju
Imunisasi adalah suatu usaha yang
dilakukan dalam pemberian vaksin pada tubuh
seseorang sehingga dapat menimbulkan
kekebalan terhadap penyakit tertentu. Jenis
Jenis Kekebalan Imunisasi:
1. Kekebalan Aktif
No. Pernyataan STS TS S SS
1. Negatif 4 3 2 1
2. Positif 1 2 3 4
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 33
Kekebalan yang dibuat sendiri oleh tubuh
untuk menolak terhadap suatu penyakit
tertentu
2. Kekebalan Pasif
Tubuh anak tidak dapat membuat zat anti
body sendiri tetapi kekebalan tersebut
diperoleh dari luar setelah memperoleh
zat penolak
Vaksin dapat dibagi dalam 2 jenis
yaitu:
1. Vaksin dari kuman hidup yang
dilemahkan seperti:
a. Virus campak dalm vaksin campak.
b. Virus polio dalam jenis sabin pada
vaksin polio.
c. Kuman TBC dalam vaksin BCG
2. Vaksin dari kuman yang dimatikan
seperti:
a. Bakteri pertusis dalam DPT.
b. Virus polio jenis salk dan vaksin
polio.
c. Racun kuman seperti toxoid (TT),
Diphteriam Toxoid dalam DPT.
d. Vaksin yang di buat dari jenis protein
seperti Hepatitis.
Imunisasi dasar lengkap adalah
pemberian 5 vaksin imunisasi pada bayi baru
lahir sesuai jadwal sampai usia satu tahun.
Imunisasi dasar lengkap ada bermacam-macam
antara lain:
1. Imunisasi Bacillus Calmette Guerin
(BCG) dengan vaksin BCG
a. Memberikan kekebalan aktif
terhadap penyakit BCG
b. Di berikan sebelum umur 2 bulan
c. Suntikan secara intrakutan di
musculus deltoideus lengan atas
d. Dosis untuk bayi < 1 tahun 0,05 ml
2. Imunisasi Difteri Pertusis Tetanus (DPT)
dengan vaksin DPT
a. Memberikan kekebalan aktif
terhadap penyakit difteria, pertusis
dan tetanus
b. Imunisasi vaksin DPT diberikan
setelah berusia 2 bulan sebanyak 3
kali (DPT I, II dan III) dengan
interval tidak kurang dari 4 minggu
c. Vaksin disuntikkan secara
intramuskuler dibagian anterolateral
paha sebanyak 0,5 ml
3. Imunisasi polio dengan vaksin polio
a. Pemberian sebanyak 4 kali (Polio I,
II, III dan IV) dengan interval
minimal 4 minggu
b. Vaksin ini diteteskan 2 tetes langsung
ke mulut anak
c. Digunakan untuk mencegah penyakit
polio
4. Imunisasi campak dengan vaksin campak
a. Dapat digunakan untuk mencegah
penyakit campak
b. Diberikan pada umur 9-11 bulan
dengan dosis 0,5 ml
c. Vaksin disuntikkan secara subkutan
pada lengan kiri atas
5. Imunisasi HB dengan vaksin HB
a. Dapat digunakan untuk mencegah
penyakit hepatitis B
b. Diberikan sedini mungkin segera
bayi lahir dengan dosis 0,5 ml
c. Diberikan 3 kali dengan jarak waktu
1 bulan antara suntikan 1 dan 2 dan 5
bulan antara suntikan 2 dan 3
d. Vaksin disuntikkan secara
intramuscular dilengan atas
sedangkan bayi di daerah paha.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal
02 sampai dengan 05 Juli tahun 2012. Jenis
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah observasional. Dalam penelitian ini
menggunakan desain penelitian analitik.
Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian
ini adalah Cross sectional. Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh ibu bayi di
posyandu desa Pucangan Kecamatan Kauman
Kabupaten Tulungagung tahun 2012 sejumlah
46 orang. Teknik sampel yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu Purposive sampling.
Jumlah sampel sebesar 46 responden.
Analisa data menggunakan editing,
coding, scoring, tabulating. Data yang
terkumpul dianalisa secara sistematik
dengan uji Chi Square.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian
menunjukkan sebagian besar responden yang
memiliki sikap positif dan lengkap dalam
melakukan imunisasi yaitu 25 (56,81%)
responden dari 44 responden. Dari hasil
perhitungan Chi square, diketahui bahwa
penelitian yang dilakukan terhadap 44
responden di Posyandu Desa Pucangan
Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung
menunjukkan nilai p value 0.001 < 0.05 maka
Ho ditolak dan H diterima artinya ada
hubungan sikap ibu tentang imunisasi dasar
lengkap dengan kelengkapan imunisasi pada
bayi.
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 34
Dengan adanya pengetahuan yang baik
tentang imunisasi dasar lengkap maka ibu akan
memiliki sikap yang positif untuk
mengimunisasikan bayinya secara teratur.
Dengan demikian menunjukkan bahwa
informasi yang didapatkan oleh responden
melalui tenaga kesehatan yang diberikan
dengan tepat dapat mempengaruhi sikap ibu
dalam mengimunisasikan bayinya Semakin
banyak informasi yang diperoleh tentang
imunisasi dasar lengkap maka akan semakin
positif sikap ibu dan semakin lengkap dalam
mengimunisasikan bayinya.
Kesimpulan
1. Sikap Ibu Tentang Imunisasi Dasar
Lengkap
Dari 44 reponden sebagian besar dari
responden yaitu 26 (59,09%) responden
memiliki sikap positif.
2. Kelengkapan Imunisasi Pada Bayi
Dari 44 responden hampir seluruh dari
total 44 responden sebagian besar yaitu 31
responden (70,45%) mengimunisasikan
bayinya secara lengkap.
3. Hubungan Sikap Ibu Dengan
Kelengkapan Imunisasi
Berdasarkan uji statistik Chi Square
dengan signifikan 0,05 didapatkan p-value
0,001 maka 0,001 < 0,05 sehingga Ho
ditolak dan H1 diterima yang berarti
adanya hubungan antara Hubungan Sikap
Ibu Tentang Imunisasi Dasar Lengkap
Dengan Kelengkapan Imunisasi Pada
Bayi Di Posyandu Desa Pucangan
Kecamatan Kauman Kabupaten
Tulungagung.
Saran
1. Responden (Ibu Bayi Di Posyandu Desa
Pucangan)
Diharapkan ibu yang mempunyai bayi
lebih aktif mencari informasi melalui
penjelasan oleh petugas kesehatan
mengenai imunisasi dasar lengkap agar
bayinya mendapatkan kekebalan secara
aktif.
2. Institusi Pendidikan
Dengan adanya Karya Tulis Ilmiah ini,
diharapkan dapat menjadi tambahan
wawasan dan referensi kesehatan tentang
imunisasi dasar lengkap.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan mampu mengembangkan
variabel-variabel dalam penelitiannya
sehingga tercipta penelitian yang lebih
variatif
Daftar Pustaka
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktis. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Azwar, Syaifudin. 2002. Sikap Manusia Teori
dan Pengukurannya. Jakarta: Pustaka
Pelajar.
Baron, dkk. 2010. Psikologi Sosial. Bandung :
Refika Aditama.
Boven. 2000. Sistem Imun, Imunisasi dan
Penyakit Imun. Jakarta: Widya
Medika.
Evodia, Aswandi, A. 2008. Pelatihan
Imunisasi.
Gerungan, W.A. 2002. Psikologi Sosial.
Bandung : Refika Aditama.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2002. Metode
Penelitian Kebidanan Teknik Analisis
Data. Jakarta: Salemba Medika.
Markum, AH. 2002. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Anak. Jakarta: FKUI.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Ilmu Kesehatan
Masyarakat. Jakarta: PT. Aneka
Cipta.
Nursalam. 2003. Konsep Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika.
Poerwadarminta. 2003. Kamus Besar Bahasa
Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta : Balai
Pustaka.
Purwanto. 2008. Metodologi Penelitian
Kuantitatif untuk Psikologi dan
Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Silalahi, Ulber. 2003. Metode Penelitian
Sosial. Bandung: PT. Refika Aditama.
Sudarti, dkk, 2000. Aplikasi Metode Kualitatif
dalam Penelitian Kesehatan. Depok:
The British Council
Sugiono. 2005. Metode Penelitian Kuantitatif
Kualitatif. Jakarta: Alfabeta..
Sugiono. 2008. Statistik Untuk Penelitian.
Bandung : Alfabeta.
Walgito, B. 2003. Psikologi Sosial.
Yogyakarta: Andi Yogyakarta.
Wawan dan Dewi. 2010. Teori dan
Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan
Perilaku Manusia. Yogyakarta : Nuha
Medika.
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 35
HUBUNGAN SIKAP IBU BAYI TENTANG IMUNISASI DPT COMBO DENGAN
PELAKSANAAN IMUNISASI DPT COMBO PADA BAYINYA
DI POSYANDU DESA SOBONTORO
KABUPATEN TULUNGAGUNG
TAHUN 2012
Oleh :
LENI GITA PANGESTRI
NUNIK NINGTIYASARI, S.Si.T
ERIK EKOWATI, SST
Combo DPT immunization aims to prevent diphtheria, pertussis, tetanus and hepatitis B. The
purpose of this study to determine the attitude of the mother infant relationship of DPT DPT
Immunization Combo Combo with the implementation of the baby in the village IHC Sobontoro
Tulungagung District in 2012. This type of research in observational research, analytical research
design crossectional approach. Samples were taken with a purposive sampling technique some 63
people who met the inclusion criteria. Data were analyzed by Chi Square test using SPPS program.
The results obtained largely positive with their mothers DPT DPT Combo Combo and
implement as many as 35 mothers (55.5%). Chi Square test statistic with 0.05 indicates significant p
value 0.001 <0.05, so H0 is rejected and H1 accepted, meaning there is a relationship between
maternal attitudes about the baby with the implementation of the DPT DPT Combo Combo at IHC
Village Sobontoro Tulungagung District in 2012.
Pendahuluan
Imunisasi DPT Combo merupakan vaksin
yang mengandung DPT berupa toxoid difteri
dan toxoid tetanus yang dimurnikan dan
pertusis yang diaktifasi serta vaksin hepatitis B
yang merupakan sub unit vaksin virus yang
mengandung HbsAg murni dan bersifat non
infectious.
Menurut Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) tahun 2007 angka kematian
bayi adalah 34 per 1.000. Departemen
Kesehatan menargetkan angka kematian ibu
pada 2010 sekitar 226 orang dan pada tahun
2015 menjadi 102 orang per tahun (Depkes RI,
2010). Masih tingginya AKB tersebut salah
satunya karena belum tercapainya program
imunisasi di Indonesia. Banyaknya angka
kejadian tersebut disebabkan karena kurangnya
pengetahuan ibu mengenai penyakit difteri,
pertusis, tetanus dan hepatitis B akan
mengurangi kemauan mereka untuk
memberikan imunisasi DPT Combo pada
anaknya.
Tujuan Penelitian
Mengetahui hubungan sikap ibu bayi
tentang imunisasi DPT Combo dengan
pelaksanaan Imunisasi DPT Combo pada
Bayinya di Posyandu Desa Sobontoro
Kabupaten Tulungagung tahun 2012.
Tinjauan Pustaka
Sikap merupakan reaksi atau respon yang
masih tertutup dari seseorang terhadap
stimulus atau obyek. Pernyataan sikap dapat
dibedakan menjadi sikap positif dan negative.
Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap:
1. Pengalaman pribadi
2. Pengaruh orang lain yang dianggap
penting
3. Pengaruh kebudayaan
4. Informasi
5. Media massa
6. Faktor emosional
7. Lembaga pendidikan dan lembaga
agama
Skala pengukuran sikap dengan Guttman
dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda, juga
dapat dibuat dalam bentuk check list.
Pernyataan Sikap:
No Pernyataan TS S
1
2
Negatif
Positif
0
1
1
0
Keterangan:
TS : Tidak Setuju
S : Setuju
Kemudian diubah menjadi skor mean T
dengan rumus sebagai berikut:
T = 50 + 10
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 36
Keterangan:
x : Skor responden
x : mean skor kelompok
s : standar deviasi Skor kelompok
Skor mean T merupakan skala yang biasa
digunakan dalam skala model Likert untuk
menentukan sikap seseorang.
Kriteria:
Sikap Negatif skor T < mean T.
Sikap Positif skor T mean T.
Perilaku adalah bentuk respons atau reaksi
terhadap stimulus atau rangsangan dari luar
organisme (orang). Sebelum orang mengadopsi
perilaku baru, terjadi proses yang berurutan,
yakni awarenes, interest, evaluation, trial dan
adoption. Faktor-faktor yang mempengaruhi
perilaku yaitu:
1. Faktor Predisposisi
2. Faktor Pendukung
3. Faktor Pendorong
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal
atau resisten. Anak kebal atau resisten terhadap
suatu penyakit. Imunisasi ada bermacam-
macam antara lain:
1. Imunisasi BCG dengan vaksin BCG
a. Pemberian
Diberikan pada bayi umur 0-2 bulan.
b. Fungsi
Untuk mencegah penyakit TBC.
c. Dosis pemberian
0,05 ml, sebanyak 1 kali.
2. Imunisasi polio dengan vaksin polio
a. Mencegah penyakit polio.
b. Vaksin polio diberikan secara oral
(melalui mulut), dosis 2 (dua) tetes
sebanyak 4 kali pemberian dengan
interval minimal 4 minggu.
3. Imunisasi campak dengan vaksin campak
a. Fungsi untuk memberikan kekebalan
aktif terhadap penyakit campak.
b. Dosis 0,5 ml disuntikkan secara
subkutan pada lengan kiri atas.
c. Waktu pemberian pada usia 9-11
bulan, ulangan (booster) usia 6-7
tahun (kelas 1 SD).
4. Imunisasi HB dengan vaksin HB
a. Memberikan kekebalan aktif
terhadap virus hepatitis B.
b. Dosis 0,5 ml atau 1 (buah) HB PID,
pemberian suntikan secara
intramusculer. Pemberian imunisasi
HB sebanyak 3 dosis. Dosis pertama
diberikan pada usia 0-7 hari, dosis
berikutnya interval minimum 4
minggu (1 bulan).
5. Imunisasi DPT Combo
Imunisasi DPT Combo merupakan
pemberian vaksin yang mengandung DPT
berupa toxoid difteri dan toxoid tetanus
yang dimurnikan dan pertusis yang
inaktifasi serta vaksin hepatitis B yang
merupakan sub unit vaksin virus yang
mengandung HB
5
Ag murni.
Vaksin Combo merupakan gabungan
beberapa antigen tunggal menjadi satu jenis
produk antigen untuk mencegah penyakit yang
berbeda, misal DPT+hepatitis B+HIB. Efek
samping pemberian imunisasi DPT Combo
adalah gejala-gejala yang bersifat sementara
seperti: lemas, demam iritabilitas dan
merancau yang biasanya terjadi 24 jam setelah
imunisasi. Efek samping imunisasi DPT
Combo bersifat ringan dan hilang setelah 1-2
hari.
Jadwal imunisasi dasar (pada bayi umur
0-11 bulan)
N
o
Umur Vaksin
1
2
3
4
5
6
0 bulan
1 bulan
2 bulan
3 bulan
4 bulan
9 bulan
HB 1
BCG, Polio 1
DPT+HB Combo 1, Polio 2
DPT+HB Combo 2, Polio 3
DPT+HB Combo 3, Polio 4
Campak
Sumber: Depkes RI, 2009
Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal
5-7 Maret 2012. Jenis penelitian ini adalah
observasional. Desain penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah analitik.
Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian
ini adalah Cross sectional. Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh ibu bayi dan balita
yang datang ke posyandu 164 orang. Dalam
penelitian ini peneliti menggunakan metode
purposive sampling, Besar sampel dalam
penelitian ini adalah 63 ibu. Setelah data
terkumpul, dilakukan pengolahan data dengan
editing, coding, scoring, tabulating.
Teknik uji statistik yang dipilih yaitu
hubungan (kolerasi atau asosiasi) dan skala
data sikap ibu bayi yaitu nominal dan
pelaksanaan imunisasi DPT Combo adalah
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 37
nominal. Berdasarkan acuan tersebut maka
digunakan Uji Chi Square.
Hasil dan Pembahasan
Berdasakan data yang diperoleh dari
penelitian didapatkan dari total 63 ibu sebagian
besar ibu bersikap positif tentang imunisasi
DPT Combo dan melaksanakan imunisasi DPT
Combo yaitu sebanyak 35 ibu bayi (55,5%).
Uji statistik Chi Square dengan signifikan
0,05 menunjukkan p value 0,001 dimana 0,001
< 0,05 sehingga H
0
ditolak dan H
1
diterima,
yang berarti ada hubungan antara sikap ibu
bayi tentang imunisasi DPT Combo dengan
pelaksanaan imunisasi DPT Combo di
Posyandu Desa Sobontoro Kabupaten
Tulungagung tahun 2012.
Pengetahuan akan mempengaruhi sikap
seseorang, dan sikap akan mempengaruhi
perilaku seseorang. Terbukti bahwa sikap
positif responden tentang imunisasi DPT
Combo akan melatarbelakangi perilaku
responden dalam melaksanakan imunisasi DPT
Combo, sehingga semakin banyak responden
yang bersikap positif, semakin banyak pula
responden yang melaksanakan imunisasi DPT
Combo.
Kesimpulan
1. Dari total 63 responden sebagian besar
responden bersikap positif tentang
imunisasi DPT Combo yaitu sebanyak 38
(60%) responden.
2. Dari total 63 responden, sebagian besar
dari responden melaksanakan imunisasi
DPT Combo yaitu sebanyak 41 (65%)
responden.
3. Uji statistik Chi Square dengan signifikan
0,05 menunjukkan p value 0,001 dimana
0,001 < 0,05 sehingga H
0
ditolak dan H
1
diterima, yang berarti ada hubungan
antara sikap ibu bayi tentang imunisasi
DPT Combo dengan pelaksanaan
imunisasi DPT Combo.
Saran
1. Bagi Resoponden (Ibu Bayi)
Hendaknya ibu bayi lebih aktif
meningkatkan wawasan tentang imunisasi
DPT Combo.
2. Bagi Tempat Penelitian
Diharapkan lebih meningkatkan
pelaksanaan imunisasi DPT Combo
dengan cara melakukan pendekatan
kepada masyarakat.
3. Bagi Institusi
Diharapkan dapat dijadikan tambahan
wacana sehingga dapat menambah
wawasan bagi mahasiswa kebidanan
khususnya, dan masyarakat umumnya.
4. Bagi Penelitian Selanjutnya
Adanya karya tulis ini diharapkan dapat
menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk
meneruskan penelitian ini dengan lebih
baik lagi.
Daftar Pustaka
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktis. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Azwar, Syaifudin. 2002. Sikap Manusia Teori
dan Pengukurannya. Jakarta: Pustaka
Pelajar.
Baron, dkk. 2010. Psikologi Sosial. Bandung :
Refika Aditama.
Boven. 2000. Sistem Imun, Imunisasi dan
Penyakit Imun. Jakarta: Widya
Medika.
Evodia, Aswandi, A. 2008. Pelatihan
Imunisasi.
Gerungan, W.A. 2002. Psikologi Sosial.
Bandung : Refika Aditama.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2002. Metode
Penelitian Kebidanan Teknik
Analisis Data. Jakarta: Salemba
Medika.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Ilmu Kesehatan
Masyarakat. Jakarta: PT. Aneka
Cipta.
Nursalam. 2003. Konsep Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika.
Poerwadarminta. 2003. Kamus Besar Bahasa
Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta : Balai
Pustaka.
Purwanto. 2008. Metodologi Penelitian
Kuantitatif untuk Psikologi dan
Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Sudarti, dkk, 2000. Aplikasi Metode Kualitatif
dalam Penelitian Kesehatan. Depok:
The British Council
Sugiono. 2008. Statistik Untuk Penelitian.
Bandung : Alfabeta.
Walgito, B. 2003. Psikologi Sosial.
Yogyakarta: Andi Yogyakarta.
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 38
HUBUNGAN PELAKSANAAN INISIASI MENYUSU DINI (IMD) DENGAN
KEJADIAN ATONIA UTERI PADA IBU BERSALIN DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS KAUMAN KECAMATAN KAUMAN
KABUPATEN TULUNGAGUNG TAHUN 2012
Oleh :
PEPEN EKA FITRIYANTI
SITI MARYAM SST, M.Kes
ASTIKA RASYIID SST
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) has advantages which are very great for mother to prevent
atonia uteri. But in implementation of the IMD is seldom done. The aim of this reseadh is to know
correlation implementation of the IMD with atonia uteri incidence. This research was done at 8 th
Februari-14th March 2012, , kind of this research is observasional, the research design used in this
research was analytic with cross sectional approach, the data analysis was used chy square test
manualy.
From the result of reseach showed from the total 40 succesful maternal most of their babies
IMD and maternal didt happen atonia uteri those are 27 respondents. The result analysis by using
chy square test proved there is correlation between implementation of the IMD with incidence of
atonia uteri can be seen X arithmetic > X table = 4,37. Because the X arithmetic > X table = 4,37
so Ho is rejected and H1 accepted, mearning there is a correlation between implementation of the
IMD with atonia uteri incidence.
Latar Belakang
Secara teori banyak manfaat IMD untuk
ibu dan bayi, salah satunya mencegah
perdarahan post partum yang disebabkan oleh
atonia uteri. Atonia uteri sebenarnya bisa
dikurangi dengan IMD dalam kurun waktu
kurang dari 30 menit setelah bayi lahir.
Kurangnya kesadaran dari petugas kesehatan
medis juga keengganan untuk melakukannya
membuat IMD jarang dipraktekkan. Di
indonesia hanya 4% bayi yang mendapat ASI
dalam 1 jam pertama kelahirannya, sedangkan
perdarahan akibat atonia uteri masih 39%.
Data survey awal tahun 2009-2010 di wilayah
kerja Puskesmas Kauman Kecamatan Kauman
Kabupaten Tulungagung:
Keterangan Tahun 2009
(643 ibu
bersalin)
Tahun 2010
(671 ibu
bersalin)
Dilakukan
IMD
13 (2,02%) 638 (95%)
Tidak
dilakukan
IMD
630 (97,9%)
33 (4,9%)
Terjadi atonia
uteri
13 (2,02%) 8 (1,19%)
Tidak terjadi
atonia uteri
630 (97,9%)
663 (98,8%)
Tujuan Penelitian
Mengetahui hubungan pelaksanaan IMD
dengan kejadian atonia uteri pada ibu bersalin
di Wilayah Kerja Puskesmas Kauman
Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung
tahun 2012.
Tinjauan Pustaka
IMD (early initiation) atau permulaan
menyusu dini adalah bayi mulai menyusu
sendiri segera setelah lahir. Manfaat IMD
menurut Depkes RI, APN (2008) dan Utami
Roesli (2008) antara lain :
1. Manfaat kontak kulit dengan kulit untuk
bayi
Mengoptimalkan keadaan hormonal,
menstabilkan pernafasan, mengendalikan
temperatur tubuh bayi, memperbaiki atau
mempunyai pola tidur bayi yang lebih
baik, mendorong ketrampilan bayi untuk
menyusu, menaikkan berat badan bayi,
meningkatkan hubungan ibu dan bayi.
2. Manfaat kontak kulit dengan kulit untuk
ibu yaitu merangsang produksi oksitosin
dan prolaktin pada ibu
3. Manfaat menyusu dini untuk ibu yaitu
merangsang produksi oksitosin dan
prolaktin serta meningkatkan keberhasilan
produksi ASI.
4. Manfaat menyusu dini untuk bayi
Bayi mendapatkan makanan dengan
kualitas dan kuantitas optimal,
meningkatkan kecerdasan, membantu bayi
mengkoordinasi hisap, telan, dan nafas,
meningkatkan jalinan kasih sayang ibu
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 39
dan bayi, mencegah kehilangan panas,
merangsang kolostrum segera keluar.
Menurut Utami Roesli (2008) tahapan
melakukan IMD adalah:
1. Dianjurkan suami atau keluarga
mendampingi ibu saat persalinan.
2. Seluruh badan dan kepala bayi
dikeringkan secepatnya, kecuali kedua
tangannya.
3. Setelah tali pusat dipotong, bayi
ditengkurapkan di dada atau di perut ibu.
4. Bayi dibiarkan mencari puting susu ibu.
5. Ayah didukung agar membantu ibu untuk
mengenali beberapa tanda atau perilaku
bayi sebelum menyusu.
6. Memberikan kesempatan kontak kulit
dengan kulit pada ibu yang melahirkan.
7. Bayi dipisahkan dari ibu untuk ditimbang
dan diukur setelah satu jam atau menyusu
awal selesai.
8. Rawat gabung ibu dan bayi dirawat dalam
satu kamar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
pelaksanaan IMD adalah:
1. Faktor bayi
2. Faktor ibu
3. Faktor lingkungan keluarga
IMD berperan dalam pencapaian tujuan
MDGs. Dua diantara tujuan MDGs yang
berkaitan dengan masa keemasan anak yaitu :
1. Membantu mengurangi kemiskinan dan
kelaparan.
2. Membantu mengurangi angka kematian
anak balita.
Atonia uteri adalah suatu kondisi dimana
miometrium tidak dapat berkontraksi. Keadaan
ini dapat terjadi apabila uterus tidak
berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan
rangsangan taktil (massage) fundus uteri.
Faktor predisposisi terjadinya atonia uteri
menurut Varney (2007) yaitu:
1. Distensi berlebihan pada uterus
(kehamilan kembar, polyhidramnion, atau
makrosomi).
2. Induksi oksitosin.
3. Persalinan dan pelahiran cepat atau
presipitatus.
4. Kala satu dan dua persalinan yang
memanjang.
5. Grandemultiparitas (paritas 5 atau lebih)
6. Riwayat atonia uteri atau perdarahan
pascapartum pada saat melahirkan anak
sebelumnya.
7. Penggunaan agens relaksan uterus,
seperti magnesium sulfat dan terbutalin
untuk mengendalikan kejang pada
preeklampsia atau eklampsia.
8. Atonia Uteri juga dapat timbul karena
penanganan kala III persalinan yang salah,
yaitu dengan memijat uterus dan
Diagnosis:
1. Perdarahan pervaginam
2. Konsistensi rahim lunak
3. Fundus uteri naik
4. Terdapat tanda-tanda syok
Tekanan darah rendah, denyut nadi cepat
dan kecil, ekstremitas dingin, gelisah,
mual dan lain-lain.
Menurut Depkes RI, Asuhan Persalinan
Normal (2007) tahapan penatalaksanaan atonia
uteri adalah:
1. Massage fundus uteri segera setelah
lahirnya plasenta (maksimal 15 detik).
2. Bersihkan bekuan darah dan atau selaput
ketuban dari vagina dan lubang serviks.
Karena dapat menghalangi kontraksi
uterus secara baik.
3. Pastikan bahwa kandung kemih kosong.
4. Lakukan kompresi bimanual internal
(KBI) selama 5 menit.
5. Anjurkan keluarga untuk mulai membantu
kompresi bimanual eksternal.
6. Berikan ergometrin 0,2 mg IM
(kontraindikasi hipertensi) atau
misoprostol 600 sampai 1000 mcg.
7. Pasang infus menggunakan jarum ukuran
16 atau 18 dan berikan 500 cc ringer
laktat dan 20 unit oksitosin. Habiskan 500
cc pertama secepat mungkin.
8. Ulangi kompresi bimanual internal.
9. Rujuk segera. Jika uterus tidak
berkontraksi dalam waktu 1 sampai 2
menit, hal ini bukan atonia sederhana.
10. Dampingi ibu ke tempat rujukan, teruskan
melakukan KBI.
11. Lanjutkan infus Ringer Laktat dan 20 unit
oksitosin dalam 500 cc larutan dengan laju
500 per jam hingga tiba di tempat rujukan
atau hingga menghabiskan 1,5 L infus.
Kemudian berikan 125 cc per jam.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada 8
Februari- 14 Maret 2012. Jenis penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian observasional. Desain penelitian
analitik dengan pendekatan cross sectional.
populasi adalah seluruh ibu bersalin dengan
estimasi pada saat penelitian sebanyak 60 ibu
bersalin. Peneliti menggunakan accidental
sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 40
adalah 40 responden. Data yang diperoleh
diproses dan dilakukan analisa dengan
melakukan editing, coding, scoring, tabulating.
Peneliti menggunakan tehnik uji kai kuadrat
manual.
Hasil dan Pembahasan penelitian
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan
bahwa dari total 40 responden sebagian besar
bayi 27 (67,5%) telah berhasil melakukan IMD
dan ibu bersalin tidak mengalami atonia uteri.
Berdasarkan uji kai kuadrat dengan X tabel
3,84 didapatkan X hitung 4,37 > 3,84
sehingga Ho ditolak dan H1 diterima, yang
berarti menyatakan ada hubungan antara
pelaksanaan IMD dengan kejadian atonia
uteri.
IMD merupakan permulaan menyusu dini
segera setelah lahir, dimana hentakan kepala
bayi ke dada ibu, sentuhan bayi di puting susu
dan sekitarnya, emutan, dan jilatan bayi pada
puting ibu merangsang pengeluaran hormon
oksitosin yang dapat membantu rahim
berkontraksi sehingga membantu pengeluaran
plasenta dan mengurangi perdarahan ibu.
Pelaksanaan IMD sangat penting dalam
upaya menurunkan kesakitan dan kematian ibu
akibat atonia uteri atau perdarahan
pascapersalinan. Karena dengan pelaksanaan
IMD dapat merangsang pengeluaran hormon
oksitosin yang membantu rahim berkontraksi
sehingga mengurangi perdarahan ibu dan dapat
menekan kejadian atonia uteri.
Kesimpulan
1. Dari total 40 responden, sebagian besar
dari responden 27 (67,5 %) di wilayah
kerja Puskesmas Kauman Kecamatan
Kauman Kabupaten Tulungagung telah
berhasil melakukan IMD.
2. Dari total 40 responden sebagian kecil
dari responden 2 (5%) di wilayah kerja
Puskesmas Kauman Kecamatan Kauman
Kabupaten Tulungagung mengalami
atonia uteri.
3. Berdasarkan uji kai kuadrai dengan X
tabel 3,84 didapatkan X hitung 4,37 >
3,84 sehingga Ho ditolak dan H1
diterima, yang berarti ada hubungan
antara pelaksanaan IMD dengan kejadian
atonia uteri di wilayah kerja Puskesmas
Kauman Kecamatan Kauman Kabupaten
Tulungagung.
Saran
1. Bagi Peneliti
Diharapkan menjadi tambahan
pengalaman bagi peneliti dalam
melakukan penelitian kepada masyarakat
khususnya tentang IMD dan atonia uteri.
2. Bagi Institusi
Diharapkan dapat dijadikan tambahan
wacana sehingga dapat menambah
wawasan bagi mahasiswa kebidanan
khususnya, dan masyarakat pada
umumnya.
3. Bagi Responden
Diharapkan ibu hamil dapat meningkatkan
wawasan dalam mengusahakan
pelaksanaan IMD.
4. Bagi Tempat Penelitian (wilayah kerja
puskesmas kauman)
Diharapkan dapat meningkatkan mutu
pelayanan yang lebih berkualitas dalam
penerapan APN dan mengembangkan
rencana asuhan kebidanan.
Daftar Pustaka
Depkes RI. 2007. Asuhan Persalinan Normal.
Jakarta : JNPKKR/POGI dan JHPIEGO
Corporation
Depkes RI. 2008. Asuhan Persalinan Normal dan
Inisiasi Menyusu Dini. Jakarta: JNPK KR /
POGI dan IDAI dengan dukungan dari USAID
Indonesia
Diane M. dkk. 2009. Buku Ajar Myles. Jakarta:
EGC
Dimyati, Vien. 2010. ASI Berperan Capai MDGs
2015 Sosial Budaya Perempuan.
http://www.jurnas.com/news/1784/ASI.
Diakses tanggal 10 November 2011 pukul
15.42 WIB
Dinkes DKI Jakarta. 2009. Pemantauan
Wilayah Setempat Kesehatan Ibu Dan
Anak. Jakarta: Dinkes DKI Jakarta
Hidayat, A.A.A. 2007. Metode Penelitian
Kebidanan Dan Teknik Analisis Data
Jakarta: Salemba Medika
Kusnadi. 2009. Inisiasi Menyusui Dini.
http://www.Inisiasi Menyusu Dini.com.
Diakses tanggal 14 November 2011 pukul
05.23 WIB
Manuaba. IBG. 2003. Ilmu Kebidanan,
Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana untuk Pendidikan Bidan.
Jakarta : EGC
Mochtar. Rustam. 2003. Sinopsis Obstetri.
Jakarta: EGC
Nursalam. 2003. Konsep Dan Penerapan
Metode Penelitian Ilmu Keperawatan.
Jakarta: Salemba Utama
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 41
Nursalam. 2008. Konsep Dan Penerapan
Metode Penelitian Ilmu Keperawatan.
Jakarta: Salemba medika
Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu
Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka
Priyo Hastono, Sutanto. 2001. Analisa Data.
Jakarta: Fakultas Kesehatam Masyarakat
Univesitas Indonesia
Roesli, Utami. 2008. Inisiasi Menyusu Dini Plus ASI
Eksklusif. Jakarta: Pustaka Bunda
Rulina Suradi, dkk. 2008. Manfaat ASI dan
Menyusui. Jakarta: FKUI
Silalahi. 2003. Metodologi Penelitian dan
Studi Kasus. Sidoarjo: Citramedia
Sugiono. 2007. Statistika Untuk Penelitian.
Bandung: CV Alvabeta
Suryoprajogo, Nadine. 2009. Keajaiban
Menyusui. Jogjakarta: KEYWORD
Sochieb. 2008. Angka Kematian ibu.
http://www.kompas.com. Diakses tanggal
04 Oktober 2011 pukul 22.38 WIB
Soekidjo, Notoadmodjo. 2005. Metode
Penelitian kesehatan. Jakarta: PT Rineka
Cipta
Suharsimi, Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktik; Cet. 13. Jakarta:
Rineka Cipta
Sumarah, dkk. 2009. Perawatan Ibu Bersalin
(Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin).
Yogyakarta: Fitramaya
Syaifuddin, Abdul Bari dkk. 2006. Buku Acuan
Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta: YBPSP
Tarie. 2009. Atonia Uteri.
http://detarie.blogspot.com/2009/06/atonia-
uteri.html. Diakses tanggal 27 November 2011
pukul 19.00 WIB
Tirey. 2009. Imd Mama Wajib
Tahu.http://jypernicus.wordpress.com/200
9/11/09/. Diakses tanggal 15 Oktober
2011 pukul 14.45 WIB
Universitas Sumatra Utara. 2003. Penyebab Utama
Kematian Bayi.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789
/23199/5/Chapter%20I.pdf. Diakses tanggal 10
Oktober 2011 pukul 12.35 WIB
Varney, Helen. 2007. Buku Ajar Asuhan
Kebidanan. Jakarta: EGC
Wiknjosastro, Hanifa, dkk. 2006. Ilmu
Kebidanan, Ed. 3, Cet. 8. Jakarta: YBP
SP
Yayan. 2010. Asuhan Persalinan Normal APN
58 Langkah. http://belibis-
a17.com/2010/04/23. Diakses tanggal 27
November 2011 pukul 13.35 WIB
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 42
HUBUNGAN SIKAP BIDAN DALAM PELAYANAN ANTENATAL CARE (ANC)
DENGAN KETERATURAN KUNJUNGAN IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS SUMBERGEMPOL KABUPATEN TULUNGAGUNG
TAHUN 2012
Oleh :
SITI MARYAM, SST. M.Kes
ASTIKA RASYIID, SST
ELA FAHDALIA
Antenatal care is a planned program of observation, education and medical treatment in
pregnant women with a minimum standard of 7T. The purpose of this study was to determine the
attitude of midwives in the service relationship with the regularity of ANC pregnant women visiting
health centers in the region of Sumbergempol Tulungagung District in 2012. Type of research is cross
sectional analytic approach. The sampling technique using quota sampling with the number of 38
respondents. Then processed in the form of percentages, statistical analysis using chi square test with
0.05 significant.
Based on the results of research conducted showed that the majority of respondents are positive
that 24 respondents (63.2%) and the majority of pregnant women to visit on a regular basis in 32
(84.2%) respondent's practice. The results of chi square test at p value 0.001 get <0.05, so Ho is
rejected and H
1
accepted which means there is a relationship between the attitude of midwives in the
service of the ANC with the regularity of visits pregnant women in the work area clinic Sumbergempol
Tulungagung District.
Pendahuluan
Asuhan Antenatal merupakan suatu
program yang terencana berupa observasi,
edukasi dan penanganan medik pada ibu hamil
dengan standar minimal 7T. Ibu hamil di
anjurkan untuk melakukan pengawasan
antenatal sedikitnya sebanyak 4 kali, yaitu satu
kali pada trimester I, satu kali pada trimester
ke II, dan dua kali pada trimester III, tetapi
pada kenyataannya masih banyak ibu hamil
yang tidak teratur untuk memeriksakan
kehamilanya dikarenakan beberapa faktor
diantaranya sikap dan perilaku petugas
kesehatan. Sehingga untuk cakupan K4 masih
rendah dan belum bisa memenuhi target yang
telah ditetapkan yaitu 90%.
Berdasarkan laporan Profil Kesehatan
Jawa Timur pada tahun 2010, Cakupan K1
tahun 2010 sebesar 96,67%, meningkat
dibandingkan tahun 2009 sebesar 95,92% dan
telah melampaui target nasional 95%. Cakupan
K4 di Jawa Timur tahun 2010 sebesar 88,07%
meningkat dibandingkan tahun 2009 sebesar
85,90% namun belum dapat mencapai target
nasional 90%.
Tujuan Penelitian
Mengetahui hubungan sikap bidan dalam
pelayanan ANC dengan keteraturan kunjungan
ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas
Sumbergempol Kabupaten Tulungagung tahun
2012.
Tinjauan Pustaka
Sikap merupakan keteraturan tertentu
dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran
(kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi)
seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan
sekitarnya.
Faktor Yang Mempengaruhi Sikap:
1. Faktor internal
a. Faktor fisiologis
b. Faktor psikologis
2. Faktor eksternal
a. Pengalaman
b. Situasi
c. Norma-norma
d. Informasi
e. Hambatan
f. dorongan
Menurut Azwar (2009) menyebutkan
bahwa penilaian sikap dapat dibedakan atas
sikap positif dan sikap negatif.
Keterangan :
STS = Sangat tidak setuju
TS = Tidak setuju
S = Setuju
SS = Sangat Setuju
No. Pernyataan STS TS S SS
1. Negatif 4 3 2 1
2. Positif 1 2 3 4
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 43
Antenatal Care (ANC) adalah cara penting
untuk memonitor dan mendukung kesehatan
ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan
kehamilan normal. ANC merupakan perawatan
asuhan yang diiberikan kepada ibu hamil
sebelum kelahiran, yang berguna untuk
memfasilitasi hasil yang sehat dan positif bagi
ibu hamil maupun bayinya dengan cara
menegakkan hubungan kepercayaan dengan
ibu, mendeteksi komplikasi yang dapat
mengancam jiwa, mempersiapkan kelahiran
dan memberikan pendidikan kesehatan.
Terdapat enam standar pelaksanaan
antenatal care (ANC), yaitu:
1. Identifikasi ibu hamil
2. Pemeriksaan dan Pemantauan Antenatal
3. Palpasi Abdominal
4. Pengelolaan Anemia pada Kehamilan
5. Pengelolaan Dini Hipertensi pada
Kehamilan
6. Persiapan Persalinan
Sesuai kebijakan program pelayanan
asuhan antenatal harus sesuai standar yaitu 14
T, meliputi :
1. Timbang berat badan (1T)
2. Ukur tekanan darah (2T)
3. Ukur tinggi fundus uteri (3T)
4. Pemberian tablet Fe sebanyak 90 tablet
selama kehamilan (4T)
5. Pemberian imunisasi TT (5T)
6. Tes tehadap penyakit menular seksual
(6T)
7. Temu wicara dalam rangka persiapan
rujukan (7T)
8. Perawatan payudara, senam payudara dan
pijat tekan payudara (8T)
9. Pemeliharaan tingkat kebugaran / senam
ibu hamil (9T)
10. Pemeriksaan Hb (10T)
11. Pemeriksaan protein urine atas indikasi
(11T)
12. Pemeriksaan reduksi urine atas indikasi
(12T)
13. Pemberian terapi kapsul yodium untuk
daerah endemis gondok (13T)
14. Pemberian terapi anti malaria untuk
daerah endemis malaria (14T)
Keteraturan ANC adalah kedisiplinan atau
kepatuhan ibu hamil untuk melakukan
pengawasan sebelum anak lahir terutama
ditujukan pada anak. Seorang ibu hamil
dikatakan teratur apabila melaksanakan ANC
minimal 4x selama kehamilannya. Dan
dikatakan tidak teratur apabila kunjungan ibu
hamil sampai dengan trimester III kurang dari
4 kali selama kehamilannya.
Keteraturan Kunjungan ibu hamil
merupakan salah satu bentuk perilaku.
Menurut Lawrence Green, faktor faktor yang
berhubungan dengan perilaku ada 3 yaitu:
faktor internal, faktor eksternal, dan faktor
pendorong. Yang termasuk faktor internal
diantaranya : usia dan paritas. Sedangkan yang
termasuk faktor eksternal adalah pengetahuan,
sikap, ekonomi, sosial budaya, geografis dan
dukungan. Kemudian yang terakhir yang
termasuk faktor pendorong adalah sikap dan
perilaku petugas kesehatan (Arikunto, 2003:
92).
Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 10-
20 Februari 2012. Dalam penelitian ini
menggunakan jenis penelitian observasional.
Desain penelitian yang digunakan adalah
analitik dengan pendekatan cross sectional.
Pada penelitian ini pengambilan sampel
menggunakan tehnik Quota yang bersifat non
probability sampling. Jumlah sampling dalam
penelitian ini adalah 38 responden. Setelah
data terkumpul, selanjutnya dilakukan
pengolahan data dengan langkah-langkah
analisa data yaitu editing, coding, scoring,
tabulating.
Data yang terkumpul dianalisa secara
sistematik dengan uji Chi Square untuk
mengetahui bagaimana hubungan sikap bidan
dalam pelaksanaan ANC dengan keteraturan
kunjungan ibu hamil.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan
bahwa sebagian besar dari responden bersikap
positif dan ibu hamil juga teratur dalam
melaksanakan ANC yaitu sebanyak 24 (63,2%)
dari total 38 responden. Berdasarkan hasil uji
statistik chi square, diketahui bahwa penelitian
yang dilakukan terhadap 38 responden di
wilayah kerja Puskesmas Sumbergempol
Kabupaten Tulungagung menunjukkan 0,001 <
0,05 maka Ho ditolak dan H
1
diterima yang
artinya ada hubungan antara sikap bidan
dalam pelayanan ANC dengan keteraturan
kunjungan ibu hamil.
Sikap seseorang dipengaruhi oleh
pengetahuan, sedangkan sikap seseorang
mempengaruhi perilaku, sehingga jika orang
tersebut mempunyai pengetahuan yang luas
dan bersikap positif maka perilakunya juga
akan baik. Sikap responden yang positif
tentang pemeriksaan kehamilan merupakan
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 44
salah satu faktor yang mempengaruhi
keteraturan ANC.
Kesimpulan
1. Sebagian besar dari responden yaitu 24
responden (63,2%) memiliki sikap positif
dalam pelayanan ANC.
2. Sebagian besar dari tempat praktek
responden yaitu 32 (84,71%) ibu
hamilnya sudah teratur dalam melakukan
kunjungan ANC
3. Hasil penelitian berdasarkan uji statistik
chi square dengan signifikan 0,05
didapatkan p-value 0,001 < 0,05 sehingga
Ho ditolak dan H
1
diterima yang berarti
adanya hubungan antara sikap bidan
dalam pelayanan ANC dengan keteraturan
kunjungan ibu hamil.
Saran
1. Responden (Bidan)
Diharapkan responden meningkatkan
jumlah frekwensi penyuluhan tentang
Antenatal care (ANC) dengan berbagai
metode seperti penyuluhan individu,
penyuluhan kelompok, pemberian leaflet
dll.
2. Bagi Tempat Penelitian (Puskesmas
Sumbergempol)
Diharapkan hasil penelitian ini dapat
dijadikan inspirasi sehingga menambah
kinerja bidan untuk selalu menjadi yang
terbaik.
3. Institusi Pendidikan (Prodi DIII
Kebidanan)
Diharapkan lebih proaktif bekerjasama
dengan instansi kesehatan dalam
mengadakan seminar tentang pelayanan
ANC
4. Bagi peneliti selanjutnya
Diharapkan mampu mengembangkan
penelitian dengan metode dan variabel
yang lebih luas tentang sikap bidan dalam
pelayanan ANC.
Daftar Pustaka
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka
Cipta. Hal 236-237
Azwar, A. 2003. Metodologi Penelitian
Kedokteran Dan Kesehatan Masyarakat.
Batam: Binarupa Aksara. Hal 24-25
Bobak, Lowdermilk. 2004. Buku Ajar
Keperawatan Maternitas Ed.4. Jakarta:
Egc. Hal 143
Depkes RI. 2003. Standar Pelayanan
Kebidanan. Jakarta.
Dinas Kesehatan. 2009. Pencapaian Program
Pelayanan Kesehatan.
Htp//Www.Dinkes.Go.Id. Diakses
Tanggal 22 Oktober 2010.
Hadi, S. 2004. Metodologi Research.
Yogyakarta: Andi Offset. Hal 45.
Hidayat. A. 2007. Metodologi Penelitian
Kebidanan & Teknik Analisa Data.
Jakarta: Salemba Medika. Hal 34,86
Hidayat, R. 2009. Asuahan Keperawatan Pada
Ibu Hamil. Jakarta: Salemba Medika. Hal
39
Harnawati, 2004. Asuhan Antenatal. Jakarta:
Rineka Cipta. Hal 115
IBI. 2006. Ikatan Bidan Indonesia. Jakarta:
Salemba Medika. Hal 115-120
Kusmiati, Yuni, Wahyuning Dkk. 2009.
Perawatan Ibu Hamil. Yogyakarta:
Fitramaya.
Kanthi, W.2003. Asuhan Antenatal. Jakarta:
Salemba Medika. Hal 15
Manuaba, I. 2001. Memahami Kesehatan
Reproduksi Wanita. Jakarta : Arcan. Hal
2,95
Mandriwati, Ga. 2007. Asuhan Kebidanan Ibu
Hamil. Jakarta: Egc. Hal 67
Mufdillah. 2009. Pemeriksaan Kehamilan
Fokus. Yogyakarta: Nuha Medika Hal 35
Notoadmodjo, S. 2003. Pendidikan Dan
Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta. Hal 11, 165, 121-130, 164-168
Nursalam. 2003. Konsep Dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu Kesehatan.
Surabaya: Salemba Medika. Hal 79, 96,
100-101
Nursalam Dan Pariani. 2001. Pendekatan
Praktis Metodologi Riset Keperawatan.
Jakarta: Cv. Seto. Hal 126, 132-134
Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu
Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka. Hal 4-5
Saifudin, dkk. 2003. Pelayanan Kesehatan
Maternal Dan Neonatal. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Sugiono. 2007. Statistika Untuk Penelitian.
Bandung: CV Alvabeta. Hal 67
Sujiatini, Dkk. 2008. Promosi Kesehatan Dan
Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta. Hal
203. 127, 139
Walgito, B. 2003. Psikologi Sosial.
Yogyakarta: Andi.
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 45
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN PERKEMBANGAN ANAK USIA 0-1 TAHUN DI
POSYANDU DESA BAGO KEC.TULUNGAGUNG KAB. TULUNGAGUNG
TAHUN 2012
Oleh :
ETTY YUVITASARI
SITI MARYAM, SST. M.Kes
ERIK EKOWATI, SST
Nutrition status is a value that can be measured in terms of a child physically. One of the
important role of nutrition status is its influence on the development of a child. The purpose of this
study was to determine the relationship between the development of the Children's nutrition status.
This type of study is an observational study design with Analytical. As for the approach between the
variables is the "Cross Sectional". Sampling technique used in this study are proportional random
sampling, amounting to 450 children. Data were tested with the help of computers using the Chi
Square test technique with of 0.05.
The results showed that a good nutrition status is as much as 26 (32%) children, whereas
children with normal development is as much as 36 (44%) children, with a P value = 0.035. This
shows that there is a significant relationship between nutritional status with the development.
Pendahuluan
Pembinaan perkembangan anak bertujuan
membantu anak agar dapat mencapai tingkat
perkembangan yang sesuai dengan seharusnya.
Kegiatan ini tidak dapat dipisahkan dengan
kegiatan pemantauan perkembangan seperti
halnya pemberian makanan yang cukup dan
bergizi sesuai kebutuhan.
Berdasarkan sensus yang dilakukan tahun
2010 di seluruh posyandu Indonesia, ternyata
ada 400 ribu lebih posyandu di Indonesia,
tetapi anak yang dibawa ke posyandu
jumlahnya hanya sekitar 50% saja. Ini
menunjukkan program-program gizi yang
berbasis pada posyandu justru tidak seluruhnya
dapat menyentuh sasaran yang bermasalah
gizi. Jumlah kasus gizi buruk di Jatim sendiri
mencapai 5.200 anak. Dari jumlah 5.200 anak
ini, 40 persennya disebabkan karena kesalahan
pemberian asupan makanan gizi, kemiskinan
28 persen dan penyakit bawaan 25 persen.
Tujuan Penelitian
Mengetahui hubungan status gizi dengan
perkembangan anak usia 0-1 tahun di
Posyandu Desa Bago Kec. Tulungagung Kab.
Tulungagung tahun 2012.
Tinjauan Pustaka
Status gizi adalah ekspresi dari keadaan
keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu,
atau perwujudan dari nutrisi dalam bentuk
variabel tertentu. Untuk penentuan status gizi
menurut Supariasa (2002: 46) dapat dilakukan
dengan dua cara yaitu:
1. Penilain status gizi secara langsung
diantaranya:
a. Antropometri digunakan untuk
melihat ketidakseimbangan asupan
protein dan energi.
b. Klinis, didasarkan pada perubahan-
perubahan yang terjadi yang
dihubungkan dengan ketidakcukupan
zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada
jaringan epitel, seperti kulit, mata,
rambut dan mukosa oral atau pada
organorgan yang dekat dengan
permukaan tubuh.
c. Biokimia, penilaian status gizi
dengan pemeriksaan spesimen yang
diuji secara laboratoris yang
dilakukan pada berbagai macam
jaringan tubuh
d. Biofisik, penentuan status gizi dengan
melihat kemampuan fungsi
(khususnya jaringan) dan melihat
perubahan struktur dari jaringan.
2. Penilaian status gizi secara tidak
langsung, diantaranya:
a. Survei konsumsi makanan
b. Statistik vital, pengukuran status gizi
dengan menganalisis data beberapa
statistik kesehatan seperti angka
kematian berdasarkan umur, dll
c. Faktor ekologi dimana penilaian
didasarkan sebagai hasil interaksi
beberapa faktor fisik, biologis dan
lingkungan budaya.
Perkembangan adalah bertambahnya
struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks
dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus,
bicara dan bahasa serta sosialisasi dan
kemandirian. Ciri- Ciri Tumbuh Kembang:
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 46
1. Pertumbuhan Menimbulkan Perubahan
2. Pertumbuhan dan Perkembangan
Menentukan Perkembangan
selanjutnya.
3. Pertumbuhan dan Perkembangan
Mempunyai Kecepatan yang berbeda.
4. Perkembangan Berkorelasi dengan
Pertumbuhan
5. Perkembanggan Mempunyai Pola yang
Tetap
6. Perkembangan Memiliki Tahap Berurutan
Faktor-faktor yang Memiliki Kualitas
Tumbuh Kembang:
1. Gizi
2. Penyakit Kronis atau Kelainan
Konginental.
3. Lingkungan Fisis dan Kimia
4. Psikologis
5. Endokrin
6. Sosial-Ekonomi
7. Lingkungan Pengasuhan
8. Stimulasi
9. Obat-Obatan
Aspek-Aspek Perkembangan yang
Dipantau:
1. Gerak Kasar Atau Motorik Kasar
Adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak melakukan pergerakan
dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot
besar seperti duduk, berdiri dan
sebagainya.
2. Gerak Halus Atau Motorik Halus
Adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak melakukan gerakan
yang melibatkan bagian-bagian tubuh
tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil.
3. Kemampuan Bicara Dan Bahasa
Adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan untuk memberikan respon
terhadap suara, berbicara dan
berkomunikasi mengikuti perintah dan
sebagainya.
4. Sosial dan kemandirian
Adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan mandiri anak (makan sendiri,
membereskan mainan selesai bermain).
Ada tiga jenis deteksi dini tumbuh
kembang yang dapat dilakukan oleh tenaga
puskesmas, berupa:
1. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan
2. Deteksi dini penyimpangan
perkembangan
3. Deteksi dini penyimpangan mental
emosional
Skrining atau pemeriksaan perkembangan
anak menggunakan kuesioner pra skrining
perkembangan (KPSP). Tujuannya adalah
untuk mengetahui perkembangan anak normal
atau mengalami penyimpangan. Jadwal
skrining atau pemeriksaan KPSP rutin adalah
pada umur 3, 6, 9, dan 12 bulan. Formulir
KPSP berisi 9-10 pertanyaan tentang
kemampuan perkembangan yang telah dicapai
anak. Sasaran KPSP anak umur 0-12 bulan.
Cara menggunakan KPSP
1. Anak yang akan diperiksa.
2. Tentukan umur anak.
3. Pilih KPSP yang sesuai umur anak
4. KPSP terdiri dari 2 macam pertanyaan.
a. Pertanyaan yang dijawab oleh
pengasuh anak.
b. Pertanyaan ibu anak atau petugas
untuk melaksanakan tugasnya ditulis
KPSP.
5. Jelaskan pada orangtua agar tidak ragu
untuk menjawab.
6. Tanyakan pertanyaan tersebut secara
berurutan, serta pertanyaan hanya ada 1
jawaban, ya atau tidak. Catat
pertanyaan tersebut pada formulir.
7. Teliti kembali apakah semua pertanyaan
sudah di jawab.
Perkembangan bayi jauh lebih pesat
daripada perkembangan orang dewasa. Hal
tersebut mengakibatkan bayi membutuhkan
gizi yang jauh lebih banyak pula.
Perkembangan bayi yang optimal akan tercapai
bila ia mendapatkan asupan makanan yang
memadai, asupan zat gizi yang kurang dapat
menyebabkan gizi buruk, dan nilai status gizi
kurang dapat mempengaruhi perkembangan
anak, baik gerak kasarnya, bahasa maupun
kemandirian anak.
Metodologi Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah
observasional, Desain penelitian yang
digunakan adalah analitik, Sifat penelitian
korelasional, Pendekatan yang dilakukan
adalah pendekatan cross sectional. Adapun
teknik sampel yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu Propotional random
sampling. Setelah data terkumpul kemudian
dilakukan analisa data dengan tahap-tahap
editing, coding, scoring, tabulating.
Dalam menganalisis hubungan status gizi
terhadap perkembangan menggunakan bantuan
komputer jenis uji statistik korelasi chi square.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan
dari 82 responden hampir setengah dari
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 47
responden memiliki status gizi baik yaitu 26
(32%) dan hampir setengah dari responden
memiliki perkembangan normal yaitu 36
(44%) responden dan sebagian kecil dari
responden yang masuk dalam kategori gizi
baik memiliki perkembangan normal yaitu 18
(22%) responden.
Dari hasil uji ststistik chi square diperoleh
hasil p-value 0,035 lebih kecil dari signifikasi
0,05 atau (0,035 < 0,05) maka Ho ditolak dan
H1 diterima yang artinya Ada hubungan
yang signifikasi antara tatus gizi dengan
perkembangan anak usia 0-1 tahun di
Posyandu Desa Bago Kec. Tulungagung Kab
Tulungagung tahun 2012.
Mempertahankan status gizi seorang anak
memang tergolong sulit, karena setiap anak
memiliki daya tahan tubuh yang berbeda-beda.
Tentu saja gizi yang berperan dalam
mempertahankan status gizi tersebut, harus
dilengkapi zat makanan yang adekuat
(seimbang). Responden yang tergolong gizi
baik memiliki perkembangan normal.
Sehingga, dapat disimpulkan bahwa ternyata
status gizi dapat mempengaruhi tingkat
perkembangan Anak secara optimal.
Kesimpulan
1. Hampir setengah dari responden memiliki
status gizi baik yaitu 26 (32%) responden.
2. Hampir setengah dari responden memiliki
perkembangan normal yaitu 36 (44%)
responden.
3. Dari hasil uji statistik chi square
menunjukkan hasil p-value 0,035 lebih
kecil dari signifikasi 0,05 atau (0,035 <
0,05) maka Ho ditolak dan H1 diterima
yang artinya Ada hubungan antara status
gizi dengan perkembangan anak usia 0-1
tahun.
Saran
1. Bagi Orangtua responden
Diharapkan bagi ibu yang memiliki anak
usia 0-1 tahun dapat memaksimalkan
perhatian terhadap anak khususnya dalam
hal gizi.
2. Bagi tenaga kesehatan
Hendaknya petugas kesehatan lebih
meningkatkan kualitas posyandu yang
sudah berjalan dengan selalu memeriksa
perkembangan anak.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Hendaknya bagi peneliti selanjutnya
berupaya mengembangkan suatu
penelitian dengan menggunakan metode
dan variabel penelitian yang lebih luas.
Daftar Pustaka
Almatsier, S. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.
Jakarta: Gramedia Pustaka. Hal 43
Arisman, MB. 2007. Gizi Dalam Daur
Kehidupan. Jakarta: EGC. Hal 44,
72, 73, 74, 75
Gupte, Suraj. 2004. Panduan Perawatan Anak.
Jakarta: Pustaka Populer Obor.
Hal 27
Hidayat, Alimul.,A. 2007. Metode Penelitian
Kebidanan dan Teknik Analisa
Data. Jakarta: Salemba Medika.
Hal 43, 50, 68, 81, 87, 121
Indiarti, M.T.2004. Asi Susu Formula &
Makanan Bayi. Yogyakarta:
Pimatera-Publishing. Hal 45-58
Indonesia, Depkes. 2006. Analisis Situasi Gizi
dan Kesehatan Masyarakat.
Jakarta: Ditjen BinKesMas. Hal 13
Notoatmodjo, S. 2005. Metode Penelitian
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Hal 22, 69, 70, 142, 145
Khomsan, Ali. 2004. Peranan Pangan dan
Gizi Untuk Kualitas Hidup. Jakarta:
PT Grasindo Anggota Ikapi. Hal 67
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Surabaya: Salemba
Medika. Hal 59, 91, 111
Purnomo,Windhu. 2009. Metodologi
Penelitian Kuantitatif. Surabaya:
Universitas Airlangga. Hal 23, 27
Santoso Soegeng dan Ranti Anne Lies. 2004.
Kesehatan dan Gizi. Jakarta:
Rineka Cipta. Hal 65
Setiawan dan saryono.2010. Metodologi
Penelitian Kebidanan, Yogyakarta:
Nuha Medika. Hal 54
Sugiono. 2007. Statistika untuk Penelitian.
Bandung: Alfa Beta. Hal 246
Supariasa, I Dewa Nyoman, Bahyar Bakri,
dkk.2002. Penilaian Status Gizi.
Jakarta: EGC. Hal 15, 17-18, 19-20,
29, 48-49, 51, 146
Suhardjo. 2003. Berbagai Cara Pendidikan
Gizi. Jakarta: Bumi Aksara. Hal 13
Admin. 2011. Perkembangan Bayi dan Balita.
Jakarta. www. peutuah. com.
Tanggal 19 Oktober 2011. Pukul
14.50 WIB
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 48
HUBUNGAN KEJADIAN PRE-EKLAMPSIA DENGAN KEJADIAN HAEMORAGIC
POST PARTUM(HPP) DI RSUD dr. ISKAK KABUPATEN TULUNGAGUNG
TAHUN 2011
Oleh :
ISNA LAILATUL MAHYA
NUNIK NINGTIYASARI, S.Si.T
WIDYA LUSI ARISONA, SST
Pre-eclampsia is not only generated a lot of complications during pregnancy, but also post
partum and during childbirth. These complications include asphyxia in infants, impaired breathing,
hypothermia, hypoglycemia, infection, hyperbilirubinemia, and HPP. The purpose of this study was to
determine the incidence of pre-eclampsia relationship with the incidence of HPP in hospitals dr. Iskak
Tulungagung District in 2011. This type of research in this study was observational, analytical
research design that is corelasional crossectional approach. Samples were taken with the technique of
sampling a total of 112 samples. Data were analyzed by Chi Square test using SPPS program.
The results obtained from a total of 112 labor most of the labor is labor of mothers who had
not had pre-eclampsia and did not have HPP, as many as 86 deliveries (76.79%). Chi Square test
statistic with a 0.05 earned significant p value 0.001 where 0.001 <0.05, so H0 is rejected and H1
accepted, meaning there is a relationship between pre-eclampsia by HPP events in hospitals dr. Iskak
Tulungagung.
Pendahuluan
Penyebab AKI dikenal dengan Trias
Klasik yaitu perdarahan, eklampsia, dan
infeksi. Pre-eklampsia/ eklampsia merupakan
penyebab kematian ibu tertinggi kedua setelah
perdarahan. Pre-eklampsia merupakan penyulit
kehamilan yang akut yang dapat terjadi ante,
intra dan post partum. Pre-eklampsia adalah
timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan
edema akibat kehamilan setelah usia
kehamilan 20 minggu atau segera setelah
persalinan.
Data dari Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) pre-eklampsia
dan eklampsia menduduki peringkat kedua
penyebab kematian ibu melahirkan di
Indonesia yakni 24%. Sedangkan menurut LB
3 KIA dipropinsi Jawa Timur penyebab
terbesar kematian ibu berturut-turut adalah
perdarahan (34,62%) diikuti Pre-eklampsia
(28,2%) kemudian infeksi (3,02 %) dan
penyebab yang lainnya (34,16%). Pre-
eklampsia dengan komplikasi HPP juga
menjadi salah satu penyebab kematian ibu di
RSUD dr ISKAK. Pada tahun 2009 angka
kejadian pre-eklampsia dan eklampsia di
RSUD dr. Iskak Tulungagung sebanyak 18
orang (26,5%) dari 68 kematian ibu.
Tujuan Penelitian
Mengetahui adanya Hubungan Kejadian
Pre-eklampsia dengan Kejadian HPP di RSUD
dr. Iskak Kabupaten Tulungagung tahun 2011
Tinjauan Pustaka
Pre-eklampsia merupakan suatu kondisi
spesifik kehamilan dimana hipertensi terjadi
setelah kehamilan 20 minggu pada wanita yang
sebelumnya memiliki tekanan darah normal.
Pre-eklamsia merupakan gangguan hipertensi
yang paling sering pada kehamilan.
Penyebab pre-eklampsia belum diketahui
dengan pasti. Penyakit ini lebih sering
ditemukan pada wanita hamil yang:
1. Primigravida
2. Hiperplasentosis
Pada kehamilan kembar, janin besar,
molahidatidosa, dan hidrops fetalis
3. Mempunyai dasar penyakit vaskular
Hipertensi atau diabetes melitus
4. Mempunyai riwayat pre-
eklampsia/eklampsia dalam keluarganya.
Pada pre-eklampsia yang berat dan
eklampsia dapat terjadi perburukan patologis
pada sejumlah organ dan sistem yang
kemungkinan diakibatkan oleh vasospasme
dan iskemia.
Penggolongan pre-eklampsia:
1. Pre-eklampsia ringan. Tanda-tanda pre-
eklampsia ringan:
a. Tekanan sistolik 140 mmHg atau
lebih atau kenaikan 30 mmHg diatas
tekanan biasanya. Tekanan diastolik
90 mmHg atau lebih atau kenaikan 15
mmHg diatas tekanan biasanya.
b. Proteinuria lebih dari 0,3 g/l dalam
urine 24 jam.
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 49
c. Edema pada kaki, jari tangan, dan
wajah, terutama yang menetap
sesudah bangun pagi.
2. Preeklampsia berat. Tanda-tanda
preeklampsia berat adalah :
a. Tekanan darah sistolik 160 mmHg
atau lebih, dan/atau diastolik 110
mmHg atau lebih, diukur 2 kali
dengan jarak waktu sekurang-
kurangnya 6 jam.
b. Proteinurine 5 gram atau lebih dalam
24 jam.
c. Oliguri, yaitu produksi urine 400 cc
atau kurang dalam 24 jam.
d. Gangguan cerebral atau gangguan
penglihatan.
e. Edema paru atau sianosis.
Menurut Pangemanan (2002) prognosis
preeklampsia adalah:
1. Bagi Ibu
a. Ruptura hati, perdarahan
intraserebral,
b. Henti jantung paru,
c. Pneumonitis aspirasi,
d. Edema paru akut,
e. Perdarahan pasca persalinan (HPP)
2. Bagi Janin
a. Asfiksia Neonatorum
b. Prematur
c. BBLR
Penatalaksanaan pre-eklampsia:
1. Pre-eklampsia ringan
Penderita pre-eklampsia ringan harus
dirawat inap, akan tetapi dengan
pertimbangan efisiensi, dapat dilakukan di
luar rumah sakit dengan memperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
a. Rawat jalan:
1) Banyak istirahat (berbaring atau
tidur miring).
2) Diet cukup protein, rendah
karbohidrat, lemak, dan garam.
3) Sedatif ringan, berupa
fenoberbital (3x30 mg per oral)
atau diazepam (3x2 mg per oral)
selama 7 hari.
4) Roboransia.
5) Penderita dianjurkan untuk
melakukan kunjungan ulang
setiap minggu.
b. Rawat inap
1) Setelah 2 minggu pengobatan
rawat jalan, tidak ada perbaikan
pada gejala klinis.
2) Berat badan meningkat lebih
dari 2 kg/minggu selama 2 kali
berturut-turut.
3) Timbul salah satu atau lebih
gejala (tanda-tanda) pre-
eklampsia berat
2. Pre-eklampsia berat
a. Perawatan konservatif (usia
kehamilan <36 minggu)
1) Tirah baring
2) Infus D5:RL= 3:1
3) Diet cukup garam dan cukup
protein (diet pre-klampsia)
4) Pasang kateter tetap (bila perlu)
b. Perawatan aktif (terminasi
kehamilan), yaitu pada keadaan-
keadaan dibawah ini:
1) Umur kehamilan >36 minggu
2) Terdapat tanda-tanda impending
eklampsia atau eklampsia
3) Gawat janin
4) Sindrom HELLP
Kegagalan perawatan konservatif, yakni
setelah 6 jam perawatan tidak terlihat tanda-
tanda perbaikan penyakit
Haemoragic post partum (HPP) adalah
perdarahan melebihi 500 ml yang terjadi
setelah bayi lahir. Gejala klinis umum yang
terjadi ialah kehilangan darah dalam jumlah
banyak > 500 ml), nadi lemah, pucat, lochea
berwarna merah, haus, pusing, gelisah, letih
dan dapat terjadi syok hipovolemik, tekanan
darah rendah, ekstremitas dingin, mual.
Klasifikasi HPP:
1. HPP primer/dini (early post partum
hemorrhage), yaitu perdarahan yang
terjadi dalam 24 jam pertama.
2. HPP Sekunder/lambat (late post partum
hemorrhage), yaitu perdarahan yang
terjadi setelah 24 jam pertama.
Cara yang terbaik untuk mencegah
terjadinya HPP adalah memimpin kala II dan
kala III persalinan secara tepat. Penanganan
umum pada HPP:
1. Ketahui dengan pasti kondisi pasien sejak
awal (saat masuk)
2. Pimpin persalinan dengan mengacu pada
persalinan bersih dan aman
3. Lakukan observasi melekat pada 2 jam
pertama pasca persalinan.
4. Selalu siapkan keperluan tindakan gawat
darurat
5. Segera lakukan penlilaian klinik dan
upaya pertolongan
6. Atasi syok
7. Pastikan kontraksi berlangsung baik
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 50
8. Pastikan placenta telah lahir dan lengkap,
9. Bila perdarahan terus berlangsung,
lakukan uji beku darah.
10. Pasang cateter tetap dan lakukan
pemantauan input-output cairan
11. Cari penyebab perdarahan dan lakukan
penangan spesifik.
Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian di RSUD dr. Iskak
Tulungagung menunjukkan bahwa terdapat
hubungan yang erat antara pre-eklampsia
dengan kejadian HPP, yang mana dari 21 ibu
pre-eklampsia, 11 diantaranya mengalami
HPP. Dari uji statistik Chi Square dengan
signifikan 0,05 yang telah dilakukan,
didapatkan p value 0,001 dimana 0,001 < 0,05
sehingga H
0
ditolak dan H
1
diterima, yang
berarti ada hubungan antara pre-eklampsia
dengan kejadian HPP.
Peningkatan kejadian kematian akibat
pre-eklampsia dengan komplikasi Haemoragic
post partum (HPP) sampai saat ini
penyebabnya belum diketahui secara pasti
namun pre-eklampsia merupakan salah satu
faktor yang menyebabkan HPP. Dengan
demikian Wanita dengan pre-eklampsia dapat
mengalami peningkatan respon terhadap
berbagai substansi endogen (seperti
prostaglandin, tromboxan) yang dapat
menyebabkan vasospasme dan agregasi
platelet. Penumpukan trombus dan pendarahan
dapat mempengaruhi sistem saraf pusat yang
ditandai dengan sakit kepala dan defisit saraf
lokal dan kejang. Nekrosis ginjal dapat
menyebabkan penurunan laju filtrasi
glomerulus dan proteinuria. Kerusakan hepar
dari nekrosis hepatoseluler menyebabkan nyeri
epigastrium dan peningkatan tes fungsi hati.
Manifestasi terhadap kardiovaskuler meliputi
penurunan volume intravaskular,
meningkatnya cardiac output dan peningkatan
tahanan pembuluh perifer. Peningkatan
hemolisis microangiopati menyebabkan
anemia dan trombositopeni bahkan bisa sampai
menyebabkan HPP.
Kesimpulan
1. Dari total 112 responden yang
melahirkan, hampir seluruhnya dari
responden yaitu 91 (81,25%) tidak
mengalami pre-eklampsia
2. Dari total 112 persalinan, hampir
seluruhnya dari responden yaitu 96
(85,71%) responden di RSUD dr. Iskak
Tulungagung tidak mengalami HPP.
3. Berdasarkan uji statistic Chi Square
dengan signifikan 0,05yang telah
dilakukan, didapatkan p value 0,001
dimana 0,001 < 0,05 sehingga H
0
ditolak
dan H
1
diterima, yang berarti ada
hubungan antara pre-eklampsia dengan
kejadian HPP.
Saran
1. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk
menambah wawasan khususnya tentang
aplikasi metodologi penelitian sebagai
pengabdian kepada masyarakat, dan dapat
dijadikan tambahan informasi sebagai
referensi untuk penelitian selanjutnya
2. Bagi Tempat Penelitian
Hendaknya meningkatkan kemampuan
dalam pengawasan dan pelayanan
antenatal serta penanganan neonatus
dengan komplikasi dengan cara
memberikan pelatihan yang berkelanjutan
sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang ada.
3. Bagi Instansi Pendidikan
Diharapkan ada kerjasama dengan Dinas
Kesehatan untuk menyelenggarakan
berbagai kegiatan penyuluhan kepada ibu
hamil dan sosialisasi kepada tenaga
kesehatan tentang pengawasan antenatal
yang tepat.
Daftar Pustaka
Almatsier, S. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.
Jakarta: Gramedia Pustaka. Hal 43
Arisman, MB. 2007. Gizi Dalam Daur
Kehidupan. Jakarta: EGC. Hal 44,
72, 73, 74, 75
Gupte, Suraj. 2004. Panduan Perawatan Anak.
Jakarta: Pustaka Populer Obor.
Hal 27
Hidayat, Alimul.,A. 2007. Metode Penelitian
Kebidanan dan Teknik Analisa
Data. Jakarta: Salemba Medika.
Hal 43, 50, 68, 81, 87, 121
Indiarti, M.T.2004. Asi Susu Formula &
Makanan Bayi. Yogyakarta:
Pimatera-Publishing. Hal 45-58
Indonesia, Depkes. 2006. Analisis Situasi Gizi
dan Kesehatan Masyarakat.
Jakarta: Ditjen BinKesMas. Hal 13
Notoatmodjo, S. 2005. Metode Penelitian
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Hal 22, 69, 70, 142, 145
Khomsan, Ali. 2004. Peranan Pangan dan
Gizi Untuk Kualitas Hidup. Jakarta:
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 51
PT Grasindo Anggota Ikapi. Hal 67
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Surabaya: Salemba
Medika. Hal 59, 91, 111
Purnomo,Windhu. 2009. Metodologi
Penelitian Kuantitatif. Surabaya:
Universitas Airlangga. Hal 23, 27
Santoso Soegeng dan Ranti Anne Lies. 2004.
Kesehatan dan Gizi. Jakarta:
Rineka Cipta. Hal 65
Setiawan dan saryono.2010. Metodologi
Penelitian Kebidanan, Yogyakarta:
Nuha Medika. Hal 54
Sugiono. 2007. Statistika untuk Penelitian.
Bandung: Alfa Beta. Hal 246
Supariasa, I Dewa Nyoman, Bahyar Bakri,
dkk.2002. Penilaian Status Gizi.
Jakarta: EGC. Hal 15, 17-18, 19-20,
29, 48-49, 51, 146
Suhardjo. 2003. Berbagai Cara Pendidikan
Gizi. Jakarta: Bumi Aksara. Hal 13
Admin. 2011. Perkembangan Bayi dan Balita.
Jakarta. www. peutuah. com.
Tanggal 19 Oktober 011. Pukul
14.50 WIB
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 52
HUBUNGAN SIKAP WANITA USIA SUBUR (WUS) TENTANG KB SUNTIK
DENGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN KB DI BPS LELY
DESA SOBONTORO KABUPATEN TULUNGAGUNG
TAHUN 2012
Oleh :
WAHIDATUS KHUMEIYAROH
SITI MARYAM, SST, M.Kes
ASTIKA RASYIID, SST
Family planning is one of the preventive health service that is very principle and eminent for
woman. . One of the failure family plan injection is the late of acceptor to do visiting that. The purpose
of this study was to the relationship between the attitude of healthy age woman with the obedient of
visiting family planning in the practice midwife Lely Sobontoro Village Tulungagung year 2012. This
type of research used an observational, analytical research design is correlation with Cross Sectional
Approach. The sample is taken by 35 respondents using accidental sampling, data analysis using chi
square test with computer.
The results showed 18 respondents (51,43%) having a negative attitude, 24 respondents
obedient to do visiting family plan injection. The results of the analysis with Chi-square test to prove
the relationship between the attitude of healthy age woman with the obedient of visiting family
planning , can be seen p value = 0.002 that 0.002 < 0.05 so Ho rejected and H1 accepted, meaning
there is the relationship between the attitude of healthy age woman with the obedient of visiting family
planning.
Pendahuluan
Keluarga Berencana (KB) merupakan
salah satu pelayanan kesehatan preventif yang
paling dasar dan utama bagi wanita. Pemilihan
kontrasepsi yang rasional disesuaikan oleh
keinginan akseptor KB yaitu fase menunda
kehamilan, fase menjarangkan kehamilan dan
fase mengakhiri kehamilan. Untuk mempunyai
sikap yang positif tentang KB diperlukan
pengetahuan yang baik, demikian sebaliknya
bila pengetahuan kurang maka kepatuhan
menjalani program KB berkurang. Demikian
juga, wanita usia subur yang memiliki
pengetahuan baik akan memiliki sikap yang
positif sehingga patuh melakukan kunjungan
KB di pelayanan kesehatan.
Pada tahun 2009 lebih dari 14.995 orang
wanita (74,71%) berstatus menikah pernah
menggunakan KB suntik dan sekitar 147.923
orang wanita (76,89% ) berstatus menikah
sedang menjadi peserta KB aktif. Hanya saja
selama tahun 2009 ditemukan 806 akseptor KB
suntik di Jawa yang mengalami kegagalan.
Sedikitnya 350 akseptor KB suntik yang
mengakui kegagalan tersebut terjadi karena
keterlambatan atau kealpaan melakukan
control.
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui hubungan sikap wanita
usia subur (WUS) tentang KB suntik dengan
kepatuhan kunjungan KB di BPS Lely Desa
Sobontoro Kabupaten Tulungagung Tahun
2012.
Tinjauan Pustaka
Sikap merupakan reaksi atau respon
seseorang yang masih tertutup terhadap suatu
stimulus atau objek. Menurut Azwar (2009:
30) faktor-faktor yang mempengaruhi sikap
yaitu:
1. Pengalaman pribadi
2. Pengaruh orang lain yang dianggap
penting
3. Kebudayaan
4. Informasi
5. Lembaga pendidikan dan agama
6. Pengaruh faktor emosi
Skala sikap menggunakan skala Likert
dikenal sebagai summatedratings method.
Beberapa bentuk jawaban pertanyaan atau
pernyataan yang masuk dalam kategori skala
Likert dengan skor adalah sebagai berikut:
Keterangan:
SS : Sangat setuju
S : Setuju
TS : Tidak setuju
STS : Sangat tidak setuju
No. Pernyataan STS TS S SS
1. Negatif 4 3 2 1
2. Positif 1 2 3 4
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 53
Data-data tersebut kemudian dirubah
menjadi skor T dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
)
`

+ =
S
X - X
10 50 T
Keterangan :
X : Skor responden
X : Mean skor kelompok
S : Standar deviasi skor kelompok.
Skor mean T merupakan skala yang
biasa digunakan dalam skala model Likert
untuk menentukan sikap seseorang
1. Sikap Positif : skor T mean T
2. Sikap negatif : skor T < mean T
Dari hasil dalam penelitian ini dilakukan
analisa data dengan teknik diskripsi prosentase.
Menurut Nursalam (2003) analisa data yang
digunakan adalah sebagai berikut:
P = % 100
Sm
Sp
Keterangan :
P : Prosentase
Sp : Jumlah responden dengan Kriteria
Tertentu
Sm : Jumlah seluruh responden
Faktor-faktor yang mempengaruhi
perilaku menurut Notoadmojo (2003: 164-
168):
1. Faktor predisposisi terdiri dari :
a. Pendidikan.
b. Sikap
c. Motivasi
2. Faktor Pendukung terdiri dari :
a. Lingkungan
b. Tokoh Masyarakat
3. Faktor Pendorong
Petugas Kesehatan merupakan faktor
pendorong pada perilaku manusia.
Skala yang diigunakan dalam pengukuran
perilaku adalah skala Guttman, skala ini
merupakan skala yang bersifat tegas dan
konsisten. Sedangkan kepatuhan adalah
perilaku sesuai aturan dan berdisiplin.
Kriteria kepatuhan :
1. Patuh bila datang sesuai jadwal kunjungan
KB suntik
2. Tidak patuh bila datang tidak sesuai
jadwal kunjungan KB suntik dan atau
tidak datang
Patuh adalah perubahan tingkah laku
Carpenito (2000) yang dipengaruhi oleh:
1. Pola kepatuhan umum
2. Stabilitas dan pengaruh keluarga
3. Persepsi kerentanan diri sendiri terhadap
penyakit
4. Persepsi bahwa penyakit serius
5. Tindakan yang manjur
Keluarga Berencana adalah upaya
peningkatan kepedulian masyarakat dalam
mewujudkan keluarga kecil yang bahagia
sejahtera. KB suntik 1 bulan merupakan suntik
kombinasi yaitu kontrasepsi suntik yang berisi
hormon sintesis esterogen dan progesterone.
Mekanisme kerja KB suntik 1 bulan menurut
Saifuddin:
1. Menekan ovulasi.
2. Membuat lendir serviks menjadi kental
sehingga penetrasi sperma terganggu.
3. Perubahan pada endometrium (atrofi)
sehingga implantasi terganggu.
4. Menghambat transportasi gamet oleh
tuba.
Efek samping KB Suntik 1 bulan menurut
Saifuddin (2006: MK-38)
1. Amenorea
2. Mual/pusing/muntah
3. Perdarahan/perdarahan bercak (spotting)
Suntikan pertama diberikan dalam waktu
7 hari siklus haid. Bila suntikan pertama
diberikan setelah 7 hari siklus haid, klien tidak
boleh melakukan hubungan seksual selama 7
hari atau gunakan kontrasepsi lain.
KB suntik 3 bulan yaitu kontrasepsi
suntikan yang berisi hormon progesteron
(Handayani, 2010: 111). Diberikan setiap 12
minggu. Mekanisme kerja KB suntik 3 bulan:
1. Mencegah ovulasi.
2. Mengentalkan lendir serviks sehingga
menurunkan kemampuan penetrasi
sperma.
3. Menjadikan selaput lendir rahim tipis dan
atrofi.
4. Menghambat transportasi gamet oleh
tuba.
Efek samping KB suntik 3 bulan menurut
Handayani (2010: 114)
1. Amenorhea.
2. Perdarahan hebat atau tidak teratur.
3. Pertambahan atau kehilangan berat badan
(perubahan nafsu makan).
Waktu mulai menggunakan kontrasepsi
suntikan 3 bulan adalah setiap saat selama
siklus haid, asal ibu tersebut tidak hamil. Mulai
hari pertama sampai hari ke 7 siklus haid.
Wanita Usia Subur (WUS) adalah wanita
yang keadaan organ reproduksinya berfungsi
dengan baik antara umur 20-45 tahun. Puncak
kesuburan ada pada rentang usia 20-29 tahun.
Pada usia ini wanita memiliki kesempatan 95%
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 54
untuk hamil. Pada usia 30-an persentasenya
menurun hingga 90%. Sedangkan memasuki
usia 40, kesempatan hamil berkurang hingga
menjadi 40%.
Metodologi Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 7-21
Februari 2012. Jenis penelitian yang digunakan
adalah observasional. Desain penelitian yang
digunakan adalah analitik. Sifat penelitian ini
korelasional. Pendekatan antar variabel yang
digunakan adalah pendekatan Cross
Sectional". Sampling dalam penelitian ini
menggunakan accidental sampling yang
bersifat non probability sampling. Jumlah
sampel dalam penelitian ini sebanyak 35
responden.
Setelah data terkumpul, selanjutnya
dilakukan pengolahan data dengan cara
editing, coding, scoring, tabulating. Data yang
terkumpul dianalisa secara sistematik dengan
uji chi square untuk mengetahui bagaimana
hubungan sikap wanita usia subur tentang KB
suntik dengan kepatuhan kunjungan KB.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan data hasil penelitian
didapatkan dari total 35 responden hampir
seluruh dari responden bersikap positif
terhadap KB suntik dan patuh melakukan
kunjungan KB yaitu sebanyak 16 (94,1%)
responden. Sedangkan berdasarkan hasil uji
statistik chi square dengan signifikan 0,05
menghasilkan P value = 0,002 dimana 0,002 <
0,05 maka H
O
ditolak dan H
1
diterima, yang
berarti ada hubungan antara sikap wanita usia
subur (WUS) tentang KB suntik dengan
kepatuhan kunjungan KB.
Sikap merupakan faktor yang ada dalam
diri manusia yang dapat mendorong atau
menimbulkan perilaku yang tertentu.
Kepatuhan adalah perilaku sesuai aturan dan
berdisiplin. Mengacu pada hasil penelitian
dan setelah dilakukan crosstabs hasilnya
hampir seluruh dari responden bersikap positif
dan patuh melakukan kunjungan KB. Hal ini
dikarenakan dukungan tenaga kesehatan,
dukungan keluarga dan kerentanan diri wanita
usia subur (WUS) untuk hamil.
Kesimpulan
1. Dari total 35 responden sebagian besar
bersikap negatif yaitu 18 (51,43%)
responden.
2. Dari total 35 responden, sebagian besar
patuh melakukan kunjungan KB yaitu
sebanyak 24 (68,57%) responden.
3. Uji statistik chi square dengan signifikan
0,05 menghasilkan P value = 0,002
dimana 0,002 < 0,05 maka H
O
ditolak dan
H
1
diterima, yang berarti ada hubungan
antara sikap wanita usia subur (WUS)
tentang KB suntik dengan kepatuhan
kunjungan KB di BPS Lely Desa
Sobontoro Kabupaten Tulungagung.
Saran
1. Bagi akseptor KB
Diharapkan dapat merangsang responden
membaca artikel-artikel tentang KB
suntik. Sehingga meningkatkan sikapnya
agar lebih positif
2. Bagi tempat penelitian
Diharapkan dapat meningkatkan
pelayanan KB khususnya KB suntik
dengan memberikan informasi dan
melakukan pendekatan kepada wanita usia
subur (WUS).
3. Bagi institusi pendidikan
Diharapkan dapat menjadi masukan dan
tambahan informasi tentang pelayanan
KB suntik.
4. Bagi peneliti
Hendaknya dapat menumbuhkan
keinginan untuk mempelajari lebih lanjut
mengenai hal-hal yang berkaitan dengan
KB suntik.
Daftar Pustaka
Anwar, D. 2001. Kamus Lengkap Bahasa
Indonesia. Surabaya: Karya
Abditama.
Azwar, S. 2007. Sikap Manusia Teori dan
Pengukurannya. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. Hal 156.
BKKBN, 2007. Manfaat KB dan Kesehatan
Reproduksi. Jakarta: BKKBN
Propinsi Jawa Timur.
Handayani, Sri. 2010. Pelayanan Keluarga
Berencana. Yogyakarta: Pustaka
Rihama. Hal 106-115
Hartanto, Hanafi. 2004. Keluarga Berencana
dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan. Hal 163
Hastono, Susanto Priyo. 2001. Analisa Data.
Jakarta: Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas
Indonesia. Hal 42
Hidayat, A.Aziz Alimul. 2007. Metode
Penelitian Kebidanan dan Teknik
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 55
Analis Data. Jakarta: Salemba
Medika. Hal 86,93-95
Manuaba, Ida Bagus Gde dkk. 2010. Ilmu
Kebidanan Penyakit Kandungan
dari Keluarga Berencana untuk
Pendidkan Bidan. Jakarta: EGC.
Hal 593
Meilani, Niken dkk. 2010. Pelayanan
Keluarga Berencana.
Yogyakarta: Fitramaya Hal 106-
109
Niven, Neil. 2002. Psikologi Kesehatan.
Jakarta: EGC. Hal 192-195
Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan
Perilaku Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta. Hal 121, 164-168
Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika. Hal 212
2008. Konsep dan
penerapan Metodologi
Penelitian Ilmu Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika. Hal
79, 82, 83, 92, 101
Nursalam dan Pariani. 2001. Pendekatan
Praktis Metodologi Riset
Keperawatan. Jakarta: CV.
Seto. Hal 126
Prawiroharjo, Sarwono.2002. Ilmu Kebidanan.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan
Praktis Pelayanan Kontrasepsi.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Prawirohardjo. Hal MK 34-48
Setiawan dan Saryono. 2010. Metodologi
Penelitian Kebidanan,
Yogyakarta:
Nuha Medika. Hal: 54
Sugiyono. 2005. Statistika untuk Penelitian.
Bandung: Alfa Beta. Hal 146
Sulistyawati, Ari. 2011. Pelayanan Keluarga
Berencana. Jakarta: Salemba
Medika. Hal 11, 13, 75-80
http:// dr_suparyanto.blogspot.com.
Suparyanto. (2011). Konsep
Kepatuhan
Syafrizal. 2007. Asuhan Keperawatan Pada
Keluarga Berencana. Yahoo:
Anggrek Idea
Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial. Edisi
IV. Yogyakarta: Andi Offset. Hal
110-111, 145
Wawan, 2010. Teori dan Pengukuran
Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku
Manusia.
Yogyakarta: Nuha Medika. Hal 20
Wijono, Wibisono. 1999. Pedoman
Penanggulangan Efek Samping /
Komplikasi Kontrasepsi. SM-
PFA Propinsi Jawa Timur Tahun
2002.
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 56
HUBUNGAN USIA IBU DENGAN KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH
(BBLR) DI RSUD dr. Iskak TULUNGAGUNG
TAHUN 2012
Oleh:
LINA AMALIA
NUNIK NINGTIYASARI S.Si.T
ANITA DWI AGUSTINA SARI, SST
One of the complications experienced neoanatus caused by maternal age, namely Infant Low
Birth Weight (LBW). Neonates with low birth weight tend to have few complications that affect all the
metabolic processes that occur within the body. The purpose of this study was to determine the
relationship between maternal age with the incidence of LBW. This type of observational study is the
design of analytical research. Approach between the variables is "cross sectionnal". While the
technique of taking the sample is total sampling. Data were tested with the help of computers using the
technique of Chi Square test with of 0.05.
The results showed that the risk factors of age who gave birth to LBW infants were 168
respondents (87%) of the total 193, with a p-value = 0.001 where 0.001 <0.05. This shows that there
is a significant relationship between maternal age with the incidence of LBW.
Latar Belakang
Usia ibu hamil merupakan keadaan
dimana ibu mengalami suatu proses kehamilan,
dimana usia ibu hamil tersebut dapat
mempengaruhi status kesehatan ibu itu sendiri
maupun janinnya ketika hamil. Oleh karena itu
usia ibu hamil tidak bisa dianggap ringan
karena dapat menghambat dari proses
pertumbuhan dan perkembangan janin tersebut
salah satunya mengakibatkan Berat Badan
Lahir rendah (BBLR).
Berdasarkan data Profil Kesehatan
Kabupaten/Kota Propinsi Jawa Timur tahun 2007,
kejadian BBLR sebesar 1,76% yaitu 10.472 dari
594.263 bayi yang dilahirkan (depkes Jatim, 2010).
Tahun 2008 angka kejadian BBLR di RSUD dr.
Iskak Tulungagung sebesar 358 bayi (27%) dari
1298 bayi yang dilahirkan, yang disebabkan oleh
usia ibu yang faktor resiko sebanyak 162, dari
jumlah tersebut 86 disebabkan oleh usia muda dan
76 disebabkan oleh usia tua.
Tujuan penelitian
Mengetahui hubungan usia ibu dengan
kejadian BBLR di RSUD dr. Iskak
Tulungagng tahun 2011.
Tinjauan Pustaka
Dalam mengalami suatu proses kehamilan
usia ibu di kelompokkan menjadi yang tepat
untuk menjalankan kehamilan (Tidak faktor
resiko) dan usia yang dianjurkan untuk tidak
mengalami kehamilan yaitu usia rawan (faktor
resiko).
Disini usia yang menjadi faktor resiko
dibagi menjadi dua, yaitu usia muda kurang
dari 20 tahun (< 20 tahun) dan usia tua lebih
dari 35 tahun (> 35 tahun). Dampak
kehamilan resiko tinggi pada usia muda :
1. Keguguran
2. Mengalami perdarahan.
3. Persalinan prematur, berat badan lahir
rendah (BBLR)
4. Anemia Kehamilan / Kekurangan Zat
Besi.
5. Keracunan Kehamilan (Gestosis)
6. Kematian ibu yang tinggi.
7. Persalinan yang lama dan sulit.
8. Cacat bawaan.
Resiko Hamil di Atas Usia 35 Tahun:
1. Resiko Terhadap Ibu
a. Keguguran
b. Hamil di Luar Kandungan
c. Obesitas
d. Hipertensi
e. Plasenta Previa
f. Preeklampsia
g. Komplikasi
2. Resiko Terhadap Bayi
a. Kelainan Kromosom
b. Persalinan Prematur dan BBLR
Penatalaksanaan pada usia ibu hamil
dapat dilakukan dengan cara melakukan upaya
pencegahan. Pencegahan tersebut dapat
mempersiapkan kehamilan secara matang.
BBLR adalah bayi yang pada waktu lahir
beratnya kurang dari 2.500 gram. Terdapat dua
bentuk penyebab kelahiran bayi dengan berat
badan kurang dari 2500 gram, yaitu karena
usia kehamilan kurang dari 37 minggu, berat
badan kurang dari semestinya, sekalipun cukup
bulan, atau karena kombinasi keduanya.
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 57
Klasifikasi Berat Badan Lahir Rendah
1. BBLR : Berat badan lahir bayi < 2500
gram.
2. BBLSR : Berat badan lahir bayi < 1500
gram.
Faktor-faktor yang mempengaruhi berat
badan lahir:
1. Status gizi ibu hamil
2. Asupan nutrisi pada ibu hamil
3. Usia ibu hamil
4. Jarak kehamilan ibu yang terlalu pendek
(kurang dari 1 tahun)
5. Kebiasaan dan gaya hidup ibu hamil
6. Komplikasi yang dialami ibu selama
hamil
7. Penyakit yang menyertai kehamilan
8. Usia gestasi pada saat bayi lahir
Bayi lahir dengan berat lahir rendah
mempunyai lemak di bawah kulit yang sangat
sedikit, karena beratnya kurang dari 2500
gram.
Tanda-tanda bayi kurang bulan:
1. Kulit tipis dan mengkilap.
2. Tulang rawan telinga sangat lunak karena
belum terbentuk dengan sempurna.
3. Lanugo masih banyak ditemukan terutama
pada punggung.
4. Jaringan payudara belum terlihat, puting
masih berupa titik.
5. Pada bayi perempuan labia mayora belum
menutupi labia minora.
6. Pada bayi laki-laki, skrotum belum
banyak lipatan, testis kadang belum turun.
7. Rajah telapak kaki kurang dari 1/3 bagian
atau belum terbentuk.
8. Kadang disertai dengan pernapassan tidak
teratur.
9. Aktivitas dan tangisannya lemah.
10. Refleks menghisap dan menelan tidak
efektif/lemah.
Tanda-tanda bayi kecil untuk masa
kehamilan (KMK):
1. Umur bayi dapat cukup, karang atau lebih
bulan tetapi beratnya kurang dari 2500
gram.
2. Gerakannya cukup aktif, tangis cukup
kuat.
3. Kulit keriput, lemak di bawah kulit tipis.
4. Menghisap cukup kuat.
5. Rajah telapak kaki lebih dari 1/3 bagian.
6. Bila kurang bulan, jaringan payudara
kecil, puting kecil. Bila cukup bulan
payudara dan puting sesuai masa
kehamilan.
7. Bayi perempuan bila cukup bulan, labia
mayora menutup labia minora.
8. Bayi laki-laki testis mungkin telah turun.
Masalah-masalah BBLR:
1. Asfiksia
2. Gangguan napas
3. Hipotermi
4. Hipoglikemi
5. Masalah pemberian ASI
6. Infeksi
7. Hiperbilirubinemia
8. Masalah perdarahan
Tatalaksanana BBLR saat lahir yaitu
harus mendapat Pelayanan Neonatal
Esensial yang terdiri atas:
1. Persalinan yang bersih dan aman
2. Stabilisasi suhu
3. Inisiasi pernapasan spontan
4. Pemberian ASI dini dan eksklusif
5. Pencegahan infeksi dan pemberian
imunisasi.
Perawatan BBLR setelah lahir adalah
sebagai berikut:
1. Tanyakan tanggal perkiraan kelahiran atau
umur kehamilan
2. Timbang berat bayi (dalam keadaan
telanjang) dan bernapas baik.
3. Lakukan pemeriksaan fisik
4. Jaga bayi tetap hangat.
5. Mendorong ibu untuk meneteki atau
memerah kolostrum.
6. Periksa tanda vital setiap 30-60 menit
selama 6 jam
7. Jika suhu aksila turun di bawah 36,5
o
C,
anjurkan ibu untuk melakukan perawatan
metode kanguru kontinyu.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal
14 Maret 2012 selama 1 hari. Dalam penelitian
ini menggunakan jenis penelitian
observasional. Desain penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Analitik
dengan pendekatan crosssectional. Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh Ibu bersalin
dan bayi yang dilahirkannya di RSUD dr.
Iskak Tulungagung yang berjumlah 828.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan
dalam penelitian ini adalahtotal sampling
Setelah data terkumpul kemudian dilakukan
analisa data dengan tahap- tahap editing,
coding, scoring, tabulating.
Tehnik uji yang dipilih hubungan
(korelasi) data usia ibu hamil yang faktor
resiko dan bukan yaitu data kategori dengan
data kategori. Berdasarkan acuan tersebut
maka digunakan uji chi square dengan 0,05.
Hasil dan Pembahasan
Jurnal Ilmiah Kebidanan Page 58
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan
hampir seluruh responden memiliki usia yang
tidak beresiko, yaitu sebesar 635 (77%). Dan
hampir seluruh responden dengan usiayang
beresiko melahirkan bayi BBLR yaitu 168
(87%). Berdasarkan uji Chi Square signifikasi
0,05 dengan p-value 0,001< 0,05. sehingga
H
o
ditolakdan H
1
diterima yang berarti ada
hubungan antara usia ibu dengan kejadian
BBLR.
Pada usia ibu yang faktor resiko dapat
melahirkan bayi BBLR. Hal ini dikarenakan
pada ibu yang hamil pada usia kurang dari 20
tahun dan lebih dari 35 tahun dapat
menyebabkan gangguan pada kesehatan ibu itu
sendiri dan janinya. Selain itu hamil pada usia
muda (< 20 tahun) alat reproduksi belum
matang terutama rahim yang belum siap dalam
suatu proses kehamilan dan terjadi penurunan
fungsi sel dari alat reproduksi terutama rahim
yang fungsinya menurun dalam menerima
suatu proses kehamilan, serta kemungkinan-
kemungkinan komplikasi yang terjadi diusia
ini. Pembentukan organ-organ janin akan
terganggu atau tidak optimal sehingga terjadi
retardasi perkembangan janin intrauterin,
sehingga janin bisa lahir cacat atau lahir
dengan berat badan yang rendah yang disebut
BBLR.
Kesimpulan
1. Hampir semua dari responden merupakan
usia tidak faktor resiko yaitu 635 (77%)
responden.
2. Hampir semua dari neonatus tidak
mengalami BBLR yaitu sebanyak 626
(76,2%) responden.
3. Berdasarkan uji Chi Square dengan
signifikasi 0,05 terhadapp-value 0,001<
0,05,sehingga H
o
ditolak dan H
1
diterima
yang berarti ada hubungan antara usia ibu
dengan kejadian BBLR.
Saran
1. Bagi Peneliti
Diharapkan peneliti dapat lebih
mengembangkan dan meningkatkan
penelitianya.
2. Bagi Tempat Penelitian
Disarankan hendaknya meningkatkan
kemampuan dalam pengawasan dan
pelayanan antenatal serta penanganan
neonatus dengan komplikasi.
3. Bagi Instansi Pendidikan
Diharapkan ada kerjasama dengan Dinas
Kesehatan untuk menyelenggarakan
berbagai kegiatan penyuluhan kepada ibu
hamil dan sosialisasi kepada tenaga
kesehatan tentang pengawasan antenatal
yang tepat.
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsini. 2006. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta. Hal: 235, 259
Cunningham, MacDonald, Gant. 2006.
Obstetri Williams. Jakarta: EGC. Hal
222, 224, 225, 226, 228, 2210
dr. Manuaba, Ida Bagus Gde Fajar, dkk. 2010.
Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan,
dan KB. Jakarta: EGC. Hal: 436, 437,
438
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
2009. Manajamen Bayi Berat Lahir
Rendah Untuk Bidan Dan Perawat.
Jakarta: DepKes RI. Hal 10, 12, 25,
161
Helen, Varney Brust. 2004. Ilmu Kebidanan.
Bandung: Sekelolaan Publisher. Hal
312
Hidayat, Alimul, A. 2007. Metode Penelitian
Kebidanan dan Teknik Analisa Data.
Jakarta : Salemba Medika. Hal 34, 121
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metode
Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta. Hal: 69, 105, 142.
Nursalam. 2008. Konsep Dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Surabaya: Salemba
Medika. Hal: 93, 97, 111
_________. 2006. Konsep Dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Surabaya: Salemba
Medika. Hal: 91
Prawirohardjo, Sarwono. 2007. Buku Acuan
Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal Dan Neonatal. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Hal: 112, 114, 161,
362.
Prilia, Detiana. 2010. Hamil Aman dan
Nyaman di Atas Usia 35 Tahun.
Yogyakarta: Media Pressindo
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian
Kuantitatif Kualitatif Dan R & D.
Bandung: Alfabeta. Hal: 80, 246.
The United Nations Childrens Fund. 2010.
Statistics .unicef.org, 27/11/2011,
04.10 pm.